7 YEARS OF LOVE [1.2]

7 YEARS OF LOVE (Part 1 of 2)

Title                 : 7 Years of Love (Based on Kyuhyun’s 7 Years of Love)

Author                        : Lee Yoohee

Main Cast       : Key, Yurin, Minho, Heerin

Support Cast  : Myeong Yi, Yeon Ju, Cha Youngseok, Jaeyeong, Jaewon

Length                        : Sequel

Genre              : Romantic

Rating             : General

Summary        : Kisah cinta Key dan Yurin

 

Yurin’s P.O.V

Suasana hari ini sangat cerah. Seperti biasa, aku memulai Minggu pagi ini dengan jalan-jalan bersama namchin-ku, Key oppa. Kami jarang bertemu saat Sabtu malam. Karena sejujurnya, kami sangat sibuk dengan urusan kami masing-masing. Aku mengerjakan tugas-tugas sekolahku pada malam itu. Dan Key oppa, dia juga sibuk dengan kuliahnya.

            Hari ini kami janjian bertemu di perpustakaan, tempat yang paling sering kami kunjungi saat ngedate, termasuk ngedate pertama kami. Setelah meminjam beberapa buku, aku dan dia pergi ke coffee shop, tempat kami chatting setiap Minggu.

            Entah kenapa, atau hanya perasaanku saja, Key oppa terlihat diam. Bukannya khawatir, tapi aku menganggap ini hal biasa.

Key’s P.O.V

            Aku rasa hari ini adalah hari terakhir, terakhir kali aku bertemu Yurin, bukannya aku bosan padanya, tapi aku rasa, kita tidak ada waktu untuk satu sama lain.

            “Yurin-a…” sulit untuk mengatakannya, tapi aku memang harus mengatakannya.

            “Ne?”

            “Aku rasa…… Hari ini adalah hari terakhir kita… Sebagai sepasang kekasih.”

            “Mwo? Maksud oppa…?”

            “He-eojija!”

Aku tidak tau, mungkin ini terlalu cepat baginya, tapi… Aku harus melakukannya. Aku tidak mau kita mengaku sebagai kekasih, tapi kita sulit untuk mengerti satu sama lain, apalagi berbagi. Mungkin karena aku saja yang merasa Yurin sebagai adikku, bukan, bukan adikku, tapi aku sering menganggapnya sebagai beban.

Yurin’s P.O.V

“Aku rasa…… Hari ini adalah hari terakhir kita… Sebagai sepasang kekasih.”

Itulah kata-kata yang keluar dari bibirnya. Sebenarnya aku mengerti, dia menginginkan perpisahan, atau, lebih tepatnya pergantian status hubungan kami. Tapi, aku berusaha meyakinkan saja.

            “Mwo? Maksud oppa…?”

Kalimat itulah yang kufikirkan saat ini. Hanya itu.

“He-eojija!”

Sulit membaca fikirannya saat ini. Kami biasa bertengkar, putus, balikan lagi, tapi kali ini lain, Tatapannya kosong. Dia terlihat dingin. Dia masih mencintaiku?. Tidak, dia serius. Hanya itulah yang aku baca dari ekspresinya.

            “Geurae? Nado geureohke saenggakhaesseoyo.”

Aku terlalu santai menanggapinya, tapi memang begitu. Rasanya kami sudah tidak cocok satu sama lain. Walau kami sudah hampir 3 tahun berpacaran, namun kami sudah mulai saling cuek.

            “Mianhae… Geureojiman, uri yaksokeul gieokhanayo?”

            “Museun yaksok?”

            “Kita akan menjadi sahabat setelah berpisah, seperti saat sebelum kita berpacaran”

            “Geurae… Aku pasti ingat oppa. Eng, kalo boleh tau? Sebenarnya, apa alasan oppa mengajakku berpisah? Selama ini, meski kita jarang menelfon satu sama lain, oppa nggak pernah protes.”

            “Aku akan tinggal di China 3 tahun ke depan, dan besok aku akan berangkat.”

            “O.”

Aku tersenyum kecil. Saat aku mendengar jawabannya tadi, entah kenapa, jantungku berdegup kencang, aku takut dia akan pergi.

FLASHBACK  ON

Meskipun selama ini, selama waktu hampir 3 tahun itu, kita tidak pernah sms-an, jarang menelfon, dan jarang keluar bersama, namun kami sangat dekat. Kami lebih sering berpacaran dengan membaca buku bersama, belajar membuat masakan bersama, bermain tebak-tebakan, dan dia akan memaksaku menghafalkan rumus-rumus Fisika, Kimia dan Matematika, serta hukum-hukumnya. Namun, itulah yang membuat kami dekat. Dia seperti malaikat penjagaku. Dia akan membimbingku ke jalan yang benar saat aku salah. Dia akan mengajariku apa yang aku tidak bisa. Dan dia akan mengingatkanku saat aku salah.

Setiap Jum’at sore, kami akan melakukan debat tentang pelajaran. Dan sudah pasti, dia yang akan menang, karena dia tutorku, dan 3 tahun lebih senior daripada aku. Namun, jangan salah, aku pernah sekali waktu mengalahkannya, saat berdebat tentang pelajaran Kimia.

Tentang skinship… Kami juga jarang berpegangan tangan, namun kami pernah sekali berciuman, itupun karena nggak sengaja. Saat itu aku terpeleset, dan dia berusaha menolongku, eh… dia juga malah kepeleset, sehingga tanpa sengaja, bibir Key oppa menyentuh bibirku.

FLASHBACK OFF

            Kami diam beberapa menit. Mungkin sekitar 10 menit, karena terhitung 3 lagu telah diplay di cafe itu, dan salah satunya lagu favorit kami, Right Here Waiting – Richard Marx.

            “Nan… meonjeo galkke oppa.”

Aku berpamitan akan pergi. Perasaanku semakin tidak enak saat aku terus bersamanya.

“Eodiga?”

“Oneul, eonni-ga wasseoyo”

“Ne.. Arasseo. Joshim haseyo”

Aku melangkahkan kakiku pelan-pelan. Meskipun berat, aku yakin aku bisa.

“Jamkkan Yurin-a…!”

Aku membalikkan badanku dan berhenti sekejap.

“Mianhada, Gomapda”

“Nado”

Aku tersenyum padanya, mungkin untuk yang terakhir kali.

Di sepanjang jalan, aku terus meyakinkan diriku sendiri, bahwa aku pasti bisa melakukannya. Aku bisa hidup mandiri tanpa dia. Akan lebih mudah bagiku untuk hidup tanpa dia, berarti kan aku nggak perlu lagi hafalan rumus dan hukum-hukum 3 pelajaran itu?!. Tak terasa aku mulai meneteskan air mataku. Aku benar-benar takut dia akan pergi.

Sesampainya di gerbang rumah, aku lihat kaki-kaki jenjang yang putih mulus seakan tanpa cacat. Gadis bergaun putih. Gaunnya tanpa lengan, dengan panjang di atas lutut. Rambutnya yang panjang diikat rapi dengan pita bunga warna putih. Sangat cantik. Saat melihat wajahnya, aku senang sekali.

“Eonni…!!!”

Aku langsung datang dan memeluknya. Aku senang sekali. Dia juga terlihat bahagia melihatku. Senyum cerianya menghiasi raut wajahnya yang cantik, lebih cantik dariku, kuakui itu.

“Eonje wasseoyo?”

“Belum lama. Sekitar 15 menit. Nungguin kamu tuh, lama banget datengnya. Padahal kemarin kan udah aku minta buat jagain rumah, supaya aku nggak usah nunggu kayak barusan”

“Mianhae eonni..”

Aku jadi merasa bersalah padanya.

“Gwaenchanha. Asal jangan diulangi lagi.”

Eonni ku sangat cantik. Dan aku rasa, dia tambah cantik sepulang dari Beijing. Dia kuliah di  Beijing University, semester 4. Dia sangat ramah, ceria, pintar. Pokoknya aku iri sama dia.

            Kami segera masuk, aku membawakan tasnya yang berisi pakaian dan beberapa oleh-oleh untukku. Dan kuletakkan tas itu di kamarnya. Setelah membuka jendela kamarnya, dia duduk di sampingku, mengajakku mengobrol,

“Gimana hubungan kamu dengan namja berinisial K itu?” dia membuka percakapan kami.

“O.. Kami baru saja berpisah?”

“Mwoya? Wae? Bukankah selama ini tidak ada cekcok yang serius di antara kalian”

“Geunyang… Dia akan ke China.”

“China? Beijing?”

Aku hanya mengangkat kedua pundakku. Aku memang tidak tahu. Karena kurasa mataku akan berkaca-kaca jika meneruskan pembicaraan tentangnya, aku segera mengganti topic.

“Eonni, berapa lama akan di rumah?”

“Kira-kira, 4 hari.”

“Mwo? Kenapa sesingkat itu?”

“Biasa, persiapan, minggu depan jadwal kuliah ku mulai padat lagi.”

“Geureom, kau akan sibuk?”

“Geurae.”

Aku rasa, empat hari itu akan penting, karena aku akan berusaha mengubur kenanganku bersama Key oppa, dengan merasakan kebahagiaan bersama eonni.

———-   ***   ———-

            Keesokan harinya, Key oppa menemuiku di halte bis sekolah.

            “Yurin-a… Oneul, oppa galkke”

            Aku tersenyum ceria, lalu membalas, “Hiihh… Oppa nggak ngajak aku. Pasti oppa kesini Cuma buat pamer deh!”

            “Mwo?”

Kami tertawa bersama sebentar.

            “O.. Yurin-a.. Kakimu?”

Aku berhenti tertawa, lalu sadar, bahwa ada luka di kakiku. Sepertinya, itu luka tadi, saat Jaewon, temanku, mendorongku saat kami bermain.

            Key oppa segera mengambil antibiotic nya yang ada di tasnya, yang selalu dia bawa kemanapun dia pergi. Saat dia jongkok dan akan mengobati lukaku, aku segera bereaksi.

            “Geumanhaejwo oppa!” Aku mundur beberapa langkah darinya.

            “Aku bisa mengobati lukaku sendiri. Oppa nggak usah sok peduli sama aku. Asal oppa nggak terus muncul di kehidupanku, aku akan baik-baik saja. Lukaku akan sembuh dengan sendirinya.”

            Rasanya itu refleksku, aku sudah bisa menganggapnya sebagai kakakku tadi, tapi…. Karena perhatiannya itu, aku jadi berharap lebih, makanya aku marah padanya.

            Aku segera beranjak pergi, tapi Key oppa memegang tanganku.

            “Jamkkanman!” Key oppa mengambil sesuatu dari dalam tasnya.

            Sebuah buku diary, berwarna merah, bergambar bunga tulip, berlubang berbentuk hati, dengan tepi lubang itu berwarna emas.

            “Ambillah! Kalau kau sempat, tulislah momen pentingmu di diary ini. Kemudian, saat kita bertemu lagi nanti, aku akan membacanya. Dan nanti, kau juga bisa membaca diary milikku. Tapi kalau kau tidak sempat menulis sepatah katapun, kau bisa menyimpannya di gudang, atau tempat lain yang lebih baik, namun aku mohon, jangan membuangnya!”

            Aku menerimanya, tanpa menatapnya. Kali ini sikapku dingin padanya.

            “Biarkan aku saja yang pergi. Kau, tetaplah disini! Aku akan ke bandara sekarang. Annyeong…!”

            Key oppa pergi dengan sebuah taksi. Seperti tersadar dari lamunan, aku segera berlari mengejar taksi itu. Dan, untungnya, taksi itu mau berhenti.

            Dari taksi itu, aku mengucapkan beberapa kalimat untuk Key oppa, dengan menatapnya,

            “Oppa.. Annyeong…! Jaga dirimu baik-baik!” Aku memberikan senyumku padanya.

            “Gwaenchanha. Kalau kita jodoh, kita akan bertemu lagi, kemudian akan mencintai satu sama lain kembali.”

            “Ne, Annyeong…”

Aku melambaikan tanganku. Key oppa membalas senyum dan lambaian tanganku tadi, dan taksi itu berjalan perlahan.

Setiba di rumah, aku berniat membuang diary tadi, namun, sayang, diary itu terlalu cantik untuk dibuang. Aku segera menuliskan perasaanku pada halaman pertama diary tersebut.

“Oneul, dashi shijakhae. Geudaen jal jaraera. Nado geureohke oppa…”.

Hanya itu yang ku tulis. Saat aku meletakkannya di laci meja belajarku, sesuatu jatuh dari diary itu. Setelah ku ambil, ternyata itu foto kami, foto pertama yang kami ambil saat kami saling mengenal dulu. Manis sekali…. Aku tidak akan pernah melupakannya.

———-   *** ———-

THREE YEARS LATER

            Hidup baruku telah ku mulai, benar-benar membahagiakan, meskipun ada beberapa hal yang membuat hidupku kurang lengkap.

            Saat aku di halaman depan, mereview pelajaran yang baru disampaikan guru kimia bersama sahabatku, Yeonju, tiba-tiba, sebuah bola basket mengenai kepalaku.

            “Awww!! Apeuda….!”

            Seorang namja dengan postur tubuh tinggi, tegap, bermata bulat, berhidung mancung, dan body atletis tentunya, datang mengambil bola tersebut, dan meminta maaf padaku.

            “Mianhae… Tadi aku tidak sengaja.” Dia pasti merasa bersalah.

            Aku menarik nafasku. Kemudian menatapnya, dan memaafkannya.

            “Gwaenchanha. Kan tadi kamu udah bilang kalo kamu nggak sengaja”

            “Nal yongseohaeseoreul gomawo”

            “Ne…” Aku tidak begitu memperhatikannya. Aku hanya focus pada bukuku.

            “Kamu… Cha Yurin dari kelas XII-A kan? Yang sering ikut olimpiade?”

            “Ne… Eotteohke arasseo?” Aku sedikit kaget.

            “Kau sangat terkenal. Dan, perkenalkan, aku Choi Minho. Kapten tim basket sekolah kita dulu dan sekarang, dan mungkin sampai masa depan..”

            “Mwo..?” aku mengernyitkan kening sambil tersenyum, membuang pandanganku darinya.

            Dia mengajakku bersalaman, salam perkenalan. Aku segera membalasnya dan menanggapi perkenalannya tadi,

            “Oh… Jadi kamu yang selama ini diidolakan teman-teman satu kelasku dulu, sekarang dan masa depan? Yang paling jago basket, sepak bola, lari, renang, dan bela diri itu?”

            “Ye. Banggapseumnida.”

            “Nado.”

            “Aku pergi dulu. Oh iya, nanti sepulang sekolah, kamu ada jadwal nggak?”

            Aku berfikir sejenak, “Sepertinya sih enggak”

            “Mau nggak kamu nemenin aku ke toko buku sebelah?”

            Aku hanya menganggukkan kepalaku. Dan Minho segera kembali ke lapangan basket.

            Sejak saat itu, kami menjadi lebih dekat dari hari ke hari. Sampai pada suatu hari, Minho mengungkapkan perasaannya padaku. Tapi, aku masih butuh waktu untuk menjawabnya.

            “Terima saja! Why not? Kalian serasi tau…?” Myeong Yi, sahabatku sejak SMA, memprovokasiku.

            “Myeong Yi-ya…!”

            “Tenang aja! Itu bukan Cuma karena kamu ngisi kekosonganmu kok.. Kan kamu sama Key oppa dah pisah selama 3 tahun, jadi aku kira kalo kamu suka sama Minho, itu bukan buat ngisi kekosongan kamu, tapi emang kamu beneran suka sama dia”

            “Geurae?”

            “Emmm…” Myeong Yi hanya mengangguk.

            Dan benar, keesokan harinya, aku mengatakan iya pada Minho-ssi. Kami mulai ngedate. Dan kuceritakan hal ini pada Key oppa. Meskipun sangat jarang menelfon, mungkin hanya satu semester sekali., setidaknya kami masih ada kontak. Kali ini, aku yang menelfon dulu, dan, syukurlah, Key oppa bisa mengangkatnya. Karena ia sangat sibuk sekarang, oppa sudah bekerja di sebuah perusahaan di Beijing. Maka dari itu, dia sangat sibuk.

            “Oppa… Arayo? Jigeum, saranghaneun saram isseo.”

            “Mwo? Nuguni? Kenapa baru sekarang cerita?”

            “Minho-ssi, seniorku” Saat menyebut Minho-ssi, perasaanku sekejap berubah. Aku baru tahu sekarang, aku belum sanggup melepas Key oppa.

            “Geureohke?”

            “O. Oppa…” Aku menghela nafas dalam-dalam, menahan perasaanku, “Neodo, dashi ddo joheun saram ggok manna, aratji?”

            Perasaanku tiba-tiba aneh. Ije, ulgo shipeoyo. Duryeowo, apa aku bisa mencintai Minho-ssi seperti aku mencintai oppa?, aku ingin menanyakan itu padamu oppa, tapi rasanya aku tidak sanggup. Setelah ini, aku akan berhenti bicara dengannya.

            “Tentu. Tapi aku takut kau akan cemburu Yurin-a… Hahaha…”

            “Anio oppa. Oppaga haengbokhamyeon, nado haengbokhae.”

“Jinjja?”

“Oppa. Aku harus segera mengakhiri pembicaraan kita. Biaya telfon dari sini sangat mahal oppa..”

“Jamkkan. Yurin-a… Minggu depan aku akan pulang, aku akan kembali ke Busan untuk urusan keluarga.. Mungkin selama sebulan, aku akan di Busan. Kau akan menjemputku, kan?”

“Jeongmal?” rasanya bahagia sekali, tapi, dewasa ini, aku tidak begitu punya free-time, sehingga aku tidak bisa menjawab secara pasti, “Mollayo oppa. Tapi aku akan berusaha agar aku bisa menjemputmu.”

            “Em.. Yeoboseyo…!”

            “Ye..”

            Neomu haengbokhada, dia akan pulang… Tapi, sulit untuk mengajak dia balikan, karena aku sudah mengatakan iya pada Minho-ssi. Aku sangat galau saat ini.

KEY’S P.O.V

            Yurin sudah menemukan penggantiku saat ini. Aku harap dia bahagia. Seperti Yurin yang bahagia jika aku bahagia. Aku juga akan bahagia kalau Yurin bahagia.

            “Yurin-a.. Aku belum bisa menemukan penggantimu…” kataku dalam hati.

            Saat lelah, aku dan dia akan curhat, seperti kakak adik. Tapi seringkali ada perasaan dari dalam diriku, perasaan dimana aku berharap lebih darinya.

———-   ***   ———-

A WEEK LATER

YURIN’S P.O.V

            Key oppa hari ini datang, namun aku tidak bisa menjemputnya, sayang sekali, karena hari ini aku harus menemani Minho-ssi bertanding basket antar universitas seprovinsi, dan kali ini tim universitas kami masuk final. Dan seperti yang kalian duga, kami menang.. Wuuuuu…..!!!

            Oh iya, hari ini Heerin eonni juga akan pulang. Jadi, hari ini kebahagiaanku akan berlipat ganda, kemenangan tim basket sekolah kami dan kedatangan Heerin eonni, dan Key oppa.

            Setelah Minho-ssi selesai bermain basket, kami jalan-jalan ke mall. Di jalan makadam di sebuah gang, kami balapan lari, dan aku menang… Meski aku tau dia mengalah untukku, aku tetap bahagia. Lalu, kami ke balkon apartemen Minho-ssi sambil bercengkerama dan menghabiskan snack yang kami beli di mall tadi.

            Tiba-tiba, handphone ku berbunyi.

            “Dari siapa?”

            Aku menunjukkan ponselku padanya.

            “Heerin eonni?” Tanya Minho-ssi memastikan. Dan aku hanya mengangguk.

            “Yeoboseyo.”

            “Eo. Yurin-a.. Kau mau menggantikan aku? Bumeonim ingin menjodohkan aku. Aku benar-benar tidak ingin melakukannya. Kenapa mereka tidak tau kalau aku baru putus dengan namchinku beberapa hari yang lalu. Kenapa mereka mau menjodohkanku sekarang?”

            “Andwaeyo eonni… Bappa, arasseo?”

            “Ya! 30-bun man…!

            “Jeoldaero andwae…!”

            Aku segera menutup telfonku. Aku rasa akan lebih baik kalau eonni dijodohkan, karena menurutku, dia sudah cukup umur untuk menikah. Usianya sekarang 24 tahun. Jadi, cukup kan?

KEY’S P.O.V

            Aku tiba di bandara Busan hari ini. Tapi, ternyata hanya bumeonim yang menjemputku.

            “Hari ini akan ada tamu penting untuk keluarga kita Key…” kata appa sambil menyetir.

            “Nuguseyo?”

            “Abeoji akan mengatakannya di rumah nanti.”

            Eomma hanya menatapku. Dan bertanya beberapa hal padaku.

            “Bagaimana dengan pekerjaanmu? Menyenangkan sekali, bukan?”

            “Tentu eomma.. Eomman nal wihae gido ttaemune”.

Eomma tersenyum bahagia.

            Kami sampai di rumah. Abeoji membantuku meletakkan barang-barangku. Aku tidur sekitar 1 jam di kamarku, yang sudah 3 tahun ku tinggalkan. Aku rindu sekali pada kamar ini.

            Bangun dari tidur, aku mengecek ponselku, dia tidak menghubungiku sama sekali. Aku memandang sekeliling.

            “Kenapa banyak sekali kenangan tentangmu?” kataku setelah melihat foto kami yang masih terpasang rapi di dindingku, dan tulisannya yang tidak begitu bagus di meja belajarku, serta sepasang sepatu yang pernah ia berikan untukku, saat ulang tahunku yang ke-20.

            “Key… Ayo segera mandi…” terdengar teriakan eomma.

            “Ne..” Aku segera bangun, mengambil handuk dan segera mandi. Aku berdandan rapi mengingat hari ini akan ada tamu penting keluarga kami yang akan datang, meski aku tidak tau siapa dia.

            Tamu itu datang, aku segera menyambutnya. Dan beberapa saat setelah keluarga kami mengobrol, abeoji mengatakan sesuatu.

            “Aku rasa, sudah saatnya kita menyatukan ikatan di antara kita, menjadi partner bisnis, sahabat, dan besan.”

            “Mworagoyo? Apa abeoji bercanda?” aku sedikit sensitive kali ini.

            “Anio… Kami akan menikahkan kalian berdua. Kau Key, geurigo, nae saranghaneun ddal, Cha Heerin” sambung Cha ajeossi

            Aku sangat shock. Dari raut muka gadis itu, sepertinya dia juga sedikit tidak nyaman dengan perjodohan ini. Aku ingin protes sekarang. Tapi, aku tidak mau mempermalukan abeoji di depan keluarga Cha.

            “Bahkan kami sudah menentukan tanggal, tempat, dan gaun pernikahannya” Jaeyeong eomeonim menambahkan, beliau adalah istri Cha Youngseok ajeossi.

            “Eotteoke?” kataku dalam hati.

            Eomma memegang jariku yang ada di atas sofa. Sepertinya dia tahu kalau aku benar-benar shock. Lalu mengajakku ke belakang.

            Di kamarku, beliau berkata, “Key, jebal… Uri kajokeul dowajwo! Perusahaan kita akan bangkrut tanpa bantuan perusahaan Cha ajeossi”

            Aku tidak tega melihat tatapan eomma meski aku ingin menolak. Tapi bagaimana dengan Yurin? Aku benar-benar masih menyayanginya.

            Saat aku dan eomma kembali, keluarga Cha berpamitan. Berat rasanya menerima kenyataan ini. “Yurin-a.. Apa kita tidak ditakdirkan bersama?”. Air mataku tiba-tiba menetes. Aku sudah tidak kuat menahannya. Ini sangat sulit. Apa yang harus kulakukan padamu Yurin-a…?

HEERIN’S P.O.V

            “Aisshhhh… Kenapa Yurin menolak? Dia fikir aku akan dijodohkan dengan laki-laki 30 tahunan. Yurin-a.. Dia lebih serasi denganmu.” Gumamku dalam hati.

            Setelah menelfon Yurin, appa segera menyuruhku masuk ke rumah keluarga Kim. Aku sebenarnya ingin menolak, tapi kenapa harus menolak, toh ini nggak akan berdampak buruk bagiku.

            Saat appa mengatakan kalau perjodohan ini bukan mainan, aku mengernyitkan keningku, aku tau Key-ssi pasti shock, bahkan sangat shock mendengarnya. Aku ingin mengatakan “Geokjeongmaseyo… Ini tidak sesulit yang kau bayangkan”. Tapi tidak mungkin di situasi yang seperti ini.

            Beberapa saat kemudian, kelihatannya Key-ssi sedikit tenang setelah dia masuk bersama ibunya tadi. Kami pun berpamitan.

            Sesampainya di rumah….

            “Mwoya? Dua minggu lagi?” Aku kaget sekali kali ini. Kami akan menikah 2 minggu lagi, sementara kami baru saja bertemu.

            ———-   ***   ———-

From author :

            Mianhae yeoreobun kalo FF ku garing, give me oxygen ya… alias comment… cause this is my first creation. Terima kasih sudah bersedia membaca karyaku yang sangat banyak kekurangannya ini. Dan terima kasih juga atas kritik dan saran yeoreobun…

Saranghae~

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

15 thoughts on “7 YEARS OF LOVE [1.2]”

  1. comment pertama kah? wah, aku kira key bakal pacaran sm heerin di cina. tp mlh ada perjodohan! alurnya cepat.. tp seru jg. lanjuutt.. xD

  2. Alurnya kecepetan ya thor? Tapi gk papah, ini FF bagus loooh! ^o^b

    Lanjutin yaaaak, boleh juga nih FF. Seru banget.

    Kapan2 ada yg bikin ketawa jg ya hehehehe

    WHAITING!!! 😀 😀 😀

  3. Like it….
    Simple story but interesting….
    oh ya…. kalo bisa request jngn trlalu bnyk pnggunaan bhasa koreanya ya…
    gk ngerti eon… hehehe #plakk..
    plus… 1 lagi.. endingnya key ama yurin ya.. #plakk *author : trserah gue donk.. gue kn authornya.. * peace eon…..

  4. yukey!!! andwae!! jgn smpe key sm heerin thor.. udah nempel mereka thor kkk~~
    aku gak sbrp tau bner ttg bahasa korea thor.. agak dikurangin yah thor bahasa-bahasany hihihi ^^
    lanjut thor 🙂

  5. aish, kenapa yurin nolak buat dijodohin… padahal dijodohinnya sama key. hah~~ #nyesek
    kalo yurin tau kakaknya dijodohin ma key gimana ya? pasti bakalan nyesek abis. aku yang baca aja udh gak sanggup bayangin ekspresi key-yurin #jiahlebay
    hahaha 😀
    ditungggu lanjutannya^^

  6. Wuaaaa baguuusss
    Key nya dewasa banget gatau kenapa *_*
    Terus masa saya baru sadar kalo Yurin kayanya nyesel nolak ngegantiin kakaknya dijodohin setelah kakaknya bilang “dia bakal nyesel” -__- aduh otaknya pending nih kkk
    Awal-awalnya bagus, ngalir banget. Tapi pas udah mau terakhir-terakhirnya jadi agak cepet ya? Heheh .__.
    Terus bahasa korea nya rumit. Ani, maksudnya bahasa koreanya gak familiar. Jadi ngertinya susah, thor. Diartiin yaa buat selanjutnyaa hehe. Biar ngerti ceritanya jugaa kk
    Lanjuuuuut! 😀

Leave a Reply to LaKey Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s