Love Is Beautiful

Title: Love Is Beautiful

Author: HeartLess

Main Cast: Lee Taemin, Song Hae Rim

Support Cast: Lee Jinki, Choi Minho, Kim Kibum, Kim Jonghyun, Kang Ah Reum

Other Cast: Park Songsaenim, Kim Songsaenim, Ahjumma pemilik kantin

Genre: Romance

Rating: General

Length: One Shot

Author’s Note: holla, heartless is back!! ^^ (gada yang gubris)

Kali ini membawa FF romance dengan main cast Taeminnie xD *anak kecil dah main cinta-cintaan,ckckck

Semoga tidak kecewa dengan FF ini^^ Happy Reading 🙂

——————————————————————————–

“Taemin-ah, cepat lihat ke belakang” ucap Jonghyun hyung yang saat ini sedang duduk di hadapanku, di bangku kantin sekolah yang cukup ramai ini.

“Ne?” aku menghentikan aktivitas ku yang tadinya sedang asik menyeruput sekotak banana milk

“Lihat ke belakang” ujarnya lagi sambil berbisik, mengulangi kata-kata yang di tadi telah diucapkannya.

Aku mengikuti sarannya, memutar sedikit badanku dan mengarahkan pandangan ke arah yang di tunjukkan Jonghyun hyung tadi.

Mataku secara langsung terpaut pada seorang namja yang ku kenal sebagai hyung ku, memasuki kantin dengan dua orang yeoja. Yang satunya tidak terlalu tinggi, tapi terlihat manis bila tersenyum, berambut sedikit melewati bahu dan di gunting model sedikit ‘street style’. Dia adalah Kang Ah Reum, kekasih Onew hyung, hyung kandung ku yang juga adalah seorang ketua badan kesiswaan (semacam OSIS gitu).

Dan yang satunya lagi adalah seorang yeoja berambut sepunggung dan sedikit tinggi. Dia terlihat anggun. Namanya Song Hae Rim, wakil ketua badan kesiswaan yang terkenal sangat cantik, pintar dan ramah. Dia adalah sahabat Ah Reum noona, sekaligus orang yang ku sukai.

Aku terus menatap terpana pada Hae Rim noona yang berjalan mencari tempat duduk sambil mengobrol dengan Onew hyung dan Ah Reum noona, sampai akhirnya Onew hyung menyadari pandangan yang dari tadi ku tautkan ke arah mereka. Onew hyung kemudian mengucapkan entah apa pada Ah Reum noona dan Hae Rim noona sambil melambaikan tangan pada dua yeoja tersebut, lalu berjalan ke arah ku.

“Noona neomu yeppeo~~~” goda Onew hyung sambil menyanyikan sebuah lagu singkat, lalu mengambil posisi duduk di antara aku dan Minho hyung yang dari tadi hanya sibuk dengan PSP (lebih tepatnya Winning Eleven) nya.

“Uri maknae sudah dewasa” goda Jonghyun hyung sambil menyenggol pelan siku nya pada Key hyung yang duduk di sampingnya.

Minho hyung yang daritadi sibuk gaming tiba-tiba menghentikan permainan sejenak, lalu melihat ke arahku dan tersenyum mengejek.

“Aish hyung, kalian ini” ucapku malu, lalu kembali menyeruput Banana Milk dari sedotan yang tertancap di kotaknya, sambil sesekali melirik ke arah Hae Rim noona yang kini duduk bangku sebelah kanan depan bangku kami.

“Noona, i like you” batinku dalam hati sambil merasakan detak jantungku yang semakin cepat

[…..]

Aku melirik diam-diam ke arah Hae Rim noona, dia duduk di bangku sebrangku, di bangku dengan meja panjang di perpustakaan sekolah kami yang cukup besar ini. Dia tampak serius membaca buku yang di taruh di atas meja, dia membalik-balikkan halaman demi halaman, sambil sesekali mencatat entah apa ke dalam notes kecil yang di bawanya.

“Taemin-goon, waeyo?” tiba-tiba dia menyadari tatapan mataku yang daritadi serius memperhatikannya. Dia menatapku sedikit penasaran.

“Noona, ige…..” aku menggaruk pelan kepala ku karena salah tingkah

“ige…. aku… tidak dapat mengerti maksud kalimat ini” segera aku beralibi sambil menunjuk buku sastra perancis yang tadinya aku baca dengan serius sebelum kedatangan noona yang membuatku jadi tidak bisa berkonsentrasi.

“mm.. coba aku lihat” aish untunglah dia tidak curiga dan mempercayai alibiku.

Dengan segera dia berpindah untuk duduk di sampingku, sambil menjelaskan tentang kalimat puisi yang ku jadikan sebagai alibi tadi. Tentu saja, aku tak memperhatikan. Bagaimana bisa aku konsentrasi kalau jantungku saja sudah mau melompat keluar dari dadaku rasanya?

Aigoo noona, aku sangat senang melihatmu dari dekat seperti ini. Wangi shampoo mu saja sudah cukup sukses membuatku “fly” seperti ini.

Jeongmal, saranghaeyo… ottokhe???

[…..]

“Taemin-ah” panggilan dari Key hyung membuatku mengalihkan pandangan dari ponsel yang daritadi asik ku mainkan.

“Waeyo hyung?” tanyaku melihat ke arah Key hyung.

“Itu…” Key hyung menunjuk ke arah seorang yeoja yang sepertinya sedang kesusahan membawa setumpuk buku yang cukup banyak.

“Siapa sih yang tega menyuruh seorang yeoja cantik seperti dia membawa barang berat  seperti itu!?” gerutu ku, yang segera berjalan cepat menghampiri yeoja tersebut.

Tanpa komando atau basa-basi, aku langsung menambil sebagian besar dari tumpukan buku yang menghalangi pandangannya sehingga hanya tersisa 5 atau 6 buku saja di tangannya. Dia melirik kaget, karena heran tiba-tiba merasakan beban yang di bawanya menjadi ringan dan buku-buku yang tadinya menghalangi pandangannya kini telah lenyap dan telah berpindah tangan kepadaku.

“Taemin, gomawo” dia tersenyum sangat manis.

Aigoo… aku jadi deg-degan melihatnya

“Chonmaneyo,noona” jawabku memperlihatkan senyum yang tak kalah manis –mungkin-

Kami kemudian berjalan sambil membawa buku ke arah kantor guru. Key hyung mengacungkan jempolnya sambil menggerakkan bibirnya membentuk sebuah tanpa suara, yang bisa kutangkap bahwa ia mengucapkan kata “Hwaiting” sambil mengedipkan sebelah mata padaku saat aku dan noona berjalan melewatinya.

[…..]

 

“Gomawo, Taemin-goon” katanya sambil membungkuk kecil

“Tidak usah sungkan-sungkan,noona.. Tapi ngomong-ngomong, siapa yang tega menyuruh seroang yeoja membawa barang berat seperti itu?” kataku padanya yang sekarang sedang berjalan beriringan di sampingku.

“Onew…” jawabnya polos

“Onew hyung?” kataku sedikit heran, tidak biasanya Onew hyung akan membiarkan seorang yeoja melakukan hal itu.

“Ne, katanya dia sibuk, jadi menyuruhku membawanya.” Kami menghentikan langkah saat kami telah sampai di depan sebuah ruangan kelas yang bertuliskan “3-1” di atas pintunya.

“Gomawoyo, aku masuk dulu” noona melambaikan tangannya sambil tersenyum dan berjalan mundur masuk ke kelas.

Aku memutuskan berjalan kembali ke kelasku di lantai atas, tapi masih sedikit penasaran, mengapa hyung tega menyuruh noona mengangkat barang sebanyak itu.

“Warning! A text message incoming!”

Tiba-tiba ponsel ku berbunyi, aku melihat sebuah pesan masuk, lalu membacanya.

From: Onew hyung

Message: “maaf, aku melakukannya demi kau. Apa waktumu menyenangkan?”

Aku langsung mengetik keypad ponselku, membalas pesan dari Onew hyung tersebut.

To: Onew hyung

Message: “ tega sekali kau hyung menyuruhnya membawa tumpukan buku seberat itu(T-T) awas saja kalau kau sudah pulang ke rumah nanti. Tapi gomawo hyung, aku menikmatinya”

Senyumku tersimpul, akku menikmati debaran jantung yang terasa beigtu cepat di dadaku. Aku sangat menikmatinya.

[…..]

“Lihat, wakil ketua kesiswaan kita” bisik seorang namja pada temannya

“Neomu yeppeo” sambung temannya sambil menyeringai dan mengacungkan jempol

“Cantik, pintar, ramah pula” tambah namja yang pertama berbicara tadi

“Tipe wanita idaman..” teman namja tersebut tak mau kalah

“Taemin-ah.. noona mu itu banyak fans nya” bisik Onew hyung padaku saat kami mendengar percakapan anak-anak kelas 2 yang tengah melihat Hae Rim noona yan gsedang duduk bersama anak-anak kelas 3 lainnya di kantin.

“Kau punya banyak saingan, Taemin-ah” sambung Key hyung yang duduk di sebelahku.

“Ne, banyak namja mencoba mencuri perhatian nooan mu itu, Taem” bisik Minho hyung lagi.

“Terutama si Lee Junho sunbae sang perayu wanita itu.” Kata Key hyung menunjuk namja yang terlihat dari tadi mengajak bicara Hae Rim noona.

“Taemin-ah, kau harus bergerak cepat” kata Minho hyung sukses membuatku menoleh kepadanya.

“Aku… tak tau harus melakukakn apa, hyung” Kini aku mengalihkan pandanganku ke arah noona lagi.

“Aish si maknae ini.. ikuti saja kata hatimu” gerutu Key hyung dengan gaya “eomma” nya

“Ne, geurae Taemin-ah. Aku yakin kau sudah cukup dewasa untuk tau apa yang harus dilakukan” Minho hyung yang adalah orang yang paling dekat denganku menepuk bahuku pelan sambil tersenyum memberi semangat padaku.

“Hwaiting, Taemin-ah!” Key hyung mengepalkan tangannya sambil memberi semangat padaku.

“Gomawo, hyung” aku tersenyum.

Setidaknya aku sangat senang mempunyai teman-teman seperti mereka. Teman-teman ku dan Onew hyung sejak kecil yang selalu saling mendukung satu sama lain.

[…..]

From: Ah Reum Noona

Message: Minnie-ah.. dia sedang di perpustakaan sendirian. Berminat menghampiri nya?

P.S: dia belum makan sama sekali dari pagi, dan dia sangat menyukai Roti Melon + Strawberry Milk. Hwaiting^^

Aku membaca sebuah text message dari Ah Reum noona. Dengan segera aku berlari ke kantin, membeli 2 buah roti melon, sekotak Strawberry milk dan sekotak Banana milk.

“Simpan saja kembaliannya, ahjuma” kataku sambil menyerahkan uang, lalu berlari dengan buru-buru sambil membawa barang-barang tersebut.

“Tapi, uangnya kurang!” ku dengar teriakan ahjumma pemilik kantin tersebut saat kakiku baru saja membawaku keluar dari pintu kantin.

“Aish jesonghamnida, ahjumma..” bisikku masih sambil berlari.

-Perpustakaan-

 

“Noona, sedang apa?” tanyaku sambil meletakkan roti melon dan strawberry milk ke meja, di sisi dekat tangannya. Dia yang tadinya sedang asik membaca buku di depannya, lalu menghentikan kegiatannya, kemudian menatap ke arahku yang telah duduk di sampingnya.

“Taemin… Aku sedang mengerjakan tugas meringkas… Geunde, gomawoyo” dia tersenyum sambil membuka bungkus roti melon yang ku letakkan tadi,lalu menggigit kecil roti tersebut, dan kemudian menyeruput strawberry milk dari sedotan yang telah tertancap di kotaknya.

“Ne,noona.” Jawabku tersipu malu.

Dugeun dugeun. Aku bisa merasakan jantungku berdetak kencang. Omo! Duduk sedekat ini dengannya membuatku gila! Aku bahkan bisa mencium aroma badannya dari jarak sedekat ini. Harum, aromanya lembut. Aish, aku bisa gila dibuatnya.

Setelah selesai menghabiskan rotinya, noona kembali serius membaca buku di depannya. Aku hanya mencuri pandang sesekali ke arahnya, sambil membaca buku juga.(lebih tepatnya hanya membuka buku di depan mata tanpa membacanya sama sekali)

Aku merasakan gugup sekali, aku sedikit gemetaran. Kurasa kalau lama-lama seperti ini, aku bisa mati jantungan. Bayangkan saja, memandang kecantikannya dari jarak sedekat ini. Omo, rambutnya yg panjang lurus itu, tanpa perlu aku menyentuhnya saja, aku sudah tau kalau itu pasti sangat lembut. Wajahnya ternyata sangat mulus dan halus, dan dia benar-benar putih sekali! Aigoo kurasa sebentar lagi aku akan terserang asma, saking gugupnya.

“Ah! Sepertinya aku harus mengambil kamus ilmiah juga. Lihat istilah ini sulit sekali aku pahami” katanya tiba2 mengagetkan ku yang daritadi memperhatikannya. Aish, semoga dia tidak menyadari kalau aku memperhatikannya daritadi. Hae Rim noona langsung beranjak dari tempat duduknya, segera menuju rak yang tak jauh dari tempat duduk kami dan mencoba meraih sebuah buku cukup tebal yang berada diantara buku-buku tebal lainnya. Dia sedikit berjinjit untuk mengambil buku tersebut.

Aish buku-buku tersebut tersusun terlalu rapat, sehingga susah sekali baginya utk mengeluarkannya dari himpitan-himpitan buku tebal bersampul keras lainnya.

Aku segera beranjak dari tempat dudukku pula, berniat membantu Hae Rim noona mengambil buku tersebut, setidaknya dengan tinggi badanku ini akan lebih mudah mengambilnya. Aku berjalan perlahan. Saat aku hampir sampai ke tempatnya berdiri sekarang, akhirnya buku yang ingin diambilnya berhasil dikeluarkan dari raknya. Tapi sialnya, bukan buku itu saja, melainkan buku-buku lainnya tidak sengaja ikut tercabut sehingga menyebabkan buku-buku tebal dan berat plus bersampul keras (hardcover) tersebut sukses berjatuhan.

“Noona, awas!” segera aku melindunginya dari runtuhan buku-buku tersebut. Dengan refleks aku memeluknya, menghindarkannya dari buku yang paling tebal dari antara semua buku yang jatuh teresebut dan menahannya dengan kepalaku sendiri.

“Taemin.. aku tak bisa bernafas kalau kau memelukku terlalu erat seperti ini” kata-katanya mengagetkanku.. Omo apa yang ku lakukan? Keasyikan memeluknya membuatku lupa diri!

“ah,jesongeyo! Noona gwenchanayo?” segera aku melepaskan pelukanku dengan wajah yang memanas dan tingkah yang gugup

“ne,gwencha….. OMO!! TAEMIN!! KEPALAMU BERDARAH!!” dengan histeris ia berteriak, membuatku terkejut. Dia terlihat sangat shock dan emm…panik.

Benarkah kepalaku berdarah? Aku segera meraba kepalaku sendiri, dan benar saja aku merasakan sesuatu yang basah di pelipisku, dan aku melihat cairan merah yang cukup banyak menempel di tanganku yang tadinya kugunakan untuk meraba sekitar kepalaku. Tapi sungguh aku tak merasakan sakit sedikitpun. Apakah mungkin kulitku sedikit terkoyak akibat tergesek sudut dari hardcover kamus super tebal tadi?

“Omona!! Ayo cepat kita ke ruang kesehatan! Ini pakai tissue ini utk menghambat darahnya keluar!” dengan sangat panik Hae Rim noona menyerahkan selembar tissue yang telah ia lipat-lipat padaku,lalu meraih telapak tanganku utk di genggamnya dan menarikku mengikuti langkahnya.

Sungguh noona, situasi ini membuatku bahkan tidak bisa merasakan sakit sama sekali, meskipun darah masih mengalir cukup banyak dari luka ini. Semua terkalahkan dengan perasaan deg-degan ini, dan aku merasa hangat.

Sementara Hae Rim noona masih menarikku dan mengiringku dengan langkah super cepat, aku hanya tersenyum kecil. Aku sangat bahagia saat ini. Dugeun dugeun.

-Ruang Kesehatan-

Hae Rim noona menyuruhku duduk di atas kursi yang terletak di ruang kesehatan. Songsaenim yang bertugas sedang tidak ada, maka noona sendiri yang mencari kotak first aid lalu dengan segera membersihkan luka ku dengan alkohol. Dia mengusap dengan lembut luka ku menggunakan kapas yang telah di beri alkohol.

“Aish! Sakit!” kataku jahil, padahal aku tidak merasakan sakit sama sekali. Tidak selama yang mengobatiku adalah noona. Perasaan berbunga-bunga ini mengalahkan rasa sakit sedahsyat apapun!

“aigo! Jesongeyo, Taemin” dia terlihat benar-benar panik,lalu meniup lembut lukaku, mungkin supaya tidak terasa sakit.

Aku tersenyum jahil, untung saja dia tidak melihat senyumku ini. Dia bisa marah kalau tau rasa sakit itu hanya rekayasa ku agar dia cemas.

Dia kemudian mengambil sebuah plester, dan bersiap menempelkannya ke luka ku, namun sempat meniupi pelan luka tersebut, dan itu membuatku benar-benar sangat ingin pingsan rasanya. Astaga! Kenapa aku jadi seperti wanita ya? Mudah merasa gugup dan deg-degan seperti ini.

“Selesai” katanya setelah menempelkan plester tersebut.

“Gomawo noona” aku tersenyum manis padanya

“Kau membuatku hampir pingsan tau!” tak ku duga dia tiba-tiba mengeluarkan ekspresi sedikit… em… kesal bercampur cemas –mungkin-

“Ne??” sahutku tak paham

“Aigoo… aku hampir mati panik dan khawatir melihat darah mengucur dari kepalamu. Dasar” kini dia sedikit mendengus.

Lucu sekali, aku belum pernah melihatnya seperti ini.

“Arrgh!! Kepalaku!!” tiba-tiba naluri isengku muncul. Aku berpura-pura meringis kesakitan sambil memegang luka yang telah terplester itu.

“Taemin!! Gwenchanayo?! Taemin!!” segera terlukis raut kepanikan di wajahnya, sungguh! Ekspresinya saat ini sungguh sangat menggemaskan

“Aku bohong” kataku kemudian, membuat wajahnya sedikit, em… bersemu merah.. Ia memasang ekspresi protes, merasa kesal karena di permainkan.

“Kau ini! Mau membuatku mati cemas ya? Aku bisa mati kalau kau terjadi sesuatu padamu…ah ooops!!” dia menutup mulutnya tepat setelah ku dengar sebuah kalimat meluncur darinya, yang sukses membuatku shock.

“Ne??” aku merasa tidak percaya dengan apa yang ku dengar. Dia mencemaskanku sampai seperti itu? Dia takut terjadi sesuatu padaku? Tidak mungkin,aku tidak salah dengar kan?

Ku layangkan pandanganku kepadanya sekarang. Dia tidak berani menatapku. Benar saja, wajahnya terlihat memerah.

“Aku… harus segera masuk ke kelas” katanya menunduk malu dengan suara yang pelan

“Chakkaman” aku menahannya, menarik tangannya pelan sebelum dia berhasil meraih gagang pintu. Dia membalikkan badannya, tapi masih dengan wajah tertunduk. Aku tersenyum jahil, lalu mencoba melihat wajahnya yang masih enggan untuk diangkatnya.

“Noona, khawatir padaku ya? Apa noona suka padaku?” aku tersenyum jahil padanya yang kini menatapku gugup.

“Jinjja Lee Taemin, kau kan sedang senang tak terhingga saat ini. Hae Rim noona mengkhawatirkanmu dan itu tandanya dia juga menyukaimu. Kau malah berniat menjahilinya seperti ini.” Bisik sebagian dari pikiranku.

Tapi saat ini memang aku tak bisa menahan luapan kegembiraan di dalam hatiku. Tapi aku hanya ingin sedikit iseng saja. Sungguh, aku sebenarnya sangat ingin berjingkrak dan bersorak-sorak bahkan aku ingin freestyle dance saat ini juga mengetahui kenyataan bahwa Hae Rim noona kini tersipu karena ku. Tapi aku sedikit menahannya. Sedikit jahil sepertinya menyenangkan.

Hae Rim noona menundukkan kembali kepalanya, dia benar-benar tidak berani menatapku.

“Noona.. ayo, akui sajalah” insting kejahilanku masih berlanjut

“Ka.. kalau iya memangnya kenapa?” katanya kini sedikit sebal, tapi masih dengan muka sedikit merah.

“Apakah aku setampan itu,sehingga membuatmu tersipu begitu noona?” kataku sambil mengedip genit padanya. Omo Taemin, kenapa insting jahilmu itu terus berlanjut?

“A.. aku… aish!” dia segera menepis tanganku, aku bisa melihat wajahnya semakin merah sebelum akhirnya dia berbalik dan melangkah dengan cepat keluar dari ruang kesehatan ini.

“Aigoo~~ jantungku sebentar lagi mau jebol!!” sorakku mendudukkan diri meremas seragamku tepat di daerah dada. Aku melirik ke arah cermin yang tergantung di dinding,di sebelah kanan tempat duduk ini. Merah sekali wajahku.

“Noona~~~~ Saranghaeyo~~!!” aku memejamkan mataku dan meresapi getaran di dadaku. Senangnya.. aku benar-benar ingin menari rasanya. Bahkan melakukan sejuta kali windmill (gerakan berputar dengan bertumpu pada kepala dalam Break Dance) pun bisa kulakukan utk melukiskan kegembiraan ini.

Aku tersenyum memegang plester di pelipisku, lalu tersenyum jahil lagi. Aku punya rencana hebat.

-Ruang Operator-

“Songsaenim, jebal. Aku minta tolong kali ini saja. Sebagai gantinya untuk festival kali ini aku bersedia menjadi pemeran utama drama musikalmu” kataku pada Park Songsaenim sambil memohon.

Saat ini aku berada di ruang operator speaker di sekolah, dimana disinilah guru-guru biasa menyampaikan pengumuman lewat speaker-speaker yang terpasang di setiap ruangan kelas. Disini pula lah selalu diputar lagu-lagu klasik setiap jam istirahat sehingga selalu terdengar alunan musik di setiap kelas utk menemani siswa siswi yang mungkin menyantap bekal atau sekedar berbincang di kelas.

“Jinjja? Baiklah aku setuju, gunakan saja mic ini sesukamu” katanya kegirangan mendengar aku menerima tawarannya (lebih tepat paksaan) utk mnjadi pemeran utama di drama musikal nanti.

“Gamsahamnida songsaenim” kataku senang

Dengan segera aku meraih mic tersebut lalu memastikan bahwa ini akan terdengar di semua ruangan di sekolah ini, tanpa terkecuali.

Aku menarik nafas dalam-dalam, mempersiapkan hatiku, lalu meraih mic pengumuman dan memutar accoustic instrumental version dari sebuah lagu dari boyband terkenal.

……….

[Song Hae Rim’s POV]

Aku masi tidak bisa menenangkan jantungku yang daritadi berdetak tidak karuan. Aigoo.. aku keceplosan tadi, bagaimana bisa? Akibatnya pikiranku malah tidak karuan seperti ini. Tak satupun pelajaran yang menyangkut di otakku saat ini. Gara-gara Lee Taemin, dia benar-benar membuatku gila. Aku sangat gugup dan tidak tau apa yang harus ku lakukan saat ini. Dia akhirnya mengetahui perasaan yang selalu ku simpan sejak pertama kali berkenalan dengannya. Pertama kali bertemu, aku langsung terpesona pada senyum adik Lee Jinki itu. Tapi karena ku pikir mana mungkin dia menyukai yeoja yang lebih tua darinya? Apalagi dia juga cukup populer diantara siswi seangkatannya. Ottokhe?

Saat aku masih sibuk dengan pikiranku, tiba-tiba terdengar sebuah lagu accoustic dari speaker kelas. Mengapa ada lagu diputar di saat jam pelajaran seperti ini?

Juliette,oh~~ yeonghoneul bachilkkeyo~~ Juliette oh~~ Jebal nal bada jwoyo~~ Juliette,oh~~ dalkomhi jom deo dalkomhage~~ Soksagyo naui serenade~ (Translation: Juliette,oh..i’ll give you my soul.. Juliette,oh.. please accept me.. Juliette sweetly, a little more sweeter, i whisper my serenade)

 tiba-tiba suara seseorang mengiringi potongan singkat dari lagu tersebut. Yah, sesungguhnya aku sangat terkejut

“Taemin?” kata Ah Reum sama kagetnya denganku, lalu melirik ke arahku

“Song Hae Rim noona, saranghaeyo~~ Aku tau kau juga merasakan hal yang sama. Maka dari itu, aku hanya memberikanmu waktu 3 menit untuk menemuiku di halaman depan sekolah. Kalau tidak, aku akan membuka plester ini, lalu membiarkannya berdarah banyak agar kau mati cemas.. kh kh kh” Omo!! Dia terkekeh jahil seperti itu, sungguh menyebalkan!

Seketika, semua mata tertuju padaku. Sungguh, mukaku sekarang pasti sangat merah. Tidak!! Jantungku, mau copot!!

“Noona, aku menunggu mu!” kata suara Lee Taemin dari speaker tersebut lalu mematikan micnya.

“Songsaenim,aku….” kataku terbata, sambil menatap malu songsaenim di depan kelas dan semua teman-temanku

“Hukumanmu hanya meringkas semua penjelasanku tadi. Jadi tunggu apa lagi, agassi” kata Kim Songsaenim tersenyum jahil, lalu di iringi sorak sorai dari teman-temanku.

Tanpa buang waktu lagi,segera aku berlari keluar dari kelas, mempercepat langkahku. Mengarahkan langkah ke lapangan sekolah. Aku melihat kini bukan hanya anak-anak kelasku yang keluar karena penasaran ingin melihat adegan apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi seisi sekolah telah berkerumun di dekat lapangan sekolah, di jendela yang mengarah ke arah halaman, baik itu lantai satu maupun lantai 2 dan 3 termasuk para guru dan staff!

Aigo~~ Taemin, kau membuatku jadi pusat perhatian sekarang.

[Lee Taemin’s POV]

Aku melihat dia berlari ke arah ku. Aku yang telah menunggu di dekat pohon besar di halaman sekolah. Dia berhenti berlari ketika telah mencapai jarak kurang lebih satu meter dariku, lalu diam sebentar karena ngos-ngosan. Aku melihat sekeliling, segenap penduduk sekolah ini telah menyaksikan kami. Aku tersenyum senang –memang ini yang ku inginkan-

Aku meraih tangannya, menggenggamnya erat, dan menciumi lembut tangannya. Kini aku melihat semburat merah di wajahnya. Aku senang sekali. Semua siswa bersorak.

Dia diam saja sambil masih tersipu malu. Sebenarnya aku juga merasa gugup dan malu, tapi aku seorang namja. Jadi kemenangan hari ini harus menjadi milikku.

“Noona, saranghaeyo” semua sorakan menghilang dalam sekejap, suasana langsung menjadi hening saat aku mengucapkan kalimat tersebut. Semua orang tampak seperti menunggu-nunggu kalimat apa yang akan keluar dari bibir Hae Rim noona.

“Noona, maukah menjadi yeojachingu ku?” kataku lagi menatapnya lembut

Dia terdiam, seperti mau mengucapkan sesuatu, tetapi ragu.

“Noona” kataku lagi kini menatap matanya dalam-dalam

“Na….do… saranghae Lee Taemin” ia menjawab pelan lalu tertunduk malu.

Spontan seisi sekolah bersorak ikut merayakan kegembiraanku ini. Aku segera memeluknya, dan ia membalas pelukanku. Aku yakin sekarang dia bisa mendengar detak jantungku yang sudah seperti Beatbox ini. Tapi sudahlah,aku tak peduli. Yang penting saat ini dia telah menjadi milikku.

[…..]

 

“Chukha e uri dongsaeng!” sorak Key hyung, Minho hyung, Onew hyung dan Jonghyun hyung yang saat ini berkumpul di kamarku sambil kami bersulang dengan masing-masing sekaleng Coca Cola di tangan kami.

“Omo.. aku tak menyangka maknae kita ini melakukan hal nekad seperti itu” kata Key hyung bersemangat

“Kau benar-benar namja” Minho hyung mengacungkan jempolnya,sukses membuatku tertawa kecil

“Chukha e dongsaeng” Onew hyung mengacak lembut rambutku

“Aku tak menyangka uri Taemin bisa dengan gagahnya berbuat sesuatu yang menggemparkan seisi sekolah” kata Jonghyun hyung setelah meneguk minumannya

“Aniyo,hyung. Sebenarnya saat itu, jantungku hampir melompat keluar. Aku sangat gugup tau. Tapi aku hanya sok cool di depan semua orang. Tapi setelah itu, aku seperti kena asma mendadak saat menenangkan diri di toilet” kataku malu mengakui semuanya di depan para hyung ku ini.

“Hahaha… tapi setidaknya kau sudah jadi namja yang jantan.” Kini mereka berlima mengacak jahil rambutku, memperlakukanku seperti anak SD.

Saat ini aku tidak bisa merasa kesal atau protes kepada mereka seperti biasanya aku memprotes jika mereka mengacak rambutku dan memperlakukan ku seperti bocah yang masih kecil. Entahlah, rasa senangku ini mengalahkan segalanya. Jantungku masih berdetak tak karuan, dan nafasku masih terasa menderu. Tapi aku sangat menikmati perasaan ini. Aku sangat menyukainya dan aku berharap aku bisa menikmati perasaan seperti ini selamanya. Ya, selamanya….. Love is beautiful… bisikku dalam hati…

–END–

so how is it going? jesonghamnida kalau ternyata tidak berkenan (cieilah bahasanya) haha…

at the end, butuh readers sekalian untuk unjuk suara..hehe.. gomawo yang sudah baca,apalagi kalau bersedia ninggalin jejak xD

commentmu adalah nafas hidupku ^^

Gamsahamnida 😀

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
Advertisements

62 thoughts on “Love Is Beautiful”

  1. Aigo aigooo

    So sweet, aku jadi ngiler pengen jadi si noona. Hwaaah~ *digaplok Onew*.
    Asyik banget deh, mantap deh pokoknya! 😀

    Oh ya, Taemin disini keliatan manly looh. mantap deh. Mimpinya Taemin terwujudkan juga menjadi seorang manly oppa wkwkwkwk

    Aku tunggu karya barunya looh.
    HWAITING!!!! 😀

    1. Wkwk… si temin teh ud gede skrg XD
      aku emang plg demen ngebayangin tetem bersikap manly dg wajah cute..

      Thanks for the oxygen^^

  2. tengil banget kelakuannya taemin dah…
    Taemin masih kecil, sekolah dulu yg bener, jangan cinta-cintaan dulu ya… #telat

    Sweet like gulali… 😀

  3. Addduuh ini taem udah gede yaaa
    So sweet bgt gituuuu .

    Tapi ga pake kurang bayar bilang suruh ambil kembalian juga -_-
    Haha tapi keren ffnya
    Bacanya senyum senyum sendiri jadinya .

  4. ceritanya sederhana…
    tapi jadi terkesan sangat manis
    gara2 penulisan author yang rapi.. 😀

    taemin kamu nakal ya..
    suka goda’in nonna… :3
    *jitak taem.. kekekkee 😛

    keep writing author.. 🙂
    fighting..!!!
    😀

  5. aaaaaahhhhhhhhhhhhh aku senyum2 sendiri pas bacanya … benar2 hebat !!
    manis bgt taemin, coba ada yg nembak dengan cara seperti itu, tampa babibu langsung terima *menghargai keberaniannya*
    huwaaa manteb !!!
    authooorrr goood job

  6. Kyaaaa……#teriak2 gaje ala tarsan#
    0m0o…..uri Taemin, c0 cweeettttt….
    Malu jga kl0 nytain gt0 d dpan 0rang2 1sk0lahan #plakkk…abaikan# Bcany bkin deg2gan, smbil than nfas. Seru2 b^^d
    Cba kl0 d bkin part msing2 member, psti seru *readerbnyakmauny*
    Kereeeeeen……v

    1. O.o kok ada tarzan disini??
      #bughhh!!!!
      ehehehe….. tapi sekarang udah napas kan? bahaya klo gak XD XD XD
      <— maklum author sarap….
      gomawo for comment and read 😀

  7. aaaaaaa….aq suka ep-ep ini…..
    aq bacanya sampe nganga :O
    so sweet bgt bayangin taemin oppa kayak gittuuuu……

    bagus nih ep-epnya,,kata-katanya juga bisa bikin saiia kaiak liat pilm….ahahahay..

    saia tunggu karya laennya… 🙂

  8. awal-awalnya taemin masih polos, eh ternyata ke belakangnya dia bertransformasi jadi lelaki romantis (?) hahaha
    nice ff author 🙂

  9. Taemin saking ngejar noona nya sampe kurang ngasih uang buat bayar susu sama roti yaa hahahhaha
    Aaaaaaa sweeeeettttttttt buangeeetttttt
    Gak berenti senyum baca ff ini
    Taeminnyaaa woaaaww sampe didepan umum gituuuu
    Udah gitu dia cool manly gitu disini aaaa >.<
    Bagusbagusbaguuuss! 😀

  10. Omoo baby taemin!! Udah dewasa rupanya!! *cubitcubitpipitaemin*
    Sama noona yg ini mau gak?? Hihhihihihi
    Seru ceritanyaa hehhe *jempol*

  11. so sweet… ^^

    tapi kalo aku ditembak dg cara itu aku pasti udah lari pulang. Malu2in banget -_- #diciumTaemin

    nice ff, author 😀

  12. kyaa…. sweet bgt… pengen deh ditembak pake cara kaya gitu ama taem*diijek key(??)* hahaha.. good story….!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s