Taken & Receiving

Author : Yuyu

Beta-Reader : Galih

Main Cast :

  • Yoon Sanghee
  • Key

Support Cast :

  • Kim Jonghyun
  • Song Jieun
  • Tuan Song
  • Tuan Yoon
  • Nyonya Yoon

Genre :

  • Life
  • Romance
  • Sad
  • Friendship

TAKEN & RECEIVING

 

Ketika cahaya terengut dari jalanan yang ia lalui,

Ia tak punya banyak pilihan—kecuali untuk terus melangkah atau berhenti sejenak..

Ia tau, jika ia terus melangkah, ia mungkin akan tersesat..

Tapi jika ia berhenti, entah apa yang akan terjadi..

 

Kim Kibum—atau yang lebih akrab dipanggil Key oleh teman-temannya—menghela nafas panjang tiada henti sejak sepuluh menit yang lalu sesampainya ia di ruang kelas. Ketidakhadiran salah seorang mahasiswi di jurusan seni—yang kebetulan memiliki sebagian besar jadwal yang sama dengannya—membuat Key kehilangan gairahnya untuk terus masuk kelas.

Key duduk termenung, sama sekali tidak memedulikan beberapa wanita yang terus merecokinya. Pikirannya terbang terlalu jauh, ke tempat yang bahkan tidak bisa ia jangkau. Mungkin karena terlalu khawatir, Key meyakinkan dirinya sendiri. Key tidak pernah benar-benar menunjukkan ketertarikannya pada seorang wanita dengan cara yang spesial. Ia adalah seorang pria ramah yang memesona. Setiap hal yang ia perbuat semata-mata untuk menunjukkan sikapnya yang sopan. Semua wanita terlihat sama dimatanya, ia bersikap sangat baik pada mereka—karena mereka adalah wanita.

Tak sekalipun terlintas dibenak Key untuk menjalin hubungan serius dan melangkah ke tahap selanjutnya. Bukan berarti ia tak pernah terpikir untuk hidup berumahtangga, hanya saja pemikiran itu terasa begitu jauh dari pandangan Key.

Bahkan Kim Jonghyun—kakak laki-laki Key yang lebih tua satu tahun darinya—selalu menggoda Key tentang seksualitasnya. Key sama sekali tidak menyimpang, ia tau benar bagaimana dirinya. Hanya saja ia malas jika harus terus beradu argumen dengan Jonghyun dari waktu ke waktu dan memutuskan untuk membiarkan fantasi Jonghyun terus menyebar. Key tidak benar-benar peduli tentang apa yang orang lain katakan tentang dirinya.

Ia tidak ingin menjalin sebuah hubungan hanya untuk membuktikan pada Jonghyun bahwa dia tidak seperti yang Jonghyun pikiran. Mungkin itu jugalah yang menjadi salah satu faktor mengapa sampai saat ini Key sama sekali tidak pernah berpacaran.

Tapi akhir-akhir ini, ada seorang wanita yang membuat ia mencurahkan perhatian khusus—lebih dari yang pernah ia berikan pada siapapun. Yoon Sanghee, dialah wanita yang telah berhasil membuat Key uring-uringan. Bagaimana tidak, wanita itu tidak masuk kampus hampir 10 hari dan sama sekali tidak ada kabar berita.

Terlalu banyak ‘bagaimana jika…’ di dalam benak Key hingga ia sendiri merasa sangat penat. Ingin sekali ia berteriak kencang untuk mengeluarkan semua kegelisahannya, namun ia urungkan niatnya. Berteriak di dalam ruang kelas bukanlah pilihan yang tepat.

Key mengangkat kepalanya dengan malas saat salah seorang wanita menyentuh pundaknya, terus menceritakan sesuatu yang tidak didengar oleh Key karena ia sama sekali tidak berminat mendengar omong kosong saat suasana hatinya sedang tidak karuan. Saat itulah dia melihat Sanghee melangkah masuk kelas.

Key langsung berdiri, membuat beberapa wanita disekitarnya kebingungan. Tatapan mata Key terus mengikuti langkah Sanghee hingga wanita itu duduk di kursi terdepan. Key ingin sekali menghampiri Sanghee, menanyakan apa yang terjadi padanya. Tapi jelas hal itu akan terlihat aneh. Key tak pernah benar-benar mengobrol dengan Sanghee, hanya sekedar mengucapkan salam saat mereka bertemu. Dan jika tiba-tiba Key menunjukkan perhatiannya, bukankah Sanghee bisa saja menjadi takut?

***

Sanghee menatap kosong selama pelajaran berlangsung. Sepuluh hari bukanlah waktu yang panjang untuk mengobati lukanya. Ia butuh lebih dari itu—bahkan selamanya pun mungkin tidak akan pernah bisa menghapus luka yang telah terpahat dalam hidupnya.

Ia berdoa setiap malam, agar waktu dapat berhenti—atau setidaknya, waktu miliknya sendiri. Ia tidak bisa menjalani kehidupan yang membuatnya terus merasa tercekam. Ia kehilangan arah, entah harus ke mana ia melangkah agar bisa berjalan sampai akhir.

Nyonya Yoon sangat terkejut ketika Sanghee mengatakan ia akan kembali masuk kampus pagi tadi. Rasa bimbang menyelimuti Nyonya Yoon—antara membiarkan Sanghee kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa atau mendekapnya dengat erat sepanjang waktu. Tapi toh, Nyonya Yoon berpikir apapun keputusan Sanghee, itulah yang terbaik.

“Hai.” sapa seseorang dari balik pundak Sanghee. Baru sekarang ia sadari bahwa kelas telah bubar dan tak ada orang lain lagi di dalam—kecuali Sanghee dan seseorang yang menyapanya. Sanghee memilih untuk berpura-pura tidak mendengar sapaan itu dan membereskan barang-barangnya yang nyaris kosong diatas meja.

Key berjalan memutar, berdiri tepat di depan Sanghee yang mau tak mau membuat Sanghee melihatnya.

“Kau baik-baik saja?” tanya Key berusaha untuk tidak terlihat berlebihan. Ia tak bisa menahan dirinya lebih lama lagi. Ketidakhadiran Sanghee selama 10 hari dan perubahan sikap Sanghee yang sangat drastis benar-benar membuat Key dicekam oleh rasa takut. Apa yang terjadi pada Sanghee?

Sanghee mengangguk pelan sebagai jawaban, hanya itu. Ia sama sekali tidak mengeluarkan suaranya meski hanya sedetik. Masih ada banyak pertanyaan yang ingin Key lontarkan, tapi Sanghee sudah berdiri dari tempat duduknya dan beranjak pergi. Key berkacak pinggang, lalu menengadahkan kepalanya dan menatap langit-langit sambil meniup udara kosong melalui mulutnya. Apa yang sebenarnya terjadi pada Sanghee? Key tidak tau apa yang terjadi, tapi satu yang ia yakini, Sanghee tidak baik-baik saja.

***

Sanghee berdiri di depan gerbang sekolah. Hari berjalan dengan begitu lambat. Setelah kegiatan kampus yang terasa seperti satu hari penuh baginya, akhirnya tiba saatnya ia kembali ke dalam sangkar kecilnya yang mampu memberikan secuil rasa aman.

Lagi-lagi Key memerhatikan Sanghee dari kejauhan. Ia memiringkan kepalanya dan menatap Sanghee dengan seksama. Tidak biasanya Sanghee berdiri di depan gerbang seusai kegiatan kampus. Dan lebih tidak biasa lagi karena Key melihat Nyonya Yoon datang menjemput Sanghee. Kini, rasa penasaran tidak hanya mengetuk dirinya, tapi sudah mengobrak-abrik akal sehatnya. Ia harus tau—apa yang telah terjadi. Tapi, bagaimana caranya?

Sanghee bukanlah wanita yang tertutup, tapi ia tidak memiliki seorang pun sahabat dekat di kampus ini. Ia bersahabat kepada siapapun, tapi tak ada orang yang menjadi tempat untuk meluapkan segala curahan hatinya. Jadi, kepada siapa Key harus bertanya untuk mengetahui kebenaran yang mulai mengusik ketenangannya?

“Ya, kenapa kau melamun saja?” tegur Jonghyun begitu ia mendapati adiknya tengah termenung. Key memusatkan perhatiannya kembali dan menggeleng dengan cepat. Jonghyun mengikuti setiap langkah yang diambil Key dengan santai. Kedua tangan Jonghyun terpaut erat dan diletakkan dibelakang kepalanya sambil bersiul pelan.

“Apa ada hal yang membuatmu senang hyung?” tanya Key, tau benar arti dari setiap gerakan sekecil apapun yang dilakukan oleh Jonghyun.

Jonghyun langsung menoleh pada Key dan tersenyum lebar sambil memamerkan sederetan giginya. Saat itu juga Key menyesali pertanyaan yang ia lontarkan pada Jonghyun.

“Kau ingat wanita yang kuceritakan kemarin? Aku sudah berhasil berkenalan dengannya.” cerita Jonghyun dengan bersemangat, ia bahkan tidak perlu repot-repot menunggu Key menjawab pertanyaannya. Key mendengarkan setiap cerita Jonghyun dengan enggan sepanjang perjalanan pulang mereka. Bukan berarti Key tidak ingin memerhatikan kakak satu-satunya ini, hanya saja Key sudah tau bagaimana cerita Jonghyun akan berakhir—Jonghyun akan pacaran dengan wanita yang ia taksir, kisah mereka akan berlangsung semanis madu lalu terjadilah pertengkaran-pertengkaran yang akan menyeret mereka pada perpisahan. Jadi jika Key sudah bisa menebak jalan ceritanya, mengapa ia masih harus mendengarkan cerita Jonghyun yang membosankan?

“Oh ya, apa kau mengenal Sanghee? Kudengar Jieun dan Sanghee berteman baik.” cerocos Jonghyun lagi.

Kali ini Key bereaksi terhadap penuturan Jonghyun. Bukan karena nama Jieun—mungkin wanita yang ditaksir oleh Jonghyun—yang disebut, tapi karena nama Sanghee menggelitik pendengarannya.

“Maksud hyung, Yoon Sanghee?” tanya Key.

“Oh, kau mengenalnya? Lalu apa kau juga mengenal Jieun?” Jonghyun balik bertanya sementara Key kembali larut ke alam miliknya sendiri. Ia tidak menyangka bahwa Sanghee memiliki seorang teman yang akan selalu berada di sisinya.

***

Sanghee meringkuk diatas tempat tidurnya. Kedua lengannya memeluk lututnya dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya nyaris memutih. Pandangannya lurus dan kosong diselimuti oleh kegelapan yang mulai menjadi sahabatnya.

Kepala Sanghee bergerak pelan saat ia mendengar lantunan musik. Kakinya bergerak dengan ragu menuruni tempat tidurnya. Ia berdiri tepat di depan pintu kamarnya—berdebat dengan pikirannya sendiri antara terus mengurung diri di dalam kamar atau keluar. Sanghee mengerjapkan matanya dengan perlahan dan membuka pintu. Langkahnya terseret-seret hingga ia menemukan anak tangga dan menuruninya satu persatu. Sanghee berhenti hanya setelah beberapa anak tangga ia pijak. Matanya terarah tajam ke layar televisi dilantai satu dari tangga tempatnya berdiri saat ini. Kemarahan yang terpancar jelas dari sorot matanya lalu berubah, sarat dengan kesedihan yang tak bisa ia bendung. Sanghee terduduk ditangga, isakannya yang pelan mampu didengar oleh Nyonya Yoon. Detik itu juga Nyonya Yoon mendongak dan mendapati puteri kesayangannya telah menekuk tubuhnya seperti bola di tangga. Nyonya Yoon langsung berlari dan menghampiri Sanghee.

“Sanghee-ya, neo waeire?” tanya Nyonya Yoon selembut yang ia mampu.

Sanghee tidak mampu menjawab pertanyaan Nyonya Yoon, sebagai gantinya, isakannya mengencang.

“Eodi apha?” tanya Nyonya Yoon lagi. Sanghee masih tidak menjawab pertanyaan Nyonya Yoon. Ia berlari ke kamarnya—diikuit Nyonya Yoon—dan langsung mengambil sebuah gitar yang terpajang manis di kaki tempat tidurnya. Sanghee mengangkat gitar kesayangannya ke udara dan menghempaskannya dengan cukup keras, membuat Nyonya Yoon terlonjak kaget tak percaya. Tidak hanya itu, Sanghee membuka lemarinya, mengeluarkan buku-buku musiknya dan membuangnya ke lantai dengan kasar.

“Apa yang sedang kau lakukan Sanghee?” Nyonya Yoon ikut terisak pelan. Ia memeluk Sanghee dengan erat, mencegahnya untuk merusak lebih banyak lagi mimpi yang telah ia rajut selama ini.

“Aku tidak membutuhkan semua ini!” teriak Sanghee dengan kencang, “Aku hanyalah orang cacat yang tak akan pernah bisa menggapai mimpiku!!”

“Jangan berkata seperti itu. Kau pasti bisa menjadi penyanyi seperti impianmu. Kau pasti bisa, Sanghee-ya.” hibur Nyonya Yoon.

“Aku tidak akan pernah bisa.. Tidak akan pernah bisa jika luka itu masih terus membekas..” Isakan Sanghee mulai kembali terdengar. Emosinya campur aduk saat ini. Ia marah pada kenyataan yang ada, ia kecewa pada Tuhan yang dirasanya tidak adil, ia sedih karena mimpinya kini telah musnah tertiup angin, ia tersesat—tak mampu mencari kembali jalan yang seharusnya ia lalui. Ia hanyalah seorang wanita—yang dulunya—optimis yang kini tak berdaya ketika dihadapkan pada kehidupan nyata yang kejam.

***

Key berjalan mondar-mandir di depan pintu pagar rumah Sanghee. Ia sudah berada di sana sejak 30 menit yang lalu, tapi sampai sekarang pun ia masih belum memiliki keberanian untuk memanggil nama Sanghee.

Key terus berkutat dengan pikirannya sendiri. Haruskah ia datang ke rumah Sanghee untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi?
”Apa kau seorang penguntit?” tanya sebuah suara dari balik punggung Key. Key nyaris terlonjak saking kagetnya. Ia sama sekali tidak sadar bahwa gerak-geriknya tengah diperhatikan sejak tadi. Key memutar tubuhnya dan menatap seorang wanita yang balas menatapnya dengan tajam.
”Apa yang kau lakukan di depan rumah Sanghee?” tanya wanita itu lagi—nada suaranya sangat tidak bersahabat.

“Eum.. Aku teman kampus Yoon Sanghee. Kau sendiri.. siapa?”

Wanita itu menghiraukan pertanyaan Key. Ia kembali menatap Key dengan tajam dari kepala hingga kaki berkali-kali, seolah-olah sedang meragukan pengakuan Key.
”Jieun-ah, kenapa kau masih berdiri di depan rumah Sanghee?” Lagi-lagi muncul seseorang yang tidak Key kenal. Kali ini seorang pria yang masih terlihat gaya diusianya yang sudah melebihi 40 tahun.

“Appa..” panggil Jieun pada pria paruh baya itu.
”Jadi, kau Song Jieun?” tanya Key begitu ia mengingat nama sahabat—orang yang disukai Jonghyun—Sanghee yang ia ketahui tadi siang.

“Apa yang sedang kalian lakukan di sana? Cepat tolong anakku!” teriak Nyonya Yoon saat ia membuka pintu rumah.

Key termenung. Sungguh, ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Adakah seorang saja yang bersedia memberitaukan sesuatu padanya?

Tuan Song menerobos masuk ke dalam rumah Sanghee begitu Nyonya Yoon meneriakinya dengan panik. Jieun pun menghiraukan Key dan berlari di belakang Tuan Song. Sejuta pertanyaan dibenak Key mendorongnya untuk mengikuti mereka masuk ke dalam rumah. Setelah menaiki tangga menuju lantai dua, pemandangan yang sangat miris terbentang dihadapan Key.

Di sana—di kamar itu—wanita yang membuat hatinya bergetar tengah terbaring agak meronta. Seorang pria paruh baya lainnya—yang diasumsikan oleh Key sebagai Tuan Yoon—memegangi kedua tangan Sanghee dengan erat. Tuan Song mengeluarkan sebuah jarum suntik dari dalam tas yang ia bawa sejak tadi dan menyuntikkannya ke pergelangan tangan Sanghee—membuat wanita itu menjadi lebih tenang dan berhenti histeris.

Key memandang ke sekeliling. Kondisi kamar itu benar-benar kacau. Banyak buku berserakkan dan beberapa cd lagu yang terbengkalai di lantai. Benar-benar mengerikan. Key kembali menatap ke arah Sanghee. Sanghee menatap Key tanpa bisa mengucapkan apapun karena terlalu lemah—efek dari obat penenang yang diberikan oleh Tuan Song. Kedua kelopak mata Sanghee menutup perlahan hingga akhirnya tertutup erat. Barulah saat itu semua orang menyadari kehadiran Key.

Dengan agak malu—karena telah masuk tanpa izin—Key memperkenalkan dirinya. Nyonya Yoon hanya tersenyum tipis saat Key mengatakan bahwa ia teman satu kampus Sanghee dan menyilakannya untuk duduk di ruang tamu sementara Nyonya Yoon membereskan kamar Sanghee.

Key duduk di ruang tamu, berhadapan langsung dengan Jieun yang masih belum terlihat bersahabat—apa yang disukai Jonghyun dari Jieun? Tuan Yoon memutuskan untuk membantu Nyonya Yoon membereskan kamar Sanghee sementara Tuan Song harus buru-buru kembali ke rumah sakit karena ada pasien yang menunggunya.

Key mengetuk-ngetukkan kakinya dilantai karena merasa tidak nyaman dengan pandangan yang diberikan Jieun.

“Bisakah kau ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi pada Sanghee?”

“Kenapa aku harus menceritakan masalah Sanghee padamu?” sahut Jieun dingin. Key menghembuskan nafas pelan untuk menahan kejengkelannya. Jieun memang benar, tapi tetap saja Key tidak bisa menerima jawaban seperti itu.

“Mungkin aku bisa membantunya—atau setidaknya bantuanku akan dibutuhkan suatu saat nanti.” jelas Key berusaha agar tidak terlihat jengkel.

“Tidak ada seorang pun yang bisa membantu Sanghee untuk saat ini. Kecuali dirinya sendiri…” Jieun menambahkan kalimat terakhirnya dengan pelan seperti bisikan.

“Apakah sesuatu yang buruk terjadi pada Sanghee?” Key berusaha mendapatkan sedikit petunjuk dari Jieun yang masih bungkam.

“Sesuatu yang jauh lebih buruk dari yang bisa kau bayangkan.” ungkap Jieun. Kini wajahnya terlihat sayu membayangkan apa yang telah dialami oleh Sanghee.

“Baiklah, mungkin belum waktunya bagiku untuk mengetahui apa yang terjadi. Tapi aku akan berusaha untuk melindunginya.” ucap Key bersungguh-sungguh hingga mampu membuat Jieun merasakan ketulusannya.

“Oh ya, salam dari Jonghyun hyung.” tambah Key sebelum ia beranjak pergi.

***

“Hai Sanghee. Apa kau sudah mengerjakan tugas dari Mr. Jung?” sapa Key yang mengimbangi langkah Sanghee.

Sanghee terus berjalan, berpura-pura tidak menyadari kehadiran Key.

“Hei…” sapa Key sekali lagi, berusaha menarik perhatian Sanghee. Key menepuk pelan pundak Sanghee, tapi reaksi yang diberikan Sanghee dirasa Key sangat berlebihan. Sanghee menghempaskan tangan Key dengan kuat dan menatapnya dengan penuh amarah. Bisa Key lihat betapa eratnya rahang Sanghee terkatup hingga terdengar suara bergemeretak dari deretan gigi-gigi Sanghee yang beradu.

“Jangan mendekatiku!” teriak Sanghee, tidak hanya membuat Key terkejut, tapi juga beberapa mahasiswa lainnya yang berada di dekat mereka.

“Sanghee, tenanglah.” Key mencoba untuk menenangkan dirinya. Sanghee hanya menatap Key dalam kebisuan dan berjalan dengan langkah-langkah lebar untuk segera menjauh pergi.

“Yoon Sanghee, kau kenapa?” Key masih tak ingin menyerah. Ia mengejar Sanghee. Tangannya terulur, bersiap menyentuh pundak Sanghee lagi untuk menghentikan langkahnya. Tapi Key menarik kembali tangannya, ia tidak ingin Sanghee menjadi histeris seperti tadi.

“Kumohon..” bisik Sanghee lemah. Langkahnya telah terhenti tanpa Key sadari, “Jangan dekati aku.. Dan lupakan apa yang kau lihat kemarin.” Kali ini Sanghee tidak berteriak, tapi suaranya terdengar begitu lemah dan serak. Tatapan matanya tak segarang tadi, tapi telah berubah menjadi nanar.

Key terpaku ditempatnya berdiri sementara Sanghee telah berlalu pergi dan menghilang dibalik kerumunan. Sifat Sanghee berubah-ubah dengan sangat cepat hingga membuat Key kebingungan. Tapi, dia tidak ingin menyerah. Dia akan terus mengulurkan tangannya pada Sanghee, hingga suatu hari nanti Sanghee akan menerima uluran tangannya dan ia dapat membantu wanita itu.

***

“Saatnya makan siang.” ujar Key riang sambil meletakkan dua mangkuk mie dimeja Sanghee. Sanghee menengadahkan kepalanya dan menatap Key dengan heran karena beberapa hari terakhir Key selalu mengusiknya.

Bukannya Sanghee tidak senang dengan kehadiran Key yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya—karena sejujurnya, Sanghee memiliki rasa yang lebih dalam daripada sekedar rasa tertarik pada Key sejak lama—hanya saja, ia tak bisa berada didekat Key atau siapapun. Ia tidak ingin orang-orang mengetahui apa yang telah terjadi dalam hidupnya. Dia tidak ingin dipandang hina, ia bahkan lebih tidak ingin dikasihani oleh orang-orang yang bahkan tak mengenalnya dengan baik. Ia baik-baik saja—setidaknya itulah yang ingin ia tunjukkan pada dunia yang telah mengkhianatinya.

Sanghee menatap mangkuk mie dihadapannya dengan datar lalu berdiri—bersiap beranjak pergi.

“Jangan..” ucap Key pelan. Sanghee kembali menatap Key dengan heran. Key ikut berdiri sambil mendorong mundur kursi yang ia duduki.

“Makanlah, aku yang akan pergi.” lanjut Key sambil terus menundukkan wajahnya dan keluar dari ruang kelas. Sekali lagi, Sanghee menatap mangkuk mie dihadapannya. Ada setitik rasa hangat yang menghampirinya. Andai saja situasi saat ini tidaklah seperti sekarang, maka Sanghee akan dengan senang hati menerima perhatiaan yang ia dapatkan.

***

Key masih sibuk memikirkan cara yang tepat agar ia bisa membantu Sanghee untuk kembali menjadi dirinya yang dulu ketika kerumunan mahasiswa di depan papan pengumuman menarik perhatiannya.

Key mengerutkan keningnya dan menghampiri kerumunan itu. Banyaknya mahasiswa yang berkumpul membuat Key harus sedikit berdesak-desakkan agar ia bisa berada dibarisan depan dan membaca pengumuman yang menjadi pusat perhatian. Matanya terbelalak lebar begitu melihat sebuah surat yang tertancap di tengah. Key membaca kata demi kata berulang kali, tapi hasilnya sama saja—ia tidak salah membacanya surat itu.

“Benarkah ini?” terdengar suara seorang mahasiswa dibelakang Key.

“Tentu saja. Kemarin aku mengunjungi Pamanku yang bekerja di kantor polisi, dan secara kebetulan aku melihat surat tuntutan yang diajukan oleh orangtua Yoon Sanghee.” jawab seorang mahasiswa lain yang sepertinya menjadi dalang dari keramaian ini.

“Tsk, ternyata itu yang membuatnya tidak hadir dikelas begitu lama.” sahut mahasiswa lain—entah siapa.

“Brengs*k..” gumam Key dengan pelan. Key menarik surat itu dan merobeknya hingga menjadi potongan-potongan kecil lalu menyentakkannya ke lantai.

“Hei, apa yang kau lakukan?” tanya mahasiswa yang menempel surat itu. Key mendelik tajam dan memberikan tatapan maut yang membuat orang yang menatapnya bergidik ngeri.

“Apa kau pikir ini adalah lelucon!?” tanya Key berang.

“Y—ya! Kenapa kau marah-marah? Toh bukan kami yang melakukan hal itu pada Sanghee.” elak pria itu, berusaha tidak terlihat gentar dibalik tatapan tajam Key.

Key tertawa sinis dan kembali menatapnya dengan tajam ,“Demi Tuhan! Yoon Sanghee adalah korban dan kalian masih saja memperolok-olok dirinya? Justru karena ada orang yang tidak memiliki hati seperti kalian lah makanya Sanghee bisa menjadi korban—“ Key terlihat canggung untuk melanjutkan kalimatnya sendiri. Key berdeham pelan dan menerobos pergi. Ia tak sanggup melanjutkan kalimatnya.

Korban pemerkosaan…

Key merasa seolah dengan mengucapkan kalimat itu ia telah menjadi pelaku dibalik penderitaan yang dialami Sanghee. Ia tau Sanghee menderita, tapi tak pernah terbayangkan dibenaknya bahwa penderitaan yang dialami Sanghee begitu luar biasa. Itu sebabnya Jieun menolak menceritakan aib Sanghee? Itukah sebabnya Jieun berkata bahwa hanya Sanghee sendirilah yang mampu menyelamatkan dirinya?

Dada key terasa sesak, amarah membuncah di dalam dirinya. Siapa binatang dalam wujud manusia yang tega melakukan hal seperti itu pada Sanghee?

“Kau sudah lihat di papan pengumuman?”
”Tentang Yoon Sanghee? Kasihan sekali dia.”
”Benar, padahal dia adalah mahasiswa yang berbakat.”

Key mendengar bisik-bisik disepanjang koridor yang membuatnya semakin panik. Langkah key melebar, lalu berubah semakin cepat hingga berlari kencang. Ia ingin menyelamatkan Sanghee, ia tak ingin Sanghee mendengar berita ini—bahwa hampir seisi kampus telah tau mengenai apa yang telah menimpa dirinya. Tapi ia terlambat, selangkah lebih lambat untuk menyelamatkan Sanghee.

Begitu Key sampai ke kelas mereka, beberapa teman sekelas mereka berdiri di pintu sambil terus berbisik-bisik dan menunjuk ke arah Sanghee. Key menghela nafas berat disela-sela nafasnya yang tersengal-sengal. Ia terlambat untuk melindungi wanita yang ia cintai.

Sanghee menekuk lututnya di seberang ruangan. Wajahnya tertunduk dalam-dalam dan dibasahi oleh airmata. Ibujarinya terselip diantara bibirnya yang bergetar hebat. Matanya berkedip begitu cepat karena rasa panik yang telah membungkus setiap sel tubuhnya. Key melangkah dengan sangat perlahan sementara tidak ada seorang pun yang berani mendekati sosok Sanghee yang terlihat begitu rapuh.

Key mengulurkan tangannya dengan sangat pelan untuk meraih puncak kepala Sanghee. Ia ingin membelainya, memberikan rasa aman. Namun sayang, Sanghee tak mengerti niat baiknya. Sanghee justru semakin ketakutan. Sanghee memegangi kepalanya dengan kedua tangannya untuk melindungi dirinya. Saat ini Sanghee adalah sebuah porselen rapuh yang akan hancur meski hanya dengan sebuah sentuhan ringan, dan Key menyadari hal itu. Ia duduk beberapa meter dari Sanghee dan terus menatapnya, untuk memastikan bahwa wanita masih bernafas dengan benar.

Ini bagai mimpi buruk bagi Sanghee. Ia tau, cepat atau lambat berita pasti akan menyebar. Tapi tak disangka berita tersebar begitu cepat. Sanghee bahkan belum mengobati lukanya, dan sekarang, orang lain justru menambahkan luka lain diatasnya. Sanghee tidak bisa melihat apapun lagi disekitarnya, semuanya berputar begitu cepat dan membuatnya semakin takut. Perasaan tidak aman telah menghantuinya.

Ia kembali mengingat malam naas itu tanpa dikehendaki. Ia begitu sakit, ia begitu kotor waktu itu. Dan sekarang, ia kembali merasa seperti itu. Ia kembali tersakiti mendengar setiap kalimat simpati yang dilontar teman-temannya, ia kembali dikotori saat melihat tatapan orang-orang disekitarnya. Ia telah menangis begitu banyak, tapi airmatanya tak kunjung mengering.

Satu menit, sepuluh menit berlalu hingga satu jam. Key masih terus duduk di sana, menemani Sanghee dalam keheningan sementara teman-teman mereka telah pulang.

“Sanghee-ya!” panggil Nyonya Yoon begitu ia memasuki ruang kelas yang mulai meremang. Key segera berdiri meski agak kesulitan karena kakinya kram setelah duduk bergeming selama satu jam. Key membungkukkan badannya dan mengucapkan salam yang hanya ditanggapi sekilas oleh Nyonya Yoon yang langsung menghampiri Sanghee.

Sanghee menunjukkan reaksi yang sama dengan yang ia berikan pada Key ketika Nyonya Yoon mencoba untuk memeluknya.

“Ini eomma, ini eomma, Sanghee-ya..” Nyonya Yoon mengulangi kalimatnya sendiri berkali-kali hingga akhirnya Sanghee berhenti meronta. Sanghee menengadahkan kepalanya, memperlihatkan kedua matanya yang sembab. Tangis Sanghee semakin menjadi-jadi ketika ia melihat wajah Nyonya Yoon. Ia memeluk Nyonya Yoon dengan sangat erat, seolah sedang meminta pertolongan.

***

“Hari ini kampus gempar karena kasus pemerkosaan yang dialami oleh Yoon Sanghee. Apa kau juga tau, Key?” tanya Jonghyun sambil memetik gitarnya diatas tempat tidur Key.

Key menghiraukan Jonghyun dan terus menatap langit-langit kamarnya yang sama sekali tak menarik.

“Ya!” Jonghyun meletakkan gitarnya di kaki ranjang dan menyenggol lengan Key.

“Aku ingin melindunginya, hyung.” aku Key begitu saja.

“Apa?”

“Yoon Sanghee, aku tidak ingin dia lebih terluka lagi.” jelas Key.

“Kau—kau menyukai wanita itu?” Kedua mata Jonghyun melebar. Key hanya menatap Jonghyun dengan penuh arti sebagai ganti jawaban.

“Astaga..” gumam Jonghyun pada dirinya sendiri. “Well, menurutku tidak ada salahnya jika kau menyukai Sanghee. Hanya saja, setelah apa yang terjadi.. Apa kau masih bisa menyukainya?”

Key kembali menatap langit-langit dalam diam.

Apakah aku masih bisa menyukainya? Menerima dia dengan noda yang selamanya akan berbercak dalam hidupnya?

Yah, pertanyaan seperti itu juga pernah terbersit dibenaknya. Key bisa saja menjawab iya, untuk memperlihatkan betapa mulianya dirinya. Tapi tak bisa ia pungkiri bahwa ia mungkin tak akan pernah bisa melihat Sanghee seperti ia melihatnya dulu. Pandangan itu kini berbeda. Dimana ia harus mencari jawaban sesungguhnya dari pertanyaan-pertanyaan yang berputar tiada henti?

“Sebenarnya aku senang karena kau menyukai Sanghee—itu membuktikan bahwa kau bukanlah penyuka sesama jenis. Tapi kurasa, aku harus memberikan saran padamu untuk mencari wanita lain. Dia—“
”Jangan menjelek-jelekkan dia.” kata Key dengan tegas.

“Aku tidak bermaksud menjelek-jelekkan dia.” Jonghyun mengangkat pundaknya dengan cuek, “Tapi itulah kenyataannya, dia tidak baik untukmu.”

“Kau menilai seseorang karena masa lalunya—karena apa yang terjadi tanpa ia kehendaki? Itu namanya rendah.” cemooh Key.

Key mengerjapkan matanya beberapa kali lalu menegakkan tubuhnya dengan tiba-tiba.

“Apa? Kau kenapa!?” tanya Jonghyun sambil mengerutkan keningnya.

Benar! Itulah jawabannya! Mengapa Key tidak menyadarinya lebih cepat? Yang ia sukai adalah Yoon Sanghee, bukan masa lalunya, bukan juga masa depannya.

Key melompat turun dari tempat tidur dan menyambar jaketnya dengan asal-asalan lalu berlari cepat keluar dari kamar, sama sekali tidak menggubris pertanyaan-pertanyaan Jonghyun.

***

Key berjalan mondar-mandir di depan pintu pagar rumah Sanghee. Padahal tadinya ia sudah yakin ingin mengatakan perasaannya pada Sanghee. Tapi mengapa sesampainya ia di sini, ia justru membeku?

“Kau lagi.” ucap Jieun tetap dengan suara yang datar seperti beberapa minggu lalu. Jieun berpangku tangan dan memicingkan matanya, “Kau yakin kau bukan penguntit?”

“Apakah Sanghee ada di dalam?” Key menghiraukan pertanyaan Jieun dan menggerakan kepalanya ke arah rumah Sanghee.

“Ya, tentu. Bisa dimana lagi dia kalau tidak di rumah.” jawab Jieun setelah terdiam beberapa saat.

“Nyonya dan Tuan Yoon sedang keluar, dan beliau memintaku untuk menjaga Sanghee.” terang Jieun sembari menuntun Key masuk ke dalam rumah. Jieun menoleh ke atas, ke arah di mana kamar Sanghee berada. Jieun menghela nafas berat dan menatap Key.

“Kau ingin menemuinya?”

Key mengangguk pelan.

Jieun kembali menoleh ke atas dan menghela nafas berat, “Saat ini, Sanghee tidak hanya terluka. Lebih dari itu, dia tak memiliki keinginan untuk terus bertahan. Sanghee yang sekarang tidak sama dengan Sanghee yang kau kenal dulu. Dia juga bukan Sanghee yang tetap mencoba untuk menjalani kehidupannya. Dia bahkan lebih buruk daripada Sanghee yang kau lihat minggu lalu ketika berita—mengenai kasus pemerkosaan yang menimpa dirinya—itu merebak di kampus. Dia jauh, jauh lebih buruk dari itu.” terang Jieun panjang lebar. Matanya mulai berkaca-kaca ketika mengingat bagaimana kondisi Sanghee terus menurun dari hari ke hari. “Bisakah kau berjanji satu hal padaku? Jika kau benar-benar ingin naik ke atas dan menemuinya, jangan pernah membiarkan Sanghee melihat punggungmu—karena itu hanya akan membuat hidup Sanghee benar-benar berakhir. Jangan berpaling darinya ketika kau mengetahui kenyataan yang jauh lebih buruk lagi. Bisakah kau melakukannya?”

Key menghindari tatapan mata Jieun yang memilukan. Ia menggigiti bibir bawahnya sendiri sambil mencoba untuk membuat keputusan dalam waktu singkat.

Entah bagaimana, Jieun bisa melihat sesuatu di dalam diri Key yang bisa membuat Sanghee bangkit kembali. Entah darimana pemikiran itu, tapi Jieun mencoba untuk mempercayainya. Jika memang dengan mempercayai pria asing dihadapannya ini bisa menyatukan kembali kepingan-kepingan puzzle dalam hidup Sanghee, mengapa tidak?

Orang-orang mempercayai bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita adalah sesuai dengan kemampuan kita untuk menyelesaikannya. Tapi Jieun tau benar bahwa apa yang terjadi pada Sanghee berada jauh dari kemampuannya untuk bertahan. Dan dia tak ingin kehilangan sahabatnya itu.

“Aku tidak akan keluar dari kamar Sanghee begitu saja.” janji Key akhirnya. Jieun tersenyum tipis dan menyingkir dari tangga agar Key bisa memenuhi janjinya.

Key menaiki tangga dengan sangat perlahan sambil mengira-ngira, seburuk apa kondisi Sanghee saat ini? Key mengetuk pintu kamar Sanghee beberapa kali—meskipun pintu kamar Sanghee tidak tertutup. Dari celah-celah pintu yang terbuka, Key bisa melihat Sanghee tengah duduk di atas tempat tidurnya sambil meringkuk, sebuah posisi yang akhir-akhirnya terasa nyaman bagi Sanghee.

Key melangkah masuk, sengaja membiarkan derap langkahnya terdengar jelas agar tidak mengejutkan Sanghee.

“Sanghee..” panggil Key sebelum ia duduk perlahan di sisi tempat tidur, sengaja berlama-lama untuk memberikan waktu bagi Sanghee untuk mengusirnya. Tapi Sanghee membiarkan dia duduk disana.

“Bagaimana kabarmu?” Pertanyaan tolol, Key sadari itu. Tapi itulah satu-satunya pertanyaan yang berani ia lontarkan. Sanghee hanya mengedipkan matanya didalam kekosongan. Ia benar-benar tidak ingin menyadari kehadiran Key. Tatapan mata Sanghee yang lurus perlahan-lahan terjatuh ke bawah, pada suatu benda yang terletak di atas tempat tidur dihadapan Sanghee.

Key mengikuti arah pandangan Sanghee dan terkesiap. Kejutan demi kejutan terus menghampirinya akhir-akhir ini. Tangan Key bergetar pelan dan menyentuh test pack entah sejak kapan dibiarkan disana. Ia melihat dua buah garis merah dan segera memalingkan wajahnya pada Sanghee.

Tak ada suara yang dikeluarkan Sanghee saat setetes airmata meluncur turun dari pelupuk matanya yang bahkan belum mengering dari tangisnya beberapa saat yang lalu. Barulah Key ketahui apa makna dari kata-kata Jieun tadi.

Sanghee jauh lebih pucat dari Sanghee yang ia lihat minggu lalu. Tidak hanya itu, ia semakin kurus. Key membuka mulutnya, mencoba menghibur Sanghee. Tapi mulutnya kembali terkatup. Ia tak tau harus berkata apa agar Sanghee merasa lebih baik.

“Aku tidak ingin menginginkan benda ini di dalam diriku..” Akhirnya Sanghee membuka mulutnya.

Key menatap Sanghee tanpa mampu berkata apa-apa. Ia sendiri tak tau harus bertindak bagaimana jika seandainya ialah yang berada di posisi Sanghee saat ini. Mungkin Key akan menjadi gila, atau mungkin bunuh diri apalagi setelah mengetahui bahwa ada hasil dari perbuatan itu.

“Oh, kau teman kampus Sanghee kan?” Nyonya Yoon masuk ke dalam kamar Sanghee dan melihat Key berada di sana. Nyonya Yoon tersenyum lemah pada Key dan menghampiri Sanghee. Nyonya Yoon terlihat jauh lebih tua dan lelah dari yang dilihatnya pertama kali.

“Tandatanganilah surat ini dan eomma akan membuat janji dengan dokter secepat mungkin.” Nyonya Yoon menyodorkan sebuah kertas yang harus diisi untuk melengkapi prosedur aborsi yang diinginkan Sanghee lalu kembali memberikan ruang bagi Key dan Sanghee.

Key mengintip isi surat itu dari balik pundak Sanghee dan langsung mengernyit.

“Kau..” Key menghentikan kata-katanya sambil menelan air liurnya dengan susah payah, “Ingin membuangnya?” tanya Key, sengaja tidak ingin menyebutkan kata bayi dihadapan Sanghee.

Sanghee kembali membisu. Ia tidak tau. Hatinya terus menyuarakan keinginannya untuk membuang sesuatu yang berada di dalam rahimnya. Memang itu adalah hal yang kejam, tapi Tuhan tak bisa menyalahkan dirinya. Sanghee telah mengalami hal yang jauh lebih kejam, ia bahkan tidak mengenal orang menjijikkan yang meninggalkan bekas di dalam rahimnya—dan Sanghee tak sudi untuk melihat wajahnya sekali lagi. Jadi mengapa ia masih harus menerima sebuah pukulan lagi?

Sanghee menatapi surat itu berlama-lama. Tangannya mencengkram sisi-sisi kertas itu dengan sangat erat—menunjukkan betapa ragunya ia.

“Haruskah kulakukan?” Sanghee bersuara sekali lagi. Ada keraguan besar yang melandanya. Terbersit nada memohon dalam suaranya—memohon pada Key untuk menuntunnya pada sebuah keputusan.

“Aku tidak bisa memberikan saran apapun padamu, Sanghee. Dengarkan kata hatimu sendiri, apa yang sedang ia teriakkan saat ini?”

Jelas sekali, hati Sanghee berteriak untuk melakukan aborsi. Tapi disaat yang bersamaan ia mendengarkan suara—bisikan—yang seolah sedang memohon padanya agar tidak melakukan hal itu.

“Jika kau memutuskan untuk merawatnya, aku yakin pasti akan terselip rasa benci ketika kau melihatnya tumbuh besar. Tapi jika kau menggugurkannya, pasti akan ada setitik rasa penyesalan.”

Kata-kata Key terus berputar-putar dalam pendengaran Sanghee. Key memang benar. Itulah dua hal yang ditakuti oleh Sanghee. Sanghee meraih pena dengan tangannya yang masih bergetar pelan. Ia menggenggam pena ditangannya dengan sangat erat menggunakan sisa-sisa tenaga yang masih ia miliki lalu mengangkatnya ke udara—bersiap untuk membubuhkan tandatangan.

“Jika…” Key membiarkan kalimatnya menggantung untuk melihat reaksi Sanghee. Sanghee tak berani menatap Key, tapi gerakan tangannya terhenti.

“Jika…” ulang Key,”Kau memutuskan untuk melahirkan anak itu, aku akan berada di sisimu—aku akan mengambil tanggungjawab untuk membesarkan anak itu bersamamu.”

Sanghee menelan air liurnya sendiri. Tawaran Key sangatlah menggiurkan. Bagaimana tidak, Key—pria yang sudah sejak lama ia sukai—bersedia menanggung status Ayah atas anak yang bukan miliknya. Namun, meskipun tawaran Key sangatlah menggoda, keputusannya telah mantap. Ia, Yoon Sanghee, tidak akan pernah bisa membesarkan anak itu—dengan maupun tanpa Key. Sanghee menggoreskan tinta diatas kertas, tangannya agak tertekan saat ia membubuhkan tandatangan.

Key menghirup nafas pelan setelah Sanghee selesai menandatangani prosedur aborsi.

“Dan jika kau memilih untuk melanjutkan proses aborsi, aku pun akan tetap berada di sisimu.” kata Key yang membuat Sanghee terbelalak.

“Baik atau buruk hal yang kau lakukan, aku tidak akan meninggalkanmu seorang diri, Sanghee-ya. Apapun keputusanmu, kau memiliki aku.” lanjut Key.

Butiran airmata kembali membanjiri wajah pucat Sanghee. Ia tidak tau harus merasa bersyukur atau justru bersalah karena ikut menyeret Key dalam kehidupannya yang berantakan. Key tersenyum tipis, tau benar apa yang ada dipikiran Sanghee saat ini. Key mencondongkan tubuhnya, memberanikan dirinya sendiri untuk menyentuh Sanghee.

Diluar dugaan, kali ini Sanghee tak menolak dirinya. Sanghee tak lagi ketakutan saat tangan Key menjangkau dirinya. Key merengkuh tubuh mungil Sanghee dalam pelukannya yang hangat. Tangis Sanghee semakin menjadi-jadi. Memang belakang ini emosinya tak terkontrol dengan benar.

Dengan enggan, Key melepaskan pelukannya dan memberi sedikit jarak diantara mereka agar ia bisa melihat wajah Sanghee. Key mengusapkan ibu jarinya di pelupuk Sanghee, menghapus airmata yang masih tak berhenti. “Yoon Sanghee, jalan hidupmu masih sangat panjang. Masih ada begitu banyak hal menyenangkan yang belum kau alami, jadi jangan menyerah begitu cepat. Kau tidak seorang diri. Ada begitu banyak orang yang menyayangimu—dan mereka bersedia membagikan kekuatannya padamu, seperti aku. Semua orang bisa mendapatkan kesempatan kedua, asal kau menginginkannya.”

Sanghee mengangguk pelan, ia masih belum mampu bersuara. Sanghee melingkarkan lengannya di leher Key, memeluknya dengan erat. Key agak terkejut dengan tindakan Sanghee yang tak ia sangka-sangka, tapi toh ia juga membalas pelukan Sanghee.

“Bisakah.. Kau menemaniku besok—untuk melakukan aborsi itu?” tanya Sanghee disela-sela isakannya.

“Tentu..” Key mengelus punggung Sanghee untuk membuat wanita itu menjadi lebih tenang, “Ke manapun dan kapanpun.”

***

Bagaimana ia bisa begitu tega untuk membuang sebuah nyawa yang tak berdosa?

Itulah apa yang orang luar—orang yang tak mengalami hal serupa—pikirkan begitu mereka mendengar kata aborsi. Namun, sesungguhnya ketika kita menjadi seorang korban, kita tak akan bisa berpikir semulia itu. Ada sisi keegoisan dalam diri manusia yang lebih mendominasi ketika keadilan dipertanyakan.

Ketika sebuah pertanyaan “Mengapa aku mengalami hal ini?” disuarakan, akan muncul terlalu banyak karena sebagai jawabannya. Daripada kita memusingkan mengapa, bukankah akan lebih jika kita mencari bagaimana—melalui hal ini?

Tidak ada keputusan yang tidak benar, tidak ada cara yang salah. Semua orang menggunakan kacamata yang berbeda untuk melihat setiap persoalan. Jangan takut untuk membuat keputusan melalui kacamatamu sendiri, karena jika kau ingin mengambil keputusan untuk membuat semua orang merasa bahwa itu adalah hal yang benar, maka kau tidak akan pernah bisa membuat keputusan.

THE END

©2011 SF3SI, Yuyu.

This post/FF has written by Yuyu, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

110 thoughts on “Taken & Receiving

  1. WEW :O
    pesannya daleeeeeeem banget….
    overall, kereeen lah… daebak!!

    tapi, yg aku pertanyakan bagaimana jika tidak ada seorang key? dan menghadapi itu??

    ^^

  2. just one word for this story:good!!!!!!!!! hehehe.. bagus bgt tau.. hehehe envy deh karena aku gagal terus kalo mau buat ff. hehehe. keren3

  3. DDDDAAAAEEEEBBBBAAAAKKKKKKKKKKKKK#100THUMB😀😀😀

    “Kau menilai seseorang karena masa lalunya—karena apa yang terjadi tanpa ia kehendaki? Itu namanya rendah.” cemooh Key.

    kalimat yang mengispirasi . . . .
    #speecless

  4. huuaaa pesannya dalem banget !! daeebbakk~ ^^…
    apalagi karakter Key-nya di sini dapet banget . gak peduli wanita yng ia cintai seburuk apa dan sehina apa , jika memang mencintainya terimalah apa adanya .
    Eonniee kerennn bangett !! (\^o^/)

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s