Unpredictable Marriage – Part 2

Unpredictable Marriage

Part 2

Author: Anissa Anggi

Genre: Romance, Friendship, Sad, Life

Main Cast: -Kim Kibum

                    -Lee Hyo Min

Other Cast: Choi Minho, Krystal, Umma Lee Hyo Min, dll (msh terus berubah)

Length: Sequel

Rating: NC-17

Disclaimer: This Story is Mine. I don’t own them(SHINee), they’re belongs to God except some imaginative characters such as Lee Hyo Min.  Please, give me some critics. AND PLEASE DON’T COPY THIS STORY WITHOUT MY PERMISSION OR WITHOUT WRITE MY NAME AS AN AUTHOR. WE HATE PLAGIARSM!

And, happy reading^^

-Kibum POV-

Aku menggeram pelan ketika Minho memukul mukaku. Baru saja aku ingin membalasnya, Minho sudah menarik muka Hyo Min dan menciumnya dengan mesra, cukup lama hingga membuatku jengah. Huh sial, kenapa aku jadi panas begini. Lagipula sudah seharian ini mereka bersama, masih saja bermesraan seperti ini.

Entah kenapa aku merasa tidak suka melhat adegan ini. Apalagi ketika Hyo Min melepaskan Minho pergi dengan enggan. Aku meninggalkan mereka masuk kedalam lagi dan melanjutkan aktifitasku yang tadi sempat terganggu karena kehadiran mereka. Menyiapkan berkas-berkas untuk rapat esok hari.

Begitu Hyo Min masuk keruang tv kudengar dia terkejut “OMMONA….. kenapa ruangan ini berantakan???”

Aku mengacuhkannya, “Ya! KIBUM! Ngapain saja kau seharian ini hah?!” bentaknya. Huh, tadi saja di depan Minho dia bersikap lemah lembut. Sementara didepanku? Sudah seperti singa kelaparan-_-

“Bukan urusanmu. Lagipula inikan apartemenku, suka-suka aku lah” sahutku ketus.

“Aishh… ini memang apartemenmu, tapi aku kan yang akan membereskannya? Memang kau mau kusuruh merapikan semuanya sendirian?” serunya lagi. Hah, suaranya yang sangat kencang itu membuat kupingku sakit. Kulirik dia, ternyata sedang mengumpulkan sampah-sampah makanan yang berserakan.

“kalau kau tidak mau membersihkannya, yasudah. Aku sudah terbiasa dengan suasana berantakan seperti ini” ucapku dingin. Lalu mengambil laptop dan berjalan menuju ruang kerja.

“YA! Dasar namja sialan!” umpatnya setengah berteriak.

–                    End of Kibum POV-

–                    Hyo Min POV-

Keesokan paginya aku bangun dengan badan yang pegal-pegal. Bagaimana tidak?! Aku harus memrapikan ruang tv yang super berantakan sampai larut malam. Bukan karena Kibum menyuruhku, tapi karena aku tidak tahan dengan suasana yang jauh dari kesan rapi. Akhirnya aku terpaksa membereskan semuanya sendiri.

Aku turun dari kasur dan segera mandi. Selesai mandi kulihat semua ruangan sudah kosong. Itu tandanya Namja babbo itu sudah pergi. Huh, syukurlah, aku jadi tidak perlu berdebat dengannya.

Aku masuk lagi kekamar, mengambil tas dan keluar lagi.

Awalnya aku memtuskan untuk memasak, tapi kuurungkan, mengingat tak ada yang makan selain aku.

Drrt.. drrt… handphoneku bergetar tanda ada telepon. Aku menatap layar…

Minho calling….

“yoboseyo…..” sapaku sambil tersenyum

“Yoboseyo chagi… kau masih diapartemen?” Tanyanya dengan lembut.

“Ne… aku baru mau berangkat ke kampus. Wae?”

“Aku ingin menjemputmu, boleeh?’

“Jinjja? Ah, tentu saja Oppa” sahutku.

“Baiklah, kau tunggu diLobby ya, sebentar lagi aku sampai” sahutnya menutup pembicaraan.

Dengan tergesa-gesa aku memakai sepatu, menarik tas dan keluar dari ruangan.

***

-Kibum POV-

Aku baru saja ingin keluar dari ruangan ketika Appa memanggilku. Tadi kami baru saja selesai rapat mingguan yang dipimpin Appa-ku, sebagai direktur utama.

“ne… ada apa Appa?” tanyaku.

“duduklah” peritahnya sambil menunjuk kursi disebelahnya. Aku menurut.

“Ne…”

“Hmmm bagaimana kabarmu?”

“Baik Appa, aku sehat” ucapku tersenyum

“Bagus, lalu bagaimana kabar Hyo Min?” tanyanya lagi.

Mendengarnya membuatku memutar bola mata. “Entahlah, aku tidak peduli” sahutku asal.

Appa langsung mengerutkan dahi tanda tidak suka “Kenapa? Kau ini kan suaminya, seharusnya memperhatikan istrimu” ucapnya dengan serius.

“Sudahlah Appa, dia baik-baik saja. Tidak usah khawatir.”

“Yaa bagaimana aku tidak khawatir? Kau ini seakan tidak peduli dengan istrimu. Dia itu istrimu, jaga dan lindungi dia Kibum. Arra?” jelas Appa dengan muka berkerut-kerut, benar-benar tampak seperti bapak-bapak.

“Ne, arraso Appa. Sekarang bisakah aku kembali keruanganku?” tanyaku sambil berdiri.

“Ne..silahkan” Appa menyenderkan bahunya dan menatapku sampai aku keluar dari ruangan.

***

Hari ini aku ada janji bertemu dengan Nicole dicafe langganan kami. Aku memilih duduk dipojokan supaya tidak mencolok. Tampaknya aku datang lebih dlu darinya. Hmm, mungkin dia ada jadwal pemotretan.

10 menit kemudian….

Kulihat seorang cewek dengan kacamata hitam memasuki kafe. Itu dia,batinku. Aku bangkit berdiri dan tersenyum padanya.

“Hai…” sapaku dengan muka sumrigah. Dia melepas kacamatanya dan duduk didepanku.

“Ada apa Key?” tanyanya datar, walaupun begitu dia masih menyebut nama panggilanku.

Aku mengamati wajahnya sebentar, yang semakin hari semakin cantik. “Aku…. Ingin minta maaf” ucapku dengan tenang.

“Maaf? Untuk apa?” tanyanya sedikit sakartis.

“karena aku telah memutuskan hubungan denganmu. Aku tahu itu hal terbodoh yang pernah kulakukan. Aku minta maaf karena telah menyakitimu. Jeongmal Mianhae….” Ucapku serius. Perlahan aku menyentuh tangannya. Dia melirik sebentar, namun tidak menarik lagi tangannya.

“Maukah kau kembali denganku?” Lalu aku mencium tangannya dengan lembut.

Dia tersenyum kecil. “Jinjja? Bagaimana dengan istrimu?”

“Buat apa kita peduli dengannya? Biarlah, lagi pula dia juga masih menjalin hubungan dengan pacarnya” sahut santai. Dia tersenyum lebar.

“Baiklaah, aku memaafkanmu” jawab Nicole akhirnya.

“Hanya itu? Kau idak mau kembali bersamaku?” tanyaku sambil berpura-pura cemberut.

“Aish, tentu saja aku mau. Dasar pabbo.” Umpatnya dengan pelan.

Dalam hati bersorak girang. Lihat? Aku berhasil merebut Nicole lagi kan?

“Saranghae Kibum….” Ucapnya tiba-tiba. Kulihat dia tersenyum malu-malu. Ya.. manis sekali senyumnya

“Naddo saranghaeyo…”balasku tersenyum. Kemudian kami melanjutkan makan dan berbincang-bincang. Rasanya damai dan nyaman berada disisinya. Melihatnya bercerita, mengunyah makanan, tertawa, seakan yang kulakukan hanya ingin terus bersamanya. Hah, andai saja aku bisa menikah dengan yeoja yang kucintai ini. Pasti aku akan bahagia. Tidak seperti sekarang.

***

-Author POV-

Kini sudah sebulan semenjak mereka menikah. Hyo Min dan Kibum masih saling berdiam diri. Suasana dirumah masih sama, dingin tanpa kecerian. Setiap pagi Kibum pergi sebelum Hyo Min menyiapkan makan, dan makan malam diluar selalu bersama Nicole sehingga selalu pulang larut malam.

Dirumah Hyo Min melakukan aktifitasnya dengan biasa, berangkat ke kampus bersama Minho, pulang sore hari, membereskan setiap ruangan kecuali kamar Kibum,lalu masak untuk dirinya sendiri. Malamnya dia belajar, mengerjakan tugas-tugas sekolah, atau sekedar menonton tv. Semua dilakukan mereka sendiri-sendiri tanpa saling menyapa.

Malam ini, seperti biasa yeoja itu baru saja hendak masuk ke kamarnya ketika pintu apartement diketuk. Hyo Min berhenti sejenak, pasti Kibum

Dengan cepat dia kembali keruang tv dan membua pintu. Tampak Kibum diantar seorang pegawai laki-laki. Kibum terlihat sempoyongan. Pasti Mabuk, pikir Hyo Min.

“Ah, gomawo sudah mengantarkan” hyo Min membungukkan badannya sedikit, lalu mengambil alih untuk meompang Kibum. Setelah bersusah payah dia berhasl meletakkan Kibum diatas kasur dikamar namja itu.

Hyo Min mengrenyit sedikit ketika bau alcohol tercium. Tadinya ia mau membiarkan Kibum tidur sampai pagi dengan keadaan seperti itu. Tapi ia tidak tega. Perlahan-lahan dia membuka kemeja Kibum yang basah karena tumpahan air, mungkin alcohol.

“Hmh… dimana aku..” KIbum mengigau.

“Kau dirumah, Kibum” jawab Hyo Min sambil membuka kemeja Kibum. Tiba-tiba…. Bruk. Kibum menarik Hyo Min, membuat yeoja itu jatuh dipelukan Kibum.

“YA! Mau apa kau!” seru Hyo Min. Dia berusaha melepaskan kedua tangan Kibum dari badannya. Namja itu justru membelai muka Hyo Min dengan perlahan, membuat jantung yeoja itu berdegup lebih kencang. Kibum menarik kedua kaki Hyo Min keatas kasur, hingga Hyo Min benar-benar berada diatasnya.

Sambil meracau tak jelas, Kibum menjilat pelan telinga Hyo Min, membuat yeoja itu tersentak kaget dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Kibum. Namja itu mendorong Hyo Min berbaring disebelahnya, dan dia naik keatas yeoja itu. Sehingga posisi mereka sekarang terbalik.

Kibum mencium bibir Hyo Min yang mungil dengan ganas, liar dan kasar. Ciuman itu semakin panas, Hyo Min berusaha menahan desakan lidah Kibum yang mencoba masuk kedalam mulutnya. Namun Kibum lebih lihai, ia menggigit bibir bawah yeoja itu, membuatnya mengerang dan membuka sedikit bibirnya. Namja itu menyerang Hyo Min lebih dalam, memainkan lidahnya didalam mulut Hyo Min, menghisapnya dalam-dalam. Membuat Hyo Min makin berontak.

Kibum melepas ciumannya, beralih turun perlahan keleher milik Hyo Min yang putih bersih. Mengecupnya, menggigitnya berkali-kali, membuat yeoja itu makin panic. Rasa takut mulai menyerbu Hyo Min.

“Kibum-ssi, apa yang kau lakukan” ucap Hyo Min ditengah usahanya untuk tidak mendesah.

Kibum tersenyum kecil, lalu memainkan tangannya diatas breast milik Hyo Min, meremasnya pelan. Membuat yeoja itu tak bisa menahan lagi “AH…shh.” Mendengar desahan itu Kibum makin bersemangat, meremas breast yeoja itu berkali-kali.

….. (SKIPPP!!)

“Kibum-ssi, please… hhh” Hyo tak dapat melanjutkan kalimatnya.

…..

“Mmhh… Nicole” desah namja itu pelan. Walau begitu, Hyo Min dapat mendengarnya, menmbuat yeoja iu terbelalak. Dia pun hanya bisa menangis pasrah. Membiarkan Kibum mengambil keperawanannya secara Cuma-Cuma.

***

-Hyo Min POV-

Tiba-tiba saja aku terbangun, membuka kelopak mataku perlahan. Mencoba beradaptasi dengan cahaya matahari yang menyelinap masuk lewat gorden yang masih tertutup. Kulirik Kibum yang masih tertidur pulas didekatku. Aku mengingat-ingat kejadian semalam, memutar ulang semuanya diotakku.

Huh, sial. Bisa-bisanya aku melakukan itu pertama kali dengan namja seperti dia. Tanpa bisa kucegah, aku menangis sambil mengutuknya dalam hati. Dalam hati aku bertanya pada diri sendiri, kenapa aku harus menangis?aku kan melakukannya dengan suamiku sendiri. Ah ya, aku lupa, kita memang sepasang suami istri. Tapi tak pernah saling mencintai.

“Hyo Min?” panggil sebuah suara disebelahku. Aku menoleh, ternyata dia sudah bangun. “sedang apa kau disini?” Tanyanya.

Aku hanya bisa diam, tampaknya dia belum sepenuhnya sadar. Tiba-tiba dia tersentak kaget. “OMMO! Apa yang terjadi?! Kenapa…. Kita berdua tidak memakai baju? Kenapa kau tidur dikamarku?!” tanyanya bertubi-tubi.

Aku mengelap air mataku, “Kau benar-benar lupa tentang semalam?” tanyaku parau. Ternyata dia benar-benar lupa dengan kejadian tadi malam.

“memangnya ada apa semalam?” dia balik bertanya.

Aku bangkit duduk, berpakaian tanpa menghiraukan tatapan matanya kearahku. “pikirkan saja sendiri” sahutku ketus. Lalu berjalan keluar kamar dengan pelan, sakit masih terasa dibawah perutku.

-End of Hyo Min POV-

-Author POV-

Kibum memperhatikan gerak jalan Hyo Min yang tertatih-tatih.

“Gwechannayo?” tanyanya sedikit heran.

Yeoja itu memandang Kibum dengan sinis. “Bukan urusanmu” Hyo Min keluar dari kamar Kibum dan menutup pintu dengan kasar.

Kibum terdiam cukup lama. Dia memenjamkan matanya, berusaha mengingat-ingat kejadian semalam. Dia teringat ketika pergi clubbing dengan Nicole, lalu pada akhirnya bertengkar hebat dengan yeoja itu. Karena Kibum melihatnya bermesraan dengan namja lain. Dia juga teringat ketika pulang dalam keadaan basah kuyup dan sampai dilobby dia diantar seorang pegawai yang sedang jaga malam.

Kibum membuka matanya lagi. Lalu tiba-tiba teringat kejadiam semalam, semuanya. Ketika Hyo Min membukakan kemejanya yang basah karena tumpahan alcohol. Lalu entah mengapa dia mencium yeoja itu, dia teringat pula ketika yeoja itu memintanya agar berhenti, dia ingat saat Hyo Min berteriak kesakitan saat dia melakukan hal itu, juga saat dimana yeoja itu menangis.

Tiba-tiba saja Kibum langsung bangkit, berpakaian dan keluar dari kamarnya. Mencari-cari Hyo Min disetiap ruangan, dan mendapati yeoja itu sedang terduduk lesu dikursi makan. Tangannya menggenggam segelas air mineral.

“Hyo Min?” panggil Kibum. Wajahnya terlihat khawatir.

“Ne?” balas Hyo Min, mukanya yang putih terlihat pucat pasi. Tapi tetap tidak bisa menghapus raut benci dimukanya.

Kibum berjalan mendekat kearh meja makan dan duduk disebelah yeoja itu. Kibum memandangi wajah Hyo Min sebentar, “ehm, aku…. Ingin, hm. Minta maaf” ucapnya terbata-bata.

Hyo Min bangkit berdiri dan menatap Kibum dengan pandangan benci. Lalu dia berjalan meninggalkan Kibum tanpa sepatah katapun.

***

-Hyo Min POV-

Sudah beberapa hari ini Kibum terus mencecarku dengan seribu kata maaf. Mulai dari mengucapkannya langsung dipagi hari, menelponku, lewat sms, sampai mengirimiku bunga kekampus. Membuat orang-orang mengira bunga itu kudapat dari Minho. Untung saja saat aku menerima bunga lili putih itu aku sedang tidak bersama Minho. Aku langsung ke belakang kampus dan membuangnya secara asal ketempat sampah.

Aku dan Minho masih berpacaran. Setiap hari dia mengantarku pulang, walau kini sudah hampir tak pernah dia menjemputku. Dikampus orang-orang mengenal kami sebagai pasangan yang PDA (public display affection) alias suka bermesraan didepan umum.

Aku berusaha menutupi fakta bahwa aku sudah tidak perawan lagi dari Minho. Aku takut dia akan marah besar dan mengakhiri hubungan kami. Aku lebih baik menyimpannya sendiri daripada menceritakan padanya dan membuatku akan menyesal seumur hidup.

Satu-satunya orang yang bisa kuceritakan tentang hal ini hanyalah Krystal, sahabatku sejak kecil. Dialah satu-satunya orang yang mengetahui cerita hidupku selain aku sendiri. Namun sayangnya, aku sangat sulit untuk bertemu dengannya secara langsung. Apalagi kita beda kampus, jadi sedikit susah untuk mencocokan jadwal untuk bertemu.

***

Hari ini aku berencana untuk bertemu dengan Krystal, di restaurant langganan kami sejak dulu. Akhirnya, aku bisa bertemu juga dengan sahabatku ini.

Begitu aku masuk kedalam restaurant, kulihat Krystal sedang memesan makanan. Dia duduk dipojokan ruangan. Dan, terlihat cantik, seperti biasa. Aku berjalan kearah dan tersenyum kecil.

“Annyeong Krystal-ah….” Sapaku dengan sumrigah. Dia mendongakkan kepala dan balas tersenyum.

“Annyeong Hyo Min-ah!” balasnya. Aku duduk dihadapannya dan ikut memesan makanan. Sesaat kami sibuk pada makanan yang tertera di daftar menu.

“Bogoshipda Krystall….” Seruku padanya ketika akhirnya pelayan berjalan meninggalkan kami.

“Naddo…..” balas Krystal. “ada apa kau ingin bertemu denganku?” tanyanya langsung. Seperti biasa, dia sudah hafal kebiasaanku yang pasti ada maunya bila memaksa bertemu dengannya langsung.

Aku tersenyum malu. “ aku ingin menceritakan sesuatu padamu. Tapi kau harus janji tidak membocorkan pada siapa-siapa”.

Kystal memutar bola matanya, “Of course! Now, tell me what you want to say!” krystal terlihat begitu semangat dan penasaran untuk mendengar ceritaku.

“Ne…” sahutku. “cerita ini tentang Kibum… dan aku..” ujarku pelan. Kulihat dia mengangguk.

“Kami berdua telah melakukan ‘itu’.” Sahutku pelan. Namun cukup membuat Krystal melotot “MWO?!” tanyanya dengan suara keras. Membuat beberapa pengunjung menoleh kearahnya. Dia langsug menunduk dan menyengir malu.

“Kau…. Serius??” tanyanya sambil berbisik. Aku mengangguk.

“Jinjja? Kok bisaaa?”

Akhirnya aku menceritakan semuanya, setiap urutan kejadiannya dengan penuh emosi. Krystal sendiri menanggapi dengan berkata “Mwo?”, “Jinjja?”, “Ommo…”

Lalu ceritaku terpotong sebentar karena kehadiran seorang pelayan membawakan pesanan kami. Dia meletakkan piring kami diatas meja, tersenyum sebentar kemudian berlalu meninggalkan meja.

Aku mengambil sendok dan garpu, bersiap untuk makan.

Krystal memandangiku sesaat lalu bertanya, “Bagaimana rasanya?”

“Apanya?” tanyaku sambil memasukkan makanana kedalam mulut. Memulai mengunyah.

“Bagaimana rasanya bercinta???” tanyanya penasaran. Membuatku tersedak, “UHUKK!!”

“YA! Pelan-pelan pabbo!” serunya. Dia menyodorkan gelasku dan aku meminumnya perlahan. Ah.. aku mengatur nafas sebentar.

“Kau ini… bisa tidak sih tidak membuatku kaget?” tanyaku akhirnya. Dia terkekeh pelan, memamerkan giginya yang putih bersih.

“Mianhae… habisnya, aku penasaran” sahutnya asal. Dia menatapku lagi, menunggu jawaban dari pertanyaannya yang tadi dia berikan.

Aku memutar bola mata sesakartis mungkin, “rasanya… nikmat dan yah perih. Itu asik. Walaupun aku sama sekali tidak menikmatinya” sahutku.

“Wae?” tanyanya lagi. Krystal tampaknya benar-benar ingin tahu cerita lengkapnya. Ugh…

“Kibum melakukannya dengan kasar. Dan aku juga tidak menyangka bakal terjadi seperti itu. Apalagi waktu itu dia pernah bilang tidak akan pernah ‘menyentuh’ku. Aku justru berharap bisa melakukan hal itu dengan Minho. Tapi ternyata….” Aku menggantungkan kalimatku, menghela nafas dan mengerucutkan bibir.

“Ah ne… aku mengerti sekarang” Krystal mengangguk-anggukkan kepala. Dia menatapku dengan pandangan kasihan. “Mungkin ini memang sudah takdirmu. Jangan dibawa beban, santai saja” sahutnya.

“Tapi kalau sampai Minho Oppa tahu dia pasti marah besar padaku” sahutku suram.

“Belum tentu, kau bisa menceritakan padanya sejelas-jelasnya. Kau tahu kan dia sangat mencintaimu? Dia pasti percaya padamu dan tidak akan membesar-besarkan masalah ini….” Krystal tersenyum khas padaku. Ah, dia memang selalu bijak dalam mengambil keputusan. Beda denganku yang terkesan terburu-buru dan suka takut mengambil keputusan.

“Ya, kau benar juga Krystal. Semoga saja dia akan mengerti posisiku sekarang.” Sahutku balas tersenyum.

Dia mengangguk “Ne…. kau harus mencobanya. Dan sebaiknya dia tahu dari kau langsung. Bukan dari orang lain” ucapnya lagi. Lalu memulai makan.

“Ne. kau benar! Gomawo Krystall!!” sahutku dengan ceria.

Dia terkekeh pelan, sambil mengunyah makanan dapat kudengar dia berkata “Cheomaneyo Hyo Min…”

Akhirnya aku dan Krystal melanjutkan makan sambil membicarakan hal lain. Setelah itu kami keluar dari restaurant dan memutuskan untuk berbelanja, salah satu kegiatan kesukaan kami.

***

-Author POV-

Hyo Min berjalan keluar dari lift dan berdiri didepan pintu apartementnya. Sambil bersusah payah karena membawa 3 kantong plastic ukuran jumbo, dia mengeluarkan kunci apartement dan mencoba mencolokkan kunci. Sesaat kemudian yeoja itu menyadari ada yang aneh, kuncinya tidak menyangkut dengan sempurna. Dia menarik lagi kunciny dan memutar pelan kenop pintu.

Cklek. Terbuka, ternyata pintu itu tidak terkunci.

Hyo Min melangkah masuk dan mendapati Kibum sedang merapikan ruang tv. Begitu mendengar ada yang masuk, Kibum langsung menoleh dan nyengir kearah Hyo Min. yeoja itu masuk dan menutup pintu dengan muka terperangah. Kedua matanya tak lepas memandangi seluruh ruangan.

Apa yang dilihatnya sekarang sangatlah berbeda dengan yang tadi pagi ia tinggalkan. Seluruh ruangan kini sudah tertata rapi, bersih, juga wangi. Semua sampah-sampah yang berserakan telah menghilang, barang-barang yang semula berantakan kembali ke tempatnya. Singkatnya, seluruh ruangan terlihat baru dan indah dipandang.

“Kau ngapain?” Tanya Hyo Min menatap aneh kearah Kibum.

Kibum memutar badannya, mengelap keringat dijidatnya sebentar, lalu berjalan kearah Hyo Min. “Kau suka?” Balas namja itu, mengacuhkan pertanyaan Hyo Min.

“Untuk apa kau melakukan ini semua?” Hyo Min balik bertanya, nada bicaranya terdengar tidak suka.

“Ya.. jangan begitu. Aku melakukan ini semua tentu saja untukmu. Ehm, lebih tepatnya supaya kau mau memaafkanku atas kejadian 10hari lalu, juga sebelum-sebelumnya. Bagaimana?” jelas kibum yang sekarang sudah berada didepan Hyo Min.

Hyo Min terdiam. Semenjak mereka menikah dan tinggal satu rumah, baru kali ini Kibum membersihkan apartementnya. Baru kali ini Kibum bersungguh-sungguh meminta maaf padanya. Padahal sebelumnya namja itu sangat dingin dan sering membentak Hyo Min. tapi sekarang justru sikapnya berbeda 180 derajat.

“Kau benar-benar menyesal?” Tanya Hyo Min pelan. Kibum langsung mengangguk dengan yakin.

“Baiklah. Aku memaafkanmu.” Hyo Min menghela nafas. Kemudian dia duduk disofa dan meletakkan barang bawaannya didekatnya. Yeoja itu terlihat lemas dan lelah.

“Gomawo Hyo Min.. Akhirnya kau memaafkanku” Kibum terlihat lega. Dia menyunggingkan senyum manisnya. Senyuman pertama yang diberikan Kibum secara tulus untuk Hyo Min.

Baru Kibum meletakkan badannya disofa, Hyo Min bangkit berdiri dan meraih kantong-kantong belanjaannya. Kibum mendongak heran, juga merasa sedikit tersinggung.

“Kenapa kau malah berdiri? Kau masih mau menghindariku?” Tanya Kibum dengan nada kesal.

Hyo Min menoleh “Mianhae… aku pusing. Aku mau istirahat dulu.” Sahut Hyo Min pelan. Dia meraih satu kantong lagi, namun Kibum menarik kantong itu.

“Sini, biar kubawakan.” Sahut namja itu. Lalu Kibum mengambil alih dua kantong yang ada ditangan Hyo Min.

Dengan terheran-heran Hyo Min menatap Kibum. Namun dia tidak mengatakan apa-apa. Yeoja itu masuk kekamarnya disusul Kibum yang membawakan kantong belanjaannya.

***

-Hyo Min POV-

Aku membalikkan tubuhku, menghadap ke kanan. Perlahan aku membuka mataku. Mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba beradaptasi dengan cahaya dikamarku. Masih dengan nyawa yang baru terkumpul setengah, aku menoleh menatap jam diatas meja.

MWO?! Jam 6 pagi?! Aku langsung bangkit duduk, membuat kepalaku langsung terasa pusing. Bukannya aku tidur jam 5sore? Kenapa sekarang aku baru bangun? Aish… Hyo MIN! kenapa kau sekarang jadi yeoja keboo? Rutukku dalam hati.

Aku turun dari kasur, dan membuka pintu kamar. Sambil mengingat-ingat kejadian kemarin sore. Ketika aku berjalan kearah dapur, kulihat Kibum yang sedang menonton tv menoleh kearahku.

“Kau sudah bangun?” tanyanya.

Aku mengangguk pelan, “Ne. kenapa kau tidak membangunkanku?” balasku. mengambil gelas dan mengisinya dengan air.

“kau sudah beberapa kali kubangunkan tahu, tapi masih sama saja. Tidur seperti orang mati.” Sahutnya asal. Aku menoleh dan menatapnya tajam “MWO? Jaga bicaramu!” seruku tertahan.

Kulihat Kibum tertawa kecil, “tapi benar kan? Kau tidur dua belas jam lebih. Ckckck…” dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu tertawa lagi.

Aku cemberut. Tapi tidak membalas kalimatnya. Kruyuk kruyuk, uh… aku laparrrrr sekali. Pasti karena dua belas jam tertidur pulas tanpa makan apapun.

Aku membuka lemari es, dan… kosong. Hanya ada roti keju dan coke dingin. Aku menutup pintunya dan beralih ke lemari makan. Hasilnya masih sama, kosong. Haduh, tampaknya persediaan makanan sudah habis. Padahal aku benar-benar lapar. Ottokhae?

Aku memutar badan, duduk di kursi meja makan dan menompangkan dagu. “Kibum-ssi. Aku lapar” sahutku. Dia menoleh, “yasudah kau makan saja.” Balasnya.

Aish, namja ini… “tapi tidak ada makanan..” rengekku. Ups, aku merengek padanya? Ya! Ini ada yang aneh, aku mendadak jijik pada diriku sendiri.

“Jinjja?” tanyanya. Kini Kibum bangkit berdiri dan berjalan kearahku. Aku mengangguk tanda mengiyakan. “Tolong pesankan aku makanan. Apa saja yang delivery 24jam. Aku sudah lapar sekali. Dan tolong pesan dua porsi untukku.”

Dia menatapku sebentar, lalu akhirnya menghela nafas pasrah. “baiklah.. kau tunggu saja”. Kibum balik berjalan ke kamarnya, dan tidak berapa lama kemudian terdengar suara dia sedang berbicara dengan orang lain. Tampaknya dia memesan makanan tiga porsi.

Hmm sebaiknya aku mencuci muka sambil menunggu makanan datang. Aku berjalan menuju ke kamar mandi. Dan mendapati dirinya sedang menutup telepon.

“tunggu saja. Pesanannya akan segera datang” ujarnya padaku. Aku hanya mengangguk dan masuk ke kamar mandi.

….

Sesaat setelah aku keluar dari kamar mandi, pesanan itu datang. Hmm, pantas saja cepat sampai. Dia memesan makanan siap saji. Aku duduk dikursi makan dan memulai makan. Anehnya, aku makan dengan lahap. Mengunyah dan menikmati setiap gigitan yang ada dimulutku. Hmm. Enak sekali. Tahu-tahu makananku sudah habis. Kibum memperhatikanku yang belepotan makanan disekitar wajahku, mungkin heran karena kelakuanku. Entahlah, aku juga bingung.

“Aku masih lapar.” Sahutku tiba-tiba. Kibum menoleh kearahku “MWO? Kau yang benar saja!”. Aku mengangguk “benar. Tapi… sudahlah, nanti saja aku pesan lagi sendiri” ucapku sambil berdiri.

Aku masuk kekamar dan berniat untuk mengerjakan tugas. Entah mengapa, karena efek kenyang (reader:lah tadi bilangnya masih laper-_-) aku naik keatas kasur dan ketiduran.

***

-Author POV-

Hyo Min bangun dari tidurnya dan terdiam, berusaha mengumpulkan nyawa. Tapi tiba-tiba dia bangun dan berlari menuju kamar mandi. Langsung membuka pintu dan muntah-muntah diatas wastafel.

“Hoekk.. Hoek…ugh” Hyo Min memuntahkan isi perutnya lagi. Sambil menahan jijiknya dia berkumur-kumur dan mengelap mulutnya.

Sementara diluar, Kibum menyadari kalau ada suara-suara dari kamar mandi. Dia bangkit dari atas kasurnya dan keluar. Mengintip dari celah pintu kamar mandi. Memperhatikan Hyo Min yang muntah-muntah.

Hyo Min keluar dari kamar mandi, memandang Kibum dengan pandangan aneh, seperti menahan sesuatu. Kibum menatap Hyo Min dengan khawatir, “Gwenchanayyo?” tanyanya.

Belum sempat Hyo Min menjawab, yeoja itu kembali masuk dan muntah-muntah lagi. Kali ini lebih sedikit. “Hyo, kau sakit?” Tanya Kibum. Dia membuka pintu kamar mandi lebih lebar dan memandang Hyo Min dari belakang.

Selesai mengelap mulutnya yeoja itu berbalik badan dan menggeleng lemas. “Anniyo, aku tidak apa-apa.” Sahutnya. Dia keluar dari kamar mandi dan meminum air mineral, mencoba menetralisir rasa jijik didalam mulutnya.

“Aku tidak yakin, tampaknya kau sakit. Kau benar tidak apa-apa?” Tanya Kibum lagi, memastikan.

“Entahlah, aku mendadak mual. Pusing juga….” Sahut Hyo Min.

“AHH, mungkin karena kau tidur terlalu banyak. Lalu langsung makan dalam porsi banyak” sahut Kibum asal, tapi sebenarnya dia sangat khawatir dengan keadaan Hyo Min.

“Mungkin…” sahut Hyo Min pasrah. Dia meletakkan kepalanya diatas meja.

“sudahlah, kau lanjut saja bekerja. Aku tidak apa-apa,lagipula aku bia mengurus diriku sendiri.” lanjut Hyo Min lagi.

“kau yakin?” Tanya Kibum. Hyo Min mengangguk yakin. Akhirnya dengan enggan Kibum meninggalkan Hyo Min kembali ke kamarnya, melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.

-To Be Continued-

Nah-nah….. bagaimanaaaa? Bagus gaaak? *reader: enggaaaa* *brb nangis dipojokan*. Huaaaa susah payah aku nulis part 2nyaaa akhirnya selesai juga (maksudnya part 2 selesai).

Baiklah saudara-saudaraku sekalian, dimohon untuk memberikan komentar untuk ffku yang aneh bin nista ini. Miannnn banget kalo isinya ga bermutu, ending untuk part selanjutnya aneh daaaan nc-nya setengah-setengah. Maklum, saya tidak berbakat dan bukan ahlinya-_-

Bagaimana kelanjutan kisahnya? Mengapa Hyo Min merasa mual-muaaal? Hayoooo bingungkaaan? *readers: apaansi author gaje* *ditimpuk* . sudahlah……… pada akhirnya saya harus mengucapkan ini ‘NANTIKAN KELANJUTAN CERITANYAAA!!’, ‘GOMAWO SUDAH MEMBACA!!’ *bow-with-2min*

Xoxo, A!

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
Advertisements

118 thoughts on “Unpredictable Marriage – Part 2”

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s