Is It What You Want? – Part 9

Title                       : Is It What You Want? Chap. 8

Genre                   : Romance. Friendship

Main Cast            :  –     Kim Jonghyun

–          Choi  MinGi

Other Cast          : SHINee

Rating                   : PG 15

A/N                        :

 

~Author Pov~

                “Ya! Jangan terlalu jauh, sebentar lagi kita pergi!!!” seru seorang wanita kepada seorang namja yang sedang berlarian di pinggir jalanan yang sepi. Udara siang itu sangat dingin. Dan memang selalu dingin. Kabut tipis terlihat menyelimuti udara. Pepohonan tanpa daun yang berdiri dengan tegak menandakan betapa dinginnya cuaca di tempat ini.

                “Ne eomma. Aku mau melihat danau di sana!!!” seru sang namjai sambil berlari menuju danau yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dia berlari ke pinggir danau dan memasang wajah kagum saat sampai disana. “Danaunya membeku!! Indah sekali!” gumamnya sambil menyentuh permukaan danau yang sudah menjadi es.

                Namja itu memandang pepohonan tanpa daun yang tumbuh teratur di pinggiran danau.

                “Saat musim semi nanti, pasti bunga yang tumbuh akan sangat indah.” Gumamnya.

                “Tidak ada musim semi di sini.” Terdengar gumaman seorang yeoja. Si namja berbalik dan mendapati seorang yeoja yang sepertinya lebih muda darinya. Berdiri di belakangnya dengan jaket super tebal dan muka yang sinis namun cantik. “Lebih baik kau pergi. Ini tempatku.”

                Si namja yang terlalu sibuk memperhatikan wajah si yeoja tidak bergerak sama sekali. Dia seibuk memperhatikan dari atas ke bawah, berulang kali.

                “Apa yang kau lihat??!!” gertak si yeoja membuat namja itu terkejut. Si yeoja berjalan dan berdiri di sebelahnya. “Di sini hanya ada musim dingin. Tidak ada musim semi.”

                “Kenapa?” tanya si namja sambil melanjutkan kembali kegiatannya memandangi wajah si yeoja. Si yeoja memandangnya sebal.

                “Ya pokoknya sejak dulu sudah seperti itu.” Jawabnya pelan. Dia melirik ke arah si namja yang sejak tadi memperhatikannya, membuatnya risih. “Ya!! Apa kau lihat-lihat?!! Ada masalah?!”

                “Ah, tidak…” jawabnya terbangun dari lamunannya. “Kau sangat cantik.” Jawaban si namja  membuat kulit pucat si yeoja bersemu merah muda.

                “Kau bermaksud menggodaku ha??!!” tanyanya sambil sedikit menggertak.

                “Aniyo… Kau benar-benar cantik!!!” seru si namja panik. “Salahkah mengatakan cantik kepada seorang yeoja yang memang cantik?”

                Si yeoja itu terdiam dan mengalihkan pandangannya ke arah danau. “Gomawo…” gumamnya.

                “Kau tinggal disini? Siapa namamu???”

                “Choi Mingi imnida… Ya, aku tinggal di sini. Rumahku ada di ujung jalan sana.” Jawab si yeoja bernama MinGi itu sambil menunjuk ke sebuah jalan setapak.

                “Oh~ Kim Jonghyun imnida.” Balas si namja sambil menarik tangan MinGi untuk bersalaman. “Aku kesini bersama ibu dan ayahku. Kami berhenti sebentar untuk belanja di supermarket yang ada disana.” Tambah Jonghyun sambil menunujuk supermarket yang terlihat tidak jauh dari danau.

                “Tidak ada yang bertanya tentangmu.” Jawab MinGi ketus. Jonghyun menaikkan alisnya sebelah.

                “Cantik tapi jutek sekali.” Gumamnya sambil tertawa ringan. “Kau tampak masih sangat muda. Berapa umurmu?”

                “baru saja 14 tahun.”  Jawab MinGi pelan tanpa memandang Jonghyun.

                “Baru? Berarti kau baru saja berulang tahun??? Chukkae~” seru Jonghyun sambil mengelus kepala MinGi. MinGi langsung menepis tangan Jonghyun.

                “Ya!!! Jangan pegang-pegang!” serunya sambil memelototi Jonghyun.

                “Seram sekali! Hey, aku ini oppamu, umurku sebentar lagi 18 tahun looohh!!! Sudah dewasa!!!” serunya kegirangan yang dibalas dengan tatapan dingin dari MinGi. Jonghyun langsung berdeham dan merapatkan jaketnya. “Maaf, aku terlalu senang.”

                MinGi tersenyum sedikit melihat tingkah lelaki yang baru dia kenal ini. Jonghyun yang kebetulan melirik wajahnya tidak dapat menahan senyum saat melihat senyum MinGi.

                “Ya! Kau tersenyum!” seru Jonghyun sambil mendekatkan wajahnya ke wajah MinGi. MinGi yang terkejut langsung mundur.

                “Apa yang… Jangan dekat-dekat!!!” serunya dengan wajah memerah karena wajah Jonghyun yang sangat dekat tadi. Jonghyun terdiam dan tersenyum sambil memandangi MinGi yang menggumam kesal.

                “Ya, MinGi-ah~” panggil Jonghyun.

                “Jangan panggil aku dengan embel-embel ah! Kau bukan temanku!” serunya.

                “Hahahahaha…” Jonghyun tertawa ringan lalu berjalan menghampiri MinGi dan meraih tangannya. “Apa kau percaya pada cinta pandangan pertama?”

                “Ha??” tanya MinGi dengan wajah bingung. “Apa maksudmu?”

                “Aku…”

                “MinGi-ah!!! Dimana kamu??!!!” terdengar seruan dari jalan setapak di atas. MinGi langsung melepaskan tangannya dari Jonghyun.

                “Aku disini eomma!!! Tunggu!!” seru MinGi. Dia menatap Jonghyun, “Aku harus pergi. Bye.” Dia berlari kecil meninggalkan Jonghyun lalu berhenti dan berbalik lagi. Jonghyun menatapnya heran. MinGi berlari menghampirinya dan melepas antingnya. “Untukmu.”

                “Eh?”

                “Kau punya tindikan kan? Aku bisa melihatnya. Ada banyak. Pakailah. Tanda terima kasihku.” Serunya sambil mengulurkan antingnya dengan kepala tertunduk. Jonghyun mengambilnya.

                “Gomawo. Ini cantik sekali.” Gumamnya sambil memperhatikan sepasang anting hitam dan perak berbentuk palu tersebut. “Tapi… terima kasih untuk apa?”

                MinGi mengangkat kepalanya dan memperlihatkan wajahnya yang memerah.

                “Terima kasih… sudah mengatakan bahwa aku cantik…” gumamnya dengan wajah merah. Jonghyun terkekeh melihat ekspresi MinGi yang kelabakan saat mengatakannya.

                “MinGi ah! Sedang apa kau di sana???!!!” terlihat seorang wanita tidak jauh dari pinggir danau.

                “Ne! Aku ke sana!!!” MinGi menatap Jonghyun dan tersenyum. “Senang bertemu denganmu, Kim Jonghyun oppa!” serunya sambil berlari meninggalkan Jonghyun yang berdiri terpaku dengan wajah merah.

                Jonghyun menghela napas dan memasang anting tersebut di telinganya.

                “Bagaimana mungkin aku bisa menyukai bocah seperti itu… Hahahahaha…” gumamnya sambil tertawa pelan. “Semoga kita dapat bertemu lagi, MinGi.”

OoOoOoOoOoOoOoOoOoOo

~ Jonghyun POV~

                “Aku dengar Taemin-ah dijodohkan lagi.” Bisik Key di telinga Jonghyun saat mereka berjalan ke ruang makan. Taemin baru saja pergi setelah ‘diculik’ ibunya.

                “Jinjja??? Dengan siapa?”

                “I don’t know~ ibunya bilang begitu padaku, tapi dia tidak menyebutkan namanya.” Jawab Key sambil duduk di sofa bersama yang lainnya. “Duduklah di sini hyung.”

                “Ah, tidak, aku mau ganti dulu. Kalian juga cepat siap-siap, jam setengah 8 kita kan berangkat.” Seru Jonghyun sambil berjalan menuju kamarnya. Dia membuka lacinya dan mengambil beberapa anting untuk dia pakai. Sebuah anting hitam berbentuk palu diambilnya.

                Dia memakai anting tersebut dan bercermin sambil terdiam.

                “MinGi-ah… Kapan kita bertemu lagi??”

OoOoOoOoOoOoOoOoOoOo

                Aku dan Minho langsung duduk di sebelah Taesun dengan antusias begitu dia datang dengan ributnya. Dia mengeluarkan laptopnya dan memperlihatkan sebuah video rekaman CCTV. Terlihat Taemin yang sedang tertidur di sofa. Aku terkekeh melihat wajah tidur si maknae itu. Kami semua langsung duduk tegak saat melihat seorang perempuan berjalan menghampiri Taemin yang sedang tertidur sampai akhirnya Taemin mencium perempuan itu. Aku tidak dapat menahan tawaku.

                “HAHAHAHAHAHHAHAHAHAHA… TAEMIN… ITU… CIUM… BUAHAHAHAHAHHAHAHAHAHA” tawaku dengan kerasnya yang dapat membangkitkan gunung berapi. Aku tertawa terus-menerus bersama Key.

                “Hyung hyung! Mana BB-mu, kita masukan ke BB. Kita tonton setiap hari!!!” seru Key sambil mengeluarkan BB-nya. Aku juga mengeluarkan BB-ku dan menyerahkannya pada Key yang langsung memasukkan video itu ke dalam BB kami.

                “Sudah kan? Coba pinjam laptopnya!” seruku sambil mengambil laptop Taesun dan memutar ulang rekaman tersebut. Aku memperhatikan wajah yeoja itu. “Jadi ini yeoja yang dijodohkan dengan Taemin? Cantiknya~” tanyaku pada Taesun sambil memperhatikan wajah yeoja itu.

                “Yup. Dia sangat cantik! Kau akan terpana saat melihatnya hyung!” seru Taesun sambil terus mempermainkan Minho yang duduk depresi di pojok ruangan.

                Aku memperhatikan wajah si yeoja. Tunggu… dia…

                “Taesun-ah…”

                “Ne??” tanyanya sambil mengusap kepalanya yang sakit akibat lemparan buku dari Minho.

                “Siapa nama yeoja ini?”

                “Ahh… Tunangan Taemin? Namanya Choi MinGi, hyung.”

OoOoOoOoOoOoOoOoOoOo

                Terdengar suara ribut-ribut dari depan. Aku sibuk membereska sofa bersama Onew hyung. Ya. Dia hari ini datang. Choi MinGi. Dia datang sebagai tunangan Lee Taemin, maknae kami. Dongsaeng kesayanganku.

                Aku berbalik dan mendapati Taemin yang berjalan bersama Key.

                “Taeminnie!!!”  seruku dan Onew hyung sambil berjalan menghampirinya. Aku dapat melihat sosok seorang yeoja di belakang Taemin. Taemin menarik tangan yeoja itu dan membawanya tepat ke hadapan kami.

                “Ini…” tiba-tiba saja aku menggumam. Pabo ya Kim Jonghyun.

                “Ah, annyeong haseyo… Choi MinGi imnida..” gumamnya sambil membungkuk dalam dengan wajah kemerahan. Wajah yang itdak berubah seperti 3 tahun lalu… Wajah yang pucat, namun sangat cantik…

                “Ahhahahahaha santai saja MinGi-ah. Tentu saja kami sudah mengenalmu. Siapa yang tidak mengenal pacar dari Maknae kami yang manis ini?” ucap Onewhyung sambil tersenyum padanya membuat wajahnya makin memerah.

                Kami semua langsung duduk di meja sambil memakan makan malam yang sudah disiapkan Key. Aku duduk tepat di depannya. Aku dapat menatap wajahnya dengan jelas. Wajah yang kurindukan tiap malam selama 3 tahun ini…

                Dia makan dengan sangat lahap. Membuatku tertawa melihatnya. Dia menatapku sebentar lalu langsung menunduk karena malu. Manisnya…

                “Ya MinGi ssi, mulutmu belepotan tuh.” Kataku memberitahunya. Aku mengambil selembar tisu dan membersihkan mulutnya pelan.

                “Ya! Hyung! Sudah sini biarkan aku yang membersihkannya!” seru Taemin yang langsung merebut tisu dari tanganku dan membersihkan mulut MinGi dengan kasar.

                “Taemin yaaa!!!!!!!! Berhenti! Sakit tahu!” serunya sambil menepis tangan Taemin dan mengambil selembar tisu. “Lebih baik aku yang membersihkannya sendiri! Wek!” seru MinGi sambil mulai membersihkan mulutnya. Yang lain tertawa melihat Taemin yang kembali ke posisinya semula sambil cemberut. Aku hanya tersenyum tipis. Tiba-tiba dia memandangku dan tersenyum. “Jonghyun oppa, kamsahamnida..”

                “Ah, ne. Sudah bersih tuh. Lanjutkan lagi makannya.” Jawabku sambil memakan makananku. Senyumnya… Masih sama seperti 3 tahun yang lalu. Eotteohke???

OoOoOoOoOoOoOoOoOoOo

                “Kibum ah, biar aku membantumu.” Gumamku sambil berdiri di sebelah Key yang sibuk mencuci piring. Aku langsung mengambil beberapa piring kotor dan mencucinya. Key memperhatikanku sambil terdiam. AKu menatapnya dengan wajah keheranan.

                “Hyung, gwenchana?” tanyanya sambil mengelus punggungku. Aku tersenyum tipis.

                “Tentu saja. Memangnya kenapa?”

                “Kau terlihat lemas selama kita makan malam tadi.”

                “ani.. perasaanmu saja. Sudah kau bereskan yang lain. Biar aku yang mencuci.”

                “Ne…” gumam Key sambil menepuk pundakku dan pergi. Aku memandang aliran air yang keluar dair keran. Aku menutup mataku. Wajahnya terus terbayang di pikiranku.

                “Damn… Dia tunangan Taemin… Lupakan dia Kim Jonghyun…”

OoOoOoOoOoOoOoOoOoOo

                Aku membuka mataku. Kulirik Minho yang sudah tertidur dengan pulas di kasurnya. Aku tidak bisa tidur. Sial. Aku berjalan keluar dan duduk di balkon. Terlihat bulan purnama sempurna yang sangat indah. Aku tersenyum tipis. Kuambil gitar yang ada di sebelah kursi yang aku duduki. Gitar yang selalu aku mainkan di tengah malam seperti ini.

                Aku mulai memetik gitar dan menarik napas. Memulai untuk bernyanyi. Menyanyikan sebuah lagu yang selalu aku nyanyikan tiap malam. Lagu yang sama. Tak pernah berubah.

                “I know you somewhere at there… Somewhere far away…” lagu yang tak pernah berubah. Lagu yang selalu menunggu kedatangannya…

                Aku menghentikan permainanku. Aku tahu dia ada di belakangku. MinGi.

                “Ada apa MinGi? Kemarilah.”

Terdengar suara pintu yang digeser. MinGi masuk dan langsung duduk di sebelahku.

                “Maafkan aku oppa, aku diam-diam melihatmu…” katanya pelan. Aku memandangnya sambil memetik kecil gitarku.

                “Tak apa.” Jawabku sambil tersenyum. “Apa yang kau lakukan jam segini?”

                “Ah.. aku… tadi haus. Jadi aku ke dapur untuk minum..” jawabnya. Aku tersenyum dan kembali memainkan gitarku. “Ah, oppa. Lagu apa yang tadi oppa nyanyikan? Nyanyianmu indah sekali.”

                “Jinjja? Gomawo.” kataku pelan sambil memandang langit malam. “Judulnya Talking to The Moon. Tidakkah kau tau artinya? Itu bagus sekali.”

                “Ah. Aniyo…” dia menggeleng. “Saat oppa menyanyikannya, banyak sekali pronouncation yang salah jadi aku tidak menagkap isinya.” Jawabnya dengan wajah polos. Aku tertawa mendengar jawabannya. Sebegitu burukkah nyanyiannku tadi? Hhhh… Aku menyanyikannya tanpa berpikir lagipula.

                “Yah… Lagu galau lah pokoknya… Just like now.” Kataku sambil terus memandang langit. Dia mengikutiku memandang langit.

                “ Yeppeoda~ Ah kenapa bulan bisa begitu cantik…” gumamnya. “Ah. Ngomong-ngomong oppa sedang galau? Kenapa?” tanyanya begitu saja. Aku terkekeh melihatnya. Mukanya langsung memerah. “Ah, maaf aku seenaknya…”

                “Tidak… tidak apa-apa… aku hanya sedang memikirkan gadis yang kusukai…” jawabku pelan sambil memejamkan mataku. Tahan, Kim Jonghyun… Tahanlah…

                “Kau sedang bertengkar dengan Shin Sekyung?” tanyanya membuatku kaget. Shin Sekyung noona?

                “Hahahahhaha~!!!” Aku tertawa sambil menutup mulutku. Dia keheranan melihatku. “Kenapa harus Sekyung ssi?”

                “Ah… dia yeojachingu-mu kan?” tanyanya ragu-ragu. Aku terdiam.

                “Kau percaya?” tanyaku membuatnya heran. “Kami tidak benar-benar pacaran.”

                “Eh??!!! Tapi.. Berita, internet, dan foto-foto…” Dia menutup mulutnya tidak percaya. Aku memandangnya sambil tersenyum ringan. Ternyata benar kalau dia penggemar kami… Tapi… Apakah dia benar-benar melupakanku? Melupakan hari itu?

                “Hahaha..” tawaku hambar. “Itu hanya berita yang dibuat-buat oleh perusahaan… Aku dan Sekyung ssi bahkan jarang sekali berkirim pesan maupun bertemu.”

                “Tapi… Kenapa…”

                “Yah… Itu hanya taktik yang dibuat untuk menutupi sesuatu di perusahaan kami dan mendongkrak rating untuk promosi album kami waktu itu.” Jawabku pelan. Hhh… Rasanya lega sekali setelah mengatakannya kepada seseorang.

                “Baguslah…” gumamnya. Dia langsung menutup mulutnya. Aku menatapnya dengan kaget.

                “Kenapa bagus?” tanyaku penasaran.

                “Ahh… walaupun begini aku kan penggemarmu. Para fans-mu yang lain juga sangat kecewa begitu mengetahui kau berpacaran dengan Shin Sekyung. Jadi kalau ini bohong tentu saja aku merasa senang. Ah, tenang saja aku tidak akan member tahu tenanting ini kepada siapapun, apalagi ini menyangkut rahasia perusahaan…” jawabnya panjang lebar. Lucu sekali.

                “Kekeke~ Baiklah Mingi. Gomawo!” seruku tersenyum sambil mengacak-acak rambutnya. Dia tersenyum sambil memandangiku. Senyum ini. Senyum yang sama seperti hari itu. Warna kulitnya yang pucat, bibirnya yang berwarna pink pucat, matanya yang berwarna hitam pekat yang sangat kontras dengan warna kulitnya. Rambut hitamnya yang pendek sekarang sudah sangat panjang….

                “Oppa.. maaf.. berat…” gumamnya pelan tanpa aku hiraukan.

                “neomu yeppeo, MinGi…” gumamku plean sambil menatap matanya dalam-dalam. Tanganku turun mengelus pipinya yang lembut. Dia langsung memejamkan matanya dan berdiri.

                “Ah, mianhamnida oppa. Aku harus kembali ke kamar. Aku takut Taemin terbangun dan mencariku. Selamat tidur.” Serunya sambil berlari kecil dan masuk ke dalam kamar Taemin.

                Aku memandang tanganku. Masih terasa halusnya kulit MinGi yang baru saja kusentuh. Aku menghela napas pelan dan menonjok dinding.

                “Apa yang kulakukan??” gumamku sambil mengantukkan kepala ke tembok. Aku masuk sambil membawa gitarku dan duduk di sofa. Pikirinku penuh dengan wajah MinGi, betapa halusnya kulit wajah MinGi yang tadi aku sentuh.

                “Aaarrgghh!!!” erangku pelan sambil melempar bantal ke lantai. Aku beranjak menuju dapur dan mengambil tiga botol bir dari dalam kulkas lalu membawanya menuju sofa. Aku meneguk bir tersebut banyak-banyak dan langsung berbaring di sofa. Aku terus meneruskan minum sampai bir tersebut tumpah melewati leherku. Aku sudah tidak peduli. Yang penting aku bisa melupakan baying-bayangnya dari dalam pikiranku.

Aku membuka botol kedua, diteruskan ketiga. Semuanya aku habiskan hanya dalam waktu beberapa belas menit. Kepalaku sudah sangat pusing. Aku memegang botol terakhir dan berusaha meminum tetes-tetes terakhir. Tapi isinya sudah sangat habis.

                Aku memegang botol bir tersebut dan memain-mainkannya. Kepalaku sangat pusing. Tidak hanya pusing. Sakit. Aku memandang langit-langit dan menyentuh dadaku. Dada ini… Sakit sekali….

                “Ya Kim Jonghyun… Kau sudah tau dari pertama kali melihatnya… dia milik dongsaengmu sendiri…” Aku menghela napas dan menutup mataku. “Otteohke…”

 OoOoOoOoOoOoOoOoOoOo

                Aku berlari begitu cepat saat melihat tisu dengan banyak darah yang dipegang Minho. Ada yang tidak beres dengan MinGi. Aku tidak tahu apa itu, hanya saja perasaanku sangat buruk. Aku berlari menelusuri lorong dan berhenti saat melihat Vic noona dan Taemin yang sedang terduduk di lantai, terlihat banyak staff dan artis lain yang berkerumun di sekeliling mereka. Vic noona menangis begitu keras. Bajunya penuh dengan darah. Tiba-tiba bulu kudukku merinding. Aku berjalan pelan menghampiri Taemin. Dia meneriakan nama MinGi berkali-kali.

                Aku berjalan mendekat dan berhenti di sebelah Taemin yang terduduk di lantai memeluk seorang yeoja yang sangat kukenal. Yeoja yang sangat cantik dengan wajah pucat. Berlumuran darah. Darah tidak berhenti keluar dari hidungnya. Keadaannya sangat mengerikan. Dia seperti baru saja ditabrak sebuah truk besar. Aku mundur selangkah. Terdengar jeritan Krystal di sebelahku. Aku tidak dapat berpikir. Kepalaku pusing sekali. Terdengar seruan banyak orang. Tangisan Vic noona dan Krystal membuat kepalaku pusing. Suara ambulan yang datang membuat telingaku sakit. Aku berusaha berdiri tegap dan menatap MinGi. Mata hitam pekat itu memandangku. Memandangku dengan pandangan kosong. Apakah dia mati? MinGi…

                “Hyung… “ Key merangkulku dari belakang. Aku langsung bersandar padanya dalam diam. Memandang MinGi yang sekarang dibawa ke dalam ambulan.

                “Apakah dia… mati?” tanyaku dengan pandangan kosong. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang.

                “Tidak hyung!! Dia belum mati. Ayo, kita harus ikut ke rumah sakit.” Seru Key sambil menolongku berjalan.

OoOoOoOoOoOoOoOoOoOo

                “Pasien sangat kekurangan darah. Stok darah kami tidak cukup untuk donor.” Seru Dokter sambil menatap wajah kami satu per satu. “Kami butuh golongan darah B sekarang juga.”

                “Aku!! Pakai darahku!!!” seruku sambil berlari ke arah dokter, mengabaikan pandangan heran yang datang dari semua orang yang ada di sana termasuk Taemin.

                “Baiklah. Ayo ikut saya.” Kata sang dokter sambil berjalan masuk ke sebuah ruangan. Aku mengikutinya dan berhenti di salah satu ranjang tepat di sebelah MinGi. “Tidur di sini.”

                Aku tidur di atas ranjang dan melihat MinGi yang sedang tidak sadarkan diri di sebelahku. Para suster sibuk mengisi tabung dengan darah. Bisa kulihat betapa banyaknya kantung darah kosong yang ada di meja. Separah itukah???

                “Maaf, tuan…” gumam salah seorang suster sambil membawa sebuah alat untuk mengambil darah.

                “Jonghyun.”

                “Jonghyun-ssi, kami akan mengambil darahmu lumayan banyak. Pasien ini masih memerlukan banyak darah. Gwenchana?” tanya suster tersebut. Aku tersenyum tipis sambil mengangguk. Suster tersebut langsung mengambil darahku dengan alat tersebut. Aku terus menatap wajah MinGi.

                “Akan kuberikan darahku sebanyak apapaun asalkan kau dapat membuka matamu kembali, MinGi…”

OoOoOoOoOoOoOoOoOoOo

                Aku duduk di dalam mobil bersama member yang lain. Memikirkan pembicaraan MinGi dan ibunya di rumah sakit tadi. MinGi… Dia sakit parah? Waktunya yang tidak lama lagi…  Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku bertanya kepadanya? Haruskah aku memberitahu yang lain tentang ini? Apakah Taemin mengetahuinya??? Aaahhh.. Hal ini membuatku semakin pusing. Sial….

OoOoOoOoOoOoOoOoOoOo

                “Hyung! Antar aku dong!!!” seru Taemin sambil berlari menghampiriku yang sedang duduk santai sambil bermain laptop di kasurku.

                “Kemana?”

                “Ke rumahku. Aku mau bertemu MinGi…” jawabnya membuatku berhenti mengetik. “Hyung juga sudah lama tidka bertemu dia kan? Ayolah. Onew hyung tidak bisa mengantarku…”

                “Aaahh.. Aku ingin tapi tidak bisa Tae-ah~ Aku harus menyelesaikan sesuatu. Kau coba tanya yang lain.” Gumamku sambil meneruskan mengetik.

                “Ah hyung. Ya sudah aku pergi dengan Minho hyung saja.” Serunya sambil berjalan keluar. Aku menyimpan laptopku dan memejamkan mataku.

                “Bagaimana aku harus berhadapan dengannya?”

OoOoOoOoOoOoOoOoOoOo

                Terdengar suara dari dapur. Aku langsungbangun dari tidurku dan membuka pintu. Ada wangi enak. Key sudah pulang?

                “Kibum?” panggilku sambil berjalan menuju dapur. Betapa kagetnya aku saat melihat seseorang di sana. Bukan Kibum. Melainkan MinGi. Yeoja yang selama seminggu ini selalu kuhindari.

“jonghyun oppa… kenapa kau ada di sini????” Tanya MinGi. Aku memandangnya kebingungan.

                “Bukankah harusnya aku yang bertanya kenapa kau ada disini???” jawabku sambil menghampiri MinGi dan mengambil pisau yang dia jatuhkan karena kaget tadi. “Jangan menjatuhkan barang seperti ini. Kalau kena kakimu gimana?” kataku sambil menyerahkan pisau tersebut pada MinGi.

                “Anu… Em… Bukankah seharusnya oppa ada jadwal hari ini??”

                “Iya. Tapi jadwalku nanti malam… Jadi, kenapa kau ada di sini hem?” tanyaku sambil mendekatkan wajahku padanya. Dia langsung  mundur selangkah membuatku tersenyum.

                “Ah… aku kira kalian semua pergi. Jadi aku… mau membuatkan makanan untuk kalian sepulang kalian bekerja.” Jawab MinGi pelan tanpa bisa menyembunyikan wajahnya yang  merah. Aku sedikit terkejut dengan jawabannya lalu tertawa keci.

                “Begitu…” aku menepuk kepala MinGi. “Kalau begitu lanjutkan memasak. Kebetulan aku belum makan dari kemarin dan belum pernah merasakan masakanmu.” Kataku sambil duduk di sofa.

                “Ah ne…” MinGi berbalik dan kembali sibuk dengan masakannya sementara aku duduk terdiam di kursiku sambil memandangi punggungnya. Aku tidak dapat berhenti memandangnya. Aku sangat merindukannya.

                “MinGi ah…”Aku memanggilnya pelan.

                “Ne?” jawabnya tanpa melihat ke belakang.

                “Aku lupa menanyakan kabarmu. Apakah kau sudah lebih baik sekarang? Sudah seminggu sejak aku melihatmu terkahir di rumah sakit waktu itu.”

                “Tentu saja aku sudah sehat. Kalau tdak, aku tidak akan bisa berada di sini!” jawabnya riang sambil terkekeh. “Ini juga berkatmu oppa, terima kasih.”

                “Ne… kudengar dari Taemin, kau tinggal di rumah ibunya sekarang?”

                “Ne~”

                “Maafkan aku… Aku tidak pernah mengunjungimu seminggu ini.”

                “Ah, gwenchana oppa~ Kau pasti sibuk.”

                Aku terdiam mendengar jawaban itu. Itukah yang dia pikirkan? Yah, aku mengatakan itu sebagai alasan kepada member lain. Aku memang sedikit sibuk dengan acara IMS-ku. Aku menelan ludahku. Aku tidak dapat meng-iya-kan jawabannya.

                “Apa kau senang di sana?”

                “Iya. Aku sangat senang berada di sana. Taesun oppa selalu menemaniku mengobrol. Dia sangat menyenangkan. Taemin juga datang setiap hari. Jadi aku tidak pernah bosan berada di sana.”

                “Tiap hari? Pantas saja dia sering menghilang akhir-akhir ini… Mengunjungimu ternyata…”

                “He?” MinGi berbalik dan menatap Jonghyun. “Dia tidak bilang kalau dia mengunjungiku?”

                Aku menggeleng. “Kadang-kadang…”

                MinGi tersenyum kecil lalu beralih ke masakannya. Aku memandang wajah tersenyumnya itu dan lagsung menunduk. Kenapa aku seperti ini? Tahan… Tahan, Kim Jonghyun…

                “Oppa!! Jam berapa sekarang???” tanyanya tiba-tiba. Aku menatap jam dinding.

                “17.40 . Kenapa?”

                “Sebentar lagi mereka pulang!! Aaaa eotteohke???” serunya panic. Aku tersenyum dan menghampirinya.

                “Biar aku yang menata piring dan gelas. Kau buat minuman saja sana.” Kataku sambil mengambil beberapa piring dan menatanya di atas meja. Aku melihat dia yang mengikat tinggi-tinggi rambutnya. Aku dapat melihat tengkuknya yang mulus dari sini. Damn. Jangan lihat, Kim Jonghyun. Tahan. Dia milik dongsaengmu. “Sudahlah, bair aku yang membuat minuman.” Gumamku sambil mengambil teko air panas.

                Tiba-tiba MinGi menarik tanganku. Jantungku berhenti berdetak sesaat dia menyentuh tanganku (lebeeee -_-)

                “Biar aku yang buat. Oppa duduk saja di sofa okay.” Serunya sambil menatap wajahku dengan ekspresi yang sangat menggemaskan. Omona. Aku langsung duduk di sofa dan membekap wajahku dengan bantal. Siall…. !!!!! Lupakanlah Kim Jonghyun… Dia sudah tidak mengingatmu lagi. Yang dia lihat saat ini hanyalah Kim Jonghyun SHINee yang menjadi idolanya…

“KYAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!” terdengar jeritan MinGi dari dapur. Aku langsung berdiri dan menghampirinya. Dia terlihat menggegam tangannya.

“Kau kenapa MinGi?” tanyaku cemas sambil mendekatinya.

“Tanganku… tersiram air panas…” jawabnya pelan sambil meringis kesakitan. “Tapi tak apa-apa kok oppa, sudah duduk saja.” Katanya sambil mengambil gelas yang jatuh. Aku menarik tangannya kirinya yang digenggam itu. Merah sekali dan masih terasa panas. Aku menariknya ke wastafel dan langsung membasuhnya dengan air dingin.

“Kau ini bagaimana sih? Tangan seorang gadis harus dijaga baik-baik! Bagaimana kau bisa berkata tidak apa-apa saat keadaaan tanganmu seperti ini??” seruku sedikit membentaknya. Sedangkan dia hanya tersenyum pelan sambil sesekali meringis. Pasti perih. Aku mengelus tangannya sambil terus menahannya agar tetap berada di bawah aliran air.

Aku menoleh ke arah MinGi. Betapa terkejutnya aku karena wajahnya sangat dekat dengan wajahku. Tapi dia sepertinya tidak sadar karena terus memperhatikan tangannya. Omo… wajahnya… Sangat dekat…

Tiba-tiba dia menoleh ke arahku. Otomatis aku menjauhkan wajahku. Begitupula dia.

 “Oppa… tanganku sudah tidak apa-apa… Bisa lepaskan?” tanyanya sambil menunjuk tanganku. Aku terkejut dan melepas tangannya perlahan. Aku takut tangannya masih sakit.

                “Gwenchanayo?” tanyaku sambil menyentuh tangannya perlahan. Dia mengangguk.

“Ne.. gwenchana…” gumamnya sambil melepaskan tangannya dari tanganku lalu langsung berjalan menuju meja dapur dan melap air yang tumpah. Aku langsung merebut lap dari tangan MinGi dan melap meja. “Oppa, biar aku yang… “ aku tidak menghiraukannya. Dia langsung menarik lap tersebut dan menyembunyikannya di balik punggungnya. Aku berjalan mendekatinya sambil menatapnya tajam. Aku tidak tahu setan apa yang merasukiku sampai seperti ini. Aku tidak dapat mengalihkan pandanganku dari matanya. Aku tidak dapat menahan rasa kecewa yang kurasaka tiap menyadari bahwa dia sudah melupakanku.

“Oppa… Kau kenapa??” tanyanya dengan wajah kebingungan. Tangannya terulur untuk menyentuh wajahku. Aku menahan tangan tersebut. Kau bertanya kenapa ha? Kau benar-benar… Lupa?

“Kau tidak ingat siapa aku?” tanyaku pelan. Dia menatapku keheranan sekaligus kasihan. Hem.. Apakah wajahku sebegitu mengenaskannya?

“Apa mak…” Aku langsung menciumnya tanpa menunggu dia selesai bicara. Dia nampak terkejut dan berusaha melepaskan ciumanku. Aku terus menciumnya kasar sambil menahan kedua tangannya. Setelah beberapa saat dia berhenti memberontak dan aku langsung melepaskan ciumanku. Dia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan menangis.

Betapa terkejutnya aku saat melihat dia menangis. Apa yang telah kulakukan???? Ingin sekali rasanya membunuh diriku sendiri saat ini juga!!!! Dengan ragu-ragu aku menyentuh pundaknya. Dia memandangku namun aku tidak bisa menatapnya. Terlalu sakit. Aku langsung menunduk. Tiba-tiba saja air mataku menetes.

“Mianhae… Jeongmal mianhae MinGi…”

Cklek.

                Terdengar suara pintu dibuka. Aku langsung mendongak ke arah suara tersebut.

                “KAMI PULAAAANNNGGG~~~” terdengar suara nyaring Taemin dari arah pintu depan.

                TAEMIN!!!!!!!!!!!!!!!!!

——–TBC——————

Gila, chapter ini emang bener-bener ngulang ceritanya. Yang beda cuma POVnya! Maaf ya buat yang jadi bosen sama chapter ini. Aku bingung waktu mau bikin cerita tentang Jonghyun, taunya satu chapter Jonghyun semua -___- Jeongmal mianhae~

Terutama untuk para reader setia yang selalu nunggu dan baca terus komen di semua chapter. LOVE YOUUU!!! Terima kasih untuk selama ini. Karena mungkin kalian akan menunggu sangaaaaaaaaatttt lama untuk chapter selanjutnya. Doakan saja ya :’)

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

18 thoughts on “Is It What You Want? – Part 9”

  1. Idih jjong… Gila amat.. Itu milik minah ngapain kamu cium-cium seenak jidatlu!!!
    Kalo baca dari sisinya ojong, kasihan.. Tapi kalau baca dari sisi taemin, asik kalau sama si cewek..
    Afterall good work thooorrr

  2. kasian juga yah jonghyunnya~~
    ternyata dia udh pernah ketemu mingi.
    tapi, mau gimana aku tetap dukung taemin mingi.. mianhae oppa >_<
    oppa, dengan aku aja gimana? hahaha 😀 #abaikan
    ditunggu lanjutannya^^

  3. huwaaa….
    kasian ya jonghyun ternyata begini awal pertemuan mingi sama jonghyun, iya aku milih taemin sama mingi, jonghyun pantes jadi kakak yang baik…
    satu pertanyaan, penyakit mingi apa??!! penasaran, terus kenapa mingi bisa lupa sama jonghyun??

  4. Keren bgt nih! Well, Jonghyun kayanya maksa bgt deh pengen cium si MinGi. Aigo, Jonghyun jgn maksa si MinGi dooong! Kan si MinGi milik Taemin wkwkwkwkkwkw~~~~

  5. penasaran tingkat akut ,, apa yg bakal terjadi antara min gi ,, taemin dan jjong ??
    waaaaccchhhh ,, makin seru ajja ..

  6. pantesan aku bingung ko kaya pernah baca, ternyata pengulangan dari sudut pandang jonghyun toh..
    Dan……aku jadi makin penasaran apa yg bakal terjadi. Lanjut ya thor, hwaiting ! ^^

  7. kok sama sih chingu?agak kecewa..but it’s okay..aku masih nunggu part selanjutnya..heheu~ ceritanya bagus kok,tp mungkin author lg kurang ide jd lama keluarnya..kkk~

  8. Daebak dehhh….. Ketawa ngakak di part-part awal. Dasar teamin narsis*ditabok taemin, dikarungin, dibuang ke laut*. Next part jangan lama-lama yaa….

    Hwaithing !! 🙂 😉

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s