When You Love Someone

Title    : When You Love Someone

Cast    : Choi Minho, Lee Sun Hwa, Kim Key Bum, Lee Taemin.

Genre             : Romance, Sad.

Length : one shot

Author : Mutiaadha

You know it’s love when all you want is make the person you love to be happy, even if you’re not part of their happiness..


***

Choi Minho mencengkram kuat pagar pembatas jalan sampai buku-buku jarinya memutih, sedang satu tangannya lagi mencoba merapatkan jaket yang dikenakannya. Sesaat ia terdiam sambil menghela nafas panjang. Perlahan pandangannya menyebar, tertuju pada jalan raya dihadapannya. Sebesit pikiran buruk tiba-tiba saja datang. Rasanya ia ingin berlari sekencang-kencangnya ketegah jalan, membiarkan tubuhnya terhempas ditabrak kendaraan yang lewat, maka dengan begitu rasa sakit ini tidak akan terasa lagi.

Diseret kakinya untuk maju selangkah, tetapi dilangkah selanjutnya ia terjatuh, tergeletak ditanah. Pandangannya buyar dan kepalanya terasa nyeri, ia tau ia mungkin sudah tidak sadarkan diri. Sebentar, didengarnya suara ramai dari orang-orang disekitar yang mengkhawatirkan keadaannya, tetapi didetik berikutnya ia tidak dapat mendengar apa-apa lagi.

***

Yeongsan apartement, 23th floor..

Gelap.

Semuanya gelap, aku tidak dapat melihat apapun.

Kematian itu damai ternyata..

Hyung.. Choi Minho hyung, ireona.. jebal~” samar Minho mendengar suara yang sangat familiar untuknya, suara seseorang yang dikenalinya bernama Taemin.

Jadi sebenarnya dimana saat ini ia berada, rasanya tidak mungkin ia dapat mendengar suara Taemin dengan jelas kalau ia sudah mati, kecuali Taemin adalah malaikat penjaga pintu surga (?)

Hyung~” sekali lagi suara itu terdengar jelas, tetapi kini diiringi dengan tetesan air yang Minho rasakan jatuh dipunggung tangannya. Minho tau, si pemilik suara itu menangis. Maka dengan segenap kekuatan yang masih ia miliki, ia pun mencoba membuka matanya walau agak sulit. Pertama-tama pandangannya terasa kabur, tetapi lima detik kemudian semuanya terasa begitu jelas dan nyata. Ternyata ia belum mati, ia masih hidup sampai saat ini.

Perlahan Minho mengalihkan pandangannya kesamping tempat tidurnya dan ia dapat menemukan Taemin disana sedang menunduk membenamkan wajahnya tepat diatas punggung tangan Minho.

“Taemin-ah!” ucap Minho lirih, sedang Taemin yang kaget mendengar Minho menyebut namanya langsung terkejut dan menatap Minho seolah tak percaya.

Hyung, kau sadar?! Kyaaaa hyung!!!” tanpa ada aba-aba lagi Taemin langsung memeluk Minho senang. Akhirnya setelah semalaman lebih Minho tak sadarkan diri, kini ia sadar juga.

“Taemin pelan-pelan, aku masih sakit~”

“Mian hyung” ucap Taemin seraya melepaskan pelukannya “aku sangat senang melihatmu sadar”

“Ya, aku juga senang, ternyata aku belum meninggal” gumam Minho sambil menerima segelas air putih yang disodorkan Taemin untuknya.

“Hyung, kau tahu, aku sangat khawatir ketika mendapat kabar kau pingsan semalam. Untung saja waktu itu Jinki hyung, tetangga sebelah apartementmu itu menemukanmu dan membawamu pulang, kalau tidak, aku tidak tau bagaimana nasibmu sekarang, hyung.

Minho meringis pelan mengingat kejadian semalam. Ia ingat bagaimana malam itu terjadi, ketika ia mempunyai keinginan untuk bunuh diri, tetapi karena kondisi tubuh yang lemah dan tak memungkinkan, Minho malah pingsan sebelum sempat turun ke jalan raya.

“Sebenarnya kau kenapa sih hyung, kata orang-orang disekitarmu kemarin, kau terlihat agak aneh, kau memperhatikan jalan raya dengan tatapan kosong”

“Aku ingin bunuh diri”

“MWORAGO?!!” Taemin sampai menumpahkan air mineral yang sejak tadi dipegangnya “bu.. bunuh diri?”

Minho menangguk tetapi detik berikutnya ia tertawa “Itu kemarin, sekarang tidak lagi!”

Hyung, kau gila! Kenapa kau berpikiran seperti itu? Jika kau mati bagaimana dengan Sun Hwa noona?

“Setidaknya kami bisa bersama nantinya~”

“YA!! KAU BICARA SEOLAH-OLAH DIA TIDAK AKAN PERNAH SEMBUH!!!” amarah Taemin meluap. Ia merasa kesal dengan Minho saat ini. Kenapa Minho berpikiran seperti itu, kenapa ia putus asa dengan keadaan, padahal dulu ia yang bilang untuk terus bertahan dan percaya dengan keajaiban Tuhan.

“Aku bicara kenyataan Taemin-ah, kalau dokter bilang ia tidak akan pernah sembuh, kalau sebentar lagi ia pergi meninggalkan kita, kita bisa apa?!”

“Kau salah, justru sekaranglah seharusnya kita melakukan yang terbaik untuk Sun Hwa noona, aku percaya dia akan bangun dari komanya, aku percaya dia akan kembali sembuh dan bergabung bersama kita!”

Taemin sudah menangis sejadi-jadinya sedang Minho sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak tumpah. Ia tahu bagaimana perasaan Taemin saat ini, perasaan seorang adik yang harus melihat kakak satu-satunya itu koma hampir dua bulan terakhir ini. Tentunya juga perasaan itu tidak jauh berbeda dengan perasaan yang dirasakan Minho, perasaan sakit yang luar biasa ketika melihat orang yang sangat dicintainya terbaring lemah dikasur perawatan rumah sakit selama dua bulan lebih

“Taemin~ah, uljima.. jebal.. uljima!!!”

“Hyung~”

“Aku yakin Sun Hwa pasti sembuh, aku yakin Taemin-ah, aku yakin!!!” ucap Minho sambil mengigit keras-keras bibirnya, menahan butiran air matanya yang nyaris tumpah.

***

Seoul National Hospital, 908 room..

Minho menatap nanar tubuh mungil kekasihnya itu yang masih terbaring lemah dikasur perawatan dengan infus yang mejalar keseluruh bagian tubuhnya. Entahlah harus berapa lama lagi Minho melihat keadaan ini, keadaan yang selalu membuatnya ingin menangis, keadaan yang membuatnya menjadi begitu rapuh.

Dipandangnya lagi tubuh Sun Hwa sebentar, lalu beberapa saat kemudian ia pergi meningglkan kamar perawatan. Ia tidak sanggup lagi berlama-lama memandang wajah Sun Hwa yang terlihat sangat menderita seperti itu.

Langkah demi langkah ditapaki Minho sambil menunduk. Pikirannya melayang, kembali mengingat hal bodoh yang dilakukannya kemarin malam. Ketika ia berpikir bunuh diri adalah hal yang terbaik untuk lari dari kenyataan. Entahlah, Minho juga merasa aneh kenapa ia memiliki niat untuk mengakhiri hidupnya, berharap dengan begitu jika Sun Hwa pergi untuk selamanya, maka mereka bisa bertemu disana.

“Hyung~”

Minho tertegun ketika melihat sebuah sepatu adidas putih menyentuh ujung sepatunya. Diarahkan pandangannya kepada si pemilik sepatu itu, dan ternyata orang itu adalah Taemin yang kini sedang menatap Minho aneh.

“Taemin~ah?!” ucap Minho pelan. Ia kemudian berjalan menuju kursi panjang yang tersedia disudut koridor rumah sakit, Taemin pun mengikutinya.

Hyung kau sakit? Wajahmu terlihat sangat pucat”

“Ani, gwaenchanayo” Minho mencoba meyakinkan Taemin walaupun sebenarnya hari ini ia merasa tidak enak badan “Kau darimana?”

“Aku habis menemui dokter Jang. Sedikit membahas mengenai kesehatan noona”

“Gureyo?” Minho sedikit melebarkan matanya “Lalu apa kata Jang uisa?”

Taemin tak langsung menjawab, ia malah menghembuskan nafas pelan sambil menerawang jauh ke arah langit-langit.

“Sepertinya aku tau jawabannya” sahut Minho yang dapat menebak dari ekspresi wajah Taemin.

“Ne. Belum ada perubahan apapun dari keadaan noona. Kondisinya masih sama seperti yang kemarin, bahkan bisa dibilang mengalami penurunan. Dokter bilang jika dua minggu ini kondisi noona tidak mengalami peningkatan maka..”

“Maka tidak bisa tertolong?”

Ne” Taemin mengangguk pelan “Umma dan aku sudah berusaha mencari donor hati untuk noona, dan kami berhasil. Kami setuju untuk melakukan oprasi, walaupun kami belum tahu apapkah hal itu akan berhasil atau tidak. Sayangnya oprasi juga tidak mungkin dilakukan jika kondisi noona tidak meningkat”

“Jadi maksudmu, jika Sun Hwa sadar kalian akan melakukan oprasi padanya?”

Taemin mengangguk lagi “Hanya itu yang dapat kami lakukan hyung. Aku, umma dan apa menginginkan noona sembuh, menginginkan noona dapat kembali lagi bersama kami seperti dulu. Kami akan melakukan yang terbaik untuknya, sekalipun kami mempertaruhkan nyawanya. Jika nanti oprasinya gagal, maka kami tidak akan menyesal, setidaknya kami sudah berusaha”

Minho mengangguk setuju. Ya, Minho juga ingin melakukan yang terbaik untuk Sun Hwa, sama halnya seperti yang ingin dilakukan Taemin dan keluarganya.

Hyung, hari ini umma menyuruhku pulang untuk mengambil beberapa baju noona. Kau mau menemaniku?”

“Pulang ke rumahmu? Tidak lama kan?”

“Ne, sebentar saja. Sekalian aku ingin menunjukan sesuatu padamu. Kkaja!”

***

Taemin terlihat begitu sibuk membereskan pakaian Sun Hwa sedangkan Minho hanya duduk dipinggiran tempat tidur sambil memandangi sekelilingnya. Memandangi setiap sudut kamar Suh Hwa yang sudah hampir dua bulan tidak berpenghuni.

“Ahh akhirnya selesai!” gumam Taemin ketika ia sudah selesai memasukan pakaian Sun Hwa ke dalam tas. Kini Taemin duduk disamping Minho sambil menunjukan sesuatu yang dibawanya sedari tadi.

Ige mwoya?” tanya Minho penasaran dengan sebuah benda yang hampir mirip buku ditangannya itu.

Scrapbook noona.” ucap Taemin seraya membukannya. Di dalamnya Minho dapat melihat beberapa kumpulan foto dengan notes kecil disampingnya. Perlahan mata Minho menelusuri beberapa foto dihadapannya ini. Foto seseorang yang sangat dikenalinya, foto Sun Hwa dengan seorang namja.

“Geu namja nuguseo?”

“Cinta pertama Sun Hwa noona!”

Duk!

Minho merasakan seperti ada yang meledak di jantungnya. Entah kenapa kata-kata ‘cinta pertama’ itu terasa begitu menyesakan dadanya.

“Kemarin aku menemukan ini di atas meja belajar noona. Scrapbook ini sedang dalam keadaan terbuka, aku pikir sebelum noona koma, noona sempat melihatnya”

Minho tertegun memandangi foto-foto Sun Hwa dengan namja itu. Mereka terlihat sangat bahagia, bahkan Sun Hwa tertawa begitu lepas, belum pernah Minho melihat tawa sebahagia ini ketika Sun Hwa bersamanya.

Tiba-tiba saja sebuah foto berlatar pantai dengan pemandangan sunset yang luar biasa indah menarik perhatian Minho. Disudut lain terlihat Sun Hwa sedang menggandeng tangan namja itu sambil melihat matahari tenggelam

Disamping foto tersebut ada notes kecil yang tambah membuat Minho sesak nafas. Walaupun terasa sulit, Minho mencoba membaca rentetan hangeul yang bertuliskan “Kim Kibum dan Lee Sun Hwa. Yeonghwoni hamkke” itu.

“Namanya Kibum?”

“Ne. Kim Kibum, ia adalah teman satu sekolah noona sewaktu SMA, tetapi yang aku tahu, sejak lulus SMA mereka tidak pernah bertemu lagi” Minho mengerutkan kening bingung “Kudengar Kibum Hyung melanjutkan kuliahnya di Jepang, dan sejak saat itu pula hubungan mereka berakhir”

“Taemin~ah, kenapa kau memberitauku hal ini?”

Mianhae hyung, aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya tidak ingin menyembunyikan apapun darimu”

Minho kembali melihat foto-foto Sun Hwa dengan Kibum sekali lagi, dan entah mengapa ada sesuatu yang sangat mengganjal di hatinya. Minho merasa kalau Sun Hwa masih mengharapkan Kibum.

“Taemin~ah, apa kau pikir Sun Hwa masih mencintainya?!”

Taemin menggeleng “Ani. Cerita tentang mereka berdua sudah lama berlalu, Hyung. Aku yakin kini perasaan noona hanya untukmu”

“Tapi aku tidak merasa seperti itu. Aku merasa Sun Hwa masih mengharapkan Kibum. Buktinya untuk apa Sun Hwa kembali melihat foto-foto mereka kalau bukan karena masih ada perasaan yang tersisa untuk Kibum?”

Minho kini bangkit dari tempat duduknya, kemudian menatap Taemin tajam

“Aku ingin mengetahui cerita mereka dulu, bisakah kau membantuku Taemin~ah?!”

***

Hari ini seperti hari-hari biasanya. Sehabis selesai kuliah, Minho menyempatkan diri untuk menjenguk Sun Hwa dan seperti biasanya pula, Minho hanya mampu memandangi Sun Hwa yang masih belum menunjukan perubahan apapun.

Kali ini Minho duduk dibangku tepat dihadapan kasur Sun Hwa. Tangan besarnya itu menggenggam erat tangan pucat Sun Hwa serta tangan Minho yang satunya lagi mengelus-elus rambut Sun Hwa lembut.

“Sun Hwa~ya, kau pasti menderita ya dengan kondisi seperti ini? Aku tau kau pasti lelah dan kesakitan, tapi kumohon bertahanlah. Aku yakin kamu pasti bisa, aku yakin kamu kuat, aku ingin kamu sembuh, aku ingin kita bisa seperti dulu lagi. Jadi kamu harus berusaha!” Minho mengerjap-ngerjapkan matanya yang sudah tergenang dengan air mata.

Hyung kau disini?” tanya Taemin yang tiba-tiba saja datang dengan membawa sekotak mexicana chicken ditangannya. Ia sepertinya baru pulang sekolah, buktinya ia masih mengenakan baju seragamnya.

Ne”

“Kau sudah makan, jika belum aku bawa ayam, kau bisa memakannya, hyung!

Gamshaeyo. Tetapi aku tidak lapar!”

“Jika kau sudah lapar, makanlah. Kau tetap harus memperhatikan kesehatanmu hyung!” ucap Taemin sambil mencari sesuatu di dalam tasnya “tadi aku menemui Yoora noona, sahabat Sun Hwa noona sewaktu SMA dan ia memberikanku alamat ini”

“Alamat?” Minho menatap bingung secarik kertas dihadapannya yang baru saja diberikan Taemin.

“Itu alamat Kibum hyung di Jepang. Hanya itu yang berhasil ku dapat, mianhamnida.

Aniyo, kau tidak perlu minta maaf. Ini saja sudah sangat berarti. Kamshamnida Taemin~ah!”

Taemin menatap Minho penuh selidik “Hyung, jangan bilang kau ingin menemuinya!”

“Ne, kau benar!”

Hyung jangan gila, dia tinggal di Jepang!!!”

“Lalu? Lagipula Jepang dan Korea tidak begitu jauh!”

Hyung untuk apa sih kau mencarinya? Untuk menanyakan perasaannya pada noona? Haish!” Taemin berdecak sebal “aku yakin Kibum hyung sudah tidak memiliki perasaan apapun lagi”

“Aku hanya ingin mempertemukan mereka. Siapa tau dengan begitu ada perubahan dengan kondisi Sun Hwa!”

“YA! Tapi tidak usah sampai menyusul ke Jepang kan? Kau bisa menuli surat hyung!”

“Kau pikir sekarang abad berapa? Pergi ke Jepang bahkan lebih cepat daripada mengirim surat!”

“Ya, kalau begitu nanti akan kucarikan email atau nomer telfonnya”

“Tidak perlu. Aku tetap akan pergi ke Jepang untuk menemuinya. Ada banyak hal yang ingin ku tanyakan padanya!”

Taemin menggeleng pelan, tidak memahami jalan pikiran Minho hyung ini. Tidakah ia berpikir hal ini hanya akan menyakitkannya? Apalagi jika apa yang dikatakannya benar, kalau ternyata Kibum hyung dan Sun Hwa noona masih saling mencintai? Haish! Taemin jadi merasa menyesal memberitaukan Minho hyung akan hal ini.

“Mungkin besok aku berangkat!”

MWOYA? Hyung, aku rasa kau sudah kehilangan akal sehatmu?!!!”

***

Tokyo, Jepang..

Minho mengigit pinggiran cup kardus kopi instannya sambil menatap secarik kertas kecil ditangannya. Ia kemudian sedikit mengerutkan kening, sibuk mencari alamat yang tertera diatas kertas.

Pagi ini, setelah mengurus semua keperluannya, akhirnya Minho pun memutuskan untuk terbang ke Jepang dan beharap dapat menemukan Kibum secepatnya. seperti yang Minho katakan pada Taemin, bahwa kedatangannya ke Jepang adalah sungguh-sungguh dan semata-mata hanya untuk mencari cinta pertama Sun Hwa dan membawanya ke Seoul untuk mempertemukan mereka. Ya setidaknya dengan mempertemukan mereka berdua akan membuat Minho menemukan jawaban atas pertanyaannya tentang Sun Hwa yang sempat melihat kembali foto-fotonya bersama Kibum sebelum ia Koma.

Tiba-tiba saja langkah Minho terhenti ketika melihat sebuah alamat yang tertera di sebuah papan yang tergantung di depan sebuah rumah besar bernuansa minimalis white dengan pagar besi yang tinggi menjulang. Minho kembali melirik kertas dihadapannya dan kemudian menyocokan dengan alamat di papan tersebut dan.. tepat! Alamatnya sama persis.

Shogakukan inc. 23 hitotsubashi, chiyoda-ku, tokyo, 101-8001, Japan.

“Jadi ini tempat tinggalnya~” gumam Minho sambil kemudian memencet bel. Selang beberapa menit, tiba-tiba saja terdengar suara dari speaker pengontrol yang terpasang di depan pagar.

“Anata wa daredesu ka?” tanya suara tersebut.

Minho meringis pelan “Sorry, I can’t speak Japanese. I’m Korean

“Oh jeongmalyo?” suara itu berseru seolah tak percaya “nuguseyo?”

“Minhoimnida. Aku datang mencari Kibum-ssi. Benarkah ini tempat tinggalnya?”

“Ne, aku Kibum. Ah jamkkanmanayo, biar ku bukakan pintu, dan kita bicara di dalam.”

Setelah itu suara tersebut hilang, Minho hanya menunduk dalam, menunggu orang yang telah diketahui bernama Kibum itu membukakan pintu untuknya.

Ah mian menunggu lama, mari masuk!” sapa seorang namja yang kini muncul dihadapannya. Namja itu tidak lebih tinggi dari Minho, memiliki potongan rambut sedikit aneh dengan warna coklat gelap serta menggunakan pakaian yang cukup stylish untuk ukuran pakaian yang hanya digunakan di dalam rumah.

Ne” Minho melangkah masuk ke dalam rumah mengikuti Kibum. Hah, ternyata menemukan Kibum tidak sesulit yang dibayangkannya.

“Silahkan duduk, maaf jika berantakan, aku hanya tinggal sendirian jadi tidak sempat membereskan rumah” Minho mengangguk pelan sambil memandang sekelilingnya. Apanya yang berantakan? Semuanya bahkan tertata sangat rapih. “Dan ini, aku hanya punya minuman soda” sambung Kibum yang kemudian memberikan sekaleng coca cola pada Minho.

“Ah tidak usah repot-repot, Kibum-ssi”

“Aku tidak merasa direpotkan, santai saja. Hmm.. oh ya, kau cukup memanggilku Key saja, itu nama kecilku. Nama Kibum kedengarannya sangat formal!”

“Ah apa tidak apa-apa?”

“Ne. Dan bolehkah aku memanggilmu Minho saja?” Minho mengangguk pelan sedang Kibum tersenyum kecil “Baiklah Minho-ya, kenapa kau mencariku?”

Minho terdiam, mencoba menyusun kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan alasannya datang ke Jepang. Entah mengapa tiba-tiba saja nyalinya menjadi sangat ciut untuk mengatakan kalau ia datang karena Sun Hwa.

“Hmm.. baiklah!” Minho menarik nafas pelan. Biar bagaimanapun ia harus memberanikan dirinya. “Key, apakah kau mengenal yeoja bernama Lee Sun Hwa?”

MWO?!” seperti yang dapat ditebak Minho, ekspresi wajah Kibum sangat terkejut ketika Minho menyebutkan nama itu. “Sun… Sun Hwa?”

Ne. Lee Sun Hwa. Aku sengaja datang dari Korea ke Jepang untuk mencarimu, aku ingin mempertemukanmu dengannya”

“Mempertemukan aku dengannya? Kenapa aku harus bertemu dengannya?” tanya Kibum pada Minho yang kini bingung harus menjawab apa.

“Karena.. karena saat ini Sun Hwa sedang koma.”

Duk.

Seketika Minho melihat tubuh Kibum membeku. Seperti tidak mempercayai kata-kata Minho sebelumnya.

“Ko.. koma?”

Minho mengangguk lemah “Dua bulan yang lalu ia koma, dan sampai sekarang belum sadar. Dokter bilang jika kondisinya tidak membaik, maka oprasinya tidak akan dilaksanakan dan jika oprasi itu tidak dilaksanakan, maka..” Minho tak mampu melanjutkan kata-katanya.

“Ken.. kenapa dia..”

“Ada masalah pada hatinya, dan ia harus segera dioprasi”

Setelah kata-kata Minho yang terakhir itu, keduanya sama-sama terdiam. Tak ada pembicaraan diantara mereka sama sekali, keduanya seolah terlarut pada pikirannya masing-masing. Minho yang terlarut akan perasaanya untuk Sun Hwa, sedang Kibum yang kembali teringat kenangannya bersama Sun Hwa.

“KRINGGG!!!” tiba-tiba saja terdengar bunyi telfon yang kala itu berhasil memecahkan keheningan. Kibum saat itu langsung berlari menghampiri meja telfon dan mengangkatnya. Tidak lama Kibum terlibat pembicaraan dengan orang yang menelfonnya, saat ia sudah selesai, ia kembali menghampiri Minho yang tak beranjak dari tempatnya semula.

“Taemin” ucap Kibum seolah memberitahu Minho kalau orang yang baru saja menelfonya tadi adalah Taemin.

“Gureyo?”

“Ne. Ia menanyakan apakah kau sudah menemuiku atau belum” sambung Key “dan ia juga memberitahuku kalau kau adalah pacar Sun Hwa”

“O” Minho kini menyentuh kaleng coca-colanya dan meneguknya sedikit.

“Aku penasaran, kenapa kau melakukan ini Minho-ya? Kau ingin mempertemukan ku padanya, untuk apa lagi?”

“Hanya untuk..” Minho terdiam, tidak bisa melanjutkan kata-katanya. “Begini..” kini Minho membetulkan posisi duduknya “Taemin memberitahuku kalau sebelum Sun Hwa koma, ia sempat melihat foto-foto kalian berdua dan aku sangat penasaran akan hal itu”

“Mwo?”

“Ne, entah mengapa, ada perasaan dihatiku yang mengatakan kalau ia masih memiliki sebagian perasaannya untukmu”

“Ya?” Kibum mengerutkan kening “oleh karena itu kau ingin mempertemukan aku dengannya?”

Ne. Entah mengapa aku memiliki keyakinan kalau kehadiranmu akan merubah kondisinya”

“Maksudmu, jika aku datang menemuinya, aku dapat membuatnya sadar dari komanya? Haish Minho-ya, aku ini bukan tuhan, aku tidak dapat melakukan itu semua

Ani, bukan itu maksudku. Aku hanya ingin kau menjenguknya, maka dengan begitu siapa tahu, akan ada keajaiban pada kondisi Sun Hwa”

“Bagaimana jika tidak?” tanya Kibum yang langsung membuat Minho berfikir lama untuk menjawabnya.

“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mencobanya. Aku hanya ingin melakukan apa yang dapat kulakukan”

“Karena kau mencintainya?” Kibum tergelak. “Arraseo.

Minho hanya tersenyum sambil meraba pundaknya. Ia tahu kalau Kibum benar, Minho memang sangat mencintai Sun Hwa, tetapi entahlah apakah yang dilakukannya ini benar atau tidak.

“Lalu bagaimana jika ia sadar? Bagaimana jika ia melihatku, dan bagaimana jika..”

“Jika perasaannya untukmu muncul lagi?” Minho langsung dapat menebak apa yang ingin Kibum tanyakan “Key, aku sudah memikirkan hal ini matang-matang, jika perasaannya masih terpaut padamu, maka aku rela melepasnya jika itu dapat membuatnya bahagia, tinggal bagaimana denganmu, apakah kau masih memiliki perasaan untuknya atau tidak”

Kibum menunduk, padahal Minho terus menatapnya. Dan saat itulah Minho menyadari satu hal kalau Kibum juga masih memiliki perasaan untuk Sun Hwa.

“Aku..” ucap Kibum tertahan sedang Minho seperti merasakan hatinya teriris perih mendengar setiap kata yang diucapkan Kibum.

***

Minho merebahkan tubuhnya di kasur empuk yang disedikan Kibum untuknya, matanya menerawang jauh kearah langit-langit kamar, tetapi pikirannya melayang jauh memikirkan kata-kata Kibum tadi. Perlahan kata-kata itu terdengar seperti rekaman suara yang diputar berulang-ulang di kepalanya.

“Aku.. tidak tahu bagaimana perasaanku padanya, tetapi yang jelas saat aku meninggalkannya, aku masih sangat mencintainya. Kepergianku ke Jepang bukan tanpa alasan, tetapi karena kedua orang tuaku yang memaksaku.”

Haish!!!” Minho mengacak-acak rambutnya. Mendadak perasaannya kacau. Mungkin Minho dapat mengatakan kalau ia akan menerima segala konsekuensinya, tetapi ia tidak mungkin dapat memungkiri perasaannya yang sakit.

“Tok.. tok.. tok!” tiba-tiba saja pintu kamar Minho terketuk, Minho tau orang itu pasti Key.

“Masuk!” seru Minho kemudian, dan datanglah Key sambil membawa nampan berisi nasi goreng serta segelas jus jeruk.

“Mian mengganggu, aku hanya ingin mengantarkan ini, aku tahu kau pasti lapar”

Gumawo” Minho menyambut nampan yang diberikan Kibum “ini semua kau yang memasaknya?”

Ne, aku memang suka memasak. Hidup seorang diri membuatku harus memiliki kealihan itu” jawab Kibum yang kini duduk dipinggiran tempat tidur Minho “Bagaimana rasanya?”

“Mashita!”

“Gumawo. Dulu, Sun Hwa juga sangat menyukai nasi goreng buatanku”

“Uh?” seketika Minho berhenti menyuap nasi ke mulutnya “ya pantas saja, nasi goreng buatanmu enak!”

“Tapi ia tidak suka jika aku memasak nasi goreng kambing atau cumi-cumi”

“Ya, itu karena dia tidak menyukai kambing dan cumi-cumi. Sebaiknya kau masakan dia nasi goreng ayam”

Kibum tergelak “Ya, ternyata kau juga tahu akan hal itu?”

“Semua orang yang menyayanginya tau akan hal itu. Tidak suka kambing, tidak suka cumi-cumi dan tidak suka warna pink!”

“Ya, aku memiliki selera yang berbeda dengannya. Ia tidak suka pink, tapi aku sangat menyukai warna pink!”

Minho tersenyum “Dia menyukai warna biru, sama sepertiku!”

Kibum terdiam begitu juga dengan Minho lalu di detik berikutnya keduanya sama-sama tertawa kecil.

“Sudahlah, jangan bicara lagi, nanti makananmu tidak habis-habis Minho-ya”

“Ne. Kau juga sebaiknya beristirahat, besok pagi pesawat kita berangkat pagi!”

“Baiklah, sepertinya aku juga harus mengemas beberapa pakaian” Kibum kini mulai beranjak “nanti taruh saja piringnya di dapur, biar aku yang mencucinya”

Ne. Kamshamnida”

“Cheonmanayo. Selamat malam Minho-ya!”

***

Seoul, South Korea..

Oh hyung, kau datang?” Taemin berlari kecil ketika melihat dua namja yang dikenalinya sebagai Choi Minho dan Kim Kibum itu datang ke rumah sakit tempat noona nya dirawat. “Annyeonghaseo, Key hyung, manaseo bangabeseumimnida” Taemin memberi hormat.

“Ah, ne Taemin~ah, senang dapat bertemu denganmu lagi.”

Hyung, rupanya rencanamu membawanya berhasil, chukae~” Taemin menepuk-nepuk pundak Minho, sedang Minho hanya tersenyum tipis.

“Ah, Key, kau tidak ingin melihatnya sekarang?” Minho kini kembali menatap Key, sambil bermaksud mengalihkan arah pembicaraan Taemin. Ia tahu apa yang Taemin maksud, ia tahu kalau sejak awal Taemin tidak pernah menyetujui rencananya ini.

Huh? Ah, gureyo. Dimana aku dapat menemuinya?”

“Kamar nomer 908” sahut Taemin yang disambut dengan anggukan kepala Kibum. Kibum pun langsung melangkahkan kakinya menuju kamar yang dimaksud, dan saat itu juga Minho merasakan perasaan yang sangat sulit untuk dijelaskan. Rasa takut, sakit dan penuh harap yang bercampur menjadi satu.

Tiga langkah.. mereka akan bertemu.

Dua langkah.. perasaan yang pernah ada itu..

Selangkah… mungkinkah akan kembali muncul?

Dan saat Kibum memantapkan langkah terakhirnya, Minho hanya bisa terdiam, tidak mampu berbuat apapun.

***

Kibum terpaku, mendadak sekujur tubuhnya kaku. Ia hanya berdiri mematung sambil memandangi tubuh kecil yang tak berdaya itu dipenuhi dengan selang infus.

Perlahan kakinya tergerak untuk melangkah menuju kursi kecil yang ada disamping kasur perawatan, tangannya kemudian meraih tangan kecil Sun Hwa, serta matanya menatap dalam-dalam wajah pucat itu dengan penuh genangan air mata yang nyaris tumpah.

“Sun Hwa-ya” gumam Kibum lirih “ini aku Key, apa kau masih ingat? Aku datang untuk melihat kondisimu, melihat apakah kau baik-baik saja atau tidak”

Kibum menarik nafas pelan, menyeka air matanya yang sudah membasahi kedua pipinya.

“Aku.. aku.. mianhae, jeongmal mianhaeyo. Aku benar-benar minta maaf padamu atas sikapku yang dulu, yang meninggalkanmu begitu saja, yang tidak memiliki keberanian untuk menjelaskan padamu, yang akhirnya menghancurkan hubungan kita. Jebal, maafkan aku Sun Hwa-ya. Aku sungguh menyesal, aku tidak menyangka kalau kini aku akan bertemu denganmu lagi dalam kondisi seperti ini!”

Tangis Kibum tak terbedungkan, ia tidak tahu apa yang membuatnya begitu rapuh ketika mengatakan semua kata-kata itu. Mungkinkah apa yang Minho katakan benar, mungkinkah saat mereka bertemu, perasaan itu akan muncul lagi.

“Sun Hwa-ya, kedatanganku kesini adalah berkat Minho, ia berharap jika aku menemuimu maka kau akan sadar. Semoga apa yang diharapkannya benar, aku juga menginginkan kau sadar Sun Hwa-ya. Aku ingin melihatmu tertawa seperti dulu, aku ingin melihat senyumu, aku ingin melihat Lee Sun Hwa, yeoja cantik yang memiliki semangat yang luar biasa, aku ingin melihat kau sembuh Sun Hwa-ya”

Mendadak kalimat Kibum terhenti ketika melihat ada sebulir air mata yang jatuh dari mata Sun Hwa yang terpejam. Kibum terpaku, ia yakin walaupun Sun Hwa tidak sadar, tapi ia dapat mendengar suara Kibum. Kibum yakin kalau Sun Hwa mendengarnya.

Perlahan dieratkannya genggaman tangannya sambil kemudian mengecup lembut punggung tangan Sun Hwa.

“Lee Sun Hwa, saranghaeyo~”

***

Kondisi Sun Hwa makin mengalami peningkatan, bahkan semalam Sun Hwa telah sadar dari komanya, ya walaupun kondisinya masih sangat lemah, tetapi ini merupakan hal yang sangat bagus. Entahlah ini keajaiban yang datang dari tuhan atau memang karena kehadiran Kibum disini. Yang jelas itu semua membuat Minho bersyukur kalau kedatangannya ke Jepang untuk meminta Kibum menjenguk Sun Hwa tidak sia-sia.

            “Aku senang ia sudah sadar~” sebuah suara tiba-tiba mengangetkan Minho. Kibum datang dan kemudian duduk di sebelah Minho, ia menyodorkan se cup kopi instan yang tadi dibelinya.

“Ne, aku juga senang, ini seperti keajaiban. Gumawo, Key, aku tahu kedatanganmu banyak membantu”

“Ne, ternyata teorimu itu tepat Minho-ya” Key tergelak.

“Itu bukan teori, tetapi itu kenyataan. Sun Hwa sadar karena kehadiranmu. Ia sadar karena ada kau disini”

Key terdiam, begitu juga dengan Minho. Keduanya tidak ada yang berani memecahkan keheningan sampai terdengar suara langkah kaki yang tiba-tiba saja berhenti dihadapan mereka berdua.

Hyung!” sapa Taemin dengan raut wajah yang tidak biasanya, ia tampak sangat khawatir.

Gwaenchana Taemin-ah?”

Ne. Aku hanya sedikit panik. Oprasi noona dilaksanakan hari ini, kalian berdua ingin menunggunya bersamaku?”

“Hari ini?!” Kibum serta Minho terlihat begitu terkejut “baiklah kalau begitu, mari kita menunggu di depan kamar oprasi!”

***

Omooo.. Jang uisa, eothokajo?” tanya Sun Hwa umma ketika dokter Jang, dokter yang melakukan oprasi pada Sun Hwa keluar dari kamar oprasi. Kontan semua orang yang menunggu di depan kamar oprasi langsung mengerubungi dokter Jang.

“Syukurlah, oprasinya berhasil, saat ini kalian hanya tinggal menunggu pemulihan kondisinya. Jika kondisinya mengalami peningkatan maka ia dibolehkan pulang”

AH JEONGMALYO?! Kyaa ummaaa!” teriak Taemin sambil memeluk erat ummanya.

Minho mendesah lega. Akhirnya semuanya terselesaikan. Akhirnya Sun Hwa dapat kembali seperti semula.

Perlahan diarahkan pandangannya kearah namja yang sejak tadi berdiri disampingnya, Kim Kibum. Minho menatapnya cukup lama, tapi ia sama sekali tidak menyadarinya.

Minho tidak tahu apa lagi yang harus ia ucapkan pada Kibum, biar bagaimanapun Kibum berperan besar dalam hal ini.

Gumawo, Kibum-ssi

Jeongmal khamsahamnida.

***

Noona, makan ini, aaaaa~” Taemin memasukan potongan apel ke dalam mulut Sun Hwa.

Hari ini Sun Hwa sudah boleh pulang ke rumah. Taemin dan keluarganya sangat mensyukuri hal ini. Akhirnya, setelah dua bulan lebih mengalami masa-masa sulit akhirnya semuanya bisa terlewati begitu saja.

Hari ini juga mereka sengaja membuat pesta perayaan kembalinya Sun Hwa ke rumah. Yang hadir tentunya hanya orang-orang terdekat dan sahabat-sahabat Sun Hwa karena memang pesta ini hanya pesta kecil-kecilan.

Gumawo dongsaeng-ah” Sun Hwa kemudian mengacak-acak rambut Taemin gemas “Hari ini aku senang sekali”

Ya noona, semua orang juga sangat senang hari ini. Termasuk Minho hyung dan Key hyung” bisik Taemin sambil melirik dua namja yang kini sedang duduk mengobrol berdua di meja yang tidak jauh dari mereka berdua.

Sun Hwa tersenyum kecil kearah dua namja itu. Ia tidak pernah menyangka kalau ternyata saat ia membuka matanya dari koma panjangnya, ia dapat menemukan dua namja yang pernah dan sedang mengisi hatinya.

Noona, keadaan ini sulit, aku tau kau pasti bingung”

“Haish, bingung apanya? Kenapa aku harus bingung?”

“Karena kau terlibat cinta segita seka- AWW!!!” Taemin tak sempat melanjutkan kata-katanya karena Sun Hwa sudah menjitak kepalanya.

“Jangan berkomentar macam-macam!” ucap Sun Hwa sambil kemudian meninggalkan dongsaengnya itu, ia kini duduk kursi ruang tamunya, memandangi keadaan sekelilingnya yang sangat ia rindukan. Rumahnya, keluarganya dan teman-temannya, semuanya telah ia dapatkan kembali.

“Hey..” tiba-tiba saja suara seseorang menyadarkan Sun Hwa dari lamunannya. Sun Hwa tersenyum ketika melihat orang itu adalah Kibum, ia kini duduk disamping Sun Hwa sambil menatapnya penuh makna. “Bagaimana keadaanmu, gwaenchana?”

Sun Hwa mengangguk “Sangat baik, aku merasa lebih sehat sekarang!”

“Syukurlah~” Kibum tersenyum manis dan Sun Hwa kini terlarut dengan senyuman itu. Senyuman yang tidak pernah ia lihat lagi selama dua tahun belakangan ini.

Kibum dan Sun Hwa bicara tentang banyak hal, ternyata sempat berpisah cukup lama tak membuat komunikasi diantara keduanya canggung. Kibum yang talkactive serta Sun Hwa yang mudah beradaptasi membuatnya terlarut dalam banyak pembicaraan. Dan hal ini kembali membuat perasaan keduanya sempat terlarut kepada kenangan-kenangan yang pernah terjadi diantara mereka saat mereka masih duduk di bangku SMA.

Dan tanpa mereka sadari dari sebuah sudut lain, ada sepasang mata yang sejak tadi terus memperhatikan mereka berdua. Mata yang selalu menatap mereka dengan tatapan sendu, mata yang selalu mencoba menahan genangan air mata agar tidak jatuh, mata milik seseorang bernama Choi Minho.

***

Sejak kepulangan Sun Hwa dari rumah sakit, Minho sama sekali tak pernah bicara dengannya, tak pernah mengunjunginya ataupun menelfonnya dan sepertinya Sun Hwa fine dengan keadaan seperti ini, buktinya ia tidak pernah menanyakan Minho akan sikapnya ini.

Dua minggu sudah berlalu dan Kibum belum juga kembali ke Jepang. Ia masih di Seoul, tinggal untuk sementara dan seolah tak ingin melewatkan kesempatan ini, Kibum menggunakannya untuk menghabiskan waktu bersama Sun Hwa. Dan sepertinya mereka berdua sangat nyaman dengan kondisi ini. Mereka berdua bahkan melupakan kehadiran Minho, hal inilah yang membuat Minho yakin kalau perasaan mereka tumbuh lagi seiring berjalannya waktu.

Minho tidak pernah menyesali keputusannya untuk membawa Kibum ke Seoul, Minho justru sangat bersyukur karena apa yang dilakukannya tepat. Jadi sekarang jika apa yang dirasakannya benar, jika kedatangan Kibum kembali menumbuhkan perasaan diantara mereka berdua, maka Minho juga tidak akan pernah mempermasalahkannya. Ia ikhlas jika Sun Hwa lebih memilih Kibum dari padanya, ia rela mengorbankan perasaannya sendiri asal itu membuat Sun Hwa bahagia. Tidak ada alasan lain yang Minho punya, satu-satu alasannya melakukan ini hanya karena ia sangat mencintai Sun Hwa.

Memang terkadang kau akan menyadari arti cinta yang sesungguhnya adalah melihat orang yang kau cintai bahagia walaupun kau bukanlah bagian dari kebahagiaannya.

Mianhamnida Minho-ssi, ini tiketnya, pesawat anda berangkat jam 10 pagi” ucap seorang ajjushi yang menghampiri Minho dengan selembar tiket di tangannya. Minho menangguk lalu mengucapkan terimakasih.

Selanjutnya Minho menatap tiket itu lirih, entahlah keputusannya kali ini tepat atau tidak.

***

Sun Hwa melirik handphonenya setiap dua menit sekali, sejak beberapa hari yang lalu ia menantikan sms atau telfon dari seseorang yang sudah lama sekali tak ia temui.

Choi Minho.

Ya Choi Minho. Sejak kepulangannya ke rumah beberapa minggu yang lalu, namja itu tidak pernah menelfonnya ataupun memberi kabar seperti biasanya. Sun Hwa merasa kalau Minho menjauhinya, Minho sengaja menghindar untuk alasan yang tidak ia mengerti. Tapi entahlah perasaan itu benar atau hanya sebatas rasa khawatir Sun Hwa yang berlebihan.

“Hah baiklah daripada mati penasaran disini, sebaiknya aku datang ke apartementnya!” Sun Hwa memutuskan untuk pergi ke apartement Minho, mengecek keadaan namja itu. Sun Hwa hanya khawatir padanya, terkadang Minho suka menyembunyikan sesuatu dari Sun Hwa.

Kini Sun Hwa sudah sampai di depan pintu apartement Minho. Ia menghembuskan nafas pelan sebelum sempat menekan bel, namun ketika Sun Hwa baru ingin melayangkan tangannya menekan bel, tiba-tiba saja pintu apartement itu terbuka dan Sun Hwa dapat melihat Minho dihadapannya sambil membawa koper besar.

Sun Hwa menatap Minho lama sebelum akhirnya memberanikan dirinya untuk bertanya “Kau.. mau kemana?”

“Pergi” jawab Minho singkat dengan wajah yang datar.

Odiga?”

“Amerika, menyusul kedua orangtuaku.” Jawab Minho datar.

“YA!! Kenapa tidak pernah bicara sebelumnya?!!” mata Sun Hwa sudah berkaca-kaca. Bagaimana bisa Minho akan pergi ke Amerika tanpa memberitahunya terlebih dulu. Jadi jika Sun Hwa tidak pernah datang ke apartementnya, Sun Hwa tidak pernah tau kalau Minho akan pergi?

“Untuk apa aku memberitahumu, kau mungkin tidak akan perduli..” jawaban Minho sangat mengejutkan Sun Hwa. Bagaimana mungkin Sun Hwa tidak perduli padanya? “Aku sengaja melakukan ini karena tidak ingin menganggu kalian”

“Kalian? Maksudmu aku dan Key?” Sun Hwa berkata sambil memegangi dadanya yang sesak, sepertinya penyakitnya nyaris kambuh lagi “YA Choi Minho, kau tahu.. kau.. AHHG!” Sun Hwa tak mampu melanjutkan kata-katanya, ia langsung berlari meninggalkan apartement Minho. Ia tidak dapat mempercayai kalau pacarnya sendiri menganggap dirinya adalah pengganggu hubungannya dengan Kibum. Apa-apaan sih!

Sun Hwa berlari kecil menuju halte bus terdekat. Air matanya tumpah sekarang, ia kesal, ia marah pada dirinya sendiri, pada Minho dan juga pada keadaan. Ia marah karena Minho tidak pernah memberitaunya tentang kepergiaannya ke Amerika, memangnya dia anggap Sun Hwa apa, sampai hal semacam ini dirahasiakannya? Belum lagi pikiran-pikirannya tentang ‘mengganggu hubungan kalian’ itu, haish!!!

Baru Sun Hwa ingin melangkah masuk ke dalam bus yang berhenti didepannya, tetapi tiba-tiba saja ia merasakan seseorang menarik tangannya, mencegahnya untuk pergi.

“Mianhae ajjushi, gadis ini tidak jadi naik!” ucap orang yang menarik tangan Sun Hwa, membungkuk, meminta maaf pada supir bus.

Sun Hwa terdiam, begitu juga orang itu. Bahkan ketika bus dihadapan mereka sudah lama berlalu pun, keduanya sama-sama tak ada yang berani membuka pembicaraan. Sampai akhirnya Sun Hwa mencoba melepaskan tangannya dari genggaman orang itu, tetapi orang itu malah menariknya kedalam pelukannya.

“Ya! Choi Minho, lepaskan aku~” desis Sun Hwa lemah, tentu saja dengan mata yang sudah basah dengan air mata.

“Jebal.. biarkan seperti ini.. 5 menit saja sebelum aku pergi~” ucap Minho dengan suara parau. Ia tidak perduli lagi ada berapa orang yang berlalu lalang memperhatikan mereka.

“Lepaskan!” seru Sun Hwa setelah berhasil melepaskan tubuhnya dari pelukan Minho. “Mworago? Haish Choi Minho, kau ingin meninggalkanku disini hah?”

“Aku, maksudku.. kau masih memiliki Key disisimu. Aku mengerti jika kalian masih saling mencintai, aku akan mengalah jika perasaanmu masih untuknya. Sun Hwa percayalah, perasaan yang dipaksakan itu tidak baik~”

“Kau..”

Gwaenchana, aku benar-benar tidak apa-apa Sun Hwa-ya, kau tidak perlu mengkhawatirkanku..”

Sun Hwa menatap Minho kesal “Choi Minho, apa kau benar-benar menginginkan ini? Kau benar-benar ingin meninggalkanku?” tak ada jawaban dari Minho, dan itu membuat Sun Hwa semakin kesal “baiklah, jika ini keputusanmu.. pergilah, aku tidak akan mencegahmu. Aku tidak akan mencegah orang yang rela meninggalkanku demi kebahagiaanku, kebahagiaan yang tidak pernah aku rasakan dimana letak kebahagiaannya. Jika kau pikir hal ini akan membuatku bahagia, kau salah Minho-ya, kau justu akan segera membunuhku!!” Sun Hwa meremas pelan roknya, membiarkan semua luapan hatinya keluar “jika kau pikir aku mencintai Key, kau benar, aku memang mencintainya!”

Minho mengigit pelan bibirnya, ia tahu kata-kata seperti itu akan didengarnya sendiri dari mulut Sun Hwa.

“Tapi itu dulu, jauh sebelum aku bertemu dengan namja bodoh yang rela melepasku demi membuatku bahagia, namja bodoh yang rela pergi mencari cinta pertamaku tanpa pernah memikirkan perasaannya sendiri, namja bodoh yang sekarang ada dihadapanku dan tidak bisa berbuat apapun se-” belum sempat Sun Hwa melanjutkan kata-katanya, Minho sudah menariknya lagi dalam pelukannya. Kali ini Sun Hwa tak berkutik, ia hanya dapat memukul-mukul dada Minho pelan, dan seiring Minho mengeratkan pelukannya, pukulan Sun Hwa pun semakin melemah.

“Jadi kau tidak mencintainya?”

Paboya! Jeongmal paboya! Untuk apa aku mempertahankan orang yang sudah meninggalkan aku. Perasaan aku dan Key sudah berlalu, aku hanya menganggapnya chingu sekarang, dan tidak akan lebih lagi!”

“Tapi Scrapbook itu…”

“Aku melihatnya sebelum aku koma, aku berniat untuk membuangnya. Menghapus semua kenagan aku dengan Kibum. Saat aku sadar Kibum ada di sampingku, aku memang kembali terlarut dalam perasaan itu, tapi karena kau menghindar aku jadi menyadari satu hal, kalau aku lebih takut kehilanganmu, Choi Minho!” Sun Hwa masih terisak “Dua minggu tanpa kabar, tanpa komunikasi, tanpa melihat wajahmu, tanpa mendengar suaramu membuatku merasa yakin kalau aku benar-benar tidak bisa jika tanpamu disisiku”

Mianhae, Sun.. hmm.. chagiya~” ucap Minho yang membuat Sun Hwa menangis semakin deras.

***

Minho mengurungkan niatnya untuk tinggal di Amerika bersama kedua orangtuanya. Ia sadar, ia masih memiliki perasaan yang tertinggal di Seoul. Perasaan untuk seorang yeoja yang tak pernah pergi dari hatinya, Lee Sun Hwa.

Setelah menjelaskan semuanya, Minho mengerti kalau kedekatan Sun Hwa dan Kibum kemarin hanya sebatas kedekatan antara teman lama yang sudah lama tidak pernah bertemu, tidak lebih. Sun Hwa tidak memiliki perasaan apa-apa lagi untuk Kibum, baginya semua hanyalah masa lalu, sekalipun Kibum masih memilikinya. Tapi Sun Hwa memilih Minho daripada Kibum, jadi apa lagi yang dapat membuat Minho bisa lebih bahagia daripada ini?

Oppa!” suara Sun Hwa tiba-tiba saja mengagetkan Minho yang kala itu sedang melamun. Minho tersenyum kearah yeojanya yang datang dengan dress putih bunga-bunga itu, ia merasa Sun Hwa sangat cantik hari ini.

Neomo yeppo-ya” puji Minho yang langsung disambut dengan pipi Sun Hwa yang memerah.

Gumawo~” ia tersipu. Sun Hwa kini duduk disamping Minho.

“Ini untukmu~” Minho tiba-tiba saja menyerahkan sebuah amplop pink kearah Sun Hwa. Sun Hwa mengerutkan kening bingung “bukalah~” suruh Minho akhirnya.

Perlahan Sun Hwa merobek amplop itu dan kini ia dapat menemukan dua lembar tiket didalamnya. Sun Hwa memperhatikan tiket itu baik-baik, matanya menelusuri rentetan tulisan yang tertera disana.

TICKET CONCERT 11 April 2011. 07:00 PM

WELCOME TO B2ST AIRLINE

“KYAAA IGE MWOYA? Ya CHOI MINHO!!!” saking gembiranya Sun Hwa sampai memeluk tubuh Minho erat. Ia tidak pernah menyangka kalau kekasihnya itu akan memberikannya tiket konser B2ST yang sangat diinginkannya.

“Jangan memelukku seperti ini, aku sulit bernafas!” protes Minho dan Sun Hwa langsung melepaskan pelukannya.

Gumawo oppa~ kyaaa!” Sun Hwa berteriak lagi dan hal itu membuat Minho terkekeh, tidak menyangka reaksinya seperti ini.

Saengil chukahamnida!!!” seru Minho kemudian “aku tahu, saat ini masih tanggal sepuluh april, tetapi tidak apa-apakan kalau aku mengucapkan selamat ulangtahun sekarang? Aku hanya ingin menjadi orang yang pertama~”

Sun Hwa tersenyum, ia terharu dengan Minho hari ini. Ia tahu ulangtahunnya masih kurang 3 jam lagi, tetapi semua itu tidak masalah baginya karna ia sudah terlalu bahagia hari ini.

Oppa, sekali lagi gumawo~” Sun Hwa kini merebahkan kepalanya dipundak Minho yang kokoh itu.

“Aku yang seharusnya berterimakasih karena kau lebih memilihku daripada cinta pertamamu!”

“Itu karena aku lebih percaya pada cinta terakhir daripada cinta pertama~” Sun Hwa memejamkan matanya mencoba merasakan wangi angin sepoi-sepoi yang sejak tadi datang menerpa wajahnya.

Ia merasa beruntung memiliki Minho. Memiliki namja yang benar-benar mencintainya dengan sepenuh hati. Namja yang tak pernah lelah menunggu kesembuhannya sewaktu ia sakit, namja yang selalu setia berada disampingnya dalam segala kondisi, namja yang rela mengorbankan kebahagiaannya demi Sun Hwa. Dan oleh karena itu, dihari ulangtahunnya ini Sun Hwa tidak ingin meminta lebih. Cukup ada Choi Minho disampingnya, maka ia akan merasa sangat bahagia.

Saranghae~” ucap Minho secara tiba-tiba.

Nado” balas Sun Hwa -yang masih dengan mata terpejam- sambil tersenyum bahagia.

Minho ikut memejamkan matanya. Sekarang ia benar-benar mengerti kenapa banyak orang yang rela melakukan apapun demi orang yang dicintainya, itu semua karena tidak ada perasaan yang lebih indah daripada merasakan orang yang kau cintai bahagia.

Dan ketika kau mencintai seseorang, buatlah ia bahagia karena dengan begitu kau sudah benar-benar mencintainya.

“Mungkin sekarang Key sudah di Jepang ya?” gumam Sun Hwa pelan.

Waeyo? Kau ingin menyusulnya?” ledek Minho kemudian. Sun Hwa hanya tersenyum.

“Buat apa, aku kan sudah memiliki orang yang benar-benar aku cintai disini..” Minho tersenyum kecil.

Gumawo~”

“Haish kau itu terlalu percaya diri, maksudku orang itu Son Dong Woon~” Sun Hwa melanjutkan kalimatnya.

“YA! Kenapa dia?!!!” protes Minho.

“Karena aku akan menonton konsernya besok. Haish my Arabian Prince~”

“Cih dasar!!” Minho kini menjitak kepala Sun Hwa pelan.

FIN

Ya ini ff udah lama bangeeeeeet -_- tapi aku tetep mau posting buat share ke pembaca J ff ini sebenernya aku buat untuk temenku yang waktu itu nge request buat birthday gift nya, but I hope all of the readers can like it too, happy reading…

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

70 thoughts on “When You Love Someone”

  1. AIgoooo, ah FF ini DAEBAAAKKKKK!!!!

    Minho kayanya dpt cinta pertama yak? Waaaaaaah, Minho, abang gw udh dpt cinta pertama *plak, di gigit Onew*.

    Pokoknya, aku kasih 100 buat FF ini *mungkin lebih kali ya?*.

    Bravo thor~

    Aku tunggu karya author yang lebih baik lagi ^w^ HWAITING!

  2. aaaa key sndiri dong.. ayo key sini sama noona… kkkkkk
    hmpir mnngis d awal2 huhuhu… tp happy end euy… aq kira sunhwa mlih key

  3. sweet…keren fanfic.a..
    .kira.in bener2 bakal sad ending
    .bagus.lah akhirnya sun hwa sama minho,jadi aku bisa sama key..*plakk

    DAEBAK..

  4. So sweet..aq mau dapet namjachingu kayak minho…wkwkwk..
    Keren keren!!aq sangat amat suka sekali banget(?) ma nih ff,hehe
    bisa bqn perasaanq campur aduk..haha
    24 jempollah bwt author#yg 20 dr member shinee,pake jempol kaki juga :p
    aq tgu ff” selanjutnya ^o^

  5. Aaaaa Minho oppa segitu dlm kah prasaan mu sampai kau rela mlepaskan cinta mu?
    Sungguh nyesek pas d awal’a pi hepi end dech akhir’a hehehe *snyum2 gaje
    TAPI TAPI q gk rela Minho oppa sama Sun Hwa huaaaaa *plakk d gampar sun Hwa
    Overal daebak chingu ff’a lanjutkan yo okokok ^^

  6. ahahaha terakhirnya ngakak!! yang pas…

    uat apa, aku kan sudah memiliki orang yang benar-benar aku cintai disini..” Minho tersenyum kecil.

    “Gumawo~”

    “Haish kau itu terlalu percaya diri, maksudku orang itu Son Dong Woon~” Sun Hwa melanjutkan kalimatnya.

    wkwkwkwk~ Daebak FFnya ~

  7. Aaaaaaaa~ mute! Aku terharu lagi baca ff ini :’) ga tau lagi mau comment apa. Yg jelas aku suka banget banget lah ama ff ini.
    Semoga MinHwa awet~ Kan mau 2nd Anniversary.. Hahahaha 😀
    Forever MinHwa!! Mute daebak!! \(^o^)/

    P.S: Son Dongwoon makin tampan ya mut? LOL XD

  8. Omonaaaaaaaa awalnya kok nyesek-nyesek yaaaaa……
    Aigoooo ini ffnya keren, daebak, keren banget deh!
    Good job thor;)

  9. Demi kesembuhan Sun Hwa, Minho sengaja menemui Key *cinta pertama Sun Hwa* sementara dia tahu hatinya akan sakit. Kehadiran Key mungkin adalah sebuah keajaiban Sun Hwa tersadar dari komanya, namun kebahagiaan Sun Hwa tetap tidak lepas dari Minho, cinta terakhirnya.
    Nice story.

  10. hwaaa~~
    hayo,,onnie msti tnggung jwab dah bkin q ngis nh…#plak
    whua~,,,feel’y bner2 dpet…so sweet…
    kgk nyangka minho bsa spt tu,,,tp untg’y ending’y am minho…cb kl am key,,onnie dah q lmparin key,,,#ngaco.com
    haha~pkok daebak oen…!!!

  11. Nyaris menangis, untung enggak :p tapi terharuuuuuuuu!! Hueeeee gile ya! Ini FF kok bagus sih?!! Hyaaaa keren *histris

    aku tersepona! Minho bela2in nyusul key ke jepang demi sunhwa. Kyaaaaaa, so romantic!! :’) key, kamu sama aku aja yuk! Kali ini rela deh minho sm org lain #plaaaaak XD

    taemin juga, heboh banget dia -o-‘

    aaaa syukur operasinya lancar ya :’) aku kira enggak… udah dag dig dug. Fiuhh. Daebak authooor!

  12. alhamdullillah ya..sesuatu banget nih ep-ep……
    bagus….keren,so sweet, moga2 aja,didunia ini ada byk cowok yang semulia n setulus itu….amieeennn… 🙂

  13. kyaa… sweet bgt… pengen deh punya pacar kaya minho.. *diguyur key* hahaha.. sweet sweet sweet sweet sweet.. kyaaa……….

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s