{FF PARTY 2011} Victory for My Lovely – Part 1

Title                 : Victory for My Lovely

Author             : Eka

Main Cast        : Choi Minho, Lee Jinki

Support Cast    : Gu Sang Hyo

Genre              : Friendship

Type/Length    : Twoshot

Rating              : General

Summary         : Aku benci berlari. Tapi demi dirimu, kupastikan aku dapat berlari melebihi

  kecepatan cahaya sekalipun.

Recommended Backsound : In My Room, Last Gift, One

Ket                   : Sekedar berpartisipasi

Ini FF pertamaku yang dikirim ke blog ini. Jadi, maaf ya kalau masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kata bagus. Makasih buat yang mau baca, semoga suka ^^

 

“ Awww!!!” Onew sibuk mengusap-usap belakang kepalanya yang terasa sakit. Sakit sekali rupanya lemparan bola dari orang di hadapannya itu. Tanpa memedulikan orang itu yang berteriak minta diambilkan bola basketnya, Onew terus mengusap-usap belakang kepalanya dengan gusar. Kesal terus menerus diabaikan, orang itu akhirnya menghampiri Onew dengan setengah berlari.

“ Memangnya sakit, gitu?” tanyanya dengan wajah tak berdosa.

Onew memukul kepala orang di hadapannya itu dengan cukup keras. “ Ya iyalah. Haduh, bisa bodoh, nih.” Ucap Onew berikutnya.

“ Hahaha, ada-ada saja. Tapi baguslah. Kalau kau jadi bodoh, gelar peringkat 1 akan jadi milikku, kan?”

“ Bodoh.” Onew lagi-lagi memukul kepala orang itu, kali ini lebih pelan. “ Santai saja di posisi keduamu itu. Karena aku tidak mungkin jadi bodoh, Choi Minho.”

Minho hanya tertawa mendengar pernyataan sahabatnya itu.

PELAJARAN BAHASA INGGRIS

Minho menulis sesuatu di secarik kertas. Lalu dibalas oleh Onew yang duduk tidak jauh dari bangkunya. Mereka duduk sendiri-sendiri, seluruh anak kelas juga begitu. Selama pelajaran bahasa Inggris ini, Minho dan Onew benar-benar tidak berminat mendengarkan guru menjelaskan.

Mereka memang murid-murid pandai. Onew misalnya, dia berada di peringkat 1 paralel di sekolahnya, sedangkan Minho mengekor di peringkat 2. Mereka sangat jago dalam banyak hal. Meskipun Onew memiliki kelemahan di bidang olahraga, di mana itu adalah salah satu kelebihan Minho dan Minho lemah di pelajaran biologi, yang merupakan pelajaran yang paling dikuasai Onew. Mereka memang punya kekurangan dan kelebihan yang berbeda satu sama lain. Tapi untuk urusan bahasa Inggris mereka berdua bisa kompak, sama-sama payah.

Menyadari kedua murid emas di kelas itu tidak memperhatikan, Mrs. Jung memanggil salah satu dari mereka. Sayang sekali, kali ini yang tidak beruntung adalah,

“ Minho.” Minho pun mendongakkan kepalanya dengan canggung.

“ Yes Ma’am?” Sahutnya gelagapan. Sementara Onew di sebelahnya jadi ikut tegang.

“ I’m wondering something, do you prefer beer or wine?” Tanya sang guru. Pelajaran hari itu memang membahas penggunaan kata prefer.

Minho menoleh pada Onew. Seakan memberikan tatapan bertanya, apa-yang-dia-katakan? Namun Onew balas menatap Minho dengan tatapan kau-tahu-kan-kalau-kita-sama-sama-tidak-tahu?

“ Okay, Minho, what is your answer? Do you prefer beer or wine? Ppalli!” perintah sang guru.

“ Err…” Minho tampak sedang menyusun kata-kata, dan yang keluar dari mulutnya malah, “ I’m fine, Ma’am. Thank you.” Minho cengengesan, tahu dengan pasti kalau jawabannya itu pasti salah.

 Seisi kelas tertawa. Onew menepuk dahinya lalu menutupi wajahnya dengan tangan. Meskipun sama bodohnya dengan Minho, tapi dia tahu kalau jawaban itu diperuntukkan untuk menjawab kabar, sudah pasti tidak ada hubungannya dengan materi pelajaran hari itu. Onew memalingkan wajahnya, seakan malu punya teman seperti Minho.

“ Lee Jinki!”  ucap sang guru kemudian.

Onew terlonjak. “ Ne!” sahutnya.

“ Speak in English please, when it is my subject.” Perintah sang guru kesal.

“ Err… Ne!” jawab Onew kemudian. Sontak saja seisi kelas tertawa lagi. Kecuali Minho, karena dia juga tidak mengerti di mana letak kelucuannya.

“ Minho, sudah dong. Ayo pulang.” Pinta Onew yang sudah menemani Minho selama beberapa jam di lapangan basket yang sudah tidak terpakai di dekat gedung sekolah lama mereka.

“ Yaa, sebentar lagi saja.” Ujar Minho sambil men-dribble bola. Dari kejauhan dia melempar bola basket ke arah ring. Masuk! “ Three point!” teriak Minho kegirangan sambil melakukan gerakan perayaan khasnya.

Onew hanya menoleh sekilas, menatap Minho dari balik buku yang sedang dibacanya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya pelan sesaat. Melihat itu Minho pun menghampiri Onew dan menarik buku yang sedang ia baca.

“ Main yuk.” Ajaknya dengan napas sedikit tersengal karena kecapekan, namun sambil tersenyum.

“ Kau bercanda. Aku tidak mau. Tidak akan pernah mau.” Onew pun berlalu.

“ Ah, Onew-ya, sekali saja. Setiap hari kau menemaniku berolahraga, olahraga apapun itu. Apa kau tidak pernah merasa tertarik sedikit pun?” rayu Minho.

“ Memangnya aku menemanimu karena aku tertarik apa?” Onew menjawab sinis. “ Kalau bukan karena persahabatan kita, mana mau aku berdekatan dengan hal-hal berbau olahraga.” Tambah Onew kali ini dengan tersenyum. Membuat Minho ikut tersenyum. Minho pun menaruh bola basketnya di kursi lalu duduk di samping Onew, menatap ke langit.

“ Kenapa kau tidak suka olahraga?” tanya Minho.

“ Ya…” Onew tampak berpikir sejenak, “ Ya, tidak suka saja. Pertanyaan itu sama seperti kalau ada yang menanyakanmu, kenapa kau tidak suka biologi?”

“ Karena aku tidak bisa.” Jawab Minho kali ini.

“ Ya, sama kalau begitu.” Jawab Onew lagi. Hening sejenak di antara mereka.

“ Tapi setidaknya aku mencoba untuk bisa. Kau juga seharusnya begitu terhadap olahraga.” Saran Minho.

“ Oh, yang benar saja! Pokoknya aku tidak mau! Titik.”

Minho menjitak kepala Onew pelan. Onew menatap Minho dengan tatapan membunuh, tapi Minho malah tertawa. “ Keras kepala sekali, sih. Baiklah, kalau tidak mau. Akan kupaksa kau. Caranya dengan…” Onew tampak sedikit memicingkan matanya, menunggu-nunggu apa kira-kira yang akan diucapkan Minho. “ Kita taruhan saja, bagaimana?” Onew tampak ingin langsung menolak, tapi Minho buru-buru menambahkan, “ Kalau kau tidak mau itu artinya kau pecundang.”

Onew menatap Minho dengan tatapan mematikannya lagi. Anak itu sudah membuatnya kesal bukan main. “ Oke. Aku bertanya-tanya apa kiranya yang ada di kepalamu yang sempit itu?” tantang Onew.

“ Bagaimana kalau kita bertaruh untuk ulangan berikutnya? Yang mendapat nilai paling besar di kelas boleh meminta apa saja dari yang kalah.”

Onew berpikir sejenak. Kepalanya ia dongakkan sementara matanya menerawang, mengingat-ingat sesuatu. “ Tunggu dulu, kau yakin? Ulangan berikutnya itu ulangan bahasa Inggris, Minho. Sudahlah, aku yakin kita berdua pasti akan kalah. Ganti saja, ulangan fisika nanti misalnya.”

“ Justru di situ tantangannya, kawan.” Potong Minho. Onew melotot. “ Iya, aku yakin.” Seakan bisa membaca pikiran Onew, Minho menjawab demikian.

Melihat kepercayaan diri Minho, Onew merasa tertantang. Ia pun membulatkan tekad akan mengikuti taruhan konyol ini. “ Emm, tapi kalau kita berdua gagal bagaimana?” tanya Onew memastikan kebulatan tekad Minho.

“ Tidak. Aku tidak akan gagal, Onew. Lihat saja.”

Onew menatap Minho tidak percaya. “ Percaya diri benar. Baiklah, kita lihat saja. Sepertinya kau menganggap ini sangat serius ya. Oke aku tidak akan kalah.”

Setelah beberapa menit, mereka pun memutuskan pulang. Minho pulang ke rumahnya yang terletak di kawasan perumahan elite. Minho memang dikenal sebagai orang yang cukup kaya. Orang tuanya memiliki perusahaan yang cukup maju dan terkenal. Maka dari itu, hidup Minho selalu berkecukupan. Agak sedikit berbeda dengan Onew yang harus bekerja sampingan untuk mendapat uang lebih jika ia membutuhkan sesuatu. Onew memang tinggal sendiri di kota itu, sementara kedua orang tuanya tinggal di desa. Onew adalah perantau.  Ia menyewa sebuah tempat yang kecil namun cukup nyaman untuk ia tinggali.

Meski di dua tempat yang berbeda, satu hal yang mereka saling ketahui. Keduanya sedang struggle belajar bahasa Inggris.

“ Gomawo Jinki-ssi.” Bungkuk gadis berambut lurus sebahu itu sopan.

“ Aishh, jangan memanggilku seperti itu. Kita kan sudah sekelas hampir setahun. Panggil saja aku Onew seperti si Minho itu.” Tunjuk Onew pada Minho yang sedang duduk di ujung kantin, memperhatikannya dari jauh.

“ Ah, ne. Kalau begitu, aku duluan ya… Onew.” Gadis itu mengucapkan nama Onew sambil tersenyum.

Onew pun membalikkan badannya menghadap Minho dengan wajah sumringah. Minho juga menunjukkan air muka yang sama excited-nya dengan Onew.

“ Selamat kawan. Sepertinya dia memberikan sinyal positif terhadap pendekatanmu ini.” Kata Minho saat Onew duduk di hadapannya.

Onew hanya diam, masih berusaha menenangkan detak jantungnya yang jadi tak karuan sejak bertemu gadis tadi. “ Sang Hyo hanya mengembalikan buku catatanku.” Sangkalnya kemudian.

“ Ah, terserah kau saja deh.” Ujar Minho tidak sabaran. “ Selalu begini. Kenapa sih selalu menyangkal dugaanku bahwa Nona Gu Sang Hyo juga menyukaimu? Terserahlah, sekarang terserah. Kalau dipikir juga, siapa sih yang mau dengan kutu buku sepertimu? Tidak ada. Oke, aku percaya Sang Hyo tidak menyukaimu, aku percaya.” Goda Minho yang jelas saja membuat Onew jadi salah tingkah.

“ Err… err, tidak seperti itu juga kali. Err… maksudku kan, aku Cuma…” Onew berusaha menyangkal lagi sebelum seorang teman mereka datang terburu-buru menghampiri mereka.

“ Ya, Yong Hwa, ada apa? Kenapa terburu-buru?” tanya Minho sambil menyodorkan sebotol air mineral pada Yong Hwa.

Yong Hwa mengatur napasnya sejenak sebelum menenggak minuman dari botol Minho. Ia pun menarik napas panjang sambil menatap Minho dan Onew bergantian, sebelum akhirnya ia bicara, “ Kalian makan keju terus ya seminggu ini?”

“ Mwoya? Aku tidak mengerti maksudmu?” Onew menaikkan sebelah alisnya, heran.

“ Ulangan bahasa Inggris sudah dibagikan, dan kalian…”

Belum selesai Yong Hwa menyelesaikan kata-katanya, Onew dan Minho berpandangan sejenak dan segera berlari menuju kelas. Sesampainya di kelas, mereka mengambil lembar jawaban mereka masing-masing dan terdiam sesaat melihat hasilnya.

Onew membuka lipatan kertasnya perlahan, berdebar berapa hasil yang ia dapatkan. Selama ini, ia bahkan tak pernah menyentuh nilai 80. Itu karena dia tidak pernah belajar sebelum ulangan. Mau belajar bagaimana, menyentuh bukunya saja, Onew sudah seperti orang yang alergi. Tapi untuk ulangan kali ini, ia yakin akan sesuatu. Sedikit demi sedikit nilai yang ditulis dengan tinta merah itu pun terlihat. Onew menyipitkan matanya, yang justru membuat mata sipitnya menghilang di telan kelopak matanya.

98! Onew membelalakkan matanya. Benarkah ini nilainya? Berarti ia hanya salah satu soal? Yeaaaay!!! Onew melompat kegirangan. Ini adalah rekor.  Ia melambai-lambaikan kertasnya dan berlari menghampiri Minho yang memutuskan membuka nilainya di luar kelas. Sesampainya di luar kelas, wajah Minho tampak tidak terlalu cerah, entahlah ekspresinya tidak tertebak.

“ Minho, kau dapat berapa, kau dapat berapa?” tanya Onew terlalu bersemangat. Ia tak henti-hentinya menyunggingkan cengirannya.

Minho tampak memaksakan senyumnya. Onew yang tadi kegirangan, sekarang bertambah girang. “ Hey, kita tidak bisa menentukan pemenangnya kalau kau hanya menjawabku dengan senyummu itu! Tunjukkan padaku, hurry!”

Minho pun mengulurkan lembar jawabannya, membiarkan Onew melihatnya sendiri. Onew melihat tulisan yang tergores dengan tinta merah itu sejenak lalu kembali menatap Minho dengan tatapan tak percaya. Kali ini Minho menatap Onew dengan sebuah cengiran lebar di wajahnya.

“ Sial sial sial!” Onew berlari dengan langkah lebar-lebar berusaha menyejajarkan diri dengan Minho yang berada beberapa langkah di depannya. “ Bagaimana bisa? Bagaimana bisaaaaa???” gerutu Onew yang kini berhasil menyusul Minho yang berlari dengan kelajuan konstan di belakangnya.

“ Jangan cepat-cepat, Onew. Nanti mudah lelah.” Saran Minho santai sambil terus berlari tidak terlalu cepat, tapi pasti.

“ Seratus? Seratus! Bagaimana bisaaaa???” teriak Onew lagi kesal. Baru beberapa saat memimpin, Onew sudah kembali tersusul lagi oleh Minho. “ Ya! Bagaimana bisa, hah?” Tanya Onew kesal.

Yap. Onew kalah taruhan. Sudah dengar gerutuannya kan? Minho dapat nilai 100, sempurna. Hal itu tentu saja membuat Onew harus membayar kekalahannya, dan kali ini Minho meminta Onew untuk latihan lari bersamanya.

“ Bisa dong. Apa gunanya Appa dan Umma yang kaya raya kalau tidak bisa menyewa guru bahasa Inggris privat?” cengir Minho.

“ Daaaamn.” Onew terus merutuki kesialannya sambil berlari. Ia berlari dengan cukup serius. Kali ini ia tidak mau kalah lagi oleh Minho. Namun, setiap baru berhasil memimpin ia langsung merasa kelelahan dan Minho pun melengos menyusulnya tanpa terlihat kelelahan sedikitpun.

Enam putaran, itulah jumlah putaran yang diminta oleh Minho. Sekarang Minho tampak sudah duduk di lapangan, menenggak minuman dari botol. Sedangkan Onew masih harus berlari satu setengah putaran lagi.

“ Onew, semangat!” dukung Minho.

“ Cih, jangan coba-coba meremehkanku.” Onew tampak belum menyerah, ia melanjutkan sisa putarannya dengan lebih cepat.

“ Haaaah, akhirnya selesai juga. Capeeeeek.” Keluh Onew yang langsung membiarkan tubuhnya bersandar pada bumi. Minho menyodorkan botol minumannya dan Onew pun terududuk dan langsung menghabiskannya tanpa sisa. “ Ahh….” Onew mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. “ Gomawo.”

“ Ne.” Minho pun memasukkan botol minumnya ke dalam tas dan kali ini mengeluarkan handuk, untuknya dan untuk Onew.

“ Ah, terima kasih.” Onew mengambil handuknya tanpa melihat Minho. “ Eh, hei lihat. Ada dua gadis gendut sedang berlari. Pasti sedang diet. Hahahahaha…” Onew tergelak melihat dua gadis dengan berat kira-kira 55kg berlari bersama dengan napas tersengal-sengal.

“ Hush, Onew, tidak boleh begitu. Kau tidak sadar, hah? Kau juga gendut.” Minho menepuk-nepuk perut Onew.

“ Jjinca? Aigoo, sejak kapan daging di perutku jadi sebanyak ini?” Onew menekan-nekan perutnya, sementara Minho hanya bisa tertawa.

“ Hahaha, kau memang gendut. Akuilah. Hahaha.”

Onew tidak menghiraukan ejekan Minho. Tiba-tiba, malah ia langsung berdiri sambil menggendong ranselnya, pergi meninggalkan Minho.

“ Ya! Onew-ya! Kau marah?” Minho sibuk membereskan barang-barangnya. “ Onew-ya, tunggu!” Minho setengah berlari mengejar Onew. “ Kau marah?” Tanya Minho lagi setelah sudah berjalan di samping Onew.

Onew menoleh sekilas lalu berjalan lagi. “ Besok aku mau lari lagi.” Onew pun mempercepat langkahnya. Meninggalkan Minho yang terbengong sesaat, namun tersenyum kemudian.

“ Onew, kau tampak kurusan akhir-akhir ini.” Ujar Sang Hyo.

“ Jjinca?” Onew hanya menjawab dengan pertanyaan retoris malu-malu. Mereka pun berjalan memasuki kelas bersama-sama.

“ Ne. Haha.”

“ Sang Hyo, lihat ini. Majalah tentang solusi kelangkaan airnya sudah terbit.” Panggil salah seorang teman Sang Hyo.

“ Ne.” teriak Sang Hyo pada temannya. “ Onew, aku duluan, ya.” Sang Hyo pun melambai dan berlari kecil menghampiri temannya itu.

“ Manis sekali.” Gumam Onew mengagumi gadis yang baru saja meninggalkannya.

“ Kau selalu tampak tidak berdaya di hadapan gadis itu.”

“ Ya! Dari mana kau datang? Suka tiba-tiba, deh.” Onew berjalan menuju bangkunya lalu menyandarkan kepalanya malas-malasan di atas meja. “ Hey, tunggu sebentar. Kutaruh di mana ya ponselku?” Onew tiba-tiba sibuk sendiri. Mengecek saku celana dan bajunya namun tidak ada.

“ Nih, telepon saja.” Minho pun menyodorkan ponselnya.

Onew segera menyambar ponsel Minho itu. “ Gomawo.” Ia pun menekan tombol dengan cepat, mengetik nomor ponselnya.

Tak berapa lama kemudian Onew mengembalikan ponsel Minho dengan wajah tanpa ekspresi.

“ Whaeyo?” Tanya Minho. Onew terus menatapnya dengan tatapan yang sama. “ Sudah ketemu ponselnya?” Onew mengangguk sesaat. “ Kenapa sih?” Tanya Minho penasaran.

Tiba-tiba Onew tertawa sampai ia terjatuh dari kursinya. Murid-murid lain melihat ke arah belakang, ke arah bangku mereka. Minho membantu Onew untuk duduk lagi masih dengan wajah penasaran. Sedangkan Onew terus tertawa. Minho menunggu dengan sabar sampai tawa Onew reda.

“ Hahahaha. Aishh, Minho-ya, ternyata kau benar-benar mencintaiku, ya?” Tanya Onew masih dengan sisa tawanya.

“ Maksudmu?”

“ Namaku di ponselmu, ‘Lovely Onew’, kan? Hahaha.”

“ Ya ampun, kau tertawa karena itu? Padahal apanya yang lucu?” Minho dengan cuek melanjutkan membaca buku.

“ Luculah, lucu. Tapi, Minho, kau nggak homo, kan?” bisik Onew dengan nada menyelidik.

“ Pikir saja sendiri dengan otak pintarmu itu. Kalau mau homo juga pilih-pilih kali.” Minho memukul kepala Onew dengan keras menggunakan bukunya. “ Itu karena kau orang yang berarti bagiku.” Minho tersenyum tulus pada Onew.

Onew balas tersenyum. Ah, manisnya persahabatan mereka. “ Haha, syukurlah.” Onew bersandar di kursinya sambil mengusap kepalanya yang cukup sakit dipukul Minho tadi. “ Eh Minho, hari ini lari lagi, yuk.” Ajak Onew.

“ Wah, ada angin apa ini? Tumben.” Ujar Minho.

“ Tumben apa? Aku kan sudah rutin latihan lari bersamamu dua bulan terakhir ini.”

“ Iya. Tapi kan biasanya aku yang mengajak. Kenapa tiba-tiba ngajak duluan?” selidik Minho.

“ Hehe.” Onew nyengir sesaat. “ Sang Hyo bilang aku kurusan.”

“ Wuahahahahaha!!” kali ini Minho yang tertawa terbahak-bahak sampai jatuh dari kursinya. Anaka-anak sekelas yang lain heran melihat tingkah kedua sahabat aneh itu. Mereka hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kebodohan dua jenius di kelas mereka yang hobi menggila.

Hari itu mereka berlari delapan putaran. Lebih banyak dari biasanya. Tapi sekarang Onew sudah jarang tertinggal. Sekarang ia mampu setidaknya menyejajarkan diri dengan Minho.

Seusai berlari, seperti biasa, mereka berbaring di rumput di pinggir lapangan sambil mengobrol. Hari ini, ada sedikit kejanggalan pada Minho. Sepanjang berlari, ia tak banyak bicara, padahal biasanya Minho cukup cerewet, apalagi kalau Onew sudah menyusulnya ketika berlari. Tapi hari ini lain. Bahkan ketika mereka sudah selesai berlari pun Minho tampaknya tidak mau memulai pembicaraan duluan.

Onew yang menyadarinya segera bertanya, “ Whaeyo Minho-ya?” tanya Onew dengan nada lembut melihat kemendungan di wajah sahabatnya itu.

Minho tidak menoleh, hanya menjawab dengan senyum tipis, kemudian ia malah minum. Onew menunggu jawaban Minho dengan sabar. “ Hyung.” Panggil Minho.

Onew terkesiap. Ada yang tidak beres, pikir Onew. Setiap kali Minho memanggilnya dengan panggilan itu, artinya ia sedang memiliki masalah yang serius.

“ Ya. Ada apa Minho?” Onew mendaratkan tangannya di bahu Minho, menunjukkan perhatian.

“ Dua bulan lagi lomba lari.”

Onew memasang tampang bingung. “ Lalu?”

“ Kau, ikutan juga yuk.” Ajak Minho dengan wajah berubah sumringah.

“ Aishhh, aku kan newbie dalam dunia lari-berlari ini. Baru juga dua bulan, kamu suruh ikut lomba? Ngueeeeh?? Nggak ah. Nantinya malah Cuma bakal malu-maluin diri sendiri doang.” Tolak Onew.

Minho menatap Onew dengan pandangan memohon. “ Oh, hyung.” Ucapnya.

Onew tidak tahan kalau Minho sudah berkata demikian. Tapi, masalahnya ini menyangkut urusan berlari. Onew mana pede.

Minho pun menarik napas dalam sambil menatap ke langit. “ Seandainya ini adalah saat terakhirku, aku hanya ingin melihatmu ikut lomba itu dan memenangkannya.”

Onew melirik Minho sambil menyeringai ngeri. “ Ya! Minho! Ngomong apa kamu barusan? Bikin takut aja.” Onew memukul lengan Minho.

“ Eh, emang tadi aku ngomong apa?” tanya Minho polos.

“ Aishh, main-main rupanya anak ini!” Onew menginjak kaki Minho kali ini.

“ Ya! Onew! Apa-apaan sih?”

“ Kenapa tidak kau saja yang ikut lomba lari itu?”

“ Iya, tenang saja, aku juga ikut. Tapi aku ingin kau ikut juga.” Terang Minho kali ini dengan nada datar, tanpa pemaksaan.

Onew berpikir sejenak. Sebenarnya, Onew cukup takut mendengar perkataan Minho yang sebelumnya itu. Entahlah, dari cara bicaranya, ekspresi wajahnya, ada sesuatu yang diinginkan oleh Minho. Dan entah mengapa juga, Onew ingin sekali mengabulkannya untuk Minho. Ingiiiiin sekali.

“ Baiklah, aku akan ikut. Dua bulan lagi kan? Pokoknya kau harus membimbingku. Arasseo?”

Minho senang bukan main. Ia mengangguk-angguk tanda setuju dengan bersemangat mendengar persetujuan Onew tersebut.

 Malamnya, Onew berusaha keras untuk belajar. Besok ulangan fisika. Namun, sampai jam 12 malam, tak satupun materi pelajaran yang tertancap di kepalanya. Sampai tiba-tiba, sebuah suara ketukan di pintu membuyarkan usahanya untuk berkonsentrasi.

TOK TOK TOK

“ Ya, tunggu sebentar.” Teriak Onew sembari bangkit dari duduknya. “ Siapa sih malam-malam begini?” tanya Onew pelan pada dirinya sendiri.

Onew pun membuka pintu, dan betapa terkejutnya ia menemukan seseorang yang ada di hadapannya sekarang. Minho memakai kemeja kotak-kotak dan celana jeans, malam-malam datang ke rumahnya. Matanya sembab, sembab sekali.

“ Minho? Ayo masuk.” Ajak Onew membimbing Minho ke dalam rumahnya.

Mereka pun duduk di lantai. Awalnya hening. Onew mengambilkan Minho segelas air dan diletakkannya di depan Minho. Sampai tiba-tiba….

“ Hyung.” Isak Minho. Onew lagi-lagi terkesiap. Lagi-lagi Minho memanggilnya begitu. Bahkan kali ini Minho menjatuhkan air matanya. Ada apa sebenarnya dengan Minho?

Kyaaaa >,<

Maaf kalau jelek. Tapi, berhubung udah baca sampai sini, dimohon komentarnya ya. Kalau jelek bilang aja. Hueeeee. Sekalian minta kritik dan sarannya yang membangun. Sekali lagi, gomawo buat yang udah baca *bow*

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

27 thoughts on “{FF PARTY 2011} Victory for My Lovely – Part 1”

  1. Aaahhh bnr2 penasaran…. ada apa dg minho??? Aish…. persahabatan mrka manis bgt… aku sampai senyum2 bacanya XD
    nice thor ^^d

    1. wah, sampai senyum2? aku juga senyum baca comment darimu 🙂
      minho kenapa ya? hmm, aku juga bingung. minho, kamu kenapa? XD
      hehe, makasih banyak udah baca ya *bow

  2. Ngakak ama kata ‘Lovely Onew’ wkwkwkwkwk. Ngebayangin mrka ketawa mpe jatoh dr kursi gitu malah bkin aku ikut ngakak =o=”

    hyaaaa minho kenapa? Ngeri banget omongannya -o-”

    trus ahir2na, dy bisa nangis ya? #plak o.O

    cepetan diposssst! Ga sabarrrr! #plak #readerbawel
    good job chinguuu 😀

    1. nyahh~
      apakah kata ‘Lovely Onew’ itu menggelitikmu sampai kau tertawa? hehehe

      yah, kau tahu?
      sebenarnya Minho memang bisa berubah menjadi mengerikan kadang-kadang.

      makasih udah baca chingu *bow

    1. admiiiin, next chap jangan lama-lama ya ^^

      aku juga deg-degan soalnya. hehe *lebay

      by the way, thanks for reading *bow

  3. Indahnya persahabatan Onew dan Minho. Tapi penasaran kenapa Minho malam-malam datang ke rumah Onew dengan wajah sembab.
    Nice story. Lanjut!

    1. demikianlah persahabatan mereka di dunia nyata sekali pun. hehe *sotoy

      penasaran kan? let’s check next part (ntar maksudnya)

      hehe, makasih udah baca *bow

  4. bkln sad kah ntar ini? author bikin pnsrn…..
    itu lucu bgt pas d kls.. sampe jtoh dr kursi… kkkkkkk minho sangtae… hahaha
    td smpt lupa klo ini twoshot… smpe bergumam sndri ‘heh… kok mlh gantung n g selesai’ eh msih ad lnjutnnya ntr.. hehe

    1. wah, umm, hmm, gimana ya? lihat next part deh.

      wahaha, serada lebay emang mereka berdua kalau bercanda. minho sangtae? hahaha, unique listening.
      haha. nah, untuk part selanjutnya jangan lupa ya.

      makasih udah baca FF-ku *bow

    1. aigoo, minho ngak seserem itu kok. coba perhatiin lagi baik-baik mukanya. hehehe

      terima kasih banyak sudah membaca FF ini *bow

    1. tentu saja karena onew lebih tua darinya. hahaha

      belum end kok sayang, ada next part, jangan ketinggalan ya

      btw, makasih udah baca FF-nya *bow

  5. aisshhh si authorr… lagi enak2 baca tiba2 .. “kyaaa”
    ampun deh… huwaa ceritanya bagus, si minho kenapa sih …
    penasaran… persahabatan mereka enak bgt ya .. ^^

  6. waah….aku penasaran banget ama lanjutannya…lanjuut thor…OnHo nya sweet banget..hahaha…pokoknya lanjuut thor..hwaiting

  7. OnHo friendship is never fail.
    Keren banget FFnya.
    Penasaran juga, buat newbie FF author malah bagus banget.

    1. nggak nyangka ada orang yang baca ini lagi, padahal tanggalnya udah jauh dari waktu terbit.
      ini FF udah hampir 2 tahun yang lalu. jadi maluuuu sama bahasa sendiri ><
      makasih udah baca loooh ya ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s