{FF PARTY 2011} Victory for My Lovely – Part 2 [END]

Victory for My Lovely

Title                 : Victory for My Lovely

Author             : Eka

Main Cast        : Choi Minho, Lee Jinki

Support Cast    : Gu Sang Hyo

Genre              : Friendship

Type/Length    : Twoshot

Rating              : General

Summary         : Aku benci berlari. Tapi demi dirimu, kupastikan aku dapat berlari melebihi

  kecepatan cahaya sekalipun.

Recommended Backsound : In My Room, Last Gift, One

Ket                   : Sekedar berpartisipasi

 

“ Hyung.” Isak Minho. Onew lagi-lagi terkesiap. Lagi-lagi Minho memanggilnya begitu. Bahkan kali ini Minho menjatuhkan air matanya. Ada apa sebenarnya dengan Minho?

“ Kau Kenapa?” Onew menepuk-nepuk pundak Minho. Onew berusaha tenang, meski dalam hati ia cemas bukan main. “ Ceritakan pada hyung, ada apa?” Onew bersikap layaknya seorang kakak sungguhan.

Minho hanya diam, tak menjawab pertanyaan Onew. Tiba-tiba tangisnya pecah. Onew bingung harus bagaimana. Ingin bertanya, rasanya tidak tega. Minho tampak benar-benar terpukul saat ini, dan itu membuat hati Onew perih. Sedih sekali melihat sahabatnya yang biasanya ceria itu kini menangis seperti saat ini tanpa ia ketahui sebabnya.

“ Uljimayo.” Onew menepuk pundak Minho dengan canggung. Minho masih menangis. “ Eh, sudah, kau tidur saja ya.” Saran Onew. Minho mengangguk dalam senggukannya.

Onew pun menyiapkan satu kasur lagi di lantai untuk Minho. Ia menyelimuti Minho dan menyaksikan sendiri betapa cepatnya Minho tertidur setelah menempelkan kepalanya ke bantal. Onew menatap Minho dengan tatapan penuh tanya. “ Anak ini…” Onew mengelus rambut sahabatnya itu. “ Jangan menangis lagi adikku.” Ucap Onew pelan sebelum ia akhirnya tidur juga.

Onew menggeliat sejenak. Diliriknya jam alarm di sebelahnya. Pukul 6 pagi. Saatnya bangun. Onew pun bangkit dari tidurnya. Tapi, tunggu dulu. Aroma apa ini? Onew melihat kasur di sebelahnya sudah kosong. O iya, tadi malam kan ada Minho. Onew pun bergegas menuju ke sumber aroma yang ia cium.

“ Ya! Choi Minho, ini apa?”

“ Ta-da! Aku yang menyiapkan semua ini.” Minho dengan bangga menunjukkan masakannya yang sudah tertata rapi di meja. “ Cuma makanan instan sih, tapi lumayan kan?” cengir Minho.

“ Hoaaa, instan sih, tapi aku jarang makan beginian.” Ucap Onew bersemangat sambil menatap nugget ayam fillet yang sangat besar di hadapannya. Juga ada spaghetti lengkap dengan sausnya yang mengandung potongan ayam berbentuk dadu.

“ Ya! Matamu hampir keluar tuh. Jangan ditatapi terus, ayo kita makan.” Minho menusuk-nusukkan garpu di udara ke arah Onew dengan ceria.

Onew pun tersadar dari kekagumannya dan menatap Minho. Ia tersenyum, sepertinya Minho sudah kembali seperti biasa. “ Oke, ayo makan.” Onew pun mengambil garpu untuk memakan spaghetti-nya. Sambil makan mereka tak henti-hentinya mengobrol dan bercanda. Onew tidak mau membahas masalah tadi malam lagi. Mereka hanya mengobrolkan hal-hal yang lucu dan jauh dari kesedihan saja. Menyenangkan sekali. Mungkin malah itu adalah hari minggu paling menyenangkan bagi mereka berdua.

“ Kau beli di mana bahan-bahan untuk membuat semua itu tadi?” Tanya Onew setelah kekenyangan setelah makan. Minho memang membuatnya terlalu banyak.

“ Di mini market yang buka 24 jam di ujung gang.” Jawab Minho yang sekarang sedang tiduran karena kekenyangan juga.

“ Haha, sering-sering, ya.” Ujar Onew senang.

“ Ne.” jawab Minho mantap. “ Hey Onew, aku menginap di sini ya.” Pinta Minho.

Onew agak terkejut. “ Mwo?”

“ Kupingmu itu ditaruh di mana, sih? Masak aku harus mengulangnya. Sudahlah, nanti aku suruh pelayanku membawakan pakaian dan seragamku. Aku mau menginap lama di sini dan kau tidak boleh menolak.” Paksa Minho yang membuat Onew hanya bisa pasrah.

Dua minggu berlalu. Onew dan Minho semakin dekat, rasanya seperti sudah menjadi keluarga. Setiap hari mereka melakukan rutinitas bersama. Berangkat ke pusat pergaulan paling berkelas, alias sekolah, bersama, latihan lari setiap sore untuk lomba lari dua bulan lagi, dan belajar gila-gilaan sampe pukul 4 pagi bersama. Semuanya mereka jalani dengan senang, tak ada hari yang membosankan bagi mereka.

Semuanya terasa semakin menyenangkan, terutama bagi Onew. Semenjak ada Minho, hidupnya jadi tak pernah kekurangan. Minho selalu memaksa membayar semuanya kalau mereka sedang membeli sesuatu. Bukannya Onew memanfaatkan Minho, tapi memang Minho yang mau begitu. Selain itu, sebagai perantau Onew biasanya merasa kesepian di rumah sendirian. Tapi sejak ada Minho, suasana rumah jadi lebih ramai. Tak jarang mereka menonton siaran bola tengah malam dan berteriak-teriak kegirangan sampai dimarahi tetangga.

Ahhh… pokoknya semuanya menjadi serba menyenangkan, sampai suatu hari, Minho kembali menjadi aneh. Bukan menangis seperti kemarin-kemarin, kali ini Minho berubah menjadi sangat menyebalkan. Eh, bukan. Benar-benar amat sangat menyebalkan.

“ Onew-ya!! Bagaimana bisa menang kalau berlari seperti itu?” teriak Minho.

“ Aku sudah lelah Minho. Ini sudah sebelas putaran. Biasanya kan kita Cuma berlari paling banyak delapan putaran. Kau gila ya?” bentak Onew.

Minho balas membentak, “ Halah, jangan payah! Kau itu berlari seperti anak perempuan tahu!” ujar Minho meremehkan.

Onew sudah benar-benar merasa kesal pada Minho saat ini. Sejak tadi pagi di sekolah, Minho sudah berubah menjadi menyebalkan. Entah kerasukan apa anak itu, yang jelas kata-kata yang keluar dari mulutnya seharian ini selalu membuat Onew tersinggung. Onew berusaha sabar, tapi ini sudah keterlaluan.

“ Minho! Hari ini kau aneh sekali! Kau sudah keterlaluan!” ucap Onew berapi-api. Tapi Minho hanya melirik sekilas dengan tatapan dingin tak peduli. Diperlakukan seperti itu, Onew tambah kesal. “ Sudahlah, lupakan saja semua ini.”

“ Baiklah, lupakan saja, pecundang.” Minho berlalu begitu saja. Pergi meninggalkan Onew yang sangat terkejut mendengar kata ‘pecindang’ meluncur dengan mulus dari mulut Minho barusan.

“ Minho-ya, apa salahku?” Onew membenamkan wajahnya ke kedua lututnya. Ia benar-benar kecewa dengan Minho.

Onew melangkah gontai menuju kelas. Hari ini dia datang terlambat, jadi ia tidak ikut jam pelajaran. Kemarin saat pulang ke rumah, barang-barang Minho sudah tidak ada. Minho pergi tanpa pamit. Onew tidak berusaha mencari. Lagi pula Minho sudah besar, dia bisa menjaga dirinya sendiri, pikir Onew.

Baru saja menginjakkan kaki di kelas, ada pemandangan aneh yang sangat mengejutkan Onew. Minho? Dia pindah tempat duduk. Eh bukan, bukan itu yang membuat Onew terkejut. Tapi kenyataan bahwa Minho pindah tempat duduk di sebelah Sang Hyo dan sekarang mereka sedang bersenda gurau. Akrab sekali kelihatannya. Sesekali anak-anak lain sibuk bersuit dan menggoda mereka yang tiba-tiba menjadi terlalu dekat itu. Ini ada apa sih sebenarnya? Sejak kemarin Minho seperti mau mengajaknya bermusuhan saja. Onew semakin kesal.

“ Minho, bolh aku bicara denganmu sebentar.” Onew pun menghampiri bangku Minho.

Anak-anak yang lain yang tadinya sedang tertawa dan sibuk masing-masing jadi mengalihkan perhatian mereka pada dua sahabat itu.

“ Mau bicara apa?” tanya Minho dingin.

Onew semakin kesal dibuatnya. Kenapa Minho tiba-tiba begini? “Tidak di sini. Ayo keluar.” Ajak Onew.

“ Di sini saja. Aku malas keluar.” Minho tetap menjawab dengan ekspresi datar.

Onew pun menyerah. Ia rasa tidak mungkin bicara di tempat umum seperti itu, maka ia pun memutuskan untuk memendam pertanyaannya terlebih dahulu. “ Sudahlah.” Ucap Onew lirih sambil berjalan lesu menuju bangkunya. Seisi kelas terdiam. Tepatnya tercengang masal. Kedua sahabat itu? Bagaimana bisa?

Yonghwa yang duduk di sebelah Onew tak dapat menahan rasa penasarannya.

“ Kalian kenapa?” tanyanya hati-hati.

“ Aku juga tidak tahu.” Jawab Onew sambil memaksakan senyumnya.

Onew tahu Minho pasti ada di tempat itu, dan dugaannya sama sekali tidak meleset. Onew menghampiri Minho dan merebut bola basket yang sedang dimainkan Minho. Entah dapat kekuatan dari mana Onew bisa merebut bola itu dari tangan Minho.

“ Minho-ya, aku tidak mengerti dengan sikapmu akhir-akhir ini? Kenapa kau berubah seperti ini?”

“ Seperti ini? Seperti apa memangnya?” tanya Minho datar.

“ Tuh kan. Kenapa kau selalu menjawab pertanyaanku dengan ketus? Kenapa kau selalu berbicara dengan perkataannya yang sering menyinggungku, hah?”

Minho hanya diam. “ Minho jawab aku! Aku tidak ingin seperti ini, jangan berakhir seperti ini.”

“ Lupakan aku. Lebih baik mulai sekarang kita berhenti bersahabat.”

Onew shock “ Mwo?!” tapi Minho meninggalkan Onew begitu saja. Onew kesal bukan main. “ Baiklah kalau itu maumu!” teriak Onew agar Minho dapat mendengar suaranya. “ Arrrghhh, michyeosseo!” gerutu Onew sambil mengacak rambutnya sendiri.

1 hari

2 hari

1 minggu

1 minggu 4 hari

Minho tidak masuk sekolah. Onew sebenarnya sudah berusaha untuk tidak peduli selama seminggu terkahir ini. Ia ingat benar, pertemuan terkahirnya dengan Minho, yang setiap mengingatnya hanya membuat Onew muak. Tapi ingatannya tentang persahabatan mereka yang terjalin sudah cukup lama juga sering muncul, dan menimbulkan perasaan cemas pada hati Onew.

Selain itu, perlombaan lari, yang Onew tahu sudah sangat ditunggu-tunggu oleh Minho tinggal dua minggu lagi. Ia sendiri sudah tidak berniat melanjutkan mengikuti lomba itu. Toh, Onew mau ikut lomba itu karena Minho, namun tak ada alasan lagi baginya sekarang. Ah, ke mana anak itu?

Rasa peduli Onew mengalahkan sifat gengsinya, maka pulang sekolah Onew pun memutuskan untuk mencari Minho di rumahnya. Sesampainya di sana, pelayan pribadi Minho yang sudah sering Onew lihat segera mempersilakan Onew untuk masuk ke sebuah ruangan. Bukan kamar Minho, tapi sebuah ruang gelap, ruangan untuk mencuci foto.

Terdapat banyak sekali foto yang tergantung di beberapa utas tali, seperti jemuran. Awalnya Onew tidak dapat melihat dengan jelas foto-foto di sana. “ Di mana Minho?” tanya Onew akhirnya setelah lama tidak melihat anak itu di seluruh ruangan yang ia lewati.

“ Tuan muda sekarang tidak ada di rumah.” Jawab Tuan Im hormat. Sementara Onew berusaha memperhatikan foto-foto di sana.

Tunggu dulu! Itu kan, fotonya. Onew mengambil salah satu foto yang tergantung dan memperhatikannya dengan seksama. Onew tersenyum sendiri. Hah, kapan anak itu mengambil foto ini? Tanya Onew dalam hati. Foto yang sedang dipegangnya adalah fotonya saat berlari karena kalah taruhan, pertama kali Onew berlari bersama Minho selain di sekolah ketika pelajaran olah raga.

Onew malah jadi asyik melihat-lihat foto-foto lainnya, sampai lupa tujuan awalnya ke rumah Minho. Foto-foto lainnya adalah fotonya juga. Dengan ekspresi-ekspresinya yang aneh saat berlari. Onew ingin tertawa melihat dirinya sendiri. Serius sekali wajahnya kalau sedang berlari. Di beberapa foto terakhir, tertera tanggal di setiap tali yang berbeda, foto Onew kebanyakan tampk kabur. Sepertinya kamera yang dipakai Minho tidak fokus, alias begerak ketika Minho memotretnya. Tapi kenapa? Onew ingat, pertemuan terakhirnya lagi dengan Minho dan sadar dari kegiatannya dari tadi.

“ Err, Tuan Kim, ngomong-ngomong Minho kapan pulang?” tanya Onew akhirnya.

Tuan Kim hanya tersenyum. Senyumnya tampak penuh arti. Onew jadi tidak sabar mendengar jawabannya. “ Tuan muda ada di tempat yang tidak bisa kuberitahukan sekarang. Tapi sebelum pergi tuan muda menitipkan pesan untuk anda lewat saya. Tuan muda memohon dengan sangat agar anda mau mengikuti lomba lari yang akan diadakan dua minggu lagi.”

Onew mengerutkan dahinya. “ Benarkah dia mengatakan begitu? Kapan?” Onew agak ragu, karena seingatnya di pertemuan terakhir mereka Minho kan memutuskan persahabatan mereka.

“ Ya benar. Tepat sebelum tuan muda berangkat ke suatu tempat yang saya sebutkan tadi. Tuan Lee, saya pribadi meminta kepada anda untuk mengabulkan permintaan tuan muda ini. Saya mohon bantuannya.” Tuan Kim membungkukkan badannya, membuat Onew salah tingkah.

“ Tapi, berikan alsan pada saya agar saya mau melakukannya.” Paksa Onew yang ingin mengetahui ada apa sebenarnya.

“ Karena tuan Lee adalah sahabat tuan muda.” Lagi-lagi tuan Kim tersenyum.

Deg! Perkataan Tuan Kim barusan benar-benar menimbulkan kesan yang dalam di hati Onew. Sahabat. Onew kembali mengingat saat pertama mereka memulai perihal lari berlari ini. Kembali terbayang wajah Minho yang selalu bahagia setiap sedang berlari. Dan kembali terbayang persahabatan mereka yang manis. Onew sadar, biar bagaimana pun Minho adalah sahabatnya. Minho… tetaplah sahabatnya.

Hosh hosh hosh!

Onew duduk di pinggir lapangan dan menenggak minumannya dengan cepat. Delapan putaran, akhirnya ia berhasil malatih kembali kakinya yang sudah lama tidak diajak latihan. Pertama kali berlari lagi, rasanya sakit sekali. Sakit yang sangat menyiksa sampai-sampai Onew harus berjalan dengan menyeret kakinya ke sekolah.

Besok adalah hari perlombaan larinya. Onew sebenarnya masih belum yakin dengan kemampuannya. Ia tidak terlalu yakin bisa menang. Onew baru saja akan kembali berlari ketika sebuah sedan hitam berhenti di pinggir lapangan dan orang yang ada di dalamnya berlari kecil menghampiri Onew.

“ Tuan, tuan harus ikut saya sekarang.” Tuan Kim yang biasanya selalu tampak tenang dan berwibawa sekarang tampak agak sedikit tergesa.

Onew pun menurut, dan mobil melesat ke sebuah rumah sakit. Onew agak terkejut begitu mengetahui arah mobil itu pergi. Tiba-tiba jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Kenapa perasaannya jadi tidak enak?

Tuan Kim pun membawa Onew ke sebuah ruangan yang tertutup. Mereka tidak diperbolehkan masuk. Hanya boleh melihat dari luar ruangan yang dilapisi kaca. Benar dugaan Onew, padahal Onew berharap perkiraannya salah. Tapi itu dia, Onew dapat melihat denga jelas, Minho yang terbaring tak berdaya, di pasangi selang-selang yang mencuat dari hidungnya, tangannya.

Tubuh Onew terasa lemas. Tak terasa air mata meleleh dari matanya. Diletakannya tangannya di kaca yang membuatnya dapat melihat ke dalam ruangan. Onew menangis dalam diam. Tapi hatinya menjerit-jerit. Ternyata selama ini sahabatnya sakit. Kenapa ia tidak menyadarinya.

Seorang dokter keluar dari ruangan dan mempersilakan Tuan Kim yang sudah berbicara dengannya dari tadi untuk masuk. Langsung saja Onew melesat masuk ke kamar itu dan mengambil tempat di samping Minho.

Dielusnya pipi Minho dengan sayang. Wajahnya putih pucat. Digenggamnya tangan Minho yang dingin. Tiba-tiba Onew merasakan kalau Minho balas menggenggamnya. Onew pun mengguncang bahu Minho pelan.

“ Minho-ya. Minho, apa kau mendengarku?”

Minho membuka matanya perlahan. “ Onew…” Minho tersnyum melihat wajah Onew.

“ Ya! Jangan tersenyum seperti itu, Choi Minho!” ucap Onew sambil meneteskan air matanya.

Tapi Minho kembali tersenyum. Senyum yang menyedihkan. Kelihatan sekali kalau Minho sekarang sangat lemah. “ Maafkan aku Onew. Maaf.” Ucap Minho, lagi-lagi sambil tersenyum.

“ Kenapa seperti ini? Kenapa kau tidak mengatakannya padaku Minho. Apakah ini sebab kau menjauhiku? Karena kau sakit? Kau pikir kalau kau sakit aku tidak mau bersahabat denganmu lagi?” Onew meraung histeris. “ Ya! Choi Minho, kau bodoh!” suara Onew terdengar parau ketika mengucapkan kalimat yang terakhir itu.

Tapi sekali lagi, Minho hanya tersenyum lemah, “ Onew, besok…”

“ Besok aku akan memenangkannya, aku janji!” Onew memotong perkataan Minho.

Hati Onew sakit melihat Minho terbaring lemah, hatinya sakit melihat Minho rapuh, seperti tidak ada kekuatan. Minho yang selalu ceria, Minho yang sangat suka berlari dan sporty, sekarang hanya bisa terbaring di kasur itu. Walaupun begitu, dia tetepa menunjukkan senyumannya. Seperti sedang meyakinkan Onew bahwa ia baik-baik saja. Sakit rasanya, benar-benar sakit.

Dan untuk yang kesekian kalinya, Minho hanya tersenyum. “ Terima kasih. Terima kasih ata segalanya.”

Onew sudah tidak sangguo menjawab perkataan Minho barusan. Sekarang ia hanya menangis sambil memegangi tangan Minho seakan tidak akan mau membiarkannya untuk pergi.

Tuhan, berikanlah ia kesehatan. Aku sangat menyayanginya.

Teruslah berlari, Onew-ya~

 

Haha, kalau kau lihat hasil jepretanku ini, kau pasti akan malu sendiri. Kau jelek sekali :p~

 

Haus niyeee~

 

Onew-ya, hwaiting!~

 

Onew, aku ingin selamanya begini. Aku ingin kau selalu ada di sampingku. Aku ingin kau lindungi terus seperti ini. Onew, hyung, selamanya ingin tetap seperti ini~

 

Umma dan Appa sudah mengetahui penyakitku, aku dilarang berlari lagi mulai sekarang. Eotteohke? Itu artinya aku tidak bisa bersenang-senang denganmu lagi? Ah, ani, aku akan diam-diam~

 

Mereka sudah tahu. Aku dilarang berlari lagi. Kali ini dengan peringatan yang cukup keras. Dan tambahannya, aku diperingatkan untuk menjauhimu~

 

Maaf maaf maaf maaf maaf. Maaf karena aku mengatakan itu. Aku tidak bermaksud memutuskan persahabatn kita. Tapi kalau bukan begini, akan semakin sulit. Saat aku pergi nanti, akan semakin sulit bagimu~

 

Tangan Onew bergetar. Ia menghentikan membaca tulisan-tulisan itu sejenak. Dihapusnya air mata yang sudah tidak bisa berhenti mengalir lagi itu. Pipinya basah, benar-benar basah dengan air mata. Tuan Kim yang ada di sampingnya hanya menunduk prihatin.

Onew mengambil burung origami yang terakhir dari dalam toples dan membukanya.

Onew-ya, selamat. Aku tahu kau pasti bisa menang. Meskipun aku tidak bisa menonton pertandingannya, tapi aku yakin kau pasti menang. Aku ingin minta traktir, tapi apa daya, aku tahu setelah menulis ini, aku tidak akan ada di dunia lagi. Heyyy, jangan menangis J

Sudahlah, aku jadi sedih kalau kau sedih. Satu hal yang harus kuingat dariku Onew. Aku menyayangimu. Hehe. I love you my Lovely Onew~

 

Onew menjerit memilukan. “ Minho!!!!! Kenapa kau tega pergi begitu saja seperti ini? Aku bahkan belum sempat memamerkan piala ini padamu. Apa gunanya benda ini sekarang? Apa gunanya kalau kau tidak ada hah?” tubuh Onew berguncang. Onew menyandarkan kepalanya di pusara Minho. Ia tak sanggup menatap nisan yang bertuliskan nama sahabatnya itu lama-lama.

Lama sekali Onew menangis sampai rasanya air mata Onew sudah habis. “ Baiklah kalau itu yang kau mau. Aku tidak akan sedih lagi.” Onew menghapus sisa-sisa air mata di pipinya. Ia berusaha tersenyum. “ Aku tahu kau menyayangiku. Dan kau tahu apa? Aku juga menyayangimu Minho.” Onew pun terseyum dengan setetes lagi air mata yang mengalir di pipinya.

-FIN-

Huwaaaaa, terbawa emosi. Jujur, aku nulisnya sambil ngalir nih. Hehe, mian kalau tidak memuaskan ya ceritanya. Maaf juga kalau banyak typo, yang ini ngerjainnya buru-buru dan nggak sempet diedit, ngejer deadline. Ini udah lewat deadline sih ngirimnya, tapi semoga aja masih bisa dipost *nekat

Makasih banget buat admin kalau FF ini masih bisa di post meskipun telat kirim  sejam. Makasih makasih makasih. Dan makasih juga yang udah mau baca ^^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
Advertisements

32 thoughts on “{FF PARTY 2011} Victory for My Lovely – Part 2 [END]”

  1. ah bnr tbknku.. minho skit.. eh tp ngomong2 minho skit ap gtu?
    keren author.. aku jg tersentuh.. aduuuhhh hmpir menangis

    1. wah, tebakan yang jitu. entahlah, tak sempat memikirkan minho sakit apa. tadinya mau nulis ini, MInho bakal dibikin meninggal apa nggak juga udah ragu. ehehe.

      makasih udah baca ^^

  2. Sungguh tak terkira sedihnya Onew kehilangan Minho karena penyakit itu harus merenggut nyawa sahabat yang sangat disayanginya. Bahkan sebelum Onew piala kemenangan lomba larinya.
    Nice story.

    1. aku juga sedih. nggak nyangka aku bikin biasku sendiri meninggal.T___T

      iya, intinya emang pengen nunjukin kalau di dunia ini ada loh persahabatan yang kayak gitu. kekeke

      makasih udah baca shaela

  3. chingu… ff mu mirip sama ke jadian sy sama chingu saya 😦
    pas aku bawa piala ke rumah sakit dia udah gak ada 😦
    disitu aku sedih banget.. karna teman satu2nya yang aku kenak udah gak ada #maaf curhat

    bener deh ff mu menyentuh banget T_T jadi terharu aku chingu…
    minho kasian dia punya penyakit.. tapi dia gak ingin kasih tau onew sahabatnya karna kalo kasih tau pasti onew bakal sedih

    1. aishh, jjincayo? ah, turut berduka cita. aku yakin, Tuhan pasti punya rencana dibalik semua yang terjadi. semoga chingu bisa dapet temen yang lebih baik, yang bisa menemani chingu lebih lama dari temen chingu itu. hiks, aku jadi sedih baca komenmu chingu T_T

      iya, minho sampe frustasi sendiri dan malah jadi marah-marah sama onew.

      makasih banyak udah baca FF-ku ya chingu ^^

  4. huwaaaaaa ~
    nangis kejer aku baca ni FF (reader lebay nih)
    tapi aku tersentuh banget sama ceritanya, nggak kuat nahan air mataku T.T

    mana backsound mendukung banget TT^TT
    authooor daebak! lanjut sama FF laen ya ~
    hwaiting~ 🙂

    1. eiyy, ellajuli! *sok kenal

      aku sering liat kamu comment di FF yang aku baca. suatu kehormatan kamu comment di FF aku. kekeke *lebay

      emang miris, makannya jangan dibayangin yang bagian minhonya meninggal ya.

      iya, dukung aku terus ya haha *berasa kampanye

      makasih udah baca FFku.

  5. ahhhh author pmbohong… genre nya persahabatan tpi ini sama aja bergenre sad ato angst pdhal q nggk mau bca kyak gtu lgi.. kapok tpi mlah kbaca ini… emakkkkk author jahat… T-T

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s