{FF PARTY 2011} Bread For My Family

Title: Bread For My Family

Author: HeartLess

Main Cast: Onew SHINee as Jinki

Support Cast: Mei, Hwan

Other Cast: Hanso, Yun, Pedagang emas, Penjual Roti, Prajurit Lum

Genre: Life, Family, Tragedy

Type/Length: One Shot

Rating: General

Summary : “Aku dipecat dari pekerjaanku hari ini”

“Itu tandanya tidak ada makanan apapun hari ini. Begitu maksudmu?”

“apapun yang terjadi aku harus memberikan roti-roti ini kepada mereka. Mei, Hwan, Hanso, aku akan segera sampai, tunggulah”

 

Note: setting waktu dan tempat di cerita ini tidak ada dalam dunia nyata, jadi anggap saja setting tempatnya adalah tempat yang imaginary. Utk nuansanya, bayangkan seperti di game-game kayak Suikoden atau RPG lainnya ^^

Ket(*) : Mendaftar sebagai author tetap

…………………………………………………………

Ia menatap apa yang ada di dalam genggamannya. Tidak, lebih tepatnya ia meratapinya. Ada lima buah koin perunggu berukuran kecil, masing-masing bernilai satu sickle.

Laki-laki muda itu menghela nafas putus asa. Apa yang bisa dibelinya dengan hanya 5 sickle? Bahkan harga sebuah roti Baguette saja mencapai 25 sickle. Ia mencoba meneruskan langkahnya, di tengah keramaian di pasar ini, merunduk dan menatap cemas koin-koin tersebut, sesekali menghela nafas.

“Aku pulang” katanya lemas sembari membuka pintu dan melangkah masuk ke sebuah rumah usang yang terlihat tersisa setengah kekokohannya.

“Selamat datang Jinki” seseorang menyahutnya, memberi sambutan atas kepulangannya.

“Mei” laki-laki bermata sipit dan berkulit putih halus yang di panggil Jinki itu tersenyum lirih pada gadis muda yang menyambutnya, yang tengah duduk di dekat sebuah perapian usang, menghangatkan diri dari sengatan musim dingin yang dahsyat sambil menari-narikan jarinya menjahit pakaian-pakaian usang.

“Kau sudah pulang. Apa yang kau bawa? Kami sangat lapar” terdengar seruan seorang anak laki-laki dari balik kain tirai usang yang adalah sebuah pembatas ruangan.

Jinki, laki-laki itu mencoba menghadapkan wajahnya ke arah suara tersebut berasal.

“Hwan…” katanya sekali lagi lemas, anak laki-laki itu, Hwan, terlihat kurus, dekil dan lemah. Bahkan saat langkah kakinya menghampiri Jinki, ia terlihat bahkan kepayahan berjalan.

“Apa ada makanan untuk kita semua? Aku lapar” katanya sekali lagi menegaskan pada kakak laki-lakinya yang hanya menatapnya lemah dan prihatin.

“Aku…. dipecat dari pekerjaanku” Jinki, laki-laki itu tertunduk, matanya hampir mengeluarkan tetesan kepedihan, kata-kata itu seolah sangat berat. Bahkan terlalu berat untuk diucapkan, dan benar saja seketika Mei dan Hwan melemparkan tatapan tak percaya padanya.

Tatapan mata itu, mungkin terasa terlalu membebani bagi Jinki, pria muda yang berhati lembut ini, terlalu menyakitkan dan menyesakkan.

“Itu tandanya tidak ada makanan apapun hari ini. Begitu maksudmu?” Mei menatap Jinki, menyelidik dan berharap jawaban yang akan diberikan kakak laki-lakinya tidak seperti yang ia duga.

Namun Jinki hanya terdiam dan kembali merundukkan kepalanya, membuat kekecewaan jelas terlukis dari wajah kedua adiknya.

Ekspresi itu sungguh terlalu menusuk bagi Jinki, wajah-wajah kecewa itu terasa mengoyak hatinya. Merasa menyesali diri tidak bisa menjadi kakak yang baik bagi adik-adiknya, itu yang saat ini menggebuk-gebuki perasaannya.

“Maafkan aku…” katanya lirih menahan cairan luapan emosi keluar dari mata indahnya yang bening. Tak ingin terlihat rapuh, karena baginya sebagai seorang kepala keluarga, terlihat lemah bukanlah hal yang pantas.

“Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Kami tidak apa-apa. Kelaparan sehari tidak akan membuat kami mati” Mei, anak kedua dari keluarga yang bijak dan tidak banyak menuntut, ia mencoba menghibur kakak laki-laki yang disayanginya agar tidak terlalu menyalahkan diri sendiri, karena dia tau, saat ini itulah yang sedang terjadi.

“Ya, kami tidak apa-apa. Hanya saja…..” Hwan memotong pembicaraan

“Hanya saja Hanso… Tidak mungkin kita membiarkan si bungsu yang baru berusia tujuh tahun itu kelaparan” sambung Hwan, membuat Jinki dan Mei menghela nafas, mengingat si bungsu yang tidak mungkin mereka telantarkan dan biarkan kelaparan.

“Kau benar” ucap Mei lemah.

“Kalian tenang saja, aku pasti bisa membawa pulang makanan untuk kita semua. Aku berjanji” Jinki berujar, mencoba menghapuskan kekhawatiran mendalam yang dialami kedua adiknya ini.

“Aku akan menjual benda itu” katanya lagi.

“Tapi….” kata Mei gundah mendengar apa yang dikatakan Jinki barusan.

“Tenang saja, Mei.. ini lebih baik daripada kalian kelaparan. Bahkan mungkin uang hasil penjualannya masih bisa digunakan untuk membeli obat untuk Hwan” Jinki mencoba tersenyum meyakinkan Mei bahwa keputusannya ini tidak disesalinya.

“Jinki… aku…..” Hwan menatap sedih kepada kakak laki-lakinya. Merasa bersalah karena dirinya ternyata menjadi salah satu beban bagi Jinki, setidaknya selama ini itu yang selalu membebani pikirannya.

“Sudahlah Mei, Hwan… Aku tetap akan menjualnya. Aku akan segera kembali sebelum Hanso terbangun” Jinki memutuskan segera beranjak, dia tidak ingin siapapun mencegah keputusannya ini, tidak Mei, tidak juga Hwan.

“Hati-hati dijalan!” teriak Mei terdengar di telinga Jinki saat ia telah melangkah keluar dari rumah kecil yang tua ini.

…………………………………………..

Jinki menatap benda itu. Sebuah kalung dengan pendant yang diatasnya terukir gambar pedang dengan lilitan ular. Hanya itu satu-satunya benda yang berharga yang ada padanya saat ini. Sebenarnya Jinki merasa sayang untuk menjual benda itu, mengingat hanya itulah satu-satunya benda yang tersisa dari orangtuanya yang telah meninggal sebagai korban perang. Namun hatinya lebih tidak tahan jika harus melihat ketiga orang adiknya kelaparan. Itu hanyalah sebuah kalung, sementara baginya, nilai ketiga adiknya tentu jauh melebihi harga sebuah kalung emas.

“Jinki, kau mau kemana?” suara seorang wanita mengalihkan pikiran Jinki yang sibuk berputar-putar sedari tadi.

Gadis itu, rupawan. Sangat rupawan.

“Yun” Jinki tersenyum lirih. Gadis itu, kehadirannya membuat Jinki merasa pahit.

Yun, anak perempuan dari pemilik peternakan di desa ini, gadis yang disukai Jinki, namun mata hazelnut nya yang indah dan senyum manisnya yang anggun harus menjadi milik orang lain. Ryu, sahabat Jinki ternyata lebih beruntung untuk bisa memiliki gadis yang sudah disukainya sejak dulu.

“Kau mau kemana? Cuaca sangat dingin, sebentar lagi mungkin akan turun salju dengan deras” kata Yun khawatir, namun Jinki yakin bahwa kekhawatiran itu adalah sebagai seorang sahabat, tidak lebih.

Jinki tidak mau berharap lebih pada gadis manis itu. Dia dan Yun berbeda. Setidaknya Jinki bersyukur karena Ryu, sahabatnya lebih pantas untuk Yun, baik dari segi ekonomi maupun paras.

“Ke kota. Membeli makanan untuk adik-adikku” Jinki mencoba menyembunyikan nada gugup dalam kata-kata nya.

“Berhati-hatilah. Sepertinya orang-orang dari kota Lum sedang membuat keributan di pasar” kata Yun mencemaskan sahabatnya ini.

“Tenang saja, aku tidak apa-apa” Jinki tersenyum singkat, namun kemudian memilih untuk segera beranjak dari tempat ini. Melihat wajah Yun masih cukup membuatnya merasa jantungnya berdegup cepat.

“Hati-hati” seru Yun sekali lagi saat sosok Jinki terlihat menjauh darinya.

…………………………………………………..

 

Menghela nafas, saat ini Jinki berdiri di depan sebuah toko perhiasan yang cukup ramai di tengah pasar kota Manna ini. Kota kecil yang terkenal sebagai kota perdagangan.

Jinki kembali dibelenggu keraguan. Haruskah dia menjualnya? Dalam hatinya ada sedikit ketidak relaan. Tapi kemudian dia teringat Hwan yang membutuhkan obat untuk tubuh lemahnya. Mei yang sudah lama tidak mempunyai pakaian baru selayaknya gadis seusianya, dan Hanso yang butuh gizi baik untuk masa pertumbuhannya. Meski merasa bimbang namun Jinki menguatkan keputusannya sekali lagi. Menghirup nafas dalam-dalam dan meneguhkan hati melangkahkan kaki masuk ke dalam toko perhiasan paling terkenal di kota Manna.

Banyak sekali orang-orang berpakaian indah di dalam sini. Di toko perhiasan Zen yang baru saja dimasuki oleh laki-laki berpakaian lusuh bermata sipit dan berkulit putih halus –Jinki-. Dia baru tau bahwa beginilah suasana sebuah toko perhiasan. Dimana orang-orang berpakaian indah sibuk memilih-milih perhiasan yang berkilauan dan bahkan lebih terlihat silau dimata Jinki, sesuatu yang diyakini tidak mampu dimilikinya. Jinki masih menatap kagum, di dalam sini ada aroma yang berbeda. Aroma kekayaan dan kemewahan, pikirnya.

“Hey, kau!! Kami tidak menerima pengemis disini!!” sontak Jinki terkaget melihat seorang pria berbadan besar tiba-tiba membentaknya, berdiri di hadapannya dan membuat perhatian seisi ruangan tertuju padanya. Dirasakannya banyak tatapan jijik menghujaminya. Dia tak heran, dengan pakaian lusuh seperti itu, tidak mungkin para bangsawan itu tidak merasa merendahkannya.

“Keluar kau dari tempat ini” pria besar yang sepertinya adalah pemilik toko itu menatapnya tajam.

“Maaf tuan tapi aku bukan pengemis” kata Jinki membela diri

“aku datang mau menjual benda ini” sambungnya lagi dengan tatapan galak. Baginya, direndahkan dan dikatai sebagai pengemis itu sungguh menyinggung harga dirinya.

Pria besar itu merenggut kalung dari tangan Jinki, memicingkan matanya dan menatap penuh selidik.

“Kau, mencuri ini dimana?” tanya pria besar itu meremehkan.

Jinki benar-benar membenci tatapan menyebalkan dari mata biru pria itu

“Tuan, aku bukan pencuri. Cepat katakan saja berapa harga jual benda ini” Jinki mendengus kesal. Benar saja, pria ini sudah terlalu menyinggung harga dirinya.

“Tidak mungkin. Orang kumuh macam kau, tidak mungkin punya benda seperti ini” pria besar itu benar-benar memancing kemarahan Jinki

“Tuan, ini benar-benar milik saya. Dan lagipula, jika pun benar saya mencurinya, bukankah tidak ada hubungannya dengan tuan? Bagaimanapun ini akan tetap menghasilkan uang untuk tuan jika dijual kembali?” Jinki meluapkan emosinya namun masih dengan nada suara yang terjaga. Dia hanya tidak ingin semakin memperburuk citra dirinya diantara tatapan cemooh para bangsawan yang ada disana.

Tertegun, tapi apa yang dikatakan Jinki benar. Benda itu bukan emas biasa, tentu saja pria berbadan besar itu tau. Hanya saja dalam pikirannya heran, darimana seorang kumuh ini bisa mendapatkan benda sebagus itu? Sebuah kalung dari emas murni yang telah diproses melalui penempaan dan peleburan teknik tinggi. Bahkan ukirannya halus, benar-benar sebuah benda yang sudah pasti hanya bisa dibeli bangsawan nomor satu.

Laki-laki itu menepis jauh-jauh kecurigaannya, meskipun dalam otaknya masih berkutat bahwa tidak mungkin namja dekil di depannya ini mampu memiliki benda sebagus itu jika tidak mencuri. Ia memikirkan satu hal, mendapatkan benda itu dengan harga luar biasa murah dan mendapatkan keuntungan dengan menjual kembali dengan harga yang berkali-kali lipat. Dia melirik sekilas Jinki yang terlihat menunggu jawaban. Pikirnya, tentu tak susah membohongi seorang rakyat kecil kumuh yang tidak tau menau mengenai emas.

“Baiklah, aku akan membelinya darimu. Dua puluh lima ribu Penny, tidak lebih” katanya kasar.

“Tuan, aku yakin harganya bisa lebih daripada itu” ucap Jinki, berharap bisa mendapatkan setidaknya dua kali lipat dari itu agar bisa membelikan obat untuk Hwan, pakaian baru untuk Mei dan makanan bergizi untuk mereka semua.

“Kau gila? Benda seperti ini? Itu sudah penawaran tertinggi” pria itu, membela diri berusaha meyakinkan bahwa dia sudah memberikan harga yang cukup adil

“Tidak, aku tau tuan, jangan kau kira aku orang suku Han dan aku orang miskin sehingga aku tak tau nilai emas. Dua Puluh Lima Ribu Penny bahkan hanya seperempat harganya tuan” Jinki menjawab dongkol.

“Apa katamu? Kau menjual barang curian padaku dan mematok harganya tinggi? Hey nak, jangan sampai matamu yang sipit itu menjadi lebih sipit lantaran aku menghajarnya hingga membengkak” berang, sang pria besar yang adalah pemilik toko itu merasa berang lantaran malu karena niatnya menipu Jinki berhasil digagalkannya.

“Coba saja, aku tidak takut tuan.” Gertak Jinki tanpa gentar membuat sang pemilik toko semakin berang.

Di hempaskannya tubuh Jinki sehingga terpental sampai hampir mendekati pintu keluar, membuat laki-laki berkulit putih itu tersungkur. Semua mata tertuju perhatiannya pada kejadian itu.

Sebuah kantong uang dilemparkan keatas tubuh Jinki yang masih tersungkur dan mencoba bangun.

“Dua puluh lima ribu Penny. Aku berbaik hati membelinya dari mu dengan harga segitu. Sekarang enyahlah kau.” Jinki merasakan sakit menghantam perutnya. Sekantong uang sejumlah dua puluh lima ribu Penny bukanlah sebuah benda yang ringan. Kantong itu menghantam perutnya membuatnya merasa sakit.

Jinki bukannya tak ingin membalas atau tak berani membalas perlakuan pria raksasa tersebut, hanya saja dia yakin disana tidak ada orang yang akan membelanya. Tidak ada keadilan bagi rakyat kecil sepertinya, itu yang selalu ada dalam pikirannya, dan memang itulah kenyataan yang ada.

Jinki memilih mendengus, lalu bangkit berdiri. Dua puluh lima ribu Penny sebenarnya sudah lebih dari cukup baginya. Setidaknya ia bisa membeli banyak roti dan obat, bahkan masih tersisa banyak untuk disimpannya atau bahkan digunakan untuk membuka usaha, pikirnya.

Memilih untuk tidak mencari masalah, Jinki beranjak dari toko itu. Digenggamnya erat kantong uang tersebut. Meskipun tidak sebanding dengan harga yang sepantasnya didapatnya, tapi sudahlah, saat ini itu tidak penting. Di dalam otaknya hanya terbayang wajah Mei, Hwan dan Hanso yang kelaparan. Toko roti, Jinki dengan cepat memikirkan tempat selanjutnya yang akan dia tuju. Jarak toko roti dan toko perhiasan tidaklah terlalu jauh, kota ini kota kecil, tidak perlu menempuh jarak yang cukup melelahkan untuk pergi dari satu tempat ke tempat lainnya.

Jinki berjalan, ia merasakan benda dingin menyentuh kulit wajahnya. Salju.. Butiran-butiran putih itu berjatuhan dari langit. Ia teringat Yun, gadis itu mengatakan akan turun salju. Ia teringat Mei, sedang menjahit sebuah pakaian dari kain bekas pemberian tetangga. Jinki menghembus nafas sejenak, di sekelilingnya ramai, banyak orang-orang melakukan aktivitas mereka. Ada sesuatu yang terasa berkecamuk di hatinya. Entah apa, yang jelas bukan sebuah perasaan yang menyenangkan. Tapi tak dihiraukannya, pikirnya itu hanya perasaannya saja, dan pikirnya pula dia hanya perlu cepat-cepat membeli roti untuk adik-adiknya dan segera pulang, menghangatkan diri di perapian rumah bersama ketiga saudara kesayangannya.

“Selamat datang” seorang wanita paruh baya berwajah ramah menyapa ketika Jinki melangkahkan kakiknya masuk ke sebuah toko roti.

Dilihatnya toko roti ini sederhana, namun aroma sedap memenuhi ruangan ini. Tidak ada roti yang lebih terasa nikmat baginya selain yang dibeli di toko roti nyonya Ran. Roti buatan wanita ramah ini seolah menyimpan rasa hangat dan bumbu kasih sayang di dalamnya. Setidaknya itu yang selalu Jinki katakan pada adik-adiknya jika memakan roti dari toko ini.

“Nyonya Ran” Jinki tersenyum tulus, sebuah senyuman yang membuat matanya tampak menghilang.

“Jinki, selamat datang” balas nyonya Ran itu padanya dengan sebuah senyum ramah pula

“Nyonya Ran, hari ini aku ingin membeli lima buah roti baguette dengan kismis” ujar Jinki sambil memebrikan beberapa dari banyak keping uang yang dia punyai sekarang

“Wah, hari ini kau mendapat rezeki lebih ya?” nyonya Ran tersenyum lagi, garis wajahnya benar-benar mencerminkan kehangatan seorang ibu. Setiap kali Jinki melihat senyum hangat dari wanita ini, Jinki selalu teringat nyonya Lee. Seseorang yang membesarkannya sejak kedua orangtuanya meninggal. Seseorang yang selalu dirindukan kehangatannya oleh Jinki. Seseorang yang telah dianggapnya orangtua sendiri. Seseorang yang telah mau merawatnya dari kecil sampai besar tanpa meminta balasan apapun. Seseorang yang rendah hati dan berhati besar.

“Begitulah.” Kata Jinki singkat

“Baguslah, aku turut senang untuk itu, nak. Ini rotimu. Kapan-kapan jika kau memang kekurangan, jangan merasa sungkan untuk datang kemari.” Nyonya Ran memang orang berhati baik, sama seperti ibu Lee yang telah Jinki anggap sebagai ibu sendiri, hanya saja Jinki tidak mau menyusahkan orang lain, dia sudah cukup dewasa untuk tidak menyusahkan orang lain pikirnya.

“terimakasih, aku pamit dulu nyonya, aku tidak ingin membiarkan Mei, Hwan dan Hanso menunggu lama” jawab Jinki

“baiklah, hati-hatilah dijalan, lihat, salju sudah semakin deras dan anginnya pun kencang.  Pastikan kau berlindung jika tiba-tiba terjadi badai. Karena ini sepertinya akan terjadi badai salju sebentar lagi” wanita itu mengkhawatirkan jinki.

“Terimakasih, aku pasti akan berhati-hati. Sampai jumpa” Jinki beranjak meninggalkan tempat itu terburu-buru. Tak sabar ingin memberikan roti-roti hangat tersebut pada ketiga adiknya, tak sabar ingin melihat raut gembira terlukis dari wajah orang-orang yang sangat disayanginya.

Benar, bahwa angin sudah bertiup cukup kencang sekarang. Salju turun dengan deras, membuat permukaan bumi tertutup oleh benda-benda putih tersebut dengan cepat. Jinki berjalan menerajang cuaca buruk tersebut. Dingin menusuk kulitnya namun ia tak begitu peduli. Dalam pikirannya adalah pulang dan secepatnya melihat senyum merekah dari wajah Mei, Hanso dan Hwan. Meski jarak dari pusat kota cukup jauh dari tempat tinggal Jinki, dia sudah terbiasa dengan itu. Angin yang menghembus kuat ke arah berlawanan, membuat langkahnya berat.

Langkah kakinya juga terhambat oleh tumpukan salju dingin yang semakin menebal. Jinki merasa kedinginan luar biasa, namun tak dihiraukannya. Tidak ada sedikitpun niat singgah atau beristirahat sejenak. Dia hanya ingin cepat pulang.

Di hari bersalju ini, jarak pandang tidak terlalu jauh. Suara yang terdengar hanyalah suara angin yang begitu kencang. Di depan sana terlihat ramai dan berisik. Apa lagi kali ini? Pikir Jinki tidak ingin terlibat dengan apapun itu yang sedang terjadi di depan sana. Dari jauh meski samar, dia bisa melihat beberapa orang dengan topi dan pakaian besi sedang mengacau. Dia teringat perkataan Yun tadi.

“Berhati-hatilah. Sepertinya orang-orang dari kota Lum sedang membuat keributan di pasar”

Dari jauh Jinki mencoba memperhatikan apa yang sedang terjadi.

Benar, para pembuat onar dari kota Lum, mengacau dan mengganggu pedagang setempat. Orang-orang itu memang terkenal bar-bar. Jinki merasa iba, ingin membela orang-orang tersebut, orang-orang yang tokonya sedang di obrak-abrik.

Tapi teringat dalam pikirannya adik-adiknya, dia kemudian mencari jalan berputar.  Bukannya tidak mempunyai hati atau rasa ingin membela sesama, tapi bagi pria muda ini, saat ini ada hal lebih penting daripada itu. Jalan yang dilaluinya ini memang memutar lebih jauh, tapi sepi. Dipikirnya jalan sepi ini akan lebih mudah dilalui dengang langkah cepat tanpa ada hambatan dari gerombolan ramai manusia yang menghadang jalan.

Jinki, lelaki muda itu mendekap erat kantong roti ke tubuhnya. Dingin, rasa dingin itu begitu menusuk. Angin bertiup semakin kencang dan menderu, butiran-butiran putih itu semakin lama semakin ramai dan permukaan bumi sekarang penuh tertutupi olehnya. Jinki menapaki permukaan putih itu perlahan. Salju terlalu tebal sehingga membuat langkahnya susah berpindah dari satu langkah ke langkah lainnya.

“Hey kau yang disana” suara itu terdengar dari arah tidak jauh di depannya. Jinki mengarahkan pandangannya, di dapatinya seorang berbaju besi dan bertopi pelindung sedang berdiri menyandar ke sebuah gubug yang kelihatannya sudah tidak dihuni siapapun.

Lelaki itu terlihat lemah, langkahnya terseok, membawa dirinya mendekat ke arah Jinki yang hanya terdiam dan mencoba memasang kewaspadaan. Laki-laki di hadapannya adalah seorang prajurti Lum, yang Jinki tau bahwa orang-orang Lum merupakan pembuat onar sejati.

“Apa yang kau mau dariku” Jinki dengan langsung mengucapkan apa yang dipikirkannya. Tubuhnya memeluk roti-roti dalam bungkusan itu semakin erat. Entah mengapa perasaan tidak tenang yang tadi tak digubrisnya tiba-tiba menggila. Ada apa? Dia bertanya dalam pikirannya.

“Berikan aku roti-roti itu” lelaki itu menatap dengan penuh ancaman. Jinki sama sekali tidak gentar, tapi entah mengapa ada desiran aneh dalam dirinya.

Seolah ada suatu kekhawatiran yang mendalam.

Matanya mencoba tidak menyiratkan hal tersebut pada pria prajurit Lum itu.

“Cepatlah! Kau orang manna, berikan padaku roti itu! Kau tak melihat kakiku terluka dan aku tak bisa membantu rekan-rekanku karena aku terlalu lemah sekarang? Aku butuh roti! Aku harus membantu rekan ku!” bentak orang Lum itu

“Tidak tuan, roti ini untuk adik-adikku” jawab Jinki tak gentar

“Cepat berikan padaku bocah!!” geram lelaki itu

Jinki tak heran, begitulah orang-orang Lum, bar-bar dan suka seenak hati.

“Aku tak akan memberikannya tuan. Terlebih kepada orang yang menghancurkan kota” Jinki tersenyum mengejek, memancing amarah sang pria yang berharap Jinki akan takut terhadap pakaian kebesaran prajurit Lum yang dikenakannya.

“Kau!!” jerit pria itu tertahan, kesal karena Jinki, lelaki yang baru beranjak dewasa ini sama sekali tidak memperlihatkan ketakutan yang sama seperti ditemui laki-laki Lum ini jika menggertak orang.

“Maaf tuan, aku terburu-buru” tanpa gentar Jinki mendorong pria itu.

Kakinya yang terluka membuatnya termundur dengan mudah.

Entah keberanian darimana, jinki berlalu dari pria itu tanpa rasa gentar. Tapi entah mengapa jantungnya berdetak kian cepat. Ini bukan rasa takut, tapi perasaan aneh yang mengatakan bahwa akan terjadi sesuatu sebentar lagi. Jinki tak ingin menghiraukan perasaan aneh itu, sampai sesuatu yang dingin dan tajam tiba-tiba terasa menghujam bagian dadanya.

“Ini balasan bagi orang yang dengan berani tidak mengindahkanku. Selamat tinggal anak muda” kata pria itu.

Jinki menatap bagian dadanya. Ada sesuatu yang menembus bagian dadanya. Sakit, apakah ini akhir dari hayatnya? Pedang itu tampak merah sekarang. Terlumuri oleh darah Jinki.

Apakah ini akhir dari nafasku? Pikir Jinki, dia merasa lemah seketika.

Namun bayangan wajah Hwan, Mei dan Hanso kembali muncul dalam benaknya. Dia teringat berjanji akan membawa pulang makanan.

Dia teringat mata Hwan yang penuh harap saat ia mengatakan pasti akan membawakan makanan untuk mereka.

Jinki tak ingin hidupnya berakhir disini, setidaknya sebelum dia memberikan roti-roti itu untuk adik-adiknya. Entah mendapat kekuatan darimana, Jinki mengarahkan sebelah kakinya ke belakang. Di ayunkannya kuat hingga laki-laki yang berbadan lebih besar sedikit darinya terpental, pedang itu terlepas dari dadanya.

Sesaat ada rasa sakit luar biasa saat besi tajam itu terlepas dari tubuhnya, namun tak dihiraukannya. Dihadapkannya tubuhnya ke arah prajurit yang kini sedang mencoba berdiri itu. Sakit, dadanya sakit dan mengeluarkan banyak darah, tapi ia tak peduli.

“Berani nya kau” Bentak pria Lum itu kini kembali mengacungkan pedangnya. Jinki menelan ludah, apakah dia mampu menghadapi pria kuat dan berpedang ini? Tapi dia harus menyampaikan roti-roti ini apapun caranya.

Pria itu, menebas liar ke udara, beberapa kali Jinki hampir terkena sayatan liar pedang itu.

Jinki memegang erat kantong roti dengan tangan kirinya dan tangan kanannya menahan darah dari dadanya, perih tapi dia harus bertahan.

Pria itu mengokohkan kuda-kudanya, berharap serangan kali ini akan telak mengenai jantung pria putih sipit di depannya dan memenangi sekantong roti yang hangat itu.

“Bersiaplah nak” dia tersenyum mengancam, namun tak menggentarkan Jinki.

Pria itu mempercepat langkahnya, mengarahkan pedangnya ke arah pria muda yang membawa roti tersebut, yakin bahwa kemenangan ada ditangannya. Namun salah, sasarannya itu merunduk, serangannya gagal. Tiba-tiba dia merasa tubuhnya ambruk. Rupanya ia lengah, Jinki dengan kuat mendobrak kakinya yang terluka dengan bahunya, membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh.

Roti-roti itu berserakan diatas salju, terlepas dari pegangan Jinki, sementara yang empunya kini sedang bergulat dengan seorang pria berbaju besi lengkap diatas permukaan putih yang dingin tersebut.

Jinki duduk diatas tubuh pria itu, namun harga diri prajuritnya yang tinggi membuatnya enggan dikalahkan. Di dorongnya tubuh Jinki yang lebih kecil darinya sehingga laki-laki sipit tersebut tergeletak diatas salju. Di raba-rabanya gagang pedang, hingga akhirnya berhasil diraihnya. Diarahkannya ujung benda perak tersebut ke dada Jinki, tepat diatas jantungnya.

“Deg deg deg” jantung Jinki berdetak terlalu cepat, apakah ini rasanya berhadapan dengan situasi di ambang maut?

Jinki, dia terlalu lemah jika dibandingkan dengan seorang prajurit terlatih seperti pria yang saat ini tersenyum licik dan mencoba menikam jantungnya.

“Bersiaplah nak” prajurit Lum itu tersenyum menang, diangkatnya tinggi pedang tersebut, bersiap menikam jantung anak muda di bawahnya dan merenggut nyawanya demi sekantong roti kismis.

Jantung Jinki semakin memberontak keras. Benarkah akhir nasibnya harus demikian? Namun entah kekuatan darimana, Jinki mengokang kakinya keatas perut prajurit itu, menendangnya kuat sehingga sekali lagi prajurit itu terpental dan terbaring. Pedang terlepas dari tangannya, dan kali ini Jinki tak ingin lagi menyia-nyiakan kesempatan. Jinki segera meraih pedang tersebut, tanpa membiarkan prajurti Lum itu sempat terbangun segera dihujamnya pedang tepat di jantung sang pria Lum itu. Pedang dari negri Lum terkenal tajam hingga mampu menembus baju besi sekalipun.

“Ka..kau” pria itu terbata. Tangannya mencoba meraih badan pedang, namun percuma. Nafasnya sudah terenggut oleh malaikat maut, karena Jinki memutar pedang tersebut dan mengoyak jantungnya dengan sempurna. Tangannya terhenti di udara sebelum sempat mengeluarkan pedang dari dadanya, dan kemudian terjatuh ke tanah, prajurit itu sudah mati.

“Hah……. hah….. hah….” nafas Jinki terdengar jelas diantara deru angin.

Bergumul dengan seorang prajurit bukannya gampang, energinya terkuras banyak.

“Argggghh” jeritnya saat rasa sakit menyerang dadanya, dia teringat, luka di dadanya. Bajunya kini basah oleh darah. Dia memegang dadanya, menekannya keras. Perih, apakah dia sanggup bertahan? Seketika ia terduduk, pandangannya semakin kabur.

Namun ujung matanya menangkap roti-roti yang berserakan diatas salju. Ia kembali teringat adik-adiknya.

“Aku… ugh…….” Jinki, lelaki muda itu meraih kantong roti dengan bersusah payah. Tubuhnya terkulai, namun dijulurkannya tangan dengan susah meraih kantong tersebut. Kulitnya yang bersentuhan langsung dengan lapisan tebal salju terasa mati.

“Ugh….”  ujung jarinya meraih kantong tersebut, dengan susah payah dia menopang tubuh dengan sebelah tangannya dan berupaya untuk bangkit.

Jinki berdiri, mengumpulkan roti-roti yang berserakan diatas salju dan menepuk-nepuknya hingga bersih lalu dimasukkannya kembali ke dalam kantong.

“Sudah tidak hangat, tapi semoga masih bisa dimakan” katanya lirih menahan pedih yang terasa menusuk.

“Hah.. hah… hah…” memeluk bungkusan roti itu erat, Jinki melangkahkan kakinya terseok, dalam otaknya adalah segera pulang dan memberikan roti pada Hanso, Hwan dan Mei.

“Argh!!” rasa sakit itu menyerang lagi, rasa pedih itu semakin menusuk dengan sempurna berkat bantuan angin kencang musim dingin dan sentuhan butiran salju yang mengenai lukanya. Darahnya terus mengucur, membuatnya semakin lemas.

Jujur saja untuk saat ini Jinki benar-benar sudah hampir tidak mampu. Darahnya sudah terlalu banyak yang terkuras dan luka yang diperolehnya bukan luka biasa. Sebuah luka yang menembus dada, hebat jika dia masih bisa bertahan hingga kini.

Pandangan matanya semakin gelap, energinya semakin menurun

“Hhh…..” desahnya menahan sakit dan dingin sekaligus.

Dalam hatinya berpikir masih berapa jauh perjalanan? Masih sanggup bertahan sampai kapan dia?

Namun dalam otaknya terus berputar kenangan masa lalu, kesadarannya menipis namun otaknya seperti mengalami visiualisasi memori masa lalu.

Dia teringat orangtuanya yang tewas terbunuh dalam perang.

Teringat nyonya Lee yang pertama memungutnya dari pemukiman tuna wisma.

“anak-anak, mulai hari ini dia adalah kakak tertua kalian” perkataan nyonya Lee waktu itu masih berbekas jelas. Terutama ingatan mengenai tiga orang anak kecil yang diketahuinya juga anak yang dibawa nyonya Lee entah dari mana untuk dirawat secara sukarela olehnya. Ketika itu tatapan mata ketiga anak itu penuh harap. Seorang diantara mereka adalah perempuan yang manis, Mei namanya.

Satunya anak laki-laki yang terlihat lemah, Hwan nama anak itu dan terakhir yang paling muda diantaranya, Hanso, anak balita laki-laki itu terlihat memiliki kharisma beda. Pikir jinki suatu saat anak itu akan menjadi orang yang hebat.

“Uhhh!!” rasa sakit menyerang lagi, darah sudah terlalu banyak mengucur hingga kering sepertinya. Namun dalam pikiran jinki masih berputar akan ingatan masa lampaunya.

Yun, pertama kali bertemu gadis itu Jinki sudah terpesona, apalagi semakin lama mengenalnya, gadis itu gadis yang luar biasa ternyata. Dan Ryu, teman baiknya, Jinki pikir mereka lebih cocok bersama. Ryu tak tau Jinki menaruh hati terhadap gadis sama yang dipujanya dan Jinki juga tak ingin dia tau, dia merasa tak ingin kehilangan seorang teman seperti Ryu.

Sambil melangkahkan kaki dengan gontai, Jinki teringat pula, Mei, gadis itu ceria dan tak pernah mengeluh. Hwan, dia pintar dan tampan, namun badannya yang lemah dan sakit-sakitan membuatnya tak bisa meraih apa yang di cita-citakannya. Lalu Hanso, yang penuh semangat dan selalu melakukan hal-hal tak terduga. Mereka semua, pasti sudah kelaparan,pikir Jinki.

“Hah…hah…hah…” Rasa dingin menusuk setiap milimeter kulit Jinki, terlebih rongga terbuka di dadanya yang terbentuk akibat pedang si prajurti Lum itu. Hawa dingin itu menambah pedih yang sudah teramat luar biasa tertahan sedari tadi. Bahkan jejak-jejak darah seolah mengiring langkah Jinki yang terlihat sama sekali susah bahkan untuk menapak satu jengkal.

Kesadarannya semakin turun, Jinki, nafasnya semakin melemah.

“apapun yang terjadi aku harus memberikan roti-roti ini kepada mereka. Mei, Hwan, Hanso, aku akan segera sampai, tunggulah” katanya lirih, namun percuma. Nafasnya semakin pelan, kesadarannya semakin hilang. Dirasakannya aliran darahnya tak terasa lagi.

Jinki, terduduk diatas lututnya.

“Hah….hah….” nafasnya semakin tercekat.

“Hwan.. Mei… Hanso, Mianhe….” lirihnya, sebelum akhirnya dirasakan detak jantungnya terhenti, pandangannya gelap dan waktu tak lagi berjalan.

Kulitnya yang putih bersatu dengan putihnya lapisan salju diatas bumi. Tubuhnya terkulai tak bernyawa. Sebungkus roti masih dipeluknya erat.

Dalam kesunyian, laki-laki muda itu tertelan oleh deruan salju yang seolah ikut menyiratkan kepedihan atas kepergian seorang muda yang rendah hati dan penuh kasih. Putih, lambang kesucian, lambang kemurnian hati. Salju mengantar nyawa nya pergi. Tubuhnya yang terbujur kaku terkubur oleh putihnya salju yang semakin lama semakin ramai menghajar permukaan bumi.

—END—

 

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
Advertisements

81 thoughts on “{FF PARTY 2011} Bread For My Family”

  1. Huaaaa…
    Thor…Daebak! Daebak!
    Terharu thor…benar2 terharu.
    Jinki nya bnr2 kakak yg brtnggung jawab
    demi roti untuk adik2nya yg padahal bkn adik kandungnya Jinki rela mati2an buat ngasih roti2 itu ke adiknya.
    Sayangnya Jinkinya blm smpet ngasih roti itu.
    Huaa…terharu.
    Keren thor..keren..
    Feelnya dapt!

  2. Keren…. Klo aku admin-nya, pasti kamu aku pilih jadi main author Ve 🙂

    Satu hal, seandainya si adik bungsu, Hanso, umurnya kamu bikin antara 2-4 tahun, efeknya bakal lebih dramatis.

    Trus Ve… ini hasil editan ya? Tokoh aslinya siapa? Bukan Jinki ‘kan? Trus ini aslinya juga bukan FF SHINee ya? Feel-nya beda. Klo tebakanku, ini FF anime ato manga apalah. Iya nggak? #sotoy

    1. jadi malu aku yen.. aku masih pemula..haha….

      um, sebenarnya ini FF memang tokoh aslinya Jinki.
      tapi nulisnya dapet ide gara-gara habis main game di playstation yen
      jadinya rada gitu feel nya.. hehehe..

      thanks ya^^

  3. Aku.. memayangkan Eragon saat baca ini. sumpah!!!! #pletakk duarrrr
    Trus.. felnya kok jadi.. kayak film kolosal yang… anhh.. entah dahh!!! daebakk~~ aku suka~~
    aku suka ceritanya… huaaa…. itu Jinkinya mati yah?? sedih~~
    semoga kepilih jadi author tetap!!! XDDD
    daebaaakk~~ XDD

    1. Soalnya aku paling sukaaaaaa bgt ama kisah2 kolosal gitu xD
      dan aku demen bgt ama game2 RPG mknya jd gitu :p

      ah gamsaeyo… jeongmal gamsa^^

  4. daebak author
    ffnya keren sumpah.. kata2nya bnr2 menyentuh. diksinya pas bgt jd bs kebyng bneran..
    kasian juga sm mereka.. aplg yg mei jht baju bekas pula.. huhu

    1. Aahh….. gomawo say xD
      aku beneren jd malu nih :p
      hehe…. trnyta diperhatiin detil ya ceritanya sng deh ^^
      Sekali lg thanks a lot 😀

    1. Uhum…. *angguk2*
      Sama kyk jinki di dunia nyata yg baik dan perhatian ama dongsaeng2 nya di shinee ^^

      Thanks for reading and giving me oxygen 🙂

  5. wew, terharu bgt.
    onew bnar2 kk yg baik tp syg endingnya knp dy hrs mati 😦
    btw aq suka FFnya, dr segi tema sm gaya bahasa unik . good job author^^

  6. Rotinya gak smpet nyampe ke tangan ade-adenya… Itu yg bikin aku ngerasa lebih teriris-iris, selain Jinki yg akhirnya harus mninggaaaal.. 😥 *lebay*

    Dari pas Jinkinya di pasar, aku udah ngerasa was-was, inget kata Yun yg tentang prajurit Lum itu. Smpet pengen brhenti baca karena gk tega, tapi penasaran, dan akhirnya aku lanjut baca, daaaan kewas-wasanku akhirnya kejadian… Dubuuuuuu~ TT_TT

    Sukses banget bikin aku nangis! Feelnya bener-bener dapet!
    Moga diterima jadi author tetap, ya…! 😀

  7. Hwaaahh sediiiihhhh :'(:'(
    Demi roti-roti buat adik-adiknya, Jinki nya wah… Dia super bertanggung jawab
    Pas baruu baca openingnya, otak aku langsung ngeset latarnya ini jaman kerajaan, terus Jinki dan adik-adiknya pake hanbok yg lusuh-lusuh gitu wakkaka-__- efek drama nih pasti
    Karya-karyanya chingu bagus-bagus bangeeet! Aku sukaaaaa! Semoga kepilih yaaa buat jadi main author! 😉

  8. keren keren keren keren keren!!!!!!!!!!!!!!
    thor keren bgt lho FFnya…kalo liat commentnya pd sedih gara2 jinkinya mati,tp kalo g mati g seru…..tp aku sedih bacanya 😦
    biasanya kalo baca ff genre sad pasti sedih karena percintaan gitu deh. bosen liatnya.dan ini nemu ff ttg tanggung jawab seorg kakak demi adek2nya…
    Last word…
    K.E.R.E.N.

    1. Hhehee iyaaa…. kl ga mati ga jd dong ceritanya :p
      hehehe thanks ya chingu dah baca,ninggalin comment. thanks juga supportnya ^^

  9. thor, biasanya aku jarang ninggalin jejak loh, cuma yang menurut aku keren aja aku komenin ehehehe #parah XD #pengakuandosa

    dan ini… sumpah ff ini daebak banget :’) ini…ini… *speechless*
    Pokoknya terus berkarya ya thor, ditunggu karya yang lainnyaaa ^^

  10. mancaaap..ini jadi kaya sastra gini..
    Hebaaat hebat!
    Kerasa feel sedihnya walau ga ampe nangis..kirain bakal nyampe rumah taunya kaga..hiks..
    ayo kita baca Yasin+Al-fatihah bersama reader untuk oppa kita yg lembut hatinya..
    *loh?

    Aku reader baru,bangapseumida y’all…
    😀

  11. Hwaaaaa yaampun ngenes banget onew disituu ;-; jinki-yaaa ;A;
    Sumpah feelnya kerasa buangeet. Aku gatau mau ngomen mulai dari mana ;-; terlalu baguss ;A;
    Itu kenapa rotinya ga sampee? Aduh ngeresep banget sumpah, mbrebes ni air mata ;-; tp ff ini nyerminin onew banget *menurutku* selama ini kan onew tanggung jawab banget sama adek2 nya (?)
    Aduh.. Keren sumpah ;,; bahasanya keren banget chingu, aku sampe berasa liat film. Istilah2 nya banyak banget, aku suka~ kereenn~~
    Aduh.. Kalo dari ceritanya nih, aku bayangin kotanya kayak di game2 yang.. Yaa kayak jaman2 gladiator gitu lah #sapatanya-_- kereen aduhh gatau gatau gemes sendiri baca ff ini ;-; daebak thor! Neomu daebak! Ditunggu karya selanjutnya~ bahasanya kereeenn (з´⌣`ε)

    1. sama say^^ aku juga melihat ondubu sebagai leader luar biasa yg bertanggung jawab n perhatian ama adik2nya ^^

      eheheehe <— pencinta kisah2 kolosal dan pencinta game XD
      gomawo chingu^^

  12. J.. j.. jinki m.. m.. meninggal?
    hiks terharu bangeettt… Jinki baik banget, bertanggung jawab sama adik2nya T_T
    bagus thor ffnya, keren bahasanya. love it ^^d

  13. ckckckck….
    huwoooo speechless saya….

    ini cerita menguras aer bak(???) eh, maksudnya aer mata…
    kesiaan ama Jinki….
    pas die ada uang malah dirampok(?)
    mati……
    lalu roti2nya….

    aaaa… T___T
    huweee…….

    daebak thor…

    ^^

    1. huwaaaaaa *ikutan nangis di pelukan Jjong* (ehh??!!)

      mwaahaahaa~~ authornya juga keren kok #plaakk <– narsis gila
      gomawo say^^
      thanks oksigennya

      *Salam istri Jjong #Blingers bawa golok XD

  14. jinkiiii… T.T
    bagus thor ff-nya.. tapi lebih bagus lagi kalo castny pake member SHINee yg lain.. biar lebih dapet feelny..
    ngomong2 ini dari novel ya?? de javu soalny =.=

    1. gomawo dah ninggalin commnt chingu^^
      Emang sengaja kok g pake member shinee….. krna ya memang cm pgn pake jinki doang :p
      oh ya?? Masa sih?ini murni hsl ideku loh…
      sbnnya yg ngasih ide tmn yg lg kuliah di kuching sih tp ceritanya aku yg kembangin

  15. kenapaaa? kenapa author?? kenapa jinki harus meninggal? hiks hiks hiks T__T

    padahal kan rotinya belum dikasih ke adik-adiknya. setidaknya kan izinkan adik-adiknya mengingat kebaikan jinki dulu. hiks hiks

    Daebak FF!

    1. aahh~~!! maaf kan saia (TT__TT)
      tapi Jinki nya harus berakting(?) sesuai script #plaakk <== apaan coba??

      gomawo, dan sorry for late reply :p

  16. Wuahh.. aku baru baca FFmu ini ^^
    Pantasan bisa menang. Kekeke.. FFnya brasa bgt. Pdahal sbnrnya intinya sedikit bgt, tp pembawaan dr kamunya itu bagus bgt. Keren keren..
    Kasih sayang Jinki..
    Huahh ke SHINee gitu juga gak ya? ^^

    1. ah, jgn begitu, aku jadi malu (x////x)
      eum, terinspirasi dari Jinki yang baik dan perhatian kok sebenarnya 😀
      thanks ya udah mampir^^
      terlebih udah ninggalin jejak 😀

  17. demi apapun thor.. nyesel banget aku telat baca ini..
    ini keren banget!!!!!!! gimana nasib ketiga anak itu???? kenapa jinki harus mati? Huaaaaaaa…..
    kerennnn!!! bener bener pantes buat jadi main author 😀 selamat ya!!!!

  18. Ini keren sekaliii
    nggak heran eonni menang, chukhahae yah ^^
    nyesel bgt telat baca ini. Bkin lagi yg genrenya ky gini dong. Aku sukaaaa

  19. baru kali ini aku beneran nangis baca ff. Ah, Jinki, you’re too kind TT #nangis di pelukan Taemin

    ah, udah baca pengumumannya. Pantes menang. Chukhae!~ *ledakkin confetti

  20. Astaga sedih banget 😦

    Ini kayak film-film china yang sedih gituu. Ya ampun aku ngga kuat apalag pas akhir-akhir Jinki berusaha berjalan padahal udah ditusuk pedang. Jinki bener-bener tulus, dia rela demi adik-adiknya bisa makan tapi akhirnya dia meninggal 😦

    AAAA speechless ;A;
    Authornya hebaaatt :”(

  21. tidakkk щ(ºДºщ) mengapa semua ini terjadi щ(ºДºщ)

    cukup dramanya. aih aku baru sempet baca, aku ga ngikutin FF Party dari awal sih ._. Jinkinya baik banget, tapi kasihan banget. inikah nasib orang-orang teraniaya? (?) Jinki gamudah ditipu, tapi mudah ditumpas, kasihan. Prajurit Lumnya juga kurang ajar, baik hati sekejap lah, kasihan saudara-saudaranya Jinki. aku emosi щ(ºДºщ)

    kayaknya commentku yang ini banyak banget щ(ºДºщ)nya, ampun ._.

    keren loh! selamat yaa jadi main author 🙂

  22. Kenapa sad ending? T^T
    Aku kira Jinki bakalan berhasil ngasi roti itu sama adik-adiknya, baru setelah itu dia mati… *heh, bukan lu yang buat ni ff*

    Tapi sumpah, ff ini keren dan menengangkan, sekaligus mengharu biru 🙂
    Tapi aku gak nangis nih, aku pantang nangis! #plakk

    Nice ff! 😀

  23. huaaaaa.. veroooooo.. gak nyangka bisa bikin ff kayak gni.. kereeeen.. beneran saya ngbayangin kota2 kayak d game.. daebak penggambarannya dan pastinya ceritanya mantep.. gak sampe nangis tp tetep mengharukan.. swt ujung2nya jinki mateeeekkk..

  24. serem banget bacanya~ mana bacanya malem malem pula ckck
    jinki nya kasian, demi beli roti aja susah banget perjuangannya, harus melawan badai..aigo~ tapi kenapa ujung2nya meninggal ya? ga relaaaaaaa

  25. Huwaaaa ngenes ;~;
    tp ff kyk gini yg sebenernya punya nilai plus lebih. Ceritanya ‘hampir’ sesuai dgn kenyataan dan menunjukkan kalo hidup itu tdk selamanya berjalan mulus sesuai keinginan.
    Well, dr cerita ini aku metik pelajaran berharga kalo kasih syg itu ada dlam diri msg2 individu.
    Good job eonni :3 ffnya berkesan!

  26. hallo author, saya mau minta ijin pake ff ini buat drama saya . .
    boleh nggak author?
    nanti saya kasih creditnya, janji 😀

  27. hallo author, saya mau minta ijin pake ff ini buat drama saya . .
    boleh nggak author?
    tapi saya edit sedikit, nanti saya cantumin creditnya, janji 😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s