{FF PARTY 2011} Lee Jinki Last Moment in His Birthday

Title : Lee Jinki Last Moment in His Birthday

Author : Hasanahtsuki

Main Cast : Lee Jinki, and a yeoja as Angel of Death

Support Cast : Lee Taemin, Choi Minho, Kim Jieun, etc

Genre : Mysteri, Fantasy, Friendship, Little Romance

Type/Length : Oneshoot

Rating : G

Keterangan : Sekdar berpastisipasi

 

9 Desember

Jinki membuka matanya cepat, mengubah posisinya menjadi terduduk. Tetesan keringat membasahi kulitnya yang putih bersih. Jinki menempalkan telapak tangannya ke keningnya. “Mimpi itu lagi.” Gumam Jinki sambil menghapus keringat di keningnya.

Sudah beberapa waktu ini ia selalu bermimpi. Dan mimpi itu selalu sama. Mimpi yang ia anggap buruk, karna belum dapat pemecahan masalah mimpi itu. Jinki membawa tubuhnya ke kamar mandi. Membuka bajunya yang telah basah oleh keringat. Sejenak Jinki terdiam, ia menatap sosoknya ke cermin kamar mandi. Wajah yang tampan, dan juga mata yang sipit menghiasi cermin kamar mandi. Jinki berkerut, ada yang lain. Bukan pada dirinya, tapi ia melihat sesosok yeoja berpakaian seperti pakaian seorang pejuang pada masa gladiator.

Yeoja itu tersenyum datar pada Jinki, “Mimpi itu lagi, Lee Jinki?” tanyanya dengan memberi penekanan pada setiap katanya. Jinki mengangguk, memperhatikan sosok yeoja itu dari pantulan cermin yang sekarang telah berdiri. Jinki membalikkan tubuhnya menatap yeoja itu.

“Kenapa kau berada disini? Kau mau melihatku mandi, ya?” goda Jinki tak membuat ekspresi yeoja itu berubah. Jinki tau, jika apa yang diucapkannya pada yeoja itu tak akan membuat ekspresi wajah yeoja itu berubah. Seakan ekspresi senyuman datar itu memang terukir permanen di paras cantiknya.

“Kau kira aku manusia sepertimu?” balas yeoja itu masih tetap dengan ekspresi permanennya.

Jinki terkekeh kecil. Yeoja ini bukannya manusia sepertinya. Namun dia adalah malaikat kematian yang akan mencabut nyawa manusia saat di perintah oleh Tuhan. Sudah 2 tahun yeoja itu selalu membayangi Jinki. Waktu yang lama bukan? Yeoja itupun berpikir demikian. Tuhan hanya menyuruhnya turun kebumi, dan membayangi Jinki.

Yeoja itu berjalan menuju pintu kamar mandi,dan menghilang seketika. Yeoja itu dapat berada dimana saja yang ia mau. Namun Jinki tidak boleh hilang dari pengawasannya. Jika itu terjadi, maka ia akan dijadikan patung yang berjejer seperti pendahulunya.

Jinki mengedipkan kedua matanya setelah yeoja itu menghilang. Jinki berjalan menuju shower dan memutarnya. “Hhhhh…” Jinki merasakan seluruh tubuhnya basah oleh air hangat yang dapat membuat pikirannya tenang.

***

Jinki berjalan menuju kantornya seperti biasa. Jinki adalah seorang jaksa muda yang lumayan terkenal. Tak hanya terkenal dengan kemahirannya menuntut terdakwa, tapi juga penampilannya yang tak terlihat seperti jaksa. Seperti biasa Jinki menggunakan jas bercorak coklatmuda  dengan kaos tak berlengan coklat tua didalamnya. Kancing jas di biarkan terbuka dan celana jeans yang ia kenakan, membuatnya terlihat seperti mahasiswa-mahasiswa muda.

Jinki masuk kedalam kantornya yang berisi 5 ruangan. Jinki berjalan menuju rungan ke-3 tempatnya biasa bekerja. Di dalam ia telah di sambut seorang asisten muda bernama Lee Taemin. Mungkin aneh jika seorang asisten adalah seorang namja. Namun itu tak dipedulikan Jinki. Ia sudah cukup nyaman bekerja sama dengan Taemin selama 3 tahun belakangan ini.

Taemin seperti biasa mengumbar senyum manisnya. Berlari kearah Jinki, lalu mengambil tas Jinki. “Hyung, hari ini kita akan mendapatkan kasus baru?” ujarnya sumringah. Karna ini kasus pertama sejak 6 perjalanan hidup mereka yang terasa bosan.

“Dari mana kau tau, Taemin?”

“Aku hanya mnguping, hyung. Tadi aku dengar ketua akan memberikanmu kasus baru.” Taemin berjalan dimana Jinki duduk. Diletakknya gelas kertas yang beruap-uap beraroma kopi.

Jinki mengacak rambut Taemin geram, “Kau ini! Sejak kapan aku mengajarkanmu untuk menguping Lee Taemin.” Jinki mengeluarkan senyum khasnya yang membuat matanya menyipit.

Taemin menjauhkan kepalanya dari tangan Jinki, dan merapikan rambutnya. “Hyung ini! Rambut tampanku jadi berantakkan kan. Huh!” gerutu Taemin sambil menatap tajam Jinki. “Aku tadi tidak sengaja menguping. Yah, karna sepertinya seru. Aku menguping deh. Hyung ini jangan menganggapku buruk seperti itulah.” Lanjutnya.

Mereka berdua tampak akrab seperti sepasang kakak-adik. Taemin sungguh menghormati Jinki karna ia telah menganggap Jinki sebagai Hyung kandungnya. Jinki adalah seseorang yang menyelamatkan hidupnya. Jinki mengulurkan tangannya untuk Taemin, saat Taemin disiksa oleh Ayah. Penyiksaan yang tak terlihat, namun bisa diungkapkan oleh kecerdasan Jinki.

Jinki menuntut Ayah Taemin dengan hukuman yang seberatnya atas kasus menyiksa, merenggut kebebasan, dan trauma. Pasal berlapis dijatuhkan hakim ke Ayah Taemin. Dan mumbuat hati Taemin sedikit bahagia. Karna akhirnya ia dapat bebas dari kejahatan Ayahnya.

“Ehem!”  sebuah deheman keras sukses memberhentikan aksi pasangan kakak-adik yang bergelut itu.

Mereka berdua menoreh ke arah seorang yeoja yang berdehem itu. Mereka mengubah posisi mereka dengan cepat, agar tidak ada kesalah pahaman antara yeoja itu dan mereka berdua. Taemin dengan cepat berdiri di samping sofa tempat mereka duduk tadi, sedangkan Jinki duduk dengan posisi kaki kanannya dipangku kaki kirinya.

Yeoja itu memutar bola matanya.ia sanagt benci jika di suruh ke sebuah ruangan yang mempertemukannya dengan Jinki. Kejadian beberapa tahun yang lalu membuatnya secara tidak langsung membenci Jinki. Yeoja itu merasa Jinki mengambil perhatian Ayahnya, dan ia merasa di buang oleh Ayahnya karna Jinki.

Yeoja itu melemparkan berkas-berkas ke meja kaca dekat sofa Jinki. “Ini dari appa!”

Jinki mengambil berkas-berkas itu, dan membacanya sekilas.”Gomawoyo, Jieun-ssi!” ucapnya sambil menyinggungkan senyumnya.

Yeoja itu mendelik kea rah Jinki, “Cih, jangan cepat kegeeran kau Lee Jinki. Kalau tidak terpaksa aku tidak akan kesini!” tukas gadis itu kasar. Yeoja itu menghentakkan kakinya kesal, lalu meninggalkan Jinki dan Taemin. Taemin membungkukkan badannya saat yeoja itu melewatinya. “Prak!” suara dari pintu yang dihempas keras oleh yeoja itu bergema di ruang Jinki yang kedap suara itu.

Taemin buru-buru berlari kecil kearah Jinki, “Kan benar yang kubilang, hyung! Kita pasti dapat kasus baru. Ini sungguh menyenangkan!” ucap Taemin sambil melihat kea rah langit, membayangkan kasus apa yang akan mereka kerjakan.

Jinki memfokuskan matanya untuk membaca setiap kata dengan teliti, mengabaikan tingkah laku Taemin yang mulai aneh. Mata Jinki membulat. “I…ini…” Jinki menjatuhkan berkas itu tidak percaya. Seperti terserang badai, mata Jinki seolah tampak kosong. Raut wajahnya sekarang sungguh tidak terlihat mengenakkan.

“Hyung?” Taemin mengibas-ngibaskan tangan kecilnya.

Jinki mengedipkan matanya cepat, menatap Taemin yang berwajah panik. Jinki mengambil berkas itu, dan membacanya perlahan. “Kita akan memecahkan kasus terakhir kita, Taemin.”

Taemin mengangkat alisnya, “Maksudmu, hyung?” namun Jinki hanya tersenyum penuh misteri.

***

11 Desember

Jinki membolak-balikkan berkas-berkasnya. Ia mulai menulis hal-hal yang penting menurutnya ke note kesayangannya. Jinki menggarukkan kepalanya, sedikit bingung. Ada hal yang janggal dari kasus ini. Bagaimana bisa, namja yang di nyatakan terdakwa bisa bebas tanpa tindakan hukum.

“Kenapa kau tidak menemui korbannya saja?” bisik seorang yeoja tepat di kuping Jinki.

Jinki tidak terkejut, tetap seperti posisinya. “Tumben sekali kau ingin membantuku?”

“Aku hanya bosan saja.”

Jinki memutarkan kursi putarnya menghadap yeoja yang berbicara padanya tadi. “Kenapa kau tidak bermain diluar sana. Melihat pemandangan seluruh kota.”

Yeoja itu menggelengkan kepalanya, “Tidak, kan sudah kubilang bosan.”

“Ok, kalau kau ingin disini membantuku. Beri aku sebuah pilihan. Menemui korbannya, atau menemui orang yang pernah bersaksi di persidangan kasus ini dulu?”

“Menurutku, lebih baik kau bertemu orang yang pernah bersaksi itu. Jika kau bertemu dengan korbannya, mungkin saja kau langsung buntu.” Tanpa terlihat berpikir, yeoja itu langsung menjawabnya.

“Hm… kau benar juga.” Jinki menganggukkan kepalanya. Yeoja itu benar. Mungkin saja korban tidak ingin bertemu dengannya karna trauma dengan kejadian itu.

Jinki beranjak dari kursi putarnya, menuju rak buku miliknya. Di telitinya buku per buku, lalu berhenti di salah satu buku berjudul ‘His Last Bow Sherlock Holmes’.  Jinki meraih buku itu, lalu berjalan menuju ranjangnya. Membaringkan tubuhnya di atas ranjang single yang empuk sambil membaca kata tiap kata dibuku itu.

“Kau sama seperti Sherlock Holmes, Lee Jinki!” ujar yeoja itu melayang-layang di langit-langit.

“Hm… sepertinya begitu.”

***

12 Desember

Jinki sudah menemui seluruh saksi di persidangan itu. Namun hasilnya nihil. Jinki mengacak rambutnya gusar. Semua saksi enggan menemuinya. Kalau adapun, mereka hanya memberikan saksi yang tak masuk di akal. Jinki tau, terdakwa pasti sudah mewanti-wanti para saksi. Tinggal satu orang lagi yang dapat ia temui. Sang korban.

Jinki beranjak dari kursinya dan mengalungkan tasnya.

“Hyung kau mau kemana?” tanya Taemin terkejut, karna baru sebentar mereka duduk di coffee shop.

Jinki menatap Taemin datar, “Korban.” Jawabnya singkat.

“Hyung, tapi kita baru sebentar beristirahat. Dan juga, mungkin sang korban sama seperti saksi-saksi pasif itu.”

“Kau mau ikut atau tidak Lee Taemin?” ancam Jinki masih dengan ekspresi tadi.

“Ah, i…iya hyung!” buru-buru Taemin menyeruput coffee lattenya dan beranjak mengikuti jejak Jinki.

***

“Apa ada Choi Minho?” tanya Jinki ramah pada seorang ajumma yang sepertinya pembantu di rumah tersebut.

“Oh, Tuan muda? Ia di dalam. Tapi anda siapa?” Ajumma itu menyipitkan matanya, merasa asing dnegan wajah Jinki dan Taemin.

“Saya jaksa dari Kejaksaan Korea Selatan. Apa saya dapat bertemu dengan Choi Minho?”

Ajumma itu tampak berpikir, “Tunggu sebentar saya tanyakan dulu.” Lalu dengan cepat berlari kedalam rumah.

Tak lama seorang namja berbadan atletis namun dengan sepasang kruk tersalip di ketiaknya. Alis tebal namja itu tampak saling bertautan, “Ada apa perlu kesini? Bukankah persidangan sialan itu telah selesai?”

Jinki menggelengkan kepalanya, “Belum sepenuhnya Choi Minho.”

“Lalu untuk apa kau kesini?”

“Aku ingin memberikan dia balasan yang setimpal dengan apa yang kau rasakan sekarang. Aku pastikan di masuk kedalam jeruji besi, namun asal kau ingin membantuku.”

“Membantumu?”

Jinki mulai tersenyum, ia yakin sebentar lagi namja di depannya akan menerima tawarannya. “Bersaksi sekali lagi.”

Minho berpikir, tampang Jinki sungguh menyakinkan. Minho mundur 2 langkah mempersilahkan Jinki dan Taemin masuk. “Masuklah.” Suruhnya lalu berjalan duluan meninggalkan Jinki dan Taemin.

Jinki dan Taemin mengikuti langkah tongkat serta kaki Minho. Dan berhenti saat Minho duduk di sofa ruang tamu rumahnya dengan perlahan. Ajumma yang tadi membuka pintu tampak berlari menuju mereka. Menawarkan mereka minum, namun Jinki dan Taemin menolaknya.

Jinki mulai memperkenalkan dirinya, dan begitu pula Taemin. Minhopun membalas perkenalan mereka dengan memperkenalkan dirinya. Setelah cukup lama mereka berincang mengenai kecelakaan yang Minho alami. Minho menghela napasnya kasar.

“Hah… bagaimanapun aku mengungkapkannya, keadilan tetap tidak berpihak padaku. Dia adalah seorang anak dari politikus terkenal di Korea Selatan. Sedangkan diriku, hanya seorang altet yang masa depannya telah suram sekarang.”

“Kau yakin dengan itu semua, Choi Minho?” Jinki mulai beraksi dengan insting introgasi dan ilmu sosialnya.

“Hm… begitulah.” Minho mengangkat bahunya tanda pasrah.

“Kau lihat namja di sampingku ini.” Jinki menunjuk Taemin. “Hidupnya hampir sama denganmu. Namun sekarang orang yang telah membuatnya merasakan kesuraman dunia telah mendapatkan hal yang setimpal.”

Taemin mendelik ke Jinki. Ia tidak menyangka, ternyata ia akan menjadi percontohan Jinki. Jinki yang mengetahui itu, hanya menatap Taemin dengan senyumnya.

“Dan aku akan membuat orang yang membuatmu seperti ini mendapatkan ganjaran yang setimpal.”

Minho menatap bola mata Jinki yang kecil lekat-lekat. Tak ada kebohongan dari ucapan dan matanya. Mata Minho yang besar mulai terlihat tenang. “Ada yang aku lupakan. Saat kejadian itu, ada seorang Photographer yang mengabadikan kejadian pada malam itu. Aku tidak ingat namanya. Namun aku ingat dengan wajahnya. Ia seorang yeoja.” aku Minho

Jinki tersentak mendengar pengakuan Minho. Ia memikirkan seseorang yang sangat ia kenal. Kim Jieun, anak Ketua Kejaksaan. Jinki meraih handphone. Kalau tidak salah ia masih menyimpan photo Jieun yang sengaja ia simpan, karna diam-diam Jieun membuatnya tertarik.

Jinki menyodorkan handphonenya ke Minho, “Apakah ini yeoja itu?”

Minho memperhatikan setiap detail wajah yang terpampang di layar handphone itu. Minho mengangguk manta. “Bagaimana kau tau?”

“Aku hanya menebak. Baiklah, sepertinya persidangan lusa. Kau mungkin dapat bernapas lega, namun juga tidak.” Ujar Jinki penuh misteri. Jinki dan Taemin menundukkan kepalanya menandakan mereka akan meninggalkan rumah itu dan sang penghuninya.

“Hyung bagaimana kau tau itu Nona Kim?” tanya Taemin masih tidak percaya. Dalam pikirannya terbayang fantasi-fantasi besar mengenai hal tadi. Mungkinkah Jinki dapat membaca pikiran orang? Atau Jinki adalah seorang paranormal?

“Jangan berpikir macam-macam Lee Taemin!” seakan dapat membaca pikiran Taemin, Jinki memperingatinya. “Mungkin Tuhan memberikan kemudahan bagiku.”

***

Jinki berdiri didepan pintu apartemen mewah di Korea Selatan. Jinki menekan bel apartemen tersebut. Tak berapa lama seorang yeoja menggunakan hoodie dan legging hitam polos berdiri dihadapan Jinki. Yeoja itu seperti sedang melakukan pemotretan, karna di lehernya terkalung kamera.

“Ada apa kau kesini?” tanya yeoja itu langsung to the point.

“Kau masih saja memotret namja bertelanjang dada seperti mereka?” Jinki menunjuka beberapa namja yang berada di dalam apartemen yang tetangkap oleh matanya.

“Apa pedulimu?”

“Tentu saja aku peduli. Aku menyukaimu Kim Jieun.” Jawab Jinki tegas namun raut wajahnya tak berubah. Tetap datar.

Jieun memutar bola matanya tak percaya. “Omong kosong. Sekarang kenapa kau kesini? Kau lihat? Aku sedang sibuk.”

“Apa kau masih menyimpan hasil photomu pada tanggal 12 Juni kemaren?” tanya Jinki langsung pada intinya. Namun pernyataannya yang pertama, memang berasal dari lubuk hatinya. Dan ia ingin sekali mengucapkan itu sebelum ia meninggalkan dunia ini.

Jieun tampak berpikir, “Sepertinya masih. Kenapa kau menanyakan itu?”

“Bolehkah aku masuk?”

Jieun menatap Jinki remeh. “Kau mau apa sebenarnya?” maki Jieun sudah tidak dapat menahan emosinya.

“Aku hanya ingin masuk Lee Jieun~~~” Jinki melemahkan intonasinya dan tatapannya mulai melembut.

“Pergi sana! Aku tidak ingin melihatmu!”

“Apa kau tega melihat seorang namja yang cacat karna rencana rivalnya, namun rivalnya bebas begitu saja?”

“Untuk apa aku peduli? Cepat kau pergi sana!”

Jinki menarik napasnya, mengatur emosinya. Ia tetap tidka akan pernah bisa berbaikkan dengan Jieun yang telah lama ia sukai itu. Ia tau Jieun membencinya karna kasih sayang Ayahnya hampir seluruhnya mengarah pada Jinki.

“Kalau kau berubah pikiran, datanglah lusa ke persidangan. Namja itu sangat membutuhkan bantuanmu Lee Jieun.” Jinki mulai memelas. Ia harus membuat Jieun itu tersentuh padanya. “Aku pamit dulu.”

Jinki mulai meninggalkan Jieun, menghilang saat berbelok ke persipangan lorong yang cukup terang itu. Jieun hanya menatapnya nanar. Entah kenapa dadanya berdetak kencang saat mendengar permintaan itu. Jieun menepuk-nepuk dadanya, “Aku ini kenapa?”tanyanya pada dirinya sendiri.

***

14 Desember

Jinki tertidur pulas tidak seperti beberapa hari yang lalu. Jinki membuka matanya yang berat dengan perlahan saat mendengar suara bising dari alarm handphonenya. Hari ini adalah hari yang bersejarah bagi. Yang hari ini adalah hari ulang tahunnya. Dan juga hari dimana ia akan memecahkan kasus yang lumayan rumit. Jinki merasa kasus itu adalah kasus terakhirnya.

Jinki melirik keseluruh sudut kamarnya. Ada yang janggal. Malaikat Kematiannya tidak menyambut bangun tidurnya seperti biasa. Jinki beranjak dari kasurnya, mungkin yeoja itu berada di kamar mandi. Jinki memutar gagang pintu kamar mandi. Namun nihil, yeoja itu tidak terlihat dimanapun.  Jinki menanggalkan pakaiannya, lalu membasuhi tubuhnya.

Sekitar 15 menit ia keluar dari kamar mandi. Mengenakan pakaian resminya ke persidangan. Mempersiapkan berkas-berkas yang akan ia gunakan nanti. Tak lupa ia mengirimi sebuah pesan kepada seseorang yang ia harapkan dapat membantunya.

To : Kim Jieun

Aku sungguh mengharapkan bantuanmu. Kalau kau bersedia, datanglah ke persidangan pagi ini. Maafkan aku juga selalu membuatmu marah. Gomawoyo Jieun-ssi.

-Lee Jinki-

Jinki dengan cepat menyambar tasnya dan berlari keluar rumah menuju tempat persidangan. Sesampainya ia disana, Taemin sudah menyambutnya dengan wajah penuh senyuman.

“Hyung semoga berhasi!” supportnya sambil menunjukkan kedua tinju kecilnya pada Jinki. Jinki hanya membalas dengan senyum.

Di dalam persidangan yang sudah berjalan cukup lama ini. Jinki geram, sang terdakwa selalu saja mengelak. Banyak alasan yang di buatnya. Jinki sadar, ia tak hanya melawan terdakwa. Namun pendampingnya juga. Seorang pengacara terkenal se-Korea Selatan. Jinki hanya berharap pada Tuhan sebuah keajaiban. Semoga Kim Jieun datang dan memberikan bukti yang kuat itu.

“Brak!!” pintu persidangan terbuka lebar, semua pasang mata tertuju pada pintu yang terbuka itu. terlihat seorang yeoja berkuncir mengenakan hoodie berlapis dan celana jeans ketat. Jinki tak menyangka, jika doanya akan terkabul.

“Tunggu sebentar Pak Hakim!” yeoja itu berlari saat menuruni tangga. Sebuah senyum terukir di wajahnya. “Aku ingin memberikan sebuah bukti pada Jaksa Lee.”

Jinki membalas senyuman yeoja itu dengan senyuman khasnya. “Bolehkah, Hakim?”

Hakim mengaggukkan kepalanya, “Silahkan!”

Jinki meraih sebuah photo dari tangan yeoja itu, dan sempat berbisik di telinga yeoja itu. “Gomawo Jieun-ssi!”

Jieun menganggukkan kepalanya,”Semoga berhasil. Aku menunggumu Jinki-ssi.” Balasnya lembut. Sepertinya Jieun mulai melunak pada Jinki. Entah angin apa yang membuatnya seperti itu.

Jinki menyeringai menatap terdakwa. Ia telah memiliki bukti kuat untuk menjatuhkan terdakwa ke dalam jeruji besi. “Para Hakim dan Juri, ada satu bukti lagi yang akan saya perlihatkan.”

Jinki berlari menuju para Hakim. Menunjukkan photo itu pada ketua Hakim. Ketua Hakim menganggukkan kepalanya, dan tampak sedang berpikir. Tak lama iapun memberikannya kepada Hakim yang lain. Setelah semua Hakim melihat photo itu, mereka mengembalikannya ke Jinki. Jinki mengambilnya dan menunjukkannya pada para juri. Seluruh juri berunding dan juga para Hakim.

“Tokk…Tokk..Tokk..” pukulan 3 kali palu terdengar menandakan putusan final para Hakim dan Juri.”Terdakwa di nyatakan bersalah. Dan akan di tuntut pasal berlapis dengan hukuman penjara selama 20 tahun dan denda 1.000.000.000 won.”

Jinki tersenyum bahagia, akhirnya keadilan berpihak pada kebenaran. Seluruh tepukkan tangan menggema di ruangan ini. Minho yang duduk di salah satu bangku di ruangan itu ikut tersenyum. Jinki menghampirinya.

“Akhirnya ia mendapatkan balasan yang setimpal Choi Minho.”

“Hah… iya. Gomapsumnida Jaksa Lee. Aku sungguh berterima kasih padamu!”

***

Jinki keluar dari ruang persidangan. Taemin tampak sudah menunggu kehadirannya. Taemin berlarimenuju Jinki sambil mengambil tas Jinki. “Hyung selamat!” ucap Taemin sambil menepuk-nepuk punggung Jinki. Jinki hanya membalasnya dengan senyuman. Jinki melirik ke arah kanan, terlihat seorang yeoja bersandar di dinding.

Jinki berjalan menghampiri yeoja itu, “Sudah menunggu lama?”

Yeoja itu mendongakkan kepalanya menatap Jinki, “Bagaimana hasil persidangannya?”

Jinki hanya tersenyum. “Huwa!!!Chukkae Jinki-ssi!” pekik yeoja itu dengan suara melengkingnya.

Jinki menyodorkan photo yang ia pinjam tadi. “Kalau tidak karna kau. Mungkin aku kalah. Gomawoyo Jieun-ssi. Apakah setelah ini kita dapat berteman?” tanya Jinki penuh harap.

Jieun menganggukan kepalanya mantap, “Tentu saja Jinki-ssi. Hahaha bukan karna aku saja. Tapi karna kecerdasanmu juga kok.”

Jinki mengacak rambut Jieun gemas. “Ne…ne… Jieun-ssi.” Jinki melirik jam tangannya, “Sepertinya aku harus buru-buru. Annyeong Jieun-ssi!” ujar Jinki sambil melambaikan tangannya.

Entah kenapa Jinki ingin sekali bertemu dengan malaikat kematiannya. Yeoja itu sudah tidak terlihat hari ini. Jinki menyipitkan matanya. Ia menemukan sosok yeoja yang ia cari. Yeoja itu menoreh kearah Jinki. Menghampiri Jinki sambil melayang.

“Sepertinya hari ini hari bahagia bagimu?” tanya yeoja itu masih dengan ekspresi  datar permanennya.

“Hm…ne!”

“Namun hari ini juga hari terakhirmu di dunia ini Lee Jinki. Kau tau itu?” tanyanya lagi. Dan kaliini Jinki menganggukkan kepalanya tau.

“Hm… sebelum nyawamu kucabut. Aku ingin mengucapkan, Selamat atas kasusmu dan juga Saengil Chukkahamnida Lee Jinki. Selamat Tinggal!” Tak lama yeoja itu menghilang menyeruakkan cahaya yang menyilaukan.

“Tiiiiit…!” suara klakson truk mengarah ke tempat Jinki berdiri. Jinki menyipitkan matanya, silau.

The End

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

58 thoughts on “{FF PARTY 2011} Lee Jinki Last Moment in His Birthday”

  1. Astaga!!!!!!
    Kenapa???? Kenapa????? KENAPA JINKI MATIIII????!!! *PLAK!
    *nyesek nyesek*
    Ah thor, jinki mati gmn nasib ayamnya? *gaknyambung*
    Ceritanya seru thor suka bgt. Tp ya itu endingnya mati. Huhuhu
    Daebak!!!!

    1. /jeder dikira bakal apa gitu lol
      hehehe beneran? padahal ini ide semalam loh #curcol
      hehehe karna itu endingnya penuh misteri*apa hubungannya coba?* lol
      gomawo udah baca ya^^

  2. great. daebak. jjang.
    keren.. authornya.. jinki jg keren. jaksa muda euy. pintar. baik.. aduuhhhh meleleh saya… tp endingnya tragis ya u.u

    1. hehehe gomawo^^
      jadi tersipu>_<
      hehehe iya, soalnya itu cocok banget buat penggambaran utk jinki yg asli(?)
      maaf bikin sedih karna endingnya~~
      padahal banyak typo loh XD
      gomawo udah baca^^

    1. hehehe yah tebak aja endingnya
      yg bikin aja gak tau kayak mana endingnya lol
      hehehe makasih pujiannya >_<
      iya, kalau beneran aku taksir deh lol
      gomawo udah baca^^

    1. hahaha iya jeng
      malaikat kematiannya emang hatus ngerilah
      kalau gak, gak malaikat kematian namanya(?)
      makasih jeng atas pujiannya dan sudah baca^^

  3. keren. aq suka endingnya! pnggambarn kecelakaannya simpel tp bagus bget! ending yg menarik. awalna aq agk ga suka awalnya. trlalu kaku. tp untng aq terusin bca. endingnya keren sih. hehehe

    1. hehehe makasih pujiannya^^
      beneran ya? wah harus belajar lagi nih 😀
      soalnya udah biasa bikin cerita kaku gitu, yah rada serius gitu kata katanya
      hehe, makasih udah baca ya^^
      aku catat deh apa kekuranganku
      makasih udah koreksi juga:D

      1. iya, endingnya bgus 🙂 mnrut q dhentikn pd saat yg tepat. jd mninggalkn sbuah kesan yg agk.. mistis (?). klo endingnya dpnjangin lg mgkn ga bgus.
        bnarkh kritik q akn dicatat? senangnya.. smg lbh baik lg ya ffnya 🙂
        oh ya, kalo blh tau klahiran thun brp ya? aq 97. takut slh pnggil sih nnti 🙂

  4. Huwaaa~~ makasih semuanya yang udah koment
    dan juda terima kasih kepada Admin SF3SI yang udah publisin
    padaha aku kira bakal di diskualifikasi, karna gak liat updaten rules utk FF Party
    Pokoknya makasih sebesar-besarnya buat keluarga SF3SI^^

    1. hehehe gomawo pujiannya^^
      gimana-gimana yah? jadi bingung O_o
      hehehe, padahal aku kira gak bagus loh~
      hehehe, nanti ya. tapi gak janji
      gomawo atas pujiannya^^

  5. Authooorrrr! Tanggung jawab!! Aku nyeseeeek baca endingnya. Truk pula lg == napa ga langsung aja si cewe nyabut pake tangannya (?) malah pake truk *reader bawel*

    aihhhhhh! Kesel deh ah si jinki mati, tp suka ffnya. Daebak thor. Huaah nyesek nyesek nyesek =o=

    1. tanggung jawab gak ya?
      hahahah maaf:D
      yah biar lebih dramatis gitu XD
      hehehe
      maaf sekali lagi maaf bikin nyesek
      makasih pujiannya, makasih juga udah baca dan koment^^

    1. maaf ya udah bikin nyesek
      tapi sekali lagi makasih
      buat pujia, udah baca dan koment
      seneng aku:D padahal ff ini gak bagus banget loh~~
      makasih^^

  6. aku jd ingat sama film death note yg ada virus2 mematikan gtu. yg L nya mati stlah nyelesain kasus virus itu. hehe…
    jinki keren bgt euy. taemin jd kehilangan “Hyung” nya dong…
    keren keren keren 🙂

    1. haaa itu ya? death note spin off judulnya kalau gak salah:D
      hahaha iya, L nya mati setelah ngantarin near ke panti asuhan
      hehehe makasih atas pujiannya^^
      hahaha iya taemin kasian
      gomawo udah baca ya

  7. wuah, Jinki nya mati pas ulang tahunnya dan pas dia memenangkan sidang itu.
    keren thor…
    sayangnya Jinki nya mati T.T
    daebak-daebak!

  8. Terakhirnya….. WAEEEEE TT_TT
    Tapitapi… Meleleh banget sama figur nya Jinki disinii. Jaksa, pintar, tampan, muda, kyakyakyaah :”
    Sekeren apaa coba dia disini kkk
    Mau nanya deh, mimpi buruk diawal-awal itutuh kenapa yah? Mimpi buruk karena udah mau dibawa sama angel of death nya? Atau mimpi berhubungan sama kasus terakhirnya?
    Ceritanya daebaaak bangeet!! Suka sukaa kk

  9. hahaha aku juga
    aku aja ngebayangin figur jinki udah deg degan gak jelas lol
    hahaha akhirnya ada yg nanyain itu juga
    itu mimpinya pokoknya karna kasusnya, dan juga mau di bawa sama angel of death itu
    jadi nyangkut, karna itu ada adegan jinki tekejut pas baca berlas berkas itu
    dan pas dia bilang “Kita akan
    memecahkan kasus terakhir kita, Taemin.”
    dia tau kalau bentar lagi dia meninggal
    yah seperti itu ceritanya
    hehehe gomawo udah baca dan pujiannya
    seneng deh^^

  10. hwaaa, aku mau punya kasus terus diurus Jinki #eh
    sejak awal aku baca, aku udah tau pasti ff ini bakalan keren banget, ternyata beneer XD #joget bareng Taem (?)
    DAEBAK!!

  11. WAAAAAW KEREEEEEN~! walaupun akhirnya jinki harus mati heheu 😦
    aku suka karakter jinki nya disini. aku bayangin jinki jadi jaksa muda pake jas coklat daleman kaos tanpa lengan oohmyyyy~ gak kuat imaaan hahaha XD
    buat authornya~ ditunggu fanfic yang keren lain yaa FIGHTING~ ^^;;

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s