Unpredictable Marriage – Part 4

Unpredictable Marriage Part 4

Author: Anissa Anggi

Genre: Romance, Friendship, Sad, Life

Main Cast: -Kim Kibum

                    -Lee Hyo Min

Other Cast: Choi Minho, Krystal, Appa& Umma Kibum, Appa&Umma Hyo Min, Dokter Lee Jinki dll (msh terus berubah)

Length: Sequel

Rating: PG-13 (turun tuh hahaha)

Disclaimer: This Story is Mine. I don’t own them(SHINee), they’re belongs to God except some imaginative characters such as Lee Hyo Min.  Please, give me some critics. AND PLEASE DON’T COPY THIS STORY WITHOUT MY PERMISSION OR WITHOUT WRITE MY NAME AS AN AUTHOR. WE HATE PLAGIARSM!

Hmm…. Baca aja deh. Jangan lupa ngasih komentar ya!! 😀 😀 (readers: tumben ye basa basinya dikit). Gue: ‘…’

-Kibum POV-

Aku berjalan mondar mandir didepan satu ruangan dirumah sakit. Melipat tangan didadaku. Pikiranku tidak lepas dari keadaan yeoja itu. Kenapa dia? Kenapa ada darah yang mengucur dari sela-sela kakinya? Jadi, selama ini dia hamil? Tapi tidak memberitahuku? Kenapa juga dia harus merahasiakan hal ini dariku? Oh My God, please keep them alive. Both of them.

Aku duduk dikursi dan menjambak rambutku keras-keras, merasa menyesal kenapa selama ini aku tidak menyadarinya? Dasar namja pabbo! Bisa-bisanya kau tidak tahu istrimu sedang mengandung? Selama ini aku bukan apa-apa, aku tidak pernah memperhatikannya, tidak pernah peduli padanya. SHIT!

Kudengar suara-suara langkah kaki mendekat, aku mengangkat kepala dan menoleh. Ternyata Umma dan Appa-ku dan kedua orang tua Hyo Min yang datang. Mereka semua terlihat khawatir dan panik. Aku bangit berdiri dan menunduk sedikit.

“Bagaimana keadaan Hyo Min?” Tanya Appa-ku pertama kali. Dia terlihat sangat khawatir, guratan-guratan di keningnya terlihat jelas.

“Aku tidak tahu, dia masih diurus didalam sejak tadi” sahutku pelan. Tidak berani menatap Appa langsung.

“Kenapa dia bisa jatuh di kamar mandi?” kini giliran Umma Hyo Min bertanya dengan suara serak. Tampaknya dia habis menangis karena matanya yang sembap.

“Aku tidak tahu, begitu aku sampai dirumah aku menemukan dia sudah dalam keadaan pingsan dilantai dan…” aku menggantungkan kalimatku. Bimbang apakah harus memberitahu mereka.

“Dan apa Kibum?” Tanya Umma-ku. Suaranya terdengar penasaran.

“Dan… ada darah yang mengucur dari sela-sela kakinya” sahutku, mencoba melirik melihat reaksi mereka. Mereka semua terkesiap kaget, terutama Appa-ku yang terlihat sangat marah mendengar ucapanku barusan.

“KAU…” sahut Appa dengan geram. Dia melangkah mendekat dan PLAK… tangan kanannya melayang ke pipiku. Aku terdiam, mengelus pipiku pelan. Aku rasa aku pantas mendapatkan ini.

Melihat kejadian itu yang lain langsung berseru tertahan. Apalagi Ahjussi, beliau berjalan ke sisi Appa-ku dan menahannya untuk melakukan hal yang lebih.

“Tenanglah, kita bisa selesaikan ini dengan baik.” Ucapnya tenang. Walaupun dia terlihat kecewa dan marah padaku, dia tidak berusaha menamparku juga.

Aku sudah mengenalnya sejak lama, bahkan sebelum aku dijodohkan dengan Hyo Min. Pembawaannya sangat tenang dan bijaksana, hampir seperti Appa-ku. Tapi Appa memang sangat keras padaku, dia sangat sering memarahiku dan menasehatiku sejak kecil. Mungkin karena sifat mereka berdua yang hampir sama mereka bisa bersahabat sejak dulu.

“Mianhae Ahjussi…. Aku sendiri tidak tahu kalau dia hamil. Sekali lagi Jeongmal Mianhae…” ujarku setulus mungkin. Mencoba menatapnya.

“MWO? Kau bahkan tidak tahu kalau istrimu hamil? Kau ini suami macam apa!” seru Appa-ku lagi, begitu juga dengan Umma-ku. Mereka membentakku dengan wajah yang marah juga kecewa. Umma-ku terlihat geram padaku.

“Tapi dia juga tidak memberitahu-ku…” sahutku membela diri. Baru saja Ahjumma angkat bicara, seseorang keluar dari ruang operasi. Kami semua langsung menoleh, ternyata Dokter Lee, dia membuka maskernya.

“Bagaimana keadaan istri saya dokter?” tanyaku langsung. Dokter Lee itu memberikan tangannya, menandakan tunggu.

“Apa dia baik-baik saja? Bagaimana keadaan janinnya?” sahut Ahjumma.

“Nyonya Hyo Min mengalami gegar otak ringan karena benturan dikepalanya. Sampai sekarang dia belum sadar, tapi bisa saya pastikan dia akan segera sadar.” Jelasnya dengan tenang. Tangannya menggenggam papan jalan dan menuliskan sesuatu disitu.

“Lalu janinnya bagaimana dok?” Tanya Appa-ku. Suaranya terdengar gelisah.

“Maaf, untuk urusan janinnya kami tidak bisa berbuat apa-apa. Karena ketika dia sampai disini janin tersebut telah tiada.” Ucapnya. Mendengar itu aku langsung tertunduk lesu. Ini semua salahku.

“Nyonya Hyo Min akan segera dipindahkan keruang rawat. Dan maaf, saya permisi dulu” sahutnya lagi lalu berjalan meninggalkan kami.

Aku melangkah masuk kedalam dan mendapati Hyo Min terbaring dikasur dengan muka pucat pasi yang terdapat balutan kain kasa dijidatnya. Beberapa suster sedang merapikan kabel-kabel dan mulai mendorong tempat tidur itu keluar ruangan. Aku mengikuti dari belakang. Dan begitu sampai diluar ruangan aku berjalan disisi tempat tidur sambil menatap wajah Hyo Min yang masih tak sadarkan diri.

….

Dikamar rawat…

Aku terus duduk disebelah kiri tempat tidur, sementara Ahjumma duduk disebelah kanan. Bahkan aku masih terus duduk disisinya ketika dia bangkit berdiri dan keluar untuk makan bersama yang lainnya.

Aku menatap wajahnya cukup lama, baru menyadari bahwa sebenarnya dia sangat cantik. Dengan bibir tipis dang hidungnya yang mancung. Sepuluh kali lebih cantik dibandingkan Nicole. Ah, kenapa aku jadi membandingkan mereka berdua… lagipula aku tidak ada hubungannya lagi dengan yeoja sialan itu.

Akhirnya aku memberanikan diri mengelus pipinya yang putih dengan perlahan. Membuat hatiku berdesir. Lalu menggengam tangannya dengan erat, mengelus sela-sela jari-jarinya yang halus. Tiba-tiba ketika kutatap wajahnya, kelopak matanya perlahan terbuka.

***

-Hyo Min POV-

Aku membuka mata perlahan, mengerjap-ngerjapkan mata mencoba beradaptasi dengan cahaya diruangan ini. Ruangan yang asing ini berwarna krem pucat, jelas-jelas bukan kamarku maupun kamar Kibum.

Aku menatap orang yang duduk disisi kiriku, ternyata Kibum. Dia balas menatapku sambil tersenyum, wajahnya terlihat lega melihat aku sadarkan diri. Dia mengelus puncak kepalaku dan bertanya “Bagaimana perasaanmu?”.

“Aneh, dan sedikit pusing” jawabku jujur. Sedikit kaget dengan sentuhannya pertama kali. Aku teringat terakhir kali aku sedang mandi dan jatuh, lalu tidak sadarkan diri. Mataku langsung menatap Kibum tajam “dimana aku?”

“Kau dirumah sakit. Kau jatuh dikamar mandi dan aku langsung membawamu sini.” Sahutnya langsung, seakan sudah mempersiapkan diri menjawab pertanyaanku.

“Kau melihatku memakai handuk?” tanyaku lagi. Dia mengangguk “tentu saja. Masa harus aku bangunkanmu dulu untuk berpakaian dan pingsan lagi?” balasnya sedikit heran.

Aku terdiam, lalu teringat dengan janin yang ada dirahimku. Reflex aku memegang perutku dengan tangan kanan “Dimana bayiku?”

Kibum langsung terdiam, cukup lama hingga akhirnya dia menghela nafas. Menatapku dalam-dalam dan berkata “Mianhae….”

Aku menatapnya dan bergetar pelan. Jadi maksudnya, aku kehilangan bayiku? Entah mengapa perasaanku menjadi sesak begini. Aku menggigit bibir bawah dengan pelan, menahan tangisku.

“Hyo Min? kau menangis?” Tanya Kibum dengan khawatir. Aku menggeleng pelan.

“Anniyo… aku memang kaget karena keguguran. Tapi aku tidak cukup sedih hingga aku harus menangis” jawabku pelan. Takut dia merasa tersinggung.

Dia terlihat sedikit kaget, “Jinjja? Kenapa kau tidak merasa sedih?” tanyanya dengan muka heran. Membuatnya terlihat lucu.

“Karena aku belum ingin hamil.” Sahutku jujur. Lebih baik jujur daripada berbohong kan?. “Kau marah….?” Tanyaku pelan.

Kibum menggeleng dan tersenyum “kenapa harus marah? Lagipula kejadian waktu itu hanya kecelakaan” jawabnya dengan tenang. Lalu melanjutkan “Mianhae aku tidak dapat menjagamu dengan baik. Seharusnya aku tahu kalau kau hamil. Aku memang namja bodoh yang tidak peduli denganmu..” sahutnya muram.

Aku menyentuh pipinya pelan, entah apa yang merasuki tubuhku hingga berani melakukan hal itu. “Kau tidak bodoh Kibum.. justru aku yang terlalu ceroboh hingga tidak bisa menjaga diri sendiri.” Sahutku sambil tersenyum.

Kibum menyentuh tanganku yang masih mengelus pipinya, lalu mengangguk. “Gomawo…”

Sesaat kami terdiam canggung. Bingung harus melakukan apa. Tiba-tiba dia menguap cukup lebar membuatku menahan tawa.

“Kau mengantuk?” tanyaku geli. Dia menggeleng. “Aku akan tidur bila kau sudah tidur.” Jawabnya.

“Yaa… aku kan baru bangun. Mana mungkin langsung tidur?” balasku sedikit berbohong. Mungkin karena efek obat bius yang tadi diberikan aku masih sedikit mengantuk.

“Jinjja? Bukannya ada obat bius tadi ketika kau dioperasi?” tanyanya heran. Membuatku tak dapat menahan tawa lagi.

“Ne.. aku memang mengantuk” jawabku akhirnya.

Kibum tersenyum, “Tidur lah. Istirahat.” Aku mengangguk, dan berusaha memejamkan mata. Sampai akhirya aku tertidur dengan tangan masih digenggaman KIbum…

***

-Author POV-

Semenjak kejadian itu Kibum dan Hyo Min semakin akrab. Apalagi ketika pembicaraan mereka berdua waktu itu didengar oleh kedua orangtua mereka dari pintu luar. Membuat mereka setuju bahwa tidak perlu lagi memarahi Kibum.

Kibum merawat Hyo Min dengan sabar dan perhatian. Dia cuti selama Hyo Min masih ada dirumah sakit. Kibum selalu menyempatkan diri untuk menyuapi Hyo Min makan, walaupun Hyo Min sudah menolaknya. Setiap namja itu keluar untuk makan siang dan kembali, pasti dia membawa makanan kesukaan Hyo Min dalam jumlah banyak.

Empat hari Hyo Min dirawat dirumah sakit hingga benar-benar sembuh dan akhirnya bisa pulang kerumah. Hari ini dia diizinkan pulang. Kibum merapikan semua barang bawaan yang masih berantakan sendirian, lalu memasukkannya kedalam tas. Namja itu terlihat cukup sibuk hinggga Hyo Min sempat beberapa kali menawarkan diri memberikan bantuan, yang langsung ditolak Kibum dengan lembut.

“Ani, kau duduk saja disitu sampai semuanya selesai” ucapnya ketika melihat Hyo Min turun dari tempat tidur. Mendengar itu Hyo Min langsung cemberut, namun dia tetap menuruti perintah Kibum.

“Aku kan sudah sembuh. Aku bisa beraktifitas lagi seperti biasa.” Gumam Hyo Min sebal.

Kibum langsung bangkit berdiri dan menutup kopernya. “Kau dengar tidak apa yang dikatakan dokter tadi? Kau tidak boleh terlalu lelah. Kesehatanmu sudah membaik, namun belum pulih. Jadi, turuti saja apa kataku. Arraso?” ujarnya.

Hyo Min memutar bola matanya “Ne.. arraso.” Sahutnya pendek.

Kibum menarik koper dan menuntunnya hingga dekat pintu. Lalu kembali ke sisi Hyo Min. Dia mengulurkan tangannya kearah Hyo Min “Ayo kita pulang sekarang.”

Hyo Min menatap Kibum sebentar, lalu menerima uluran tangan namja itu. Hyo Min turun dari tempat tidur dengan perlahan. Kibum lalu merangkul yeoja itu, menuntunnya berjalan. Meski Hyo Min sudah bisa berjalan sendiri tanpa sempoyongan, entah mengapa Kibum tetap melakukan hal itu.

Mereka berjalan perlahan kearah pintu. Lalu Kibum melepas pelukannya, membuka pintu dan menuntun kopernya. Tangannya beralih lagi meraih tangan Hyo Min. Membuat yeoja itu berdegup kencang.

“Aku bisa berjalan sendiri Kibum-ssi” ucap Hyo Min. Namja itu menggeleng. “Aku akan tetap menggenggam tanganmu. Kau keberatan?” tanyanya.

Kini Kibum menatap Hyo Min dari dekat, membuat yeoja itu malu. Dia menundukkan kepalanya lalu menggeleng “Anniyo..”. entah kenapa belakangan ini yeoja itu justru bahagia bila Kibum memperlakukannya dengan manis. Seperti menggenggam tangannya, merangkulnya, bahkan kini Kibum tak segan memeluk Hyo Min secara spontan.

Akhirnya mereka pulang keapartement. Kibum menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi, sambil sesekali menatap yeoja yang duduk disampingnya yang sedang asik memandangi jalanan.

“Kibum-ssi….” Panggilnya.

Kibum melirik sebentar kemudian berkonsentrasi kembali pada jalanan didepannya. “Ne..?”

“Aku ingin sekali pergi ke pantai.” Sahut Hyo Min mengakui. Kini dia menatap Kibum dengan tatapan memohon. “bisakah kita pergi kesana sekarang?” tanyanya lagi.

Kibum terdiam sebentar, lalu menggeleng. “Ani. Kita akan pergi ke pantai. Tapi tidak sekarang.”

“Wae?” Tanya  Hyo Min langsung. Wajahnya terlihat kecewa.

“Hari ini kau masih harus istirahat dirumah. Hari sabtu baru kita pergi ke pantai”.

Hyo Min langsung cemberut, tapi dia tidak bisa protes apa-apa lagi. Yeoja itu hanya bisa terdiam sambil memandang keluar.

***

-Hyo Min POV-

Sesampainya dirumah aku langsung merapikan bajuku sendiri dikamar. Awalnya Kibum yang akan merapikan bajuku, tapi setelah berdebat kecil dengannya aku bisa mengurusnya sendiri. Belakangan ini Kibum menjadi sangat perhatian denganku, yang membuat hatiku berdebar-debar.

Apalagi kini dia sering menatapku cukup lama, dengan tatapan khasnya. Membuatku harus menunduk malu. Teringat olehku ketika hampir jatuh karena berjalan sempoyongan, dia reflex menarik memelukku, hembusan nafasnya terasa hangat menampar kecil wajahku.

Tak lama kemudian aku keluar dari kamar, menatap jam yang ternyata sudah hamper jam makan siang. Kulihat dia sedang duduk menatap laptopnya. Melihat aku keluar dari kamar, dia menoleh dan tersenyum.

“Aku kan buatkan makanan” sahutku. Berjalan pelan kearah dapur. Kibum langsung berdiri dan menahanku.

“YA! Sudah kubilang kau jangan ngapa-ngapain dulu. Duduklah dan akan kubuatkan makanan.”  Kibum menatapku tajam.

“Tapikan aku Cuma….” Dia langsung memotong kalimatku.

“Duduk. Dan turuti saja kalimatku.” Sahutnya tegas. Mau tidak mau aku hanya bisa duduk menuruti katanya. Mengamati apa yang dia lakukan. Ternyata dia membuat Jajangmyeon.

“sejak kapan kau bisa masak?” tanyaku penasaran. Selama ini dia tidak pernah terlihat masak didepanku.

Dia menoleh sebentar lalu kembali konsentrasi. “Sejak dulu. Kenapa?”

“Aku tidak pernah melihatmu memasak sebelumnya.” Ungkapku jujur. Dia hanya tertawa kecil.

“aku hanya memasak disaat aku ingin memasak. Atau dalam keadaan darurat seperti ini” Mwo? Jadi dia mengira ini keadaan darurat? Bukannya dia yang memaksa agar aku diam saja? Aish. Dasar namja aneh.

Dua puluh menit kemudian makanan sudah siap tersaji diatas meja. Menimbulkan aroma yang khas, membuatku ingin segera melahapnya. Dia duduk disebelahku dan mengambilkan piring. Lalu memberikannya padaku.

“Gomawo…” ucapku tulus. Lalu memulai makan.

Kibum memandangiku dengan tatapan yang sulit ditebak. Lalu dia menanyakan sesuatu. “Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?” tanyanya memulai percakapan.

Aku menggangguk “Kau ingin bertanya apa?”

“Kenapa selama kau dirumah sakit aku tidak pernah melihat Minho datang menjengukmu? Yang kulihat hanya Krystal dan beberapa temanmu yang lain.”

Aku terdiam, Minho? Siapa itu? Namanya cukup asing. “Minho? Siapa dia?” balasku bertanya. Kulihat Kibum terperangah kaget. Lalu mukanya langsung berkerut tanda heran dan kebingungan.

“Kau yakin tidak kenal Choi Minho?” tanyanya memastikan. Aku mengangguk.

“Namanya asing. Aku belum pernah mendengarnya. Siapa itu?”. Choi Minho? Aku sama sekali belum pernah mendengar namanya, tapi kenapa Kibum menanyakan tentang orang itu?

“Ahh.. ani. Dia hanya temanmu. Kurasa kau lupa tentangnya.” Sahutnya pelan. Nadanya terdengar tidak yakin.

“Ohh. Kok aku bisa lupa tentang orang itu ya? Kau bisa menceritakan tentangnya sedikit padaku? Mungkin aku bisa mengingatnya.”

Kibum langsung menggeleng cepat-cepat. “Tidak perlu. Dia hanya seseorang dimasa lalumu. Nanti kau bisa mengingatnya sendiri.”

Aneh, biasanya Kibum selalu memberikan apa yang kau pinta. Tapi kenapa kali ini dia menolaknya? Dan kenapa kalimatnya terdengar seperti menutupi sesuatu?

***

-Kibum POV-

Hyo Min lupa tentang Minho? Aneh. Bukankah mereka berpacaran? Seharusnya bila mereka berpacaran dia punya berbagai kenangan indah tentang namja itu. Tapi mengapa dia lupa bahkan tidak mengenal nama Choi Minho?

Begitu aku menanyakan tentang Minho sekali lagi dia malah mengatakan namanya asing. Jelas ada yang tidak beres. Apa ini dampak dari gegar otak ringan yang dialaminya?

“Hyo Min, kau makan dulu disini. Aku perlu ke kamar sebentar” sahutku sambil berdiri. Dia hanya mengangguk dan melanjutkan makannya.

Aku masuk kekamar dan menutup pintu. Lalu mengambil handphone, mencoba menghubungi Dokter Lee Jinki.(aha. Dubu Onyu jadi dokter-_-)

Tidak berapa lama kemudian telepon diangkat “Annyeong Kibum… ada yang bisa kubantu?” sapanya dengan ramah.

“Annyeong Dokter Lee, hm begini aku ingin bertanya tentang suatu hal. Ehm, mengenai Hyo Min.”

“Ne. apa itu?” balasnya dengan sabar.

“Apa ada efek dari gegar otak ringan yang dialaminya? Karena ternyata ada suatu hal yang dilupakannya.” Jelasku tenang.

“Oh yaa. Aku lupa memberitahu padamu tentang itu. Mianhae. Memang ada beberapa hal yang mungkin dilupakannya. Tapi biasanya tidak permanen, dan bisa kembali diingatnya bila terus dibantu dengan sesuatu yang berhubungan dengan apa yang dilupakannya.”

“Hmm, begitu. Lalu apa dia bisa mengingat sesuatu hal yang sebenarnya sangat penting dalam hidupnya?”

“Sebenarnya mungkin saja. Tapi lebih kecil kemungkinannya ia lupa tentang hal penting dalam hidupnya. Dan bila ia lupa, biasanya dia akan mengingatnya sendiri.”

“apakah hilang ingatannya itu akan berlangsung lama?” tanyaku lagi. Dalam hati aku berdoa agar jawabannya iya.

“Tidak juga… memangnya kenapa?” mendengar itu hatiku langsung mencelos. Kecewa.

“Anniyo. Baiklah terima kasih atas kesempatannya Dokter Lee. Annyeong…”

“Annyeong tuan Kibum.” Sahutnya menutup pembicaraannya.

Kalau begitu dia tidak akan lama lupa tentang namja itu. Tapi kan namja itu merupakan hal penting dalam hidupnya. Mengapa dia bisa melupakannya? Apa mereka sudah berpisah? Hm, mungkin saja. Aku harus membuatnya tidak mengingat namja itu.

Aku rasa aku sudah mulai jatuh cinta padanya. Hmm, aku akan membuatnya benar-benar lupa pada namja itu. Ya.

***

-Author POV-

Kibum keluar kamar dan berjalan lagi kearah ruang tv. Mendapati Hyo Min sedang duduk bersenderan di sofa, menonton tv. Yeoja itu menoleh dan tersenyum kearah Kibum. Kibum duduk disamping Hyo Min dan mengelus rambut yeoja itu. Membuat hati Hyo Min kembali berdebar kencang.

“Kau sudah selesai makan rupanya…” ucap namja itu.

Hyo Min mengangguk. “Bisakah aku besok mulai masuk ke kampus? Aku sudah ketinggalan banyak pelajaran.” Yeoja itu menatap Kibum dengan tatapan puppy eyesnya, terlihat sangat memohon.

Kibum mengangguk, “Tentu saja. Mulai besok aku akan mengantarmu ke kampus.” Sahutnya.

“Sampai seterusnya?” Tanya Hyo Min memastikan. Dia menoleh menatap Kibum dari dekat.

“Ne. kau keberatan?” Hyo Min menggeleng, lalu tersenyum. Melihat itu Kibum langsung deg-degan, apalagi dalam posisi sedekat ini.

***

-Kibum POV-

Hyo Min tersenyum kearahku. Sangat manis. Aku rasa aku benar-benar sudah jatuh cinta padanya. Aku mendekatkan mukaku kearahnya,bisa kulihat semburat merah muda dipipinya karena menahan malu.

Dan…..

-TO BE CONTINUED-

Mianhae, lanjutannya terlalu lama. Jeongmal mianhae *bow-with-2min*. jangan lupa komentarnya yaaaa dibutuhkan dengan sangat untuk memperbaiki kesalahanku di ff ini. 😀 kalo mau tau kelanjutan ceritanya lebih dulu…. Ea mention aja ke twitter aku @anissanggi (promosi dikit). gomawo! *bow-again-with-2min*

Xoxo, A!

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
Advertisements

160 thoughts on “Unpredictable Marriage – Part 4”

  1. kibum udh mulai jatuh cinta ma hyomin ceileh..
    Yg jdi dokternya onew oppa hyaaaa…
    *hebohsendri
    seru seru seru

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s