Seven Last Days – Part 1

Title : Seven Last Days (part 1)

Author : Choi Min Young

Main Cast : Choi Minho, Cha Hyun Mi

Length : Sequel

Genre : Romance, Sad

Rating : PG 15

Annyeong! ^-^

Choi Minyoung imnida! Ini FF keduaku setelah My Little Bride #masih ingatkah?#. Haha, masih dengan main cast si Minho oppa, tapi FF ini ceritanya agak beda sama My Little Bride. Jadi Minho aku bikin sakit-sakitan disini. Huhu… aku juga ngga tega! Tapi.. overall aku harap semua menyukai FF ini kayak My Little Bride dulu.

Happy reading! ^-^v

……………………………………………………………………………………………………………………………………….

12 Februari 2011

Tanganku bergemetar hebat membaca selembar kertas yang ada didepanku. Kenapa? Kenapa hal ini bisa terjadi padaku? Apa Tuhan begitu membenciku? Atau ini hukuman atas dosa yang pernah kuperbuat selama ini?

Choi Minho, kanker otak stadium akhir, diperkirakan umurnya sekitar satu minggu lagi. ARKKKKKHHHH! Ini tidak adil! Aku tidak mau mati secepat itu. Aku tidak mau meninggalkan Ummaku sendiri dan meninggalkan Hyun Mi yang sangat mencintaiku. Apa yang bisa kulakukan di sana saat Ummaku kesulitan? Apa yang bisa kulakukan jika Hyun Mi menangis merindukanku? Apa aku sanggup melihat dua orang yang sangat kucintai, menderita karenaku?

“Minho? Kau sudah pulang?” tanya Umma lembut saat aku pulang dari rumah sakit. Aku menatap Ummaku sejenak, satu minggu lagi aku tidak akan dapat melihat senyumnya. Umma… jeongmal mianhae.

“Minho, gwaenchanayo?”

Aku tersenyum lebar padanya. “Gwaenchana,” jawabku berbohong. Aku tidak sanggup mengatakannya. Tapi aku juga tidak mau meninggalkannya tiba-tiba.

“Ya sudah, mungkin kau lelah. Tidurlah sana,” suruhnya dan aku hanya mematuhinya. Umma, aku sangat menyayangimu.

Aku memasuki kamarku yang penuh kenangan ini dengan bendungan air mata yang kutahan. Kamar ini menyimpan banyak memori tentang aku, Umma dan Appa. Appa telah meninggalkan aku dan Umma lebih dulu. Keluargaku begitu hangat saat Appa masih hidup. Aku tidak bisa membayangkan jika Umma… Umma…

“ARRRRRKKGGH!” teriakku marah. Aku menjambak rambutku. Aku memang sudah putus asa. Kenapa harus ada penyakit sialan itu di otakku ini? Kenapa? Apa aku sudah tidak pantas hidup lagi?

Kemudian kedua mataku menemukan foto Hyun Mi dan aku yang terpampang di meja samping tempat tidurku. Aku memperhatikan foto itu. Menyelami setiap titik kenangan saat aku belum lama berpacaran dengannya. Tentunya sebelum kanker ini ada. Saat aku masih sangat bahagia, memiliki seorang yeojachingu sebaik dia.

Hyun Mi, aku sangat merindukanmu…

Tiba-tiba aku menemukan sebuah ide. Aku pun menulis sesuatu di buku jurnalku. Tentang hal-hal terakhir, yang bisa kulakukan di akhir hidupku. Aku tidak pernah menyangka akan melakukan hal semacam ini. Buku jurnal hadiah ulang tahun dari Hyun Mi, ia ingin aku menulis semua yang kualami di buku bersampul merah marun itu. Tapi dulu aku meremehkannya, bahkan halaman depannya masih bersih. Aku memang tidak suka menulis. Dan sekarang aku melakukannya di saat umurku sangat pendek?

1.  Bersama Hyun Mi setiap hari

Apa aku bisa melakukannya? Menghabiskan waktu lebih banyak dengannya. Apa aku harus pindah ke sekolah yang sama dengan Hyun Mi?

13 Februari 2011

Aku memasuki sekolah Hyun Mi dengan Yamaha YZF R1 biruku yang biasa kupakai. Sontak semua yeoja yang lewat melihatku. Mereka seperti berusaha menarik perhatianku dan tersenyum dengan teman disisinya. Aku hanya melempar sebuah senyum tipis pada mereka yang melambaikan tangan padaku. Hatiku, hanya untuk Hyun Mi sekarang dan sampai akhir hidupku.

Aku pun memarkirkan motorku ke tempat parkir belakang sekolah. Saat ku lepas helm, tiba-tiba aku merasa pusing. Aku memegang kepalaku dan memejamkan mata. Tidak Minho, jangan sekarang. Akhirnya beberapa detik kemudian rasa sakit itu hilang. Untunglah… Terima kasih Tuhan, Kau masih memberiku kesempatan.

Sekarang aku berjalan ke kelas Hyun Mi. Ya, Pamanku yang telah mengurus kepindahanku dan menempatkanku di kelas yang sama dengan yeojachinguku. Aku tersenyum sendiri saat mengingat dulu Hyun Mi begitu menginginkanku datang ke sekolahnya. Dasar yeoja, kenapa mereka selalu ingin memamerkan namjachingunya?

“AAAAAAAAAAHH! Kenapa namja itu begitu tampan?”

“Tapi siapa dia? Apa kakak kelas?”

“Sepertinya aku tidak pernah melihatnya?”

“Aku ingin menjadi yeojachingunya!”

Teriakan-teriakan semacam itulah yang terdengar begitu aku masuk ke kelas Hyun Mi. Aku pun mencari-cari dimana Hyun Mi. Oh, dia disana. Aku melihatnya sedang terpaku menatapku. Aku tahu pasti ia sangat terkejut. Cha Hyun Mi, wajahmu terlihat bodoh kalau begitu.

Akhirnya aku berjalan mendekatinya. Tentu, semua yeoja bertanya-tanya. Mereka tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya saat aku berdiri di depan Hyun Mi.

“Oppa…” ucap Hyun Mi lemah.

Aku tersenyum dan memegang kedua pipinya. “Choahae? Aku sekarang akan satu kelas denganmu.”

Wajah Hyun Mi langsung berubah senang. “Jeongmal?”

Aku mengangguk sambil tersenyum. Tapi hanya satu minggu, Hyun Mi… Maafkan aku, aku juga sangat ingin menemanimu lebih lama. Tapi aku… tidak bisa berbuat apa-apa.

“Oppa apa kau bisa mengerjakannya? Aku sudah mencoba berkali-kali tapi tetap tidak bisa,” kata Hyun Mi sambil menunjukkan bukunya.

“Mwo? Soal semudah ini kau tidak bisa?” ledekku.

“Aissh… ajari saja aku! Jangan meledekku!” jawabnya setengah kesal.

“Haha… keurae,” aku pun menjelaskan semuanya ke Hyun Mi.Tapi Hyun Mi memang cukup lemah pemahamannya. Ini sangat menyenangkan, belajar dengan yeojaku sendiri di sekolah.

“Kenapa kau tiba-tiba pindah ke sekolahku?” tanya Hyun Mi saat kami menghabiskan waktu istirahat bersama.

“Ani… aku hanya menginginkannya saja,” jawabku berbohong. Tentu karena aku ingin terus bersamamu sebelum aku benar-benar tidak bisa melihatmu, chagi.

Hyun Mi tersenyum. Senyum yang sepertinya menggambarkan kalau ia sangat bahagia sekarang. “Pulang sekolah kita pergi yuk!”

“Ayo oppa!” Hyun Mi menggandengku mendekat ke sungai Han.

“Kenapa kau ingin kesini? Aku pikir kau akan mengajakku ke mall?”

“Anio, aku ingin merasakan seolah hanya ada kita berdua di dunia ini,” jawab Hyun Mi membuat hatiku miris. Kenapa kau mengatakan hal itu Hyun Mi? Bagaimana jika nanti aku meninggalkanmu? Apakah kau akan sendirian?

“Oppa, kimchi!”

Aku yang tidak siap hanya berpose sekedarnya saat Hyun Mi memotretku. Kelak suatu saat kau akan terus melihat foto ini, chagi.

“Oppa, tersenyumlah!” serunya dan aku hanya menurutinya. Aku akan membuat foto sebanyak-banyaknya, agar Hyun Mi bisa melihatnya saat ia merindukanku.

“Minho oppa, saranghae!” ucapnya ceria. Lalu ia berdiri di sampingku dan mengangkat kameranya. “Kimchi!” Jpret, satu lagi kenangan yang akan selalu kau ingat tentangku, Hyun Mi.

“Oppa, apa kau lapar?” tanya Hyun Mi. Sepertinya ia sudah mulai bosan memotret.

“Nan paegopayo…” jawabku dengan ekspresi yang lucu sambil memegangi perutku.

“Aissh… being cute is a crime!” serunya.

“Selama kita pacaran belum pernah kan kita makan di tempat seperti ini?” kata Hyun Mi dengan mulut penuh dengan sate ikan.

“Ahh… pedas sekali,” ucapku sambil menjulurkan lidah. “Lagi-lagi kau mengajakku ke tempat yang tidak pernah kita kunjungi berdua. Apa ini bagian dari rencanamu?” tanyaku penuh selidik.

“Hahaha… ternyata kau sudah mencurigainya! Keurae, aku memang selalu memimpikannya. Aku ingin kita berdua berkencan di sungai Han, kedai makan di pinggir jalan, menikmati sakura di musim semi, melihat matahari terbenam dari atas atap apartement, berfoto bersama…”

“Kau menginginkannya?” potongku.

Kedua mata Hyun Mi menatapku lekat, aku balas menetapnya hangat. “Kalau aku bilang iya, apa kau akan mengabulkannya?”

“Keurom, aku mau menghabiskan banyak waktuku denganmu.”

“Maksud oppa?”

Gawat, kata-kataku membuatnya curiga. “Maksudku, aku ingin selalu bersamamu, chagi…” jawabku akhirnya sambil memegang dagunya.

“Oppa! Aku kira kau akan pergi jauh!” serunya kesal.

“Hahahaha…” tawaku palsu. Maafkan aku Hyun Mi, aku tidak bisa mengatakannya sekarang.

Setelah mengantar Hyun Mi, aku langsung pulang ke rumah. Saat masuk ke rumah, aku melihat Ummaku tengah menungguku. Dengan senyumnya yang lembut seperti biasanya, ia menyambutku. “Kau akan makan malam di rumah kan?”

Seliter air mata seperti menggenang di pelupuk mataku. Makan malam di rumah adalah sebuah hal yang sangat jarang aku lakukan. Aku selalu sibuk sekolah, latihan basket, ataupun makan di luar dengan Hyun Mi. Tapi… yang kutahu Umma tidak pernah marah apalagi bosan mengajakku untuk makan malam di rumah.

“Umma…” aku memeluk Ummaku erat. Aku tak kuasa lagi menahan air mata ini. Umma terlalu baik untukku. “Umma… jeongmal mianhae…” ucapku tersedu-sedu.

“Minho, gwaencahanayo?” tanya Umma khawatir.

Aku pun melepas pelukanku dan menghapus air mataku. “Aissh, kenapa aku menangis segala sih? Hehe… aku hanya merindukanmu Umma.”

“Kau ini, Umma pikir kau putus dengan Hyun Mi. Keurae, ayo kita makan,” ajak Umma dan aku mengangguk.

“Apa kau masih menyukai makanan-makanan ini, Minho?”

Aku melihat semua makanan yang ada di meja dengan miris. Selama ini bahkan aku tidak peduli Umma makan apa dan dengan siapa. Apa aku sangat jahat menjadi seorang anak? Kenapa Tuhan baru menyadarkanku di saat aku hanya punya sedikit kesempatan untuk membahagiakan Umma?

“Kau tidak suka ya?”

“Oh, anio. Jeongmal choahae. Ini semua kan makanan favoritku Umma.”

“Syukurlah… cha, mokho!” Umma member nasi di piringku. Kehangatan seperti ini sudah lama sekali tidak kurasakan. Appa, jika kau masih disini… Aku sangat ingin Appa menggantikanku menjaga Umma saat aku pergi nanti. Appa… maafkan aku.

14 Februari 2011

Aku masih bingung, apakah aku akan merayakan hari kasih sayang? Memang ini akan menjadi yang terakhir untukku. Tapi bagiku, merayakannya itu… begitu membosankan dan kacangan.

Tiiin… tiin!

Suara apa itu? Aku langsung melongok dari jendela kamarku. Mataku terbelalak saat melihat Hyun Mi melambaikan tangannya padaku. Bukan karena ada Hyun Mi, tapi karena ia menaiki sebuah scooter. Apa yang ada dipikirannya sekarang? Jangan bilang…

“Naik, oppa!” katanya saat aku menghampirinya.

“Mwo? Maksudmu kita…”

“Kuerom, karena ini hari kasih sayang dan aku ingin merayakannya bersamamu. Aku bosan dibonceng dengan motormu itu. Kali ini, aku yang akan mengantarmu kemanapun kau pergi!” jelasnya senang.

“Tapi…”

“Oppa, chepal… lakukan untukku ya…” mohonyya dengan wajah memelas kucing.

“Aissh… ne!” jawabku akhirnya.

“Ini helmnya.”

“Mwo? Couple juga?”

“Keurom…”

Aku memperhatikan helm itu. Aissh… ini akan menjadi sebuah hari paling memalukan untukmu, Minho! “Chankam…”

“Mwoya?”

“Tapi kau bisa mengendarainya kan?” tanyaku memastikan.

“Keurom!” serunya dan langsung melesatkan scooternya menuju sekolah.

Valentine day, mungkin hari ini akan menjadi hari yang paling membahagiakan untukku dan Hyun Mi. Karena aku tidak bisa lagi berharap akan ada sebuah hari yang paling membahagiakan dari hari ini.

Hyun Mi dan aku bersekolah bersama, belajar bersama, bahkan kami memiliki waktu bersama lebih lama dari dulu. Kami meghabiskan waktu di museum Teddy Bear, melihat boneka-boneka Teddy yang dibuat dengan konsep yang sama dengan hari ini. Awalnya aku memang tidak peduli dengan apa itu hari kasih sayang, tapi karena Hyun Mi… anggapanku berubah.

“Oppa… saat kau terlahir di dunia ini, apa saja yang kau lakukan ketika aku belum ada di dunia? Apa kau menungguku?” tanya Hyun Mi membuatku setengah tertawa.

“Mwo? Apa maksdumu? Aku kan sama sekali tidak mengenalmu.”

“Apa sama sekali tidak terlintas dalam pikiranmu? Aku pernah dengar cerita, saat kita terlahir di dunia ini, konon di dalam jantung kita sudah terukir nama seseorang yang akan menjadi jodoh kita. Dan dalam otak kitapun sudah terekam wajah orang itu, walau masih jauh terpendam. Apa oppa tidak merasakannya?”

“Apa kau menungguku selama 15 tahun?” tanyaku.

Hyun Mi menolehkan kepalanya padaku, seolah ia terkejut dengan pertanyaannku. “Ne, aku menunggumu selama itu oppa. Aku tidak pernah tahu rasanya mencintai dan dicintai sebelum kau ada.”

“Kalau suatu saat aku menghilang seperti angin, apa yang akan kau lakukan?” tanyaku menatap kedua matanya yang indah itu.

Hyun Mi tidak langsung menjawabnya. Ia terus menatap kedua mataku dengan tatapannya yang menghangatkan hatiku. “Kalau itu benar terjadi, maka aku akan menghirupmu tanpa kulepaskan kembali. Walau aku akan mati sekalipun, tetap tidak akan kulepaskan.”

Mataku terbelalak seketika. Kenapa jawabannya begitu? Kenapa ia tidak merelakanku? Apa Hyun Mi begitu mencintaiku hingga ia rela mati untukku? “Jangan lakukan itu Hyun Mi…”

“Mwo?”

“Chepal, kalau aku akan menjadi angin, maka biarkanlah aku melewatimu. Aku berjanji aku akan selalu berhembus disekelilingmu. Aku akan terus bersamamu walau kau tidak menyadarinya. Percayalah…”

Hyun Mi tersenyum simpul, kemudian ia merebahkan kepalanya di punddakku. “Saranghae yeongwonhi oppa…”

“Na ddo…”

15 Februari 2011

Aku membuka buku harianku lagi sebelum aku memejamkan mataku. Hatiku terasa miris saat membaca sebuah kalimat.

2  Membuat Umma bahagia

Apa aku bisa melakukannya? Entahlah, kau harus melakukan yang terbaik Choi Minho…

Aku bangun lebih awal dari hari biasanya pagi ini. Aku ingin membuat kejutan untuk Umma dengan membuatkannya sarapan.

Ah, apa yang bisa kumasak? Aku pun membuka pintu kulkas dan…

For my beloved son… Choi Minho

Happy val’s day!

Umma^^

Apa ini? Coklat putih? Apa Umma yang membuatkannya untukku? Tiba-tiba semua kenangan masa kecilku berkumpul di otakku. Aku seperti diadili dengan macam-macam kenangan yang membuatku lemah.

Aku merindukan Umma, Appa… semuanya saat keluargaku masih utuh. Aku ingat dulu Umma sering membuatkanku coklat putih, kue dan susu coklat. Karena aku susah makan, Umma juga sering membuatkanku bekal makan dengan bentuk-bentuk yang lucu. Saat aku kelas 5 SD, aku selalu bertengkar dengan teman-temanku karena aku diejek tidak memiliki mobil mainan seperti mereka, karena waktu itu keluargaku masih sangat miskin. Tapi walaupun begitu, Umma selalu membelaku dan tidak pernah memarahiku. Sampai suatu saat beliau membelikanku sebuah mobil mainan yang bahkan lebih hebat dari teman-temanku. Hingga suatu hari aku tahu mobil mainan itu didapat dengan kerja yang sangat keras dari Umma dan Appa.

Lalu Appa pernah bilang kalau aku anak yang paling hebat saat aku lulus sekolah SD dengan nilai terbaik. Appa sangat bangga padaku. Hari itu adalah hari paling membahagiakan untukku karena aku bisa membuat kedua orang tuaku bangga.

Tapi sayang, selisih 3 bulan setelah peristiwa menyenangkan itu, Appaku meninggal karena kecelakaan. Tentu aku dan Umma sangat sedih dan terpukul. Kami tidak punya lagi seorang pelidung dalam keluarga kami. Kami berdua harus berjuang keras untuk dapat hidup.

“Minho? Kau sudah bangun?” tanya Umma yang tiba-tiba datang dan mengejutkanku.

Dengan cepat aku menyeka air mataku dan melihatnya sambil tersenyum. “Kebetulan aku ingin bangun pagi, Umma.”

“Apa kau ingin membantuku memasak?”

“Keurom…”

“Baiklah…”

Lalu Umma memberiku berbagai sayuran yang harus kupotong-potong. Sesekali aku melirik Umma. Apa kau akan sanggup meninggalkan Ummamu, Minho?

“Kira-kira apa yang harus kulakukan untuk membahagiakan Umma?” tanyaku pada Hyun Mi.

“Mm… memang Ummamu suka apa?”

“Molla. Aku sangat buta tentang Umma. Aku memang anak yang bodoh,” sesalku.

“Mm… kalau menurutku, semua Umma senang jika melihat anaknya bahagia. Karena bagi mereka, tidak ada yang lebih membahagiakan lagi selain kebahagiaan anaknya…”

Omo, ada apa denganku? Kenapa kepalaku terasa sangat pusing? Jangan, aku mohon jangan kambuh sekarang.

“Arayo oppa, kau mungkin tidak perlu melakukan apapun. Karena dengan kebaha…”

Choi Minho POV’s END

AUTHOR POV’s

“Arayo oppa, kau mungkin tidak perlu melakukan apapun. Karena dengan kebaha…” Hyun Mi tidak melanjutkan kata-katanya lagi. Ia merasakan kepala Minho tiba-tiba tersandar di pundaknya. Dan saat ia melihat ke wajah namjanya itu, ternyata Minho sudah memejamkan matanya.

“M… Minho oppa?” panggilnya lemah. Ia takut sekali, wajahnya pucat. “Oppa?” panggilnya lagi sambil memegang wajah Minho.

“Oppa jangan bercanda. Oppa, oppa!” ia terus memanggil Minho, namun sama sekali tidak ada tanggapan. Perasaan Hyun Mi mulai kacau. Apa yang ia curigai diam-diam selama ini menjadi kenyataan? Apa perasaannya yang mengatakan kalau ada yang tidak beres tentang Minho itu benar?

“Oppa jawab aku!!!” air mata Hyun Mi mulai membentuk aliran sungai kecil di  pipinya. Sungguh, ia tidak mau kehilangan Minho secepat ini…

Author POV’s END

To be Continued…

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

52 thoughts on “Seven Last Days – Part 1”

  1. aisssssh…..
    kenapa tbc juga ??
    aku bacanya nyesek. minho ampe segitunya, sambil denger quasimodo pula .. pas bgt lagi, lagu abis, bacanya juga abis … -_-“”
    ayooo lanjutannya !!! ^^
    minho jebal jangan pergi ..

  2. aaaaaaaaaaaaaaaaaaa aku suka ff nya keren aaaaaaaaaaaaaaaaa minhooooooooo jangan pergiiiiiiiiii jjjeeeeeeebbbbbbbbbbbaaaaaaaaalllllllllllllllll……….
    (gaje ya) hehhehehehe

  3. Ehm sedih cerita’a chingu..

    Yang jelas kaget pas baca klo hidup’a Minho cuma atu minggu lagi..T.T

    kira2 itu Minho udh meninggal apa blom ya? #plettak *d’jitak Minho Penasaran jd’a..d’tunggu lanjutan’a..

  4. menangis sesenggukan…
    minhonya jangan dibikin mati dong thor….
    *suap author pake tiket kekorea pp 8D/7N* #Abaikan
    lanjut ya thor…
    manteph…

  5. Minho kanker otak?! Omo!!! Waktunya tinggal seminggu lg, itu kasian banget Hyun Mi! minho jgn mati dulu! bikin minho sembuh thor, jangan bikin sad ending thor! 😦 *maksa* next partnya jgn lama2 ya thor

  6. aduh sungguh saya jadi benci banget sama kata-kata “to be continued”
    lagi seru banget soalnyaaaa.
    ditunggu next partnya. semangat menulis 🙂

  7. Aaaa deg-degan sendiri bacanyaaa T_T
    Huu sediiihhhh
    Tapi kenapa Minho nya cuma terpaku dari vonis dokternya ya? Eheh ini cuma pemikiranku aja siih kk
    Lanjut baca part 2 nyaa~ hihihi

  8. ““Kalau suatu saat aku menghilang seperti angin, apa yang akan kau lakukan?” tanyaku menatap kedua matanya yang indah itu.”
    Baca kalimat ini aku lsg berkaca2. Aigo.. Seulpeun iyagi. T__T

    ““Chepal, kalau aku akan menjadi angin, maka biarkanlah aku melewatimu. Aku berjanji aku akan selalu berhembus disekelilingmu. Aku akan terus bersamamu walau kau tidak menyadarinya. Percayalah…””
    Keinget Windstruck. T_T

    Aku suka diksimu. Keep up the good work. d(^o^)

  9. kya… baru part pertama aja udah dapet banget feel-nya,,,, kerena eonni…. aku aja ampe nangis nangis nangis bacanya *nangisnya ampe tiga kali loh eonn…:(*… sumpah keren bgt lah…

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s