{PROLOGUE} The Rings

The Rings

Author            : Ima Shineewolrd (@ima_jonghyunnie)

Cast     : Park Sun Yeon, Ahn Yun Hee, Lee Jinki (Onew), Kim Kibum (Key), Lee Taemin

Genre  : Fantasy, Mystery (?), Angst, Romance, Friendship

Rating : PG-15

Length            : On Writing

[The Rings Prologue]

Dunia Tyres dan Dunia Swyden. Hitam dan Putih. Kedua dunia yang sangat berbeda tapi mempunyai satu misi yang sama. Menyelamatkan dunia mereka dari kehancuran. Hanya sebuah cincin yang bisa menyelamatkan kedua dunia itu. Namun mereka harus saling berlomba untuk memiliki cincin itu. Dan yang terkuatlah yang akan mendapatkannya.

Pemimpin Dunia Tyres kini tengah mengadakan pertemuan besar dengan seluruh penghuni dunianya. Meja hexagon besar dan berbentuk undakan itu dipenuhi ketegangan karena perbedaan pendapat. Suasana kelam menyelimuti pertemuan dunia hitam itu. Hingga pada akhirnya sang pemimpin mengetukkan palu hitamnya, menandakan bahwa pertemuan telah berakhir dan menghasilkan satu keputusan.

“Apapun yang terjadi, kita harus mendapatkan cincin itu. Kita tidak bisa mengalah pada Dunia Swyden –yang juga mengincar cincinnya,” sang pemimpin berjubah hitam itu melemparkan tatapannya pada seorang laki-laki muda yang duduk di barisan terbawah meja.

“Kau,” serunya seraya menunjuk laki-laki muda itu, “Temukan cincin itu,”

Laki-laki berambut hitam legam itu menoleh pada barisan teratas meja, menatap sang pemimpin yang masih menatapnya. Ia mengendikkan bahu acuh lalu berdiri dari kursinya.

“Dia berada di Bumi. Dunia itu yang menjadi tempat tinggal terakhir salah satu nenek moyang pemilik cincin berharga itu. Kau bersaing dengan utusan dunia Swyden untuk mendapatkannya,”

“Siapa pemegang cincin itu sekarang ?”

“Kau harus mencarinya sendiri. Ada beberapa orang yang mempunyai kemungkinan menjadi pemilik cincin itu karena informasinya di block, dan kita tidak bisa menyelidiki kehidupannya,”

“Aku tidak harus menjelma jadi manusia bukan ?”

“Terserah kau saja. Kau bisa berubah menjadi manusia dan kembali menjadi semula sesuka hatimu,”

“Tentu saja. Dengan senang hati, tuan,”

Laki-laki itu menyeringai pelan lalu menghilang, meninggalkan sedikit asap berwarna hitam. Sang pemimpin itu tersenyum, melihat salah satu anak didiknya memiliki kemampuan diluar rata-rata dari para penghuni dunia Tyres lainnya.

***

Suara bel berdentang dengan keras menggema ke seluruh penjuru sekolah pagi itu. Menandakan bahwa kegiatan sekolah baru saja dimulai. Seluruh murid pun berhamburan memasuki kelas dan mulai mengeluarkan buku-buku pelajaran. Namun tidak dengan seorang wanita yang tengah tertidur di barisan paling belakang sebuah kelas. Sebuah headset menyumbat kedua telinganya dan tidurnya pun tidak terganggu sedikit pun oleh suara bel maupun suara ribut-ribut teman sekelasnya.

“Park Sun Yeon,”

Seorang laki-laki tampak gusar mencoba membangunkan gadis yang duduk di belakangnya itu. Suara derap langkah kaki guru sudah semakin mendekat ke kelasnya. Dengan menahan napasnya, ia mencabut sebelah headset yang menyumbat salah satu telinga gadis itu. Ia bangkit dari duduknya lalu sedikit membungkuk, berbisik pada telinga gadis berambut sebahu itu dengan sangat lembut.

“Mmm,” gadis itu hanya menggumam pelan dan mengibaskan tangannya, mencoba mengusir suara-suara aneh yang masuk ke dalam telinganya.

“Sun Yeon-ah !!”

Gadis bernama Sun Yeon itu terkesiap. Ia mengangkat kepalanya dan menatap sinis pada laki-laki yang duduk di depannya. Laki-laki berambut pirang itu malah terkekeh pelan kemudian berbalik ke depan. Menghadap meja guru yang ternyata sudah diduduki seorang laki-laki paruh baya. Sun Yeon mengusap wajahnya lalu mematikan lagu yang masih berputar di dalam ponselnya.

Tidak ada ucapan protes yang keluar dari mulutnya, bahkan ketika laki-laki itu meneriaki telinganya. Ia memang lebih memilih diam dan tidak mencari keributan dengan orang lain. Lebih baik ia ‘dijahili’ seperti tadi, daripada harus bertengkar.

“Sun Yeon-ah, kau tidak tidur lagi semalam, eh ?” tanya laki-laki berambut pirang itu lagi padanya.

“Diam kau, Lee Taemin,” jawab Sun Yeon sinis. Laki-laki itu mendengus lalu mengerucutkan bibirnya sebelum kembali menghadap ke depan.

Tatapan gadis itu tertuju pada laki-laki paruh baya berambut hampir botak yang tengah mengajar di kelasnya. Pelajaran paling membosankan menurutnya. Ia lebih memilih mencorat-coret di dalam buku, menuangkan seluruh gambaran yang ada di dalam otaknya pada selembar kertas. Membuat kelanjutan cerita dari gambar yang juga dibuatnya semalam.

Bel berakhirnya dua mata pelajaran pun berbunyi tepat ketika gambar yang dibuat Sun Yeon selesai. Ia tersenyum puas lalu menutup buku itu dan memasukkannya ke dalam tas. Karena terlalu sibuk menggambar, waktu selama 4 jam pun tidak terasa. Baru saja ia akan melangkah keluar dari meja, Taemin sudah lebih dulu mencegahnya. Laki-laki itu tersenyum lebar, memamerkan deretan giginya –yang entah kenapa sangat Sun Yeon benci.

“Jangan sok ramah, Taemin-ssi. Minggir, aku mau keluar,”

Taemin menggeleng pelan dan segera menggamit lengan Sun Yeon. Gadis itu memberontak, tapi sepertinya percuma saja karena tenaga Taemin jauh lebih kuat. Dan dengan terpaksa ia pun mengikuti langkah Taemin.

Tatapan seluruh para murid di kantin tertuju pada Sun Yeon dan Taemin sekarang. Jalan bersama laki-laki terpopuler satu sekolah. Taemin yang terkenal tampan sekaligus lucu itu tengah menggamit lengan seorang wanita. Sun Yeon hanya berharap semoga ketika pulang nanti, para fans Taemin tidak membunuhnya. Dan kenapa juga Taemin menggamit lengannya seperti itu ?

“Lee Taemin, lepaskan tanganmu sekarang,” seru Sun Yeon bahkan setelah keduanya berdiri di dekat meja tempat disajikannya makan siang, “Taemin-ssi !”

Teriakan Sun Yeon itu sontak membuat Taemin terkesiap. Laki-laki itu merengut lalu mulai melepaskan tangan Sun Yeon. Tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi Sun Yeon segera beranjak dari sana. Meninggalkan Taemin yang masih terdiam dan sedikit kaget dengan teriakannya. Laki-laki berumur 18 tahun yang sikapnya masih sangat kekanak-kanakkan dan keras kepala.

***

Hujan turun tepat setelah pelajaran di sekolah itu berakhir. Sun Yeon menggerutu dalam hati saat menyadari lupa membawa payung. Jarak sekolah dan asramanya memang tidak terlalu jauh, tapi tetap saja ia akan basah kuyup ketika sampai di asrama nanti. Sedangkan seragam yang melekat di tubuhnya saat itu akan dipakai lagi besok. Ia terpaksa berteduh di halte bis sementara untuk menunggu hujan berhenti dan juga menghindari Taemin. Jika ia menunggu di sekolah, Taemin pasti sudah memaksanya pulang.

Tiba-tiba saja pandangannya mengabur. Tubuhnya sedikit terpelanting ke kaca pembatas halte bis ketika rasa pusing secara tiba-tiba juga menerjang kepalanya. Sun Yeon mengerjapkan matanya sejenak, hingga seluruh kesadarannya kembali terkumpul. Ia menatap ke sekeliling dan sedikit terkejut melihat seorang laki-laki yang sudah duduk di bangku halte itu. Beberapa menit yang lalu bahkan ia masih berdiri sendirian disana.

“Uhm, hello,” laki-laki itu tersenyum dan melambai singkat pada Sun Yeon.

Gadis itu hanya sedikit membungkuk dan kembali memandang ke jalanan di depannya, sesekali ia menggosok-gosokkan tangan karena udara yang semakin dingin. Sebenarnya ia merasa risih ketika laki-laki itu memandanginya terus. Tanpa melihat pun, ia bisa merasakannya. Sangat mengerikan.

“Uhm. Apa kau tahu dimana asrama Yeongdae ?” tanya laki-laki itu. Sun Yeon hanya melirik sekilas dan tidak menjawab pertanyaan laki-laki bermata sipit dan bergigi kelinci itu..

“Nona, aku bertanya padamu. Kau tahu dimana asrama Yeongdae ? Aku murid baru dan tidak tahu dimana letak asramanya,” tanyanya lagi.

Tatapan Sun Yeon tertuju pada payung yang ada di genggaman tangan kiri laki-laki itu. Ia berpikir sejenak lalu sedikit mendongak, menatap kedua mata laki-laki itu kemudian tersenyum simpul.

“Aku juga akan pulang ke asrama. Kita bisa pulang bersama,” jawabnya.

Dan pada akhirnya Sun Yeon bersama-sama dengan laki-laki itu untuk pulang ke asrama. Berdua dalam satu payung besar berwarna hitam. Gadis itu terpaksa harus membuang seluruh kebenciannya pada laki-laki sejenak hanya untuk sampai ke asrama dan seragamnya tidak basah.

Pintu gerbang setinggi 6 meter itupun menjadi pintu utama gedung asrama Yeongdae. Asrama milik sekolah dengan nama yang sama, tempatnya menuntut ilmu sampai sekarang. Sejak masuk SMA Yeongdae, ia tinggal di dalam asrama. Sekolah memang menuntut para siswanya untuk tinggal di asrama agar tidak pernah datang telat ke sekolah.

“Kamsahamnida,” Sun Yeon membungkuk singkat ketika keduanya telah sampai di sebuah persimpangan koridor.

“Sama-sama. Uhm, Onew,” sahut laki-laki itu seraya menyodorkan tangannya. Sun Yeon mengernyit heran, ia membalas uluran tangan itu dengan sangat singkat.

“Park Sun Yeon,” balasnya. Ia tersenyum simpul lalu belok ke kanan koridor, tempat dimana asrama wanita berada. Sedangkan laki-laki bernama Onew itu belok ke kiri koridor, gedung asrama laki-laki.

***

Terpaan angin malam di atas gedung asrama itu tidak membuat seorang laki-laki ingin beranjak dari sana. Tatapannya lurus ke depan, kedua tangan di samping pahanya terkepal dengan kuat, dan sepasang bola mata yang berwarna coklat itu hanya menatap kosong bagian atas gedung yang sudah sedikit berlumut itu. Sebuah senyuman muncul di bibirnya ketika melihat sebuah asap hitam, disusul munculnya tubuh seseorang.

Laki-laki itu beranjak menghampiri seorang laki-laki lainnya yang baru saja muncul itu. Keduanya saling berhadapan dan melemparkan tatapan tajam.

“Jadi, dunia Tyres mengirimmu ?” tanya laki-laki bermata coklat teduh itu.

“Menurutmu ? Kita akan bersaing untuk mendapatkan cincin itu, Onew-ssi,”

“Well, tidak ada pilihan lain. Kau harus berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan cincinnya, Kibum-ssi,”

Laki-laki bernama Kibum itu menyeringai pelan. Rambutnya yang berwarna hitam legam dan berbentuk miring itu diterpa angin sedikit terbang, memperlihatkan kedua matanya yang selalu menatap tajam. Onew tertawa pelan saat melihat tatapan laki-laki itu.

“Tatapan yang tidak pernah berubah,” gumamnya. Kibum ikut tertawa akan hal itu, ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan lalu dengan cepat menghilang dan sepersekian detik kemudian muncul kembali di hadapan Onew dengan jarak yang cukup dekat.

“Kau yang harus berjuang dengan sekuat tenaga. Kekuatanku setingkat lebih kuat diatasmu –arrrgh,” Kibum mengerang pelan ketika merasa pusing yang amat sangat secara tiba-tiba. Ia memegangi kepala belakangnya lalu menatap Onew yang tengah tersenyum puas.

“Semoga kau bisa menghindar dari seranganku nanti, Kibum-ssi,” balas Onew lalu berlalu dari sana. Meninggalkan Kibum yang masih mencoba mengembalikan seluruh kesadarannya. Well, Onew boleh berbangga hati karena bisa menyerang saraf-saraf otak dan pikirannya. Tapi ia setingkat lebih kuat dan mempunyai kekuatan yang jauh lebih bahaya dari itu.

“Old brother,” gumam Kibum setelah melihat Onew menghilang dibalik pintu atap gedung. Ia menyeringai lalu menghilang di telan kegelapan malam.

[The Rings Prologue End]

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

67 thoughts on “{PROLOGUE} The Rings”

  1. persaingan antara Onew Vs Key!!
    yeye! Tapi klo gak salah aku pernah baca diFF indo. Tapi blom komen. Mian eon!!
    jadi aku komen disini aja ok!!
    ayo! Jangan lama2. Gak sabar nih!! Pasti seru bnget!!

  2. Keereeennn!!!! Onew keerreennn!!!! Kibum kau jg kereeennn!!!!
    Seru nih seru… suka banget sama ff yang sifatnya khayal-khayal gini…
    Ditunggu cerita utamanya…
    Author, jangan lama-lama ya.. ^.~

    Hwaiting…!!!!

  3. Wah…seru nih
    Old brother? Onew sama key saudraan?
    Hem..kayaknya bkal ada cinta segiempat nih. *readersoktahu
    aku ngeliat postetnya kyk gitujdi aku pikir gitu. Hehee
    Daebak thor. Di tnggu part pertamnya^^

  4. Omooo~ jarang nemu fantasy kaya gini! ahh, i like this! kalo Sun Yeon gak mau sama Taem, sama aku aja oppa *dibakar Taemints* ah, saya hanya becanda. saya masih berstatus istrinya Onppa *dibunuh MVP* lanjut thor! Cepetan yaa!

    1. yaa kalo sunyeon gamau, taeminnya dilempar ke author lah /PLAK
      becanda, masih setia kok ama jjong oppa /PLAK
      oke abaikan

      intinya, makasih udah mau komen sama suka ff ini 😀
      gomawoyo ^^

  5. Annyeong. Widya imnida. Reader baru yg suka bgt sma FF fantasii
    Cerita’a bkin penasaran. Kya’a aq udh tw siapa yg pnya cicin’a deh 😀
    Oke aq tunggu kelanjutan’a. Fighting ^^

  6. Thor ,,, prolognya aj dah seru ,, part 1 harus seru jg ,,,
    onew keren banget di situ,,,
    di tunggu y part 1 nya

  7. wow……
    Keren banget thor. Old brother maksudnya sebenernya key sama onew itu kaka ade? Ko bisa beda dunia ya?
    Umm….ga sabar buat baca part 1 😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s