Seven Last Days – Part 2

Title : Seven Last Days (part 2)

Author : Choi Min Young

Main Cast : Choi Minho, Cha Hyun Mi

Length : Sequel

Genre : Romance, Sad

Rating : PG 15

“Oppa jawab aku!!!” air mata Hyun Mi mulai membentuk aliran sungai kecil di  pipinya. Sungguh, ia tidak mau kehilangan Minho secepat ini…

Cha Hyun Mi POV’s

Aku masih menunggu Minho membuka matanya. Peristiwa sore tadi benar-benar mengejutkanku. Untunglah, dokter bilang kalau Minho hanya kecapekan. Ia tidak memiliki penyakit parah apapun.

Aku menggenggam tangannya sambil tersenyum. “Oppa, kau tidak boleh meninggalkanku. Kau pernah berjanjikan akan menjagaku sampai aku mati?” ucapku sambil terkekeh kecil.

Cha Hyun Mi POV’s END

Choi Minho POV

Perlahan aku membuka kedua mataku. Ah, kenapa rasanya berat sekali? Apa yang terjadi padaku?

“Oppa, kau bangun?”

Samar-samar aku mendegar suara Hyun Mi di sekelilingku. Apa aku bersama Hyun Mi? Tapi kenapa… astaga, aku pingsan tadi. Ottohke? Apa Hyun Mi sudah tahu semuanya?

Saat kedua mataku sudah terbuka lebar, orang yang pertama kali kulihat adalah Hyun Mi yang tersenyum ramah padaku. “Hyun Mi-ya…”

“Wae? Kenapa kau menyembunyikan ini dariku?”

Apa? Apa maksudnya? Jadi ia benar-benar sudah tahu?

“Hahaha… kenapa wajahmu panik begitu?” Tiba-tiba ia tertawa lepas. Aku menghela nafas lega. Rupanya dokter menyembunyikan penyakitku darinya. “Apa saja sih yang oppa lakukan sampai kelelahan begini?” lanjutnya.

“Ania… aku kan bersamamu terus sepanjang hari,” jawabku seperti menyusun sebuah skenario dadakan.

“Araseo… Sebenarnya aku juga tidak memaksakan oppa harus bersamaku terus kok. Aku kan tidak menyewamu dari Eommamu. Aku hanya yeojachingumu. Aku tidak berhak menuntutmu agar terus bersamaku 24 jam. Tenanglah oppa, kita tidak akan berpisah secepat ini kok.”

Tapi aku tidak Hyun Mi. Aku sangat takut dengan perpisahan itu. Aku takut nanti disana aku akan kesepian dan tidak bisa melihatmu lagi. Aku bahkan takut aku akan lupa denganmu. Aku takut… meninggalkanmu.

“Oppa, apa yang kau pikirkan?” tanya Hyun Mi membuyarkan lamunanku. Aku segera tersenyum padanya.

“Kokchongma… aku akan selalu bersamamu, Hyun Mi-ya…”

Hyun Mi hanya tersenyum. Aku tidak tahu, mungkin Tuhan memiliki rencana yang lebih baik. Tapi bagiku, yang terpenting sekarang adalah Eomma dan Hyun Mi.

“Annyeong oppa!” pamit Hyun Mi saat mengantarku pulang.

Aku tersenyum lebar sambil melambaikan tangan padanya. Lalu aku menunggu sampai scooternya tidak terlihat lagi di belokan jalan.

Aku berjalan pelan menuju pintu rumahku. Saat kubuka, yang pertama kali kulihat adalah dua buah koper besar di ruang tamu. Ada apa ini? Siapa yang akan pergi? Eomma?

“Eomma… Eomma…!” panggilku cemas.

“Minho-ya, kau sudah pulang?” Eomma muncul dari balik ruang. Ia menyentuh pipiku lembut.

“Eomma mau kemana?”

“Ah… Eomma lupa menjelaskannya padamu. Eomma ada sedikit urusan di Paris. Jadi, Eomma harus pergi selama seminggu,” jawab Eomma membuat mataku melotot.

“Andwae Eomma!” seruku spontan. “Eomma tidak boleh pergi kemana-mana,” tambahku.

Praktis, Eomma terlihat bingung. “Wae?”

“Andwae Eomma… jebal…” mohonku.

“Tidak bisa Minho. Maafkan Eomma. Eomma harus pergi, kalau tidak perusahaan Appa bisa hancur,” jelas Eomma membuat lututku terasa lemas. Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus mengaku sekarang?

“Memangnya kenapa Minho?”

“Ah… eung, igo…” aku menggaruk tengkukku. “Tidak Eomma, pergilah,” ucapku akhirnya. Dalam hati aku meurutuk diriku sendiri.

“Benarkah? Keuraeyo. Kau hati-hati di rumah ya,” pesan Eomma sambil mengecup keningku.

Sudah tidak perlu ditanya lagi bagaimana perasaanku sekarang. Miris. Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah Eomma pergi. Dan… aku harus meninggalkannya tanpa pamit. Hari ini, adalah hari terakhirku melihatnya.

“Eomma!” aku memanggilnya sebelum Eomma masuk ke mobilnya.

Eomma membalikkan badan dan aku berlari memeluknya. “Minho-ya, ada apa denganmu?” tanyanya heran.

“Aku sayang Eomma…” ucapku tersedu-sedu. Aku merasakan tangan hangat Eomma mengelus punggungku. Beberapa saat kemudian aku melepaskan pelukanku dan menatap Eomma.

“Aissh… rupanya anak Eomma sekarang jadi cengeng ya,” Eomma membantuku menhapus air mataku.

“Eomma, maafkan aku. Aku sangat menyayangi Eomma,” ucapku. “Jangan pernah lupakan aku, Eomma. Namun jika mengingatku membuat Eomma menangis, maka jangan mengingatku.”

“Apa maksudmu, sayang?”

Aku tersenyum mendengar pertanyaan Eomma. Senyum yang mungkin tidak akan pernah Eomma lihat lagi saat kembali nanti. “Tidak, aku akan selalu menjaga Eomma…” ucapku akhirnya.

16 Februari 2011

Aku terbagun dan mendapati semuanya seolah baik-baik saja. Entahlah, kepergian Eomma kemarin sebenarnya membuatku sangat sedih. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Eomma saat tiba-tiba ia pulang dan aku sudah tidak ada lagi di dunia ini.

Saat aku handak berdiri, tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku membaca nama ‘Naui Hyun Mi’ di layar ponselku dan langsung mengangkatnya. “Wae, Hyun Mi-ya?”

“Oppa! Ayo kita pergi melihat bintang!” suara Hyun Mi terdengar ceria dan ringan seperti biasanya. Aku sangat senang mendengar suaranya.

“Bintang? Ini kan masih pagi, Hyun Mi… lagipula memang kau tidak sekolah?”

“Bukannya hari ini sekolah diliburkan ya?”

“Ah, keuraeyo…” aku mendadak teringat sesuatu. “Tapi dimana kau akan melihat bintang?”

“Bisakah oppa datang ke flatku?”

Aku menekan bel di sebelah pintu saat sampai di flat Hyun Mi. Sebenarnya apa yang direncanakan yeoja itu? Kenapa aku sama sekali tidak bisa menebaknya?

Beberapa saat kemudian, Hyun Mi keluar dengan senyum yang sangat cerah menghiasi wajahnya. “Masuklah oppa,” ucapnya sambil mengandengku.

“Sebenarnya ap…” kata-kataku terpotong saat melihat flat Hyun Mi menjadi berubah begini. Entah bagaimana caranya tapi kini flatnya sudah berubah menjadi suasana malam yang indah. Dengan bertabur bintang dan satu bulan.

“Baguskan?” tanya Hyun Mi sambil menatapku dengan matanya yang berkilat-kilat, seolah ia berhasil membuatku terkesan. Dan memang benar, aku menyukai bintang dan suasana malam seperti ini. Hyun Mi berhasil, ia berhasil membuatku terkesan.

Aku tersenyum padanya. “Jeongmal gomawo…” ucapku dan memeluknya. Nae chagiya, ternyata kau jauh lebih berharga dari yang kubayangkan. Dan hal itu membuatku lebih sulit untuk meninggalkannya.

“Jadi, kau akan menghabiskan waktu hari ini bersamaku?” tanya Hyun Mi.

Aku menyipitkan mata. “Aigo, apa ini taktikmu untuk menarikku, huh?”

“Hahaha… keurae!” tawa Hyun Mi dan aku bersama.

Cha Hyun Mi POV’s

Sekuat tenaga aku menahan air mataku untuk tidak tumpah saat melihat Minho oppa tertawa bersamaku. Aku tidak percaya kalau umurnya tidak akan lebih dari seminggu ini. Ya, aku sudah mengetahui semuanya. Kemarin aku pergi ke rumah sakit yang sama dan memaksa si dokter untuk mengatakan keadaan oppa yang sebenarnya. Dan semuanya, membuatku shock. Saat mendengarnya pun tubuhku terasa terhempas ke tanah yang sangat keras. Sakit, hancur. Aku tidak tahu kenapa hal seperti ini bisa terjadi pada oppa. Ia mengidap penyakit yang sangat parah dan aku… baru mengetahuinya di saat-saat terakhirnya?

“Ya, apa kau punya film baru?” tanya oppa membuyarkan lamunanku.

“Ne, aku selalu update tentang ini!” aku memaksakan sebuah keceriaan yang bagiku ini adalah akting tersulit yang pernah kulakukan.

Beberapa jam kemudian, aku dan oppa tenggelam dalam suasana film yang kami tonton. Kami menonton banyak film, mulai dari film komedi, horror, action, sampai romantis. Entah, tapi sepertinya aku tidak tahu bagaimana perasaanku sebenarnya. Apakah senang atau sakit.

“Kau mau sesuatu chagi?” tanya Minho oppa yang menunduk menatapku.

“Sesuatu apa?” tanyaku heran.

“Kau tidak ingin apa-apa?” Minho oppa lalu tersenyum. Entah senyum apa itu, aku tidak benar-benar bisa menerjemahkannya. “Baiklah, aku akan keluar dan membelikanmu sesuatu.

Aku melihat Minho oppa berdiri dan kemudian keluar dari flatku. Tubuhku seperti terpaku disini. Aku sangat ingin mencegahnya pergi. Aku takut terjadi apa-apa padanya di luar sana. Tapi kenapa? Kenapa dengan diriku ini? Bahkan aku masih belum bisa bergerak beberapa menit kemudian.

“AAAAAAAAAAAA!!” teriakku akhirnya sambil menjatuhkan diri di sofa, dan menangis. Aku tidak bisa melakukan apa-apa untuknya. Na jeongmal pabo! Aku membiarkannya pergi begitu saja, aku tidak bisa menjaganya. Aku… tidak… bisa! Hyun Mi-ya, kau sangat bodoh! Bahkan lebih bodoh dari seekor keledai sekalipun.

Cha Hyun Mi POV’s END

Choi Minho POV’s

Apa yang harus kuberikan untuk Hyun Mi? Apakah sebuah barang? Atau… bunga? Aku melihat bunga-bunga musim semi yang terpajang cantik di balik kaca sebuah florist. Keurae, pilihan yang tepat Choi Minho!

Aku langsung berlarian kecil ke florist itu dan langsung membeli bunga-bunga beraneka macam warna. Hyun Mi sangat menyukai bunga musim semi. Ya, ia pasti menyukainya.

“Khamsahamnida,” ucapku saat pelayan toko selesai membungkusnya untukku.

“Untuk yeojachingumu ya?” tanyanya basa-basi.

“Ne.”

“Aku yakin dia sangat cantik, karena kau memberinya bunga-bunga yang cantik ini.”

Aku terkekeh pelan. “Keurom… Khamsahamnida,” kataku sambil membungkukkan badan lalu keluar dari toko.

Aku memandangi buket di tanganku sejenak dan tersenyum. Entah tapi aku merasa sangat bahagia sekarang. Seolah semua masalahku menguap begitu saja. Dan… tidak, kenapa aku merasa… semuanya berkunang-kunang? Aigo, apa ada yang memukul kepalaku? Kenapa rasanya begitu sakit?

Mendadak semua penglihatanku berubah putih dan aku… merasakan tubuhku terhempas jatuh ke jalanan. Ya Tuhan… jangan kau ambil aku sekarang. Aku mohon…

Choi Minho POV’s END

Cha Hyun Mi POV’s

Aku meremas jariku-jariku dengan erat. Perasaanku sangat kacau dan aku tidak bisa berpikir apapun sekarang. Dadaku begitu sesak saat aku menemukan Minho oppa sudah tergeletak pingsan di jalan dan dikerubungi banyak orang. Aku tidak sanggup melihat kejadian semacam itu. Aku tidak bisa melihatnya menderita sedangkan aku tidak bisa berbuat apapun.

Aku melihat sebuah buket bunga di pangkuanku. Aku yakin oppa membelikan ini untukku. Oppa sangat tahu aku menyukai bunga-bunga khas musim semi. Tapi… apa maksudnya? Apa ia berniat memberikan ini sebagai hadiah terakhirnya?

“Cha Hyun Mi-ssi…”

Aku mendongak dan melihat seorang dokter berdiri di depanku. Aku segera berdiri sambil menghapus air mataku. “Ne. Bagaimana keadaannya?”

Dokter itu menggelengkan kepalanya dan membuatku semakin lemas. Tolong, aku tidak mau ambruk sekarang. “Tidak ada lagi harapan kecuali takdir.”

“Apa maksudnya? Katakan dengan jelas, dokter!” paksaku tidak sabar.

“3 hari, ia memiliki sisa waktu hanya 3 hari. Dan sekarang ia koma.”

Deg, tubuhku seperti ditimpa runtuhan es dari kutub utara hingga aku merasa kaku. Aku tidak bisa merasakan apa-apa selain cairan hangat yang mengalir di pipiku. Otakku tidak bisa memikirkan hal lain selain Minho oppa. Apa aku mempunyai sebuah pilihan? Apa aku dan oppa bisa melarikan diri dari masalah ini? Apa aku bisa?

“Semoga terjadi keajaiban, Hyun Mi-ssi…” kata dokter itu lalu meninggalkanku.

Aku menunduk. Hancur sudah semuanya. Hanya 3 hari, dan kemungkinan oppa hanya bisa tertidur sebelum ia benar-benar pergi jauh. Dimana tempat itu? Apa aku bisa menyusulnya saat aku merindukannya? Kenapa aku dipaksa merasakan sesuatu yang tidak ingin kurasakan?

“Oppa… Oppa…” gumamku lemah sambil sesenggukan. Ku harap, aku bisa mati saat ini. Hingga saat aku terbangun nanti, aku dapat melihat sesuatu yang baru tanpa merasakan masa-masa sulit ini. Aku sangat berharap…

17 Februari 2011

Sinar matahari menyeruak dari sedikit sela jendela kaca di kamar perawatan Minho oppa. Perlahan aku membuka mataku karena silau. Aku menyapukan pandangan ke sekitarku. Saat mataku menemukan sesosok namja yang masih memejamkan matanya, dadaku kembali sesak. Oppa belum sadar. Atau bahkan tidak akan pernah sadar lagi.

Satu persatu air mataku tumpah. Oh tidak, aku tidak boleh menangis. Aku harus kuat. Akhirnya, dengan sisa tenaga yang kupunya aku keluar kamar untuk mencari sarapan.

Aku menyusuri lorong rumah sakit yang dingin ini. Kedua mataku terus memperhatikan sekeliling. Banyak orang menunggu di luar dengan bermacam-macam pikiran. Ada yang sedih, namun ada juga yang berlinang air mata kebahagiaan.

“Oppa jangan tinggalkan aku! Bangunlah oppaaa!”

Deg, kedua mataku langsung menatap ke arah seorang yeoja yang berdiri tidak jauh dari tempatku sekarang. Keadaannya begitu hancur dan… menyedihkan. Ia menangis meraung-raung, menangisi kematian seseorang yang dicintainya. Apa aku akan merasakan hal yang sama? Apa aku akan menyedihkan juga?

Aku merasakan kedua kakiku lemas, mungkin aku berjalan dengan sisa tenagaku. Ya, melihatnya hanya akan membuatku jatuh pingsan.

Aku melahap sebuah vegetarian sandwich dengan air mata yang tanpa henti keluar dari mataku. Saat ini yang kupikirkan hanyalah oppa. Apa aku akan siap menghadapi semua ini? Apa aku bisa?

“Boleh aku duduk disini?”

Aku menoleh dan melihat seorang yeoja berkaca mata. Aku mengangguk dan memperhatikan wajahnya. Bukankah ia… yeoja tadi?

“Mm… mian, apa kau… sedang kehilangan seseorang yang kau cintai?” tanyaku. Yeoja itu langsung menatapku dengan matanya yang sembap. “Cheosunghamnida. Tadi aku kebetulan lewat,” kataku buru-buru menjelaskan.

Yeoja itu memalingkan wajahnya dariku. “Ne. Namjachiguku baru saja meninggal,” jawabnya.

Aku melihatnya sangat terpukul.

“Padahal dia adalah satu-satunya sesuatu yang aku punya di dunia ini. Kedua orang tuaku pergi entah kemana. Aku tidak punya keluarga selain dia. Dan sekarang… aku sendiri,” jelasnya dengan tatapan yang… kosong.

Lagi-lagi air mataku menetes. Aku sama dengannya. Hanya saja, aku tinggal menunggu waktu. “Kau pasti sangat mencintainya, kan?”

“Keurom… kalau aku mempunyai pilihan, maka aku akan memilih pergi bersamanya. Agar aku tidak perlu merasakan masa ini. Agar aku dapat terus bersamanya di surga,” ungkapnya.

Aku tidak sanggup berkata-kata lagi. Aku pasti juga akan mengatakan hal yang sama dengannya. Karena aku terlalu lemah dengan semua ini.

“Oppa, kau tahu aku baru saja mencetak foto kita! Kau mau lihat?” dengan semangat aku menunjukkan foto-foto kami saat hari valentine.

Minho oppa sama sekali tidak bergeming. Diam. Tapi aku tetap tidak menyerah, aku masih menganggapnya mendengarku. “Aigo… kau sangat tampan disini. Ckck, kenapa aku baru sadar ya? Oppa, lain kali kita pergi ke Han river lagi ya. Mungkin… hari valentine tahun depan…” kata-kataku langsung berhenti. Tahun depan? Tahun depan seperti menjadi sesuatu yang sangat sulit.

Aku terduduk lemas. “Oppa, apa kau bisa membuka matamu dan melihatku? Apa kau bisa tersenyum padaku lagi? Apa kita bisa pergi berdua lagi?” aku mengusap air mataku. “Kisseu… Apa kau bisa menciumku lagi? Oppa… apa kau mendengarku? Kau tahu, aku terus merasa sendiri saat kau tidak ada. Aku merasa seperti orang asing di dunia ini. Hanya kau yang mengenalku. Tapi bagaimana jika kau pergi? Apa yang harus kulakukan?” tangisku pecah dan tak terkendali. “Ottohke… Oppa…” aku menenggelamkan kepalaku dalam tumpukan tanganku.

To be Continued…

 

 

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

24 thoughts on “Seven Last Days – Part 2”

  1. huaaa…lagi seru2 baca lngsung tbc aja.
    wah..thor, kira2 Minho nya mati gak?
    ahh…kasih Hyun Mi kalau Minho bnr2 meninggal.
    ahh…gak sabar buat part 3 nya.
    daebak thor! ;D

  2. ahhh mau nangis… dari tadi baca ff sad mulu nih …
    kenapa eommanya ngak dikasih tau ??
    hyun mi, ayoo doakan keajaiban …
    authooor ayo lanjutannya jgn lama2 .. yaaa….

  3. Tinggal 3 harii?? Haaaa nyeseeeek T_T
    Sedih bangeet thooor. Tapi bagus banget jugaaa
    Oiyaaa, Hyunmi nya kok belum ngasih tau eomma nya minho?
    Haaa lanjut thoooor!!

  4. eh.. mau dong ikut eommanya minho ke paris… hahaha…*digaplok minho* eh iya… lagi lagi lagi aku nangis nangis nangis nangis lagi ampe 4 kali… huhuhuhu…. kasian si hyun mi…. huhuhuhhuuu…. pokoknya ga bosen lah baca ff ini berkalikali… keren keren keren…… :*

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s