Seven Last Days – Part 3 [END]

Title : Seven Last Days (Last Part)

Author : Choi Min Young

Main Cast : Choi Minho, Cha Hyun Mi

Length : Sequel

Genre : Romance, Sad

Rating : PG 15

“Kisseu… Apa kau bisa menciumku lagi? Oppa… apa kau mendengarku? Kau tahu, aku terus merasa sendiri saat kau tidak ada. Aku merasa seperti orang asing di dunia ini. Hanya kau yang mengenalku. Tapi bagaimana jika kau pergi? Apa yang harus kulakukan?” tangisku pecah dan tak terkendali. “Ottohke… Oppa…” aku menenggelamkan kepalaku dalam tumpukan tanganku.

18 Februari 2011

Apa kau akan bangun sekarang? Aku mohon… berilah aku kesempatan untuk sekedar mengatakan aku sangat mencintaimu, dan kau tahu itu. Hanya itu, hanya itu permintaanku sebelum mungkin, berpisah denganmu.

Aku menatap wajahnya lekat. 2 hari, yang terisa hanya 2 hari. Apakah perpisahan kami akan begitu menyakitkan? Aku mohon Tuhan… jangan beri kami sebuah takdir seperti ini. Aku mohon…

Tiba-tiba entah ada malaikat yang mendengar doaku, aku melihat kelopak mata Minho bergerak. Aku terkejut sekaligus senang. Semoga… “Oppa?” panggilku saat kedua matanya mencari-cari.

Kemudian kedua mata yang indah itu menemukanku. Aku memberinya seulas senyum ceria, setidaknya senyumku tidak terlihat menyedihkan.

Dan aku… bisa membaca kedua matanya. Aku juga mencintaimu oppa, dan aku, juga sangat ingin hidup bersamamu seumur hidupku.

Cha Hyun Mi POV’s END

Choi Minho POV’s

“Oppa?”

Suara yang pertama kali kudengar adalah suaranya. Ini terdengar nyata, itu berarti aku sudah kembali ke dunia.

Aku langsung menoleh ke sisi kananku. Ia tersenyum padaku. Senyum yang ceria, walau aku melihat matanya sembap. Maafkan aku Hyun Mi, aku sangat tidak sempurna untukmu. Tapi aku hanya bisa mencintaimu seumur hidupku.

“Apa kau merindukanku?” tanyanya dengan senyum yang lagi-lagi menurutku dipaksakan.

“Ne…” jawabku lemah. Aku sangat membenci ini. Aku sangat benci saat diriku menjadi lemah tidak berdaya. Disaat aku tidak bisa melindungi Hyun Mi. Dan saat aku terbaring di ranjang rumah sakit dengan keadaan yang sangat menyedihkan.

“Gwaenchana… aku tidak mempermasalahkannya kok,” ucap Hyun Mi seolah bisa membaca pikiranku.

“Gomawo…”

“Kau yakin oppa?” tanya Hyun Mi khawatir saat aku memutuskan untuk meninggalkan rumah sakit.

“Keurom… aku tidak suka suasana rumah sakit,” jawabku sambil mengelus rambutnya. Setidaknya, aku tidak mau meninggal disini.

“Kenapa kau membawaku kesini? Kau mau es krim?” lagi-lagi Hyun Mi terheran-heran karena kau mengajaknya ke sebuah kedai es krim. Aku tidak tahu apakah es krim adalah salah satu makanan yang dilarang atau tidak untukku sekarang. Aku hanya ingin bersenang-senang dengan Hyun Mi, hanya itu.

“Kau mau rasa apa?”

“Coklat Vanilla saja.”

Aku terdiam. Entah apa yang kupikirkan, tapi aku merasa setengah mati. Mungkin, setengah nyawaku sudah diambil oleh yang Diatas.

“Oppa kenapa?” tanya Hyun Mi membuyarkan lamunanku.

Aku menggeleng sambil tersenyum kecil. Tapi yeoja itu tidak percaya. Ia malah menggenggam tanganku dengan erat. “Kenapa oppa tidak pernah cerita padaku? Apa aku masih menjadi orang asing untukmu?”

“Anio. Aku hanya…”

“Hanya apa?” potong Hyun Mi. “Takut aku sedih? Takut akan menjadi beban pikiranku? Atau malah… takut aku meninggalkanmu? Tidak oppa. Semua yang kau kira itu salah. Aku tidak akan pernah menganggapmu seperti sekecil debu sekalipun. Bahkan aku menganggapmu sebagai udara.”

“Jangan Hyun Mi. Aku tidak bisa lagi menjadi udaramu,” ucapku dan Hyun Mi hanya terdiam. Kemudian pesanan es krim kami datang memecah keheningan.

Aku melihat Hyun Mi memakan es krimnya sedikit terburu-buru. Aku miris saat melihat sebutir air matanya jatuh. Kemudian sebutir lagi dan menjadi dua aliran sungai kecil di pipinya. “Maafkan aku Hyun Mi…”

Hyun Mi pun menatapku tanpa berkata apa-apa. Aku dapat melihat kedua matanya yang lelah, seperti menanggung beban berat yang belum juga sirna.

“Bisakah kau tinggal? Bisakah kau hidup bersamaku 100 tahun lagi?” tanyanya putus asa.

Aku tidak langsung menjawabnya. “Jika aku bisa, Hyun Mi…”

Tangis Hyun Mi semakin menjadi-jadi. Ia pun langsung menenggelamkan kepalanya diantara tumpukan tangannya di meja.

Sebutir air mata yang dari kemarin ku tahan akhirnya jatuh juga. Aku tidak tega melihatnya seperti ini. Aku tidak bisa.

“Keurae…” ucap Hyun Mi tiba-tiba. “Aku akan berusaha.”

“Mwo?”

“Berusaha bernafas tanpamu,” katanya membuatku terbelalak. Hyun Mi, aku mohon jangan sekarang. “Aku pergi,” ucapnya singkat.

Aku hanya dapat melihat punggungnya yang terbalut jaket abu-abu itu menghilang dari balik pintu kaca. Hyun Mi berjalan cepat di antara orang-orang yang berlalu lalang. Tatapanku menjadi kosong saat tidak menemukannya lagi. Apa aku akan sendirian? Semoga… tidak.

Aku membuka pintu rumahku pelan. Saat aku masuk ke dalamnya, aku merasakan seperti perasaan yang sangat sakit dan lemah. Ya, semua orang meninggalkanku. Dan kini aku harus menghadapi sisa hidupku seorang diri.

Aku melihat jam di dinding rumah. 23.00. Aku menutup mataku. Seluruh badanku terasa lemas. Aku lelah. Aku mulai merasa sebagian nyawaku lagi menghilang entah kemana. Aku ingin seseorang memelukku dengan hangat. Hanya itu.

Choi Minho POV’s END

19 Februari 2011

Cha Hyun Mi POV’s

Aku terbangun dari tidurku. Bukan, lebih tepatnya hanya memejamkan mata. Pikiranku terus bekerja tanpa aku kendalikan. Aku sangat lelah, keadaanku begitu menyedihkan dan sakit. Sakit di dalam lebih terasa dan membuatku serasa ingin mati saja.

Minho oppa. Hanya seorang itu yang memenuhi pikiranku. Sejak aku tinggalkan kemarin, sebenarnya aku sangat merasa bersalah.

Aku melihat kalender di meja kecil. Hari terakhir. Apa yang harus kulakukan? Setelah hari ini aku tidak bisa lagi melihatnya. Tapi aku harus terbiasa hidup tanpanya. Ottohke?

Aku keluar dari kamarku dan berjalan terseok-seok ke dapur. Aku harus menata hidupku lagi. Aku tidak bisa terus menjadi mayat hidup seperti ini. Aku pun mengeluarkan seloyang brownies dari kulkas dan memakannya. Sial, bahkan sekarang lidahku tidak dapat merasakan apa-apa. Apa aku separah ini?

Menyerah, aku berhenti memakan kue-kue coklat itu. Otakku berpikir, aku harus mencari kegiatan yang bisa membuatku hidup kembali…

Ah, shopping!

Sudah puluhan kali aku mengelilingi mall yang sama, tetapi… aku tidak juga menemukan sesuatu yang bisa kubeli. Akhirnya aku terduduk lemas. Aku membetulkan letak topi rajutku. Air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya jatuh juga.

Ada apa denganku? Kenapa aku menjadi begitu lemah? Kenapa aku tidak bisa melupakannya? Aku pernah hidup tanpanya. Kenapa aku tidak bisa melakukannya lagi? Aku terlalu bodoh, sangat bodoh.

Tidak Hyun Mi, kau harus kuat! Aku menepis air mataku dan berdiri. Saat aku hendak pergi, tiba-tiba aku melihat seorang yang sangat mengenalku-bahkan membuatku seperti mayat hidup-berdiri di hadapanku. Ia terdiam, namun tidak terkejut melihatku. Apa ia masih bisa berjalan? Apa selama ini ia berbohong kalau ia sebenarnya sedang sekarat?

“Cha Hyun Mi…” panggilnya. Jarak kami cukup renggang. Aku merasa sangat jauh darinya. Aku merasa… kesulitan bernafas.

Perlahan Minho oppa mendekatiku. Langkahnya sedikit demi sedikit menghampiriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Bergeser satu senti pun tidak bisa, apalagi lari. Hingga tidak terasa sekarang ia sudah berada persis di depanku, di dekatku.

“Apa kau…”

“Mwoya?” potongku. “Bukankah kau yang menyuruhku untuk bisa hidup tanpamu? Tidak lagi menganggapmu sebagai udara untukku?”

“Mian…”

“Hanya itu yang dapat kau ucapkan? Tidak ada kata lain?”

“Kalau bisa… akan kulakukan untukmu.”

Aku tidak bisa lagi menjawabnya. Bibirku terasa gagu. Yang bisa kulakukan sekarang hanya menangis. Menangis sampai semua orang menatap kami berdua.

Minho oppa semakin mendekat padaku. Sampai tangannya yang besar itu memegang pundakku. Kemudian ia menenggelamkan aku dalam pelukannya. Pelukan hangat yang tidak bisa kulupakan seumur hidupku. Sekaligus… yang mungkin akan menjadi yang terakhir.

“Gwaenchana…” gumam Minho oppa sambil mengelus puncak kepalaku.

Tangisku semakin menjadi-jadi. Kuakui ini sangat sulit. Aku takut… tidak mudah bernafas lagi semudah saat bersamamu.

“Bukankah ini hujan salju yang indah?” ucap Minho sambil memandang butiran salju dari balik kaca di flatku. “Salju di siang hari…”

“Aku baru tahu oppa menyukai salju,” aku menyesap secangkir coklat hangat. Seluruh tubuhku menjadi dingin saat pulang dari mall.

Minho berbalik dan tersenyum menatapku. “Itu menjadi rahasiaku.”

Aku mengerutkan kening yang mengisyaratkan pertanyaan, ‘kenapa?’

“Karena pertama kali aku melihatmu adalah saat salju turun di siang hari,” jawabnya.

Aku menatapnya tanpa berkata apa-apa. Aku merenung, masih tidak percaya kalau sebentar lagi ia akan pergi. Ini semua sangat sulit untuk di mengerti.

Aku melihat Minho oppa keluar ke arah balkon. Aku mengikutinya. Udara dingin langsung menyergap tubuhku. “Oppa tidak kedinginan?” aku memeluk tubuhku sendiri.

“Salju ini sangat putih dan bersih. Aku ingin menjadi salju…” Minho oppa menengadahkan tangannya sampai salju-salju menempel di tangannya.

Aku menatapnya. Kalau kau menjadi salju, maka aku rela menunggumu di luar setiap hujan salju, oppa. Meski aku harus terkena hipotermia sekalipun.

“Kau ingat saat aku menemukanmu sedang terkena hipotermia?” ucap Minho tanpa menatapku. Kedua matanya menerawang jauh ke depan.

Ya, tentu aku ingat. Peristiwa yang mempertemukanku denganmu. “Aku tidak pernah bisa melupakan waktu itu.”

“Kenapa waktu itu kau mudah percaya padaku yang membawamu ke rumahku? Kau kan sama sekali tidak mengenalku.”

Aku tertawa kecil. “Mungkin aku terlalu pabo… Molla, sebagian besar hatiku mempercayaimu.”

Tangan kiri Minho merangkulku. “Dan entah… sebuah takdir membawa kita sampai ke titik ini…”

Aku memejamkan mataku. Merasakan hembusan nafas Minho oppa yang begitu hangat. Andai waktu berhenti saat ini juga. Jika aku bisa…

Malam menjelang. Hari ini seolah waktu berputar terlalu cepat. Dan aku semakin resah. Mungkinkah… oppa benar-benar akan meninggalkanku? Tolong, hentikan waktu saat ini juga.

Cha Hyun Mi POV’s END

Choi Minho POV’s

Untuk yang kesekian kalinya aku melirik jam di dinding flat Hyun Mi. Sial, berkurang satu menit lagi. Kenapa doaku sama sekali tidak terkabul? Padahal aku hanya meminta waktu berjalan lebih lambat. Tapi…

“Hyun Mi, aku tidak merasakan apa-apa…” kataku pada yeoja disampingku ini.

“Mwo? Keuraeyo?”

“Mm.. Aku tidak tahu bagaimana rasanya. Tapi aku merasa sangat sehat sekarang. Aku tidak merasa sakit sama sekali,” jelasku berbohong. Sangat jelas kepalaku sakit sekali sekarang. Tapi aku menahannya, aku tidak mau Hyun Mi khawatir padaku.

“Apa waktumu tertunda?” tanya Hyun Mi. Wajahnya terlihat sedikit lebih senang. “Benarkah?”

Aku mengedikkan bahuku. “Semoga,” ucapku tersenyum lebar. “Kau mengantuk? Ini sudah sangat larut.”

Hyun Mi menguap sambil mengangguk. “Jeongmal. Arayo, aku tidak bisa tidur nyenyak sejak kemarin. Oh ya, oppa mau menginap disini?”

“Bolehkah aku tidur disisimu?”

Hyun Mi terlihat terkejut dengan kata-kataku. Namun tak lama kemudian ekspresi wajahnya berubah normal. “Keurom…”

“Kalau aku boleh tahu, seberapa besar kau mencintaiku?” tanyaku sambil menatap langit-langit di kamar Hyun Mi.

“Tidak terlalu besar, tapi sedalam apapun. Bahkan kau tidak mampu mengukurnya.”

“Apa kau akan menjaganya walau kita sudah tidak bersama?”

Aku tidak mendegar suara Hyun Mi selama beberapa saat. Tapi kemudian ia mulai berbicara lagi.

“Pasti. Walau kau tidak dapat melihatnya. Tapi percayalah padaku.”

“Chagi… bisakah kau berjanji sesuatu hal padaku?”

Choi Minho POV’s END

Cha Hyun Mi POV’s

“Chagi… bisakah kau berjanji sesuatu hal padaku?”

Aku menatapnya dari samping. Jantungku berdegup kencang. Aku mohon… jangan membuatku lebih sakit lagi.

“Jangan pernah menangis, saat aku tidak ada. Jangan pernah merasa sendiri saat dunia disekitarmu tertawa. Dan jangan pernah mengingatku saat kau bertemu seseorang yang lain. Teruslah hidup dan tersenyum untukku. Aku janji aku akan menjadi angin yang menyejukkanmu, aku akan selalu melewatimu dan terus kembali. Aku bukan udara yang bisa kau hirup lalu kau hembuskan lagi. Jadi kau tidak perlu menahanku. Percayalah, aku tidak akan meninggalkanmu. Karena aku yakin, suatu saat nanti, entah kapan… kita akan bertemu lagi..”

Aku menangis tanpa suara. Hatiku sekarang seperti seonggok daging yang telah terpotong-potong. Seluruh badanku lemas, aku tidak dapat merasakan apa-apa selain sakit.

“Jangan pernah merasa takut lagi. Setelah ini, kau harus terus hidup dan ceria seperti biasanya. Kau pernah mengalami masa saat kau hidup sendiri tanpaku. Kau pasti bisa mengulangnya lagi kan?… Hanya mengulang sampai seorang yang lain datang menghampirimu,” katanya lagi lalu mencium  pipiku.

“Sa… ranghae…” ucapku terbata-bata. “Jeongmal…”

“Na ddo…” balas Minho oppa. “Uaaah… aku mulai mengantuk.”

Aku melihat oppa memejamkan matanya. Aku terus berdoa, semoga ini bukan yang terakhir. Aku mohon…

Cha Hyun Mi POV’s END

Choi Minho POV’s

Sakit di kepalaku semakin menjadi-jadi. Andwae, aku harus menahannya. “Hanya mengulang sampai seseorang yang lain datang menghampirimu..” gumamku lalu menciumnya hangat.

“Sa… ranghae… Jeongmal…”

“Na ddo…” balasku. Aku melihat air mata terus bercucuran dari kedua matanya. “Uaah… aku mulai mengantuk,” ucapku menghentikan pembicaraan di antara kami. Aku pun memejamkan mataku. Dan tiba-tiba Hyun Mi memelukku. Aku mendengar tangisnya semakin keras.

Aku tetap memejamkan mataku. Mendengar tangisnya saja sudah membuatku nyeri, apalagi melihatnya? Selamat tinggal Cha Hyun Mi… jika suatu saat kita bertemu lagi, maka aku akan menyambutmu dengan sebuah senyum dan cinta yang tidak pernah bisa kau bayangkan. Aku berjanji, akan selalu menjadi angin yang menyejukkanmu dan tidak pernah enyah dari sisimu.

Saranghaeyo… yeongwonhi.

Choi Minho POV’s END

Author POV’s

3 Minggu kemudian…

Seorang yeoja yang masih berseragam SMU terlihat berdiri di samping skuternya. Ia terlihat seperti sedang menunggu seseorang.

“Setahuku ajhumma pulang hari ini. Tapi mana ya?” gumamnya sambil melihat jam tangannya.

Tiba-tiba angin berdesir lembut disisinya. Jantung Hyun Mi langsung berdegup lebih cepat. “Oppa…” gumamnya tanpa sadar. Ia merasa seolah Minho ada di dekatnya saat ini.

Tepat beberapa saat kemudian sebuah mobil sedan hitam datang. Hyun Mi langsung berdiri tegap dan membungkuk pada seorang wanita paruh baya yang turun dari mobil tersebut. “Annyeonghaseyo, Ajhumma…”

“Hyun Mi? Kenapa kau tidak masuk? Minho tidak ada didalam?”

Hyun Mi tidak langsung menjawabnya. Eomma Minho memang belum tahu tentang kematian anaknya. Hyun Mi meremas jarinya, keringatnya langsung bercucuran. Ia tak tahu bagaimana caranya memberitahu wanita di depannya ini.

“Hyun Mi, gwaenchanayo?” tanya Eomma Minho sambil memegang pundak Hyun Mi.

“Ajhumma, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Bolehkah?”

“Eodiga?”

Hyun Mi hanya tersenyum. Berharap, semuanya akan baik-baik saja.

Hyun Mi menggamit lengan Eomma Minho berjalan diantara nisan-nisan yang berjejer. Pemakaman Minho.

“Kenapa kita ke tempat ini?” tanya Eomma Minho heran.

Hyun Mi tetap berjalan membawa Eomma Minho ke arah makam anaknya. “Ajhumma, Minho adalah anak yang baik. Percayalah, ia hanya tidak mau membuat Ajhumma cemas.”

“Apa maksudmu?”

Akhirnya mereka berdua sampai di depan makam bertuliskan, ‘RIP CHOI MINHO’.

Eomma Minho langsung terduduk di tanah. Dengan lebih teliti ia membaca tulisan namanya. “Hyun mi, apa sebenarnya ini? Makam siapa?”

Hyun Mi ikut berjongkok dan merangkul Eomma Minho. Tangisnya tidak mampu lagi ia tahan. “Kanker otak…” katanya singkat.

Eomma Minho langsung menatap Hyun Mi dengan tatapan tidak percaya. “Apa maksudmu? Tidak mungkin!”

“Ajhumma…” Hyun Mi semakin menangis dan tidak bisa berkata apa-apa.

“Choi Minho… kenapa kau meninggalkan Eomma nak?” seru Eomma Minho frustasi. Ia tidak pernah menyangka akan kehilangan anaknya secepat ini. Bahkan ia tidak bisa melihat anaknya untuk yang terakhir kali. Rasa penyesalan yang sangat besar menjalari dirinya.

“Minhoooo…” teriaknya semakin keras. “Kenapa kau meninggalkan Eomma seperti ini nak? Kenapa kau tidak pernah mengatakannya pada Eomma?”

Hyun Mi hanya terus memeluknya tanpa berkata apa-apa. Dulu, saat menemukan Minho sudah tidak bernyawa lagi juga membuatnya nyaris pingsan. Ia pernah merasakan sesuatu paling menyakitkan seumur hidupnya, bahkan masih dirasakannya sampai sekarang. Tapi yang sangat diyakininya adalah… Minho selalu bersamanya.

Januari, 2009

Seorang namja berjaket tebal menyusuri jalanan yang bersalju untuk pulang ke rumahnya. Asap mengepul keluar dari mulutnya pertanda udara sangat dingin saat itu. Ia juga berkali-kali mengusap-usap kedua telapak tangannya. Sialnya ia juga lupa memakai sarung tangan.

Saat ia sampai di depan sebuah kedai kopi, ia melihat seorang yeoja bermantel bulu merah. Yeoja itu juga terlihat sedang kedinginan sampai memeluk tubuhnya seperti itu.

Si namja tersenyum dan mendekati yeoja itu. “Kau… yeoja yang kemarin kan?”

Yeoja itu balas menatapnya heran, kemudian tersenyum. “Kau yang menolongku?” tanyanya.

“Ne. Kau sudah sembuh?”

Yeoja itu mengangguk.

“Choi Minho imnida,” ucap si namja sambil mengulurkan tangannya yang memerah karena kedinginan.

“Cha Hyun Mi,” si yeoja membalas uluran tangan itu. Entah, namun hatinya terasa sangat nyaman saat menatap mata namja didepannya ini.

Minho juga merasakan hal yang sama. Ia merasa sangat hangat, dan damai. Tatapan yeoja didepannya ini begitu membuatnya tenang. Namun setelah tersadar, ia melepaskan genggaman tangannya.

“Kau suka salju?” tanya Minho.

“He-em. Kau?”

“Tidak.”

“Waeyo?”

“Aku tidak suka dingin,” jawab Minho dan yeoja itu hanya menganggukkan kepalanya. “Aku lebih suka angin. Angin yang sejuk, yang menenangkan banyak orang.”

“Ah… kau benar.”

“Lalu kau? Apa kau menyukai salju? Sampai kau rela terserang hipotermia seperti kemarin.”

Hyun Mi tidak langsung menjawab, ia memikirkan jawaban yang tepat. “Aku menyukainya.”

“Sangat menyukainya?”

“Ne. Karena, aku menemukan semua kebahagiaanku saat salju turun.”

Minho menghela nafas panjang. Entah, tapi hatinya mengatakan hal yang sama. Ia juga merasa telah menemukan kebahagiaannya saat salju turun di siang hari. Saat… bertemu yeoja ini. “Apa kau mau melihat salju denganku?”

“Ne?”

“Datanglah kesini setiap siang hari saat turun salju. Kita melihatnya bersama,” kata Minho.

Hyun Mi berpikir sejenak lalu tersenyum. “Keurae. Aku setuju,” cetusnya lalu kembali menyapukan pandangan jauh ke depan.

Salju terus jatuh dengan lembut… Dan mulai saat itu, perasaan diantara mereka berdua tumbuh sedikit demi sedikit.

The End

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

21 thoughts on “Seven Last Days – Part 3 [END]”

  1. :O wuaah jadi ada 2 choi minho nih? ._.
    Daebaaak!!! Keren banget thooor :(( terharu banget minho meninggal waktu ada disisi yeojanya :(( daebak daebaak! 🙂

  2. author….author…daebak!!! 😉
    walaupun terakhirnya Minho nya mati
    tapi aku ttp suka cerita ini.
    huaaa….sabar yah Hyun Mi..
    kasihan juga sama Umma nya Minho.
    daebak! 😀

  3. sumpahhhhhhh……….. ini adalah ff pertama yang bisa buat aku ampe nangis nangis nangis nangis nangis nangis nangis……………. nangisnya ga cuma sekali, tapi ampe berkali kali tiap aku baca ff ini… emang sih aku terkesan lebay,, tapi emang bener ko ff ini feelnya dapet bgt….. pokoknya ff ini keren bgt lah,.,.. 1000 thumbs untuk author dan ff nya…:))))))

Leave a Reply to Lee Jongki (이 종기) Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s