{SKIP} A Year Love Story Part 15: In The End of Summer

A Year Love Story

{NC-18 SKIP} Part 15 — In The End of Summer

Author             : HanaKimchi a.k.a Hana Eonni (하나 언니)

Main Cast        : Lee Jinki (Onew), Lee Chaerin (Chaerin)

Support Cast   : Key, Jonghyun, Minho, Taemin, Raena, Ahra and so many others ………

Genre              : Romance, Humor, Family, Parental Guidance

Length             : Sequel

Rating             : {NC-21} NO CHILDREN!! STRONG WARNING!!

Summary         : Bagaimana perasaan Chaerin setelah malam itu? Akankah perasaan Onew tersampaikan atau terbalaskan oleh Chaerin? Akankah timbul masalah baru dari Ahra? Ataukah malah mengungkap motif Ahra yang sebenarnya?

Note                : ini SKIP version!!! Maaf yach yang masih UNDER AGE!!! Harus eonni PROTECT yg NC-21 nya. Buat editor dan staff SF3SI, thanks ya udah publish yang NC-18 SKIP nya dulu??? Gomawo and …… Happy reading yach???!!!

WARNING!! READERS UNDER 17, PLEASE HOLD BACK!! YOU CAN’T KEEP ON!!

 # WARNING ‘DIRTY WORDS’, ‘TABOO WORDS’, AND ‘VULGARISM’ #

~ ~ ~

*J* Quotes:

©      ‘No need to look for somebody who’s perfect. Just be happy with someone who’s perfect for you – #ihatequotes

©      ‘I can fake a smile when I feel horrible. I can pretend to be happy. But, what I can’t do is pretend that I don’t love you – #girlsdeals

©      Hana eonni said ‘Aku pernah mengalami titik yang paling rendah dalam hidupku. Dimana saat itu aku sudah menyerahkan nasibku pada keputusan seseorang yang akan membuatku melanjutkan ataukah menghentikan jalan hidupku. Seseorang itu berkata “Aku akan menemanimu untuk melanjutkan hidup, karena terlalu sayang jika kau menghabiskannya sendiri dalam keterpurukan. Aku akan menemanimu hingga kau menemukan saat yang kau impikan yaitu menjadi orang yang berarti untuk orang lain dan dirimu sendiri”. Dan sampai saat ini, seseorang itu masih bersamaku’

~ ~ ~

Few days later …

*J* Chaerin POV

Tak terasa seminggu sudah berlalu dan oppa plus para dongsaeng-nya akan pulang nanti malam. Mungkin sebaiknya aku belanja dan akan kubuatkan makanan special kesukaan mereka nanti.

Tiga jam kemudian … Wah, … akhirnya selesai juga. Tak sia-sia pengorbananku untuk bergumul dengan alat masak-memasak seharian penuh.

— KREK —

“We’re home …” teriak Jjong oppa yang langsung masuk dan merebahkan tubuhnya disofa ruang tengah.

“Nunaaaaaaa …” teriak si ‘Baby’ yang mencariku setelah melemparkan tas hitamnya disofa.

“Ne, … “ kini gantian aku yang berteriak dari dapur sambil membawakan ‘Fruit Cocktail’ untuk mereka.

“Sini … biar kubawakan” tiba-tiba Minho sudah muncul didepanku sambil melemparkan senyumnya dan langsung merampas nampan yang kubawa.

“Kau masak banyak sekali hari ini” tanya Key yang sudah duduk dimeja makan sembari mengamati beberapa sajian diatasnya, penasaran.

“Kalian pulang hari ini mana mungkin kusia-siakan. Cobalah” sahutku sambil menata piring mereka masing-masing. Lalu …

“Yeobo …” kurasakan ada yang memelukku dari belakang dan aku tahu siapa itu …

“Oppa? …” saat aku menoleh, Jinki oppa langsung mencium pipiku dan …

“YA! HYUNG!” teriak Key yang langsung menutup mata Taemin-nie seketika.

“UMMA! Jangan terus terusan menutup mataku seperti itu dong? Mereka kan suami istri … ya pantas saja kalo seperti itu” sela si ‘Baby’ sambil duduk dan mulai mengambil makanan yang terhidang dihadapannya.

“BABY! Aaiissshhhh …..” kini Key menggeleng gelengkan kepalanya heran, heran dengan reaksi si ‘Baby’ yang mulai berani membantah ‘Umma’ nya.

“Tolong lepaskan, apa kau tak malu dilihat mereka?” kataku sembari berbisik pada Jinki oppa dan berbalik menghadapnya.

“Ah, … biarkan saja. Saranghae~” sahutnya juga sambil berbisik ditelingaku.

— DEG —

Apa benar yang barusan kudengar? Kata terakhirnya …

“Ya, … Chaerin-ah. Pipimu …” sela Jjong oppa yang membuatku tersadar dari kebengonganku.

“Noel olgul wae geurae? (Why does your face?)” tanya Minho yang ada didepanku, heran.

“HEH?” sahutku kaget sambil memegang pipiku sendiri lalu duduk disebelah Jinki oppa dan mengambilkan sumpit dan sendok untuknya.

“YA! HYUNG! Apa yang kau katakan padanya hingga membuatnya salah tingkah seperti itu!” teriak Key tak jelas sambil mengunyah makanannya.

“Mwo? … Aiisshhh, kalian mau tahu saja” timpal Jinki oppa kebingungan atas pertanyaan Key tadi.

“Nuna, … neomu yeppo (really beautiful)” kata Taemin yang ternyata sedari tadi diam dan hanya memperhatikan tingkah konyol para hyung-nya.

“Ambogo? (you don’t eat?)” tanyaku pada Taemin-nie.

“Aaaaaa, mogo. Mana mungkin aku menyia-nyiakan masakan yang enak ini” sahutnya sembari mengambil makanan didepannya.

“Manhi mogo (eat a lot), nuna sudah buatkan ‘Banana Souffle’ juga” timpalku sambil memperhatikannya menikmati makanannya.

“Hwaaaaaaa, … nuna saranghae!” teriak Taemin menatapku dengan mata yang berbinar.

“TAEMIN-A! ‘Saranghae’ hanya aku yang boleh mengucapkannya, seperti tadi!” tiba-tiba jinki oppa berteriak padanya sambil mengacung-acungkan sumpitnya ke Taemin.

“Tadi? Jadi, … yang … AH! ARASSO!” kini gantian Key yang berteriak dan mengumbar senyum pada yang lainnya.

Jjong oppa dan Minho yang seketika berhenti mengunyah makanannya dan saling melempar pandang pada Key bergantian. Dan Key-pun kembali mengunyah makanannya sambil manggut-manggut dan tersenyum.

“Uri-do (we too) … saranghae” kata Minho dan Jjong oppa dan bersamaan mengalihkan kembali pandangan mereka ke makanannya.

“Gumanhae (stop it) … nikmati makanan kalian saja” potongku sambil berdiri dan berjalan menuju lemari es untuk mengambil ‘Banana Souffle’-nya si ‘Baby’ dan meletakkannya di ruang tengah.

Tak berapa lama kemudian, …

Lalu aku mengambil remote dan menyalakan TV dan memilih acara ‘drama’.

“Nuna, neomu masitta (really delicious)” sela Taemin yang sekarang duduk disebelahku.

“Taemina, nawa. Kau duduk sebelah sana saja” kata Jinki oppa yang menggeser Taemin kepinggir. Bisa dibayangkan dalam sofa itu aku disebelah kiri, Jinki oppa tengah dan Taemin-nie dikanan.

Bagaimana bisa mereka bisa berebut tempat seperti anak kecil? Hwahahahaha …

“Hyung …?” sela si Taemin, memelas sembari pouting his-pinkiest-lips-ever (*kwiyeopda …)

“Sudahlah, … oppa sebelah kiri dan ‘Baby’ sebelah kanan. Aku akan pindah kesana” kataku mengalah sambil berdiri. Tapi tangan Jinki oppa menarikku dan akhirnya aku terduduk ditengah, diantara Jinki oppa dan Taemin-nie.

“Yeobo, anjoso (sit down)” kata Jinki oppa.

“Baiklah, … mungkin sebaiknya kita pulang dan beristirahat” sahut Key sambil menarik tangan Taemin-nie agar berdiri dan mengambil tas mereka.

“Meja makan sudah bersih” kata Jjong oppa sembari melambaikan tangan padaku dan membuka pintu.

“Piring kotor sudah beres. Gomawo. Cha~” kata Minho sambil menutup pintu.

“NE!” teriakku pada mereka.

Tiba-tiba …

— CUP —

Kecupan lembut mendarat di puncak kepalaku.

“Gomawo” ucap Jinki oppa sambil menarikku kedalam pelukannya.

“Oppa, jilmuni issoyo (I have a question for you)” sela-ku ragu-ragu, tanpa berani menatapnya langsung.

“Mworago? (what?)” sahutnya pelan sambil terus menghujaniku dengan butterfly-kiss nya.

“That words, is that true? Sarang …” tanyaku lirih.

“Ah, kugo? … maja (that’s right)” jawabnya singkat. Jinki oppa tak melepas pelukannya, tangannya terus mengelus pundakku dan helaan nafasnya sangat terasa.

“Nan molla (I don’t know)” sahutku, lirih dan mungkin tak terdengar olehnya.

“Neon ajikdo (you, not yet)” selanya.

Setelah itu Jinki oppa berdiri meraih remote TV lalu mematikannya dan menatapku lembut sekilas. Kemudian meraih dan membopong tubuhku ala bridal style masuk ke kamar kami dan menutup pintu dengan punggungnya.

“Oppa? … turunkan aku …” sahutku berontak dari gendongannya.

“AH, wae?” jawabnya santai.

Oppa membaringkan tubuhku diranjang dan segera melucuti kaos yang dipakainya (*AYO JINKI, SEKARANG SERAAAAAAAAANG!!! #plak)

“Wow wow wow, … what are you going to do now?” tanyaku kaget lalu bangkit dari bed.

“I miss you” timpalnya sambil menangkap tubuhku dan langsung mencumbuku.

“O.. o.. oppa” jawabku yang mungkin tak digubrisnya sama sekali.

Jinki oppa sudah mengunci tubuhku sekarang. Kedua tangannya yang lumayan kuat memelukku erat, bibirnya sudah menjelajahi semua bagian wajahku mulai dari kening, mata, pipi, hidung dan bibirku sekarang.

Ternyata … butterfly-kiss nya sangat lembut dan tak juga berhenti. Tangannya sudah mulai mengarah pada kemeja yang kupakai dan mulai melucuti kancingnya satu-persatu. Dalam hitungan detik, … kemejaku terlepas sempurna dari tubuhku kini.

“Oppa … tolong hentikan” pintaku padanya.

Kedua tanganku terus mencengkeram bahunya, tapi tak kuasa mendorong tubuhnya agar menjauh. Kini, … oppa tangannya mulai membelai punggungku, seperti mencari-cari sesuatu dibaliknya. Tak seberapa lama, kurasakan tanganya menemukan yang dicarinya.

Ya, … pengait bra-ku.

“Aku akan melepaskan semua penghalangnya malam ini juga yeobo” bisiknya ditelingaku.

—– SKIP —– SKIP —– SKIP —–

Mulutku terasa terkunci, ingin berteriak tapi tak ada suara yang keluar. Ingin bangkit tapi terasa tak bergerak sama sekali dan membeku (*freeze mode-on). Tubuhku tiba-tiba panas dingin dan serasa berada dialam lain. Jinki oppa mulai mendekatiku, mencium setiap lekuk tubuhku dari mulai ujung kaki dan … akhirnya berhenti dibelahan dadaku.

—– SKIP —– SKIP —– SKIP —–

Dada Onew naik turun dan keringat membanjiri kulitnya lalu matanya terus menelusuri tubuh Chaerin yang sudah banyak bercak merah kiss mark buatannya tadi. Onew-pun tersenyum tipis saat melihat wajah Chaerin tampak kelelahan. Wajahnya sangat cantik dalam kondisi seperti itu, pucat, matanya lemah dan sayu, rambutnya agak berantakan dan kulitnya mengkilat akibat keringatnya.

“Saranghae~, chongmal saranghae” bisik Onew saat menatap Chaerin mesra. Onew mengecup keningnya, mengusap peluhnya dan ditariknya selimut yang tadi sudah berserakan dibawah untuk menutup tubuh mereka. Onew sempat melihat bercak darah di seprai yang bercampur dengan cairan miliknya dan ia sedikit terkejut.

“Mianhae, baby. Kau berdarah dan itu pasti sakit sekali ya?” kata Onew sambil membenahi selimut untuk istrinya.

“Ne … neomu aphu (it’s really hurt)” sahut Chaerin lirih yang masih mengatur nafasnya.

“Tidurlah, kau pasti lelah” kata Onew yang hanya diikuti oleh anggukan Chaerin pelan. Tangan Onew menelungsup kebawah leher Chaerin, dia memeluknya dari belakang seolah-olah enggan melepaskannya malam ini. Dibelainya dengan lembut rambut coklat Chaerin dan Onew tak menghentikan ciuman lembutnya ke puncak kepala Chaerin saat ini.

“Ne …” sela Chaerin sembari menutup matanya menuju ke alam tidurnya.

“Cha~” ucap Onew pelan tanpa melepaskan pelukannya ke Chaerin bahkan kini lebih mempereratnya.

Saat Chaerin mulai terlelap, Onew masih membuka matanya dan berkata pada dirinya sendiri  …

“Tahukah kau, pada akhirnya aku harus menelan kata-kataku sendiri. Sekarang aku benar-benar jatuh cinta padamu, walaupun hati dan pikiranku sering berjuang untuk menghindarinya. Aku tak mampu, aku tak mampu untuk menipu hatiku sendiri, tak mampu untuk mengakui kalau aku telah kalah. Kalah dalam peperangan yang kuciptakan sendiri, peperangan melawan hatiku dan diriku sendiri. Bisakah kau memaafkanku? Bisakah kau memberiku sedikit ruang dihatimu? Bisakah suatu hari nanti cintaku ini terbalaskan? Mianhandago, kamsahago, saranghandago” ucap Onew lirih.

*J* Chaerin POV

Aku … tak bisa berbuat apa-apa.

Walaupun sebenarnya sudah terjadi rasanya seperti mimpi saja. Aku sangat menikmatinya, menikmati setiap inci dan setiap detik ke-intim-an ini.

Ya, … aku memang mendengar semua yang diucapkannya tadi. Apakah itu benar?

Jinki oppa kini tertidur pulas, polos tanpa sehelai benang pun begitu pula aku.

Tapi mengapa aku menangis sekarang? Mengapa hatiku terasa sakit sekaligus bahagia?

Sakit apa yang kurasakan ini? Bahagia akan apa juga?

Apa sakit karena hubungan intim kami barusan?

Atau bahagia karena Jinki oppa mulai mencintaiku?

Aku tak tahu apa yang harus kulakukan …

~ ~ ~

In the morning …

*J* Author POV

“Emmpphhhh …” Onew menggeliat pelan lalu membalikkan badannya. Dengan mata yang masih tertutup, tangan kanannya meraba-raba sesuatu.

Tiba-tiba dia terkesiap dan bangun, melihat dirinya sendiri yang … telanjang dalam balutan selimut. Sedangkan yeoja yang ada disampingnya tadi malam … sudah tidak ada disebelahnya lagi.

“Yeobo …!” Onew mulai berteriak memanggil seseorang. Istrinya.

Tapi tak ada sahutan dan itu membuatnya heran. Lalu Onew bangkit dan memakai boxernya yang tergeletak di bawah kemudian mengambil training hitam di almari.

Onew berjalan keluar kamar dan menuju ruang makan dan melihat sarapan sudah terhidang. Tapi, … ada secarik kertas yang terselip dibawah cangkir kopinya. Karena penasaran, diambil dan dibacanya.

Oppa, … enjoy your breakfast.

Let me alone for a while, please …

© Chaerin

— KREK —

“Hyung, … good morning” tiba-tiba Key masuk bersama dengan Jjong. Mereka berdua langsung menghampirinya saat melihat Onew berdiri di depan meja makan dalam keadaan diam.

“Wae geurae? (why?)” tanya Jjong saat melihat Onew membawa catatan ditangannya.

“Igo mwoya? (what is this?)” kini Key langsung merampas catatan itu dan membacanya.

Sedangkan Onew hanya bisa terduduk dikursi makan sambil menelungkupkan kepalanya di meja.

“Kenapa kau tak pakai baju? Punggungmu kenapa?” selidik Jjong sambil duduk didepan Onew.

Ya, … punggung hyung-nya yang merah penuh dengan cakaran (?) Chaerin semalam.

Dan Key pun melihatnya pula …

“What happened last night?” pertanyaan Key yang to-the-point berhasil membuat Onew mengangkat kepalanya dan duduk tegak kembali, walau terlihat dipaksakan.

“Opso (nothing)” jawab Onew, sembari menggelengkan kepalanya lemas.

“Jangan katakan kalo kalian sudah melakukannya tadi malam” potong Jjong yang berhasil membuat mulut Key menganga lebar karena kaget. Dan Onew hanya bisa … mengangguk mengiyakan.

“Aiiissshhhh, … chigeum Chaerin odiga? (now, where is Chaerin?)” tanya Key dengan nada yang agak tinggi yang membuat Jjong dan Onew kaget.

“Nan mollaso (I don’t know). Ah, neo wae kapchagi? (why you suddenly like this?)” Onew yang terlihat tidak terima dengan pertanyaan Key tadi menjawab dengan nada yang tinggi.

“Hyung, apa kau tahu kalo Chaerin masih butuh rawat jalan. Apa kau tahu kalo Chaerin belum boleh melakukan aktivitas yang berat. Apa kau tahu kalo Chaerin tak boleh merasakan tekanan apapun. Apa kau tahu kalo …!” kini Key menghentikan teriakannya dan membuang catatan kecil yang dibawanya tadi. Key berjalan menjauh dan menghela nafasnya berat, terasa ada kekhawatiran yang dalam.

“Katakan padaku!” Onew kini bangkit dari duduknya dan berteriak pada Key. Sedangkan Key hanya menanggapinya dengan senyuman aneh dan tatapan yang seolah olah enggan menjelaskan.

“KIM KI BUM! KATAKAN YANG SEBENARNYA!” teriakan Onew … ternyata membuat Minho dan Taemin menghampiri mereka. Kini Minho dan Taemin berdiri di depan pintu dengan nafas terengah-engah, mulut yang bengong dan tatapan yang penuh tanya.

“Hyung …” sela Taemin lirih, tak berani mendekat. Para SHINee member tahu bagaimana jika Leader mereka, Onew, dalam keadaan marah. Jangankan mereka bahkan siapapun tak sanggup untuk menghentikannya.

“Yang kutahu … operasi yang dilakukannya sangat beresiko. Retakan di tempurung kepalanya membuat pembuluh darahnya pecah dan meninggalkan gumpalan darah. Memang gumpalan darah itu berhasil diangkat, tapi …” Key tak berani meneruskan penjelasannya.

“Tapi apa?” bentakan Onew-pun tak terhindarkan lagi.

“Chaerin terancam kehilangan sebagian memorinya” lanjut Key sambil menghela nafasnya dalam dalam. Dan, …

“MWO?” teriak Jjong, Minho dan Taemin bersamaan. Tak percaya akan apa yang barusan mereka dengar. Onew jatuh terduduk dilantai, wajahnya berubah pucat, pikirannya kosong dan shock …

Tiba tiba, … air matanya menetes jatuh.

“Hyung, …” Minho mendekati Onew dan menepuk punggungnya pelan.

“Kita akan mencarinya bersama” ucap Jjong sembari berjongkok didepan Onew.

“Aku akan tanya Raena, mungkin dia tahu” sahut Key sembari mengeluarkan ponselnya dan langsung menelfonnya.

“Aku akan menemui Dokter Jung sekarang” sahut Onew lalu bangkit dan masuk kekamarnya.

Di ruang tengah …

“Hyung, ottohke?” Taemin terlihat cemas sambil mengguncang guncangkan tangan Minho.

“Taemin-na, gokchonghajima (don’t worry). Kita akan berusaha” sahut Minho menenangkan dongsaeng kesayangannya yang hampir menangis. Hanya Minho-lah yang bisa diandalkan untuk menenangkannya karena kata kata Minho-lah yang paling dianggapnya.

Tak seberapa lama Onew keluar kamar dan sudah berpakaian rapi sambil menenteng jaket kulitnya. Lalu Onew menuju ruang tengah dan mengambil kunci mobil yang berada di rak atas TV.

“Key-a, … otte?” tanya Onew datar sambil mengecek hp-nya.

“Raena belum tahu dimana Chaerin sekarang. Dia akan mengabari kita jika Chaerin menelefon” jawab Key sesaat setelah menutup sambungan telefonnya dengan Raena.

“Hyung, … aku akan bilang pada Manager hyung tentang masalah ini. Kita masih punya waktu 2 hari lagi sebelum kita tugas untuk MuCore” jelas Minho yang diikuti anggukan para dongsangnya yang lain.

“Ara, … tolong kabari aku. Apapun itu” pinta Onew saat keluar dari pintu dan berjalan menuju lift.

“Aku akan temui Raena sekarang. Taemin-nie, … sekalian kuantar kau kesekolah” kata Key sambil menggandeng tangan Taemin keluar apartemen.

“Kita sebaiknya bicara dengan Manager hyung sekarang”  timpal Jjong yang diikuti anggukan Minho.

~ ~ ~

Two days later …

*J* Jinki POV

Sudah dua hari Chaerin tak ada kabar.

Hari ini aku dan Minho harus menyelesaikan tanggungan kami sebagai MC di MuCore. Tugas itu terasa berat untuk hari ini, pikiranku tak bisa terfokus secara sempurna. Hatiku galau bukan main karena sampai sekarang, keberadaan Chaerin belum diketahui.

“Hyung, kwaenchana? (are you allright?)” suara Minho membuyarkan lamunanku. Kami sekarang dalam perjalanan pulang ke dorm setelah menyelesaikan syuting.

“Kau tak usah khawatir, kami semua berusaha mencari informasi keberadaan istrimu itu” kata Manager hyung yang sedari tadi terdiam, duduk di jok depan.

“Mianhae, … sudah merepotkan” selaku pelan sembari bersandar dan menatap kosong keluar mobil yang sedang melaju.

“Sudahlah, … jaga saja kesehatanmu. Kau terlihat pucat karena kurang tidur” timpal Manager hyung lagi.

“Aku menaruh vitamin di kotak obat kemarin. Setelah makan, minumlah hyung. Jangan sampai kau sakit” suruh Minho sambil menelungsupkan bantalan jok mobil dibelakang tengkukku.

“Ehm” aku hanya bisa mengangguk saja. Manager hyung dan Minho apalagi dongsaengku yang lain mencemaskanku karena mereka sudah tahu akan kondisi kesehatanku yang gampang menurun.

Dalam kepalaku sekarang ‘Kau dimana? Apakah aku terlalu menyakitimu malam itu? Apa yang harus aku lakukan untuk minta maaf? Mengapa kau tak mengatakan sesuatupun tentang kondisimu kemarin? Apakah kau tahu kalo aku sangat khawatir sekarang?’

~ ~ ~

At Konkuk cafetaria …

*J* Raena POV

“Raena-ya, katakan padaku dimana Chaerin sekarang? Bukankah kau sudah berjanji” pinta Key merengek dan setengah memaksa.

“Jawab pertanyaanku dulu, jujur” selaku sebelum Key bertanya lebih jauh.

“Arasso” sahutnya mantap.

“Chaerin-ah choayo? (do you like Chaerin?)” tanyaku langsung, tanpa basa-basi.

“Ne, but it’s very different” jawab Key tanpa keraguan.

“Different?” kini aku yang balik bertanya padanya.

“I let her happy … she loves Onew hyung and vise versa” sahutnya pasti.

“Kau hanya terhanyut …”  selaku sambil tersenyum padanya.

“Now, tell me where is she and I know … you keep a secret from me” selidiknya padaku.

“I’ll tell you but, … berjanjilah padaku tak kan mengatakannya pada Jinki-ssi” pintaku padanya.

“Baiklah” sahutnya singkat.

“Operasi kemarin bukan hanya mengangkat gumpalan darah tetapi juga … tumor stadium 2B. Lee ahjussi ingin aku merahasiakan hal ini, tapi aku tak bisa menanggungnya sendirian. Key-ssi … mianhae … chongmal mianhae” jelasku padanya.

“Tumor stadium 2B! Hal itukah yang ternyata mengancam memorinya?” kini Key melotot tak percaya.

“Ne, … termasuk kelelahan, pingsan, minuman bersoda, tekanan emosi bisa mengikis memori dan daya ingatnya sedikit demi sedikit” jelasku lagi padanya.

“Pantas saja tiba-tiba berubah pucat setelah pulang kemarin. Yeoja itu pasti memberinya minuman bersoda” kini Key terlihat aneh.

“Go Ahra?” tanyaku heran.

“Saat kalian bertemu dikafetaria, apa yang diminum Chaerin?” Key bertanya padaku tentang hari itu.

“Ahra-ssi mentraktir kami makanan dan minuman, memang warnanya seperti wine tapi bukan wine dan agak masam seperti cola” jelasku padanya.

“Lain kali, jangan makan atau minum apapun yang diberikannya pada kalian. Itu bisa mencelakakan Chaerin nantinya” pinya Key padaku.

“Maksudmu … Ahra punya maksud yang tidak baik pada Chaerin?” selaku yang langsung paham apa yang dimaksudnya.

“Iya, … benar” Key kini terdiam. Akupun juga. Kami terlihat sangat shock akan hal yang baru terungkap. Aku tidak menyangka kalo hal ini akan terjadi pada Chaerin.

“Bagaimana mungkin …” sahutku heran.

“Berhati-hatilah padanya mulai sekarang. Lalu Chaerin, …” kini Key melihatku dengan pandangan yang sangat menginginkan jawabanku yang pasti tentang keberadaannya.

“Dia hanya bilang ingin menyepi di Incheon. Apa kau tahu tempatnya?” selaku diantara kebisuan kami. Lalu Key tersenyum dan mengangguk.

To Jinki hyung: Hyung, … Chaerin di Incheon. Jemputlah.

~ ~ ~

In Incheon, ……

*J* Chaerin POV

Aku teringat kejadian malam itu, malam dimana Jinki oppa menyentuhku. Aku adalah istrinya dan aku sadar, … tak ada seorang suami yang kuat menahan nafsunya selama 4 bulan lebih tanpa keinginan untuk tidak menyentuh istrinya sama sekali. Tapi, … mengapa hal itu terjadi tiba-tiba dan bagiku terasa seperti paksaan. Paksaan?

Mungkin aku saja yang merasa belum siap, belum siap menerima fakta bahwa sekarang aku adalah istrinya yang sah. Istri seorang Lee Jinki, si ‘SHINee Leader’ yang di alam nyata sangat dipuja oleh setiap yeoja (*baca SHAWOLS). Sebagai seorang istri yang seharusnya melayani dan membaktikan dirinya pada sang suami.

Hatiku terasa bergolak, ada pertentangan dalam hatiku. Jujur, … aku tak bisa mengenali hatiku sendiri antara kewajiban ataukah cinta. Jika ini hanya kewajiban dan rasa tanggung jawabku pada Tuan dan Nyonya Lee, mengapa hatiku sakit saat mengetahui keberadaan Ahra. Jika ini cinta, mengapa ada rasa ketakutan akan hutang budi yang takkan bisa terbayar.

Kebaikan Tuan dan Nyonya Lee yang terasa takkan terbalaskan oleh apapun. Bagaimana jika Jinki oppa tahu akan hal ini? Apa yang harus kukatakan padanya? Aku tak bisa melanggar janjiku pada Tuan dan Nyonya Lee, tapi tak bisa mengingkari hatiku sendiri akan perasaanku pada Jinki oppa bahkan setelah mendengar perkataannya malam itu.

Oppa, … aku takut. Aku sungguh takut jika ini memang rasa cinta. Bukan takut karena aku harus bersaing dengan para fans-mu yang notabene adalah nomor satu di hatimu, dihati SHINee. Tapi takut bahwa aku tak sempurna dan tak sepadan untukmu. Karena kau berhak untuk memperoleh segala kesempurnaan itu.

“Aaaahhh, … mungkin sebaiknya aku kembali sekarang” kataku sambil memakai topi yang sedari tadi berada disebelahku. Pemandangan pantai ini lumayan indah saat sore tiba. Jinki oppa memang pintar memilih tempat ini sebagai tempat persembunyiannya dan para member jika penat mendera mereka.

———

Saat tiba dikamar, aku terasa heran mengapa pintu (geser) balkon masih terbuka. Seingatku tadi, aku sudah menutupnya sebelum aku menuju pantai. Ah, … mungkin Nyonya Hong masuk dan membersihkan kamar lalu lupa menutupnya.

“Mungkin sebaiknya aku mandi dulu sembari menunggu makan malam datang” kataku pelan. Aku mulai meletakkan topi yang kupakai diatas sofa dan melepas selendang pantai yang melilit tubuhku.

“Mengapa kau tak mengabariku?” terdengar suara seorang namja diluar balkon.

“Uuuppssss, …!” lonjakku kaget dan segera berlari ke sumber suara, di balkon.

Kulihat Jinki oppa disana, memandang lepas ke pantai lalu menoleh tajam kearahku. Tatapan matanya yang terasa menakutkan, seolah olah menginginkan penjelasan dariku saat itu juga. Tak tersungging sedikit senyumanpun dari sudut bibirnya.

“O.. o.. oppa?” selaku pelan dan terbata-bata. Aku tertunduk, resah, takut dan merasa … bersalah.

“Apa kau tak tahu bagaimana perasaanku saat bangun kau tak ada disampingku!” kini Jinki oppa mulai berteriak dan mencengkeram kedua lenganku. Dan yang bisa kulakukan hanya menggeleng pelan, tak tahu apa yang harus kukatakan.

Hanya menunduk pasrah.

Aku bingung.

“Apa kau ingin membuatku gila karena terus menghawatirkan keadaanmu? Apa kau tahu berapa kali aku sudah kena marah sutradara karena tak bisa berkonsentrasi? Apa kau juga tahu bagaimana bingungnya Key dan Minho mencari informasi tentang keberadaanmu tiga hari ini? Apa kau juga tahu bagaimana Taemin-nie yang terus merengek dan memohon ingin ikut mencarimu? Apa kau sempat memikirkan itu semua?” kata-kata Jinki oppa yang panjang terasa sangat menyesakkanku sekarang.

— DEG —

Sebesar itukah kekhawatiran mereka? Hiks … hiks … hiks …

Tubuhku merosot kelantai, tak berdaya dan terasa sangat tak bertenaga setelah mendengar perkataan Jinki oppa tadi. Tangisku pun pecah, karena sudah tak bisa kutahan rasa bersalahku. Mengapa kini aku merasa sangat buruk? Sangat jahat dan tak berperasaan pada mereka.

Kurasakan sebuah pelukan, pelukan yang terasa hangat di akhir musim panas ini. Hangatnya pelukan tangan seorang Lee Jinki, saat ini dadanya terasa sangat tegas memelukku.

“Mianhae … chongmal mianhae …” racauku lirih, terasa sangat berat kurasakan.

“Huussshhhh, … sudahlah. Kau tahu? Betapa leganya hatiku setelah menemukanmu sekarang” ucap Jinki oppa setelah mengecup puncak kepalaku dan kini mengelus punggungku lembut.

“Oppa … chongmal mianhae?” kini aku mulai berani menengadahkan sedikit kepalaku untuk melihatnya. Dan saat mataku sudah terfokus padanya, kulihat senyumnya yang manis sembari menganggukkan kepalanya. Lalu, …

— CHU —

Dikecupnya lembut bibirku.

Mataku seketika terbelalak lebar, tak mampu menyembunyikan kekagetanku sendiri.

Semenit … bahkan lebih, tak terasa ciuman Jinki oppa sudah melebihi batasnya.

Terus kupandangi wajah Jinki oppa saat menciumku, matanya rapat terpejam seolah enggan untuk membuka. Secara tak sadar, aku dan Jinki oppa kini sudah berdiri dalam keadaan tetap berpelukan. Bahkan … lebih erat dari sebelumnya.

Pada kenyataannya, … hatiku-pun tak sejalan dengan otakku sekarang, dan itu membuat mataku-pun ikut terpejam. Rasanya, ingin kunikmati ciumannya ini, disini, saat ini juga bahkan seterusnya.

J To Be Continued J

Don’t be passive reader, your critics and suggestions could make anyone or anything better.

Author’s note:

Sorry … bagi yang gak suka NC-nya … kurang hot atau gak nge-feel, … maaf juga ya???

Bagi yang 21 kebawah … MAAF … HARUS DIPROTECT!!!

Karena tahu bahwa para readers ada juga yang masih ‘dibawah’ umur … (*hayooooo … yang ngaku-ngaku pasti ketahuan ya???)

 

Arogatou gozaimasu ~~~

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
Advertisements

52 thoughts on “{SKIP} A Year Love Story Part 15: In The End of Summer”

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s