Hwasal – Part 3

Title : Hwasal part 3

Author(*) : Choi Minjin

Main Cast(*) (Tokoh Utama) : Choi Minho, Kwon Yuri

Support Cast(*) (Tokoh Pembantu) : Lee Jinki, Kim Jonghyun, Lee Taemin, Kim Kibum, Lee Sooman, Jung Yunho, Park Junsu

Length(*) :sequel

Genre(*) : romance

Rating(*) :PG-15

NB : annyeong lagi. ini part terakhir dari ‘hwasal’. waktu nulis part ini aku nangis (sedikit). masih banyak kekurangan, berhubung ini ff pertamaku. ditunggu komennya yaa..

Peringatan itu cukup mengganggu Minho, mengingat kenyataan ia diterima di sekolah ini adalah salah satu anugerah besar baginya. Ditambah lagi pandangan benci Yuri yang diterimanya, rasanya panah-panah baru mulai menancap lagi di hatinya. Berkali-kali lebih perih dan lebih berdarah dibanding sebelumnya.

Berhari-hari setelah kejadian itu, Yuri masih marah padanya. Ia dan Jonghyun semakin sering menghabiskan waktu berdua. Sekarang sudah genap seminggu. Minho merasa ia sedang diawasi oleh kedua tangan kanan kepala sekolah, Jung Yunho dan Park Jungsu. Tetapi ia tidak terganggu sama sekali. Ia semakin sering menghabiskan waktu-waktu kosongnya dengan tidur. Setidaknya ketika tidur ia tidak melihat Yuri dan Jonghyun, sehingga bisa sedikit meredakan perih hatinya.

Siang ini ia dan Onew sedang duduk berdua di bawah sebuah pohon. Onew memainkan gitar dan menyanyikan lagu untuk menghibur Minho. Terkadang ia menampakkan bakat khasnya, menirukan suara bebek. Minho sempat tersenyum melihatnya. Tapi kemudian murung lagi.

Minho memandang ke kejauhan, ke arah gedung seni. Setahunya saat ini Yuri sedang berlatih balet disana. Lalu ditangkapnya sosok Jonghyun, memasuki gedung itu. Apa yang dilakukannya disana? Minho berdiri. Seluruh tubuhnya memimpinnya pergi kesana, meskipun hatinya meronta-ronta, takut akan tersakiti lagi. Tapi kakinya bersikeras membawanya kesana.

Minho mengikuti Jonghyun sampai memasuki ruang balet. Ia mengintip dari sela-sela pintu yang sedikit terbuka. Yuri sedang berlatih sendiri. Ia terhenti begitu melihat Jonghyun masuk.

“Jagi.”

Yuri tersenyum. Ia menghampiri Jonghyun,”Ada apa kau kesini?”

“Aku ingin mengatakan sesuatu.”

Yuri memiringkan kepalanya, matanya mengerjap,”Apa?”

Jonghyun menggaruk-garuk kepalanya,”Sebaiknya hubungan kita, sampai disini saja.”

Yuri mematung. Ia memandang Jonghyun tidak percaya,”Lucu sekali Kim Jonghyun. Seakan-akan kau baru berkata kau mau mencapakkan aku.”

“Yuri-yah.”Jonghyun mengelus kepala Yuri,”Bukannya aku tidak mencintaimu, tapi..”

Air mata Yuri pecah. Ia menepis tangan Jonghyun,”Kau ini jahat sekali. Kau memohon-mohon aku untuk membuka hati untukmu. Aku berusaha. Aku berusaha mencintaimu hanya untuk kau campakkan seperti  ini!”

Melihat air mata Yuri, kemarahan Minho tidak bisa dibendung lagi. Ia menerobos masuk lalu dengan sekuat tenaga memukul wajah Jonghyun.

Yuri menjerit. Ia menutup mulut dengan telapak tangannya. Minho mencengkeram kerah baju Jonghyun,”Kurang beruntung apa kau ini hah?? Kenapa kau tega menyakiti hati sebuah permata? Aku sudah memperingatkanmu! Kenapa kau begitu pengecut? Kau bahkan tidak meminta maaf padanya! Kurang ajar kau, Kim Jonghyun!”ia melayangkan sebuah pukulan lagi ke pipi kiri Jonghyun.

“Hentikan.”sebuah suara dingin menusuk menghentikan Minho. Ia melepaskan cengkeramannya, lalu menoleh. Dilihatnya Lee Sooman, diapit oleh Yunho dan Leeteuk.

Jonghyun menggunakan kesempatan ini untuk berdiri tegak, lalu menghindar sejauh mungkin dari Minho.

“Aku sudah memperingatkanmu bukan, Choi Minho? Beruntung ada seorang siswa yang melihatmu mengikuti Kim Jonghyun kesini. Lalu ia melapor pada Jung Yunho ini. Sehingga aku bisa melihat adegan laga ini secara langsung.”

Minho tidak berkata apa-apa. Dia hanya memandang, langsung ke mata Lee Sooman.

“Choi Minho. Mulai detik ini kau bukan lagi siswa sekolah ini.”

~~~~~

Pagi ini mendung. Yuri duduk di kursinya yang biasa. Hatinya yang dipermainkan Jonghyun masih sakit. Ia teringat ketika Minho memukul Jonghyun di ruang balet hari itu, beberapa hari yang lalu. Minho memukul Jonghyun untuk membelanya. Hatinya tersentuh oleh rasa kasih dan rasa bersalah. Ia menangis semalaman setelah kejadian itu. Bukan menangisi Kim Jonghyun, tetapi Choi Minho. Minho yang harus dikeluarkan dari sekolah karena dia.

Pintu kelas terbuka. Dilihatnya Onew memasuki kelas. Yuri teringat lagi kejadian itu, setelah ia pulang ia bertemu Onew di pintu gerbang. Masih terngiang di kepalanya kata-kata Onew,”Kau ini gadis bodoh, Kwon Yuri. Bagaimana mungkin kau tidak melihat emas berkilauan di hadapan matamu dibanding playboy busuk itu? Tidakkah kau tahu, seberapa besar Minho mencintaimu?”

Iya, aku bodoh. Yuri menutup matanya. Aku buta.

Pintu kelas terbuka lagi. Kali ini Kim Kibum masuk. Taemin di belakangnya. Kibum berkata dengan ceria pada teman-temannya.

“Rasanya jauh lebih menyenangkan bukan, tanpa si Minho itu?”

Yuri membuka matanya. Ia menoleh kepada Kibum yang duduk di atas meja, bercerita heboh pada teman-temannya. Bukan hanya dia yang menoleh, Onew dan Taemin pun langsung memusatkan perhatian pada Kibum.

“Sungguh tidak enak setiap hari melihatnya tidur-tiduran dimana-mana. Benar-benar mengganggu. Kepala sekolah membuat keputusan yang tepat. Untung saja saat itu aku melihat Minho mengikuti Jonghyun. Aku sudah menduga si berandalan itu akan melakukan sesuatu yang buruk.”

Onew menerjang Kibum. Suasana kelas menjadi heboh. Mereka semua mengerubungi Onew dan Kibum. Saat itu Onew pasti sudah menghajar Kibum kalau saja Taemin tidak menghadangnya.

“Jadi kau yang mengadukan Minho? Dasar, pencari muka tidak tahu diri!”Onew berusaha melepaskan pegangan tangan Taemin. Taemin membisikinya,”Tenanglah, Onew.”

Yuri berdiri. Ia ingin melihat lebih jelas apa yang terjadi.

“Huh.”Kibum bangun. Ia membersihkan celananya dari debu, lalu berkata menantang,”Dia itu memang menyebalkan, tidak berguna. Pantas jika dikeluarkan.”

“Berhenti bicara hal-hal buruk tentang Minho! Kau tidak tahu apa-apa tentangnya.”Onew berkata geram. Sunyi. Semua orang memfokuskan perhatian pada mereka berdua.

“Memangnya apa yang harus kutahu tentang dia?”

Onew menggeram, kesabarannya sudah habis,”Kenapa Minho selalu tidur di sekolah? Kau tahu kenapa? Karena dia tidak bisa tidur di malam hari. Kau tahu kenapa dia tidak bisa tidur di malam hari?”Onew menarik nafas panjang,”Karena dia terlalu sakit untuk tidur!”

“Apa maksudmu?”Taemin melepaskan pegangan tangannya. Ia, bahkan Kibum tertegun, menunggu kata-kata Onew selanjutnya.

“Minho.. dia menderita sirosis. Penyakit hati.”Onew menghembuskan nafas. Semua orang terkesiap. Taemin begitu kagetnya sampai-sampai ia jatuh terduduk.

“Setiap malam dia tidak bisa tidur. Rasa sakit selalu menghalanginya untuk tidur. Pagi dan siang hari dia minum obat khusus untuk meredakan rasa sakitnya. Obat itu mahal, jadi dia berusaha meminimalisasi penggunaannya. Dia hanya meminumnya pagi dan siang hari, walaupun saat malam ia jadi sangat kesakitan. Katanya di sekolah dia masih bisa menahan kantuk, tapi akan sangat sulit untuk menahan rasa sakitnya. Keluarga pamannya selalu menyuruhnya untuk menjalani perawatan di rumah sakit. Tapi dia tidak mau.” Onew menghembuskan nafasnya lagi. Maafkan aku, Minho. Aku telah mengatakannya.

Sunyi. Semua orang begitu terkejutnya. Bukankah sirosis itu mematikan? Satu-satunya jalan untuk sembuh adalah mendapat donor hati. Kibumlah yang terlihat paling terpukul. Mukanya pucat. Taemin menutup mulutnya dengan telapak tangan. Jadi kenyataan semacam itulah yang menjadi jawaban atas pertanyaannya selama ini.

Onew menoleh pada Yuri, yang berdiri di baris paling belakang di kerumunan. Ia berjalan tanpa menarik perhatian ke arah Yuri. Berhenti di hadapan Yuri, lalu berbisik, pelan sekali sehingga hanya Yuri yang bisa mendengar kata-katanya,”Dan tahukah kau kenapa Minho tidak pernah mengungkapkan perasaannya padamu selama ini? Itu karena dia tahu bahwa ia tidak punya cukup banyak waktu untuk membahagiakanmu.”

Yuri jatuh berlutut. Ia tidak bisa menahan air matanya.

~~~~~

Hujan turun sangat deras. Tidak ada yang memperhatikan pelajaran siang ini. Semua orang masih terkejut dengan apa yang mereka dengar tadi pagi. Yuri tidak duduk di tempat biasanya ia duduk. Ia duduk di tempat duduk Minho, di sebelah jendela yang menghadap halaman sekolah, di depan tempat duduk Taemin.

Yuri memandang tempat duduknya di depan. Tempat ini adalah tempat yang paling tepat untuk melihat dirinya ketika duduk disana. Ia tersenyum pedih saat memikirkan Minho, yang memandanginya sambil menahan kantuk dan sakit sepanjang pagi hingga sore.

Ia meraba permukaan meja. Merasa hangat membayangkan Minho pun pernah meraba meja ini. Ia memasukkan tangannya ke laci. Merabanya. Tangannya menangkap sesuatu di dalamnya. Kertas? Yuri mengambilnya. Begitu melihat benda yang ditemukannya, ia terkesiap.

Itu adalah foto dirinya. Ia ada di rumah kaca, sedang memegang setangkai mawar ungu, tertawa ceria. Tangan gemetar Yuri membalik foto itu. Dibaliknya terlihat tulisan tangan Minho :

My Love,

Even if I can’t be with you,

Even if my feelings end, barred by a wall of destiny,

I love you,

Even if I can just be somewhere where I can see you,

Because you’re my everything

Setetes air mata jatuh, tepat di atas tulisan Minho. Lalu tetes berikutnya, dan tetes berikutnya lagi. Yuri menangis tanpa suara. Ia membekap mulutnya dengan tangannya. Hatinya pedih, dilanda rasa haru dan kasih yang teramat besar. Kenapa ia tidak pernah menyadari keberadaan Minho sebelumnya? Minho yang begitu tulus mencintainya. Kenapa tanpa sadar, ia justru selalu menyakiti hati Minho?

Yuri membaca tulisan itu lagi. Ia menyadari satu hal hari ini. Ia telah menemukan harta yang teramat berharga hari ini. Tapi kenapa baru hari ini? Disaat ia menyadari, bahwa hartanya itu tidak lama lagi akan pergi.

Yuri mengalihkan pandangannya ke luar jendela, tidak ingin wajah menangisnya dilihat orang. Dia melihat pintu gerbang di kejauhan, lalu terkesiap sekali lagi.

Disana, di luar pintu gerbang, berdiri sebuah sosok. Jangkung, memakai jaket yang familiar. Yuri berdiri. Tanpa memedulikan siapapun ia berlari. Ia terus berlari, keluar ruang kelas, menuruni anak tangga, melewati halaman berumput, menerobos hujan. Ia tidak peduli seluruh badannya basah kuyup. Ia hanya ingin menemui Minho.

Dia ada disana. Di luar pintu gerbang. Yuri berhenti berlari. Ia berhadapan dengan Minho, hanya dihalangi teralis-teralis besi.

Minho basah dari ujung kepala sampai ujung kaki. Mukanya sangat pucat. Bibirnya sudah membiru. Yuri menjulurkan tangannya melalui sela-sela teralis untuk membelai wajah Minho,”Kau.. pucat sekali.”suaranya bergetar hebat.

Minho tidak berkata apa-apa. Bibirnya menggetarkan senyuman.

“Minho..”air mata Yuri mengalir deras bersama air hujan. Ia pun dapat merasakan air mata Minho meleleh di tangannya,”Maafkan aku. Aku yang bodoh. Aku yang buta. Aku yang seujung kuku jaripun tidak pantas untuk cintamu. Maafkan aku.”

My Love, I want to touch your heart, but I can’t speak

Like starlight hidden behind frozen clouds

Terisak-isak Yuri melepaskan wajah Minho, ia merinding merasakan kulit Minho yang dingin. Minho hanya memandangnya. Matanya sendu, tetapi menyiratkan cinta yang amat tulus.

Yuri menempelkan kedua telapak tangannya pada teralis di depannya. Minho melakukan hal yang sama sehingga tangan mereka bertaut. Mereka berpandangan, sangat dekat. Yuri dapat merasakan desah nafas berat Minho di pipinya.

“Saranghae.”

Bisikan itu begitu lembut, begitu tulus, dan begitu dalam, keluar bersama air mata. Yuri mengangguk-angguk, ia menempelkan bibirnya dekat telinga Minho agar Minho dapat mendengar kata-katanya dengan sangat jelas,”Nado. Nado neomu saranghae.”

‘I love you’, this painful confession always lie on my tongue

I’ll end it all and let the words flow with my tears

Minho memandang Yuri, senyumnya bahagia.  Ia mengeluarkan sesuatu dari saku dalam jaketnya. Setangkai mawar ungu. Tangan Minho gemetar saat menyerahkan mawar itu pada Yuri. Air mata Yuri semakin deras mengalir.

You’re so deep inside me, I can’t remove you

Because it’s love, because for me it’s love

Minho menggenggam tangan Yuri. Wajah mereka mendekat. Saat itulah saat paling membahagiakan dalam hidup Minho. Saat dimana bibir mereka bertemu dalam sekejap. Saat dimana air mata mereka bersatu dalam sekejap.

Hanya sekejap.

Minho ambruk, terkapar di tanah. Yuri menjerit. Ia berjongkok, berusaha membangunkan Minho melalui sela-sela teralis besi.

My Love,

Even if I can’t be with you,

Even if my feelings end, barred by a wall of destiny,

I love you

“Minho! Bangun! Kumohon bangunlah! Minho!”terisak-isak Yuri berteriak. Ia menoleh untuk mencari bantuan tapi tidak ada siapapun disana. Ia meneriakkan pemintaan tolong, tetapi hujan begitu derasnya, sehingga tidak ada yang mendengarnya.

“Minho…”Yuri meratap dengan putus asa. Ia meraih tangan Minho yang sedingin es, menciuminya dengan penuh kasih, membelai wajahnya yang sepucat marmer, bibirnya yang biru, mata besarnya yang terpejam.

Tetapi Minho tidak bergerak sedikitpun.

Sesaat kemudian barulah beberapa orang datang untuk menolong. Tetapi Minho, yang sudah merasakan hangatnya kebahagiaan walaupun hanya sebentar, telah pergi. Panah-panah yang selama ini menusuk hatinya, telah tercabut.

Even if I can just be somewhere where I can see you,

I love you

Because you’re my everything

~~~~~

Malam ini sangat cerah. Bintang-bintang bertaburan di langit. Yuri duduk di depan rumah kaca di sekolah, memandangi bintang-bintang.

Ia menggenggam setangkai mawar ungu, memandangi langit dengan sendu. Ia tidak bisa tidur sama sekali selama beberapa malam. Tersedu ketika membayangkan, Minho yang terjaga semalaman karena rasa sakit.

Bintang jatuh. Yuri terbelalak sesaat. Angin dingin membelai kulitnya. Ia memejamkan mata, selama sesaat ia dapat mendengar sebuah suara. Suara yang datang bersama angin.

‘I’ve spent so many nights awake,

So when my tears like stars start to fall like the half hearted rain,

Please remember, that I loved you’

Setetes air mata meleleh di pipinya, jatuh di kelopak mawar di genggamannya. Suara itu sama lembut, tulus dan dalamnya seperti terakhir kali ia mendengarnya.

“Aku tahu. Aku juga mencintaimu.”

-end-

-minjin’111001-

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

27 thoughts on “Hwasal – Part 3”

  1. Aku meneteskan air mata,air mata murni. Semoga dengan air mata ini minho bisa bangun lagi#49 days mode on
    Huwaa huwaa huwaa..author nya mana nih?ayo tanggung jawab udah bikin aku mewek pagi-pagi..apalagi sambil dengerin hwasal,huwaa sedihnya benar-benar terasa..
    I like this story,terus berkarya chingu..

  2. Ya ampun thor aku jadi merinding pas bacanya sedih banget DAEBAK X)
    Aku ga nyangka minho bakal gitu akhirnyaa.. Waaa pokonya daebak banget ceritanyaaa! 🙂

  3. gak tw mw bilang apa tapi baca epep ini q bner bisa ngerasain perasaanx minho,,,
    rasa sakitnya pokokx semuax,,,
    chukhaeee,,, author epep ini daebak,,,,
    wlaupun endingx sedih,, tapi q bneran tersentuh…

  4. Ah gaknyangkaaa!!!!!
    Minho ternyata…….huaaaa :(:(
    Kasian bgt sih yaampun
    Gakboong, di kalimat terakhir langsung netes
    :””””

  5. huaaaa ternyata minho sakit T_____T
    minhoya! wae u must dead?? huh??

    aduh nyesek banget jadi yuri itu-_-”
    sumpah ya disini kibum ngeselin tingkat dewa!!! grrr!!!

  6. aaaahhhhh~!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!sungguh amat sangat tidak menyangka!!T^T..feelnya terasa bgt,..apalagi sambil dengerin lagu Quasimodo,..huwaa..jadi nangis beneran,..T,T
    minho sampe ujan”an kayak gitu cuman buat ketemu yuri,padahal gi sakit..so sweet..
    Daebak!^^

  7. Terpaku deh baca cerita ini. Sedih banget. Yuri jelas menyesal dan sedih sudah melewatkan namja yang benar-benar mencintainya. Onew kehilangan sahabat terbaiknya.
    Nice story.

  8. Huhu sedih banget! 😥 aku beneran nangis loh thor. Ceritanya nyentuh banget, bantal sampe basah nih sm air mata aku #lebay. Keren bnaget deh! d^^b

  9. Huaaaa, thor…. TToTT
    #Sambil mukul mukul bantal ga jelas
    aku ga tahan lagi…. meleleh udah air mataku… Daebak banget ceritanya… Salut deh ama author meskipun ini FF story pertama…. 10000 Jempol deh buat author dan ceritanya d^_^b

  10. air mata jatuh dalam tangisan sunyi bersama hujan…. bagus ceritamu author… salute you… (nangis lo saya nya…)

  11. haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa ,,,,,,,,,,,, hampir banjir air mata nech ..
    kerennnn ,,,,,
    top dhe buat author’na , ngaduk2 perasaan readers ..

  12. Minho~
    huwee T.T
    nape lo mati ho?? Nape?

    Keren! Aku sedih bnget pas adegan “Minho jatuh terkapar… Bla… Bla… ”
    aah~ sedih beneran…

  13. Itu karena dia tahu bahwa ia tidak punya cukup banyak waktu untuk
    membahagiakanmu.” ah bnr2. aq suka bgt sm klimat ini..

    huaaa baru baca.. eh udh bc ap blum ya.. ah g tau ah..
    mau komen

    huaaaaa
    aku mewek.. u.u
    minyul.. knp sad.. aq suka minyul.. #apadeh

    minho kasian.. jd stlh keluar dr skul itu minho g skul lg ya ….. huaaaa

    jinki.. aq suka jinki di sini.. baik bgt…

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s