Unpredictable Marriage – Part 5

Unpredictable Marriage Part 5

Author: Anissa Anggi

Genre: Romance, Friendship, Sad, Life

Main Cast: -Kim Kibum

                    -Lee Hyo Min

Other Cast: Choi Minho, Krystal, dll (msh terus berubah)

Length: Sequel

Rating: NC-17

Disclaimer: This Story is Mine. I don’t own them(SHINee), they’re belongs to God except some imaginative characters such as Lee Hyo Min.  Please, give me some critics. AND PLEASE DON’T COPY THIS STORY WITHOUT MY PERMISSION OR WITHOUT WRITE MY NAME AS AN AUTHOR. WE HATE PLAGIARSM!

Hm…. Agak nge-stuck waktu nulis part ini. Jadi maaf yaa kalo hasilnya agak atau bahkan mengecewakan. Karena jujur….. waktu aku banyak kesita buat sekolah, jadi ga konsen nulis part 5 ini. Okedeh, jangan lupa kasih komentar (apapun itu). Daaaaan selamat membaca! *bow-with-taemin*

Aku tersenyum kecil, perlahan aku mencium bibirnya dengan lembut. Kulihat dia kaget melihat perbuatanku. Tapi dia tidak menolaknya. Hyo Min hanya diam sambil menutup matanya.

Aku melepas ciuman itu dengan sedikit canggung, mengalihkan mukaku darinya sebentar. Kulirik dia, Hyo Min hanya bisa menunduk malu dengan kikuk.

“Mianhae, aku tidak sengaja.” Sahutku pelan. Dia hanya mengangguk kecil.

“Gwenchana… kau tidak perlu minta maaf” ujarnya.

***

-Hyo Min POV-

Tiba-tiba saja Kibum menciumku. Rasanya aneh, tapi sedikit manis. Jujur, aku sedikit kaget ketika dia menciumku. Tapi…. Sudahlah. Itu hal yang wajar dilakukan seorang suami ke istrinya kan? Aku langsung menunduk malu dan terdiam.

“Mianhae, aku tidak sengaja” sahutnya. Kenapa dia minta maaf? Aku hanya mengangguk kecil.

“Gwechana… kau tidak perlu minta maaf” ujarku pada akhirnya.

Dia menoleh dan menatapku dengan tatapan damai. Lalu tersenyum. Yaa..! senyumannya itu membuatku makin salah tingkah saja…

“HEEY.. sudahlah. Aku tahu aku manis, jangan sampai segitu terpesonanya.” Sahutnya santai. Lalu Kibum mengambil remote tv dari meja dan mengganti channelnya.

Aku mengangkat kepala dan mendorong tubuhnya pelan dengan kesal. “YA! Jadi orang jangan terlalu percaya diri!” seruku. Aish… namja ini benar-benar….

Dia tertawa keras-keras. Membuatnya semakin terlihat manis. “Kau ini… mengaku saja kalau aku memang manis. Tidak perlu sampai seperti itu” sahutnya sambil tertawa lagi.

Kibum menarikku pelan kedalam pelukannya. Membuatku tersentak kaget. Begitu aku mencoba melepaskannya dia semakin mempererat pelukannya. Lalu kurasakan sesuatu mengelus puncak kepalaku.

“Come on, just calm down. And let me give you a hug” sahutnya pelan. Pada akhirnya aku larut dalam pelukannya dan memejamkan mata.

***

-Author POV-

Keesokan harinya Kibum pergi kekantor bersama Hyo Min. sekaligus mengantarkan yeoja itu ke kampusnya. Di perjalanan mereka asik mengobrol berbagai hal. Mulai dari music, sampai hal-hal favorit.

Kibum membelokkan setir, membuat mobil masuk kedalam halaman kampus. Dia memberhentikan mobilnya di tempat parkiran.

“Gomawo Kibum, sudah mengantarkanku.” Ucap Hyo Min dengan lembut. Kibum hanya mengangguk.

“Hubungi aku kalau kau sudah selesai kuliah. Nanti akan ku jemput.” Sahut Kibum.

“Jinjja? Tidak, aku bisa pulang sendiri. Lagipula kau kan harus bekerja.”

“Ani, aku bisa menjemputmu kok. Tenang saja.” Kibum berkata dengan santai. Membuat Hyo Min mengerutkan keningnya.

“Tapi nanti Ahjussi pasti marah. Tidak enak kan kau baru masuk hari ini tapi sudah pulang lebih cepat dari yang lain.” Ucap Hyo Min sambil mengambil tasnya dari jok belakang.

Kibum menggeleng. “Tidak, dia pasti senang bila aku akan menjemputmu. It’s okay..”

Hyo Min terdiam, dan akhirnya pasrah. “Baiklah.. akan ku telpon kau nanti. Tapi jangan salah kan aku bila nanti kau dimarahi ya.”

Kibum tertawa kecil. “ne…Ne… sudah sana keluar. Nanti kau terlambat.”

Hyo Min memutar bola matanya “Aku justru datang lebih cepat dari biasanya karena kau ngebut, tahu!”

Kibum tertawa makin keras. “Justru bagus kaan?” yang diacuhkan oleh Hyo Min.

Pada akhirnya Hyo Min keluar dari mobil. Kibum memperhatikan Hyo Min yang sedang menutup pintu. Lalu tiba-tiba pandangannya kaku. Dia melihat Minho sedang berdiri diseberang parkiran memperhatikan mobilnya.

Kibum melepas seatbeltnya dan keluar dari mobil. “Hyo MIN!” serunya. Membuat Hyo Min menoleh, “Apalagi?” dengan tampang pura-pura kesal.

Kibum berjalan kearah yeoja itu dan tiba-tiba menarik yeoja itu kedalam pelukannya. Kibum memeluk pinggang Hyo Min dengan mesra dan erat. Lalu mendekatkan bibirnya kearah telinga Hyo Min.

“Hati-hati ya.” Bisiknya pelan. Namun mata Kibum masih tetap tertuju kearah Minho yang sekarang membalas tatapan Kibum dengan tatapan ingin membunuh. Lalu Kibum melepaskan pelukannya dan masuk kedalam mobil. Membiarkan Hyo Min yang masih terpaku di tempatnya karena kaget.

***

-Hyo Min POV-

Aku sudah menelpon Kibum untuk menjemputku. Dan mengatakan padanya bahwa aku akan mampir ke perpustakaan dulu, mencari bahan-bahan untuk mengejar ketertinggalanku dalam pelajaran.

Aku berjalan keluar dari perpustakaan sambil menenteng buku-buku bahan pembelajaran. Cukup berat, hingga aku harus memegangnya kuat-kuat. Aku berjalan cepat-cepat dan sedikit menunduk. Tiba-tiba BRUK! Aku menabrak seseorang. Buku-buku yang semula ada ditanganku berhamburan kemana-mana menimbulkan suara cukup keras.

  Tanpa melihat siapa orang yang kutabrak, aku langsung jongkok dan berusaha mengumpulkan buku-buku itu. Kulihat seorang namja dengan kulit bersih membantuku mengambil buku-bukuku. Lalu aku bangkit berdiri, begitu juga dengan dia. Namja itu memberikan buku-ku yang ada ditangannya. Tatapannya memandangku dengan tatapan yang sulit ditebak.

“Ah.. Mianhae. Jeongmal Mianhae. Aku tidak sengaja tadi.” Sahutku sambil membungkukkan badan 90derajat.

Dia menatapku dengan pandangan sendu. Membuatku bertanya-tanya. “Gwechanayo..” sahutnya pelan.

“Dan terimakasih sudah membantuku mengambil buku-buku ini. Kau sangat baik. Sekali lagi Gampsahamnida.” Ucapku tulus. Melihatku begitu dia sedikit terperangah.

“Sudahlah, itu bukan hal yang perlu dibesar-besarkan, Hyo Min.” Ucapnya dengan nada dingin.

***

-Minho POV-

“Sudahlah, itu bukan hal yang perlu dibesar-besarkan, Hyo Min” ucapku dingin. Lalu mengalihkan pandangan kearah lain. Berusaha mengenyahkan perasaan sesak didadaku bila menatapnya.

“Mwo? Kau tahu namaku?” tanyanya. Aku mengalihkan muka lagi, menatapnya yang sekarang memasang wajah polos. Aneh, kenapa dia bertanya seperti itu?

“Tentu saja. Mana mungkin aku lupa namamu.” Sahutku ketus. Dia memiringkan kepalanya sedikit.

“Memangnya kita sudah saling mengenal?” tanyanya lagi. JLEB. Rasanya sesak mendengar kalimatnya tadi.

“Ne.. kau lupa padaku?” balasku lagi. Berusaha menutupi rasa amarahku.

“Anniyo… aku justru tidak kenal kau. Siapa namamu?” Tanyanya lagi. Benarkah apa yang kudengar? Mana mungkin dia lupa namaku? Dia bahkan tidak mengenalku lagi. Apa segitu sakit hatinya dia sampai lupa padaku? Aku bahkan hanya bisa diam, tidak tahu harus menjawab apa.

Dia menunggu, sambil tetap menatapku dengan pandangan heran. “YA! Aku tadi bertanya kan padamu. Siapa namamu?”

“Choi Minho.” Sahutku singkat. Dia mengerutkan keningnya, terlihat berpikir.

“Hmmm… rasanya aku pernah mendengar nama itu…” gumamnya pelan. Tentu saja bodoh, aku ini mantan pacarmu,pikirku.

“…tapi… AH! Aku ingat sekarang. Namamu pernah disebut oleh Kibum kemarin, ketika aku sedang makan siang. Tapi.. aku lupa siapa kau. Hm.. Kibum bilang kau hanya seseorang di masa laluku. Benarkah?” tanyanya lagi. Wajahnya terlihat serius bila seperti ini.

Mwo? Jadi namja itu hanya bilang begitu padanya? Sebenarnya ada apa ini? Kenapa dia bisa lupa tentangku?. Berbagai pertanyaan berkelebat dikepalaku. Sementara aku hanya mengangguk menjawab pertanyaannya.

“Lalu kau itu siapaku dulu?” Hyo Min masih memasang tampang penasaran dan ingin tahu. Aku ingin sekali meneriakinya Aku ini namjachingu-mu pabbo! Tapi hanya bisa terdiam.

“sudahlah, lupakan saja tentang tadi.” Sahutku sambil berlalu meninggalkannya.

***

-Kibum POV-

“Hai…” sapaku begitu dia masuk kedalam mobil. Hyo Min hanya menoleh dan tersenyum kecil. Wajahnya terlihat tidak semangat dan sedikit ditekuk.

“kau kenapa?” tanyaku. Lalu menjalankan mobil keluar dari kampus.

Hyo Min hanya diam memandang ke jalanan. Mengacuhkan pertanyaanku. Aneh, biasanya dia selalu ramah dan menjawab bila aku bertanya. Akhirnya aku juga ikut diam, tidak bertanya lebih jauh. Cukup lama kami sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Tadi aku bertemu dengan Choi Minho.” Sahutnya tiba-tiba. Mendengar itu aku sedikit kaget. Lalu menoleh menatapnya.

“Oh ya? Bagaimana kalian bisa bertemu?” tanyaku datar.

“Aku tidak sengaja menabraknya dan kami mengobrol.” Ucapnya lagi. Aku hanya mengangguk menanggapinya.

“Bolehkah aku bertanya sesuatu? Tapi aku ingin kau menjawabnya jujur.” Ujarnya. Kini dia menatapku dengan pandangan penuh arti.

Aku mengangguk “Tanyakan saja.”

“Sebenarnya siapa Choi Minho? Kenapa dia terlihat tidak suka bertemu denganku?” Tanya Hyo Min dengan kaku.

“Dia temanmu dulu.” Sahutku singkat.

“Bohong! Kau bohong padaku!” serunya. Hyo Min terlihat menahan tangisnya. Sebenarnya aku tidak tega melihatnya seperti itu. Tapi bila aku mengatakan yang sebenarnya pasti dia akan mengingat namja itu.

“Kenapa kau bilang aku bohong padamu?” tanyaku dengan datar.

“Karena bila dia temanku, tidak mungkin dia menatapku dengan pandangan benci! Aku tidak ingin punya musuh! Jadi jujur saja padaku siapa dia!” bentak Hyo Min dengan suara parau.

Aku diam, mengacuhkan kalimatnya. Dia membanting badannya ke jok lagi. Menatap keluar sambil mengigit kukunya.

“Dia itu namjachingu-mu” sahutku pada akhirnya. Dia menoleh kearahku, mukanya terlihat kaget.

“Jinjja? Aku punya namjachingu?” tanyanya memastikan. Aku mengangguk,

“Kau puas? Mulai sekarang jangan Tanya-tanya lagi padaku.” Sahutku datar. Memandang lurus kedepan.

“Tapi…. Kenapa aku tidak ingat?” tanyanya lagi. Mengacuhkan kalimatku tadi.

“Aku tidak tahu. Mungkin kalian memang sudah putus.”

“Hmmm mungkin. Karena aku tidak mengingatnya sama sekali.” Dia terlihat berpikir keras. “Tapi… dia tampan juga ya. Aku hebat juga bisa memacarinya…”lanjutnya lagi. Mendengar itu aku mengeraskan cengkramanku disetir mobil.

Dia menoleh, “tapi kan kau suamiku. Kenapa aku masih punya pacar?” Tanya Hyo Min dengan polos. Aku hanya mengangkat bahu menjawab pertanyaan darinya.

“kau marah? Atau jangan-jangan…. Kau cemburu ya?” tanyanya langsung. Dia tersenyum menggoda padaku. Aku tidak menjawab. Terlalu kesal atas kalimatnya tadi.

“Yaaa kau pasti cemburu! Hahaha” serunya dengan senang dan tertawa keras.

“DIAM!” bentakku dengan keras. Kulihat dia terlonjak kaget dan mundur sedikit.

“Kibum-ssi… mianhae.” Gumamnya pelan. Dia menundukkan wajahnya.

Aku berusaha meredam amarahku. Sudahlah, ini bukan hal yang perlu dibesar-besarkan.

***

-Hyo Min POV-

Semenjak itu dia jadi jarang berbicara padaku. Dan bersikap dingin lagi seperti biasa. Padahal kan aku hanya ingin tahu siapa Choi Minho itu. Tapi dia membalasnya dengan bersikap seperti ini. Tapi Kibum tetap mengantar dan menjemputku dari kampus. Meskipun dia tetap bersikap dingin seperti ini.

Lagipula memang kenapa kalau namja itu memang benar namjachinguku? Harusnya dia tidak usah khawatir, aku kan sudah menikah dengannya. Aku sama sekali tidak ingat pada Minho itu. Mungkin memang benar kata Kibum, aku sudah berpisah dengan namja itu. Aku juga sama sekali tidak punya perasaan apa-apa dengan Minho.

Ini hari keempat dia bersikap dingin seperti itu. Kami baru sampai di apartemen setelah dia menjemputku di kampus. Aku masuk ke kamarku dan dia masuk ke kamarnya. Seharian ini kami sama sekali tidak saling bicara.

Akhirnya aku putuskan untuk menelpon Krystal. Mungkin dia bisa membantuku mengingat Minho. Bukan apa-apa, lama-lama aku tidak tahan juga tidak bicara dengan Kibum sama sekali.

“Yeoboseyo….” Sapa Krystal dari seberang sana.

“Yeoboseyo Krystal-ah..” balasku dengan ramah.

“Haaaiii, apa kabar kau Hyo Min? kita sudah lama ya tidak saling mengobrol.”

“Ne… kabarku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?” tanyaku.

“Aku juga baik-baik saja. Kau ada perlu apa menelponku?” balasnya.

“Ehm.. aku ingin bertanya sedikit tentang Minho.”

“Oh… kenapa dengan Minho?” suaranya terdengar aneh.

Akhirnya aku menceritakan semuanya pada Krystal. Mulai dari aku lupa siapa namja itu, sampai sikap Kibum yang berubah menjadi dingin seperti ini. Dia mendengarkan dengan seksama.

“Memang benar kau pernah berpacaran dengannya. Tapi itu dulu. Kau sudah putus dengannya. Mungkin sekitar sebulan lalu. Tapi aku tidak tahu kenapa kalian putus.” Jelas Krystal setelah aku bicara panjang lebar.

“Wae? Kau kan sahabatku.”

“Hmm soalnya waktu itu kau memberitahuku lewat telepon. Dan baru aku ingin bertanya penyebab kalian putus kau sudah mengakhiri telponnya. Kau lupa?” balasnya.

Aku terdiam sebentar. Aish.. aku sama-sekali lupa tentang itu. “Ne.. aku tidak ingat.” Sahutku muram.

“Sudahlah, kau tidak perlu sedih. Sekarang kau sudah tahu kan bagaimana ceritanya. Lebih baik sekarang kau minta maaf pada Kibum dan menjelaskan semuanya.” Sarannya. Seperti biasa, dia selalu bisa memberikan solusi padaku.

“Ne.. kau benar! Kalau begitu aku akan segera bicara padanya. Gomawo Krystal-ah!”

Dia tertawa kecil, “Ne.. good luck ya.” Sahutnya menutup pembicaraan.

Aku segera berganti baju dan keluar dari kamar. Dan mendapati Kibum sedang duduk di sofa depan tv.

Aku memberanikan diri duduk disebelahnya. Dan memandangnya cukup lama. Kibum masih tidak bergeming. Dia masih asik memainkan handphonenya.

“Kibum-ssi….” Sapaku pelan.

“Wae?” tanyanya singkat. Melihat itu aku sedikit kecewa, segitu sakit hatinya kah dia? Sampai tidak mau melihatku lagi?

“Mianhae… aku sudah menyakiti hatimu waktu itu.” Ucapku pelan.

“Tidak apa-apa. Itu bukan masalah” sahutnya datar.

“Tapi aku benar-benar minta maaf. Aku tidak ingat padanya, lagipula aku sudah putus dengannya. Jadi kau jangan mendiamkanku lagi yaa, yaaa. jebaaalll” bujukku dengan sungguh-sungguh.

Dia berhenti memainkan hpnya dan menatapku dalam-dalam.

“Mianhae…” gumamku pelan. Aku menundukkan kepalaku. Aku kangen dirinya yang dulu, ramah dan selalu tersenyum kearahku. Aku kangen Kibum yang selalu bersikap baik padaku. Aku tidak tahan dia mendiamkanku seperti ini.

Tanpa kusadari dia sudah berada tepat disebelahku, meraih wajahku dan menariknya. Menghapus air mataku yang sudah turun perlahan dari sudut mataku. Wajahnya tidak bisa ditebak. Dia tidak tersenyum.

“Berhentilah menangis Hyo Min.” sahutnya.

“Aku akan berhenti menangis bila kau sudah memaafkanku..” jawabku parau.

“Ne.. aku memaafkanmu.” Gumamnya. Anehnya tangisanku justru semakin menjadi-jadi. Bukannya malah berhenti menangis.

“Buktikan hikss… kalau kau sudah hiks.. tidak marah padaku..hiks..” ucapku ditengah tangisanku.

Dia menarik badanku kedalam pelukannya. Memelukku erat, dan akupun balas memeluknya. Dia mengelus-elus punggungku, mencoba menghentikan tangisanku. Aku sendiri mencoba mengontrol air mataku. Dia masih memelukku, aku merasakan damai dan hangat dalam pelukkannya. Rasanya aku tak ingin lepas dari pelukkannya. Takut dia akan marah lagi padaku.

“Mulai sekarang, panggil aku Oppa” pintanya dalam bisikan. Aku mengangguk, “Ne Oppa….”

“Saranghae…”bisiknya pelan. Aku mengangguk kecil, “Naddo Oppa…” balasku tulus. Aku rasa aku sudah benar-benar jatuh cinta pada namja ini.

Dia melepas pelukannya. “Jinjja?” tanyanya setengah tak percaya. Aku mengangguk lagi, lalu menghapus air mataku.

“Apa buktinya?” tanyanya sambil tersenyum. Bukti?memangnya perlu bukti?

“Kau tidak percaya?” balasku. Dia menggeleng.

“Cium aku, baru aku percaya kau cinta padaku.” Ucapnya lagi. MWO? Menciumnya? Aish… mana mungkin aku duluan yang menciumnya?

Aku menggeleng keras. “Shiro.. Mana mungkin aku duluan yang…” kalimatku terpotong oleh bibirnya yang mengunci bibirku. Menciumku pelan dan lembut.

***

-Author POV-

Kibum mencium Hyo Min dengan lembut. Awalnya yeoja itu hanya diam karena kaget. Tapi lama kelamaan dia membalas ciuman itu. Kibum menjilat bibir bawah Hyo Min, membuat yeoja itu mendesah pelan. Lidah namja itu mendesak masuk kedalam mulut Hyo Min, menghisap mulut Hyo Min dalam-dalam, menulusuri setiap rongga mulut yeoja itu.

Lidah Kibum bermain menggelitik bagian bawah mulut Hyo Min. mereka berdua saling bertukar saliva, saling beradu memainkan lidahnya. Membuat Hyo Min sedikit mendesah. Tiba-tiba saja Kibum melepas ciumannya. Memberikan mereka waktu untuk mengambil oksigen.

Masih sambil terengah-engah, Kibum mendorong Hyo Min ke sofa dan menindihnya. Kedua tangannya diletakkan di antara wajah Hyo Min, dan menatap wajah yeoja itu dari dekat.

“Itu buktinya bahwa aku mencintaimu.” Ucap Kibum.

Hyo Min mengangguk. “Ne.. aku sudah tahu.” Kibum mendekatkan lagi wajahnya kearah Hyo Min. “Kau ingin lebih?” tanyanya sambil tersenyum seduktif.

Hyo Min diam “Kau tahu…. Aku bahkan hampir gila karena kau mendiamkanku. Aku tidak tahan tidak bicara denganmu sama sekali.” Sahutnya, mengacuhkan kalimat Kibum. Tapi dia terlihat serius ketika mengutarakan isi hatinya.

“Jinjja? Aish, aku memang bikin kangen ya rupanya” balas Kibum sambil tertawa.

“Ne…. tapi bisa kah kau melepaskan kedua tanganmu ini? Aku tidak bisa bergerak sama sekali tahu.”

“Biarkan saja seperti ini. Aku justru sangat menikmatinya.”

“Ohyaa? Lalu aku harus bilang WOW gitu?” ledek Hyo Min.

“Kau… ingin kuserang lagi ya?” sahut Kibum setengah mengancam.

“Tidak jugaa, aku hanya belum ingin ‘bermain’ kali ini.” Ucap Hyo Min yang diikuti oleh raut muka kecewa dari Kibum.

“Kapan kau ingin ‘bermain’ chagi?” Tanya Kibum jujur.

“hmm.. besok hari apa?” Tanya Hyo Min lagi. Membuat Kibum menarik nafas karena kesal. Pertanyaannya untuk kesekian kalinya diacuhkan oleh Hyo Min.

“Sabtu. Memangnya ada apa sih?”

“Kau lupa? Waktu itu kau berjanji untuk mengajakku ke pantai hari sabtu besok.”

Kibum terdiam lalu tersenyum lagi. “Yaa kau masih ingat rupanya.”

“Tentu sajaaa, kau akan menepati janjimu kan?” Tanya Hyo Min lagi. Kibum mengangguk.

“Ne.. Kau mau ke pantai mana?” balas Kibum. Matanya terlihat memandang bibir Hyo Min yang mungil.

“Kemana saja asalkan tidak ramai dan.. hey! Bisakah kau berhenti menatapku seperti itu?” Hyo Min menghentikan kalimatnya.

“Memangnya aku melihatmu seperti apa?” Kibum terkekeh.

“Berhentilah menatapku seperti aku ini daging dan kau macannyaaa..” seru Hyo Min lagi.

“Baiklaah aku akan berhenti menatapmu seperti tadi. Jadiii sampai mana tadi?” sahut Kibum.

“Aku mau ke pantai mana saja, asalkan tidak ramai dan ada tempat menginapnya.” Yeoja itu mengulang kalimatnya.

Kibum mengangguk, dan memainkan rambut Hyo Min yang tergerai dengan indah. “Baiklah.. bagaimana kalau ke pulau Jeju?” Tanya Kibum.

“Pulau Jeju? Bukankah kita harus memesan tiket pesawat dulu untuk kesana?” Hyo Min terlihat heran.

“itu urusan gampang. Kau mau tidak?” balas Kibum. Kini namja itu terlihat serius. Hyo Min mengangguk.

“Ne… sekarang kumohon bangkit lah. Lama-lama berat juga kau menindihku.” Sahut yeoja itu. Kibum memutar bola matanya. Tapi dia akhirnya bangkit duduk dan menarik Hyo Min untuk bangun.

“Chagi.. aku lapar..” sahut Kibum tiba-tiba.

Hyo Min mengangkat satu alisnya “Lalu apa urusannya denganku?”

“YA! Kau ini… buatkan lah aku makanan… aku ini kan suamimu.” Kibum terlihat kesal. Sementara Hyo Min hanya tertawa.

“NE… tapi bukannya kau pernah membuang makananku?’” ledek Hyo Min.

“Aishhh itu kan dulu” sahut Kibum kesal. Hyo Min lalu bangkit berdiri sambil tertawa.

“HAHAHA nee.. akan ku buatkan makanan untukmu.” Sahutnya sambil berjalan kearah dapur.

Dan memasak Bulgogi Set untuknya dan Kibum. Sementara Kibum memperhatikannya dari belakang. Kedua mata namja itu tak lepas dari gerakan-gerakan Hyo Min yang sibuk membuatkan makanan di dapur. Kali ini Hyo Min hanya diam tidak memperdulikan tatapan Kibum. Walaupun dia tahu dirinya sedang diperhatikan.

-To Be Continued-

Hai teman-teman…. Akhirnya tbc juga nih part-_- mianhae ya bagian ciumannya kurang hawt apa gimana gitu. Soalnya pengen diterusin jadi nc diatas 17 tapi takut… *maklum author blm 17thn*wkwkwk. Baiklaaahh, jangan lupa yaaa komentarnyaaaa. Dan jangan lupa kalo mau tau lebih banyak ttg author bisa ke http://twitter.com/anissanggi eaa promosi parah-_-

Xo,A!

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

129 thoughts on “Unpredictable Marriage – Part 5”

  1. aaaaargghhh..udah lama ketinggalan neh ff, bru smpat bca skrag *kmna aja loe??* sumpah, ampe nahan nafas neh baca nya, daebak thor… aq mo bca yang slanjut nya, see ya at the next part..

  2. Yihhhaaaa,,,kibum n hyomin so sweet bgt,,,bukannya waktu itu krystal yg matiin hp yaaa???lanjut baca dulu,,,,,ahhh minho sebenarnya knp sihhh???pasti masih syg sm hyomin

  3. Orang2 yg ngomen sebelum blg pada tlt karena baru baca ff ini skrg,apa aq ya hahahaha,aq telat luar biasa!
    Penasaran sama lanjutannya!!
    Mau baca yg di protect *nangis dipojokan*

  4. thor sorry baru koment nih ya.. castnya key suka banget deeh, lagi serius mau ke part selanjutnya tapi di protect minta pass-nya dong thor ke twitter bisa gaa @pdyah kalo ke email lupa pass ku ape. tapi coba aja deh @andiniputri605@yahoo.com

  5. akhirnya saling mengakui juga kkk..
    Minho g mempermasalhkan hyomin yg tdk mengingatnya lg? hmm bgus dehh jd g ad konflik yg ribet..knp dprotect? ad scene nc ny yaa/smirk/

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s