Last Melody

Last Melody

Tittle             : Last Melody

Author          : Kim Tae Hyun

Main cast     : Lee Tae Min, Park Hyun Mi

Support cast : Choi Min Ho, Kim Jong Hyun, Onew, Kim ‘Key’ Bum

Genre           : Drama

Length         : One shoot

Rating          : General

Ini ff pertamaku yang sukses diketik. Jadi maaf ya kalau jelek.. Kritik dan sarannya di tunggu… Enjoy my ff…

 

“Oppa!” terdengar orang mengetuk pintu dari bawah. Taemin pun langsung beranjak dari tempat tidurnya dan berlari sambil tersenyum kegirangan. Sudah satu anak tangga lagi, ia dihadang oleh Onew. “Hyung kau bikin aku kaget saja!” kata taemin sambil mengelus dadanya. “Kau mau ketemuan sama Hyun Mi lagi?”

“Yap! Jangan halangi aku lagi hyung!”

“Baik. Aku menyerah. Kau memang keras kepala. Tapi, masih ada perempuan cantik dan normal di dunia ini. Kenapa harus Hyun Mi? Aku hanya ingin kau tidak terlalu banyak berharap. Hyun Mi saja berbicara tidak jelas. Dan dia tidak tau apa-apa! Di tambah ada Minho. Ia juga menyukai Hyun Mi bukan?”

“Hyung, apa kau pikir aku takut dengan Minho. Kita memang tidak sekaya Minho. Tapi apakah aku harus takut dengannya? Dan aku memang sangat menyukai Hyun Mi. Aku tidak peduli bagaimanapun kondisi Hyun Mi,” kata Taemin dengan nada kesal.

“Aku sudah mengingatkanmu. Ya sudah, terserah kau saja, semoga beruntung.” Onew berlalu dengan wajah datar. “Oppa!” terdengar suara teriakan dari luar pintu. Taemin berlari membuka pintu, berusaha melupakan kata-kata Onew tadi.

***Introducing***

1. Taemin & Onew: Kakak beradik yang di tinggal kedua orang tua mereka sejak 10 tahun yang lalu dalam sebuah kecelakaan. Mereka tinggal di rumah pamannya yang berpenghasilan pas-pasan dan bekerja di perusahaan keluarga Choi. Sejak kecil, Taemin sering bermain kerumah tetangganya yang berusia di bawahnya satu tahun, bernama Park Hyun Mi. Seiring bertambahnya usia, timbul perasaan yang berbeda terhadap Hyun Mi. Meskipun ia sadar, Hyun Mi tidak akan pernah membalas perasaannya.

2. Hyun Mi & Key: Key adalah anak dari ibu Hyun Mi dengan suami sebelumnya. Saat usia Key 3 tahun, orang tuanya berpisah, lalu ibunya menikah lagi, lalu lahirlah bayi cantik bernama Hyun Mi. Sayangnya, Hyun Mi tidak seperti gadis umumnya. Ia tumbuh sebagai penyandang autisme ringan akut, sejak balita. Tidak bisa berbicara dengan lancar, tidak bisa bersosialisasi, dan hidup dengan dunianya sendiri. Meskipun begitu, Key dan kedua orang tuanya sangat menyayangi Hyun Mi.

 3. Minho: Anak kaya raya dari seorang pemilik restoran terkemuka di dunia. Musuh bebuyutan Taemin, karena Minho sering mengolok-olok keluarga Taemin yang sederhana dan yatim piatu. Ia membenci Taemin, karena ia juga menyukai Hyun Mi, tapi Hyun Mi lebih dekat dengan Taemin.

4. Jonghyun: Dokter.

***Introducing End***

“Kenapa Hyun Mi?”

“Oppa…” Hyun Mi tiba-tiba menarik tangan Taemin dan membimbingnya ke sebuah piano besar di ruang tamunya. “Kau mau aku memainkannya lagi?” tanya Taemin sambil duduk di bangku piano itu. Hyun Mi diam, memencet tuts piano, dan bunyinya jadi tidak karuan. Dari ruang makan, muncul key dengan segelas jus jambu. “Eh, Taemin. Hyun Mi bilang, dia suka caramu bermain piano tadi malam. Dia ingin kau memainkan lagi. Sekalian ajarkan dia, bisa tidak? Belakangan ini Hyun Mi terlihat jenuh.”. Taemin mengangguk tersenyum. Ia menyuruh Hyun Mi duduk disampinganya, dan memainkan lagu andalannya River flows in you. Hyun Mi menikmatinya, sampai-sampai ia menyandarkan kepalanya di bahu Taemin yang membuat jantungnya dag dig dug. Dengan sabar Taemin mengajari Hyun Mi bermain piano. Hyun Mi, andai kau mengerti.

***

Perasaan Taemin hari ini benar-benar campur aduk. Antara bangga, bisa mendapatkan beasiswa ke Amerika selama 1 tahun, dan sedih karena harus meninggalkan Hyun Mi. Ia pun pergi untuk berpamitan dengan Hyun Mi dan Key. Tanpa ada perkiraan apapun. Hyun Mi menangis sejadi-jadinya dan ia bersikap tidak biasa. Dia sudah melempar 2 gelas kaca dan sebuah vas bunga keramik. Key sampai kewalahan mencegah adiknya itu. Hari ini Hyun Mi benar-benar sedih. Dan ini kedua kalinya untuk Taemin melihat Hyun Mi marah. Saat ia harus pergi ke kampung halamannya selama 2 minggu. Bagaimana kalau 1 tahun?

“Oppa—jangan—pergi.” Katanya terbata-bata sambil menangis. Taemin diam tidak berkata apapun. Air mata Taemin pun ikut turun. Hyun Mi memeluk pinggang Taemin mencegahnya pergi. “Hyun Mi aku janji, nanti aku akan kembali. Lalu kita akan bermain piano bersama lagi. Aku janji. Aku janji. Jangan menangis.”

“Oppa—jangan—pergi”

Key merangkul Hyun Mi dan berusaha melepaskan Hyun Mi dari Taemin. “Hyun Mi lepaskan Taemin. Nanti dia ketinggalan pesawat.”

“AAAAAAAAAA!!” jerit Hyun Mi. Lagi-lagi, air mata Taemin turun. “Taemin ikut aku”. Key menuntun Taemin ke piano di ruang tamu. “Mainkan sekali lagi. Aku yakin Hyun Mi akan tenang. Sekali saja. Kau tidak tegakan melihat Hyun Mi menangis seperti itu?”  pinta Key. “Baiklah.” Taemin duduk di bangku piano. Dan benar, Hyun Mi lebih tenang, duduk di bangku piano bersama Taemin. Taemin memainkan jemarinya di piano itu. Perasaan Taemin ingin menangis. Hyun Mi menyandarkan kepalanya ke bahu Taemin dan membuat Taemin benar-benar tidak ingin meninggalkan Hyun Mi. Di akhir permainannya, “Terimakasih Taemin. Terima kasih telah membuat Hyun Mi bisa bermain piano dengan baik. Terimakasih.” Kata Key terharu.

“Tidak ap—”

Ini bukan mimpi. Baru saja Hyun Mi mencium pipi Taemin. Mata Taemin langsung membesar. Ia tidak percaya apa yang baru saja Hyun Mi lakukan, sama halnya dengan Key. Ia pasti tidak mengerti apa yang baru saja ia lakukan. Ia pasti hanya meniru drama-drama yang biasa ia tonton. Hanya itu yang ada di otak Taemin. Kata-kata onew berdengung di telinganya, ‘jangan banyak berharap’.

“Hati—hati—oppa” bisik Hyun Mi sesenggukan. Taemin hanya mematung, lalu berbisik. “Ya. Hyun Mi. Aku janji aku akan kembali. Semoga saja ini bukan yang terakhir. Selama aku tidak ada, teruslah bermain piano. Dentingan piano adalah aku. Janji?” air mata Taemin jatuh lagi. Sentuhan hangat tangan Hyun Mi mendarat di pipi Taemin, dan menghapus air mata Taemin. “Oppa—jangan—menangis.”

“Aku tidak akan menangis, asal kau juga jangan menangis.” Kini mereka berdua saling menghapus air mata satu sama lain. Hyun Mi? Apa kau mengerti?

Tentu saja akan ada yang mengambil peluang atas perginya Taemin. Ya, Minho pasti akan memanfaatkan kesempatan ini, untuk mendekati Hyun Mi.

***

1 tahun kemudian.

Taemin masih terjaga meskipun jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Perjalanan dari New York memang melelahkan. Ditambah ia sering merasa kelelahan belakangan ini. Tapi, dentingan piano masih terdengar dari rumah Hyun Mi. Ia begitu merindukan perempuan itu meskipun entah, Hyun Mi merasa hal yang sama atau tidak. Hyun Mi apa kau sekarang sudah mengerti?

Pagi yang sudah lama ia tunggu. Taemin melirik rumah Hyun Mi dari jendelanya. Masih tertutup rapat. Mungkin memang terlalu pagi untuk kerumah Hyun Mi. Taemin mengadah ke cermin, dan mendapati dirinya pucat seperti mayat hidup lagi. Setelah mandi, ia kembali mengadah ke kaca lagi. Sudah lebih baik.

Bibinya, tiba-tiba menyuruhnya untuk membeli tofu untuk Onew di sebuah mini market langganannya. Dengan sepeda, Taemin pun langsung berangkat. Tidak perlu lama-lama di supermarket itu, ia langsung keluar begitu selesai membayarnya. Saat berjalan ke sepedanya, seorang wanita setinggi Taemin, berambut sebahu, berkacamata, menabrak Taemin. “Aigo, aigo. Mianhaeyo. Mianhaeyo,” ucap wanita itu mebetulkan poninya, dan meanampakkan guratan di dahinya. Wanita itu membereskan barang belanjaannya dan belanjaan Taemin yang berserakan. “Gwenchanayo. Biar aku bantu,” taemin jongkok dan membantu wanita itu. Liontin berbentuk kunci G berayun-ayun di lehernya.

“Kamsahamida,” wanita itu membungkuk sambil tersenyum kilat ke Taemin, lalu pergi. Tapi, Taemin malah mematung di tempat. Kalau dipikir-pikir, wanita itu mirip sekali dengan Hyun Mi. Mirip sekali. Tapi mana mungkin Hyun Mi berkeliaran sendirian ditempat seramai ini. Taemin berjalan, berusaha melupakan kejadian tadi. Paling-paling Hyun Mi masih menonton kartun di rumahnya. Tapi tidak bisa. Ia mengayuh sepedanya, membuntuti wanita itu pergi. Wanita itu berhenti di depan toko buku, lalu menggandeng seorang laki-laki bertopi yang baru keluar dari toko buku itu dan masuk kedalam mobil mewah. Jelas itu bukan Hyun Mi.

Taemin terus mengayuh sepedanya, sambil membayangkan ekspresi Hyun Mi begitu melihatnya. Tapi, pandangannya terhenti di mobil yang ia lihat di depan toko buku tadi. Mobil itu berada di taman yang biasa Hyun Mi dan Taemin kunjungi. Tidak jauh, wanita yang menabrak Taemin tadi duduk bersandar di bahu pria bertopi. Dengan perasaan penasaran yang besar. Ia mengendap-endap di balik semak. Dan betapa terkejutnya ia, begitu mengetahui, pria bertopi itu adalah Minho dengan segala perubahan. Perasaannya mendadak menjadi tidak enak. Apakah benar itu Hyun Mi atau bukan. Kalau Hyun Mi jelas tidak seperti itu. Ia keluar dari semak dan mendekati wanita itu.

“Kau? Kau yang aku tabrak tadi kan? Ada apa? Ada barangmu yang rusak? Kau minta ganti rugi? Berapa?” kata wanita itu, buru-buru mengeluarkan dompetnya. Sementara Minho, memandangi mereka berdua tanpa ekspresi.

“Apa.. apa kau Park Hyun Mi?”

“Mmm… maksudmu?”

“Apa namamu Park H-h-hyun Mi?” Tanya Taemin gemetar.

“Mm.. Benar. Ada apa?” tanya wanita itu kebingungan. “Apa benar ini kau Hyun Mi? Tapi mengapa kau.. kau berubah? Kenapa kau tidak ingat aku? Hyun Mi aku merindukanmu!” dengan spontanitas, Taemin memeluk wanita itu. Buru-buru wanita itu melepaskan pelukan Taemin. “Hey! Siapa kau? Mungkin kau salah orang. Aku tidak mengenalmu.”

“Aku Taemin, Hyun Mi. Taemin. Apa kau tidak ingat aku yang mengajarimu bermain piano.” Wanita itu terdiam. “Oh iya. Kakak ku sering menyebut tentang dirimu. Senang bertemu denganmu.” Wanita itu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Jantung Taemin rasanya seperti turun. Matanya berkaca-kaca. “Hanya itu? Hanya itu yang kau lakukan setelah selama ini kita tidak bertemu. Bagaimana dengan janjimu untuk tidak meupakanku?” kata Taemin setengah teriak.

“Memangnya kau mau apa lagi?” tanya wanita itu dingin. Tanpa berpikir panjang, Taemin mencium pipi wanita itu. “Kau lakukan itu, sebelum aku pergi,”. Wanita itu langsung tersentak. “lancang sekali kau!”. Tiba-tiba Minho menarik tangan Taemin dan menjauh dari Hyun Mi yang masih shock. Minho menatap dingin Taemin.

“Hyun Mi sekarang, bukan Hyun Mi yang dulu. Ingat itu.” Kata-kata itu membuat Taemin benar-benar bingung, takut, putus asa, karena yeoja itu.

Taemin mengetuk pintu rumah Hyun Mi dengan hati setengah hancur, berharap, Hyun Mi masih seperti dulu. Lalu Key muncul dihadapannya, “Hah? Taemin? Kapan pulang? Kenapa tidak kabari dulu? Kenapa kau pucat sekali? Kau sakit?”. Taemin mulai meneteskan air matanya, “Mana Hyun Mi?”

Key terdiam, “Hyun Mi tidak sedang dirumah.” .

“Jangan katakan wanita yang aku lihat bersama Minho tadi adalah Hyun Mi!”

 Key terdiam lagi, “Kau sudah bertemu dengannya. Masuklah. Akan aku jelaskan.” Dengan langkah lemas ia mengikuti Key. “Apa yang terjadi pada Hyun Mi? Apa yang terjadi padanya?”

“Taemin. Sebenarnya dari dulu aku tau, kau menyukai adikku. Selama 3 bulan sejak kepergiannmu, Hyun Mi setiap sore selalu pergi ke taman yang biasa kalian kunjungi. Ia bilang, kau akan menemuinya sore itu. Aku selalu berusaha meyakinkannya kalau kau tidak ada. Tapi dia tidak mau percaya padaku. Hingga suatu sore, saat ia mau pergi ke taman untuk menemuimu, ia tergelincir di sebuah jalan bersalju, dan kepalanya membentur sebuah batu besar. Ia tidak sadarkan diri selama satu minggu. Begitu dia sadar, ia bisa berbicara dengan lancar. Tapi ia hanya mengingat aku, dan kedua orang tuaku. Ternyata, Hyun Mi dinyatakan sembuh dari penyakitnya, entah bagaimana. Tapi… tapi karena benturan yang keras, ia kehilangan sebagian besar ingatannya. Termasuk kau, Taemin. Dan satu lagi. Ia mengingat cara bermain piano. Dalam kondisi itu, Minho mendekati Hyun Mi, sampai sekarang, kau bisa lihat, mereka pacaran.”. Mendengar penjelasan Key, Taemin langsung lemas. Ia tidak tau harus berkata apa. Ia tidak bisa menghadapi kenyataan pahit seperti ini. Nafasnya menjadi sesak. Melihat yeoja yang ia sukai, normal, tapi bukan bersama dirinya. Taemin terus menyalahkan dirinya sendiri. Kalau saja ia tidak ke Amerika, Hyun Mi tidak akan seperti ini.

BUUUKK!! Kepala Taemin dihantam oleh tas jinjing hitam milik Hyun Mi. “Kau mau apa dirumahku?! Cepat sana pergi!” jeritnya, dengan wajah penuh amarah. Taemin tidak kuat mau berkata apa-apa lagi. Perasaanya sudah benar-benar hancur melihat Hyun Mi yang berbeda 180 derajat. Key buru-buru membentak Hyun Mi dan menyuruh Hyun Mi berhenti memukul Taemin. “Oppa! Kenapa kau malah membela namja yang keterlaluan ini?”bantah Hyun Mi. “Karena kau memang seharusnya tidak begitu. Kalau saja hal itu tidak terjadi. Kau tidak akan begini Park Hyun Mi!”

Mendengar perkataan Key, Taemin semakin merasa bersalah. Ia beranggapan semua ini karenanya. Hyun Mi terdiam dan jatuh terduduk di samping Taemin. Ia belum pernah melihat Key semarah ini kepadanya. “Mianhae Key oppa, M..m..mianhae Taemin oppa. Tunjukan aku sesuatu, kalau kau ingin aku mengingatmu, meskipun aku tidak yakin aku bisa mengingatmu atau tidak,” pinta Hyun Mi dengan suara datar. Taemin pun membawa Hyun Mi ke piano dan memainkannya. Tapi hati Taemin tambah hancur, setelah Hyun Mi menggeleng dan langsung meninggalkannya.

“Apa mungkin tadi aku terlalu keras pada Taemin?” tanya Hyun Mi pada dirinya sendiri, sambil meraba fotonya bersama Taemin yang sudah ia tidak ingat lagi kapan foto itu diambil. “Tapi, aku tidak mungkin mendekati Taemin. Aku sudah mempunyai Minho. Ya tuhan! Eotthoke? Tapi aku benar-benar tidak tau apapun tentang namja itu. Sudahlah..”

***

Taemin tidak menyerah begitu saja. Ia tetap mendekati Hyun Mi, apalagi, ia tau semenjak kepulangannya hubungan Hyun Mi dan Minho agak merenggang. Sudah dua bulan ini, ia berusaha semampunya, tapi Hyun Mi tidak meresponnya sama sekali. Ia tidak akan menyerah, walaupun perasaanya benar-benar hancur.

***

Hyun Mi baru saja melangkah masuk dalam rumahnya, memikirkan pertengkaran hebat antara dia dan Minho. Badannya tertabrak oleh Key, yang kelihatannya buru-buru. “Oppa mau kemana?”. “Taemin, Hyun Mi..” katanya terengah-engah. “Taemin tiba-tiba pingsan, lalu ia dibawa kerumah sakit. Sudah 5 jam ia tidak sadarkan diri. Sebaiknya kau ikut,”. Hyun Mi menarik nafas, kenapa 2 namja ini memenuhi kepalanya? “Ahh.. Ne oppa.”

Key terlihat sangat khawatir. Mendadak, kepala Hyun Mi terasa sakit. Masalahnya dengan Minho belum selesai sudah ditambah dengan Taemin. Begitu sampai di rumah sakit, sakit kepalanya semakin menjadi. Bahkan beberapa kali ia merasa akan pingsan. Sepanjang koridor, ia memegangi kepalanya yang sakit, mengikuti Key yang berjalan secepat angin. Begitu masuk kamar dimana Taemin berada, Hyun Mi benar-benar terjatuh setelah melihat Taemin terbaring lemas, dengan wajah pucat pasi. “Hyun Mi waeyo?” tanya Key panik. “Oppa kepalaku sakit sekali..” kata Hyun Mi menahan tangis. “Waeyo Hyun Mi? Waeyo?”

“Oppa.. Oppa.. OPPA!!” dengan sekuat tenaga Hyun Mi berdiri dan lari ke ranjang Taemin. “Taemin oppa. Aku ingat! Aku ingat semuanya. Oppa! Bangun! Jangan diam saja! Ayo kita bermain piano lagi. Ayo!” Hyun Mi mengguncang badan Taemin dan air mata bercucuran dari matanya. Key bingung setengah mati. Di tengah isakan Hyun Mi, pintu kamar terbuka, Onew dan Minho masuk. Minho berusaha menenangkan Hyun Mi. Ia sudah tau apa yang terjadi. Tapi Hyun Mi tetap menangis, ia benar-benar sudah ingat semuanya. Semua kenangannya bersama Taemin. Onew masuk dengan wajah memerah.

“Hyung? Ada apa dengan Taemin?” tanya Key cemas. “T..t..taemin menderita leukemia.”

“Apa?! Tapi masih bisa disembuhkan kan? Iya kan?” tanya Hyun Mi terkejut. “Aku tidak tau. Dokter bilang, dia menderita kanker ini sudah lama. Sudah terlambat. Sudah stadium akhir. Dan kemungkinan besar, umurnya kurang dari setahun,” tangis Onew pun pecah. Key langsung mematung di tempat. Sementara Hyun Mi pun terjatuh lemas di pelukan Minho. “Minho, kenpa ini semua harus terjadi? Kenapa? Apa karena aku terlalu jahat kepadanya? Aku memang orang jahat. Aku sudah ingat semuanya, Minho. Aku ingin bermain piano bersamanya lagi.” Tangis Hyun Mi. Minho terdiam sebentar, “Ini bukan salahmu. Sebentar lagi dia akan bangun. Lalu kau boleh bermain piano bersamanya lagi.” Sebagai namjachingu yang baik, Minho hanya mengingkan Hyun Mi bahagia. Termasuk ada hubungannya dengan Taemin. Demi Hyun Mi dia rela untuk apapun, meskipun ia benar-benar tidak menyukai Taemin. Sebaiknya ia melupakan pertengkarannya tadi.

***

Tangan Taemin di genggaman Hyun Mi bergerak. Perlahan, mata Taemin yang sudah dua hari terpejam, terbuka. “Oppa? Kau sudah sadar?” Hyun Mi bertanya penuh harap. “Hyun Mi?” Taemin memandang sekelilingnya. “Key Hyung? Onew Hyung? Kenapa matamu bengkak seperti itu? Aku semakin tidak bisa melihat matamu.” Onew tersenyum, menahan air mata. “Minho-ssi? Kau sedang apa disini? Suara Taemin yang lemah, memenuhi ruangan. “Aku dimana? Hyun Mi kenapa kau menangis? Mengapa kalian semua menangis?”. Hyun Mi mendekatkan bibirnya ke telinga Taemin, “Oppa, aku sudah ingat semuanya. Sungguh. Aku ingin aku bermain piano bersamamu lagi.”

“Jongmal? Kau benar-benar sudah mengingatku. Kalau begitu, kau tidak akan menjauh dariku kan?” Seulas senyum lemah tersungging di bibir nya yang pucat. “Ne oppa. Aku janji. Mianhae, kalau aku selama ini jahat kepadamu.” Setetes air mata membasahi pelupuk mata Hyun Mi. “Kau jangan menangis, kau tidak jahat.”

***

“Hyung, aku ingin pulang. Sudah 7 hari aku disini dan tidak boleh melakukan apapun. Sebenarnya aku sakit apa?”. Buah yang di pegang Onew jatuh, ia bingung harus berkata apa. Ia menatap Hyun Mi, mukanya memerah dan matanya berkaca- kaca. Key dan Minho yang sedang bercakap-cakap, langsung terdiam. “Ada apa dengan kalian semua? Kenapa aku tidak boleh mengetahui penyakitku sendiri?”. Onew berjalan mendekati ranjang Taemin, “Taemin, kami semua tidak berani mengatakannnya, tapi ku rasa kau harus mengetahuinya juga. Kau menderita leukemia.”. Taemin menarik nafas panjang. Jelas ia terkejut. “Leukemia. Jadi karena itu, aku selalu terlihat seperti mayat hidup? Karena itu, tiap hari rambutku berserakan di lantai?”. “Oppa..” Hyun Mi menggenggam lengan Taemin. “Tidak apa Hyun Mi. aku bisa menerimanya. Jangan menangis lagi.”

Di balik senyum Taemin, ia benar-benar terpukul. Tapi demi Hyun Mi, ia harus sembuh.

“Hyung, aku ingin pulang.”. “Tapi kau masih butuh perawatan. Kau tidak bisa—”

“Aku ingin pulang.” Air mata membasahi pipi Taemin. Setelah menjelaskannya kepada dokter Jonghyun, akhirnya Taemin diizinkan pulang. Karena memang, penyakitnya sudah tidak bisa di apa-apakan lagi. Di dalam mobil, suasana hening menyilimuti mereka berlima. Hyun Mi meneteskan air matanya terus, di bahu Taemin. Tiba-tiba, taemin memecahkan keheningan. “Hyung apa, hidupku tinggal sebentar?”. Tidak ada yang menjawab. “Hyun Mi, aku ingin menepati janjiku, untuk bermain piano bersamamu. Kau mau kan?”, Hyun Mi menahan air mata lalu mangangguk. Minho mengantarkan mereka kerumah Hyun Mi. dengan kursi roda, Hyun Mi mengantarkan Taemin kedepan piano. Tapi setelah beberapa saat, Taemin terdiam. “Oppa, kau kenapa?” tanya Hyun Mi. Perasasaan Hyun Mi langsung tidak enak. “Hyun Mi, Mianhae. Tanganku tiba-tiba tidak bisa digerakkan.”. “Oppa..” air mata Hyun Mi turun lagi. “Mianhae. Kau mau tidak memainkannya untukku?”. Hyun Mi mengangguk. Ia memainkan sebuah lagu. Air mata Hyun Mi tidak henti-hentinya turun.

“Kau bermain, bagus sekali. Andai saja, tanganku ini bisa bermain juga. Minho, kau bisa bermain piano kan?” tanya Taemin setelah akhir dari permainan piano Hyun Mi. “Ya. Aku bisa. Wae?”

“Kalau Hyun Mi ingin bermain piano, kau mau temani dia kapanpun dia mau?”

“Oppa! Apa maksudmu berkata seperti itu. Kau juga akan menemaniku juga. Kau harus menemaniku!” tangis Hyun Mi tidak bisa dibendung lagi. Ia benar-benar menangis sambil memeluk Taemin. “Hyun Mi, aku sudah tidak bisa apa-apa lagi. Kau masih mempunyai Minho yang menyayangimu. Dentingan piano adalah aku. Ingat itu?”. Taemin menyandarkan kepalanya di kepala Hyun Mi. “Ne oppa. Aku ingat. Aku akan ingat.” Kata Hyun Mi, bergetar. “Taemin?!” Minho berjalan cepat, berjongkok di samping Taemin. “Taemin-ssi? Taemin?” ia mengguncang badan Taemin. Hyun Mi menegakkan badannya. Taemin hanya diam. Matanya terpejam. “OPPA!! Kau jangan pergi. Bangun!”. Key dan Onew berjalan mendekati Taemin. Mengguncang badan Taemin. Tapi taemin tetap diam tak bergerak. Tangis Onew juga pecah. Minho berusaha menenangkan Hyun Mi yang histeris. “Dia sudah pergi,” kata Key setelah memeriksa denyut nadi di tangan Taemin. Air mata membasahi pelupuk mata mereka semua. Hyun Mi benar-benar menyesal.

***

“Lakukanlah Hyun Mi. Demi Taemin.” Bisik Minho. Hyun Mi pun  naik ke altar gereja. “Terima kasih, kepada kalian semua, sudah hadir disini untuk mengenang teman, keluarga kita, Lee Taemin. Dia orang yang telah melakukan yang terbaik semasa dia hidup. Aku akan memainkan sebuah lagu, yang ku ciptakan sendiri untuknya.” Hyun Mi duduk di bangku piano dan memainkan lagunya. Setetes demi setetes, air matanya turun. “Oppa, sekarang aku mengerti. Perasaanmu. Hyun Mi, jangan menangis. Kalau kau menangis, dia akan menangis di sana. Dia tidak pergi. Dentingan piano adalah dia. Dentingan piano adalah dia. Dentingan piano adalah dia. Kuatkan dirimu Hyun Mi!” kata Hyun Mi pada dirinya sendiri dalam hati.

***END***

Kekekeke… gimana? Jelekkah? Atau hancur kah?? Kalau jelek, harap maklum ya.. komentarnya jangan lupa di tinggal…

Makasih udah baca….

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

30 thoughts on “Last Melody”

  1. Daebak, thor !!!! 😥 asli nangis nangis sambil guling guling gaje… T__T
    😦
    Buat Taemin : Dada Goodbye baby… 😦
    I love this story so much… 🙂

  2. AIR MATA AKU MELELEH!!!
    Bagus banget ceritanya thor!! Aku suka!!!!
    Ngga nyangka ternyata taemin itu sakit 😥
    Nice story thor^^

  3. wah keren loh thor
    walau aku sedikit bisa nebak
    tapi cukup keren
    ceritanya bagus thor
    aduh bingung mau bilang apa
    yg pasti
    good job thor
    XD

  4. mau nangisss….
    aku suka banget ,,,,
    bener2 suka… aku ngak berpikiran taemin sakit dari awal, tapi pas kata2 pucat itu aku kira emang dari NY ke korea ada perubahan gitu .. taunya beneran sakit .. >,< huwaaa
    tapi untuk deskripsi si hyuminya kurang dan terkesan buru2nya keliatan banget bagi ku .. heheheh tapi tetep kok, aku suka alur ceritanya

  5. For all: gomawooo :*

    Mian bikin kalian nangis.. Author gak nangis cuma keluar air mata pas nulis #plaak
    Gomawo yah 1 more time
    :*

  6. Unnie, this is awesooooomeeee 🙂
    Almost cryinggg, haha
    Endingnya sama minho unn?
    Sequel doooonggg muehehehe xD
    Oiya, ini ff prtama unnie? Keren banget! Keep writing unnie^^

  7. super daebak thor…
    aku sampe nangis nih…
    dibaca dari judulnya aja aku ngrasa kalo Taemin bakalan meninggal, dan ternyata benar..

  8. author hebat!!!aku beneran nangis lo bacanya….keren keren keren keren!!!!asal author tau ini pertama kalinya aku baca ff sampe nangis!author daebak!!!!!

  9. mian telat komen. .^^
    Daebak thor,sukses bkin nysek. .sad ending,taemin pula yg main. .tmbh nysek dh. .
    .pkok.nya keren dh thor. .^^b

  10. kerennnn… aku kirain pas taeminnya balik, mereka bakal jadi couplenya, tahunya tidak. kekekekekee.. bagus eonni!!!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s