Hope Dreams Come True – Part 6

Hope Dreams Come True [eps 6]

Title : Hope Dreams Come True [eps 6]

Author : Park Minri a.k.a charismagirl

Rating : PG-13, T

Genre : Romance, Friendship, Life, Sad

Length : Chapter, sequel

Cast (pairing) : Choi Minho – Park Minri,

Kim Jonghyun – Jung Yoonsa,

Kim Kibum – Lee Yeonhae,

Lee Jinki – Kim Soona,

Lee Taemin – Cho Jinra.

And the other cast find by your self.

Summary : Shining Stars Art School, adalah sebuah sekolah seni yang terkenal di Seoul, Korea Selatan. Disinilah tempat siswa bersekolah untuk menjadi seorang entertainer. Sekolah ini menerima siswa yang mempunyai bakat dan potensi. Selama tekad yang kuat dan rasa sungguh-sungguh tertanam dalam hati. Yakinlah, Dreams Come True.

“Mengapa harus dia yang mengalami hal seperti ini? Mengapa bukan aku saja. Aku mohon selamatkan hidupnya”

Shine [eps 6]

 

“Telah terjadi sebuah kecelakaan tepat di samping Shining Stars Art School, seorang siswi yang bersekolah disana tengah menjadi korban dan di laporkan luka parah. Saya Nara, Seoul headline melaporkan”

Sontak suara televisi yang ada di café membuat mereka berdelapan terdiam, mereka melihat berita tersebut dengan seksama. Dan di tempat kejadian ada Minho dan yeoja yang terbaring di jalan memakai hoodie biru muda. Jelaslah itu Minri.

Ngiung ngiung~

Suara ambulance terdengar sangat memekakkan telinga.

***

Drtt drtt

Ponsel Jinki bergetar, sebuah panggilan dari Minho. Lalu Jinki mengangkatnya cepat.

“Hyung…tolong aku…Minri kecelakaan, sekarang di bawa ke rumah sakit Seoul” suara Minho terdengar bergetar.

Klik! Minho menutup telepon.

“Kita ke Seoul Hospital. Sekarang!” ucap Jinki yang membuat semuanya berdiri.

***

Kibum pov

Setelah mendengar berita di televisi itu, aku langsung mencoba menghubungi Minri, tapi ponselnya tidak aktif. Setelah ku lihat dengan seksama. Hoodie itu, benar itu Minri. Tubuhku seketika lemas.

Lalu Jinki hyung mendapat panggilan dari Minho, yang memberitahukan bahwa Minri kecelakaan dan di bawa ke Seoul Hospital. Kemudian kami berdelapan langsung menuju ke sana.

Setelah sampai, kami berlari ke ruang UGD. Ku lihat Minho terduduk lemas di depan pintu. Wajahnya tertutup oleh kedua tangannya, dan di tubuhnya terdapat percikan darah segar.

“ku harap dia baik-baik saja”

“Minho-ya, apa yang terjadi?” aku langsung memegang bahu Minho dan menatap matanya yang sembab, benar dia menangis.

“Dia… dia… hiks“ dia menunduk lagi dan terisak, baru sekali aku melihat seorang Choi Minho menangis. Aku menepuk bahunya pelan.

Ku lihat yang lain juga menampakkan wajah sedih dan cemas, mereka tidak menyangka sesuatu yang buruk akan terjadi di saat mereka akan debut.

-Kibum-

Tuhan, aku sahabatnya. Kami mempunyai impian yang sama, aku mohon jangan ambil nyawanya sebelum mimpinya terwujud. Aku mohon. Demi apapun aku ingin kau memberinya kesempatan untuk hidup.

-Minho-

Tuhan, aku ingin waktu terulang dan biarkan saat itu aku yang mengalaminya. Kenapa kau mengirimnya sebagai malaikatku. Kenapa… Aku mohon selamatkan dirinya, aku bahkan belum mengatakan bahwa aku mencintainya.

-Soona-

Tuhan, aku mohon selamatkan nyawanya. Aku ingin melihatnya mewujudkan mimpinya. Aku ingin dia hidup. Aku rela menggantikan posisinya, aku rela.

-Jinki-

Meskipun aku tidak terlalu dekat dengannya. Tapi aku tahu dia orang yang baik dan ceria. Setiap hari suara tawanya selalu membahagiakan kami. Aku mohon jangan biarkan suara tawa itu menghilang secepat ini.

-Jinra-

Minri adalah seorang yang mandiri dan ceria. Aku sudah menganggapnya sebagai eoni-ku. Aku mohon, jangan biarkan dia pergi secepat ini. Aku menyayanginya.

-Taemin-

Tuhan, aku mohon selamatkan dia. Dia sahabat kami, dan kehadirannya begitu berharga bagi kami.

-Yeonhae-

Tuhan, maafkan aku saat itu menyakiti hatinya. Aku mohon biarkan kami debut dan mewujudkan mimpi kami.

-Yoonsa-

Dia orang yang sangat perhatian padaku. Dia bahkan merawatku saat aku sakit. Dia sudah ku anggap seperti adikku. Jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya.

-Jonghyun-

Dia yang kini bertaruh melawan rasa sakit, terbayang antara hidup dan mati. Dua  pilihan yang sangat berbeda jauh. Aku mohon selamatkan hidupnya, kami membutuhkannya.

***

Minho pov

Sekelompok orang berpakaian putih keluar dari ruangan tempat Minri di rawat, raut sedih tergambar jelas di wajah dokter itu.

Aku langsung berdiri dan memegang bahu dokter itu.

“Apa yang terjadi padanya? dia selamat bukan? Dia selamat kan dokter”

“Minho-ya tenanglah. Biarkan dokter bicara” ucap Kibum yang berdiri di sampingku. Aku menurunkan tanganku pelan.

“Dia mengalami benturan cukup keras di kepalanya, dan tulangnya sedikit retak di bagian kaki. Dan dia mengalami pendarahan yang cukup banyak. Kini dia masih belum sadar. Kondisinya sangat lemah. Kalian, berdoalah untuk keselamatannya” ucap dokter itu yang seketika membuat tubuhku lemas.

Aku berusaha berdiri untuk melihat keadaannya, perlahan aku masuk ke dalam ruangan yang serba putih itu.

Aku melihat Minri terbaring lemah di kasur, mulutnya di tutup oleh saluran oksigen, perban melilit di kepala dan bagian tubuh lainnya. Dan selang medis terpasang di tangannya.

Mengapa kau sebaik itu huh? Mengapa kau menyelamatkan nyawaku. Rutukku dalam hati. Tak perlu di komando, air mataku jatuh. Aku sakit melihat keadaanya seperti ini.

***

Author pov

“Semuanya terjadi begitu cepat. Kita hampir debut, tapi sesuatu terjadi padanya” ucap Yoonsa yang terdengar sangat sedih. Jonghyun, merengkuh Yoonsa dalam pelukannya.

“Tuhan pasti punya rencana untuk kita… bersabarlah”

Jinra dan Taemin baru datang dari rumah sakit, wajah mereka masih menampakkan kesedihan. Yoonsa mengangkat kepalanya melihat mereka berdua datang.

“Bagaimana keadaanya?” Tanya Jonghyun. Mereka berdua tidak menjawab, hanya mengelengkan kepala. Yoonsa mengerti dan kembali terisak di pelukan Jonghyun.

“Minho hyung, kau harus makan. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali kau makan” Taemin membawakan makanan di atas nampan, sedang Minho hanya menatap kosong fotonya bersama Minri dan Kibum saat di Macau.

“Minho-ya… Aku tahu kau sedih. Tapi kita semua harus sehat agar bisa menjaganya” Jinki duduk di tepi kasur Minho.

“Ini semua salahku”

“Andai saja dia bukan malaikat-ku”

Minho pov

Sudah tujuh hari sejak insiden itu, dia belum juga sadar dari koma. Setiap hari kami bergiliran untuk menjaganya.

“Minri-ya bangunlah, apa kau tidak lelah tidur selama ini” tidak ada jawaban, jelas. Karena matanya tertutup bak putri tidur yang menunggu untuk di cium pangerannya.

“Minri-ya, aku membawakan sesuatu untukmu aku mohon bangunlah” aku mengeluarkan sebuah headphone berwarna biru yang akan ku berikan padanya di hari kami debut. Tapi, debut kami tertunda. Bukan karena dia, tapi karena kami tidak ingin debut tanpa dirinya. Dia masih diam, wajahnya kian pucat tanpa senyuman di bibirnya.

“Minri-ya…” aku sudah tidak sanggup berkata apapun, lidahku terlalu kelu melihatnya seperti ini. Bibirku terus bergetar, menahan tangis.

“Sudahlah Minho-ya, aku yakin dia akan berjuang untuk kesembuhannya” Jinki menepuk pelan bahu Minho

Minri pov

Dimana aku sekarang? Tempat ini sangat terang di dominasi warna putih. Dan seseorang yang ku kenal tengah berdiri di depanku.

“Donghae Oppa” dia adalah Oppa kandungku yang pergi meninggalkanku tiga tahun lalu.

“Ne~ Minri sayang ini Oppa” dia terlihat sangat tampan dengan pakaian warna putih dan senyuman terukir di bibirnya. Wajahnya terlihat sangat tenang dan bercahaya.

“Oppa, bogoshippeoso” ucapku lirih.

“Nado Minri-ya, Oppa sangat merindukanmu” di sudut lain aku melihat teman-temanku yang tengah menangis. Ada apa dengan mereka.

“Chingudeul, kalian mengapa menangis?” namun mereka tetap menangis dan tidak mendengar suaraku.

“Minri-ya, kembalilah bersama teman-temanmu, mereka membutuhkanmu” ucap Donghae Oppa.

“Tapi Oppa…”

“Oppa akan melihatmu dari langit, dan sangat bangga jika kau bisa mewujudkan mimpimu”

“Gomawo Oppa~” aku melihat bayangan Donghae Oppa kian memudar lalu dia menghilang, ruangan yang berwarna putih terang berubah menjadi tempat asing yang lain.

***

Aku membuka mataku perlahan, rasa sakit di bagian kepala dan kakiku membuatku sedikit meringis. Ruangan ini sangat asing bagiku. Dan bau obat yang menyengat ini, sepertinya aku tahu aku berada di mana.

“Minri-ya, kau sudah sadar?” aku dengar, aku yakin itu suara Soona. Ku lihat ke sekeliling, tidak hanya Soona, delapan temanku yang lain juga berada disini.

“Aku akan memanggil dokter” ucap Jonghyun lalu berlari keluar. Tak lama Jonghyun kembali bersama sekelompok orang berpakaian putih kemudian memeriksa ku.

“Syukurlah, kau sudah membaik. Tapi kondisimu masih terlalu lemah. Jangan buat dirimu memikirkan hal yang berat” kata dokter itu, lalu dia dan perawatnya meninggalkan ku bersama teman-teman.

“Minri-ya, kau masih ingat dengan kami kan?” ucap Minho, terlihat raut cemas di wajahnya. Aku mengangguk pelan dan mencoba tersenyum, meyakinkan bahwa saat ini aku baik-baik saja.

“Tadi aku bertemu Donghae Oppa, semuanya tampak nyata”

“Siapa Donghae itu?” bisik Jonghyun pada Kibum.

“Oppa kandungnya, meninggal tiga tahun yang lalu” jawab Kibum singkat dengan nada berbisik, tapi cukup membuat Jonghyun membelalakan mata, terkejut tentu saja.

“Rasanya sudah lama sekali aku tidak melihat kalian” ucapku pelan. Soona dan Yeonhae mendekat mereka memegang tanganku.

“Sepertinya banyak yang sudah aku lewatkan” aku melihat kearah Taemin. “Taemin-ah, kau mengganti warna rambutmu?” Taemin tersenyum dan mengangguk.

“Aku sayang kalian” rasanya kata inilah yang sangat ingin aku katakan pada sahabat-sahabatku.

“Kami juga menyayangimu, cepat sembuh Minri-ya” ucap Kibum.

“Ahh” aku memegangi kepalaku, rasanya sakit luar biasa aku tidak bisa melukiskannya. Aku bahkan tidak tahu ada rasa sakit sesakit ini.

“Aku akan memanggil dokter” Jonghyun hendak pergi memanggil dokter. Lagi?

“Tidak usah. Aku mohon tetaplah disini” aku masih memegangi kepalaku.

“Tapi…” Minho angkat bicara.

“Aku mohon…” mereka semua mengangguk, bahkan Soona sudah menitikan air mata. Hey, aku tidak pantas kalian tangisi.

“Aku ingin menyanyikan sebuah lagu untuk kalian” aku siap jika aku di jemput Tuhan sekarang, tapi aku mohon izinkan aku menyelesaikan lagu ini.

As soon as I opened my eyes

I dislike it,

To be honest… I didn’t want to believe it

Because saying goodbye forever

Can only leave you feeling strange

“Tidak ada kata selamat tinggal” sela Kibum.

I’m gasping for breath

I’m afraid my heart has stopped

“Jantungmu masih lama ingin berdetak” tak peduli siapapun yang berkata aku terus meneruskan nyanyianku. Kini aku sedang memejamkan mataku.

How can I possibly believe you,

When you end our relationship without a warning?

Sekarang aku mendengar isakkan. Siapapun itu, aku mohon jangan menangis. Aku tidak pantas kalian tangisi.

I don’t know why, I can’t move on

My feet won’t move

It feels unreal today

One side of my heart aches

Aku menghela nafas, kepalaku masih sakit. Aku ingin menyelesaikan lagu ini.

The ring I placed on your finger

Return to my hand cold

I received my heart back in return

My last gift

Is this separation

“jangan katakan lagu ini hadiah terakhirmu”

Will there any memories left?

Like the time I meet you right out a movie scene

Is it because my memory left me?

Of that I’m suffering alone

“Semuanya tidak akan tinggal kenangan”

I don’t know why, I can’t move on

It feels like you’ll comeback

Perhaps right about now

She’s going through a period of regret

I can’t even move my heart

“Aku mohon hentikan…”

The ring I placed on your finger

Return to my hand cold

I received my heart back in return

My last gift

Was it yesterday when things started going to a miss?

Where did it all go wrong exactly?

My heart can’t let you go

Is it really the end?

“Ini semua tidak akan berakhir”

It’s not easy for me like my farewell greeting

My heart won’t become mine to control

I guess I’ll have to make an identifine decision to forget

So I can bear with at all

“Aku mohon hentikan Minri-ya…” aku mendengar suara Minho. Satu kali reff lagi aku akan berhenti.

The ring I placed on your finger

Return to my hand cold

I received my heart back in return

My last gift

You’re my last love…

(AN : translate SHINee – Last Gift)

Aku membuka mataku dan tersenyum sebisa ku mampu, aku melihat mereka menangis. Aku mohon jangan…

TIIITTT

Perlahan aku memejamkan mata dan ruangan tampak berubah menjadi putih lagi, persis saat aku bertemu Donghae Oppa tadi.

Minho pov

Dia terus bernyanyi meski kami memintanya untuk menghentikannya, tak satupun dari kami yang bisa menghentikannya. Sampai dia menyelesaikan lagunya. Dia membuka mata dan tersenyum untuk kami.

TIIITTT

DEG

Dia tersenyum manis sekali. Jantungku berdetak tidak karuan. Wajahnya sangat cantik dengan rambut panjangnya yang ikal diikat tinggi. Yeoja unik, wajahnya se’feminim  ini tak pernah kusangka kalau dia hebat bermain basket. Lalu aku teringat sesuatu.

“Apa kau sudah memikirkan lagu apa yang akan kita tampilkan di showcase?” Minri hanya menggeleng, sesekali ia mengelap keringat di dahinya.

“Aku masih bingung” ucap Minri.

“Secepatnya harus kita fikirkan waktunya tidak lama lagi. Belum lagi kita latihan”

“Ne~” dia berbaring, sepertinya sangat kelelahan. Aku pun mengikutinya.

“Minri-ssi” aku memanggil namanya. Ia hanya bergumam.

“Aku mau minta hadiahku”

“Ne?” Ia sedikit bangun.

“Aku ingin menciummu” Benar saja perkataanku langsung membuatnya berdiri, seolah semua lelahnya telah pergi.

“Mwo? SHIREO!!!” dia langsung lari, lumayan cepat. Ah tidak, sangat cepat. Lalu aku tertawa dan mengejarnya.

“Ya! aku cuma bercanda” Teriakku, dia lalu berbalik dan ‘mehrong’. Aisss, dasar yeoja ini.

***

“Ya! apa yang kau-“ Minri langsung membekap mulutku, aku yang tiba-tiba lewat tentu saja penasaran melihat Minri berdiri mematung di anak tangga. Kini jarak wajah kami hanya terhalang oleh tangan Minri. Aku melepas tangan Minri dan sedikit menengok ke atas.

“Apa yang kau lihat” bisikku. Minri hanya menggeleng dan berbalik hendak meninggalkanku, dia menginjak tali sepatunya. Dia hampir terjatuh dari tangga, refleks aku memeluknya.

“Ya! dasar pervert” Teriak Minri tepat di depan wajahku.

“Aku hanya menolongmu”

***

“Ya! apa yang kau lakukan?” Lagi-lagi aku melihat Minri mengintip sesuatu, dia terperanjat dan mengelus dada.

“Minho-ya, kau suka sekali mengejutkan aku. Sekali lagi kau mengejutkanku. Aku beri kau piring cantik” omel Minri yang terdengar seperti bergurau.

“Memangnya apa yang kau lihat? Kau seperti penjahat saja” Aku menengok sedikit ke dalam café. Lalu Minri menarik dan membawaku pergi.

“Sebaiknya kau menjauh dari area ini, kau bisa menggagalkan rencanaku”

“Kau benar sedang melakukan kejahatan. Apa kau memasang bom di café itu?” tanyaku penasaran “Dan sekarang kau ingin menculikku? Huaaa~ tolong aku” ucapku dengan teriakan yang disengaja. Lalu Minri membungkam mulutku, karena beberapa orang telah memperhatikan keanehan kami.

“Aissh, kau ini menyebalkan sekali” Minri berlalu meninggalkanku. Aku tersenyum, senang rasanya mengganggunya seperti ini.

Yeoja menarik, pikirku.

Suara monotone yang memekakkan telinga memecah keheningan di ruang rawat Minri, mesin pendeteksi detak jantung yang tadi bergerak naik turun kini berubah menjadi garis. Aku menutup telingaku, jangan sampai ketakutanku menjadi nyata.

Lalu ku lihat sekelompok orang berbaju putih masuk dan Kibum memapahku keluar. Kepalaku terasa berat. Lalu semuanya tampak gelap.

TBC

Maaf episode kali ini tidak memuaskan, karena banyak part lagu dan flashback. Sedang ceritanya kian memendek. Saya minta maaf para reader. Don’t forget ninggalin jejak. Padahal pengen bikin part ini sedih, ternyata gagal. saya sendiri pun tidak bisa menangis^^. Part selanjutnya akan lebih panjang, dan… “Last Episode”. Oke, thanks for wait and comment *bow

http://www.flamestory.wordpress.com

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

14 thoughts on “Hope Dreams Come True – Part 6”

  1. Wow sepertinya aku yg pertama coment 😀
    Bagus thor aku jd penasaran ‘last part’ nya
    minho pingsan yak? Aigoo

  2. KYAAAAAA MINRI JANGAN MATIIII!!!! KASIAN MINHO-NYA!!!!! :”(:”( *bantuin minho histeris*
    Yah………. Kl itu sudah takdir………………. *ikutan pingsan bareng minho*
    Intinya saya menunggu next partnya ya thor^^

  3. Wahhh,, bacanya sambil dengerin ntu last gift,, feel sedihnya dapet,,, aduhh Minri jangan mati dong,, Kesian authornya,, #ehh salah,, kesian Minho sama Key tuhh,,,

    ditunggu lanjutanya!!!

    Fighting!!!

  4. Wuahhhhh,, bacanya sambil dengerin ntu last gift,, feel sedihnya dapet,,, aduhh Minri jangan mati dong,, Kesian authornya,, #ehh salah,, kesian Minho sama Key tuhh,,,

    Penasaran sama Minri,,, ditunggu lanjutanya!!!

    Fighting!!!

  5. ahhh authorrr minrinya jangan mati … hmmm kurang dapet feelnya sih menurutku, tapi ada feelnya juga .. cuman kurang … heheheh
    ayolaaah…. masa minri mati … gimana nasib minho, gimana impian dia .. gimana dengan teman2nya …
    di tunggu part selajutnya …

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s