An Admiration or A Love (Everlasting Love)? – Part 1

An Admiration or A Love (Everlasting Love)? part 1

Title                         : An Admiration or A Love (Everlasting Love)?

Author                    : Imelda

Genre                      : Sad, Romance, Family

Main Cast               : Han Gyu Ri, Lee Taemin, Choi Minho, Park Yoon Hae

Support Cast          : Kim Ki Bum (Key), Lee Jinki, Kim Jonghyun

Length                    : Sequel

Rating                     : General

 

Deg…deg…deg…

Jantungku berdetak kencang dan tidak teratur. Rasanya seperti mau copot. Wajahnya semakin…semakin…semakin… dekat denganku. Sampai akhirnya hidungnya menyentuh hidungku. Tinggal beberapa senti lagi dia akan mendaratkan bibirnya yang merah muda ke bibirku. Aku menutup mataku pelan. Tapi tiba-tiba dia mengguncang tubuhku sambil memanggil namaku. Aku tetap terpejam sambil menunggu ciuman darinya. Dia terus mengguncang tubuhku hingga akhirnya aku membuka mataku perlahan…  dia terus berteriak memanggil namaku..

“Gyu Ri ~ah… bangun. Nanti kita terlambat.” Dia mengguncangkan tubuhku semakin kencang.

“ngg…” aku menggeliat. Mataku terbuka sempurna. Ternyata aku ada didalam kamarku. Rupanya tadi Cuma mimpi. Huft… mimpi yang menegangkan. Aku kaget dengan mimpi yang barusan. Kenapa aku bisa memimpikan Dia menciumku? Aku melihat ke asal suara yang memanggilku. Rupanya Dia. Namja yang tadi ada didalam mimpiku. Dia memakai baju seragam sekolah. Terlihat imut manis sekali. Aku tersenyum melihatnya.

“Gyu Ri ~ah… kenapa malah tersenyum? Nanti kita terlambat. Ayo cepat mandi. Ini sudah jam berapa? Aku tidak mau diomelin lagi sama pak Kim. Nanti nilaiku dikurangi. Aku tak mau ibuku menangis karena nilaiku anjlok. Araseo?” dia ceramah lagi. Telingaku sakit mendengarnya. Aku melirik jam wekerku. Ya ampun, sudah jam 8. Satu jam lagi pelajaran dimulai. Aku segera meloncat dari tempat tidur menuju kamar mandi. Aku cepat-cepat mandi biar tidak diomelin lagi sama sahabatku itu. Aku benar-benar pusing mendengar ocehannya.

“Gyu Ri ~ah… aku gantungkan seragammu di kenop pintu kamar mandi. Cepat mandinya!”

“ne… gumawo” aku berteriak dari dalam kamar mandi. Dia perhatian sekali. Seperti ibuku saja. Ha…ha… aku sangat beruntung mendapatkan namja seperti dia. Beberapa menit kemudian aku selesai mandi. Dan aku sadar kalau aku lupa membawa handuk. Ya ampun. Terpaksa aku minta tolong namja itu lagi. Aku terlalu banyak merepotkannya.

“Taemin~ah… bisa kamu ambilkan handukku? Ada didalam lemari yang paling kiri paling bawah.” Aku berteriak lagi dari dalam kamar mandi.

“ne…” dia menjawab singkat. Tak berapa lama terdengar ketukan dari pintu kamar mandi. Aku langsung membuka pintu kamar mandiku sedikit. Dia menjulurkan tangannya yang memegang handuk dari luar pintu.

“gumawo…”

“yeah…” dia menjawabku singkat lagi. Aku cepat-cepat mengambil seragamku dari gantungan kenop pintu kamar mandi dan memakainya. Beberapa menit kemudian aku selesai. Aku langsung keluar dari kamar mandi. Kulihat tempat tidurku yang semula seperti kapal pecah, telah tertata rapi. Aku yakin namja itu yang membereskannya. Mata ku mencari-cari namja yang kupanggil Taemin tadi. Rupanya dia ada dibalkon kamarku. Tanpa membuang banyak waktu, aku langsung menuju cermin riasku untuk berdandan. Biasalah… remaja. Tak butuh waktu lama aku berdandan.

“Taemin~ah… ayo cepat. Aku sudah selesai.” Aku berteriak dari meja riasku. Dia segera menghampiriku. Kami kemudian turun kebawah untuk berangkat sekolah. Yah. Kamarku memang ada di lantai 2.

“Taemin~ah… kita bawa bekal saja ya. Sepertinya tak sempat kalau kita sarapan dulu”

“yah… terserah kamu saja.” Jawabnya pasrah… Setelah sampai dibawah, aku dan Taemin segera menuju dapur.

“selamat pagi umma…” Taemin memberi umma ku salam sambil membungkuk.

“pagi Taemin…” jawab umma senyum.

“pagi umma… oh iya hari ini kami tidak sarapan. Kami membawa bekal saja. Kami sudah terlambat” aku pun memberi salam umma ku sambil mencium pipinya.

“apakah tidur kalian semalam nyenyak?” umma bertanya kepada kami sambil menyiapkan bekal kami. Kami berdua mengangguk.

“kalian semalam tidak tidur bersama kan?” Tanya umma penuh selidik.

“aduh umma. Tentu saja tidak. Kami kan masih kelas 3 SMA. Kami cukup tahu diri kok. Taemin datang ke kamarku tadi pagi. Malahan dia yang membangunkanku. Lewat jalan biasa umma. Dari balkon. ” Aku menjelaskan pada ummaku. Ku lihat Taemin tersenyum mendengarku.

“ne… umma senang mendengarnya.” Jawab umma sambil menyerahkan bekal kami.

“ayo chagiya kita berangkat… bye umma.” Aku melambaikan tanganku pada umma dan menarik tangan Taemin. Taemin membungkuk pada umma ku.

“maaf ya suamiku sayang… aku tak sempat menyiapkan bekal buatanku sendiri untukmu. Ho…ho…” aku berkata setelah sampai diluar teras pada Taemin. Aku selalu menggodanya dengan sebutan ‘suamiku sayang’ padanya. Biasanya dia selalu memonyongkan bibir merahdelimanya kalau aku berkata demikian. Dan dia terlihat semakin imut jika memonyongkan bibir.

“ne… tapi jangan panggil aku ‘suamiku sayang’ dong. Kalau orang lain mendengarnya bagaimana?” dia memonyongkan bibirnya seperti yang aku harapkan. Dia langsung mengambil sepeda. Aku segera mengikutinya dari belakang. Kami selalu berangkat tiap pagi ke sekolah dengan sepeda. Selalu aku yang mengemudi karena aku sangat menyukai bersepeda. Sedangkan Taemin aku bonceng. Walaupun agak berat karena dia cowok, tapi itu tak menyurutkan semangat bersepedaku. Kalian pasti heran karena tadi aku menyebutnya dengan sahabatku sekaligus ‘suamiku sayang’ kan? Beginilah ceritanya.

Flashback…

“apa? Jadi maksudnya kalian menjodohkan kami?” kami berteriak kaget berbarengan. Kedua orang tua ku dan orang tua Taemin pun mengangguk bersamaan.

“ya… kalian tahu sendirikan umma dan ummanya Taemin bersahabat sudah dari SMP. Nah, dulu kami pernah membuat janji kalau kami punya anak yang berlainan jenis kelamin, kami akan menjodohkannya. Ternyata harapan kami terkabul. Dan bagusnya lagi, umur kalian tidak terpaut begitu jauh. Malahan kalian sekolah nya seangkatan kan? Meskipun Gyu Ri lebih tua 1 bulan dari Temin, umma rasa itu tak menghalangi.” Umma menjelaskan penuh semangat sambil tersenyum dan agak sedikit malu sepertinya.

“lagi pula kalian sangat dekat kan? Dari kecil sudah bersama-sama. Appa perhatikan Gyu Ri tidak punya sahabat dekat sedekat Taemin. Kalian sudah tidak canggung lagi satu sama lain. Malahan appa tidak curiga kalau Gyu Ri setiap malam selalu bermain PS bersama Taemin dikamarnya Taemin. Appa sudah percaya penuh sama Taemin. Kalau appa tidak percaya pada Taemin, mungkin dari dulu oppa sudah memasang pagar berduri di balkon yang kalian jadikan jalan pintas menuju kesini ataupun ke rumah Taemin agar kalian tak bertemu malam-malam, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Jadi appa percaya Taemin bisa menjaga Gyu Ri.” Appa berceramah panjang lebar.

“tapi appa, dia sahabatku. Seseorang yang paling dekat denganku. Masa sahabat menikah? Tidak appa. Aku tidak mau hubunganku dengan Taemin menjadi berubah. Karena sahabat sangat berharga. Sahabat tak mudah ditemukan appa. Dan aku beruntung punya sahabat seperti Taemin. Aku tak mau merusak persahabatanku dengannya karena menikah dengannya. Tidak appa.” Aku menolak ide konyol perjodohan ini. Ku lihat Taemin Cuma melamun tanpa berkata sepatah kata pun. Aku yakin dia juga tak setuju dengan ide ini.

“Gyu Ri…” appa membentakku.

“cukup appa. Aku menolak perjodohan ini…!!” aku langsung berlari menuju kamarku yang dilantai dua. Aku langsung menghempaskan diriku dikasur sesampainya di dalam kamar. Aku menangis sekencang-kencangnya. Aku benar-benar tidak mau kehilangan Taemin sebagai sahabatku. Aku sudah menganggapnya sebagai saudara laki-laki ku. Tanpa aku sadari, aku tertidur dalam keadaan menangis. Sampai akhirnya aku dibangunkan oleh suara ketukan pintu kaca dari balkon kamarku. Aku langsung bangun dan menuju pintu tersebut. Aku yakin itu Taemin. Karena dia sering ke sini malam-malam kalau lagi ada masalah. Dia selalu curhat padaku dan meminta saranku. Aku pun selalu melakukan hal yang sama  ketika aku sedang ada masalah. Dia kesini melewati balkonnya seperti yang dimaksudkan appa tadi. Yah… kamar kami bersebelahan. Sisi samping Balkon kamarku dan balkon kamarnya sangat berdekatan. Bahkan hampir bersentuhan malahan. Sehingga memudahkan kami menyeberang dari balkon kamarku ke balkon kamarnya ataupun sebaliknya.

Benar dugaanku. Ternyata memang dia yang kulihat ketika aku membuka tirai dan pintu kaca itu. Taemin sepertinya kaget melihat mataku sembab. Mataku terasa perih.

                “Taemin… aku tak mau hubungan kita berubah gara-gara perjodohan ini. Aku ingin kita tetap bersahabat seperti ini.” Aku memulai pembicaraan. Aku langsung duduk dilantai. Kami memang sering duduk-duduk dilantai balkonku atau balkon dia dimalam hari. Apa lagi kalau malam ketika bintang sedang banyak-banyaknya. Dia mengikutiku duduk dilantai.

“Gyu Ri~ah… aku tahu perasaanmu. Sebenarnya aku juga tak menginginkan ini.” Taemin bebicara sambil menatap kosong ke langit. Matanya terlihat sedih.

“Kalau begitu, bantu aku menolaknya Taemin. Jangan diam saja seperti yang kamu lakukan tadi.” Aku berkata agak emosi. Dia diam saja. Beberapa menit berlalu… suasana menjadi hening karena tak satupun dari kami bicara

“Gyu Ri ~ah… boleh aku minta tolong padamu? Kali ini aku benar-benar berharap agar kamu bisa membantuku.” suara Taemin memecah keheningan.

“apa?” tanyaku singkat

“bisakah kamu menerima perjodohan ini?” Taemin mengalihkan matanya dari langit dan menatap mataku.

“apa?” permintaan Taemin membuatku tersentak kaget. Aku memperhatikan matanya. Disitu terlukis ada keseriusan dan kesedihan. Aku dapat membacanya dengan jelas.

              “aku tahu kamu menentang keras perjodohan ini. Tapi kali ini aku mohon padamu sebagai seorang sahabat. Kalau aku tidak melakukan hal ini, aku bakalan menyesal seumur hidup.” Mata Taemin berkaca-kaca. Dan beberapa detik kemudian mengalir sesuatu yang bening dari kedua sudut matanya. Yah… dia menangis. Baru pertama kali aku melihat dia menangis seperti ini semenjak kami berumur 7 tahun. Walaupun ketika berumur 5 tahun dia sangat cengeng, tapi sejak masuk SD, dia jadi laki-laki yang pantang menangis. Kami bersahabat memang sudah dari kecil. Kata ibuku, sejak kami sudah berumur 1 tahun, kami selalu bermain berdua. Tapi aku tidak tahu itu fakta atau hanya bualan orang tua kami. Ya tuhan… ingin sekali aku memeluk dan menenangkan sahabatku ini dalam pelukanku.

“menyesal seumur hidup? Maksudmu?” aku heran dengan kata-katanya barusan.

“yah… sebenarnya ayahku menderita gagal ginjal sudah lama. Aku tidak tahu kapan tuhan akan mengambilnya dari kami. Kata ayah, tak ada lagi hal yang membuatnya bahagia kecuali aku menikahi anak sahabat istrinya. Menurutnya, alangkah senangnya dua keluarga yang sudah dekat, dijadikan satu keluarga. Dan jalan satu-satunya yaitu dengan menikahkan kita. Walaupun aku punya kakak cowok, tapi dia tak mungkin dinikahkan dengan mu. Dia sudah punya pacar dan keluargaku sudah merestui hubungan mereka. Yang tinggal Cuma aku yang masih sendiri sampai sekarang. Ketika orang tuaku mengumumkan perjodohan tadi, aku juga sangat tidak setuju. Aku diam saja karena kamu tahu sendiri aku bukan tipe laki-laki yang meledak-ledak seperti mu. Tapi tadi ketika kami pulang kerumah, ayahku mengutarakan keinginannya ini. Dan aku tidak tega menolaknya Gyu Ri. Aku mohon padamu. Tolong terima perjodohan ini. Aku tak akan melakukan apapun yang kamu tidak suka. Kamu bebas berpacaran dengan laki-laki lain. Dan aku akan selalu menganggapmu sahabat. Aku tidak akan melarang apapun yang kamu inginkan. Aku tidak akan merubah sikapku selama ini padamu. Kita tetap sahabat Gyu Ri. Hanya status kita yang berubah. Bahkan jika kita sudah menikah nanti dan kamu minta cerai, aku akan mengabulkannya Gyu Ri. Dan kalau perlu jika kamu mau, kita bisa menikah dengan kontrak. Tapi aku mohon Gyu Ri, tolong terima perjodohan ini. Aku….aku…” kata-katanya terputus. Dia menundukkan kepalanya. Air matanya menetes sampai ke lantai. Aku langsung merangkul dan memeluknya. Menangis bersamanya. Dia membalas pelukanku. Aku sangat sedih mendengar berita ini.

“baiklah… aku akan melakukannya. Aku akan menikah denganmu. Tapi kamu janji kamu akan menjadi sahabatku selamanya. Kamu tidak akan merubah sikapmu padaku…” aku melepaskan pelukanku dan menghapus air matanya.

“aku berjanji. Gumawo Gyu Ri~ah…” dia senyum.

“ne… dan sepertinya kita tidak usah pake kontrak segala deh… karena aku percaya penuh padamu…” aku menambahkan.

“yah… gumawo… dan orang tua kita jangan sampai tau kalau kita tidak serius menjalani ini.” dia senyum padaku dan kembali menatap langit. Dia mengusap matanya.

“iya… dasar cengeng… segitu saja sudah nangis.” aku meledeknya. Dia menatapku.

“hei… kamu juga nangis kan?” dia membalas meledekku

“tapi kamu kan namja. Namja tak seharusnya menangis. Berbeda dengan yeoja… weks…” aku melet padanya.

“ah… terserah padamu saja. Saat ini aku malas berdebat denganmu. Dasar cerewet” dia kembali menatap langit. Aku tersenyum.

*****

“bersediakah kamu Lee Taemin, menerima Han Gyu Ri sebagai istri, menemaninya dalam keadaan sehat ataupun sakit, susah ataupun senang, dan hidup bahagia selamanya didalam satu rumah dengan segala kekurangan dan kelebihannya, didalam nama BAPA PUTRA DAN ROH KUDUS?” pendeta mengambil sumpah Taemin.

“ya… saya bersedia…” Taemin menjawab mantap.

“dan bersediakah kamu, Han Gyu Ri menerima Lee Taemin sebagai suami, menemaninya dalam keadaan sehat ataupun sakit, susah ataupun senang, dan hidup bahagia selamanya didalam satu rumah dengan segala kekurangan dan kelebihannya, didalam nama BAPA PUTRA DAN ROH KUDUS?” pendeta berbalik menanyaiku. Aku diam sesaat. Semua mata menuju pada kami. Tapi aku harus melakukannya demi Taemin. Demi Sahabatku.

“ya… saya bersedia” aku menjawab.

“sekarang kalian resmi menjadi suami istri. Silahkan kalian bertukar cincin dan cium pasangan Kalian.” Pendeta memberi aba-aba tentang apa yang harus kami lakukan selanjutnya. Aku dan Taemin segera memasangkan cincin ke jari masing-masing. Semua bertepuk tangan. Walaupun yang hadir hanya keluarga dan satu-satunya sahabat perempuanku yang bernama Park Yoon Hae, tapi suara riuh tepuk tangannya lumayan ramai. Pernikahan kami memang dirahasiakan dari yang bukan keluarga kedua belah pihak. Karena kami takut kalau sekolah tahu kami sudah menikah, sekolah akan mengeluarkan kami. Sedangkan ketika aku meminta orang tuaku untuk mengizinkan Yoon Hae hadir ke pernikahan ku saja, butuh perjuangan. Untung saja aku berhasil membujuk mereka.

“cium…cium…cium” terdengar mereka meneriakkan hal yang seharusnya lazim  terdengar di pernikahan. Aku agak canggung melakukan ini. Aku dan Taemin berpandangan. Tapi karena desakan mereka, Taemin memberanikan diri mendekatkan wajahnya ke wajahku. Pelan tapi pasti, Taemin mendaratkan bibirnya ke bibirku. Ya tuhan… jantungku berdetak kencang. inikah rasanya ciuman? Baru kali ini aku merasakan hal ini. Ini adalah first kiss ku. Dan yang mengambilnya adalah sahabat sekaligus suamiku… rasanya sangat lembut……

*****

“Han Gyu Ri…. Lee Temin, walaupun kalian sudah menikah, kalian tak boleh tidur sekamar. Tunggu kalian lulus dulu, baru kalian kami izinkan tidur dalam satu kamar. Menjelang lulus, kalian tinggal dan tidur dirumah masing-masing saja dulu. Kami sudah membelikan satu apartemen untuk kalian. Kalian hanya boleh menempatinya sesudah lulus SMA. Araseo?” umma memberikan perintah pada kami. Sebenarnya tanpa diberi perintah pun kami tak akan melakukannya.

“ne… umma.” Kami menjawab serempak. Kami memang sudah berjanji. Kami hanya pura-pura mesra jika di depan orang tua kami. Tapi dibelakang mereka, kami tetap menjadi sepasang sahabat. Bukan sepasang suami istri.

“oh satu lagi. Gyu Ri, kamu beri saja kunci duplikat pintu kamar menuju balkon kepada Taemin. Biar Taemin bisa membangunkanmu pagi hari. Kamu tahu sendiri kan? Kamu itu sangat susah dibangunkan. Tubuhmu harus diguncang-guncangkan dulu baru kamu bangun. Umma sudah bosan mengguncang-guncang dan berteriak pada mu setiap pagi. Taemin bisa bantuin umma kan membangunkan anak ini setiap pagi?”. Umma memastikan.

“tentu saja umma. Dengan senang hati” Taemin tersenyum.

End of Flashback…

*****

 

“Gyu Ri~ah… tadi ketika kamu tidur, sepertinya kamu tegang. Apa kamu bermimpi aneh?” Taemin bertanya padaku. Aku tetap mengayuh sepedaku selaju mungkin…

“tidak… aku cuma agak kaget. Aku kira yang memanggil-manggil nama ku setan. Rupanya kamu.” Aku berbohong karena aku terlalu malu mengatakannya.

“sialan… memang suaraku seperti suara setan apa?” dia menjitak kepalaku

“aw… sakit tau… jangan jitak kepala ku dong. Nanti aku bodoh lagi.” Aku mengomel

“memang kamu bodoh kan? Masa logaritma saja kamu masih bertanya padaku… dasar paboo…”

“aish… Ya… berhenti mengataiku paboo… dasar… ah~” belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, sebuah motor searah dengan kami yang melaju kencang menyenggol kami. Sepedaku langsung oleng dan kami terjatuh. Padahal kami sudah bersepeda dipinggir jalan. Motor itu berhenti.

“aw… “ aku meringis lututku berdarah. Taemin menghampiriku.

“Gyu Ri~ah… kamu tidak apa-apa?” Taemin kelihatan cemas. Ku lihat telapak tangannya sedikit lecet.

“yah aku tidak apa-apa.” Aku melihat kearah pengemudi motor itu.

“Ya… kamu kalau jalan hati-hati dong. Apa kamu tidak lihat ada orang… hah? Lihat… sepedaku jadi rusak. Dan kami terlambat ke sekolah… kamu harus tanggung jawab!!!” aku berteriak. Orang itu berjalan menghampiri kami sambil melepaskan helm nya. Ku terus menatapnya hingga aku melihat jelas wajahnya. Ya ampun… dia tampan sekali. Badannya tinggi, wajahnya mulus, matanya belo, hidungnya mancung, bibirnya terlukis sempurna diwajahnya. Kelihatannya dia cemas.

“kamu tidak apa-apa kan? Maaf. Tadi aku buru-buru. Aku sedang mengejar waktu ujian ku. Aku sudah terlambat. Makanya aku tidak melihat kalian. Aku benar-benar minta maaf.” Dia membungkuk pada kami.

“hyung?” Taemin bicara. Lebih tepatnya bertanya. Orang tadi melihat kearah Taemin.

“Taeminie… kamu Taemin kan? ya ampun… baru 5 tahun tidak ketemu, kamu sudah banyak berubah. Sampai-sampai hyung tidak mengenali mu. Kamu makin imut saja.” orang tadi menghadap ke Taemin dan memeluknya.

“Hyung, aku ini manly. Bukan imut….” Mulut Taemin monyong lagi. Anak ini memang hobi memonyongkan mulutnya kalau sedang digoda.

“ Hyung aku tidak sangka kita bertemu disini. Bukannya Hyung sedang kuliah di China? Kenapa ada disini?” Temin bertanya. Sepertinya mereka sudah akrab. Aku hanya melongo.

“umma menyuruh hyung pindah kuliah ke sini lagi, Minnie. Alasannya dia tidak bisa pisah denganku lama-lama.” Orang itu menjelaskan. Aku tertawa mendengar panggilan orang itu kepada Taemin. Minnie? Hah… memang cocok sih dengan wajahnya yang imut itu. Taemin memandangku dengan tatapan mengancam. Aku balik memandangnya dengan tatapan yang sama.

“kapan hyung ke sini?” Taemin bertanya lagi.

“kira-kira 1 minggu yang lalu. Baru 4 hari masuk kuliah, eh tau-taunya langsung ujian. Terlambat lagi. Makanya hyung cepat-cepat berangkat. Eh taunya malah ketemu kamu disini. Oh iya. Nona ini siapa? Pacarmu?” orang tadi bertanya dan menatapku.

“bukan. Dia temanku… namanya Han Gyu Ri” jawab Taemin. Aku heran dengan jawabannya. Kelihatannya mereka akrab seperti saudara. Tapi kenapa dia bilang ke orang ini kalau aku adalah temannya? Bukannya kalau saudara harusnya tahu kalau kami sudah menikah? Lalu kenapa orang itu menebak kalau aku ini pacarnya Taemin? Bukan istrinya Taemin? Arghh… sudahlah…

“oh… perkenalkan. Aku Choi Min Ho. Aku temannya Taemin. Tapi aku sudah menganggapnya adik. Ayahku adalah atasannya ayah Taemin. Tapi mereka sangat akrab dan  berteman baik. Makanya kami juga akrab. Aku kuliah di universitas konkuk semester empat.” Dia senyum sambil membungkuk dan menjelaskan tentangnya. Mungkin karena dia melihat aku bingung dengan ini semua.

“Gyu Ri imnida” aku balas membungkuk. Aku akhirnya mengerti kenapa dia bertanya seperti tadi. Karena dia memang tidak mengetahui tentang kami. Karena dia bukan keluarga.

“Kalian tidak apa-apa kan?” mukanya kembali khawatir.

“tidak apa-apa hyung. Hyung pergi saja ke kampus. Nanti ujiannya terlambat. Kami tidak apa-apa ditinggal. Lagi pula sekolahnya tidak seberapa jauh lagi.”jawab Taemin.

“oh ya sudah… hyung pergi dulu ya. Nanti kalau ada apa-apa, hubungi hyung!” dia mengambil secarik kertas lalu menulisnya dan kemudian menyodorkan pada Taemin. Dia kemudian kembali memasang helm dan melambai pada kami. kemudian pergi dengan motornya. Kami pun segera pergi ke sekolah dengan sepeda. Untung sepeda itu rusaknya tidak parah. Sehingga kami masih bisa berboncengan lagi ke sekolah.

“Taemin, dia kan lumayan akrab denganmu. Tapi kenapa aku baru pertama kali melihatnya ya? Harusnya kan aku juga mengenalnya kalau kalian seakrab itu. Tapi sepertinya dia tidak pernah ke rumah mu. Sedangkan kamu tahu sendirikan kalau kita disekitar rumah kemana-mana kita selalu berdua. rasanya janggal kalau aku tidak mengenalnya” aku masih penasaran.

“Jadi kamu cemburu?” Taemin menggodaku santai.

“aish… bukan. Aku Cuma heran saja.” Aku menjawab serius.

“oh… memang dia tidak pernah kerumahku. Aku, appa, hyung dan umma yang selalu mengunjungi mereka di Incheon. Mereka tinggal di Incheon.” Taemin menjelaskan.

“oh… tapi katanya dia kembali ke sini karena Alasannya dia tidak bisa pisah dengannya lama-lama. Tapi kenapa dia malah kuliah di Seoul?” aku masih penasaran

“yah mana ku tahu. Mungkin keluargaya pindah ke Seoul kali…” Taemin menebak

“oh…” jawabku datar…

*****

“Hei Yoon Hae… apa kamu tau artinya jika mimpi berciuman dengan seorang namja?” aku bertanya pada Yoon Hae ketika istirahat. Yoon Hae segera mengalihkan pandangannya dari makanan ke arahku. Sepertinya dia bingung.

“kenapa kamu tiba-tiba bertanya begitu?” Yoon Hae heran.

“tidak ada apa-apa. Cuma semalam aku bermimpi berciuman dengan namja.” Aku menjawab jujur.

“siapa? Taemin ya? Ha…ha…ha…” Yoon Hae tertawa dengan tebakannya sendiri.

“ya begitulah… tapi didalam mimpiku itu, dia tidak sempat menciumku. Aku juga bingung kenapa aku sampai bermimpi seperti ini. Ini pertama kalinya aku bermimpi begini.” Aku benar-benar bingung.

“Gyu Ri sayang… menurutku, jika seorang yeoja memimpikan namja yang melakukan hal yang biasanya hanya dilakukan oleh pasangan nya, itu artinya kamu mempunyai perasaan padanya. Walaupun Cuma sedikit. Jadi, kurasa tanpa kamu sadari, hatimu sudah mulai menerima Taemin bukan lagi sebagai sahabat.” Yoon Hae menjelaskan pendapatnya sambil tersenyum padaku.

“ah… yang benar saja. Aku tidak percaya. Dia kan sahabat ku Yoon Hae…” aku menepis anggapan konyolnya.

“yah itu terserahmu mau percaya atau tidak. Kan kamu sendiri tadi yang bertanya padaku.” Lanjut Yoon Hae. Dia kembali mencomot makanannya. Aku senyum melihat tingkahnya.

“oh iya… tadi waktu kami berangkat sekolah, kami kecelakaan. Cuma lecet dikit sih…” aku menceritakan pengalamanku sambil tersenyum.

“ya… kecelakaan kok senang. Ceritainnya sampe senyum-senyum gitu. Jangan-jangan otakmu udah kebalik ya karena kecelakaan itu.” Yoon Hae heran melihatku cerita sambil tersenyum.

“bukannya senang Yoon Hae sayang… tapi karena kecelakaan itu, aku bertemu seorang namja yang tampaaaan sekali… sepertinya dari pertama melihatnya, aku sudah mulai suka padanya. Dari tadi aku tidak berhenti memikirkannya” aku senyum-senyum malu.

“hah? Kamu tidak apa-apa kan?” Yoon Hae memegang kening ku.

“aish… apa-apaan sih… memangnya aku sakit apa?”aku menepis tangannya

“kamu jatuh cinta padanya? Ya ampun… ini pertama kalinya seorang Gyu Ri jatuh cinta. Hei.. sadar… kamu tuh sudah punya suami… hmp…” aku langsung menutup mulut Yoon Hae dengan tangan ku sewaktu dia bilang “Suami”. Aku melihat sekeliling. Untungnya tidak ada orang. Karena kami di atap sekolah. Kami memang sering makan siang disini.

“kamu hati-hati dong kalau ngomong. Untung tidak ada siapa-siapa. Hah… dia itu Cuma status saja sebagai suami ku Yoon Hae. Kan aku sudah cerita padamu. Aku memang menyayanginya. Tapi bukan sayang seorang yeoja terhadap namja. Tapi sebagai seorang sahabat. Dan setelah aku melihat namja itu, aku simpulkan bahwa aku jatuh cinta hari ini untuk pertama kalinya. Ternyata begini rasanya jatuh cinta ya? Hatiku senang rasanya.” Aku merentangkan kedua tanganku di udara sambil memejamkan mata.

“ya ampun Gyu Ri. Kenapa secepat itu kamu simpulkan? Mungkin saja kamu Cuma kagum pada dia kan?” Yoon Hae melihatku seakan tidak percaya.

“tidak Yoon Hae. Aku yakin aku sudah jatuh cinta. Dan aku akan mencari tahu lebih banyak tentang dia.” Aku senyum lebar.

“berarti kamu memang benar-benar tidak suka pada Taemin? Apa dia tidak akan sedih mendengar istrinya jatuh cinta pada namja lain?” Yoon Hae kelihatan khawatir.

“tidak Yoon Hae. Karena dia pernah bilang padaku kalau kami menikah, dia membebaskan ku berpacaran dengan laki-laki lain. Dan dia akan selalu menganggapku sahabat. Dia tidak akan melarang apapun yang aku inginkan. Berarti mulai hari ini, dimulailah kisah cintaku. Aku akan berusaha untuk membuat Choi Minho menyukaiku.” Aku menjelaskan pada Yoon Hae.

“oh… jadi namanya Choi Minho? Kalau begitu, kamu tidak keberatan kan kalau aku mendekati Taemin? Sabenarnya aku sudah lama menyukainya. Dari kelas satu aku sudah menyukainya. Hanya saja aku malu mengatakannya.” Wajah Yoon Hae memerah.

“apa? Kamu menyukai Taemin? Ya ampun… kenapa kamu baru cerita sekarang? Aku kan bisa membantu kalian dekat. Dasar kamu ini.” Aku agak kesal padanya.

“aku terlalu malu Gyu Ri. Maaf aku baru cerita sekarang. Tapi aku juga akan berusaha mendekatinya mulai sekarang” Yoon Hae semangat.

“apa maksudmu, kamu tidak perlu bantuanku?” aku bertanya untuk memastikan apa yang baru aku tangkap dari kata-katanya barusan.

“tidak Gyu Ri. Aku akan berusaha sendiri. Kamu juga pasti sibuk kan mencari tahu tentang namja yang kamu sukai itu?” Tanya Yoon Hae sambil membereskan bekalnya.

“benar juga. Baik lah kalau begitu. Ayo semangat… fighting…!!” aku mengangkat sambil mengepalkan tangan pada Yoon Hae.

“tapi kamu jangan menyesal ya”

“tidak akan.” Aku berkata mantap.

“ok. Fighting…” balas Yoon Hae

*****

Hei… ini adalah ff debut pertama ku… mian kalau jelek… sebenarnya aku sudah pernah menulisnya dif b… ^^…

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

15 thoughts on “An Admiration or A Love (Everlasting Love)? – Part 1”

  1. Aiihh….. Kok kesannya si Gyuri jadi tega banget gituuu .__.
    Tapi karena si Taeminnya juga udah ngebebasin siih… Tapi kasian jadinyaaa #labil wkwkkw-_-
    Sama Taemin ajadeeeh yayayaa hoho
    Penasaraaaan! Lannjuuuuttt! 😀

  2. ouh udh nikah… hahahh pantes manggil ibu gyuri jg pke eomma n pggl gyuri pke jagiya… kkk

    eh taemin… masih muda udh ngomongin cerai…

    cinta segi4 nih…
    hyung taemin kyknya jinki deh ya.. haha key jd siapa? kkkkk

    penasaran.gimana lnjutannya.. n konfliknya jg..

    1. btw ketahuan bgt ya emin n gyuri msh polos gitu.. ckckck

      astaga.. aq bru ngeh sm jdulnya.. admiration.. aq td ngeliatnya administration.. wakaka pntes td berasa aneh

  3. Wah, nikah muda! Sekalipun dibebaskan, mendekati namja lain dalam status pernikahan tetap saja namanya selingkuh. Bagaimana jika ternyata Taemin benar-benar mencintai Gyuri?
    Nice story. Lanjut!

  4. Wahhhh
    Gabisa ini
    Kasian taeminn
    Udah nikah tapi ngotot aja gasuka
    Padahal taemin kurang apa coba ewkwwkkwk
    Tiap pagi dibangunin
    Ya walopun minho juga ganteng bgt
    Lanjuuutt

  5. ff debut ?? bohong !!! suka sama jalan cerita dan penilisannya …
    ahhhh suka…suka… pokoknya kalo post jangan di lamain …
    keren bgt … ahh gyuri … sedih jadi taemin …
    ayo lanjutannya !!!

  6. kayaknya nanti gyuri bakal nyesel gara-gara bolehin yoonhae deket2 sama taemin… terus Taeminnya juga cemburu sama gyuri gara2 deket sama minhoo…~

    apapun cerita kedepannya,,, nice ff!!! ff debut yang keren~… jalan ceritanya keren. tapi emang bahasanya agak gimana-gimana gitu… ttp suka sama jalan ceritanya.

    FIGHTING ya, thor~

  7. Jiaaaah taemin just married
    Hehe
    Sukaaa tapi kurang menantang alurnya kurang klimaks
    Apa belum ya ?!
    Hehe
    Aih aku rasa taemin beneran nyium Gyuri pas tidur deh
    Hehe
    Ditunggu lanjutannya~

  8. Lanjutin eonnie , ceritanya bagus . Tapi knp yoon hae tega bilang suka sama taemin didpan gyu ri . Jadi agak sebel Hmm .

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s