Love Should Goes On

Title: Love Should Go On

Author: HeartLess
Cast:

  • Lee Eun Bin
  • Choi Minho
  • Kim Jonghyun

Genre: Sad Romance
Length: One Shot
Rating: General

Author’s Note:
Sebuah SAD ROMANCE dengan cast Jjong sebagai selingan sebelum Seri “Proposal” berikutnya publish :p… Meskipun gaje dan jelek, semoga saja readers sekalian ttp
bersedia memberikan komentar. Baik berupa kritik, saran, bashing juga gapapa asal jangan nge-bash
SHINee nya ya ^^
Happy Reading^^
……………………………………

[Kim Jonghyun’s POV]

Apa kau pernah mengalami apa yang aku alami? Jika ya, apa yang akan kau rasakan dan apa yang akan kau lakukan jika berada di posisiku? Ini adalah sebuah kisah tentang sebagian kecil dari kisah hidupku.
………………….

“Aku pulang, chagi” dengan segera aku memeluk dari belakang yeoja yang sedang merapikan buku-buku di atas sebuah meja berwarna coklat dengan laptop di atasnya. Dia segera menolehkan wajahnya ke arahku, lalu ikut membalikkan badannya juga sehingga sudah berhadapan penuh denganku, kemudian tersenyum dengan sangat manis sekali.
“Oso oseyo, chagi” katanya lembut dan tersenyum, membuatku tidak tahan ingin memeluknya erat. Yeoja ini, aku sangat merindukannya. Mungkin memang berlebihan, karena aku baru saja meninggalkannya di rumah selama 12 jam untuk pergi bekerja. Tetapi memang itulah yang kurasakan. Bagiku, dia selalu membuatku rindu. Bahkan disaat dia sedang berada di sampingku pun, aku tetap merasakan rasa itu, rasa ingin selalu berada di dekatnya, ingin selalu merasakan perasaan hangat yang kurasakan setiap kali aku melihat wajahnya.

Ku peluk dia erat sejenak, kemudian menyibakkan rambut poni dari dahinya dengan lembut dan kulayangkan sebuah kecupan lembut di permukaan kulit dahinya yang lembut itu.
“Bogosipo” kataku tersenyum dan menatapnya dalam-dalam, dan dibalasnya hanya dengan sebuah
senyuman kecil.
“Apa kau lapar chagi?” tanya nya kini melepaskan diri dari pelukanku. Aku menggeleng pelan, lalu
mendudukkan diriku di sofa dan melepas lelah karena bekerja untuk sejenak.
Kulihat dia memasuki dapur dan kembali membawa segelas air putih tak lama kemudian. Dia memberikan air itu kepadaku, kuterima dann kuteguk sedikit, dan meletakkannya di atas meja. Aku merangkulkan tanganku ke pundaknya, dia sudah duduk di sampingku setelah memberikan air kepadaku tadi.

Tanganku membelai-belai rambut panjang halusnya, dia hanya menatapku dan tersenyum kecil. Tidak
banyak yang kuucapkan, hanya terus membelai rambutnya sambil menatapnya dalam-dalam. Sungguh, sinar matanya itu, selalu berhasil membuatku tidak bisa mengalihkan pandangan sekali sudah terkunci di dalamnya.

“Bagaimana harimu?” aku melepaskan rangkulanku, lalu melepaskan dasi yang masih bertengger di leher dan kemudian menggulung asal lengan kemeja ku yang panjang.
“Sedikit melelahkan. Mengejar deadline, kau tau. Hari ini sibuk sekali” ia menyandarkan dirinya ke sofa, memang dari raut wajahnya aku bisa melihat betapa lelahnya istriku ini, hari ini.

“Aigo~~ my honey~~ kau pasti sangat lelah sekali dengan deadline mu itu. Mianheyo, seharusnya aku
mencarikan seorang pembantu untuk mengurus rumah agar kau tidak perlu menambah lelahmu itu dengan masih harus membereskan rumah dan menyiapkan makanan untukku” aku mencubit pelan hidungnya, ini adalah salah satu hal kesukaanku.
“Aniyo~ aku tidak ingin menyewa pembantu. Aku suka menyiapkan makanan untukmu. Aku juga suka
melakukan pekerjaan rumah tangga. Karena aku melakukannya untukmu” dia tersenyum mengatakan
hal tersebut membuatku benar-benar merasa bahagia karena memiliki seorang istri yang sangat ku cintai sekaligus sangat perhatian kepadaku.
“Lagipula, aku mengerjakan pekerjaanku di rumah juga. Menulis kan tidak perlu harus mengantor” dia
tersenyum lagi, membuatku benar-benar gemas.
“Aigo~ naui yeobo!!” aku segera mencubit kedua belah pipinya dengan gemas. Aku sangat senang
melakukan ini padanya. Ya,karena dia memang benar-benar menggemaskan bagiku.

“Hentikan!!” protesnya mencoba melepaskan tanganku dari pipinya, membuat dia terlihat semakin
menggemaskan.
“Shiro” kataku tersenyum jahil, tetapi kemudian dia membalas mencubit pipiku juga.
“Awas kau” kataku melepaskan cubitan di pipinya, tetapi kemudian menggelitiki badannya, membuatnya geli dan melepaskan cubitan di pipiku juga.
“Kyaa~~ geli” katanya menggeliat mencoba menghindari geliat-geliat jari tanganku, tapi aku tak menyerah, semakin agresif menggelitikinya dan membuatnya geli lalu terbaring di sofa.
“Ampun~~kyaa~~~” katanya berusaha menangkap tanganku sambil menahan tawa. Dia meronta-ronta karena kegelian, sedangkan aku masih tidak menyerah menjahilinya. Tapi tangannya berhasil menahan
tanganku kini, membuatku menghentikan gerakan tanganku.

“Hah…hah…hah” dia terdengar ngos-ngosan, terlalu capek tertawa mungkin. Tapi wajah dan ekspresinya sungguh menggemaskan saat ini. Membuat desiran kencang menghiasi dadaku. Segera aku menurunkan tubuhku, namun masih tetap terduduk, ke arah istriku yang sudah tenggelam ke sofa karena aku gelitiki tadi.
Tak ku sia-siakan ketidak berdayaannya dan mencuri kesempatan melumat bibirnya. Tapi tidak ada
penolakan darinya, dia membalas melumat bibirku juga, membuatku merasa berdebar hebat. Aku menyukai sensasi ini, aku sangat menyukai menumpahkan semua rasa rinduku yang meluap ke dalam ciuman kami.
Bukan sebuah ciuman panas, tetapi ciuman yang cukup dalam untuk mengekspresikan betapa aku sangat mencintainya.

“Cup” aku melayangkan sebuah kecupan ke keningnya sekali lagi saat tautan bibir kami terlepas.
“Aku tidak akan melakukan macam-macam padamu hari ini, karena kau sangat lelah. Kau harus beristirahat”
aku mengedip sambil tersenyum dan dibalas oleh sebuah senyuman pula darinya
“Gomawo, aigo~ suamiku sangat pengertian” dia mencubit pipiku dengan sebelah tangannya.
“Um, baiklah. Sekarang, sang pangeran akan menggendong sang putri yang kelelahan.” Aku membopong tubuhnya, tangannya melingkar di leherku, dan dia tertawa kecil mendengar ocehanku barusan.
“Pangeran? Pangeran berhidung besar maksudmu?” katanya sambil tertawa geli.
“Dan kau putri pelupa” balasku mengejek

Aku menurunkannya, membaringkannya ke atas tempat tidur di kamar kami.
“Beristirahatlah. Aku akan mandi dulu, tidak usah menungguku jika memang kau sudah lelah. Tidurlah
duluan” aku membelai lembut rambutnya, dia tersenyum.
“Sudahlah, cepat kau mandi saja. Aku tidak mau tidur dengan dinosaurus yang tidak mandi dan beraroma tidak sedap” ejeknya
“Aish~~ ne ne ne. Dasar putri cerewet” aku kembali mencubit hidungnya pelan dan dibalas sebuah pukulan kecil mendarat di tanganku.
Aku tertawa kecil, lalu segera melepas tanganku dan memutuskan untuk segera memasuki kamar mandi yang terletak di dalam kamar.
“mandi yang harum!” aku mendengar teriakan nya saat baru sampai ke kamar mandi. Dasar yeoja ku itu. Aku tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.

………………………………………

“Segarnya” ujarku sambil mengeringkan rambutku yang masih setengah basah dan memakai pakaian
tidurku. Kulihat ke arah ranjang, istriku sudah tertidur pulas.
Wajahnya sungguh cantik, dan terlihat damai. Aku membelai wajahnya lembut dan menyunggingkan sebuah senyuman. Aku benar-benar sangat mencintai yeoja ini. Sungguh sangat mencintainya.

Aku menaikkan selimut yang menyelimuti setengah badannya hingga menutupi sampai ke dadanya. Hari ini, hari yang cukup dingin dan aku tidak ingin istriku sakit karena kedinginan.
Sekali lagi aku menatapnya dalam-dalam. Yeoja ini sungguh sudah membuatku gila. Tiada hari tanpa
memikirkannya di dalam otakku.

“Text Message incoming”

Bunyi ponsel yang terletak di meja dekat ranjang membuyarkan lamunanku. Aku melihat sebuah text
message masuk di layar ponsel Eun Bin. Aku meraihnya dan membukanya. Tidak bermaksud ingin mengecek ponselnya, hanya saja aku takut itu sebuah pesan penting atau darurat. Jadi kuputuskan untuk melihat apa yang tertera di dalamnya.

From: xxx-xxx-xxxx
Message: Noona, aku Choi Minho. Bisakah kita bertemu sekarang? Ada hal penting yang ingin ku
bicarakan. Aku tunggu di taman depan rumahmu.

Membaca pesan tersebut seperti membuat jantungku tertikam sebuah pisau. Namja itu, mengapa ia
ingin bertemu dengan Eun Bin? Apa hal penting yang ingin di bicarakannya? Apakah mereka selalu saling mengirim pesan seperti ini ditengah kesibukanku yang membuatku jarang berada di rumah?

Aku menatap Eun Bin yang sedang tertidur sejenak.
Mianhe,chagi. Aku harus mewakili mu menemuinya. Aku rasa dia sudah menunggumu. Setidaknya aku harus menyampaikan bahwa kau sudah tidur agar dia tidak menunggumu tanpa hasil. Dan aku juga memang ingin berbicara dengannya. Sudah lama, sejak aku tidak berbicara dengannya. Dan semoga saja kali ini aku bisa memperbaiki komunikasi kami yang rusak.

………………………………..

“Apa kau sudah lama menunggu?” aku menyapanya. Pria jangkung itu terlihat terkejut saat berbalik dan mendapati bahwa yang menghampirinya bukanlah orang yang ditunggu-tunggu olehnya.
“Hyung, mengapa kau…” nada suaranya terdengar gugup dan lirih
“Eun Bin sudah tidur. Dia sangat kelelahan hari ini, jadi dia tidur lebih awal” jawabku mencoba untuk
bersikap ramah.
“Ah, gwenchanayo hyung” kalimatnya terdengar canggung. Tidak, bukan hanya kalimatnya, tapi suasana yang meliputi kami berdua sekarang sangat canggung.
“Mianhe.. aku dengan lancang membaca pesan darimu. Dan aku dengan lancangnya datang. Aku,hanya
tidak ingin kau menunggu dengan sia-sia. Lagipula, aku hanya ingin bertemu dengan adik tiriku sendiri” aku berujar sambil mendudukkan diriku di bangku taman.

Adik tiri? Benar, namja bertubuh tinggi ini adalah adik tiriku. Omma menikah lagi setelah bercerai dengan appa saat aku berusia 17 tahun, dan aku dipaksa ikut dengan appa. Ahjussi yang menikah dengan omma adalah seorang duda dengan seorang anak yang berusia satu tahun dibawahku. Dan dialah namja di depanku ini, Choi Minho.

“Jadi sejak kapan kau pulang?” tanyaku pada Minho yang kini duduk di sampingku di bangku taman
“Sudah 3 bulan hyung. Maaf aku tidak memberi tau kau. Aku hanya tidak mau merepotkan mu hyung”
jawabnya sembari menyodorkan sebuah minuman kaleng padaku.
“Gomawo.” Aku menerima minuman itu dan membuka lalu meneguknya. Satu tegukan bir berkadar alkohol rendah memang berguna untuk menghangatkan badan di malam dingin seperti ini.
“Hyung…”

“Ne?”

“Mianhe…..” ku dengar dia berkata dengan samar, ada nada perasaan bersalah yang mendalam terpancar dari suaranya.
“Ne?” kataku tak mengerti. Ya, aku memang tidak mengerti maksud kata maaf yang baru saja diucapkannya itu.
“Mianhe hyung, untuk banyak hal yang sudah kulakukan..” dia terdiam sejenak, mengambil waktu
menatapku, kemudian kembali melanjutkan kata-katanya.
“mianhe untuk pertengkaran bodoh kita dua tahun lalu. Mianhe karena aku pergi tanpa meninggalkan
pesan. Mianhe telah membuat omma dan appa khawatir. Mianhe juga karena aku telah menyakiti hati Eun Bin noona. Dan mianhe karena aku tidak memberitaumu aku pulang.” Suaranya terdengar bergetar. Aku bisa merasakan perasaan bersalah yang mendalam terbersit dari caranya menyampaikan kalimat itu, dan juga wajahnya yang tertunduk.
“Aku sangat bodoh hyung…. meninggalkan orang yang benar-benar mencintaiku hanya karena orang ketiga yang menggodaku. Dan kau tau hyung? Setelah menjalani semuanya selama 1 tahun, aku baru menyadari siapa yang sesungguhnya aku butuhkan, aku cintai dan aku rindukan.”

Minho menarik nafas sejenak, lalu hendak melanjutkan kata-katanya. Aku mencoba menatap nya dan dia balas menatapku. Aku hanya ingin memberikan kesempatan pada namdongsaengku untuk menjelaskan situasi yang sebenarnya membelenggu kami sepanjang 2 tahun ini.
“Krystal, aku sudah putus dengannya setahun yang lalu. Setelah aku memutuskan ikut dengan Krystal ke Jepang tanpa pamit, entah mengapa hatiku terasa kosong, hyung. Aku memang merasa senang bersama Krystal. Tapi di dalam hatiku seperti ada yang hilang. Krystal memang yeoja yang baik, cantik dan menarik, dia selalu membuatku tersenyum. Tapi seperti di dalam hatiku ada yang mengatakan bahwa bukan dia yang benar-benar kuinginkan, hyung.”
“dan selama satu tahun, entah mengapa bayangan Eun Bin noona lah yang terus berkelibat dan terus
menghantuiku. Hatiku sakit saat mengingat air matanya yang mengalir saat aku memutuskan hubungan kami. Sakit, hyung. Dan aku dengan bodohnya baru menyadari siapa yang sesungguhnya aku benar-benar cintai”

“Gomawo hyung, setelah aku pergi, kau lah yang selalu setia menemani Eun Bin noona. Aku bahkan tau kau sudah mencintainya jauh sebelum aku mengenalnya. Gomawo hyung, dan mianhe, aku sudah membuat kalian menderita” kata-katanya membuat air mata tanpa sadar mengalir pelan dari sudut mataku. Ah, aku memang orang yang sensitif dan gampang menangis.
“sebenarnya aku tidak pernah bermaksud untuk membiarkan kau maupun noona mengetahui
kepulanganku. Aku hanya tidak ingin kebahagiaan kalian harus rusak karena aku, hyung. Tapi, ada
sesuatu yang mengganjal di dalam sini hyung. Setidaknya aku hanya ingin meminta maaf kepada noona,
meskipun aku tau, hanya maaf saja tidak cukup.” Minho kembali menjelaskan dengan suara semakin lirih.
Dongsaengku ini sangat tegar. Dia tidak mudah menangis, bukan karena dia tidak bisa menangis. Tapi dia tidak ingin terlihat lemah di depan orang lain.

“Aku hanya ingin noona tau bahwa aku sangat menyesal. Dan aku sangat mencintainya. Aku hanya ingin noona memaafkanku. Mianhe hyung.. mianhe telah mengajaknya bertemu tanpa sepengetahuanmu. Aku, benar-benar hanya ingin mengeluarkan semua hal mengganjal dari hati ini hyung. Dan sungguh aku tak akan pernah bermaksud mengambilnya lagi darimu utk kedua kali. Aku hanya……………” belum selesai Minho mengatakan kalimatnya, segera aku memberikan sebuah pelukan persaudaraan pada namdongsaeng yang kurindukan ini.
“Ani… aku tidak akan pernah menganggapmu seperti itu, Minho-ya. Kau adalah dongsaeng kesayanganku. Aku tak akan pernah membenci mu untuk ini.” Air mata jatuh lebih deras dari mataku kini.
Sakit, perasaan sakit karena melihat dongsaeng ku menderita selama ini, sungguh membuatku tak bisa
marah atau benci padanya. Lagipula, hidup ini memang penuh dengan ujian bukan? Jadi apa yang telah
dilakukannya, itu hanya bagian dari ujian hidup.

“Hyung…..”

“Aku…. aku rasa noona tidak akan memaafkanku. Jadi, lebih baik kau menyampaikan permintaan maafku padanya hyung. Aku, aku…. aku rasa menemuinya bukan pilihan tepat. Aku tidak ingin menyakiti dia dan kau lagi hyung.” Katanya saat aku melepaskan pelukan kami.
“Tapi bagaimana kalau dia masih sangat mencintaimu, Minho-ya? Dan bagaimana jika dia akan memilihmu kembali? Bukankah itu akan lebih baik untuk kalian berdua? Kalian memang sudah saling mencintai dari awal” ujarku dengan suara sedikit parau, masih menahan tangis ku untuk tidak pecah

“Justru itu yang tak akan ku biarkan terjadi hyung. Tidak adil untukmu yang selalu setia menemani nya. Aku tak ingin merusak kebahagiaan kalian hyung. Aku tau, kau adalah yang terbaik untuk noona.” Minho menepuk punggungku pelan, ada sinar mata kesedihan terbersit di bola matanya yang indah.

“Hyung, mianhe. Aku rasa aku lebih baik pamit saja. Tolong sampaikan permintaan maafku pada noona. Dan, hapuslah pesan itu dari ponselnya.” Minho beranjak dari bangku taman, diikuti olehku.
“Minho-ya.. jangan menghilang lagi. Setidaknya dariku, atau dari omma dan appa” ujarku saat dia berbalik dan akan melangkah pergi.
Dia kembali berbalik ke arahku.
“Ne, hyung. Aku tidak akan meninggalkan omma, appa dan kau lagi hyung. Tapi kumohon. Jangan biarkan aku menemui noona lagi hyung. Aku takut, aku takut akan menyakitimu lagi hyung. Jebal, anggap saja ini permohonanku kepadamu”
“Ne…..” aku mengangguk lemah kepadanya. Pertanda menyetujui untuk melakukan sesuai dengan yang dikatakannya tadi.
“Gomawo hyung. Aku pamit dulu. Annyeonghi geseyo hyung.” Dia membungkuk dalam-dalam. Lalu tak
menyia-nyiakan waktu berbalik dan segera beranjak.

Minho, pasti dia menangis. Dia tidak pernah mau orang lain melihat air matanya. Dia tak pernah ingin
terlihat lemah di depan siapapun. Dongsaengku, sungguh sakit melihatnya menahan perasaannya seperti itu.
Hyung yang buruk kah aku?
Ah, air mataku menetes lagi. Kenapa perasaanku sangat melankolis seperti ini? Sungguh tidak cocok dengan fisikku yang terlihat gagah. Memalukan.

………………………………….

Aku menutup dengan pelan pintu kamarku, tak ingin menciptakan suara berisik yang bisa membangunkan istriku. Bagaimanapun ini baru jam 1 dini hari, dan aku tak ingin istirahat istriku terganggu.
Aku melihat wajah tidurnya yang damai, sungguh cantik dirinya.
Tapi aku teringat akan Minho kemudian. Dalam pikiranku terus berputar pertanyaan “apakah dia masih mencintai dongsaengku?”

Aku membelai wajahnya lembut, dia masih berada dalam alam mimpinya. Pikiran mengenai Minho dan
dirinya terus berputar kacau di dalam otakku. Hingga tanpa sengaja aku menangkap sebuah buku kecil
tergeletak diatas meja dekat tempat tidur. Aku meraihnya dan menyiapkan hati membukanya.

Lembar demi lembar yang ku sibakkan, hanya ada foto dongsaengku yang tertempel di setiap helainya.
Entah mengapa aku tidak kaget, malah sudah menduganya. Foto-foto Minho dengan berbagai ekspresi,
dengan keterangan-keterangan seperti “My Keroro Prince” atau “This smile always brightened up my day” di bawah foto tersebut, ditulis tangan dengan garis tangan yang ku kenal sebagai tulisan Eun Bin.
Aku memutuskan untuk tidak lebih jauh membuka halaman-halaman tersebut.

Jangan ditanya, sudah pasti rasa sakit lah yang sekarang berkecamuk dalam hatiku. Aku tersenyum miris pada diri sendiri. Tiba-tiba bayangan masa lalu seperti berputar dalam memori ku.

—FLASHBACKS—

“Gamsahamnida.. aku akan membayarmu nanti” ujar gadis yang tingginya mencapai mataku dan berdiri di hadapanku ini
“Gwenchana. Anggap saja aku berbagi kebahagiaan karena memenangi kontes musik hari ini” aku tersenyum pada gadis dihadapanku dan dibalasnya dengan sebuah senyuman yang sangat manis

“Kim Jonghyun” aku mengulurkan tangan padanya sambil tersenyum dan di raihnya tanganku untuk
dijabatnya
“Lee Eun Bin, bangapseumnida”

Gadis ini memang akhir-akhir ini menarik perhatianku. Dia adalah seorang pelanggan setia di cafe tempat aku bekerja sambilan sebagai seorang pelayan. Sikap pelupanya membuat dia terlihat menarik di mataku.
Sering aku melihatnya berekspresi lucu lantaran melupakan sesuatu. Misalnya meninggalkan buku PR nya di cafe, atau melupakan kunci lokernya, dan hari ini lupa membawa dompetnya. Tapi ini adalah berkah bagiku, sehingga aku bisa berkenalan dengannya dan membuat dia berjanji akan mentraktirku hari minggu ini. Itu berarti sebuah ajakan kencan, bukan?
………………………

“Kenalkan, dia dongsaeng tiriku, Minho” aku memperkenalkan gadis ini kepada namja yang sedang duduk asyik bermain game di ruang bersantai di rumahku.
Hari ini Minho menginap di rumahku. Karena aku tinggal bersama appa setelah appa dan omma bercerai, sedangkan Minho tinggal dengan omma dan appanya, Choi appa. Tapi hubungan kedua keluarga sangat baik, bahkan Minho sering menginap dirumah dan appa sudah menganggapnya anak sendiri.
“Lee Eun Bin” katanya tersenyum ramah tapi hanya ditanggapi senyum singkat dari Minho. Aish
dongsaengku memang cool. Tapi bukan berarti dia sombong. Dia hanya sedikit canggung berkenalan dengan orang baru.
…………………………

“Hari ini, aku akan mentraktir kalian berdua” ujarku membuat Eun Bin dan Minho melonjak kegirangan. Ya, sekarang kami selalu bertiga. Kami sudah seperti sahabat yang tak terpisahkan.
“Chukhae hyung untuk kemenanganmu” kata Minho menepuk punggungku.
“Yeah!! Kim Jonghyun, kau memang teman yang terbaik!!” sorak Eun Bin ber tos ria dengan Minho.
Ah, teman? Apakah aku boleh berharap lebih dari itu?
…………………………

“Saranghaeyo~~” kata-kata yang ku dengar dari balik tembok ini terdengar begitu menyakitkan bagiku.
“Na do” Ah, suara itu… suara yeoja yang selalu menghiasi mimpi-mimpiku. Aku memberanikan diri
mengintip sedikit dari balik dinding tempat aku bersandar sekarang.
Ah, dongsaengku dan yeoja yang kucintai sedang berciuman mesra. Sakit, sangat menyakitkan. Air mata mengalir dari mataku. Aku hanya menatap lemah sebuah kotak kecil yang berisi kalung dengan liontin berbentuk bintang dan sapphire kecil menghiasi salah satu sudut bintangnya. Sebuah hadiah yang sudah kusiapkan untuk ulang tahun nya.
Aku tersenyum pahit di sela tangisanku yang tak bersuara, menyandar dan memejamkan mata sejenak, lalu memutuskan untuk pergi dari tempat ini, dari ruang tamu rumahnya.
Aku masuk ke dalam mobilku, mobil hasil jerih payahku memenangkan berbagai kejuaraan musik, lalu
memutuskan mengetik sesuatu di ponselku sebelum menyalakan kendaraan dan beranjak

To: Lee Eun Bin
Message: Saengil Chukhaeyo~ Maaf aku tidak bisa datang untuk pesta mu.
……………………………….

Hari ini hari yang cukup menyedihkan untukku. Appa, meninggalkanku untuk selamanya. Seandainya saja aku tidak meminta appa untuk pulang lebih awal untuk merayakan kemenanganku di festival musik Seoul hari ini, mungkin kecelakaan itu takkan merenggut nyawanya.
“Uljima Jonghyun-ah. Ini bukan salahmu” seorang yeoja membelai lembut punggungku yang bergetar hebat karena menangis
Aku memang selalu mudah menangis dan susah untuk berhenti jika sudah mulai menangis.
Aku menatapnya sekilas dengan mataku yang masih bercucuran air mata. Ah, dia…
Aku menangis semakin deras, dia memelukku, mengelus punggungku untuk menenangkanku.
Pelukan ini, seandainya saja ini bukanlah pelukan sebagai seorang sahabat.

……………………………….

“Minho-ya… tolong katakan bahwa kau tidak benar-benar memutuskan Eun Bin” kataku menarik tangan namja yang daritadi menghindariku
“Sayangnya itu benar hyung” katanya dingin membuatku tak percaya
“Minho, kau baru mengenal Krystal 4 bulan yang lalu. Bagaimana bisa kau memutuskan Eun Bin yang telah menjadi pacarmu selama 2 tahun” aku membelalakkan mataku, menatapnya dengan tatapan tak percaya.
“Ini keputusanku hyung, jangan ikut campur” katanya dengan nada emosi
“Minho-ya, kau tidak benar-benar mencintai Krystal. Kau hanya merasa tertarik karena dia bisa memberikan hal-hal yang tidak pernah kau rasakan saat bersama Eun Bin. Kau dan Eun Bin hanya perlu bicara baik-baik untuk masalah kalian. Kau tau, rasa jenuh itu sangat lumrah terjadi dalam setiap hubungan. Hanya saja, bagaimana kalian mengatasi rasa jenuh itu” aku masih berusaha membujuk namja keras kepala dihadapanku.
“Hyung, aku tau apa yang aku inginkan dan aku butuhkan, jadi berhentilah mencampuri urusanku. Sejak appa dan omma mengizinkanmu tinggal di rumah ini, kau seperti mengatur-aturku hyung” kini nada suaranya terdengar lebih keras. Ya ampun, aku tak pernah menyangka akan bertengkar dengan dongsaeng yang sangat kusayangi ini.
“Hajiman…..”
“sudahlah hyung! Aku tidak butuh ceramahmu dan tolong biarkan aku sendiri!” bentaknya membuatku
kaget. Aku memutuskan untuk meninggalkannya saja, mungkin saja dia sedang emosi.
………………………………….

Aku tak mendapati Minho dimanapun. Setelah pertengkaran kemarin, aku tak menemukannya kemanapun aku mencarinya. Ponselnya tidak aktif, dan dia tidak pulang ke rumah sama sekali. Orang tua kami belum tau hal ini, karena mereka sedang mengunjungi kakek dan nenek Minho di Jeju.
Kamar Minho adalah tempat terakhir yang sama sekali belum ku jelajahi.
Segera aku berlari ke kamarnya, pintunya tak terkunci. Sungguh kaget aku melihat ruangan ini sudah kosong.
Hanya tersisa ranjang, lemari dan perabotannya sementara pakaian dan barang-barang pribadi Minho sudah tidak ada. Aku menemukan secarik kertas terletak diatas meja. Ah, sungguh menyakitkan. Aku kehilangan satu orang lagi yang sangat kusayangi.

“Hyung, Omma, Appa dan Eun Bin noona. Mianheyo, aku akan pergi ke Jepang bersama Krystal”

Hanya itu yang tertulis di kertas itu, tapi sukses membuat air mataku jatuh lagi. Ah, kenapa aku cengeng seperti ini?
……………………………………

“Saranghaeyo” ujarku lembut, dan dibalas dengan sebuah senyuman lirih di wajahnya, lalu dia memilih
beranjak pergi ke kamar.
Aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan putus asa. Sudah setahun berlalu. Dan yeoja
yang kucintai ini kini telah menjadi istriku. Menjadi istriku bukan atas dasar cinta. Tapi karena aku yang berjanji akan menjaganya dan mengobati luka dihatinya setelah kepergian namdongsaengku yang sangat dicintainya setahun yang lalu.
Dia memang berkata akan mencoba untuk mencintaiku saat aku melamarnya. Tapi aku rasa ini belum
berhasil.
Aku memang egois untuk memaksanya menikah denganku tanpa ada rasa sedikitpun dihatinya yang
menganggap aku lebih daripada seorang sahabat. Tapi bolehkah aku diberi kesempatan sedikit saja untuk membuka hatinya yang terkunci untuk Minho yang sudah setahun tidak ada kabarnya sama sekali?
……………………………………..

Sembilan bulan pernikahan tanpa sedikitpun pernah menyentuh istri sendiri. Sungguh konyol
kedengarannya. Tapi aku tak ingin memaksanya. Aku memang mencintainya, tapi justru karena aku sangat mencintainya, maka aku menghormati dirinya dan tidak ingin memaksa untuk menyentuhnya. Aku tak ingin memaksa hatinya mencintaiku. Aku hanya bisa memberikan segala pengorbanan dan cinta yang terbaik yang bisa kuberikan padanya.
Memang terasa menyakitkan, hidup bersama orang yang kau cintai selama hampir setahun tetapi dia tak mencintaimu.
Sakit dan sesak, tapi aku terlalu mencintainya hingga yang ada dalam pikiranku hanya melindunginya dan menjadi teman baginya setiap waktu dan memberikan curahan kasih sayang serta semua yang terbaik yang bisa aku berikan padanya.

Hari ini bukan hari yang spesial. Hanya hari seperti biasa. Hanya saja aku pulang bekerja lebih awal.
Tapi, entah mengapa aku tiba-tiba berniat membelikan sebuah kalung untuk Eun Bin. Saat aku melintas di sebuah toko perhiasan, aku melihat sebuah kalung dengan liontin berbentuk angsa dengan mata Swarovski biru di tengahnya. Aku membayangkan istriku akan terlihat sangat cantik dengan kalung ini.
Maka kuputuskan untuk membelinya, dan sungguh, wajah yeojaku terlihat sangat senang menerimanya. Aku mengalungkannya pada lehernya, dan benar, dia terlihat cantik sekali.
Aku membelai lembut wajahnya, dia hanya menatapku dalam, dan tersenyum. Senyuman yang menggodaku untuk mengecap bibirnya.
Entah mengapa detak jantungku yang kian menderu itu mendorongku untuk menciumnya. Hal yang belum pernah kulakukan setelah 9 bulan menikah dengannya. Aku mendekatkan wajahku pada wajahnya, dengan hati yang siap apabila ditolaknya.

Tapi tidak ada penolakan darinya, membuatku sedikit kaget, tapi juga tak menyia-nyiakan kesempatan untuk melumat lebih jauh bibirnya yang selalu kuinginkan.
Dia membalas lumatan halus dari bibirku. Kini jantungku berdetak lebih cepat. Apakah ini jawaban dari
penantianku selama bertahun-tahun? Jika iya, maka tidak ada hal yang lebih membahagiakan dari ini.
Aku melumat bibirnya, menumpahkan segala rasa yang ku pendam selama bertahun-tahun. Hangat, rasanya hangat, bukan hanya di bibirku, tapi juga dihatiku.
………………………………………

—FLASHBACKS END—

Lagi-lagi air mataku mengalir. Kim Jonghyun, namja macam apa kau, cengeng sekali.
Tapi ingatan masa lalu itu hanya terasa terlalu menyesakkan bagiku. 3 bulan lalu, akhirnya Eun Bin
meresponku. Meskipun aku belum pernah menyentuhnya lebih dari sebuah ciuman, tapi setidaknya itu
sudah cukup membuatku bahagia. Tapi mendapati kenyataan bahwa buku hariannya semua hanya berisi foto Minho dan Minho mengatakan dia masih mencintai Eun Bin. Itu semua terlalu pahit bagiku. Sungguh pahit dan menyesakkan.

Aku melirik jam di dinding. Sudah jam 6 pagi. Aku membulatkan hatiku dengan keputusan yang kubuat. Aku sangat yakin dengan ini. Segera aku mengambil secarik kertas dan menulis diatasnya. Menangis? Tentu saja.
Meski ini menyakitkan, tapi kuharap ini adalah yang terbaik. Aku selalu siap memberikan yang terbaik utk dongsaengku dan orang yang kucintai, meskipun aku harus terluka.

ku kemasi beberapa barang penting, seperti dompet, laptop dan dokumen-dokumen lainnya. Pakaian? Tidak aku bisa membelinya lagi. Tidak ada waktu untuk itu.
Segera ku raih kunci mobilku, tapi aku menyempatkan diri menatap wajah Eun Bin yang masih tertidur sekali lagi dan memutuskan mengecup keningnya lama. Karena mungkin ini terakhir kalinya aku bisa melakukan ini.
“Saranghae” bisikku dan tentu saja tidak di dengarnya karena dia masih tertidur.
Aku keluar dari ruangan, lalu mengambil ponsel ku dan menekan beberapa tombol lalu menekan tombol hijau, memutuskan untuk menelepon seseorang.
……………………………………………

[Lee Eun Bin’s POV]

Tadi pagi aku bangun sedikit terlambat. Pukul 7, padahal biasanya aku sudah akan bangun jam 6 pagi untuk menyiapkan sarapan untuk Jonghyun yang akan pergi bekerja. Tapi aku tidak menemukan Jonghyun di sampingku, ku pikir dia bangun lebih awal, dan aku memutuskan untuk segera menuju dapur, kupikir dia ada disana. Tetapi aku justru malah menemukan sesuatu yang mengejutkanku. Seorang namja bertubuh tinggi dengan wajah tampan lah yang sedang duduk di meja makan, bukan suamiku.

“Minho….” panggilku pelan kepadanya
“Noona…..” jawabnya ragu.
Namja ini, namja yang membuatku hampir bunuh diri dua tahun lalu. Namja yang meninggalkanku demi yeoja lain. Sampai saat ini pun melihatnya masih membuat hatiku terasa sakit, terasa tertusuk sangat dalam
“Noona, maafkan aku… aku tau aku salah, dan aku baru menyadari bahwa kau lah orang yang benar-benar aku cintai” segera dia membuka mulut saat melihat aku baru akan beranjak darinya.

Entah mengapa, kata-katanya membuatku merasa sakit, sangat sakit sekali. Mengatakan dia mencintaiku setelah membuangku begitu saja? Dia bahkan tidak tau bagaimana rasanya melewati satu tahun sembilan bulan dengan perasaan terpuruk. Dia bahkan tidak merasakan bagaimana duniaku terasa runtuh saat dia menghilang tanpa mengatakan apa-apa.

Dia tidak tau bagaimana suramnya hari-hari ku jika tidak ada Jonghyun yang selalu setia menemani dan menghiburku. Ah, benar, Jonghyun, kemana dia? Aku tak melihatnya. Jonghyun yang tak pernah mengeluh meski aku tak juga kunjung memberi respon terhadap perasaannya. Jonghyun yang tetap setia menemaniku meski aku masih tak membuka hatiku padanya. Kemana? Kemana dia?

“Noona” aku tak menghiraukan Minho yang sepertinya akan memberikan penjelasan padaku. Entahlah
untuk saat ini di pikiranku hanya Jonghyun. Kemana dia? Aku segera kembali ke kamar tidurku. Entah
mengapa di dalam hati kecilku seperti menyuruhku kembali kesana. Aku segera menuruti kata hatiku, dan mencari-cari keseluruh sudut ruangan hingga mataku mendapati secarik kertas yang terletak diatas buku diary yang baru kuputuskan ingin ku bakar kemarin.
Aku membaca kata-kata yang tergores diatasnya, membuatku menangis. Pabo!! Jonghyun pabo!!

“Semoga kau berbahagia. Jangan khawatirkan aku, aku senang kalau kau senang”

Aku segera berlari, Minho memanggil-manggilku tapi tak ku pedulikan. Di dalam otakku hanya menemukan Jonghyun secepatnya. Di dalam pikiranku hanya rasa cemas. Aku sudah menyakitinya terlalu lama. Dan kali ini aku tak ingin menyakitinya lagi. Aku hanya ingin menemukannya secepatnya. Dan semoga saja dugaanku benar, bahwa dia sedang berada di tempat itu. Aku hanya ingin menemuinya sekarang. Jonghyun, kumohon jangan lakukan hal yang bodoh sebelum aku menemukanmu.
……………………………………..

[Jonghyun’s POV]

Aku masih tidak percaya dengan apa yang kulakukan. Saat ini aku sedang berada di sebuah bukit tempat rahasiaku, dimana aku selalu menenangkan diri saat ada masalah. Aku segera ke tempat ini begitu Minho datang ke rumah dan berusaha meyakinkannya untuk bicara dengan Eun Bin. Ah, mungkin saat ini mereka
sudah saling berpelukan dan berciuman. Membayangkannya membuat goresan-goresan kecil tertoreh di dalam dadaku. Sakit, sungguh menyakitkan. Tapi aku harus bisa menerima kenyataan bahwa dia memang bukan tercipta untukku. Aku ingin menangis, tapi kutahan. Sudah cukup aku menjadi namja yang cengeng.
Aku harus tegar. Tetapi, ternyata menahan tangis itu lebih menyesakkan daripada menangis secara terang-terangan. Lebih menyesakkan dan menyakitkan.

Pikiran ku kacau saat ini. Perasaanku sakit, bercampur baur dan benar-benar risau. Tapi aku harus bertahan demi kebahagiaan dua orang yang sangat kusayangi. Ah, lagi-lagi air mata menetes di mataku. Aku memang payah. Aku tersenyum miris pada diri sendiri

“Jonghyun” suara itu tiba-tiba terdengar dari arah belakang. Tidak, jangan. Aku tidak ingin melihat wajahnya saat ini, atau tekadku yang susah payah kubangun akan goyah
Aku mendengar suara langkahnya berjalan semakin mendekatiku, tapi aku masih enggan untuk berbalik. Aku takut tak akan bisa merelakannya jika melihatnya sekarang.
“Apa yang kau lakukan disini? Pulanglah, Minho menunggumu. Jangan cemaskan aku, aku takkan melakukan hal-hal bodoh” kataku menyembunyikan isakan tangis
“Kau benar-benar namja pabo Jonghyun-ah” kurasakan sepasang tangan kecil melingkar di pinggangku. Dia memelukku dari belakang.
“Tidak, tolong jangan lakukan ini padaku, aku mohon. Atau aku tidak akan bisa merelakanmu” aku tak lagi bisa menahan tangisku. Suaraku kini parau
“Kau pabo!! Jangan katakan itu lagi, dasar pabo!! Aku mencintaimu!!” aku mendengar isakan juga dari
suaranya. Apa dia menangis? Apa aku membuatnya menangis? Jika ya, aku takkan bisa memaafkan diriku sendiri.

“Kau pasti melihat buku diatas meja itu kan? Dan kau berpikir aku masih mencintai Minho? Dasar pabo!! Kau pasti tak membacanya sampai habis. Kau tau, aku memang mencintai Minho,tapi sejak kepergiannya dan kau selalu setia menjagaku, aku…. aku mulai mencintaimu Jonghyun pabo” kini isakannya terdengar semakin kuat. Aku tak percaya dengan apa yang aku dengar, aku membalikkan tubuhku, menatapnya dengan mataku yang masih berlinangan air mata.
“Ya, aku mencintaimu!! Aku merasa hangat setiap berada di dekatmu. Dan aku merasakan ketulusanmu. Pelan-pelan hatiku terbuka untukmu. Dan kau, kau malah mau membuangku setelah berhasil menyentuh hatiku? Lelaki macam apa kau,pabo!!” air matanya mengalir semakin deras. Aku hanya terdiam mendengar kata-katanya. Benarkah apa yang dikatakannya?

“Kau tidak percaya denganku? Kalau aku berbohong, untuk apa aku mengejarmu sampai kesini, sementara Minho memintaku untuk kembali padanya? Lihatlah mataku, apa aku berbohong?” katanya setengah berteriak
“Benarkah?” aku memberanikan diri membelai wajahnya yang sudah basah oleh air mata
“Apa mataku menyiratkan kebohongan?? Kau tau, semua sikap dan pengorbananmu membuatku semakin hari semakin merasa bahagia. Dan aku tersentuh karena kau tetap mencintaiku dan setia menjagaku meski aku tak membiarkanmu menyentuhku bahkan tidak meresponmu. Apa itu semua tidak cukup meluluhkan hatiku, Kim Jonghyun? Dan apa yang harus kulakukan agar kau percaya bahwa aku mencintaimu?” aku segera memeluknya erat setelah dia menyelesaikan kalimatnya barusan.

Benarkah? Benarkah perjuanganku tidak sia-sia? Benarkah bahwa dia mulai membuka pintu hatinya
untukku?
“Saranghae~~ Saranghae~~” bisikku sambil terisak padanya yang berada dalam pelukanku
“Na do saranghae~~ dan kau, berjanjilah takkan pernah melakukan hal bodoh seperti ini lagi. Berjanjilah Kim Jonghyun” masih terdengar isakan di dalam suaranya
“Aku berjanji” aku melepaskan pelukanku, menatap dalam-dalam ke dalam matanya dan membelai lembut wajahnya.
Aku tak membuang waktu, segera ku lumat bibirnya yang terasa basah karena air mata ikut membasahi bagian tersebut. Dia membalas lumatanku. Kami melepas segala rasa yang terpendam selama ini.

Jantungku terasa bergetar, dadaku sesak. Tapi kali ini bukan sesak karena rasa sakit, melainkan perasaan bahagia yang terlalu hebat.
Ciuman ini benar-benar terasa hangat, seperti melelehkan es yang selama ini selalu menghalangi diantara kami. Seperti memeberikan cahaya jauh ke dalam relung hatiku yang selama ini terasa kelam dan pahit.

“Ayo kita pulang.” Katanya tersenyum kini setelah melepaskan tautan antara bibir kami, dan tangannya masih terkalung di leherku.
“Ne” kataku membalas senyumannya dan menghapus air mata dari mata indahnya
“Dan berjanjilah kau tak akan pernah meninggalkanku lagi” katanya tersenyum melepaskan tautan
tangannya dari leherku
“aku berjanji.” Kini senyuman telah menghiasi wajah kami berdua. Dia menggenggam erat tanganku, kami berjalan beriringan.
Hangat, hatiku terasa hangat.
Jika benar Tuhan itu ada, aku hanya ingin mengucapkan terimakasih padanya. Ternyata benar kata appasewaktu masih hidup dulu:
“Tidak ada pengorbanan yang sia-sia. Segala sesuatu mempunyai jawaban sendiri”

—–END—-

Selesai~~!!! Akhirnyaaa~~~!! Kepanjangan ya?? Maaf maaf telah membuat mata kalian pegal membaca FF
aneh bin ajaib ini.
Gomawo ^^

©2011 SF3SI, HeartLess

This post/FF has written by HeartLess, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

51 thoughts on “Love Should Goes On

  1. OMG,,, aku lagi dikantor,, break sebentar pas jam dua belas,, lihat postingan ini,, add kata2 sad,, semangat baca,,dan tahu2 air mata menggenang disudut mata,, Biarpun sad,, tp happy ending,,, huh,, kisah Jjong hampir mirip sama aq,, bedanya dia happy ending klo aq sad ending,,, #mengenaskan,, T.T

    Good job oen,,, aq terlarut bacanya,,,

    Key proposalnya ditunggu lohh,,hehe

  2. Huhu sedih deh T_T akhirnya jonghyun sama eun bin bersatu juga (y) makanya lo min jgn suka mutusiin orang sembarangan haha. daebak author!! d^^b

  3. hooaaa cmpur aduk rasanya..
    nyeseknya dapet… terharunya dpt.. bahagianya dpt… fiuuhh *lap kringt*

    aku kira mereka pisah… abisnya sad itu di genrenya… tp ternyata.. happy end sodara sodara…

    heartless selalu berhasil bkin perasaan sy cmpur aduk pas bc ffnya

  4. Waktu telah mengubah Eun Bin melihat ketulusan Jonghyun. Perasaannya yang tersakiti karena Minho tergantikan oleh rasa cintanya kepada Jonghyun.
    Nice story.

  5. wah, daebak eon! (kayaknya aku lebih muda dari author. hehe)
    hah….Jonghyun nya aku suka bgt Jjong di sini. dia baik bgt.
    di tunggu karya lainnya^^
    hwaiting!😀

  6. Author tanggung jawab udah bwt tissue di kamar saya abis gara2 nangis terharuu~
    happy ending deh, ye ye ye ye asyik *apasih ?*PLAK
    hehehe

    bang minho sini ma aku aja, daripada nonton eunbin~jjong bahagia *digamparflames*

  7. ahhh bagus .. aku suka ceritanya .. ini bagus bgt … ahhh jonghyun … ckckckck
    author feelnya dapet… penulisannya lebih di rapihin lagi ya .. ^^ huwaa keren…keren…keren…..

  8. jjong!!!
    qw sungguh gentleman!!
    sumpah!!
    kayaknya baru kali ini baca ada FF yg isinya jjong kayak orang galau n cengeng (?)
    biasanya kan rada pervert kayak apa gitu~
    daebak!!
    keren!!
    huwa~~
    *bingung mau ngomong apa lagi
    pokoknya mah suka bgt FF ni…

  9. pas baca “sad romance” dngan cast jjong
    udh takut aja kalau sad ending buat jjong
    ditambah lagi dngan susunan cast na (Lee Eun Bi, Choi MInho, Kim Jonghyun)
    jjong namanya terakhir jadi aku pikir jjong yg bakal kasian
    tapi fiuh lega banget kesetiaan jjong and cintanya yg besar buat eunbi ga bertepuk sebelah tangan
    ga rela kalau cinta setulus jjong disia-siakan

    btw, author baru kita termasuk yg rajin post ff ya
    good job author cos ff na keren2
    hehehe

  10. Uwoooohhhhh keren!!!! Ver, kenapa sih dirimu selaluuuuu bisa bikin orang terharu biru (?) Wkwkwk…
    Yahhh.. Itu mah emang udah jodohnya kali Minho itu hanya untukku!!! #dirajam ekekeke~~
    Daebak!!! XDD

  11. Aaah happy ending :”:”
    Jonghyunnya…. Aiihh kenapa dia bisa sesabar itu._.
    Tapi untungnya kesabaran dia berbuah manis yaayy
    Minho hmm.. Mungkin dia masih labil makanya langsung milih Krys gitu wakakka-_-
    Karyanya Heartless (aku gatau mau manggilnya gimana miaan .__.) selalu bagus dan nyentuh hati banget :” bahasanya bagus, maknanya sampe (y) daebaak! And keep writing!😀

  12. huwaaaaaaah aku pengennya eun bin balikan sama minho -___-” kenapa ya? kkkk tapi at least keren ko, seedih sih tapi lebih sedih lagi liat minho-nyaaaaaaaaa~~ #eaaaaaaa

  13. aaaa..
    Manisnyaaa oppaku yg 1 ini..
    Yg kekar tpi cengeng#plakk
    hahaha..
    Good, eonnie..
    Ayo buat ff jjong lg..
    Hwaiting!
    Gomawo..

  14. Huaaaaaa
    Sweetnyaa
    Dikejar juga akhirnya jonghyunnya
    Awalnya padahaln eunbin sayangnya sama minho
    Tapi setelah di campakkan
    Jonghyun setia membantu dia
    Akhirnya perjuangan ga sia sia

  15. Aigoooooi!!!!
    Suka bgt sama jjong disinii :3:3
    Sweet banget, tulus bgtttt
    Kasian sih minho
    Tapi minho juga yang salah!!!
    Jjong bener2 deh disini…….<3<3<3

  16. ffnya bagus… thor….
    kirain tadinya sad ending buat jjong oppa…
    tumben-tumbennan ada ff yang bkin jjong oppa cengeng, melankolis, n penyabar gini…
    biasanyakan, bad boy, klo enggak pervert namja.. fufufufufu….

    fellnya dapet banget,,,
    author tanggung jawab, karna udah bikin aku meneteskan air mata, padahal aku udha janji sama taemin oppa supaya gak nangis lagi,,, sekarang malah dia yang nangis gaje karna liat aku nangis… pokoknya author tanggung jawab…. #mendadak sangtae

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s