Married By Accident – Part 3

MARRIED BY ACCIDENT

Author : Yuyu
Main Cast :
• Lee Jinki (Onew)
Han Younji

Support Cast :
Choi Minho
Son Shinyoung (Oc)
Kim Jonghyun
Kim Hyunji (Oc)
Lee Taemin
Hwang Jungmi (Oc)
Key

Length : Sequel
Genre : Romance, Sad, Friendship
Rating : PG – 15


“Kau mau mandi? Perlu kusiapkan air hangat untukmu?” tawar Onew sambil mengeringkan rambutnya yang basah pada Younji yang duduk di bibir tempat tidur, masih mengenakan gaun pengantinnya. Resepsi pernikahan yang melelahkan dan panjang akhirnya berhasil mereka lalui.

“Aku bisa melakukannya sendiri.” tolak Younji dengan sopan. Onew hanya menatap Younji selama beberapa detik lalu mengangguk.

“Aku ada di ruang nonton kalau kau mencariku.” ucap Onew sambil berlalu pergi. Younji mendengarkan langkah Onew yang semakin lama semakin menghilang dengan seksama dan menghembuskan nafas lega. Tanpa dikehendakinya, ia merasa gugup. Bagaimanapun juga, ini adalah malam pengantinnya, wajarkan kalau dia berpikiran yang tidak-tidak dan merasa gugup? Younji merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur, agak membuat gaunnya mengembang. Ditatapnya langit-langit kamar sambil mengerjap perlahan.

Malam ini adalah malam yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya—karena malam ini ia telah resmi menjadi Nyonya Lee Younji. Rasanya begitu menyenangkan karena ia tak lagi seorang diri, kini ia mempunyai seorang suami untuk berbagi suka dan duka bersamanya. Tapi, disaat yang bersamaan ia juga merasa canggung. Ia masih belum terbiasa dengan kehadiran Onew, ia masih belum bisa mengutarakan apa yang ada dipikirannya tanpa merasa segan.

Onew mengetuk pintu kamarnya dengan pelan, hanya sekedar untuk memberikan pertanda bagi Younji agar wanita itu tau bahwa ia akan masuk ke kamar mereka. Onew membuka pintu dan mematung sesaat ketika ia melihat Younji tengah tertidur, jelas sekali kalau Younji belum beranjak selangkah pun sejak Onew keluar tadi. Onew berdecak pelan dan menggelengkan kepalanya.

“Hei, bangun.” panggil Onew sambil menggoncangkan tubuh Younji. Younji memicingkan matanya dan langsung terbelalak saat melihat Onew.

“Aku tau kau pasti sangat lelah, tapi kau harus mandi dan mengganti pakaianmu lebih dulu agar kau bisa tidur dengan nyaman.” tutur Onew sambil berlalu pergi ke kamar mandi.

Younji menggigiti bibir bawahnya. Bagaimana bisa ia tertidur? Apakah tadi ia terlihat memalukan? Astaga, jangan sampai ia meninggalkan kesan jelek pada suaminya di malam pengantin mereka.

“Air hangatmu sudah kusiapkan, segeralah mandi.” ujar Onew datar. Onew meraih pegangan pintu sambil menoleh ke belakang. “Dan temui aku di ruang nonton setelah kau selesai mandi.”

Onew kembali menyesap anggur merahnya sambil mengganti siaran televisi untuk kesekian kalinya. Tidak ada siaran yang mampu menarik perhatiannya, karena perhatiannya sekarang tertuju pada Younji. Waktu berlalu begitu cepat dan tak terduga. Tanpa dikehendakinya, sekarang ia bukan lagi pria single. Kini bertambah satu orang dalam kehidupannya—orang yang harus ia jaga. Perasaannya menggebu-gebu, begitu menantikan hari-hari yang akan mereka lalui bersama. Lucu, bukan? Padahal mereka sama sekali tidak dekat, tapi mengapa Onew sudah bisa membayangkan hari-hari bahagia yang akan menghampiri mereka. Onew tertawa kecil, menertawakan dirinya sendiri.

“Apa? Apa yang kau tertawakan?” tanya Younji yang menghampiri Onew setelah ia selesai mandi. Onew berhenti tertawa dan mendongak. Younji berdiri disampingnya dengan bingung.

“Duduklah.” tukas Onew sambil sedikit bergeser untuk memberikan ruang bagi Younji. Younji terlihat ragu selama sesaat sebelum akhirnya ia duduk di samping Onew.

“Mau segelas?” tanya Onew menawari Younji anggur kesukaannya.
”Tidak, terima kasih.” tolak Younji yang ditanggapi Onew dengan datar. “Jadi, kenapa kau menyuruhku untuk menemuimu?”
”Hanya untuk memastikan kalau kau tidak tertidur di kamar mandi.” kekeh Onew. Younji membulatkan matanya dan memberengut kecil.

“Jadi.. Apa yang harus kita lakukan malam ini?” tanya Onew yang berhasil membuat tubuh Younji menegang. Ini adalah hal yang ia takutkan. Apakah mereka benar-benar akan melakukannya?

Dari sudut matanya, Onew menangkap bayangan Younji yang bergerak-gerak gelisah di sofa—membuat Onew tak mampu menahan senyumnya. Sedikit banyak, ia bisa mengintip apa yang ada dibenak Younji saat ini.

“Hmm..” Onew bergumam tak jelas sambil meneguk anggurnya. Tak ia sangka, ternyata Younji mempunyai beragam ekspresi yang tidak ia ketahui. Lucu juga melihat yeoja ini menjadi agak panik.

“Younji-ya..” panggil Onew sambil menoleh pada Younji. Dari bahasa tubuhnya, Onew bisa memastikan kalau ketegangan dalam diri Younji meningkat, “Apa yang harus kita lakukan malam ini?” Onew mengulangi pertanyaan yang sama.

“M-mollayo.” jawab Younji tanpa memiliki keberanian untuk menatap balik pada Onew.

“Jangan takut, aku tidak akan memakanmu.” kekeh Onew. “Haruskah kita berbagi cerita? Untuk lebih saling mengenal lagi.” saran Onew yang membuat Younji diam-diam menarik nafas lega.

“Aku ingin tau lebih banyak lagi tentangmu Younji, boleh kah?” tanya Onew meminta persetujuan.

“Apa yang ingin kau ketahui?” sahut Younji santai.

Onew terlihat ragu selama sesaat, tapi toh pada akhirnya ia tetap menyuarakan rasa penasarannya selama ini, “Apa yang terjadi pada keluargamu—orangtuamu?”
Kedua pundak Younji merosot turun. Hanya dengan mengingatnya saja sudah bisa membuat Younji bergidik ngeri. Younji merasa, ia berhak tutup mulut jika memang ia tidak ingin menceritakan apapun pada Onew. Tapi ada sesuatu yang mendorongnya untuk bercerita. Mengapa? Karena ia ingin ada orang lain yang tau tentang penderitaannya selama ini? Atau karena jauh di dalam lubuk hatinya, ia ingin Onew menghibur dirinya? Yang manapun jawabannya, Younji memutuskan untuk membeberkan rahasia—aib—keluarganya.

“Pria itu sudah sering memukuli Eomma semasa hidupnya. Bukan hanya sekali atau dua kali, bukan juga hanya disaat kesadarannya menghilang karena soju yang ia minum. Kesenangannya adalah saat melihat Eomma terpuruk dengan tubuh penuh luka. Eomma meninggal di usianya yang bisa dibilang masih sangat muda. Yang ia tinggalkan untukku hanyalah pria itu.” ucap Younji lirih.

“Jika sejak awal pria itu—Tuan Han—telah begitu brutal, mengapa Eomma mu masih ingin bersamanya?” tanya Onew yang sama sekali tidak mengerti.

“Itulah yang tidak kumengerti sampai detik ini,” Younji mengakui lalu tertawa sinis dan memalingkan wajahnya, “Beliau bilang, karena cinta. Lalu mengapa cinta itu justru menghancurkannya?”

Onew menatap Younji dengan intens. Itu jugalah yang menjadi misteri dalam benak Onew. Cinta, mengapa cinta justru terlihat mengerikan dimatanya?

“Tapi kau tetap percaya pada cinta.” timpal Onew begitu ia mengingat hubungan Younji dan Minho sebelumnya.

“Yah, perlahan-lahan aku mulai mempercayai adanya cinta. Dan hal itu jugalah yang membuat tanda tanya di kepalaku semakin besar tentang makna sebenarnya di balik kata cinta.” Younji memandang kosong ke depan, tapi Onew bisa menebak kalau saat ini pikiran Younji tertuju pada satu orang, orang yang membuatnya percaya pada cinta—Choi Minho.

***

Younji menguap lebar tanpa ia sadari dan segera menutup mulutnya menggunakan punggung tangan.

“Kau terlihat sangat lelah, noona. Apa kau baik-baik saja?” tanya Taemin yang menatap Younji dengan kedua alis yang saling bertautan.

“Ne, gwaenchana.” jawab Younji, meyakinkan Taemin agar tidak mencemaskan dirinya. Setelah ia sedikit bertukar cerita dengan Onew, mereka tertidur di sofa. Dan begitu ia bangun pagi tadi, sekujur badannya terasa pegal. Younji menggurutu pelan tentang tidak ingin tidur di sofa lagi sambil meregangkan otot-otot lehernya yang terasa kaku.

Untungnya, café tidak terlalu ramai hari ini hingga Younji bisa sedikit bersantai.

“Noona, ada pelanggan di meja 3.” Ujar Taemin dari balik konter dapur. Younji mengeluarkan secarik kertas dari saku seragamnya dan menggenggam pensil lalu menghampiri meja nomor 3 yang disebut Taemin.

“Selamat siang, apa pesanan anda?” Younji mengangkat wajahnya dan terperanjat. Sepasang mata yang besar balas menatapnya cukup lama. Younji berdeham pelan untuk mengusir rasa canggung dan kagetnya lalu sedikit memalingkan wajahnya—merasa tidak nyaman jika terus menatap ke dalam bola mata itu.

“Younji-ya..” sapa Minho dengan lemah, agak berbisik. Dengan agak enggan, Younji kembali menatap Minho tanpa berkata apa-apa.

Mulut Minho terbuka, tapi tidak ada kata-kata yang mampu ia ucapkan pada Younji. Ia merindukan yeoja ini. Ya, ia sangat merindukannya. Dan kenyataan bahwa sekarang yeoja itu adalah Nyonya Lee menjadi alasan mengapa Minho tak bisa mengekspresikan kerinduannya melalui ucapan.

“Maaf, aku terlambat!” ucap seorang yeoja dengan setengah berteriak sambil berlari ke arah Minho.

“Maaf, aku terlambat.” ulang yeoja itu sekali lagi. Minho mengalihkan pandangannya dari Younji dan menatap yeoja yang sedang terengah-engah dihadapannya saat ini dengan mata menyipit.

“Hwang Jungmi? Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Minho keheranan.

“Bukankah kau memintaku untuk menemuimu di sini?” Jungmi balas bertanya setelah ia berhasil mengatur kembali nafasnya yang berantakkan.

Nafas Younji menjadi sesak begitu melihat namja yang pernah—mungkin masih—ia cintai bersama dengan yeoja lain. Meski sudah berjuta kali Younji memperingati dirinya sendiri untuk tidak bereaksi seperti seorang yeoja yang cemburu pada pacarnya, tapi berjuta kali pula alam bawah sadarnya selalu mengambil alih kendali di hatinya. Ia tak bisa jika disuruh untuk berpura-pura mati rasa pada Minho. Ia sungguh tak bisa karena yang sejujurnya hatinya terus meronta, meronta agar ia bisa kembali ke pelukan Minho meski itu artinya ia harus bersikap egois—bertentangan dengan sikapnya sendiri—dan menyakiti orang-orang disekitarnya—terlebih lagi karena ia telah menikah sekarang. Younji menundukkan wajahnya, bepura-pura sibuk pada catatan kecil ditangannya yang ia jadikan alasan agar tidak melihat kedua orang itu, kalau tidak jiwanya akan benar-benar memberontak.

“Ah, aku pesan segelas milkshake strawberry ya.” yeoja bernama Jungmi itu menoleh pada Younji dan mengutarakan pesanannya.

“Ne.” ucap Younji dan dengan cepat pergi dari tempat itu bahkan sebelum Minho sempat memesan sesuatu.

Younji meletakkan secarik kertas berisi pesanan Jungmi diatas meja konter tempat Taemin berdiri dan langsung melesat ke toilet. Younji mengunci dirinya dan membiarkan beberapa tetes airmata mengalir turun di wajah pucatnya sambil mencoba menahan isakannya.

Ia pikir, rasa sakitnya akan berkurang dengan perlahan lalu menghilang sama sekali suatu saat nanti. Tapi sepertinya, suatu saat nanti itu adalah waktu yang sangat lama.

“Han Younji, kenapa hatimu masih berdetak begitu cepat pada namja itu? Seharusnya kau melupakannya, menghilangkan dia dari duniamu.” gumam Younji pada dirinya sendiri, merutuki kebodohannya.

Bohong jika Younji bilang ia tidak menyesali keputusannya waktu itu—waktu ia membatalkan pernikahannya. Namun apa daya, keputusan telah diambil, kehidupan terus berjalan. Jika seandainya mereka menikah pun, apakah mereka akan bahagia? Selamanya? Siapa yang tau apa yang akan dihadapi oleh Younji nantinya. Mungkin saja Younji justru lebih menderita dibandingkan saat ini.

***

“Hei, bagaimana rasanya menjadi pengantin baru, huh?” goda Jonghyun. Jonghyun merangkul pundak Onew dan berjalan disampingnya dengan santai. Onew hanya tersenyum tipis dan kembali mengecek buku ditangannya satu per satu, untuk memastikan tidak ada bukunya yang tertinggal di dalam ruang kelas—lagi.

“Kau tau, aku menghabiskan satu hari waktuku yang sangat berharga untuk melakukan riset dan hingga akhirnya aku menghadiahkan dua tiket ke Maladewa untuk kau dan Younji—untuk bulan madu kalian. Teganya kau menolak niat baikku.” omel Jonghyun yang masih merasa kesal karena Onew mengembalikkan tiket itu padanya.

“Maaf, tapi kami belum bisa menggunakan tiket itu.” jawab Onew santai, sama sekali tidak terpengaruh dengan suasana hati Jonghyun yang tidak bersahabat.

“Mengapa tidak?” tanya Jonghyun lagi, menuntut jawaban yang lebih terperinci lagi.

“Tahun ajaran baru berlangsung beberapa minggu, masih ada banyak hal yang harus kami kejar. Jadi mengapa kami harus menghabiskan bulan madu yang romantis di tempat yang jauh padahal kami bisa menikmatinya juga di Seoul?” alih Onew dengan lihai. Masih merasa tidak puas dengan jawaban Onew, Jonghyun hanya mendelik pada sahabatnya lalu menutup mulutnya rapat-rapat.

“Ya, Jonghyun-ah. Kita harus segera ke kantor. Ada rapat satu jam lagi.” Yoona menghampiri Jonghyun dengan tiba-tiba.

“Hai, Yoona.” sapa Onew yang dibalas oleh Yoona dengan senyuman sopan.

“Oh! Benar! Hampir saja aku lupa.” Jonghyun melirik jam tangannya dengan panik dan mengucapkan salam perpisahan dengan sangat cepat lalu berlari pergi begitu saja.

“Kau tetap saja kekanakkan.” Onew menggelengkan kepalanya dan berdecak pelan, sedetik kemudian ia tersenyum pada dirinya sendiri sambil bergumam pelan, “Tapi itulah Kim Jonghyun yang kukenal.”

“Jinki-ya.” panggil sebuah suara dari balik punggung Onew. Suara itu langsung membuat sekujur tubuh Onew membeku. Ia mengatupkan rahangnya dengan erat, meggertakkan giginya dengan pelan akibat dari emosinya yang berkecamuk.

***

Onew duduk di bangku kayu di taman dekat kampusnya sambil menggenggam gelas kertas berisi kopi hangat menggunakan kedua tangannya. Ia terus merundukkan kepala, enggan menatap orang yang duduk disampingnya—yang juga menggenggam gelas kopi yang sama.

“Mulai minggu depan, Key akan berada di kampus yang sama denganmu. Padahal usia kalian hanya terpaut 4 bulan, tapi kau jauh lebih dewasa darinya. Dan kupikir, sudah saatnya Key bersikap seperti orang dewasa dan mengemban tanggungjawab yang memang sudah seharusnya ia miliki.” jelas tuan Kim panjang lebar, meski ia tau Onew tidak pernah tertarik pada apapun yang ia ceritakan, apalagi tentang Key—saudara tirinya.

Onew memutar-mutar gelas kertas ditangannya, membuat kopi di dalam gelas ikut berputar-putar seolah kopi itu jauh lebih menarik daripada cerita Tuan Kim.

“Bagaimana denganmu?” akhirnya Tuan Kim bertanya. Tak ada nada kejengkelan dalam suaranya saat ia sadar Onew sama sekali tak mendengarkannya. Onew mengangkat kepalanya dan menatap Tuan Kim datar lalu kembali menatap kopi miliknya, sama sekali tidak berniat menjawab.

Tuan Kim tersenyum tipis, meletakkan gelas miliknya di samping dan menautkan jari-jarinya. Ia menatap lurus ke depan dan mendesah pelan.

“Kau membenciku, benar bukan?”

“Ya.” jawab Onew dengan cepat dan tanpa basa-basi.

“Karena aku menelantarkan kalian berdua?” tanya Tuan Kim lagi.

Onew kembali diam. Itu adalah sebuah pertanyaan yang sudah jelas jawabannya. Benar, Onew membenci pria ini karena sikap tidak bertanggungjawabnya. Tapi lebih dari itu, ada hal lain yang membuat rasa benci Onew semakin tak terbendung.

“Katakan padaku, alasan lain yang membuatmu begitu membenciku.” tantang Tuan Kim.

Deretan gigi Onew bergemeretak saat ia mengatupkan rahangnya dengan erat. Tidak salah dengarkah ia? Tuan Kim memintanya untuk memuntahkan semua kebenciannya?

“Jinki-ya..” panggil Tuan Kim pelan saat Onew tak kunjung menjawab pertanyaannya. Tuan Kim sangat menyesal karena ia tak mampu mendampingi Onew dan Nyonya Lee selama lebih dari sepuluh tahun ini. Dan ia ingin menebusnya, bagaimanapun itu.

“ITU!” teriak Onew tiba-tiba saat Tuan Kim menyebut namanya. Ia berdiri dari bangku taman yang duduki. Gelas ditangannya terjatuh ke atas rerumputan hijau sementara cairan hitam menyebar dibawah kakinya saat jari telunjuknya teracung angkuh tepat di depan wajah Tuan Kim. Tuan Kim terhenyak mendengar suara teriakan Onew yang tak ia sangka, juga sikap Onew yang tak pernah ia kira sebelumnya

“Itulah salah satu alasan mengapa aku membencimu!” teriak Onew lagi. Entah kebetulan atau apa, tidak ada pengunjung lain di taman saat itu sehingga Onew bebas untuk mengutarakan isi hatinya yang telah lama terpendam—bukannya sengaja ingin ia pendam, namun ia malas untuk menggais-ngais kebenciannya pada Tuan Kim.

“Berhenti menyebut namaku seolah-olah kau tak melakukan dosa apapun padaku!” nafas Onew terengah-engah. “Kau ingin tau mengapa aku membencimu? Baiklah, akan kukatakan semuanya padamu. Aku membencimu karena kau telah mencampakkan kami—aku dan Eomma—dan justru membangun sebuah keluarga memuakkan bersama wanita lain!! Aku membencimu karena kau dengan tidak tau malunya menampakkan wajahmu dihadapanku, memintaku untuk memanggilmu dengan sebuah kata yang telah kuhapus dari kamusku! Dan kau tau, apa yang membuatku paling benci padamu? Karena Eomma dengan gampangnya memaafkanmu!!” mata Onew berair—ia tau itu—meski ia tak menginginkannya. Oh, berharap saja cairan di matanya tak melesat turun—tidak dihadapan pria tua ini. Seorang jendral tak boleh terlihat lemah di hadapan musuhnya, atau ia akan diserang habis-habisan. Meski bendungan air di pelupuk matanya bukan terbentuk karena perasaan sedih—melainkan air mata yang memang selalu muncul setiap kali ia emosional—ia tetap enggan untuk menjatuhkannya.

Wajah Tuan Kim berubah menjadi sayu. Ia tau Onew membencinya, namun tak ia duga ternyata kebenciannya begitu dalam. Tuan Kim mengerti. Memang dirinya lah yang sejak awal melakukan kesalahan demi kesalahan.

“Aku tau, dan aku bersedia untuk meminta maaf berkali-kali tentang semua hal yang kau tuduhkan padaku. Kuakui, ketika ibumu menemuiku dan mengatakan bahwa dia tengah mengandung, aku merasa begitu takut—aku belum siap untuk mengemban sebuah tanggung jawab diusia muda. Tapi kusesali hal itu segera setelah aku menikah dengan ibu Kibum. Aku selalu membayangkan, betapa bahagianya aku jika kau dan ibumu berada disisiku. Aku menyesalinya, sungguh. Dan aku ingin menebusnya.” lirih Tuan Kim.

“Menebusnya? Jangan membuatku tertawa. Jika sejak awal kau memang sudah menyadari kesalahanmu, tidak seharusnya kau melakukan kesalahan lagi—dengan menikahi wanita lain. Jika—jika seandainya—kau menemui kami dengan statusmu yang masih lajang, mungkin kebencianku padamu akan sedikit berkurang.” cerca Onew.

“Jinki-ya, aku—“

“Berhenti menyebut namaku! Bukankah sudah kukatakan bahwa aku membencinya? Setiap huruf namaku yang keluar dari mulutmu semakin membuatku muak!” hardik Onew, tak peduli meskipun lawan bicaranya adalah orang yang lebih tua. Segala sopan santunnya telah menghilang, pikirannya sangat kalut. Onew menarik nafas berkali-kali untuk menenangkan dirinya dan butiran airmata yang semakin mendesak turun. Ia bahkan tak berani berkedip terlalu lama, takut kalau-kalau airmatanya akan menetes—dan hancurlah harga dirinya.

“Bukankah kita sudah sepakat bahwa kita hanya akan bertemu saat makan malam di akhir pekan minggu terakhir? Jadi kumohon, jangan sengaja datang mencariku. Meskipun kau bertemu denganku di jalan, bersikaplah seolah kita tidak saling mengenal.” tukas Onew tajam, tidak membiarkan Tuan Kim kembali menyumpali telinganya dengan kalimat demi kalimat memelas yang justru membuat Onew semakin muak. Onew melangkah pergi tanpa menoleh sekalipun.

Ia masuk ke dalam mobilnya, membanting pintu dengan keras. Kedua tangan Onew mencengkram stir dengan sangat erat. Setelah berdiam diri beberapa detik, Onew memukul stir mobil untuk melampiaskan amarahnya lalu menyenderkan kepalanya.

Benar, ia begitu membenci Tuan Kim. Dan Onew tak habis pikir mengapa Nyonya Lee tak menyimpan dendam pada Tuan Kim?

“Di masa lalu dia adalah pria yang memiliki ruang di dalam hatiku. Tapi untuk saat ini, dia tak lebih dari seorang pria yang memiliki peranan penting akan hadirnya kau dalam hidupku. Sejak awal keluarga kita hanya ada kau dan aku, hal itu tidak akan pernah berubah. Dia tidak akan pernah menjadi bagian dari lingkaran kehidupan kita, tapi orang luar yang berstatus Ayah bagimu.” Ucap Nyonya Lee saat itu ketika Onew menolak dengan tegas ide tentang makan malam bulanan yang diajukan oleh Tuan Kim.

Yah, ketika itu Onew takut bahwa Nyonya Lee akan memaafkan Tuan Kim dan menerimanya menjadi bagian dari keluarga mereka—Onew begitu takut kalau Nyonya Lee akan rujuk dengan Tuan Kim. Tapi untungnya Nyonya Lee sama sekali tak punya pemikiran untuk masuk ke dalam keluarga Tuan Kim.

Menjadi istri kedua Tuan Kim? Untuk apa? Nyonya Lee tidak membutuhkan pria mana pun untuk bisa bertahan hidup, kecuali Onew. Putra satu-satunya itu telah cukup untuk menjadi alasan yang nyata bagi Nyonya Lee untuk menghadapi dunia ini.

Onew mengangkat kepalanya dan mendesah pelan. Ia mempercayai kata-kata Nyonya Lee hingga detik ini, dan itulah pegangan yang ia gunakan untuk bertahan menghadapi Tuan Kim. Namun sampai kapan? Ia tak punya banyak kesabaran untuk terus bertemu dengan Tuan Kim. Kian hari rasa bencinya semakin menumpuk, bukannya terkikis seperti harapan Nyonya Lee.

Ia sangat berharap, ada satu cara agar Tuan Kim tidak pernah hadir dalam hidup Nyonya Lee—meski itu berarti ia tak akan bisa hadir di dunia ini, seperti sekarang. Namun siapa yang begitu bodoh dan berpikir demikian? Setidaknya Onew cukup pintar untuk menyadari bahwa waktu yang telah terlewati tak akan bisa diputar kembali. Daripada menghindari masalah, Onew memilih untuk menghadapinya. Seperti yang telah ia lakukan selama ini. Onew telah siap bertempur sejak Tuan Kim menyelusup dalam hidupnya, dalam dunia yang ia huni.

***

Suara bergemerincing terdengar saat pintu café terbuka. Onew memerhatikan sekelilingnya. Meja-meja nyaris penuh dengan para pasangan yang kebanyakan adalah siswa SMA sementara para pelayan sibuk berlari ke sana kemari untuk memenuhi permintaan pelanggan.

“Oh, hyung!” sapa Taemin saat ia berhenti berlari kecil dan melihat Onew di pintu masuk. Onew mengangkat tangannya dan membalas sapaan Taemin.

“Kau datang untuk menjemput Younji noona?” tanya Taemin begitu ia menghampiri Onew secepat kilat.

“Ya, apakah jadwal kerjanya sudah berakhir?” Onew balik bertanya.

Taemin mengernyit dan menoleh ke belakang lalu kembali menghadap Onew, “Sebenarnya, sudah—waktu kerja kami sudah berakhir sejak sepuluh menit lalu. Tapi, para pelanggan sepertinya masih betah berlama-lama di sini dan manager tidak mengizinkan kami untuk pulang lebih dulu.”
”Ah, araseo. Aku akan menunggunya, hmm..” Onew mengedarkan pandangnya dan mendapatkan sebuah meja kosong disudut diruangan, “Di sana.”

Onew menyesap segelas cokelat hangat yang dibawa oleh Taemin dan menunggu Younji dengan sabar. Sesekali Onew akan menguap dan mengusap matanya saat rasa kantuk menyerangnya lalu mellirik arlojinya dengan bosan. Setelah menunggu selama satu jam, akhirnya pelanggan terakhir meninggalkan café dan Onew segera bangkit dari kursi yang membuat bokongnya menjadi datar.

“Sudah saatnya pulang?” Onew buru-buru menghampiri Younji dan kembali menguap.

“Aku masih harus membereskan café. Kau bisa pulang duluan.” tukas Younji sembari mengangkat kursi café ke atas meja. Onew menyipitkan matanya dan menatap Younji dengan takjub. Onew menunggu selama satu jam penuh untuk mengantar Younji pulang, tapi Younji justru memintanya untuk pulang lebih dulu? Jadi untuk apa Onew menghabiskan waktu satu jam yang begitu membosankan dengan duduk diam menunggu Younji.

Seolah bisa membaca pikiran Onew melalui tatapannya, Taemin buru-buru mengambil alih kursi kedua yang dipegang Younji.

“Jangan khawatir noona, biarkan aku yang bereskan.”

“Tapi—“ belum selesai Younji memprotes, Onew langsung menarik tangan Younji setelah mengucapkan terima kasih pada Taemin.

“Bukankah sudah kubilang kau boleh pulang duluan?” tanya Younji, mencoba untuk menyimpan rasa jengkelnya begitu Onew berhasil mendorongnya—dengan agak paksa—ke dalam mobil. Younji memandang keluar jendela sepanjang perjalanan karena sepertinya Onew menolak untuk menjawab pertanyaannya.

“Kurasa, seharusnya kau berhenti bekerja di café itu. Aku bisa membiayaimu, kau tau itu kan?” akhirnya Onew bersuara saat mobil mereka berhenti sesaat, menunggu lampu hijau kembali menyala. Onew benar-benar kesal, sangat kesal. Mengapa istrinya ini begitu keras kepala? Atau harus Onew katakan kalau istrinya ini terlalu mengabaikan dirinya—si suami?

“Aku menyukai pekerjaanku—aku bahkan berharap suatu saat nanti aku bisa membuka café milikku sendiri. Dan aku tidak mau bergantung padamu. Lagipula, siapa yang tau berapa lama pernikahan kita bisa berlangsung.” ujar Younji, sama sekali tidak menyadari perubahan raut wajah Onew saat ia mengucapkan kalimat terakhirnya.

Setitik rasa sakit menyentuh hati Onew ketika Younji dengan santainya meragukan umur pernikahan mereka. Entah mengapa, Onew tidak suka dengan kata-katanya itu karena mengingatkannya bahwa ia dan Younji belum tentu akan bersama-sama hingga rambut mereka memutih. Rasa kesal Onew semakin bertumpuk. Hari ini benar-benar hari yang buruk baginya. Onew membisu sepanjang perjalanan pulang. Younji pun tak mau merepotkan dirinya untuk membuka topik pembicaraan. Mungkin juga karena ia tak tau apa yang harus ia bincangkan dengan Onew. Pokoknya, Younji menikmati suasana sunyi seperti ini. Lebih baik berada dibalik keheningan daripada bertengkar dengan orang asing. Lagipula Younji bukan orang yang pandai beradu mulut, ia terlalu lemah. Dan jika ia menyulut emosi Onew, ia yakin ia akan habis bahkan sebelum ia mengedipkan matanya.

Sesampainya mereka di apartemen, Onew membuka pintu, membiarkannya tetap dalam posisi terbuka lalu melesat masuk, tidak seperti biasanya. Biasanya, Onew akan membuka pintu, menunggu Younji masuk lalu menutup pintu dengan pelan—bersikap seperti seorang gentleman yang seharusnya. Onew langsung menghempaskan tubuhnya diatas sofa, ia berdiam diri di depan televisi sama sekali tak memedulikan ke mana Younji melesat pergi untuk menyibukkan diri. Ia sedang mencoba untuk menenangkan hatinya yang masih membara karena rasa kesal yang ia rasakan sejak tadi. Tidak, tidak seharusnya ia uring-uringan seperti ini. Onew sudah hidup dengan tenang selama beberapa tahun ini—kecuali teror dari Tuan Kim.

Tapi mengapa perasaan campur aduk ini justru membuat Onew merasa senang? Kapan terakhir kali ia merasakan sejuta perasaan berbeda? Dulu ia juga pernah mengalami gaya hidup seperti Jonghyun sekarang—tertawa meski hatinya terluka. Tentu saja, hatinya juga pernah terluka. Dan bahkan ketika ia membuka matanya dibawah terik cahaya matahari, ia tak bisa melihat apapun. Mungkin karena terlalu perih, mungkin juga karena otaknya memberikan perintah pada kedua bola matanya untuk tak membiaskan cahaya apapun. Onew hidup tanpa tujuan waktu wanita yang ia cintai meninggalkannya—tidak hanya itu, wanita itu bahkan menghujamkan sebilah pisau yang terus membekas dihati Onew menggunakan kedua tangannya yang dulu pernah ia gunakan untuk memeluk Onew. Onew menjadi kebas. Ketika semua orang tertawa karena bahagia, ia justru tertawa karena ia ingin terlihat baik-baik saja. Lalu ketika semua orang berganti menangis, Onew tak meneteskan airmatanya—karena telah mengering. Ia dan Jonghyun ternyata benar-benar tipikal yang sama, wajar saja jika mereka berteman baik sampai sekarang.

Jonghyun pulalah yang selalu berada di sisi Onew, membantunya membersihkan bekas yang ditinggalkan oleh wanita yang pernah mengisi setiap relung hatinya. Onew mulai kehilangan warna dalam hidupnya. Saat wanita itu beranjak selangkah darinya, satu warna terengut dari penglihatan Onew. Semakin wanita itu beranjak menjauh, semakin semua warna menghilang. Yang tersisa hanyalah bayangan hitam putih—seperti film klasik yang senang ia tonton.

Tapi berkat Younji, semenjak kehadiran Younji dan kecelakaan kecil mereka, warna-warna yang tadinya menghilang mulai kembali satu persatu. Sama seperti perasaan kebas Onew yang mulai kembali bisa mendeteksi rasa—seperti rasa sebal tadi.

Onew tersenyum tipis. Apakah ia telah kembali normal sekarang? Ataukah perasaan sakitnya itu telah menghilang?

Pikiran Onew terganggu saat ia mengendus aroma yang menggugah selera dan mencari sumber aroma itu hingga ke dapur. Ia menangkap sosok Younji dibalik celemek merah muda yang telah ia beli sebelum mereka menikah. Tubuh mungil Younji berdiri membelakanginya sambil sibuk memotong-motong entah apa yang tak terlalu Onew perhatikan. Yang bisa ia lihat hanyalah Younji dan Younji saja. Wanita itu terlihat begitu cocok di dapur miliknya, seolah-olah sejak awal tempat itu memang milik Younji. Onew tersenyum tanpa ia sadari. Ia merasakan kehangatan memeluk dirinya hanya dengan melihat punggung Younji. Ia tak tau jika bayangan punggung seseorang bisa memberikan kehangatan seperti ini, karena bayangan punggung yang selama ini ia lihat selalu menyedihkan untuk diingat. Hanya ada dua bayangan punggung yang pernah ia lihat, yaitu bayangan punggung wanita yang pergi darinya dan bayangan punggung Tuan Kim yang selalu menghantui Onew sejak kecil dalam kembang tidurnya.

Baru Onew ketahui ternyata tidak semua orang memiliki punggung yang dingin—setidaknya Younji tidak. Ingin sekali ia memeluk Younji dan merasakan kehangatan seutuhnya yang memeluk dirinya erat, tapi mengapa? Apa alasan yang layak bagi Onew untuk menghampiri Younji dan langsung memeluknya? Karena Younji adalah istrinya? Well, alasan itu mungkin bisa diterima jika seandainya mereka menikah atas dasar cinta.

Cinta..

Lagi-lagi kata itu membuat Onew termenung. Tubuhnya lalu bergetar pelan, merinding hanya dengan memikirkannya. Tidak akan ada cinta diantara mereka, paling tidak bukan Onew yang akan merasakan hal itu pada Younji.

Tidak akan, tidak akan.. Onew terus mengulangi kalimat itu dalam benaknya, seperti sebuah mantra untuk menghipnotis pikirannya sendiri. Bukan, bukan menghipnotis, tapi untuk menjernihkan pikirannya. Onew memilih untuk duduk dan terus mengamati Younji setelah ia berhasil membuang jauh-jauh pikirannya yang tak terkontrol malam ini.

Younji menyelesaikan kegiatan memasak malam mereka dalam waktu singkat dan menghidangkannya di hadapan Onew—awalnya ia agak terkejut ketika membalikkan badannya dan melihat Onew telah duduk manis menunggui makan malamnya. Younji memperhatikan Onew dengan seksama saat pria itu mengangkat sendoknya dan mencicipi masakan Younji. Untuk alasan tertentu, Younji merasa gugup. Ia tak pernah memasak untuk orang luar selama ini—bahkan ia belum memiliki kesempatan untuk membiarkan Minho mengakui kemampuan memasaknya. Dan lagi, ini adalah kali pertama Younji memasak untuk suaminya.

Onew mendongak dan mengecap lidahnya berkali-kali, sengaja membuat Younji semakin penasaran dengan reaksinya. Onew tersenyum tipis dan mengacungkan ibu jarinya pada Younji. Bukannya merasa senang, Younji justru memandang Onew dengan heran.

“Ada apa?” tanya Onew sambil terus menyantap makan malamnya yang agak terlambat.

“Kau seperti memiliki kepribadian ganda. Tadi kau terlihat begitu kesal, tapi sekarang kurasa kau sudah kembali normal.” tutur Younji yang mulai ikut menyantap makan malamnya bersama Onew.

Kali ini gantian Onew yang menatap Younji dengan heran. Beberapa detik kemudian, Onew tertawa pelan dan menggelengkan kepalanya. Ia tak menyangka kalau Younji ternyata menyadari perubahan suasana hatinya. Dan mengapa suasana hatinya justru semakin membaik sekarang?

***

Younji menatap layar televisi dengan malas. Film klasik sama sekali bukan kegemarannya. Tapi ia juga tidak bisa beranjak dari sofa ataupun mengutarakan pendapatnya pada Onew. Bukan karena Onew bersikap diktator, tapi karena Younji sendiri yang tidak memiliki keberanian untuk melakukan hal itu. Seusai makan malam tadi, Onew menawarkan diri untuk membantu mencuci piring, tapi Younji menolak dengan alasan bahwa ia bisa melakukannya sendiri. Onew tak membantah lagi, ia meminta Younji untuk bergabung dengannya diruang nonton setelah kegiatannya selesai. Tapi Younji tak menyangka jika Onew lagi-lagi menonton film klasik.

Onew menoleh sekilas pada Younji dan kembali memfokuskan matanya pada film yang ia tonton, “Duduklah dengan santai, jangan kaku seperti itu.”

Younji mengangguk pelan, tapi sama sekali tak mengubah posisi duduknya. Onew menghela nafas dan menoleh sepenuhnya pada Younji, mengabaikan layar hitam putih yang menari dihadapannya.

“Apa kau masih belum bisa memperlakukanku seperti seorang teman? Mengapa kau masih saja terlihat begitu kaku? Demi Tuhan, kita ini sudah menikah Younji.” ujar Onew dengan rasa jengkel yang kentara. Mood Onew hari ini sungguh-sungguh telah diaduk Younji.

“Aku hanya… belum terbiasa.” bisik Younji diakhir kalimat. Tidak ada kebohongan dari setiap huruf yang ia lontarkan. Ia memang belum terbiasa.

“Kapan kau akan terbiasa? Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk itu?” Onew menyisir rambutnya menggunakan jari-jarinya sambil mencerca Younji dengan pertanyaan. Ia merasa begitu gusar. Terlihat seperti orang asing di mata istrinya sendiri benar-benar membuat Onew agak berang.

“Aku sedang mencoba—“

“Aku tidak ingin kau mencoba, tapi membiasakan dirimu.” potong Onew yang tak membiarkan Younji menyelesaikan kalimatnya. Younji menundukkan wajahnya, menghindari tatapan Onew yang terlihat menuntut. Ia tak tau pria ini bisa menjadi seseorang yang menuntut terlalu banyak.

“Begini saja, kau bisa memperlakukanku seperti kau memperlakukan temanmu—teman sekampusmu. Bukankah itu akan membuatmu lebih gampang untuk dekat denganku?” saran Onew. Younji mengernyit, seolah saran yang diberikan oleh Onew terdengar begitu mengerikan. Tidakkah pria yang duduk di sampingnya ini tau berapa lama waktu yang dibutuhkan Younji untuk bisa dekat dengan Minho? Oh, tentu saja pria ini tidak tau. Minho menghabiskan 2 tahun waktunya hanya untuk mendekati Younji. 2 tahun penuh yang ia habiskan hanya untuk mendapatkan status teman. Lalu mengapa Onew yang baru ia kenal selama 2 bulan akan bisa dengan gampangnya mendapatkan status itu? Tidak masuk akal.

‘Tapi aku tidak punya teman di kampus.” jawab Younji cepat, enggan menjelaskan apa yang ada dipikirannya beberapa detik lalu. Onew tidak perlu tau terlalu banyak tentang kehidupan pribadinya, batin Younji.

“Tidak ada? Satupun?” Onew melongo mendengar jawaban Younji yang tak ia sangka.
”Satu-satunya temanku adalah Hyunji.”

Onew mengangguk pelan. Benar juga, selama ini ia belum pernah melihat Younji berjalan bersama temannya setiap kali ia menjemput Younji dari kampus.

“Ngomong-ngomong soal Hyunji,” Onew menyandarkan tubuhnya di sofa dan kembali mencoba untuk rileks sambil menikmati filmnya yang hampir saja ia abaikan sepenuhnya, “Tidak ada kabar apapun darinya?”

Younji menggeleng sebagai jawaban, entah Onew melihatnya atau tidak.

“Bagaimana dengan Jonghyun? Apakah dia baik-baik saja?”

Onew tertawa mengejek saat mendengar pertanyaan Younji. Bisakah seseorang tetap baik-baik saja jika orang yang sangat ia cintai pergi meninggalkannya dengan ikut serta membawa sebuah kepingan puzel untuk melengkapi hatinya? Siapa yang bisa bertahan hidup ketika sebagian dari dirinya menghilang?

“Tidak. Pria busuk itu sama sekali tidak baik-baik saja. Ia terlihat seperti mayat hidup.” Onew kembali mengingat-ingat Jonghyun yang sedikit banyak mulai berubah menjadi seperti bukan dirinya sejak Hyunji pergi—meski Onew tak bisa memprotes Jonghyun untuk itu. Jonghyun bisa saja menjadi lebih buruk daripada mayat hidup. Jonghyun bisa saja menutup dirinya pada seluruh isi dunia dan tak henti menyalahkan dirinya sendiri—seperti Onew dulu.

“Kau tidak mencoba untuk menghiburnya? Dia kan temanmu—satu-satunya.” Younji kembali bertanya. Lagi-lagi Onew tertawa pelan saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan untuknya, membuat Younji mulai mengerutkan keningnya karena merasa jengkel dengan sikap Onew yang seolah sedang mencemoohnya.

“Menghiburnya? Maksudmu, berbohong? Berbohong dengan mengatakan semuanya akan baik-baik saja? Bahwa suatu saat nanti Hyunji pasti akan kembali lagi ke pelukan Jonghyun padahal aku sendiri tidak yakin?” tatapan Onew berubah kosong, “Bukankah lebih baik jika seperti ini? Daripada berada di dalam dunia dongeng yang begitu indah, akan jauh lebih baik berada di dunia nyata. Jika seandainya aku memberikan harapan yang begitu besar pada Jonghyun dengan menyumpalkan sejuta harapan-harapan kosong yang pada akhirnya justu hanya akan menghancurkan dirinya, akan lebih baik jika sejak awal harapannya telah hancur sedikit demi sedikit hingga pada saat kenyataan menghampirinya, tak akan ada begitu banyak harapan yang bisa dihancurkan lagi.”

Younji menatap wajah Onew lekat-lekat. Ada semacam sorot kesedihan yang dipancarkan oleh sepasang bola mata itu, namun Younji tak begitu yakin dengan penglihatannya sendiri. Onew menoleh pada Younji, ia tersenyum lemah namun masih saja terlihat menawan.

“Lebih baik tidak menaruh harapan yang terlalu besar sejak awal.” lanjut Onew pelan. Karena ia telah merasakannya sendiri, ketika harapan yang ia gantungkan hingga ke langit ketujuh harus jatuh terhempas di daratan bumi. Bisa kalian bayangkan? Oh, kalau terlalu sulit bagi kalian untuk mengimajinasikannya, bayangkan saja bagaimana jadinya ketika kalian melempar sekeping kaca dari lantai teratas Namsan Tower, apalagi yang bisa tersisa?

“Aku tidak tau kalau kau adalah orang yang pesimis.” ungkap Younji tanpa ia sadari. Beberapa detik setelah kesunyian melanda mereka, Younji baru saja menyadari apa yang ia katakan dan mendekap mulutnya, takut kalau Onew akan tersinggung oleh kata-katanya. Ia tak bermaksud untuk mengatakan hal itu secara gamblang. Hanya saja, Onew yang ia lihat selama ini terlihat selalu berpikiran positif—tipe orang yang melihat dunia dari sudut pandang yang tak bisa dilihat oleh siapapun. Jadi bagaimana Younji bisa menduga kalau ternyata orang yang melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda ini justru sama seperti orang-orang pesimis lainnya yang selalu putus asa? Bagaimana bisa positif dan negatif bersatu?

“Lalu kau sendiri, Nona Han. Apakah kau bukan orang yang pesimis—mengingat bahwa kita memiliki latar belakang yang lebih banyak diisi oleh rasa sakit?” sama sekali tidak ada nada sinis dalam pertanyaan yang diberikan Onew, hanya murni rasa ingin taunya tentang gadis yang ada disampingnya.

“Mungkin kau benar. Aku pernah menggantungkan harapanku ditempat yang sangat tinggi dan ternyata aku tak mampu menggapainya. Harapan itu justru jatuh dan hancur tak bersisa, satu-satunya bekas yang ditinggalkan hanyalah rasa sakit dihatiku. Lalu, kugantungkan harapanku ditempat yang jauh lebih rendah, ditempat yang mampu kugapai. Namun aneh, seharusnya aku bisa menggapainya. Tapi saat kubuka tanganku, tidak ada apapun di sana—kosong.” Younji membuka kepalan tangannya, menatap telapak tangannya yang kosong. “Tapi aku tidak bisa berhenti untuk terus menggantungkan harapan demi harapan karena mungkin suatu saat nanti, ada satu harapan yang bisa kuraih.”

Lagi-lagi kesunyian melanda mereka selama beberapa detik. Tak ada seorang pun yang berniat melanjutkan percakapan hingga Onew memutuskan untuk berkomentar.

“Kita benar-benar bertolak belakang, sama sekali berbeda.”

“Tapi bukankah hal yang berbeda justru akan semakin menarik jika disatukan?”

Onew membulatkan matanya saat mendengar tanggapan Younji.

Bersatu… Benarkah itu? Jika.. Jika suatu saat nanti mereka benar-benar bisa bersatu, mungkin memang menarik. Onew memaksa dirinya sendiri untuk tidak terus membayangkan hal itu karena ia pasti akan kehilangan kendali atas pikirannya lagi.

Beberapa menit berlalu begitu saja dengan. Ruangan kembali dipenuhi oleh suara-suara riuh dari televisi sementara Younji mencoba untuk membangkitkan minatnya pada film yang sedang mereka lihat—yang pada akhirnya tetap saja gagal.

“Younji-ya..” Panggil Onew pelan, namun bisa ditangkap oleh pendengaran Younji, “Jika kau masih mencoba untuk berhenti bersikap kaku padaku dan ternyata terasa begitu sulit bagimu, bagaimana kalau aku menuntunmu?” Onew melanjutkan bahasan mereka sebelumnya. Onew bukannya tidak mengerti bahwa yang dibutuhkan Younji saat ini hanyalah waktu agar ia bisa bersikap rileks, tapi entah mengapa Onew tidak bersedia menunggu. Ia ingin segera menjadi lebih dekat dengan Younji—lebih dekat dan lebih dekat lagi hingga tak ada dinding yang membatasi mereka. Ia rasa ia mulai menjadi tamak akhir-akhir ini.

Younji mempertimbangkan tawaran Onew. Bukan ide yang buruk. Mungkin dengan bantuan Onew, Younji bisa menjadi lebih akrab dengan suaminya, seperti kedekatannya pada Hyunji dan Taemin. Bahkan mungkin seperti ia memperlakukan Minho.

Onew menahan senyumnya saat Younji menyetujui ide yang ia ajukan.

“Mendekatlah.” perintah Onew yang pertama. “Bukankah kita harus dekat, baru bisa akrab?” buru-buru Onew menambahkan kalimatnya saat Younji menatapnya dengan mata yang disipitkan. Jangan sampai Younji berpikir bahwa Onew sedang mencari keuntungan darinya.

Younji terlihat ragu, tapi toh ia menuruti kata-kata Onew. Younji bergeser ke samping beberapa kali hingga jarak antara ia dan Onew tak lebih dari dua centimeter. Onew merengkuh wajah Younji, menyenderkan kepala mungilnya dipundak Onew.

“Kau terlihat begitu lelah. Istirahatlah.” gumam Onew, diam-diam menghirup aroma tubuh Younji yang baru pertama kali ini ia cium.

Younji tak memberontak. Justru sebaliknya, ia memejamkan matanya. Kehangatan yang diberikan oleh Onew membuatnya begitu nyaman dan mampu membuatnya terlelap hanya dalam hitungan detik, hal yang jarang terjadi padanya.

Onew mengabaikan film klasiknya, ia lebih memilih untuk menonton Younji yang tertidur pulas.

“Cheonsa gateun. (Like an angel)” bisik Onew lemah. “Jalja, uri Younji.” Onew merundukkan wajahnya untuk mengecup kening Younji.

Kedua sudut bibir Younji terangkat ke atas saat pintu gerbang menuju mimpi indah terbuka untuk dirinya.

***

Younji merentangkan tangannya tinggi-tinggi begitu ia membuka matanya yang masih enggan untuk menyambut cahaya matahari pagi. Younji melihat ke sekeliling dan langsung menegakkan tubuhnya. Ia kembali memandang ke seluruh penjuru ruangan dan bertanya-tanya, sejak kapan ia masuk ke dalam kamar? Karena yang terakhir kali ia ingat adalah ia tertidur—tanpa ia sengaja—dipundak Onew di ruang nonton.

Younji memerosotkan pundaknya dan kembali merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur empuk milik Onew. Younji memandang langit-langit dalam diam. Bagaimana ia bisa tertidur begitu saja semalam? Harusnya Younji bersikap sedikit lebih waspada dan tidak mempercayai Onew begitu saja, bukannya justru merasa aman. Mungkin lain kali jika hal itu terjadi lagi—jika Onew kembali meminjamkan pundaknya—Younji bisa bersikap lebih waspada. Younji kembali memejamkan matanya, tapi sama sekali tak bisa tertidur saat mendengar suara-suara yang saling bersahutan diluar kamar tidur. Siapa yang bertamu di pagi hari?

Younji menyeret kakinya dengan paksa untuk turun dari tempat tidur dan keluar kamar. Ruang nonton kosong, sama sekali tak ada siapapun di sana. Younji mendengar suara seorang wanita dan suara Onew dari arah dapur dan mengikuti sumber suaranya.

“Annyeonghaseyo eommonim.” sapa Younji saat melihat Nyonya Lee di sana. Younji mengasumsikan kalau ibu dan anak ini tengah beradu argumen, dilihat dari gerak-gerik tubuh Onew yang meletakkan kedua tangannya di pinggang dan wajahnya yang terlihat tidak terlalu bersahabat.

“Oh, hai Younji.” Nyonya Lee membalas sapaan Younji dan tersenyum singkat sebelum ia kembali melanjutkan kata-katanya pada Onew, “Jangan bertingkah seperti anak-anak, Jinki. Kenapa kau harus selalu meributkan hal-hal kecil yang kulakukan? Kulakukan ini semua demi kalian, jadi berhentilah mengomel padaku.”
”Itulah masalahnya. Kau selalu memperlakukanku seperti anak-anak. Well, seperti katamu Eunri-ssi, aku sudah dewasa dan sekarang aku sudah memiliki keluarga. Jadi biarkan aku sendiri yang mengurusi keluargaku, oke?” tegas Onew.

Nyonya Lee memberengut dan memutar bola matanya, “Aku hanya ingin berperan sebagai mertua yang baik dan memperhatikan menantuku, tidak boleh?”

Younji mematung di sana sementara dua orang dihadapannya terus saling bertentangan.

“Younji, bagaimana menurutmu?” Nyonya Lee tiba-tiba saja menarik lengan Younji, memaksanya berjalan mendekati meja, “Aku membelikan semua ini untuk kalian, memangnya aku salah?”

Younji menatap takjub. Ada begitu banyak bungkusan minuman herbal diatas meja. Jadi karena inikah mereka berdebat di pagi hari yang cerah ini?

“Tentu saja tidak. Eommonim membeli begitu banyak minuman herbal pasti karena tidak ingin kondisi tubuh kami menurun.”

“Benarkan! Bahkan kau saja bisa memahami isi hatiku, tapi darah dagingku sendiri justru tidak bisa mengerti.” Nyonya Lee mendelik pada Onew yang menghela nafas pasrah, merasa kalah berdebat dengan Nyonya Lee.

Onew mendelik pada Younji—seolah sedang mengatakan kau-telah-berkhianat—melalui tatapnnya. Ia lalu menghela nafas sekali lagi dan berjalan keluar dari dapur, membuat Younji bertanya-tanya apa yang salah dengan perhatian yang diberikan oleh Nyonya Lee.

“Ayo, Younji. Minumlah.” Nyonya Lee membukakan sebungkus minuman herbal dan menyodorkannya pada Younji. “Ahjussi yang menjual minuman herbal mengatakan padaku bahwa minuman ini sangat bagus untuk nutrisi bayimu nanti.” jelas Nyonya Lee.

Younji tersedak saat kata-kata bayi yang diucapkan oleh Nyonya Lee diproses oleh otak besarnya.

“Eunri-ssi!” Teriak Onew dari ruang nonton saat mendengar Nyonya Lee lagi-lagi mengungkit tentang bayi—alasan yang membuat Onew terus mengomel sejak tadi.

“Aku tau!” Nyonya Lee balas berteriak pada Onew. Nyonya Lee mengusap lengan Younji dan menambahkan, “Bukannya aku ingin memaksamu untuk segera memberikan cucu padaku. Tapi, Ahjussi itu juga mengatakan kalau minuman ini pun baik untuk dikonsumsi wanita yang tidak hamil. Bahkan pria pun boleh mengkonsumsinya.”

Younji mengangguk ragu tanda mengerti dan kembali menyesap minuman herbalnya dengan lebih perlahan.

“Jangan lupa untuk mengingatkan Onew agar ia juga minum yah. Supaya kalian berdua sama-sama subur dan aku segera mendapat kabar baik dari kalian.” lanjut Nyonya Lee sambil tersenyum penuh arti.
”Eunri-ssi!” teriak Onew sekali lagi, memberikan peringatan untuk yang kesekian kalinya pada Nyonya Lee—dan ia mulai lelah untuk melakukan ritme yang sama hampir selama 30 menit ini.

“Araseo!” lagi-lagi Nyonya Lee balas berteriak. “Dia sangat cerewet.” bisik Nyonya Lee yang membuat Younji tertawa kecil.

TO BE CONTINUE

©2011 SF3SI, Yuyu.

This post/FF has written by Yuyu, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

176 thoughts on “Married By Accident – Part 3

  1. Omo!! Cute banget… jadi ternyata onew gitu yah di ni ff jadi ngebayangin waktu incomplete marriage. Disitu aku pengen tau banget tentang onew..

    Ahhhhkk!! Makasih ya author..udah ngebuat khusus bagian onewnya.. thank you *hugs* ^__^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s