Waiting For You

Title    : Waiting For You

Author    : ReeneReenePott

Main cast : Lee Jinki, Kim Lana (err.. aku kaga kepikiran nama lain jadi nyomot nama founder aja yach ._.V)

Supporter cast : Park Heenim

Genre    : Romance, Fluff

Length    : Ficlet

Rating    : PG 13

A/N : Ini sebenernya cerpen tugas author, yang disekolah dinilai 90 XDD *bangga* #plakk Castnya sebenernya Nesya sama Reza, Cuma yaa.. mumpung belom kushare kemana-mana(Cuma ada di buku tugas doang) jadi kuperbaiki dikit dan kuganti deh castnya!! Happy reading ya.. ^o^

___

Lana melangkah pelan menelusuri stasiun di sore yang berangin itu. Ia menghela napas pelan, lalu duduk di salah satu bangkunya. Ia memandang kosong dengan rel kereta api di hadapannya. Penjaga stasiun di sana sudah hafal dengan keberadaannya yang setiap minggu selalu terduduk di bangku yang sama, dengan ekspresi yang sama, dengan waktu yang sama.

Dan menunggu orang yang sama

Ya, Lana selalu menunggu orang itu. Orang yang telah menjadi bagian dari jiwanya. Yang telah menjadi pemilik separuh hatinya.  Namjachingunya, Lee Jinki. Ia adalah seseorang yang memiliki semangat tinggi, dan cita-cita yang tinggi pula.
Dua tahun yang lalu, Jinki berkata bahwa ia akan menjadi penyanyi terkenal dan berangkat ke Seoul meninggalkan Lana. Memang sangat berat untuk melepas Jinki pergi, namun Lana merelakannya demi kesuksesan dan kebahagiaan Jinki.

“Aku berharap kau selalu menungguku pulang,”

Itulah yang dikatakan Jinki terakhir kali mereka bertemu 20 bulan yang lalu. Lana tersenyum kecut. Ia merindukan Jinki, sangat. Karena kerinduan itulah, yang membuatnya bertahan untuk tetap menunggu Jinki pulang. Dan ia yakin, Jinki memegang kata-katanya. Selama apapun, ia tetap akan menunggu. Karena ia rindu. Ia rindu akan dekapannya, tawanya, senyumnya, semuanya.

Namun ia meringis setiap kali mengingat kenyataan bahwa Jinki, dulu dan sekarang, sangat berbeda. Ia harus menyadari itu. Sekarang Jinki tidak seperti dulu. Jinki bukan hanya milikknya sekarang. Jinki sekarang milik fans-fansnya. Bukan lagi Jinki yang dulu miliknya seutuhnya.

Dan lagi, karena kenyataan itu, Lana meragukan Jinki. Ia ragu apakah sekarang Jinki masih mengingatnya,oh tidak, mengingatnya itu sangat hebat. Lana ragu apakah Jinki masih mengenalinya. Kekasihnya yang lama dan sampai sekarang masih menunggunya.

Seharusnya, Lana tidak merindukan Jinki. Toh, setiap hari Jinki selalu muncul di layar kaca. Menjadi berita hot tiap harinya. Dimana-mana, fans Jinki selalu membicarakannya. Tapi entah kenapa  Lana tetap menunggunya pulang.
Entah berapa kali Lana meringis melihat gossip tentang Jinki di acara TV. Entah berapa kali dada Lana terasa sesak karena isu bahwa Jinki sedang dekat dengan seorang penyanyi terkenal yang cantik dan berbakat. Dan entah berapa kali Lana terpaksa percaya dengan berita itu karena diperkuat fakta dan bukti nyata. Dan, entah berapa kali Lana menangis, berusaha melenyapkan rasa sakit yang bersarang dalam dadanya karena itu.

Lana tersenyum pedih. Ia bodoh. Sangat bodoh. Mana mungkin seorang bintang besar seperti Jinki mau pulang naik kereta api kelas ekonomi atau bisnis ataupun yang eksklusif, ia pasti akan naik pesawat. Mengingat itu, perlahan Lana bangikit dari duduknya, merapihkan rok selututnya, dan mulau melangkah meninggalkan lorong stasiun itu.
Ia berjalan menunduk. Rambutnya yang panjang sebahu hampir menutupi setengah wajahnya yang oval dan sedikit tirus. Salah satu tangannya memegang tas rajut yang warnanya mulai pudar. Ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya yang kecil. Sudah menjelang petang hari.

Dan, sebuah kereta api sampai di stasiun itu. Lana sudah terlanjut panik mengingat ibu kosnya yang akan mengomelinya jika pulang terlalu larut, jadi ia mempercepat langkahnya tanpa menyadari ada seseorang yang memperhatikannya dengan seksama setelah turun dari gerbong kereta.

__

Kringgg

Kriinggg

“Ugh, hari ini libur, kenapa wekernya berisik sekali sih?” omel Lana pelan dengan tangan yang menggapai-gapai weker di meja sampi tempat tidurnya, sambil berusaha membuka kedua matanya yang masih terasa berat.

Dengan pelan ia mulai bangkit dari tempat tidurnya sambil mengusap-usap wajahnya. Dengan malas ia meraih handuknya, dan bergegas mandi untuk menyegarkan diri.

Hari ini Lana tampak lebih segar dengan kaus dan celana pendeknya, sementara rambutnya yang panjang sebahu diikat asal-asalan. Ia menyeret langkahnya keluar kamar kosnya dan bergegas ke ruang makan.

“Ah, Lana sudah bangun,” sapa ibu kosnya ramah. Lana hanya tersenyum tipis, dan melirik chingunya yang sudah duduk manis selagi sarapan, Heenim.

“Lan, nanti mau ikut aku mall tidak?” tanya Heenim, chingu kosnya yang centil namun baik. Lana menggelng pelan sambil tersenyum.

“Mian, aku tidak bisa,” ucap Lana pelan sambil menggigit roti bakarnya.

“Yah, padahal aku pengen beli albumnya Jinki bareng kamu. Apalagi, nanti aka nada jumpa fans lho!” cerocos Heenim sambil mengunyah roti bakar isi coklatnya. Raut wajah Lana langsung berubah.

“Jinki?” ulang Lana sambil menghentikan kegiatan meminum susunya.

“Iya, penyanyi yang ganteng unyu-unyu itu,” balas Heenim lagi sambil cengar-cengir sendiri.

“Baiklah, aku akan ikut,” desah Lana sambil mengangkat bahunya, membuat Heenim terbahak.

“Ternyata kau juga fansnya Jinki, ya?” tanya Heenim. Lana hanya tersenyum tipis. Bukan hanya sekedar fans, Henim-ah, batin Lana.

Siang itu, Heenim dan Lana mengalah gontai di mall terbesar yang ada di Gyeogi-do. Heenim seperti anak kecil, berbinar-binar melihat barang lucu dan aksesoris nyentrik lainnya yang berjejer di etalase toko. Sementara Lana hanya mengekorinya dan melihat ke sekalilingnya, berharap menemukan sosok Jinki walaupun dari jauh. Tiba-tiba Heenim menarik tangan Lana.

“Sekarang, ayo kita ke took CD!” serinya sambil menyeret Lana ke sebuah took CD yang memajang poster Jinki di kaca pintunya. Melihat wajah Jinki di poster saja sudah membuat jantung Lana tak beraturan.

Lana terus mengekori Ayu yang sedang sibuk memilih album selain album Jinki yang kini sudah ada di tangannya. KARA, Girls Generation, Super Junior, bahkan B2ST-pun ia pertimbangkan untuk dibeli. Menyadari Lana yang sedari tadi tidak menyentuh apapun, Heenim membalikkan tubuhnya dan menatap Lana heran.

“Kau tak membeli album Jinki?” tanyanya dengan alis berkerut.

“Aku kan hanya menemanimu. Lagipula CD atau album seperti itu tidak akan kudengarkan, lebih baik aku download MP3nya dan memasukkannya ke ponsel,” tukas Lana sambul menunjukkan ponselnya. Heenim manggut-manggut.

Tepat pukul 2 siang jumpa fans dimulai. Heenim berteriak dengan semangat ketika Jinki mulai menyanyikan lagunya. Sementara Lana hanya menatap Jinki kaku. Ia bingung harus melakukan apa. Ketika lagu sudah berakhir, Heenim menyadarkan Lana dari lamunannya.

“Lan, mau ikut maju menemaniku minta tanda tangan tidak?” tanya Heenim sambil melambaikan album Jinki yang ada di tangannya. Lana mengangguk pelan, yang dibalas dengan senyuman dari Heenim.

“Ayo, giliran kita,” kata Heenim sambil menarik tangan Lana maju ke panggung. “Annyeong, Jinki oppa. Namaku Park Heenim, dan aku suka lagumu,” kata Heenim malu-malu. Jinki hanya tersenyum.

“Gamsahamnida, Heenim-ssi,” balas Jinki, dan mulai menggoreskan tanda tangannya di album milik Heenim. Jinki kembali mendongak menatap Heenim sambil terus tersenyum, hingga tatapannya berpindah pada Lana. Dan dunia seperti berhenti berputar saat itu juga.

Namun sekejap kemudian lana mengalihkan pandangannya. “Sudah Heenim-ah?” dan Heenim pun mengangguk, mengajaknya untuk turun dari panggung.

__

Selesai jumpa fans, Jinki menolak untuk kembali ke Seoul. Ia terus mengawasi Lana yang di ajak Heenim untuk berkeliling mall dari jarak yang cukup jauh, belum lagi ia menggunakan penyamaran.. Tatapannya sulit diartikan.

“Lan, aku tinggal ke toilet ya,” ujar Heenim yang disambut dengan anggukan dari Lana. Heenim pun meninggalkan Lana sendiri, yang kini tengah bingung harus melakukan apa. Jinki berharap ini adalah kesempatan yang ia miliki, dan ia tak akan menyia-nyiakannya.

Lana akhirnya memutuskan untuk melihat-lihat barang pajangan yang ada di sepanjang etalase toko sembari menunggu Heenim. Sedang asyik-asyiknya melihat barang-barang, seseorang menepuk bahunya. Awalnya ia berharap itu Heenim, tapi nyatanya ia salah. Ia menoleh dan terkejut mendapati Jinki sudah ada di hadapannya. Dengan penyamaran yang sudah ia lepas.

“Lana…” kata Jinki lana membeku. Ia hanya memandang Jinki tanpa sepatah katapun keluar dari bibirnya. Rahangnya seolah terkunci rapat.

“Kau.. masih mengingatku?” tanya Lana, memaksakan bibirnya untuk mengucapkan sesuatu. Jinki tersenyum. Senyum yang sangat dirindukan Lana.

“Tentu saja. Bagaimana bisa aku melupakanmu?” ucap Jinki sambil meraih tangan Lana, sementara matanya menatap mata Lana dalam. Ia mengulurkan tangannya ke bahu Lana, dan menariknya ke dalam pelukannya. Lana tersentak. Air mata mulia bergulir turun dari kedua kelopak matanya.

“Hiks… kau jahat…” kata Lana pelan yang membuat Jinki terperangah sambil mengendurkan pelukannya. Ia menatap mata Lana lagi.

“Kok aku jahat?” tanya Jinki bingung. Tangis Lana langsung meledak. “Uljimayoo…” katanya lagi sambil mengusap air mata Lana dengan telapak tangannya.

“Kau-cowok-jahat!! Aku-benci-kau!!” pekik Lana tertahan yang menekan setiap katanya dengan pukulan di dada bidang Jinki.

“Aku merindukanmu, apa itu salah?” tanya Jinki lagi. Namuan Lana masih terus memukuli Jinki sambil menangis.

“Aku-juga-merindukanmu!! Tapi-kau-tak-pernah-mengabariku!!” pekik Lana lagi dengan tangan yang masih memukuli dada Jinki. Dengan sigap Jinki menangkap tangan Lana dan kembali mendekapnya.

“Mianhae…” kata Jinki sambil mengelus lembut rambut Lana. “Mianhae.. mianhae Lana-yah…”

“Kau membuatku seperti orang bodoh, kau tahu? Menunggumu di stasiun setiap minggu, menangis bodoh, kau tahu itu?” cerca Lana yang membuat seulas senyum terukir di bibir Jinki. Ia merenggangkan dekapannya dan menatap mata Lana.

“Menangis karena apa, hm?” tanya Jinki pelan. Lana gelagapan.

“Eh? Ehm… karena…” Lana berkata terbata sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. Cengiran di wajah Jinki makin lebar.

“Kau cemburu dengan segala gosip tentangku?” selidik Jinki. Lana hanya membuka dan menutup mulutnya tanpa suara, sementara wajahnya mulai memerah.

“Eh?” akhirnya hanya kata itu yang keluar dari mulut Lana.

“Sudahlah, aku tahu kau cemburu, jagiya,” sahut Jinki sambil mencubit pelan pipi Lana yang sudah memerah.

“Akh! Iya! Aku cemburu! Puas kau?” racau Lana pada akhirnya. Jinki tersenyum puas.

“Sangat puas,” katanya singat lalu mengecup kilat bibir Lana. Lana terbelalak, tapi Jinki hanya menanggapinya dengan cengiran. “Saranghae…” lanjut Jinki sambil menarik Lana kedalam pelukannya.

“Nado saranghae,” jawab Lana pelan sambil melingkarkan tangannya ke pinggang Jinki.

“Aku janji, aku tidak akan pernah tidak mengabarimu lagi,”

__

“Ceritakan padaku, kenapa kemarin kau bisa diantar pulang oleh Jinki-oppa?” interogasi Heenim saat mereka berdua sarapan dikeesokan harinya. Awalnya Lana tidak ingin membahasnya, namun chingunya yang satu ini tetap ngotot.

“Itu..” Lana menimbang-nimbang sejenak, “Rahasia,” kata Lana sambil tersenyum yang di sambut sungutan dari Heenim. Tiba-tiba ponsel Lana berdering menandakan panggilan masuk. Ia langsung mengangkatnya.

“Yoboseyo?” sapa Lana. Lalu ia tersenyum mendengar jawaban dari penelpon di seberang. Mereka berbincang seru selama beberapa menit.

“Baiklah, sampai jumpa,” tutup Lana tetap tersenyum, yang membuat Heenim memandanginya dengan tatapan menyelidik.

Ya, kini berakhirlah sudah penantian Lana akan Jinki. Dan akhir penantian itu berakhir bahagia karena Lana percaya dan selalu setia. Kini lewatlah sudah kisah pahit antara Lana dan Jinki. Dan semuanya kembali seperti yang seharusnya, yaitu Lana dengan Jinki.

END

OKEDEEEEEEHHHHH apakah Lana eon ngefly? Entah deh, aku ga tau dia baca atau engga @_@ Well, ini sudah mengalami beberapa pengubahan begitu aku ketik ulang buehehehe. Otteyo? Alurnya kecepetan yah? Ini aku ngetiknya juga nyuri waktu, hehehe XD
Yang udah baca, dimohon kritik dan saran serta komennya yah!! ^o^

61 thoughts on “Waiting For You”

    1. Iya. Itu karena ngeditnya sebelum tidur, jadi nyawanya udah melayang duluan #plakkkk aaku akan berusaha lebih jeli lagi ya… Makasih kritiknya… XDDDD
      Sabar yah… Jjong mungkin lagi mesen tiket #gubrakkk
      Gomawo yakk.. XDD

  1. jinki2… ckckck… jahat seklai ga ngasih kabar..
    untung author baik hati bikin lana setia, coba kalo nggak, endingnya pasti ga bahagia #loh?

    bagus thor, 2thumbs up for you 😉

  2. edasss, ini tugas sekolah? berani sekali kau, nak.

    ckckck. super sekali!

    btw, masih ada typo dan ceritanya agak ketebak. tapi after all, ceritanya enak dibaca kok.

    oh iya, dari beberapa FF-mu yang pernah aku baca, rata-rata isinya masih bernuansa remaja banget. coba deh, sesekali bikin kisah cinta yang dewasa. dewasa di sini maksudnya kalau berantem yang dewasa, bukan yang marah2an kayak ABG gitu. terus lebih melibatkan perasaan. kekeke

    keep writing! fighting! ^^

    1. Yahh… Orang gurunya bilangnya temanya bebas kok… XDDDD
      Iya… Itu memang aku yang (selalu) ceroboh soal pengeditan… Ckckckck… Aku bakal berusaha lebih hati-hati lagi!!!
      Err… Dengan konflik dewasa??? Yahh… Gimana dong??? Orang aku memang ABG… Dan beberapa kejadian di FF ini memang ditarik dari kisah pacaran temenku… #pletakkkkk untung dia kaga baca amiiiiiiin!!! XDDD
      Aku usahakan yah??? Masalahnya agak berat juga nulisnya kalo dipikir-pikir, akunya memang ABG…. #pletakkk #gubrakkk

      Well, gomawo yah!!!! XDD

    1. Hahhh??v masih keselip yak??? Gawat!!!!!!!! *rusuhsendiri* well…. Itu kesalahanku sendiri. Ngeditnya malem2 juga.. Pas sebelon tidur… #pletakkkgubrakkkkkk

      Gomawo yahh.. XDD

  3. Envyyy sama Lana,,, buakakakk

    Wahh,,, Tugas sekolah bikin cerpen,, hihih,,, pasti gurunya masih muda tuhh,,hehe

    Akhirnya,,, Penantian Lana tak sia-sia,,, #prokk,, prokk beri applaus,,, apa dehh abaikan,,kkkkk~

  4. Huaaa
    Bagus bagus!!! Jinki ga lupain yeojachingunya
    Pas liat sampe diikutin gitu
    Kesempatan banget pula si heenimnya ke toilet
    Kereeen (y)

  5. gpp koq cuman dikit yang penting ceritanya menarik 😀 tapi sayangnya kisah akhir jinki ma lana kaya dipaksain tapi it’s okey lhah dimaklumi

    aihhh lana koq pemaaf y, aish…. JINKI Teganya kau!!!

  6. Wuaa ini tadinya tugas sekolah? Bagus kok ceritanyaa
    Untungnya Jinki masih inget sama Lana nya hihihi
    Meskipun nunggu lama, kangen terus, tapi itu gak sia-sia (y) waaa
    Daebak thor! 😀

  7. waahh bagus meskipun pendek feelnya dapeet …
    keren bangeet ….
    ahhh ngak bisa ngomong apa-apa lagi …
    suka banget pas lana di tatap jinki pas fans meeet ituuu
    aaaahhhhhh sukaaaaaa

  8. perasaan hyunnie aja atau emang bagian awalnya mirip film india yang pernah hyunnie sama eomma lihat ditv? hehehehehehehehe jadi ikut dugeun dugeun juga waktu Lana-nya pengen ketemu ama Onppa!
    Daebak thor! hwaiting ^^

  9. kependekaaannn T____T
    tapi gapapa kook aku suka sama ff ini huaaaa Jinki oppa romantisss xD
    ada beberapa typo, yg sebenernya bisa dibenerin, tp overall aku sukaa!!
    keep writing yaaah 😀

  10. Pas baca awal’a hampir nangiss aku hiks hiks
    Kirain aku bakal ada flas back’a
    Tapii kereennn dehh jalan cerita’a mudah di mengerti.
    Tapi btw ini tugas smp tw sma ??

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s