My Love

Tittle: MY LOVE
Author: dhedingdong
Main Cast: Seo Ji Hye (OC/anggap saja itu kalian), Choi Minho
Length: Oneshoot
Genre: Romance, angst
Rating: PG-13
A.N: inspirasi dari lagu Heavenly days, plot dan alur tetap milik saya!^_^
DON’T BE SILENT READERS PLEASE!!

Inspired song: Heavenly Days :’)

**********

I turn off the time to wake up before the alarm clock ressounds
I don’t know why but I can already remember you

**********

“kau sudah bangun chagi?” wanita setengah baya itu membuka tirai kamar seorang yeoja yang tertata rapi meskipun ukurannya tak terlalu besar. Dengan seketika cahaya matahari menembus jendela dan masuk ke dalam kamar yang didominasi berwarna coklat muda dengan sentuhan pink, sungguh tepat rasanya untuk ukuran yeoja berparas cantik dan lembut seperti Seo Ji Hye.

Wanita setengah baya itu kemudian menghampiri seorang yeoja yang terduduk di tepi ranjang dengan tatapan terus kebawah. Entah apa yang menarik perhatiannya, sehingga ia sama sekali tak menggubris pertanyaan ibunya.

“kau mengingatnya lagi?” ditempelkannya tangan lembut nyonya Seo ke kedua pipi chubby Ji Hye bermaksud mendongakkan kepala sang anak untuk menatapnya dalam-dalam.
Tak ada jawaban dari bibir mungil yeoja yang baru genap berumur 17tahun itu, hanya ada air mata yang tiba-tiba menetes dari kedua pelupuk matanya.

Direngkuhnya tubuh anak semata wayangnya itu yang semakin lama kian mengurus, karena jadwal makan yang tak teratur.
“menangislah chagi, menangislah jika itu membuatmu lebih baik…” nyonya Seo pun juga tak dapat menyembunyikan kesedihannya. Namun ia masih berusaha untuk menahan air matanya agar tidak menjebol pertahanannya selama ini.

Terdengar isakan Ji Hye yang semakin keras, membuat hati sang Ibu semakin sakit. Bagaimanapun sang Ibu menginginkan anaknya kembali seperti dahulu, ceria dan tertawa bersama. Namun kini semuanya seperti terenggut begitu saja oleh waktu.

“sudah berapa hari kau tak menyisir rambutmu? Lihatlah! kau seperti hantu chagi.. sangat menyeramkan.. hihihi” Nyonya Seo tak mau menyerah untuk menghibur dan membuat keceriaan anaknya kembali, meskipun di sela kesibukannya semakin padat sebagai seorang wanita karier. Dengan lembut ia menyisir rambut sang anak yang kini telah tumbuh memanjang hingga sepinggang.

Namun sama sekali tak ada respon dari sang anak. Ji Hye hanya terdiam pilu sembari memeluk sebuah buku catatan berwarna ungu tua. Menunjukkan catatan tersebut seperti sangat berharga untuknya.

**********

I wonder if, before I know it, I’ll forget
even the miracle of being able to meet you for one hundred minutes
Will I end up forgetting even that I’ve forgotten?

**********

Dibukanya buku catatan berwarna ungu tua yang sedari tadi telah ia peluk dengan erat.  Terdapat sebuah foto yang tertempel di halaman pertama buku tersebut. Fota dimana sepasang kekasih sedang duduk di depan sebuah komedi putar di taman hiburan, sang yeoja membawa gulali dan meletakkan kepalanya pada bahu kiri sang namja yang terbilang sangat tampan. Sungguh terlihat pasangan serasi. Dibawah foto tersebut tertulis ‘My first and forever love=)’

Setetes demi setetes air mata yeoja manis itu jatuh lagi dari kedua pelupuk matanya. Dirabanya foto itu, hingga secara tak terduga air matanya jatuh membasahi foto tersebut tepat pada wajah sang namja. Dihapusnya air mata yang membasahi foto tersebut secepat mungkin, ia tak mau foto itu memudar atau bahkan lebih parahnya rusak begitu saja.

Dibukanya buku catatan tersebut selembar demi selembar. Entah telah berapa kali yeoja itu atau Ji Hye lebih tepatnya, telah membuka buku catatan yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi. Hingga ia menemukan sebuah tulisan atau dapat dibilang sebagai tulisan terakhir dalam buku catatan tersebut yang berhasil membuat dirinya yang kini rapuh menjadi lebih tak berdaya.

aku tahu dan aku ingin.
aku tahu jika hariku terbatas.
aku ingin melihatnya sesering mungkin seperti dulu.
namun, TIDAK. itu mustahil.
aku hanya ingin melihatnya sekali lagi.
aku ingin mencintainya lebih lagi,
mencintainya lebih dari yang aku berikan selama ini.
serta menjadi lebih baik di depannya.

Tulisan yang terasa sulit untuk dibaca. Bukan kata-katanya, namun memang bentuk tulisan tangannya yang tidak rapi seperti sebelumnya. Entah karena ia menulis sambil menahan rasa sakit itu yang tak dapat tertahan, atau karena hal lain.

Diatas tulisan tersebut, terdapat foto Ji Hye yang tertempel dengan raut muka yang dapat disimpulkan jika ia sedang berada di mood yang tidak baik. Di foto itu terlihat jika ia mengekspresikan wajah marah pada seseorang yang sedang mengambil gambarnya. Namun itu tetap tidak mengurangi kecantikan serta sisi kelembutannya. Sangat jelas ingatan di kepalanya, jika itu adalah foto terakhir Seo Ji Hye yang diambil oleh pemilik catatan tersebut.

“akankah keajaiban itu akan datang Oppa?”

“bisakah kita bertemu sekali lagi?”

Jelas terdengar suara bergetar yang bersumber dari bibir mungil Ji Hye diiringi dengan isakan pelan tangisnya. Ini bukan pertama atau kedua kalinya, hal ini akan terjadi jika Ji Hye mengingat sang kekasih yang telah meninggal 6 bulan lalu. Sangat mendadak memang, dan itu membuatnya cukup terkejut hingga ia belum bisa melepaskan kepergiannya hingga sekarang ini.

-Flashback-

‘Annyeong, apakah kau tahu dimana Choi Minho sekarang? Mengapa aku tak melihat motornya ditempat parkir?’ tanya Ji Hye pada salah seorang teman sekelasnya.
‘dia tak masuk, yang kudengar dia sedang sakit. Kau yeojachingunya kan? Mengapa kau sendiri malah tidak tahu keadaan kekasihmu?’
‘sakit? Apa kau tahu dia sakit apa?’ Ji Hye terlihat kebingungan. Baru saja mereka berdua mengakhiri telfonnya dini hari tadi, dan tiba-tiba ia mendengar kabar jika Choi Minho sedang sakit.
‘anni’ jawabnya diikuti dengan gelengan kepala.

Dddrrrrtt..dddrttt…dddrrrttt..dddrrrtt…
Ponsel Ji Hye bergetar. Ternyata ada panggilan masuk dari ponsel Minho.
“Ya! Minho-ya! Kau kemana saja? Kau tahu, jika kau telah berhasil membuatku mengkhawatirkanmu!” gerutu Ji Hye kesal, hingga ia memanggil Minho tanpa embel-embel ‘Oppa’.
“……..” tak ada jawaban dari seberang sana.
“MINHO-YA? KAU MEMPERMAINKANKU, HUH???” teriak Ji Hye kesal.
“cepatlah datang ke Seoul Hospital, dia kritis” sahut seseorang dengan isakan yang jelas terdengar.
“kau..kau bercanda?” tiba-tiba saja tubuh Ji Hye seakan kehilangan keseimbangan, ia jatuh terduduk di lantai. Ia ingin berlari sekencangnya menuju rumah sakit dimana Minho dirawat, namun kakinya terasa sangat lemas. Bahkan untuk berdiri saja seakan ia tak sanggup untuk melakukannya.

Dddrrrrtt..dddrttt…dddrrrttt..dddrrrtt…
Ponsel Ji Hye bergetar lagi. Seperti dugaanya, panggilan masuk dari ponsel Minho.
“kau bisa cepat kemari? Detakan jantungnya semakin melemah…” suara wanita dari seberang sana terdengar semakin tak jelas, karena bercampur dengan tangis.
“bisakah kau menempelkan ponsel Minho pada telinganya? Aku ingin berbicara sesuatu padanya” jawabku dengan tangis sejadi-jadinya.

“Oppa.. tunggu aku, sebentar lagi aku akan sampai menemuimu dan tak akan meninggalkanmu sendiri disana.. tapi kau harus berjanji satu hal, jangan pernah meninggalkanku.. kau harus janji padaku…”

Sesampainya di rumah sakit, Ji Hye terus berlari ke arah kamar dimana Minho dirawat. Namun belum sempat dia masuk kedalam kamar, dia telah menemui beberapa orang menangis diluar kamar. Dan ada satu wanita yang bisa ditebak jika itu Nyonya Choi, menangis meronta-ronta sambil berteriak-teriak.
Air mata Ji Hye turun dengan derasnya, ponsel yang sedari tadi ia genggam terjun dengan bebasnya ntah kemana. Tubuhnya terasa sangat kaku setelah mendengar teriakan wanita tersebut, yang menyebut jika Minho telah tiada.

-Flashback End-

“aku akan menunggumu Oppa, aku akan menunggumu hingga kau datang.. hingga kau mengucapkan ‘maukah kau menikah denganku?’ tapi hingga kapan aku harus menunggunya? Kau tahu? Aku lelah Oppa..”

**********

Tired of walking, I sat down and was at a loss, if you were with me
We could have talked about something like our unbearable dream’s fate

**********

“Ji Hye-ya! Kau tak mau menghirup udara bebas chagi? Umma lihat, sudah beberapa hari ini kau terus-terusan mengunci diri di dalam rumah” ujar nyonya Seo dengan membawakan sebuah nampan makanan lengkap juga dengan susu dan buah.

Ji Hye hanya menggelengkan kepalanya pelan. Lalu ia membenamkan wajahnya pada boneka panda ukuran besar, sekaligus hadiah terakhir dari Choi Minho. Boneka itu cukup spesial baginya. Bagaimana tidak, ia sangat menginginkannya dari dulu. Namun sang umma tak mengizinkannya untuk membeli boneka tersebut, dengan alasan dapat membuatnya alergi. Karna Ji Hye memang mudah sekali terserang alergi, terutama alergi debu. Namun pada hari valentine tepat seminggu sebelum kepergian namjachingunya, Ji Hye mendapatkan hadiah yang sangat diimpikannya. Dan mau bagaimana lagi, saat nyonya Seo menemukan keberadaan boneka tersebut ia tak tega untuk menyingkirkan atau bahkan membuangnya. Mengingat boneka tersebut sangat disayangi oleh Ji Hye, dan lagipula Ji Hye tidak mengalami alergi saat di dekat boneka tersebut.

Tak ada 15 menit berselang, Ji Hye beranjak dari ranjangnya dan bergegas pergi keluar rumah.
“Jangan pulang terlalu malam chagi!” teriak nyonya Seo dari dalam rumah. Sebenarnya nyonya Seo belum berani membiarkan Ji Hye untuk berjalan sendri di luar rumah. Namun ia tak mau jika Ji Hye terus murung atau bahkan terus menangis di dalam kamarnya karena mengingat Choi Minho sang kekasih.

‘Oppa, ini adalah pertama kalinya aku pergi keluar rumah di Sabtu malam seperti saat ini setelah kepergianmu.. aku takut, aku takut jika tiba-tiba aku teringat kenangan manis kita dan aku akan menangis di jalanan seperti orang gila. Aku tahu jika kau sangat membenci seorang yeoja menangis di jalanan terlebih lagi karena namjachingunya. karena menurutmu yeoja tersebut hanya seperti terlihat ingin mencari simpati orang lain, dan kau sungguh tak suka itu. aku masih teringat kata-katamu bahwa ‘simpanlah tangismu itu dan luapkan saja secara tersembunyi’ maka dari itu Oppa.. aku tak mau seperti itu, aku tak mau kau membenciku… aku sangat mencintaimu…’

Ji Hye terus berjalan di tengah dinginnya kota Seoul di malam hari, entah tempat mana yang akan ia tuju. Setelah ia merasa lelah berjalan, ia pun memutuskan untuk mencari tempat duduk di sekitarnya. Matanya menangkap sebuah kursi taman berwarna putih yang terletak tak jauh darinya. Ia putuskan untuk duduk sebentar disana, namun sepenggal memorinya bersama Minho seakan kembali memenuhi pikirannya.
Saat perayaan satu bulan mereka menjadi sepasang kekasih, Ji Hye dan Minho memutuskan untuk merayakannya di sebuah taman. Namun belum sempat merayakannya, hujan pun turun dengan derasnya. Dan mereka berdua melupakan rencana sebelumnya, dan lebih memilih untuk berhujan-hujanan. Berlari-lari dibawah guyuran hujan, Ji Hye yang terus merengek meminta digendong membuat Minho pasrah dengan perilaku sang kekasih. Mereka tertawa bersama hingga akhirnya berbaring diatas rerumputa, menikmati setiap tetes hujan yang membasahi wajah keduanya. Yang membuat keesokan harinya mereka berdua tak masuk sekolah karena sama-sama terkena demam.

Air mata Ji Hye kembali menetes dengan sendirinya, namun dengan sesegera mungkin ia menghapusnya dan berusaha membuat senyuman yang akhir-akhir ini lenyap dari wajah cantiknya.

‘andaikan saat ini kau masih bersamaku, aku masih ingin melakukan semua rencana yang kita buat dulu Oppa.. tapi kau begitu jahat padaku, kau meninggalkanku dan seribu rencana yang telah kita buat begitu saja.. aku ingin membencimu karena telah meninggalkanku sendiri dengan kesedihan, tapi aku tak bisa.. tak salah jika kau berulang kali mengataiku bodoh, karena aku baru tersadar jika kau memang benar.. aku memang yeoja bodoh, yang tak bisa menerima kenyataan jika kau pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya’

**********

I wonder if I could smile properly
At the scene of our last kiss, I couldn’t even
grasp your shivering hands, not even my tears fell
Now that it’s too late, they overflow when I’m alone

**********

Saat Ji Hye memutuskan untuk beranjak pulang, tiba-tiba ia teringat akan suatu kenangan manis yang sangat ia rindukan. Ditaman inilah tepatnya dibawah tanaman bunga bougenvile di sudut taman, tepat saat bunga-bunga itu berguguran Minho terakhir kalinya mencium lembut bibir Ji Hye dan terakhir kalinya mereka berdua berkencan bersama. Namun apa daya, kenangan manis itu menguap begitu saja berganti dengan kesedihannya yang semakin mendalam. Bukan berarti Ji Hye tak ingin menghapus kepedihan itu dan berusaha untuk tegar menghadapi kenyataan. Namun Ji Hye memang belum bisa merelakan Minho pergi dari hidupnya.

**********

I couldn’t say it by the ticket barrier, I wanted to say
That I feel “Thank you” are maybe words
much sadder than “goodbye”

***********

Ji Hye masuk kedalam kamar mandinya, bermaksud untuk berendam di dalam bath up melepaskan lelahnya selama berjalan diluar rumah beberapa saat lalu. Ia masuk ke dalam bath up putih tersebut lalu duduk bersandar di dalamnya. Namun niatnya tiba-tiba berubah, ia memasukkann kepalanya kedalam bath up yang penuh berisi dengan air sabun. Ia biarkan hidungnya tak dapat bernafas, lalu ia tutup kedua matanya dengan erat.

‘aku tak dapat menahan semuanya, aku terlalu merindukanmu.. biarkan aku menyusulmu ke sana my first and forever love..’

–FIN—

PS: huwahaaaaaaaa,, FF apaan ini? Mana yang terakhir itu sama sekali kaga ada nyambung2nya ==’
Yowislah, gak papa XD
Wkwkwkw
Komennya ya 😀 😀
Mian jelek, cerita membosankan, kalimat belibet+berantakan dan sejenisnya==’v

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

Advertisements

36 thoughts on “My Love”

  1. hoaaaahhh daebak.. udh mikir pasti bunuh dri si cewe.. trnyata bnr.. tp aq kira kecelakaan ato ap gtu..
    ditunggu karya lainnya

  2. Haruskah Ji Hye berpikiran sesempit itu? Melihatnya menangis saja, Minho tidak suka apalagi dengan tindakan bunuh diri.
    Nice story.

  3. Huaaa sumpah ini sedih bgt T_T itu minho matinya karena apa thor? kasian itu ji hye 😦 aku beneran nangis loh bacanya T_T keren deh! d^^b

  4. “Tired of walking, I sat down and was at a loss, if you were with me
    We could have talked about something like our unbearable dream’s fate”
    WAAAA! DAE to the BAK unnieeee!! 8D
    Dideskripsiinnya detail bgt, jadi kebawa suasana #eh muehehehe
    Keep writing un n_n

  5. Huaaa
    Sedih amattt
    Kasiannn
    Tapi lebih kasiannya lagi eommanya
    Udah berjuang supaya jihye bisa nerima minho udah gaada
    Dia nyusul minho
    Huaaaaaa sedih gamau tau sedihh #maksa
    Daebak banget deh ni ff!!!

  6. Seulpeun iyagi. Jihye nyusul cinta pertama dan terakhirnya.

    Kukasih saran dikit ya. Kalo ditambah kenangan2 manis mereka yg lain pasti lebih nyesek deh. Ehehe. Tapi tetep keren kok. Aku sampe berkaca2 gini.

  7. Ujungnya udh kebaca neeh .. Bunuh diri 😥 *nangisseember
    okok! i like! 🙂 i’m from seoul.. Good for u (^_~)d angkat jempol buat yg bikin 🙂

  8. Asiiiiiiikk

    ni ff keren thor, bahasanya dpt bgt, siapa bilang berantakan, justru saya suka ff yg kyk gini bahasanya

    salam kenal author

    cuma endingnya kurang gereget #berasa lagu sherina

    hehehe, tp keren ko thor

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s