Believe Your Dream !

Title : Believe your Dream !
Author : Annisaa a.k.a Hyun Myung Ji.
Main Cast : Lee Taemin, Hyun Ji.
Support cast : Song Ji, Yoon ji, Jaejoong
Length : Oneshot.
Genre : Family, Romance, friendship.
Rating : PG-13

A.N : Sebenarnya ini ff sobat aku (Chairunnisa), dia bikin ff ini buat aku….aku postin di sini…maaf jika ff kami geje n membosankan yah  . Gomawo n don’t be a silent readers .

Buat seseorang disana, apakah kau ingat hari ini ??? Dan tempat ini ??
.
.
“ Eonni !!!!!! “ sebuah teriakan yang mengagetkan seorang yeoja manis yang sejak beberapa menit yang lalu hanya duduk di beside-windows. Kedua kakinya di tekukkannya. Tatapannya masih ke arah luar jendela.
“ Wae ? ” sahutnya sedikit lirih.
“ Lihat! Kami mendapat beberapa kembang api dari fans.” teriak seorang yeoja chubby penuh semangat. Sambil memperlihatkan tumpukan kembang api di tangannya.
“ Ya! Kau bohong! Bukannya kau tadi mencurinya? Mencuri dari dorm f(x)!” sanggah Yeoja jangkung yang dari tadi berusaha mengatur nafasnya.
“Kau tahu Eonni, gara-gara anak ini. Aku hampir di cincang Amber eonni! Aish~” lanjutnya sambil berdecak kesal ke arah yeoja yang di maksud.
“Aniyo, Eonni!” elaknya sambil menggelengkan kepalanya. Ia membela dirinya di hadapanku.
“Eonni! Kau bohong! “ teriak si Jangkung seraya melemparkan bantal ke arah yeoja yang dari tadi memegang beberapa bungkusan kembang api.
“ Ya! Beraninya kau!!!!!!!!!!!!” erangnya sambil berlari keluar kamar mengejar si pelempar bantal yang berusaha melarikan diri.
Ya, mereka dua dongsaengku. Tidak pernah ada kata damai untuk mereka berdua. Ada saja masalah yang selalu di rebutkan.Yang Jangkung itu namanya Song Ji. Dia yang paling muda di antara kami. Akhir-akhir ini, anak itu mulai terlihat akrab dengan sunbae kami, Onew oppa. Dan si chubby itu Yoon Ji. Dongsaengku yang bisa di bilang sedikit gila. Apalagi sejak ia mulai menjalin hubungan dengan Max Oppa. Terkadang sifatnya hampir sama denganku. Terutama menyangkut orang yang begitu kami sayangi.
Drrt .. Drrt .. Drrt ..
Handphoneku bergetar. Ku tatap sebentar layar handphoneku. Kemudian ku tekan tombol hijau untuk menyambungkan telpon dari seberang.
“ Eonni, cepat turun ke  bawah! Di sini  banyak kembang api. Hoa!! “ terdengar teriakan Song Ji dari handphone.
“ Ya! Ya! Pabo! Hyun Ji Eonni juga bisa liat dari kamar dorm, Song Ji!” teriakan khas dari Yoon Ji juga terdengar jelas di handphone. Membuat telingaku sedikit berdengung.
“ Ya! Berhenti menyebut aku dengan sebutan Pabo! Aish~” pertengkaran kecil di mulai lagi.
“ Song Ji !! “ panggilku dengan sedikit suara yang keras. Lebih tepatnya berteriak.
“Ne ? Ne ? Ne? ”
“ Aku melihat dari atas dorm saja. Aku sedikit tidak enak badan. Kalian berdua jangan terlalu lama di sana. Besok jadwal kita padat. Ara? “
“Araseo-“
“ Annyeong! “
“ Annyeong! “
Ku pencet tombol merah di handphoneku. Dan komunikasi kami terputus.
Hufth. Bosan.
Ku edarkan pandangan ke seluruh ruangan. Dan mataku terhenti  ke sebuah tumpukan kado yang ku terima malam ini. Tidak semuanya kado ucapan selamat tahun baru. Namun, sebagian dari kado itu merupakan kado ulang tahunku. Ya. Hari ini tepat ulang tahunku yang ke-19. Untuk sebagian orang, ulang tahun merupakan hari yang begitu lumayan istimewa. Namun tidak bagiku. Wae? Karena masih ada sesuatu yang  istimewa yang ku miliki selama ini tapi sudah hilang entah kemana.
Ku ambil beberapa surat dari ratusan surat yang ku terima. Tak lupa juga ku ambil beberapa jus kaleng dari kulkas. Dan aku mulai berjalan menuju atap dorm kami. Tidak ada begitu special di atap dorm kami. Tapi, di sinilah kami sering menghabiskan waktu luang kami di kala senggang. Sambil menatap bintang malam yang saling berkedap-kedip seolah menyapa keakraban kami.
JRESS.
Ku buka sekaleng jus.Lumayan dingin untuk di minum di tempat seperti ini. Ku teguk sekali dua kali. Lalu, pandanganku kembali ke arah surat yang ku bawa tadi. Ku buka sepucuk surat yang amplopnya berwarna hijau.
Annyeong Noona !!!
Saengil Chukkae~ Hari ini tepat ulang tahunmu yang kesembilanbelas! Bagaimana perasaanmu? Senangkah? Terharukah? Whoa. Aku ingin merayakannya bersamamu.
-Ure fans, Lee Woon
Surat kedua
Annyeong Eonni!!
Selamat tahun baru Eonni! Ah, aku hampir lupa. Kau juga ulang tahun kan. Saengil Chukkae. ♥
-Ure bigfans, Yo Hee
Surat ketiga
Hi Hyun Ji! My name is Annisaa. I’m Purpleruthddiction, I’m your big fans . I’m from Indonesia. Uhm. Eonni, Selamat Ulang Tahun (Happy Birthday). Wish U All The Best Eonni! Once again, Happy New Year!                                         -Ure International fans, Annisaa,INA
Satu persatu, surat sudah ku baca hingga ku lihat sebuah surat terakhir.Surat yang membuatku sedikit penasaran. Sampulnya ungu. Tidak ada nama pengirim.
SREKK!
Kubuka surat itu perlahan. Dua kalimat !
~SAENGIL CHUKKAE ….
Itu saja? Hanya Saengil Chukkae? Tak ada lagi? Ku kerjap-kerjapkan mataku. Otak terus bekerja. Tulisan ini. Sepertinya aku pernah melihatnya.
Apakah dia benar-benar ingat?
FLASHBACK~
“ Noona ? “
“ Eungh? “
“ Apa kau punya sebuah impian ?”
“ Impian ?”
“ Euhm”
“ Ani.”
“ Wae? “
“ Molla.”
Sesaat kemudian percakapan kami sedikit terusik dengan angin malam yang berhembus lembut malam ini.
“Saat semua orang akan meninggalkan kenangan masa lalu dan akan memulainya lagi di awal malam ini, mereka tentu akan memiliki banyak harapan. Apakah kau juga begitu Noona?” ia mulai mengganggu ku lagi dengan pertanyaan-pertanyaan yang menurutku tak berarti.
“Ani” jawabku singkat seraya menggeleng singkat.
“Aish!” decak kesalnya terdengar begitu jelas di telingaku.
“Ya!“ ku hentikan langkahku untuk mengayunkan ayunan kayu yang dari tadi ku mainkan. Ku tatap lekat-lekat tatapannya. Ia seolah menatap aku penuh dengan rasa kasihan dibalut sedih.
Tiba-tiba ia turun dari ayunannya, lalu berjalan ke arah ku. Dengan tubuhnya yang tak begitu besar, ia mendorong ayunan yang ku duduki dengan kuat.
“ Ya! Apa-apaan kau Taemin!’’ aku sedikit kaget dengan perbuatannya. “Turunkan ayunannya!’’
Ia diam. Bahkan ia sekuat tenaga mendorong ayunanku lebih tinggi.
“ Ya! Turunkan aku! Kalau tidak kau turunkan, aku akan berteriak! Turunkan!”
“DIAM!!!” teriaknya ke arah ku. Dan teriakan itu berhasil membuat mulutku berhenti mengoceh. Masih dalam keadaan yang sama, ayunanku di tahannya sampai titik tertinggi yang mampu  ia dorong. “ Kau nikmati sebentar di atas sana!”
Satu detik..Dua detik..Tiga detik..Empat Detik..Lima Detik..
Ia menurunkan ayunanku. Bahunya turun naik. Ia berusaha mengambil oksigen di udara sebanyak-banyaknya. “ Kau paham sekarang?”
“Mwo?” sahutku dengan sontak. Kau? Sejak kapan ia menyebut aku dengan sebutan ‘kau’? Ia sedang tidak lagi bercanda denganku.
Ia memicingkan matanya ke arah ku.
GLEKK!
Mengerikan! Ku teguk ludahku yang sempat terhenti gara-gara melihat tatapannya.
“ Ya! Sejak kecil kita hidup bersama. Sudah 9 tahun kita hidup di sini. Di Panti ini. Dan selama 9 tahun juga, tiap ku tanya tentang sebuah impian atau mimpi yang kau punya, kau selalu menjawab tidak, tidak,tidak,tidak dan tidak. Termasuk saat ku tanyakan pertanyaan ini ketika tiap malam pergantian tahun, kau tetap menjawab tidak mempunyai impian.Hei! Saat itu semua orang malah mencoba mulai hidupnya yang  lebih baik dengan sejuta impiannya.Dan bukankah malam tahun baru itu malam ulang tahunmu juga? Setiap orang pasti punya harapan dan impian yang akan ia beritahukan kepada Tuhan agar dikabulkan. Berbeda dengan kamu! Kamu tetap betah untuk tidak memiliki impian.”
Aku terpana mendengar kata-katanya, “Sejak kapan kau berani menasehati aku seperti ini, Taemin-ah?”.Kemudian aku terkekeh kecil.
“Kau kira ini lucu? Ini masalah masa depan kita juga. Apa kau pikir, hidup kita akan seperti ini. Apa kau tidak ingin seperti orang-orang di luar sana? Hoeh?” Suaranya seperti orang yang sedang marah.
“Aku cukup mensyukuri apa yang ku miliki saat ini saja. Tidak ingin lebih. Dan ku juga bersyukur kau selalu ada di sampingku. Itu lebih dari cukup. Gomawo.” Jawabku dengan nada sedikit tenang sambil mengayunkan ayunanku perlahan lagi.
“ Bagaimana jika apa yang kau miliki saat ini tiba-tiba menghilang? Termasuk aku. Bagaimana jika aku tidak akan ada di sisimu lagi? Kau siap? Dengan keadaanmu tanpa persiapan ini.”
DEG. Sebuah pertanyaan yang membuat hatiku terasa ciut. Seakan ada yang terhempas tepat di dada ini. Dan berhasil membuat aku mulutku membisu.
Ia menghentikan ayunanku. Kemudian ia dorong dengan perlahan ke atas. Ditahannya beberapa saat. Kemudian di turunkannya lagi. “Itulah perbedaan antara memiliki sebuah impian dan tidak. Saat kau di bawah, kau hanya bisa menikmati apa yang ada di sekitarmu. Tidak bisa memandang dengan luas. Kau hanya bisa melihat sekitarmu. Berbeda saat kau di atas, kau bisa melihatnya. Kau bisa memandang dengan luas. Tidak sekedar melihat disekitarmu. Tapi semuanya. Bahkan semakin tinggi kau megayunkan ayunanmu, semakin luas pula kau dapat melihatnya. Itulah yang ku maksud. Saat kau masih di bawah, saat kau tidak memiliki impian. Pikiranmu terlalu sempit. Kau hanya bergantung dengan sekitar. Dan saat kau mendorongnya ke atas, kekuatan yang mendorong mu itulah mimpi-mimpimu mu.Mimpimu itulah yang membawa kamu sampai ke titik puncak.  Dan saat kau berhasil mencapai titik puncak tertinggi dengan mimpi mu. Saat itulah, kau bisa melihat impianmu. Yaitu tak lain masa depanmu sendiri. Masa depan yang begitu luas. Sebuah masa depan yang tak akan pernah kita lihat jika kita tidak pernah berusaha mencapai titik itu.”
Ia mendekati ku, dipegangnya tanganku dengan kedua tanganya, “ Noona. Bukan berarti jika hidup kita yang seperti ini kita tidak akan memiliki masa depan. Hanya saja masa depan kita yang kita miliki  masih tidak bisa kita lihat. Kenapa? Karena kita tidak memiliki sebuah mimpi, sebuah semangat untuk berusaha melihatnya. Kitalah yang menghampiri masa depan kita dengan mimpi-mimpi yang kita miliki.Dan Noona tidak hanya bisa mengandalkan aku ataupun orang lain untuk melihat masa depan yang Noona miliki.” Ia memperat genggamannya di tanganku. “Tapi, diri Noona sendirilah yang akan berusaha. Dengan sebuah usaha, semangat, keyakinan dan impian.”
Tuhan! Apa yang di katakannya benar?
“Noona. Noona tidak bisa mengandalkan orang-orang di sekitar Noona, termasuk aku. Toh, aku juga punya impian ku sendiri.” Dilepaskannya genggamannya. “Geurae. Saat ku kesini lagi. Setidaknya Aku ingin melihat Noona sudah memiliki sebuah mimpi.” Diusapnya kepalaku dengan lembut. Baru sebentar ia mengusapnya, ia beranjak pergi meninggalkanku sendiri.
Benarkah? Apakah dengan sebuah mimpi dan impian, aku akan menjadi lebih baik? Jika benar begitu, aku akan mencoba untuk mulai bermimpi untuk mendapatkan impian-impianku. Ah! Bukankah malam ini ulang tahunku. Ku pejamkan kedua mataku. Mencoba untuk membuat sebuah mimpi, impian, harapan kecil untuk masa depan ku kelak.
Ku edarkan pandanganku ke seluruh sudut ruangan.Yap! Suasana panti hari ini terlihat sepi. Tidak terdengar suara kegaduhan yang seperti biasanya ku dengar tiap pagi. Taemin! Kemana anak itu? Tumben pagi-pagi sudah menghilang. Apa mungkin ia sudah pergi ke gereja? Ah! Tidak sepagi ini. Jika ketemu ni anak, akan ku jitak kepalanya. Gara-gara dia, aku menghabiskan kue ulang tahunku sendirian,membersihkan sampah kembang api sendiri bahkan aku hampir tertidur di ayunan gara-gara menunggunya demi menyampaikan sebuah mimpiku kepadanya.Bodohnya aku.Aish!
BUKK! Seseorang memukul halus pundakku. Ku palingkan wajahku ke arah orang dibelakangku.
“ Hyun Ji! Kemana kau pagi tadi? Kenapa kau tidak mengantarkan kepergian Taemin dengan orangtua yang mengadopsinya?Apakah kalian sedang bertengkar?” tanya Jaejoong Oppa.
“MWO???????”
FLASHBACK END
Apakah kau ingat hari ini ??? Dan tempat ini ??
Masih ingatkah dengan pertanyaan-pertanyaan yang terus-menurus kau tanyakan ke aku?
Dan sekarang aku sudah memiliki jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu !
.
.
Bukit ini, panti ini, dan tempat ini masih sama seperti dulu. Tak ada yang berubah. Bahkan ayunan yang sering ku mainkan dengannya masih ada. Tempat ini terlalu banyak menyimpan kenangan. Sedih, bahagia, kalut, tangisan, amarah, semua masih segar di ingatanku. Dan tentunya, kenangan dengan seseorang yang sangat berharga dan berarti dalam hidupku masih membekas di tempat ini.Meskipun sudah enam tahun aku tidak pernah melihatnya lagi.
Aku masih sendiri berdiri di sini. Canggung rasanya, berdiri ditempat, lebih satu jam lamanya, hanya sendirian, tanpa melakukan apa-apa! Hanya mata ini yang masih menolongku memandangi ayunan kayu yang masih terlihat kuat tergantung di bawah pohon besar itu. Aku merasa kakiku mulai tertarik untuk melangkah lebih jauh lagi mendekati tempat itu. Ku pegang tali tambang yang mengikat kokoh ayunan tersebut. Kurasa masih mampu menopang badanku. Ku dudukan tubuhku di papan duduknya. Perlahan ku mulai mengayun dengan kakiku. Sebersit ingatan kembali mengerumuni otakku lagi.

Taemin. Bagaimana kabarmu disana? Apakah kau masih ingat dengan noona? Aku mempercepat sedikit ayunanku. Apakah kau masih seperti yang dulu? Badanmu masih seperti yang dulu? Kecil di bandingkan aku! Hahaha. Apakah kau masih meminta tolong kepada orang untuk di buatkan segelas susu? Apakah kau masih suka melakukan tarian-tarian aneh itu? Ah, kau menyebutnya itu dance bukan? Hampir saja aku membuat kamu marah. Bagaimana permainan pianomu? Apakah sudah sehebat aku? Oh, ada apa denganku. Aku benar-benar merindukanmu. 😥

Sejak umur lima tahun aku tinggal di sini. Orang tuaku? Hanya aku dan Tuhan yang tahu. Berawal dari sifat pendiamku, aku menemukan seorang adik. Namanya Taemin. Lee Taemin. Sebenarnya umur kami hanya berbeda enam bulan saja. Tapi, ia suka memanggil aku dengan sebutan Noona. Dari situlah awal pertemuan kami. Layaknya kakak adik, kami sering menghabiskan waktu bersama. Bermain bersama, belajar bersama, bahkan kami sering menyanyi dan bermain piano bersama, itu hobby kami yang sama.

Tapi, untuk urusan memainkan piano. Aku jauh lebih pandai di bandingkan anak dengan rambut jamur itu. Menghabiskan waktu bersama membuat kami tidak merasa kami sudah beranjak dewasa. Hingga suatu hari kami terpisah. Ia meninggalkanku tanpa berpamitan. Aku sangat marah dengannya. Jangankan pamitan.Untuk bercerita ia telah di adopsi pun tak ada. Aish! Napuen. Berhari-hari aku mengurung diri di kamar. Hingga aku akhirnya mendengar semuanya dari Onew Appa, kepala Panti. Ya. Kami memanggil ia dengan sebutan Appa. Kata Appa, Ia diadopsi seorang pemilik perusahaan musik dari Jepang. Yap! Ternyata kau sekarang di Jepang. Dengan keluarga barumu tentunya.Kau pasti senang sekarang.Aku? Pappo. Jeongmal Pappo kehilangan kamu secara tiba-tiba. Perlahan namun pasti, setahun setelah kepergianmu, aku juga di adopsi. Meskipun dari keluarga yang begitu cukup sederhana. Berbeda dengan keluarga yang miliki. Namun, aku merasa jauh lebih beruntung darinya. Karena orang tua yang mengadopsiku, mereka terlalu baik untuk dikatakan orangtua angkat. Sifat mereka persis sepertimu, mereka terus mencoba menyemangati aku untuk meraih semua apa yang ku impikan. Berkat kalian,aku seperti ini!

Saat umurku beranjak 15 tahun, aku mencoba mengikuti sebuah audisi sebuah agency ternama. Hanya dengan sebuah harapan terkecil aku mencobanya. Dan aku berhasil.Hey Appa! Umma! Taemin! Apakah ini awal dari impian itu? Aku sudah Debut selama 3,5 tahun, membuat aku terpisah lagi dari orangtuaku. Tapi di sini aku menemukan orang-orang yang begitu sayang juga padaku. Ya. Siapa lagi kalau bukan Yoon Ji dan Song Ji. Bukankah 3,5 tahun bukan waktu yang singkat untuk saling dekat satu sama lain. Mereka adalah orang baru yang ikut mewarnai hari-hariku selama debut. Triple “J”. Nama itulah yang membuat kami sukses seperti ini. Aku sudah menepati janji sekaligus menjawab pertanyaanmu. Saat ini dan di tempat ini juga aku akan sudah berada dengan sejuta harapan dan mimpi dalam dunia yang ku lalui saat ini. Satu impian telah kuraih. Andai kau melihatnya.
.
.
Dan sekarang aku sudah memiliki jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu !
Apakah kau sudah mendengarnya ? Otte ?
.
.
“SAENGIL CHUKKAE . . .”
Nafasku tertahan. Suara itu!
“SAENGIL CHUKKAE, HYUN-JI-SEON NOONA!”
Ku tolehkan wajahku ke arah berlawanan dari arahku duduk. Sosok yang selama ini hilang. Sosok yang selama ini terus ku cari. Mataku seakan enggan untuk berkedip. Mataku mulai terasa sembab.Oh Tuhan! Kenapa saat seperti ini aku ingin menangis! Gerutuku seraya melap beberapa tetesan bening itu dengan kedua telapak tanganku.
“Kau menangis Noona?” sebuah pertanyaan yang membuat mataku ingin menangis.
“Aniyo“ jawabku sambil menggelengkan kepalaku cepat.
Ia menghampiriku. Wajahnya seperti yang dulu. Wajah imut yang selalu membuatku tertawa. Hanya saja tinggi badannya jauh lebih sangat tinggi di bandingkan aku. Dan rambut jamurnya sudah berubah. Ia jauh terlihat dewasa.
“ Otanjoubi Omedetou, Onee-chan!”
“ Mwo?” Ekspresi yang membuat aku seperti orang bodoh di matanya.
“ Saengil Chukkae, Noona! Mian aku telat beberapa hari mengucapkannya.”ucapnya seraya memberi sebucket bunga mawar ungu ke arahku.
“N..ne..ne.. G..g..gwenchana..go..gomawo-“ Tuhan! Kenapa aku gugup seperti ini.
Ku lirik sekilas wajahnya. Senyuman yang khas masih terlihat di wajahnya akibat ulah konyolku ini.
Sudah sejam kami saling mendiamkan diri. Canggung. Ya! Tiba-tiba perasaan itu hadir di antara pertemuan kami. Aku ingin memulai pembicaraan. Tapi aku tak tahu apa yang harus ku bicarakan? Kabarnya? Jelas-jelas ia baik-baik saja.
“Noona, Mianhae. Jeongmal Mianhae.”
“Waeyo?”
“Waktu itu meninggalkan Noona begitu saja. Tanpa berpamitan. Tapi itu bukan maksudku Noona. Andai ku harus berpamitan denganmu. Aku jauh ingin tetap di sini denganmu Noona. Tapi, satu impianku. Ku ingin punya keluarga. Seperti anak lainnya. Maafkan aku Noona. Demi sebuah impian aku meninggalkanmu sendiri di sini. Apa kau tau aku juga menderita di sana. Menderita dengan rasa bersalah begitu besar kepadamu.” Suaranya terdengar bergetar. Seakan hendak menangis.
Menderita? Kau juga merasakan sakit yang kurasakan?
“Awal aku memang marah denganmu.Kau meninggalkan ku seakan aku bukan Noonamu. Tapi, lama-kelamaan. Aku mulai sadar. Toh, ini kehendakmu. Aku tidak boleh menjadi Noona yang egois. Lagipula, kau lihat sendirikan. Sekarang aku tidak sendirian. Ada Umma dan Appaku yang menemaniku. Yoon Ji dan Song Ji juga.Ah! Apa kau mengenal dua dongsaengku itu?” jawabku seraya mencoba menghiburnya.
“Ungh” ia mengangguk.
Suasana kembali hening.
“Semenjak kau pergi, saat tahun baru, saat ulang tahunku aku selalu  datang ke tempat ini.”
“Sendiri?” tanyanya menyahut pembicaraanku.
“Ani” Aku menggelengkan kepalaku.
“Aku datang dengan mimpi dan impianku” lanjutku sambil tersenyum menatap wajahnya yang berdiri tak jauh dariku. Ia duduk di ayunan yang biasanya ia mainkan.
Ia membalasku dengan sebuah senyuman. “Kau masih ingat perkataanku?”
Aku hanya membalas dengan sebuah anggukan.
“Apa kau punya sebuah impian ?” Pertanyaan yang sama saat enam tahun yang lalu.
Ku tatap wajahnya, “Ne. Sekarang aku mempunyai seribu impian. Ani, Sejuta impian yang ingin ku wujudkan. Dan satu impian besar sudah ku jalani. Tinggal mengejar impian-impian lain yang belum ku raih”
Ia tersenyum lagi dan lagi. “Aku senang mendengarnya. Inilah yang ku maksud Noona saat enam  tahun  yang lalu. Dan sekarang kau sudah mengerti.Tanpaku, Tanpa bantuan orang lain, kau mampu meraih apa yang Noona inginkan dengan tangan Noona sendiri.”
Taemin. Apakah kau tahu, jika aku hampir patah semangat saat aku kehilanganmu?
Mungkin sudah dua jam kami disini. Sesekali ia meminta aku untuk menyenandungkan beberapa lagu yang sering aku bawakan di panggung. Jadi selama ini ia masih memperhatikanku.  Meskipun dari jarak yang begitu jauh. Kami juga mengobrol. Bertukar cerita yang kami lalui. Tak heran gelak tawa terdengar di sela cerita-cerita kami. Aku merasakan kembali ke masa lalu. Di tempat yang sama. Dan orang yang sama.
“ Taemin-ah?”
“Ne.” sahutnya sambil menatap langit yang masih di taburi beberapa rasi bintang.
“ Apa mimpi terbesarmu?” sekarang giliranku bertanya padanya tentang apa yang ia ajarkan kepadaku selama ini.
“Uhm. Sebuah mimpi yang membawa aku kembali ke sini lagi.”
“Apa itu?” tanyaku penasaran.
“Aish! Ckckck. Noona kau tidak berubah! Masih saja kau ingin mengetahui rahasia-rahasia yang orang miliki. Tidak baik itu Noona! ”
“Ya!” aku mempoutkan bibirku. Pertanda aku terlanjur kesal. Entah apa yang membuat aku seperti kekanakan saat ini. Seperti seorang adik yang sedang dikerjai kakaknya.
HOAFTH!!
Tiba-tiba mataku terasa berat. Rasa kantuk mulai menyuruh saraf-saraf mataku untuk segera beristirahat. Aroma angin malam yang begitu tenang menambah mataku semakin mengantuk.Ku kedip-kedipkan mataku. Berharap rasa kantuk segera hilang. Tapi, Tidak. Aku benar-benar ngantuk sekarang.
“Taemin! Aku pulang duluan. Mataku sudah sangat tidak bersahabat. Lagi pula, ini sudah larut malam. Sebaiknya kau cepat-cepat pulang. Sebelum kau masuk angin” ujarku sambil berjalan gontai meninggalkannya.
Belum jauh aku meninggalkan tempat itu, langkahku terhenti. Sebuah tangan meraih tangan kananku.Tangan itu seolah ingin menahan langkahku. Ku sipitkan mataku ke arah orang yang berusaha menahanku tadi. Taemin? Deg! Jantungku mulai berdegup kencang.
BRUKK! Kali ini tubuhku dan tubuhnya berdekatan. Tanpa jarak sesenti pun.
Ia memelukku? Apa aku mimpi?? Ku bulatkan mataku. Dadaku terasa sesak. Semua darah seakan berkumpul di wajahku sekarang. Wajahku  terasa panas.
“ SARANGHAE, HYUN JI. JEONGMAL SARANGHAE!” bisiknya di telingaku.
Tuhan! Apa ini mimpi?
Jantungku semakin berdegup  kencang. Kali ini tiga, bukan, lima kali lipat mungkin jantungku berdegup lebih kencang sebelum ia mengucapkan kalimat barusan.Ditariknya lagi tubuhku mendekatinya tubuhnya.Ia makin mempererat pelukannya. Dan membuat tubuhku sedikit berjingkit untuk menyeimbanginya. Entah rasa apa yang kurasakan saat ini. Hangat, tenang, senang bercampur jadi satu. Tapi, pelukankannya kali ini berbeda dengan pelukannya dulu. Kali ini, jujur, jauh lebih nyaman.
“Saranghae.” Ucapnya sekali lagi.
“Kaulah mimpi terbesarku selama ini. Dan kaulah sebuah mimpi besar yang membawa aku kesini lagi” lanjutnya tanpa melepas pelukannya ke aku.
Aku tersenyum di atas pundaknya. Suasana terasa hangat. Aku tak tahu kemana perginya angin malam yang biasanya terasa dingin. Kantukku pun menghilang di sapu suasana.
“Nado. Nado Saranghae.” Bisikku lembut sambil merengkuh pinggangnya. Aku membalas pelukannya.
Ia melepas pelukkan kami. Ia memandangiku. Ditangkupnya kedua pipiku. Ditempelkannya bibir manisnya ke puncak kepalaku. Hening. Ia mencium puncak kepalaku cukup lama. Sesaat kemudian ia melepas ciumannya. Diulurkannya lagi tangannya ke pinggangku. Diletakkannya dagunya ke pundak kananku. Ia memelukku lagi. Refleks ku pejamkan kedua mataku. Ku benamkan wajahku di dadanya. Kurasakan hembusan nafasnya di pundakku. Tuhan. Ini mimpi? Jika mimpi, jangan bangunkan aku. Dan jika ini nyata. Ya ini memang nyata. Apakah ini mimpi nyata yang akan menemaniku untuk meraih impianku selanjutnya? Terima kasih, Tuhan.Tak begitu lama kami berpelukkan, ia memandangiku.
“ Mulai sekarang, aku bukan namjadongsaengmu lagi. Tapi, namjachingumu. Dan kau bukan noona ku lagi. Tapi, yeojachinguku. Ara? ” Ujarnya sambil mencubit hidungku lembut.
“ YA! “ ku jitak kepalanya. “Beraninya kau mengaturku!”
“Sakit Chaegy-a!” ringisnya manja sambil mengusap-usap kepalanya.
“Mwo? Chaegy-a? YA!” kali ini ia membuat aku tersontak kaget dengan kata yang barusan ku dengar. Entah apa yang kurasakan sekarang. Marah? Tidak sebenarnya. Mungkin ini adalah rasa bahagiaku, mungkin. Belum sempat jitakan keduaku mendarat di kepalanya. Ia berlari kabur menghindarinya.
“YA! Mau kemana hoeh? Jangan coba-coba kabur kau Chaegy-a!”
Chaegy-a?
.
.
Ku ulang lagi kalimatku. Bukit ini, panti ini, dan tempat ini masih sama seperti dulu. Tak ada yang  berubah. Tempat  ini yang mengenalkan aku dengan seseorang. Seseorang yang terus menerus di sampingku. Mengajariku apa itu impian. Sebuah impian yang mengantarkan aku ke dunia baruku. Ditempat ini juga. Aku bertemu dengannya lagi. Tapi di waktu yang berbeda. Kini aku akan bercerita kepadanya tentang impianku. Dan ia bercerita tentang impiannya ke aku. Dan lagi-lagi, di tempat ini,  aku menemukan sebuah mimpi baru yang akan menemaniku untuk mencari impianku yang lainnya.
So, how about you guys? Do you have a dream too?
the end~
gimana? Aneh? Jelek? Tentu. Hehehe mian jika rada lebay. Please…..kritik dan sarannya ya chingudeul~

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

27 thoughts on “Believe Your Dream !”

  1. ouh.. begitu menyentuh…
    intinya.. masa depan berawal dr mimpi… jd jgn takut utk bermimpi.. tsaaaahhhh

    seru.
    eh tp 1 pertanyaan.. itu sunbae mereka onew oppa sama gak dgn onew appa pengurus panti?

    1. Benar chingu 🙂

      kayaknya beda siiih, soalnya yg bikin itu sobat aku bukan aku, hehehehe.

      makasih ya uda mau baca, 🙂

  2. first? waah so sweet. aku juga ga punya mimpi dari dulu ngikut orang mulu *ga punya pendirian*

    oh ya suka sama karakter Taemin disini, dewasa tapi masih dapat kesan unyunya Taemin
    jeongmal joayo

    kiss untuk author :*

    1. First? no, ini ff aku yg ke3, hehehe tp untuk ff ini bikinan sobat aku…
      sama aku mimpi mah ikut org mulu *plak

      jinjja? makasih yah udah mau baca ^-^

      kiss hugg buat readers 🙂

  3. ahhh kereen .. ffnya memotovasi nihh …
    kereeeen banget .. sampe bingung ada kata apa selain keren… ahh bagus, ya.. ini ff bagus banget, taemin lucu, aku juga punya impian..
    banyaaakkk impian … ahahah good job thor!!

    1. Aduuuuuh jd terharu kekekeke, oasti teman aku senang ffnya sukses ky gini…
      Gamsahamnidaaaa #bow kiss hug#

      impian ??? yuk kita ke korea nemuin taemin…hihihiiii

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s