Dear Buddy

Dear Buddy
Author: Fiida
Main Casts : Kim Kibum, Choi Minho, Lee Sora
Support Casts : Park Yeora, Maii Dae Sang
Genre: Friendship, Romance
Rating: General
Length : Oneshot
________________________________________
Kenapa membenci kehilangan bisa se-sakit ini?
________________________________________
Disclaimer: FF ini pernah dipublish dengan Cast Kyuhyun dan Donghae di Blog saya (http://fidahusnie.wordpress.com). Ini adalah FF Romance saya yang pertama. Mohon kritiknya, (Regards: Me)

Dear Buddy
Aku Sora.
Lelaki berkacamata yang badannya menyerupai tiang listrik disebelahku adalah Minho. Sekedar menambahkan, Minho itu tampan dan dia juga ketua OSIS. Minho adalah anak emas Kepala Sekolah. Minho juga pintar di kelas dan suka bertanya. Satu-satunya kelemahan Minho adalah kenyataan bahwa dia kurang manusiawi. Kurang manusiawi yang kumaksud adalah: dia kurang bisa bergaul dengan manusia dan kurang tahu bagaimana harus memperlakukan manusia. Dunianya adalah Osis, kegiatan Osis dan kantor Osis. Aku hebat bisa bertahan berteman dengannya dan diduakan dengan semua benda berlabel Osis sialan-nya itu.
Sedangkan lelaki lain yang duduk disebelah Minho, yang wajahnya bersinar seperti anak boyband itu adalah temanku yang lain, Kibum. Sebenarnya aku cukup tertekan berteman dengannya, terutama dengan teman-teman gadis dikelasku yang empat diantaranya adalah mantan pacar Kibum. Ya, Kibum itu playboy. Dia memang cukup tampan dan selalu sadar dia sangat  tampan sehingga hidupnya seolah didonasikan untuk menggaet dan mengoleksi perempuan. Mengapa kami berdua bisa berteman adalah rahasia alam yang tidak perlu diperdebatkan. Anggap saja kami berdua sedang sial.
*
Oktober 2010
“Dia telat setengah jam, Pasti… pasti kencan lagi..” Kibum mengomel untuk kesekian kalinya. Telingaku langsung tegak saat dia bilang Minho, lelaki yang sedang jadi bahan omelannya, sedang kencan.
“Kencan?” tanyaku kaget. Jelas, aku kaget. Setahuku, Minho tidak punya pacar, sama sepertiku. Dia lelaki yang sulit jatuh cinta, dan tidak akan punya cukup waktu untuk hal-hal kurang penting seperti itu.
“Kau tidak tahu?” Kibum menyahut tak peduli. Telinganya dibebat headset dan matanya menatap jalanan didepan bangku kayu yang kami duduki. Posenya meniru poster yang menempel didepan jembatan penyebrangan, gambar iklan celana jeans Rain.
“Siapa?” tanyaku semakin kaget. melihat gayanya, sepertinya Kibum sedang tidak bercanda.
“Lexio..”
Heh? Apa ada anak sekolah kami memakai nama seaneh itu?
“Blasteran? Anak kelas mana?” aku semakin penasaran.
Dan Kibum yang kurang ajar itu malah tertawa sampai terkentut-kentut. Aku memakinya dan menutup hidungku. Ya Tuhan, anak ini, kenapa kentut saat tertawa? Dan kenapa juga dia masih nekat tertawa kalau akhirnya terkentut-kentut seperti itu? Aku ini, bagaimanapun juga kan masih wanita, Kibum benar-benar tidak punya harga diri..
“Lexio… Komputer baru di Kantor Osis… sepertinya kau harus berkunjung kesana.. Minho suka sekali dengan Komputer barunya, kau tahu, warnanya Pink! Anak itu bahkan merawatnya seperti merawat pacarnya sendiri! Ya Tuhan, sudah kubilang, semakin lama dia tidak mencari pacar, dia semakin mengerikan.. kalian berdua semakin tidak normal!.. Atau jangan-jangan Minho menyukaiku? Aigoo…….” Kibum terus bicara dan kalimat terakhirnya sukses membuatku tersedak ludahku sendiri. Minho suka Kibum? Kibum sinting.
Mendadak Kibum menarik sebelah alisnya, melirikku penuh minat saat menyadari mukaku yang kaget, “Kelihatannya kau syok sekali,hm? Kenapa? Kau mulai suka Minho?” rentetnya.
Aku memukul kepala Kibum dengan bungkus popcorn yang kutenteng sejak tadi. Dia meringis, namun masih memasang wajah menyebalkan. Banyak orang yang sering berasumsi aku dekat dengan Kibum dan Minho karena mnyukai salah satunya. Kibum pun menganggap aku suka Minho, sementara Minho sendiri menganggap aku suka Kibum. Kalau saja mereka tahu bagaimana kelakuan dua anak  manusia itu, mereka pasti akan mencabut asumsi tidak masuk akal itu. Kibum memang tampan, tapi kurang ajar. Minho memang pintar, tapi kurang manusiawi. Karena aku seratus persen normal, aku tidak akan menyukai mereka berdua.
“Apa otakmu terbang hah? Aku masih NORMAL.. jadi aku hanya akan menyukai manusia..” jawabku emosi. Kibum tertawa lagi, kali ini tanpa kentut, karena tawanya sudah tak seheboh tadi.
“Minho kan juga manusia..” Kibum berkomentar.
“Bukan, dia itu mesin, mesin fotokopi, mesin cetak, mesin proyektor…Berapa kali harus kubilang kalau  Kau, dan Minho itu bukan manusia..” kataku malas. Kibum mencopot headset-nya, kelihatan tertarik dengan ucapanku.
“Kalau Minho kau anggap mesin, aku bagaimana?” tanyanya sambil menopang dagunya dengan tangan kanan, berpose sok ganteng seperti hobinya. Aku menarik sudut bibirku sambil mendesis.
“Kau.. seperti Kentut..” jawabku asal. Aku tidak puny aide lain selain mengangaap bocah menyebalkan ini seperti kentut.Dia tidak tertawa dan malah kelihatan bangga.
“Baguslah, kalau kau kentut kau akan ingat aku.. sudah kuduga kau sering memikirkanku..”
Nah, kubilang juga apa? Ada yang salah dengan kepala KibumMungkin salah satu sel otaknya tersesat ke pantat. . Apa yang kubicarakan selalu dianggapnya sesuatu yang layak ia banggakan.
Aku melipat dua tanganku kedepan sambil meliriknya dengan mata menyipit.
“Kau pikir seperti Kentut itu pujian hah? Kau itu seperti kentut, Bau dan berputar-putar!” aku memakinya lagi.
“Aku hanya berpikir positif..” katanya sambil mengalungkan tangan kanannya ke bahuku. “Lagipula, kau jatuh cinta padaku, itu hanya soal waktu… Tinggal menunggu Timing yang pas.. saat kau dewasa nanti..”lanjutnya bijak.
Aku berjengit. Dia bilang Timing yang pas?
“Aku bersumpah akan memanjangkan rambutku kalau aku sampai suka padamu!..” teriakku heboh. Ia masih merangkul pundakku dan sekarang malah menaruh kepalanya di bahuku.
“Memanjangkan rambut? Ah, Aku tak sabar melihatnya… pasti manis sekali..” katanya dengan nada orang mengigau. Aku memukul kepalanya dengan tanganku sekali lagi, dan anak sinting itu malah tertawa lebih keras.
Saat itu, kulihat siluet Minho yang berlari dengan ransel besarnya. Akhirnya, anak itu datang juga..
“Apa aku telat?” tanyanya dengan nafas putus-putus. Rambutnya berantakan dan keringatnya banjir. Ia menyeka dahinya dengan lengan kemeja. Ikut duduk ditengah-tengah Kibum dan aku, membuat Kibum yang menyandarkan kepalanya di bahuku, harus tergeser paksa. Minho mengipas-ngipas wajahnya dengan buku tebal panjang yang mungkin isinya proposal.
“Filmnya sudah setengah jalan, bodoh..” Kibum mengumpat. “Kemana saja kau?” tanyanya kesal.
Minho  nyengir, wajahnya kelihatan canggung, dan menjawab dengan singkat “ Kantor KepSek, Rapat” jawabnya.
“Nonton apa hari ini?” Minho bertanya lagi. Kali ini padaku.
Sabtu malam adalah jadwal reuni kami bertiga. Semenjak pisah kelas saat masuk kelas Tiga SMA, kami memang jarang bertemu. Aku sibuk dengan klub Taekwondo-ku, Kibum sibuk dengan wanita-wanita buruannya, dan Minho sibuk dengan urusan Osis-nya. Satu-satunya moment berkumpul kami adalah sabtu malam, entah kami akan nonton Film, atau hanya piknik didepan rumah Minho. Tidak ada yang memaksa kami bertiga berkumpul, kami berkumpul karena kami menikmatinya, seperti sesi me-refresh otak, bicara dengan mereka berdua membuat setengah masalahku selesai. Mereka berdua mungkin juga punya alasan serupa mengapa mereka rela meluangkan waktu demi acara mingguan yang aneh ini.
“Kau Tanya saja pada Kibum.. anak itu yang beli tiketnya..” jawabku sambil menyorongkan daguku kearah Kibum. Kibum merogoh sakunya dan mengeja judul Film yang akan kami lihat,
“Final Destination 4,” ejanya dengan bahasa inggris belepotan, “Aish,.. kenapa lihat ini lagi? aku sudah lihat kemarin Kamis..” Kibum mengomel.
Aku dan Minho meliriknya aneh. Dia yang beli tiket, dia sudah lihat filmnya, dan dia masih saja beli tiket film itu? Kibum memang kadang bodoh, namun kali ini dia sedang sangat bodoh.
“Bukan aku yang beli… Yeora.. kau ingat? Aku bilang akan menonton dengan Appa dan Umma-ku..” jelasnya seakan membalas pertanyaan di otak kami berdua.  Kibum menonton dengan Appa dan Ummanya?. Appa-nya di Incheon, dan Ummanya di Deongwon. Dasar bocah pembohong. Kasihan sekali Yeora..
Minho manggut-manggut memaklumi kebohongan Kibum dan aku menyahut,
“Mantan pacarmu yang …” aku belum sempat selesai bicara.
“Ya.. yang pakai kacamata itu…. aku sudah lihat.. kenapa dibelikan yang ini…” ia masih merajuk. Aku menyenggol lengan Minho dan kami tertawa bersama.
“Aku lihat bersama Yoojin kemarin Kamis.. .. apa aku harus lihat lagi?” tanyanya dengan muka frustasi. Aku mengelus rambutnya yang dihiasi jambul aneh. Dia membelalakkkan matanya seram sambil menyingkirkan tanganku dari jambul-nya.
“Ayo.. Kita kan sudah telat..” Minho menyambar tanganku dan tangan Kibum. Kami berjalan menuju jembatan penyeberangan. Bioskop ada diseberang jalan. Kibum mendadak berlari, mengejar seseorang didepan jembatan penyebarangan. Aku tidak kenal, sepertinya Minho juga tidak kenal. Ia bicara sebentar dan memberikan ponselnya pada orang itu. Kibum berlari lagi kearah kami.
“Ayo.. foto denganku, lumayan kan, foto dengan calon model..” katanya sambil menyeringai lebar. Aku dan Minho saling bertatapan. Calon model? Kurang tinggi.
“Boleh juga..” jawab Minho sambil menahan senyum, mengiyakan permintaan foto Kibum, “Aku tidak punya foto bertiga..”
Aku ikut mengangguk sambil melihat Kibum. Kibum berdiri di sebelah kananku. Tangannya menggenggam tangan kiriku. “Tanganmu dingin sekali, kenapa tak pakai sarung tangan?” sahutnya. Minho ikut menoleh mendengar omelan Kibum, ia menyambar tangan kananku dan memasukkannya kedalam saku jaketnya yang tebal.
“Ini musim gugur.. aneh kalau aku pakai sarung tangan..” balasku tak mau kalah.
“Tapi kau kedinginan, bodoh, kau mau masuk angin dan kentut di kelas hah?” Kibum menghujat lagi. Minho mendorong dahiku dengan jari telunjuknya, “Menjaga kesehatan itu penting Sora..” nasihatnya. Aku melotot galak. Anak itu mendorong kepalaku berkali-kali sejak tadi. Memangnya dia pikir kepalaku ini bandul jam?
“Aish.. jangan berisik, ayo lihat Kamera.. kita kan sedang foto..” aku memasang senyum, tapi kamera Kibum telah berkedip tiga kali sebelum senyumku mengembang.  “Hya!.. Kenapa tidak bilang ‘Kimchi’? aku kan sedang cemberut tadi… aish.. pasti fotonya jelek..”
*
November 2010
Aku bosan. Benar-benar bosan setengah mati. Kenapa Kibum tidak datang juga? Aku lapar Kibum!, mana buburku!
Terdengar gemerasak sepatu yang agak ribut dari luar kamar. Sepertinya seseorang tengah berlari ke kamarku. Dan kepalanya menyembul di pintu. Berlari buru-buru kearahku. Yang dia lakukan pertama kali adalah mendorong dahiku dengan telunjuknya.
“Pingsan lagi?” katanya marah. Aku meringis. Aku memang masuk rumah sakit karena kelaparan akibat telat makan saat latihan Taekwondo kemarin malam.
“Kau akan segera mati kalau hidup seperti ini terus, anak bodoh..” lanjutnya sambil menaruh tas besarnya di kursi. Ia mengeluarkan ponselnya dan tampak sedang mengecek sesuatu. Jadwal-nya mungkin.
“Kenapa kesini?” tanyaku singkat. Dan aku harus kena dorong dahi lagi karena pertanyaan singkatku itu. ia menodongkan layar ponselnya yang berisi jadwal kegiatannya hari ini. Kira-kira kesimpulannya, anak itu tak punya cukup waktu untuk menjengukku. Dan dia marah karena dia harus datang ke rumah sakit karena aku sakit. Pertanyaannya, apa aku salah kalau aku tiba-tiba sakit? Salah dia sendiri kenapa repot-repot kesini. Kan masih ada Kibum. Lagipula, siapa juga yang menyuruhnya datang kesini? Ini kan bukan malam Minggu, jadi sebenarnya dia tidak harus kesini.
“Makan yang teratur itu susah, ya?” sindirnya galak.
Aku meringis sambil tersenyum setulus yang kubisa. “Tokonya tutup, Minho.. aku tidak bisa beli makanan”
Minho menarik sebelah bibirnya sambil melirikku kesal.
“Kau kan bisa memanggil aku atau Kibum.. untuk mengantar makanan..” sahutnya tidak sabar.
“Telfonmu mati..” jawabku jujur. Memang kemarin malam aku kelaparan dan gagal menghubunginya hingga dalam perjalanan pulang ke rumah, aku pingsan. Pagi buta aku dibawa ke Rumah Sakit. Kibum yang bersikeras membawaku kesini. Dia bilang dia takut aku mati, sialan sekali anak itu. dan sebenarnya memang wajar dia agak berlebihan seperti itu. Aku pernah harus operasi usus buntu karena telat makan.
“Kibum juga tidak bisa dihubungi..” lanjutku lagi.
Minho menghela nafas. Aku menangkap ekspresi bersalahnya sekilas sebelum kemudian segera berubah galak lagi.
“Kalau kau terus lupa makan begini, tidak usah ikut turnamen saja.. atau aku akan bilang Umma-mu agar kau Bedrest di DeongWon..”
Mataku berkilat. Dan Mungkin sekarang sudah berair. Kadang Minho memang menyeramkan, dan sungguh, aku sakit hati mendengar kata-katanya barusan. Pulang ke DeongWon? Mundur dari Turnamen? Dia gila. Dia tahu betul aku berjuang mati-matian untuk tinggal di Gwangju dan lolos turnamen.
“Keras kepala.. Kalau ikut turnamen dengan latihan gila-gilaan tanpa makan seperti ini, aku benar-benar akan bilang Umma-mu..” ancamnya lagi. “Aku serius” pungkasnya.
Sudah setahun aku tinggal di Gwangju bersama beberapa teman sekelasku menyewa sebuah rumah disebelah sekolah. Minho dan Kibum, tinggal satu blok juga dengan teman-temannya. Umma dan Appa memberiku ijin tinggal di Gwangju karena Minho. Minho sudah seperti anak mereka, dan aku sudah seperti tawanan Minho. Minho mata-mata Umma dan Appa yang sangat mengganggu.
Aku menangis. Mulut Minho memang beracun.
Untungnya Kibum datang. Dia sedang bersama Maii, pacar barunya musim salju ini. Dia melirik Minho sekilas, dan segera tahu kenapa mataku merah. Setelah menaruh plastik buburnya, dia menyambar kepalaku dan menepuk-nepuk pungggungku.
Aku melirik Maii yang bingung dan Minho yang membuang pandangannya ke batang infus.
Kibum melepas pelukannya dan menghampiri Maii. Sementara Minho mengambil alih mangkok buburnya, dan mulai menyuapiku dengan kikuk.
“Maafkan aku,” sahutnya dingin, tangannya menyodorkan sesuap bubur didepan mulutku, “Lain kali jangan keras kepala”
“Maaf, aku memang bodoh” kataku tulus. Minho melirikku.
“Kau tidak bodoh.. Hanya saja kau belum tahu cara menggunakan otakmu dengan benar..” katanya.
Aku membelalak.
“Bukannya itu lebih kasar daripada kau menyebutku bodoh, huh?” protesku. Anak sialan itu malah tertawa.
“Bodoh dan belum tahu itu dua hal yang berbeda. Aigoo.. sepertinya aku salah lagi..” lanjutnya dengan muka merana. Aku mengernyit.
“Apa?”
“Sepertinya kau lebih bodoh dari dugaanku”
Aku segera menghantam kepalanya dengan tangan.
“Dasar mulut setan”
Ia meringis sambil menyendok bubur lagi.
“Buka mulutmu, nona keras kepala”
Aku mengangguk tersenyum dan membuka mulutku. Ia menyuapiku buru-buru.
“Aish.. kenapa kau lemot sekali… makan bubur saja lama sekali..” komentarnya sambil berkali-kali memandangi jam tangannya. “Kau kan tidak perlu mengunyah”
Aku merengut. Menyuapi memang sama sekali bukan gaya Minho. Kibum yang biasanya hobi menyuapiku, dan anak itu, aku memutar mataku mencarinya. Ia tengah senyum-senyum di pintu kamar. Maii sudah tidak disbelahnya.
“Kalian tahu, kadang kalian itu… seperti… suami istri…” katanya sambil tertawa menggelegar. Sendok bubur di tangan Minho melayang ke daun pintu dan Kibum berhenti tertawa. Mungkin kepalanya terhantam sendok atau sedikit beruntung, terbentur daun pintu.
Minho berdehem dan menghentikan suapan terakhirnya. Gara-gara ledekan bodoh Kibum, kami jadi tak berani bicara. Kenapa juga aku mesti grogi menatap Minho?
“Itu,..” mataku melirik plastik didekat tasnya. “Itu apa?” akhirnya kalimatku selesai juga.
Minho menatap plastik itu bingung.
“Itu untukmu, coklat” katanya singkat. “Coklat baik untuk memperbaiki mood” lanjutnya. Aku menyambar coklat itu dan segera membuka bungkusnya. Aku memang suka coklat. Aku segera mencomot sekotak besar dan menjejalkannya dalam mulutku. Minho menatapku sambil menahan nafas. Mungkin dia takut aku mati tersedak cokelat raksasa di tanganku.
Mendadak kurasakan tangan besar menghalau tanganku yang berniat memasukkan satu potongan besar cokelat lagi. itu tangan Kibum. Dan dia menarik tanganku sambil melotot. Astaga, kenapa lagi anak itu? bukannya dia tadi sudah keluar kamar?
“Kau mau mati, hah? Aish.. Minho… seharusnya kau tidak bawa coklat… ususnya sedang bermasalah.. Kenapa tidak bawa kue yang lembut saja, huh?” Kibum merebut kotak coklatku beserta coklat di tanganku.
*
Desember 2010
“Minho, kau benar-benar tak bisa kembali ke Gwangju sekarang?” aku menyahut di telfon putus asa. Minho, sedang bicara dengan temannya, lalu menyahut lagi, “Maaf, aku tidak dengar. Ada apa Sora?” ulangnya.
Aku mendesis.
“Kau tidak kesini? Benar-benar tidak bisa? Kibum-” kata-kataku terpotong sahutannya.
“Aku tidak bisa, Sora… aku masih di Seoul, besok siang baru bisa kembali, apa tidak bisa diundur? Aku mungkin bisa datang besok jam seteng-“
Tut… tut… tut…
Aku sakit hati.
Kau seharusnya datang hari ini. Kibum membutuhkanmu. Membutuhkan kita.
Kau juga teman Kibum, bukan?
“Jadi, kita berangkat sekarang?” suara Yeora mengagetkanku. “Tanpa Minho?” Aku mengangguk dan memasukkan ponselku kedalam saku. Mobil berjalan sangat lambat, dan aku tidak tahan dengan degup jantungku yang seolah akan kabur dari dadaku.
“Seharusnya kau mengirim pesan pada Minho.. dia pasti cemas kalau mendadak kau menutup telfonnya seperti itu” Moodku memburuk mendengar kata-kata Yeora yang sebenarnya ada benarnya itu. Minho tidak ngotot pulang ke Gwangju karena dia tidak tahu keadaan Kibum bukan? Mungkin Minho berpikir keadaanya tidak sedarurat itu hingga ia tidak harus kembali hari ini. Minho tidak tahu, dan seharusnya aku memberitahunya. Kalau dia tahu Kibum seperti ini, pasti dia pulang bukan?
“Sora..” Yeora menggoyang lenganku.
“Ne…”
“Cepat beritahu Minho..” sambung Yeora.
“Tidak perlu. Aku bisa sendiri..”
Kibum-ya…
Kau baik-baik saja, kan?
Aku sampai di Rumah Sakit tiga puluh menit kemudian. Kibum ditemani neneknya dan seseorang lagi yang tampak sebaya dengan ibunya. Setelah menyapa kerabatnya, aku memasuki kamarnya.
Kibum berbaring dengan infus di tangan kirinya. Wajahnya pucat dan bibirnya pecah-pecah. Matanya redup, dan ia tak bicara apa-apa saat aku dan Yeora menghampirinya. Yeora sudah lama putus dengan Kibum, namun karena kurasa Yeora masih peduli dengan Kibum, ia dengan sukarela menemaniku menjenguk Kibum.
Kibum menabrak mobil dalam perjalanan pulang ke rumah neneknya di Incheon. Kedua kakinya patah, dan yang paling buruk, Appa dan ibunya, juga kakak laki-lakinya meninggal ditempat.
Kaki Kibum retak. Lengannya patah. Namun semua itu jelas tak sebanding dengan hatinya yang hancur. Dia yang menyetir, dan mungkin dia berpikir dialah yang mencabut nyawa ketiga orang yang paling disayanginya itu.
Kibum diam.
Kulihat tatapannya kosong, namun dia tidak menangis. Mata elangnya yang selalu berkilat-kilat itu kehilangan cahayanya. Kibum redup.
Yeora mundur dan keluar kamar. Mungkin dia ingin aku bicara berdua dengan Kibum.
“Tidak apa-apa..” kataku dengan suara serak. Melihat Kibum yang serupa mayat seperti sekarang, segera membuat mataku merah. “Tidak apa-apa… Semuanya baik-baik saja..” aku merengkuh tangannya dan menggenggamnya erat.
Ia masih diam, dan tatapannya hampa.
Aku teringat Minho. Seharusnya anak itu ada disini sekarang. Kibum seperti ini, dan dia malah lebih memilih mengikuti Seminar Nasional-nya yang memuakkan itu. Aku benci dia.
“Jangan pergi Sora, jangan pergi..” bisiknya lemah.
Aku mengerutkan keningku mendengar ucapannya. Mencoba menajamkan telingaku mendengar sahutannya. Namun Nihil, aku tak mendengar apa-apa lagi. Dia diam saja. Aku takut aku salah dengar. Dan kalau aku tidak salah dengar, apa maksudnya dia bilang begitu?
“Kau bilang apa, Kibum?” aku akhirnya tidak tahan dan bertanya padanya.
“Aku lapar, Lee Sora” sahutnya pendek.
Mulutnya tersenyum tipis. Sekilas, dan aku merangkulnya. Aku tahu dia tadi tidak bilang begitu. Biarlah, dia memang suka bohong. Kalau dia sudah bisa bohong, berarti emosinya sudah stabil bukan?
Aku tahu bocah ini masih terluka, namun mendengar dua patah kata itu aku sedikit lega. Kibum, kau masih punya aku. Kibum, kau bisa. Pasti. Bukankah masih ada aku?
*
Januari 2011
Minho, kau dimana?
*
Februari 2011
Aku benci kau, Minho.
*
Maret 2011
Seseorang mematikan lampu dan lupa menyalakannya lagi. Gelap. Sepi. Hatiku kebas serupa ruangan tak berlampu itu saat mendengar kabar Minho. Minho yang tidak kulihat semenjak Kibum kecelakaan. Sebulan. Genap sebulan. Dia tak terlihat dimana-mana. Aku benci padanya, jadi aku tak mencarinya walaupun jujur, aku sering mencuri lihat ke rumah sewaaannya di sebelah rumahku.
Sahabat macam apakah dia itu?
Kibum sedang drop, dan dia seperti hilang ditelan pusaran angin.
Kibum bilang Minho menerima beasiswa ke Amsterdam. Itu sebabnya dia harus bolak-balik ke Seoul dan tidak bisa menjenguk Kibum. Dia sudah berangkat ke Amsterdam kemarin siang. Dia pamit pada Kibum. Namun tidak padaku. Mungkin dia takut aku menahannya, atau dia tidak punya cukup nyali untuk meminta maaf padaku atas kelakuannya pada Kibum.
Kibum bilang Dia meminta maaf padaku.
Hatiku dingin.
Membeku seperti es.
Aku baru tahu, membenci kehilangan bisa se-sakit ini.
*
Mei 2011
Kibum sudah bisa berjalan. Awalnya memang dia sedikit pendiam, namun sekarang dia sudah seratus persen normal. Dia banyak bicara, dan dia semakin suka hura-hura. Apalagi dengan warisan dari Umma-Appanya yang melimpah ruah. Kibum semakin gila.
Dan bagi Kibum, aku juga tak lebih waras darinya.
“Kau tahu gerhana matahari?” katanya suatu pagi. Kami sedang duduk berdua dihalaman belakang perpustakaan kampus. Area ini sepi seperti area pemakaman. Aku dan Kibum suka menyendiri kesini. Menjauhi hingar-bingar anak kampus yang berisik.
Kibum memutuskan se-kampus denganku, jurusan Fisika Farmasi. Aku sedikit marah saat dia memutuskan memasuki jurusan yang sama sekali tak sesuai untuknya itu. Kimia Farmasi selalu membuatku ingat Minho. Dia ingin memasuki jurusan itu sejak masih SMP.
Kibum bilang dia satu-satunya alasan dia sekampus denganku adalah dia akan menjagaku, namun aku percaya niatnya pasti bukan itu. Kibum tidak sebaik dan sepolos itu. Namun aku bersyukur, seburuk apapun niat Kibum, paling tidak aku masih punya dia di sisiku.
“Tahu. Tapi tidak pernah lihat. Mau menggombal lagi? Cih!” makiku malas. Aku sedang membaca buku, dan dia sedang mengunyah permen karet dengan seenak jidatnya, sesekali menggelembungkan permennya didepan wajahku.
“Matamu seperti Gerhana Matahari” katanya lugas. “Kau kemanakan sinar mataharimu?”
Aku tertegun.
Bukuku terabaikan beberapa saat. Sejak lima bulan ini, aku selalu menghindar membicarakan Minho. Kibum tahu itu, dan dia berbaik hati tak pernah mempermasalahkannya. Bagiku, menyebut namanya saja sudah membuat hatiku ngilu.
Aku tidak pernah bertanya kemana Minho karena aku benci memikirkannya.
Dan hari ini, Kibum sepertinya akan membahasnya. Mungkin ia berinisiatif memberitahuku kabar Minho.
“Tidak Kibum, kumohon, jangan bicarakan itu” kataku pelan. Kibum diam. Sebentar kemudian tangannya mencekal tanganku dan memaksaku menatapnya. Ia menyambar bukuku dan menaruhnya diatas bangku kayu tempat kami duduk.
“Sampai kapan, Sora? Ini sudah lima bulan,” Kibum bertanya lagi. matanya menatapku nanar.
“Tidak. Jangan” kataku lagi. Tanganku dingin, dan seluruh organ tubuhku tegang.
“Minho-“
“Jangan. Kumohon jangan sebut namanya” aku mulai merengek. “Aku tidak akan menangis untuk lelaki jahat itu, Kibum.. Jangan sebut namanya”
Mataku panas.
“Menangislah,” Kibum memeluk pundakku. “Kau sudah terlalu lama menahannya. Kau bisa gila, Sora” ujarnya pelan.
“Bertanyalah padaku tentangnya, aku akan menjawab” Kibum berbisik lagi.
Tidak, tidak ada yang perlu kutanyakan.
Tidak,
Tidak ada,
Kumohon air mata, jangan turun, jangan tumpah,
“Aku tidak rela menangis untuknya”
Pada akhirnya dua mataku mulai berair.
Kurasa pipiku sudah basah, dan dadaku mulai sesak.
“Lepaskan dia, Sora” Kibum bicara lagi. Masih sepelan ucapannya sebelumnya.
“Jangan menyimpan benci, atau harapan lagi untuknya. Kau akan terus terpuruk kalau kau keras kepala seperti ini. Menangislah, dan lepaskan dia”
Aku menunduk.
Air mataku tak mau berhenti menganak sungai.
Seperti seseorang meremas jantungku.
Seperti seseorang menusuk-nusuk hatiku dengan pisau.
Sakit.
Aku sakit, hingga tidak bisa bicara. Kibum memelukku dengan bahunya yang lebar. Aku menangis dan kehilangan suaraku.
“Minho…” aku menyebut namanya.
“Minho..” aku mengucapkannya.
*
End

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

69 thoughts on “Dear Buddy”

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s