Some Times – Part 8

Some times (Part 8)
Main cast :
    Lee Jinki
    Lee Taemin
    Lee Sanghyun
Support cast :
    other SHINee members
    Park Jihwa
    Choi Siwon (Super Junior)
Genre : Romance, Family, Friendship, Humor (dikit), Angst
Length : Sequel
Rating : PG-13
Author : Mira a.k.a Mira~Hyuga
A/N : Maaf kelamaan (.__.)v Selama ini idenya sempet mentok, terus aku sibuk sama kegiatan sekolah. Yah, intinya maaf, lah… *boooow~* #diusirreadersseblog

>>><<<
PART 8
Taemin baru saja membeli dua buah minuman isotonik kaleng yang sekarang diberikannya pada Sanghyun yang duduk di beranda rumahnya. Sanghyun menerimanya dan berterimakasih melalui senyuman. Dia kemudian meneguk minuman itu. Taemin duduk di sampingnya dan melakukan hal yang sama sambil menyeka keringat di dahinya.
“Aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Lumayan melelahkan.” Komentar Taemin, membuat Sanghyun tersenyum geli.
Kemudian Sanghyun menggerakkan tangannya, (Tapi kurasa kau ke sini tidak hanya untuk membantuku saja, kan?)
Taemin terdiam sebentar untuk memahami isyarat Sanghyun, lalu meneguk minumannya lagi, “Sebenarnya aku ke sini karena… ada yang ingin kubicarakan.”
(Waeyo?)
“Kau dan Jinki hyung… benar-benar berkencan semalam?”
Sanghyun menundukkan kepalanya dan menggeleng pelan, (Aniyo. Lebih tepatnya pura-pura kencan.)
“Eh? Apa maksudmu itu… hanya pura-pura saja?”
Sanghyun mengangguk.
“Begitu, ya? Kenapa kau mau melakukannya?”
Yeoja kurus itu menatap lurus ke depannya dengan pandangan kosong. Mengingat penyebab kenapa dia bersedia melakukan ini, dia selalu merasa dia adalah wanita murahan. Demi mendapatkan uang dia mau melakukan ini.
“Ah~ sudahlah. Tidak perlu kau jawab.” Taemin tersenyum dan menepuk pelan pundak Sanghyun. Dia jadi merasa tidak enak melihat perubahan ekspresi gadis itu setelah dia melontarkan pertanyaan terakhirnya. Mungkin menanyakannya pada Jinki akan lebih jelas. Taemin sangat penasaran dengan semua yang terjadi ini.
>>><<<
Sementara itu, di sisi lain, para fans Shinee sedang gencar-gencarnya membicarakan berita terbaru yang baru saja terjadi. Manager Shinee ternyata sudah mengkonfirmasi dan membenarkan pemberitaan terakhir yang mengarah pada Jinki. Ia tidak memberitahukan identitas Sanghyun, dan hanya menyebutkan bahwa ‘kekasih’ Jinki itu adalah masyarakat biasa (yang bukan dari kalangan artis) yang memiliki kepribadian menarik.
Komentar-komentar dari fans yang masuk ke situs yang pertama kali menyebarkan berita ini kebanyakan mencondong ke arah bashing yang ditujukan pada wanita yang terlihat bersama Jinki di foto yang sudah disebarkan sebelumnya—Sanghyun, bahkan ada yang memutuskan menjadi anti fans Shinee setelah melihat berita ini.
Sementara itu Jinki tidak memberikan keterangan apapun. Tidak membenarkan dan juga tidak menyangkal. Sejak awal dia memang sudah diminta untuk tutup mulut mengenai hal ini, begitu pula dengan Sanghyun.
>>><<<
…Seol Hospital, 02.12 pm…
PRANGG! PRANGG!
Jihwa menjatuhkan semua barang-barang yang berada di atas meja di samping tempat tidurnya dan melemparkan sebuah gelas dan sebuah vas bunga hingga membentur tembok dan pecah dengan suara keras. Siwon yang berada di sampingnya jadi panik sendiri dan menahan kedua tangan Jihwa.
“Ani, ani! Tenanglah! Kumohon tenangkan dirimu, Jihwa-ya!”
“Kau pasti bohong! Dimana Minho?! Dimana dia sebenarnya?! Beritahu aku dimana dia!!” teriak Jihwa histeris, air mata dengan mudahnya turun membanjiri pipinya yang masih pucat. Ya, Siwon baru saja memberitahukan Minho yang sebenarnya pada Jihwa. Reaksi Jihwa benar-benar tidak seperti yang dia pikirkan.
“Mianhae…”
“AAAAAAH~ AAAAAH~” gadis itu memberontak dan berusaha melepaskan pegangan Siwon di tangannya. Dia mendorong Siwon agar menjauhinya dan memaksakan diri turun dari ranjangnya, “Aku harus bertemu dengan Minho! Aku harus bertemu dengannya!” katanya sembari mencabut paksa infusan di punggung tangannya.
“Astaga, Jihwa! Aniya! Tenanglah, kumohon!” Siwon menekan kedua pundak Jihwa, berusaha kembali mendudukkannya di atas tempat tidurnya. Tapi yeoja itu tetap bisa meloloskan diri dan berlari keluar dari kamar rawatnya dengan pandangan kosong dan air mata yang semakin deras mengalir. “Jihwa-ya! Park Jihwa!”
“Minho… Minho-ya… Minho-ya…” gumam Jihwa dengan suara bergetar sembari terus berlari. Tapi kemudian dia terjatuh karena kakinya tidak lagi bisa menopang berat badannya. Dia menelungkup dan menangis semakin keras, tidak peduli dengan orang-orang yang berjalan melewatinya dan menatapnya aneh.
“Jihwa-ya! Gwaechana?” Siwon menghampirinya dan membantunya duduk.
“AAAAAAH~ MINHO-YA!! MINHO-YA!”
“Tenangkan dirimu!” Siwon terpaksa agak membentak Jihwa. Cairan hangat itu juga meluncur dengan cepat melalui pipinya.
“Oppa… Minho tidak mungkin meninggalkanku. Aku yakin dia tidak mungkin melakukan itu. DIA TIDAK AKAN MELAKUKAN ITU! DIA MASIH HIDUP! DIA AKAN TERUS BERSAMAKU! DIA MASIH HIDUP!! MINHO MASIH HIDUP! AAAAAAH~! AAAAAAAH~!”
“NAN ARA! Dia akan selalu hidup di hati kita! Dia akan terus bersama kita! Kau harus yakin itu, Jihwa-ya!” Siwon yang berjongkok di depan Jihwa mengguncang tubuh gadis itu tanpa bisa mengendalikan kesedihannya juga.
Jihwa menggelengkan kepalanya dengan keras, “Aniya! Tolong katakan padaku ini hanya mimpi buruk! Katakan sekarang, oppa! Kumohon bangunkan aku sekarang juga! BANGUNKAN AKU SEKARANG JUGA!!”
Siwon langsung memeluk erat tubuh Jihwa yang mulai histeris lagi. Yeoja itu menenggelamkan wajahnya di bahu Siwon dan menangis semakin keras, sesekali memukuli dadanya sendiri yang terasa amat sesak dan menyebut nama Minho dengan suara yang menyayat hati. *author lebay-,-*
“Dia tidak boleh meninggalkanku sendiri, oppa. Dia tidak boleh pergi secepat ini. Dia sudah berjanji padaku…”
“Tabahkan hatimu…”
Mereka saling terdiam, tetap dengan posisi itu selama beberapa lama. Kenangan-kenangan selama bersama Minho berkelebatan di benak Jihwa, seperti sebuah film yang diputar. Itu tentu saja membuatnya semakin terisak hebat. Namun tiba-tiba dia terdiam saat bayangan orang lain terlintas begitu saja di benaknya. Tatapannya berubah menjadi tatapan benci, “Semua ini terjadi karena perempuan bisu itu.”
>>><<<
…3 days later…
Sanghyun hampir tidak percaya dengan apa yang sedang dilakukannya saat ini. Dia tengah berdiri di depan gedung kantor SM yang sebelumnya pernah didatanginya. Tidak ada penyebab lain selain faktor keuangan lagi, dan sekaligus untuk melindungi dirinya sendiri, karena baru saja dia mendapat luka membiru di sisi mata dan dagu, sudut bibir yang sedikit robek dan mengeluarkan darah, serta bekas tamparan di pipinya. Dia nekad ke tempat ini walaupun mungkin mereka tidak lagi membutuhkannya. Tapi siapa tahu?
PPAKK!
Sanghyun merasakan sesuatu yang basah dan dingin pecah di punggungnya. Dia berbalik dan menyentuh bagian punggung atasnya yang basah itu. Bau telur. Apa seseorang baru saja sengaja melemparinya dengan telur?
“YA!”
Bersamaan dengan teriakan itu, satu lemparan telur lagi berhasil mengenai bahu kanan Sanghyun. Yeoja itu hanya menganga tak percaya dan mengarahkan tatapannya ke sumber teriakan tadi. Beberapa orang yeoja lain yang sepertinya semuanya lebih muda dari Sanghyun (terlihat dari pakaian yang dikenakannya adalah seragam sekolah) menghampiri Sanghyun dan secara tiba-tiba menampar Sanghyun dan menariknya ke tempat lain menjauhi gedung SM itu.
Mereka mendorong Sanghyun dengan keras hingga jatuh tersungkur di sebuah tempat yang entah dimana (tapi sepertinya tidak terlalu jauh juga dari gedung SM). Salah satu dari mereka mendekati Sanghyun dan memaksa Sanghyun untuk berdiri.
“Bagaimana bisa kalian bersama? Apa benar Onew oppa mau memilih gadis jelek sepertimu? Pasti kau yang memaksanya! Keuraechi?” katanya tepat di depan wajah Sanghyun.
Sanghyun hanya diam menunduk, karena memang dia tidak bisa menjawab. Dari perkataan yeoja ini, dia bisa menyimpulkan sendiri bahwa mereka adalah sedikit dari penggemar Jinki.
PLAKK!
“Sadar, bodoh! Kau itu jelek!” yang lainnya menimpali.
PLAKK!
“Kau tidak pantas bersanding dengan Onew oppa! Segera akhiri hubungan kalian!”
“…”
PLAKK!
“YA! KAMI SEDANG BERBICARA PADAMU! KAU PURA-PURA TULI, HAH?!”
Sambil menahan perih di kedua pipinya, Sanghyun sedikit tertawa dalam hati, ‘Kalian salah mengira.’ Namun dia tetap hanya diam, tidak berniat menanggapi kemarahan mereka. Mungkin memang dia akan mati setelah mereka menyiksanya di sini. Mungkin memang ini garis takdirnya.’Gwaenchana. Lakukan saja kalau kalian juga ingin melampiaskan kemarahan padaku.’
Sanghyun benar-benar membiarkan perempuan-perempuan itu menjambaki dan menamparinya dengan membabi buta. Bermacam-macam sumpah serapah dan makian yang ditujukan padanya tidak dia hiraukan sedikitpun. Tatapannya kosong dan entah kenapa tiba-tiba dia berpikir tidak ada lagi harapan untuknya hidup. Entah darimana datangnya rasa putus asa itu.
Namun tiba-tiba saja semua pukulan yang mendarat di tubuhnya tidak lagi Sanghyun rasakan, dan suasananya tiba-tiba sangat sepi. Makian-makian itu mendadak tidak terdengar lagi sekarang. Malah dia mendengar suara lain yang berbeda dari suara-suara sebelumnya dan terdengar membentak, “Apa yang kalian lakukan?!”
Sanghyun yang semula menunduk dalam mendongak pelan. Dilihatnya seorang laki-laki yang memakai topi, kacamata hitam dan masker. Laki-laki itu memperhatikan ketiga yeoja di depan Sanghyun dari ujung kaki hingga puncak kepala, “Kalian membolos?” tanya laki-laki itu dengan nada sinis.
Ketiganya tidak menjawab, terlihat ragu-ragu sekaligus takut.
“Kalian membolos sekolah dan melakukan kekerasan di sini?! YA! Bahkan dia lebih tua dari kalian!! Berani sekali! Apa sekolah kalian yang mengajarkan hal seperti ini?! Kalian tidak belajar sopan santun?!” bentak laki-laki itu lagi, membuat yeoja-yeoja itu agak terlonjak.
“D-darimana kau tahu dia lebih tua dari kami? Lagipula… siapa kau?”
Laki-laki itu berjalan menghampiri Sanghyun, membantu yeoja itu berdiri dengan merangkul bahunya, tidak mempedulikan pertanyaan siswi-siswi itu, “Minta maaf!” katanya dengan nada memerintah, masih merangkul bahu Sanghyun.
“Mwo?!”
“Minta maaf padanya! Sekarang!”
“Mworago? Kau memerintah kami? Kau merasa ada hak untuk memerintah kami?” ujar salah satu dari mereka dengan sikap menantang.
Yang lainnya menunjuk Sanghyun dengan telunjuknya, “Yeoja jelek ini… sudah merebut Onew oppa dari kami! Dia tidak pantas bersama Onew oppa! Dia terlalu banyak memiliki kekurangan!”
Dua orang lainnya mengangguk setuju.
“Merebut? Kau kira aku milik kalian, hah?!” bentak laki-laki itu lagi. Sanghyun langsung mendongak menatapnya dengan mata membelalak. Begitupun dengan ketiga siswi itu.
“K-kau… kau… O-Onew oppa?”
“Wae? Kalau aku Onew apa yang akan kalian lakukan? Dan apa yang akan kalian lakukan kalau aku bukan Onew?”
“O-oppa… Jweseonghaeyo…” mereka membungkuk bersamaan ke arah Jinki.
“Jangan minta maaf padaku! Seharusnya kalian minta maaf padanya!” Jinki mengguncang sedikit bahu Sanghyun.
“M-mian.” Ujar mereka dengan nada datar dan terkesan dipaksakan.
Jinki mendengus keras, “Igeon mwoya? Kalian kira ini sebanding dengan apa yang sudah kalian lakukan?”
Mereka mendengus bersamaan dan membungkuk sedikit, “Jweseonghamnida…”
Sanghyun baru saja akan balas membungkuk sebelum Jinki menahannya dan kembali membentak, “Lebih keras!”
“Jweseonghamnida!”
“Kurang keras.”
“JWESEONGHAMNIDA!”
Sanghyun tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya, sementara Jinki kembali memperhatikan mereka dari atas sampai bawah, dan kemudian menunjuk salah satu dari mereka, “Neo…”
Yang ditunjuk juga menunjuk dirinya sendiri, “Ah~ ne? Jo-yo?”
“Jaketmu.” Ujar Jinki lagi dengan sebelah tangan yang menengadah.
Yeoja yang dimaksud segera melepaskan jaket yang dipakainya dan menyerahkannya pada Jinki. Jinki segera menyampirkannya di bahu Sanghyun dan menutupi kepala gadis itu dengan tudung jaket tersebut.
Sebelum meninggalkan tempat itu, Jinki sempat mengatakan satu hal lagi, “Tolong jangan mengganggunya lagi. Urusi saja urusan kalian!”
>>><<<
Jinki membawa Sanghyun ke gedung SM, meminjamkannya baju pada salah seorang staff wanita yang bekerja di sana. Dan akhirnya di sinilah mereka, di tempat latihan yang kebetulan sedang tidak ada yang menggunakan.
“Jangan salah paham. Aku hanya merasa harus bertanggung jawab atas apa yang baru saja terjadi padamu.” Ujar Jinki sembari membuka kotak P3K yang didapatnya dari ruangan lain. Sanghyun mengangguk sembari mengusap hidungnya yang berdarah dengan selembar tissue. Jinki membubuhkan alkohol pada kapas yang dipegangnya, kemudian berjongkok di depan Sanghyun untuk membersihkan luka-luka di wajah gadis itu. Namun baru saja ujung kapas itu menyentuh kulit Sanghyun, Jinki langsung menjejalkan kapas itu ke tangan gadis itu, “Kau sendiri yang bersihkan!” katanya sembari berdiri dan berjalan ke sisi ruangan, duduk bersandar pada dinding dan memperhatikan Sanghyun—yang mulai membersihkan lukanya dengan bantuan cermin besar di ruangan itu—dari tempatnya duduk sekarang. Tiba-tiba Sanghyun malah teringat saat pertama kali dia dan Jinki bertemu. Saat itu Jinki terlihat sopan dan ramah sekali, bisa dikatakan ‘agak’ berbeda dengan sekarang. Atau dia memang orang yang seperti itu?
Jujur, Jinki merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Sanghyun. Jika tidak ada skandal itu, mungkin Sanghyun masih aman sekarang. Tapi… siapa bilang hanya Sanghyun yang menderita? Jinki sendiri sudah kehilangan sebagian fansnya karena skandalnya dengan Sanghyun.
“Apa salahku hingga mempunyai fans se’brutal’ itu?” gerutu Jinki dengan agak keras, berharap Sanghyun mengerti bahwa dirinya secara tidak langsung meminta maaf, atau merasa bersalah, atau apalah itu—dari ucapannya.
Sanghyun menoleh sebentar, namun kemudian kembali melanjutkan membersihkan lukanya. Ternyata yeoja-yeoja tadi tidak hanya menamparnya, tapi juga mencakar kulitnya.
“Tidak punya sopan santun, keras kepala dan benar-benar seenaknya.” Jinki tetap melanjutkan, tapi Sanghyun dengan polosnya tidak memberikan respon (-___-). Merasa diabaikan, akhirnya Jinki menghampiri yeoja itu, berdiri di belakang Sanghyun yang duduk sehingga tubuhnya juga terefleksi di cermin.
“Lagipula kau…” tunjuk Jinki, “Kenapa kau tidak lari? Kenapa tidak melawan mereka?”
Sanghyun menatap pantulan bayangan Jinki di cerimin, lalu tersenyum kecil dan menunduk. Dia tidak punya keberanian untuk melakukan hal itu. Selalu. Tapi… tunggu! Sanghyun merasa pernah mendengar pertanyaan ini sebelumnya. Lee Taemin… pernah menanyakan hal yang sama. Apakah Tuhan kembali mempertemukan dirinya dengan orang yang mempedulikannya selain Choi Minho?
Kruuueeeek~ kruuuuueeek~
Keduanya saling menatap melalui cermin dan sama-sama memegangi perut masing-masing yang mulai mengeluarkan suara aneh dengan bersamaan. Sanghyun tersenyum kecil melihat Jinki yang terlihat berusaha menahan malu sekaligus tawanya.
“S-sudah selesai? Ppalli, aku lapar.” Ujar Jinki dengan nada ketusnya.
>>><<<
Mereka keluar dari gedung SM dengan Jinki berjalan sekitar dua setengah meter di depan Sanghyun. (.___.) Sesekali namja itu menoleh ke belakangnya, berhenti sejenak dan menimbang-nimbang sesuatu, tapi pada akhirnya kembali diurungkannya dan dia kembali melanjutkan langkahnya.
Sementara Sanghyun berjalan menunduk memperhatikan ujung kakinya sendiri. Dia merasa heran. Jinki mengajaknya makan siang bersama, tapi kenapa namja itu seolah ingin meninggalkannya? (-___-) Apakah menjaga jarak dengannya harus sejauh itu?
DUK!
Sanghyun meringis kecil dan mendongak perlahan, mendapati Jinki berada tepat di depannya, dan baru saja Sanghyun menabrak lengan namja itu.
“Ya! Kau berjalan lambat sekali.” Komentarnya dengan sinis. Sanghyun menundukkan kepalanya, bermaksud meminta maaf, namun langsung tertegun saat merasakan sesuatu menutupi kepalanya. Jinki baru saja menaikkan tudung jaket yang Sanghyun pakai hingga menutupi kepala.
“Jangan sampai ada yang mengenali kita. Aku kurang suka jadi pusat perhatian.” Kata namja itu lagi dengan percaya diri (-__-!!), kembali membuat Sanghyun berhenti bernapas sejenak dengan apa yang dilakukannya kali ini; memakaikan kacamata hitamnya pada Sanghyun.
Jinki sendiri membetulkan letak masker dan topinya, lalu kembali berjalan di depan Sanghyun, “Ppalli, kita sudah hampir sampai.”
>>><<<
“Thanks, hyung.”
Jonghyun membuat lingkaran kecil dengan ibu jari dan telunjuk tangannya untuk menjawab perkataan Taemin yang baru saja turun dari jok belakang motornya itu, “Tapi untuk apa kau ke sini?” tanyanya heran.
“Emm~ hanya ingin menemui teman.” Taemin tersenyum lebar.
“Sepertinya senang sekali.” Komentar Jonghyun sambil tersenyum penuh arti, “Apa benar hanya teman?”
“O-of course. Just friend. Memangnya apa yang kau pikirkan?”
“Nothing. Baiklah, aku harus segera pergi. ‘Teman’ku sudah menunggu.” Kata Jonghyun, agak lebih menekan kata ‘teman’ (sepertinya untuk menyindir Taemin). Dan beberapa saat kemudian, namja itu menghilang di tikungan depan dengan motornya.
Taemin tersenyum simpul, lalu bergumam pelan seraya mulai melangkahkan kakinya, “Of course. Sanghyun is my friend. Just friend.”
Saat rumah itu sudah terlihat di depan matanya, Taemin semakin lebar tersenyum dan memperlebar pula langkah kakinya, “I miss her.”
TOK! TOK!
Taemin mengetuk pintu rumah itu dan berseru, “Sanghyun-ssi! Kau di rumah?”
Tidak ada sahutan dari dalam.
“Sanghyun-ssi?!” panggil Taemin sekali lagi. Dia menunggu beberapa saat, namun tetap tidak terdengar suara apapun dari dalam. “Dia tidak di rumah, ya?”
Setelah beberapa kali mengetuk pintu dan memanggil nama Sanghyun, tapi tidak juga terdengar sahutan, Taemin memutuskan duduk di beranda rumah itu untuk menunggu. Siapa tahu Sanghyun hanya pergi sebentar atau tertidur? Karena setahunya Sanghyun akan ada di rumah di jam-jam sekarang.
>>><<<
Sanghyun sedang menghabiskan minumannya ketika Jinki meletakkan satu tangannya di atas meja yang mereka tempati, tepat di depan Sanghyun, dan telapak tangannya menengadah ke atas. Sanghyun mengerutkan alisnya bingung dan menatap Jinki dan tangannya secara bergantian.
“Handphone.” Ujar namja itu singkat.
Sanghyun terdiam sebentar, sebelum akhirnya menggelengkan kepala dengan polos, ‘Aku tidak punya handphone.’
Sekarang giliran Jinki yang tampak bingung. Dia bahkan hampir melupakan kenyataan bahwa Sanghyun kesulitan berbicara, “Tidak bawa, tidak mau atau tidak punya?” tanyanya. Sanghyun menunjukkan tiga jarinya, mengisyaratkan bahwa pernyataan ketiga-lah yang benar.
Namun lagi-lagi Jinki memiringkan kepalanya, masih kelihatan bingung, “Pernyataan ketiga atau tiga-tiganya?” tanyanya lagi, dan Sanghyun kali ini menunjukkan satu jarinya.
“Aah~ tidak punya handphone? Oh~ Mwo?! Ya, jinjja?!” Onew melebarkan matanya dengan ekspresi orang-macam-apa-kau, dan Sanghyun mengangguk mantap dengan polosnya. “Ya! Yang benar saja? Kau hidup di jaman apa? Kau menyedihkan sekali.” Jinki mendengus malas.
Sanghyun hanya menunduk, mengiyakan dalam hati meskipun merasa agak tersinggung. Jinki berdiri dari duduknya untuk membayar makanan yang mereka makan. Sanghyun mengikutinya dari belakang dengan kepala menunduk agar wajahnya tidak terlalu terlihat jelas. Dan dia sedikit tersentak saat Jinki menarik tangannya dengan tiba-tiba, keluar dari cafetaria itu.
>>><<<
“Pilih yang kau suka!” ucap Jinki seraya menunjuk jajaran handphone di etalase toko yang mereka datangi. Sanghyun yang semula tidak tahu tujuan mereka ke sini ternganga mendengar perkataan-bernada-perintah Jinki. Dia menatap Jinki dan handphone-handphone itu secara bergantian.
“Wae? Ppallihae! Aku akan membelikannya untukmu.”
‘Aniyo. Aku tidak memerlukannya, jadi tidak usah saja.’ Sanghyun mengibas-ngibaskan tangannya sambil menggeleng.
“Apa sih yang kau katakan? Tidak ada yang kau suka di sini?”
‘Aniyo! Bukan seperti itu!’
Jinki mengerutkan dahinya, lalu mendengus sebal, kemudian tanpa basa-basi lagi menunjuk sebuah handphone dan meminta seorang pelayan toko untuk mengambilkannya.
>>><<<
“Igeo. Ini milikmu sekarang.” Jinki tersenyum tipis sembari menyerahkan handphone yang baru saja dibelinya—pada Sanghyun saat mereka sudah berada di dalam mobil Jinki. Melihat Sanghyun yang sepertinya akan menolak, cepat-cepat Jinki melanjutkan, “Jangan protes! Aku sudah membelinya dan tidak mungkin dikembalikan lagi. Dan di sana sudah ada nomorku. Jangan menyebarkannya dengan sembarangan, ya!”
Akhirnya Sanghyun membungkukkan badannya berterimakasih dan tersenyum lebar pada Jinki yang malah mengalihkan tatapan ke depannya dengan… gugup?
“Kau… akan kemana setelah ini? Biar… biar kuantar.” Ujar namja itu pelan. Namun dia segera menambahkan lagi saat Sanghyun bersiap memberi isyarat, “Ah! Dengan handphone saja!”
Sanghyun mengangguk dan segera membuka flip handphonenya, membuka konten pesan dan mulai menghentikan sesuatu. Jinki memperhatikan Sanghyun dari sudut matanya, tersenyum kecut sembari bergumam pelan, “Ternyata dia sudah bisa mengoperasikannya.”
Setelah selesai, Sanghyun menunjukkan handphone’nya pada Jinki yang langsung mengerutkan alisnya, “Ya! Neo… neon yeoja-ya. Masih bekerja di sana? Yang benar saja?”
Sanghyun mengangguk dengan tatapan polosnya, ‘Memangnya kenapa kalau yeoja bekerja di tempat pengisian bensin?’
“Tidak aneh kau bau bensin.” Kata Jinki dengan datar, lalu mulai melajukan mobilnya. Sementara Sanghyun menciumi pakaiannya dengan wajah bingung. “Sekarang tidak. Ingat yang kau pakai itu baju siapa?”
Yeoja kurus itu mendongak dan tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dan dengan perkataan Jinki barusan, Sanghyun jadi teringat kacamata yang masih dipakainya.
“Oh~ ne, letakkan saja.” Gumam Jinki saat Sanghyun menyerahkan kacamatanya.
Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka sampai di tempat yang mereka tuju. Sanghyun segera turun dari mobil Jinki dan melambai kecil pada namja sipit itu. Jinki terdiam sebentar, lalu berkata singkat sambil tersenyum jahil, “Isi penuh.”
Sanghyun menganga kecil, mematung beberapa saat, tapi kemudian mengangguk patuh dan dengan segera melakukannya. Setelah selesai, dia mendekati posisi Jinki, menerima beberapa lembar uang yang diberikan namja itu. Jinki tidak segera pergi, tapi malah meminta Sanghyun lebih mendekat, dan membuat Sanghyun mematung karena secara tiba-tiba Jinki melepaskan masker yang dipakainya dan memasangkannya pada wajah Sanghyun.
(O.O)
“Bukan tidak mungkin ada wartawan yang mampir ke sini dan menemukanmu. Jangan salah paham! Oh~ ya, kalau kau dikerjai fansku lagi, telfon saja aku! Ara?”
>>><<<
“Aku pulang!” seru Jinki seraya melepas sepatunya begitu memasuki dorm.
Taemin menyahut malas tanpa mengalihkan tatapannya dari televisi, “Welcome…”
“Kenapa sepi? Dimana yang lain?” tanya Jinki sambil melepas topinya.
Taemin membalikkan tubuhnya dan menumpukan dagu pada tangannya yang juga bertumpu di atas sandaran sofa, “Darimana?” tanyanya, tidak mengindahkan pertanyaan Jinki sebelumnya.
“Hm? Aku? Date.” Sahut Jinki sambil tersenyum jahil.
Serta merta kedua mata Taemin melebar mendengar perkataan itu, “What?! With whom?” tanyanya tidak sabar. Dia jadi teringat Sanghyun.
“You-know-who. Jangan cemburu! Haha~” Jawab Jinki, diakhiri tawa kerasnya.
“Apa?! Siapa yang cemburu?!” seru Taemin, kembali membalikkan badannya dan memperhatikan televisi lagi, meskipun pikirannya tidak demikian. Dengan ini, dia bisa menyimpulkan sendiri bahwa Sanghyun sedang bersama Jinki saat dia lama menunggu gadis itu di rumahnya. Taemin meniup kumpulan rambut yang menutupi dahinya dengan kesal.
>>><<<
…11:08 pm…
Jinki menghempaskan diri ke atas tempat tidurnya, menaruh kedua telapak tangannya di bawah kepala setelah sebelumnya menarik selimut hingga menutupi kaki sampai pinggangnya. Sejenak dia hanya menatap langit-langit kamarnya, dan entah apa yang sedang ada di pikirannya, yang jelas itu membuat Jinki tersenyum begitu saja.
Jinki meraih handphonenya yang terletak di atas meja di samping tempat tidurnya, membuka konten pesan dan mengetikkan beberapa kata di sana.
Message Sent…
“Hyung…”
“Waa! Omo, kkamjjakiya!” leader SHINee itu mengusap-usap dadanya. Dia menoleh ke arah Taemin yang mengagetkannya dan entah sejak kapan sudah duduk di tempat tidurnya itu.
“Hyung, I wanna ask you something.” Ujar adiknya itu dengan mimik wajah serius.
“Apa?”
“Itu… aku mau tanya sesuatu.”
“Yes, what’s that?” Jinki bertanya lagi dengan nada sabar yang dibuat-buat. “Say it quickly! I’m sleepy.”
“Itu… aku ingin… menanyakan itu…”
Jinki memunggungi Taemin dan menaikkan selimutnya hingga bahu, “Sepuluh detik, Nikky. If you speak like that, I can sleep first.” Gumamnya malas.
“Oke, Chase!” tukas Taemin menahan kesal, “Did the date was for real? The real date?” lanjutnya dengan cepat.
“Why? Jealous, huh?”
“Just answer, please!”
“Menurutmu?”
Taemin memutar bola matanya dengan kesal dan membaringkan diri di samping Jinki, memunggungi kakaknya itu. Dia menarik selimut yang dipakai Jinki hingga sebagian besar menggulung tubuhnya yang meringkuk.
“Taemin! Apa yang kau lakukan?” Jinki protes dan kembali menarik selimut itu.
“No! Kill me if you want to get it.”
“Ya! Neo jinjja!”
“Hee..kk~ jangan… mencekik… ku…”
“Aku akan membunuhmu!”
>>><<<
“From : Onew
Jangan lupa bersihkan tubuhmu sebelum pergi tidur! Kau pasti bau bensin. (=..=)”
Refleks Sanghyun mengendus baju yang sedang dikenakannya setelah membaca isi pesan yang masuk ke handphonenya itu. Dia tersenyum simpul seraya membaca pesan itu lagi. Ternyata Jinki tidak semenyebalkan aslinya kalau begini.
>>><<<
…Tomorrow night…
“Back dancer?” Jonghyun mengulang perkataan manager Kim yang sebenarnya tidak ditujukan padanya, melainkan pada Taemin.
Manager Kim mengangguk, “Untuk sementara, karena aku merasa suatu saat nanti kau bisa resmi debut seperti hyungmu. Jadi anggap saja ini masa traineemu. ‘Mereka’ sangat menyukai caramu menari, kau tahu?”
Mulut Taemin menganga secara natural sejak pria jangkung di hadapannya itu menerangkan padanya tentang dirinya yang akan direkrut(?) menjadi salah satu back dancer di SM Ent. Kemarin, secara tidak sengaja manager Kim memergokinya yang sedang iseng-iseng menari di dorm Shinee ini. Taemin memang hobi dance sejak masih duduk di kelas 3 sekolah dasar.
Dan setelah melihat kemahiran Taemin, manager Kim dengan hebohnya meminta Taemin untuk mengulang tariannya dan merekamnya dengan handycam Key. Dan mungkin setelah itu pria itu langsung memperlihatkannya pada produser agensi tempat Shinee bernaung.
Tapi Taemin tidak menyangka akan se’cemerlang’ ini. Walaupun hanya back dancer, tapi kalau produser itu mengambil keputusan secepat ini, Taemin merasa dihargai juga.
“Eotte, Taemin-ah?” tanya Jinki, sebelah alisnya naik. “Ini kesempatan untukmu.”
“A-ah? Why?” ucap Taemin, tersadar dari kesibukannya dengan pikiran sendiri.
“Sebaiknya dicoba saja. Aku yakin kau akan menyukainya.”
Taemin tersenyum lebar dengan mata yang berbinar senang, “Of course! Aku pasti akan menyukainya. :D”
>>><<<
…08:08 pm…
Seorang laki-laki—salah satu petugas pom bensin itu—memberikan beberapa lembar uang kepada Sanghyun yang berdiri di hadapannya, tanpa mengatakan apapun, bahkan ekspresi yang ditunjukkannya tampak sangat sinis. Sanghyun menerimanya dengan kedua tangan dan membungkuk berterimakasih beberapa kali sementara lelaki itu beranjak menjauh dari hadapannya. Setelahnya, Sanghyun pun mulai beranjak meninggalkan tempat itu sembari menatap uang di tangannya. Sanghyun menghela napas dan menyiapkan diri untuk menerima apapun yang akan ayahnya lakukan padanya saat dia sampai di rumah nanti. Gwaenchana. Toh dia sudah terbiasa dengan hal ini.
>>><<<
Sanghyun menghentikan langkah-kura-kuranya saat rumah yang ditempatinya sudah tampak di depan matanya. Dia melihat seorang pria dewasa berdiri di ambang pintu rumahnya, membelakanginya, dan sepertinya ia sedang memperhatikan sesuatu yang terjadi di dalam rumahnya, karena sesekali ia menghisap rokoknya sambil memerintah tak jelas.
Merasa ada yang tidak beres, Sanghyun dengan cepat berlari ke sana, hendak langsung menerobos masuk ketika lengan kokoh pria itu menahan tubuhnya, “Ya… Neon nuguya?” tanyanya dengan suara beratnya yang terdengar menyebalkan.
Sanghyun tidak berniat menanggapi pertanyaan itu, karena dia melihat sesuatu yang lebih menyita perhatiannya. Di dalam, dua orang pria lainnya sedang mengacak-acak isi rumahnya hingga berantakan. Sanghyun melemparkan tatapan bertanya sekaligus marah pada pria di sampingnya ini, sembari menepis keras lengannya yang masih melingkari pinggangnya, (Apa yang sedang kalian lakukan di sini?!)
Pria itu mendengus, lalu memperhatikan Sanghyun dari ujung puncak kepala hingga ujung kaki seraya bibirnya menyunggingkan senyum miring, “Kau… puteri Lee Jungseok?” tanyanya, dan dengan ragu Sanghyun mengangguk.
Pria itu mengangguk-angguk penuh arti, dan kembali menatap Sanghyun dengan mata memicing, “Bagaimana kalau kau ikut kami?”
Sanghyun tertegun sejenak, lalu mundur beberapa langkah seiring pria itu maju mendekatinya. Dia tidak mengerti apa maksud perkataan lelaki menyeramkan ini.
“Kuharap kau tidak menolak, cantik…”
Pria itu kemudian memberi perintah pada dua orang lainnya dengan bahasa tubuh. Sepersekian detik kemudian keduanya sudah mencengkram lengan Sanghyun dari kedua sisi dan menariknya dengan paksa, juga mendorongnya ke dalam sebuah mobil. Dengan paksa juga.
Sanghyun sudah berusaha memberontak untuk lepas dari cengkraman mereka, tapi tentu tidak bisa, karena tenaganya jauh lebih kecil dibanding kedua pria ini. Sanghyun tidak tahu apa yang membuatnya ditarik dengan paksa seperti ini. Dia benar-benar tidak mengerti, dan pikirannya terus terfokus pada ayahnya yang sejak tadi tidak dia lihat di dalam rumah. Apa hal ini ada hubungannya dengan satu-satunya orang yang disayanginya itu?
‘Appa, aku takut…’
Mobil yang membawanya ini melaju semakin jauh dari tempat tinggalnya. Sanghyun jelas semakin kebingungan dengan apa yang terjadi. Berulang kali dia mencoba melepaskan diri dari seorang pria yang kini memeganginya dengan kuat, namun selalu tidak berhasil. Hingga akhirnya mereka berhenti di sebuah tempat yang Sanghyun tidak tahu.
Mereka menyeret Sanghyun menaiki beberapa anak tangga, dan kemudian mendorong gadis itu masuk ke sebuah ruangan, hingga tubuhnya jatuh tersungkur ke lantai. Sanghyun mengerjap beberapa kali sebelum bangkit lagi dan menatap ke sekelilingnya. Dia benar-benar kebingungan dan tidak tahu tempat apa itu. Matanya sudah mulai berkaca-kaca.
“Panggil Hwangmi kemari. Kurasa lebih baik dia bekerja sekarang juga.” Ucap pria yang sejak tadi memerintah terus. Sanghyun semakin tidak mengerti mendengar perkataannya. Apa yang dia maksud ‘bekerja’?
Salah satu pria (yang tadi menyeret Sanghyun) segera keluar dari pintu yang lain di ruangan itu (bukan pintu tempat masuk Sanghyun tadi), sementara yang lain masih tinggal di sana.
Pria yang tadi memerintah berjalan mendekati Sanghyun, membuat yeoja kurus itu mundur perlahan dengan posisinya yang masih terduduk di lantai. Pria itu membungkuk dan memegang dagu Sanghyun, “Mulai sekarang, kau adalah bawahanku di sini. Mengerti?”
Gadis itu memberikan tatapan bertanya, semakin tidak mengerti.
“Oh, dear. Sebenarnya aku juga terpaksa. Salahkan ayahmu yang tidak tahu diri itu.”
Dan dengan kalimat itu, Sanghyun sudah bisa menyimpulkan sesuatu. Ayahnya yang menyebabkan ini terjadi. Sanghyun menunduk dan berusaha mencegah air matanya turun.
CKLEK!
TAP! TAP! TAP!
“Ada apa, oppa? Kau mengganggu kenyamanan client kita.” Terdengar suara perempuan dan langkah kaki yang menyusul suara pintu dibuka sebelumnya. Pria di hadapan Sanghyun meluruskan kembali badannya dan menatap perempuan yang baru datang itu.
“Aku mau kau urus dia.” Katanya datar.
“Oh?” yeoja itu memperhatikan Sanghyun yang masih duduk dengan lemas di lantai, “Kau dapat yang baru?” tanyanya pelan, lalu mendekati Sanghyun dan mengangkat wajahnya, menelitinya dengan dahi bekerut heran. “Ya! Kau memukulinya?” pekiknya sedikit berseru melihat wajah Sanghyun yang penuh lebam.
“Apa? Ani~ wajahnya sudah seperti itu sejak aku melihatnya. Mungkin saja itu perbuatan Lee Jungseok?” elak pria tadi, tiba-tiba ciut di bawah tatapan tajam perempuan berpakaian ‘serba mini’ itu.
“Kau yakin?”
“Tentu saja! Aku selalu mengingat perkataanmu, ‘Serendah apapun seorang perempuan, dia tetaplah makhluk yang lemah, sehingga pria manapun tidak boleh seenaknya mengangkat tangan untuk memukulnya.’ Dengar? Apa ada yang salah dari perkataanku yang menyalin perkataanmu?”
Mendengar itu, si perempuan mengangkat kedua bahunya dan mengembalikan tatapannya pada Sanghyun, “Okay, kurasa aku bisa menutupi luka-lukanya itu. Sebenarnya dia pasti cantik kalau didandani.” Komentarnya agak acuh. Dia menarik lengan Sanghyun untuk membuatnya berdiri, “Ayo, ikut aku!”
Sanghyun yang sebenarnya masih bingung hanya mengikuti perempuan yang menariknya keluar ruangan itu. Sesekali dia mendengar perempuan itu menyenandungkan sebuah lagu yang tidak dia tahu.
Mereka sampai di sebuah kamar yang tidak terlalu luas. Wanita itu mendudukkan Sanghyun di atas sebuah tempat tidur yang ada di sana, sementara dia sendiri menghampiri sebuah lemari dan mengeluarkan beberapa pakaian dari dalam sana.
“Namaku Hwangmi.” Katanya datar.
Sanghyun memandangnya dengan alis berkerut.
“Kita akan jadi partner kerja sekarang. Setidaknya kita harus tahu nama satu sama lain.” Kata Hwangmi lagi, sembari menarik Sanghyun berdiri. Dia mencocokkan baju-baju yang tadi dikeluarkannya dari lemari—pada tubuh Sanghyun, “Ck~ kau terlalu kurus. Kau akan susah menggoda mereka nanti.” Decak Hwangmi saat mencocokkan baju yang kesekian pada Sanghyun.
Sanghyun berusaha mencerna perkataan Hwangmi barusan, dan menyadari bahwa baju-baju yang dicocokkan wanita itu padanya sejak tadi adalah baju yang bisa dikatakan ‘kekurangan bahan’. Dan dengan kedua hal itu akhirnya Sanghyun menyadari apa yang pria tadi maksudkan dengan ‘bekerja’.
>>><<<
To Be Continue

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

14 thoughts on “Some Times – Part 8”

  1. ahhh baru munculll ??? authorr.. ngak papa deh .. yang penting ini cerita makin menarik !! ya appanya sanghyun !!! minta di bunuhhh !!
    taemin cemburu sama jinki kenapa jinki jadi kaya gitu .. ahhhh
    masa sanghyun di jadiin wanita malam?? paraah !!!
    aiissh !! geregetan bacanya .. ayo lanjutkaaan !!

  2. Apa yang terjadi pada Sanghyun??? Jadi Kupu-kupu malam kah???

    Huwaaa,,, Taem cemburu sama Jinki??? Dan Jinkii sebenarnya suka gx sihhh sama Sanghyun,,,

    nasib Sanghyun kasihannn amatt,, bapaknya tegaaaa,,,,,

  3. Daebak…..lanjutin trus ya,,,,joayo,,
    Jd bkin aku aku pnsaran ma part sblumny..n akhrny bikin aku ngubek2 nyari 1-7
    <,,,Ktauan br baca,,,hehe,,,mian
    Aku suka alurnya,,,detil…natural,,,ga buru2,,ptahankan ya…
    Endingnya sm onew aja ya…lbh dpt feelnya mskpun taemnya baek bgt.

  4. fiuhhh….lamanye author ini munculll……. 😀
    tapi hasilnya tidak mengecewakan kok walaupun lama keluarnya!
    ohya thor, saghyun sama jinki aja yha???? soalnya lebih seru kalo sama jinki! kekekeke
    bagus thor makin lama makin bgus jln ceritanya……………
    ohya author, katanya sanghyun di jaga sama bodyguardnya lee taemin?? tp kok ga ada???? apa akunya yg kurang teliti bacanya??? hehehehehe

    nice ff! keep writing 🙂

  5. chingu, aq udh baca dr kmaren2,tp bru komen.

    Aq suka ff ini, masuk dlm list tunggu malahan…ahirny muncul jg part 8ny stlh lama bgd ga ada.

    Baca ff ini sedih chingu, bahkan aq pernah nangis waktu minho mati.kasian bgd nasib sanghyun…mana jinkiny jg nyebelin lg.

    Ayo aq tunggu lanjutanny yah…

    1. List tunggu? (O.O) *sujud syukur*

      Maaf ya, aku emang author gk brtanggung jawab.. 😦

      Haha~ udah brapa kali Jinki dikatain nyebelin.. :p Kkkk~ *diuber MVPs*

      Siip! Makasih, ya.. 😀

  6. hooaaa selesai jg maraton bc ini.. fiuuhh *lap keringat*
    pengen cubik pipi jinki tau gak.. iiihhh gemes… hahaha
    perhatian tp kata2nya pedes.. haha
    pls deh jinki.. org bisu jg bs pke hape… kkkkkkk
    aigoo… emin… cembourou nih ye sm hyungnya.. hihihi
    msh blum jls ya sanghyun suka sm jinki ato emin….

    cie cie ad yg perhatian lwt sms… mskipun scra g langsung.. haha

    ceritanya seru.. keren… nyeseknya sanghyun kerasa bgt ya.. aduuuhhh itu.. sanghyun… kasian…. mlh mau dijadiin gitu… huhuhu kasian..
    ayo siapa pun.. tolong sanghyun… kkk

    ditunggu thor lnjutnnya…

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s