Pride To Death

Title: Pride To Death
Author: HeartLess
Main Cast: Minho SHINee as Choi Minho
Support Cast: Key SHINee as Kim Kibum
Genre: Bingung…. wkwk
Length: Ficlet maybe?
Rating: General
Author’s Note:

Lagi-lagi sebuah selingan sebelum Minho Proposal :p sebuah FF iseng
FF ini terinspirasi dari lagu “What I’ve Done – Linkin Park”. Dan kembali lagi dengan setting nya – zaman kerajaan / kolosal.

Semoga tidak mengecewakan ^^
……………………..

[POV: Choi Minho]

Ini adalah malam dengan purnama yang sempurna. Sementara angin menderu terdengar tajam di telinga, maka diiringi pula oleh lolongan serigala yang terdengar pilu. Seperti sedang menyelimuti keheningan di tempat di mana aku berdiri dan terpaku. Puing-puing dan reruntuhan bangunan, sama sekali tak tampak ada sosok siapa pun. Sisanya, ya hanya ada seorang, dengan pakaian lusuh sedang terpaku menikmati sisa-sisa rasa pilu yang seperti tertinggal di tempat ini – yaitu aku.

Kali ini tak ada suara denting pedang yang saling beradu. Tak ada darah yang bercucuran di mana-mana dan tak ada bara api yang membakar rumah-rumah. Tak ada juga para penduduk yang berlarian, meminta tolong, memohon pengampunan, melakukan perlawanan, dan juga berusaha menyelamatkan nyawa diri sendiri maupun orang yang dikasihi. Tak ada, sama sekali tak ada jerit anak kecil dan wanita yang terdengar menderita, seperti waktu itu.

Waktu di mana aku tertawa lepas, dengan sebuah pedang panjang terbaik yang dibuat oleh pandai besi terkemuka di negeri ini. Kalau saat ini aku merasa biadab, tapi saat itu bahkan tak ada simpati sedikit pun tersisa di dalam nurani ini. Kala itu, para tentara berbaju besi dengan kejam menuruti setiap kata yang keluar dari mulutku. Meski harus membunuh dengan kejam satu-persatu penduduk kota kecil yang seharusnya tak bersalah itu, tapi kala itu perintahku adalah mutlak.

Mataku saat ini menyapu dari satu sudut ke sudut lain dari kota kecil yang dulu nya indah dan penuh keceriaan ini, yang sekarang telah menjadi kumpulan reruntuhan yang sudah mati. Mati sama sekali.
Kakiku menapak satu demi satu dengan lemah. Kulihat masih ada penutup kepala dari para prajurit yang kala itu datang mengacau bersamaku. Tidak, tepatnya mengacau atas perintahku.

Tanganku menjulur untuk mengambil benda yang tergeletak bisu di atas permukaan tanah itu. Menatapnya dengan miris, lalu tersenyum getir. Sungguh dulunya benda itu melambangkan kekuatan bagiku, tapi sekarang tidak lebih dari sebuah peringatan bahwa tanah ini, pernah menjadi salah satu dari sekian banyak saksi atas kekejaman rezim pemerintahan Dinasti Choi.

Aku kembali teringat, saat itu panasnya bara api yang membakar setiap sudut kota ini, tak terasa sedikit pun membakar bagiku. Jeritan manusia-manusia yang satu-persatu direnggut nyawanya seperti tidak ada harganya di telingaku. Darah-darah yang tercurah seolah hanyalah penambah hiburan dan paras-paras meminta ampunan itu seperti tontonan menjijikkan di mataku. Waktu itu pedang di tangan takkan hanya untuk menebas udara, tapi juga menebas rakyat tak bersalah, menebas ketentraman dan harapan yang ada bagi setiap individu yang akhirnya harus berakhir dalam jeritan sengsara.

Aku lalu merasakan lemas di kakiku. Terduduk di atas permukaan tanah yang sekelilingnya hanyalah bekas-bekas tiang-tiang bangunan yang telah rusak dilumat api. Tiang-tiang reruntuhan yang menjadi saksi atas kekejaman Putra pertama keluarga Choi – aku.

“H..h….ha….HAHAHAHAHAHAHA……..” tidak ada yang lucu, tentu saja tidak. Tapi tawa ini bukan untuk apa-apa melainkan bagi diriku sendiri. Seiring dengan deru angin yang semakin mencekam dan lolong serigala itu, rasa ingin menertawakan diri sendiri semakin besar.

Aku menertawakan diri sendiri untuk pertobatan yang bahkan tak pernah sekali pun menyinggahi pikiran maupun perasaan ini. Kalau pun aku merasakannya, siapa yang akan mau memaafkan seorang pria yang telah menghancurkan begitu banyak desa dan kota demi ambisi gila nya? Siapa yang mau menerima penyesalan seorang bekas Putra Mahkota yang jelas hanya memberikan sengsara bagi rakyatnya? Tapi sesungguhnya bahwa keangkuhanku mengalahkan segala rasa , dan bahkan tak kurasakan gentar sama sekali meski aku sadar bahwa hari itu telah tiba – Hari Penghakimanku.

Apa yang sudah ku lakukan, tak akan mungkin bisa lagi ku tarik. Mana mungkin lagi bisa di bersihkan? Maka detik-detik menuju tengah malam saat ini terasa sangat konyol bagiku. Karena itu sama pulalah dengan detik-detik menjelang penghukumanku.

Aku lalu tertunduk, tapi bukan tertunduk bersalah, melainkan diam-diam menertawai diriku sendiri. Ini adalah akhirku? Sungguh lucu.
Kuangkat lagi kepalaku, aku ingin tertawa lagi. Tertawa, atas ambisiku yang justru membuat akhirku jadi seperti ini. Tapi apa yang harus ku sesali? Tidak ada. Karena dengan inipun, bahkan ketika riwayatku berakhir seperti ini, tapi dalam sepanjang sejarah, namaku akan selalu ada tercantum dalamnya.
“HAHAHAHAHAHAHAHA” lalu aku tertawa lagi, kepalaku menengadah, aku puas.

“Choi Minho” lalu terdengarlah suara seorang pria menghentikan tawa ku, aku berbalik dan menemukan sosok nya.
“Tuan eksekutor Kim Kibum” ujar ku memberikan sebuah senyuman angkuh.
“Waktumu sampai di sini” diacungkan nya pedang pada leher ku.
Aku tak gentar, sama sekali tidak. Bahkan tak menyesal sama sekali. Untuk apa? Karena aku hidup sebagai seorang putra keluarga Choi sejati.
“Aku tak kan melarikan diri” ujar ku angkuh, lalu menegakkan leher ku, duduk bersimpuh seolah telah siap menerima semuanya.

“Bahkan sampai akhir hayat mu, kau tetap membawa keangkuhan seorang putra sulung keluarga Choi” aku tertawa kecil mendengarnya.
“Sudahlah, laksanakan saja tugas mu, tuan eksekutor” kataku kemudian, dan ia hanya tersenyum.
“Kau boleh memejamkan mata kalau kau takut” lalu aku tertawa lagi
“Jangan bercanda” ujar ku, lalu kali ini gilirannya yang tertawa

“Baiklah, bersiaplah Choi Minho” lalu kudengar suara pedang yang menderu membelah udara, semakin dekat dan semakin dekat. Aku tau pedang itu semakin melaju ke arah leher ku. Tebasan nya semakin dekat untuk memisahkan kepala dari tubuhku. Dan bisingan tebasan itu lalu terdengar jelas ditelingaku, dan semuanya menjadi gelap akhirnya.

—END—

Mwahahahaha ini sangat gaje sepertinya😄😄😄
Mian ya jelek (TT____TT) tapi gomawo dah nyinggah, dan jangan lupa ninggalin saran dan kritik biar  aku bisa memperbaiki dan semakin bagus lagi dalam menulis😀
Hohoho^^

©2012 SF3SI, HeartLess

This post/FF has written by HeartLess, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

33 thoughts on “Pride To Death

  1. ya ampun eonni!!! iseng abis ya😀
    wkwkwk. awalnya aku nggak ngerti mau dibawa ke mana nih cerita. ya ampuuuun, kepikiran aja bikin cerita model beginian. huwahaha.

    keren eonni! yah, meskipun agak kurang menikmati. itu mungkin karena ceritanya agak sulit diterima (masa minho-nya ujug-ujug matiii???) kekeke ^^V

  2. Wah.. Vera unnie daebak..
    Nambah 1 lgi author favoritku..
    Aku suka bhs’a. Ringan tpi feel-nya ngena.. Pmilihan kta’a jg bagus.. Pokok’a D.A.E.B.A.K…
    Ayo ditunggu karya lain’a..
    Gomawo.,

  3. Waaa Minho kejam amat di cerita inii ∏ω∏
    Kereen ceritanya, bahasanya juga enak cuma aku ga dapet feelnya kekeke :DD
    Cepetan di post yaa ff Minho Proposal nyaa, udah ga sabar nih ;))))

  4. Ya ampun, eonni-eonnie *sksd*
    ckckck, FF iseng kok sebagus ini sih? :p
    nggak tahu kenapa aku jadi takut deh sama MInho-_- ketawanya itu aku ngebayangin kayak si Light dari anime Death note==” *maaf nyambung-nyambung*

    Nice FF Eonnie^O^

  5. Wehh… Minho ternyata bejat juga… == dasar tak bertanggung jawab!!! Malah rakyatnya sendiri dibantai. Busetn punya hati kaga sih elu kang?? #plakk
    Beh, Key, kau melakukan tugas yang benar!! Putra mahkota seperti itu tak pantas hidup!! #pletakkk XDD
    As always, Vero, I LIKE IT!!!! XDDD Daebak!! XDD

  6. Wow,, sebuah FF yang cukup berat,, nihh kalo yg bacanya gx dihayati,, bakalan ngantuk,, bahasanya itu lohh,, jadi ingat sama dongeng2 jaman dulu,, kayak kerajaan majapahit dsb,,wkwkwkw

    Tapi daebakk,, iseng malah begini,, wuahh,, bener2 main author yg produktif,, Vero Daebakkk pkoknya dehh nih,, #sksd

    Ayo semakin produktif ya Ver,,#pletak,, dijitak Vero, dikira apaan produktif,,hehe

  7. OMO o.O keren sih bayangin dua biasku tercinta (?) itu pake baju yg keren2. Tp minho bajunya lusuh ya. Br inget wkwk.

    Aduh endingnya, aku ngerasain ngilu leher deh. Berasa beneran (amit2) si key keren jg jd eksekutor! Daebakkk! *nyodorin jempol biasnya (?)

  8. waduh,
    minho sadis amat,,
    putra mahkota macam apa kau ini, rakyat mu sndri kau bnuh, hebat#plak
    keren,,
    di tnggu the proposal nya minho,,,

  9. ahhh ya ampunn nyesek bangeet, kenapa akhirnya mati… kibum.. ckckck jadi eksekutor…
    kereen .. ahh di tunggu proposal minhonya yaaa ^^

    aku malah ngebayangin jaman era eropa kuno dulu . heheheh

  10. Huaaa… Suka sma critanya!! Keren bgt!! Sungguh, bru kli ni bca ff yg critanya kyk gni.. Pokoknya suka deh..
    Eonni, lain kli bikin crita kyk gni ya?!

  11. wuah…keren eon!😀
    bahsanya bagus.
    aku ngebayangin settingnya kayak di kerjaan Yunani kuno (?) (kenapa jadi nyasar ke sini?) muehehehe
    The proposal nya di tunggu eon!
    hwaiting!😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s