This Is My Love Story – Part 2

This Is My Love Story

Title     :           This Is My Love Story (Part 2)

Author             :  KeroroKey aka Navia

Cast                 :  -Kim Ki Bum (Key)

-Park Yeong Eun

Main Cast        :  -Han So Chan

-Kim’s family

-Park’s family

Rating             :  General

Genre              :  Romance, Family

Length             :  Sequel (2 of 4)

A.N                 :  FF ini terinspirasi dari film ‘A Millionare’s 1st Love’.

==++==++==++==++==++==++==++==++==++==++==++==++==++==++==++==++==++==++==++==++==++==++=

 

10 Year Later

 

~Yeong Eun POV~

 

‘INCHEONINTERNATIONALAIRPORT’

Aku terus mengulang nama bandara yang sekarang ada di depan mataku. ‘Omona… sekarang aku ada di Incheon?! Aigooo… akhirnya aku kembali keKorea.. HHHWWAAAAKOREA… I MISS YOU!!!!’. Sepuluh tahun sudah aku meninggalkan negara tempatku di lahirkan. Aku sangat merindukan tempat ini. Aku juga merindukan Ki Bum, sahabatku di panti asuhan dulu. Aku harap Ki Bum masih mengingatku, karena jika tidak dia harus menikahiku.. hahaha… Satu lagi harapanku, aku harap aku bisa bertemu dengan Ki Bum. 5 tahun yang lalu aku pernah mendapat informasi dari panti asuhan. Mereka bilang karena suatu alas an Ki Bum harus pindah rumah, aku berhasil mendapat alamatnya, tapi saat orang suruhan Appaku mencoba mengunjungi –lebih tepatnya menyelidiki- alamat tersebut, ternyata rumah di alamat itu kosong, hanya seperti rumah tua yang sudah lama di tinggalkan pemiliknya.

“Nona, biar saya yang membawakan koper anda.” Kata pelayan orangtuaku yang di suruh untuk menjemputku. Aku memberikan koperku padanya dan berjalan memasuki mobil. Aku hanya membawa koper berukuran sedang, semua brang-barangku sudah di kirim keKorea1 minggu sebelum aku berangkat.

Mobil melaju menysuri jalan-jalan ramai di Incheon, rencana pertamaku saat sampai diKoreaaku ingin mengunjungi panti asuhanku dulu. Bagaiman yha keadaan So Chan Unnie ibu asuh termuda dip anti asuhan yang tidak mau di panggil ‘Eomma’? apakah sekarang dia mulai mau di panggil ‘Eomma’? Ku rasa umurnya sudah tidak muda lagi. Mungkin sekarang umur So Chan Unnie sudah 30 tahunan, jadi wajar bila ia di panggil Eomma.

“Nona, kita sudah sampai di panti asuhan .” Kata supirku yang membuatku bangun dari lamunanku.

“Ah Ne..” Aku turun dari mobil dan mulai masuk ke gedung panti asuhan. Sudah 10 tahun lamanya aku pergi, tempat ini banyak sekali mengalami perubahan, tamannya lebih luas dibanding taman yang dulu. Dan barang-barang di sini juga banyak yang berubah.

‘Dulu tempat sepatu ini kecil, tapi sekarang ukurannya sudah berubah dua kali lipat.’

“Permisi, ada yang bisa saya Bantu?” Sekali lagi suara seseorang mengagetkanku.

“So Chan Eomma?!”

“Ne? Nuguseyo?” So Chan Unnie ternyata sudah lupa pada wajahku, aku rasa dia tidak lupa hanya pangling, karena wajahku sekarang banyak berubah dan tidak sama seperti wajahku saat aku masih kecil dulu.

“Aku rasa Unnie pangling dengan wajahku. Aku Yeong Eun, Park Yeong Eun. Apa Unnie sudah ingat?! a… Unnie ingat tidak kata-kata ancamanku ini ‘Aku akan menikahimu!’.” Aku mencoba mengingatkinnya dengan kata-kata yang sangat sering aku ucapkan saat aku masih tinggal dip anti asuhan.

“Mwo?! sekarang kau seperti ini?! Aigooo~… neomu yeppo, sepuluh tahun di Amerika dan tak pernah datang kemari membuatku lupa padamu.” Kata So Chan Unnie sambil memelukku.

“hehe.. mianhae.. aku terlalu sibuk, aku terus mengerjakan tugas-tugas sekolahku, belum lagi sekarang aku di beri wewenang besar di perusahaanku. Aku rasa itu membuatku pusing, tapi setelah aku menyelesaikan semua itu aku langsung pindah keKoreamengikuti Eomma dan Appa yang pulang lebih dulu.”

“Mwo? Kau jadi orang sibuk yha?!”

“hehe… Eh.. Unnie, apa kau sudah memberikan kotak itu pada Ki Bum.?”

So Chan Unnie melepas pelukanya dan memegang tanganku. “Jangan khawatir, aku sudah memberikannya. Eh.. Aku rasa dulu Ki Bum juga menyukaimu, dia selalu menanyakanmu saat ia berkunjung kemari.” Entah kenapa hatiku sangat bahagia mendegar jika Ki Bum menyukaiku.

“ah.. Unnie boleh aku bertanya padamu?”

So Chan Unnie menatapku dengan tatapan yang  penuh selidik. “Aku yakin kau ingin menanyakan Ki Bum.”

“Ne.. bagaimana keadaan Ki Bum sekarang? Apa ia sering berkunjung kemari? Apa kau sudah punya alamat baru Ki Bum?bla..bla..bla.. bla..bla…” Banyak sekali pertanyaan tentang Ki Bum yang aku tanyakan pada So Chan Unnie.

“Aku tak tahu apa-apa mengenai Ki Bum. Semenjak ia tiba-tiba menghilang, aku tak pernah mendengar kabar soal Ki Bum. Aku juga tak tahu sekarang Ki Bum tinggal di mana. Mianhae Yeomng Eun-ah..”

‘Kenapa kau menghilang Ki Bum-ah? Apa kau tau, aku sangat merindukanmu.’ Ucapku dalam hati. “hah~.. kenapa dia tiba-tiba menghilang.. Kim Ki Bum awas saja kau! Jika aku menemukanmu, kau harus mempertanggung jawabkan semua perbuatanmu!” Kataku dengan nada sebal. Di dalam hatiku sebenarnya aku juga merasa sangat kecewa karena kemungkinan aku bertemu Ki Bum kini hanya sedikit. Aku bahkan tak tau bagaimana wajah Ki Bum sekarang. ‘Tuhan, tolong pertemuklan aku dengan Ki Bum.’

“Kau ingin keliling panti? Kau lama tak kemari jadi aku yakin semua lupa padamu.” Tawar So Chan Unnie padaku. Aku rasa itu boleh juga.

“Ne Eomma..” Aku sengaja memanggilnya ‘Eomma’ karena aku ingin tau apakah ia masih tidak mau aku sebut ‘Eomma’.

“Hanya anak-anak sekarang yang boleh memanggilku eomma! Jika kau memanggilku eomma lagi kau harus mengepel seluruh lantai panti!” Ancamnya.

“Ne..ne.. arasseo, dari dulu ancamanmu itu saja.. hahh~…”

Setelah puas mengunjungi panti asuhan ini, aku memutuskan untuk pulang. Jarak antara Seoul-Incheon ternyata lumayan jauh, aku sampai tertidur dalam perjalananku. Hari sudah menjelang sore saat aku sampai di rumah. Mobil berhenti tepat di depan pintu masuk rumah, aku langsung berlari masuk. Aku sangat merindukan Eomma dan Appa.

“EOMMA!!! APPA!! NA WASAEYO!!!” Ternyata mereka sedang berada di ruang keluarga. Aku berlari dan langsung memeluk mereka. “Bogoshipo~…” Aku sangat merindukan mereka karena saat mereka sudah kembali keKoreaaku masih harus melanjutkan studyku di Amerika, dan aku baru kembali setelah kurang lebih 8 bulan orang tuaku tinggal diKorea.

“Nado.. kau terlalu lama tinggal di Amerika baby..” Kata Eomma sambil menciumku.

“Bagaimana perjalananmu tadi? Apa kau sudah mengunjungi panti asuhanmu? Apa kau sudah tau alamat Ki Bum?” Eomma langsung menyodoriku rentetan pertanyaan, sementara appa dia hanya melihat takjub Eomma dan aku rasa aku juga harus melakukan hal yang sama dengan appa.

“Jangan sodori dia dengan pertanyaan yang sangat banyak, lihat keningnya langsung berlipat. Lagipula kau juga pasti sudah tau sendiri jawabannya, bukankah kalian tadi juga sudah bicara lama di telepon?!” Akhirnya appa angkat bicara.

“huh! kalian tidak seru, selalu saja bersetongkol…” Kata Eomma sambil sedikit memanyunkan bibirnya.

“hahaha.. Appa.. high five..!!” Aku langsung ber‘tos’ ria dengan appa.

“Eomma.. aku ingin makan. Apa kau sudah memasakkan makanan kesukaanku?” Tanyaku dengan mata berbinar karena aku juga rindu dengan masakan Eomma.

“Ne… kajja kita makan bersama.. Eomma sudah merindukan saat-saat seperti ini.” Kata Eomma sambil menarik tanganku.

Saat perjalanan menuju ruang makan Eomma dan Appa berjalan di belakangku, mereka sedang berbisik-bisik dan aku sedikit bisa mendengar kata-kata mereka meski aku tak tau apa yang mereka bicarakan.

‘Yeobo apa kita akan mengatakannya sekarang?’

‘Ne.. aku rasa kita &*^%^#$%@^(omomngan nggak jelas saking kecilnya suara saat berbisik)…’

Saat makan Eomma dan Appa diam seribu bahasa, ini tak seperti biasanya karena biasanya acara makan sangat hangat. Selalu ada pembicaraan yang kelusr dari mulut kami.

“Eomma, Appa, sebenarnya kalian kenapa? Kenapa tidak seperti biasanya?” Kataku memecah keheningan.

Eomma menyenggol lengan Appa. “eumm… Yeong Eun-ah, Eomma dan Appa tidak memaksamu untuk menuruti kami.” Kata Appa hati-hati, ia berhenti beberapa saat lalu melanjutkan kata-katanya setelah menghela nafas panjang “Apakah kau mau Appa jodohkan?” Kata-kata Appa sukses membuatku tersedak.

“Ya.. baby hati-hati..:” Eomma langsung memberiku air dan menepuk-nepuk punggungku.

“Appa, kenapa aku harus di jodohkan?!”

“Appa tidak memaksamu, jika kau tidak mau Appa tidak akan memaksa.” Kata Appa sedikit kecewa. Aku merasa kasian dengannya. Aku merasa seperti anak yang tak tau balas budi jika aku menolak perjodohan ini. Mungkin inilah saatnya aku membalas budi pada mereka yang sudah bersedia merawatku hingga sekarang. ‘hahh~.. Park Yeong Eun.. berhenti mengutamakan egomu.. kau berhutang budi banyak pada mereka..’

Setelah aku berdebat dengan egoku, akhirnya aku memutuskan untuk menerima perjodohan mendadak ini. “Gwencana Appa, aku.. aku menerima perjodohan ini.” Kataku dengan berat hati.

“Kau tak perlu berkata seperti itu jika kau tidak mau. Eomma dan Appa tak memaksamu sayang, Eomma akan menghormati pilihanmu karena itu yang bisa membuatmu bahagia.”

“Aniyo.. aku benar-benar menerima perjodohan ini.”

“Mianhae.. Appa melakukan ini karena bisnis.” Deg_ sebenarnya aku sedikit kecewa dengan Appa yang menjodohkanku karena faktor bisnis. Aku merasa aku seperti di jual untuk kepentingan mereka. Tapi aku tak bisa melakukan apa-apa, aku sudah terlanjur menyetujuinya dan ini merupakan caraku membalas budi pada mereka. ‘Sudahalah Yeong Eun! Buang jauh-jauh fikiran burukmu itu!’

“Ne.. gwencanha.. Aku pergi dulu, aku sangat lelah.” Kataku sambil beranjak Dari tempatku duduk.

“Chamkaman.. eumhh.. besok kalian akan di pertemukan.”

“MWO?!!”

“Waeyo?”

“Aniyo, tapi apakah aku tidak memiliki sedikit waktu untuk beristirahat? Badanku serasa remuk. Dan aku sedikit pusing.” Ujarku sambil memijat pelipis ‘Semoga kau tak kambuh sekarang. Aku belum punya keberanian untuk memberi tahu orangtuaku soal penyakit ini.’

“Mianhae.. keluarga Kim bilang, jika kau sudah setuju, maka pertunangan akan di adakan secepatnya, dan besok kau hanya berkenalan dengan anak keluarga Kim.”

“Appa, jika boleh tau siapa nama anak keluarga Kim? Apakah dia Kim Ki Bum?” Semangatku langsung membara saat mendengar nama keluarga Kim, seakan-akan rasa sakit itu sudah hilang entah kemana.

“Appa lupa siapa namanya. Kim Bum Kim? Kim Ki Bang? Kim Ki Ki?, ah.. Appa lupa.”

“Gwencanha, tak perlu di ingat, lagipula besok kita bertemu dengannya, aku akan berkenalan dengannya.”

“Sekarang istirahatlah baby.. biar Eomma mengantarmu ke kamar.”

“Andwe.. biar aku sendiri saja, Eomma teruskan saja makan malamnya.”

““““

#Next Day…

Sekarang aku dan orangtuaku berada di ruang tamu yang tak kalah besar dari ruang tamu milik kami. Benar, sekarang sedang kami menemui keluarga Kim dan yahh~.. bisa kalian tebak juga, kami bertemu untuk membahas soal pertunangan. Dalam hatiku aku benar-benar berharap bahwa anak dari keluarga Kim yang akan di nikahkan padaku itu Kim Ki Bum. Aku tak tau kenapa aku berharap seperti itu, tapi aku rasa menikah dengan Ki Bum itu lebih baik daripada menikah dengan orang yang tak ku kenal.

“Tuan Kim, perkenalkan. Dia Park Yeong Eun, anak angkat kami.” Aku bisa mendengar nada bicara yang aneh saat Appa memperkenalkanku sebagai anak angkatnya. Aku tau Appa tidak suka mengakuiku sebagai anak angkatnya. Aku membungkuk untuk memberi hormat pada keluarga Kim.

“Perkenalkan juga, dia Kim Ki Bum.” Deg_ aku langsung memelototkan mataku saat mendengar nama Kim Ki Bum, ia membungkukkan badannya. ‘Ya Tuhan.. apakah namja di depanku ini Kim Ki Bum sahabatku dulu?! Aku harap iya.. aku mohon tuhan, kabulkan do’aku, semoga dia memang Kim Ki Bum-ku..’

“TuanParkbagaimana jika kita membicarakan pernikahan ini di ruang keluarga kami, biar Ki Bum yang menemani Yeong Eun.” Aku melihat perubahan air muka di wajah namja yang bernama Kim Ki Bum.

“Ne… aku rasa itu juga berguna agar mereka bisa kenal lebih dekat. Yeong Eun-ah, Appa dan Eomma tinggal dulu yha.. berkenalanlah dengan Ki Bum..”

“Ne Appa..”

“Oh yha.. Ki Bum-ah, ajak Yeong Eun jalan-jalan di taman. Aku rasa dia akan suka dengan mawar-mawarmu yang sekarang sedang berbunga.”

“Ne~..” Jawab Ki Bum acuh tak acuh.

Aku hanya bisa pasrah, berdiri mematung menatap punggung orangtuaku yang mulai menghilang dan hingga akhirnya kami hanya berdua di ruang tamu yang sangat besar ini. Jantungku berdetak seperti jantung orang yang baru lari 1 km.

“Kita pergi sekarang.” Kata Ki Bum dingin lalu mulai berjalan.

Aku menarik tangannya. “Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?”

“Mwo?”

“Apa kau mengenalku?”

“Apakah kau bodoh?! Kita masih pertama kali bertemuNonaPark.” Ki Bum melepaskan tanganku sedikit kasar. Aku rasa ia sangat tak menyetujui perjodohan ini.

“Aku akan menikahimu jika kau sampai melupakanku Kim Ki Bum!” kata-kata ini yang berhasil membuat So Chan Unnie ingat padaku, aku rasa mungkin Ki Bum juga pangling padaku sama seperti So Chan unnie.

“Are you crazy Miss?” Mata Ki Bum menatap mataku tajam, tatapannya yang mengintimidasi membuatku takut. Dan tatapannya ini membuatku semakin yakin bahwa ia adalah Ki Bum sahabtaku.

“Mianhae..” Hanya kata-kata itu yang bisa keluar dari mulutku, aku takut bertengkar dengannya karena tatapannya itu.(ihh… Key jahat banget bikin anak orang takut.)

“Kita pergi ke taman sekarang! Aku tak mau Eomma marah padaku karena ia melihat kita berdebat di sini.”

“Ne~.” Ki Bum melangkahkan kakinya, aku mengikuti setiap langkahnya hingga kami sampai di sebuah taman yang lumayan luas.

Aku sangat takjub dengan bunga-bunga mawar yang sedang bermekaran. Mawar merah, aku sangat suka itu, warnanya memang sangat mencolok, tapi menurutku mawar merah sangat indah, ia memiliki kesan anggun dan elegant sekaligus. Selain mawar merah di sini juga terdapat banyak sekali mawar dengan warna pink. Tapi pandanganku tetap terpaku pada segerombolan pot yang berisi mawar merah.

“Apa ini kau yang menanamnya?” Pertanyaanku memecah keheningan yang terjadi di antara kami.

“Ne.” Jawabnya singkat.

“Aku sangat menyukainya. Apakah aku boleh memetik satu tangkai saja?”

“Hati-hati jika kau memetiknya, duri-duri mawar sangat tajam, pakailah sarung tangan dan gunting agar tanganmu tidak terluka dan mawarku tidak rusak. Sarung tangan dan guntingnya ada disana.” Kata Ki Bum sambil sambil menunjuk sebuah rumah kecil –yang sepertinya itu adalah gudang penyompanan alat-alat berkebun- yang letaknya agak jauh dari sini. Ini adalah kata-kata terpanjang yang di ucapkan Ki Bum, karena dari tadi ia hanya menjawab semua pertanyaan seadanya dan terkesan acuh tak acuh.

Ki Bum lalu berjalan menuju tempat duduk kemudian ia duduk disanasambil meregangkan otot-ototnya lalu memejamkan mata.

“Tak perlu kau jelaskan aku juga sudah tau Ki Bum-ssi.” Rutukku karena aku merasa kata-katanya tadi bagaikan sebuah omelan.

“Panggil saja aku Key.”

“Key? Kunci?!” Kataku bingung. Aku melihat rumah kecil yang tadi di tunjuk Ki Bum. ‘ah~.. jauh.. aku petik gini aja.. duri mawar tak beracunkan?!’

“Ne. Wae?”

“Kenapa kau memilih nama ‘Konci’, di dunia ini ada sangat banyak nama yang indah seperti ‘Yeong Eun’ hehehe…”

“Sudahlah jangan banyak bertanya, cepatlah ambil mawar yang kau_”

“_ARGHHH…!!! ssttt…” aishhh.. kenapa tanganku harus tertusuk duri, aigoo~.. ini perih sekali.

“Ya! sudah ku bilang pakai sarung tangan, kenapa kau tak memakainya?! Dan kenapa kau tak mngambil gunting?! Sudah ku bilang gunakan gunting! Aku tak mau mawarku rusak!” Ki Bum membuka matanya dan langsung memelototiku dengan pandangan tajam. Aku sangat takut dengan matanya, tapi mata itu seperti mengingatkan aku pada seseorang, mata itu benar-benar mirip dengan mata Ki Bum-ku.

“Tempatnya terlalu jauh, aku mengenakan sepatu dengan heels 12 cm, ini sakit sekali jika di gunakan untuk berjalan terlalu jauh.. ssstt.. OMONA!! JARIKU BERDARAH.. ANDWEEE…” Aku menangis saat melihat darah keluar dari jari yang tadi tertusuk duri, aku langsung menutup mata karena aku angat takut pada darah. Tiba-tiba aku merasa ada seseorang yang memegang tanganku lalu aku merasakan sesuatu yang menyedot jariku, rasanya hangat dan… sedikit basah, saat aku membuka mataku aku melihat Key sedang menyedot darah yang keluar dari jariku. Aku sangat kaget melihatnya dan aku rasa sekarang wajahku sudah semerah tomat. Jantungku.. jantungku mulai berdetak secara tak normal lagi. Aku susah bernafas, oksigen di bumi seakan-akan menipis, semakin lama semakin susah bernafas karena oksigen semakin habis.

“Darahnya sudah berhenti, berhentilah menangis.” Aku menarik tanganku secara perlahan sambil menunduk. Tanganku bergetar. Omona~… ‘Park Yeong Eun! Apa kau jatuh cinta pada namja ini?!’

“Gamsahamnida…” Ucapku sedikit gemetar. Ya! kenapa aku bergetar seperti ini?!

“Tuan muda, Presdir sudah menunggu kalian di ruang makan.”

“Ne. aku akan segera kesana. Kita pergi sekarang.” Ucap Ki Bum langsung berdiri, ia memegang kedua pundakku dan menuntunku untuk berdiri juga. ‘Apa-apaan yang di lakukan?!’

Key berjalan mendahuluiku lagi. Dan masih seperti tadi, aku berjalan di belakang Key namun sekarang aku berjalan sambil menundukan kepalaku, aku masih aneh –aku tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata tentang perasaanku- jika mengingat kejadian di taman tadi. ‘Aigooo.. Park Yeong Eun, berhenti mengingat hal itu.. aishhh!!!’. Eh.. aku rasa aku harus menunujukkan gelang ini, aku benar-benar ingin tau benarkah ia bukan Ki Bum sahabatku dulu.

“eumhh.. Key-ssi… apa kau pernah melihat foto gelang seperti ini, euhmm.. mungkin sekitar 10 tahun yang lalu.” Kataku sambil menunjukkan gelang dengan gembok kunci yang sekarang aku pakai.

 

~Key POV~

Ku perhatikan gelang yang di tunjukkan Yeong Eun itu sangat lama. Aku merasa gelang ini sangat tidak asing bagiku. Aku seperti pernah melihat gelang ini tapi aku tapi aku tak tau apakah ini hanya khayalanku atau memang aku pernah melihat gelang ini.

“Aniyo.. aku tak pernah melihat gelaang ini.” Jawabku akhirnya. Yeong Eun terlihat kecewa dengan jawabanku.

Saat acara makan aku terus memikirkan tentang gelang itu, aku tak bisa berhenti memikirkannya karena bayangan gelang itu terus berputar di otakku dan itu membuat kepalaku terasa sangat pusing. ‘Asihh.. Park Yeong Eun! Kau masih beberapa jam bersamaku, tapi kau sudah membuatku sangat pusing.’

“Ki Bum-ah.. bagaimana menurutmu Yeong Eun?” Tanya Appa tiba-tiba.

“Mwo? Euhmm,.. baik, dia baik. Aku… menyukainya.” Aku tak berfikir dua kali dengan kata yang baru saja aku ucapkan, kepalaku sangat pusing.

“MWO?!” Kata eommaku shock. ‘Terserah kalian ingin berkata apa, lagipula aku tetap akan di jodohkan dengan yeoja ini meskipun aku berusaha keras untuk menolaknya. “Apa aku tak salah dengar?! Aigo… Kim Ki Bum, akhirnya kau mnyukai seorang yeoja!”

“Aku normal eomma, dari dulu aku juga suka dengan yeoja!”

“Aku baru tau. Lagipula kau juga tak pernah membawa seorang yeoja kemari. Bagaimana kalau kita memajukan tanggal pertunangan, aku takut Ki Bum akan berubah fikiran lagi.NyonyaParkapa anda setuju?!”

“Semua terserah anak kita, biarkan mereka yang memilih, jika mereka setuju saya juga akan menyetujuinya.”  Aishh.. aku sudah tak bisa menahan rasa sakit di kepalaku. Aku langsung berdiri.

“Mianhae, saya ada urusan. Tentang rencana perunangan saya menyerahkannya pada Yeong Eun-ssi.” Yeong Eun langsung memelototkan matanya, tapi aku langsung membungkukkan badanku lalu pergi.

Aku memutuskan untuk pergi ke kamar mandi di lantai bawah untuk sekedar membasuh mukaku. Saat aku akan membuka pintu kamar mandi kepalaku semakin berdenyut. ‘arghh… apa-apaan ini!’ Aku meremas kepalaku kasar tak tahan dengan rasa sakit ini.

Tap.. Tap.. Tap.. aku mendengar suara langkah kaki menedekat, makin lama suara langkah kaki itu semakin cepat dan keras.

“Ki Bum-ssi.. waeyo? Gwencana?!” Aku mengenal suara ini, dia Yeong Eun. Dia berusaha menopang tubuhku yang sedikit terhuyung.

“TOLONG..!!!!”

To Be Continued….

 

==++==++==++==++==++==++==++==++==++==++==++==++==++==++==++==++==++==++==++==++==++==++=

N.B        :  Udah ampek Part 2.. yee!!! Udah ampek pertengahan fanfic(?). Gomawo buat reader yang udah mau baca FF murni dari otakku yang rada-t\rada konslet.. hehehe. Buat yang baca cangan lupa RCL yha…. Yang nggak komen ntar gak ketemu bias(sadis).. hehe…

Author pamit dulu yha.. Anyeong~~~….#kissbye+nglambein tangan kaya Miss Universe..*di lempar Key*tangkep bawa pulang.. kekeke~..#

 

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF


Advertisements

35 thoughts on “This Is My Love Story – Part 2”

  1. weh weh ini 2 2 nya sm2 punya penyakit ini kyknya ya?
    hem key lupa ap karena kclkaan ya…

    perjodohan yg pas (?)
    lnjut thor

  2. wow, wow, woww,
    key knpa tuh,
    adeh, ini kenapa keduanya punya penyakit,,
    wah, key kau melupakan yeong eun,,,
    keren,
    lanjuuutttt……

  3. Ih ih ih key pura2 lupa deeeh
    Knapa dengan kamu key ?
    Pasti lupa ingatan ya *ngarang
    Hehe
    Tapi key ga punya pacar kan ya ?
    Jangan dulu.

Leave a Reply to cangmyeon Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s