[Imaginary ver.] Not Cyber Love=Not LDR (SAD ENDING 2.2)

[Imaginary ver.] Not Cyber Love=Not LDR

(SAD ENDING 2.2)

 

Oke.. Gimana kalo kita lanjutkan acara kita (??)

Ahaha.. ^^

Kmrn kayaknya belum dapet feel-nya ya?? Dan mianhae klo yg ini kepanjangan ^^

Nah, aku harap dsini kalian bs nangis Bombay deh😛

Author : Ji I-el

Main Cast : Lee Taemin, Athena Efrinne (it’s Taemints time) ^^

Support Cast : Lee Taesun (anggap aja kembarannya Taemin), Karrie Hang, Allichia Putri, Kim Hana

Length : Two shot

Genre : Tragic Romance

Rating : Teen (spertinya)

Summary : “Sudah kuduga, akhirnya pasti seperti ini..”

 

***Ji I-el

***Athena POV***

Aku lihat jam dinding biruku, dan semakin bergegas merapikan apartementku sebelum jam tiga sore. Aku harus kembali bekerja. Ahh rasanya liburanku kemarin belum dapat memuaskanku. Tapi, aku memiliki pasien yang sudah menjadi tanggung jawabku.

    “Okey. Perfect!” seruku melihat tempat tidur yang sudah kupindahkan, kini telah rapi. “Sekarang tinggal bersiap-siap ke rumah sakit.”

** Clouds El Moon **

Satu jam lebih, kira-kira waktu yang kubutuhkan mulai dari bersiap-siap hingga sampai di rumah sakit. Aku pun segera masuk ke dalam ruangan nursing station –ruangan khusus perawat- begitu tiba di tempat aku bekerja. Aku segera mengambil berkas-berkas mengenai pasienku untuk hari ini.

Aku cek seluruh nursing diagnose yang ada di file bangsal bagianku. Rata-rata mereka menderita dehidrasi yang akut dan penyakit musim dingin lainnya. Beberapa diantaranya menderita sakit jantung dan ginjal. Tunggu! Ginjal? Ini bagian favoritku. Setelah tahu Taemin adalah satu di antara mereka yang harus hidup dengan satu ginjal karena dia bersedia menjadi donor bagi Taesun, aku begitu terobsesi dengan pasien-pasien dengan masalah ginjal.

      “Athena, pasien kamar 507 sudah tiba waktunya untuk vital sign check up.” panggil kepala bagian bangsal tempatku bekerja.

      “Oh, ne, mam.” kataku menyanggupi.

Segera aku ambil peralatan yang kuperlukan, seperti tensimeter, thermometer, dan tak lupa aku mengganti sepatu dan jam tanganku dengan yang berbahan karet. Kupercepat langkahku menuju ruangan 507. Dan begitu sampai di depan ruangan itu, aku ketuk lalu aku buka pintunya dan aku lihat wajah seseorang yang agaknya tak asing bagiku.

** Clouds El Moon ** Clouds El Moon **

***Taemin POV***

   “Annyeong haseyo.” sapanya lembut sambil membungkukan badannya. Sementara aku menutup wajahku dengan bantal ketika melihatnya mengangkat kepala dan menatapku.

  ‘Aishh.. kenapa yeoja itu harus ada disini sih?’ batinku merutuki kehadirannya.

    “Eh, Hana noona. Cepat sekali sampainya.” seperti biasa, hanya Taesun yang akan menyambut kehadirannya.

   “Taemin bagaimana keadaanmu?” perlahan aku turunkan bantal yang menutupi wajahku.

   “Humm.. sudah lebih baik.” Hana meraih tangan kiriku, “ARGHH!! SAKIT!” akupun berteriak.

     “Ya ampun.. ya ampun.. Mianhae.”

Tokk tokk tokk..

Setelah membuka pintunya, tampak seorang wanita berpakaian dress selutut yang menjadi ciri khas perawat di rumah sakit ini dan tak lupa ciri khas lainnya dari seorang perawat, yaitu cap putih di kepalanya berdiri di depan sana. Dia membawa sebuah kotak yang terbuat dari stainless steel yang pasti isinya alat-alat untuk memeriksaku. Darahku mulai mengalir deras dari kepala menuju ke kaki, dan kembali lagi ke kepalaku begitu aku menyadari siapa wanita yang ada di balik dress putih yang dikenakannya.

Dia tampak kebingungan. Entah karena melihatku dan Taesun di kamar ini, atau karena ada Hana di kamarku.

    “Annyeong haseyo.” sapanya sambil membungkuk kaku. Aku tahu dia sedang kebingungan.

  “Noona!!” panggil Taesun dengan wajah yang sumringah, “naega bogusipeoyeo.” lanjut Taesun. Kali ini dia menghampiri Athena dan memeluknya.

     Dia membiarkan Taesun beberapa saat tenggelam dalam pelukannya, lalu dia angkat bicara, “nugu?

  “Ini aku. Noona lupa padaku ya? Ini Taesun.” dengan menggebu seraya melepaskan pelukannya.

   Mendengar nama itu, Athena malah semakin diam terpaku. Dia membelalakan matanya, “Tae-Taesun?” katanya terbatah. Kemudian dia melirik ke arah papan yang sudah pasti adalah catatan riwayat kesehatanku selama kemarin hingga hari ini dan membolak-balikkan kertasnya.

Suasana berubah dingin beberapa saat. Kami saling menatap satu sama lain. Taesun memandangku, mencoba membuatku yakin dengan apa yang harus aku lakukan. Dia benar, cepat atau lambat, keadaan ini pasti akan ada.

  “AUUUU!!!” teriakku mengaduh, ketika Hana sekali lagi menekan tangan kiriku. Kali ini ada darah yang merembes dari balik perban yang menutupi jarum infusnya.

   Athena segera menghampiriku, setelah berhasil merobohkan tiang es yang terbentuk karena kekakuan kami dengan hembusan napas paniknya, “Biar saya bersihkan sebentar, tuan.” katanya dengan bahasa yang sangat formal. Dia begini karena tidak mengenaliku atau mencoba bersikap seakan tidak mau mengenaliku?

Dengan sangat teliti dan hati-hati dia memutar-putar scroll yang ada pada selang infusku, membuat tetesan infusnya berhenti, mengangkat telapak tanganku, dan mengelus lembut punggung tanganku searah dengan aliran darah ke jariku sambil terus meniupnya. Kemudian dia mengintip sedikit dibalik perban yang ada di punggung tanganku, lalu mencabut jarumnya dengan sangat lembut. Aku bisa merasakan kehangatan pelayanannya keperawatannya.

Lalu, dia mengambil sebuah jarum infus yang masih tersegel dari kotak yang dibawanya itu dan memasangkan kembali ke punggung tanganku, kali ini di sebelah kanan. Setelah jarum itu tertusuk sempurna, dia kembali mengelus-elus punggung tanganku searah aliran darah ke jari-jariku. Entah kenapa rasanya tidak sakit sama sekali walaupun dia menyentuh tanganku tepat pada tusukan jarumnya. Bekas jarum infus yang tadi sempat pendarahan itu juga sudah terbungkus rapi dengan perban.

Dia memindahkan penyangga infusku sendiri, melakukan semuanya sendiri dengan sangat rapi dan teliti. Dia akan jadi istri yang sempurna bagiku, kalau saja aku bisa mengatakannya pada appa. Tapi, aku tidak bisa apa-apa.

Aku teringat puisinya dulu, lima tahun yang lalu. Puisi yang telah aku ketahui maknanya tepat di hari ulang tahunnya.

Aku bukanlah seorang yang punya daya

aku hanyalah gadis yang mencoba untuk menghadirkan asa

mencoba terjaga ketika tangan tak mampu lagi meraba

Justru, disini akulah yang sebenarnya tidak memiliki daya. Aku hanya mampu menginginkannya, tanpa berusaha untuk mewujudkannya. Laki-laki macam apa aku? Saat yeoja yang kau cintai telah melakukan semua yang dia bisa lakukan sampai sejauh ini, aku hanya bisa berdiam diri dengan semua keterpaksaan ini.

Dia telah selesai mengukur blood pressure ku, juga mengukur suhu tubuhku, dan denyut nadiku. Tidak lupa, dia gunakan stetoskopnya untuk memeriksa pernapasanku. Berulang kali dia memintaku dengan sangat sopan dan formal untuk menarik napasku dalam-dalam. Ya, inilah yang kutakutkan setelah sekian lama aku menunggu hari ini untuk tiba. Kami merasa satu diantara kami sangat jauh padahal posisi kami sudah lebih dari cukup dekat untuk obrolan hangat secara langsung ketimbang menggunakan komunikasi via cyber ataupun untuk dikatakan long distance relationship.

Dia merapikan kembali peralatannya. Mataku tak bisa lepas dari keindahannya yang sempurna. Dari jarak sedekat ini, aku bisa mencium aroma manis dari tubuhnya, persis seperti bayanganku tentang dirinya ketika musim semi di Jepang tiba. Wangi aroma cherry blossom yang baru mekar.

Aku tidak peduli jika Hana memandangiku dengan tatapan ‘ada apa kamu sama dia?’. Aku hanya peduli dengan satu sosok yang aku cintai ini. Athena, satu-satunya gadis yang bisa meluluhkanku hingga akhirnya aku berani membuka hatiku untuk mencoba suatu hubungan pacaran, sosok dewasa yang manja dan pribadi yang membuat seseorang bisa merasa rindu teramat padanya.

        “Athena, aku merasa jauh darimu..” bisikku ketelinganya sebelum Ia benar-benar beranjak dari kamarku. Aku rasa, suaraku cukup pelan untuk terdengar oleh Hana.

Dia mencoba terlihat tidak bergeming. Aku melihatnya keluar dengan tatapan sendu ke bawah. Aku benci tatapan itu, aku benci karena aku tidak bisa segera berlari mengejarnya, lalu menengadahkan dagunya untuk melihatku dan mengatakan bahwa dia tak perlu ragu padaku. Aku tidak bisa melakukannya. Tidak di depan Hana.

Dan tepat saat dia membalikan tubuhnya untuk menarik knop pintu, setetes air jatuh dari kelopak matanya. Dia menangis, dan aku benci karena aku tidak bisa berada di sisinya untuk membiarkan dia menangis sepuasnya di dadaku, membelai rambutnya, dan membuatnya tenang sehingga dia dapat menghentikan tangisannya. Lee Taemin, seorang yang sejak dulu tidak bisa menjaganya. Kalau dulu aku terhalang karena jarak kami, bahkan sekarang saat sudah sedekat ini pun aku masih tidak bisa melakukan tugasku sebagai pacarnya.

** Clouds El Moon ** Clouds El Moon **

***Athena POV***

     “Athena, aku merasa jauh darimu..”

Aku menutup pintunya perlahan. Aku tidak sanggup jika harus berjalan dari kamar Taemin ke nursing station. Aku mengalami tremor hebat. Seluruh tubuhku rasanya berguncang melihat siapa yang ada di dalam, jadi aku hanya bersandar pada pintunya. Aku berusaha seprofesional mungkin melakukan perawatan pada Taemin tadi, bukannya aku mau berpura-pura tidak mengenalinya. Aku hanya harus bisa membedakan antara kehidupan pribadiku dan pekerjaanku dalam hal Taemin.

Entah dari kamar yang mana, aku mendengar alunan lagu dari Jung Yonghwa – Because I Miss You, yang selama beberapa tahun terakhir ini juga selalu mengiang di telingaku.

Miss you, miss you so much, because I miss you so much

Everyday all by myself, calling and calling you

Want to see you, want to see you, because I want to see you so much

Now it’s like I have this habit, keep calling out your name

It’s the same today –Eng translation-

 

Aku benar-benar merindukannya, aku ingin sekali memeluknya tadi, tapi ragaku kaku, membeku karena keadaan yang belum dapat aku terima bahkan sampai hari ini. Aku bisa menerka siapa yeoja yang berdiri di samping Taesun. Dan aku bisa pastikan bahwa dia adalah yeoja yang Chia maksud sebagai tunangan Taemin. Aku juga tahu bahwa dia tidak mencintai yeoja itu sejak awal aku tahu bahwa ayahnya telah menjodohkannya dengan seorang anak dari teman akrab ayah tirinya. Tapi, bisakah yeoja itu tidak berkeliaran di lingkungan kerjaku?

Dari luar, aku dapat mendengar suara langkah sepatu yang berjalan menuju ke tempatku diam berdiri. Aku usap air mataku yang mungkin masih membekas di pipiku. Mendadak darahku berdesir kencang dan jantungku terpompa begitu cepat. Bagaimana ini? Aku tidak ingin terlihat tidak mampu apa-apa.

Akhirnya, aku mencoba berjalan serileks mungkin menuju nursing station, tepat saat knop pintunya berdecit dan suara pintu terbuka pun menggema di sepanjang koridor ini. Pemilik langkah itu berjalan cepat dan aku mencoba menyeimbangkan irama langkahnya agar dia tidak bisa mendahului posisiku.

     “Noona!!” panggil si pemilik langkah sambil menarik tanganku sehingga kami bertatapan.

     Aku pun memalingkan wajahku, “Iya, ada apa, tuan?” tanyaku masih dengan aksen yang dibuat-buat dan ingin bersikap professional.

  “Noona, jangan bicara seperti itu padaku. Seperti biasa saja, noona. Kau membuatku sedih jika kau bicara seperti itu.” Taesun menatapku dengan mata nanar dan bibir yang dimanyunkan. Ternyata, aslinya Taesun memang kekanakan, dan parahnya sampai sekarang masih seperti itu.

    “Ne. ne.” aku tersenyum sambil mengusap rambutnya seperti yang biasa aku lakukan pada adik laki-lakiku sendiri. “Maaf, noona hanya ingin terlihat professional. Sekarang, Cute saengie mau bicara apa?” dia tersenyum. Aku tahu, dia pasti senang karena dapat mendengar panggilan itu lagi, apalagi jika langsung terucap dari bibirku.

   “Ummm… bisakah aku menculik noona sebentar?” aku menyengir dalam. Aku kaget dengan permintaannya itu.

   “Ahaha.. Taesun, kau ini!!” aku tertawa kecil. Tidak Taesun, tidak Taemin, keduanya selalu tahu bagaimana membuatku merasa lebih baik jika aku sedih. “Aku masih dalam shift kerjaku, tidak akan mungkin.”

  Mendengar jawabanku, spontan dia menundukan kepalanya untuk menatapku, lalu memanyunkan bibirnya, “Umm.. noona, kau habis menangis ya? Apa kau menangisi hyung-ku? Seharusnya kau kan bahagia karena pada akhirnya kalian bertemu.” Taesun menarikku merapat pada dinding-dinding yang sedari tadi mendengar dan melihat kami. Pandangan kami mengarah pada sisi dinding koridor sebelahnya, “Hhh..” dia menghembuskan napas gusar.

    “Taesun..” panggilku lirih. Aku tidak tahu harus memulai dari mana. Dulu, sebelum mereka menghilang dari kehidupanku yang nyaris sempurna, aku bisa dengan mudah mengadu pada Taesun jika aku sedih karena kembarannya, tapi sekarang, semuanya seakan harus dimulai dari awal lagi.

     “Ne, noona?” jawabnya tersenyum hambar tanpa melepaskan pandangannya dari dinding di depan kami.

   “Yeoja yang di dalam. Apa, um.. apa dia tunangan Taemin?” kakiku mulai kembali tremor.

  “Hhh..” napas itu lagi. Aku tahu maknanya, pasti sulit bagi Taesun untuk mengatakan ‘iya’ padaku. “Seperti yang kau pikirkan, noona.”

Aku tidak kuat lagi, kakiku yang sejak tadi sudah bergetar tidak mampu lagi menyangga tubuhku, aku merosot begitu saja. Taesun yang dengan segera melirik ke arahku, segera meraih tubuhku sebelum sempat aku benar-benar terduduk di lantai, “Noona!!!” pekiknya sambil menahan tubuhku.

Tangisku pecah, dan sebelum suara isakkan tangisku terdengar oleh Taemin dari ruangannya, Taesun menarikku dalam pelukannya. Seperti inikah rasanya saat kau merasa apa yang kau buat ada setelah sebelumnya sama sekali mustahil untuk ada, tapi apa yang kau inginkan tidak seperti yang terlihat?

     “Hiks..” aku masih sesenggukan. Beruntung, perawat yang lain sedang sibuk dengan tugasnya masing-masing, “Taesun, I miss him so much.” Aku akhirnya berani membalas pelukannya karena aku memang sudah tidak kuat untuk menahan sesakku.

      “Sudahlah, noona. Jangan menangis lagi, nanti kalau noona sesak napas lagi kayak dulu waktu bertengkar dengan hyung, gimana? Sudah ya. Apa noona mau bicara dengan hyung biar lega?” nadanya berusaha menenangkanku, dan syukurlah usahanya berhasil. Tapi, aku malah jadi gemetar. Kali ini hati dan jantungku saja yang merasakan guncangannya.

    “A? A-ani.. tidak usah. Dia masih butuh istirahat sekarang, kulihat catatan kesehatannya, dulu dia pernah dirawat disini dan selalu karena jahitannya terbuka lagi atau ada luka di organ dalamnya, kan? Biarkan dia istirahat, kalau tidak, kejadian dahulu bisa terulang, Taesun.” bukannya aku tidak mau, tapi inilah caraku menolak halus. Aku, belum siap bertemu dengannya sebagai seorang Athena yang dahulu dia kenal.

Aku meninggalkan Taesun dengan senyuman. Aku membuka pintu nursing station dan aku masih mendapati Taesun berdiri di tempat kami mengobrol tadi. Mungkin, Taemin memintanya untuk memastikan bahwa aku tidak apa-apa.

** Clouds El Moon ** Clouds El Moon **

***Taemin POV***

Aku menatap Taesun dengan memelas, aku harap dia mengerti apa yang sebenarnya aku pinta padanya untuk dia lakukan. Aku tahu, bahwa Athena bahkan belum berpindah dari depan pintu dan masih bersandar pada muka pintu. Aku tahu, sangat tahu bahwa mungkin dia tidak sanggup berjalan ke ruangannya. Aku harap Taesun dapat memastikan bahwa dirinya tidak apa-apa di depan sana.

Taesun mengangguk dan segera berjalan keluar ruanganku. Aku melirik ke Hana. Tatapannya penuh tanya yang menghujam tanpa perlu Ia katakan. Tapi, aku tidak bisa mengatakan padanya mengenai Athena. Tidak. Aku tidak bisa mengatakan pada tunanganku –yeoja yang appa pilihkan untukku- kalau aku memiliki kekasih selama lima tahun aku menjadi tunangannya. Meskipun aku tidak pernah mencintainya, tapi aku masih punya perasaan, setidaknya aku bisa menjaga sedikit hatinya yang sama rapuhnya seperti Athena.

Di ruangan ini, hanya ada aku dan Hana. Suasana yang paling tidak aku sukai bahkan sejak aku berkenalan dengan dia pertama kali. Kenapa Taesun lama sekali? Apa sih yang sebenarnya anak itu lakukan? Aku kan hanya memintanya memastikan bahwa Athena baik-baik saja. Apa jangan-jangan terjadi sesuatu pada Athena? Tidak. Tidak bisa. Aku harus melihatnya sendiri.

Aku mencoba turun perlahan dari ranjangku, Hana mencoba membantuku tapi aku tepis tangannya, “jangan kau sentuh aku!!” aku melihatnya tersentak. Sudah barang tentu dia terkejut karena aku membentaknya. Tapi, sungguh aku tidak ingin disentuh oleh wanita manapun selain Athena, kekasihku itu.

Aku menarik penyangga infusku, lalu berjalan menuju jendela. Aku mencoba mengintip sedikit dari pintunya dan ku keluarkan kepalaku perlahan. Gotcha!! Athena ada disana. Bersama Taesun yang sekarang sedang memeluknya. Taesun menyadari kehadiranku, kemudian dia segera mengisyaratkan padaku bahwa Athena sedang menangis dengan gerakan bibirnya.

Aku pinta Taesun memeluknya lebih dalam lagi. Aku yakin memang pelukanlah yang saat ini dibutuhkan oleh Athena. Aku terus memperhatikannya, sampai akhirnya Athena bersuara. Kudengar senggukannya samar-samar. Suaranya halus sekali sewaktu menangis.

      “Hiks..” Ia sesenggukan, aku yakin masih ada tangisan yang tertahan. Masih ada sesak dan tangis yang tertinggal disana. “Taesun, I miss him so much.” Athena membalas pelukan saudara kembarku, mungkin rasa sesaknya sudah tidak tertahankan lagi.

       “Sudahlah, noona. Jangan menangis lagi, nanti kalau noona sesak napas lagi kayak dulu waktu bertengkar dengan hyung, gimana? Sudah ya. Apa noona mau bicara dengan hyung biar lega?” Taesun benar. Dan ketika itu, aku benar-benar merasa bersalah dan terpukul begitu tahu asmanya kambuh karena menangis seusai bertengkar denganku. Entah, aku selalu bisa merasakan sakit yang Athena rasakan.

      “A? A-ani.. tidak usah. Dia masih butuh istirahat sekarang, kulihat catatan kesehatannya, dulu dia pernah dirawat disini dan selalu karena jahitannya terbuka lagi atau ada luka di organ dalamnya, kan? Biarkan dia istirahat, kalau tidak, kejadian dahulu bisa terulang, Taesun.” bahkan dia masih mementingkan kondisiku, padahal mungkin dia sangat ingin melepas rindunya padaku secepat mungkin.

Aku terus memperhatikan Taesun dan Athena. Athena pun melepaskan pelukannya pada Taesun dan berjalan menuju ruangan perawat, dia menoleh ke arah Taesun yang masih berdiri di sana, bersandar pada dinding-dinding yang beku, aku pun menarik sedikit kepalaku kembali masuk ke dalam ruanganku, tak ingin Athena tahu kalau aku mengawasinya dari tempatku.

Begitu mendengar suara pintu yang tertutup, aku memutuskan untuk benar-benar masuk kembali ke ruanganku. Aku menemukan Hana yang sedari tadi menatapku intens. Dia berjalan ke arahku dan tindakannya sukses membuatku terdiam. Kini dia sudah berdiri tepat di depanku dengan menyisakan beberapa jarak bagi kami. Dia menatap dalam pada mataku. Dia seperti mencari suatu jawaban dari dalamnya.

   “A-ada apa?” tanyaku gugup. Jujur aku tidak suka jika ada yang memandangku seperti itu.

     “Taemin oppa~” panggilnya lirih. Aku bisa melihat bekas air mata di pipinya. Ahh aku lemah jika ada yang menangis di depanku, apalagi jika tangisan itu muncul karena aku sebagai alasannya. “Oppa, aku tahu sekarang apa yang membuatmu selalu mengacuhkanku, apapun yang aku lakukan atau aku berikan kau tidak pernah peduli.”

     “Mwo?” aku tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Hana.

     “Oppa, dia itu yeoja yang ada dalam wallpaper ponsel oppa, kan? Yeoja yang akun facebooknya selalu oppa lihat walaupun ada aku yang sedang duduk di samping oppa?” dia mulai menangis. Sambil menahan tangisannya, dia berkata lagi, “dia juga kan yeoja yang jadi alasan oppa menolak pertunangan kita lima tahun yang lalu sampai oppa harus bertengkar dengan appa? Dia juga kan yeoja yang sudah mengambil seluruh cinta yang oppa miliki sampai tidak ada sedikitpun yang tersisa bagiku?”

 “Ha-hana..” aku menggenggam tiang penyangga infusku kuat-kuat. Dia memang menangis karena aku. Aku tidak bisa membiarkan seorang yeoja menangis.

  “Oppa..” panggilnya lirih sekali lagi, “kalau memang dia yeoja yang aku sebutkan tadi, tidak bisakah oppa melirik sedikit padaku, tunanganmu ini sejak lima tahun yang lalu? Tidak bisakah kau berpaling padaku yang sebentar lagi akan menjadi istrimu? Tidak bisakah kau mencintaiku dan membiarkan yeoja itu mencari kebahagiannya sendiri. Apa oppa sadar kalau oppa bukanlah kebahagiaan yang harusnya dia dapatkan?”

Aku tidak sanggup lagi, aku menghampirinya. Hanya dengan dua langkah saja, aku sudah dapat meraih tubuhnya dan merengkuhnya. Dia benar, aku memang mengacuhkan bahkan ketika dialah yeoja yang selalu ada di sampingku. Demi aku, dia meminta appa-nya untuk memindahkannya ke sekolah yang sama denganku. Dia rela pergi jauh dari orang tuanya karena ingin mengikuti aku kuliah di Jepang. Dia memohon setengah mati agar selalu bisa bersamaku. Bahkan jika aku sedang ber-facebook ria dengan Athena, dia dengan sabar dan tanpa komentar menungguku hingga akhirnya appa­-ku pulang kerja dan mau tidak mau aku akan berpura-pura sedang dalam obrolan yang seru dengan Hana. Bahkan saat itu dia bisa mengikuti permainanku di depan appa. Dia pasti terluka selama lima tahun ini.

Aku mengelus punggungnya, aku tahu dia butuh ketenangan.

     “Gomawo, oppa.” katanya sambil mengeratkan pelukannya padaku.

     “Cheomaneyo¸ Hana-ah.” balasku sambil tetap memeluknya, dan kali ini aku mengusap puncak kepalanya.

     “Oppa, belajarlah menerima kehadiranku dan mencintaiku. Kumohon.”

Sungguh, jika aku bisa meminta satu permohonan pada genie atau apapun makhluk yang biasa memberikan permohonan seperti di dongeng-dongeng yang dulu sering kubaca, aku hanya ingin satu. Aku hanya ingin supaya lima tahun yang lalu bisa terulang dan aku ingin mengubah semuanya hingga hari ini tidak perlu ada untuk Athena, untuk Hana, dan juga untukku. Biarkan aku memiliki kesempatan untuk memilih cintaku sendiri, memberikan cintaku pada Athena, dan menjaga cinta itu agar tetap ada padanya.

** Clouds El Moon **

Aku duduk di ranjangku. Menatap keluar jendela. Malam berbintang yang akan semakin indah jika kau menatapnya bersama dengan seseorang yang kau cintai. Tak lama ada seseorang yang memasuki kamarku. Aku tidak begitu kaget ketika melihatnya. Aku mencoba menggodanya dengan acuh pada kedatangannya dan mengalihkan pandanganku kembali ke jendela setelah melihat dirinya.

  “Taemin~” suaranya yang lebih lembut dari yang kubayangkan berhasil membuatku melirik ke arahnya dan melempar senyum terbaikku.

     “Ne?” jawabku karena akhirnya tergugah oleh senyumnya.

   “Kenapa kau belum tidur?” tanyanya sambil menarik sebuah kursi lipat ke dekat ranjangku dan mendudukan dirinya disana.

    “Kau sendiri. Kenapa tidak pakai seragam perawatmu? Bukankah ini masih shift kerjamu?”

   Dia menggeser kursinya mendekatiku, “aku datang kesini bukan sebagai perawat, tapi sebagai Athena.” Aku tertegun mendengarnya.

    “Mworago?” aku menekankan pertanyaanku.

   “Apa kurang jelas?” dia memutar kepalanya, menatap padaku. Entah kekuatan dari mana dia bisa melakukannya., padahal jelas sekali tadi sore dia masih menangis sampai Taesun harus memeluknya, “aku datang sebagai Athena.”

Dengan sedikit gemetar, aku tuntun tanganku ke puncak kepalanya. Hal yang dari dulu sangat ingin aku lakukan. Aku mengelus rambutnya perlahan, menyisipkan helai rambutnya di jari-jariku. Lalu tanganku turun ke pipinya dan dia memejamkan matanya. Sungguh cantik. Tanganku tampak begitu besar untuk wajahnya yang tidak begitu chubby dibandingkan lima tahun yang lalu, bahkan dia tidak terlihat lebih tua dariku sama sekali.

Dia memejamkan matanya. Aku usap pipinya dan kurasakan jari-jariku menyentuh sesuatu yang basah di pipinya. Athena menangis.

   “Kau belum puas ya menangis tadi sore? Apa malam-malam seperti ini, di depanku, kau harus menangis juga?”

    “Belum. Umm.. Maksudku, aku sengaja menyisakan tangisanku untukmu. Aku ingin kau yang menenangkanku kali ini.”

Mendengar itu aku langsung membungkukan badanku dan memeluknya walau aku masih duduk di ranjang. Aku membiarkannya tenggelam dalam dadaku, tak peduli dia mendengar detak jantungku yang cepat. Dia membalas pelukanku dan mengeratkannya. Walau pelukanku sama hangatnya seperti yang Taesun berikan, tapi ada perbedaan yang kurasakan. Aku mendengar tangisan Athena memecah seluruh ruangan, tangisannya lebih lepas dibandingkan dengan tadi sore.

Aku benci, sekalipun sekarang aku bisa ada di sisinya untuk memeluknya saat dia menangis, tapi aku masih saja benci karena dia menangisi diriku.

   “Tae-Taemin, I miss you so much.” mendengar kata itu, air mataku tumpah juga. Aku membuat Athena semakin dekat padaku, tidak peduli dia merasa pelukanku terlalu kuat atau tidak, asal dia tidak tahu kalau aku menangis, itu lebih baik. Aku juga merindukannya, bahkan lebih dari yang dia tahu.

Aku mengangkat wajahnya hingga Ia menengadah ke arahku, “berhentilah menangis. Hatiku sakit melihat air matamu itu. Apalagi kau menangis karena aku kan, Jagiya?” spontan dia menjauhkan wajahnya dari sentuhan tanganku di pipinya. “Wae?” kenapa dia bereaksi begitu? Apa dia tidak suka panggilanku padanya?

    “Kau tadi memanggilku apa?” tanyanya dengan membulatkan matanya yang hampir sama sipitnya denganku itu.

    Aku pun mengacak-acak rambutnya, “kau tidak mendengarkanku ya, Little Princess?? Mau aku ulang?” dia mengangguk semangat, aku tersenyum dan mengulang perkataanku lagi, “JaGiYa.” Aku mengejanya, dan kata-kata itu sukses membuatnya tertunduk dengan wajah yang bersemu merah. “ahaha.. wajahmu memerah, Jagi.” dan kata-kata itu semakin membuatnya menunduk, kali ini sambil menutupi semburat di kedua pipinya.

Aku tersenyum lagi. Yah, senyum diwajahku inilah yang juga aku rindukan dan salah satu alasanku kenapa aku tidak bisa melepas Athena begitu saja. Dia sudah terlalu banyak memberikan senyuman padaku dan tak bisa aku pungkiri, aku hanya bisa tersenyum karena bicara dengannya, dengan tingkahnya yang kekanakan.

Aku meletakkan kedua tanganku diatas tangannya, menggenggam jemari-jemarinya, dan perlahan aku mengangkat wajahnya itu, “kau belum ngantuk, heum?” dia menggeleng. “Aku tahu kau paling kuat begadang dibandingkan aku, tapi sekarang kau harus tidur cepat karena aku disini, di dekatmu.” dia mengangguk.

     “Kamu juga.” dia bangkit dan membantuku berbaring di ranjangku.

Setelah memastikan aku tidur dengan posisi yang tepat, dia kembali duduk di kursi yang ada di samping ranjangku.

     “Athena, pastikan besok pagi kau bangun sebelum jam lima ya?” dia menoleh ke arahku setelah merapikan letak selimutku.

     “Eumm? Buat apa?” tanyanya kebingungan.

    “Aku mau lihat sunshine bersama Athena, perawat tercantik yang aku cintai ini.”

     “Ohh, oke.” senyumnya mengembang. Sungguh cantik.

Akhirnya, dia menelungkupkan wajahnya ke tangan yang menumpu di ranjangku. Tidur dengan posisi seperti itu pasti sakit, jadi aku menunggunya sampai dia benar-benar tidur.

5 menit, 10 menit, 20 menit..

Apa Athena sudah benar-benar tidur? Aku pun menjentikan jemariku di depan telinganya. Tidak ada tanda-tanda bahwa Ia merasa terusik. Jadi, aku pun bangun dari posisi tidurku, turun dari ranjang, dan berjalan memutar ke posisi Athena duduk.

Aku mengangkat kepalanya yang sejak tadi merapat pada tangannya, kemudian aku angkat kedua kakinya dengan tanganku yang satunya. Aku baringkan Athena di ranjangku, aku perbaiki posisi kepalanya, lalu aku tarik selimut sampai ke batas pundaknya, memastikan bahwa tak ada celah bagi angin lain untuk menusuk kulitnya yang halus.

Aku menarik kursi lipat yang tadi Athena tempati dan mendudukan diriku disana. Aku menopang wajahku dengan kedua tanngan. Menatapnya yang tertidur seperti bayi, sangat polos. Kenapa wanita dewasa seperti dia masih bisa terlihat sepolos ini? Aigo~ dia sangat cantik. Yeoja yang aku cintai sejak lima tahun yang lalu sangat cantik, andai appa bersedia kuperkenalkan dengan dia, dia juga pasti akan memuji Athena sama seperti dia memuji Hana di depanku.

Aku belai puncak kepalanya, aku rapikan letak poni depannya yang tak pernah diganti sejak dulu, mungkin inilah ciri khas dari Athena. Merasa tak mau melewatkan satu bagian pun dari tubuh Athena yang masih pantas untuk ku sentuh, punggung tanganku merajalela mengelus pipinya yang kenyal dan lembut, aku juga menyapu bibir tipis yang memerah muda itu dengan ibu jariku.

Close your eyes and go to sleep. Now my love is all around

Dream in peace and when you awake, you will know I’m still with you

 

Aku suka lagu itu. Aku pernah menyanyikannya ketika aku menyuruhnya untuk tidur, walau dia tidak mendengar secara langsung. Tiba-tiba dia menggeliat dan bergumam dalam tidurnya, mungkin dia sedikit terusik dengan sentuhan jemariku.

   “Taemin.” dia memanggil namaku dalam tidurnya. Itu membuat darahku berdesir hebat. Aku pandangi bibirnya yang mengilat karena sentuhan cahaya lampu dari ruangan ini.

Tanpa dorongan dari siapapun, aku memegang wajahnya dan mendekatkan bibirku pada bibirnya. Kini bukan jemariku lagi yang menyapu lembut bibirnya. Terasa manis di lidahku, sekalipun dia tidak membalas kecupanku, tapi aku yakin ini adalah first kiss baginya, dan juga bagiku. Aku menjaga ciuman pertamaku untuk Athena. Memang dialah yang pertama untukku. Dia cinta pertamaku, dia kekasih pertamaku, dia orang yang pertama kalinya bersedia untuk aku jaga, dia juga wanita pertama yang sungguh-sungguh mengatakan bahwa dia mencintaiku apa adanya dan menginginkan aku menjadi ayah bagi anak-anaknya. Dan sekarang, dialah ciuman pertama ku, seorang putri cantik yang tertidur.

Setelah beberapa menit bibirku bertahan di bibirnya, aku melepaskan bibirku perlahan. Dia terlihat seperti mengecap sesuatu, mungkin dia merasa ada yang asing yang menempel di bibirnya.  Aku tersenyum membayangkan apa yang akan dia lakukan padaku jika dia mengetahui apa yang aku lakukan tadi. Aku menempelkan punggungku pada kursiku dan mencoba menutup mataku.

** Clouds El Moon **

Aku melihat Athena yang berjalan di karpet merah dari pintu depan gereja dan sambil menggenggam tangan ayahnya, dia menuju altar tempat aku menunggu wanita yang akan menjadi hidupku, dia membawa bucket mawar putih di tangan kirinya, bunga favoritnya.

Dengan balutan gaun putih yang terseret sepanjang karpet dan cadar yang tampak manis menutupi wajahnya, dia tampak menawan dan makin besar hasratku untuk segera membuka cadar itu agar dapat melihat wajah cantiknya. Setelah dia sampai di depanku dan ayahnya menyerahkan tangan putrinya pada genggamanku, aku mebuka cadarnya. Wajah Athena tampak begitu sumringah dan jikalau ini mimpi, aku berharap bahwa aku tidak pernah bangun. Tapi, tiba-tiba bayangan Athena terganti menjadi wajah Hana.

   “Astaga!!” aku spontan bangun dari tidurku. Ternyata memang hanya mimpi. Dan aku diyakinkan dengan tubuh Athena yang masih tertidur di ranjang rumah sakit.

Aku melirik jam tangan Athena. Sudah pukul lima ternyata. Aku ingin melihat sunshine, tapi aku tidak tega membangunkannya. Jadi, aku hanya mengelus lagi pipinya. Berharap dia tidak terbangun sehingga hari esok tidak perlu ada.

   “Heumm..” Athena menggeliat dan mengerjapkan matanya, “loh, kenapa aku yang tidur disini.” Sentak dia duduk dan memandang aneh kepadaku.

    “Aku yang memindahkanmu semalam. Aku tidak tega melihatmu tidur sambil duduk.”

    Dia memukul ringan tanganku, “yang sakit itu kan kau, Taemin. Kenapa aku yang tidur disini. Babo!!!” dia mengerucutkan bibirnya. Tampak kekanakan.

    Aku mengelus pipinya lagi, “sudah setua ini kau masih saja ber-aegyo seperti itu?” dia membuang mukanya.

  “Huhh!! Kenapa? Memangnya tidak boleh?” protesnya sambil melipat tangannya di depan dadanya.

   “Sudahlah, kau ini.” Aku mengusap kepalanya, “ayo, kita keluar. Kau kan sudah janji padaku semalam.” dia mengangguk ringan seraya turun dari tempat tidurnya. Dia menarik kursi roda yang ada di pojok kamarku dan membantuku pindah ke kursi roda itu, membantu kakiku untuk naik ke penyangga kakinya, dan tak lupa memakaikan selimutku sampai sebatas pahaku.

Dia mendorong kursinya ke arah taman belakang rumah sakit.

   “Aku sering duduk disini untuk melihat matahari terbit.” katanya sambil duduk di kursi taman, tepat di sampingku.

   “Kalau begitu, kita tunggu bagaimana?” dia tersenyum. Entah kenapa aku merasa sakit ketika melihat senyum itu.

  Pandangannya tak lepas dari arah sinar kekuningan di depan kami, “sepertinya matahari mulai muncul.” kataku yang dibalas dengan anggukan Athena. “Indah. Tapi tidak ada yang seindah putri kecil disampingku ini.” Spontan dia memandangku dengan tatapan penuh tanya.

      “Mwo?

      “Aishh, sepertinya sejak kau jadi perawat, aku harus mengulang kata-kataku, ya?” dia menggaruk-garuk belakang kepalanya. Dia gugup.

  “Humm.. bukan. Bukan itu. Aku hanya bingung, kenapa kau masih memanggilku begitu.” Dia menunduk. Wajahnya yang malu-malu itu sungguh menggemaskan.

       “The answer is so simple. It cause that you are. Arraseo?” dia mengangguk.

Tiba-tiba suasana jadi sunyi, suasana yang tidak aku inginkan saat ini. Aku mencoba menghantam tiang-tiang es yang ada, “Athena.” Panggilku sehingga membuat dia menoleh ke arahku.

   “Humphh..” dia menahan napasnya karena ketika dia menoleh, wajahku sudah berada tepat di depan wajahnya.

    “Chu~” aku mengecup bibirnya, mengulumnya lebih dalam dari yang aku lakukan semalam, dan dia membalas kulumanku.

  “Ummhh, Tae. Ah aku.. aku kehabisan napas.” mendengar itu, aku menghentikan ciuman kami, “kau ini lupa ya kalau aku asma. Dasar!!” dia menjitak kepalaku. “setidaknya beri aku waktu untuk bernapas sebentar kenapa sih?”

    “Kekeke..” aku tertawa kecil, dan aku segera menarik kepalanya agar bibirnya mendekat padaku lagi. Dia mencubit pahaku, “Auuu.” teriakku. “Loh? Kan tadi aku sudah memberimu waktu untuk bernapas. Bahkan lebih dari sebentar.”

       “Umm.. aku hanya ingin tahu, apa ini ciuman pertamamu?” aku menggeleng karena memang jawabannya adalah tidak.

      Ada raut kekecewaan di wajahnya. Aku tidak tahan melihatnya, “ini memang bukan ciuman pertamaku denganmu karena ciuman pertamaku sudah kau ambil semalam.”

   Dia membelalakan matanya, “Apa? Ja- jadi semalam kau sudah..” kata-katanya terhenti karena aku sudah membungkam bibirnya dengan bibirku. Dan akhirnya, kami hanyut dalam ciuman kami.

    “Ya, kau adalah yeoja yang mendapatkan first kiss-ku.” kataku di sela-sela ciuman kami.

** Clouds El Moon **

Aku menunggu Athena. Taesun bilang dia tidak ada di ruangannya dan perawat yang lain bilang dia pulang sebentar. Padahal ada yang ingin aku jelaskan padanya sebelum aku pergi dari rumah sakit ini. Karrie, yang sejak tadi bersamaku selama pacarnya –saudara kembarku- kusuruh untuk mencari Athena, berulang kali menyabarkanku.

   “Tunggu ya, oppa. Sebentar lagi Athena eonni pasti datang.” aku hanya mengangguk pelan setiap kali dia berkata itu.

Aku tidak bisa sabar jika aku harus pergi meninggalkannya tanpa sedikitpun penjelasan dariku tentang keadaan yang terpaksa aku jalani. Lalu, ditengah lamunanku, Karrie mengibaskan secarik kertas di depan wajahku.

    “Mau menulis sesuatu untuknya sebelum kau pergi?” ide yang bagus. Aku mengangguk. Dan Karrie pun memberikan pena yang ada dalam tasnya. Lalu, aku mulai menulis.

Seusai menulis apa yang aku ingin sampaikan, aku melipat kertas berwarna biru itu menjadi lipatan berbentuk amplop dan menyerahkannya kepada Karrie. Dia memang calon adik ipar yang baik, dia bersedia menunda jadwal penerbangannya ke Jepang bersama kami demi menunggu Athena sampai datang dan dia dapat menyerahkan suratku untuknya. Dan beruntung, Taesun mengiyakan kebaikan Karrie. Dan aku harap Athena bisa mengerti dengan keadaanku.

** Clouds El Moon ** Clouds El Moon **

THE END

Kekeke…

Maaf ya terpotong sampai disini aja.

Gimana, msh ga ada sedih”nya ya?? Hehe..

Aku juga bingung, trnyata klo mau agak diperlebai lg (???)

Hrs ada satu penjelasannya ternyata. So, mau dilanjutin??

Klo mau, wait for The Letter [Chronicles, Not Cyber Love=Not LDR] ya?

Penasaran dong sama apa yang ditulis Taemin trus apa yg bikin Taemin kok ga berontak aja sih pas dijodohin? Ya kan? Ya kan?? Nah, jgn lewatkan episode trakhir dr [Imaginary ver] Not Cyber Love=Not LDR (Sad Ending) ^^ =>kayak iklan =.=

Gomawo krn udh baca FF yg pnjangnya melebihi lokomotif ini ya ^^

©2011 SF3SI, Ji I-El.

This post/FF has written by Iza, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

36 thoughts on “[Imaginary ver.] Not Cyber Love=Not LDR (SAD ENDING 2.2)

  1. *ngancungin tangan*
    mau tanya.. author suster ya? hahahaha
    bag prtma ff ini… yg msng2 infus n apa itu drh2 sukses bkin aq puyeng.. hahaha

    anthena kasian
    hana jg kasian
    huhuhuhu
    wah emin mau k jpg?
    pcrnya taesun baik bgt ya… *kyk aq* /plakkkk
    apa ya isi suratnya?
    trus pnsrn jg knp emin g brontak pas djdohin… jgn2 diancam….

    1. Ahaha..
      Ummm aku bukan suster, tp calon suster ^^ a.k.a masih mahasiswa jurusan keperawatan ^^
      Keke.. itu msh yg ringan kok kata”nya, blm yang lbh ilmiah ^^

      Iya, mereka kasian. Tp aku lbh kasian sma Athena, knp dia msti mengalami nasib yang kayak bgitu ^^
      Hhh iya, Taesun dan Karrie itu pasangan yang paling bruntung yang prnh ada kurasa ^^
      Aku aja iri sma mrk
      Thanks or ur comment ^^

    1. Makasih, makasih, makasih ^^
      Umm iya, sabar ya tunggu kelanjutannya ^^
      Gak lama lg bakal di post kok ^^
      Thanks for ur comment ^^

  2. Haishh,,, pagi-pagi udah dibikin mewekkkk,, #gx sampe mewek sihh,, cuma berkaca-kca pas pertemuan pertama Taemin sam Athena,,,

    hmm,, penasaran,, Taemin nunggalin athena lagi?? Mau merid sama hana kah??

    Owh,, gx sabar nunggu next part-nya,,,😛

    1. Ahaha.. yah kok ga mewek aja sih skalian😦
      Kekeke.. gapapa kok gapapa
      Umm, aku malah nangis baca FFku sndiri sih ^^
      Umm entahlah dia mau married atau gak, tunggu aja kelanjutannya^^
      Thanks for ur comment ^^

  3. lanjut,,, penasaran bnget…..
    ayoq thour,,,, cpetan,,,,
    apa yg di tulis sama taemin,,,????
    wah,,,, klo ngbayangin taemin jadi dewasa kayak gni ya,, gak da aegyox… heeeee

    1. Lanjut?? ^^
      Oke deh ^^
      Tp tunggu ya, ga lama kok ^^
      Tinggal tunggu post-ingannya aja ^^
      Iya, aku ga kebayang klo Taemin jd dewasa gini. Hohohoho ^0^
      Thanks for ur commnet ^^

    1. Eh??
      ahaha.. ya udahanlah ^^
      Tp masih ada part selanjutnya kok. Tenang aja ^^
      Umm.. bruhubung ini sad ending ya brarti hrs sad lah ^^
      Kekeke
      Thanks for ur comment ^^

  4. ahhh…eonnie.
    sedihnya dapat kok. nyesek bgt pas bagian Hana, Taemin, sama Athena ada di dalam satu kamar yang sama. gak kebayang seberapa nyeseknya jadi Athena.
    tapi, aku nyeseknya mulai berkurang pas bagian Taemin sama Athena.
    hah…Taemin mau pergi ke mana?
    ahh..pensaran.
    kira2 Taemin bakal nikah gak yah sama Hana? (semoga aja nggak) muehehe.
    daebak eon!:D
    di tunggu kelanjutannya!😀
    hwaiting!😀

    1. Ahh yg bener nih sedihnya dpt??
      Wah, km ngambil sudut pandang trsendiri ya?? keke.. aku jg sih sbnrnya brpikir ini sdih, tp kyknya blm sesuai dgn yg aku mau ^0^ => maruk

      Umm Taemin mau pergi ke Jepang, kan yg di part 1 udh dijelasiln toh klo dia ngelanjutin kuliah di Jepang ^^

      Thanks for ur comment ^^

    1. AHAHA..
      Aku jg senengnya ngeliat mereka mesra”an, serasa dunia milik mereka berdua doang kan tuh? ^^
      Kekeke..
      Umm.. Tunggu aja deh ya
      Thanks for ur comment ^^

    1. Nanti ya happy endingnya, soalnya author lg dilanda dilema jd rada susah ngumpulin hasrat happy (???))
      Thanks for ur comment ^^

  5. Lah? udah THE END aja-,,- lagi seru-serunya baca…
    yaudah! aku tunggu ya yang The Letter [Chronicles, Not Cyber Love=Not LDR] oke? oke sip *Author : nanya sendiri jawab sendiri-_-*

    Keren FFnya!

  6. ahhh author, aku terharu sama kisah cinta taemin athena… waaahh bener2 sad ending nih kayaknya… dan sepertinya buat yang letternya aku harus nyiapin tisu .. dari pada ingusnya bleber kemana-mana .. *ikkhhww*
    huwaaa ayooo lanjutannya… nyeseknya terasaaa…

    1. Umm??
      aku juga terharu sama kisah mrk. Trnyata kisah kyk bgini ga cma ada di sinetron atau di drama korea yg biasa kita tonton ^^
      Hohoho.. nih ada juga di otakku ^^
      Hhh.. iya km butuh tissue soalnya aku yg bikin aja nangis sndiri smpe tmn sekamarku bingung aku ini knp. Pas aku blng lg bkin FF, ehh dia malah ketawa =.=
      Thanks for ur comment ^^

  7. huwaaah bagusss
    nyesek bacanya T.T tp paling seneng waktu taemin bilang ‘jagiya’ ke athena :’D
    ini ada next story nya lg kan?

    1. Makasih atas pujiannya ^^
      Kekeke.. sama wkt mrk ribut kecil”an (??) gr” dia blng Jagiya emg lucu sih ^^
      Iya ada kok ^^
      Thanks for ur comment ^^

  8. oh, jadi Hana itu……begitu karakternya~ Hana terlalu baik buat Taemin, mending Taemin sama Athena aja~ sweet banget mereka, di part yang si Athena jenguk Taemin! dan makin penasaran sama kelanjutannya di The Letter. aaa penasaran sama isi suratnya!

    I Like!

    1. Umm?? loh kok trlalu baik malah Taeminnya dikasih ke Hana? -.-
      Iya, tunggu ya..
      Pokoknya smua pnjelasannya ada disitu ^^
      Harap mnunggu ^^
      Thanks for ur comment ^^

    1. Umm iya ya, kasian si Athena TT______TT
      Bukan genit, sayang
      Tp emg keadaan yg bikin mrk kyk gitu
      Oke lanjut deh ^^
      Thanks for ur comment ^^

  9. Aaaah aku kirain di part ini ada scene yg bakalan bikin nangis bombay. Aduuuh author ini trnyata suka bangt bkin org pnasaran.

    Kalo gitu aku bc yg The Letter dulu deh. The last, ffnya bguuuus stidaknya sdh ada knangan indah #apadeh-__-” sblm taem ninggalin athena.

    1. Kamu bacanya ga berurut =.=
      Hadehhh.. yg ada kamu mah bakal bingung sndiri tau =.=
      Seharusnya bacanya tuh
      1. Cyber Love=LDR (1.2; 2.2)
      2. The Letter
      3. Ji I-summary
      4. Not Cyber Love=Not LDR (Sad ending 1.2; 2.2)

      Tp ya sudahlah, gapapa😄
      Thanks buat commentnya ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s