Married By Accident – Part 4

MARRIED BY ACCIDENT

Title : Married By Accident
Author : Yuyu
Main Cast :
Lee Jinki (Onew)
Han Younji
Support Cast :
Choi Minho
Key
Son Shinyoung (Oc)
Kim Jonghyun
Kim Hyunji (Oc)
Minor Cast:
Lee Taemin
Hwang Jungmi (Oc)
Son Miyoung (Oc)
Length : Sequel
Genre : Romance, Sad, Friendship
Rating : PG – 15

Onew mendorong troli belanjaan di belakang Younji tanpa berkata apa pun sejak beberapa saat yang lalu sesampainya mereka di supermarket dekat apartemen mereka. Akhir pekan ini akan mereka habiskan untuk berkutat di dapur dan melayani orang-orang terdekat yang mereka undang datang, semacam pesta syukuran atas pernikahan mereka.

Sebenarnya, ide itu meluncur dari bibir Onew pagi tadi setelah perdebatan—melelahkan—antara Onew dan Nyonya Lee berakhir. Tapi ide itu juga tak muncul begitu saja, melainkan karena omelan Jonghyun yang tiada henti—ia masih belum bisa terima karena Onew menolak tiket bulan madu pemberiannya. Yah, semoga saja dengan mengadakan pesta kecil ini, bisa membuat mulut Jonghyun bungkam dari segala macam rengekannya.

Younji memegang secarik kertas kecil berisi daftar belanjaan yang harus ia beli untuk membuat masakan sederhana namun mampu menggugah selera para tamu yang akan datang untuk makan siang di rumahnya. Onew mengintip dari balik bahu Younji, ikut menatap kertas berisi bahan-bahan makanan. Ia menggigiti bibir bawahnya, jelas sekali sedang dilanda keraguan. Ia ingin membahas tentang bayi dan minuman herbal, tapi ia juga takut Younji justru akan salah paham. Bagaimanapun juga, masalah ini tak boleh menggantung tak jelas.

“Maaf, tentang Eomma.” ujar Onew sembari menggenggam troli dengan lebih erat. Onew menoleh takut-takut, tidak ingin bertemu pandang dengan Younji. Ia berdeham kecil sebelum kembali melanjutkan kalimatnya, “Dan tentang minuman herbal itu juga. Aku takut kalau perhatian yang diberikan Eomma untukmu justru menjadi beban. Kau tahu kan maksudku—tentang bayi itu. Jangan kau tanggapi kata-katanya.” lanjut Onew, diam-diam merasa begitu malu atas tingkah Nyonya Lee. Astaga, kapan terakhir kali Onew merasa malu seperti pagi tadi atas tingkah Nyonya Lee?

“Kau tidak perlu meminta maaf.” Younji menggeleng pelan. Ia sungguh tak keberatan dengan tingkah Ibu mertuanya itu, karena pada kenyataannya ia memang sama sekali tidak terganggu. Tingkah Nyonya Lee justru membuat Younji merasa begitu hangat. “Sebenarnya, aku sama sekali tidak keberatan.” lanjut Younji lagi, sama sekali tak menyadari kerancuan dalam kalimatnya.

Onew memalingkan wajahnya lebih cepat dari yang mampu ia lakukan. Kedua mata sipitnya terbelalak saat ia menatap Younji sepenuhnya. Apa yang baru saja wanita ini katakan? Sudah gilakah wanita ini karena terkurung dalam satu ruangan yang sama dengan Onew hanya beberapa hari—hingga ia mengucapkan kalimat-kalimat indah tadi?

“Bukan tentang bayi! Maksudku tentang perhatian yang diberikan oleh eommonim!” jelas Younji—ikut panik—saat akhirnya ia menyadari makna yang ditangkap oleh Onew berbeda dengan makna kalimat yang ia maksudkan. Wajah Younji memerah—campuran antara rasa malu dan kegugupannya ketika membayangkan apa yang ada dibenak Onew. Ditatap seperti tadi oleh Onew membuatnya menjadi gugup, lebih gugup.

“O—oh.” jawab Onew singkat dan sedikit terbata. Ia menundukkan wajahnya, menatap pegangan troli yang seolah terlihat jauh lebih menarik daripada Younji ataupun hal lain disekitarnya, kelihatan sekali kalau ia sedang salah tingkah. Jantungnya melompat begitu kencang—untung saja jantungnya tak bisa melompat keluar dari tulang rusuknya.

Younji terus melangkah, tidak tahu ke mana kakinya melaju. Ada perdebatan kecil di dalam benaknya, antara mengungkapkan isi hatinya atau membiarkan Onew hanya mengetahui apa yang ia ketahui saja. Younji melirik Onew dengan cepat, dan secepat itu pula matanya kembali menatap lurus, menatap lekat pada udara kosong di hadapannya. Younji menarik nafas dalam-dalam, tangannya mencengkram daftar belanjaan dengan lebih erat, dan lebih erat dan lebih erat lagi hingga buku-buku jarinya sudah tak bisa memutih lebih dari sekarang. Mulut Younji terbuka, hanya untuk tertutup kembali. Kali ini, ia kerahkan segenap keberaniannya, ia membuka mulutnya dan membiarkan sebuah cerita pendek mengalir cukup lancar.

“Sudah bertahun-tahun lalu sejak terakhir kali aku merasakan kehangatan yang diberikan oleh seorang Ibu, dan aku senang karena eommonim kembali membuatku teringat pada kehangatan itu. Aku…  sangat berterima kasih.” Younji berhasil. Ia mengungkapkan kerinduan yang selama ini selalu bersemayam di dalam hatinya, yang tidak menjadi konsumsi publik. Sudah jelas, Younji bukan tipe orang yang terbuka pada orang-orang yang tak dekat dengannya. Dan dengan keberhasilannya kali ini, entah bagaimana ia merasa menjadi lebih dekat dengan Onew. Sepertinya ia mulai melihat Onew dari kacamata yang berbeda, bukan kacamata yang ia gunakan kemarin atau beberapa hari lalu bahkan beberapa bulan lalu.

“Syukurlah kalau begitu.” Onew menoleh sekilas pada Younji, masih terlihat agak salah tingkah. Mereka kembali terdiam. Biasanya, Onew yang mencoba memulai percakapan. Tapi jelas, karena detak jantungnya saat ini—yang masih menggila—ia tak bisa berpikir dengan baik dan mencari bahan omongan, jadi dia lebih memilih untuk diam daripada ucapannya justru menjadi ngawur dan membuat Younji mengernyit padanya.

Younji bergumam pelan, “Kurasa bagian penjualan daging ada di pojok kiri.”

Onew yang awalnya mendorong troli belanjaan—dengan pikiran kosong—ke arah kanan langsung tersadar dan segera merubah arahnya. Younji mengangkat beberapa potong daging iga sapi yang telah dibungkus rapi dan memerhatikannya dengan lekat, mencari daging yang masih segar agar tak mengurangi cita rasa masakannya.

“Kau yakin kita bisa memanggang di balkon? Para tetangga tidak akan mengeluhkan asapnya?” Younji melontarkan pertanyaan yang sama yang telah ia tanyakan berkali-kali saat Onew mengusulkan untuk membuat galbi—daging iga yang dibakar. Onew mengangguk tak sabar. Ia ingin segera melewati deretan daging-daging sapi ini dan menuju rak berisi daging kesukaannya. Younji masih mematung di tempatnya berdiri, kembali menimbang-nimbang menu makan siang mereka hari ini.

“Ayo, cepat. Kita masih harus membeli ayam untuk membuat sup.” desak Onew agak tidak sabar. Ia mengambil alih daging yang ada ditangan Younji, dengan agak kasar melemparnya ke dalam troli lalu mendorongnya tanpa aba-aba menuju rak yang berjarak beberapa langkah dari tempat mereka berdiri. Younji menatap takjub. Semangat sekali pria itu.

Dan lagi, imjasutang ini adalah menu yang disarankan oleh Onew. Awalnya ia tak mengerti mengapa Onew ngotot sekali ingin menu sup ayam tetap ada dalam daftar hidangan yang mereka sajikan akhir pekan ini. Namun, saat melihat tingkah Onew sekarang, ia rasa ia tahu alasannya. Pria ini pecinta ayam, pasti begitu. Buktinya mata Onew kini berbinar-binar setelah ia berdiri di depan rak penuh berisi daging ayam—persis seperti anak kecil yang sedang menjelajah di dalam pabrik cokelat.

“Kau menyukai ayam.” tutur Younji, mengungkapkan apa yang memang sedang ia pikirkan sebelum menghampiri Onew dan membantu pria itu mengambil beberapa bungkus daging ayam yang memang sudah Younji perhitungkan dengan benar sesuai dengan jumlah tamu undangan.

“Huh?” Onew bergumam tak jelas. Ia membantu Younji memindahkan daging ayam yang ada ditangannya ke dalam troli. Setelah mengambil dalam jumlah yang tepat sesuai kebutuhan, barulah Onew mencerna pernyataan Younji sebelumnya.

“Bukan menyukai, tapi menggemari. Itu berbeda loh.” tukas Onew ringan dengan wajah yang masih berseri-seri.

Perburuan bahan makanan kembali dilanjutkan. Setelah mengambil semua daging yang mereka butuhkan, kali ini mereka mencari bumbu-bumbu masak sebagai pelengkap rasa. Younji melewati deretan sawi. Sepertinya ada sesuatu yang terlupa, tapi apa itu? Younji menghiraukan pikirannya sendiri. Ia masih berkutat dengan daftar belanjaannya.

“Kimchi..” ujar Onew sangat pelan.

“Ah, majayo! Kita tidak ada kimchi! Bagaimana ini?” Younji panik sendiri. Bagaimana bisa mereka membuat pesta penyambutan tapi justru tidak menghidangkan makanan khas korea—kimchi?

Onew mengambil sebuah sawi dan menatap Younji datar, “Kita buat saja.” ujarnya enteng.

“Mana sempat, sudah tidak ada waktu.” tolak Younji.

“Masih sempat kok.” Onew melirik jam tangannya, “Pulang dari sini kita bisa langsung membuatnya, baru menyiapkan masakan lainnya.”

”Tidak bisa.” jawab Younji ngotot. “Butuh waktu sedikitnya 6 jam sebelum kimchi bisa disantap, sedangkan waktu kita hanya tersisa tiga jam.”

Onew berdecak. Mengapa harus terlalu menaati aturan? Tiga jam dirasa sudah cukup oleh Onew. Tanpa peduli pada penolakan Younji, ia memasukkan sawi putih itu ke dalam troli. Younji memelototinya.

“Sudah kubilang tidak sempat. Jangan memaksa seperti itu.” omel Younji tanpa disadarinya. Ia memasukkan tangannya ke dalam troli, hendak mengeluarkan sawi putih saat tangan Onew ikut menahan sayuran itu. Onew tersenyum tipis. Kali pertama Younji berargumen dengannya, tidak buruk ternyata.

“Baiklah.” Onew mengalah, “Kita tidak akan membuat kimchi hari ini, tapi kita tetap akan membeli sawi. Besok-besok kita bisa buat kimchi, kan?”

Younji termenung. Gampang sekali pria ini menundukkan kepala padanya? Younji mengangguk ragu saat Onew kembali memberikan sebuah senyuman padanya.

“Mungkin Eomma juga membawa kimchi pagi tadi—selain minuman herbal. Kalaupun tidak, kita suruh saja Jonghyun untuk membawa kimchi dari rumahnya.” sahut Onew santai. Untuk apa diambil pusing? Ada atau tidaknya kimchi, toh pesta mereka harus terus berlangsung. Younji masih terlihat tidak terima, mungkin dalam hati merutuki kebodohannya sendiri karena tidak menyiapkan kimchi dari beberapa hari yang lalu, atau bisa jadi ia sedang merutuki Onew karena memberitahukan ide tentang makan siang ini secara tiba-tiba. Onew tersenyum tipis. Bibir bawahnya terselip diantara barisan gigi-giginya, menahan senyumnya menjadi lebih lebar dari sekarang. Sejurus kemudian, senyumnya menghilang. Mengapa ia begitu senang melihat wajah Younji seperti ini? Kewarasannya memang perlu dipertanyakan sekarang.

“Kaja.” kata Onew. Dengan santai, tangan Onew mencari jalannya untuk bertautan dengan jari-jari Younji. Jelas, Younji tersentak kaget. Tangan Onew yang besar dan hangat membungkus tangan mungilnya yang agak dingin. Mau tak mau, Younji menyeret paksa kakinya saat Onew menariknya.

***

Younji mendengar bel apartemen kembali dibunyikan. Tadi sebelumnya, Yoona—teman sekampus Onew sudah datang lebih dulu. Mungkin yang datang sekarang adalah Jonghyun dan Taemin. Karena Onew yang mengundang Taemin untuk datang, praktis Younji tidak mengundang siapapun datang—karena satu-satunya orang terdekat yang masih berada di sisinya hanyalah Taemin seorang. Younji tak mau repot-repot menyembulkan kepalanya keluar dapur untuk mengintip tamu yang datang. Selain ia yakin Onew yang akan membuka pintu dan melakukan penyambutan, ia sendiri tengah sibuk bukan main. Meskipun imjasutang –yang dipastikan Onew berkali-kali agar tetap berada dalam daftar menu makan siang- sudah siap dihidangkan. Onew pun sudah memasang peralatan untuk memanggang di balkon dan sekarang Yoona tengah membantu mereka untuk memanggang daging iga, tapi Younji masih harus berkutat dengan 6 mangkuk batu untuk hidangan berbahan utama tahu.

“Noona, kubawakan kimchi buatan Kim Eommonim sesuai pesanan Onew hyung.” ujar Taemin penuh keriangan. Tangan kanannya terangkat ke atas, mengguncang-guncang sebuah kotak plastik yang ia genggam.

“Terima kasih, Taemin. Bisa kau letakkan saja di atas meja?” balas Younji tanpa menoleh lebih lama. Ia harus segera menyelesaikan hidangan terakhir ini, kalau tidak bisa-bisa hari sudah keburu malam dan mereka terpaksa harus menggantinya sebagai makan malam.

“Tentu!” keriangan masih terdengar jelas dari suara Taemin. Sesuai permintaan Younji, Taemin meletakkan kotak berisi kimchi di atas meja kemudian berlalu pergi tanpa sepatah kata lagi.

Onew baru saja mengantar tamunya—Jonghyun dan Shinyoung—ke balkon untuk membantu pekerjaan Yoona saat ia melewati dapur. Langkahnya terpaku. Lagi-lagi bayangan punggung Younji membuat tubuh Onew bergetar pelan. Oh, kalau saja ada yang tahu betapa inginnya Onew menyentuh istrinya—detik ini juga. Onew menelan air liurnya berkali-kali—lebih sulit dari yang biasa ia lakukan. Beberapa detik berlalu dan tiba-tiba saja—tanpa ia sadari—ia telah berdiri tepat di belakang Younji. Hebat! Ia seperti sedang dihiptonis, bergerak atas kendali diluar pikiran miliknya. Onew mencondongkan tubuh bagian atasnya secara perlahan, menyadari kenyataan bahwa Younji tak mengetahui kehadiran orang lain di dapur karena kesibukannya yang sepertinya menyita seluruh perhatian wanita itu. Onew mengendus pelan, barulah Younji tersentak kaget.

“Eomma-ya!” teriak Younji kaget. Ia sedikit berpaling, tapi tak sepenuhnya memutar wajahnya karena Onew berada begitu dekat.

“Baunya sangat wangi.” sahut Onew. Kedua matanya tertutup. Ia benar-benar menikmati aroma tubuh Younji yang terkesan manis saat mengalir masuk melalui indera penciumannya. Younji memicingkan mata. Apa yang sedang Onew bicarakan? Apanya yang wangi?

“Sundubu-jiggae nya belum matang, apa yang wangi?” tanya Younji benar-benar heran. Ia tak mencium harum apapun di sini, jadi apa yang Onew maksud wangi itu? Onew kembali menghiraukan Younji. Matanya terpejam semakin erat.

“Yaaa! Jangan malah mesra-mesraan di sana!” teriak Jonghyun dari ambang dinding yang menyekat dapur, “Mana kecapnya?”

Onew menggeram kesal. Ia membuka matanya masih sambil terus mengomel lalu mengambil kecap yang Jonghyun pinta dan menyerahkannya. Jonghyun tidak peduli. Ia ikut mengomel bersama Onew, mengomel tentang bagaimana ia telah memanggil Onew berkali-kali tapi tak disahut hingga kekesalannya menumpuk dan ia memergoki Onew tengah bermesraan dengan Younji. Memang tingkah Onew tidak salah, tapi Jonghyun risih melihatnya.

Wajah Onew masih tertekuk saat Shinyoung meloloskan diri dari tiga orang tamu lain dan menghampiri Onew di ruang nonton. Onew mendongak ketika derap langkah menghampirinya. Ia tersenyum lemah saat Shinyoung mendekatinya, lalu duduk tepat di sampingnya.

“Ada apa?” tanya Onew singkat.

“Aku senang sekali waktu mendapat undangan pernikahan darimu.” aku Shinyoung memulai pembicaraannya. Pandangannya kosong selama sesaat, lalu kembali bersinar-sinar pada detik selanjut bersamaan dengan sebuah senyum tipis yang terukir dibibirnya, “Sungguh, kau tak akan tahu betapa terkejut dan bersyukurnya aku waktu Jonghyun bilang kau akan menikah.”

Onew diam. Ia mengerti apa yang Shinyoung maksudkan. Dan ia juga tahu bahwa Shinyoung tulus mengatakan hal itu, tapi mengapa perhatian Shinyoung justru terdengar seperti olok-olok ditelinga Onew? Mungkin ia sedang sensitif saja, karena Jonghyun dan hal lainnya—karena Shinyoung mengingatkannya pada sekelabat kenangan tak mengenakkan di masa lalu.

“Kurasa…” Shinyoung memutuskan kalimatnya, membiarkan kata-kata itu menggantung sesaat sebelum ia menarik nafas dalam-dalam dan menghempaskannya, “Kurasa sekarang semua rasa bersalahku padamu sudah hilang.”

Onew luluh. Nada getir dalam suara Shinyoung membuatnya mau tak mau berbalik untuk mencurahkan isi hatinya juga. Ia tak suka jika melihat Shinyoung terus-terusan menyalahkan dirinya. Tak ada yang salah. Tak ada seorang pun yang bersalah atas kehancuran hati Onew dulu. Bukan Shinyoung, bukan wanita itu, bukan juga dirinya sendiri. Tapi lingkaran nasib yang mengikat mereka dengan erat dan tertawa kencang diatas penderitaan mereka lah yang seharusnya disalahkan. Ya, pusaran takdir yang membawa mereka pada akhir yang menyedihkan.

“Noona, sudah kubilang berkali-kali, kau tidak salah. Jadi kumohon dengan sangat, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri atas sesuatu yang tidak kau lakukan. Bukan salahmu jika.. jika…” suara Onew tercekat, sesuatu berkumpul dalam kerongkongannya, saling membantu untuk menyumbat kata-kata yang siap meluncur, “Jika Miyoung tega melukaiku seperti saat itu.”

“Tapi itu memang salahku!” desis Shinyoung marah. Hampir saja ia menggebrak meja saking kesalnya melihat tingkah Onew yang sok baik. Kalau saja Shinyoung tidak ingat kalau mereka tidak sedang berdua saja, ia pasti sudah membelah meja dihadapannya hingga menjadi dua bagian, “Seharusnya sejak awal kukatakan padamu tentang hubungan Miyoung dan pria brengsek itu. Hal ini tidak akan terjadi, kalau saja aku bertindak tanpa memedulikan janji yang telah kubuat pada Miyoung—agar memberikan kesempatan padanya untuk mengakhiri hubungan dengan pria brengsek itu. Aku bisa saja mengingkari janjiku dan memberikan peringatan padamu—tapi aku terlalu takut untuk itu. Bagaimana pun, dia adalah adikku. Tapi, aku tak menyangka bahwa ia akan menusukku dari belakang—ia mematahkan kepercayaanku padanya. Maafkan aku.. Maafkan aku, Onew. Jika sejak awal aku tahu semuanya akan berakhir seperti, aku pasti akan mengatakan yang sejujurnya padamu—tanpa peduli pada perasaan pengkhianat itu.”

“Sudah kubilang bukan salahmu, mengapa noona begitu ngotot? Apa rasanya menyenangkan bisa menanggung dosa adikmu yang.. yang..” Onew tak mampu melanjutkan kata-katanya.

Keji.. ingin sekali ia mengakhiri kalimatnya dengan kata-kata itu. Tapi diurungkan niatnya. Memaki Miyoung dihadapan Shinyoung membuat Onew merasa ia ikut memaki Shinyoung itu sendiri. Dan ia tak ingin. Wanita ini selalu berlaku sebagai kakak perempuan yang baik untuknya dan Jonghyun, mana tega ia memakinya.

“Noona, menataplah ke depan. Setidaknya, meski dulu aku sempat hancur, kini aku baik-baik saja. Bahkan lebih dari itu, aku bahagia.” Onew meringis pelan menanggapi kebohongannya sendiri. Tapi tak sepenuhnya kebohongan. Onew memang bahagia—untuk alasan yang masih ia gali, tapi ia juga masih hancur jika mengingat bagaimana Miyoung meninggalkannya sambil mengakui keberadaan sebuah nyawa kecil di dalam perutnya. Dan lebih parahnya lagi, nyawa kecil itu bukan milik Onew, tapi pria lain.

Shinyoung menatap Onew lekat-lekat. Ia bisa mendeteksi adanya kebohongan dibalik kata-kata Onew, namun ia tahu jika ia masih saja meributkan persoalan ini, Onew pasti akan mengamuk padanya.

“Yah, pokoknya, terima kasih karena kau sudah bahagia sekarang.” Shinyoung tersenyum lebar. Ia menggenggam kedua tangan Onew dengan erat, saling berbagi kehangatan. Onew membalas senyuman Shinyoung dengan suara tawa kecil.

“Hmm..” ada suara gumaman tak jauh dari tempat mereka sekarang. Shinyoung dan Onew menoleh serentak. Younji tengah berdiri diambang dapur, terlihat ragu untuk menginterupsi keintiman sepasang insan dihadapannya.

“Younji-ya, wae?” Onew beranjak dari tempat duduknya, segera menghampiri Younji dengan ekspresi datar, tak terlihat canggung sedikitpun karena istrinya memergoki ia tengah bersentuhan dengan wanita lain.

“Aku hanya ingin menanyakan di mana kau menyimpan telur? Aku membutuhkannya dan aku tak bisa menemukannya meski aku sudah mencari hampir di semua sudut dapur.” jelas Younji panjang lebar. Sesaat Onew hanya menatapnya tanpa berkedip. Tumben sekali Younji bicara panjang lebar. Onew berjalan mendahului Younji.

“Berapa banyak?”  Onew membuka lemari tempat ia menyimpan telur dan menyerahkannya sejumlah yang dibutuhkan Younji.

Lagi, Onew memerhatikan wanita itu. Ia termenung. Diam tak bergerak. Telur yang diberikan Onew pun tak digubrisnya, seolah Younji telah menyeberang ke dunianya sendiri.

“Younji?” panggil Onew, menarik Younji dari dunia mana saja ia berada tadinya. Dan benar saja, wanita itu terhenyak. Awalnya kaget, tapi langsung membiasakan diri. Younji mengambil dua buah telur, mengetuknya bersamaan hingga salah satu kulit telur retak. Younji membuka kulit telur yang retak, menumpahkan isinya diatas salah satu mangkuk batu berisi sundubu-jiggae yang baru saja ia keluarkan dari oven. Telur mentah mendarat mulus diatasnya. Begitu ia ingin menumpahkan telur kedua, perutnya terasa terbelit. Seperti kain perasan yang dipelintir, perutnya menjadi begitu mual. Younji membekap mulutnya sendiri, menahan isi perutnya yang hampir keluar.

Onew yang sejak tadi bersandar pada konter dapur memerhatikan Younji. Bingung dengan sikap Younji yang aneh. Saat Younji berlari dengan cepat menuju wastafel, Onew masih tak mengerti apa yang terjadi tapi tetap mengekor. Younji mencoba memuntahkan sarapannya pagi tadi, tapi tak ada yang keluar. Perutnya masih terasa begitu mual. Onew menatap Younji dengan bingung, kenapa lagi? Ia tak mengerti apa yang sedang terjadi, tapi tangannya yang besar menepuk-nepuk pelan punggung Younji, membantunya agar merasa lebih baik.

“Kau sakit?” Onew bersuara setelah Younji mencuci mulutnya. Younji menggeleng pelan. Setidaknya, itulah yang ia rasakan. Selain mual yang tiba-tiba menyerang, tidak ada gejala-gejala sakit yang ia alami.

“Mungkin kau terlalu lelah.” Onew berlari kecil menghampiri Younji. Disodorkannya segelas air hangat dan memaksa Younji untuk meneguknya—sekedar untuk membuat perutnya lebih nyaman, “Biar aku yang lanjutkan.”

“Tapi—“ Younji memprotes, tak yakin bisa menyerahkan urusan dapur pada Onew. Namun sayangnya, ia tak bisa menyelesaikan kata-katanya karena Onew dengan cepat melekatkan jari telunjuknya dibibir Younji, memaksanya untuk bungkam.

“Hanya tinggal mencampurkan telur, bukan?” sahut Onew menganggap enteng. Younji mengangguk, meski ia tahu Onew tak lagi memerhatikannya. Sekarang posisi mereka terbalik, Younji-lah yang bersandar di konter dapur dan menatap Onew lekat-lekat. Perutnya kembali terasa dipelintir, namun tidak membuatnya mual seperti tadi. Meski Younji tak mengerti benar, tapi ia tahu perutnya terpelintir untuk alasan yang berbeda. Cuplikan saat tangan Shinyoung dan Onew saling bertumpu kembali diputar di dalam memori Younji. Tiba-tiba, ia merasa aneh. Rasanya, ia tak suka jika melihat suaminya berdekatan apalagi bersentuhan dengan wanita lain. Astaga, apakah Younji telah benar-benar menikmati perannya sebagai seorang istri? Apakah Younji.. cemburu?

“Sudah selesai.” Onew memalingkan wajahnya, memamerkan senyum manis miliknya seorang. Jantung Younji melompat-lompat. Perutnya bergemuruh, seperti ada ratusan kupu-kupu yang berterbangan di sana.

***

“Noona, bagaimana menurutmu dengan kalung itu?” Taemin menyesap susu pisangnya sembari menunjuk sebuah perhiasaan yang terpajang di kaca display.

“Memangnya kau mau beli untuk siapa?” tanya Younji lagi. Tadi Taemin tiba-tiba saja menghubunginya, meminta bantuan Younji untuk memilih perhiasan yang ingin ia berikan sebagai kado pada seorang kenalannya. Younji agak kaget. Tidak biasanya Taemin peduli pada orang lain, apalagi sampai berpikiran untuk membeli kado segala. Makanya, Younji yakin kenalan yang Taemin maksud pasti orang yang penting.

Taemin memberengut kesal. Mengapa Younji tak melepaskannya kali ini saja? Tidak bisakah Younji membantunya tanpa bertanya apa-apa?

“Untuk Eunhye.” jawab Taemin akhirnya, sangat berat hati. Younji menghentikan langkahnya. Ia menatap Taemin dengan intens. Sejak awal Younji memang curiga pada Taemin yang berbaik hati menawarkan kerja sambilan pada teman sekolahnya sekaligus sahabatnya, Eunhye, di café tempat mereka bekerja. Tapi Younji pikir…

“Kupikir Eunhye dan Jongin pacaran, bukan begitu?”

”Tidak!” cetus Taemin cepat. Taemin mengerjap berkali-kali saat menyadari tingkahnya yang berlebihan, “Maksudku, mereka tidak pacaran. Kami bertiga berteman, hanya itu noona.”

”Oh.” Younji mengangguk. Ia tersenyum polos—setengah menggoda—pada Taemin, “Berarti, kau yang menyukai Eunhye, iya kan?”

”Iya, eh! Bukan, maksudku tidak! Kan sudah kubilang kami berteman!” Taemin salah tingkah. Wajahnya memerah. Rona merah itu kini menyebar ke telinganya dengan cepat. Younji terkekeh. Lucu sekali Taemin ini. Akhirnya, karena kasihan terus-terusan menggoda Taemin, Younji melihat kalung yang tadi Taemin tunjuk sekali lagi. Setelah Younji berkomentar bahwa kalung itu memang akan terlihat bagus jika dipakai oleh Eunhye, Taemin segera melesat masuk dan membeli kalung itu.

Sebagai ucapan terima kasih, Taemin mentraktir Younji makan.

“Younji?” seorang wanita yang duduk sendirian di kedai makan menyapa Younji. Awalnya, Younji lupa, siapa wanita yang menyapanya itu? Tapi saat Taemin mendengus di sampingnya dan menggumamkan sebuah nama, barulah Younji ingat siapa wanita itu.

“Oh, annyeong haseyo Shinyoung eonni.” Younji berjalan menghampiri Shinyoung. Taemin memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket, mengekor Younji dengan malas sambil memalingkan wajahnya ke arah mana saja, asal tidak menatap Shinyoung.

“Sedang apa?” tanya Shinyoung ramah, tak memedulikan sikap Taemin yang menjengkelkan. Shinyoung mengisyaratkan Younji untuk duduk di sampingnya. Karena merasa tidak enak hati jika menolak, maka Younji pun duduk di samping Shinyoung. Taemin mengomel panjang lebar, enggan duduk semeja dengan Shinyoung.

“Ah, maaf, aku angkat telpon dulu.” Younji menggoyang-goyangkan ponselnya yang berdering disela-sela perbincangan ringannya dengan Shinyoung. Younji agak bernafas lega. Rasanya canggung karena Shinyoung berusaha mengakrabkan diri dengannya. Bukannya apa-apa. Shinyoung terlihat seperti orang baik. Ia juga sangat ramah dan pintar memulai pembicaraan. Tapi, setiap kali ia melihat Shinyoung, kejadian kemarin siang terulang lagi. Dan sama seperti saat itu, perasaan aneh itu kembali menghampirinya, membuat ia hampir sesak.

Shinyoung menatap Taemin yang duduk di depan Younji dengan tatapan mengejek. Taemin menyadarinya, ia balas menatap dengan tak kalah kesalnya. Mendapat tatapan seperti itu, Shinyoung hanya menggelengkan kepalanya dan terkekeh pelan. Betapa kekanakkannya pria yang akan memasuki universitas tahun depan ini.

Younji menatap layar ponselnya tak percaya. Mengapa Onew menghubunginya? Awalnya Younji ragu, harus menerima telponnya atau tidak. Tapi daripada Onew mengomel tak jelas, lebih baik ia terima saja. Siapa tahu ada hal yang penting.

“Yeob—“ belum sempat Younji menyelesaikan sapaannya, Onew langsung memotong.

“Eodisseo? Jigeum eodisseo?” sergah Onew buru-buru. Younji menatap Shinyoung dan Taemin bergantian, lalu merendahkan tubuhnya dan berjalan keluar agar bisa berbicara dengan lebih leluasa.

Taemin menopang dagu, menatap jari-jari tangannya.

“Hei, bocah.” panggil Shinyoung. Taemin hanya menatap sekilas, bahkan tak bersedia menjawab panggilan Shinyoung.
“Kau masih marah karena semalam—saat aku mengangkat telpon dari temanmu?” lanjut Shinyoung.

“Tuh, kau tahu. Lalu mengapa bertanya?” cemooh Taemin. Ia kesal sekali. Masih kesal pada wanita yang seenaknya mengangkat telpon dari Eunhye, membuat teman—wanita yang ditaksir—nya berpikir kalau Shinyoung adalah kekasihnya. Yang benar saja, masa wanita yang lebih tua darinya ini menjadi kekasihnya? Dalam mimpi pun tak akan terjadi.

“Aw!” ringis Taemin sambil memegangi keningnya. Shinyoung baru saja memukul keningnya menggunakan sendok yang ia pegang.

“Jangan memakiku di dalam pikiranmu.” Shinyoung meletakkan sendoknya diatas meja. Ia menarik nafas dalam-dalam. Terkadang menghadapi seorang bocah memang lebih sukar ketimbang menghadapi klien, “Maaf karena aku seenaknya saja mengangkat telponmu, tapi kupikir mungkin telpon yang penting. Mana ku tahu kalau ternyata yang menelpon adalah pacarmu.”

”Bukan pacarku!” bantah Taemin, “Sudah kubilang sejak semalam dia bukan pacarku!” memang semua orang sulit sekali dicuci otaknya? Bukankah sudah Taemin katakan berkali-kali hingga mulutnya berbuih kalau Eunhye bukanlah pacarnya? Memang, Taemin menyukainya, tapi kan mereka belum pacaran.

Shinyoung memutar bola matanya, mengabaikan kalimat-kalimat Taemin selanjutnya. Memang benar, bocah ini sulit dihadapi—tidak pernah merasa puas sih.

***

Onew menatap sekeliling dengan panik. Ia datang ke kampus Younji—untuk menjemput istrinya, tapi wanita itu tak muncul. Dan sekarang, Onew menghampiri tempat kerja Younji, wanita itu juga tak tampak.

“Yaa, jangan bertingkah berlebihan. Kenapa kau harus sepanik ini? Kalau saja Younji tersesat, ia pasti punya cara untuk kembali.” kata Jonghyun dengan nada bosan. Sejak tadi Onew gelisah bukan main. Heran. Memangnya Younji itu anak kecil yang harus terus diawasi?

Onew mengabaikan Jonghyun. Ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Younji. Bunyi nada sambung yang didengarnya semakin membuat ia gelisah.

“Yeob—”

”Eodiseo? Jigeum eodiseo?” potong Onew. Jeda beberapa saat sebelum akhirnya Younji menjawab dan membuat Onew menghembuskan nafas kehidupannya dengan normal kembali.

“Aku sedang bersama Taemin. Ada apa?”

”Aku mencemaskanmu.” aku Onew tanpa merasa canggung. Ia menunggu balasan yang akan dilontarkan Younji, tapi mungkin wanita itu kini tengah mematung di tempatnya berada karena pengakuan yang tak disangka-sangka. Onew sendiri sebenarnya tak ingin mengatakannya dengan begitu gamblang. Entahlah, kalimat itu menyelip begitu saja.

“Lain kali kabari aku dulu, oke?” tukas Onew. Suaranya melembut. Nada khawatir yang sedari tadi bersemayam dalam suara dan gerak-geriknya langsung lenyap. Sebuah bola kertas mengenai muka Onew lalu mendarat dipangkuannya setelah ia memutuskan sambungan telpon.

“Brengsek, jangan bermesraan dihadapanku!” omel Jonghyun. Onew hanya memberikan seringaiannya dengan maksud mengejek sambil melempar kembali remasan bola kertas tadi—yang diyakini Onew adalah kertas brosur yang dibagikan di ujung jalan—pada Jonghyun yang langsung menghindar.

“Jadi..” Jonghyun mencondongkan tubuhnya pada Onew, agak membuatnya ngeri dan mendorong tubuhnya bagian atasnya ke belakang—sejauh mungkin dari Jonghyun, “Kapan kalian berencana akan memiliki anak?”

“M—mwo!?” hampir saja Onew terjatuh dari kursi yang ia duduki. Buru-buru ia menyambar pinggiran meja untuk menjaga keseimbangannya.

“Ada apa? Kau malu karena aku bertanya seperti ini?” Jonghyun terkikik geli, “Kau biasanya tidak pernah peduli meski aku bertanya hal yang lebih tak senonoh.”

Onew menambahkan gula dalam gelas kopinya, lalu mengaduk selama mungkin untuk menunda waktu.

“Masalah anak.. kurasa masih terlalu cepat untuk kami.” bohong Onew lancar. Heran, sejak kapan ia pintar berbohong seperti ini? Tapi, tidak bisa dibilang sepenuhnya berbohong. Memang benar. Masalah anak terlalu cepat bagi mereka. Karena sampai saat ini mereka sama sekali belum membuat rencana sampai ke situ. Lalu, sampai sejauh apa rencana yang telah mereka rancang? Onew tak tahu bagaimana dengan Younji, tapi untuknya, ia baru merencanakan untuk dekat dengan Younji. Itu saja sudah cukup.

“Ngomong-ngomong tentang hal tak senonoh, apakah Younji tahu tentang kebiasaanmu dulu—yang suka bermain-main itu?” tanya Jonghyun lagi. Sudah lama sejak terakhir kali ia bisa bersantai seperti ini bersama Onew. Terakhir kali karena Hyunji masuk dalam kehidupannya, ia tak punya cukup banyak waktu untuk sahabatnya. Lalu setelah Hyunji pergi, Jonghyun sibuk meratapi nasibnya, ia bahkan menutup dirinya dari dunia luar. Dan sekarang, karena Onew sudah menikah, otomatis waktu Onew yang berharga itu menjadi milik Younji sepenuhnya. Susah sekali mencocokkan jam kosong mereka sekedar untuk bercakap-cakap.

Onew berdeham pelan, terlihat canggung. Jonghyun langsung mengerti kalau Onew belum buka mulut pada Younji. Dan sekarang, giliran Jonghyun yang mengembalikan saran yang pernah Onew lontarkan padanya, agar tidak membiarkan masalah menjadi berlarut-larut. Akhirnya, Onew mengerti bagaimana sulitnya Jonghyun kala itu ketika ia harus mengakui kebohongannya yang memungkinkan segala sesuatu yang telah pada tempatnya berubah. Onew tak ingin Younji memandangnya jijik saat kebiasaan buruknya diketahui. Tapi tak mungkin juga ia menutup hal ini selamanya. Suatu hari nanti—segera—Onew pasti akan mengungkapkannya.

“Aneh, kenapa hari ini aku penasaran sekali?” gerutu Jonghyun. Ada satu pertanyaan lagi yang menyangkut dipikirannya, “Apa yang menjadi alasan Younji hingga ia membalikkan punggungnya di depan altar pada hari pernikahannya dan Minho?” tanya Jonghyun tanpa tedeng aling-aling. Bukan salah Jonghyun, pikir Onew. Dipikir sahabatnya hal itu bukanlah hal yang tabu untuk ditanyakan.

Astaga, jangan tanya pada Onew! Dia—yang notabenenya merupakan suami Younji—juga tak tahu alasannya sampai detik ini. Onew sama butanya dengan Jonghyun dan orang luar lainnya dalam masalah ini. Namun, wajarkah jika Onew bilang yang sesungguhnya? Kenyataan bahwa ia tak tahu menahu tentang alasan Younji?

“Karena dia menyadari bahwa orang yang tepat untuknya bukan lah pria yang berada di sampingnya saat itu.” gurau Onew terdengar pasti.

Sial, sepertinya hari ini adalah hari yang buruk untuk Onew. Menyesal ia mengajak Jonghyun untuk mengobrol. Bukannya menjadi lebih baik, perasaan Onew justru semakin tak karuan. Selain karena perasaannya anehnya pada Younji—yang sepertinya terus berkembang—ia jadi mendapat beban lain, ia harus mencari waktu untuk berbicara dari hati ke hati dengan Younji untuk mengungkapkan aktifitasnya dulu serta mencari tahu kebenaran dari batalnya sebuah pernikahan yang seharusnya terjadi antara Younji dan Minho.

***

“Yo!” sapa Key riang. Minho menatap sambil lalu, tidak ada minat untuk mendengar celotehan Key.

“Mengapa wajahmu ditekuk seperti itu?” Key mengernyit. Ia duduk di samping Minho tanpa di suruh. Minho tak langsung menjawab. Ia hanya menyeka keringatnya menggunakan handuk kecil. Matanya menewarang kosong menembus lapangan basket kampus.

Key menyeringai, “Kau memikirkan Jungmi?” terkanya.

Kali ini Minho menatap Key, melotot.

“Memangnya siapa Jungmi itu hingga ia bisa membuatku seperti ini—tak berdaya?”

“Akui sajalah, dia menarik—kau tertarik padanya!” tukas Key.

“Tutup mulutmu, Key!” desis Minho dari balik deretan giginya yang rapi. Bagaimana mungkin Minho bisa mengakui Key sebagai sahabatnya padahal tak sekali pun Key berada di pihaknya—menyetujui kata-katanya.

“Jangan keras kepala lagi, Minho. Younji tak mungkin beralih padamu! Wanita sialan itu sudah punya suami—dia sudah menikah, camkan itu!” teriak Key geram. Bodoh sekali Minho. Masih banyak wanita yang bahkan jauh lebih cantik dari Younji, jadi mengapa ia harus bermuram durja seperti ini? Sungguh tolol.

Minho mencengkram kerah baju Key erat, tangannya yang lain terkepal. Minho menarik Key berdiri, tak peduli meski Key kesulitan bernafas karena kerah bajunya hampir mencekik lehernya.

“Jaga ucapanmu, Key. Aku tak peduli meski kau adalah temanku, namun jika sekali lagi kau menjelek-jelekkan Younji, aku tak akan berpikir ulang untuk merontokkan gigi-gigimu!” hardik Minho geram, tak terima jika Key menyebut nama Younji dengan ucapan tercela macam tadi.

Key tak takut, ia justru tertawa sinis. Dihempaskannya tangan Minho dengan kasar lalu membenarkan letak kerahnya.
“Apa yang sudah dilakukannya hingga kau menjadi buta seperti ini?” nada suara Key terdengar merendahkan, “Kau bahkan tak berani mengakui perasaanmu pada Jungmi. Aku saja—yang hanya berperan sebagai orang luar—sudah bisa melihat perasaanmu, lalu mengapa kau tak bisa, brengsek?!” Key menekankan jari telunjuknya ke dada Minho, mendorongnya beberapa kali. Minho terdiam. Ia mengepalkan kedua tangannya seerat mungkin. Matanya pun kini terpejam.

“Tidak mungkin..” gumam Minho, “Aku tak mungkin menyukai Jungmi.” lanjutnya dengan suara parau. “Mustahil aku menyukainya, mustahil!” kali ini Minho berteriak. Ia membuka matanya dengan marah. Namun kemarahan dalam sorot matanya segera berubah ketika ia melihat sosok seorang wanita yang mematung beberapa meter di belakang Key. Minho melangkah mundur beberapa langkah, tak menyangka jika Hwang Jungmi—wanita yang sedang mereka bahas akan mendengar semua kata-katanya.

Key ikut menoleh ke belakang. Matanya terbelalak. Ia tak tahu jika Jungmi akan mendengarnya, kalau tahu akan begini Key pasti tak akan berkomentar apa-apa. Jungmi memutar tubuhnya cepat. Langkah-langkah lebarnya berubah menjadi lari.

“Kau puas sekarang—kau puas telah menyakiti hatinya? Dengarkan aku baik-baik, Choi Minho. Tidak akan pernah—camkan itu, tak akan pernah—kau menemukan wanita seperti Jungmi lagi dalam hidupmu. Kejar saja wanita brengsek itu, mohon padanya kalau perlu agar ia bersedia kembali padamu. Tapi ingatlah, ketika kau mendapatkan wanita itu lagi, kau akan menyadari apa yang telah kau lewatkan.” Key menatap sinis. Ia masih terus melemparkan tatapan dingin sampai ia memutar tubuhnya.

Minho menghempaskan dirinya diatas tanah—tak takut pakaiannya akan kotor. Mengapa semuanya menjadi semakin buruk saja? Tak ingin Minho menyakiti siapa pun—apalagi wanita. Tapi anehnya, semakin ia menjaga jarak dari masalah, masalah justru semakin gencar mendekatinya.

“Aaaaaaakh!” Minho berteriak lepas, mengeluarkan semua rasa frustasinya sambil mencengkram erat rambut hitam bergelombangnya. Apalagi yang harus ia lakukan?

***

Onew duduk termenung di sofa. Percakapannya dan Jonghyun siang tadi masih terngiang jelas. Gawat. Mengapa ia tak bisa mengusir kalimat-kalimat mengganggu Jonghyun?

“Film klasik lagi?” suara Younji terdengar setelah ia duduk di samping Onew. Onew memalingkan wajahnya. Younji duduk tak jauh darinya—tak sejauh biasanya. Otak Onew bekerja lambat untuk mencerna ucapan Younji. Terselip nada jengkel di sana.

“Apa?” tanya Onew balik sambil mengerjap.

“Kita akan nonton film klasik lagi?” benar, ada nada jengkel dalam suara Younji.

“Kau tidak suka?”

“Bukannya tidak suka.. Uhm.. Aku tidak tertarik.” aku Younji jujur. Entah datang dari mana keberaniannya itu. Ia hanya ingin mengatakannya saja. Aneh juga sebenarnya, padahal sampai kemarin ia masih merasa sangat kaku. Lalu, sekarang? Ia tak berpikir sebanyak biasanya sebelum melakukan sesuatu di depan Onew, mungkin itulah mengapa ia mulai menjadi seperti dirinya sendiri.

Onew tergelak. Senang sekali rasanya. Mereka tidak terlihat palsu, tidak sebanyak sebelumnya. Younji menatap Onew heran. Apakah kata-katanya tadi lucu?

“Jadi kau mau nonton apa? Pilih saja kasetnya di sana.” pinta Onew setelah ia menghentikan gelak tawanya yang berlebihan. Younji melompat kecil menuruni sofa menuju tempat yang Onew tunjuk. Setelah beberapa menit memilah kaset, Younji memutuskan untuk menonton film komedi romantis. Saat ia beranjak kembali ke sofa, ia melihat Onew tengah tersenyum sembari menatap layar ponselnya dan mengetik sesuatu—balasan SMS sepertinya.

Younji duduk di samping Onew, cukup dekat. Ia menatap Onew yang masih tersenyum kecil. Apakah Shinyoung mengiriminya SMS? Apa hubungan mereka berdua?

“Siapa?” suara Younji sangat pelan. Ia menggigiti bibirnya sendiri setelah pertanyaan itu terlontar. Mengapa ia ingin tahu? Kalau memang Shinyoung mengirim SMS pada Onew, lantas mau apa dia?

“Oh?” Onew menyimpan ponselnya ke dalam saku celana dan menoleh sambil lalu, “Eomma meminta kita untuk menemaninya sarapan besok. Aku sudah mengiyakan—kau tak keberatan, bukan? Eomma agak kesepian akhir-akhir ini.”

“Te—tentu saja.” jawaban Younji terbata. Ia merasa bodoh, mengapa tadi ia berpikiran yang tidak-tidak? Setelah itu, hening melanda mereka. Younji cukup terhanyut dalam film yang ia pilih. Sementara Onew, tak terlalu suka film romantis. Meski tak menyimak jalan ceritanya, tapi Onew terus mengikuti pergerakan para pemain di layar kaca. Setelah berpuluh-puluh menit, muncullah sebuah adegan yang membuat pasangan itu merasa canggung—adegan romantis.
Onew berdeham, ingin mengusir kecanggungan mereka agar menjadi tak kentara. Onew menggerak-gerakkan tangan yang berada di sisi tubuhnya dengan gelisah. Namun gerakannya salah. Tanpa disengaja, ia justru menyentuh tangan Younji. Onew terdiam—kali ini ia mengabaikan film yang ada di depannya. Tubuhnya tiba-tiba saja memanas. Perlahan—perlahan sekali, Onew menengok ke samping. Younji balas menatapnya, juga terlihat canggung. Onew memaksa gumpalan di kerongkongannya untuk turun lalu menelan air liurnya. Tubuhnya semakin memanas

Sedikit demi sedikit, Onew memperkecil jarak mereka. Kini wajah Onew tepat berhadapan dengan Younji. Tangannya merengkuh wajah Younji. Matanya terpejam saat ia mencumbu mesra Younji. Hal ini cukup gila. Tak terbayangkan sebelumnya jika ia akan melakukan perbuatan semacam ini. Kendati demikian, Onew menikmati tiap detik yang terlewatkan.

Younji tak meronta, barangkali  ia juga menikmatinya. Sentruman kecil menyambar saat bibir Onew menempel,  sentruman itu bergerak turun melalui tulang punggungnya, sampai-sampai tubuhnya bergetar pelan. Reaksinya tak luput dari pengamatan Onew. Pria itu menyeringai puas, bermaksud memperdalam kemesraan mereka. Sayangnya, tangan Younji terentang lurus. Ia mendorong tubuh Onew, memisahkan mereka berdua. Onew membuka matanya heran dengan penolakan Younji yang tiba-tiba, padahal detik sebelumnya mereka sama-sama menikmatinya.

Younji membekap mulut erat-erat. Awalnya, Onew pikir Younji menyesali tindakan mereka. Akan tetapi, kala pundak Younji terangkat berkali-kali dan ia segera berlari menuju wastafel, Onew sadar bukan penyesalan yang mendasari tindakan tadi.

Onew ikut berlari, mengejar Younji yang lagi-lagi mencoba untuk memuntahkan isi perutnya. Tangan Onew mengelus punggung Younji.

“Kau muntah lagi?” entah sudah kali ke berapa Younji muntah dalam sehari ini saja. Belum lagi di tambah kemarin.

Nafas Younji terengah-engah. Perutnya yang mual membuat ia menjadi begitu lemas. Hampir saja Younji terjatuh di lantai, kakinya tiba-tiba kehilangan tenaga. Dengan sigap Onew melingkarkan lengan kokohnya dipinggang Younji.

“Kau baik-baik saja?” alis Onew saling bertautan. Ia sangat mengkhawatirkan Younji. Tanpa menunggu aba-aba, ia menggendong Younji dan membaringkannya diatas tempat tidur. Wajah Younji terlihat begitu pucat, membuat Onew menatap miris. Peluh-peluh keringat membanjiri wajah Younji, semakin menambah alasan Onew untuk khawatir.

“Besok pagi-pagi sekali, kita akan mampir ke rumah sakit sebelum mengunjungi eomma. Kau setuju kan?” Onew mengelus wajah Younji. Dikibaskannya beberapa helai rambut yang tersangkut agar ia bisa melihat ekspresi Younji lebih jelas.

Younji mengangguk lemah. Tenaganya seperti tersedot dalam lubang air. Tiba-tiba menghilang begitu saja. Bahkan ia tak punya tenaga untuk memikirkan ciuman mereka tadi. Saat Onew membalikkan tubuhnya, Younji memaksa tangannya untuk terangkat dan menarik ujung baju Onew.

“Onew-ah..” tak disangka-sangka, Younji menyebut nama Onew tanpa embel-embel sepeti sebelumnya. “Mau ke mana?” suara Younji terdengar sangat pelan, akibat ia memaksakan dirinya untuk berbicara.

“Kau harus istirahat. Aku tak mau mengganggumu.” jawab Onew lembut. Sebenarnya, pertanyaan itu terdengar konyol ditelinga Onew. Bukankah alasannya sudah jelas? Younji sakit, dan ia harus istirahat, makanya Onew keluar. Jadi mengapa Younji masih saja bertanya?

“Tapi kehadiranmu di sini sama sekali tidak menggangguku.” Younji menurunkan tangannya. Ia berbalik dari posisi tidurnya sambil menarik selimut cukup tinggi. Wajahnya kini merona—pasti. Tak tahu mengapa, ia merasa begitu terlindungi jika ada Onew di sisinya. Rasanya begitu aman, seolah tak ada siapa pun—atau apa pun—yang akan bisa menyakitinya.

Onew kehabisan kata-kata. Mimpikah ini? Benarkah Younji sedang mengisyaratkan agar ia tidur di sisinya? Onew tersenyum senang. Mimpi pun tak apa, ia sudah merasa sangat diberkati. Ia memutari sisi tempat tidur, lalu berbaring di samping Younji. Senyum lebarnya masih melekat erat di sana, sulit untuk dihilangkan—nyaris mustahil!

Suara nafas Younji memelan dan menjadi lebih teratur. Ia telah tertidur sekarang. Onew merogoh saku celana mencari ponsel. Sambil mencari nama kontak Nyonya Lee dan menekan tombol dial, Onew mengusap-usap rambut Younji.

“Eunri-ssi,” panggil Onew begitu Nyonya Lee mengangkat telpon. Onew memelankan suaranya agar tak mengganggu tidur Younji, “Besok mungkin kami akan datang terlambat. Aku mau membawa Younji check-up ke rumah sakit.”

“Apakah Younji sakit? Bagaimana keadaannya sekarang?” suara Nyonya Lee dari seberang sana terdengar panik.

“Dia muntah-muntah sejak kemarin, tapi sepertinya tidak demam.”

“Dia.. muntah? Omo! Apakah Younji hamil?” terka Nyonya Lee. Onew terperanjat. Baru saja ia akan mengomeli Nyonya Lee, tapi diurungkan niatnya. Mungkinkah itu? Onew tak banyak berbasa-basi dengan Nyonya Lee setelahnya. Ia segera memutuskan saluran telpon dan memandangi wajah pucat Younji. Tangannya kembali membelai rambut Younji. Hamil? Tidak masuk akal.

“Pasti dugaan itu muncul semata-mata karena eomma benar-benar menginginkan cucu.” gumam Onew untuk meredam kekhawatirannya.

TO BE CONTINUE . . .

an: 12/02/2012 (14:27)
Bagaimana dgn part ini?? *kayaknya udah lama gak nanya gini*
Untuk memenuhi keinginan(?) readers aku berusaha agar waktu publish nya gak semolor yang nomor 3 kemarin..
Dan hampir 90% komen dari part1-4 pasti nanya alasan Minho-Younji batal nikah, kan? Aku clear-in dulu yah *karena ada beberapa komen yang gini bunyinya, ‘kenapa ya Minho-Younji batal nikah? Aku lupa.’* Mungkin karena aku publishnya rada panjang selisih waktunya, jadi kalian pada lupa-lupa ingat. Tapi, alasan batalnya pernikahan Younji-Minho memang belum aku ungkap dan kalian masih harus bersabar menunggu beberapa part lagi *tapi kurasa kalian udah dapat hint dari part 4 ini*
Oiya, satu lagi, berhubungan ini awal bulan dan aku hampir dibuat gila dengan laporan, belum lagi jadwal kedatangan audit tgl 9 nanti #curcol,
jadi komen kalian bakal telat kubalas..

 

©2011 SF3SI, Yuyu.

This post/FF has written by Yuyu, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

128 thoughts on “Married By Accident – Part 4

  1. penasaran banget sama lanjutannya….
    itu anaknya minho kan?????
    bagi yg baca teasernya pasti udah tau…
    tapi aku penasaran banget sama alasan minho sama younji nggak jadi nikah….

  2. .DAEBAK. .JJANG. .bngung dh mau k0men,.penasaran beud ma lanjutannya. Di tunggu yah,post.ny part 5. .sem0ga gk lama. .d^o^b

  3. Waa baru baca… seruuu…
    aku suka Couple ini ..
    udah ada tnda2 saling suka tuh!!

    arrgghh kalo inget teasernya itu anaknya minho kan?? yaa Onew harus hancur lagi hatinya karena kejadian yg sama T.T *mendingmaaku #PLAK

    kereen eon.. lanjutt yaaaaa…

  4. sebelumnya maaf.. sebenarnya komen yg di atas itu aku.. tp ga tau knp jadi gitu T.T mian.. aku ga ngerti cara ngpusnya.. skali lagi Mian

    Waa baru baca… seruuu…
    aku suka Couple ini ..
    udah ada tnda2 saling suka tuh!!

    arrgghh kalo inget teasernya itu anaknya minho kan?? yaa Onew harus hancur lagi hatinya karena kejadian yg sama T.T *mendingmaaku #PLAK

    kereen eon.. lanjutt yaaaaa…

  5. puas bgt sama part ini.
    Gak lama, panjang, ada banyak emosi, banyak penjelasan-penjelasan kecil dan clue clue. Pastinya KEREN!

    Aku bkal tetap nunggu kok, semangat Yuyu. . .

  6. ke to the ren, keren. Hehehe
    onew blm tau jd yah kalo younji hamil anaknya minho?😮
    makin bagus aja hubungan onew sm younji,
    kyknya sih krn si mino lbh cinta sm jungmi ini ya, makanya younji ngerasa minho gak tepat buat dia.
    Semoga perkembangan hub younji-onew makin cepet aja.

  7. disaat onew udah muncul mesumnya(?)
    disaat onew n younji udah tumbuh getar2 cinta
    disaat onew n younji lg romantis2an n lg kisseu, npa younji harus mual sih onn??
    mual masuk angin sih gak apa2 tp ini mual hamil kan ya.
    anaknya minho pula*lemes*.
    Skrg udah tau trauma masa laluny onew, npa sering ke bar n main2(?) m yeoja g bner. Trnyta itu smua krna miyoung.
    udh punya pcr n msh macarin onew, trus hamil m pcrny. Bner2 daebakk hancurny prasaanny onew.
    Mudah2an ntar onew g benci m younji spt onew bnci m miyoung. Soalnya kan younji beda bget m miyoung. Miyoung gt dr awal udah serakah*emosi*.
    JH*poke jh*, iri ya liat org mesra2an. Salah sapa istri kabur wkwk
    nice dh onn, untuk laporan2ny fighting!! Onn.

  8. Keren…..
    Aku reader baru thor,jadi lompat deh bacanya hehe
    Younji hamil?anak siapa tu….
    Ditunggu lanjtanny y thor,jg lama2🙂

  9. Masih keren sangat sangat keren, daebak haha. Gemes liat TBC *.*
    kemaren aku baca di blog pribadinya yuyu eonni, sekarang disiniiii. Gak bose ehh dibaca berulang-ulang seru banget abisnya😄
    daebak deh buat yuyu eonni ^^
    ayo part5 dimana kauuu😄

  10. karena udah telat balas komennya, aku ucapin makasih aja yah~
    jeongmal gomawoyo

    @Park Min Mi: makasih udah komen^^

    @ Liitaeminst: makasih udah komen^^

    @ Diantebes_Haneul: makasih udah komen^^

    @ Anonymous: makasih udah komen^^

    @ Mayujita: makasih udah komen^^

    @ hae_fishy: makasih udah komen^^

    @ anrian: makasih udah komen^^

    @ min2me: makasih udah komen^^

    @ ayunarra: makasih udah komen^^

    @ lee’s wife: makasih udah komen^^

    @ ~Choi.hyun_ae~: makasih udah komen^^

    @ Cho Jeekyung: makasih udah komen^^

    @ Vinaa: makasih udah komen^^

    @ Taecha_wol: makasih udah komen^^

  11. Akhirnya, setelah lumayan lama menunggu keluar juga part ini :3
    Dan nggak kecewa juga, walaupun lama kita nunggu tapi ceritanya memuaskan! Malahan aku sekarang penasaran abis sama lanjutannya -_-

    Terus itu kenapa Younji eonni jadi mual-mual gitu?
    masak hamil? Hamil sama siapa? OAO
    Dan akhirnya mereka sama-sama cinta, eaeaa

    Di tunggu next partnya ya eonn, fighting!!😉

  12. onnie keren!!!!
    seneng tingkat dewa, akhirnya ff yg ini cepet keluarnya. hahaha ^^
    aku penasaran sm reaksi onew waktu tahu itu bukan anaknya.
    pasti ribet deh.
    can’t wait for the next part!!
    onnie fighting! ^o^

  13. Wwaaaaaa… Senangnya younji sama onew oppa makin dekkeettt!!.

    Palli onnie! Aku dah ga sabar baca lanjutannya!! Palli palli palli!!
    Hehehehehehe.. *maksa bener*

    Eh.eh.eh.eh..
    ,Salam kenall Hyu here.!

  14. younji hamil yha? pasti itu…cz di prolognya kan younji hamil tapi gak sama onew…tapi sma minho….ya kan eonni???
    eonni,,,jgn lama -lama ya publishnya!!!😀
    P.E.N.A.S.A.R.A.N.
    fighting eonni…
    ohya…..di incomplete marriage kan jonghyun sdh balik sama hyunji ya??? tp kok disini masih pisahan ya??? eonni,aku msh bingung yg itu…yg jonghyun sama hyunji… hehehehehe🙂
    panggil saja “momo” 96line, (reader yg tukang gonta-ganti id.).

    1. yah, menurut prolog sih begitu..

      hai momo,
      begini..
      setting waktunya utk cerita MBA ini emang diambil waktu Hyunji baru pergi ninggalin Jonghyun
      Diawal cerita kan, si jjong lagi mabuk berat, dia lagi sedih karena ditinggal Hyunji
      nah, kalo soal IM, hubungannya Jonghyun-Hyunji, apa yang buat kamu bingung??
      tanya aja,
      mumpung aku mau jawab #loh
      bercanda, pasti kujawab, tanya aja

  15. ini nih yg ditunggu-tunggu dan part ini memuaskn.ceritany panjang dan menarik.gonawo eonni uda buat cerita n dpublish *deepbow

    peasaran ma next partnya…..aku.penasaraan ama kisah cintany taemin.nanti dceritain jgkan??

  16. Wahhh, udah ada bunga2 cinta tuhhh..

    Omoo, kok mual sihh???
    hem, apa yg akan terjadiii??
    hahahhaha

    d tnggu part selanjutnyaa..
    Hwaiting!!!

  17. one day, aku iseng cari cari ff (sebenarnya aku ngga terlalu suka ff sih),
    begitu cari di internet, mataku tertuju ke blog yang rapi ini. trus, kebetulan, karena ada wajahnya onew oppa terpampang, refleks aku jadi interest buat baca. dan ternyata, aku ngga salah tempat. ini ff yang baguuuus banget. d^^b aku jadi semangat ngumpulin part-part sebelumnya.
    ditunggu kelanjutannya yah author:) hwaitiing!

  18. akhirnya… nih part keluar juga..
    author… thanks udah bikin part ini pake acara onew udah mulai deugun2..😄 aku bayangis semua adegan di part ini lho… onew! aku ga nahan bayangin setiapp adegan dia salting😄 #plak!

    lanjut ya author😉 fighting!

  19. Onnnieeeeeeeeeee~
    Aku datangggg..

    WAH!! Aku ngakak waktu baca bagian New-Ji ngomongin bayi.

    “Bukan tentang bayi! Maksudku tentang perhatian yang diberikan oleh eommonim!”

    Bwah! Jeongmal itu menghidupkan suasana banget onn!
    Dan *ehem* masalah kiss scene, hadeuhhhh.. kenapa harus mual sih?
    Entah kenapa aku sekarang lagi suka ‘kiss scene’ mwahaha..

    Oh iya! Onnie! itu Key belum ada pasangannya??
    Klo belom..*narik2 baju onnie*
    Pasangin aja sama Dawn deh hohoho.. Karakternya sesuai onnie juga tak apeu..
    *ngarep
    hohoho..

    Yu Onnie FIGHTINGG!! o^_^o

    1. hoho..
      beneran nih, mau dawn di pasangin sama Key?
      tapi karakternya bakal jungkir balik(?) dari karakter2 dawn yang biasa kamu buat loh
      karna kebetulan utk kasus key, aku udah ada planning sendiri dari lama sekali(?)

      lagi suka sama kiss scene???
      ih, storm genit deh
      *cubit-cubit tangan storm*

  20. Yeaahh,akhirnya muncul juga part4😉
    Suka banget sama couple ini. Bakal sedih bacanya kalo sampe onew tau itu anak minho. Pengen cepet-cepet baca bagian yang uda bahagia hahaha #readerrewel
    Moga younji gak berpaling ke minho walopun dia hamil anak minho. Huaaa,onew oppa,kalo younji ngelukain kamu,oppa sama aku aja #ditabokMVP
    Ditunggu part selanjutnyaaaaa…

  21. seneng rasanya pas baca, onew sama youjin makin deket. aiih, ternyata romantis juga kissing pas lagi nonton film. daebak!😀

  22. ONEW! ONEW! ONEW! *kali ini kibarin kolor onew*
    Seperti biasa yu, aku gak permasalahin apapun disini. Ceritanya terlalu menghanyutkan, ouch~~~
    Semoga kemesraan mereka langgeng. Amiin~ Dan itu.. bayi! bayi! Aku rada sensitif kalo mereka udah ngomongin bayi… Jangan sampe kek ada yg di pikiranku sekarang #prayingforOnewYounji

  23. wah, , younji dah mulai cmburu nh . . .
    Tpi heran, , kykx minho ma younji masih saling syg, knp msti pisah . . . ??

  24. hubungan Onew sama ayam. GAK ADA PUTUSNYA. wkwkwkwk

    nah kan bener ada hubungan kisah cinta yang menyayat hati Onew dengan Shinyoung.

    wah Younji hamil neh. tapi itu anaknya Minho. T_T

  25. Ahh.. Gak kebayang betapa kecewanya Onew kalau tau itu bkan anknya Sama Younji..
    Aduuh..udah bahagia2nya kenapa datang lagi masalah kayak gini..😦

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s