Hyung

Title : ‘Hyung’

Author(*) : Choi Minjin

Main Cast(*) (Tokoh Utama) : Choi Minho, Kim Kibum

Support Cast(*) (Tokoh Pembantu) : Lee Jinki, Kim Jonghyun, Lee Taemin

Length(*) : Oneshot

Genre(*) : friendship, family

Rating(*) : General

Note : Minkey ^^ . dari dulu mbayangin, gimana misalnya kalo minho sama key jadi sodara? heheheh. di fanfic ini Minho agak-agak antagonis gitu. yah, semoga banyak yang suka ya…

Ia tidak tahu siapa dirinya, berapa umurnya, siapa orang tuanya, atau bahkan namanya. Yang ia tahu, ia terbangun begitu saja dari tidur yang panjang, terlalu panjang sampai ia melupakan semua masa lalunya. Dan yang pertama dilihatnya ketika membuka mata adalah empat orang laki-laki yang semua memandanginya seakan-akan ia sakit jiwa.
“Sudah bangun?”
Ia menoleh ke sumber suara. Dilihatnya seorang laki-laki berjas putih, berkacamata, memandanginya. Matanya yang sipit tinggal segaris ketika ia berusaha memfokuskan pandangannya pada wajah pasiennya,”Kurasa dia benar-benar sudah bangun.”
“Benarkah?”seorang laki-laki bermata tajam ikut memandanginya,”Tapi biasanya matanya lebih besar lagi kalau terbuka.”
“Kurasa matanya belum terbiasa dengan cahaya, jadinya masih menyipit.”sebuah suara lembut terdengar. Ia tidak dapat melihatnya, karena orang itu berdiri agak jauh darinya. Ia tidak yakin suara itu milik laki-laki atau perempuan. Terlalu lembut.
“Tapi kurasa dia benar-benar sudah bangun.”sebuah suara terdengar lagi. Kali ini datang dari seorang laki-laki yang agak pendek dibandingkan yang lain. Ia memandanginya terutama matanya,”Lihat! Sudah benar-benar terbuka.”
Semua mendekatinya. Ia dapat melihat keempat orang itu dengan jelas. Si pemilik suara lembut tadi ternyata adalah seorang laki-laki kurus berambut kuning. Ia berusaha membuka mata selebar-lebarnya. Laki-laki bermata tajam tadi berkata senang,”Nah, ini baru matanya!”
Ia berusaha duduk. Si jas putih membantunya. Ia meraba kepalanya yang terbalut perban. Dimana dia? Rumah sakit?
“Kau baik-baik saja? Merasa pusing?”ia memandangi si jas putih yang baru bertanya. Pusing? Bukan. Lebih tepat dibilang hampa. Kosong.
Ia menggeleng. Lalu si jas putih mengacung-ngacungkan jari telunjuk di depan matanya,”Kau dapat melihat ini dengan jelas?”ia memandang sebal pada si jas putih, lalu mengangguk sekedarnya saja.
“Katakanlah sesuatu.”si jas putih menunggu.
Ia hanya diam, malas berbicara. Ia hanya ingin tidur lagi.
“Minho-yah, jangan bilang kau tidak bisa bicara!”si mata tajam memandang ngeri padanya. Yang lain ikut ngeri. Mereka memandang khawatir.
“Minho?”akhirnya ia mengeluarkan suara. Semua orang menghela nafas lega.
“Setidaknya kau masih sama. Wajahmu masih tampan, matamu masih besar, badannmu masih tinggi, dan suaramu masih sama rendahnya. Baguslah.”si mata tajam menepuk-nepuk kakinya. Yang lain mengangguk-angguk.
“Minho itu siapa? Aku?”pertanyaan pendek ini mengakibatkan sunyi sesaat. Semua orang terdiam. Terkejut.
“Hyung, kau…”si suara lembut menatap ngeri. Ia lalu menunjuk dirinya sendiri,”Kau ingat siapa aku?”
Minho memandangnya. Siapa? Hmmm… rasanya ia tidak kenal.
“Hyung, aku ini Taemin. Lee Taemin, ingat? Aku adik sepupumu.”
Minho berusaha mengingat-ingat. Namun tidak ada apapun dalam memorinya. Memorinya kosong melompong. Hanya ada gambar-gambar kabur di situ. Sinar lampu, warna merah, warna putih, selang-selang, sudah.
“Aku Jonghyun, ingat? Aku tetanggamu. Temanmu sejak kecil.”si agak pendek menunjuk dirinya sendiri. Si mata tajam menyambung,”Aku Kibum.”ia ragu-ragu sesaat, lalu menambahkan pelan,”Saudara tirimu.”
“Aku dokter.”si jas putih ikut mengenalkan diri, berkata ceria. Yang lain memandangnya dingin,”Apa-apaan kau ini? Nggak lucu.”Kibum mengeluarkan pandangan lasernya. Senyuman si dokter langsung lenyap.
“Baiklah, aku akan menganalisis gejala ini.”si dokter berkata serius, mencatat sesuatu di atas clipboard,”Ada kemungkinan terjadi semacam amnesia. Tetapi itu belum tentu. Kami akan melakukan pemeriksaan lengkap besok pagi. Sekarang sebaiknya kau istirahat.”ia mengangguk lalu meninggalkan ruangan.
Setelah si dokter pergi, Kibum, Jonghyun dan Taemin memandangi Minho lagi. Minho yang merasa jengah dipandangi, memalingkan wajah. Ia memandangi rangkaian bunga di atas meja di sebelah tempat tidurnya. Ia tahu bunga itu namanya krisan. Ia tahu tempat ini namanya rumah sakit. Jadi dia tidak kehilangan seluruh pengetahuan umumnya kan? Tapi kenapa rasanya kosong sekali?
“Apa kau butuh sesuatu?”Jonghyun memecah keheningan. Minho hanya menggeleng.
“Kau mau ke toilet mungkin? Mau minum susu pisang mungkin? Setelah lima hari koma, mungkin kau jadi kangen susu pisang? Atau kau mau…”Taemin berhenti begitu melihat pandangan Kibum.
“Aku harus pergi.”Jonghyun menyambar tas di atas kursi,”Aku akan memberi tahu langsung pada yang lain.”
“Aku ikut, hyung.”Taemin menyambar jaketnya,”Aku akan kembali lagi besok pagi. Besok hari Sabtu kan.”
Setelah mereka pergi, tinggallah Minho dan Kibum berdua. Minho berbaring lagi. Kibum memandanginya sedih,”Minho-yah..”
Minho meliriknya sedikit. Kibum menenggak ludah sebelum berkata,”Kau jadi seperti ini semuanya karena aku. Maafkan aku.”
Minho tidak mengerti. Ia memiringkan badan, mencoba untuk tidur lagi.
Setelah tidur yang rasanya baru sekejap, Minho terbangun. Ruangan gelap gulita. Ia melirik jam di atas meja yang menyala, baru jam 10. Belum begitu malam. Dilihatnya Kibum tidur di atas sofa. Rasanya aneh dan ganjil melihatnya.
Ia turun dari tempat tidur, mencabut asal saja jarum infus dari pergelangan tangannya. Ia menuju jendela, membuka tirainya dan melihat pemandangan di luar sana. Ia berada cukup tinggi dari permukaan tanah, mungkin lebih tinggi dari lantai 10. Ia dapat melihat mobil-mobil berlalu lalang di bawah sana.
Tadi Taemin berkata bahwa ia koma selama 5 hari? Pantas saja ia merasa sangat pegal. Ia ingin keluar, jalan-jalan menikmati malam di Seoul.
Ia membuka lemari. Disana ditemukannya beberapa helai baju, celana dan jaket. Kira-kira milik siapa semua ini? Ada unsur warna pink hampir di setiap baju. Setelah susah payah memilih dalam kegelapan, -hanya diterangi sebuah lampu kamar-, akhirnya ia menemukan satu baju yang seluruhnya abu-abu, celana yang tidak terlalu ketat, dan sebuah jaket yang cukup bagus baginya. Ia memandangi jaket itu beberapa saat. Ia cukup menyukainya.
Ia menukar pakaian rumah sakit yang dikenakannya dengan pakaian yang baru saja ditemukannya dan memakai topi untuk menyembunyikan perban di kepalanya. Celananya agak kurang panjang untuk kakinya. Tapi cukuplah. Lagipula sepatunya menutup mata kaki. Lalu, tanpa suara, sebisa mungkin tidak membangunkan Kibum, ia menyelinap keluar dari pintu.
Setelah turun dengan lift, dan dengan susah payah melewati petugas keamanan, sekarang ia ada di luar. Ia mendongak, menatap lantai 14 dimana kamarnya terletak. Mengangkat bahu, lalu berjalan pergi. Dia tidak membawa uang sepeser pun. Tapi itu tidak masalah. Dia hanya pergi sebentar. Dia butuh udara segar.
Berjalan-jalan menyusuri trotoar, bersama banyak pejalan kaki lain, membuatnya merasa jauh lebih sehat. Dia tahu jalan ini. Di luar kesadaran, kakinya membawanya berjalan ke arah yang sudah dihapalnya. Meskipun begitu, ia tidak ingat memiliki memori di tempat-tempat yang dilewatinya.
Tanpa sadar, ia berjalan. Terus dan terus berjalan. Menyusuri trotoar, menyeberangi jalan, bahkan masuk ke jalan-jalan sempit yang sepi. Kakinya sudah lelah dan sudah tidak ingat lagi jalan mana yang harus dilalui. Saat ini ia berada di sebuah jalan sempit, dengan rumah-rumah sederhana di kanan-kirinya. Jalan itu gelap, hanya ada sebuah lampu jalan yang berdiri di tikungan, dekat tempat sampah.
Minho tetap tenang, ia yakin selama masih di Seoul dia tidak akan mengalami hal yang buruk. Setelah berjalan lagi sejauh beberapa ratus meter, dilihatnya segerombolan laki-laki mabuk di sebuah tikungan. Ia melewati mereka dengan tenang, tapi salah satu dari mereka menghadangnya. Orang itu menahan bahunya.
Minho menoleh, pandangannya tajam,”Apa?”
Orang-orang mabuk itu tertawa. Minho menutup hidungnya. Bau minuman keras sangat menyengat. Orang yang tadi menghadangnya berkata,”Wah wah, ada apa anak kecil ini disini tengah malam begini?”ia menepuk-nepuk pipi Minho.
Minho menepis tangannya, dengan dingin berkata,”Kampungan.”
“Wah, berani juga anak ini.”mereka semua maju, mengerubungi Minho. Minho menghitung jumlah mereka. Satu, dua, tiga, blah blah blah, tujuh. Tujuh lawan satu. Dia tidak mungkin menang.
Minho masih punya akal sehat. Dia tidak ingin mati konyol di tikungan jalan sepi yang bau ini. Ketujuh orang mabuk di depannya sudah bersiap-siap memukulnya. Salah seorang bahkan melayangkan tinju, namun dengan sigap Minho menghindar. Meskipun begitu, topinya jatuh ke selokan.
“Hei, dompet siapa itu? Uangnya banyak sekali!”Minho menunjuk asal saja ke bawah. Sebagian besar orang mabuk itu menoleh, mencoba mencari dompet yang dimaksud Minho. Kesempatan itu digunakannya untuk kabur. Dasar babo. Badan saja yang besar, ternyata otak nggak punya, pikirnya.
Ia berlari kencang, meninggalkan orang-orang mabuk di belakangnya. Orang-orang itu tidak sanggup mengejar Minho yang sangat cepat. Minho merasa bebas ketika berlari. Ia merasa berlari adalah keahliannya. Mungkin dia sebenarnya adalah pelari?
Setelah dirasa cukup jauh, ia berhenti. Ia menoleh ke belakang, memastikan dirinya sudah aman. Mungkin orang-orang itu sudah pingsan karena kelelahan.
Minho memandang sekelilingnya. Ia masih di tempat sepi. Tapi setidaknya ia sudah keluar dari jalan-jalan sempit yang gelap. Ia ada di depan sebuah gedung sekolah dasar. Merasa agak capek dan pusing, ia bersandar di pagarnya.
Dilihatnya penjaga sedang tidur di posnya, suara dengkurannya sangat keras. Minho memandang ke gedung sekolah itu. Rasanya dia ingat sesuatu.
Ia menoleh pada penjaga yang tidur sangat nyenyak. Bahkan jika ada bom meledak pun mungkin dia tidak akan dengar. Lalu dengan hati-hati Minho membuka pintu gerbang. Ternyata benar dugaannya, tidak dikunci. Dasar penjaga babo.
Ia berjalan-jalan di halaman sekolah, menendang-nendang kerikil dan melompat-lompat di bak pasir. Dia pernah melakukan ini sebelumnya.
Minho yakin ia pernah melakukan itu semua. Disini.
Ia mundur beberapa langkah, memandang seluruh halaman sekolah. Dan ia melihat sesuatu.
Sinar matahari sangat terik. Anak-anak berlarian, tidak sabar ingin segera sampai di rumah. Beberapa masih asyik bermain bola atau berkejaran. Seorang anak laki-laki, tinggi dan kurus berdiri dekat bak pasir. Ia sedang menendang-nendang bola sepak ketika anak laki-laki lain mendatanginya. Anak itu bertanya,”Minho-yah, kenapa kau tidak pulang bersama saudaramu? Bukankah kau dan Kibum sekarang bersaudara? Ibunya dan ayahmu baru menikah kan?”
“Aku tidak punya saudara.”Minho kecil berkata ketus sementara temannya itu tertawa. Ia melirik seorang anak laki-laki yang berdiri sendiri dekat pintu gerbang, memakai tas berwarna pink dan juga sedang memandanginya.
“Jangan bohong. Sana, dia sudah menunggumu. Kasihan dia tidak punya teman. Hanya kau yang dia punya.”Minho menggeram mendengar kata-kata temannya. Ia mendorong temannya itu hingga jatuh di bak pasir. Lalu ia melempar bolanya sambil berteriak,”Aku tidak punya saudara!”
Ia pergi. Melirik benci sebentar pada Kibum lalu berjalan pulang. Kibum menunggu beberapa saat sebelum mengikutinya.
Langit menggelap lagi. Minho sekarang masih di halaman, menatap dua anak laki-laki yang baru saja pergi. Ia mengejar mereka keluar. Tetapi tidak ada siapa-siapa disana. Hanya jalan sepi dengan beberapa lampu jalan. Dengkuran si penjaga masih terdengar.
Minho menggaruk-garuk kepalanya. Apa itu tadi? Halusinasi? Ia menggeleng-gelengkan kepala. Lebih baik ia pergi saja, mencari jalan pulang.
Melewati jalan sepi, hanya terdengar gonggongan anjing dari beberapa rumah. Apa sekarang benar-benar sudah larut malam? Minho mulai mengantuk. Namun tiba-tiba ia melihat sesuatu.
Dua anak laki-laki yang tadi. Yang satu berjalan di depan dengan cepat. Yang lain mengikuti beberapa meter di belakangnya. Yang di depan menoleh, memandang benci pada yang di belakang,”Jangan ikuti aku!”
“Aku tidak mengikutimu.”Kibum kecil membela diri,”Aku juga harus lewat sini kalau mau pulang.”
Minho memelototinya,”Jauh-jauh sana!”ia berjalan lagi, lebih cepat. Kibum merengut, berkata tanpa suara,”Galak banget sih. Siapa juga yang mengikuti dia. Dasar mata besar.”ia berjalan lagi, berusaha menjaga jarak dengan Minho.
Jalan itu tiba-tiba berputar, meliuk-liuk dalam berbagai warna. Minho memejamkan mata. Kepalanya sakit.
Lalu dilihatnya pemandangan lain.
Kali ini dua anak laki-laki itu ditemani seorang laki-laki yang tampaknya adalah ayah mereka. Mereka ada di teras sebuah rumah. Mereka terlihat lebih besar. Mungkin setahun atau dua tahun lebih tua. Mereka sedang berkebun.
Ketika sedang merenggangkan tangannya, tanpa sengaja tangan Kibum mengenai kepala Minho. Dengan marah Minho menegurnya,”Kibum!”
Kibum menoleh,”Maaf ya. Habis sedang apa kamu disitu? Menghalangi aku saja. Sana geser lagi!”
Minho membuka mulutnya untuk menjawab, tapi ayahnya menegurnya,”Minho-yah, kenapa kau memanggilnya begitu? Harusnya kau panggil dia ‘hyung’!”
“Hah?”Minho menoleh pada ayahnya,”Kenapa? Umur kami kan sama.”
“Anak kembar pun pasti ada yang lebih tua. Dalam keluarga, dia adalah kakakmu. Jadi kau harus panggil dia ‘hyung’.”
“Tidak mau.”Minho berdiri,”Lebih baik aku mati daripada memanggilnya begitu. Dia itu bukan kakakku.”
“Minho!”sang ayah memukul pipi Minho. Kibum terkejut. Ia ikut berdiri, memandangi Minho dan ayahnya dengan bingung. Sementara Minho memegangi pipinya sambil menatap benci pada Kibum. Lalu ia pergi, membanting pintu pagar dan berlari jauh meninggalkan rumah.
Kenangan itu meresap, lalu teras itu berputar, meliuk-liuk, dan lenyap. Meninggalkan Minho berdiri sendiri di kegelapan malam.
Tanpa sadar tadi ia terus berjalan hingga sekarang ia berada di sebuah halte bus.
Merasa pusing dan bingung, Minho duduk. Ia ingin tidur. Semua kejadian yang baru saja dilihatnya membuat kepalanya benar-benar sakit. Dia merasa dia sudah gila, tapi perlahan-lahan ia mulai memahami masa lalunya.
Ia menghela nafas, berharap tidak melihat hal-hal yang aneh lagi. Ia menutup matanya selama beberapa detik, begitu membuka mata, dilihatnya segerombolan orang di depannya.
Udara terasa dingin. Semua orang memakai mantel atau sweater. Dua orang remaja berdiri di antara kerumunan orang yang menunggu bus. Wajah mereka rasanya familiar.
“Minho-yah, ini semua salahmu. Andai saja kau bisa bangun lebih pagi. Kita tidak akan terlambat seperti ini.”
Minho menoleh pada Kibum, berkata ketus,”Berisik. Siapa suruh menungguku?”
Kibum mengerutkan bibirnya. Minho berpaling, ia berjalan ke sisi lain halte, menjauhi Kibum. Minho tidak tahu bahwa Kibum memandanginya dengan sedih.
Sebuah bus berhenti. Orang-orang menaikinya dengan terburu-buru. Minho cepat-cepat masuk sementara Kibum mengikuti jauh di belakangnya.
Bus itu pergi. Meninggalkan kegelapan malam.
Minho, masih duduk disitu, memegangi kepalanya. Dia mulai menemukan kepingan-kepingan kecil masa lalu. Tapi ada satu hal yang membuatnya tidak mengerti.
Benarkah itu dia? Benarkah anak laki-laki itu dia?
Dia benci anak itu. Dia benci sifatnya yang kekanak-kanakan, egois dan kasar.
Dia benci dirinya sendiri.
Minho ingin kepalanya berhenti berputar. Ia harus kembali dan tidur.
Ia berjalan pergi, menyusuri trotoar. Meski sudah dini hari, jalanan tidak juga sepi. Terlihat beberapa pasangan yang duduk berdua di taman kota, menonton air mancur yang disorot lampu warna-warni. Beberapa orang keluar masuk café. Mobil-mobil berlalu lalang.
“Maukah kau mengajariku menyetir?”
Minho menoleh dengan dingin dari kursi kemudi. Kibum di sebelahnya memasang wajah memohon yang membuat Minho ingin muntah. Minho mendengus kecil,”Turun sana!”
“Hah, galak banget sih.”Kibum bersungut-sungut sambil melepas sabuk pengamannya. Ia membuka pintu mobil, tapi kemudian menutupnya lagi. Ia menoleh pada Minho,”Terima kasih ya.”
“Hmm.”hanya itu jawaban Minho.
“Aku tahu kalau bukan karena appa menyuruhmu, kau pasti tidak akan mau mengantarku.”
Minho mengangguk-angguk,”Baguslah kalau sudah tahu.”
Kibum mengerutkan bibir,”Ya sudah, hati-hati di jalan.”ia turun. Meninggalkan sesuatu di kursi penumpang.
Minho mengambil benda yang ditinggalkan Kibum. Jaket? Ia membolak-baliknya. Apa-apaan sih? Minho mendengus kecil, melemparkan asal saja jaket itu ke jok belakang, menyalakan mesin, lalu tancap gas.
Bertahun-tahun ia bersaudara dengan Kibum, ia tidak pernah menyukainya. Bertahun-tahun ia berusaha mengingkari kenyataan itu. Sejak kecil ia sudah mengenal Kibum, dan ia sudah sangat membencinya sejak sebuah insiden kecil di masa TK mereka. Pernikahan ayahnya dan ibu Kibum adalah satu hal yang menambah kebenciannya. Ayahnya yang lebih menyayangi Kibum, Kibum yang pintar dan berbakat.
Sampai kapanpun Kibum bukanlah saudaranya.
Gambar-gambar itu berputar lagi, membentuk lingkaran warna dengan pola yang rumit. Minho memegangi kepalanya. Dia mempercepat jalannya. Dia benar-benar ingin tidur.
“Minho-yah!”
Minho menoleh. Ia merengut pada Kibum yang berlari-lari mengejarnya.
“Minho, kau mau kemana? Kau tidak boleh pergi di saat seperti ini.”Kibum mencoba mengatur nafasnya. Minho memandanginya dingin,”Aku mau pergi. Ada urusan.”ia berpaling dan berjalan lagi, tapi Kibum memegang tangannya.
“Tunggu. Jangan pergi dulu!”
Minho menepis tangan Kibum dengan kasar,”Jangan urusi aku! Kau tidak berhak.”
“Tapi aku kakakmu..”
“Kakak?”Minho mengulangi dengan nada benci. Ia memandang Kibum dengan sadis,”Kakak kaubilang? Kibum, ingat ya. Pertama, ibuku tidak pernah melahirkanmu. Kedua, kita ini sebaya. Tidak ada yang lebih tua di antara kita. Dan ketiga, aku sangat sangat membencimu. Mengenalmu saja adalah penyesalan bagiku. Jadi jangan lagi menganggap dirimu ini kakakku!”
Kibum terdiam. Ia tersenyum pedih. Hatinya terluka. Biasanya, apapun perlakuan Minho, ia akan mencoba diam, tidak mengeluarkan kata-kata sarkastis atau semacamnya yang biasa ia lakukan pada orang lain. Dan kali ini yang dapat diucapkannya hanya,”Baiklah. Pergi saja sana.”
Minho berpaling. Ia tidak peduli Kibum akan sakit hati mendengar kata-katanya. Dia sendiri marah. Marah pada kenyataan bahwa Kibum telah memasuki kehidupannya. Andai saja orang tua mereka tidak pernah bertemu. Andai saja ia tidak pernah mengenal Kibum..
“Minho, awas!”
Suara Kibum tidak dihiraukannya. Ia tidak akan peduli lagi padanya. Tapi suara lain mengagetkannya. Suara klakson.
Ia menoleh, sebuah mobil berada sangat dekat dengannya. Dan tabrakan itu tidak bisa dihindari lagi.
Minho berdiri mematung. Tadi hampir saja ia ditabrak mobil. Ia baru saja ingat apa itu warna merah yang diingatnya ketika pertama kali membuka mata tadi di rumah sakit. Itu darah. Ia ingat waktu itu darahnya banyak sekali. Ia ingat semuanya.
Dan ia benci dirinya. Bagaimana mungkin ada orang yang sebegitu kekanak-kanakannya? Bagaimana mungkin itu dirinya?
Minho menghela nafas. Kepalanya sakit.
Rumah sakit. Dia harus kembali ke rumah sakit. Dia ingin tidur.
Akhirnya setelah beberapa jam berputar-putar, ia berhasil menemukan jalan kembali ke rumah sakit. Hari sudah pagi. Begitu membuka pintu kamar, langsung dilihatnya Kibum yang tidur dalam posisi yang aneh di atas sofa. Minho, berusaha sebisa mungkin tidak menimbulkan suara, mengganti bajunya dengan baju rumah sakit.
Ketika membuka jaket, ia menyadari sesuatu. Jaket itu rasanya pernah dilihatnya di masa lalu. Mungkin baru beberapa bulan yang lalu. Dia menyukainya, jadi bolehkah dia mengambilnya? Minho melirik Kibum. Ah, pasti boleh.
Ia berbaring. Baru saja ia akan memejamkan mata, Kibum bangun. Ia mengulet sedikit, lalu berdiri di samping tempat tidur Minho. Ia agak terkejut melihat Minho yang tidak sedang tidur,”Kau sudah bangun? Tumben sekali. Ini terlalu pagi untukmu yang biasanya. Atau amnesia bisa merubah kebiasaan dan sifat orang juga ya?”
Minho menyipitkan mata memandangnya,”Jangan berisik. Kau saja yang bangun kesiangan. Biasanya selalu cerewet membangunkan aku. Ternyata kau juga bisa bangun siang kan? Dasar.”
Kibum melongo mendengar perkataan Minho. Ia terdiam selama beberapa menit sampai Minho berkata pelan,”Aku suka jaketnya. Maafkan aku ya, hyung.”
Minho memejamkan mata. Mungkin dia akan koma sampai seminggu lagi saking ngantuknya.
Kibum masih berdiri mematung. Pintu kamar terbuka, lalu si dokter masuk.
“Selamat pagi. Siap untuk pemeriksaan? Apa dia sudah bangun?”
Kibum menempelkan telunjuk di depan bibirnya,”Jangan berisik. Dia sedang tidur.”
“Tapi pemeriksaannya?”
Kibum mendorong-dorong dokter itu,”Itu sudah tidak perlu lagi, dokter Lee. Dia tidak lupa apa-apa kok. Ayo, lebih baik kita pergi sarapan di kafeteria saja. Aku yang traktir, oke? Ayolah, dokter Lee!”
Mereka berdua pergi, meninggalkan Minho yang nyenyak dalam tidur.
-end-
-minjin’111010-

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

64 thoughts on “Hyung”

  1. Wuahhhhh,,, MinKeyyyy,, aku suka,, sukaaaa,,,

    Ceritanya ngalir gitu ajjjjj,, gx bisa koment banyak2,,,, Key,, kau semakin membuatku jatuh cinta,, #abaikan,,

    Ayo ditunggu karya lainya,,

  2. Omoooooo!! *histris* gomawo authooor #hugs
    castnya kesukaanku! Kyaaaa #gapentinglo -,-
    ceritanya emang agak kecepetan, kurang teratur dkit. Tp ga masalah. INI BAGUS DEMI APA YA TUHANNN! *histris
    mengharukan bagian endingnya. Apadah si key ==” ngajak traktir dokter, kan hrus periksa dulu == wkwkwk. Keren ah gila! Baca lg ah xD

    1. kyaaaaahh *histerisgajelas*
      masa sih? makasih yaaa 🙂
      makasih juga kritiknya, aku setuju 100 %, emang nggak teratur T.T
      aku akan berusaha meningkatkan kemampuanku 🙂
      gomapda, udah baca dan mau baca lagi pula.. hehe

  3. Jalan-jalan membuat ingatan Minho pulih dengan sendirinya. Bahkan dia sudah mengakui dan memanggil Kibum dengan ‘Hyung’.
    Nice story.

  4. Sangat mengharukan… Salut banget sama kibum oppa walaupun sering d marahin ama minho oppa tp kibum oppa ngak pernah marah dan dendam……..
    D tgu ya ffx yg lain..
    Azza..Azza.. Fighting….

  5. Siapa saja!! Tolong bangukan aku dari keterpakuan(?) ini…

    Sumpah! Ini FF jongmal jongmal jongmal DAEBAK!!!! Hingga membuat diriku speechless,,,

    Key, sikap mu disini benar-benar manis,,,menjadi sosok saudara yang perhatian…aku jadi makin cintrong sama kamu #popo key

    Author! kau sungguh keren…..

  6. authoooorrr suka banget sama cerita ini 😀
    Ini cast favoritku
    dan key kau membuatku semakin jatuh hatti :* #poppo key
    suka banget thor, lain kali buat lagi dong yg castnya ini
    author daebakk !!

  7. wah aku suka ,, like this
    alur, ide cerita bagus..
    apalagi ditambah bahasanya yg mudah dmengrti kerasa masuk dalam ceritanya langsung ,,
    klo boleh, minta versi lain ato sequelnya juga boleh #abaikan
    kkk~! DAEBAK kutunggu karya author yg lain!!!

  8. Buahaha. “Naega euisa :D”. Onew sangtae maning. Nggak pernah nggak ngahak. Apalagi para ajeossi babo yg gampang ditipu. Ngahakhakhakhak. XD

    Awesome! Daebak! Epic! Jjang! Jadi makin kagum sama nuna. Hehehehe. d(^w^)b

    Waiting for SJB. Hwating! 🙂

  9. aaah, makin suka sama Key XD
    ceritanya sederhana tapi menyentuh. bikin terharu, apalagi pas mereka masih kecil :’)
    nice story 😀

  10. udh nebak di aawal klo dokter itu jinki.. wkakakak sangtaenya… hahahaah ikut2an mmperkenalkn diri…

    huuuhhh key.. rsnya pengen meluk dongsaeng yg 1 ini… tp klo ingt sft si kunci yg crwt jd mikir 2 kli…. hahahahaa

    keren thor ffnya

  11. super kereeeeen! jujur deh, keren abisss!!! ^^

    “Aku dokter.”si jas putih ikut mengenalkan diri, berkata ceria.
    adegan ini lucu banget. huakakakak, onew-ya, sangtae sekaleee!!!

    ini kedua kalinya aku baca FF yang peran minho dan key jadi adik kakak. dan keduanya selalu mereka saling ga suka (FF yang lain itu aku bacanya key yang antagonis), tapi akhirnya yang jadi peran antagonis bakal sadar kalau mereka saling menyayangi sebagai saudara.

    joha joha joha!!!!

    ditunggu FF lainnya ya ^^ daebak!

  12. satu kata, daebaaaaak!
    Tapi kurang panjang..
    Lebih seru kalo ceritanya sampek minho keluar rumah sakit terus mereka ke sekolah bareng dgn akrab..
    Tapi tetep nice story kok.

  13. Sumpah ni ff keren bangettt ^^
    ak suka karakter mrka disini. Nyentuh bgt pas minho oppa bilang “aku suka jaketnya, maafkan aku ya hyung” ;(
    salam kenal thor .. ^^

  14. wuah….daebak thor! 😀
    di bikin sequelnya dongg…hehe
    ketawa ngakak pas Onew bilang “aku dokter”.
    astaga Onew, di saat orang2 mengkhawatirkan kondisi Minho.
    dia masih sempet2nya kayak gitu. -_-“

  15. aaaaaa!!! baguuus iniiiii. kyayyy akhirnya minho gak judes lagi sama keyyy. ayok ayook bikin sequelnya thoor >.<

  16. Wua…MinKey jadi sodara,, aku suka banget ceritanya
    Aigo…bias aku Key lagi,jadi tambah suka sama Key nie
    good job thor..
    lebih banyak bkin crt ttg MinKey ya
    nice ff ^^

  17. Wuaaa suka sukaaaa
    Dokter Lee sangtaenya selalu ya :” “aku kim jonghyun, aku kibum, aku taemin.” Tau-tau dia nyerocos “aku dokter” mehhh-__-
    Minkey bagus kokk dibuat bromance ginii. Key tabah banget ya :”
    Aiih suka banget terakhirnyaa!
    Ciee key cie minho akhirnya kalian~ wkwkwk
    Baguuss! 😀

  18. kyaaa… key, kamu sabar amat sih say??? aku jadi makin cinta deh. hehehehe bagus bagus bagusssss

  19. Nah.. Akhirnya ketemu juga.. Aku nyari ff ini dari kmrn..
    Gara2 baca ff yg saengil seo……, aku jdi pengen baca yg ini lg..
    Aku ga kbayang kalo ada dokter sangtae macam onew.. Haha

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s