Pengganggu – Part 1

Title        : Pengganggu (part 1)
Author        : Lee Jongki
Main Cast     : Jinki, Jonghyun, Taemin, Kibum
Support Cast    : Donghae, Nickhun
Length        : 2.810 words (sequel)
Genre        : Friendship, drama
Rating        : PG-15
Summary    : Jonghyun likes to bully Jinki for some unknown reasons. What will Jinki do?
Warning    : Mild violence, swearwords, school bullying

“Minta maaf.”
“Maafkan aku.”
“Nggak tulus. Coba lagi, tolol.”
“Maafkan aku.”
“Kenapa?”
“Karena menginjak sepatumu.”
Anak yang lebih pendek mundur. Hanya sedikit. Matanya masih terkunci dengan anak yang lebih tinggi. Senyum licik tersungging di bibir.
Jinki mendorong tangan anak itu dari bahunya, menarik tali tasnya dengan erat sampai tangannya memucat, punggungnya menekan permukaan loker yang dingin.
“Anak manis.” Yang lebih pendek menjatuhkan pandangannya meneliti memar di lengan Jinki. Sambil bersiul pelan ia mundur. Alisnya dinaikkan. Pura-pura khawatir ia berkata, “sebaiknya kamu mengompresnya dengan es, hmm?” Ia pergi.
Cuma seperti itu.
-0-0-0-0-
Seperti inilah hidup Jinki. Setiap hari dari tahun lalu, sejak anak setan itu pindah ke sekolahnya ia tak pernah dibiarkan sendiri. Dari saat ia meninggalkan rumahnya, sampai pulang sekolah, ia berjalan dalam ketakutan. Hanya ejekan. Terkadang dorongan ke tembok. Atau  renggutan-tas. Kecap-di-baju. Cukup untuk membuatnya ngeri, tidak sampai membuatnya depresi atau ingin bunuh diri. Beberapa penonton, ada yang ikut mengganggunya, satu atau dua pemberani mencoba menolongnya; semuanya tidak menghalangi anak itu untuk merusak hidup Jinki. Barangkali Jinki akan membalasnya. Orang waras mana yang tidak akan melakukannya? Demi Shisus, anak itu ketampanannya tak terampuni, membuat Jinki (hampir) mengampuni semua perbuatannya. Jinki melalui masa-masa sulit dengan kehadiran Malaikat Maut; tampilan luarnya membuat Jinki kesulitan untuk mengadu kepada siapapun. Lee Taemin, anak kelas 10 berambut merah amburadul, sering menghiburnya. Meskipun lebih muda Taemin menasihatinya dengan perkataan bijak dan polos.
“Mungkin dia menyukaimu?”
“Taemin, dia membuatku mencium bagian dalam sepatunya sehabis olahraga,” Jinki mengunyah sandwich tunanya di kantin.
“Yah… Beberapa orang menunjukkan perasaannya dengan cara yang sedikit berbe-“
“Dia menuangkan sambal ke dalam botol minumku dan mengancam kalau aku tidak meminum semuanya di depannya kucingku akan terbaring tak bernyawa.”
“Oh.”
Jinki menggigit sandwich dan berhenti, mengeluarkannya dari mulut, merogoh mulut dengan ibu jari dan jari telunjuk. Keluarlah laba-laba mainan dengan kaki yang tidak utuh (mungkin sisanya masih berada di mulut Jinki).
“Brengsek!” Jinki berteriak melemparnya ke meja. “Bagaimana bisa dia melakukannya? Sepanjang hari sandwichku ada di dalam tas.”
Kepala Jinki terdesak ke depan dengan paksa. Suara merdu terdengar dari belakangnya, “kumasukin waktu kamu lagi ganti baju. Puas bisa liat kamu makan plastik.”
Mata Taemin terbelalak, menggelengkan kepala saat Jinki memutar tubuh menghadap Jonghyun, ketakutan terlihat jelas dari wajahnya.
Dengan marah Jinki menyemburkan sisa sandwich ke atas nampan sebelum mengelap mulut dengan lengan baju, “sungguh Jonghyun. Bisakah kau memilih orang yang sama-“ ia berhenti, berharap ia bisa menarik ucapannya kembali.
Mata Jonghyun terlihat seperti baru saja disuntik dengan racun. Seluruh isi kantin diam seketika. “Selesain omongan kamu.”
Jinki menggeleng, “A..aku.”
“Selesain. Omongan. Kamu,” ia berkata mendekati Jinki diantara ‘ooh’, ‘aah’, dan ‘Shisus, dia akan segera dihajar’.
“Milih seseorang sama apa?” ia menuntut, nafasnya hampir bercampur dengan nafas Jinki.
Jinki meringis memiringkan wajahnya saat ia mencoba akhiran berbeda, “sama-sama berotot? Uh.. Sama warna rambutnya? Bukan, sama-sama berpengalaman? Ya? Bukan?”
“Maksudnya ‘milih seseorang sama tinggi’. Kamu tau ‘kan, karena kamu cebol.” Sebuah suara datang dari tengah kantin. Jinki hampir pingsan.
Jonghyun berputar ke sumber suara. Air mukanya langsung berubah. Ekspresi ganjil yang tidak terbaca oleh Jinki karena rasa takut membanjir keluar dari pori-porinya. Mata yang tercoreng dengan eyeliner dan tatanan rambut yang aneh membuat Jinki sejenak berpikir anak itu adalah berandalan, tapi wajahnya yang feminin dan tajam berkata lain.
Ia maju dan tersenyum, “ada gunanya aku balik. Kalau nggak, mungkin anak ini udah mati dibunuh kamu!”
Bibir Jonghyun bergetar sebentar sebelum tertutup dengan canggung, rahang mengeras. Isi kantin kembali dipenuhi ocehan murid-murid. Anak yang blak-blakan itu menyeringai begitu mendekati Jonghyun.
“Kibum, ngapain kamu di sini? Tahun lalu ‘kan kamu keluar.”
“Ah, kamu tau ‘kan orangtuaku kayak gimana. Jadi ini mainan barumu? Namanya siapa? Dia seangkatan sama kita ya? Cakep juga. Hai. Aku Kibum,” tangannya diangkat seakan Jinki harus membungkuk dan menciumnya, hampir saja ia melakukannya kalau akal sehatnya tidak bekerja dengan normal.
“H..hai. Aku Jinki,” malah keluar seperti sebuah pertanyaan. Mata Jonghyun masih terpaku pada Kibum. Ekspresi masih tak terbaca.
Taemin bangkit dari bangku saat Jonghyun mulai menggertak Jinki. Sekarang ia berdiri dengan kikuk di sudut meja, ragu antara ingin ikut campur atau melihat situasi seandainya bertambah parah.
Tak ada yang perlu berbicara karena di saat itu suara lantang dari guru BP terdengar di belakang mereka. “Jonghyun, apa kau membuat ulah lagi?”
Jonghyun memutar matanya sebelum menghadap Nickhun dan tersenyum menawan. “Bukan. Tentu saja bukan. Aku cuma-“
“Tadi Jonghyun mengancamnya. Aku yakin dia hampir mengamuk dan memukul wajahnya. Aku melihat semua,” ucap Kibum enteng, membersihkan kukunya.
Jonghyun melongo saat guru BP muda itu melihat wajah ketakutan Jinki dan wajah tenang Kibum bergantian, lalu kembali ke papan kecil di tangannya. “Baiklah. Sudah tiga kali kamu membuat rusuh. Kamu,” ia menunjuk ke wajah pucat Jinki, “dan kamu,” ke Jonghyun, “ikut aku. Kita akan menghadap kepala sekolah.”
Ketika mereka berbaris menaiki tangga di belakang Nickhun seperti kambing yang akan disembelih, sekilas Jinki melihat Kibum menggeleng dan tersenyum.
-0-0-0-0-
“Maaf Pak Kepala Sekolah, saya rasa saya tidak mendengar Anda dengan jelas. Apakah Anda baru saja berkata ‘guru pribadi’?” Bisikan Jinki dipenuhi rasa takut.
Dengan tegas Donghae berkata, menyipitkan mata, “ya, Jinki. Aku bilang ‘guru pribadi’.”
Jonghyun hampir berteriak, “tapi aku tidak butuh guru pribadi!”
Donghae menarik nafas panjang, menyandarkan punggung pada kursi empuknya. “Ya Jonghyun. Kau gagal dalam tiga mata pelajaran. Dan hal itu tidak bisa dibiarkan begitu saja.”
Giliran Jinki untuk membantah kata-kata Donghae. “Tapi pak, jika saya menjadi guru pribadinya apakah bisa..menolong? Bukannya malah membuat situasinya tambah buruk?”
Jonghyun memiringkan lehernya ke satu sisi, “hanya akan membuatnya tambah buruk, pak.”
Jinki menelan ludah dan bangkit dari kursi, “saya tidak bisa mengajarinya pak. Tolonglah, hidup saya terancam. Sekolah akan bertanggungjawab atas kematian seorang murid. Saya kira orang pandai seperti Anda-“
“Jinki, duduklah. Tarik nafas dalam-dalam. Aku sudah bicara dengan keluargamu dan mereka senang.”
“Apakah Anda juga sudah berbicara dengan perusahaan pemakaman? Saya yakin mereka juga akan senang mendengarnya,” Jinki meratap ke dalam tangannya sambil meletakkan kepala di atas meja.
Jonghyun meregangkan tubuhnya di kursi, “Anda benar. Bukan suatu ide yang buruk. Shisus, boleh jadi akan menyenangkan. Benar ‘kan, Jinki?” ia menyikut rusuk Jinki dengan kuat.
Jinki tersedu, sekali, ke dalam lekuk sikunya.
-0-0-0-0-
Sore itu Taemin berbaring di atas ranjang Jinki, memandang langit-langit, mempertimbangkan keadaan Jinki. “Mungkin kepala sekolah benar. Disini tertulis,” ia memungut secarik kertas di sebelahnya, “bahwa interaksi dua anak bisa membantu mengurangi perasaan buruk diantara mereka.”
Jinki melepas kacamata dan memutar kursi menghadap Taemin, “satu-satunya interaksi yang akan terjadi malam ini adalah kakinya dan wajahku. Aku yakin.”
Taemin menghela nafas dan berdiri, “Shisus, aku merasa kasihan padamu.”
Dahi Jinki berkerut, “Aku lebih suka saat kau punya harapan palsu…”
Suara bel dari pintu depan membuat mata Taemin hampir meloncat keluar dari lubangnya. “Shisus, dia sudah datang? Ya Tuhan Shisus, aku masih di sini! Aku harus keluar! Dia tak boleh melihatku!”
“Dia bahkan tidak pernah mengganggumu. Kau sudah begini takut. Matilah aku,” Jinki menyandarkan kepala di kursi dan berputar pelan-pelan.
Taemin lari dari kamarnya seperti kucing mengejar tikus, menuruni tangga.
Jinki sendirian, dan Jonghyun ada di rumahnya. Ia bisa mendengar suara Jonghyun yang sedang berbicara dengan ibunya di bawah, berpura-pura manis dan ramah; bahkan ia mendengar tawa halus mengiringi gurauannya, seakan anak yang orangtuanya biarkan masuk ke rumah bukanlah seorang anak yang telah mempermalukan anak mereka setiap hari di depan umum. Yang berikutnya ia dengar adalah langkah kaki menaiki tangga dan satu ketukan di pintu.
“M..masuklah…”
“Hei,” Jonghyun menyembulkan rambut paku hitamnya ke dalam kamar dan melirik dinding, “ini kamarmu?”
“Iya,” Jinki duduk tegak dan menggosok-gosok tangan ke celana, “memalukan. Kertas dindingku sudah tertempel dari kelas tiga SD.”
“Nggak begitu jelek. Kamarku lebih parah,” kata Jonghyun sambil menjatuhkan tasnya ke atas ranjang Jinki, membukanya dan merogoh ke  dalam, bibirnya berkerut.
Jinki hampir pingsan di tempat saat itu juga. Manusia yang mengejek, menghina, mempermalukan, dan menyakitinya sejak setahun lalu sekarang berada di depannya; bertindak seolah-olah ia cuma seorang anak muda tidak bersalah tanpa hubungan dengan Jinki sebelumnya.
“Aku bawa dua buku, matematika dan sejarah. Aku payah dua-duanya.” Jonghyun memandang Jinki, mata gelapnya berkilauan dalam cahaya kamar sebelum kembali ke buku dengan gugup sementara Jinki cuma bisa mengejapkan mata.
“Aku tak mengerti,” akhirnya Jinki membuka mulut.
Jonghyun membalik halaman, “nggak ngerti apa?”, tanyanya; padahal ia tahu, matanya masih terpaku pada buku.
“Aku tak mengerti, kenapa malam ini kau tidak menggangguku?”
Jonghyun mengangkat bahu, menyatukan alis tebalnya, “aku bisa ngganggu kamu lagi kalau kamu mau.”
Jinki menggeleng dan mengangkat tangan, “jangan… Maksudku, kenapa di sekolah kau tidak seperti ini?”
Ekspresi Jonghyun mengeras. “Aku nggak datang ke sini buat ngobrol, aku datang buat diajari kamu. Jadi ajari aku.”
Jinki bangkit, mengambil buku matematika dari tangan Jonghyun dan melihat-lihat, menarik kertas ulangan dari situ. “Benar satu dari lima belas…” ia membaca dengan tenang, “dia melingkari tanggalnya dan menulis ‘bagus, kali ini kau melakukan sesuatu yang benar’. Wah, guru kita lumayan kejam ya.”
Satu setengah jam kemudian sekaleng wafer habis, tergeletak di meja. Mereka sudah mengerjakan empat halaman latihan soal. Jonghyun memegang leher, “Shishus, aku haus. Mau minum nggak?”
“Apa?”
“Mau. Minum. Nggak?”
Jinki menoleh lalu melihat ke PR yang sudah dikerjakan dan kembali ke Jonghyun, tersenyum gugup, “bo..boleh.”
Senyum Jonghyun mengembang, lidah memutari bibir sekali seperti anak anjing yang gembira, menyampirkan tas ke punggung, “aku tau kelab malam yang bagus.”
“Tapi kita belum cukup umur.”
Jonghyun tersenyum lebar, membenarkan letak tasnya, “aku kenal baik sama yang punya, nggak usah khawatir.”
Jinki mengikuti Jonghyun menyusuri jalan dengan kikuk, menyeret kaki di atas kerikil saat mereka melewati halaman sebuah sekolah dasar. Jonghyun bersenandung dan bernyanyi kepada dirinya sendiri, berjalan dengan percaya diri di depan Jinki, kedua tangan di belakang kepala. Langit bertambah gelap. Jinki mulai khawatir, teringat adegan dari tayangan di televisi saat makan siang tentang kejahatan dan pembunuhan yang belum terbongkar. Bayangan orangtuanya sedang menonton berita anaknya ditemukan tewas dalam keadaan mengenaskan dengan kertas ulangan bertebaran di atasnya memenuhi benaknya.
“Uh…”
Jonghyun berhenti, berputar, alis naik, “kenapa?”
“Setelah kupikir-pikir, sebaiknya aku pulang saja. Aku takut ibuku khawatir aku keluar malam-malam,” bibir Jinki kering oleh rasa takut.
Bahu Jonghyun turun, kakinya menendang batu di dekat sepatunya, memandang Jinki melalui poninya, tersenyum, “oke. Nggak papa. Sampai ketemu besok.”
Jinki menggangguk. Saat Jonghyun masih tak bergerak Jinki memutar tumitnya ke arah berlawanan dan berjalan cepat-cepat.
“Yah,”
Jinki berhenti dan menutup mata, menunggu lemparan botol ke kepala, tapi tidak terjadi apapun.
“Makasih ya udah bantu aku, hari ini.”
Jinki menoleh pada Jonghyun yang masih membatu, wajahnya tak terbaca seperti saat Kibum memanggilnya di kantin.
“Sama-sama”.
-0-0-0-0-
Hari berikutnya, sebuah tangan dengan kasar merenggut tasnya dan menghempaskan tubuhnya ke loker. Tangan yang lain mencengkeram bahunya, menahannya di tempat.
“Ow! J-Jonghyun?!”
“Oh, kamu tau namaku! Baguslah, jagoan!” Sekelompok anak lelaki tertawa-tawa di belakang bahu lebar Jonghyun.
“Ngapain kamu lirik-lirik aku di lapangan tadi? Mau mati?” mata ramah tadi malam sekarang berubah menjadi buas seperti biasa. Tapi kali ini agak berbeda, tepiannya bulat oleh emosi yang sangat mirip dengan rasa sakit yang Jinki rasakan oleh tangan Jonghyun yang membuat bahunya memar.
“Ke…kenapa kamu jadi seperti ini?” Jinki berbisik, tangan terkepal di sebelah paha.
“Karena Jonghyun sadar diri sama tinggi badannya,” datang sebuah suara dari penyelamat Jinki, Kim Kibum, anak lelaki dari hari sebelumnya di kantin. Baju yang dikenakannya dirancang dengan rumit, rambut kusut yang diberi gel jatuh dengan anggun di atas mata kirinya.
Jonghyun hampir saja memutar matanya saat ia melepaskan genggaman bajanya dari bahu Jinki. “Sialan, Kibum.”
“Sini, aku mau ngomong sama kamu. Tinggalin dia sendiri sebentar aja, oke?” ia menarik Jonghyun ke arahnya.
Para penonton saling berpandangan dan memutuskan untuk meninggalkan tempat sementara Jinki mengamati punggung keduanya menghilang di kerumunan, kepalanya berputar. Rasa sakit dari bahunya masih menyengat. Isi perutnya serasa diaduk-aduk. Tubuhnya jatuh terduduk ke lantai, terengah-engah.
Jinki ingin penderitaan ini segera berakhir. Jika Jonghyun ingin membuat hidupnya sengsara, ia akan melawan. Badannya lebih besar dan mungkin lebih kuat, saatnya kekuatannya digunakan untuk kebaikan.
-0-0-0-0-
Ketika Jinki melangkah ke sekolah hari itu Jonghyun tidak kelihatan. Ia hampir menyangka Jonghyun telah membuang kebuasannya jauh-jauh.
Tapi masalahnya bukan itu.
Segera setelah ia melangkah masuk ke dalam gedung sekolah, murid-murid yang mengelilinginya menyeringai padanya seperti hyena liar, seolah mereka tahu sesuatu yang Jinki tak tahu, sesuatu yang ia tak ingin tahu.
Menarik nafas panjang, Jinki mengabaikan pandangan mengetahui mereka dan terus berjalan. Ia mendapat firasat buruk.
Sesampainya di loker ia sadar apa yang membuatnya ditatap seperti itu: lokernya tertutup cat merah muda seluruhnya, menetes dan menggenang di lantai, lingkaran-lingkaran lengket terbentuk. Tubuh Jinki bergetar dengan kemarahan melihat cat itu pelan-pelan merayap ke arah kakinya.
Tentu saja Jonghyun tak ada di situ. Jika ketahuan mungkin ia akan diusir dari sekolah.
Jinki berputar ke arah gelak di belakangnya dan melihat Taemin berdiri sendiri, murid-murid yang lain meninggalkan TKP. Seketika kemarahannya mereda. Ia tersenyum lemah pada Taemin.
Taemin membalas senyumnya dan mendekati Jinki, menaruh sebuah tangan di bahu Jinki, melihat sekilas ke arah cat, keputusaan tergambar jelas di wajahnya.
“Shisus… Anak ini jahat sekali. Ini sudah keterlaluan.” Jari telunjuk Taemin menyentuh cat; masih basah.
Jinki mengangguk pelan lalu mendesah, melepas tas dan mantelnya dan menyerahkannya pada Taemin, “pegang”. Taemin menatap Jinki dengan bingung, “uh, ya… Apa yang akan kau lakukan?”
“Aku akan menghajarnya.”
“Apa?!” Taemin memekik, tas dan mantel di tangannya jatuh saat ia menerjang Jinki yang mulai berjalan menuju halaman belakang sekolah.
“Hyeong, berhenti! Kau tak bisa melakukannya! Pikirkan baik-baik! Kau bisa dikeluarkan!” teriaknya. Taemin menangkap lengan Jinki tapi malah diseret turun tangga dengan kekuatan yang mengejutkan. Ia merasakan otot Jinki menegang, dada naik turun seiring dengan nafasnya. Ia menyadari apapun yang dikatakannya tidak akan sanggup menghalangi Jinki.
Jinki akan membalas Jonghyun.
Ia berhenti di depan pintu dan berbalik ke Taemin, “jangan bilang siapapun, oke? Anggap saja ini tak pernah terjadi.”
Taemin menyela, “aku tak mengerti. Apa kau tahu Jonghyun ada di mana?”
“Halaman belakang. Harusnya sekarang dia ada di kelas Matematika denganku tapi dia selalu bolos dan merokok bersama teman-temannya di sini.” Jinki meraih pegangan pintu dan membukanya. Ruangan menjadi terang. Cahaya matahari menerangi dinding dan lantai di  belakang mereka. Ia hampir tak melihat Kibum yang berdiri dengan HP di tangan, kepalanya tersentak kaget saat melihat Jinki berjalan lurus melewatinya.
Jinki mendekati gerombolan anak laki-laki di pojok. Dengan susah payah Taemin mengikuti di belakangnya, menunduk.
Jonghyun mendongak, terkejut, lalu menyeringai lebar dan menghembuskan asap rokok, menjatuhkan rokok ke tanah dan melempar poninya ke sisi, “oh, hei Jinki, apa kau suka cat-“
Jinki mencengkeram kerah Jonghyun, membantingnya ke dinding bata di belakangnya dengan gedebuk keras. Jonghyun terkesiap kesakitan, matanya menatap Jinki dengan gusar.
“Sialan! Apa-apaan kau ini?!” ia mendesis, menangkap tangan Jinki untuk mendorongnya mundur. Oh sial, tidak berhasil.
Jinki mendengar tawa terkejut di belakangnya yang memompa kebanggaan atas kemampuan barunya untuk menggertak. Ia menekan Jonghyun lebih keras ke dinding.
“Kenapa kamu nggak milih yang sama tinggi,” Jonghyun menyeringai licik.
Jinki mendorong Jonghyun lebih tinggi sampai mata mereka sederajat, “nah, sekarang tinggi kita sama.”
Jonghyun memandang mata Jinki, tanpa kata-kata.
“Aku mau kau meninggalkanku sendiri. Jonghyun, aku tak mau melihat wajah busukmu lagi. Aku akan bilang kepala sekolah untuk berhenti mengajarmu. Kau mengerti?”
Mata Jonghyun memandang bibir Jinki sekilas kemudian kembali ke matanya dan melebarkan senyum, “baiklah, Jinki.”
Wajah Jinki memerah mengetahui bahwa Jonghyun menelitinya dalam jarak dekat tanpa takut sedikitpun. Ia melepaskan tangannya dari jaket Jonghyun yang meluncur turun dari dinding, tetap berdiri di sana bahkan saat Jinki mundur dan melihat ke belakang; gerombolan anak laki-laki itu memandangnya dengan kagum. Ia mengalihkan pandangannya ke Kibum yang sedang memandang wajah Jonghyun dengan putus asa.
Jinki mengelap tangan ke celana jinsnya dan melangkah lebih jauh dari mereka. Mereka semua mengawasinya dalam keheningan ketika ia melangkah setapak demi setapak ke arah Taemin yang gemetaran satu meter di belakangnya. Jonghyun masih bersandar ke tembok dan sekarang mencari-cari sebatang rokok di sakunya.
Jinki menangkap tangan Taemin dan berlari masuk gedung dengan kecepatan penuh.
“W-wow, hyeong…” terengah-engah Taemin berkata, punggung menempel pada pintu.
“Aku tak percaya aku baru saja melakukannya.”
“Tadi benar-benar…” ia mengerutkan wajah, “keren.”
Jinki membusungkan dada, “benarkah?”
“Iya. Tapi… Aku merasa tidak enak. Dia kelihatan berbeda dari biasa. Kau tahu, biasanya dia-“ Taemin membuat wajahnya seperti binatang buas, tangannya sebagai cakar.
Jinki menggeleng, “Jonghyun hanya pura-pura. Waktu aku mengajarinya, sikapnya menyenangkan. Dia bahkan mengajakku minum. Tapi aku tahu jauh di dalam hati mungkin dia akan melakukan sesuatu padaku.”
Taemin menaikkan alisnya, “melakukan sesuatu padamu?”
“Bukan itu maksudku! Maksudku, seperti melukaiku! Shisus… Taemin, untuk kelas 10 kau termasuk mesum!”
“Tunggu sebentar, dia mengajakmu minum? Kenapa tak bilang padaku?”
Jinki mengangkat bahu dan mulai menaiki tangga, “karena itu tidak penting. Dia masih jadi pengganggu seperti biasanya.”
Taemin menggeleng, mengikutinya, “ayolah hyeong, hal itu tidak masuk akal. Apa kau coba mengatakan dia membuat sebuah rencana rumit untuk mempermalukanmu di depan umum?”
“Oh, bukan! Mana mungkin Kim Jonghyun mau mencoba mempermalukanku di depan umum!” Jinki berhenti, menunjuk lokernya dan tersenyum.
Taemin mengangkat bahu. “Tak tahulah, buatku itu aneh. Ngomong-ngomong, kau belum mencari tahu tentang temannya berambut setengah yang mengerikan itu, ingat? Mungkin dia mempunyai peranan dalam semua ini. Shisus, semakin lama seperti misteri saja!”
Jinki membungkuk untuk mengambil tas dan mantelnya, “Taemin, semua sudah berakhir. Kau tak perlu cemas.”

To be continued…

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

33 thoughts on “Pengganggu – Part 1”

  1. super like this!!!!!!
    bahasanya ringan bgt. brasa bc komik, hihi
    kayaknya jjong takut sm kibum ya? ituu si taemiiin, lucuuu bgt 🙂

    can’t wait for next part

  2. shisus apaan sih?Lemot nih aku,,,,

    Jinki mengelap tangan ke celana jinsnya dan melangkah lebih jauh dari mereka..Mereka mahasisiwa atau masih murid SMA? kok pake jeans??Hehehehehehe

    Aku kasihan sama Jinki,,tapi aku bacanya ngakak…

    Ngebayangin Key dengan penampilan bad boy-nya bikin dugeun-dugeun!!

    Seruuuuuuuuuuuu…….

    Masih ada kelanjutannya kan? Aku tungguin,,,

    1. Shisus dalam FF ini semacam kata seru. Sama kayak “omo”, “aigo”, “gosh”, dll. Sebenernya sih itu nicknamenya Siwon SuJu (the Abmighty Shisus).

      Dalam bayangan aku mereka masuk SMA model barat. Jadi ke sekolah pake baju bebas. Nggak ada yg namanya seragam2an.

      Ih jahat deh. Nggak nolongin malah ngakak.*keyobbo: lebih jahat authornya! Menyiksa Jinki lewat tangan kekar Jjong!* #bletak

      Muahaha. Kibum emang paling pantes jadi tokoh bad boy misterius. Nggak ada yg lebih pantes selain dia. XD

      Masih ada lanjutannya. Tapi lamaaaa banget. Maukah kau menunggu sampai akhir dunia hanya untukku? *pussy eyes ala Puss in Boots* #plakbletakbruticikicikehem

      Gomawoyo sudah singgah dan mengomen. 😀

  3. Ini Settingnya anak sekolah app kuliah sihh?? #mikir,,

    Huwaaaahhh,, Jonghyun Kualat ntar,, masa sama Hyungnya jahat gitu,, tp aq rasa Jjong punya kepribadian ganda,, klo disekolah Jahil N bully Jinki,, tp klo Diluar sekolah kelihatan baiknya,, hayooo lo,, Jjong punya maksud app nihh ma Jinki,,hahaha

    Key,, aw,, aw,aw, Badboynya itu lohhhh,, dg satu tatapan bikin Jjong mengkeret,, #apa dehhh,,,

    Nice story N gaya Khas Jongki, sederhana N tepat sasaran,,, Like This Yo!!!

    ayo ditunggu lanjutannya,,

    1. Settingnya di SMA yg nggak mengenal seragam (?). Ala sekolah-sekolah barat gitu deh.

      Ehehehehe. Jawabannya ada di dua part selanjutnya. 🙂

      Ne. Kibum itu bad boy paling keren sejagat (setelah Jonghyun dan Onew). Kekekeke.

      Wah wah. Kayaknya nuna udah sering baca FF aku. #terharu

      Thank you for reading and commenting. Liek ya comment too yo! 😀 #keyboardacakadut

  4. Wuah.. Daebak-daebak ! 😀
    Bahasanya bagus.
    Alur ceritanya juga,
    Aku bingung Sama Jjong. Pas di Rumah Jinki dia biasa aja tapi pas di sekolah.
    Aku bnr2 ketawa pas bagian Jinki ngebayangin hal buruk tntang pemakaman dll. Kocak bgt pas itu.
    Lbh lucunya pas Kibum dtng dan nyinggung masalah ‘tinggi’ badan. Wakakakakak.
    Wuih..*jinki udah balas ;jong nih. Tapi kira2 Jjong bls gak yah??
    Hah.. Penasaran.
    Di tunggu klnjutannya 😀

  5. ini mau dbkin yaoi kah?
    bagus jg kalo yaoi, jarang pairing JongNew soalnya. Haha
    Tp kibum mihak siapa sih? jonghyun apa jinki?
    kasian jinki di bully, tp akhirnya bs melawan. Keren.

  6. kereeen …. aisssh jonghyun !!!! -_-”
    jinki lawan, biar dia taauuu rasaa!!!
    shisus apaan thor ??

    sebenernya jinki punya kekuatan kan?? cuman dia takut ngelukain org lain .. itu ?? bener ngak nih ?? ahhh sotoy kumat kayaknya .. heheheh

    ayoo lanjutannya nice ff thor ..

  7. Wuahahahaha, Lee Jongki emang jjang! Paling suka pas ada laba2 dlm sandwich *maafkan ‘kelainan’ku yg suka liat laba2 ini*
    kekeke.
    Ayo kita bnyak2 nulis ff lagi!*mengembangkempiskanlubangidung*
    eh,tapi kita mau ujian ya 😦

  8. Jongki oppa kembali yeeeey!! 😀 Pertama baca ini kok aku agak bingung ya? 😐 #jongki oppa: kamunya aja yang bego (T.T)# hhe tpi smakin lma mudeng kok xD daebak oppa! Aku bayangin mereka malah pas masih SD jadinya –” walaupun aku tau itu settingnya pas SMA. Ayo next part cpetan ya oppa 😉

    1. Komenmu bagai oksigen, Hanin. Aku yang lemes ini langsung bangkit. Nyahahahaha. XD Thank you. 😀

      Next part masih lama. /sobs Mianhaeyo. Mungkin berbulan-bulan lagi publishnya. Ngirimnya Januari sih. Telat banget ya. T^T

      Btw, Jjong dan Jinki waktu SD imut nggak yah? *berkhayal dulu*

  9. yay!! jongki oppa datang lagii 😀
    hepihepihepi … XD

    ini cuma perasaan aja atau bener firasat aku kalo jonghyun tu sebenernya sayang sama jinki? *ngarangbanget.
    JongYu Romance .. wkwkwk
    yaoi kah?

    kibum tu siapanya jonghyun sih ? terus kenapa kayaknya jonghyun punya sisi kehidupan lain yang bikin dia jadi kayak gitu ..? *soktaubanget
    penasaran .. hehe

    1. *tutup kuping* YEAH! I’M BACK, LIMAU! Asyik. Kedatanganku ditunggu-tunggu. Senangnya~. XDD

      Muahaha. Rahasia. I’ll keep the readers guessing ’till the last installment.#sokmisterius

      Tenang saja. Aku ‘belum’ punya hati untuk merusak otak kalian dengan adegan ‘ehem2’ sesama jenis.

      Please look forward to the second and last installment. *bow*

      Gomawoyo atas komennya. 😀

  10. huwaaa, paling nunggu ff ini! tapi giliran rilis, internet di rumahku putus *curcol.
    like it like it like it!! XD
    kyaaa, kurang hot! need more jongyu moment #yadong

    1. I see. Pantes kamu nggak nongol-nongol. Udah aku tungguin berhari-hari lho. Ahahaha.

      Tenang, aku paling nafsu bikin JongYu moment. XD Aku lagi bikin part 3-nya nih. Minta doanya supaya cepet kelar ya. ^^

      Terimakasih udah nunggu dan baca. Jeongmal gomawoyo. 😀

  11. Author, shisus itu arti sebenarnya apa sih? Aku tau itu nicknamenya siwon-ssi, tapi ga mudeng aku. Maaf ya aku lemot -_-

    fanficnya baguus. Good job ya thor, btw anda kelahiran tahun brp? Saya mau panggil oppa tapi ragu-ragu. Hehe. Salam kenal, Kim Yeonni imnida 🙂 #kenalanbelakangan ._.

  12. isshh….oppa….
    napa jonghyung jdi serem begene???……..
    bang ayam kasian amat,tapi langsung terkesima pas onyu tiba-tiba jdi pemberani…

    aaaaaaahhhhhh………makin kesengsem ma jongyu.

  13. JONGYUUUUUUUUUUU~
    AIGOO~ si Jonghyun kejam amat sih jadi anak, niat bunuh orang yah?! dasar, tapi knp harus Jingki?! kan kasian… tau rasa kalo tiba2 jingki pergi ._.
    ini udah ada lanjutannya belum?

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s