I Can’t Be Yours – Part 3

I can’t be yours[3] : Observe!

Title : I can’t be yours

Author : Bibib Dubu

Main Cast  : Jung Hyuna (Imaginary), Lee Jin Ki, Kim Kibum

Support Cast : Lee Taemin, Choi Minho, Kim Jonghyun

Length : Sequel

Genre : Family, Romance, Life, Psychology

Rating : PG-15

Summary :

Key : “Aku lebih suka matematika sebenarnya. Begini Hyu, aku suka kepastian yang ditawarkan matematika, bahwa apabila ada persamaan garis y sama dengan x ditambah satu, hasilnya akan sama dengan 1 ketika x bernilai nol. Karena memang seperti itulah seharusnya kehidupan, apapun nilai x atau-kita sebut-keputusan yang kita ambil, maka akan menghasilkan sebuah dampak yang bisa kita perhitungkan dengan akurat hasilnya.”

Hyuna : “Tapi kenyataan yang ada di dunia ini tidak seperti itu.”

Key : “Memang, itulah yang membuatku pada akhirnya menerima motto yang diusung statistika, bahwa di dunia ini selalu ada error. Jadi nilai y belum tentu satu ketika x bernilai nol untuk sebuah persamaan garis y sama dengan x ditambah satu.”

Hyuna : “Aku setuju. Akan selalu ada error yang membuat nilai y bisa berbeda untuk nilai x yang sama. Begitu pula yang terjadi pada manusia, respon setiap orang akan berbeda walaupun diberikan perlakuan yang sama, karena ada error disana.”

 

++++++

 

Dalam setiap permainan Sudoku, atau bahkan kasus pembunuhan saja selalu ada petujuk untuk menyelesaikannya. Suatu saat aku pasti bisa menjadi Shinichi Kudo yang dapat menyadari petunjuk sekecil apapun yang ada di TKP, atau bahkan ia menyadari gerak-gerik ataupun ucapan yang tidak sengaja didengarnya dari orang-orang sekitar, dan mengolahnya menjadi suatu informasi berharga untuk memecahkan misteri.

 

Key POV

Tidak ingin waktu berjalan, berhentilah sesaat untukku, untuk membiarkan hatiku merekah dan menyunggingkan senyumnya. Biarkan seperti ini, menikmati sensasi yang ditawarkan sebaran Poisson, sebuah sebaran yang mencerminkan peluang yang sangat kecil untuk terwujudnya suatu kejadian diantara ukuran sampel yang besar.

“Hyu, aku senang bisa melewati waktu bersamamu seperti ini.” Ucapku sambil tidak membiarkan tangannya lepas dari genggamanku.

“Kau seperti anak kecil ya Key.” Dia hanya menanggapi datar.

“Hyu, tersenyumlah, sehari ini saja lukiskan senyuman indahmu untukku.” Aku tidak suka dengan wajah redupnya seperti ini.

 “Jadi, kau mencintaiku hanya karena senyumku? Kau tidak beda dengan namja lain, Key.”

“Ani, kau tidak bisa men-judge-ku seperti itu. Sesungguhnya keindahan paras yeoja hanyalah sebuah bonus bagi namja yang mencintainya.”

“Cih, munafik. Tahu tidak Key, sebuah penelitian mengungkap, seorang namja ketika menyukai yeoja, yang lebih dulu dilihatnya adalah kecantikan fisiknya, baru menelisik keindahan hatinya. Berbeda dengan Yeoja, bagi mereka, ketampanan bukanlah jaminan awal. Nyatanya di dunia ini banyak yeoja cantik yang bersuamikan namja yang wajahnya standar atau bahkan jelek. Tahu kenapa itu terjadi? Karena yang dilihat seorang yeoja dari seorang namja adalah kepribadiannya.” Tuturnya panjang lebar sambil mengarahkan langkah kami memasuki sebuah restoran Italia.

Ucapannya barusan sedikit banyak membuatku tertegun. Apa mungkin ini adalah pesannya untukku? Dia belum bisa mencintaiku karena memang kepribadianku tidak berkesan di pikirannya.

“Hyu, jadi secara langsung kau memintaku berubah?”

“Mwo? Berubah apa? Memangnya aku bilang apa?” ia tersenyum geli memandangku.

Sebelum menjawab, aku mengajaknya duduk di sebuah meja yang terletak agak jauh dari keramaian.

“Berubah menjadi namja yang kepribadiannya dapat menyentuh hatimu?” aku melanjutkan dengan serius.

“Ani, tidak ada maksud seperti itu. Key-ah, pembicaraan kita sudah mulai mengarah pada keributan, bagaimana kalau kita ganti?”

Ah iya benar. Kenapa selalu seperti ini suasananya setiap kali aku jalan berdua dengannya. Mungkin aku harus menempelkan betul pesan Jonghyun hyung di otakku, jangan memberinya pertanyaan atau pernyataan yang terkesan frontal. Sulit memang, karena aku telah terbiasa seperti itu.

“Geurae. Kalau begitu ceritakan tentang kuliahmu? Adakah yang berkesan?”

“Semua ilmu yang disampaikan dosenku menarik sebenarnya. Tapi yang mengusik pikiranku adalah sebuah pernyataan yang ditanyakan dosenku. Matematika itu bersifat deterministik, sedangkan statistika itu bersifat stokastik. Kau lebih setuju yang mana?”

“Aku lebih suka matematika sebenarnya. Begini Hyu, aku suka kepastian yang ditawarkan matematika, bahwa apabila ada persamaan garis y sama dengan x ditambah satu, hasilnya akan sama dengan 1 ketika x bernilai nol. Karena memang seperti itulah seharusnya kehidupan, apapun nilai x atau-kita sebut-keputusan yang kita ambil, maka akan menghasilkan sebuah dampak yang bisa kita perhitungkan dengan akurat hasilnya.”

“Tapi kenyataan yang ada di dunia ini tidak seperti itu.”

“Memang, itulah yang membuatku pada akhirnya menerima motto yang diusung statistika, bahwa di dunia ini selalu ada error. Jadi nilai y belum tentu satu ketika x bernilai nol untuk sebuah persamaan garis y sama dengan x ditambah satu.”

“Aku setuju. Akan selalu ada error yang membuat nilai y bisa berbeda untuk nilai x yang sama. Begitu pula yang terjadi pada manusia, respon setiap orang akan berbeda walaupun diberikan perlakuan yang sama, karena ada error disana.”

Ini sebuah petunjuk lagi. Hyuna ingin mengatakan padaku, bahwa responnya akan berbeda dengan yeoja lain ketika diberi sebuah perlakuan. Aku memang bukan orang statistika seperti Hyuna, tapi setidaknya dulu aku pun mempelajarinya, jadi aku sedikit tahu seperti apa statistika.

Satu lagi, lanjutan dari penjabaran tentang error adalah, di dunia ini selalu ada error, tujuan kita adalah meminimumkan error tersebut agar dapat lebih mudah mendapatkan tujuan kita. Berarti, aku harus bisa membuat Hyuna menunjukkan respon yang sama dengan yeoja lain ketika disodorkan ketulusan oleh seorang namja. Tinggal langkahnya…ayo beri aku petunjuk, Hyu.

“Key, kau ingin pesan apa?” Hyuna mengalihkan pembicaraan sepertinya.

Memang tidak usah dilanjutkan karena pembicaraan ini masih juga berbau keseriusan, bukankah ini waktunya santai?

“Aku mau spaghetti , mwo moggosipoyo (mau makan apa)?”

“Aku pasti pizza dong…” jawabnya ringan.

“Kau menggemari pizza, Hyu?” tanyaku setelah mendengar nadanya yang penuh kepastian saat mengatakan pizza, seolah ia mutlak memesan pizza setiap kali makan di restoran italia.

“Kau baru tahu sekarang? Bahkan orang lain saja ada yang tahu.”

Orang lain? Siapa? Adakah orang lain yang mengetahui detail tentang Hyu? Hyu…kau dekat dengan orang lain? Atau memang aku yang tidak peka dengan apa yang kau suka dan tidak?

“Nuna!” seseorang mengalihkan pandangan kami berdua ke arah pemilik sumber suara tersebut.

Seketika pupil mataku mengatur cahaya yang masuk dan mengizinkan retina mataku mengolah cahaya menjadi bayangan besar dan tegak, lalu iris-ku mengatur warnanya dan berujung pada lensa mataku yang dapat menangkap siapa sosok yang ada di hadapan kami saat ini.

“Taemin-a…omo, kau bertambah yeoppo.” Hyuna mengelus-elus pipi namja yang datang bersama namja lain yang kulihat di kelas Hyuna waktu itu, kalau tidak salah namanya Jinki

“Ah nuna~ aku tampan, bukan yeoppo!” namja itu protes keras.

Kuakui, namja itu memang sangat cantik. Tapi memang sudah selayaknya ia protes, kurasa namja manapun di dunia tidak ada yang ingin disebut cantik.

“Hehe, aku hanya berkata jujur, Tae-ah. Eh, kalian duduk di sini saja, biar ramai. Kajja!”

Andwae! Hyuna…kenapa kau mengajak mereka! Aku ingin berdua denganmu, Hyu…

Aku menjadi lemas karenanya. Untuk jalan-jalan bersamanya saja sudah merupakan suatu kejadian langka. Biasanya, ia sibuk berkutat dengan buku text book asingnya atau aku yang harus mempersiapkan keperluan bisnis. Sekarang?

“Hyu, kau kan sedang bersama nampyeonmu, nanti kami mengganggu. Kami duduk di tempat lain saja ya?”

Mataku berbinar saat Jinki mengatakannya. Khamsahamnida, kau memahami perasaanku Jinki sshi.

“Gwenchana, aku kan jarang-jarang bertemu Taemin. Ayo Taeminnie, duduk di sebelah nuna.”

Baik aku maupun kedua namja di depan kami ini terpaku mendengar ajakan Hyuna. Arggh…Hyu, apa yang kau pikirkan? Rasanya cocok dengan pribahasa, ‘semut di seberang sana terlihat, sementara gajah dipelupuk mata tidak tampak’. Ia mengatakan bahwa ia jarang bertemu Taemin, tapi bukankah sangat jarang juga aku dan dia memiliki waktu untuk jalan-jalan berdua? Tidakkah kau memikirkan perasaanku? Apalagi dia Jinki, namja yang memberikan sorot mata yang sangat teduh ketika ia memandang Hyuna.

“Taemiiinn, palli…Jinki-ah, duduklah di sebelah Key. Otte?” Hyuna berseru seraya menarik tangan Taemin ke tempat yang diucapkannya.

Aku dan Jinki saling pandang. Tatapan mata Jinki seolah mengatakan padaku—apa kau mengizinkan?

Jinki POV

“Hyung, bukankah itu Hyuna nuna?” Tanya Taemin ketika kami melewati sebuah restoran Italia.

“Ne, itu hyuna. Eh…”

“Nuna!” Taemin memanggilnya sebelum aku belum sempat mengatakan–jangan ganggu sepasang sejoli yang sedang menjalani moment indahnya berumah tangga.

Aku terpaksa mengikuti Taemin yang terlebih dahulu mendatangi meja Hyuna dan nampyeonnya.

“Taemin-a…omo, kau bertambah yeoppo.” Seperti biasa, Hyuna seperti ketagihan menyentuh pipi mulus nan cantik milik Taemin. Memang kuakui, Taemin ini sangat cantik, bahkan tanpa memakai wig pun ia akan seperti yeoja sungguhan jika memakai pakaian yeoja.

“Ah nuna~ aku tampan, bukan yeoppo!” protes Taemin. Aku tahu betul bahwa adikku ini tidak suka disebut cantik. Aku mengerti perasaannya. Cantik adalah predikat yang melekat pada seorang yeoja, tidak seharusnya ditempelkan pada seorang namja. Dalam diri setiap namja, sedikitnya pasti ada keinginan untuk diakui sebagai individu yang membawa embel-embel kejantanannya, seperti tampan, berwajah tegas, gagah, pemberani, berkharisma dan sebagainya.

“Hehe, aku hanya berkata jujur, Tae-ah. Eh, kalian duduk di sini saja, biar ramai.Kajja!”

Aku tidak habis pikir dengan ucapannya barusan. Tidakkah itu akan mengganggu romantisme yang sedang membentang lebar di antara keduanya?

“Hyu, kau kan sedang bersama nampyeonmu, nanti kami mengganggu. Kami duduk di tempat lain saja ya?” Akhirnya aku bisa membuka mulutku. Jelas saja aku harus mengatakan ini. Mungkin bagi Hyu yang menurutku–berkarakter cuek—ini bukan sesuatu yang mengganggu. Tapi bagi Key? Aku yakin namja itu tidak nyaman dengan kehadiran kami, aku bisa menangkapnya dari raut wajahnya yang langsung menekuk ketika mendengar Hyuna mengajak kami.

 “Gwenchana, aku kan jarang-jarang bertemu Taemin. Ayo Taeminnie, duduk di sebelah nuna.”

Aku yakin betul saat ini perasaan Key bisa diumpamakan seperti bandul kalung dimana kalungnya masih dipegang dan dibiarkan menjulur vertikal oleh pemiliknya, dalam arti lain, belum dikenakan oleh pemiliknya. Di satu sisi, dia adalah nampyeon-nya Hyuna, tapi Hyuna terkesan menganggapnya sebagai benda kecil yang ada di salah satu jalur hidupnya dan dibiarkan menggantung-gantung, tidak segera dimasukkan ke dalam istana hati anae-nya.

 “Taemiiinn, palli…Jinki-ah, duduklah di sebelah Key. Otte?” Hyuna berseru seraya menarik tangan Taemin ke tempat yang diucapkannya.

Aku menatap Key lama, seperti mencari sebuah izin diantara hamparan bola mata hitamnya. Ada beberapa tumpuk lembar kekecewaan padanya, dan aku bisa merasakannya.

Key POV

Dengan berat hati aku mengalah pada Hyuna, aku tidak ingin membuat suasana bertambah runyam lagi.

“Annyeong haseyo, Chonun Kim Kibum imnida, bangapseumnida.” aku memperkenalkan diri padanya agar suasana tidak bertambah kaku.

“Ne, chonun sugae hagesseumnida (aku akan memperkenalkan diri). Chonun Lee Jinki imnida, bangapseumnida. Tae-ah, ayo perkenalkan dirimu juga.”

“Ne, Hyung. Chonun Lee Taemin imnida. Saat ini aku duduk di kelas dua SMA.” Dongsaengnya terlihat sangat patuh terhadap hyung-nya.

“Jinki sshi, kau sudah berapa lama mengenal Hyuna? Kalian sepertinya akrab sekali ya?”

“Oo, sejak SMA, tapi kami memang tidak pernah sekelas. Aku hanya pernah sekelas dengan In Jung, kau pasti mengenal In Jung juga kan?” kulihat ia membalasku dengan senyuman.

“Ne, mana mungkin aku tidak mengenal sahabat Hyuna.” Jawabku dengan lebih ramah.

Sepertinya sikapku pada Jinki terlalu sinis, padahal ia terlihat sangat welcome menerimaku. Apa kecemburuanku padanya berlebihan?

“Key, Jinki ini orang yang sangat pintar, tapi aku tidak tahu siapa yang lebih pintar diantara kalian.” Hyuna mulai ikut menimpali obrolan.

“Tentu saja hyung-ku lebih pintar.” Taemin menyambar cepat, dan kami tertawa melihat ekspresinya yang mirip anak kecil ketika diledek bahwa mainannya kalah bagus dengan kepunyaan chingunya.

“Atau mungkin kau lebih pintar daripada Jinki, Tae-ah?” Hyuna menarik kepala Taemin merapat ke pundaknya dan mengelus-elus rambut bocah itu.

Hyu, jangan perlakukan dia seperti itu…bagaimanapun dia namja yang sudah beranjak dewasa. Hyu…jangan buat aku cemburu…

++++++

Hyuna POV

“Ahaha, Key, aku tahu kau cemburu berat kan tadi? Ekspresimu langsung berubah sewaktu aku mengajak Jinki dan Taemin bergabung bersama.”

“Tentu saja, jagi. Nampyeon mana yang mau waktu berdua dengan anae-nya terganggu. Padahal Hyu, aku sangat merindukan jalan berdua denganmu…” Key membelai rambutku dengan lembut.

Kami sedang menikmati malam di gazebo belakang rumah kami sambil menyantap kimchi kesukaan Key.

“Kau manja Key. Bukankah nyaris setiap hari kita berdua? Jadi kau tidak menganggapnya?” aku sedikit risih setiap kali ia menyentuh kepalaku.

“Mungkin kadar kecemburuanku yang terlalu tinggi. Tapi Hyu, bukankah kecemburuan itu berbanding lurus dengan cinta?”

“Mollayo. Tapi kecemburuanmu akan merusak dirimu sendiri…”

“Tapi Hyu, aku benar-benar tidak suka saat kau mengacak-acak rambut Taemin, bagaimanapun dia bukan anak kecil lagi. Kau bahkan tidak pernah bersikap seperti itu padaku.”

Omo, tadi aku tidak sadar sewaktu mengacak-acak rambut Taemin. Aku tidak berpikir tentang Key saat itu.

“Jadi kau iri, Key?”

Key POV

“Tapi Hyu, aku benar-benar tidak suka saat kau mengacak-acak rambut Taemin, bagaimanapun dia bukan anak kecil lagi. Kau bahkan tidak pernah bersikap seperti itu padaku.” Lebih baik aku berterus terang dalam hal ini.

 “Jadi kau iri, Key?”

Aku iri? Pertanyaanmu itu seolah menyindirku seperti anak kecil yang menginginkan sesuatu milik orang lain. Bedanya, kau milikku Hyu, seharusnya seperti itu.

“Ne, aku iri, wajar kan? Apa aku kekanakan,Hyu”

Aku tahu perkataanku sudah mulai frontal lagi. Hyu, kau boleh menganggapku seperti anak kecil setelah ini, kau juga boleh mengejekku lebih sadis, tapi aku ingin kau tahu perasaanku.

“Ani, itu wajar Key. Kalau begitu…”

Sepersekian detik kemudian aku dibuat terkejut. Hyuna tidak marah, tidak juga mengejekku lagi. Dia mengusap rambutku lembut setelah aku membiarkan kepalaku digerakkan ke bahunya.

Inilah yang membuatku tidak dapat memahami Hyuna, ia dapat menjelma seperti air raksa yang dekstruktif, tapi di lain waktu ia akan menjadi asam yang menetralkan basa.

++++++

Author POV

Sahabat memanglah tempat bertukar pikiran tak kala kita ragu atau tidak mengetahui sebuah jawaban atas permasalahan kita. Ketika kau terjebak dalam lubang kebuntuan dan tidak bisa kembali ke permukaan, panggil sahabatmu untuk menjulurkan tangannya mengeluarkanmu minimal sampai pertengahan. Ia adalah malaikat yang secara tidak langsung ditugaskan oleh Tuhan untuk menjadi penolongmu, meskipun sebenarnya Tuhan-lah yang ada dibalik semua pertolongan sahabatmu itu.

“Key, Bicara tentang statistika, kau tahu filosofi variance?” Tanya Minho saat dirinya, Key dan Jonghyun sedang makan siang bersama pada jam istirahat kantor masing-masing.

“Mollayo, aku bukan orang statistika.” Key menggeleng. Ia tampak muram, perasaannya seperti benang kusut yang semakin sulit menjadi lurus setelah menceritakan semua kejadian saat jalan-jalan bersama Hyuna kemarin.

Variance, sebuah parameter yang menyebabkan statistik dibutuhkan di dunia ini. Data yang ada di dunia ini beragam, sehingga akan muncullah variance. Kalau variance-nya besar, akan semakin sulit ditarik garis regresi yang akan kita gunakan untuk memprediksi suatu kejadian.”

 “Lalu, apanya yang menarik?” Key masih belum dapat mencerna penjabaran Minho.

“Kaitkan dengan kehidupan. Watak manusia di dunia ini sangat beragam, sehingga sulit untuk mengumpulkan mereka menjadi satu kesatuan. Padahal kesatuan itulah yang menjadi jalan awal untuk membentuk sebuah garis yang rutenya menuju ke sebuah titik akhir. Tapi, banyak metode yang bisa kita gunakan untuk menganalisis variance sehingga kita dapat menyajikan data yang sesuai tujuan, yaitu data yang terpercaya. Begitulah pula seharusnya pernikahan, keragaman karakter harus dapat diolah dengan berbagai cara agar muncul suatu titik yang merupakan tujuan bersama.”

“Kerucutkan intinya, aku sangat pusing saat ini. Minho.” Key sudah terlihat tidak stabil.

“Cara supaya kalian bersatu yaitu harus saling memahami, jangan hanya kau yang berusaha memahaminya. Mintalah ia memahamimu juga, Key!” Minho melanjutkan dengan nada kekesalan yang kental.

“Ada yang kurang.” Timpal Jonghyun santai. “Terkadang akan hadir sebuah data menyimpang jauh dari kawanannya. Tapi sebenarnya, seberapa jauh pun ia menyimpang, kita dapat mentransformasi data tersebut sehingga menghasilkan sekumpulan data yang variance-nya kecil, sehingga kita dapat membuat garis regresi. Dan, Hyuna adalah data yang menyimpang itu.”

“Maksudmu Hyuna berbeda jauh dengan yeoja lain, Hyung?”

“Ne, dari ceritamu waktu bertemu oppa-nya, ucapan Hyuna saat kau minta maaf, dan kejadian saat kalian jalan bersama, aku mulai mencium karakter yang tidak beres dalam diri Hyuna, tapi masih terlalu dini untuk menyimpulkannya. Saranku saat ini, kau harus terus mengamati setiap hal yang ia ucapkan, perhatikan juga obrolan-obrolan serta hal-hal yang menarik perhatiannya, juga sebaliknya.”

“Hyung, adakah kemungkinan orang ketiga dalam pernikahan kami?” Key makin antusias menyimak penuturan Jonghyun.

“Aniyo. Bukan begitu, justru sepertinya kau lah yang menjadi orang ketiga dalam kisah percintaan Hyuna…kau ma-”

“Hyung…tega sekali kau bicara seperti itu pada Key.” Minho memotong ucapan Jonghyun, ia tidak kuasa melihat setitik cairan basah berada di ujung mata sahabatnya

“Gwenchana, lanjutkan Hyung…” pinta Key seraya menguatkan dirinya untuk menerima kenyataan-kenyataan berikutnya yang akan dianalisa Jonghyun

++++++

Author POV

“Jagi…aku cemburu melihat kau mengusap kepala Key…”

“Ais, kau membuntuti aku rupanya ya…Aku tidak menggunakan cinta, kau tenang saja. Kau juga kan sudah sering mendapat yang lebih dari itu. Jagiya, hanya satu jam lagi aku bisa menemanimu. Adakah yang ingin kau sampaikan padaku?” Hyuna merebahkan tubuhnya yang lelah setelah seharian berkutat dengan perkuliahan ke sebelah sosok pujaannya.

“Ummm…besok kau ada waktu kosong kan? Aku ingin mengajakmu makan.”

“Ne, aku kosong mulai pukul empat sore. Oya, bukankah kau belum menepati janjimu untuk mengajakku makan di restoran di kapal pesiar?”

“Geurae, akan kutepati.”

 L to the O to the V to the E,  Machi amu ildo eobdeon geotcheoreom. K to the I to the S to the S. Neomaneul, saranghae. T to the E to the A to the R.Haruharu bonaegiga himdeureo. Oh, my love! Love! Love!

Ponsel Hyuna berdering, pemiliknya langsung bangkit untuk meraih benda kesayangannya tersebut dari dalam tasnya

Yunho Oppa

Calling

“Yeoboseyo…oppa, bogoshippo… Ottoke chinaeseyo? (bagaimana keadaanmu?)” dengan semangat Hyuna menjawab panggilan Oppa kesayangannya.

“Chossumnida (baik-baik saja), Hyu, aku ingin bicara penting. Bisakah kau menuju tempat yang tidak ada orang lain di sekitarnya.”

“Ne, chamsi gidaryojusipsio (tunggu sebentar). Jagiya, aku bicara dengan oppaku dulu ya…” Hyuna meminta izin pada orang yang berada di sampingnya.

“Ne, salam untuk oppamu yang hebat itu.”

++++++

Key POV

“Key, kau merasa tersakiti banyak olehku?”

“Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?” Aku heran kenapa tiba-tiba ia menanyakan hal seperti itu.

Segera kualihkan pandanganku dari laptop-ku, aku harus memahami maksudnya, melewati hari bersama ini rasanya seperti sedang bermain tebak-tebakan.

“Kalaupun iya, aku akan melupakannya tidak lama kemudian.” Ia tidak menjawab, maka kuputuskan untuk menjawab langsung pertanyaannya.

Ia tersenyum lega sepertinya. Aku juga membalas senyumnya. Aku bahagia dengan suasana seperti ini. Hanya tinggal menunggu cinta melengkapi kisah ini.

“Gomawo Key. Tapi Key, apa kau tidak lelah bersamaku?”

“Apa pantas cintaku dinodai oleh rasa lelah? Hyu, aku akan bersabar menunggumu, menunggu hatimu menerimaku.”

“Ani, kau tidak boleh menungguku Key.”

Maksudmu apa Hyu? Kenapa aku tidak diizinkan menunggu? Apa betul telah ada seseorang lain yang telah memiliki hatimu jauh sebelum aku mengetuknya?

“Waeyo? Apa kau membenciku sampai kau menolak namaku tertulis di hatimu?”

“Aniyo, geunyang…ah, sudahlah Key, lanjutkan pekerjaanmu, kau harus menyelesaikannya malam ini bukan? Oya, ada yang bisa kubantu?”

“Segelas Coffe mungkin sangat berharga, Hyu.”

Hyuna POV

“Key, kau merasa tersakiti banyak olehku?”

Sehabis di telepon Yunho Oppa, rasa bersalahku pada Key kembali membayangi. Aku memutuskan untuk berbincang dengan Key agar dapat melihat raut wajahnya. Dengan begitu aku dapat meraba apa yang sebenarnya Key rasakan.

“Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?”

Aku tidak menjawab, hanya tetap memandangnya yang sedang terlihat pusing memandangi layar laptopnya. Tidak lama ia mengalihkan pandangannya dan membalas sorot mataku dengan wajah bingung.

“Kalaupun iya, aku akan melupakannya tidak lama kemudian.”

Aku lega sekaligus terharu mendengar jawabannya. Namja ini sangat baik, tapi sekali lagi aku mengatakan, dia datang terlambat. Maka kuhadiahkan sebuah senyuman tulus untuk namja di hadapanku ini, dan ia membalasnya dengan hal serupa.

“Gomawo Key. Tapi Key, apa kau tidak lelah bersamaku?”

“Apa pantas cintaku dinodai oleh rasa lelah? Hyu, aku akan bersabar menunggumu, menunggu hatimu menerimaku.”

“Ani, kau tidak boleh menungguku Key.”

Ne, Kau tidak boleh menungguku, penantianmu mungkin tidak ada ujungnya. Key, bagaimana caranya aku membuatmu melepaskanku tanpa membuatmu terluka?

“Waeyo? Apa kau membenciku sampai kau menolak namaku tertulis di hatimu?”

Jadi selama ini kau mengira aku membencimu, Key? Aniyo, aku tidak mencintaimu bukan karena membencimu, tapi karena telah ada orang lain yang sangat berharga untukku. Ingin rasanya aku membantah dugaannya tersebut, tapi mustahil kulakukan

“Aniyo, geunyang…ah, sudahlah Key, lanjutkan pekerjaanmu, kau harus menyelesaikannya malam ini bukan? Oya, ada yang bisa kubantu?”

“Segelas Coffe mungkin sangat berharga, Hyu.”

“Geurae, sebuah kopi penyemangat bagi Kim Kibum dari Jung Hyuna.”

Aku bangkit menuju dapur untuk membuat segelas kopi yang dapat memberinya semangat. Setelah berbincang dengannya tadi, aku sedikit lega melihatnya tersenyum. Tapi tetap saja ucapan Yunho Oppa menohok batinku.

Flashback

“Hyu, berhenti menyakiti Key!” aku kaget karena Yunho Oppa tidak biasanya membentak orang. Apalagi yang disebutnya barusan adalah Key.

“Oppa, kenapa kau mencampuri urusan rumah tanggaku?”

“Yang seperti itu masih kau sebut rumah tangga?”

“Aku tahu aku salah. Aku pun tidak menghendaki diriku seperti ini. Aku tahu Key sangat mencintaiku…” aku mulai dikuasai emosi.

“Kau hanya tahu, tapi tidak paham, Hyu. Minggu lalu Key ke tempat kerjaku, kau tahu apa inti kedatangannya? Dia ingin mencari tahu tentangmu, tapi dia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. Aku rasa sebaiknya ia mengetahui sendiri seperti apa dirimu. Hyu, oppa sayang kau. Setelah umma pergi, hanya kau keluarga yang Oppa punya. Oppa tidak ingin kau tersesat seperti ini selamanya, Kau sakit Hyu!”

Aku terdiam mendengar suaranya yang kali ini seperti membuat pipiku seperti habis ditampar. Memang betul, aku tidak memahami perasaan Key, aku hanya minta dipahami olehnya tanpa melakukan hal yang sebaliknya. Atau, apa sebaiknya aku bercerai dengan Key saja? Umma sudah tidak ada, jadi apa lagi yang kupikirkan?

“Hyu, putuskan secepatnya, bertahan dengannya dan mengobati penyakitmu, atau jangan harap aku masih mengakuimu sebagai dongsaengku.”

Flashback end

Jadi, keputusan apa yang tepat kuambil? Bercerai dengannya? Aku mungkin bukan hanya tidak diakui sebagai dongsaeng oleh Yunho Oppa, tapi akan dikirim ke alam kematian olehnya, entah karena sengaja dibunuhnya, atau karena aku yang tidak tahan ‘dibuang’ oleh Yunho Oppa sehingga menggiring diriku sendiri pada kematian. Selain itu, bercerai bukanlah keputusan bijak karena aku tetap saja akan sakit, itulah sebabnya Yunho Oppa tidak mengajukan option bercerai…

TBC…

++++++

Susah juga ternyata bikin cerita yang serius banget kayak gini ya…bikinnya juga sakit, karena harus menyakiti Key dan Jinki, uwaaa ><

Dan itu kayaknya bahasa statistik bikin pusing ya? Aku aja pusing juga. Thx buat Bodro yang udah menyadarkanku kalo variance itu ada setelah adanya data yang beragam, bukan sebaliknya. Juga buat konsultasi statistic lainnya

Semoga part ini ga terlalu kacangan ya. Gomawo udah mau baca, don’t be silent reader. Ok?

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

33 thoughts on “I Can’t Be Yours – Part 3”

  1. kasian keynyaa
    key sama aq aja deeh
    hehee
    endingnya aq pngennya dia sama key thor
    aq g rela key disakitin kaya gitu #lebay hahaha
    nexy part ditunggu ya thor 🙂

  2. omona…
    gaya bahasanya… kereeeeen… tapi… berat meeeeeen…
    chingu nih kayanya seneng bgt make majas alegori y? org (?) sastra y? atau org IPA? otakku sampe mo kusut bacanya, apalagi perumpamaannya matematik…subhanallah… langsung kusut total deh #plak

    boleh saran? apa ni ff dah dikirim sampe end? ah biarinlah! #apasih
    klo bisa bhasanya agak diringanin (?)… kebanyakan reader kan teenager, jd mendingan jgn berat2 gitu bhasanya, buat org kaya saya ga nyampe ching… ketinggian…
    ffnya emang nyeritain tntang org dewasa, genre-nya marriage life, tp bkalan lebih enak kalo bhasanya lebih diringanin ching, klo berat gini ffnya jd kaya sastra bgt… tp gpp jg sih, jrg2 ada ff genre sastra, soalnya jrg2 da author yg bisa bkinnya… kerenlah chingu ini! dpt darimana sih prumpamaan kaya gitu?! klo aku sih kehidupan ya kehidupan, ga ada hubungannya ma matematik garis x atau y! *ciri2 org cerdas, kreatif & inovatif* #plak

    trus itu lho, tentang pupil, retina beserta kawan2, kayanya ga perlu ada penjabaran sedetail itu deh ching, aku sampe ngerutin kening bcanya… dan thanks, karna hal itu chingu berhasil ngingetin aku dgn ulangan fisika besok -__-
    trustrus, oh my.. plis atuh jgn jadikan taemin sperti anak kecil! *melotot*
    suamiku ga se-childish itu ms. hyuna! disini dia kelas 2 sma oke? dan jgn pernah elus2 kepalanya lagi! nae nampyeon sondaejima! dia udah kelas 2 smaaaaaaaa!! arasseo?!
    trus 1 lagi. it’s yeppeo, bkn yeoppo ching, kebalik hehe

    segitu aja deh ching, mohon maap klo kurang panjang, ada salah2 kata & kesotoyan saya. aku cuma nyampein unek2 (?)…. CMIIW
    two thumbs up 4 u! kok bisa sih dr kmaren ga pernah ada typho? entah mata saya yg salah atau emang authornya teliti bgt. hebat ching!

    next part ditunggu! kita liat apa jenis kelamin dari pujaan hati si hyuna ini *smirk*

  3. Waw,,, Bacanya harus sedikit memeras otak. Meski tidak tahu pasti ttg statistik dan segala macamnya,, tp otakku memaksa harus sedikit mengerti.

    Kalo menurut aq sih,, nih FF lebih tepat ditujukan pasangan nikah usia dini yg sering bermasalah,, nasehat2nya itu lohh,, ngena,,hehehe

    Yupp,, two thumb buat authornya,, ini gx kacangan, tp agal berat malah… Hahaha

    Key, Jinki,, kasihan amat dikau,, Hyu,, ayolah, kau juga harus bisa memahami Key,, dia sangat mencintaimu..

    Tp aq pengennya Key sama Hyu cerai, klo emang jalan terbaik biar yayangku (re : Key) gx menderita terus gitu,,

    Daebak,, ditunggu lanjutannya,,, 😛

  4. pokoknya gimanapun caranya, hyuna nantinya harus cinta ma key (author: Woi! siapa loe nyuruh2 gue? | Aku : *kabuur*)
    Bahasa perumpamaannya susah&rumit bener thor. Pusing deh bacanya. Kata-katanya high class banget..
    Next part jangan lama-lama ya..

  5. Ribet…ribet..ribet tapi daebak thor hehehe..tp masih penasaran banget siapa sih cowok i2 ??
    Next part ditunggu thor 😀

  6. mian g bs bls satu2,lg ol via hp.

    Ff ini udh tamat ampe part7.
    Mungkin ini part paling berat krn aq bawa2 statistika.tp d part2 depan agak ringan perumpamaanny cz ga bawa2 mtk dan statistika,tp ilmu laen #readers: berat juga ntu mah thor
    *author pasrah
    mian kl berat bgd, aq tdny mau ngubah gaya bahasa stelah ff debutku, jd lbh berisi, tp kyna malah berat yah…
    Gomawo yah udh mau baca n komen.
    Aq balesin satu2 kl ol PC

  7. perasaan aku baca fanfic biar gak keinget dulu sama skripsi, ngolah data, dsb nya…
    Lah ini malah ngomongin tentang statistik…..
    Itu udah jadi makanan sehari-hari kenapa ada juga disini T.T

    Hyuna itu beneran cinta sama pacarnya apa enggak sih? Apa cuma pikirannya doang yg membatasi kl dia udah punya pacar dan gak boleh ada laki-laki lain yg masuk ke hatinya?

  8. Tp bgs koq author…
    Cerita ya dalam bgt
    Aku jg suka kata’ ya bs bwt pelajaran hidup juga
    Iya sich kasihan amat key. Ngebayangin key d gtin ma cwe pasti kasihan bgt
    Author daebak dech !
    D tunggu ya cerita selanjutnya

  9. g tau mw bilang apa tntg ff ne, isiny g skdar prcntaan bys. . .
    kok q nangkep (?) si hyuna ne puny pcr imajinasi y???
    (soktau). . . Hadduh hrus bnr2 dpahami ne ff, .
    Pnasarnq brtmbh 1 lg, . Hyu skit pa?? Psti skitx i2 psikologix y??(soktaulagi). .

    Mksh y udh buat ff yg amat sangat layak dbc. .
    hwaiting author. . .

  10. Itu di kasih tahu tntng siapa namjachingu-nya Hyuna kapan sih?
    Aku penasaran.
    Kira2 Hyuna bakal ngambil kptusan apa yah?
    Bercerai Sama Key atau mutusin namjachingu-nya?
    Well, aku bnr2 gak ngerti tntng data statistika atau apalah. Hehe
    Maklum masih bocah. Mueheheheh…
    Daebak eon 😀
    Di tnggu klnjutannya 😀

  11. ahhh sumpahhh konflik ini benar2 .. aissh .. ya begitulah muter2.. pusing, but asik, menegangkan, penasaraan…
    kata2nya daebbak !! suka banget !!!
    sedikit kasihan…. ayoo key…
    “kau akan kembali kepada orang yang memikirkanmu”
    ahahahah …. ^^

  12. Author daebak!!kata”nya tu lhoo..so sweet..tp memusingkan x_x,gg heran sodaraq pasti lgsg pusing kl ngomongin statistik x_x,thor..aq saranin bahasanya diringaninn..soal.a kasian reader” yg IQ.a d bwah garis kemiskinan kayak aq(?) #plak aq smp bc bbrp kali..walopun ttp gg ngerti” ._.v
    err…maksud.a yunppa yg ‘penyakit’ tu ap??apakah hyuna penyuka sesama jenis??ato pacarnya tu cuman imajinasi?? 😮
    key sm jinkinya nyesek bgt >o<..kasian thor…udah,key ma hyuna ajj,jinki diobral #eh #digorokMVP
    ff yg sukses bqn aq penasaraaaaan :3
    aq tgu part 4.a 😀

  13. thor… bahasa statistiknya itu lhoooo… daebak banget! ane kagak ngarti ._.v
    btw, ane masih penasaran sama pacarnya si hyuna.. setampan apakah dia sampai mengalahkan suam ane Kim Kibum tercintaaa…

    lanjut thor!

  14. annyeong…
    ff ne bkkn skedar ff kprcintaan bysa, itu mnrtq, mskpun bahasanya agak berat untuk ukurn ff tp bgus bgt,,,

    kok q nangkepnya tuh pcrnya si hyuna cm imajinasinya aja y????#soktauamatsih…
    pnyakitnya hyuna pasti brkaitan ma mentalnya,, y g chingu????#soktaulagiii…..
    y dah ffnya lebih dr skdr ddaebak,, mksh buat authornya yg dah bkin ne ff,
    hwaiting…

  15. sama sprti part 2 yg bkin q pusing. .hduch,lem0t nich otak..tunggu,apa hyuna itu lesbi??q curiga dh. .#plakk sotoy. .
    .ahh,lnjut dlu d.part 4. .author jjang ! !
    .

  16. Mungkin maksud Hyuna baik ngajak Jinki dan Taemin duduk bareng. Tapi sebagai anae yang baik, paling nggak ngerti perasaan nampyeon-nya sendiri ketika terlebih yang berada di tengah-tengah mereka namja.

    Statistik? Matematika? Nggak apa-apa. Hitung-hitung ingat lagi masa-masa keemasan berpusing ria di makul Statistik.

    Yah, semoga Hyuna bisa sadar suatu saat nanti. Amin.

    Nice story. Lanjut!

  17. key, hebaaat. bisa bertahan mencintai seseorang tanpa pamrih..
    penasaran dgn orang yang merebut hati hyuna, hati hyuna seutuhnya. sampai tak tersisa untuk ditempati oleh orang lain…
    sebegitu berartinya kah orang itu…

  18. Otakku keriting……

    Iya nih, bahasanya berat,,bacanya harus ngerut-ngerutin jidat..kkk~

    Aku kesian banget sama Key,,Hyuna memang yeoja aneh,,bener tuh kata Yunppa..Hyuna sakit….

    Oke,,go to part 4

  19. Annyeong,mian krn buat part1&2 jd silent reader,hbs penasaran pngn lanjut baca trs hehehe.
    Oh y,buat koreksi dikit,api+oksigen itu gak bikin api jd padam,tp malah bikin api jd tambah gede 😉
    Bahasan statistiknya mengingatkan pd perjuangan skripsi hahaha.
    Makin penasaran sama hyuna.
    Saya lanjut lg bacanyaaa =)

  20. Err, semakin penasaran… kayaknya emang Hyuna ini beda dari yeoja lainnya… Tapi beda nya dari segi yang mana?? next…

  21. bahasanya keren, statitiska dikaitkan dengan cinta.. Haduh pusing saya..
    Hyuna ga mau memahami tp ingin d pahami..
    Hyuna jngan kau sia-siakan key..
    Kasian key.. Yg sbar ya key..
    Jadi tambah penasaran spa sih cwo hyuna itu..

Leave a Reply to i5411 Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s