Sesangeul Jom Barabwa – Part 1

Title : Sesangeul Jom Barabwa (part 1)

Author : Choi Minjin

Main Cast : Choi Minho, Lee Jinki

Support Cast : Kim Kibum, Kim Jaejoong

Length : Two shots

Genre : Friendship, life

Rating : General

Note : Huhuhuhu. akhirnya bisa bikin yang kayak begini. oiya, di part 1 ini memang belom berasa sedihnya. ntar tunggu lanjutannya ya…. ditunggu juga komen-komennya. kritik saran yang membangun juga boleh… gomawo ^^

“Bukalah matamu.”
Minho melakukannya. Ia membuka kedua matanya perlahan-lahan. Sangat perlahan. Ia ragu dan ia takut. Ia takut jika apa yang dilihatnya akan mengecewakannya. Ia takut apa yang diharapkannya tidak akan terjadi. Ia takut melihat kegelapan lagi.
Jantungnya berdebar kencang ketika dilihatnya warna-warna. Bukan hitam seperti biasanya. Ia dapat melihat cahaya. Putih, sedikit merah, kuning. Ia tidak dapat percaya. Air matanya hampir tumpah didorong rasa haru dan bahagia.
Awalnya masih tidak jelas. Namun lama-kelamaan semakin jelas dan jelas. Wajah seseorang memblokir pandangannya. Minho membuka matanya lebar-lebar. Ia ingin meyakinkan dirinya bahwa ini bukan mimpi. Ia ingin yakin bahwa ia sedang melihat wajah seseorang.
“Bisa?”orang itu, dokter Kibum bertanya. Minho sudah sangat mengenal suaranya, tetapi inilah kali pertama ia melihatnya. Ternyata sangat jauh dari apa yang selama ini dibayangkannya.
Minho mengangguk. Kibum tersenyum. Ia memeluk Minho erat-erat. Minho melihat dari atas bahu Kibum, ruangan yang selama ini ditempatinya. Dindingnya krem. Tirainya cokelat. Ada vas berisi bunga di atas meja. Bunga itu… bunga matahari kan? Minho enggan mengedipkan mata. Ia takut jika ia memejamkan matanya sekejap saja, maka kegelapan akan datang lagi padanya.
Begitu Kibum melepas pelukannya, Minho memandang wajahnya lagi. Jadi inilah wajah orang yang telah membantunya melewati beberapa minggu di Rumah Sakit. Kibum, sadar sedang ditatap berkata,”Kenapa? Kau kagum melihat ketampananku ya?”
Minho mendengus kecil. Ia dan Kibum tertawa. Pintu diketuk, seorang dokter beserta dua orang perawat masuk. Kibum membungkuk sedikit, lalu berdiri di belakang mereka. Dokter itu bertanya,”Dokter Kim sudah membuka perbannya? Bagaimana? Kau bisa melihat dengan jelas?”
Minho mengangguk. Dokter itu tersenyum. Ia memeriksa mata Minho, menyinarinya dengan semacam senter kecil. Ia mengangguk-angguk sesaat lalu menepuk-nepuk bahu Minho,”Kau tahu siapa aku?”
Minho diam sejenak, berusaha mengingat-ingat suara dokter itu. Setelah beberapa detik ia berdiri, membungkuk dalam-dalam,”Dokter Kim Jaejoong, terima kasih banyak. Terima kasih atas bantuanmu selama ini.”
Dokter Jaejoong tersenyum,”Ah, bukan masalah. Itu kan sudah pekerjaanku. Aku digaji karena mengoperasi matamu.”ia tertawa lalu menoleh pada Kibum,”Dokter Kim, katanya kau dekat dengan pasien ini? Kau bisa mengurus selanjutnya bukan? Aku ada jadwal operasi beberapa menit lagi.”Kibum mengangguk mengiyakan. Dokter Jaejoong bersama salah seorang perawat meninggalkan ruangan sementara perawat yang satunya mencatat beberapa hal di atas clipboard. Ia berkata beberapa hal tentang obat dan hal-hal yang harus dihindari untuk menjaga mata dan blah blah blah sebelum pergi.
Kibum memandangi Minho dengan senang,”Kau tidak berterima kasih padaku?”
“Bukan kau yang mengoperasi mataku.”
“Tentu saja. Mana mungkin mereka mengizinkan aku ikut dalam operasi transplantasi kornea? Aku bahkan belum genap satu tahun menjadi dokter.”
Minho tersenyum kecil,”Ya, kau bisa dengan mudah membunuh pasienmu. Hahaha. Tapi tetap saja kau sangat berjasa. Terima kasih sudah menemaniku selama beberapa minggu ini.”
Kibum tersenyum. Ia sangat terharu melihat senyum bahagia Minho. Tidak pernah sebelumnya ia melihat senyum semacam itu di wajah Minho. Senyum pedihnya, senyum sendunya, kini berubah menjadi senyum ceria.
“Hei, kau tahu siapa yang mendonorkan korneanya untukku?”
Kibum terperanjat sesaat. Ia menggeleng,”Aku tidak tahu. Mereka tidak memberitahuku.”
“Benarkah?”Minho merenung,”Tapi aku benar-benar ingin tahu. Mereka tidak mau memberitahuku. Katanya itu rahasia.”ia menatap Kibum,”Jangan-jangan sebenarnya kau tahu, tapi tidak mau memberitahuku?”
Kibum menghindari tatapan mata Minho,”Aku tidak tahu. Aku bukan orang yang cukup berwenang untuk mengetahuinya. Sudahlah, untuk apa kau ingin tahu tentang dia? Lagipula dia kan sudah..”ia menunduk,”..mati.”
Minho menerawang, hatinya penuh rasa terima kasih,”Dia baik sekali. Bahkan ketika dia akan mati, dia masih memikirkan orang lain. Aku hanya ingin tahu namanya. Nama orang berhati mulia itu.”
Kibum hanya mengangguk-angguk.
“Bolehkah aku keluar?”
Kibum terlonjak. Kali ini ia benar-benar kaget,”Hah? Oh, kurasa boleh. Tapi aku tidak bisa menemanimu. Aku harus membantu operasi katarak setengah jam lagi.”
Minho mengangguk-angguk. Kibum mengusap rambutnya dengan lembut,”Jangan jauh-jauh. Dan segera kembali kalau lelah.”lalu ia pergi.
Setelah Kibum pergi, Minho, dengan semangat anak kecil yang mendapat mainan baru, berkeliling kamar menatapi semua benda satu per satu. Ia berhenti cukup lama di depan lemari, memandangi pakaiannya. Lalu ia mengganti baju yang dikenakannya dengan sweater biru muda dan celana jeans. Setelah cukup puas dengan perpaduan baju dan celananya, ia bercermin. Sedikit kaget dan cukup senang mengetahui bagaimana rupanya sekarang. Masih tampan.
Puas dengan kamarnya, ia keluar. Menyusuri koridor-koridor, ia menoleh ke kanan kiri. Rasanya luar biasa. Melihat itu hebat.
Kakinya tanpa sadar membawanya ke atas, ke atap Rumah Sakit. Di sana ia berdiri lama, memejamkan mata dan merasakan angin membelai wajahnya. Lalu ia membuka mata, dan sensasi yang dirasakannya luar biasa. Langit biru, kota Seoul yang bersalju, angin dingin yang berhembus pelan. Itu semua luar biasa.
Putih salju. Belum begitu banyak. Suhu udara juga belum terlalu dingin. Tapi hebatnya, ia akan melihat salju turun. Kapan ya? Dia harus ada disini ketika itu terjadi. Semoga salju turun dengan deras sehingga seluruh kota akan tertutup putih salju.
Putih. Dia merindukan itu. Putih setelah hitam pekat yang panjang.
Selama bertahun-tahun ia membayangkan dunia dalam warna-warna yang suram. Dalam mimpinya bahkan tidak ada putih. Semuanya hitam. Ia selalu merasa bahwa membuka mata itu percuma saja, kelopak matanya terbuka tanpa rasa, tanpa beda.
Dunia, adalah hal abstrak yang sangat jauh baginya. Apa itu langit biru, apa itu putih salju, apa itu gedung bertingkat, ia sudah melupakannya. Dunia, adalah mimpi yang tak pernah ia bayangkan akan ia gapai kembali, seiring keputusasaan yang melelahkan. Seperti apa indahnya dunia? Ia tidak pernah mengingatnya lagi. Dulu ia bahkan merasa bahwa tidak akan ada hidup yang indah lagi baginya.
Tetapi kini mimpi itu telah digapainya. Hidup itu bisa diperjuangkannya lagi.
Ya. Kau benar. Dunia ini indah. Hidup ini indah. Patut diperjuangkan.
Senyum Minho lenyap seiring ingatannya tentang seseorang. Kenapa orang itu tidak datang? Apa dia sudah benar-benar lupa? Kemana dia? Minho benar-benar ingin melihat wajahnya.
Ia ingin melihat wajah orang yang telah meyakinkannya tentang keindahan hidup.
~~~~~
Lelah berkeliling rumah sakit Minho duduk di atas tempat tidur. Menonton TV dan bermain game selama berjam-jam. Sesekali Kibum menengoknya, tetapi ia terlalu sibuk untuk menemani Minho lebih lama. Minho menghabiskan waktunya sendirian. Orang tua dan adiknya sedang ada di Cina, dan baru bisa datang besok pagi.
Jam sembilan, seorang perawat datang untuk mengeceknya. Setelah cukup puas, perawat itu pergi. Tidak lama setelah perawat itu pergi, Minho keluar. Ia ingin melihat pemandangan malam.
Tidak jauh dari kamarnya, perawat tadi sedang berbincang-bincang dengan perawat lain. Minho sedang lewat dekat mereka ketika ia mendengar namanya disebut.
“Namanya Choi Minho. Dia ganteng lho. Sayangnya masih terlalu muda untukku.”salah satu perawat mengikik. Minho meringis. Ia menutup wajahnya dengan telapak tangan agar tidak dikenali.
“Oh, pasien yang baru kauperiksa itu? Penerima donor kornea itu kan? Perbannya sudah dibuka ya?”perawat yang satunya berkata antusias. Minho menghentikan langkah mendengar kata ‘donor kornea’. Ia menjaga jarak dengan mereka sambil menguping.
“Iya. Ia beruntung sekali. Donor kornea kan sangat jarang. Tidak banyak orang yang memikirkan mata orang lain sementara dirinya sendiri hampir mati.”Minho mengangguk-angguk mendengar kata-kata perawat itu. Ia setuju seratus persen.
“Kudengar orang yang mendonorkan kornea itu mendonorkan korneanya khusus untuk Choi Minho itu.”
Minho tidak dapat mendengar sisa percakapan mereka karena di telinganya masih terngiang kata-kata terakhir perawat itu. ‘orang itu mendonorkan korneanya khusus untuk Choi Minho itu’.
Ia tidak dapat menahannya lagi. Ia benar-benar ingin tahu. Dan jika tidak ada yang mau memberitahunya, biarlah ia mencari tahu sendiri.
Mengendap-ngendap ke ruangan dokter Kim Jaejoong, tampaknya keberuntungan sedang menyertainya. Tidak ada yang menghalanginya masuk. Ia dapat menemukan ruangan itu dengan mudah, pintu tidak terkunci dan beberapa dokumen masih ada di atas meja. Minho mencari-cari data yang berhubungan dengan transplantasi kornea yang baru dialaminya. Matanya waspada pada nama-nama ‘Choi’ atau ‘Minho’ atau kata-kata ‘transplantasi, atau ‘kornea’.
Hal itu memakan banyak waktu berhubung Minho tidak membaca selama beberapa tahun. Terkadang ia membaca ‘cjiut’ sebagai ‘siot’ atau ‘o’ menjadi ‘u’. Tapi untunglah dia tidak benar-benar lupa cara membaca.
Akhirnya ia menemukannya. Terdapat namanya di kolom ‘pasien’ di bawah kasus ‘transplantasi kornea mata’. Minho mengarahkan pandangannya ke bawah, mencoba mencari kolom ‘pendonor’.
Itu dia.
Mata Minho membelalak. Nama itu.. benarkah apa yang dilihatnya?
Ia mengerjap-ngerjapkan matanya, meyakinkan diri ia tidak salah baca.
Memang benar nama itu.
Ia jatuh berlutut. Kakinya lemas.
~~~~~
“Aku tidak percaya kau benar-benar menjadi dokter. Bekerja disini pula.”
Kibum menyipitkan mata, menatap Jinki sebal,”Aku juga sama tidak percayanya. Tapi disinilah aku.”
Jinki hanya tersenyum-senyum,”Dokter mata? Aku benar-benar terkejut.”
Kibum memutar bola matanya. Masa bodoh.
“Aku kasihan pada pasien-pasienmu, jujur saja. Bagaimana kalau mereka tambah sakit karena terus-terusan kaumarahi?”
“Jinki-yah.”Kibum memukul bahu Jinki dengan sebuah majalah,”Diam! Sejak SMA kau selalu cari masalah denganku.”
Jinki merebut majalah dari tangan Kibum, membolak-baliknya lalu meletakkannya lagi. Dia menarik nafas panjang. Merasa bosan setengah mati.
“Aku ingin jalan-jalan.”tanpa menunggu persetujuan Kibum, Jinki turun dari tempat tidur. Ia berjalan santai menyusuri koridor. Ketika berpapasan dengan pasien lain, ia menyapa mereka dengan ramah.
Kibum mengikutinya di belakang,”Jinki-yah. Kalau kau lelah sebaiknya kembali ke kamarmu.”
“Ayolah Kibum. Aku ini kan bukan lansia. Jalan-jalan sedikit tidak akan membuatku mati.”ia berkata tepat ketika kakinya terantuk tempat sampah dan membuatnya jatuh ke depan. Kibum membantunya berdiri,”Tentu saja bisa. Jalan-jalan sedikit saja bisa membuatmu mati.”
Jinki mengerutkan bibir. Ia tidak peduli dan hanya terus berjalan, mengusir rasa bosan yang jauh lebih menyiksa dibanding berbagai rasa sakit. Kibum hanya mengikuti di belakang. Ia mengerti apa yang dirasakan sahabatnya itu. Yang bisa ia lakukan hanyalah hal-hal sesederhana ini. Menemaninya.
Terjadi lagi.
Jinki jatuh lagi. Kali ini ke belakang. Dan bukan karena tempat sampah atau anak tangga seperti biasanya, melainkan seorang laki-laki. Ia masih berdiri di depan Jinki, berpegangan pada dinding dan tampaknya tidak begitu mengerti apa yang baru saja terjadi.
Meskipun sudah berdiri, Jinki masih harus mendongakkan kepalanya sedikit untuk dapat melihat wajah laki-laki itu. Ia terdiam, mengagumi sesuatu.
“Apa aku baru saja menabrakmu?”laki-laki itu bertanya. Jinki dan Kibum nampaknya terpesona sesaat pada suaranya yang berat dan bernada sendu.
“Eh, iya. Sedikit. Tapi tidak apa-apa kok. Tidak sakit sama sekali.”
“Maafkan aku.”ia tidak benar-benar melihat ke wajah Jinki atau Kibum. Lebih tepatnya memandang dahi Jinki. Itupun tidak tepat jika dibilang memandang. Tampaknya ia tidak memandang apa-apa. Jinki dan Kibum berpandangan sesaat. Lalu Jinki menggoyangkan jarinya di depan mata laki-laki itu. Pandangannya tetap sama. Kosong.
“Tidak apa-apa.”Jinki menurunkan tangannya. Laki-laki tadi membungkuk sedikit sebelum melanjutkan perjalanannya, berjalan lurus dibantu oleh dinding.
Setelah ia agak jauh, Jinki bertanya,”Kibum, kau kenal dia? Mungkin salah satu pasien dokter Kim Jaejoong atau dokter Park Jungsu?”
“Aku tidak tahu. Aku belum pernah melihatnya.”Kibum menarik tangan Jinki,”Ayo kembali. Bukankah sekarang kau harus minum obat?”
“Matanya bagus sekali. Besar dan dalam. Iya kan?”Jinki tampaknya tidak mendengar Kibum. Ia masih teringat mata yang dilihatnya tadi,”Tapi sayangnya menyiratkan kesedihan.”
“Iya. Iya. Iya. Dia itu kebalikanmu kan? Matamu penuh kehidupan dan kebahagiaan tapi sayangnya sangat sipit. Bahkan kalau senyum jadi hilang sama sekali. Sudahlah, ayo.”
Jinki merengut. Ia menurut saja pada Kibum yang menarik tangannya,”Kibum, bukankah sekarang kau harusnya bekerja? Kau sudah satu jam menemaniku.”
“Makanya kau harus segera kembali ke kamar dan istirahat supaya aku tenang. Lalu aku akan pergi.”
Jinki tersenyum, tersentuh oleh perhatian sahabatnya ini,”Kibum, terima kasih ya.”
Kibum tidak menjawab. Dia hanya menarik tangan Jinki. Sesuatu menyumbat tenggorokannya.
~~~~~
“Sedang apa kau disini?”Kibum mendapati Jinki sedang duduk di kursi panjang di sebuah koridor yang cukup jauh dari kamarnya. Jinki memamerkan senyum tanpa dosa. Kibum geleng-geleng kepala.
“Aku baru ngobrol dengan seorang halmoni. Dia bilang dia menderita reumatik. Dia sedang duduk sendirian disini, jadi aku menemaninya. Dia bilang lain waktu dia akan membelikan aku makan siang.”
Kibum tertawa,”Jadi kalau bosan, kau akan pergi sejauh ini dan mencari seorang halmoni untuk ngobrol? Hahahahaha.”
Jinki hanya merengut. Kibum duduk di sampingnya, pasien di ruang 65 bisa menunggu sebentar.
Mereka mengobrol sebentar. Lalu Jinki menangkap sesuatu dengan pandangannya. Ia menyikut Kibum,”Kibum, bukankah itu orang yang kemarin?”
Mata Kibum mengikuti arah telunjuk Jinki. Ia melihat laki-laki yang kemarin menabrak Jinki. Orang itu sedang berdiri di dekat sebuah pintu, mengobrol dengan seorang dokter. Dengan acuh Kibum berkata,”Oh, orang itu. Aku sudah dengar tentang dia dari dokter Kim Jaejoong. Dia mengalami kecelakaan lalu lintas kira-kira empat tahun yang lalu. Sialnya, ada luka yang parah di kedua matanya sehingga dia buta. Waktu itu dia tinggal disini untuk perawatan selama setengah tahun. Luka lain sudah sembuh, tapi matanya butuh kornea.”
“Kornea?”
Kibum mengangguk,”Sayangnya belum ada orang yang mau mendonorkan korneanya.”
Jinki merenung,”Sayang ya.”
Kibum mengangguk-angguk. Jinki menyenggolnya,”Apa sekarang dia disini karena sudah ada donor kornea?”
“Oh, bukan. Kudengar dia cuma menemani adiknya yang dirawat karena patah tulang.”
“Siapa namanya?”
“Namanya?”Kibum mengingat-ingat,”Aku lupa. Aku hanya ingat nama keluarganya. Choi. Rasanya namanya mirip seorang aktor. Tapi siapa ya?”
Seorang perawat membawa sekantung cairan infus dengan tergesa-gesa berjalan di depan mereka. Ia berhenti begitu melihat Kibum yang duduk santai disitu. Ia berkata,”Dokter, pasien 65?”
Kibum menepuk kepalanya. Memaki pelan, ia berdiri lalu pergi bersama perawat itu ke kamar 65.
Jinki yang sendirian merasa bosan. Tidak tahu apa yang harus dilakukannya, ia berjalan-jalan lagi. Mungkin nanti dia akan bertemu pasien yang butuh teman bicara. Berjalan belum begitu jauh, ia melihat orang itu, berjalan sendirian berpegangan pada dinding. Jinki heran, kenapa tidak ada yang menemaninya.
Jinki mengikuti di belakangnya, dia khawatir sesuatu akan terjadi padanya. Benar saja, orang itu tersandung pot bunga lalu jatuh terduduk. Jinki menolongnya bangun.
“Kau tidak apa-apa?”
“Aku baik-baik saja. Tolong lepaskan aku.”orang itu menepis tangan Jinki yang memegangi tangannya.
Jinki menatapnya khawatir,”Kau mau kemana? Biar kuantar.”
“Tidak perlu. Aku bisa pergi sendiri, terima kasih.”ia berjalan pergi meninggalkan Jinki. Jinki yang khawatir tetap mengikutinya di belakang. Orang itu berjalan lurus tanpa keraguan, sama sekali tidak terlihat khawatir akan menabrak sesuatu, atau jatuh ke sebuah lubang, atau tertabrak kursi roda.
Jinki penasaran kemana dia akan pergi. Orang itu menabrak dinding beberapa kali. Jinki ingin menolongnya, tapi orang itu tampaknya tidak merasa apa-apa. Dia hanya berjalan dan berjalan mengikuti dinding di sebelahnya.
“Tolong jangan ikuti aku.”
Jinki tersentak. Ia tidak menyangka dirinya ketahuan.
“Jangan kira karena aku buta aku tidak tahu kau mengikutiku. Urus saja urusanmu sendiri. Pergilah dariku!”
Ia berjalan lagi. Jinki hanya berdiri tertegun memandang punggungnya yang makin menjauh.
~~~~~
“Kenapa kau begitu ingin tahu tentangnya?”
Jinki mengangkat bahu,”Aku tidak tahu. Awalnya aku hanya suka matanya. Tapi lama-kelamaan aku merasa dia punya aura yang aneh. Dia sangat dingin dan… bagaimana mengatakannya ya? Maksudku, dia itu kan tidak bisa melihat. Tapi kenapa dia selalu berjalan sendirian dan menolak orang yang mau membantunya?”
Kibum menoleh ke wajah Jinki,”Kau tahu, dia pernah mencoba bunuh diri.”
“Apa?”Jinki menyemburkan susu yang diminumnya. Terdiam sebentar, ia menyeka mulutnya dengan tissue,”Benarkah?”
Kibum memandangnya jijik,”Iya. Eh, jangan sentuh aku. Masih ada susu di lengan bajumu.”
Jinki mengusap lengan bajunya,”Apa maksudmu bunuh diri?”
“Ternyata dia itu cukup terkenal di kalangan dokter mata. Kemarin beberapa orang membicarakan dia. Sejak matanya buta empat tahun yang lalu, kepribadiannya berubah. Dia jadi dingin dan seakan menutup diri dari pergaulan. Dia terpaksa berhenti kuliah padahal waktu itu dia baru saja diterima di universitas yang bagus.”Jinki menanti dengan sabar sementara Kibum berhenti untuk mengambil sebuah apel di atas meja.
“Dia pernah mencoba bunuh diri. Tidak cuma sekali. Tapi tiga kali! Yang pertama, beberapa saat setelah ia keluar rumah sakit, ia mengiris pergelangan tangannya dengan pecahan kaca. Yang kedua, kalau tidak salah dua tahun setelah kebutaannya, dia menabrakkan diri di jalan raya. Yang ketiga, waktu dia sedang dirawat di rumah sakit ini karena percobaan bunuh dirinya yang kedua itu. Dia mau menjatuhkan diri dari atap rumah sakit. Untung saja seseorang melihatnya dan mencegahnya. Dia benar-benar mengerikan.”
Jinki terpana mendengarnya,”Benarkah?”
Kibum mengangguk-angguk,”Beberapa orang mengira dia sudah berhasil mati bunuh diri karena sudah lama tidak dirawat lagi. Makanya mereka kaget melihatnya disini. Ternyata dia menemani adiknya. Nama adiknya Choi Jinri. Dia dirawat di kamar 47.”
Jinki tidak berkata-kata. Ia hanya diam sampai Kibum pergi keluar kamar.
Setengah jam kemudian, ia bosan. Karena tidak ada teman yang bisa diajak bicara, dan orang tuanya sedang pergi, seperti biasa dia keluar untuk berjalan-jalan.
Jinki tidak tahu seberapa jauh ia berjalan. Ia tidak menemukan teman untuk diajak bicara. Ia ingin kembali tetapi tanpa sengaja matanya menangkap pintu dengan nomor kamar 47. Bukankah itu kamar Choi Jinri? Penasaran, Jinki mengetuknya. Tidak terdengar jawaban. Jinki membukanya sedikit, lalu mengetuknya lagi. Kali ini terdengar suara,”Oppa, kaukah itu?”
“Oh. Eh, bukan.”Jinki masuk. Dilihatnya seorang gadis seusia anak SMA duduk di atas tempat tidur. Kakinya dibalut gips dan perban tebal. Ia terlihat bingung melihat Jinki.
“Kau siapa?”tanyanya.
“Namaku Jinki. Salam kenal.”Jinki tersesenyum lebar. Sementara gadis itu, Jinri memandangnya dingin. Senyum Jinki perlahan-lahan lenyap. Suasana sunyi. Mereka hanya berpandang-pandangan dengan kikuk –tepatnya Jinrilah yang memandang Jinki, sementara Jinki kebanyakan hanya menunuduk-.
“Maafkan aku, masuk tanpa seizinmu. A, aku sedang mencari kakakmu.”
“Kau mencari Minho oppa? Benarkah?”ekspresi Jinri berubah. Ia terlihat terkejut.
Jadi namanya Minho? Jinki mengangguk. Memang rasa penasarannya akan Minholah yang membawanya masuk ke kamar ini.
“Kau temannya?”
Jinki mengangguk ragu, tidak berani memandang mata Jinri. Ia tidak terbiasa berbohong. Jinri terlihat terkejut dan senang.
“Jadi, dia dimana?”
Jinri diam. Ia pun terlihat bingung,”Aku tidak tahu. Dia pergi sejak tadi. Biasanya dia tidak pergi selama ini. Aku sangat khawatir. Oppa, memangnya kau tidak melihatnya?”Jinri menatap Jinki yang memakai baju pasien,”Kau pasien disini juga kan?”
“Aku tidak lihat. Memangnya dia suka jalan-jalan ya? Aku tahu kau pasti kahawatir.”
Jinri menghela nafas,”Aku tidak khawatir karena dia tidak bisa melihat. Dia sudah hapal jalan di rumah sakit ini. Aku sangat khawatir karena kecenderungannya yang… tidak memedulikan nyawa. Semacam itulah.”
“Hah?”Jinki mengangkat kedua alisnya,”Maksudmu, seperti percobaan bun… eh, yang dulu itu ya?”
Jinri semakin ramah pada Jinki. Ia mengira Jinki dekat dengan kakaknya berhubung ia tahu tentang percobaan bunuh diri yang pernah dilakukan Minho,” Sebenarnya sudah lama dia tidak mencoba melakukan hal-hal seperti itu lagi. Tapi sejak percobaannya yang terakhir gagal, dia memang tidak dengan sengaja ingin membunuh dirinya, dia hanya tidak peduli pada apapun yang akan terjadi. Kalau menyeberang jalan, dia hanya akan menyeberang. Tidak peduli akan ditabrak atau menabrak sesuatu. Kalau berjalan, meskipun di depan ada jurang, dia tidak akan peduli. Semacam itulah.”
“Kurasa itu sama saja ingin bunuh diri.”Jinki melongo, terpana.
Jinri menunduk, sebulir air mata mengalir di pipinya,”Dia pernah berkata, ‘Baiklah jika kalian ingin aku hidup. Aku akan hidup seperti ini, tidak berguna. Tapi aku tidak berjanji untuk menjaga hidupku’. Aku benar-benar sedih. Kenapa oppa bisa begitu berubah? Andai saja bisa, aku pasti akan memberikan korneaku padanya. Bukan hanya kornea, apapun akan kuberikan. Andai saja bisa!”
Jinki mengambilkan selembar tissue di atas meja lalu memberikannya pada Jinri. Ia tidak bisa berkata apa-apa.
Jinri mengusap matanya,”Oppa, aku benar-benar khawatir sesuatu akan terjadi padanya. Aku ingin mencarinya, tapi aku tidak bisa berjalan. Maukah kau mencarinya? Mu, mungkin dia ada di atap. Dia sering berada di sana.”
Jinki mengangguk. Tanpa menunggu lagi, ia bergegas keluar.
Ia tidak tahu jalan mana menuju atap rumah sakit. Ia menaiki lift sampai lantai teratas, menaiki tangga lagi dan bertemu beberapa petugas kebersihan. Ia membuka beberapa pintu tapi selalu salah. Akhirnya ia menemukan pintu biru yang terakhir yang bisa ditemukannya. Ia membukanya, dan dilihatnya tempat terbuka di atap rumah sakit dengan Minho duduk di tepian dengan kaki menjulur ke bawah.
Jinki mendekatinya. Ia berdiri di belakang Minho. Disini angin terasa kencang, terasa dingin membelai wajah. Minho terlihat sedang menikmati belaian angin. Ia tidak menutup mata, tapi Jinki mengerti. Jinki menutup matanya dan merasakan angin. Seperti inilah yang dirasakan Minho.
“Siapa?”Minho bersuara. Jinki membuka matanya, ia sudah mengerti bahwa Minho sangat peka jika ada orang di sekelilingnya sehingga tidak kaget lagi. Ia berdehem sedikit,”Ini aku. Ingat?”
“Aku tahu itu kau. Tapi kau itu siapa?”
“Namaku Jinki. Lee Jinki. Kau memang belum kenal aku. Tapi aku ingin jadi temanmu, Minho.”Minho bereaksi sedikit mendengar namanya disebut. Ia menoleh dan mendongak. Wajahnya datar.
“Aku duduk di sebelahmu ya.”Jinki maju, ia merasa sedikit merinding ketika melihat ke bawah. Maka ia duduk sambil tetap berusaha mendongak,”Disini kok pagarnya rusak ya? Disitu masih ada pagarnya.”Jinki melihat sekeliling. Memang hanya di tempat ia dan Minho duduk sajalah yang tidak ada pagar pelindungnya.
Minho tampak terganggu oleh kedatangan Jinki. Ia mengangkat kakinya dan berdiri –Jinki memperhatikan dengan ngeri, takut Minho akan terjatuh ke depan-lalu pergi menjauh, lurus ke arah pintu. Jinki mengikuti di belakangnya,”Hei, kenapa sih? Memangnya aku bau ya? Oh, tapi benar juga. Sebaiknya kau kembali. Adikmu sangat mengkhawatirkanmu.”
Minho berhenti,”Jinri?”
Jinki hampir saja menabrak punggung Minho. Ia berhenti mendadak dan langsung sempoyongan,”I, iya. Tadi dia sampai menangis mengkhawatirkanmu.”
Minho berjalan lagi lebih cepat. Jinki melongo melihat Minho yang dengan mudah dapat menemukan pintu dan berjalan cepat tanpa menabrak sesuatu.
~~~~~

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

39 thoughts on “Sesangeul Jom Barabwa – Part 1”

  1. terharu..
    aku tebak ya,pasti jinki yg donorin kornea nya buat minho#sok tau
    suka banget sama ceritanya..
    aku tunggu kelanjutannya..

  2. Kkkk. Onew sangtaenya bener2 asli Jinki. XD

    Kenapa sih Minho nggak jatuh dari atap? Dia kan nggak bisa liat. (-.-)

    Ngantuk, niga jeil jjang! Aku suka bahasanya. Daebak! 😀

    Ayo. Part selanjutnya~.

    1. mhahahaha*yayastyle*
      tp ffmu lebih daebak lg!
      itu kan karena Minho udah terbiasa, bgtu critanya.
      Jollyeo, aku ngantuk -.-

  3. wooww,
    aku tebak, jinki yg donorin korneanya buat minho,,,
    wooh, pasti bkalan sdih bnget nich,
    keren,
    lanjuuutttt…..

  4. Terharu… Terharu… Suka deh sama cerita friendship. Mungkin Jinki ya yang donorin korneanya buat Minho? Seratus buat Author yang sudah bikin FF sebagus ini.
    Nice story. Lanjut!

  5. Yuhuuuuuu,, seperti tebakan koment2 diatas,, Kayaknya yg donorin korneanya itu bang Onyu dehhhh,,,

    Ih,, Kibum,,, kau jadi dokter mata,, tapi Tetep ajj cerewetnya gx ilang juga,,hahahaha

    Sukaa,, penggambarannya detail, berasa aq jadi Minhonya,,wkwkwk

    Good job!! #ala Rianty

  6. WUAA~~~ AKU SUKA #caps jebol
    terharu di bagian atas, yg minho abis operasi…. yg donorin mata? aku malah nebak si jinri -____-” (?) jinki jg bisa sih.. tp kan tp kan…
    AH GAMAU TAU *caps jebol lg* harus dikirim lanjutannya! *demo di dpn rumah author* btw, arti judulnya apa? .______. ga ngerti #plak

    1. WUAAA… aku juga suka komenmu…^^
      lanjutannya sudah dikirim kok, 🙂 tolong ditunggu yaa *bow*, jadi jangan demo di depan rumah saya dong. ehehehe
      Sesangeul jom barabwa itu artinya ‘Lihatlah dunia’.
      gomawooo ^^

  7. Wuah.. Jangan2 yg donorin kornea buat minho Jinki lagi?
    Aigo, Minho sampai mencoba bunuh diri sampai 3X?!
    Daebak eon!^^
    Di tunggu klnjutannya 😀

  8. Jinkinya kayaknya sakit yaa?
    jgn2 dy yg donorin mata?
    *reader sotoy.
    tapi minho kasian yaa, desperate bgt tu..
    nice FF thor, lanjut^^

  9. thooor, ini jinki ya yg donorin kornea matanya? kyayy!! kalo beneran iya jinki baik bangeet yaa sama minho padahal minhonya gak bersahabat sama jinki. ditunggu kelanjutannya yah thor ^^

  10. Andweeiiiii,Jangan biarkan Jinki yg donorin kornea-nyaa
    Ntar Jinki yg koit lgi…andweeeiiiiii
    Huuuuuuuuu, Jinkiii goon..
    Baguuss2 crtanya, jd gk sbar part 2 dn smoga d part 2 Jinki msh ngeksiss..hihihiii

  11. waah, my bunny jinki sakit apa itu? Parah ya?
    Kayaknya jinki yang donorin korneanya tuh.
    Uri key jadi dokter? Wah, pasti ganteng banget. Padahal biasanya jinki yang sering berperan jadi dokter.
    Btw, kenapa tiap ada fanfic shinee bergenre friendship, seringnya minho ma jinki yang jadi main cast-nya? Tapi feelnya emang dapet sih.
    Gak ada taemin ma jong ya?
    Next part jangan lama-lama ya thor.

  12. Aihhh seru seruuuu!
    Begitu baca cast nya terus donor kornea, beh udahdeh, langsung mikir itutuh Jinki yg donorin kornea
    Hmm Jinkinya sakit apaan ya… Terus dia yg suka kesandung-jatoh itu emang bawaan kan? Bukan penyakit?-_-
    Bahasanya asik banget! Dan suka genrenya, friendship. Udah lama kayanya gak baca friendship begini
    Lanjuut! 😀

  13. aaaaa, aku telat banget sih baru baca FF hebat kayak gini sekarang. arggh udah nggak sabar, langsung ke next part ah.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s