I Love Your Brother – Part 4 (End)

I Love Your Brother – Part 4 (END)

Title : I Love Your Brother – Part 4
Author : Park Sung Rin aka dorkyflames
Main Cast : Choi Minho, Krystal
Support Cast : Sulli, Jessica, Yuri, Taemin
Length : Chapter
Genre : Romance,Friendship, Family
Rating :  PG-15
A.N. : Last part (:
Happy reading ^^

“Minggu depan Sulli ulang tahun?”
Aku mengangguk.
“Kau benar-benar yakin kan aku bisa datang?”
“Taemin-ah, aku yang menulis undangannya. Jadi kau tenang saja..” kataku.
“Jeongmal gomawo, Krystal-ah..” sambutnya dengan senyum mengembang. “Aku harus segera memikirkan kado yang spesial untuk Sulli.”
“Kau juga harus segera mengungkapkan perasaanmu. Itu tujuanku mengundangmu.” Kataku lagi.
“Ne..tapi aku tidak yakin oppanya akan mengizinkan Sulli menerimaku, kelihatannya dia tidak suka denganku..”
“Tidak usah khawatir, oppanya akan segera pindah ke Jepang. Kalau Sulli memang menyukaimu, tidak ada lagi yang menghalangi kalian.” Ada perasaan sedih saat mengatakan hal ini.
“Jinja?”
Sudah ku duga, Taemin terlihat sangat senang. Responnya sangat berlawanan dengan perasaanku saat ini. Aku cuma mengangguk dengan lesu. Tapi dia berhenti tersenyum saat melihat ekspresi wajahku.
“Kau kelihatan murung belakangan ini, pasti kau sedih karena Minho hyung akan pergi kan ?” tanya Taemin.
“Mwo?” aku terbelalak melihatnya.
“Meski Minho hyung itu sedikit menyebalkan, tapi harus aku akui kalau kalian terlihat cukup serasi..” Taemin terus melanjutkannya tanpa peduli wajahku yang memerah.
“Ya! Bicara apa kau ini? Aku dan Minho Oppa itu sudah seperti kakak adik, tau?” ujarku sewot. “Ya sudah, aku pergi dulu.”
Aku segera meninggalkan Taemin. Aish, paboya! Seharusnya aku tidak boleh terlihat sedih begitu. Benar-benar memalukan.
“Krystal!” lagi – lagi dia memanggilku.
Apa belum puas dia mempermalukanku? Aku menoleh dengan malas.
“Jangan lupa tulis namaku!” dia mengingatkan, aku cuma mengagguk.
Dan saat akan melangkahkan kaki lagi, ada panggilan lagi dari arah yang lain. Aku pun menengok ke sumber suara. Minho Oppa! Dia berjalan cepat mendekatiku.
“Hari ini kita mengambil undangan Sulli.” Katanya padaku. “Semoga kau tidak ada janji dengan orang lain lagi,” dia melirik Taemin dengan pandangan tidak suka.
Hufft, dia melihat Taemin juga ternyata.
“Kajja, aku tidak ada janji dengan siapa-siapa.” Jawabku.
Kami berdua berjalan beriringan menuju tempat parkir. Iseng-iseng aku melirik Taemin dan dia terlihat menahan tawa sambil mengangkat ibu jarinya padaku. Aku segera membuang muka.
—xxx—
“Undangan ini kau yang bawa, kau tulis undangan untuk teman-teman kalian,” Minho Oppa menyerahkan setumpuk undangan kosong padaku.
“Arasseo.” Jawabku.
“Ingat, undang teman sekelas kalian saja. Yang bukan teman sekelas tidak usah diundang,” tegasnya.
Aku tahu, pasti yang dia maksud adalah Taemin. Aku tidak menjawab. Aku membuka pintu mobil dan melangkah keluar.
“Gomawo, oppa..” kataku.
—xxx—
Akhirnya saat yang ditunggu telah tiba. Dini hari tadi tepat jam 00.00 aku dan Minho Oppa memberi surprise untuk Sulli. Aku sengaja menginap agar bisa memberi surprise untuknya. Dan dia sangat terkejut saat tahu ada party untuknya malam nanti.
“Aku benar-benar menyayangi kalian..” ucap Sulli saat memelukku dan Minho Oppa bergantian.
Minho Oppa melirikku sambil tersenyum. Dia tampak puas sekali melihat Sulli sangat bahagia.
“Krystal, kenapa kau harus pulang? Tinggallah disini sampai pesta nanti malam,” Sulli merengek dengan manja saat aku berpamitan siangnya.
“Mianhae Sulli, aku harus mengambil dress dulu. Aku kan ingin tampil cantik di pesta ulang tahunmu,” candaku.
“Kenapa tidak pakai dress ku saja?”
“Ukuran pakaian kita kan berbeda, Sulli-ah..”
“Ah, ne. Malam ini kau harus menginap. Ara?”
“Ne, dasar bawel!” jawabku.
Alasan yang sebenarnya adalah karena aku harus pergi kemari bersama Taemin. Dia tidak tahu rumah Sulli, sedangkan aku tidak terlalu pintar memberikan petunjuk ke rumah Sulli. Jadi satu – satunya jalan adalah kami pergi bersama.
Pesta Sulli mulai pukul 8 malam. Taemin datang menjemputku sejam lebih awal. Anak itu sepertinya sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Sulli. Tentu saja saat itu aku belum selesai berdandan, untung saja dia mengenal eommaku. Jadi eomma menemaninya menungguku sambil mengobrol.
“Kaja! Aku sudah siap..” kataku sambil menghampiri Taemin dan Eomma di ruang tamu.
“Wah, putri eomma benar – benar cantik..” puji eomma sambil melihatku dari bawah ke atas.
Aku memakai dress selutut dengan perpaduan warna silver dan hitam. Jessica Onnie juga memberiku make up yang simpel. Rambutku aku biarkan terurai dengan poni yang di jepit ke belakang.
“Annyeong,” Taemin berpamitan dengan sopan.
“Bye eomma,” kataku sambil melambai.
“Sampaikan salamku untuk Sulli ya..” pesannya.
“Taemin, tolong jalankan motornya pelan-pelan saja, jangan sampai make up rusak.” Kataku pada Taemin yang di sambut dengan anggukan kepalanya.
Aku ingin Minho oppa melihatku tampil cantik sebelum dia pergi besok siang. Selama ini dia hanya melihatku sebagai Krystal yang selalu tampil acak-acakan dan tidak pernah memperhatikan penampilan. Jadi sekali kali aku ingin dia tahu kalau aku bisa cantik juga. Lima belas  menit kemudian kami sampai. Pesta belum di mulai. Tapi sudah ada beberapa teman yang datang.
“Kajja!” ajakku pada Taemin.
“Chakaman! Aku jadi sangat nervous, Krystal..” jawab Taemin.
“Ya! Ayolah ..” aku menarik paksa tangan Taemin.
Kami berdua pun berjalan masuk ke dalam rumah Sulli. Sulli belum juga kelihatan batang hidungnya. Mungkin dia masih di kamar berdandan. Aku harus menyusulnya. Taemin yang juga mengenal beberapa teman kami mulai berbaur dengan mereka. Sementara aku berjalan menuju kamar Sulli. Tapi tiba-tiba ada sebuah tangan yang menahan lengan kiriku.
“Kenapa kau mengundangnya?” Minho Oppa menatapku dengan sangat mengerikan. Aku tidak berani menatap balik matanya.
“Oppa..aku harus menemui Sulli..” kataku ngeles.
“Kau datang bersamanya dengan naik motor. Apa kau tidak tahu kalau itu sangat berbahaya? ” Katanya lagi tanpa berhenti menatap mataku.
Mianhae, oppa.. Aku memang sudah melanggar kata-katamu untuk hanya mengundang teman sekelas. Tapi tolong berhentilah menatapku begitu.
“Minho-ah..” suara seorang yeoja datang dari arah pintu masuk.
Seorang  yeoja cantik berambut panjang datang mendekat. Kulitnya begitu cantik dalam balutan dress putihnya.
“Oh, Noona..” Minho Oppa menjawab dan dengan segera melepas pegangan tanganku. “Mari aku antar mengambil minum..”
Kesempatan bagiku untuk segera pergi. Aku segera meninggalkan mereka dengan cepat. Huh, ternyata Yuri Onnie juga datang. Pastilah Minho Oppa yang mengundangnya. Siapa lagi? Dan bisa-bisanya dia marah padaku karena aku mengundang Taemin padahal dia sendiri juga mengundang Yuri Onnie yang jelas-jelas bukan teman sekelas kami.
—xxx—
Sepanjang pesta Minho Oppa terus-terusan bersama Yuri Onnie. Sepertinya dia sudah lupa siapa yang membantunya menyiapkan semua ini. Semuanya aku yang membantu, bukan Yuri Onnie! Tapi dia mengabaikanku begitu saja. Percuma Jessica Onnie mendandaniku. Dia tidak akan menyadari perubahanku. Aku benar-benar muak melihat mereka berdua. Sementara itu aku memilih terus berada di sisi Sulli sambil memberi intruksi pada Taemin agar tidak terlalu menampakkan diri di depan Sulli terlebih dahulu. Karena nanti dia akan menjadi surprise lagi setelah pesta selesai.
Pesta selesai pada pukul 10 malam, dan rumah benar-benar sepi setelah jam setengah 11 malam. Yang paling mengesalkan adalah Yuri Onnie adalah tamu yang paling akhir pulang, kecuali Taemin tentunya. Karena dia sudah menunggu di taman belakang rumah mereka.
“Sulli-ah, kau masih ingat dengan seseorang yang mengaku secret admirer itu?” bisikku saat kami bersama Minho Oppa merapikan kado dari teman-teman.
“Tentu saja. Wae ?” tanyanya.
“Dia datang ke pesta malam ini..”
“Jinja? Aku tidak melihatnya, ” mata Sulli membulat menatapku dengan ekspresi terkejut.
“Dia menunggumu di taman belakang rumah, temui dia. Aku akan mengalihkan perhatian Minho Oppa.” Bisikku lagi. “Oppa,apa tidak sebaiknya kita angkat kado-kado ini ke kamar Sulli..” kataku dengan volume suara lebih keras. Aku berusaha agar suaraku tidak terdengar kalau aku sedang kesal dengannya.
Dia hanya mengangguk. Kami berdua segera berjalan membawa tumpukan kado menuju kamar Sulli. Dan aku yang berjalan di belakang bisa melihat Sulli menyelinap pergi ke taman belakang rumah.
“Ah..banyak juga kado untuk Sulli..” gumamku sambil meletakkan setumpuk kado yang aku bawa ke sudut kamar Sulli.
“Kenapa kau ini Krystal ?” terdengar minho oppa bergumam lirih.
“Ne?”
“Kau mengundang namja itu,” mulai lagi dia..
“Maksud oppa Taemin?”
“Bukankah aku sudah sangat jelas mengatakan untuk mengundang teman sekelas kalian saja?” tanyanya dengan nada sinis.
“Tapi dia juga teman kami berdua, Sulli dan aku mengenalnya,” belaku.
Dan dia mengeluarkan suara dengusan kesal.
“Oppa juga mengundang Yuri Onnie..” tambahku kemudian.
Tiba-tiba saja aku ingat padanya. Rasa kesalku yang membuatku berani  berkata seperti ini. Ekspresi wajah Minho Oppa berubah setelah mendengar kata-kataku. Tampak tidak senang dengan tuduhanku. Tapi  itulah kenyataan. Dia pikir apa cuma dia yang bisa menyalahkan aku.
“Apa dia juga teman sekelas kami sehingga oppa mengundangnya ?” tambahku lagi. Jelas sekali ekspresinya semakin tidak suka. Aku tidak peduli kalaupun dia akan marah. Aku hanya ingin mengungkapkan kekesalanku saat ini.
“Kau tidak mengerti, Krystal..” ujarnya.
Cih, jawaban macam apa itu. Dia cuma mau mengelak dengan berkata seperti itu. Dia kira aku tidak tahu, aku bukan yeoja bodoh, oppa.
“Memangnya apa yang tidak aku mengerti oppa? Kenapa oppa tidak katakan saja padaku. Jangan cuma marah padaku gara-gara hal sepele. Dan sekarang oppa berusaha menghindari pertanyaanku..” melihatnya seperti kehilangan kata-kata membuatku semakin berapi-api.
“Ck, jadi kau pikir aku marah karena hal sepele? Ini semua karena aku khawatir padamu. Aku belum tau apakah dia namja baik atau bukan. Aku hanya ingin meminta berhati-hati tapi kau tidak pernah menurutinya kan?”
“Ya, oppa. Pikirkan saja hubunganmu dengan Yuri Onnie, aku bisa menjaga diri kok.”
“Kenapa kau membawa-bawa Yuri Noona? Dia tidak ada hubungannya dengan semua ini. Aku cuma peduli padamu karena kau teman Sulli, just it.” Bisa ku rasakan nada bicara minho oppa sedikit meninggi. Tapi aku tidak mau diam saja kali ini.
“Gomawo, tapi oppa hanya seorang kakak dari teman baikku jadi aku rasa oppa tidak perlu terlalu peduli padaku. Selain itu aku sudah dewasa jadi aku akan mengurusi urusanku sendiri, dan satu lagi aku tidak pernah mencampuri urusan pribadi oppa, jadi oppa juga harus begitu..”
Hening untuk beberapa saat. Hanya tatapan membunuh Minho Oppa terus mengawasiku. Aish, sepertinya kata-kataku sudah keterlaluan.
“Benar-benar tidak tahu diri, sudah di perhatikan dan seperti itu reaksimu, mengataiku ikut campur urusan pribadimu?” dia berkata pelan, tapi aku dapat mendengarnya dengan jelas.
Dan ini pertama kalinya dia mengataiku tidak tahu diri. Sangat menyakitkan. Dikatai seperti itu oleh orang yang paling disukai. Aku tidak pernah menyangka Minho Oppa bisa tega mengatakan hal semenyakitkan itu. Mati-matian aku berusaha menahan airmata yang sudah tertahan di pelupuk mata. Aku tidak mau menangis di depannya.
“Mwo? Tidak tahu diri? Aku tidak pernah minta oppa untuk peduli padaku!” aku menjawab dengan suara bergetar menahan tangis.
“Baiklah, aku tidak akan lagi peduli padamu. Itu kan yang kau inginkan?”
Aku cuma terdiam. . Kalaupun aku memaksakan diri untuk bicara, aku takut tangisku akan pecah. Aku tidak pernah bermaksud seperti itu, oppa. Justru sebaliknya, aku sangat senang dengan kepeduianmu.
“Kau memang benar bahwa aku bukan siapa-siapa, jadi kau juga tidak usah peduli padaku. Dengan begitu kau tidak perlu repot-repot datang ke bandara besok pagi.” Lanjutnya.
Dan kata-katanya ini sukses membuat hatiku semakin ngilu. Semuanya hancur sekarang. Orang yang ku cintai malah membenciku. Tidak ada happy ending seperti yang ku harapkan.
“Arasseo, aku tidak akan datang..”
Aku memaksakan diri untuk bicara. Karena dia benar-benar tidak menginginkan aku, jadi aku tidak akan datang. Padahal aku sangat ingin mengantarnya ke bandara. Melepas kepergiannya dan melihatnya untuk terakhir kali sebelum dia pergi. Tapi semua itu tidak akan terwujud.
Minho Oppa berjalan keluar dari kamar Sulli tanpa mengatakan sepatah katapun. Aku menatap punggungnya yang menghilang di balik pintu kamar Sulli. Mungkin sekaranglah terakhir kali aku melihatnya. Butiran air mata yang sedari tadi aku tahan kini tak terbendung lagi. Semua mengalir deras membasahi pipiku. Krystal pabo! Kenapa aku bicara seperti tadi. Aku benar-benar menyesal, oppa. Tolong, kembalilah… Jeongmal mianhae..
Meskipun wajahku sudah di penuhi airmata penyesalan, Minho Oppa tidak akan pernah mengetahuinya. Karena dia terus berjalan tanpa menoleh lagi.
Sambil bercucuran air mata aku berjalan keluar kamar Sulli. Aku ingin pulang sekarang juga. Aku terus berjalan secepat yang aku mampu. Di teras depan rumah, Sulli dan Taemin tampak sedang mengobrol akrab. Mereka sudah pindah kesini ternyata. Dan tampaknya rencana Taemin berjalan sukses. Tapi aku tidak bisa bergabung dengan mereka sekarang, jadi aku berjalan melewati mereka.
“Krystal !” Sulli yang melihatku segera memanggilku dan berlari mendekat.
Dan bisa ku lihat ekspresi kagetnya saat melihat airmata ku yang begitu deras. Campuran antara ekspresi kaget dan ngeri. Aku memang tidak berniat menghapus airmataku.
“Krystal, wae?” tanyanya lirih.
Aku cuma bisa diam dan melanjutkan perjalananku. Bahkan Sulli tidak mengejarku. Mungkin dia juga shock melihatku begini. Aku tidak pernah menangis di depannya, sekalipun aku tidak pernah.
Sekarang aku menunggu di pinggir jalan, menunggu sebuah taxi untuk mengantarku pulang. Bahkan untuk menelepon supir saja aku tidak mampu. Airmata ku tidak bisa berhenti keluar. Beberapa orang yang lewat menatapku dengan iba.
“Krystal, naiklah..” suara seorang namja menyadarkanku.
“Taemin?”
Sejak kapan? Aku tidak mendengar suara motornya. Tapi aku akan lebih bahagia lagi kalau yang menyusuku adalah Minho Oppa.
“Sulli sangat cemas, dia ingin aku mengantarmu pulang..” ujarnya.
“Ne,” isakku.
Sepanjang perjalanan kami hanya saling diam. Sepertinya Taemin juga memahami keadaanku sekarang. Jadi dia membiarkan aku menangis sepanjang jalan. Untungnya aku membawa kunci cadangan rumah. Jadi aku tidak perlu membangunkan orang rumah. Aku tidak mereka melihatku seperti ini.
—xxx—
Pagi yang cerah, tapi tidak bagiku. Sinar matahari menerobos masuk melalui jendela kamarku. Menyinari tubuhku yang masih berbaring di tempat tidur. Semalaman  melewatinya dengan penyesalan yang dalam. Aku menyesal sudah terbawa emosi sesaat dan membuatnya semuanya hancur. Untung saja hari ini hari minggu. Aku tidak mungkin pergi sekolah dengan mata bengkak begini.
Kenapa.. kenapa aku harus mengacaukan semuanya? Sebelumnya kami sangat dekat. Kami selalu berhubungan baik layaknya kakak adik. Dia selalu baik padaku, memperhatikan hal-hal kecil. Benar-benar oppa yang baik. Bisa di bilang aku sangat beruntung mengenalnya. Seharusnya aku tidak pernah suka padanya.. tidak boleh menyukainya! Kalau saja itu tidak terjadi, aku tidak akan jealous dengan Yuri Onnie. Tidak akan ada pertengkaran seperti tadi malam. Semuanya akan baik-baik saja dan hari ini aku pasti sudah bersiap-siap mengantar oppa ke bandara.
Ingatan tentang kedekatan kami terputar kembali di benakku. Saat dia memberiku sebotol air mineral, saat dia menyanyi di balkon kamarnya, saat dia membukakan pintu untukku dan masih banyak lagi. Terlalu banyak kenangan-kenangan itu. Dan semuanya terekam dengan jelas. Aku tidak tahu kapan lagi kami bisa begitu. Mungkin tidak akan pernah terjadi lagi. Bahkan aku tidak tahu apa aku masih berani menemuinya lagi saat dia pulang dari Jepang nanti. Dia tampak begitu marah tadi malam. Aku benar-benar merindukan saat-saat itu.
“Krystal, gwenchana?” ini sudah yang ketiga kalinya Jessica Onnie memanggilku.
“Ne,” jawabku.
“Kau tidak keluar kamar sejak tadi.. Ada apa denganmu? Eomma dan Appa menunggu kita untuk sarapan.”
“Katakan pada mereka untuk sarapan duluan. Nanti aku menyusul, onnie..”
“Suaramu terdengar aneh, Krystal-ah.. apa kau yakin kau baik-baik saja?”
“Aku cuma sedang flu, onnie..” dustaku.
“Cepatlah keluar..”
Terdengar langkah kaki menjauh. Aku sedang tidak ingin sarapan hari ini. Entah mengapa aku tidak ada rasa lapar. Aku hanya ingin begini. Berbaring di ranjangku. Dan sedari tadi malam aku tidak mengubah posisiku.
Aku melirik HP ku, sudah jam setengah 10 siang. Setengah jam lagi dia berangkat. Ingin sekali aku ke bandara sekarang juga. Tapi aku takut.. Aku tidak tahu apa reaksi Minho Oppa nanti kalau melihatku. Dia sekarang sudah sangat membenciku. Bahkan sedari kemarin dia tidak sms atau meneleponku sama sekali.
Tiba-tiba sebuah sms masuk. Mungkinkah Minho Oppa? Aku segera menyambar HP ku dan membuka sms dengan tidak sabar.

From : Sulli
Aku tidak tahu apa yang terjadi
denganmu semalam. Tapi hari ini
Oppaku berangkat ke Jepang – kalau
kau mau datang, setengah jam lagi
Oppa berangkat. Dan mungkin kau
bisa sekalian bicarakan masalahmu
padaku.

Aku melengos kecewa. Bukan Minho Oppa, tapi Sulli. Kalau saja kau tau, aku ingin sekali datang, Sulli.. Sungguh aku ingin sekali datang. Sayang sekali Sulli tidak tahu permasalahanku, dan aku juga tidak mungkin mengatakan padanya. Aku meletakkan HP ku dengan lesu. Aku tidak tahu harus membalas sms Sulli bagaimana.
“Krytsal-ah..”
Jessica Onnie lagi. Sudah keempat kalinya.
“Aku dengar Oppanya Sulli mau berangkat ke Jepang. Kenapa kau tidak mengantarnya ke bandara? Bukankah kau juga kenal baik dengannya?”
Hyaaaaaaaaaa !! Kenapa Onnie harus ikut-ikutan juga? Kepalaku serasa mau pecah.
“Ya , Krystal kenapa kau mengunci pintumu?” dia baru sadar saat berusaha membuka pintu kamarku. “Krystal-ah, buka pintunya.. Krystal!”
Aku menutup telingaku dengan bantal. Suara cempreng Jessica Onnie membuatku semakin pusing. Apa masih kurang penderitaanku sekarang? Semuanya seakan-akan terus mengingatkan pada Minho Oppa. Ottohke? OTTOHKE ?
Sudah jam 10 sekarang. Artinya Minho Oppa sudah berangkat ke Jepang.
“Selamat tinggal, oppa..” ucapku lirih.
Airmataku kembali mengalir deras. Maaf Oppa, aku hanya bisa mengucapkan selamat tinggal dari kamarku sambil memeluk bantal erat.
—xxx—
“Kami berangkat sekarang, kau yakin tidak mau ikut?” lagi-lagi Jessica Onnie memanggilku.
“Ne,” jawabku pendek.
“Oke, kalau ada apa-apa telpon saja”,pesannya.
Aku menunggu sampai mobil yang membawa keluargaku berlalu. Mereka memang sudah berencana akan mengunjungi kakek dan nenek hari ini. Seharusnya aku juga ikut, tapi keadaanku tidak memungkinkan. Setelah yakin tidak ada orang di rumah, aku mencoba bangun dari kasur, dan merasa agak pening karena terlalu banyak menangis. Kemudian berjalan menuju ruang makan untuk meminum seteguk air. Lumayan membasahi kerongkonganku.
Ringdingdong..
Bel rumah berbunyi nyaring. Aish, siapa pula yang datang. Mengganggu saja. Aku berjalan tergesa-gesa menuju pintu depan sambil merapikan rambutku asal. Biar saja siapapun yang datang itu melihatku begini, aku tidak peduli. Aku pun membuka pintu ?
“Oppa?” pekikku kaget.
Mulutku membulat karena kaget. Apa ini benar-benar Minho Oppa? Seharusnya dia sudah berangkat ke Jepang 30menit yang lalu. Tapi kenapa dia ada di depanku sekarang? Kau pasti sedang mimpi, Krystal ! pikirku dalam hati.
“Boleh aku masuk?” tanyanya.
“Ne,”
Kami berdua duduk di ruang tamu, saling berhadap. Tapi hanya saling diam. Aku sendiri masih sibuk dengan pikiranku sendiri. Kenapa Minho Oppa masih disini? Dimana Sulli? Tapi melihat nada bicaranya yang sudah melunak, sepertinya dia sudah tidak marah padaku, membuatku sangat lega.
“Taemin datang menemuiku di bandara,” akhirnya dia bicara juga, aku mendengarkannya dengan seksama. “Dia mengatakan hubungannya dengan Sulli, juga suatu hal tentangmu?”
Mwo? Tentangku? Jantungku berdegup kencang. Jangan-jangan bocah itu bilang……..
“Dia mengatakan tentang kemungkinan kalau kau menyukaiku.. Apa itu benar?”
Jdarrr!! Kata-katanya bagaikan petir menyambar di siang bolong. Tamatlah riwayatku, dia sudah tahu semuanya. Taemin benar-benar menyebalkan! Apa yang harus ku lakukan sekarang?! Aku tidak mau menghancurkan semuanya seperti tadi malam. Untuk mengakuinya pun butuh keberanian ekstra. Dia memandangku menunggu jawaban.  Mungkin aku harus mengatakan sekarang juga. Sudah waktunya berkata jujur. Tidak ada gunanya juga menutup-nutupi hal ini.
“Oppa..” kataku sambil menunduk, aku tidak berani memandang wajahnya, “aku memang menyukaimu dari awal..”
Bersamaan dengan pengakuan itu tetesan air mata kembali jatuh. Aku cuma menatap lantai dalam-dalam. Entah bagaimana ekspresi Minho Oppa sekarang, aku tidak punya nyali untuk memandang Minho Oppa. Bagiku ini terlalu memalukan.
“Mianhae, oppa.. Jeongmal mianhae..” isakku. “Aku berjanji akan menghilangkan rasa suka ini, yang penting oppa tidak membenciku.. Mianhae..”
Kalaupun Minho Oppa memarahiku sekarang, akan aku terima. Yang penting dia tidak membenciku selamanya. Aku mengusap air mata sambil menunggu responnya. Aku sudah siap apapun responnya nanti. Tapi tanpa ku duga sebuah pelukan datang padaku. Ternyata Minho Oppa memelukku !!!
“Nado Saranghae, Krystal-ah..” ucapnya lembut. “Maafkan aku yang tidak segera menyadarinya..”
Mataku terbelalak. Apa dia tidak salah bicara? Aku seolah tak percaya dengan pendengaranku sendiri. Apakah terlalu banyak menangis membuat saraf pendengaranku  jadi terganggu?
“Saranghae, Krystal..” ulangnya.
Setelah mendengarnya lagi aku kembali menangis dalam pelukannya. Kali ini airmata bahagia. Bahagia dan juga perasaan yang teramat sangat lega. Aku tidak pernah menyangka Minho Oppa juga menyukaiku. Aku terlalu bahagia sampai tidak menjawabnya. Ini adalah pertama kali aku mendapat pelukan darinya. Benar-benar menyenangkan. Sangat hangat dan nyaman. Rasanya aku ingin berada dalam pelukannya selamanya.
“Kali ini aku ingin kau mengantarku ke bandara..” kata Minho Oppa kemudian.
“Mwo? Aku pikir oppa tidak jadi pergi..” aku mengangkat kepalaku untuk melihat wajahnya.
“Aku tetap akan pergi,krystal-ah.. Tadi pesawatku cuma delay 2 jam, jadi waktuku tidak banyak.. Kajja!”
Aku hanya sempat cuci muka, menyisir rambut dan ganti baju. Kemudian pergi ke bandara bersamanya. Di dalam mobil aku merasa lebih canggung dari biasanya – mungkin karena kami sudah tahu perasaan masing-masing. Seperti biasa Minho Oppa tampak berkonsentrasi pada laju mobil. Sedangkan aku diam-diam meliriknya.
“Oppa, dimana Sulli ?” tanyanku memecah keheningan.
“Di bandara, bersama Taemin. Aku suruh mereka menunggu disana.” Jawabnya.
“Jadi Oppa merestui hubungan mereka kan?” tanyaku hati-hati.
Aku harap pengorbananku selama ini tidak sia-sia.
“Hmm,” dia mengangguk.
“Mwo? Jadi Oppa merestui mereka?”
“Ne. Kenapa? Kau tidak setuju?”
“Tentu saja aku setuju. Tapi aku tidak menyangka semudah ini. Padahal dulu Oppa sering sekali marah padaku gara-gara Taemin kan? Oppa selalu bilang kalau oppa beum tahu Taemin itu namja baik atau tidak..”
“Ya, dasar pabo! Itu karena aku jealous padamu.” Jawabnya sambil mengacak-acak rambutku.
Wajahku langsung terasa memanas. Mau tak mau aku tersenyum bahagia mendengar jawabannya.
“Oya, sejak kapan Oppa juga menyukaiku?” tanyaku lagi.
Entah kenapa aku sangat penasaran, sebenarnya sejak kapan perasaanku ini mulai terbalas.
“Aku sendiri tidak tahu, Krystal-ah..” jawabnya. “Awalnya aku pikir rasa sayang ini sama seperti rasa sayangku kepada Sulli. Tapi ternyata ini berbeda..”
“Bagaimana dengan Yuri Onnie?” tanyaku lagi.
Minho Oppa tersenyum tipis mendengar pertanyaanku. Sungguh senyumannya yang paling menawan yang pernah aku lihat selama ini.
“Akhir-akhir ini kami dekat karena dia yang membantu mengurus kepindahanku ke Jepang. Selain itu aku senang melihatmu jealous saat aku bersama Yuri Noona..”
“Mwo? Apakah terlihat sekali kalau aku jealous?” gerutuku.
Aish, aku malu sekali pada Minho Oppa.
“Tentu saja, wajahmu langsung cemberut kalau aku bersamanya! Hahaha,” dia tertawa sambil mengacak rambutku lagi.
Aku melihatnya sambil tersenyum. Sungguh, Minho Oppa benar-benar terlihat tampan kalau dia tersenyum atau tertawa lepas begini. Begitu berbeda dengan beberapa waktu lalu yang selalu jutek dan sinis. Aku merasa menjadi yeoja paling beruntung sedunia karena mendapatkanmu, oppa. Kenapa kita harus berpisah secepat ini ? 😦
—xxx—
“Cepatlah pulang, oppa..nado saranghae..” kemudian aku menutup telepon dari Minho Oppa.
Aku berbaring sambil merasakan hembusan angin yang melewati dari jendela. Aku dan Minho Oppa baru beberapa hari resmi menjadi sepasang kekasih. Rasanya masih sulit di percaya. Tapi meskipun kami tidak pernah bertemu, setiap kali mendengar suaranya dari telepon aku merasa seratus kali lipat lebih bahagia. Hari-hariku terasa ribuan kali lipat lebih indah.
“Krystal-ahh,” seseorang mendekat tubuhnya di sebelahku.
Ah, aku bahkan lupa kalau aku sedang berada di kamar Sulli.
“Hmm?” gumamku.
“Aku benar-benar penasaran, sejak kapan kau menyukai oppaku? Dan bagaimana bisa kau menyukai orang seperti dia?”
Aku menarik nafas panjang terlebih dahulu, baru menjawab.
“Kau boleh percaya atau tidak, sebenarnya aku menyukainya sejak pertama melihatnya. Aku begitu kagum melihatnya begitu baik kepadamu..” jawabku jujur.
“Jinjja?” Sulli tampak terkejut. “Lalu kenapa kau tidak bilang padaku?”
“Kau kan pernah bilang tidak suka oppamu punya pacar,. Karena kau sahabatku, jadi sebisa mungkin aku menghilangkan perasaanku ini..”
“Dan ternyata gagal kan?”
Aku cuma tersenyum. Siapa juga yang mampu menolak pesona seorang Choi Minho?
“Aku memang tidak suka oppaku punya pacar, tapi kalau aku tahu dari awal bahwa orang itu adalah kau, tentu saja aku tidak keberatan” lanjutnya dengan riang.
“Satu lagi, aku semakin terpesona padanya saat dia mengajakku ke balkon kamarnya dan menyanyikan sebuah lagu yang,,”
“Chakaman, tadi kau bilang balkon kamarnya?” Sulli memotong perkataanku.
Aku mengangguk.
“Jadi..kau masuk kamarnya?”
Sekali lagi aku mengangguk. Kenapa respon Sulli berlebihan begini?
“Ya, kenapa kau tidak bilang? Selama ini tidak ada yang boleh masuk kamarnya kecuali aku. Kalau saja kau bilang dari  awal, aku akan tahu kalau Minho Oppa menyukaimu..” protesnya heboh sambil memukuliku dengan boneka kelincinya.
“Ya, mana aku tahu..” jawabku sambil berusaha menangkis dengan tanganku.
“Krystal-ah, banyak sekali yang kau sembunyikan padaku ya?”
“Sulli-ahh, berhenti memukulku !!”
“Kau benar-benar keterlaluan.. Kau anggap aku apa hah?”
“Sudah ku bilang, hentikan memukuliku..” teriakku sambil menangkis pukulannya.
Awas saja kau Sulli, kalau nanti Minho Oppa sudah pulang aku akan adukan kau ke dia. Hihi.. Just Kidding! Bagaimanapun juga dia Oppamu, sama sepertiku – dia juga sangat menyayangimu, jadi aku tidak akan pernah mengadu.
Ahh, cepatlah pulang oppa.. bogoshippo 🙂
—FIN—

Akhirnya selese juga…
Makasii ya yang udah setia baca nii FF sampe kelar (:
Mian kL endingnya ga memuaskan..
Oia, kemaren2 ada beberapa temen+reader yg minta d bikinin Minho POV,, kL pada mau ntar aku bikinin^^
Akhir kata : Sampe jumpa di FF yang lainnya, Gomawoo !! 😀

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

20 thoughts on “I Love Your Brother – Part 4 (End)”

  1. ahhhh nyeseek.. nyesek bahagia… huwaa si taemin … ngomong-ngomong
    ckckck akhirnya setelah banyaknya masalah yang di terima krystal, mereka happy ending yaaaa… ^^ good job thor, ini ff bagusss !!!!

  2. aah… so sweet kaget loo waktu si krystal bilang dia suka sama Minho dan nunggu di kasih omelan malah dipeluk,, aku mau di peluk sama minho oppa!!

    buat cerita lanjutannya dong thor, buat konflik yang lain yaa
    Btw walaupun aku minta kelanjutannya aku suka kok FF ini walaupun uda habis T^T

    1. sama dong,, author jg mau d peluk minho :3

      kLo untuk yg ini blm ad rencana mau nglanjutin, soalnya lg bikin FF yg lain, tapi Liat ntar deh yaa, siapa tau ada ide muncul tb2, wkwk ;p

      btw thx 4 your comment 🙂

    1. iyakah? 😮

      mian yaa, author ga nyadar kL d part ni banyak Sulli nya..
      tp sbnernya d part2 sbelumnya krystal lbh bnyk muncul kok, bs d cek d part2 sblumnya^^

      btw thx yaa buat komennya 😀

  3. kyaaa…kyaaaa…
    keren bgt….smpe triak² sndri ak d kmar….serasa nyata bgt ni ff…
    bkin epilognya dong…
    smpe minho n krystalnya nikah gt…hhehe..(◦ˆ⌣ˆ◦)•.♥.•

  4. Jadian juga mereka berdua. Banyak hal sudah dilewati karena saling menyembunyikan perasaan dan kesalahpahaman yang sempat terjadi.
    Nice story.

  5. waaaaa~ finally! happy ending^^
    unnie jinjja jinjjaaaa daebak! aku sampe ikut deg2an juga pas scene minstal berantem aigoo TT
    minho pov nya ditunggu unn 🙂
    fighting!

    1. iyaa, author suka happy ending soalnya ^^

      waah, km juga jinja jinjaa daebakk kok 😉

      thx yaa udh baca + komen 🙂

  6. anyeong. . .
    Numpang ninggalin jejak

    daebakk author . . .
    Ff nie sukses bkin aku teriak kegirangan . . .

    Dari awal mpe akhir persahabtan antara kystal n sulli bikin iri ja . . .
    Apa lagi hubungan kakak beradik antra minho dan sulli .. . . .
    Klo antara krystal n minhoo sie g usah ditanya lagi bikin hati jadi playful gimana gitu
    N terkhir antara taemin n kystall akhirny perjuangan mereka berbuah manis

    Boleh juga tuh yg povny versi minhoo
    Ditunggu lohhh

  7. kyaaaaaaa!!!!!!
    awal2geregetan sama sikap minho ke krystal.tp dr part ke part keliatan perhatiannya minho ke krystal brbeda…geregetan!!
    mian komennya sekalian di part end

  8. SALAM 2014 !!! 😀
    Just direct 😀 !!!
    FF nya T.O.P abisssss,,, bahasa nya mudah dimengerti, alur ceritanya asyek, FF nya “Bersih” (semua umur dpt mmbca).. Aku suka itu,,, disajikan dengan begitu sempurrrna.. Memuaskan !!!
    Buat authour yg bikin tetap SEMANGAT yaaaa 🙂
    Ku tunggu karya selanjutnya 🙂

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s