Sesangeul Jom Barabwa – Part 2

Title : Sesangeul Jom Barabwa part 2

Author : Choi Minjin

Main Cast : Choi Minho, Lee Jinki

Support Cast : Kim Kibum, Choi Jinri

Length : Two shots

Genre : friendship, life

Rating : General

A.N: part 2 ini bikin saya sebagai author nangis!! *haha geje* tapi temen saya yang baca kok ga nangis ya?? berarti saya yang terlalu berhati lembut *hahaha* semoga banyak yang suka ^^

Sore berikutnya, Jinki kembali lagi ke atap. Minho duduk di tempat yang sama, bagi orang lain terlihat seperti sedang melamun. Jinki mendudukkan diri di sebelahnya, sebisa mungkin tidak menimbulkan suara. Tetapi Minho tanpa perubahan ekspresi sama sekali berkata,”Kau datang lagi.”
Jinki menggigit bibirnya,”Eh, iya.”
“Apa masalahmu denganku? Kenapa kau suka sekali menggangguku?”
Jinki menenggak ludah,”Aku bukan ingin mengganggumu. Hanya ingin menemanimu.”Jinki melihat sebelah alis Minho naik,”Eh, mungkin lebih tepatnya aku yang ingin ditemani.”
“Hah.”hanya itu yang dikatakan Minho.
Jinki menganggap reaksi Minho yang tidak mengusirnya ataupun pergi menjauh darinya berarti ia diterima duduk disitu. Ia melihat pemandangan kota Seoul yang padat namun teratur, merasakan udara musim gugur, semilir angin yang membelai wajahnya, suasana tenang dan damai.
“Kenapa kau suka duduk disini?”ia tidak mengharap jawaban dari Minho. Karena itu ia terkejut setengah mati ketika Minho berkata,”Memangnya menurutmu apa? Apa yang kaurasakan?”
Jinki menenggak ludahnya lagi,”Ng.. pemandangannya?”
Minho menyeringai,”Aku tidak tahu seperti apa pemandangannya. Aku tidak melihatnya.”
Jinki merasa bersalah. Ia menepuk-nepuk dahinya sendiri, merasa bodoh. Kesempatan pertamanya untuk berbicara dengan Minho justru dihancurkannya sendiri hanya dengan satu kata.
Sunyi sesaat. Jinki berpikir untuk pergi dan meninggalkan Minho sendiri. Tetapi ia terkejut sekali lagi mendengar Minho berkata,”Justru karena aku tidak melihat, makanya aku disini.”
“Maksudmu?”dalam hati Jinki merasa senang. Akhirnya mungkin Minho telah bersedia menerimanya sebagai teman.
“Aku butuh sesuatu untuk meyakinkan diri bahwa aku masih ada di dunia ini. Aku ingin merasakan sesuatu agar aku yakin kegelapan ini hanya ada di mataku. Aku ingin merasakan angin. Aku ingin mendengar bunyi angin. Aku ingin membayangkan bahwa di depanku ada pemandangan yang sangat indah, seperti yang tadi kaukatakan padaku.”
Jinki melongo. Ia tidak pernah membayangkan akan ada orang yang berkata seperti itu.
“Kau tidak akan pernah mengerti.”Minho menoleh. Jinki memandang matanya. Matanya yang besar dan dalam namun kosong. Tidak ada emosi apapun disana. Minho tertawa kecil, dingin,”Nah, kau sudah puas? Apa lagi yang ingin kau ketahui tentangku?”
Jinki menggeleng, tapi kemudian ingat bahwa Minho tidak mungkin melihatnya. Lalu ia berkata,”Ng, bukannya mau tahu, hanya saja…”
“Aku tahu kau sudah mendengar banyak hal tentangku. Apa mereka bilang? Pemuda depresi yang dingin? Hah.”Minho mendengus. Ia menghadap ke depan lagi, masih tanpa ekspresi.
“Tidak begitu. Aku tidak benar-benar mendengarkan mereka. Maksudku, ya kau memang dingin dan agak aneh. Tapi bagiku itu tidak masalah.”
“Dingin dan aneh ya?”Minho menelengkan kepalanya,”Itulah yang kalian katakan tentangku. Kalian yang tidak pernah mengerti perasaanku.”
“Perasaanmu yang bagaimana? Kau tahu, kau bisa katakan padaku apa yang kaurasakan. Berbagilah denganku. Maka bebanmu akan sedikit berkurang.”
Minho tertawa pahit,”Memangnya siapa kau? Aku bahkan tidak tahu apa-apa tentangmu. Kenapa kau begitu penting untuk mengetahui semua perasaanku?”
“Aaaah, baiklah. Namaku Lee Jinki. Panggil saja aku Jinki. Jika kau ingin tahu apapun tentangku, tanya saja. Aku tidak punya teman disini. Sulit untuk mencari teman yang seumuran. Kau tahu? Selama hampir dua minggu, hanya beberapa halmoni dan seorang dokter mata yang mau bicara denganku. Oh iya, dokter itu temanku sejak SMA. Jadi kesimpulannya, aku tidak punya teman disini.”
“Benarkah? Memangnya kau ini sakit apa? Dan kenapa teman-temanmu tidak menjengukmu?”
Jinki terkesiap sebentar, ia mengusap-usapkan tangan di celana,“Oh, itu… aku hanya demam tinggi, alergi dan flu. Sebenarnya aku sudah merasa sehat. Tapi mereka belum mengizinkanku pulang. Mungkin mereka khawatir aku terkena flu babi? Hahaha. Teman-temanku jarang menjengukku karena aku sebenarnya tidak tinggal di Seoul. Dan orang tuaku sering sibuk.”
“Begitu?”Minho tersenyum pahit,”Teman-temanku juga terlalu sibuk untuk menemaniku selama kurang lebih empat setengah tahun ini. Padahal aku dan mereka sama-sama tinggal di Seoul.”
“Hah?”Jinki tidak mengerti. Yang ia tahu, ada nada getir di perkataan Minho.
“Kau kesepian selama dua minggu? Aku kesepian selama empat tahun tujuh bulan dan delapan hari. Aku hanya punya Jinri yang harus sekolah dari pagi hingga sore hari. Dalam sebulan, orang tua kami ada di rumah paling lama hanya seminggu. Selebihnya mereka bekerja di Cina. Teman-temanku sudah punya kehidupan sendiri yang sukses dan bahagia. Aku yang dulu atlet nasional lompat tinggi, aku yang dulu dengan susah payah berhasil diterima di universitas yang diimpikan banyak orang, dengan sebuah kecelakaan yang merupakan kecerobohan orang lain, dalam sekejap telah kehilangan semuanya.”Minho berhenti sesaat. Ia mengambil nafas dan kemudian berkata pelan,”Semuanya hanya dalam waktu sekejap.”
Jinki tidak dapat berkata apa-apa. Ia hanya memandangi Minho yang tampak bergolak dengan hatinya sendiri. Baru kali ini ia melihat Minho berekspresi seperti ini. Wajahnya menampilkan kepedihan yang menyayat hati.
“Dan kalian berkata aku berlebihan karena berusaha mengakhiri kesepian ini? Mengakhiri kegelapan ini? Kalian tidak pernah mengerti. Apa gunanya aku hidup sebagai beban seperti ini? Aku bahkan tidak merasa benar-benar hidup. Dunia ini terasa abstrak bagiku. Menutup dan membuka mata rasanya sama saja. Bukankah mati pun sama saja?”alis Minho bertaut, menimbulkan sebuah kerutan di tengah,”Kalau bukan karena Jinri yang memintaku, aku mungkin sudah tidak ada disini lagi.”
“Kau bodoh, ya?”Jinki menemukan suaranya kembali. Entah kenapa ia merasa sangat marah,”Kau bodoh dan berpikiran sempit. Coba sekali saja kau pikirkan, berapa banyak orang di luar sana yang jauh lebih tidak beruntung daripada kau? Banyak orang yang tidak melihat sejak lahir, banyak orang yang punya kekurangan jauh lebih parah darimu. Kau bodoh!”nafasnya memburu. Ia berdiri dan berteriak,”Kenapa kau dengan mudah dan entengnya berusaha mengakhiri hidupmu, sementara ada banyak orang yang mati-matian berjuang untuk hidup padahal mereka tidak bisa? Coba pikirkan itu, bodoh!”
Ia pergi. Meninggalkan Minho yang terdiam duduk disana.
~~~~~
Sore berikutnya.
Jinki berdiri di belakang Minho. Ia diam selama beberapa menit, menunggu Minho berkata ‘kau lagi’ tapi itu tidak terjadi. Ia menenggak ludah dan memutuskan untuk bicara terlebih dahulu,”Hei, halo.”
Minho tidak menjawab. Bahkan sampai Jinki mendudukkan diri di sebelahnya. Ia hanya memandang ke depan dengan ekspresi datarnya yang biasa.
“Kemarin, maafkan aku ya. Tidak seharusnya aku berteriak seperti itu.”Jinki memperhatikan wajah Minho, siapa tahu ada perubahan ekspresi di sana. Tapi Minho tidak bereaksi sama sekali.
“Kau marah?”tetap tidak ada jawaban. Jinki menenggak ludah sekali lagi. Baiklah, jadi sekarang dia harus mulai dari awal lagi setelah kemarin berhasil membuat Minho bicara padanya. Dia merasa bodoh. Kenapa dia sering sekali menghancurkan kesempatannya sendiri?
Sunyi. Jinki tidak tahan suasana seperti. Tapi apa yang harus dikatakannya?
“Jinri sudah baikan?”hanya itu yang keluar dari mulutnya.
Sunyi beberapa saat. Jinki berpikir mungkin sebaiknya dia pergi saja. Namun kemudian Minho berkata,”Kasihan sekali dia. Dia harus operasi lagi. Ada yang retak atau apalah itu. Dia harus dirawat lebih lama lagi.”
“Benarkah?”Jinki tersenyum. Ia tidak bermaksud senang di atas penderitaan Jinri. Dia hanya senang karena akhirnya Minho bicara,”Kasihan sekali. Kau tahu, aku cukup menyukainya. Pertama aku tertarik padanya karena namanya mirip denganku.”
Minho menoleh dingin,”Kau bilang apa? Kau suka Jinri?”
“Aaah, bukan begitu maksudku. Maksudnya aku.. apa ya? Ah, aku bersimpati padanya.”Jinki buru-buru meralat ucapannya. Ternyata Minho ini menderita sister complex.
Sunyi lagi. Jinki menunggu Minho mengatakan sesuatu. Tapi itu tidak terjadi. Mungkin memang harus dia yang memulai pembicaraan,”Minho, maafkan perkataanku kemarin ya.”
Minho menghela nafas,”Perkataan yang mana? Semua perkataanmu bagiku menyebalkan.”
Jinki merengut,”Heh, yang itu. Yang terakhir. Yang menyangkut itu.. kau tahu. Ah, aku tidak mau mengungkitnya lagi.”
Minho diam saja. Jinki memperhatikannya,”Minho-yah, anggaplah aku temanmu ya? Aku akan menjadi teman yang baik bagimu, yang selalu ada untukmu. Percayalah padaku.”
Minho hanya menghela nafas.
Beberapa menit telah berlalu. Matahari tampak hampir terbenam di depan mereka, menampilkan cahaya oranye keemasan yang mempesona.
“Woah, matahari hampir terbenam. Indah sekali melihatnya dari sini.”Jinki tersenyum lebar. Ia mulai menyukai tempat itu. Bahkan meskipun menghabiskan waktu bersama Minho terasa kaku dan sunyi, ia tetap merasa senang dan damai.
“Ayo kita kembali.”Jinki ingin berdiri. Tapi alangkah kagetnya dia, ternyata Minho memegangi tangannya.
“Jinki.”apa ia tidak salah dengar? Inilah kali pertama Minho  menyebut namanya,”Katanya kau temanku kan?”
Jinki mengangguk-angguk keras. Tapi sekali lagi merasa bodoh. Tentu saja Minho tidak melihatnya,”Iya, tentu saja.”
“Kalau begitu tinggallah sebentar disini. Ceritakan padaku seperti apa pemandangan itu.”Minho menunjuk ke depan.
“Ce, ceritakan?”Jinki benar-benar kaget dan senang. Benarkah ia sekarang sungguh-sungguh dianggap teman?
“Iya. Kau bilang matahari terbenamnya indah sekali kan? Ceritakan padaku. Ceritakan juga pemandangan kota Seoul. Sudah empat tahun tujuh bulan dan sembilan hari aku tidak melihat itu semua. Aku sudah lupa.”
Jinki mengangguk. Ia mulai menceritakannya. Entah kenapa air mata menggenangi matanya. Baginya perkataan Minho yang barusan terdengar getir dan sendu. Tetapi ada kerinduan dan harapan disitu. Ia yakin sekali, ia mendengar kerinduan disitu.
Minho hanya diam mendengarkan Jinki. Ia membayangkan warna keemasan di kaki langit, membayangkan Seoul Tower di arah jam tiga, membayangkan kepadatan jalan raya, membayangkan gedung-gedung tinggi dan lampu-lampu yang mulai menyala. Ia telah menanti cukup lama orang yang mau menceritakan pemandangan selain Jinri yang sibuk sekolah.
Jinki terus menceritakan semua yang dilihatnya kepada Minho sampai langit akhirnya benar-benar gelap. Angin dingin mulai berhembus dan merekapun memutuskan untuk kembali.
~~~~~
Setiap sore seperti itu. Di atap rumah sakit, di tepian dengan kaki menjulur ke bawah.
Setiap sore mereka membicarakan banyak hal. Minho selalu meminta Jinki untuk mendeskripsikan apa yang dilihatnya. Dan Jinki akan menceritakannya dalam beberapa menit.
Sore kelima setelah kedekatan mereka berkat matahari terbenam itu, Jinki terlambat datang. Ia terlambat tiga puluh menit dibanding biasanya. Ia duduk dan Minho lanngsung berkata,”Kenapa?”
“Bukan apa-apa. Mereka memberiku obat, tapi aku langsung muntah-muntah. Jadi mereka memeriksaku lagi.”Jinki nyengir.
“Benarkah kau hanya demam, flu dan alergi? Jangan-jangan kau benar-benar terkena flu babi.”
“Ah, itu tidak mungkin. Yah, sebetulnya aku juga asma. Kalau sakit aku suka lama. Sejak kecil selalu begitu.”Jinki tersenyum. Ia mendongak memandang langit yang cerah tanpa noda,”Hari ini cerah sekali. Rasanya agak panas bukan? Hei, disana, diatas, arah jam sebelas ada awan dengan bentuk yang aneh. Seperti.. jamur? Atau.. apa ya?”
Minho mendongak ke arah jam sebelas. Berusaha membayangkan ada awan berbentuk jamur.
Setengah jam membicarakan banyak hal, tiba-tiba Minho bertanya,”Jinki, kenapa kau begitu ingin berteman dengan orang aneh sepertiku?”
Jinki berpikir sejenak,”Aku tidak tahu. Sebenarnya, awalnya aku suka sekali pada matamu. Aku sangat iri pada matamu. Tahu tidak, mataku ini sangat sipit. Tapi walaupun begitu, banyak orang yang menyukainya lho. Katanya mataku ini salah satu daya tarikku.”
Minho tertawa kecil,”Kalau begitu kenapa kau iri pada mataku?”
“Aku iri bukan karena ingin memilikinya, tapi aku benar-benar suka pada matamu yang besar dan dalam.”Jinki memandang mata Minho,”Minho-yah, kalau kau senyum, senyumlah dengan tulus. Jangan senyum sendu terus. Kalau senyummu tulus dan bahagia, maka matamu juga akan ikut senyum. Pasti kelihatannya akan jauh lebih bagus.”
Minho hanya mengangkat bahu,”Tapi sayangnya tidak berfungsi.”
“Jangan begitu.”Jinki memukul pelan bahu Minho,”Suatu hari kau pasti bisa melihat lagi. Percayalah padaku!”
Minho tidak berkata apa-apa. Jinki melanjutkan,”Selain karena matamu, aku juga sangat tertarik pada kepribadianmu yang aneh itu. Apalagi katanya kau mencoba bunuh diri sampai tiga kali. Aku jadi semakin penasaran tentangmu.”
Minho hanya tersenyum kecil.
“Minho-yah,”Jinki memandangi langit yang pelan-pelan berubah warna menjadi keemasan,”Berjanjilah kepadaku kau tidak akan melakukan hal seperti itu lagi.”ia menoleh,”Sekarang bukan hanya pada Jinri kau harus berjanji, tapi juga padaku.”
Minho menghela nafas panjang.
“Minho-yah, dengarkan aku.”Jinki memandangi langit lagi,”Hidup itu adalah anugerah, hal yang patut diperjuangkan. Kenapa orang-orang bersusah payah bekerja mencari uang? Karena mereka ingin hidup. Kenapa ada dokter? Kenapa orang-orang bersusah payah membuat obat? Karena orang-orang ingin hidup.”
Jinki menghela nafas dan Minho menunduk.
“Kecuali Tuhan telah berkehendak memanggilmu, hidup harus diperjuangkan. Karena hidup itu pasti indah jika kau melihatnya dari sisi yang baik. Dunia ini menanti untuk kaulihat. Dunia ini akan ada disini, menemanimu dalam hidup. Berjanjilah Minho, kau harus tetap yakin pada harapan. Kau akan melihat lagi suatu hari nanti dan saat itu terjadi, lihatlah dunia ini dan buktikan bahwa aku benar. Berterima kasihlah pada Tuhan dan berjanjilah untuk memperjuangkan hidupmu lagi.”
Minho masih belum mengatakan apa-apa. Tangannya bergetar dan setelah sekian lama, air mata membasahi matanya.
“Minho-yah?”
Minho menarik nafas, dengan teguh berkata,”Iya. Aku berjanji. Aku akan memperjuangkan hidupku. Dan suatu saat nanti ketika aku bisa melihat lagi, aku akan melihat dunia ini dengan bahagia dan memperjuangkan hidupku lagi.”
Kata-kata itu sudah lebih dari cukup bagi Jinki. Ia tahu, Minho tidak akan mengingkari janjinya.
~~~~~
Tiga minggu setelah perkenalan mereka, mereka menjadi semakin dekat layaknya saudara. Besok pagi Jinri sudah diperbolehkan pulang. Maka sore ini Minho dan Jinki duduk di tempat biasanya dengan agak sedih.
“Aku akan sering kesini menjengukmu.”
Jinki mengangkat kedua alisnya,”Mungkin aku juga akan segera pulang. Aku sudah terlalu lama disini.”
“Benar juga. Hampir satu setengah bulan kan? Apa menurut mereka kau terkena flu babi?”
“Ah, entahlah. Aku mulai curiga, jangan-jangan mereka sengaja menahanku disini.”Jinki tertawa, ia memandang langit,”Sekarang sudah musim gugur. Tidak terasa ya. Dan kelihatannya mau hujan.”benar saja, tidak berapa lama, tetes-tetes air dingin mulai berjatuhan. Mereka berdiri dan masuk kembali. Menuruni anak tangga dan turun menggunakan lift.
“Aku harus membantu Jinri membereskan barang. Kau kembali ke kamarmu saja.”
Jinki mengangguk, kemudian ingat Minho tidak melihatnya. Ia berkata,”Iya. Lurus saja. Ikuti dinding sebelah kiri.”
Minho berjalan lurus. Jinki memandanginya.
Jinki bernafas berat. Entah kenapa akhir-akhir ini kondisi badannya memburuk. Tapi ia tidak ingin merasa tidak sehat. Dia sehat. Dia akan memperjuangkan hidupnya lebih keras lagi.
Tapi ia tidak kuat lagi. Ia pingsan di tempat.
Minho yang berjalan menjauh tidak tahu apa-apa. Ia mengikuti dinding di sebelahnya dan bergegas menuju kamar Jinri. Sementara sepuluh meter di belakangnya, orang-orang bergegas menolong Jinki yang terkapar di lantai.
~~~~~
“Dokter Kibum, kau tahu kemana Jinki?”
Kibum menoleh. Minho datang lagi untuk kesekian kalinya dalam minggu ini. Dan lagi-lagi hanya menanyakan Jinki.
“Entahlah Minho. Aku kan sudah bilang, dia sudah keluar beberapa hari yang lalu. Aku juga tidak tahu dimana rumahnya. Dia sudah pindah rumah beberapa tahun yang lalu.”
Minho merengut,”Masa kau juga tidak punya nomor teleponnya?”
“Aku tidak tahu. Kami hanya teman semasa SMA. Kami tidak begitu dekat.”
Minho diam. Kibum menghela nafas panjang,”Kau pulang saja Minho. Aku.. akan mencari tahu tentang Jinki. Nanti aku akan mengabarimu.”
Minho mengangguk dan pergi.
Kibum tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia bergegas pergi. Menaiki lift dan berjalan terburu-buru. Sesampainya di sebuah kamar, ia membukanya.
Jinki masih dalam keadaan yang sama.
Ibunya duduk di sebelahnya, mengelus-elus tangan Jinki dengan sayang. Sementara Jinki hanya terbaring di atas ranjang. Ia koma. Selang-selang menghubungkan raganya dengan kehidupan. Alat pendeteksi detak jantung di sebelahnya berbunyi lemah.
Ibunya melihat kedatangan Kibum dan ia pergi. Kibum mengangguk sebentar padanya sebelum mendekati Jinki. Ia menghela nafas panjang, berkata pelan,”Jinki, Minho datang lagi menanyakanmu. Aku tidak tahu lagi apa yang harus kukatakan padanya. Aku merasa berdosa terus-terusan membohonginya.”
Kibum berharap Jinki akan menjawab, tapi harapan itu sia-sia saja. Jinki masih terpejam. Tanda-tanda kehidupan yang muncul darinya hanyalah bunyi lemah alat pendeteksi detak jantung.
“Haruskah kukatakan padanya bahwa kau menderita kanker? Haruskah kukatakan padanya kankermu ini sudah stadium akhir?”Kibum mengusap matanya. Suaranya serak, dan ia merasa tidak sanggup mengatakan apa-apa lagi.
Dia hanya pergi dari ruangan itu dengan bercucuran air mata.
~~~~~
Satu  bulan sudah Minho tidak melihat Jinki lagi. Ia benar-benar marah dan sedih. Bukankah Jinki pernah berkata dia akan selalu ada untuk Minho? Tapi apa kenyataannya? Tanpa kabar sekarang dia pergi begitu saja, bahkan tidak berusaha menghubunginya.
Minho meraba jendela kamarnya. Rasanya dingin. Ia ingin melihat apa yang ada di luar sana, tapi tidak ada Jinki yang akan mendeskripsikan untuknya.
“Oppa.”
Jinri tidak bisa menghampiri Minho di kamarnya karena kakinya masih sakit. Maka Minho menghampirinya yang sedang duduk di depan TV.
“Oppa, ada telepon. Dari rumah sakit.”Jinri menyerahkan gagang telepon.
“Rumah sakit?”Minho mengangkat satu alisnya. Ia lalu bicara di telepon,”Halo?”
“Halo, benarkah ini Choi Minho? Ini dari rumah sakit. Bisakah aku bicara dengan orang tuamu?”
“Mereka sedang di Cina. Anda  bisa langsung bicara saja denganku.”
“Baiklah. Ini menyangkut mata anda. Ada orang yang mendonorkan kornea. Dan anda ada di urutan pertama dalam daftar rumah sakit untuk menerima donor kornea.”
Minho menjatuhkan gagang telepon. Matanya membelalak. Ia tidak percaya pada apa yang baru saja didengarnya. Jinri menangkap gagang telepon dan dengan heran berbicara pada petugas rumah sakit. Seketika ia pun kaget dan berteriak. Ia langsung memeluk Minho.
“Oppa, kau akan segera bisa melihat lagi.”
Minho tidak berteriak bahagia ataupun menangis terharu. Dia hanya berdiri diam. Berbagai perasaan berkecamuk dalam hatinya.
~~~~~
Menjelang operasi transplantasi kornea, Minho dapat merasakan genggaman tangan Jinri dan ibunya. Namun ia tahu ada orang lain yang berdiri di samping kirinya.
“Dokter Kibum, dimana Jinki?”
Kibum hanya diam sesaat, berkonsentrasi pada data-data di tangannya,”Aku sudah bilang aku tidak tahu. Kau ini keras kepala sekali.”
“Tapi aku akan segera dioperasi. Dia harus tahu.”
“Aku sudah berusaha mencari tahu tentang dia. Tapi sulit, dan aku juga sangat sibuk. Jadi.. yah.”
“Bagaimana dengan data-data rumah sakit? Harusnya ada kan?”
“Aku tidak boleh melihatnya. Lagipula tidak semudah itu, tahu.”Kibum menyingkir sebentar sementara seorang perawat maju dan memasangkan jarum infus di pergelangan tangan Minho.
“Tapi..”
“Sudah jangan banyak bicara. Rileks saja. Sebentar lagi kau akan masuk ruang operasi.”
Beberapa orang mengantarnya sampai masuk ruang operasi. Kibum tidak ikut masuk, ia berbisik pelan pada Minho sebelum pintu ditutup,”Kau akan segera bisa melihat lagi. Jadi, hadapilan operasi ini dengan bahagia, oke?”
Lalu pintu ditutup.
Kibum berdiri di depan pintu operasi. Ia membayangkan seperti apa proses operasi yang terjadi di dalam. Apa semua akan baik-baik saja? Apa semua akan berjalan lancar?
Kibum memejamkan mata. Ia teringat kejadian tiga hari yang lalu.
Saat itu Kibum sedang memeriksa hasil pemeriksaan seorang pasien penderita rabun jauh ketika seorang perawat memanggilnya,”Dokter Kim, ada telepon untukmu.”
Kibum meletakkan pekerjaannya dengan malas dan pergi untuk menerima telepon. Ia terkejut mendengar suara ibu Jinki di seberang telepon. Nadanya terdengar senang,”Kibum, cepatlah kemari. Jinki sudah sadar dan dia ingin bicara denganmu.”
Tanpa menunggu waktu lama, ia bergegas pergi. Nafasnya masih tidak teratur ketika ia sampai di kamar Jinki.
Mata Jinki sudah terbuka, tetapi sangat sedikit, sehingga Kibum hanya dapat melihat garis tipis di bawah alis tebal itu. Ia memanggil nama Jinki,”Jinki, kau sudah bangun? Bagaimana rasanya? Kau butuh sesuatu?”
Suara Jinki sangat lemah, hampir tidak terdengar ditimpa suara alat pendeteksi detak jantung yang berbunyi cukup nyaring,”Kibum..”
“Iya. Aku disini.”Kibum menggenggam tangan Jinki.
“Minho…”
“Minho? Kau ingin aku memanggilkan Minho?”
Jinki menggeleng lemah,”Tolong aku… Minho..”
“Apa? Aku tidak mengerti.”Kibum mendekatkan telinganya kepada Jinki agar dapat mendengarnya lebih jelas.
“Tolong aku… berjanjilah padaku.”
“A, apa? Apa yang harus kulakukan?”
“Tolong berikan ko, korneaku pada Minho. Dan tolong… tolong kau bantu dia sa, sampai dia.. dapat melihat.. lagi.. tapi tolong.. tolong kau jangan beritahu dia.”
Kibum terkesiap. Ia membelalak pada Jinki,”Jinki, apa kau…”ia menoleh ke arah pintu,”Bibi! Paman! Cepat kesini!”
Kedua orang tua Jinki masuk dengan khawatir bersamaan dengan genggaman tangan Jinki di tangan Kibum,”Kibum?”
Kibum tidak dapat menahan air matanya. Ia mengusapnya dengan tangan yang tidak dipegangi Jinki,”Iya. Aku janji. Akan kulakukan tepat seperti apa yang kau inginkan.”
Jinki tersenyum. Kibum sudah menyerah dengan air matanya. Ia tidak susah payah mengusapnya lagi,”Jinki bertahanlah. Kumohon.”
Jinki tersenyum lagi. Kali ini kepada orang tuanya. Lalu ia menatap Kibum, memberikan senyum terakhirnya.
Dan dengan hela nafas ringan, Jinki telah pergi.
Ia telah memperjuangkan hidupnya selama ini. Ia dengan susah payah telah mencoba segala cara untuk tetap hidup. Ia telah bertahan setahun lebih lama dari vonis dokter.
Tapi memang sekaranglah saatnya. Tuhan telah memanggilnya.
~~~~~
Minho duduk di tempatnya yang biasa. Kota Seoul sudah tertutup salju. Andai saja Jinki masih disini disampingnya. Dan dia masih buta. Jinki pasti dengan semangat sedang menjelaskan padanya bagaimana jalan-jalan tertutup salju, bagaimana butir-butir salju turun dengan indahnya.
Tapi bukankah sama saja?
Dulu maupun sekarang ia melihat melalui mata Jinki. Mata Jinkilah yang membawanya kembali pada dunia yang indah dan terang benderang. Bukan dunia yang suram dan abstrak yang dulu dibayangkannya. Mata Jinkilah yang mengantarnya untuk menepati janji. Janji untuk menatap dunia ini dan memperjuangkan hidupnya lagi.
Minho menoleh ke sebelahnya, tempat Jinki biasa duduk. Ia membersihkan salju yang menutupinya. Ternyata disana ada tulisan, masih sedikit tertutup salju. Minho membersihkannya lagi, ia membaca tulisannya. Tulisan itu tampaknya digoreskan dengan batu.
‘Lee Jinki’
Minho berdiri. Kemudian ia berjongkok dan membersihkan salju dari tempat tadi ia duduk. Ternyata disanapun ada tulisan.
‘Choi Minho’
Minho tertawa. Dasar, Jinki iseng. Jinki yang seperti anak-anak.
Jinki yang menyadarkannya akan arti kehidupan.
Minho menatap tulisan ‘Lee Jinki’, tersenyum sedih,”Terima kasih, Jinki, sahabatku. Sahabat yang bodoh sekali karena menyembunyikan banyak hal dariku. Sahabat yang bodoh sekali karena pergi tanpa memberitahuku. Terima kasih atas segalanya. Aku berjanji akan kutepati janjiku padamu.”
Ia berdiri. Mendongakkan kepala, menatap langit. Mengedarkan pandang ke seluruh penjuru.
Ia melihat dunia, seperti kata Jinki.
-end-
-minjin’111019-

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
Advertisements

59 thoughts on “Sesangeul Jom Barabwa – Part 2”

  1. Uwah, ada kesalahan besar di sini! Cuma satu kata tapi sangat fatal! Huhuhu T.T
    maafkan author abal2 ini ya readers. Padahal udah diteliti tapi ternyata..
    Kalo kalian teliti pasti deh nemu satu kata yg janggal.
    Jeongmal mianhae T.T

    1. author nim…..
      do you have personal blog???
      pengen baca karyamu yang lain..
      saya suka karya karya buatan kamu TT^TT
      kalo punya..would you give me the link…
      huhuuuuu aq gatau mana yang janggal…
      tapi cerita yg kamu buat bagus banget..sampe sesek bacanya

      1. Sayangnya aku nggak punya. mhehehe. Aku cuma mempublish FFku di blog ini kok.
        Oh, jinjjayo? Benarkah?? huhuhuhhuhuhu… tahukah kamu, aku sangat sangat sangat terharu T.T
        Jeongmal gomawoyo. Kamu benar-benar memberi semangat padaku yang lagi males nulis ini. makasiiiiiih banget ^^

        1. aah should know it before..
          kenapa gak bikin??kan lbih gampang nyariin author nim drpda streseu duluan nungguin kapan lanjutannya di update *maaf bnyak nanya n curcol*
          yeah you are author nim… saya suka bahasanya author nim rapi..
          jadi gak pusing bacanya..saya cnderung milih klo baca.tp saya suka gaya nulisnya author nim..
          huaa maaf klo bkin terharu tp saya jujur kok..
          really?? you should make more stories kalo begitu..
          soalnya karya author nim pasti ada yg nunggu ^^
          semangat!!

        2. Sebelumnya, nggak usah manggil ‘nim’ dong. Kayaknya kaku banget. ehehe. Panggil Minjin aja, atau if you’re younger, panggil aku ‘eonni’ aja^^
          Wah, aku males aja punya blog. Kalau mau baca FFku, tunggulah di blog ini. Tapi sebelumnya aku mau minta maaf kalau-kalau FFku selanjutnya akan mengecewakanmu. hehehe.
          Jeongmal gomawoyo. 🙂

  2. Ehhh,, Jadi Jinki menderita kanker stadium akhir,,, Entahlah aku gx bisa nangis, meski ini aku akui sangat mengarukan,, malah justru tersenyum waktu Jinki bilang, mungkin dokter disini sengaja menahanku lebih lama,, pokoknya justru Jinkinya lucu,,, juga yg ttg flu babi itu,hehehe

    Yanga mana,, yang mana?? Aku gx jeli,, gx bisa nemu Kejanggalan itu thor #nangis dipojokan,,

    Bagus,, bagus,, sesuai dugaanku,, emang Jinki yg mendonorkan korneanya,,

    1. Wah, ada lucunya? Jinjja? waaaaaaaaaahhh*histerisnggakwaras*
      gomawoyo ^^
      Yang janggal? Ada pokoknya. Tapi aku nggak akan ngasih tau sebelum ada yang nyadar. hehehehe *readers: ‘Dasar author busuuuuuuk!!’*
      gomawo untuk comment dan like-nya ^^

  3. huwaa.. M’harukan..
    Uri dubu bijaknyaaaa… Tpi sayangnya dia mninggal.. Huhuhu..
    Nice, thor..! Feel-nya lumayan ngena.. Suka sma kta2 ttg hidupnya..

  4. bener kan dugaanku . yang donorin matanya itu Jinki.
    huah, Jinki kau sungguh baik
    hah, keren2
    daebak eon! 😀
    di tunggu ff lainnya ^^

  5. chingu-yaaaaaa…. kau hrs brtnggung jwb krn mmbwtq nangis smpai meraung-raung *lebay mode on*….
    sedih bgt TT^TT
    kueren bgt dah ceritanya
    thank u so much ❤

  6. Huweeeee huweee 😥 #mewek
    jinki matii….
    ceritanya baguuss, mengharukan..hiks
    tapi itu minho tau ya kalo jinki uda mati n jinki yg donorin korneanya?
    nice story thor!

    1. huwaaaah T.T gomawoyo… ^^
      Iya, Minho tau. di awal cerita kan dia menelusup (?) ke kantor dokter. Abis itu flashback dan kembali ke masa kini lagi *maaf, ngebingungin ya? jeongmal mianhae..
      thank you XD

  7. Daebak! Nuna’s writing is as awesome as ever! d(^w^)b Kalo aku sih nggak akan bisa nulis FF sebagus ini.

    Eodinya? Dari tadi nggak nemu-nemu. (-____-) *musadar (muka sangat datar)*

    Scene terakhir… Sungguh aku speechless dibuatnya. T^T

    – From Jongki with ❤

    1. Kamu ini ngeyel banget sih. Dibilang FF kamu yang lebih bagus masiiiiiih aja begitu. mhahahaha
      Masih nyari? Sudahlah, justru bagus kalo nggak ada yang nyadar *plaaakk
      Gomawo Jongki ^^

  8. nyerah, thor.. gtau yg salah dmana *kibar bendera putih.
    emg yg mna sih yg salah? im curious~~

    ternyata bnr tebakan saia, jinki yg donorin kornea.
    persahabatan mreka sweet bgt ya, jinkinya bijak nasehatin minho ini itu, keren pkoknya thor^^d

  9. Kyyaaaaaaaaa….
    Huaaa huaaa…hiks hiks hiks hiks*nangis di pelukan Jinki*
    authoor tanggung jawab atas setiap air mata yang menetes ini!!!*drama mode on*
    Jinkiiiiiiii andweiiii..huuuu
    Nice storyyy, lain kali jgn bkin Jinki meninggal yaaaa…nyesekk seek seek bacanyaa..

    1. Tidaaaak, aku tidak bisa bertanggung jawaaaab! *lebay*
      Iya, maaf ya di cerita ini Jinki-nya harus bernasib seperti itu. Sekali-kali kan gantian gitu. Soalnya kebanyakan kan yang dibikin meninggal si Minho oppa. ehehehe.
      Gomawoyo XD

  10. Wuaaaa… Makna persahabatannya dapet bangeeeet!! Salah satu bersedia memberikan miliknya untuk kebahagiaan yang lain. Hebat deh pokoknya. Apalagi ending-nya yang Minho lihat ukiran namanya dan Jinki itu. Bahasa Jawa-nya tuh ‘nggregel’. Tapi lucu juga saat ngebayangin Jinki yang mirip anak-anak dengan sifat cerianya.
    Nice story.

  11. ahhh terharuuu, persahabatan yang bener2 dalem, meskipun hanya sebentaaaar ,…
    minhooo… inget kata2 sahabatmu jinki yaaaa…
    sumpah terharu bgttt ,…
    ngak nyangka key dokter mataa… harusnya dia jadi dokter cintaaa… #plak!!
    nyeseek bgt bacanya, apalagi pas jinki minta tolong ma kibuuumm … >,< *tumben manggil kibum???*

    ayoo…ayoo… karya2 mu yang lain onnie,,, *sksd,maklum umur ku hanya 14 thun*

    1. Wah, maaf, belum ada yang nyadar jadi aku nggak mau ngasih tau. hehehe. Hayo siapa yang tau? Yang menjawab dengan tepat akan mendapatkan piring cantik + tanda tangan eksklusif author *gapentinggadayangpengendasarauthorgila* mhehehehe.
      gomawoooooo ^^

  12. eonni.. kereeen !!
    huaaa, jinki oppa baik bener dah, padahal sahabatannya baru sebentar. minho oppa harus nepatin janjinya yaa, harus !

    eonni, dimana yang janggal?? aku mau nebak tapi takut salah 😦
    ayolah, kasih tau.. penasaran dimana janggalnya

    nice story, daebak !! 🙂

      1. hahaha.. nggak, aku mah gak keren. eonni yang keren, bisa bikin ff bagus banget, kalo aku kan gak bisa.

        yah, bener kan tebakan aku salah. hehe.
        ternyata disitu janggalnya *nunjuk komentar eonni yang ngasih tau letak janggalnya

        ne, cheonmaneyo..

  13. Terharuuu :”:” tapi gabisa nangis wkwkw
    Jinki bijak banget aihh suka sukaa
    Cara dia nutupin penyakitnya ke Minho, pake bilang kena flu babi-_-wkwkw
    Ceritanya ngena banget. Suka banget semuamuanya. Bahasanya juga wah daebak laahh
    Ditunggu karya lainnya 😀

  14. Nggak ada yang nemu salahnya dimana? Baiklah, daripada terus2an merasa berdosa, I’m gonna reveal my secret. jiahahaha.
    Di situ kan ada kalimat: ‘Satu bulan sudah Minho tidak melihat Jinki lagi.’ Tolong garis bawahi kata ‘melihat’. Nah kan? Waktu itu Minho belum bisa melihat!!! *jreng jreng jreng*
    Sepele kan?? tapi fatal *mhuhuhuhu* pasti yang udah bela-belain penasaran langsung pada muka datar semua deh (=.=) mhahaha. Jeongmal joesonghae *deep bow*
    Jadi piring cantik dan tanda tangannya akan author simpan sendiri *gapenting*
    aduh, saya maluuuuuuu *buru2 ngumpet di kamar mandi*

  15. hi author, salam kenal…
    ff yang dalam dan ngena banget, benar kata jinki ”Hidup itu adalah anugerah, hal yang patut diperjuangkan. Kenapa orang-orang bersusah payah bekerja mencari uang? Karena mereka ingin hidup. Kenapa ada dokter? Kenapa orang-orang bersusah payah membuat obat? Karena orang-orang ingin hidup.”
    jadi motivasi buat gak nyerah dalam hidup dan selalu berusaha..

    keep writing thor 🙂

  16. Huee~ terharu Thor… T.T
    Persahabatan yang singkat antara Jinki dan Minho memberikan kita pelajaran bahwa hidup harus diperjuangkan *eaa*
    Bener-bener bagus ^O^
    Aku nggak tau mau ngomong apa lagi, pokoknya daebak! 😀

  17. Aku hampir nangis. HAMPIR…….!!!!!!!! Benar-benar mengharukan. Aku benar-benar tersentuh *lap ingus*

    Paling tragis pas bagian Onew mati. Sungguh-sungguh menyayat hati pas scene itu T^T
    OH, bodohnya aku baru tahu ff yang menakjubkan ini. Minjin eonie emang ahli buat yang gini-gini! 😀

    Aku benar-benar menunggu karya anda selanjutnya. Aku akan tetap menunggu! 🙂
    Oh ya, aku udah jadi fans-mu, eonie! XDD

  18. aq baru baca ini =.=a
    pengen bc the future.. tp disuruh authornya bc ini…

    aq lupa udh bc apa blum #eh? *reader aneh

    jinki cerewet bgt ya…
    trus kibum… gak bisa lepas dr judesnya.. kkkkk

    ah bikin mewek tengah mlm..
    huhuhu
    mantep..
    bc yg sequelnya ah… capcus

  19. huweee T.T *nangis dipelukan jonghyun*
    author in daebakk bangett dr awl mpe akhir aq nangis ga tau mau komen apalg kereenn bangett

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s