MR Poster [Taeni Ver]

Miracle Romance [Chapter XI]

Author : diyawonnie

Title : Miracle Romance [Chapter XI]

Cast : Lee Taemin, Shim Chaesa (imaginary cast) and SHINee.

Genre : Friendship, Fantasy, Romance, and Life.

“TAPI ini jauh lebih mengecewakan!”

      Terdengar teriakan dari dalam dan ini membuat perhatian Minho pada pekarangan rumah Chaesa yang luas teralihkan. Ia melongokkan kepalanya ke dalam dan masih tidak dapat melihat apapun kecuali ruang tamu yang kosong.

      “Chaesa-ssi,” panggilnya.

      Tak ada jawaban dan ia mulai mendengar tangisan. Karena khawatir, tak peduli lagi dengan sopan santun, ia memasuki rumah lebih dalam. Saat sampai di ruang tengah, ia menemukan Chaeri tengah menangis dan memandang Chaesa penuh benci, begitupula dengan Hyeorin. Trofi yang hancur di lantai juga menarik perhatiannya. Di sana terdapat huruf-huruf besar bertuliskan “English Debate”.

    Lantas Chaesa yang berdiri memunggunginya berbicara, “Lalu kau, Kwon Hyeorin, secara terang-terangan menyebutkan menyukai Lee Taemin padaku. Lalu bagaimana bisa aku berterus terang pada kalian?! Itulah mengapa aku dan Taemin memutuskan untuk menyembunyikan perjodohan ini dan berpura-pura akur di hadapan kedua orangtua kami…”

Otak Minho terasa lumpuh saat itu juga. “Perjodohan?” lirihnya hampir tak terdengar.

 Hyeorin dan Chaeri yang melihat Minho sangat terkejut, namun Minho memberikan tanda agar mereka tetap diam.

  “…ayolah, jangan seperti ini! Aku bahkan sudah memiliki Minho―”

Kata-kata Chaesa terputus, ia berbalik ke belakang dan terkejut menemukan Minho sudah berdiri di hadapannya, di mana pria itu hanya menatap lekat Chaesa tanpa ada ekspresi di wajahnya.

 “Mi-Minho?!”

Sepersekian detik waktu terasa berhenti. Bahkan tak terdengar ada tarikan napas dari siapapun.

Tak lama kemudian Minho memejamkan matanya, menghela napas, dan merunduk. Lalu kembali mengangkat kepalanya dan tersenyum menyakitkan. Semuanya sangat jelas tergambar di wajahnya. Mengangguk-angguk perlahan menandakan kalau ia mengerti dengan situasi ini, namun tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya.

Chaeri berlari keluar rumah tanpa mengatakan apapun. Sedangkan Hyeorin berhenti di samping Chaesa dan berkata, “Jangan tunjukkan lagi wajahmu di hadapanku!” setelah itu ia bergegas pergi.

“Chaeri-ya, Hyeorin-ah!” panggil Chaesa dan percuma, kedua sahabatnya itu tidak akan menoleh ataupun berhenti. Ia terduduk lemas di lantai dan mulai menangis. “Ottokhae?”

Minho berjongkok untuk memastikan keadaan Chaesa.

“Minho, maafkan aku!”

Tak ada jawaban, tapi Minho memeluknya. Chaesa menangis lebih keras dan beringsut dalam pelukan Minho. Ia merasa sangat bersalah, terlebih lelaki itu tidak menunjukkan kemarahannya.

“Seharusnya kau jujur dari awal meskipun itu sulit,” ujar Minho.

“Maaf, Minho, maafkan aku!”

Minho memeluk Chaesa semakin erat. Tak tahu kata-kata tepat apa yang harus disampaikan. Sebenarnya ia juga sangat marah dan kecewa, namun melihat gadis yang disukainya menangis seperti ini membuat kemarahannya menguap. Mendapati kenyataan bahwa Chaesa dijodohkan dengan Taemin tentu membuat hatinya hancur.

Bayang-bayang kejadian di masa lalu berkelebat dalam pikirannya. Hari di mana ia bertemu kakak beradik Chaesa-Changmin di depan ruang olahraga dan Taemin yang tiba-tiba muncul, sudah jelas kalau Chaesa menghadiri showcase karena Taemin, bukan karena Changmin yang menginginkannya. Lalu kejadian beberapa waktu lalu saat ia dan Chaesa melakukan kencan pertama, Taemin lagi-lagi muncul dan menyeret Chaesa untuk ikut dengannya.

Minho merasa bodoh sekarang, tidak menyadarinya sejak dulu. Itulah alasan mengapa ia merasa perasaan Chaesa sedikit berubah. Itu semua karena Taemin. Tapi ia masih memiliki kepercayaan diri kalau Chaesa lebih memilih dirinya.

Ia menarik Chaesa untuk bangun dan mengantarnya ke kamar di lantai dua. Ketika Chaesa membuka pintu, jantung Minho seperti ditarik dari tempatnya saat melihat satu sisi dinding kamar Chaesa dipenuhi foto gadis itu bersama Taemin.

Chaesa membeku. Perlahan-lahan ia berbalik.

“Mi-Minho, i-itu… Eomma yang melakukannya…”

Minho mengangguk-anggukkan kepalanya, wajahnya kini sudah sangat memanas. “Tak apa-apa, aku mengerti. Kau istirahat saja, aku pulang. Sampai nanti!”

 Saat pria itu berbalik dan hendak menuruni tangga, Chaesa buru-buru mengejarnya dan memeluk Minho dari belakang.

“Maaf, Minho, maaf…”

“Mau sampai berapa kali kau minta maaf padaku?” tanya Minho, suaranya bergetar hebat.

Chaesa menenggelamkan wajahnya di punggung Minho. “Aku ingin berkata jujur padamu tadi siang, tapi kesempatan itu menghilang. Maafkan aku!”

Minho melepaskan tautan tangan Chaesa dari perutnya dan berbalik. Ia menyeka air mata gadis itu dan merapikan rambutnya. “Sudah kubilang aku mengerti. Jangan merasa bersalah lagi!”

“Tapi, Minho…”

“Aku tak apa-apa. Sekarang istirahatlah, kau membutuhkan banyak energi untuk menghadapi hari esok dan teman-temanmu. Jika mereka menyakitimu, kau boleh datang padaku juga mengandalkanku,” Minho tersenyum lembut lantas berbalik. “Aku pulang. Sampai nanti!”

“Terima kasih,” gumam Chaesa dan Minho hanya membalasnya dengan lambaian tangan tanpa menoleh ke belakang.

Saat menuruni tangga, rasanya beberapa bagian dari dirinya ikut menghilang menjadi keping-keping yang tak berarti lagi. Penyesalan memang selalu datang di akhir. Andai saja ia menyambut perasaan Chaesa sejak dulu, jadinya takkan seperti ini. Setidaknya Chaesa akan memperkenalkannya pada orangtua gadis itu sebelum ide menjodohkan anak mereka muncul. Tapi penyesalan tetaplah penyesalan. Waktu mustahil untuk kembali diputar ke awal.

Ia mengangkat kepalanya dan menatap langit malam. Gelap, seperti hatinya saat ini, tak ada bulan ataupun bintang yang menerangi langit. Ia berhenti dan masuk ke dalam box telepon. Setelah menutup pintu, ia berjongkok di sana dan saat menundukkan kepalanya, saat itu pula cairan bening meluncur ke lantai. Tak ada suara, ia menangis dalam keheningan. Kemudian kepalan tangannya ia pukulkan ke lantai hingga menyebabkan bunyi keras.

SUARA lonceng berdentang ketika pintu terbuka. Key menoleh untuk menyambut pelanggan, namun ia hanya menemukan Chaeri tengah berdiri di sana tanpa ekspresi. Ia segera menghampiri gadis itu.

“Chaeri-ya, kenapa malam-malam begini kau ke sini?”

Bukannya menjawab, Chaeri malah terisak dan lama-lama menangis tersedu. Key terkejut, ia segera menggiring Chaeri ke sebuah meja terdekat. Cukup lama membuat gadis itu berhenti menangis, Key berdiri hendak membuatkan minuman, tapi Chaeri menahannya.

“Jangan pergi, aku membutuhkanmu,” kata Chaeri parau.

Key mengurungkan niatnya dan kembali duduk. Chaeri menyandarkan kepalanya ke lengan Key, di mana lelaki itu cukup terkejut. Ini pertama kalinya Chaeri tidak bersikap ketus padanya.

“Jadi kau sudah tahu semuanya?” tanya Key hati-hati.

Chaeri mengangguk. “Kenapa kau menyembunyikannya?”

“Aku tidak cerita karena itu bukan hakku untuk menyampaikannya. Lalu bagaimana dengan Chaesa?”

“Kenapa bertanya? Tentu saja dia masih bahagia bersama Choi Minho! Selama ini aku seperti orang bodoh, ribut membicarakan Taemin di hadapannya. Dia pasti menertawakan tingkah idiotku itu!”

“Chaesa bukan orang seperti itu!” koreksi Key. “Oke, aku tidak membela siapapun. Kalian adalah orang yang kusayangi, jadi aku netral. Hanya, hal yang perlu diluruskan adalah Chaesa tidak pernah setuju dengan perjodohannya, ia bahkan pernah meminta bantuanku untuk menggagalkan rencana perjodohan itu.”

“Yang kubutuhkan adalah kejujuran, terbuka pada kami.”

“Jika Chaesa mengatakan sejak awal kalau ia dijodohkan dengan Taemin, kurasa reaksimu tetap sama. Aku tahu watakmu, Chaeri-ya. Kau pasti tetap marah, merasa dikhianati meskipun itu bukan keinginan Chaesa. Sekarang dengarkan aku…,” Key merengkuh wajah Chaeri dengan kedua tangannya. “…yang perlu kau lakukan adalah menerima ini semua. Seumur hidup pun kau memusuhi Chaesa, itu takkan mengubah apapun. Noonaku dan suaminya sangat keras kepala, jadi tidak mungkin membatalkan perjodohan tersebut. Kau hanya perlu menjalani hidupmu seperti sebelum Taemin datang ke hadapanmu. Aku tahu ini sulit, aku juga pernah melakukannya, sulit sekali melepasmu. Tapi cobalah!”

Chaeri tersenyum.

“Tak percuma datang kemari. Akan kucoba… kurasa aku bisa melewati semuanya dengan baik, selama kau ada di sisiku. Terima kasih.”

Key tersenyum puas mendengarnya.

KEESOKAN harinya, Taeni mengerang tipis saat ujung matanya menangkap cahaya. Ia berguling di kasur dan mulai meregangkan tubuhnya. Saat membuka mata, ia menemukan dua buah mata tengah menatapnya lekat. Orang itu menopangkan kepalanya dengan sebelah tangan dan tersenyum lembut menyambutnya.

“Pagi~ Ini pertama kalinya aku tidur bersama wanita, kau tahu?” goda Jinki.

Taeni spontan mundur menjauh hingga terjungkal dari kasur. Kedua tangannya menyilang di dada. “A-apa yang kau lakukan padaku?”

“Tidak banyak. Mmm…,” Jinki pura-pura berpikir, “…hanya sedikit yang kuintip.”

HYUNG!!!” Taeni melemparnya dengan sandal.

“Bercanda! Ayo cepat mandi, kita sekolah.”

“Kita? Kau butuh istirahat―”

“Istirahat hanya untuk orang lemah. Aku harus belajar, ujian masuk universitas di depan mata!”

Taeni mendengus. “Orang lemah itu yang membolos dan malah tidur di bawah pohon pekarangan sekolah.”

YAAAH!!!” Kini giliran Jinki yang melempar sandal.

Taeni berjalan ke meja kecil di sudut ruangan. “Coffee?”

Black!” Jinki berguling dan berakhir tengkurap di sisi kasur. “Like my soul…,” bisiknya dengan mata tak lepas dari bokong Taeni yang sibuk menuangkan air panas ke dalam cangkir. Lalu tatapan nakal itu buru-buru ia alihkan ketika Taeni berbalik dan menyodorkan cangkir tepat di hadapan wajahnya. “Thanks!”

Taeni berjalan menuju kamar mandi, dan setelah sekitar sepuluh menit, ia keluar dalam keadaan rapi, sudah dengan seragamnya. Jinki yang melihat itu tidak dapat menyembunyikan ekspresi kecewanya.

“Apa yang kau lihat?!” tanya Taeni galak.

“Kupikir kau akan keluar mengenakan baju handuk yang sudah kusiapkan. Ah, aku tak beruntung.”

“Jadi baju handuk itu kau yang menaruhnya di sana? Norak sekali! Jangan pikir kau akan melihat tubuh ini, aku saja tidak pernah melihatnya lagi setelah hari pertama berubah.”

Wae?”

“Jiwaku laki-laki. Apa yang terjadi jika laki-laki melihat tubuh wanita?” tanya Taemin diplomatis.

Jinki tersenyum geli. “Baiklah, kalau begitu aku tidak terlalu iri padamu. Kaja!” ajaknya sambil merangkul Taeni dan bersama-sama keluar rumah.

Setelah selesai mengenakan sepatu, Taeni menyambar kunci motor dari atas meja dan mulai memanaskan mesin motor.

“Kau sedang apa?” tanya Jinki sinis. “Hari ini kita naik mobil. Aku masih kurang sehat kalau harus mengendarai motor.”

“Aku yang akan―”

“Harga diriku bisa hancur kalau warga sekolah melihatku diboncengi perempuan!” ujar Jinki galak, lantas menarik leher Taeni dan memaksanya masuk ke dalam mobil.

“Ah, Hyung, sakit!” ringis Taeni. “Begini caramu memperlakukan wanita?! Kau ini kenapa, masih cemburu padaku? Sudah kubilang… Hemmmp…”

Jinki menjejalkan roti selai ke dalam mulut Taeni.

“Aku tak mengizinkanmu bicara hingga sekolah. Ini perintah presiden siswa. Mengerti?!”

Taeni mendengus sebal dan memalingkan wajahnya, memunggungi Jinki sambil melihat keluar jendela dengan mulut susah payah mengunyah gulungan roti.

 JALAN tersaruk-saruk seperti orang mabuk membuat Chaesa berkali-kali oleng dan hampir melangkah melewati batas jalan. Kepalanya yang pening dan suhu tubuh yang agak tinggi membuat apapun yang dilihatnya terasa berputar. Memaksakan diri berangkat sekolah rupanya bukan ide yang baik, namun ia seperti zombi jika menetap di rumah, tak berhenti memikirkan nasib pertemanannya bersama Chaeri dan Hyeorin.

Saat melewati lapangan basket, suasana tampak sunyi. Tak ada suara ‘duk duk’ bola, tak ada suara derak ring, juga tak terlihat Minho membanjiri seragamnya dengan keringat di pagi hari. Semuanya tampak asing.

Ia kembali berjalan, melewati kelas Chaeri. Entah keberanian dari mana, ia melongokkan kepalanya ke kelas tersebut. Tak ada Chaeri… juga Taemin. Chaesa kembali berjalan dan lagi-lagi berhenti, namun kali ini di depan kelas Hyeorin. Gadis itu tak ada di tempat duduknya, tasnya tak nampak, sepertinya belum datang.

Terdengar suara-suara celotehan ketika ia akan masuk kelas, mereka tampak sibuk berlarian ke gerbang. Chaesa memandangi mereka dengan tatapan tak tertarik.

Beberapa anak perempuan berlarian keluar kelas setelah membaca pesan dari ponselnya.

“Jinki-sunbae dan Lee Taeni berkencan? Setelah Minho, Jinki-sunbae pun? Aku tak rela!” rutuk gadis berambut keriting dan tak sengaja menabrak Chaesa. “Oh, maaf…”

Chaesa mengangguk.

“Jinki-oppa dan Taeni? Mana mungkin!” seru Chaesa dan ikut berlari ke arah gerbang.

Dan benar saja, sebuah mobil hitam meluncur di halaman sekolah, presiden siswa Goojung High School bersama dengan seorang gadis bertubuh mungil keluar dari dalamnya. Jinki berdiri tegap menunggu Taeni berjalan memutari belakang mobil dan menghampirinya, lantas ia merangkul gadis tersebut.

“Lepaskan!” desis Taeni risih.

Jinki pura-pura tak mendengar, tangannya masih terjulur di sepanjang bahu Taeni. Saat mereka melangkah, kerumunan siswa menyingkir memberi jalan. Ini memang kejadian besar, Lee Taeni adalah gadis pertama yang go public berdiri di samping Jinki.

Tak jauh dari mereka, berdiri Kwon Hyeorin menatap mereka dengan pandangan tak rela. Entah kenapa, hatinya seperti terbakar. Merasa ada yang salah dengan dirinya, ia sedikit mundur. Namun tepat saat itu juga seseorang menarik tangannya.

“Chaesa-ya?!”

“Hyeorin-ah, ayo pergi. Jangan lihat mereka!”

“Bukan urusanmu!” ujar Hyeorin seraya menarik tangannya dari cengkeraman Chaesa dan kembali melihat dua orang yang tengah menjadi pusat perhatian tersebut.

Taeni mendapati Hyeorin tengah menatapnya.

Hyung, sekarang aku tahu kenapa kau melakukan ini.”

“Hm? Apa?” tanya Jinki tak mengerti. Bukannya menjawab, Taeni justru semakin merapatkan tubuhnya dalam dekapan Jinki, ia bahkan memeluk pinggangnya. “Yayaya!!! Apa yang kau lakukan?” desis Jinki panik.

“Membantumu. Diam saja, jangan protes!” seru Taeni dan mulai merengek manja, “Oppaaa~”

 DENGAN wajah ceria Taeni memasuki kelas dan meluncur di mejanya. Akhir-akhir ini ia berusaha menikmati perannya sebagai perempuan, mengingat sudah meminum penawar dari Key dan akan berubah, ia merasa ini adalah saat-saat terakhir bisa satu kelas dengan Chaesa.

Gadis itu sejak tadi hanya diam memangku wajahnya dengan sebelah tangan. Tatapan matanya yang kosong tak berhenti memandangi lantai dan berkali-kali menarik napas dalam.

“Chaesa-ya, kau kenapa?”

Lagi-lagi Chaesa menarik napas dalam. “Apa kau lihat Minho?”

Taeni mendelik sebal dan mengalihkan tatapannya. “Tidak!”

“Oh.”

Ya!! Kau ini kenapa? Sejak masuk sampai sekarang wajahmu tetap sama. Mengerikan seperti mayat hidup,” canda Taeni, namun tak ada tanggapan apapun dari gadis berambut ikal di sampingnya. Mau tak mau Taeni menghentikan aktivitasnya memasukkan buku-buku ke dalam tas dan menyeret kursinya merapat ke meja Chaesa. “Tak apa-apa kalau tak ingin cerita padaku, setidaknya aku masih berguna untuk meminjamkan bahuku.”

Chaesa menoleh, ia tersenyum dan lambat laun malah menangis tersedu. Saat ia mencondongkan tubuhnya, Taeni segera menangkap dan mendekapnya. Tangis Chaesa semakin keras, sedangkan jantung Taeni berpacu berkali lipat, tanpa sadar wajahnya memerah.

“Chaeri, Hyeorin, dan Minho sudah mengetahui semuanya…”

“Me-mengetahui apa?”

“Aku dan Taemin dijodohkan. Mereka tahu…,” isak Chaesa tanpa memindahkan wajahnya dari dada Taeni. “…sekarang mereka menjauhiku.”

“Ba-bagaimana bisa?”

“Mereka membenciku! Aku harus bagaimana?!”

“Ssshh!” Taeni berusaha menenangkan Chaesa dengan tak berhenti membelai punggungnya.

Beruntungnya, saat ini kelas sudah kosong, sekolah berakhir setengah jam yang lalu. Chaesa yang masih menyandarkan pelipisnya ke dada Taeni buru-buru mengangkat kepalanya. Ia menyeka air mata dari pipi. Hidungnya sudah sangat memerah.

“Taeni-ya, perasaanku saja atau memang benar kalau dadamu perlahan-lahan mengempis?”

Mwo?!” pekik Taeni dengan kedua tangan sudah menyilang di depan dadanya. “I-itu perasaanmu saja. Dadaku masih normal.”

Chaesa berjengit sebal saat Taeni membusungkan dadanya berlebihan. Tetapi kali ini perhatiannya teralihkan pada hal lain.

“Taeni-ya…,” gumam Chaesa dengan tangan sudah menyentuh pelipis Taeni. “…aku tahu kau sepupu Taemin, tapi sebelumnya mata kalian tak semirip ini.”

Mulut Taeni terbuka dengan mata membulat. Ia segera bangkit dan memasukkan barang-barangnya secara asal ke dalam tas. Ia buru-buru pergi meninggalkan Chaesa. “Aku harus pergi. Sampai jumpa lain waktu!”

“Besok! Sampai jumpa besok,” ralat Chaesa.

“Yeah.”

LONCENG kecil berdenting ketika Taeni membuka pintu café Miracle Romance. Key yang sedang duduk santai tak jauh dari sana menatapnya heran. Ia merapikan beberapa perkamen usang dan menggulungnya asal ketika Taeni semakin mendekati mejanya.

“Ada apa?” tanya Key dingin.

“Dadaku… entahlah mungkin sekarang ukurannya menyusut jadi 32,” ucap Taeni terang-terangan. “Mataku kembali, lihatlah! Apa ini pertanda aku akan pulih?”

Key mengambil cangkir dari meja dan menyesap teh hangatnya.

“Itu artinya perlahan-lahan rohmu akan keluar dari tubuh gadis ini. Baguslah, tapi ini termasuk lamban…”

“Yeah, karena banana milk.”

“Hm. Tapi perubahanmu juga termasuk lamban. Seharusnya seluruh rohmu keluar dalam satu waktu, tidak satu per satu seperti ini. Repot sekali jika begini. Bagaimana besok kau bisa sekolah? Bisa jadi sebelah tubuhmu pria dan satunya wanita.”

“Bolos! Kenapa harus bingung memikirkan hal remeh seperti itu?”

Key tersenyum kecut. “Kupikir kau akan berpikir lamban juga. Well, rajin-rajinlah minum Americano, siapa tahu itu membantu. Karena mantra itu tidak boleh digunakan lebih dari bulan purnama. Ngomong-ngomong, sudah berapa lama kau menjadi Lee Taeni?”

“Hampir dua bulan. Tunggu, bukankah malam ini ada bulan purnama?”

“Be-benar.” Key menatap Taeni tajam, tiba-tiba saja jantungnya berdetak kencang. Ia menautkan jari-jarinya yang mulai berkeringat.

Wae?”

“Tak apa-ap―”

WAE?” desak Taeni marah.

“Kau… kau bisa mati…,” lirih Key namun masih terdengar jelas.

Taeni bangkit dari kursinya. “MWO?! BAGAIMANA BISA?! JANGAN BERCANDA!” teriaknya lepas kendali. Key menatapnya serius. “SIAL KAU TAK BERCANDA!” Lantas ia berlari ke bar, menarik kerah jubah salah satu karyawan dan kembali berteriak, “BERIKAN AKU LIMA PULUH GELAS AMERICANO!”

Tak lama kemudian semua pesanannya tersaji di meja bar. Tak ingin menyia-nyiakan waktu, ia menenggak Americano tersebut satu per satu. Key yang duduk di meja mulai menggigiti kuku-kuku tangannya dengan pikiran berkecamuk.

“Kenapa aku bisa lalai?” gumamnya merasa bersalah. Perhatiannya teralihkan saat mendengar suara gelas plastik berjatuhan. Di belakangnya, Taeni dengan beringas menenggak satu per satu gelas Americano. Ia buru-buru menghampiri anak itu. “Taemin-ah, hentikan! Ini bisa membuatmu sakit.”

Taeni tak mengindahkan peringatan Key. Kini ia sudah menenggak gelas ketiga puluh. Ketika selesai, tangannya kembali hendak menyambar gelas lain, namun Key menarik tangannya.

“Apa kau gila?! Kau bisa sakit!”

“KAU YANG MEMBUATKU SEPERTI INI?!”

Key menarik Taeni ke dalam dekapannya. “Maaf, Taemin-ah, maafkan aku! Ini semua kebodohanku.”

Mendengar Key mengatakan hal itu, tiba-tiba saja Taeni menangis keras. Ia kesal pada Key, dirinya, juga kondisinya saat ini. Bagi Taemin, ini adalah pertama kalinya ia menangis memalukan seperti bayi. Namun ada kalanya hal-hal seperti ini memang sulit dihindari, bukan?

“Pulanglah! Aku akan memikirkan cara agar kau bisa kembali sebelum bulan purnama muncul.”

Taeni menghapus air matanya dengan punggung tangan dan tanpa banyak bicara meninggalkan café.

Di jalan, ia hanya memandang lurus ke depan. Tatapannya kosong meskipun otaknya tengah bergolak. Ia berlari menuju halte dan buru-buru menaiki bus. Hanya membutuhkan beberapa menit untuk bisa sampai ke Seoul Hospital.

Saat sampai di dalam, ia menghampiri meja resepsionis dan menanyakan ruangan.

“Di mana ruangan Lee Taemin?”

“Maaf, kami tak bisa membantu. Pihak keluarga melarang―”

“―aku Lee Taeni, adiknya!!!”

“Lantai tiga, ruangan isolasi.”

“Terima kasih.”

Taeni berlari menuju elevator. Setelah sampai, ia buru-buru memasuki sebuah ruangan khusus di mana di dalamnya terdapat banyak pintu ruangan. Seorang wanita cantik keluar dari ruangan, itu ibunya. Taeni hanya berdiri mematung ketika ibunya berjalan mendekatinya. Terdapat lingkaran hitam di bawah matanya, ia tersenyum ketika dilihatnya Taeni tak mengalihkan tatapannya.

Eomma,” lirih Taeni bergetar saat wanita itu berjalan melewatinya.

Ia kembali berjalan mendekati ruangan. Di dalam tidak kosong, ada seseorang yang duduk menunggui tubuhnya. Taeni menggeser pintu dan memasuki ruangan.

Ketika memasuki lebih dalam, ia dapat melihat jelas tubuhnya terbaring lemah di atas kasur dengan beberapa alat bantu pernapasan.

“Taemin-ah!” panggil Jinki terkejut. “Apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku ingin melihat tubuhku,” Taeni menghampiri tubuh Taemin dan merapikan letak poni yang menutupi matanya. “Ketika bangun nanti sepertinya aku harus memotong rambut. Well, memang benar apa katamu, Hyung. Aku sangat tampan.”

Tak ada perlawanan dari Jinki. Ia hanya terkekeh geli.

“Sudah hampir dua bulan. Kapan kau kembali?”

Hati Taeni mencelos, ia bahkan tak sanggup menceritakannya pada Jinki sekalipun. Ia hanya tersenyum sambil mengusap-usap tangannya.

“Secepatnya. Aku berjanji akan kembali secepatnya, Hyung.”

“Kenapa kau menangis?”

“Tak tahu. Entah kenapa aku menjadi sangat pesimis.”

“Jangan begitu! Itu bukan Lee Taemin yang kukenal. Sekarang pergilah, jangan sampai orangtuamu melihat ada orang asing di ruangan ini.”

“Aku ingin sekali memeluk eomma.”

“Kau bisa melakukannya jika sudah bangun, Taemin-ah. Pulanglah!”

Taeni mengangguk. Ia berjalan menuju pintu, namun langkahnya terhenti. “Hyung, tolong sampaikan pada Chaesa kalau aku menyukainya.”

Jinki menatapnya penuh selidik, entah kenapa perasaannya jadi tak menentu.

“Kau… kau yang akan mengatakannya langsung, bukan aku. Kau akan baik-baik saja, Taemin-ah, kau akan kembali secepatnya.”

Sesuai prediksi, Jinki pintar menemukan jantung di balik kata-kata tak tersirat. Taeni tersenyum kecut dan meninggalkan ruangan.

 CHAESA menghentikan langkah ketika dilihatnya Minho tengah berdiri beberapa meter di hadapannya. Sore ini gerimis agak lebat, itulah mengapa Minho memayungi dirinya. Matanya yang tajam menghujam dalam mata Chaesa. Gadis itu tidak berani menyapa, ia hanya berdiri dengan seragam agak basah. Minho berjalan menghampiri dan memayungi Chaesa, kini jarak mereka sudah lebih dekat.

“Kalau begini, kau bisa sakit,” ujar Minho sambil menepuk-nepuk bahu Chaesa menyingkirkan tetesan-tetesan air. “Kenapa diam? Ayo, kuantar pulang!”

“Minho…”

“Aku takkan menyerah. Perjodohan itu masih bisa dibatalkan, perasaanmu juga masih bisa berubah. Aku takkan menyerah hanya karena Lee Taemin. Aku tak ingin berhenti sampai di sini. Maaf aku sangat keras kepala.”

Tanpa ekspresi, Chaesa hanya merunduk.

“Aku akan berusaha membuatmu kembali menyukaiku dan takkan berhenti sebelum kau memintanya. Kumohon!” tambah Minho.

Chaesa hanya diam. Pikirannya sudah cukup berat menghadapi permasalahan ini. Ia membiarkan Minho menggiringnya mengantar pulang.

 PUKUL tujuh malam, Taeni termenung di bingkai jendela memandangi langit malam. Ia hanya mengenakan gaun tidur tanpa lengan, berbahan licin dengan warna gading dan panjangnya sebatas selutut. Kakinya menjuntai ke bawah, sebelah tangannya berpegangan pada kayu jendela. Siapapun yang melihatnya, dipastikan akan berteriak memintanya untuk tidak melakukan aksi bunuh diri.

Jantungnya berdegup kencang, menunggu datangnya sang bulan purnama. Key bilang dia akan mati sebelum benar-benar pulih, karena hingga saat ini pun roh yang keluar dari tubuh Taeni baru bagian dada, mata, bibir, dan rahang. Dadanya sudah bukan perempuan lagi, tapi kelaminnya tidak menunjukkan itu. Entah bagaimana harus mendeskripsikan gendernya saat ini. Taemin bahkan tidak seperti manusia lagi.

“Ayolah!” gumamnya. Ia hendak menarik rambutnya frustrasi, namun kembali dikejutkan bahwa rambutnya sudah pendek. Ia bercermin pada jendela di sampingnya. “Yeah, rambutku muncul.”

Taeni menenggak kembali segelas Americano dan itu membuat perutnya sedikit tidak nyaman. Untuk saat ini saja ia sudah menghabiskan tujuh gelas, belum termasuk aksinya tadi sore di café.

Sudah hampir tiga puluh menit, semuanya kembali, kecuali yang satu itu. Dia masih perempuan dengan jenis kelamin itu. Belum sepenuhnya menjadi seorang pria meskipun kini suaranya perlahan-lahan kembali.

Sesuatu yang terang di langit muncul. Taemin menggelengkan kepalanya tak percaya.

“Tidak! Kumohon…,” ia menjulurkan tangannya dan menyadari kalau tangan itu memudar. “Ke-kenapa?”

Ia hendak meraih bingkai jendela namun tak bisa, seakan-akan kini dirinya menjadi tembus pandang. Ingatannya melayang pada pernyataan Key tadi siang.

“Saat bulan purnama tiba, perlahan-lahan kau akan menghilang. Rohmu secara teknis terpisah dari tubuhmu. Saat itulah alat di rumah sakit berdengung menandakan kalau kau… mati!”

Andwae!!!” teriak Taemin. “Berikan aku kesempatan. Hanya tinggal satu organ tubuh. Kumohon!”

Sesuatu terjadi, ia merasa ada yang mendorong paksa rohnya untuk terjun dari balkon apartemen. Seperti sehelai kertas, dengan ringan ia meluncur ke bawah. Tekanan udara yang menerpa menyakiti wajahnya. Teriak sekuat tenaga pun tak ada yang akan mendengarnya. Semuanya gelap dan anehnya sudah hampir beberapa menit Taemin meluncur, ia tidak menemukan dasar. Sekelilingnya seperti pusaran, berputar dengan cepat membentuk gelombang waktu. Beberapa potongan gambar dari masa lalunya berkelebat cepat.

Hyung, tolong sampaikan pada Chaesa kalau aku menyukainya.”

Hyung, tolong sampaikan pada Chaesa kalau aku menyukainya.”

Hyung, tolong sampaikan pada Chaesa kalau aku menyukainya.”

Hyung, tolong sampaikan pada Chaesa kalau aku menyukainya.”

Suara-suaranya bergaung membuat telinganya sakit, Taemin berusaha menutup kedua telinganya. Ia merasa mual, perutnya seperti dihantam sesuatu yang keras. Taemin masih meluncur dengan kepala di bawah, tekanan udara yang semakin kuat membuat wajahnya semakin sakit. Hingga akhirnya ia melihat sesuatu di hadapannya. Terang dan menyilaukan, menyakitkan matanya. Bersamaan dengan itu, kepalanya membentur dasar pusaran dengan keras dan rasanya seperti ada ribuan anak panah menghunus tubuhnya…

“AAAAAAAAAHHHHHHH!!!”

Napasnya memburu tak beraturan, peluh di sana-sini bercucuran, baik punggung dan rambutnya basah. Ia menatap berkeliling dan menyadari sesuatu. Matanya terbelalak, begitupula dengan jantungnya yang seperti akan melompat.

“Taemin-ah…”

Taemin menoleh, ekspresinya masih bingung.

Eomma?!”

..to be continued..

 

 

+ Yep, cukup TBC di situ. Hohoho~ Dan khusus kali ini, nggak ada preview next chapter. Silakan tebak-tebak apa yang terjadi sama Taemin! Sengaja biar temen-temen semua penasaran merasuk sukma dan jiwa *evil*

+ Alasan nggak ada preview, karena next chapter adalah chapter terakhir dari serangkain fanfic Miracle Romance ini. Chapter XII adalah chapter terpanjang sepanjang sejarah MR, jadi tolong luangkan waktu untuk baca next chapter. Haha.

Karena menuju chapter akhir, saya sengaja mau bawel-bawel ria di sini. Muehehe~ Maaf kadang ngepost-nya telat. Maklum keterlupaan kalo udah dua minggu. Untuk chapter depan, saya naikkin ratingnya ya… Muahaha~ Ah, tapi masih aman kayaknya dikonsumsi kalian. “Teen” masih cukup…

+ Well, hal apa yang terjadi dengan Taemin? Gimana nasib jomblowan Jinki? Seperti apa kelanjutan hubungan pertemanan Chaesa-Chaeri-Hyeorin, dan gimana hubungan Chaesa-Minho? Keep guessing, Friends ^o^/ Pyunggg~

©2011 SF3SI, Diya.

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

138 thoughts on “Miracle Romance [Chapter XI]

  1. kyaaaaa….
    taemin sudah kembalikah…aduhh taemin kembaliii…*jingkrak2
    taemin is back….😀

    semoga semuanya happy ending..
    tp gak yakin sama ending x minho…😦

    lanjuuutttt k berikutnya ya…😀

  2. Hiksss…. Sedih waktu taemin dirumah sakit.. Dia mulai menyerah.. Tapi di part akhrinya jawabannya muncul.. Huaaaa gimana endingnya… Nextnext

  3. Aigooo~~~~ aku seperti orang gila membaca ff ini…… seeeeerrruuu sangadddd…. pengen cepet baca yang final chapter….

  4. WEW!!!
    tadi mau komen apa yah??? oh ya!!! “Oppaaa~” iyuh!!! Lee Taemin! kau menjijikkan!! #dorrr
    Dan.. baiklah, baiklah. tebak-tebak buah manggis. okesip ==b
    lanjutt~~~ XDD

  5. aku rasa kata pertama buat author ini adalah… ‘daebak coi’ ya ampuuuuuuuuuuuuuuuun aku tunggu karya kamu berikutnya. .. aku udah baca serial 2 , yang si won ama yang ini. and dua-duanya buat aku kebayang ama tulisan kamu. menurutku ‘amazing’. terus berkarya ya…. please

  6. kembali.
    taemin kmbali.
    tapi bgmna dg chaesa??
    slma taemin ga ada kan minho yg mnemaninya
    trus apa yg tjadi dg taeni yah?
    coba jinki jadian dg taeni asli..pasti seru

  7. ff nya bikin penasaraaaan.. yah bentar lg end! author keren bgt ya. ceritanya anti mainstream muehehe xD
    keren deh pokoknya.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s