I Can’t Be Yours – Part 6

I can’t be yours[6] : Hidden War

Title : I can’t be yours

Author : Bibib Dubu

Main Cast  : Jung Hyuna (Imaginary), Lee Jin Ki, Kim Kibum

Support Cast : Choi Minho, Kim Junsu, Park Yoochun, Shin In Jung (Imaginary)

Length : Sequel

Genre : Romance, Life, Sad, Friendship

Rating : PG-15

Summary :

Key : “Tidak mudah untuk menenggelamkan sehelai kertas pada sebuah lautan, masa jenisnya terlalu kecil untuk melawan air. Yang mungkin dilakukan adalah membiarkan kertas tersebut mengapung di atas air hingga akhirnya ia terkoyak dan hancul lebur termakan waktu.

Seperti itukah cara yang harus kulakukan? Sulit untuk menenggelamkan nama Hyuna, rasa cintaku bahkan mengalahkan kadar rasa benciku karena pengkhianatannya. Yang harus kulakukan adalah, membuat sosoknya mengambang lama sehingga waktu akan membuatnya lenyap.”

Hyuna : “Kami seperti orang asing, rasanya aku ingin mendadak insomnia agar aku tidak mengingat siapa orang yang tengah duduk di hadapanku dengan wajah dinginnya. Dia namja yang biasanya penuh kehangatan dan senyuman. Rasanya aku mulai merasa kecanduan dengan sapaan hangat Key saat bertemu denganku. Aku juga mulai gila karena kehilangan perkataannya yang sering frontal saat berbicara denganku. Ia adalah makhluk unik yang memiliki dua sisi berlawanan sekaligus, menusuk namun penuh kelembutan. Dan bodohnya, aku terlambat menyadari semua ini…”

Jinki : “Perisai, sebuah benda penting di tengan pecahnya sebuah peperangan. Ia akan melindungimu dari panah dan serangan-serangan lainnya asalkan kau pandai memposisikannya dan menggerakkannya dengan gesit. Aku akan bermain dengan indah, agar orang yang kusayangi terlindungi dengan aman.”

Minho : “Cih, manusiawi kau bilang? Baiklah Hyuna sshi, apakah menurutmu error dapat dimaklumi bagi seorang yeoja yang mengkhianati cinta nampyeonnya demi seorang namja bernama Lee Jinki?”

++++++

Hyuna POV

Aku benci stagnasi, kau hanya berdiri di titik itu seperti orang bodoh, bahkan merangkak pun kesulitan. Kakimu terbelenggu oleh akar pikiranmu yang tidak juga bergerak tumbuh mengikuti arah sumber air, sumber kehidupan. Tidak tahu jalan untuk berputar arah dari kisah lama yang memuakkan.

Kalau boleh jujur, aku paling tidak ingin membenci sesuatu. Karena hal yang dibenci itu seringkali menjadi boomerang berapi yang mengejar kita hingga ketidaktenangan mengacaukan diri kita. Dia baru akan terhenti jika kita telah terserang balik olehnya. Lalu, pertanyaannya, apakah kita masih sanggup bangun setelah terlumat kobarannya?

Nyatanya, kini aku tengah diperdaya oleh boomerang tersebut. Nanti kau akan tahu apa yang kumaksud.

“Hyu, kau tidak belajar untuk ujian besok?” Jinki datang dengan dua gelas susu hangat di tangannya, duduk menghampiriku yang sedang memandang jenuh layar televisi.

Rasanya saat ini aku sedang tidak ingin melakukan apapun, bahkan tampilan layar televisi super besar milik Jinki saja tak mampu menarik mataku. Rasanya label menakutkan yang melekat pada ujian pun terkalahkan oleh kerangkeng kemalasan ini.

Kau tahu apa yang membuatku jenuh? Aku enggan keluar-masuk ruang praktek seorang psikolog lagi. Rasanya semua ini sia-sia, enam bulan melakukannya tidak juga membuatku menganggap bahwa Jinki lebih baik daripada In Jung. Nyatanya di hadapanku selalu ada Jinki yang sabar melayani segala tingkah anehku, ada Jinki yang berusaha menahan nafsu liarku untuk melewati hari bersama In Jung. Selama enam bulan ini aku selalu berkelit dengan berbagai macam alasan, atau sesekali aku menerima ajakannya, tapi dengan kehadiran Jinki di antara kami. In Jung pun tidak tahu bahwa aku tinggal di rumah Jinki. Jinki menyembunyikan semua ini dengan rapih.

Tapi kenapa namanya tidak juga meninggalkan jejak di hatiku? Aku hanya memberinya stampel, ‘orang baik’.

“Jinki-ah, kita sudahi saja ya? Aku rasa terapi-terapi itu hanya omong kosong, aku lelah dengan semua ini. Semakin aku berkonsultasi, semakin aku merasa hatiku mati, dan semua itu berujung dengan mengutuki diri sendiri karena tidak mampu memberikan hasil yang memuaskan.” Aku tidak menjawab pertanyaan Jinki dan malah melemparkan sederet kalimat panjang. Tapi kurasa Jinki sudah mendapatkan jawabannya dari ucapanku barusan.

“Tidak, aku dan Key tidak akan mengizinkan ini terjadi, kau harus melangkahi mayat kami berdua dulu sebelum kau melakukannya.” Jinki membubuhi senyuman di atas ucapannya yang lebih terdengar seperti ancaman di telingaku.

“Jangan sebut nama itu lagi!” seruku galak.

“Wae? Kau merasa bersalah karena telah melukainya? Atau karena kau merasa kau yang terlukai dengan perceraian kalian?”

Perceraian. Aku tidak tahu harus merasa lega atau sedih karena mengalaminya. Kata orang, perceraian adalah gerbang menuju dunia baru, bisa dunia yang menyedihkan, ataupun membahagiakan. Dan aku belum bisa menentukan dunia baru apa yang kumasuki.

“Molla…apa menurutmu pantas jika aku mengklaim bahwa aku pun tersakiti atas perpisahanku dengan Key?” aku menjawab dengan santai. Padahal, sebuah pergelutan hebat tengah menari-nari di alam pikiranku.

Key, dapatkah aku memastikannya sebagai penyebab kebuntuan pikiranku selama beberapa bulan terakhir ini?

Saranghae…Hyu,

Dua kata yang begitu menyayat perasaanku hingga kini. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Key. Aku terima jika dia menceraikanku setelah dia tahu semuanya, bahkan jika cintanya padaku hilang pun itu dapat diterima akal sehatku. Tapi, kalimat terakhirnya itu yang membuatku tidak mengerti.

Kalau memang dia masih mencintaiku, kenapa dia tidak melakukan apa yang Jinki lakukan, berusaha menarikku dari jalan yang salah. Kenapa ucapannya itu bertentangan dengan keputusan yang ia buat?

Dan lagi, seumur hidupku, aku baru merasakan hal yang berbeda saat dia menyentuh bibirku untuk yang terakhir kalinya. Biasanya, hanya terkesan hampa bagiku. Tapi ini berbeda, aku bisa merasakan betapa besarnya ketulusan yang ia sertakan bersama sentuhannya itu, di dalamnya pun terasa sebuah getaran kepedihan, ya, wajahnya bergetar saat melakukannya, seperti seseorang yang tengah mengalami gejolak batin dahsyat. Itulah yang membuatku mempertanyakan, apa betul ia rela melepaskanku? Dan kenapa justru aku yang mendadak tidak rela saat hakim persidangan mengesahkan status baru kita, ‘bercerai’. Tapi raut wajah Key terlihat yakin dengan keputusannya, sehingga aku hanya bisa mengikuti alur hidup yang membingungkan ini.

 “Kau merasa sakit setelah kau berpisah?” Jinki setengah tidak percaya menatapku.

“Aku tidak yakin. Yang aku tahu, aku merasa ada sesuatu yang hilang dalam hariku. Tidak ada lagi orang yang menyapaku mesra, membujukku untuk dibuatkan masakan tertentu, menyerangku dengan ucapannya yang khas, dan…entahlah, aku sulit menjelaskan detailnya.”

Jinki POV

“Molla…apa menurutmu pantas jika aku mengklaim bahwa aku pun tersakiti atas perpisahanku dengan Key?”

Menurutku, keduanya pun tersakiti. Tapi yang membuatku heran, Hyu merasa sakit? Sakit karena apa? Karena melukai Key, atau karena kehilangan Key.

“Kau merasa sakit setelah kau berpisah?” tanyaku sambil menatapnya dengan segenap kebingunganku.

“Aku tidak yakin. Yang aku tahu, aku merasa ada sesuatu yang hilang dalam hariku. Tidak ada lagi orang yang menyapaku mesra, membujukku untuk dibuatkan masakan tertentu, menyerangku dengan ucapannya yang khas, dan…entahlah, aku sulit menjelaskan detailnya.”

“Kalau begitu, aku yang akan menggantikan semua kebiasaan Key jika memang absennya Key membuatmu menjalani hari dengan tidak seenergik biasanya.” Aku melepaskan senyumanku sebisa mungkin agar ia mengetahui bahwa aku memendam setumpuk ketulusan untuknya, aku ingin ia bisa merasakan cinta seorang namja.

Ia hanya membalas senyumku dengan sebuah senyuman yang terkesan dipaksakan. Baiklah, aku tidak akan berhenti menunggu sampai hatinya siap menerima seorang namja. Aku akan menanti dengan sabar, layaknya sebuah kerang penghasil mutiara. Ia harus menanggung perih saat rongga tubuhnya dimasuki pasir dan partikel-partikel lautan lainnya selama bertahun-tahun, namun semuanya tidak sia-sia, sebuah mutiara berharga muncul sebagai imbalan dari Tuhan atas kesabarannya.

“Baiklah Hyu, minum susu hangatnya ya…aku mau belajar untuk ujian terakhir kita besok, hwaiting Hyu!” Aku bangkit dan menepuk-nepuk bahunya pelan.

“Awww…”sesaat kemudian aku meringis karena Hyuna membalas tepukan pelanku dengan sebuah cubitan keras. “Ya! Hyu, kau curang, aku kan hanya mencubit pelan.” Protesku sambil mengelus-elus kulitku yang memerah. Sekali lagi aku merasakan kekuatan yeoja ini, kejam memang tenaganya, bahkan di saat ia sedang tidak bersemangat.

“Aku tetap kuat kan walau kondisiku seperti ini? jadi kau tak perlu menkhawatirkanku, Otte?” Ia tersenyum jahil kearahku.

“Ne, jaljayo…”

Ya…aku lega melihatnya seperti ini. Get well soon, Hyu…

+++++

Author POV

Mahasiswa, di berbagai pelosok Negara berbasis demokrasi, mahasiswa memiliki sebuah power dalam kehidupan bernegara, mereka bisa memprotes kebijakan, menjegal pejabat, merusak infrastuktur dengan keanarkisan mereka, bahkan bisa juga membunuh sesama rekan mereka hanya karena sulutan api kecil. Tapi, ada hal yang menggelikan ternyata, kau tahu apa yang tidak bisa dilakukan oleh kebanyakan mahasiswa?

Menjawab soal ujian dengan baik, itulah sisi kelam dari mahasiswa. Tengok saja wajah-wajah mereka yang baru keluar dari ruang ujian, hanya segelintir orang yang tersenyum sumringah setelah berkutat dengan peperangan musiman tersebut. Miris.

“Ishh…Hyu, aku pasrah rasanya, kalau pun waktunya ditambahkan satu jam pun aku tidak tahu harus menjawab apa lagi.” Junsu, salah satu chingu Hyuna mengeluh saat keduanya baru saja keluar ruangan ujian.

Namun yang diajak bicara memang pikirannya sedang terganggu, bukan karena soal ujian yang baru saja menghantamnya, tapi karena sebuah SMS yang membuatnya terjebak dalam perannya sebagai seorang panitia sebuah acara seminar.

Message from : Yoochun

Hyu, jangan lupa hari ini kita harus datang ke perusahaan untuk mengajukan sponsor. Mian mendadak pemberitahuannya, sepulang ujian nanti kita ke Samsung Corp

 

Pesan singkat dari chingunya sesama panitia divisi sponsorship mampu mengacak-acak konsentrasinya saat ujian. Bagaimana tidak, kini boomerangnya mulai menyerang yeoja tersebut. Tempat itu, sebuah gedung dimana ia berpotensi besar bertemu Key.

Yeoja itu hanya berharap Tuhan masih menyayanginya dengan tidak membuatnya harus melihat Key. Tapi apakah Tuhan masih berpihak padanya setelah semua dosa yang telah ia perbuat? Hyuna sendiri tidak berani menaruh keyakinannya untuk hal ini. Mungkin ini adalah kutukan baginya karena telah menyakiti seseorang yang sangat mencintai yeoja tersebut.

Rasanya ingin lari dari tugas ini, tapi bukankah hal tersebut tidak ada bedanya dengan pengecut. Hyuna, yeoja itu paling tidak mau menjadi pengecut.

“Hyu, ayo berangkat, kita diberi waktu untuk bertemu direkturnya hari ini pukul 14.00. Kau tahu kan biasanya orang penting itu paling tidak bisa mentolelir kesalahan. Kajja.” Yoochun mengalihkan perhatian Hyuna dari Junsu dengan menarik tangan yeoja tersebut.

“Hua…Yoochun-ah, kau jahat, aku kan sedang bicara dengan Hyuna, kau seenaknya menarik Hyuna.” Junsu cemberut kesal dengan tinggal Yoochun.

“Mianhae Junsu-ya, aku terburu-buru. Lain kali aku pinjamkan gratis Hyuna untukmu.” Yoochun menjawab sekenanya sambil memberikan senyuman sok imutnya. #Huaaa…mimisan kalo disenyumin chunnie.

Pletakk

Sebuah jitakan mendarat di dahi namja yang suka bereksperimen dengan rambutnya tersebut. Hyuna melotot tajam pada Yoochun, “Meminjamkan? Kau pikir aku barang!” ujar Hyuna galak.

+++++

Key POV

Tidak mudah untuk menenggelamkan sehelai kertas pada sebuah lautan, masa jenisnya terlalu kecil untuk melawan air. Yang mungkin dilakukan adalah membiarkan kertas tersebut mengapung di atas air hingga akhirnya ia terkoyak dan hancul lebur temakan waktu.

Seperti itukah cara yang harus kulakukan? Sulit untuk menenggelamkan nama Hyuna, rasa cintaku bahkan mengalahkan kadar rasa benciku karena pengkhianatannya. Yang harus kulakukan adalah, membuat sosoknya mengambang lama sehingga waktu akan membuatnya lenyap.

Ya, waktu. Aku akan berharap pada waktu. Biarlah ia membantuku menghapusnya. Yang bisa kulakukan saat ini adalah menghanyutkan pikiranku pada setumpuk pekerjaan, aku merasa lebih baik dengan itu semua, karena sedikit saja aku memiliki waktu untuk membiarkan pikiranku kosong, kenangan manis maupun pahit tentang Hyuna akan mengisi celah tersebut.

“Key, cara yang kau terapkan berlebihan menurutku, lihat saja kau bertambah kurus. Bukankah Tuhan member kita tubuh ini untuk dijaga? Lalu kau? Cih, terkesan mempermainkan angka di timbangan berat badan rasanya.”

“Ne, gomawo telah mengingatkan , aku akan makan setelah ini semua selesai kutandatangani.” Jawabku tanpa memalingkan pandanganku dari setumpuk berkas yang harus kutandatangani.

“Key, melihatmu seperti ini rasanya membuatku ingin membunuh yeoja bernama Hyuna itu. Dia telah membuat kehidupanmu carut-marut.”

“Aku akan membunuhmu lebih dulu sebelum kau melaksanakan niatmu itu.” Kali ini terpaksa aku menatap Minho tajam.

“Jangan hanya salahkan Hyuna atas semua ini, kebodohanku pun menyumbang peran besar. Berhenti mengatur jalan pikiranku tentang Hyuna, Minho!” Gertakku sesaat kemudian.

“Cih, kau bahkan tidak menghiraukan sahabatmu sendiri. Terserah kau, aku hanya ingin membangunkanmu dari hipnotis bodoh yeoja itu.”

“Aku akan melupakannya, jangan kau kira aku tidak berusaha. Beri aku waktu untuk kembali ke kehidupan normalku, jebal…” Aku memohon pada sahabatku. Aku tahu ia bermaksud baik padaku, tapi aku punya cara sendiri untuk mengatasi semua ini, aku tidak suka di dikte, terlebih lagi, Minho hanya tahu setengah dari permasalahan ini.

“Geurae, kalau itu memang maumu apa boleh buat. Oya, jam dua ada mahasiswa yang akan mempresentasikan proposal pengajuan sponsor, aku tidak tahu mereka dari universitas mana, aku hanya menyampaikan pesan dari staff bagian promosi. Kau mau turun langsung untuk menemui mereka?”

“Ne, kurasa itu lebih baik daripada waktuku kosong setelah tugasku yang satu ini usai.” Aku tersenyum padanya, ada perasaan lega karena Minho tidak lagi mendesakku dengan hal yang menyakitkan.

+++++

Jinki POV

Perisai, sebuah benda penting di tengan pecahnya sebuah peperangan. Ia akan melindungimu dari panah dan serangan-serangan lainnya asalkan kau pandai memposisikannya dan menggerakkannya dengan gesit. Aku akan bermain dengan indah, agar orang yang kusayangi terlindungi dengan aman.

“Benarkan dugaanku, kau menyukai Hyuna?” pertanyaan yeoja menjijikkan di hadapanku ini cukup menohokku.

Bagaimana tidak, ia mencegatku di dekat parkiran mobil dan tanpa basa-basi ia langsung menyerangku.

“Cinta atau tidak, itu hakku. Bukankah setiap orang berhak mencintai orang lain? Lagipula aku paham posisiku, bukankah Hyuna adalah milik Key hyung? Aku tidak akan kurang ajar dengan merebutnya menjadi milikku.” Sesantai dan setenang mungkin aku berusaha menjawabnya.

“Oo, syukurlah kau sadar akan posisimu. Aku hanya tidak ingin kau menjadi perusuh dalam kisah percintaan Hyuna.”balas yeoja itu dengan senyumannya yang kuyakin palsu.

Cih, tidak salah, kisah percintaan Hyuna, denganmu—bukan dengan Key hyung. Itu kan maksudmu yang sebenarnya, In Jung-ah?

“Kau tidak perlu khawatir In Jung-ah, aku orang yang cukup punya hati. Aku buru-buru pulang, Annyeonghi kyeseyo …”

Tuhan masih berpihak padaku, saat ini Hyuna tidak bersamaku dan sepertinya ia sudah pulang duluan. Setidaknya ia tidak harus bertemu In Jung sehingga aku tidak perlu memutar otak untuk mencegahnya.

Aku meraih ponselku dari saku celana. Tetap harus kupastikan keberadaan Hyuna saat ini. Yeoja itu tidak mudah diprediksi, pikirannya terlalu liar sehingga butuh kepekaan khusus untuk menerkanya.

“Yeoboseo, Hyu, kau dimana sekarang?” tanyaku langsung sesaat setelah ia mengangkatnya.

“Oo, aku sedang bersama Yoochun, kami akan mendatangi perusahaan sponsor untuk acara seminar kita. Kau duluan saja Jinki-ya.”

“Ok, lakukan yang terbaik demi kesuksesan acara kita, hwaiting! Bye Hyu…”

Aku dapat melangkahkan kakiku dengan ringan setelah meneleponnya. Aku segera memasuki mobilku agar tidak berlama-lama berdiri di tempat ini.

“Jinki-ah.” Seseorang memanggilku sesaat sebelum pintu mobilku tertutup.

“Wegure, Junsu ya?” Tanyaku pada pemilik suara tersebut.

“Aku tidak bawa motor hari ini, aku butuh tumpangan gratis, boleh?”

“Tentu saja, kita searah kan? Kajja, masuklah ke mobilku.”

“Jinki-ya, kau tidak cemburu Hyuna-mu dibawa Yoochun?” Tanya Junsu setelah ia duduk tenang di mobilku.

“Ya! Apa maksudmu? Memangnya ada apa antara aku dan Hyuna sampai-sampai aku cemburu? Lagipula memang sudah tugas mereka berdua mendatangi perusahaan sponsor.” Aku tertawa mendengar pertanyaan makhluk super polos di sebelahku ini. #Junchanku emang super polos

“Hais…aku salah ya? Kukira kalian pacaran, habis kalian terlihat akrab.”

Aku tertegun, sangat akrabkah sampai Junsu pun menilai seperti itu? Andwae! Aku tidak boleh terlihat karab dengan Hyuna kalau tidak mau dicurigai In Jung. Lain kali aku harus mengencangkan sabuk pengamanku.

“Haha…kau terlalu cepat menarik kesimpulan.” Tawa yang sedikit kupaksakan kembali keluar dari mulutku.

“Ne, aku tidak pandai memperhatikan orang. Ya sudah, kita do’akan saja semoga Samsung corp berhasil terbujuk oleh kedua jagoan bicara kelas kita.” Balas Junsu sesaat kemudian.

Mwo? Apa yang dikatakannya barusan? Samsung corp?

“Junsu ya, Mianhae, aku baru ingat kalau aku harus menjemput adikku dulu di sekolahnya. Kau turun di halte depan saja ya?” Aku langsung merubah rencanaku siang ini.

“Yah…kenapa hari ini semua tidak berpihak padaku ya? Ya sudah, aku turun di halte depan saja.”

Junsu terlihat kecewa. Tapi apa boleh buat, Aku harus siaga di Samsung corp. Mungkin akan ada sesuatu yang kurang baik setelah Hyuna keluar dari gedung yang mungkin terasa angker baginya itu. Key, kuharap kau tidak membuatnya terluka.

+++++

Hyuna POV

Benar, Tuhan sedang mengutukku. Saat ini aku baru saja mengucapkan salam setelah Key mempersilakan aku dan Yoochun untuk masuk.

Kami seperti orang asing, rasanya aku ingin mendadak amnesia agar aku tidak mengingat siapa orang yang tengah duduk di hadapanku dengan wajah dinginnya. Dia namja yang biasanya penuh kehangatan dan senyuman. Rasanya aku mulai merasa kecanduan dengan sapaan hangat Key saat bertemu denganku. Aku juga mulai gila karena kehilangan perkataannya yang sering frontal saat berbicara denganku. Ia adalah makhluk unik yang memiliki dua sisi berlawanan sekaligus, menusuk namun penuh kelembutan. Aku terlambat menyadari semua ini…

“Kami dari Seoul university jurusan Statistika. Aku Park Yoochun dan ini Jung Hyuna. Kami sangat berterima kasih karena Anda bersedia meluangkan waktu untuk kami…”

“Mulai saja, waktuku kami tidak banyak.” Potong namja yang ada di sebelah Key dengan sangat ketus.

Aku yakin namja itu pun membenciku karena aku telah menyakiti sahabatnya, ya, dia adalah Choi Minho. Memang tidak salah, sahabat adalah orang yang akan marah ketika kita disakiti orang lain. Ia adalah mutiara berharga dalam hidupmu, perannya multifungsi, ia dapat memposisikan dirinya sebagai orang tua yang menyayangi anaknya, bodyguard yang menjaga keamanan sahabatnya, sekaligus lampu yang membawamu ke jalan yang seharusnya.

Untunglah Yoochun adalah orang yang cukup berpengalaman dalam hal seperti ini. Ia tetap melakukan presentasinya dengan tenang walaupun Minho menyentaknya.

Yoochun melakukan tugasnya dengan baik. Tinggal giliranku menanyakan keputusan apa yang akan diberikan olah kedua petinggi perusahaan ini sembari menjelaskan ulang keuntungan-keuntungan apa yang akan mereka dapatkan jika mereka bersedia mendanai acara kami.

Aku tahu, peluangnya sangat kecil. Aku hanya berharap mereka bersikap professional, sehingga batasan hal yang pribadi dan pekerjaan dapat dibedakan.

“Baiklah, kini aku akan menje…”

“Jamkkanmanyo, sebelum kau membuang energimu lebih lanjut, Aku ingin berterus terang, sejujurnya aku pribadi tidak tertarik dengan statistika. Orang statistika adalah orang yang mendewakan error, seolah memaklumi kesalahan apapun yang terjadi di dunia ini. Aku tidak dapat membenarkan pemikiran seperti itu.” Key memotong disaat aku baru akan menjelaskan.

Yoochun melirikku, aku menghela nafas panjang. Ya, aku paham maksud ucapan Key. Sebelumnya kami pernah berdebat tentang error, dan harusnya aku menyadari, Key adalah orang yang menyukai kepastian. Itulah sebabnya ia memilih menceraikan aku, karena belum tentu aku bisa berubah sedangkan dia pun tidak akan membiarkan dirinya terus tersakiti.

Tapi yang membuatku kecewa, kurasa ia belum pantas menjadi seorang direktur, perbedaan antara masalah pribadi dan bukan masih harus ia pahami.

“Geurae, aku tahu jalan pikiranmu, Sajangnim. Tapi, yang ingin kukatakan, kalau kau ingin sukses memimpin perusahaan ini, kau harus bisa membedakan mana yang merupakan pendapat pribadimu dan mana pendapat yang berorientasi pada kemajuan perusahaan. Bagaimana bisa kau memutuskan untuk tidak mendanai acara bergengsi kami hanya karena kau benci orang statistika, kalau alasan lain yang masuk akal, aku bisa terima.” Aku menatap Key dengan sorot mata tertajam yang dapat kutampakkan.

“Tenangkan dirimu Hyu.” Bisik Yoochun di telingaku.

“Yoochun-ah, Shikkeuro! Aku harus mengatakannya. Kau tahu tidak, presentasimu tadi sangat bagus, sayangnya kedua petinggi di hadapan kita ini berpikiran sempit. Sebaiknya kita mencari perusahaan yang petingginya lebih manusiawi saja sehingga mereka memahami bahwa error selalu ada di dunia ini dan error adalah seseuatu yang diperjuangkan oleh orang statistika sehingga nilainya menjadi seminimum mungkin.”

“Cih, manusiawi kau bilang? Baiklah Hyuna sshi, apakah menurutmu error dapat dimaklumi bagi seorang yeoja yang mengkhianati cinta nampyeonnya demi seorang namja bernama Lee Jinki?”

Ucapan Minho membuatku tertegun. Aku bukan marah karena ia membuka keburukanku. Tapi, interpretasiku akan ucapannya tersebutlah yang membuat mataku memanas.

Sekali tebas aku tersakiti dua kali. Kau tahu maksudku? Pertama, nama Jinki menjadi cacat di matanya. Kedua, Key masih melindungiku hingga detik ini…Ya, dia tidak memberitahu pada Minho perihal penyebab perceraian kami yang sebenarnya. Key bahkan rela membohongi sahabatnya demi aku…

Aku membungkuk dalam di hadapan Key, mengisyaratkan rasa terima kasihku yang amat besar karena ia masih menjaga aibku, karena ia masih melindungi aku, orang yang kuyakin sangat ingin ia lenyapkan saat ini.

“Khamsahamnida, Sajangnim…” ucapku getir.

Key POV

Mataku terbelak saat melihat salah seorang yang baru saja memberi salam padaku. Kenapa aku harus bertemu dengannya di saat aku sedang berjuang melupakannya? Aku betul-betul sedang diuji oleh Sang Pencipta takdir.

Sungguh, aku tidak ingin melihatnya. Ingin rasanya aku mengingakari sebuah cinta yang masih kukuh mempertahankan keberadaannya di ruang hatiku. Ya, aku harus berjuang untuk tidak terpaut padanya.

“Kami dari Seoul university jurusan Statistika. Aku Park Yoochun dan ini Jung Hyuna. Kami sangat berterima kasih karena Anda bersedia meluangkan waktu untuk kami…”

“Mulai saja, waktuku kami tidak banyak.” Minho memotong ucapan namja bernama Yoochun ini.

Aku sama sekali tidak menggerakkan bola mataku ke arah keduanya, aku tidak sanggup melihat Hyuna. Semakin aku melihatnya, semakin aku ingin menariknya kembali ke dalam hariku. Tapi ini tidak boleh kulakukan, Hyu lebih baik bersama Jinki, ini demi kesebuhan Hyuna.

“Baiklah, kini aku akan menje…”

“Jamkkanmanyo, sebelum kau membuang energimu lebih lanjut, Aku ingin berterus terang, sejujurnya aku pribadi tidak tertarik dengan statistika. Orang statistika adalah orang yang mendewakan error, seolah memaklumi kesalahan apapun yang terjadi di dunia ini. Aku tidak dapat membenarkan pemikiran seperti itu.” Aku memotong sebelum Hyuna menjelaskan lebih lanjut.

Yang sebenarnya adalah, aku ingin cepat ini semua usai, aku sangat tersiksa kalau berhadapan dengannya lebih lama lagi.

Dapat kutangkap ia menghela nafas panjang. Mianhae, Hyu…aku membuatmu sakit lagi…

Aku melirik sesaat padanya. Kulihat ia memejamkan matanya sejenak. Aku tahu ia sedang berpikir saat ini.

“Geurae, aku tahu jalan pikiranmu, Sajangnim. Tapi, yang ingin kukatakan, kalau kau ingin sukses memimpin perusahaan ini, kau harus bisa membedakan mana yang merupakan pendapat pribadimu dan mana pendapat yang berorientasi pada kemajuan perusahaan. Bagaimana bisa kau memutuskan untuk tidak mendanai acara bergengsi kami hanya karena kau benci orang statistika, kalau alasan lain yang masuk akal, aku bisa terima.” Ia menjelaskan panjang lebar sambil melemparkan tatapan mautnya padaku, aku yakin ia sedang marah padaku saat ini.

Bagus, benci aku Hyu! Dengan kau membenciku, aku akan mudah membencimu juga, dengan demikian kenangan kita dapat disudahi.

Di sisi lain, aku terpojok dengan ucapannya. Ya, aku kekanakan Hyu. Appaku salah besar karena menyuruhku meneruskan perusahaan ini. Aku bahkan tidak bisa memisahkan masalah pribadi dengan masalah perusahaan.

“Tenangkan dirimu Hyu.” Aku dapat menangkap bisikan yang dilontarkan temannya pada Hyuna.

“Yoochun-ah, Shikkeuro! Aku harus mengatakannya. Kau tahu tidak, presentasimu tadi sangat bagus, sayangnya kedua petinggi di hadapan kita ini berpikiran sempit. Sebaiknya kita mencari perusahaan yang petingginya lebih manusiawi saja sehingga mereka memahami bahwa error selalu ada di dunia ini dan error adalah seseuatu yang diperjuangkan oleh orang statistika sehingga nilainya menjadi seminimum mungkin.”

Aku paham Hyu, aku tahu di dunia ini selalu ada error, dan itulah yang terjadi pada kisah kita, erro yang sangat besar yang tidak bisa kita minimalkan. Itulah sebabnya aku lebih berpihak pada kepastian, wujud nyatanya adalah dengan melepaskanmu.

“Cih, manusiawi kau bilang? Baiklah Hyuna sshi, apakah menurutmu error dapat dimaklumi bagi seorang yeoja yang mengkhianati cinta nampyeonnya demi seorang namja bernama Lee Jinki?”

 Minho ya…hentikan ucapanmu…kau tidak mengetahui ini secara utuh, jangan buat suasananya menjadi tambah runyam…dan kini aku merasa bersalah pada dua orang, pada Jinki karena telah membiarkan namanya tercemar, dan pada Minho karena aku tidak menjelaskan secara utuh padanya. Ya, aku tidak bisa mengatakan bahwa Hyuna adalah seorang homoseksual. Itu bukan hal yang pantas kuceritakan pada siapa pun, aku akan menjaga identitas Hyuna sekuat tenaga.

“Khamsahamnida, Sajangnim…” ucap Hyuna dengan lirih sesaat setelah agak lama ia membungkuk dalam di hadapanku.

Apa maksud ini semua Hyu? Kau sedang menyindir sikap kekanakanku?

Aku tidak tahan lagi, kuputuskan untuk bangkit dan berlalu meninggalkan Hyuna yang masih membungkuk.

“Hiks…”

Kau menangis Hyu? Uljima…aku yang menyebabkan kau menangis? Mianhae…

Aku terus berlalu meskipun sebenarnya aku ingin memeluknya, memberinya ketenangan agar air mata langkanya itu tidak lagi berurai dan tetangkap oleh lensa mataku.

+++++

Jinki POV

Sudah kuduga akan terjadi hal buruk di dalam. Aku dapat menangkap aura gelap dari sosoknya yang baru saja keluar dari gedung megah itu. Aku mempercepat langkahku mendekatinya. Kulihat Yoochun pun terlihat kusut wajahnya. Aku yakin usaha mereka untuk mendapatkan sponsor bukan hanya gagal, tetapi terjadi hal yang menyakitkan juga.

Kuperhatikan mata Hyuna memerah. Hyu, kau habis menangis? Ya, kau menangis. Aku tidak akan menanyakannya lagi karena aku tidak ingin membuatmu melakukannya lagi. Begitulah yeoja. Ketika seorang yeoja menangis di hadapanmu, biarkanlah ia menangis sampai lega, baru kau menanyakan penyebab tangisnya. Jika kau hanya tahu ia habis menangis, jangan Tanya apakah ia baru saja menangis, karena itu sama saja membuatnya mengingat kembali penyebab tangisnya padahal ia sudah mati-matian merahasiakan tangisnya.

“Hah…baiklah, aku akan menjaga rahasia apa yang ada di antara kalian bertiga. Tapi aku sangat terkejut, tidak menyangka kalau seorang Lee Jinki yang terkenal berhati baik, ternyata menyebabkan rumah tangga orang pecah.”

Aku memejamkan mataku saat mendengar pernyataan Yoochun.

Ya, aku akan menanggung ini semua karena aku telah memutuskan untuk masuk dalam kehidupan Hyuna. Penyebab kerusakan rumah tangga orang, itulah julukan yang harus kuterima dengan segenap kebesaran hati. Ini demi cintaku pada Hyuna…

“Hyu, kau ikut mobilku saja…” kataku seraya menarik tangan Hyuna meninggalkan Yoochun yang sedang mengusap wajahnya, kupikir ia pasti shock atas semua ini, meskipun aku sendiri belum tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam.

TBC…

+++++

Mianhae, uri dubu…aku menyakitimu di part ini. Kalau menzalimi Key sih udah langganan, huahaha… #dikejer lockets

Di part ini aku hilangin genre psychology-nya dulu karena emang part ini ga membahas itu. Dan, aku emang mahasiswi jurusan statistika, daripada pusing-pusing mikirin jurusan hyuna, udah aja statistika yang udah aku tau dikit-dikit filosofinya. Tapi bukan berarti aku itu Hyuna loh ya…aku masih normal banget-banget. Dan sebenernya, aku memposisikan diriku sebagai Key saat bikin cerita ini. Dalam artian, Key POV adalah pemikiranku yang sebenarnya, Key dalam kisah ini aku ibaratkan diriku  #curcol ga penting

Ya udah…aku ga bosen-bosennya bilang makasih buat readers yang udah mau baca ff ini. Don’t forget to give me oxygen, ok?

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

49 thoughts on “I Can’t Be Yours – Part 6

  1. first kah???
    #clingakclinguk. .

    hwaaa, . . Q nysek bgt lht key, . Hiks!! Auth0rx jahat, msa’ zalimi key jd h0by. . .

    haish. . Ddaebak deh pk0kx!! Ff yg paling q tunggu. . Btw ne rncnax mw smpe brp part ne??
    eh y q mw k0reksi dkit. . Pas hyuna ktemu key d kntr tuh hyuna kn pgen ins0mnia biar g ingt key. . Itu bknx amnesia y lw g inget org tu?

  2. haha,iya bner chingu,amnesia.aq jg bru nyadar pas temenku blg.ntar aq ganti.
    Thx a lot yah koreksinya,aq khilaf. Ntar aq ganti.

    Ini sampe part7 chingu.
    Btw thx y udh baca n komen

      1. brti next part dah end d0nk??? Sdkt g rela deh kykx. . . Pa lg castx key, . Gmpang bayanginx (?). .hehehe
        Pgen deh bljr bkin ff bgus kyk gni tp sllu tngah jln d0ank. .pdhl ide udh ad. . . #curc0l. . .

        pkokx hwaiting deh buat auth0rx. . .

  3. APA??? MENZALIMI KEY ADALAH HOBY??#reader alay,,,
    saya selaku lockets ingin mengajukan demo atas pernyataan diatas,,,hahaha,,, becanda,,, GPP,, nasib Key emang udd nyesek dari awal,, jadi sok atuh,, sekalian ajj nyeseknya diabisin..

    Ahh,, mereka beneran udd cerai,, aku kuciwaaaaaaaa,,, Hyu gx jadi sama Key,, trs Jinki dituduh merusak RT Hyu-Key,,, ohh,, Poor Jinki,,,

    Ohhh gitu,,, pantes aku bacanya agak mikir pas bagian Insomnia,,hahaha

    Belum bisa meraba endingnya gimanaaa,,, pokoknya nunggu next part ajj dehh,, Ok!!😛

  4. key – hyuna
    kasian dua duanya
    akhirannya gimana ya
    hyuna sama siapa?
    jinki juga kesian deng
    thor mnurtku ini part yg paling enteng dr part part sebelumnya
    abis kata kata ga ribet
    ehehehe

    cakep dah pkonya

  5. jiah.. jadi hoby :3
    tapi, daebak thor.. ane suka bahasax🙂
    key ama hyuna aja ya #cium author biar hyu ama key :-* *plakbukprangdor..*😄

  6. huwaaa ternyata author org statistik ya,,hebat,, ngerti ttg psikologi jg ^^,
    bc fanfic ini aku harus aga2 mikir ni,tp sukaa, hehehe
    lanjutannya jgn lama2 ya thor n_n

  7. waah, cepet banget publisnya! Seneng deh.
    Kalo hyuna merasa kehilangan key berarti ada sedikit rasa untuk key di hati hyuna yaaa.

    Author jahat ih, sering nyiksa uri diva *cubit-cubit author*.

    Hiks, dubu image-nya jadi jelek gini di part ini.
    Minho juga dibikin bersifat emosian ma author, padahal dia biasa bersikap ‘adem ayem’. Tapi gakpapa deh demi kelancaran cerita #apadeh

    Next part udah ending ya, cepet banget!
    Ending part bikin lebih panjang ya.
    Kalo bisa, habis ending part kasih bonus after-story / epilog.

  8. sedih..nyesek banget rasanya kalo jadi key D’: #onew juga sih, tapii q lebih setuju kalo hyuna sama keyyy D’: hiks hiks
    iya thor, disitu ada typo satu ya..harusnya amnesia^^
    tp gpp. Daebak story!! ditunggu next partnya! :’D

  9. akhirnya part 6 nya keluar jugaa *joget bareng key* kyaayyy!! >.< kasian jinki yaa di salahin muluuu. makiin seruu (y) di tunggu part selanjutnya yaa thor.. hwaiting ^^

  10. huwwaaa.,key sm hyuna jd cerai…
    klo hyuna msh pnya rasa syg sm key brarti hyu jg cnta kan.klo mrsa ad yg kosong pas cerai sm key,brarti emg g bs jauh dr key kan.trz lok hyu msh bs nangis gr2 key brarti msh bs baikan lg kan…
    ayolah thor…jg bwt nasib key lbh nysek drpd ni donkz…airmataq hbs cz q ikt nangs stiap kali key d dzolimi…
    next part udh end…???.klo gtu,bwt hyuna balikan lg sm key…
    DITUNGGU…!!!

  11. G sbr pengen part 7 nya…
    Aku suka bag.menenggelamkan kertas…
    Dalem banget kt2nya…
    Aku jg suka klo key tzalimi…hahaha
    »Ditimpuklocketseluruhdunia…
    Tp onew n key ga t aniaya smp part t akhir kan????.
    Ga rela…ga rela…
    »Nangis gulangguling klo smp kjadian

  12. yeaah~!!dah dipost *tebarreceh
    KENAPA MEREKA HARUS CERAI??!!!!eon….last part.a hyu dibikin ma key ajj,,T^T…kalo si dubu ma sapa kek,..diobral jg gpp *eh? #digorokMVP+eon
    nyesekk banget part ini😦
    aq yakin hyuna mulai menyukai bahkan mencintai key!! :DD
    hobinya eon menzalimi key??ikutan ah~~~xDD
    minho ma yoochun sotoyy!!!>.<#bakar mereka!!! #plak
    aq tgu last part.a eon :3

  13. mian ga bisa bales satu2 lagi…hehe…
    thx buat yg udh baca n komen…tungguin part endingnya ya ^^

    yg marah ama aku, boleh….wajar sih…aku nyiksa Key bnget, hehe…

    btw itu vanya mau bakar2 Yoochun ama Minho. Eitsss…ga boleh…apalagi Yoochun, he is mine.haha…

  14. uda lamaaa…….ga mampir k blog ini😀
    en woah..ketinggalan banyak.jd ngebut baca dr awal ampe akhir.maap ya komennya d satuin…
    waduh gw pusing ama kata” nya yg sebener nya bisa d mengerti tapi cukup berat bwt sebuah ff.hahaha…d tambah lg gw bukan orang statiska.
    klo dr segi cerita….emmm…ga biasa bgt…hahaha….nice ff😀

  15. ahhh autrhooor tambah nyesek ajaaah… aisssh si minho nih yaa !!! mulutnya pengen ku lakbam pake selotippp !!!
    jinki sabar bangeet, ayo hyunaaa… kau tidak mencintai jinki, tapi kau mencintai keeeyy !!!
    itu udah jelas, tinggal buka hati mu lebih lebar lagii !!!
    aisssh !! geregtan ..
    ayo thoorr lanjutannya ini kereen .. >,<

  16. speechless……….
    Kayaknya summarynya agak kepanjangan gak sih, jadi kesannya ceritanya lebih pendek karna udah baca summarynya…

  17. fanfic ini selalu jjang!!kekeke
    bkin reader nysek krna tokohnya di buat ngenes. .(?)
    pokoknya ditunggu lanjutannya. .d^o^b

  18. YAAAAAAAAA……kembalikan onew pada key #lhoh……. maksudku kembalikan hyuna ke key…kasihan key :OOOO pas part mereka cerai sebenernya aku kecewa banget sama kamu thor? (kok komenan ku jadi disgusting gini?)hahahaha…..lanjut yaa… stay strong keyku :* #dilempardurensamaauthor

  19. duuhh thor.. ini kurang panjang part’a.hhe.
    aku bneran kebawa sedih pas bagian Hyuna ketemu sama Key buat minta bantuan sponsor itu.
    aku pengen’a Hyuna balik lagi ke Key deh.hhe.
    Lanjutan’a tolong jangan lama yaah ^^~

  20. menyentuh bgt part ini. tangis hyuna menandakan perasaannya terhadap key. dia gag mau kehilangan key.

    salah paham lagi.,, minho gag tau apa2, sok tau nih. hehe😉

    next part…

  21. Hmmm..ternyata cinta tak sesempit yang ku pikirkan… Key dan Jinki, adakah stok namja seperti kalian?? kalo ada aku berharap dapat satu saja#plakk

  22. NO. Jinki bukanlah perusak rumah tangga orang! Dia malaikat. Hahaha~
    Walaupun di dalam cerita Key terkesan tidak profesional, namun saya melihat Key yang lebih dewasa seiring dengan perkembangan cerita (tidak untuk Minho). Haha~ Maafkan saya..

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s