Married By Accident – Part 5

MARRIED BY ACCIDENT

Author : Yuyu

Main Cast :

Lee Jinki (Onew)

Han Younji

Support Cast :

Choi Minho

Key

Son Shinyoung (Oc)

Kim Jonghyun

Kim Hyunji (Oc)

Minor Cast:

Lee Taemin

Hwang Jungmi (Oc)

Son Miyoung (Oc)

Length : Sequel

Genre : Romance, Sad, Friendship

Rating : PG – 15

Author Note: Please read this before you scroll down..

Mungkin ada beberapa dari kalian yang sudah mampir ke blog ku dan baca tulisan berjudul Plagiarism Issue. Tapi untuk kalian yang belum baca, kuharapkan kalian bisa mampir ke wp ku dan baca tulisan itu. Ato kalian bisa klik di Plagiarism Issue dan setelah itu Yuyu’s Letters Dan aku berharap kejadian serupa gak terulang lagi.
Happy reading~

***

Onew duduk di deretan kursi tunggu di depan ruangan dokter. Tubuhnya sedikit membungkuk. Dari luar, ia terlihat tenang. Padahal ia cukup panik. Pagi-pagi sekali, ia sudah terjaga. Perasaan senangnya ketika tidur di atas tempat tidur yang sama dengan Younji semalam telah tertutup oleh kekhawatiran yang ditumbuhkan Nyonya Lee. Begitu ia membuka matanya, yang ia lihat adalah wajah Younji, tapi mengapa rasa takut yang justru menyambutnya? Ya, ia takut. Pemikirannya saat itu adalah, bagaimana jika Younji benar-benar hamil? Ia tak tahu apa yang membuatnya takut, namun perasaan itu berkembang begitu saja.

Dan sekarang, setelah mereka sampai di rumah sakit, dokter yang mereka temui menyarankan agar Younji menjalani tes lebih lanjut di bagian kandungan. Onew menunggu di luar. Rasa takutnya semakin menjadi-jadi dalam hitungan menit yang berlalu. Saat pintu ruangan terbuka, tubuh Onew menegang. Sesungguhnya ia tak berani memalingkan wajahnya—tapi ia harus melakukannya. Dilihatnya Younji keluar dan berjalan perlahan sambil memegang selembar kertas putih yang berisikan rincian kesehatannya. Wajah Younji berubah kosong. Tak terlintas sedikit pun ekspresi di sana, semakin membuat Onew was-was.

Onew mencoba untuk tetap bersikap tenang. Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Younji.

“Bagaimana?” tanya Onew. Suaranya agak bergetar, namun itu tak menjadi masalah karena Younji tak menyadarinya. Tangan Younji bergetar pelan. Sedikit demi sedikit kepalanya terangkat. Ia menatap Onew. Matanya mengerjap berkali-kali, ia kehabisan kata-kata.

“Aku… aku…” kata Younji pelan. Ia terus mengulangi kata-katanya, masih bingung harus mengatakan apa. Younji mengangkat tangan. Wajahnya tertutupi oleh telapak tangannya. Ia bernapas dalam-dalam, seolah ia hampir lupa bagaimana cara melakukannya tadi.

“Aku hamil…” ujar Younji setelah akhirnya ia bisa menyusun kalimat sederhana dengan benar.

Aliran adrenalin Onew terpacu deras mendengar kata-kata itu—hal yang sudah diperkirakannya namun tak ingin ia akui, tidak tanpa bukti nyata. Ia tidak mengerti. Bagaimana mungkin Younji hamil? Karena kenangan yang ada dalam ingatannya menceritakan bahwa malam itu—saat kecelakaan itu terjadi—mereka tidak melakukan sesuatu yang mampu menghadirkan sebuah nyawa baru. Dan tentu saja mereka tak pernah saling menyentuh setelah mereka menikah—well, tidak termasuk ciuman kemarin, tapi itulah hal terjauh yang pernah mereka lakukan.

Onew mulai meragu. Ia mencurigai ingatannya sendiri. Apakah ada yang salah? Bisakah apa yang telah ia dan Younji percayai—bahwa mereka sama sekali tidak berhubungan intim—ternyata salah? Jika tidak begitu, lantas penjelasan masuk akal macam apa yang bisa menjelaskan situasi semacam ini?

Younji mengelus perutnya yang masih datar tanpa ia sadari. Baru setelahnya ia menunduk dan menatap di mana tangannya bergerak pelan. Perasaannya tak menentu. Ia tak pernah membayangkan hal ini—bukan berarti ia tak menyukainya. Menjadi seorang ibu pastilah impian para wanita di luar sana. Hanya saja, semuanya terlalu tiba-tiba, terlalu di luar perkiraannya.

Onew masih mematung di sana. Ada semacam perasaan bahagia yang sudah lama tak ia rasakan. Ia bukan tipe pria yang memuja-muja kehidupan pernikahan, ataupun keluarga kecil yang akan ia miliki kelak—bahkan sesungguhnya sudah lama ia mengubur pemikiran itu. Tapi bayangan seorang bayi yang hadir dalam keluarga barunya terasa menyegarkan. Tidak terbayangkan rasanya sembilan bulan lagi akan muncul makhluk kecil yang akan menjadi tanggungjawabnya. Di luar dugaan, perasaan itu sangat menyenangkan. Senyum kecil mengembang diwajah Onew, perlahan-lahan merekah namun suara Younji menghentikannya.

“Minho…” suara Younji berbisik pelan. Dan entah bagaimana, Onew bisa menangkap nama itu dalam gendang telinganya. Langsung saja ia menoleh. Ia tatapi lagi wajah kosong Younji.

“Anak Minho…” lanjut Younji seperti bisa mengira pertanyaan yang ada dibenak Onew saat nama Minho meluncur keluar dari bibirnya.

Kedua alis Onew saling bertautan. Beribu tanda tanya menyerobot masuk. Ada sesuatu hal yang tak beres di sini—seperti benang kusut yang membuatnya pusing, dan ia tahu benang itu harus diuraikan agar semuanya menjadi jernih. Onew memaksa Younji untuk menjelaskan semua hal pada Onew. Mereka harus bicara—bicara sampai tuntas—sebelum mengunjungi Nyonya Lee. Mereka sudah berada di dalam mobil di area parkir rumah sakit saat tak seorang dari mereka yang kembali berkata-kata. Hanya diam membisu, menatapi deretan mobil-mobil di depan mereka.

“Apa maksud kalimatmu tadi?” tanya Onew, berusaha terdengar biasa saja.

Younji menghela nafas pelan. Tangannya mencengkeram erat seat-belt yang telah ia kenakan.

“Kubilang..” Younji berhenti sesaat hanya untuk memasukkan udara yang banyak ke dalam paru-parunya, “anak ini adalah anak Minho.”

Rahang Onew tertutup erat. Giginya bergemeretak pelan, “Dan, mengapa kau bisa mengatakan hal seperti itu?” tanya Onew cepat, tak mau membuang-buang waktu. Lagipula, jika ia tak cepat-cepat bertanya, ia takut pertanyaan itu akan terkubur kembali di dalam pikirannya. Masih ada banyak pertanyaan lain yang mau ia ajukan, tapi semuanya seperti tenggelam ke dasar laut, hilang tak berbekas.

“Tentu saja karena kita berdua tidak pernah melakukan hal itu.” jawab Younji masih datar. Ia tak bermaksud mengeluarkan suara dengan nada tanpa ekspresi semacam ini, tapi ia sungguh tak bisa menyampaikan ekspresinya dengan baik saat ini, “Bahkan kau sendiri yang bilang dengan yakin—meski samar-samar aku juga merasa demikian, bahwa malam itu kita sama sekali tak melakukannya.”

“Jadi, kau dan Minho… kalian… telah melakukannya?” Onew menelan air liurnya setelah pertanyaan itu keluar. Tak mungkin, mana mungkin? Jika wanita lain, Onew masih bisa percaya. Tapi wanita ini adalah Younji! Mana mungkin dia melakukan hal semacam itu? Onew tak berani menatap Younji. Ia takut jika emosinya akan terpancar dari matanya. Ia memilih untuk terus menatap lurus sembari mencengkram erat kemudi.

Younji tak menjawab. Ia membisu. Pikirannya bercabang. Ada rasa senang yang membuncah dalam dirinya. Ia bahagia karena ia akan menjadi seorang Ibu. Ia juga bahagia karena janin yang berada dalam kandungannya adalah cerminan dari Minho. Namun, yang disayangkannya adalah bahwa bukan Minho yang menjadi suaminya saat ini. Dan kenyataan itu—suaminya adalah Onew—membuat perasaan Younji semakin bergejolak. Ia merasa telah mengkhianati Onew atas perbuatan yang telah dilakukannya.

Onew bergumam pelan sebelum menjalankan mesin mobil. Aksi diam Younji sudah menjadi jawaban yang cukup bagi Onew. Ia mengerti. Ia mengerti mengapa hal seperti ini bisa terjadi—saat itu, Younji dan Minho saling mencintai, mereka dimabuk cinta. Onew bisa mencoba untuk memahami, tapi ia tak bisa terima.

***

Onew memegang gelas kosong yang baru saja ia teguk isinya. Ia menatap kosong, sekosong pikirannya. Ia telah meminum bergelas-gelas alkohol, namun kesadarannya seolah melawan keinginannya—kesadaran masih meliputinya.

“Ada apa?” tanya Jonghyun begitu ia melihat sosok Onew dan menepuk pundaknya. Onew masih bergeming. Tatapannya masih sekosong tadi. Ia menyadari kehadiran Jonghyun, namun tak mau memedulikannya. Jonghyun duduk tepat di samping Onew. Setelah memesan minuman pada pelayan, ia kembali memfokuskan perhatiannya pada sahabatnya yang tadi menelpon untuk menemuinya di sini tapi memilih untuk mencuekinya begitu ia datang.

“Ada apa denganmu?” Jonghyun mengulangi pertanyaannya sekali lagi. Namun Onew masih menolak untuk bereaksi, seolah sedang berpikir intens. Minuman yang Jonghyun pesan tadi telah disiapkan. Ia menyesap minumannya sambil melihat ke sekeliling, ia yakin Onew akan bicara jika ia ingin. Suasana bar malam itu tetap saja ramai, seperti malam akhir pekan saja.

“Dia..” suara Onew terdengar samar-samar. Jonghyun kembali menatap Onew, mencoba mendengarkan setiap kalimat yang dilontarkan. Onew menggenggam erat gelas kosong ditangannya sementara ibu jarinya mengusap bibir gelas. Onew menarik napas dalam-dalam sebelum kembali melanjutkan, “Dia hamil.”

Jonghyun tak merespon. Ia hanya ikut diam. Awalnya ia mencerna dia yang Onew sebutkan.

“Maksudmu, Younji?” terka Jonghyun berhati-hati. Sebenarnya, Jonghyun cukup yakin. Sangat pasti bahkan. Dia yang Onew sebut mengarah pada Younji. Tapi yang tak Jonghyun mengerti adalah, mengapa ada semburat kesedihan diwajah Onew ketika ia membeberkan berita bahagia semacam ini?

Onew tak menjawab. Ia hanya memejamkan matanya, mengusir jauh-jauh kepedihan yang kembali melanda dirinya.

“Kupikir dia berbeda. Kupikir dia tak mungkin bisa melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan wanita itu padaku.” Onew tak menjawab pertanyaan Jonghyun, ia mengatakan hal lain yang hampir tak dimengerti Jonghyun, “Tapi mengapa hal ini justru terjadi lagi? Apa dosa yang telah kulakukan hingga Tuhan menghukumku seperti ini?” Onew, untuk pertama kalinya malam ini, menatap Jongyun. Tatapannya tajam dan dingin, sama sekali tak terlihat seperti dirinya yang biasa. “Tak berhakkah aku mendapatkan setitik kebahagiaan?”

“Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan.” ungkap Jonghyun jujur. Onew terdiam cukup lama. Ia sedang menimbang-nimbang. Jika ia beritahukan yang sesungguhnya terjadi dibalik pernikahan ia dan Younji, bagaimana kelak Jonghyun akan menatapnya? Tapi jika ia tak menjelaskannya pada Jonghyun, kepada siapa lagi ia bisa mengadu? Onew tak ingin memungkiri. Ia butuh sosok Jonghyun untuk bersandar sekarang, atau ia akan terjatuh—lagi.

Akhirnya, Onew membuka mulutnya. Ia menceritakan semuanya pada Jonghyun—secara mendetail. Tak ada satu pun cerita yang ia lewatkan. Semuanya ia ungkapkan dengan gamblang. Jelas, Jonghyun terkejut. Tapi sejak semula, ia juga tidak yakin kalau Onew dan Younji saling mencintai lalu memutuskan untuk menikah. Hidup tak sesederhana itu—dimata Jonghyun.

“Jadi, mereka telah melakukannya sebelum pernikahan mereka batal?” ujar Jonghyun pelan.

“Aku tidak tahu! Aku tidak—mau—tahu kapan mereka melakukannya! Yang ku tahu adalah bahwa Younji membohongiku—dia mengkhianatiku!” teriak Onew nyaris bangkit dari kursinya kalau saja Jonghyun tidak menekan pundaknya agar kembali duduk.

“Jangan menumpahkan kesalahan padanya, Onew. Aku bisa mengerti perasaanmu saat ini. Aku tahu kau pasti sangat tersiksa karena hal yang sama kembali terjadi padamu. Tapi kau tidak bisa menyalahkan Younji karena hal ini.” cetus Jonghyun. “Mereka berbeda.”

“Mereka sama—sama-sama memuakkan!”

“Hentikan Onew! Buka matamu lebar-lebar!” desis Jonghyun tertahan. “Mereka jelas tak sama. Younji tidak seperti Miyoung yang dengan sengaja melakukan hal itu padamu—meninggalkanmu sambil mengandung janin pria lain. Aku yakin Younji bahkan tak mengira hal seperti ini akan terjadi. Mereka sungguh-sungguh berbeda.”

Onew kembali menatap tajam ke arah Jonghyun. Ia menahan murka. Apa yang berbeda? Apa yang berbeda dari kedua orang wanita itu kalau pada akhirnya mereka sama-sama membuat Onew terluka? Sebuah luka yang membuat Onew benar-benar takut untuk memercayai siapa pun.

“Kau tidak berhak marah. Sejak awal, kau yang memutuskan bahwa kalian akan menjadi keluarga, bukan suami-istri. Makanya, mana boleh kau marah dan menuding Younji mengkhianatimu padahal tak ada cinta diantara kalian? Bahkan meski pun ada, kau tetap tak berhak mengecapnya sebagai pengkhianat atas perbuatannya di masa lalu.” kata Jonghyun panjang lebar. Ia tak suka jika Onew mulai menggunakan emosinya untuk mengambil keputusan. Onew memang dikenal dengan sikapnya yang tenang. Tapi hanya Jonghyun yang tahu bagaimana jadinya Onew ketika ia sedang diliputi amarah. Onew jadi berbeda 180 derajat.

Onew meringis pelan. Ia memutar tubuhnya dan langsung menelungkupkan wajahnya diatas meja. Tubuhnya bergetar pelan, sedang menahan isakan. Ia tak bisa berpikir jernih. Yang ia tahu, ia sangat terluka saat ini dan ia tak mau memikirkan bagaimana perasaan orang lain. Ia menjadi egois setiap kali ia marah.

Jonghyun menggeleng-gelengkan kepalanya dan menggeser duduknya semakin merapat pada Onew. Ia mengusap-usap punggung Onew perlahan sambil berkata, “Apakah sakit? Tenanglah, ada aku di sini.” berulang kali.

***

Onew memandang kosong. Secangkir kopi hangat telah tersaji dihadapannya, tapi tak ia sentuh sedikit pun. Kepalanya masih terasa berat gara-gara alkohol yang ia minum semalam, serta kenyataan bahwa sekarang ia tengah berada di dalam teritori musuhnya membuat ia tak berselera untuk memasukkan apa pun ke dalam perutnya.

Setelah akhirnya separuh dari kesadaran Onew terengut oleh alkohol, Jonghyun bersikeras agar Onew pulang ke rumah Jonghyun untuk beristirahat. Bukannya Onew tak tahu, Jonghyun pasti takut kalau Onew akan melukai Younji melalui kata-katanya. Yah, Onew memang sering lepas kendali kalau sedang mabuk. Dan sekarang, ia bergegas datang ke tempat ini begitu ia terbangun pagi tadi.

“Kau mencariku?” tanya seseorang yang menghampiri Onew. Pria itu duduk di depan Onew. Keningnya berkerut, bertanya-tanya apa yang membuat Onew datang jauh-jauh ke kampusnya.

“Apa kabar, Minho-ssi?” Onew berbasa-basi. Ia tak bisa langsung mengatakan niatnya datang ke sini. Setidaknya ia butuh sedikit basa-basi untuk mempersiapkan dirinya sendiri. Untunglah Minho cukup ramah. Ia membalas basa-basi Onew.

“Tidak terlalu baik, kau sendiri?” tidak ada nada sinis atau mencemooh dari jawaban yang dilontarkan Minho. Cara bicaranya seperti sedang berbicara dengan seorang teman lama.

“Aku tidak terlalu yakin dengan kondisiku saat ini.” jawab Onew jujur. Mengapa ia harus berbohong jika lawan bicaranya terlihat sangat ramah? Meski Onew telah menganggap Minho sebagai musuh tanpa alasan yang jelas, tapi ia masih bisa bersikap rasional—setidaknya sampai detik ini.

“Jadi…” Minho menggantungkan kalimatnya, agak ragu, “Apa yang membawamu ke sini?”

Onew hanya diam. Ia menatap Minho cukup lama, dan pria yang ditatapnya tak protes. Onew menegakkan tubuhnya, jari telunjuknya bermain-main di bibir cangkir yang baru ia sentuh. Ia pikir tak butuh waktu lama baginya untuk mempersiapkan dirinya, tapi ia salah. Ia tetap saja tak siap. Ia tak tahu harus bagaimana memulai pembicaraan yang—menurutnya—sensitif.

“Ada hubungannya dengan Younji?” Minho memaksakan nama itu meluncur dari bibirnya. Lagi, ada setitik perasaan bersalah yang bercampur sedih setiap kali wajah Younji muncul di dalam ingatannya. Onew mengusap wajahnya perlahan lalu memberanikan diri untuk menyampaikan maksud kedatangannya.

“Younji hamil.” ujar Onew singkat. Awalnya terasa begitu sulit untuk membuka mulut. Namun begitu ia telah menyampaikan berita utama, perasaannya menjadi jauh lebih ringan. Onew sengaja tak langsung melanjutkan kalimatnya. Ia mengamati perubahan wajah Minho. Sebelumnya Minho terlihat cukup bersahabat. Kini wajahnya membeku seketika. Sepertinya berita kehamilan Younji benar-benar sebuah berita besar.

“Benarkah? Selamat—untuk kalian.” Minho tersenyum kaku. Ia memaksakan sebuah senyum dari wajahnya yang tak bisa menggerakkan satu otot pun. Ia harusnya bahagia karena kebahagiaan Younji telah sempurna, tapi ia tak bisa. Ia bukanlah manusia suci yang selalu berbuat baik. Ia hanya manusia biasa, yang juga bisa merasa kecewa.

“Terima kasih.” balas Onew, tak berani menatap wajah Minho seperti tadi. Onew menatap keluar jendela. Banyak mahasiswa yang lalu lalang. Mereka terlihat sibuk dengan kegiatan mereka sendiri—dan mereka terlihat sangat menikmatinya. Andai saja Onew juga bisa menikmati hari-harinya mendatang senormal sebelumnya. Tapi tidak. Semuanya akan berbeda. Sudah berbeda sejak berita itu muncul. Onew mengembalikan pandangannya ke depan selama beberapa detik sebelum akhirnya ia tertunduk, memandangi jari-jarinya yang kini saling bertautan satu sama lain diatas pahanya.

“Tapi ada satu hal yang harus kau ketahui.” lanjut Onew. Ia menarik nafas dalam-dalam, inilah hal tersulit yang harus ia sampaikan, “Aku bukan ayah dari bayi yang ia kandung.”

Seperti kejutan yang diberikan oleh Onew tentang kehamilan Younji tak cukup saja, Onew kembali memberikan kejutan tak terduga. Mengapa Onew—yang notabene adalah suami sah Younji—bukanlah Ayah dari bayi yang dikandungnya? Dan, mengapa Onew menceritakan semua ini pada Minho?

Kali ini Onew mendongak, ekspresinya tak lagi ragu seperti tadi. Alisnya nyaris bertautan, ia terlihat jengkel dengan kebodohan Minho. Apakah pria ini benar-benar tak bisa menebak ke mana arah pembicaraan Onew, atau justru berpura-pura bodoh dan ingin Onew mengejakan satu per satu untuknya? Berharap saja bukan dugaan yang kedua yang benar, atau Onew mungkin akan menghabisi Minho detik ini juga.

“Bagaimana mungkin kau bukan ayahnya—maksudku, kalian adalah suami istri?” tanya Minho begitu menyadari ada raut kekesalan di wajah Onew.

“Kau sungguh tidak mengerti mengapa aku menceritakan padamu kalau aku bukanlah Ayah dari bayi yang Younji kandung?” tanya Onew mulai geram.

Minho menggeleg pelan, masih terlihat kebingungan. Lalu seperti sebuah kepingan teka-teki, ketika kepingan terakhir terpasang, barulah ia menyadarinya,”Maksudmu… aku…” Minho bahkan tak bisa menyelesaikan kalimatnya sendiri, terlalu tak percaya.

“Kau adalah ayah biologisnya.” sambung Onew. Kali ini ia sudah terlihat tenang, tak lagi menunjukkan ekspresi-ekspresi tak menentu seperti tadi. Mungkin pikiran Onew sudah terbuka. Younji berbeda dengan Miyoung—meski mereka sama-sama mengkhianatinya, menurut Onew. Tapi setidaknya Miyoung pernah mengaku mencintainya, sementara ia tahu Younji memang tak pernah mengakui hal serupa. Mungkin Jonghyun benar. Tak pantas jika ia menyalahkan Younji atau pun Minho atas sesuatu yang tak mereka duga.

“Tapi… bagaimana bisa?” Minho tertawa getir. Kepalanya menggeleng pelan, “Mengapa kau begitu yakin kalau aku—Choi Minho—lah ayah dari bayi itu? Kau kan suaminya.”

“Jadi kau mau mengingkari tanggungjawabmu?”

“Bukan begitu!” tukas Minho cepat, “Bukan seperti itu maksudku. Aku tahu mungkin kedengarannya sangat lancang, tapi aku senang jika memang benar bayi itu adalah milikku. Hanya saja, bagaimana kau bisa dengan yakin mengatakan hal semacam itu? Memang aku dan Younji sempat melakukan hal itu satu kali, tapi bagaimana pun kalian juga pasti sudah melakukannya, bukan? Jadi bagaimana bisa bayi itu adalah milikku?”

Onew mengernyit. Ia mulai kesal lagi. Tolong, jangan ungkit tentang melakukan hal itu dihadapannya. Padahal tadi Onew sudah berhasil meredam keinginannya untuk meninju wajah Minho saat ia melihat betapa ramahnya pria dihadapannya. Tapi sekarang, keinginan itu mulai merayapi tubuhnya lagi.

“Kupikir, tak pantas jika aku menceritakan apa yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga kami. Tapi kau perlu tahu bahwa kami sama sekali belum pernah melakukannya—dan jangan coba-coba untuk bertanya mengapa, ini masalah internal kami. Itulah sebabnya aku begitu yakin.” kata Onew setenang mungkin. Ia sebenarnya sangat tidak tenang, ia tak suka membiarkan Minho mengetahui bahwa ia belum pernah menyentuh Younji. Onew akhirnya mengangkat cangkir kopinya. Ia meneguk kopi yang telah mendingin. Rasanya menjadi tak enak, tapi ia paksa cairan itu melewati kerongkongannya, sekedar untuk menyibukkan dirinya sendiri.

“Dan jika kau masih bertanya-tanya, mengapa aku memberitahukan semua ini padamu, karena kuharap kau bisa ikut menemani Younji selama masa kehamilannya—kudengar ikatan antara janin dan orangtua biologisnya cukup kuat.”

***

Younji berjalan perlahan menuju gerbang kampus sembari membenarkan letak beberapa buku yang menumpuk ditangannya. Ia tak bisa fokus selama jam kuliah berlangsung. Yang pertama, ia masih tak menyangka kalau kini ia telah berbadan dua. Yang kedua, karena ia merasa lemas—mungkin akibat kehamilannya. Dan yang ketiga, karena Onew tak pulang semalam. Meski Jonghyun telah menghubunginya dan mengatakan bahwa Onew akan menginap di rumah Jonghyun satu malam, Younji merasa resah. Apa pandangan Onew padanya sekarang?

Younji senang sekali ketika akhirnya jam kuliah berakhir. Ia bisa segera pulang dan bertemu Onew—berharap saja demikian. Younji semakin mendekati gerbang. Ada seorang pria yang berdiri di depan gerbang. Tapi pria itu bukan Onew. Younji terkesiap saat Minho tersenyum dan melambai padanya.

“A—apa yang sedang kau lakukan di sini?” tanya Younji.

“Aku ingin bertemu denganmu, kita harus bicara.” wajah Minho berubah serius. Jika sebelumnya ia begitu bingung harus bersikap bagaimana, sekarang ia rasa ia telah menemukan jawabannya.

“Tidak bisa.” Younji memalingkan wajahnya, “Onew akan menjemputku sebentar lagi.”

“Tidak, dia tidak akan datang.” sanggah Minho terlalu cepat hingga membuat Younji kembali memalingkan wajahnya menatap Minho dengan penuh tanda tanya. Minho melanjutkan, “Suamimu sendiri yang memintaku untuk datang menjemputmu hari ini, agar kita bisa bicara.”

Mata Younji membelalak. Atas dasar apa Onew mencampuri urusan pribadinya dan mempertemukan ia dengan Minho? Younji merasa tak ada lagi yang perlu ia bicarakan dengan Minho. Ia pikir hubungan mereka telah habis hingga ke akar-akarnya sejak Younji berjalan mundur dari pemberkatan pernikahan mereka.

Memang, Younji masih tak bisa menghilangkan perasaannya pada Minho, tapi Younji terus berusaha. Makanya, dengan adanya Minho yang kembali menapaki lingkaran kehidupannya, Younji tak yakin ia akan benar-benar bisa memukul mundur Minho dari hidupnya.

“Kita harus bicara, Younie.” ucap Minho memelas. Jantung Younji berdegup kencang saat Minho mengucapkan nama panggilan yang selalu terdengar manis saat terlontar dari mulutnya. Younji mengangkat bendara putih, ia tak bisa menolak Minho.

Mereka duduk di kursi tak jauh dari pintu gerbang. Ada beberapa mahasiswa yang juga duduk di sana, maka Minho memilih tempat duduk paling sudut yang tak ramai hingga tak ada yang bisa menguping pembicaraan mereka.

“Onew-ssi sudah memberitahukanku tentang… bayi kita.” beberapa kalimat terakhir Minho terdengar lebih pelan. Ia seolah tak yakin apakah kata-kata yang ia gunakan adalah benar atau salah. Minho bisa melihat tubuh Younji menegang di sampingnya. Ingin sekali Minho menggenggam tangan Younji untuk membuat wanita itu rileks, tapi ia sadari tindakan itu diluar batas kewajarannya. Ia boleh saja menjadi ayah biologis dari nyawa yang bersemayam di janin Younji, tapi itu bukan berarti ia bisa menjadi suaminya—karena bagaimana pun posisi itu ditempati oleh Onew.

“Dia juga memintaku untuk ikut menjaga kalian—kau dan bayi kita. Bagaimana menurutmu, Younji?” lanjut Minho lagi karena Younji tak kunjung buka mulut.

Minho tak akan tahu, tapi Younji merasa sangat terharu hingga airmatanya siap menetes setiap kali Minho menyebut bayi kita. Baginya itu adalah kalimat terindah yang pernah ia dengar. Kebahagiaannya akan lebih sempurna jika saat itu ia tak membatalkan pernikahannya dengan Minho. Apakah ia telah salah membuat keputusan waktu itu?

Mungkinkah perasaan Minho yang waktu itu goyah karena wanita lain akan kembali menguat saat bayi ini hadir diantara mereka? Jika saja Younji tak gegabah, jika saja Younji bersedia memberikan sedikit waktu bagi Minho untuk menggali perasaannya yang terdalam, mungkinkah sekarang Younji telah menjadi istrinya?

“Apakah kau bersedia—mengikuti permintaan Onew?” suara Younji pecah. Ia tak berani menatap Minho, padahal ia yakin Minho pasti sedang menatapnya lekat-lekat.

“Tentu, tentu saja aku bersedia.”

“Tapi bagaimana dengan kekasihmu?” Younji mendelik, tapi tak memutar wajahnya. Ia masih belum berani menatap Minho. Pertanyaan itu seperti bumerang. Ia justru berbalik pada Younji dan membuka lukanya yang belum sepenuhnya tertutup.

“Aku tak punya kekasih, bagaimana mungkin aku bisa bersama dengan wanita lain kalau aku masih mencinta—“

“Tapi hatimu goyah!” potong Younji. Kali ini ia menundukkan wajahnya, tak ingin kilat kemarahan di matanya diketahui oleh Minho.

“Aku tahu dan aku minta maaf atas kebodohanku. Tapi Younji, apa yang kurasakan pada Jungmi bahkan tak sampai seperempat rasa cinta yang kurasakan untukmu. Itulah mengapa kuceritakan tentang perasaanku yang sesungguhnya sebelum pernikahan—aku tak mau mengikat sumpah dengan kebohongan yang menjadi dinding diantara kita, karena aku bisa hidup tanpa Jungmi. Tapi tanpanmu, aku tak bisa. Aku bisa membuang perasaanku pada Jungmi, aku bisa mencintaimu lagi dengan sepenuh hatiku.” Juga ada amarah dalam suara Minho, tapi ia menahannya. Ia tak berhak untuk marah, ia tak berhak menyalahkan Younji atas apa yang ia lakukan sendiri. Bukan salah Younji jika ia pernah merasakan perasaan yang sama pada wanita lain disaat wanita itu bahkan tak mencoba untuk merayunya sekali pun. Minho yang salah, ia yang salah karena tak bisa menjaga hatinya dengan baik.

“Itu berarti kau memaksakan diri untuk mencintaiku.” Younji menggeleng. Bukan kata-kata seperti itu yang ingin ia dengar, “Bahkan ketika kau menitipkan hatimu padaku, kau masih bisa merasakan cinta untuk wanita lain. Itu berarti, aku bukanlah wanita yang tepat untukmu.”

Minho memejamkan matanya. Ia merasa begitu lelah, “Aku tak ingin membahas masalah ini berulang kali—sama seperti ketika aku mencoba untuk meyakinkanmu setelah kau berlari meninggalkan gereja. Yang sudah terlewatkan, kita biarkan saja terkubur di masa lalu. Yang harus kita hadapi saat ini, adalah anak kita Younji.”

“Aku tak mau…” lirih Younji, “Aku tak mau kau menemaniku. Aku tak membutuhkan hal itu.”

“Tapi—“

“Hari di mana aku berjalan keluar dari gereja seorang diri adalah hari di mana tak ada ikatan apa pun lagi diantara kita.” Younji memotong kalimat Minho sekali lagi. Tangan Younji terkepal erat, menahan semua perasaan yang berkecamuk. “Meski pun bayi ini adalah anakmu, aku hanya butuh suamiku saja. Jadi, pergilah Minho. Jangan memintaku untuk menyetujui hal bodoh semacam itu lagi.”

Minho diam cukup lama, membuat Younji penasaran dengan reaksinya. Namun tetap saja Younji tak bergerak. Kepalanya masih terus terunduk.

“Kau tak mengerti Younji…” ucap Minho akhirnya. Suaranya parau. “Kau tak tahu betapa tersiksanya aku semenjak kepergianmu. Jika saja Tuhan bisa memberikan kesempatan kedua padaku, aku tak akan mengatakan apa pun yang bisa membuatmu pergi—meski itu artinya aku harus berbohong darimu, akan kulakukan asalkan kita tak menjadi seperti sekarang.”

Suara Minho bergetar diakhir kalimatnya, membuat Younji semakin penasaran dengan ekspresi wajah Minho. Younji memberanikan dirinya untuk memalingkan wajah. Younji terkesiap. Ia tak menyangka ia akan melihat segaris airmata di pipi Minho. Kali ini giliran Minho yang memalingkan wajahnya. Ia tak ingin Younji melihat kondisinya yang menyedihkan. Lagi-lagi hati Younji terasa perih.

“Maafkan aku, Minho-ya. Tapi aku tetap tak bisa—aku tak bisa membiarkanmu ada di sisiku lagi.” Younji meremas jari-jarinya.

“Younji-ya, aku tak bisa lagi memenuhi semua janji yang pernah kuberikan untukmu. Setidaknya biarkan aku memenuhi satu janji—aku pernah berjanji akan menjadi ayah dari anakmu, kau ingat?” Minho telah menenangkan dirinya sendiri. Perasaannya sudah jauh lebih stabil sejak ia membiarkan setetes airmatanya keluar dibanding sebelumnya.

Younji ingat janji itu. Sebuah janji yang sempat membuat ia menangis terharu. Meski janji itu kembali diungkapkan Minho setelah keadaan mereka berdua yang kacau, Younji tetap saja merasa begitu tersentuh.

“Tapi bagaimana jika aku jatuh cinta lagi padamu?” tanya Younji. Itulah yang ia takutkan sejak awal. Bahkan tanpa kehadiran Minho di sisinya pun, ia telah menyimpan rasa cinta itu dengan baik. Bagaimana jadinya jika Minho kembali di sisinya? Bisa-bisa perasaan itu meledak keluar. Younji terus menatap Minho, menunggu jawaban yang tak kunjung keluar. Bisa Younji lihat, Minho juga terlihat bingung untuk menjawabnya.

“Katakan padaku, apa yang harus kulakukan jika aku jatuh cinta lagi padamu? Apa yang harus kulakukan pada suamiku?” tanya Younji sekali lagi. Younji akui, ia tak mencintai Onew—dan jelas ia tahu yang sama terjadi pula sebaliknya. Tapi Younji tak ingin mempermainkan pernikahan. Apalagi, ia tak bisa meninggalkan Onew dan berbahagia seorang diri. Mereka adalah teman, mereka harus saling mendukung hingga kedua dari mereka menemukan kebahagiaan yang mereka inginkan.

Kali ini Minho menjawab. Ia menarik nafas pelan—yang tak kentara. Ini adalah jawaban paling egois yang pernah ia berikan, “Maka biarkan saja hal itu terjadi.”

***

Younji duduk diatas sofa. Kedua kakinya ikut terangkat naik. Ia mengganti-ganti saluran televisi sambil memasang telinga baik-baik. Saat ia mendengar suara-suara dari luar apartemen, tubuhnya langsung menegak. Tapi setelah suara itu menghilang, kedua bahunya merosot turun. Ia sedang menunggu kepulangan Onew.

Mereka belum bertemu sejak kemarin—setelah acara sarapan bersama Nyonya Lee berakhir. Seharian ini Onew belum kembali ke apartemen. Lagipula malam sudah cukup larut sekarang. Biasanya, Onew tak pernah pulang malam. Sehabis menjemput Younji di kampus—saat ia sedang tak ada shift di cafe—Onew akan menemani Younji di rumah seharian. Atau saat Onew menjemput Younji pulang dari kerja sambilannya, mereka akan makan malam bersama dan menonton. Younji bahkan tak pernah melihat Onew menjalani aktifitas selain di rumah.

Pintu apartemen terbuka. Tak ada cahaya begitu Onew melangkah masuk. Pasti Younji sudah tidur, batinnya. Onew melepaskan blazer putih miliknya. Wajahnya terlihat lelah padahal ia hanya bersantai seharian di rumah Jonghyun bersama Taemin.

Langkah Onew terhenti begitu dilihatnya Younji terbaring disofa dengan layar televisi yang masih menyala. Onew terpaku di tempatnya. Ia memandangi wajah polos Younji dari kejauhan. Baru beberapa malam yang lalu ia begitu menikmati wajah bak malaikat itu. Sekarang semuanya mulai berputar terbalik. Onew masih bisa melihat bayangan malaikat saat ia memerhatikan wajah Younji. Tapi apakah ia menikmatinya? Yang ia tahu, perutnya terasa seperti dipilin-pilin, membuat ia merasa begitu tak nyaman dan tersiksa.

Onew melangkah mendekati Younji. Ia menggoyang pundak Younji tak terlalu kuat dan menyebut nama Younji beberapa kali untuk membangunkannya. Namun Younji bahkan tak bergerak sedikit pun. Onew meletakkan blazernya disandaran sofa. Ia merangkul tubuh Younji ke dalam gendongannya dengan lembut, memperlakukannya dengan begitu hati-hati. Onew memasuki kamarnya—kamar mereka—lalu membaringkan Younji sepelan mungkin. Dinaikkannya selimut berwarna coklat tua untuk menghangatkan tubuh Younji. Saat Onew sedang merapikan letak selimut, mata Younji terbuka perlahan.

“Oh, kau sudah pulang?” tanya Younji sambil mengucek sebelah matanya.

Onew mengangguk, “Jangan tidur di depan televisi seperti tadi lagi, tidak baik untuk kesehatan kalian.”

“Maaf, aku menunggu kau pulang dan tak sengaja tertidur.” gumam Younji yang separuh kesadarannya masih dikuasai rasa kantuk.

Onew melebarkan matanya selama beberapa detik karena tak percaya pada apa yang Younji katakan. Wanita itu menunggunya pulang? Apakah Younji mengkhawatirkan dirinya? Ingin sekali Onew bertanya, tapi ia menahan bibirnya rapat-rapat—tak merespon kata-kata Younji.

Onew memutar badannya dan mendengar suara Younji, “Kau tidak mau tidur?”

Onew berpikir cukup lama sebelum ia bisa menjawab, “Aku mau mandi dulu.” dan beranjak ke kamar mandi setelah mengambil handuk dan pakaian yang biasa ia pakai untuk tidur. Samar-samar ia mendengar Younji bergumam pelan setelah ia menutup pintu kamar mandi.

Setelah melepaskan baju yang ia pakai sekarang dan meletakkannya diatas tumpukan baju kotor di sudut ruangan, Onew berdiri di bawah shower dan menyalakannya. Air yang mengalir turun membahasi seluruh tubuhnya, membuat ia agak santai. Onew berdiri cukup lama di sana, tak bergerak sama sekali. Matanya terpejam, sedang menikmati waktunya yang tenang seorang diri.

Setelah merasa cukup mendapatkan ketenangan yang ia butuhkan, Onew membuka mata. Ia mengusap wajahnya beberapa kali menggunakan kedua tangan, menyeka butiran-butiran air yang menghalangi pemandangannya. Onew lalu menatap jari manisnya—jari yang terlingkari cincin pernikahan. Ia tak membuang banyak waktu dengan berlama-lama menatapi cincin berkilau miliknya. Onew segera menyelesaikan mandinya, lalu memakai pakaiannya dan keluar dari kamar mandi.

Rambutnya masih cukup basah, jadi ia mengangkat handuknya dan mengeringkan rambutnya sekali lagi. Dari tempatnya berdiri sekarang, ia bisa melihat Younji yang sepertinya sudah tertidur pulas. Onew meletakkan handuknya di tempat biasa. Ia berjalan mendekati Younji. Ia menatap wajah bak malaikat itu sekali lagi sambil menimbang-nimbang, haruskah ia tidur di ruang tamu malam ini? Tapi ia tak mau, ia ingin terus memerhatikan wajah Younji. Sebelum memutari tempat tidur untuk mencapai sisi ranjang yang kosong, Onew membuka laci meja di samping tempat Younji tidur. Ia melepaskan cincinnya dan menyimpannya di sana. Padahal cincin itu tak pernah ia lepaskan sebelumnya sejak ia dan Younji menikah. Tapi sekarang, cincin itu melingkari jari manisnya dengan erat, membuat ia begitu sesak. Onew tak suka ketika perasaannya yang tak menentu kembali muncul setiap kali ia melihat cincin pernikahan mereka, jadi lebih baik jika ia menyimpan cincin itu di suatu tempat.

Onew berbaring di atas tempat tidur. Tubuhnya diserongkan, menghadap ke arah Younji sementara sikunya membentuk sudut lancip dan dijadikan sebagai alat bantu untuk menopang kepalanya. Onew terus diam, seperti patung yang tak bisa berekspresi. Ia sibuk dengan pikirannya yang berbelit seperti benang kusut. Banyak hal yang ia pikirkan, tapi tak ada satu pun yang selesai ia pikirkan. Semuanya karena Younji. Ia terus bertanya-tanya, benarkah keputusannya untuk melibatkan Minho? Namun ia juga balik bertanya, mengapa ia tak boleh melibatkan Minho? Jika seandainya—yang selalu coba Onew sangkal—Younji masih menyukai Minho dan perasaan itu terus tumbuh bersamaan dengan janin yang ada di dalam rahimnya, itu bukan masalah bagi Onew—seharusnya tak menjadi masalahnya.

Onew kembali mengingat-ingat. Kemarin, begitu menyampaikan berita sukacita ini, Nyonya Lee melompat kegirangan. Tentu saja Nyonya Lee tak tahu asal-usul cucunya. Onew tak tega menceritakan yang sebenarnya pada Nyonya Lee, ia takut Nyonya Lee akan terkena serangan jantung—meski Nyonya Lee tak mengidap penyakit semacam itu. Selain karena memikirkan Nyonya Lee, ia juga memikirkan Younji. Kalau Nyonya Lee tahu yang sesungguhnya, ia tak yakin Nyonya Lee masih akan terus bersikap ramah seperti itu. Meski Younji tak salah, tapi Onew yakin dari sudut pandang Nyonya Lee—seorang ibu—tentu saja beliau tetap akan berpihak pada anaknya sebelum ia berpihak pada orang lain.

Onew mencoba untuk melarikan diri dari kenyataan—bukan kenyataan tentang kehamilan Younji yang tak diragukan lagi, tapi kenyataan bahwa ia memiliki perasaan khusus untuk istrinya. Ia terus mengontrol dirinya agar tak cemburu saat melihat kebersamaan Younji dan Minho kelak.

“Tapi ada satu hal yang tak kumengerti setelah bertemu pria bermarga Choi itu.” Onew berbicara pada Younji yang masih terlelap. Suaranya rendah, agar tak membangunkan Younji, “Dia terlihat seperti… pria baik-baik. Lantas apa yang membuatmu berjalan mundur?”

Onew menyapukan punggung tangannya di pipi Younji berkali-kali. Younji bergerak pelan, membuat Onew langsung menjauhkan tangannya. Younji bergumam tak jelas dalam tidurnya. Ia memutar tubuhnya dan semakin merapat pada Onew. Onew agak menjulurkan lehernya untuk melihat jarak yang nyaris tak banyak diantara mereka. Ia membiarkan Younji merapatkan diri padanya untuk mencari kehangatan. Onew merasa semakin aneh. Padahal ia masih merasa begitu tersiksa, tapi jantungnya kini berdetak lebih cepat dari seharusnya—membuat ia merasa sedikit lebih baik.

***

Onew membuka matanya. Ia bangun lebih dulu dari Younji. Mata Onew agak perih, mungkin karena kurang tidur. Ia tak bisa cepat terlelap semalam, selain karena banyak pikiran, hal itu juga disebabkan oleh Younji yang terus memeluknya dengan erat.

Onew turun dari tempat tidur dengan perlahan. Ia kembali membenarkan letak selimut Younji sebelum ia keluar dari kamar. Terdengar suara-suara dari dapur, membuat Onew tak perlu menebak siapa pelakunya.

“Selamat pagi, Eunri-ssi.” sapa Onew sambil tersenyum. Ia berdiri diambang pintu, memerhatikan Nyonya Lee yang sibuk mengeluarkan beberapa barang dari kantong belanjaan—sepertinya Nyonya Lee sengaja membelikan persediaan makanan bergizi untuk seminggu ke depan.

“Pagi, Anakku.” balas Nyonya Lee yang hanya menatap Onew sekilas lalu kembali menyibukkan dirinya. Onew tertawa kecil. Nyonya Lee benar-benar terlihat bersemangat menyambut kedatangan cucunya. Kedua sudut bibir Onew yang membentuk garis melengkung diwajahnya perlahan-lahan turun dan membentuk garis lurus. Onew berjalan lambat-lambat untuk mendekati Nyonya Lee. Ia memeluk pinggang Nyonya Lee dari belakang. Akhirnya, Nyonya Lee menghentikan kegiatannya. Ia agak memiringkan kepalanya untuk melihat Onew, tapi yang bisa ia lihat hanyalah rambutnya karena Onew membenamkan wajahnya di atas pundak Nyonya Lee.

“Ada apa?” tanya Nyonya Lee serius. Tak biasanya Onew seperti ini. Terakhir kali Onew memeluk Nyonya Lee seperti ini adalah ketika Tuan Kim muncul kembali dalam buku kehidupan mereka.

“Aku takut. Aku sangat takut, Eomma.” aku Onew jujur. Pelukannya semakin erat. Nyonya Lee tertawa sebentar dan mengelus puncak kepala Onew dengan keibuan.

“Kau tidak perlu takut. Menjadi orangtua tak seseram seperti yang kau bayangkan.” Nyonya Lee melepaskan pelukan Onew lalu memutar tubuhnya sendiri untuk menatap Onew, “Dulu aku juga takut, tapi ternyata menjadi orangtua itu sangat menyenangkan.”

Nyonya Lee mengusapkan ibu jarinya ke salah satu mata Onew yang terlihat agak bengkak—efek dari kurang tidur. Onew hanya membalas dengan senyuman. Nyonya Lee tak tahu. Dipikirnya Onew takut karena tiba-tiba harus menjadi orangtua. Tapi bukan itu yang ia takuti. Ia takut pada perasaannya sendiri yang semakin lama semakin tak menentu. Ia tak mau naik ke puncak Namsan Tower sekali lagi dan membiarkan orang lain mendorongnya jatuh.

“Selamat pagi.” suara Younji memecah keheningan yang meliputi Onew dan Nyonya Lee. Dua orang itu sontak menoleh bersamaan untuk melihat Younji berdiri diambang pintu seperti Onew tadi.

“Kau sudah bangun?” Nyonya Lee langsung melupakan Onew dan menghampiri Younji, “Apa kau merasa mual lagi?”

Onew menarik satu kursi dan duduk. Ia mengamati interaksi dua orang wanita yang terlihat semakin dekat itu tanpa berkata-kata.

Younji menggeleng pelan pada Nyonya Lee sebagai jawaban, membuat beliau tersenyum senang. Nyonya Lee mendorong Younji hingga terduduk di kursi sebelah Onew dan merangkapkan kedua tangannya di depan dada.

“Apa yang mau kau makan untuk sarapan?” tanya Nyonya Lee, perhatiaannya terarah penuh pada sang menantu.

“Aku mau sup.” sela Onew meski ia tahu Nyonya Lee tidak sedang bertanya padanya.

“Aku bertanya pada Younji.” tukas Nyonya Lee—sesuai perkiraan Onew.

“Kurasa sup juga oke.” jawab Younji sembari melirik Onew sesaat. Nyonya Lee mengangguk cepat dan segera menyibukkan dirinya. Nyonya Lee berseru tajam saat Younji berdiri dari kursinya, hendak membantu Nyonya Lee.

“Biarkan saja, Eomma menikmati kegiatannya.” bisik Onew pelan. Younji masih terlihat segan. Tak pantas rasanya jika membiarkan Nyonya Lee memasak untuknya, tapi mau bagaimana lagi. Nyonya Lee tak mengizinkannya untuk membantu, Onew pun tak menolong sama sekali.

Onew dan Younji duduk diam, memerhatikan Nyonya Lee yang memasak sambil bersenandung riang. Onew menopang dagu dan tersenyum kecil melihat tingkah Nyonya Lee. Onew memiringkan kepalanya, Younji balas menatap.

“Bagaimana tidurmu semalam?” suara Onew pelan, tak ingin kata-katanya di dengar Nyonya Lee. Younji tersenyum manis, membuat Onew menahan nafas selama sesaat.

“Tidurku sangat nyenyak. Kau sendiri?” Younji melihat setiap lekuk wajah Onew satu per satu dan menyadari mata Onew yang memerah. Tanpa disadari, tangannya bergerak lancar. Jari-jarinya hampir saja menyentuh kelopak mata Onew, tapi saat tangan Onew mencengkram pergelangan tangannya—tak terlalu kuat—barulah Younji sadar. Younji berdeham dan memalingkan wajahnya sambil bergumam, “Matamu agak bengkak.”

Nafas Onew agak memburu. Ia terlalu panik saat Younji hampir saja menyentuhnya, makanya ia menghentikan gerakan Younji. Bukannya ia tak suka saat Younji menghantarkan sambaran-sambaran listrik melalui kulitnya, tapi ia tak mau terhanyut dalam keadaan yang sudah kacau.

Mata Onew terarah pada pundak Younji—pundak yang terlihat begitu nyaman. Harusnya Onew sadar, harusnya ia tak boleh membiarkan dirinya terhanyut semakin jauh. Tapi ia justru menyerah, membiarkan arus membawanya pergi. Onew menyandarkan kepalanya di pundak Younji—bisa dirasakannya wanita itu tersentak kaget.

“Aku tak bisa tidur.” gumam Onew setelah matanya terpejam.

TO BE CONTIUNE . . .

©2011 SF3SI, Yuyu.


This post/FF has written by Yuyu, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF


181 thoughts on “Married By Accident – Part 5

  1. Aduh aduh ini knapa ini, knapa jadi anak minho ?!
    Hei minho skarang anakmu ada dirumahku
    Kekeke~
    Onew dan istrinya jangan diganggu dulu ye minho
    Next chapt. Will be complicated ?!

  2. Gak kebayang jadi Onew… Huaaa,, nyesek pasti😦 Younji jangan mau dibantuin Minho ya, kasian Onew… Besok ceritanya dibikin keguguran aja, jadi ga bikin Onew sakit hati (?) #sarankejam hohoho
    Udah baca yang ffnya diplagiat… Sabar yaa,, semoga masalahnya cepet clear dan gak terulang lagi… Hwaiting!!

  3. nyesek….
    huwa~
    q bharap BGT klo onew salah,
    q brharap klo anak yg dkndung ama younji itu anaknya onew..
    mungkin kh?
    q ngga tega ngeliat onew sedih…
    huwa~
    jdi ikutan sedih…

  4. Ya allah
    buat jinppaku bh6ia,bwt y0ujin jg cnta m dia,bwt merka ber2 ntr bnr2 px ank.
    Huhuhuhu author tega dueh#NaRIk2 bju auThor dg bringas# ayo thor bwt jinppaku jgn sdh mulu,bwt y0ujin jel0us,bwt JINPPAku gk pdli m y0ujin,bwt y0ujin menysal memperlakukn jinppa.tetp gk stju mski oppaq rela.menrtq tetep aj skp y0jin salah,blm nkh udh itu’ituan,bkin subel lho y0ujin.aaah tp bgmnpun hrus dsatukn y,seingtku ntr kgu2rn y#audubilamindalik#aq jg lg hamil mg gk gt y on.smg mski y0ujin gt mrk akhrx px de2k.amin.mkci dgr crhtnq.by.uni syg.emuah muah#pluk cium auTHt0r brg jinpa#

  5. Huhuhuhuhuhu….T_T
    kcean onew… msak hyus skit hti lgi??? dg ksah yg sma pula… klo aku jdi onew pasti dah nonjok Minho.. tpi onew benar ini bkan 100% ksalhan Minho atau Younji….
    Onew bijaksna jga…
    Bkin Younji ngelupain Minho dan jtuh cinta ma Onew donkz… saat2 mesra onew dan younji jg d banyakin ya…

  6. yak.. Nyesek bgt jdi onew.. Mdh2an itu bukan anak minho.. Coz t’nyata mrk mlakukan yg ‘iya2’ pda mlam itu tnpa mrk sdari#yadong stengah kumat
    ah.. Stuju sma younji.. Jgn mau dibantu minho..
    Younji cuma buat onew.. Hehe
    next.. Next..
    Gomawo..

  7. Waaaah, telat bacaaaa
    Ceritanya complicated banget deh di part ini.
    Baik onew, younji, ataupun minho, Semuanya sama-sama serba salah.
    Tapi uri dubu yang paling kasihan T.T
    Kayaknya part-part selanjutnya bakal penuh kesedihan dari Onew.
    Agak gak rela juga waktu Onew nyuruh Minho ikut memeriksakan bayinya.
    Pokoknya Younji jangan sampai jatuh cinta lagi ma Minho ya, thor!
    Younji cuma ditakdirin buat Onew, bukan buat yang lain, Okay?

  8. nyesek bacanya,,,
    kasian Onew,,,
    semoga hubungannya dan Younji berjalan dg lancar (?),,,
    baru ngrti,
    trnyata Younji kabur dari gereja gara2 itu ya,,,
    ehhmm,,,

    Lanjuuuuutttt,,, ^^b

  9. akhirnyaaaaaaa~ onew udah mulai jatuh cinta nih sama younji, gasabar banget nunggu lanjutannya kaya gmn pasti makin seru~
    ikut sedih pas tau cerita author ada yg plagiat:( pada ga kreatif main plagiat aja. semangat ya author! fighting!

  10. wiii .. maap ya eonni. aku baru komen di sini😀 mau cerita boleh ngga eonn? boleh ya? boleh ya? *gaje mode on

    waktu pertama baca teaser MBA tertarik banget, tapi pas liat itu side story dari ff sequel lain(incomplete marriage) langsung ga semangat, *maklum reader pemalas hehe
    eh tapi waktu MBA part 4 di publish aku jadi penasaran. langsung malem itu juga aku baca incomplete marriage part 1-8 .. jadi ngeh sama onew-younji. terus kelepasan(?) deh baca MBA part 1- sini .. kkk~
    Aku kan reader setiamu eonni~ (padahal jarang komen, wkwkw)

    btw .. di part ini banyak scene JongYu yaaah, senangnyaa *celingukan cari-cari Jongki oppa

    AAAH pengen cepet” baca part younji keguguran .. TT^TT
    maap lagi ya kalo komennya kepanjangan dan menyebalkan😀

    1. bole, bole, cerita aja *gak di kasih ijin juga tetep aja cerita =p*

      oh, gitu yah??
      kekekeke,
      untung aja akhir-akhirnya tetep baca yah
      *author kesenengan*

      gak apa-apa =D
      aku justru seneng baca komen yang panjang kayak gini~~
      gomawoyo

  11. Onew sbgai suami psti kalut,, mau egois susah..
    Jg sampe younji deket sm minho lg,, kasiaan onewnya

    Bagus alurnya,, wait for the next part chingu.🙂

  12. Sebelum saya komen, saya mau bilang kalau saya ikut prihatin dengan kejadian plagiat yang korbannya ternyata anda. Huuu… yang sabar ya, eon?😦
    Yang terpenting pencipta aslinya adalah anda, dan andalah yang membuat karya itu menjadi ada. Jadi banggalah karena hal itu…😀

    Dan soal cerita yang satu ini, demi apapun saya sangat menyukai bahasa yang anda gunakan. Selain alurnya benar-benar bagus, saya menjadi sangat menikmati bacaan saya karena gaya bahasanya itu….. Salut banget untuk anda ^^b

    Onew, aku rasa dia mulai merajut perasaan yang lebih mendalam pada Younji. Aku harap Younji bisa membalasnya dan melupakan Minho… #weiishh kejam

    Lanjutannya ditunggu, eonie…
    Tetep semangat ya…🙂

  13. wahhh nyesek banget dhe low jd onew… hikss kasihan onew’y … authour lnjutin ya FF’ya … dah gx sabar pengen baca part 6 …
    pngenya younji’y keguguran hehehe # sadis.
    ayoo part selanjutnya… #dah gx sabar…

  14. Shock banget klo aku jadi Jinki….
    kasian Jinki…

    aku msih blom ngeh nih ma konfliknya si minho ma Younji..

    sabar ya Jinkii…

    hwaiting thor ^_^

  15. huaa~ kok malah anak minho sih..
    aduhh, geregetan bacanya *bantal, mana bantal? pengen gigit bantal*

    sik, assiikk.. onew mulai ada rasa ama younji😀
    mantap ff nya thor (y)
    di tunggu next chapt-nya yaa..
    oh iya, salam kenal thor.. aku mah baru di sini🙂

  16. baru bbrpa hari gak ke blog ini dan pas buka udh ada MBA. yeay!😀
    hah…agak nyesek yah.
    sayang bgt ank yg ada di rahim Younji bukan anak Onew.
    tpi.mlh anak Minho.
    lagian sih Onew kenapa gak ngelakuin’itu’ sih? hehe (msh kcil.udh yadong aja otaknya) kekeke :p
    kira2 gmna yah klnjutnnya?
    ibunya onew bakal tahu gk yah klo janin yg lgi di kandung Younji itu bkn anaknya Onew?
    smga aja younji gak bakal suka lagi sma Minho. younji sama Onew aja. #maksa kekekke
    daebak eon! ^^
    di tunggu bgt klnjutannya😀
    hwaiting eon!

  17. aiiyaa aku br baca ni FF, author… bagian2 akhir part ini terlalu bagus :’) aku speechless.. bahkan aku udah kyk ngerti aja sm ff ini hnya dgn bc part 5nya. Aku harus bc part2 sebelmnya nih! fighting untk lanjutannya thor🙂

  18. aigooooo~ TBC lagi?
    Haishhh~ Onew-oppa, hwaiting ne, jangan bersedih lagi seperti itu.😥
    Yuyu-eonnie, jebal, palli post lanjutannya, aku gak sabar.😀

  19. telat banget aku ngoment nih-__-
    maaf onnie padahal udah beberapa hari yang lalu aku selesai bacanya
    tapi kata ‘malas’ menenggelamkan diriku(?) #curcolgakjelas
    hah sumpah keren ini onnie
    nangis beneran aku, apalagi kondisi aku yang juga lagi drop
    bacanya ini bikin tambah drop
    tapi aku suka(?)*aneh*
    kasian sama onew, nyesek banget jadi dia
    younji jangan berpaling dari onew
    jangan kembali ke minho
    sumpah nyesek onnie
    rasa pingin aja nampar siapa gitu(?)
    hah sampai sini dulu ah
    emosi aku lagi gak stabil pula
    nanti ada apa apa dengan onnie (?) lol
    good job onnie
    lanjutkan terus karyamu walau banyak yg menghambatmu:D

  20. berhubung skali baca langsung kesini,jdi mesti nyari dari awal de biar ngerti
    aku suka bahasany,ga terlalu formal tow informal
    ceritanya seru,anak minhonya digugurin aja
    ntar bkin anak ma onew😀
    tpi alurnya kelamaan chingu…
    bkin addict,jdi g sbar baca part selanjutny

  21. gak mau tau onn, next chap ya, kkk~

    Aku gak banyak komen cz aku suka gaya bahasa-nya Yuyu onn.. Oya, aku juga turut prihatin sama kasus plagiat itu.. Harusnya orang kek gitu dimusnahin aja di dunia ini, Gak tau apa kao bikin FF itu gak gampang. hih!

    1. hihi, udah-udah sabar..
      aku udah ikhlas masalah plagiat itu, yang penting sekarang orang-orang yang sebelumnya ngira itu hasil si plagiator sekarang udah tau siapa penulis aslinya,
      itu yang terpenting^^
      makasih banyaaaak

  22. sedihnya onyu, entah kenapa aku jadi merasakan kegalauan onyu juga (?). aku turut prihatin sama kasus plagiarismenya Yuyu. aku ga pernah dipalgiat sih, tapi temenku pernah dan aku yang temennya aja keselnya setengah mati sama si pelaku, jadi aku ngerti gimana rasanya dipalgiat. semangat terus ya Yuyu, terus bikin karya-karya yang keren lagi🙂

  23. udah baca sejak publish nya, baru ninggalin jejak nih abis baca ulang lagi
    dan saya tak pernah bosan-bosannya mengatakan:YUYOUNJI DAEBAK!

    Gimana yaaa, soalnya tiap fanfic buatan yuyu kesannya yuyu udah pengalaman banget gitu #hoho
    Gak sabar nunggu part selanjutnya!

  24. onew kasiaaan,pasti dia kecewa bgt pas tau younji hamil tp bukan hamil anak dia…onew udah jth cinta ama younji tu..terus ntar gmn kelanjtn’na..penasaraaan tingkat akut

  25. huaaaa..
    nyesek banget liat onew…😥
    ahk, kasihan liat Ny. Lee, huaaa, takut murka, trnyata itu bukan cucunya… ya ampun, itu babby bisa menyebabkan nangis beruntun…. eh? #plakkk..
    tapi senang, onew sudah biasa sedikit menerima…😥 tapi ttp saja, ga rela,,huaaa, masa itu bayi anak minho….gak relaaaa… huhu..
    Lanjott…

  26. ini nih.. ini yang gak aku suka kalo lagi baca FF romance. Pas keduanya lagi mulai merasakan benih benih cinta *aigoo bahasanyaaa*,,, tiba-tiba konflik mulai muncul. KENAPA MESTI ADA BAYINYA MINHO HAH? AKU EMOSI INI, ESMOSI!!! *turunin bendera kolor onew*
    Semoga On-Ji baek” aja. Kalo sampe tuh anak bikin perasaan onew labil, gue bejek-bejeeekkkk~

  27. kejadian hamilnya Younji membuka lagi luka lama Onew soal Minyoung.
    duh nyesek banget lah. apalagi di tambah dengan kerelaan Onew supaya Minho ikut andil dalam ngejaga si jabang bayi. tapi yang bikin terharu lagi, Younji tidak mengijinkan hal itu. dia cuma mau Onew yang ngejaganya. so sweet. ^^

  28. Hiks kasian onew jadi mirip ama jonghyun juga.. 2 sahabat y lagi tersakiti =(( tapi seriusan.. ini onew ama younji nya sweet banget. Biarpun mereka nikah ga karna cinta..

    Makasih ya author karena terus berkarya..really thanks for you.. bout the plagiat. I already sent a comment in your blog.. love you ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s