This’s My Dreams – Part 4 (End)

This’s My Dreams [Chapter 4/end]

Tittle        : This’s My Dreams
Author        : Shin Ayra a.k.a Rara
Main Cast :
@ Yoo Hye Chan
@ Lee Jinki (SHINee)
Support Cast :
@ Hyobin
@ Taera
Length        : Sequel
Genre        : Romance
Rating        : PG 15-17

Annyeong Chingu……….HWWWwwwwaaaAAahhhHHH!*teriak sambil loncat-loncat kegirangan* seneng banget rasanya nie ff dah jadi. Maklum nie ff debut ku. Jadi mian kalau masih banyak kesalahan.
Ingat ya chingu! Nie ff hasil imajinasiku saja. Jadi tidak ada hubungannya dengan kehidupan nyata.
BILA TERDAPAT KESAMAAN NAMA, KARAKTER BAHKAN CERITA, ITU SEMUA TERJADI TANPA ADANYA UNSUR KESENGAJAAN.
Jeongmal! Nie ff murni dari pikiranku sendiri. So…….HAPPY READING

>>>Yoo Hyechan P.O.V<<<
@@@@@
Saat ini aku masih berada di toilet sekolah setelah buang air kecil. Akupun memutuskan untuk keluar setelah merapikan seragam dan rambutku. Tetapi aku ditahan oleh dua orang yeoja, aku tak mengenal mereka karena mereka berdua adalah Sunbae-sunbae ku.
“Sunbae, permisi! aku mau lewat,” ucapku sopan.
“Mau lewat ya?” ucapnya sedikit meremehkanku.
“Ne!” jawabku takut.
“Tidak usah mengulur waktu, ayo kita bawa dia!” perintah yeoja yang satunya. Dan akhirnya akupun ditarik oleh mereka. Aku tak tau akan dibawa kemana dan untuk apa. Perlawanankupun tak membawa hasil, mereka tetap menarikku karena tenaga mereka lebih kuat dariku.
“Kyaaaa Sunbae, SaKiiiiiT,” rintihku tetapi mereka tetap tak mempedulikannya. Aku hanya bisa meronta dan menahan sakit dari genggaman mereka. Hingga akhirnya mereka melepaskanku setelah kami sampai di taman belakang sekolah. Sebenarnya tempat ini tidak pantas disebut taman. Karena tidak ada bunga yang tumbuh disekitar sini, hanya padang ilalang yang panjangnya melebihi mata kakiku. Aku hanya bisa bertanya-tanya ‘untuk apa mereka membawaku kemari?’
“Sumbae, untuk apa kita kemari?” tanyaku dengan nada bergetar.
“Kau akan tau sebentar lagi,” ucap salah satu dari mereka.
“Kau sudah menunggu lama rupanya,” suara berat seseorang mengagetkanku. Akupun segera  menoleh kebelakang, mencari tau siapakah sang pemilik suara itu.
“Hyobin Sunbae?” kataku terkejut melihat seseorang yang berada didepanku saat ini. dia bersama Taera dan dua orang namja yang tak kukenal. Mereka berempat berjalan dengan angkuhnya seperti algojo yang siap memberikan hukuman pada tawanannya. Hyobin Sunbae adalah namja tampan sekaligus kakak sepupu Taera yang pernah menyatakan perasaannya padaku. Tetapi aku tidak menghiraukannya, di sekolah ini dia terkenal dengan keangkuhannya. Walaupun begitu, banyak yeoja yang bersedia mengantri untuk menjadi yeojachingunya. ‘tetapi,untuk apa dia membawaku ke tempat ini?’ tanyaku heran.
“Untuk apa sunbae membawaku kemari?” tanyaku to the poin
“Jangan terlalu terburu-buru sayang, masih banyak hal yang perlu kita bicarakan,” ucapnya pelan sambil mendekatkan mukanya di depan mukaku yang membuatku begitu takut.
“Sudahlah oppa, jangan basa-basi. Kau katakan saja apa yang ingin kita katakana padanya,” ucap Taera ketus. “Jika oppa tidak ingin mengatakannya, aku yang akan bicara padanya,” lanjut Taera.

@@@@@
>>>Lee Jinki P.O.V<<<
‘Hyechan, dimana dia sekarang?’ aku masih resah dan terus memandangi jam tanganku, tetapi Hyechan belum juga kembali ke kelas. Dua menit lagi bel masuk kelas akan berbunyi, eoddeokeh?. Akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan kelas dan mencari Hyechan, entah kenapa perasaanku benar-benar tidak enak. Tempat pertama yang kudatangi adalah toilet wanita, barangkali dia disana. Tanpa pikir panjang aku mesuk kedalam toilet tersebut, untung saja tidak ada orang disana termasuk Hyechan. Kususuri lorong sekolah yang sepi, akupun tak yakin jika Hyechan ada disana. Dan setelah itu bel masukpun berbunyi. ‘bagaimana ini? bel masuk sudah berbunyi. Apakah aku harus kembali ke kelas atau tetap mencari Hyechan?’ berbagai pertanyaan menghinggap dikepalaku. Dan akhirnya kuputuskan untuk kembali ke kelas. Mungkin saat ini Hyechan pun sudah kembali ke kelas. Eits! Tapi tunggu dulu! Pandanganku sekarang tertuju pada sebuah gelang yang terjatuh dilantai. Untuk memastikan akupun mengambilnya. Bukankah ini gelang yang selalu dipakai Hyechan?’ tanyaku. ‘bearti dia pasti ada disekitar sini.’ Kemudian aku berlari dan mengedarkan pandanganku untuk mencari keberadaan Hyechan. Hingga kutemukan sekelompok orang sedang berkupul di taman belakang sekolah ‘bukankah itu Hyechan?’ aku begitu terkejut melihat Hyechan sedang di introgasi oleh tiga orang namja dan tiga orang yeoja layaknya penjahat. Dan salah satu dari yeoja itu adalah teman satu kelasku, Taera. ‘apa yang mereka lakukan pada Hyechan?’ akupun mendekatkan diri supaya dapat mendengar percakapan mereka.
“Sudahlah oppa, jangan basa-basi. Kau katakan saja apa yang ingin kita katakana padanya,” ucap Taera ketus. “Jika oppa tidak ingin mengatakannya, aku yang akan bicara padanya,”. ‘sebenarnya apa yang ingin dikatakan Taera?’ tanyaku dalam hati. Dan sekarang kulihat Hyechan sudah sangat ketakutan. Ingin rasanya aku menolongnya segera, tapi aku lebih ingin mendengar setiap pembicaraan mereka.
“Kau Hyechan. Apa hak mu menolak cinta oppaku hem,? Tak sadarkah kau bahwa kau begitu beruntung mempunyai kesempatan untuk menjadi kekasih oppaku. Kau benar-benar tidak tau diri!” ucap Taera keras pada Hyechan. ‘mwo? Jadi namja itu menyukai Hyechan,’
“Tap…..tapi. aku memang tidak menyukainya Taera,” jawab Hyechan  terbata-bata.
“Oh! Begitukah? apa bukan karena kau menyukai namja yang bernama Jinki itu,? Tanya namja itu pada Hyechan. Dia bahkan tak segan-segan memegang dagu Hyechan dengan kerasnya ‘ukh! Pasti sakit sekali.’
“Apa itu benar Hyechan-ah? Apa kau menyukainya?” Tanya Taera. Hyechan hanya bisa membisu. “hahaha, tak mungkinlah Jinki menyukaimu Hyechan. Walau kau begitu tergila-gila padanya,” lanjutnya.
“Dan yang harus kau lakukan sekarang adalah menjauh dari Jinki dan terimalah cinta oppaku ini!” perintah Taera.
“Taera-ya, mana mungkin kau menyuruhnya seperti itu. Bagaimana jika mereka berdua sudah berpacaran. Kau tak mungkin memisahkan mereka bukan?” Tanya namja itu pada Taera.
“itu jika mereka berdua pacaran oppa, tapi kenyataannya tidak kan. Kita masih bisa memiliki mereka,” jawab Taera ‘oh! Jadi itu mau mereka.’ Akupun yang mendengar hal tersebut segera menghampiri mereka.
“Sayangnya kenyataan tak seperti yang kau harapkan Taera,” ucapku yang membuat mereka semua menoleh padaku.
“Ji..jin…ki,” ucap Tera terbata-bata “apa yang kau maksud? Tanyanya kemudian.
“Apa yang kumaksud? Sudah jelas Taera, kau menyakiti yeojachinguku. Dan itu artinya kau juga menyakiti perasaanmu,” ucapku dengan lantang.
“Mwo? Yeojachingu? Apa yang kau maksud adalah Hyechan?”
“Ne! siapa lagi,” jawabku dengan bangga seraya aku melepaskan Hyechan dari dekapan mereka.
“Itu tidak benar kan Jinki? Kau tidak bepacaran dengan yeoja aneh ini kan? Mana mungkin kau menyukainya,” ucap Taera tidak percaya.
“Itu benar Taera, jadi mulai sekarang jangan ganggu Hyechan lagi!” perintahku.
“Sudahlah Taera, mereka saling mencintai. Sebaiknya kita tidak mengganggu mereka lagi,” ucap namja itu berusaha menenangkan Taera.
“Shiroh oppa, Jinki berdusta. Dia berbohong seperti itu untuk melindungi Hyechan supaya kita tidak mengganggunya lagi. Aku benar kan Jinki?” Tanya Taera padaku dan amarahnyapun semakin memuncak.
“Apa yang harus kulakukan supaya kau percaya dan melupakan cintamu padaku Taera-ya?” Tanyaku geram.
“Buktikan padaku! buat aku percaya jika kau benar-benar mencintai yeoja aneh ini. dan saat itu terjadi, aku akan melepaskan kalian berdua. Aku akan berhenti mengejarmu Jinki-ya,” teriak Taera. Mendengar hal tersebut akupun begitu marah, sebal melihat tingkah laku Taera.
“Baiklah! Akan kubuktikan padamu saat ini juga,” tanpa pikir panjang lagi aku menarik Hyechan dalam pelukanku. Dan didepan mereka semua aku mencium bibir mungil Hyechan. Menempelkan bibirku diatas bibirnya dalam waktu yang lama. Mereka semua terkejut akan apa yang aku lakukan termasuk Hyechan. Dan saat aku yakin mereka sudah mempercayainya, aku melepaskan ciumanku dan menarik Hyechan untuk pergi dari tempat ini.
“See! apa kalian masih belum percaya juga? Ayo kita pergi dari tempat ini Chanie!” ajakku seraya menarik tangan Hyechan dan membawanya pergi dari tempat ini. Meninggalkan mereka yang masih terkejut dan mematung.
@@@@@
>>>Yoo Hye Chan P.O.V<<<
Aku masih mengurung diri dikamar, menenggelamkan kepalaku pada tumpukan bantal dan selimut, menangisi apa yang dilakukan Jinki padaku hari ini. Tak kusangka, Jinki namja yang paling dekat denganku dan satu-satunya teman yang bisa mengerti diriku tega melakukan hal itu. Mempermalukanku di depan banyak orang hanya demi ketenangan dirinya seorang. Hanya untuk supaya Taera, yeoja yang menyukainya tidak mengganggunya lagi. Dan yang lebih parahnya lagi adalah………..firstkiss ku, dia telah mencurinya. “BRENGSEK KAU JINKIIIiiiiiii,” teriakku.
Aku sungguh marah padanya. Setelah kejadian itu dia berusaha mengejarku, menjelaskan atas perlakuannya padaku. Tetapi aku tak ingin mendengarkan penjelasannya saat ini. Melihat wajahnya saja aku begitu muak.
“Hyechan-ya, bolehkah eomma masuk?” suara eomma mengagetkanku. Mungkin dia mendengar teriakanku tadi, sehingga eomma menghawatirkanku.
“Ne eomma, masuklah!”
“Gwaenchanayo? Kau terlihat habis menangis?” Tanya eomma khawatir.
“Gwaenchana eomma,” jawabku.
“Akh! Eomma hampir lupa. Ada seseorang yang mencarimu, eomma suruh dia untuk menunggu di ruang tamu,”
“Nugu?” tanyaku.
“Molla. Eomma lupa menanyakan namanya. Sebaiknya kau segera menemuinya! Tak enak menyuruhnya menunggu terlalu lama,”
“Ne! arra,” jawabku. Akupun membereskan pakaian dan wajahku setelah eomma pergi. ‘Siapa yang menemuiku sore-sore begini? Bukankah tak banyak teman disekolah yang mengetehui rumahku?’ tanyaku dalam hati. Segera aku menemui orang itu untuk menjawab rasa penasaranku. Dan coba tebak apa yang kurasakan setelah melihat sosok sang tamu. Ya! Aku sangat terkejut, marah, sebal, dll.
“Untuk apa kau kemari hah?” tanyaku kasar dan dia hanya menunduk.
“Chanie, dengarkanlah penjelasanku dulu. Jebal!”
“Tak perlu ada yang kau jelaskan dan akupun tak perlu untuk mendengarkan. Semuanya sudah terlihat jelas. Kau hanya memanfaatkanku Jinki, kau tega melakukan hal itu supaya Taera berhenti mengejarmu. Kau sungguh keterlaluan,” ucapku lirih, tak terasa air mata kini sudah membasahi pipiku.
“Aku tak bermaksud seperti itu Chanie, sungguh!” jelasnya.
“Stop memanggilku dengan sebutan itu! Aku muak mendengarnya. Kau adalah namja yang bisa membuatku percaya pada kebahagiaan di dunia nyata dan kau juga yang telah menghancurkannya. Terimakasih atas segala yang telah kau berikan. Silahkan pergi dan jangan ganggu aku lagi!” bentakku padanya.
“Mianhae jika aku begitu menyakiti hatimu. Semoga kau akan selalu bahagia, annyeong…..,” ucapnya. Dan setelah itu Jinki keluar dari rumahku dengan muka yang ditekuk. Sungguh! Aku tak ingin ini terjadi pada kami, tapi rasa benciku padanya mengalahkan segalanya.

@@@@@
Pagi harinya di Seol Highschool…………,
Aku sedang duduk manis di bangku sambil mencorat-coret kertas gambarku menunggu bel masuk kelas berbunyi. Tapi aku sama sekali tidak konsentrasi, entah mengapa perasaanku sangat tidak enak. Pikiranku melayang entah kemana, bahkan gambar yang kuhasilkanpun sangat jauh diluar harapan. Dan yang lebih anehnya lagi, sampai jam segini Jinki belum juga datang. Tak biasanya dia terlambat masuk sekolah ‘Aish! Untuk apa aku memikirkan namja brengsek itu’ runtutku.
Hingga jam keempat dimulai, Jinki belum juga tiba diruang kelas. Dia tidak berangkat sekolah tanpa surat ijin. Benar-benar bukan karakternya, ataukah memang ini karakter Jinki yang sesungguhnya? Sungguh aku sekarang tak peduli, lebih tepatnya berusaha tidak peduli. Karena pada kenyataanyapun akumasih memikirkannya. Hingga akhirnya kabar dari ketua kelas kami mengagetkanku. Kabar yang memberitahukan bahwa Jinki mengalami kecelakaan motor saat perjalanannya menuju ke sekolah. Aku yang mendengar berita tersebut sangat terkejut, aku bahkan merasakan ada sebuah batu besar yang menghantam tubuhku. Membuatku tersentak dan merasakan sakit yang teramat sangat.
Akhirnya aku memutuskan untuk ijin pulang lebih awal dengan alasan tidak enak badan. Aku sungguh khawatir akan keada Jinki dan ingin segera memastikannya di rumah sakit. 30 menit perjalanan dengan menggunakan taxi akhirnya membawaku ke Seol International Hospital. Kutanyakan pada receptionis dan kucari dimana kamar Jinki dirawat. Dan setelah kutemukan dimana kamar itu berada, kulihat eomma dan appa Jinki baru keluar dari kamar Jinki. Perasaanku semakin tak menentu setelah melihat eomma Jinki keluar dengan mata sembab dan air mata yang masih mengalir.
“Ahjuma, gwaenchanayo?” tanyaku khawatir.
“Jinki terbebas dari masa krisisnya Hyechan-ah, tetapi sampai sekarang dia belum juga sadarkan diri,” ucap  ahjusshi. ‘separah itukah? Dan aku merasa jika ini semua adalah salahku. Eoddeokeh?’
“Temuilah dia Hyechan-ah! mungkin Jinki akan bersedia bangun jika mengetahui kau ada di sampingnya,” pinta ahjuma padaku.
“Ne!” dan setelah itu, aku memasuki kamar rawat Jinki dengan langkah gontai. Disana terdapat sosok namja yang terbaring lemah dengan kepala dan tangan kanan yang diperban. Jarum infuspun menancap manis di tangan kirinya. Aku yang melihatnya juga ikut lemah dan lemas. Kududukkan diriku dikursi samping tempat tidur Jinki. Kugenggam tangannya, kupandangi wajah pucatnya dan tak terasa air mataku pun mengalir.
“Jinki-ya…..bangunlah! aku bersedia memaafkanmu dan melupakan segalanya jika kau bangun. Sungguh!” ucapku lirih dan tetap menggenggam tangannya. “ini semua salahku, kau seperti ini karena aku. Aku memang bukan sahabat dan teman yang baik Jinki-ya. Bangunlah…..Jebal!” kutumpahkan air mataku disampingnya, sungguh aku hanya ingin dia bangun dan sehat kembali. Aku tak sanggup jika dia pergi dariku, dan aku sangat menyesal atas perlakuanku padanya. Di tengah-tengah tangisanku, aku  merasakan ada sebuah tangan hangat yang menyentuh pipiku dan perlahan menghapus air mataku. Dan kemudian terdengar suara lirih dari seseorang.
“Chanie, jangan lagi menangis untukku!” aku sangat terkejut mendengarnya, dengan segera kubuka mataku untuk memastikan apa yang terjadi. Dan coba tebak apa yang kulihat? Sekarang aku melihat wajah pucat yang berada didepanku ini sudah membuka matanya dan tersenyum padakau.
“Jinki-ya,” ucapku sembari menghapus air mataku.
“hahaha….,” kulihat dia tertawa dengan wajah yang masih menunjukkan rasa sakit.
“Apa yang kau tertawakan? Tanyaku masih tak mengerti.
“Kau,” katanya sambil menunjukku “kau begitu mengkhawatirkanku, tetapi kenapa kau tidak mau mendengarkan penjelasanku kemarin hem?” tanyanya setengah mengejek.
“Jinki! Sudahlah! jangan pikirkan masalah itu dulu. Lebih baik kau pikirkan saja kesehatanmu. Kau tak mau berlama-lama menetap di rumah sakait kan?” ucapku. Dia hanya membalas dengan senyuman.
Dan pada hari-hari berikutnya aku selalu menjenguk Jinki di rumah sakit setelah pulang sekolah. Membawakannya makanan dan menceritakan apa yang terjadi di sekolah pada hari itu. Membawanya ke taman rumah sakit supaya dia tidak merasakan bosan. Dan seperti hari-hari sebelumnya, akupun berencana menjenguk Jinki dirumah sakit. Bahkan sekarang aku sudah berada di depan kamar rawat Jinki. Kubuka pintu kamar tersebut, tapi apa yang kutemukan. Ternyata Jinki sedang tidur dengan pulasnya dan mana mungkin aku membangunkannya. Akhirnya kuputuskan untuk menunggunya bangun dan kududukkan tubuhku di kursi samping tempat tidur Jinki.
Wajahnya yang masih sedikit pucat itu kini tertidur dengan pulas. Perbanpun kini sebagian juga sudah dilepas, tidak lagi melilit seluruh kepala Jinki. Dan tanpa sadar aku mulai mengelus kepalanya.
“Jinki-ya, terima kasih karena kau masih bersedia untuk menemaniku dan tidak pergi meniggalkanku. Terimakasih karena kau mau bertahan untukku,” ucapku lirih dan masih mengelus-elus puncak kepalanya. “Cepatlah sembuh Jinki! Kumohon. Aku sangat kesepian tanpamu disekolah. Akupun tak dapat mengerjakan soal-soal bahasa Jepang tanpa bantuanmu. So, cepatlah sembuh dan jadilah namja ceria seperti dulu lagi,” setelah perkataanku itu selesai, akupun memberikan kecupan manis di kening Jinki. Untung saja dia masih tertidur, karena aku tidak mungkin berani melakukan hal tersebut jika dia sedang terjaga.

>>>Lee Jinki P.O.V<<<
Aku terbangun dari tidurku karena kurasakan tangan lembut seseorang mengelus-elus kepalaku. Tapi aku tidak segera membuka mataku, hanya mendengar setiap kata yang diucapkan oleh sang pemilik tangan yang kuyakini itu adalah suara milik Hyechan. Dia berkata bahwa dia sangat bahagia karena aku selamat dari kecelakaan itu dan berharap supaya aku cepat sembuh. Dia pun berkata bahwa dia sangat kesepian saat aku tak ada disisinya. ‘itukah perasaanya Selama ini?’ ‘apakah itu artinya cintaku tidak bertepuk sebelah tangan?’. Kurasakan hatiku sedang berlonjak dan berbunga-bunga saat ini. Dan saat kurasakan Hyechan akan beranjak dari tempat duduknya, segera kutarik tangannya untuk tetap duduk disampingku.
“Jinki-ya?” Hyechan terlihat sangat terkejut sekaligus malu saat aku menarik tangannya. Sepertinya dia merasa tidak enak karena telah ketahuan menciumku tadi.
“Aku ingin pergi ke taman,” ucapku padanya.
“Ah! ne,” ucapnya kikuk. Kami pun berjalan berdua menuju taman rumah sakit. Aku sudah sedikit baikan sekarang, sehingga aku bisa berdiri dan berjalan tanpa bantuan kursi roda. Hanya saja kepalaku terkadang masih sedikit pusing sehingga Hyechan pun tak melepaskan tangannya dari lenganku selama perjalanan menuju taman. Sesampainya ditaman kami duduk di sebuah kursi dibawah pohon yang rindang.
“Jinki-ya, apakah kau mendengar semua yang ku katakan di kamar tadi?” tanyanya gugup. Aku yang mendengarnyapun hanya bisa berdigik geli dan tertawa. “Ya…kenapa kau malah tertawa?” protesnya.
“Ne! Chanie……aku mendengar semuanya. Aku mendengar bahwa kau kesepian tanpa diriku. Benar kan?” ucapku sedikit menggodanya
“Jeongmal? Ukh….. malunya,” dia berkata demikian sambil menepuk-nepuk mukanya sendiri. Dengan cepat aku memegang kedua tangannya untuk mencegahnya menganiaya pipinya sendiri.
“Chanie, benarkah kau begitu mengkhawatirkanku? Benarkah kau merasa kesepian jika tak ada aku di sisimu? Tanyaku padanya, kutatap dalam-dalam matanya yang indah itu.
“Ne!” jawabnya lemah dan kemudian dia menundukkan kepalanya. “dan aku juga ingin bertanya padamu,” lanjutnya.
“Silahkan,”
“Apa benar kau memanggilku dengan sebutan Chanie karena kau begitu menyayangiku? Benarkah itu?” tanyanya balik padaku. akupun sontak kaget mendengar pertanyaannya itu ‘bagaimana dia bisa tau?’. Akupun memegang dagu Hyechan dan mengangkatnya supaya dia bisa menatapku. Kulihat wajahnya sudah memerah layaknya kepiting rebus. Atau, apakah wajahku juga memerah sekarang? Kurasakan jantungku berdegup sangat kencang melihat mata Hyechan dalam jarak sedekat ini.
“Ne! Chanie, aku begitu menyayangimu, akupun tak bisa hidup tanpamu. Aku rela merasakan sakit lebih dari ini asalkan kau tidak membenciku. Aku ingin mengisi hari-hariku hanya bersamanu Chani. Bersediakah kau menjalaninya bersamaku? Jadilah kekasihku Chanie! Jadilah yeojachinguku!” akhirnya aku mengeluarkan segala isi hatiku. Dan aku masih menatap matanya dalam, berusaha meyakinkannya dan menunjukkan kejujuranku padanya.
“Jinki-ya, apakah kau serius dengan ucapanmu itu?” tanyanya.
“Dalam hidupku, aku tak pernah seserius ini Chanie,” jawabku yakin. Kulihat dia sedikit berfikir, ‘apakah dia tidak mencintaiku? Mengapa dia terlihat ragu?’ aku jadi semakin tegang.
“Aku bersedia Jinki, aku mau menjadi yeojachingumu,” senyumpun mengembag dari bibirku setelah mendengarnya.
“Gomawo Chanie…..naega neomu saranghaeyo,” ucapku lembut padanya. Dengan ragu kudekatkan tubuhku pada tubuh Hyechan. Awalnya kukira dia akan menghindar, tetapi Hyechan tetap tinggal pada posisinya. Wajah kamipun semakin lama semakin mendekat, 10cm…..7cm…..5cm…..3cm….dan akhirnya kutemukan bibir merah Hyechan. Kutempelkan bibirku di diatas bibir mungil Hyechan, kulumat lembut bibirnya. Melakukan hal tersebut membuatku merasakan sensasi tersendiri. Dadaku berdegup sangat kencang dan nafaskupun terdengar sangat  berat. Dia benar-benar telah membuatku melayang jauh ke awan. Setelah kusadari Hyechan sudah kehabisan nafas karena ciuman panjang kami, akhirnya akupun melepaskan bibirku dari bibir Hyechan.
“Nado….nado saranghae jagiya,” desahnya tepat di depan mukaku sabil mengusap bibirku yang belepotan karena terkena pelembap bibir yang digunakan Hyechan. Dengan sigap kupegang tangan Hyecha yang sedang membersihkan bibirku.
“Jangan dibersihkan Chanie!” ucapku padanya.
“Wae?” tanyanya heran.
“Karena aku menyukainya,” jawabku dengan senyum nakal. Kembali kudekatkan wajahku pada wajah Hyechan dan diapun kini melakukan hal yang sama. Kami kembali terhanyut pada ciuman kami. Kurasakan Hyechan kini mengalungkan tangannya pada leherku yang membuat ciuman kami semakin dalam. Ciuman pertama dan keduaku, sudah kupersembahkan pada yeoja yang benar-benar aku cintai dan akan selalu kucintai.

@@@@@
>>>Yoo HyeChan P.O.V<<<
Hari ini tepat satu bulan setelah kepulangan Jinki dari rumah sakit, dan sudah lima minggu pula aku menjadi yeojachingunya. Aku sangat  bahagia! Dia benar-benar menepati janjinya untuk membahagianku. Dan hari ini rencananya kami akan pergi ke pantai untuk merayakan kesembuhannya. Akupun sudah siap-siap untuk itu, karena sebentar lagi Jinki akan datang menjemputku. TIN~TIN~TIN~, bunyi klakson mobil sudah terdengar didepan rumahku. Aku yakin itu adalah Jinki yang sudah menungguku, dia benar-benar tidak sabaran.
“Ne! Tunggu sebentar!” teriakku walaupun aku tau bahwa Jinki tidak mendengarnya. Menyadari hal itu, akupun segera berlari menghampirinya. “Kau sungguh tidak sabaran Jinki-ya,” ucapku sebal sembari masuk kedalam mobil Jinki.
“Kemarilah! Mendekatlah padaku!” akupun segera mendekatkan tubuhku pada Jinki. Tetapi kau tau apa yang dilakukannya? Dia menttakbam jidatku dengan keras hingga aku menjerit.
“Kkyyaaaaaa…appu,” teriakku karena kesakitan.
“Itu karena kau lupa memanggilku dengan sebutan jagiya,” ucapnya menyebalkan. Kamipun memulai perjalanan kami menuju pantai dengan gembira. Sepanjang pejalanan, kami menyanyikan berbagai lagu. Mulai dari lagu lama hingga lagu baru, mulai dari lagu sedih hingga lagu yang ceria. Kami benar-benar menikmati perjalanan ini.
“Chanie…….chanie…….bangunlah! kita sudah sampai,” ucap seseorang membangunkanku dari tidur. Ternyata Jinki! Dan kulihat kita memang sudah sampai di arena parkir. “mengapa kau masih di dalam hah? Ayo turun!” perintah Jinki padaku.
“Ne….Ne….,” jawabku kesal. “mengapa semakin lama aku mengenalmu kau semakin terlihat bawel hah?” ucapku ketus pada Jinki saat kami sudah berada di pantai.
“Apa kau bilang? Ayo ucapkan sekali lagi jika kau berani!” ancam Jinki dengan senyum nakalnya, dan dengan cepat dia mulai menggelitiki tubuhku hingga aku lemas dan tak dapat berbuat apa-apa.
“Aish! Jinki….KyaaaA…..lepaskan aku sekarang juga! Jebal,” teriakku karena Jinki masih saja tak mau melepaskanku.
“Shiroh….” Jawabnya dengan diiringi tawa kemenangan. Dan akhirnya dia melepaskanku setelah kami berdua benar-benar lemas. Seharian kami bersenang-senang, bermain air dan mencari kerang. Kuhempaskan tubuhku yang sudah kelelahan diatas pasir putih. Memandangi langit senja yang begitu indahnya. Sudah lama aku tak merasakan sedekat ini dengan alam, dan Jinki sudah membuatku kembali dapat merasakannya. Kini Jinkipun ikut membaringkan tubuhnya disampingku.
“Chanie….” Ucapnya.
“Emm…”
“Taukah kau kenapa aku berani menciummu di depan Taera dan kakak sepupunya?”
“Eum! Kau lakukan itu karena kau ingin Taera menjauhimu kan?” jawabku asal.
“Ani Ani! Saat itu yang kupikirkan hanyalah kau. Aku tau tabiat mereka berdua, mereka tidak akan semudah itu melepaskan incaran mereka. Dan merekapun tak segan-segan menyakitimu jika kau tak menuruti mereka. Itulah yang kutakutkan,” jelasnya panjang lebar.
“Dan taukah kau kenapa aku begitu marah padamu saat kau menciumku?” tanyaku balik padanya.
“Ani!” jawabnya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Membuatku ingin tertawa.
“Itu karena kau sudah mencuri ciuman pertamaku. Araseo?” ucapku sambil mencubit pipinya yang menggemaskan itu.
“Hahaha…..asal kau tau Chanie, bahwa itu juga ciuman pertamaku. Dan kau juga yang telah mencurinya,” diapun membalas dengan mencubit hidungku dan mengayunkannya kekanan dan kekiri. Menyebalkan sekali.
“Mwo? Jeongmal?” tanyaku tak percaya dan Jinki hanya mengangguk. Dan kini kami berdua sedang memandangi sunset yang sangat indah di musim yang indah pula, musim semi.
“Dulu aku selalu bermimpi akan pergi ke pantai ini dengan seorang pangeran yang ada di komiku,” ucapku di tengah-tengah lamunan kami.
“Dan sekarang mimpimu itu menjadi kenyataan bukan? Akulah pangeranmu saat ini dan untuk selamanya,” jawabnya.
“Ya! Kau benar! Tetapi pangeran dalam bayanganku itu lebih tampan dibanding dirimu” ucapku sedikit meremehkannya.
“Yaaaa….setidaknya aku ini nyata,” balasnya tak mau kalah.
“Jagiya…..” panggilku padanya setelah beberapa menit kami terdiam, dan dia pun menoleh menatapku.
“Eemm” jawabnya singkat.
“Gomawo karena telah mengembalikanku pada dunia nyata, gomawo karena telah menyadarkanku dari mimpi-mimpi bodohku,” ucapku padanya.
“Cheon….cheonmanaeyo jagiya. Dan kau tak perlu takut akan kehilangan mimpi-mimpi indahmu. Aku disini akan selalu membahagiakanmu dan takkan membiarkanmu menangis. Jadi, tetaplah disisiku! Tetaplah bermimpi bersamaku!” kemudian Jinki memeluk erat tubuhku. Memberikan kehangatan diantara angin pantai. Perlahan kurasakan daguku terangkat dan wajah Jinki kini sudah sangat dekat dengan wajahku. Kupejamkan mataku seketika dan kukalungkan tanganku dileher Jinki. Kini aku mulai kurasakan bibir lembut Jinki yang berada diatas bibirku. Dia melumat bibirku dengan lembut yang membuat kakiku seketika melemas. Jantungku serasa tak berdetak dan nafasku bagaikan atlet yang habis lari maraton. Untung saja Jinki sudah melingkarkan tangan kirinya di pinggangku untuk menopang tubuhku dan tangan kanannya yang masih memegang belakang leherku yang membuat ciuman kami menjadi ciuman yang dalam.
Dan kini Jinki mulai melepaskan ciuman kami, memelukku dengan erat dan memberikan kehangatan ditengah dinginnya angin pantai. Menatapku dengan matanya yang memancarkan cinta dan ketulusan. Membuatku begitu nyaman dalam kehangatan yang ia berikan. Saranghae Jinki, Saranghae nae Jagiya.
Ya! inilah diriku sekarang. Seorang yeoja yang berani membuka matanya dan melihat dunia. Seorang yeoja yang tak lagi takut akan kekejaman dunia. Seorang yeoja yang penuh semangat dan berani menantang dunia. Dan itu semua karena kau! Namja yang menyadarkanku akan segalanya. Namja yang sangat kucintai dan mencintaiku. Terimakasih akan segalanya Jinki, SARANGHAEYO……………..*_*
Fin……………..,
Akhirnya sampai juga di chapter terakhir. Mian chingu kalau endingnya kurang memuaskan. Tunggu ff2 berikutnya dari author ya………GOMAWO bagi yang sudah mengikuti ff ini dari awal mpe akhir. Annyeonghi gaseyo……………………………..,>,<
-_-DON’T FORGET TO COMMENT-_-

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

16 thoughts on “This’s My Dreams – Part 4 (End)”

  1. Kau Hyechan. Apa hak mu menolak
    cinta oppaku hem,?… ya hak org lah -__-

    aq ngerasa jinki manly bgt ya pas di taman blkng skul itu.. hahaha

    ouhhhh sooo sweet.. aq jg mau dicium jinki :**

  2. Nado,,,nado,,,bogoshippo jinki-ah…
    “Gomawo krn tlh mengembalikanku pd dunia nyata…..”
    »Tp knp kau buat aku mjauh dr dunia nyata jinki-ah…»readersarafkumat….kkkekeke

  3. Sempat Hyechan salah paham dengan tindakan Jinki yang tiba-tiba menciumnya. Tapi Taera dan Hyobin cukup berjiwa besar, menerima kenyataan kalau memang benar Jinki dan Hyechan berpacaran.

    Nice story.

  4. JINKI-YAA bogoshipoyo chagii#dibantaiMVP…………chukkae buat jinki-hyechan…..semoga hubungan klian akan langgeng#abaikan….nice ff

  5. keren thor… 😀
    tpi ada 1 saran dr aku,, sebaiknya jgn “melumat bibir” kesannya kayak bibirnya tu udah didlm mulut trus tinggal ngunyah… he2
    tpi tu hny saran aku dr sudut pembaca yg jg blm pernah bwat novel ato ff gitu… he2…
    gomawo mianhae…

  6. Yeayy!! Akhirnya fin juga 😎 So sweet bgt pas di pantai *mupeng* Author eonni boleh kasih kritik ngga nih? *author:nggak* Itu yang ‘Arena parkir’ kayaknya harusnya ‘Area parkir’ deh xD Terus di awal2 ada kat ‘sakit’ tapi huruf ‘k’ sama ‘t’-nya ikutan gede. Di teliti lagi yaa biar makin perfect. All out bagus kok ceritanya ^^d

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s