My Longing For You Is Great – Part 4

My Longing For You Is Great 4 : “Obstacles”

Author                  : arsvio

Main cast             : Key Kim Kibum, Choi Minho, Bening Embun Pagi (Park Eun Bin)

Genre                   : Romance, family, friendship

Length                  : sequel

Rating                   : PG-13

Support cast       : Shinee member

“Arrghh…,” Minho mengacak rambutnya sendiri dengan kasar. “Kenapa aku harus berbalik, kenapa aku harus tidak suka dengan pemandangan tadi, itu urusan mereka CHOI MINHO,” teriaknya pada diri sendiri. Namja ini tampak frustasi dengan dirinya sendiri.

“Tidak, aku jelas membenci yeoja itu. Aku marah karena Key pabo itu dekat dengan yeoja murahan macam dia. itu membuatku kesal, ya karena itu,” jelasnya pada dirinya. Beberapa kali dia mengingkar, tapi hatinya tetap tidak merasa lega. Dia tahu betul, bukan Key yang menyebabkan kekesalannya.

“Arrghh, aku tak tahu dan tak mau tahu,” teriak Minho sambil menjungkalkan tumpukan box kayu. Bunyi bedebam akibat box yang jatuh berbarengan dengan erangan Minho membuat seseorang di belakangnya tersentak.

“Oh My… your palm is bleeding,” gadis itu tanpa diminta langsung meraih tangan Minho. Sang pemilik tangan bahkan tidak menyadari kalau sebuah paku di box pelampiasannya menggores tangannya. Minho agak tersentak melihat gadis yang kini memegang tangannya. Sadar dengan itu, Minho menghempaskan tangannya dengan kasar, “DON’T TOUCH ME!” teriaknya.

Embun terkesiap pelan, “let me cure your palm,”. “PERGI, TINGGALKAN AKU SENDIRI,” teriak Minho. Embun ingin hengkang dari hadapan namja ini setelah mendengar bentakkannya, namun ia melihat darah segar yang terus mengucur dari luka Minho. Jadi, Embun meraih tangan Minho lagi dan menahannya ketika namja itu berusaha melepaskan tangannya lagi.

“Kau, boleh berteriak setelah aku membereskan ini,” ujar Embun datar. Minho menatap gadis di depannya dengan tatapan tak percaya. Betapa keras kepala yeoja ini. Dia membiarkan Embun merawat lukanya. Sentuhan-sentuhan dari jemari lentik Embun menimbulkan rasa berdesir yang kuat di hati Minho.

Embun merekatkan plester di luka Minho, dia selalu membawa plester luka karena kulit tangannya yang tipis mengakibatkan dia sering terluka. “Done,” Embun melepaskan tangan Minho dan mulai beranjak berdiri. “I don’t want to hear your screaming cause it’s makes my ears hurts,” ucap Embun sembari melangkah meninggalkan Minho. Minho hanya menatap plester di tangannya dan punggung Embun yang menjauh.

#####

Syut…Seseorang meraih tangan Embun kemudian menghantamkan tubuh Embun ke dinding. Lengan gadis itu melintang di dada atas Embun untuk memojokkan, jemarinya mengepal. Gadis tadi menatap langsung mata Embun. “Kau, mulai sekarang dan seterusnya, jauhi dia,” ancam sang gadis.

“Hye Jin-ssi, what do you mean?” alis Embun bertaut. “Jangan bicara menggunakan bahasa asing denganku,” bentak Hye Jin. “OK, Hye Jin-sii, apa maksudmu?” Embun mencoba bersabar. “Jangan pura-pura tidak tahu. Jauhi dia, atau hidupmu tidak akan tenang,” Hye Jin mengucapkan dengan penuh penekanan di setiap kata. “Dia? Dia siapa?” Embun mulai tak mengerti arah pembicaraan tersebut. “Jangan berlagak bodoh. Tentu saja KEY,” Hye Jin menekankan lengannya sehingga membuat Embun meringis.

Hye Jin menghempaskan tubuh Embun ke samping sehingga Embun terjatuh dengan posisi duduk. “Ingat kata-kataku,” Hye Jin menghentakkan kakinya dan berjalan menjauh. Embun hanya meringis mengelus pantatnya. “Apakah gadis itu telah kehilangan akalnya,” umpat Embun.

#####

“Kau tahu kenapa aku memanggilmu, Park Eun Bin-ssi,” ucap tegas dari mulut seorang pria paruh baya. “Maaf, saya tidak mengetahuinya,” Embun hanya berdalih saja. Padahal dia tahu benar alasan kenapa dia menghadap dosennya tersebut. Sudah tiga kali berturut-turut Embun dipanggil.

“Kalau nilaimu tidak mencapai batas minimalku untuk ujian tengah semester besok, aku tidak akan meluluskanmu di mata kuliahku,” ucap dosen itu sengit. “Kenapa orang-orang seperti kalian yang berotak kerdil tidak mau berusaha keras. Memang ras menentukan integritas orangnya,” lanjut sang dosen. Embun mengangkat kepalanya mendengar perkataan terakhir dosennya. Emosinya sudah siap tumpah.

Sungguh bukan karna ketidakmampuan Embun untuk mengerjakan setiap tugas atau ujian, namun karena diskriminasi dari sang dosen-lah, dia mendapat nilai buruk. “Maaf, Agashi. Saya mengambil kelas internasional di kampus ini sehingga tidak selayaknya orang yang berpendidikan seperti agashi membeda-bedakan masiswanya beerdasarkan ras semata,” bela Embun. “Kau! Berani mengatakan itu? keluar dari ruanganku dan jangan harap lulus di mata kuliahku,” bentak pria itu. “With my pleasure, Sir. Dan saya pastikan kalau anda tidak akan menjumpai saya di kelas anda, selamat siang,” Embun berlalu dengan kesal.

#####

Embun menggebuk drum dengan keras untuk melampiaskan kekesalannya. Dia cukup terampil memainkan alat music yang terkesan maskulin tersebut. Tidak cukup rekan kerjanya, sekarang dosennya yang melakukan diskriminasi terhadapnya. Dahinya berkerut dan keringat telah mengalir di pelipisnya, namun Embun masih enggan mengakhiri permainannya.

Joon berdiri mematung di pintu masuk studio. Ruangan berukuran 4 x 4 di rumah neneknya telah disulap menjadi studio mini yang berisi alat musik seperti drum, keyboard, dan gitar listrik. Nenek mengubah ruangan itu karena mengetahui baik Embun atau Joon berminat dalam musik. Joon melihat dengan jelas gurat kekesalan di wajah Embun. “Apakah kau berniat menghancurkannya?” tanya Joon ketika Embun berhenti untuk menyeka keringatnya.

Embun hanya diam dan mengatur nafasnya. Joon mendekat, memutari drum, dan meraih tangan Embun. Joon menarik stik drum dengan lembut dari tangan Embun kemudian meletakkannya. Embun tidak memberontak. “Apakah bersedia berbagi dengan Oppa tentang kekesalanmu?” Joon angkat bicara lagi. “Oppa…” pandangan Embun mulai kabur akibat air mata yang telah menggenang di pelupuk matanya.

Joon menekuk lutut kanannya, menyenderkan kakinya di lantai, sedangkan  lutut kirinya tertekuk sebagai tumpuan. Dia merengkuh pundak Embun dan memeluknya. Embun membenamkan wajahnya di pundak Joon untuk menangis. “Kenapa begitu berat untuk bertahan di sini,” isaknya. Joon mengusap lembut kepala Embun, “Bersabarlah, setidaknya kau memiliki Oppa dan grandma yang menyayangimu,”. “Tidak Oppa…” Embun masih terisak, ”Kenapa grandma terlalu egois memintaku berada di sini, tanpa menanyakan kesediaanku,”.

“Kau akan mendapatkan sesuatu yang membahagiakan setelah melalui sesuatu yang buruk. Yakinlah bahwa Dia telah memberikanmu jalan yang terbaik. Yang perlu kau tahu adalah aku ada di sini untukmu,” Joon menenangkan Embun. “Hmm,” gumam Embun yang belum mau melepaskan pelukkannya.

#####

Minho duduk di ruang santai dorm dengan memandangi tangannya, lebih tepatnya plester di tangannya. TV dibiarkannya menyala begitu saja. Dia tak berniat sedikit pun untuk mengganti chanel acara favoritnya, sepak bola.

Minho bergelut dengan imajinasinya sendiri, “Kenapa dia? Apa aku kesal karenanya?” Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak. Jawabannya tidak mungkin. Lalu kenapa aku kesal? Cemburu?” kali ini Minho memiringkan kepalanya lalu memanyunkan bibirnya.

Onew berdiri di samping Minho, menolehkan kepalanya pada TV kemudian pada dongsaengnya yang bertingkah aneh. Onew memiringkan badannya agar dapat melihat jelas wajah Minho. Dahinya mengernyit, “Apa kau sakit?”. Tidak ada respon, Minho masih hanyut dalam dunianya. “YAAA…” teriak Onew kemudian.

“Ughh, waeyo hyung?” ucap Minho dengan sedikit tersentak. “Ishh, anak ini hanya melamun rupanya,” Onew mendorong tubuh Minho ke samping kemudian duduk di sebelahnya. “Hyung, umm…” kalimat Minho menggantung. “Ada apa? Katakan yang jelas,”. “Umm…apakah Key sudah pulang?” tanya Minho. Onew dengan wajah terheran-heran memandang Minho, “Kau hanya mau menanyakan itu? jawabannya belum,”.

“Aku pulang…” teriak seseorang dari arah pintu. Onew masih asyik mengganti chanel TV dengan santainya berucap, “Sekarang jawabannya sudah,”. Minho hanya memberangut mendengar perkataan hyungnya.

#####

Minho melenggang masuk ke kamar mengikuti Key. Dia kemudian duduk di tepi ranjang sedangkan Key lalu lalang untuk mengambil baju ganti. Minho melirik ponsel Key yang tergeletak di meja. Key hanya memandang Minho sebentar kemudian keluar untuk membersihkan diri.

Minho dengan sigap langsung menyambar ponsel Key. Diutak-atiknya phonebook milik Key, “Hishh, dengan nama apa dia menyimpannya?”. Minho hanya menggembungkan pipinya kesal karena sudah 15 menit berlalu tanpa membuahkan hasil.

Minho berhenti beberapa saat dan berpikir, “Aahh, benar juga,”. Dia mensearch dan mengurut lagi kontak di HP Key, sampai pada nama kontak My_MorningDew. Minho mengernyitkan dahinya, “My…Dew? Setahuku di phonebook Key tidak ada yang memakai ‘My’. Apa ini nomornya?”. Minho kemudian sibuk memindai nomor itu di HP miliknya.

Minho terbaring di ranjangnya sambil mengamati nama kontak yang di salinnya dari HP milik Key. Dia terus memandangi kontak itu sampai akhirnya terlintas sebuah ide. Dia membuka aplikasi google translate di HPnya dan mengetikkan Morning Dew untuk ditranslate-kan ke suatu bahasa.

“Gotcha,” serunya. “Nama yang indah,” gumamnya kemudian.

#####

To: Morning Dew

Where’re u? I’ve something important to talk to u.

~Minho~

Drrtt…sebuah balasan masuk

From: Mornning Dew

I’m in home. U can talk it tomorrow at office.

Minho mendengus kesal. “Kau ini sungguh…tak ada gadis yang menolak pesonaku kau tahu,” umpatnya lalu mengetikkan sms lagi.

To: Morning Dew

I want NOW. Send me ur address.

Drrtt…

From: Morning Dew

If u just want to scream at me come to  ____st. ____. I’ll give u MORE too.

Minho menyeringai penuh kemenangan. Diambilnya kunci mobil dan berlalu setelah berpamitan dengan member lain.

#####

Minho melongok dari jendela mobilnya, “Ini alamatnya, baiklah Embun,”. Minho turun dari mobilnya dan menghampiri pintu untuk memencet bel. Seorang namja berperawakan tinggi, tegap, dan tampan membukakan pintu. Minho tersenyum, “Apakah ini benar rumah Park Eun Bin?”. “Oh, apa kau temannya?” tanya Joon. Minho mengangguk kecil. “Masuklah,” tawar Joon.

Kening Joon berkerut, menimbang perlukah dia bercerita. “Ikutlah denganku, kurasa dia membutuhkan teman,” Joon melangkah dahulu. Minho mengekor di belakang.

Minho samar mendengar permainan drum. “Dia di dalam, masuklah. Aku tinggal dulu,” Joon menepuk pelan bahu Minho. Minho memasuki ruangan tersebut perlahan dan tertegun dengan sosok gadis yang tengah memainkan drum di sudut ruangan. Minho terus memandang takjub pada gadis tersebut beberapa saat.

Embun masih asyik menggebuk drumnya tanpa terusik sesuatu pun. Suasana hatinya masih tidak bagus. Sampai saat dia ingin mengelap keringatnya, kepalanya terangkat dan pandangannya bersiborok dengan namja yang berdiri mematung. Serta merta Embun menghentikan permainannya. “Sejak kapan kau berdiri di sana,” tunjuk Embun menggunakan stik drumnya.

“Umm…just in a while,” ucap Minho dengan tampang terkejutnya. Embun berdiri lalu megambil tissue untuk menyeka keringatnya. “So, apa yang membawamu kemari?”. Minho melangkah menuju satu-satunya sofandi ruangan itu, “Setidaknya kau persilakan tamumu duduk dahulu sebelum tanya keperluannya. It’s manner,”. Embun terlihat kesal dan melipat kedua tangannya di depan dada.

Minho menepuk tempat duduk di sebelahnya,”Bisakah kau duduk? Dan simpan dulu wajah jelekmu itu,”. “Dan bisakah kau langsung bicara apa keperluanmu Mr. Choi?” jawab Embun. Minho bukannya bersikap arogan seperti biasanya, namun malah mengalah dengan sikap Embun.

“Igeo…” Minho mengangkat telapak tangannya untuk menunjukkan pada Embun. Kening Embun berkerut, “Why? What’s wrong?”. Minho masih bergeming dengan posisinya, “Telapak tanganku–,”. Embun mulai tak sabar, “Memang kenapa dengan telapak tanganmu?” jawabnya setengah berteriak.

Minho menghela nafas, “Band aid-nya belum diganti sejak kemarin,”. Mata Embun membulat, “Lalu apa kau ke sini hanya menyuruhku untuk mengganti band aid nya?” tanya Embun dengan nada lambat hanya untuk mengontrol emosinya. Dan Minho mengangguk mantap tanpa rasa bersalah.

“YAAA CHOI MINHO !!!”

TBC*

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

19 thoughts on “My Longing For You Is Great – Part 4”

  1. jiah…si minho kena karma,makax jgn prnh memandng org hnya brdsarkan ras smata.klo gni,nysel kan udh jutek sm embun…
    tp d part ni kq key cm numpang lwt doankz y…
    bgus thor…aq ska sm ni ff cz main castx si key.mian klo slma ni cm bs jd siders *d tbok author* cz bacax lwt hp
    d tnggu next part…

  2. Dan Minho mengangguk mantap tanpa rasa bersalah,

    YAA CHOI MINHOOO!?!

    aku suka bagian ending-nya,,, ngebayangin wajah Embun yang kesal beradu sama wajah Minho yang polos tak berdosa,,wkwkwkw

    Ehh iya,, Key cuman numpang lewat do’ang,, wahh,, si Minho nyuri Nope embun,, kemakan omongan sendiri lu bang!!hehehe

    Ini akunya yg keasyikan baca ampe tahu2 udd tbc aja,, apa emang FF-nya rada pendek dari biasanya ya???

    Nunggu next part-nya aja dehh,, ayo Key berjuang!! #Upss,,

  3. Hahaha…minho manja bget.. Ms ganti band aid aja mesti embun,,, kan bs sendiri… Alasan bgt tuh biar bs ktmu…hahahahahaha

    Selain key yg cm numpang lwt,tu si onew jg dikit bgt perannya tp ttp aja bikin aku jd senyum gaje dgn jwbnnya…
    Klo aku jd minho sdh ku kasih ta2pan mata ala key….hehe…

  4. Akui saja, Minho kesal karena Embun lebih dekat dengan Key, bukan Key yang selalu memperhatikan yeoja berbeda ras itu.

    Eh? Yang benar saja Minho datang ke tempat Embun cuma untuk membahas luka kecilnya? Tambah kesal lah Embun dengan Minho yang malah berlagak polos.

    Nice story. Lanjut!

  5. Err..aq agk gg ngeh pas embun ngebela diri..’agasshi’,pdhlkan dosennya tu cowok =o=,bukannya agasshi tu nona yah??sedangkan kalo cwo,aq gg tau apa…ato aq yg salah??._.
    Aaaa..minho kayak anak kecil..jadi gemes :3 *nyubit” pipinya minho*#dibakar flames
    key..numpang lewat doang xDD
    hahaha.minho kemakan omongannya sendiri!!wkwk…
    Aq tgu kelanjutannya,..n klo bisa lebih panjang,hehe

  6. aisssh dosennnya burukk !!
    minho .. astagaaa !
    sifatnya kebanding terbalik sama yang lalu .. >,<
    huwaaa mati kau di telen embunn ..
    wah 91 lines memperebutkan embun ..
    ahahaha joon kakak yang baik ..
    ayo…ayo lanjutannya embun bakal sama siapaaa…

  7. Demen gilaaaa kalo udah baca MinKey jd rival buat cewek!! XDD kya kya kyaaa rasanya kaya ga bisa berenti teriak gitu. Hadeeeeh!

    Ini terlalu menjiwai nih aku! Smpe kesel banget sm dosen rese itu!!

    Dan demi apa, endingnya bkin ngakak. Wkwkwkwk ada2 aja si minho nih XDD

    aaaaa key numpang lewat XD
    hayooo perpanas tuh hubungan Minho – Embun – Key dan aku setuju minho sm embun! Wkwkwk. Lucu soalnya.

    Kali ini ga nemu sesuatu yg bs dikritik :/ jd cm bs bilang! Goodluck thorrr 😀

  8. minhonya sarap, dateng minta ganti band-aid doang……. Sini gw yg gantiin…..
    Yg baca juga lagi stres, sarapnya kumat….
    Gara-gara minho ada kiss scene mulu… Kenapa minho, kenapa bukan jjong yg mukanya lebih byuntae….. Waeee?

  9. Haha.. Si minoo suka sama embun ych.. Kna karma dch dy.. Hahaha..
    Wah, siapa nch yg bkal dipilih embun..?

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s