The Devil – Part 1

Title : The Devil

Author : Bibib Dubu & mybabyLiOnew

Main Cast : Park Eun Hee, Lee Chaeryn, Shinee Member

Support Cast : Shim Changmin, Kim Soora

Length : Sequel

Genre : Mistery, Angst, Fantasy, Romance

Rating : PG-15

A.N : Annyeong….aku nongol lagi dengan ff ketigaku. Ceritanya aku mau nyoba bikin yang berbau fantasy dan agak nyeremin, ga tau ya butut atau engga. Ga ada salahnya kan belajar bikin ff yang genrenya berbeda. Oya, makasih buat yang udah baca ff keduaku, maap ya kalo ga happy ending. Di ff ini aku duet sama Rahmi Eon (mybabyLiOnew) karena aku butuh seorang partner yang bisa mengimbangi sisi lemahku dalam menulis ff. Semoga ff ini lebih baik dari yang sebelumnya…Happy reading  ^_^

Summary :

Jinki : “Eun Hee, aku tidak tahu bagaimana caranya. Yang aku tahu, tidak akan kuizinkan orang yang memainkanmu hidup dengan tenang, atau sekalian saja kuhabisi—jika naluri pembunuhku sedang bergejolak.”

Minho : “Eun Hee-ya, aku tidak tahu bagaimana caranya. Yang aku tahu adalah aku harus berdiri di sampingmu dan membantumu di saat aku bisa. Setidaknya  ini membuatmu merasa bahwa kau masih punya seseorang yang mempedulikanmu.”

Key : “Eun Hee-ya, aku tidak tahu bagaimana caranya. Yang aku tahu, aku harus melakukannya, menjalankan sebuah permainan dengan indah, yang tidak  kau sadari apa yang menjadi maksudku sebenarnya. Waktu akan menjawabnya, biarkan aku menikmati permainan ini dan kita lihat apa yang akan kulakukan selanjutnya. Aku hanya harus meyakini sebuah statement, Hukum karma berlaku di dunia ini.”

+++++

Kalau kau menganggap hanya ada kerasionalan di dunia ini, kau salah besar. Banyak misteri yang tidak terjangkau oleh akal pikiran. Termasuk di balik seonggok daging bernyawa, yaitu diri kita sendiri—manusia. Apa kau yakin bahwa orang yang ada di sebelahmu itu sesuatu yang ‘rasional’ ?

Author POV

Benarkah kegemerlapan itu selalu indah? Jika ada yang mengiyakan, maka kau salah. Tengoklah kisah suram yang mengiringi kemilau dunia malam, Klub malam, atau tempat-tempat sejenisnya. Semua penghuninya terlihat bahagia dengan senyuman semu, atau memang yang sengaja dipalsukan untuk menutupi kegelisahan yang memenuhi seluruh isi kepalanya.

Purnama makin membulat, namun fenomena alam tersebut tidak ada bedanya bagi Eun Hee, bagi yeoja itu—semua malam sama, tanpa rasa. Keganasan makhluk jalang yang memintanya mengobral kelamin, membuat hatinya membatu.

Honey, kau selalu professional, tidak sia-sia aku membayarmu,” seorang Ajusshi dengan gayanya yang menunjukkan bahwa ia adalah seorang jutawan, mengelus-elus tangan Eun Hee begitu keduanya keluar dari sebuah ruangan.

Yeoja itu tersenyum pasrah. Ya, apalagi yang bisa dilakukannya untuk bertahan. Jika ini hanya menyangkut hidupnya, ia tidak akan mengambil jalan ini. Ada orang lain yang harus ia pertimbangkan baik-baik di balik kisah hidupnya.

Ne, temui aku lagi kalau kau kemari,” balas yeoja yang ketenarannya sangat melambung di seantero dunia gemerlap di kawasan hiburan tersebut.

“Pasti. Aku pulang dulu, nanti anae-ku marah kalau aku pulang dini hari.”

Palsu, ya, senyuman orang yang ada di tempat itu penuh kebohongan, kalaupun ada yang benar tersenyum, ia hanya sedang dibutakan oleh setan biadab.

Ajusshi tersebut melangkah keluar dengan senyuman seringainya, persis petinggi negara yang baru saja melakukan kejahatan tersembunyi yang terasa indah bagi mereka. Jelas, uang melimpah, jabatan tinggi, dan kemewahan lainnya ada di genggaman mereka.

Ia melangkahkan kakinya keluar tempat tersebut, sempat berhenti di depannya untuk membenahi dasi yang melekat di kemeja abu-abunya. Menutupi semua jejak yang ada di tubuhnya—yang menunjukkan bahwa ia habis menjejakkan kakinya ke ‘ruang panas’ di tempat tersebut.

Malam memang mengerikan, dia tidak tahu bahaya apa yang menunggunya di luar. Ia hanya berjalan dengan penuh keangkuhan karena berhasil memenangkan sang primadona, tidak menyadari bahwa seorang namja menantinya di dalam mobil mewahnya.

Ajusshi tersebut membuka pintu mobilnya, lalu duduk di kursi kemudinya. Ia tidak sadar bahwa di jok belakang ada yang menunggunya. Orang itu menodongkan pistolnya tatkala Ajusshi tersebut telah duduk manis di joknya, “Good bye.” Bisik namja itu dengan nada penuh kebencian.

Ia tewas setelah sebuah peluru menembus keningnya, peluru yang melesat dari pistol yang telah dipasangi peredam suara tembakan oleh sang pelaku penembakan tersebut.

I’m a Devil,

Begitulah tulisan yang ditempelkan si pembunuh di celana sang korban, tepat di bagian alat biologisnya.

“Ini balasan untuk orang yang menyentuhnya,” si pembunuh menyunggingkan bibirnya setelah ia keluar dari mobil berdarah tersebut.

Lalu namja tersebut memasuki tempat yang sama dengan yang dikunjungi Ajusshi tersebut. Ia duduk di kursi bar dan memesan sebotol wine, menelisik keadaan sekitar untuk mencari keberadaan yeoja yang dicarinya.

Tanpa perlu diminta, yeoja tersebut mendekati namja tampan yang style-nya sangat menunjukkan status sosialnya yang tinggi. “Do you need my service?” tanya yeoja itu sambil memamerkan sisi sensual tubuhnya.

Namja tersebut hanya tersenyum tipis, menenggak minumannya lalu memberi isyarat kepada yeoja tersebut agar melayaninya di ‘ruang panas’. Yeoja itu tersenyum puas, bagaimana tidak—ia bukan hanya mendapatkan pelanggan berkantong tebal—tetapi juga bertampang menarik.

Keduanya memasuki sebuah ruangan, sang namja duduk di sebuah sofa yang terdapat di ruangan tersebut, sementara sang primadona, tanpa diminta—ia menggelayuti tubuh namja tersebut dengan manja.

Cih, jadi ini primadona yang dielu-elukan orang? Hanya seperti ini? Tidak menarik,” namja tersebut menyingkirkan kepala Eun Hee dari bahunya.

Ya! Kau akan menyesal karena mengatakannya,” Eun Hee tersinggung dengan ucapan namja tersebut, baru kali ini ada orang yang merendahkan pesonanya.

“Hmm, Park Eun Hee, 20 tahun. Malang sekali nasibmu, dengan usiamu yang masih muda, kau harus terjerumus di dunia malam seperti ini.” Namja itu bangkit dari duduknya, merogoh dompetnya dan mengeluarkan lembaran tunai dari dalamnya. “Kau tahu tidak, untuk masuk ke ruangan ini bersamamu saja aku sudah merogoh kocek besar, tapi ternyata kau standar saja. Berhubung aku baik hati, ini kau simpan untuk mengobatimu ke dokter jiwa,” katanya sambil menaruh uang tersebut di sofa yang tadi ia duduki.

Mwoya?! Kau mengasihaniku? Cih, munafik! Kalau bukan ingin bertemu orang sejenisku, untuk apa kau ke tempat ini? Simpan uangmu untuk menjahit mulut jahatmu itu!” Eun Hee berang karenanya, diraihnya dompet sang namja dan ditaruhnya kembali lembaran uang tersebut ke dalamnya.

Lee Jinki,

Sekilas mata Eun Hee menangkap nama yang tertera di kartu tanda pengenal si pemilik dompet.

“Aku? Hanya ingin memastikan keadaan seseorang, dan iseng ingin tahu seperti apa yeoja yang namanya sangat tersohor di tempat ini. Hoammm…Sudahlah, aku ngantuk, Annyeonghi kyeseyo….” Namja bernama Jinki tersebut berlalu meninggakan Eun Hee yang masih menatapnya dengan rasa kesal.

“Semoga aku tidak bertemu kau lagi, Jinki-sshi!” Bentak Eun Hee setelah Jinki sampai di pintu ruangan tersebut.

“Wah, tidak kusangka kau mengetahui namaku, matamu sangat jeli ya…” Jinki berhenti sesaat, membalikkan badannya menghadap Eun Hee, lalu mengerlingkan matanya pada Eun Hee. “Jaljayo…,” ucapnya kemudian.

Jinki berjalan dengan tegap keluar dari tempat tersebut, bibirnya tersenyum namun sorot matanya melemah, hatinya berbisik sendu,

Eun Hee-ya, aku tidak tahu bagaimana caranya. Yang aku tahu, tidak akan kuizinkan orang yang memainkanmu hidup dengan tenang, atau sekalian saja kuhabisi—jika naluri pembunuhku sedang bergejolak.

+++++

Jinki membuka matanya sehingga dunia di dalam kamarnya terlihat. Dia mengedarkan  pandangannya ke seluruh sudut kamar, masih memikirkan apa yang ia lakukan semalam. Pusing, itu yang dirasakannya beberapa saat kemudian.

Dia tidak mau berlama-lama terjebak dengan rasa pusingnya, waktunya harus digunakan dengan baik. Banyak hal yang harus ia selesaikan di kantor, salah satunya adalah memimpin rapat pemegang saham siang ini.

Ia memaksakan dirinya memasuki kamar mandi, membiarkan air mengguyur tubuhnya sehingga seonggok daging yang terbalut kulit dan ditumpu tulang tersebut merasa rileks seketika karena otot-ototnya menjadi tidak saling tarik-menarik lagi.

Oppa, antar aku ke kampus ya?” sayup-sayup terdengar suara Chaeryn, yeodongsaeng-nya,  yang merengek manja seperti biasa.

“Chaeryn-ah, oppa baru saja mandi, kau naik bus saja ya, hitung-hitung belajar hidup susah, jangan mau yang serba enak saja,” Jinki menjawabnya sambil membilas sabun di sekujur tubuhku.

“Ya~ oppa, aku kan ingin diantar oleh namja keren seperti oppaku tersayang ini. Aku tunggu kau di ruang tamu ya. Aku akan mendiamkanmu selama seminggu jika kau menolak, tidak ada kompromi, titik!”

Geurae, My Lovely Dongsaeng,” Sang oppa mengalah, sulit memang menolak permintaan adiknya ini, dia sangat menyayanginya dan berjanji akan menjaganya, tidak ingin lagi ada kehilangan dalam hidupnya.

Kau juga akan seperti itu jika kau pernah kehilangan seseorang, terlebih lagi jika itu adalah anggota keluargamu. Kau akan bersungguh-sungguh menjaga orang yang tersisa.

Sengaja ia percepat mandinya karena tidak ingin membuat Chaeryn terlambat masuk kelas, apalagi tidak semua dosen dapat memaklumi keterlambatan, meskipun kenyataannya seringkali merekalah yang justru melakukannya.

Dikenakannya kemeja, lengkap dengan jas-nya yang telah disiapkan olehnya semalam sebelum merebahkan tubuh dan membiarkan dirinya terseret alam mimpi. Setelah yakin dengan penampilannya, segera diraihnya tas laptopnya dan turun menyapa Chaeryn.

Good morning, Ryn. Ayo kita mulai hari kita yang luar biasa ini,” ujar Jinki seraya tersenyum pada Chaeryn yang sudah memilih masuk lebih dulu ke dalam mobil.

Oppa, apa ini?” tanyanya sembari mengeluarkan sebuah benda yang sedari tadi ia sembunyikan di balik jaketnya, “Ini pistol sungguhan kan, Oppa?” tanyanya setelah Jinki berusaha merebut benda sakral tersebut dari tangannya.

Ne, tapi tidak ada pelurunya, coba saja kau periksa. Mana mungkin oppa menggunakan benda seperti itu sesuai fungsi aslinya, itu hanya untuk koleksi saja. Kau tahu kan oppa freak dengan film action, makanya oppa ingin memiliki benda yang ada di tanganmu itu.”

“Oo, kukira kau pembunuh sadis. Awas ya oppa, aku tidak akan mengakuimu kalau kau melakukan perbuatan mengerikan seperti itu.”

Berbohong, ya, untuk kesekian kalinya Jinki melakukannya. Demi menjaga keberadaan Chaeryn tetap di sampingnya. “Tentu saja tidak,” jawab Jinki sambil menyalakan mesin mobil.

++++++

Melesat cepat, layaknya kecepatan cahaya. Tujuannya hanya satu, keabadian. Ia akan selalu mempertahankan keberadaannya. Tapi, bukankah untuk meraih sesuatu, perlu ada yang dikorbankan? Siapa dan apa yang patut dikorbankan?

Jiwa setannya mendominasi, mengalahkan rasa manusiawinya. Betulkah ia setan? Bukan. Lalu, siapa? Karena manusia manapun akan mengingkarinya jika ditanya apakah makhluk seperti itu masih satu spesies dengan mereka.

“Kau? Kenapa kau bisa masuk ke rumahku tengah malam seperti ini?” Seorang yeoja kaget setengah mati melihat sesosok namja yang sedang berdiri di hadapannya dengan tatapan mautnya.

Namja itu tidak menjawab. Ia hanya tersenyum sinis dan mengepalkan tangannya di balik tubuhnya yang tengah berdiri tegap. Dipandangnya wajah yeoja tersebut dengan penuh rasa benci. Sesaat kemudian tubuh yeoja itu terpojokkan oleh dorongan namja tadi.

“Soora-ya, kau bilang kau mencintaiku, kan?” tanya sang namja dengan sorot mata yang berubah menjadi kosong.

Cih, kapan aku bilang seperti itu?” Soora mencibir namja di hadapannya. “Aku hanya ingin mengisi waktu kosongku ketika menerimamu jadi namjachingu-ku. Sekarang ada orang lain yang sungguhan aku cintai, sebaiknya kau pergi dari hidupku!”

Namja tersebut bertambah garang tatapannya, kata-kata yeojanya itu terlalu menusuk, mencabik seluruh permukaan hatinya, “Ya sudahlah, aku tidak peduli itu lagi,” balasnya sembari memegang dagu yeojanya.

Perlahan wajah namja tersebut mendekati leher yeojanya, tidak peduli akan nafas sang yeojanya sudah tidak lagi beraturan dan getaran tubuhnya yang mulai tersampaikan lewat gemerutuk gigi putihnya yang berderet rata.

“Kau…kau mau apa?” tanya sang yeoja sambil berusaha menyingkirkan wajah namja tersebut dari dekatnya. Tapi sia-sia, karena saat ini setan yang kuat tengah menyatu di dalam tubuh namja itu.

Sang yeoja pasrah dengan air mata yang mulai mengalir. Sementara sorot mata namja tersebut kian dikuasai oleh nafsu., hembusan nafas sang namja tersebut pun mulai terdengar kasar, disentuhnya kulit leher yeoja tersebut dengan bibirnya.

Hraaaawwkkk

Seketika leher yeoja berparas cantik tersebut tercabik oleh taring namja tersebut. Darah segar mulai mengalir deras, membuat sang pemilik tubuh harus enyah selamanya dari dunia ini. Namja tersebut tertawa licik setelah itu.

Kreeeettekkk

Dipatahkannya tulang-tulang leher yeoja tersebut dengan tangannya yang sudah mulai berubah wujud menjadi tangan bersisik dengan kuku tajam yang lebih pantas disebut sebagai cakar.

Bola matanya tidak lagi hitam, tapi berubah menjadi merah, menandakan ia harus segera melakukan ritualnya kalau ingin keabadian terus bersamanya.

Dicabiknya bagian dada hingga perut, hingga seluruh isinya terurai dengan cipratan cairan merah segar yang kemudian ia jilat layaknya cairan sirup. Cairan tersebut hanya pembuka, karena bukan itu yang ia butuhkan.

Srek, srek,

Ia mengacak-acak semua komponen dalamnya, mencari sesuatu di dalamnya. Matanya berbinar saat menemukannya, segera disesetnya bagian tersebut dengan cakarnya, tapi terlalu lama rupanya, ia tidak sabar menunggu lama. Akhirnya wajahnya mendekati benda yang dicari.

Sraukkkk,

Taring tajamnya yang langsung turun tangan untuk meraih organ tersebut. Dilahapnya dengan penuh nafsu hingga hanya organ dalam lain yang tersisa. Setelah ritual itu dilakukan, matanya kembali hitam, menandakan bahwa prosesnya sudah rampung.

“Itu untuk orang yang menyakitiku, kau harus mengganti hatiku yang telah kau koyak.” bisiknya di telinga yeoja yang tubuhnya telah tidak jelas bentuknya tersebut.

Tak lama, ia kembali menghilang seperti angin, tidak meninggalkan jejak, bahkan sidik jari pun tidak berbekas, karena ia memang berbeda, bukan manusia, ia adalah sesuatu yang tidak rasional.

+++++

Kehidupan penuh misteri, kau tidak pernah tahu bahaya apa yang menghadangmu di pertengahan jalan. Tapi, jika kau selalu takut bahaya, maka kau hanya akan berada di suatu wilayah, tidak akan beranjak menuju kehidupan luar, kehidupan yang lebih menjajal kematanganmu. Sesunggunya ketakutan adalah hal yang tidak berdiri sendiri, selalu ada sebab yang mendasarinya, itulah yang perlu kau pahami.

Setelah paham, kau tidak lantas menyimpannya rapat dalam ruang hatimu. Kau harus mampu menaklukkannya, mengubahnya  menjadi katalis untuk kemajuan hidupmu.

“Eun Hee-ya, kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?”

Eun Hee terus berjalan tanpa mempedulikan namja yang sejak tadi mengikuti arah langkahnya.

“Eun hee-ya, sejak kapan kau bekerja di tempat hina seperti itu?” namja tersebut terus mendesak, bahkan kali ini ia berusaha mendahului langkah Eun Hee.

“Apa hak-mu bertanya?” Eun Hee menaikkan satu alisnya, seolah mengejek pertanyaan namja tersebut.

“Aku namjachingumu! Tentu saja aku berhak tahu apa yang terjadi padamu selama dua tahun belakangan,” namja tersebut menurunkan nada bicaranya, tidak ingin membuat suasana bertambah ricuh. Ia paham betul bahwa Eun Hee tidak suka dengan nada bicara yang ia keluarkan sebelumnya.

Cih, kau masih berani menyebut dirimu sebagai namjachinguku setelah dua tahun ini kau pergi ke Jepang, meninggalkanku dan tidak peduli dengan kehidupanku?”

“Mianhae, aku tidak berani menentang orang tuaku dengan terus…”

“Terus apa? Terus mempertahankan hubungan kita yang ditentang orang tuamu karena status sosial kita yang berbeda? Seperti itu? Kalau begitu sudah jelas, tidak ada apa-apa lagi di antara kita, hidupmu adalah milikmu, begitu juga hidupku—hakku untuk mengaturnya,” Eun Hee berusaha menguasai dirinya agar air matanya tidak jatuh di depan namja yang jauh di dalam hatinya masih sangat ia cintai.

Namja tersebut diam, ia tertegun karena ketidakberdayaannya mempertahankan seseorang yang sangat ia cintai. Menyesali kepengecutannya yang tidak berani melawan batasan status yang menghantui kehidupan asmaranya.

“Baiklah, kita berakhir hari ini…,” ucapnya pasrah. Namja itu terduduk lemas di aspal jalanan. Menundukkan kepalanya dan membiarkan air matanya mengalir, namun tetap menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Cih, aku bahkan telah menganggapnya usai setelah kau pergi. Aku tidak ingin mengenal namja pengecut sepertimu lagi, Kim Jonghyun-sshi!”

Begitulah hidup. Siapa yang tidak berani menantangnya, maka ia harus bersiap kehilangan suatu hal, maupun seseorang. Meskipun akhirnya kehilangan itu tidak selamanya merupakan jalan takdir yang buruk…

+++++

“Taemin-ah, Gwaenchana? Wajahmu memerah, kau sepertinya sedang tidak enak badan, ya?” Chaeryn menghampiri Taemin yang semenjak kelas kuliah pagi, sampai siang ini tidak kunjung bergerak dari kursinya.

Gwaenchana. Bisa kau tinggalkan aku sebentar?” pinta Taemin pelan.

Ya! Bagaimana bisa aku meninggalkanmu, kau sakit tahu, sebaiknya kau bolos kuliah saja untuk jam yang siang ini, urusan absensi—aku tidak keberatan menandatanganinya.”

“Tidak apa, Ryn. Ini hanya temporal saja, aku tidak sakit seperti yang terlihat, kau tenang saja…,” Taemin tersenyum untuk menunjukkan bahwa dirinya akan baik-baik saja.

“Awas ya kalau kau bohong, aku tidak mau jadi chingumu lagi,” Chaeryn mengancam sambil duduk di bangku yang ada di sebelah Taemin.

Ne, aku sehat kok. Ryn, Oya, Aku pinjam catatanmu ya nanti, aku sedang malas mencatat.”

“Oke…kau tenang saja.”

Taemin tersenyum, kali ini dipandanginya wajah Chaeryn lama hingga yeoja tersebut menyadarinya. “Wae? Untuk apa kau melihatku terus?” Pipi Chaeryn memerah karena menyadari bahwa namja di sampingnya ini terus memandanginya.

“Kau mengingatkanku pada seseorang. Kau punya kakak?” jawab Taemin dengan raut wajah yang tampak sedang berpikir.

“Aku? Ah ya, aku punya Jinki oppa, tapi wajah kami tidak begitu mirip sih sebenarnya.” Chaeryn terkekeh karena teringat betapa wajahnya tidak mirip dengan Jinki.

Keduanya memang berbeda jauh, dari mulai mata saja sudah berbeda jauh, ia memiliki mata yang agak besar sementara mata Jinki sipit. Begitu pula dengan bagian wajah lainnya.

“Oo, kukira kau punya kakak yeoja. Ah, lupakan, mungkin hanya salah ingat. Oya Ryn, pulang kuliah kau ada waktu tidak? Aku ingin mengajakmu membeli jaket dan aku ingin kau yang memilihkannya untukku.”

Mwo? Aku yang memilih? Kenapa mesti aku?”

“Kau tidak mau?” Taemin justru bertanya balik melihat ekspresi Chaeryn yang tampak seperti orang bodoh.

Ani, aku mau saja, tapi sedikit heran kenapa mesti aku?” kali ini Chaeryn mengarahkan jari telunjuk ke wajahnya.

“Jangan berpikir macam-macam, aku hanya berpikir selera fashion-mu bagus. Baiklah, sudah diputuskan, nanti siang kita jalan!”

Ya! Kau hanya memutuskan sepihak!” sela Chaeryn cepat.

“Loh, kau tidak konsisten, kan tadi kau sendiri yang bilang kalau kau mau-mau saja,” Taemin terkekeh geli sambil mengacak-acak rambut coklat Chaeryn, dan itu membuat semburat merah di pipi yeoja tersebut muncul seketika.

+++++

Putus cinta membuat jalan berpikir seseorang menjadi terhenti beberapa waktu, yang ada di otaknya hanya kenangan tentangnya, hal-hal lain seolah terusir sementara dari ruang pikiran. Ketika bersinggungan dengan cinta, maka semua yang rasional bisa berubah menjadi irrasional. Seorang yang jenius sekalipun bisa tampak bodoh jika ia tengah berurusan dengan pesona maut sang cinta. Orang rela melakukan hal-hal berbahaya hanya demi mempertahankan cinta mereka, mempertahankan apa yang tersimpan di hati mereka. Tapi, sadarkah kau bahwa terkadang hati adalah petaka bagi pemiliknya jika ia sudah tersakiti?

Tidak hanya misteri malam yang menyeramkan, setan bisa berkeliaran di seluruh penjuru bumi setiap saat. Merasuki seseorang untuk melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan.

Annyeong, kau yang bernama Shim Changmin?” tanya seorang namja kepada namja lainnya yang baru saja keluar dari sebuah studio pemotretan.

Ne, aku Changmin. Waeyo?” balas Changmin dengan nada tidak ramah. Tampak jelas mood-nya sedang kacau balau karena berita yang didapatnya beberapa waktu lalu.

“Aku sahabatnya Kim Soora, ia menitipkan sebuah pesan untukmu beberapa minggu sebelum kematiannya. Maukah kau ikut denganku? Aku akan menunjukkannya di dalam mobil,” kata namja pertama dengan sopan.

Changmin mengangguk mantap, ia sangat antusias karena orang di hadapannya menyebut nama Soora, yeojachingunya yang memang sedang ia pikirkan karena kasus kematiannya yang tragis.

Changmin pun dibimbing memasuki sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari studio tersebut. Sang pemilik mobil mempersilakan Changmin masuk terlebih dulu, setelah Changmin duduk, ia menutup pintu mobilnya.

I catch you,” desis namja tersebut.

Namja tersebut membuka pintu belakang dengan berpura-pura mengambil sebuah box yang ada di bangku barisan belakang, setelah kotak tersebut ada di tangannya, ia mengeluarkan isinya secara hati-hati, sebuah sapu tangan.

“Itu barang peninggalan Soora?” tanya Changmin begitu melihat apa yang dilakukan namja yang belum dikenalnya itu.

Aniyo, sapu tangan ini….”

“Mmmpfff….”

Seketika mulut Changmin dibekap dengan sapu tangan tersebut dan membuat namja jangkung nan tampan tersebut dihantarkan menuju alam mimpinya.

“Tidurlah dengan tenang sebelum kau menemui ajalmu,” gumam namja tadi sambil bergerak menuju jok kemudi.

+++++

“Siapa kau sebenarnya? Dimana aku?” Changmin tampak panik saat mendapati dirinya tengah berada di sebuah kamar gelap dengan ukuran kecil.

“Kau lupa? Bukankah ini tempat kau merenggut keperawanan Soora?” kata namja tersebut sambil menyalakan lampu ruangan tersebut.

Changmin tampak ketakutan karena menyadari bahwa wajah orang yang ada di hadapannya sudah menunjukkan aura mengerikan.

“Si-siapa kau sebenarnya?” tanyanya lagi.

“Aku? Aku sendiri tidak tahu harus menyebut diriku dengan istilah apa, Just call me, devil,” jawab namja tersebut sambil mencekik leher Changmin dengan kuat, membuat Changmin kesulitan bernapas.

Mata Changmin makin membesar saat melihat perubahan warna kelopak mata namja tadi menjadi merah, keringat dinginnya mengalir deras disertai getaran tubuh yang hebat saat melihat sepasang taring keluar dari sela mulut namja yang ada di hadapannya.

Lehernya pun mulai terasa tertusuk benda yang sangat tajam dan tidak lama benda tersebut sudah menembus lehernya, membuat darah segar bebas mengalir deras dari leher Changmin.

Tubuh Changmin tergeletak lemah, nyawanya sudah tidak lagi bersama tubuhnya tersebut. Malaikat maut telah menggiring jiwanya ke dunia dengan dimensi yang berbeda.

Ssrrraaakkk

Kulit perut Changmin terkoyak, jemari berkuku runcing siap mencabik seluruh bagian dalam tubuh Changmin. Tidak sulit menemukan apa yang dicari, mata merah itu pun makin berbinar saat mendapatinya.

Kraukkkk

Digigitnya organ dalam Changmin yang diambilnya tadi, ia melahapnya dengan sadis hingga bola matanya perlahan berubah kembali menjadi hitam. Biasanya ia hanya menjalankan aksinya sampai tahap itu, tapi kali ini kemarahannya pada sang korban sangat besar. Dicabik-cabiknya seluruh bagian dalam sang korban sampai seluruhnya berserakan dilantai dengan berlumur darah dan memunculkan aroma yang dapat membuat orang mengeluarkan isi perut karena tahan jika menciumnya—amis. Wajah tampan sang korban pun diwarnai dengan garis-garis penuh darah karena dicabik-cabik kuku tajam nan berkilat kepunyaan sang pembunuh tanpa nurani tersebut.

“Jangan harap siapapun bisa lolos dari kemarahanku,” ucap namja tersebut sambil berlalu meninggalkan korbannya yang sudah tidak berbentuk utuh.

+++++

Rutinitas yang tidak berubah, tatkala matahari menyembunyikan sosoknya karena harus bergilir tugas dengan bintang dan bulan, Eun Hee keluar dari rumahnya dengan dibalut mantel hitam panjang untuk melindungi tubuhnya dari dinginnya udara sekitar.

Ia terus berjalan hingga halte bus yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya. Dipegangnya dadanya yang entah kenapa terasa sakit sejak ia bangun tidur tadi. Kalau punya pilihan lain, ia ingin meringkuk saja dibalik selimut, tapi ia teringat ancaman yang siap menerkamnya jika ia tidak datang ke tempat itu satu hari saja, bukan ia yang menanggungnya, tapi kakaknya—Park Yoochun—yang ia sendiri tidak tahu di mana oppanya itu disembunyikan oleh sang majikan pemilik klub malam tempatnya bekerja.

“Eun Hee-ya!” seseorang yang baru datang dengan napas terengah-engah, menyapanya.

“Ah, Minho-ya, waeyo?” Eun Hee membalas sapaan sahabatnya ini dengan diselipi sebuah senyuman manisnya.

“Ini aku bawakan untukmu agar tidak beli makan di luar, lumayan untuk menghemat uangmu,” ujar Minho sambil menyerahkan sebuah kotak berisi makanan.

Eun Hee memandang Minho dengan haru. Ya, hanya Minho yang peduli tentangnya, yang mengiringi perjuangannya yang menyakitkan, yang melindunginya ketika penagih hutang mengancam nyawanya, yang peduli kesehatannya, dan semua hal lain yang menyangkut dirinya. Tidak ada orang lain lagi yang peduli padanya. Eun Hee sudah tidak punya siapa-siapa, kecuali Yoochun oppa dan Minho.

Gomawo, tapi seharusnya kau tidak perlu repot-repot, sampai lari-lari seperti tadi.”

“Ah, tidak apa, lari kan merupakan bagian dari olahraga, aku kan maniak olahraga. Oya, kau sudah tahu kabar oppamu?”

“Belum, sudahlah, jangan membuatku sedih. Mmm…Minho-ya, apa kau tidak malu bersahabat dengan wanita kotor sepertiku?” ekspresi wajah Eun Hee langsung berubah menjadi sedih saat mengucapkannya.

Mwo? Kenapa kau bertanya seperti itu?” Minho tahu sahabatnya ini menyimpan kesedihan mendalam karena harus melakukan pekerjaan terkutuk tersebut. “Apa keberadaanku di sampingmu masih belum menjawab pertanyaanmu itu?” Minho tersenyum tipis, senyuman yang membuat siapapun yang melihatnya ikut tersenyum karena pesonanya.

“Eun Hee-ya, aku janji akan membantumu menemukan oppamu dan melunasi semua hutang-hutangmu. Sebentar lagi aku lulus sarjana, dengan begitu aku hanya fokus bekerja….”

“Tidak perlu, aku tidak ingin merepotkan orang,” potong Eun Hee cepat. Dia paling tidak suka kalau ada orang yang terkesan mengasihaninya, itu sama saja dengan merendahkan harga dirinya.

“Aishhh, kau ini tetap saja. Kalau kau terus keras kepala, aku akan lebih keras lagi. Kau tenang saja, aku pun tidak ingin melihatmu terus seperti ini.”

Geurae, terserah kau saja. Aku harus segera berangkat,” balas Eun Hee singkat. Ia sedang malas berdebat dengan Minho.

Ne, keep smile Eun Hee-ya! Hwaiting!” Minho mengucapkan kalimat penyemangat karena menyadari ada yang tidak biasa pada raut wajah Eun Hee.

Eun Hee pun masuk ke dalam bus yang baru saja berhenti di halte tersebut, melambaikan tangan pada Minho yang masih berdiri di tempatnya.

Minho membalasnya dengan lambaian tangan yang serupa, ia tersenyum pada Eun Hee, memberikan sebuah kehangatan pada orang yang sangat berharga untuknya ini. Melontarkan sederet kalimat dengan suara pelan,

Eun Hee-ya, aku tidak tahu bagaimana caranya. Yang aku tahu adalah aku harus berdiri di sampingmu dan membantumu di saat aku bisa. Setidaknya itu membuatmu merasa bahwa kau masih punya seseorang yang mempedulikanmu.

+++++

Kau tidak pernah tahu persis apa yang sebenarnya terdapat di dalam pikiran seseorang. Bisa jadi orang yang tenang seperti air di permukaan laut tanpa ombak, ternyata memiliki gejolak pikiran yang dahsyat seperti putaran air yang terdapat di bagian dasar laut.

Seorang namja mengamati Eun Hee yang baru datang dari pintu masuk, yeoja itu langsung disambut oleh sorakan riuh ajusshi bermata keranjang bermoral bejat yang ada di klub malam tersebut.

“Jadi itu yeoja bernama Park Eun Hee?” tanya namja tersebut pada Bartender yang ada di hadapannya.

Ne, dia adalah yeoja nomor satu di kawasan ini. Kau belum pernah mencobanya? Aku rekomendasikan untukmu,” jawab sang Bartender dengan senyum penuh keyakinan seolah memastikan bahwa yang diucapkannya itu benar seratus persen.

Aniyo, aku hanya ingin melihatnya saja, aku tidak tertarik dengan wanita malam seperti dia,” jawab namja tersebut sambil mengelus-elus dagunya.

Cih, nanti juga kau akan tertarik, kau hanya baru pertama kali ke tempat ini, jadi belum terlalu memperhatikan kemolekannya. Coba kau lihat baik-baik, apa kau tidak tergoda?” Sang Bartender berusaha mengompori agar pelanggan baru tersebut tertarik dengan Eun Hee, dengan begitu akan bertambah banyak orang yang datang ke tempat tersebut karena ingin mengincar sang primadona.

“Untuk apa? Kecantikan seseorang itu terletak pada hatinya, bukan pada tubuhnya. Lagipula, aku tidak mau yang bekas orang, apalagi sudah puluhan kali, tidak menarik lagi rasanya,” namja tampan tersebut tersenyum sinis sembari mengamati setiap gerakan sensual menjijikkan yang dilakukan yeoja itu terhadap calon pelanggannya. Yeoja tersebut berdiri tidak jauh dari tempatnya .

Hatinya miris melihat kelakuan yeoja tersebut, rasanya ia ingin menyingkirkan semua ajusshi hidung belang yang sedang mengelilinginya dengan muka penuh nafsu setan.

“Bagaimana caranya agar aku bisa bicara berdua dengannya?” tanya namja tersebut pada sang Bartender.

Bartender tersebut tersenyum penuh kemenangan karena mengira namja di hadapannya mulai kepincut dengan sang primadona. “Booking dia ke bos kami, tapi kau harus membayar mahal untuk itu.”

“Tidak masalah, cepat lakukan untukku.”

+++++

Suasana membeku, tidak ada yang bersedia membuka mulutnya terlebih dahulu. Eun Hee hanya mengikuti pergerakan kaki namja yang telah memenangkannya saat ini. Keduanya memasuki sebuah ruang khusus, sebuah ruang penuh kehinaan yang menjadi saksi mati keganasan hawa nafsu manusia.

Namja tadi hanya duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut, hal ini mengingatkan Eun Hee pada tamu bernama Lee Jinki yang datang beberapa malam yang lalu.

Eun Hee agak segan menempelkan tubuhnya pada namja ini, takut namja ini melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Jinki.

“Kenapa kau diam?” tanya namja tersebut sambil tersenyum.

Eun Hee mendekatinya dengan ragu, ia hanya duduk di samping namja itu, tapi tetap tidak berani bersentuhan dengan namja tersebut.

“Dari sikapmu barusan, aku tahu kau tidak seliar yang terlihat di depan para ajusshi tadi. Mungkin sebenarnya kau tidak ingin melakukan ini. Pertanyaannku, kenapa kau harus memilih pekerjaan hina ini?” tanya namja tersebut dengan santai.

“Tugasku hanya melayani tamu yang datang, bukan menjawab pertanyaan yang sifatnya pribadi seperti yang kau tanyakan,” jawab Eun Hee dengan menaikkan salah satu sudut bibirnya.

“Bukankah aku sudak mem-booking-mu? Jadi aku raja sekarang. Aku menginginkan pelayanan yang berbeda, aku sudah bosan dengan yeoja sepertimu, terlalu banyak yeoja yang lebih menarik daripada kau di dalam hidupku,” jawab namja itu dengan angkuh, namun tetap tersenyum santai.

“Lalu untuk apa kau membuang uangmu demi membawaku masuk ke ruangan ini?”

Loh, memangnya ini ruangan apa? Apa pengunjung yang masuk ke tempat ini selalu meminta hal yang serupa? Wah, berarti sudah tidak terhitung ya berapa kali kau melakukannya? Kasihan sekali namja yang jadi nampyeonmu nanti karena anae-nya sudah dipakai orang lain setiap malam.”

Cih, aku sudah tidak peduli seperti apa hidupku nanti. Mungkin aku sudah tidak punya kehidupan di masa mendatang, tapi setidaknya aku menyelamatkan kehidupan orang yang aku sayangi,” jawab Eun Hee sambil berusaha keras menahan air matanya yang mulai terdesak keluar karena perkataan namja sialan yang ada di sebelahnya ini.

“Binggo, aku mendapatkan jawabannya, itu jawaban pertanyaan pertamaku,” namja tersebut tersenyum penuh kemenangan, sementara Eun Hee hanya mendengus kesal karena mulutnya berhasil terpancing dengan permainan kata namja ini.

Plukk,

Namja tersebut mengeluarkan satu set kartu dan meletakkannya ke meja yang ada di hadapannya, “Karena aku terlanjur mengeluarkan uang, temani aku bermain kartu saja malam ini sampai batas waktunya habis.”

Eun Hee menatap namja tersebut dengan penuh rasa tidak percaya. Baru kali ini ada namja aneh seperti dia, datang dan hanya memintanya menemani main kartu, sama sekali tidak meminta layanan yang biasanya diminta pengunjung lain.

“Siapa namamu?” tanya Eun Hee beberapa saat kemudian. Ia cukup terkesan dengan namja di hadapannya ini, ia merasa namja ini memang tidak berniat memintanya melakukan ‘itu’ dan justru bermaksud baik padanya. Dengan seperti ini, Eun Hee merasa terselamatkan, ia tidak harus melayani nafsu binatang lain yang menunggunya di luar sana.

“Key,” jawab namja tersebut singkat sambil mengocok kartu yang tadi dikeluarkannya.

Eun Hee mengingat nama yang singkat tersebut di dalam ruang memorinya, namja yang mengesalkan namun mengesankan.

Sementara Key menyadari bahwa Eun Hee sedang memperhatikannya, tapi namja tersebut pura-pura tidak tahu dengan terus membagikan kartu yang akan dimainkan.

Eun Hee-ya, aku tidak tahu bagaimana caranya. Yang aku tahu, aku harus melakukannya, menjalankan sebuah permainan dengan indah, yang tidak kau sadari apa yang menjadi maksudku sebenarnya. Waktu akan menjawabnya, biarkan aku menikmati permainan ini dan kita lihat apa yang akan kulakukan selanjutnya. Aku hanya harus meyakini sebuah statement, Hukum karma berlaku di dunia ini.

TBC…

+++++

Gimana ? kayaknya masih belum ngerti ya siapa sebenernya setiap tokoh yang ada di sini dan hubungan yang ada di antara mereka. Aku udah tau, tapi belum memutuskan seperti apa prosesnya sampe semua tokoh tersebut bertemu. Susah ni bikin cerita sadis kayak gini, wong aku aja tutup mata kalo liat adegan pembunuhan di tipi-tipi, jadi maklum ya kalo aku kurang greget ngegambarin detail pembunuhannya.

Gomawo buat yang udah mau baca ff ini, semua kritik saran diterima kecuali kalo ada yang bilang kurang panjang ceritanya, aku ga suka yang kepanjangan, dalam setiap part-nya udah aku bikin batasan. Special thanks buat chinguku yang udah mau dengerin ocehanku tentang jalan cerita ff ini ke depannya (aku suka lupa kalo ga diceritain) dan buat Rahmi Eon yang udah mau diajakin duet.

Give oxygen please, don’t be silent reader, OK?

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

56 thoughts on “The Devil – Part 1

  1. Bahasanya kereeeen… Kata-katanya bagus. d(^w^)b

    Part selanjutnya banyakin darahnya dong. Aku suka banget sama darah apalagi yang merah segar.🙂 #Jongkisangtaekumat

    Etapi ada typonya dikit. Waktu scene Jinki mandi. Kok yang dibilas ‘tubuhku’? Semuanya dari sudut pandang author, bukan? <== reader yadong

    Trus waktu Changmin dibunuh. 'Tahan' sama baunya kok pengen muntah?

    Ahahaha. Chaeryn suka banget ngancem orang yah… Sama oppanya sendiri dan Taem.

    A-yo part 2. Lanutan!😀

    1. membuat orang mengeluarkan isi
      perut karena tahan jika menciumnya
      —amis.

      bwahaha aq ktggln ngetik ‘tidak’nya.. lol

  2. jujur nih,msh agk bingung sm karakter masing2 tkoh.
    tp sumpah d…adegan pas the devil mengobrak-abrik tbuh korbanx sdis bgt,aq smpe mual ndiri pas byanginx.atw jgn2 yg jd devil i2 si kunci y..?? atw mlah taemin..??
    aahh molla…ff mu memang selalu tak trduga dan bkin pnsaran…
    keep writing thor…next part jgn lama2 y…

  3. Wowowow,,, Bibib come back dengan FF yang bisa dibilang cukup “Sesuatu”,,, Dannn,, Duet bareng Mimi Oen??? Bakalan lebih “Sesuatu” nihh kayaknya,,hehehe

    Sumpah,, aku baca Nih FF sambil sarapan,, mana yg pas scene pencabikan itu,,, Hisshh,, ngeri dehh,, sedikit mual. Itu yang diambil Hati apa jantung?? Jangan bilang itu yg devil berkuku panjang itu Key,, tapi feeling-ku mengatakan itu Key,,,

    EunHae itu adeknya Jinki kah?? Dia kan yg dibilang Taemin mirip sama Chaerin,,, Jinkiii,, wihhh,, diam-diam menenggelamkann,,,,

    Ini FF penuh kekerasan sama hal-hal berbau adult harusnya rate-nya jangan PG-15 oen,paling gx PG 17 *menurutku sihhh,, bagi Under age lebih baik jangan baca,,hahahaha

    Belum ada bayangan buat part lanjutannya,, ayo ditunggu part Lanjutannya,,,

  4. Baca FF ini pertamanya karena liat nama authornya. Mungkin Bibib Dubu dan aku belum saling kenal ya tapi aku udah sering liat username kamu keliaran di SF3SI, di blog Yuyu juga. Kalo sama Rahmi Eonni sih aku udah kenalan hehe. Jadi sekalian kenalan aja deh, salam kenal🙂

    Bener-bener gak merhatiin genrenya dan langsung baca aja, eh pas ada adegan vampir (?) dan pembunuhan sampai ngoyak-ngoyak itu otomatis aku scroll ke atas lagi untuk liat genrenya. Jeng jeng ternyata emang mistery dan angst, baiklah. Untungnya ga sampe mual atau gimana sih hehe.

    Dari struktur kalimatnya oke banget lho, kecuali kalau ada typo gitu gitu kan udah dicomment sama yang lain tuh hehe. Tapi jujur aja aku gak bisa baca sekali doang tiap kalimatnya. Harus konsentrasi penuh kalau gak jadinya gak paham sama makna kalimatnya. Intinya aku harus baca di tempat sepi dan dengan konsentrasi penuh. Mungkin aku agak lemot kali ya haha.

    Masih part awal jadi wajar sih kalau semuanya masih belum jelas, masih perkenalan juga sama karakter dan masalahnya. Tapi aku agak bingung sama latar tempat dan waktu karena kan emang scenenya ganti-ganti gitu. Kalau boleh saran dikasih keterangan tempat dan waktu aja, atau gak dikasih penjelasan di narasinya.

    Wew panjang banget ini commentku –” Ditunggu deh part selanjutnya. Semangat🙂

  5. widiih… aku punya feeling kalau si Jinki yang jadi devilnya soalnya ai Jinki punya nafsu pembunuh dan sempet ada kata2 ‘i am a devil’

    bener kata lee jongki kata ‘tidak’ ketinggalan. dan juga thor harusnya rantingnya di naikin, tapi ga usah deh kasian yang masih dibawah umur kekeke🙂

    pokoknya aku suka sama ni FF angst sama mysterynya dapet tapi masih ga tau bagian fantasy dan romancenya

    BTW aku tunggu next partnya dengan hal2 yang lebih banyak pembunuhan hahaha *evil laugh*

    1. emang romance-nya ga diutamain. fantasy-nya juga semoga sih ntar dapet di part2 selanjutnya…aku baru belajar bikin fantasy, jd mian klo ga amazing

      thx y udh mau baca n komen ^^

  6. jinki pembunuh … vampirenya spa?? taemin kah ? atau key? atau jinki juga termasuk?
    ini cerita sedikit menegangkan… >,<
    ngakkk sangat menegangkan di bagian vampirenya !!!
    banyak misteri… 3 org itu (jinki,key,minho)
    suka sama eun hee ya???
    suka sama kaat2nyaaa… dalemmm bangeeet
    n suka sama key nyaa !!! pinter banget mancing org ..

    ayo thor, ff ini sangat-sangat menarik… bagus bangeet, lanjutannya di tunggu dan jangan lama-lama yaa,… ^^

  7. Aku masih bingung sih sebenarnya hubungan tiap-tiap castnya
    Trus key itu sbnernyaa makhluk apaa
    -,-
    Tapii hwaiting
    Saya menunggu kanjutan yang akan membongkar rahasiaa
    ^^

    1. wew, novel apaan? tapi ceritanya beda kan chingu? ini beneran hasil mikirku sendiri loh…

      sip…lanjut kok, tungguin aja yah…

      thx udh mau baca n komen ^^

  8. Tetap DAEBAK…
    »mau brp jempol? 10?20? tp aku cm py 4 aja..nanti aku pinjemin jempolnya tetangga deh..hehe
    G bosen2 bacanya…pdhl udh prnh bc d blog mu..tp blm bs nemuin bedanya d mana?ky nya aku nya yg pelupa bin oon deh..
    »readerpabo…

    Eun hee bruntung bgt ya mski jd wnt mlm,tp d kelilingi namja2 shinning…
    onew ,jjong ,minho n key……taem???

    1. hahaha…mesti dapet pinjeman jempolnya loh ya :p

      bedanya belom ada di part ini, cuma ada kata2 yang diubah aja….mungkin ntar ada kok. tp ga akan ngerubah inti cerita yg di blog-ku

      sttt…jangan bilang2 yah kelanjutannya…soalnya yg di wp-ku udh aku protect, hehe

      thx yah km udh baca berkali-kali, komen 2 kali pula ^^

  9. Woa.. Daebak.. Daebak..
    Ff-nya kereen.. Feel-nya dapet.. Bahasa dan penulisannya rapi..
    Penasaran dch sma yg jdi p’bunuh sadis tu syp..
    Next ych.. Ditunggu..
    Hwaiting^^

  10. Hoek hoek*ceritanya lgi muntah* mengerikan eonn…

    Tata bahasanya rapih..i like it
    bacanya musti pelan”,rileks…
    Krna msih membingungkan,mungkin krna bru part 1 yaa,

    ada sdikit typo sih…lain kli di prhatikan lgi yaa *key eomma mode on*
    lanjut lanjut

    1. ne, bacanya pelan2 dan dihayati, pasti ntar nemu semua jawabannya

      typo, iya nih masih ada aja yg kelewat…semoga ntar makin rapih

      thx ya udh mw baca n komen ^^

    1. btw, itu bukan vampir kok…cuma makhluk jadi2an gitu, aku juga bingung nyebutnya apa, aku minim pengetahuan tt makhluk2 fantasy, haha

      part 2 udh terbit…ayo baca ^^

      thx ya^^

  11. gw suka ff ini, kenapa? karna gw harus mikir saat bacanya.
    seperti yang lu bilang “Gimana ? kayaknya masih belum ngerti ya siapa sebenernya setiap tokoh yang ada di sini dan hubungan yang ada di antara mereka.”. suka karna justru tokohnya belum jelas, en bikin penasaran buat baca part selanjutnya.
    suka sama ff yang jalan ceritanya berat, en rumit. apa lagi klo bukan buat mikir. haha apelah gw mikir terus berasa pintar😛
    yang masih gw pikirin itu yang jadi vampire yang bunuh soora sama changmin, Jinki kah?
    terus apaan yang dicari yang ada didalam tubuh korbannya buat ritualnya itu? soalnya gak disebutin disitu *mikir lagi*.
    author: apasih lu mikir terus
    gw: pan biar keliatan pinter thor. kekeke😛
    pokoke suka deehh, apalagi penggambarannya detail kok, gw cukup kebawa sama jalan ceritnya ^^v

    1. nah chingu, part 2-nya udah ada kok, ada pertanyaan km yg udh kejawab di part 2^^

      thx yah udh mau baca, ikutan mikir pusing2, dan komen ^^

      makin bnyk mikir makin pinter otak, hehe

  12. abis baca neh epep, aku ngumpet di pojokan. #wae??

    hiks.hiks..#waeyo??kau takut??
    aniyo..
    #lantas??

    AKU MINDER SAMA QMU BIBIB SAENG AND LIONEW.
    Whooaah kata katanya keren abiss TT^TT and rapi tingkat dewa, aduhh kalimatnya bikin nangis darah, gila! keren susunan nyah. gag kyak epep eon TT^TT ancur gilak😦

    DAEBAK! ceritanya so much blood, ah, aq blom berani bkin yang kyak gnie,hihi.😀
    lanjut!!!

    1. loh emang ini serem bgd ya eonni? btw eonni berlebihan ni, ff eonni bagus kok…tp jangan buru2 aja…
      aku malah kurang mendetail bikin yg fantasy2 gini, karena aku emg jarang baca novel fantasy…

  13. gaya bahasanya suka bgt…!
    berasa baca skrip buat drama/film
    ngga terlalu berat tapi berkesan(?)
    *apasih

    jarang ada yg bikin ff serem (ato sadis) bgni..
    salut buat authornya!
    cuma emang penggambarannya kurang dapet dikit.
    soalnya aku tenang-tenang pas baca adegan ngoyak2 tubuh itu..
    *ato aq yg emang psikopat y?
    hehehehe…

    btw, ada beberapa bagian yg typo..
    lanjut part 2~

  14. Seru seruuu~ tp di part ini kyknya karakter tokohnya msh buram, blum bgtu kliatan. Aku jg pnsrn bngt sm si devil itu. Feelingku itu Key, tp mngkin Jinki jg. Atau jgn2 Taemin.

    Aah sdhlah, lbh baik lanjut ke part brikutnya. Anyway, nice ff author🙂

  15. Banyak misteri yg blom q mengerti di cerita ini, kyak apa hub Jinki-Eun Hee-Key, tyus sbenarnya yg jdi “Devil” tu cp?? kyaknya Jinki, tpin dia mnusia to bkan cee??? kok dari certa tdi kyak vampir gto, mianhe klo slah…
    n q ska bnget ma skapny Key di cnee…

  16. Annyeong! ^^
    Miane aku baru baca ff ini hehe, sebeluym nya aku udah baca “I Can’t be Yours” terus aku suka sama ceritanya, walopun sad ending sih ¬_¬ hehehe

    Banyak juga ya tokoh di ff ini. Terus, aku masi bingung sama maksud Key itu *author: iyalah baru part 1* hehe -_-

    Yaudah lanjut deh🙂

  17. Bahasa nya tinggi, nyampe baca berulang-ulang baru deh ngerti, mungkin akunya aja sih yg rada lelet. bacanya bikin mikir plus nebak2 gajelas

  18. Bisa tolong kirim kan naskah nya ke email ku, dg format : margin A4 , font : Times New Roman , size : 12 . Di tambah sma sinopsis nya tolong di ringkas jadi 1 lembar saja. Bisa kan??

    1. mas avin… saya dan temen duet sy memang akan mengirimkan naskah ini ke penerbit. Jadi saya tdk bs menerima tawaran kerjasamanya. Lagipula, saya tdk kenal mas, mana saya tau mas jujur atau tidak. Teman saya ada yg naskahnya pernah dicuri orng, parahnya tuh novel ada di gramed sejak sy SMA. Saya tdk ingin bertindak bodoh dgn percaya pada orang yang tdk dikenal😀

  19. Kereen~ tapi gak kuat ngebayangin onew ngebunuh apalagi makan oraaaaaaang hiiy~
    Keren thor keren!
    Aku masih bingung mereka bertiga itu suka eunhe? –a

  20. woooooooow,,daebak!ud kyk lg baca novel,,hehehe
    bahasa penulisannya bagus,,cuma aku masi belum ngerti disini park eunhee two sbenerny siapa nd kenapa?onew,minho,jjong,temin ama key juga mereka kenapa?aku penasaran,,tapi kereeen,,okelah langsung lanjut aja ke part berikutny,,annyyeong!!

  21. “Cintaku dibalas dengan sebuah sandal,” entah kenapa ngakak pas nyampe di bagian ini xD Dohh Tetem, nasibmu unyu sekali wkwk xD
    Kocak eon, keep writing😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s