Perubahan

Title : Perubahan

Author : Choi Minjin

Main Cast : Lee Jinki

Support Cast : Choi Minho, Kim Jonghyun, Junsu, Chansung

Length : one shot

Genre : friendship

Rating : General

A.N: Haaaiiii 🙂 siapa suka onho? sayaaaa…..hehehehe

Jinki mengingat pantai ini sebagai bagian hidupnya. Disinilah dulu ia bermain-main, berkejaran, menghabiskan sepanjang sore hampir setiap hari. Ia tersenyum mengenang masa kecilnya. Masa kecil itu tidak melulu bahagia. Tapi setidaknya ada kenangan manis yang terukir indah dalam memorinya.

Memori itu berkelebat dalam kepalanya. Ombak yang bergulung indah, cuaca terik musim panas, sekaleng soda dingin dan anak lak-laki bermata besar itu. Terlalu berharga untuk dilupakan.

~~~~~

Siang itu sepulang sekolah, sementara teman-temannya pulang lewat jalan umum, Jinki memilih untuk lewat pantai. Ia tidak mau lagi diganggu teman-teman yang badannya besar-besar itu. Di pantai saat siang seperti ini hampir tidak ada orang. Jadi tidak ada yang mengganggunya.

Tetapi hari itu tampaknya ia sedang sial.

Beberapa anak yang sering mengganggunya berdiri dekat batu-batu karang tidak jauh darinya. Ia dapat melihat Junsu, Chansung, dan Kim Jonghyun di sana. Apa yang harus dilakukannya? Lari? Jawabannya: tentu saja.

Jinki berbalik dan bersiap lari. Tapi suara Jonghyun menghentikannya,”Yah, Lee Jinki!”

Jinki berbalik lagi. Jonghyun memberi isyarat agar Jinki mendekat. Jinki tidak punya pilihan lain. Ia berjalan takut-takut ke arah mereka.

“Kau pikir kau mau kemana? Sini! 50 won!”

Jinki merogoh kantong bajunya. Tidak ada apa-apa. Kantung celananya, hanya ada sekeping uang logam,”Aku tidak punya uang sebanyak itu.”

“Oh ya? Lalu apa yang kau punya hah? Otakmu yang encer itu? Kaupikir hanya dengan pintar kau bisa hidup di dunia ini?”

Jinki benar-benar sudah tidak tahan. Sudah bertahun-tahun ia diperlakukan seperti ini. Beberapa minggu ia sempat berhasil menghindar, tapi kenapa hari ini mereka menemukannya di sini? Ia benar-benar marah,”Kenapa kalian selalu menggangguku? Apa hanya itu yang bisa kalian lakukan? Kalau tidak ada pekerjaan, sebaiknya kalian belajar. Apa kalian pikir hanya dengan mengganggu orang kalian bisa hidup di dunia ini?”

Sebuah pukulan mengenai pipi Jinki. Ia jatuh tersungkur di atas pasir putih. Jonghyun menyeringai,”Dasar anak lemah. Kau tahu kenapa kau diganggu? Itu karena kau lemah. Bisanya cuma bicara seperti itu. Tapi kau tidak berani melawan kan?”

Jinki tidak menjawab, hanya memegangi pipinya.

Jonghyun menginjak kaki Jinki. Jinki berteriak kesakitan.

“Hei, apa yang kalian lakukan?”

Jonghyun, Jinki, Junsu dan Chansung menoleh. Tidak jauh dari mereka seorang anak laki-laki, kurus dan tinggi memandangi mereka dengan matanya yang besar membelalak lebar. Anak itu maju dan berdiri tepat di dekat kepala Jinki,”Kau sedang apa di bawah situ? Diam saja diinjak begitu? Kau kan bisa berdiri.”

Jinki tersadar. Benar juga. Ia duduk. Jonghyun menarik kakinya lalu memandang anak itu dengan heran,”Siapa kau?”

“Bukan siapa-siapa. Ngomong-ngomong memukul orang itu tidak baik kecuali untuk pertahanan diri. Jadi kau harusnya tidak memukulnya. Sedangkan kau,”ia menunjuk Jinki yang masih duduk,”Dia sudah memukulmu, dan bahkan menginjak kakimu. Kenapa kau diam saja? Harusnya kau pertahankan dirimu. Pukul dia kalau perlu.”

Jonghyun mendorong bahu anak itu,”Jangan ikut campur! Pergi sana!”

Anak itu diam, memandangi Jonghyun dan teman-temannya dengan mata besarnya. Jonghyun berusaha tidak peduli. Ia mulai menginjak kaki Jinki lagi. Tapi anak itu mendorongnya,”Kau ini jahat sekali. Memang apa salahnya?”

“Bukan urusanmu. Pergi sana.”

Lalu mereka berkelahi, tiga lawan satu. Jinki tidak sempat melakukan apa-apa, hanya memandang dengan mulut menganga. Baru kali ini ia melihat perkelahian seperti itu secara langsung. Anak itu kuat dan tangguh sekali. Tapi bagaimanapun ia melawan tiga orang. Jinki khawatir ia akan kalah. Sadar bahwa ia harus melakukan sesuatu, Jinki memungut batu-batu kecil dan melemparkannya sebisa mungkin ke arah Jonghyun, Chansung atau Junsu. Setidaknya cukup membantu.

Perkelahian itu berakhir setelah terdengar teriakan seorang paman yang kebetulan melihatnya. Mereka semua berlari, takut dimarahi. Jonghyun, Junsu dan Chansung berlari pulang sementara Jinki yang kebingungan mengikuti si anak bermata besar bersembunyi di balik bebatuan besar.

Mereka berjongkok. Air laut mencapai mata kaki mereka. Jinki memandangi wajah anak itu. Ada luka kecil di bibir bawah dan sedikit lebam di pelipis kanan.

“Kau tidak apa-apa?”

Anak itu menoleh, seakan baru sadar ada Jinki di sampingnya,”Oh, ini? Bukan apa-apa. Tidak sakit kok.”

“Terima kasih ya. Dan maafkan aku. Tidak bisa membantumu tadi.”

Anak itu mengangguk-angguk,”Tidak masalah. Bagus kau tidak ikut berkelahi. Kata ayahku anak baik tidak boleh berkelahi.”

“Lalu kenapa kau berkelahi?”

Anak itu tersenyum,”Kalau tadi aku tidak berkelahi, nanti mereka akan terus menganggapku remeh. Aku harus tunjukkan kalau aku tidak takut pada mereka. Aku memang bukan anak baik. Sering berkelahi. Karena itu umma selalu memarahiku.”

Jinki diam, merasa bersalah. Gara-gara membelanya anak itu nanti pasti akan dimarahi ibunya di rumah. Ia menunggunya mengatakan sesuatu. Tapi tampaknya anak ini cukup pendiam, hanya mau bicara jika ditanya,”Siapa namamu?”

“Namaku? Minho.”

“Aku Jinki.”

Minho hanya mengangguk satu kali. Lalu sunyi lagi. Jinki tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia sendiri tidak pintar bergaul.

“Umurmu?”

Jinki kaget. Ia terdiam sebentar sebelum menjawab,”Sebelas.”

“Berarti kau ini hyung. Aku sembilan.”

“Benarkah? Tapi kau hampir lebih tinggi dariku.”

“Oh ya? Terima kasih.”

Jinki tertawa. Benar juga. Tinggi itu kan sesuatu yang bagus.

Minho memainkan sekeping kulit kerang dalam sunyi. Jinki memandanginya heran,”Kenapa aku tidak pernah melihatmu? Bahkan di sekolah pun tidak.”

“Tentu saja tidak. Aku tidak sekolah di sekolah. Aku sekolah di rumah. Aku juga baru tinggal di sini dua bulan.”

“Benarkah?”mata Jinki membelalak, tampak tertarik. Minho hanya mengangguk sekali, masih asyik memainkan kulit kerang.

Jinki mengusap peluh di dahinya. Cuaca sangat terik. Tiba-tiba Minho berdiri,”Sudah waktunya pulang, hyung. Sampai jumpa besok.”ia berlari pergi sementara Jinki masih bersusah payah mengusap celananya yang basah.

~~~~~

Jinki tidak tahu apa yang membawanya kemari. Yang ia tahu sekarang ia duduk di bebatuan tempat kemarin ia bersembunyi. Tidak ada siapapun di sini. Hanya ada sepasang kekasih yang duduk berdua di kejauhan.

“Halo, hyung.”

Jinki terlonjak. Ia berbalik, dilihatnya Minho berdiri menjulang dengan senyum menyeringai. Ia menyodorkan sekaleng soda yang tampaknya dingin. Jinki menerimanya ragu-ragu.

Minho tidak berkata apa-apa, hanya duduk di samping Jinki dan membuka kalengnya. Lalu dia minum dengan berantakan. Beberapa tetes air soda jatuh ke kaosnya.

“Minumlah. Nanti tidak dingin lagi.”Minho berkata ketika dilihatnya Jinki hanya menggenggam kalengnya sambil melongo. Jinki hanya tersenyum simpul lalu berusaha membuka kalengnya dengan susah payah.

“Wah.”celetuk Minho. Jinki mengikuti arah pandang Minho untuk mengetahui apa yang sedang dilihatnya. Ternyata laki-laki yang tadi bersama pacarnya sekarang sedang berenang.

“Ayo berenang.”mata besar Minho tampak berbinar ketika mengatakan itu. Jinki memandangnya ragu,”Berenang di laut itu berbahaya. Memangnya kau sudah mahir berenang?”

Minho menyeringai,”Tentu saja. Memangnya kau tidak bisa?”

Pipi Jinki memerah,”Memangnya kenapa kalau tidak bisa?”

“Aku akan mengajarimu.”

“Hah?”

“Tidak hanya berenang. Aku juga akan mengajarimu taekwondo. Supaya kau bisa membalas orang-orang yang jahat padamu.”

“Taekwondo? Kau bisa taekwondo?”

Minho menyeringai lagi,”Hyung, memangnya kau tidak bisa sama sekali?”

Jinki merengut. Minho tertawa. Ia membuka kaosnya lalu tanpa berkata apa-apa lagi terjun dari atas batu tepat satu setengah meter ke bawah langsung ke air laut. Mulut Jinki menganga, kaleng soda lepas dari genggamannya.

~~~~~

Mereka telah jadi teman, secara tidak langsung.

Minho adalah teman Jinki yang pertama semenjak TK. Ia tidak punya ‘teman’ lagi sejak beberapa teman sering mem-bully-nya. Sedangkan bagi Minho yang sering berpindah-pindah, memiliki teman adalah sesuatu yang langka.

Hampir setiap hari mereka duduk di tepi karang. Minho mengajari Jinki berenang dan Jinki mengajari Minho matematika. Dari obrolan mereka Jinki tahu bahwa Minho harus mengikuti ayahnya berpindah dari satu kota ke kota lain sejak ia masih sangat kecil. Paling lama mereka menetap di sebuah kota hanya dua tahun. Itulah kenapa Minho jarang punya teman dan memilih home schooling.

Dua bulan sudah sejak pertama kali mereka bertemu. Jinki sudah mulai menunjukkan kemajuan di pelajaran renangnya bersama Minho. Ia juga sudah bisa mempraktekkan cara menghindari pukulan lawan. Musim panas hampir berakhir dan mereka berdua sudah sangat dekat layaknya saudara.

Tapi siang itu terasa beda. Jinki menemui Minho yang sudah datang duluan di atas batu dengan wajah sedih. Minho menyodorkan soda dingin sambil memandanginya heran,”Hyung, kau kenapa? Jonghyun itu lagi ya?”

Jinki menggeleng,”Tidak kok. Hanya kabar buruk.”

Minho menampakkan pandangan bertanya. Jinki menatap langsung mata besar itu dengan sedih,”Ayahku harus pindah ke Seoul. Kami akan pindah ke Seoul.”

“Oh.”hanya itu reaksi Minho,”Aku pernah tinggal di Seoul waktu umurku enam tahun. Di sana menyenangkan lho.”

Hanya itu? Jinki memandang tidak percaya ke wajah Minho,”Kau tidak sedih aku pindah?”

Minho memandang kejauhan,”Aku sudah biasa kok. Memangnya harus bagaimana? Hyung, memangnya kau sedih?”

“Tentu saja. Tempat ini kan tempatku dibesarkan sejak bayi. Lalu di sini juga ada kau, satu-satunya temanku.”

Minho tersenyum simpul. Di mata Jinki ekspresi itu terlihat sangat dewasa di wajah imutnya,”Hyung, beberapa bulan lagi aku juga akan pindah. Jadi kan sama saja.”

“Tapi aku takut tidak akan punya teman lagi.”

Minho menimpuk pelan kepala Jinki dengan kaleng soda,”Orang yang takut adanya perubahan tidak akan pernah bisa maju.”

Jinki terpana sesaat mendengar kata-kata itu,”Keren juga. Darimana itu?”

“Itu yang sering dikatakan appa. Dulu aku juga tidak suka pindah terus. Lalu appa bilang kalau tidak suka tinggal saja dengan halmoni di Incheon. Tentu saja aku tidak mau. Aku tanya, apa appa tidak lelah selalu berganti rumah, tetangga, teman, semuanya? Lalu dia bilang, orang yang takut adanya perubahan tidak akan pernah bisa maju.”

Jinki terdiam. Minho menguap pelan ke telapak tangannya,”Kapan berangkatnya?”

“Hari Minggu jam sembilan.”

“Oh. Hati-hati ya.”

Lalu Minho melepas kaosnya dan seperti biasa, terjun bebas ke laut.

~~~~~

Hari Minggu di stasiun.

Jinki melihat sekeliling untuk memastikan lagi apakah Minho ada di sekitar sini. Dia akan pindah dan tidak akan kembali tinggal di sini lagi. Apakah berlebihan jika berharap satu-satunya teman yang dimilikinya akan mengantar kepergiannya walaupun hanya dengan melambaikan tangan? Tetapi Minho tidak datang. Dan kereta akan segera berangkat.

Jinki duduk dekat jendela. Sekarang dia sudah tidak berharap lagi akan melihat Minho. Anak itu memang berhati dingin. Mungkin Jinki hanya menganggapnya teman secara sepihak saja. Mungkin hati Minho sudah beku karena terlalu seringnya menghadapi perpisahan.

Jinki melambai lemah pada nenek tetangga yang tanpa lelah melambai kepadanya. Kereta benar-benar akan segera berangkat.

Jinki memandangi stasiun itu lagi, dia akan merindukannya.

Tiba-tiba dilihatnya sesuatu. Sesuatu yang terasa sangat familiar baginya.

Anak laki-laki tinggi kurus itu tampak terengah-engah memandangi sekeliling, mencari sesuatu. Jinki berusaha memanggil,”Minho! Minho!”tetapi Minho tidak mendengarnya.

Akhirnya Minho melihat Jinki melalui jendela. Mereka berpandangan dan tersenyum. Minho berlari untuk dapat mendekat ke jendela tapi kereta mulai berjalan. Minho berlari, berusaha mengejar kereta dan sebisa mungkin memastikan Jinki melihatnya. Ia melambai keras dan berteriak,”Hyuuuuuuuunng… sampai jumpaaaaa..”

Jinki dapat membaca gerak bibir Minho. Ia mengangguk dan melambai keras.

Minho berlari dan berlari sampai laju kereta terlalu cepat untuk dapat dikejarnya lagi. Jinki menatap semua itu dengan terharu. Ternyata Minho peduli. Ternyata Minho juga menganggapnya sebagai teman.

Jadi inilah perpisahannya dengan satu-satunya teman yang dimilikinya.

~~~~~

Semenjak itu  Jinki selalu mengingat apa yang dikatakan Minho. Orang yang takut adanya perubahan tidak akan pernah bisa maju. Di Seoul, sebisa mungkin ia mencari teman dan berusaha menjadi orang yang tidak lemah. Ternyata kata-kata seorang teman kecil yang ditiru dari ayahnya itulah yang membawanya menjadi seperti ini. Menjadi Lee Jinki yang banyak teman dan cukup sukses. Dan tidak lama lagi dia akan menjadi sarjana kedokteran.

Ia tidak pernah mendengar kabar tentang Minho lagi sejak saat itu. Dan yang bisa dilakukannya sekarang hanya duduk di karang tempat dulu mereka biasa duduk sambil mengenang hal-hal menarik yang tak terlupakan. Ia benar-benar merindukan Minho, teman yang waktu itu adalah satu-satunya. Berapa ya usianya sekarang? Sekarang harusnya Minho sudah 21 tahun.

Kerinduan itulah yang membawa Jinki ke rumah yang dulu ditempati Minho. Meskipun ia seratus persen yakin Minho tidak tinggal di sini lagi. Tapi siapa tahu ada hal menarik yang bisa diperolehnya. Yang membukakan pintu adalah seorang ibu setengah baya. Ibu itu tampak heran melihat Jinki di teras rumahnya.

“Ada apa ya?”

“Maaf, apakah anda tahu keluarga Choi yang dulu tinggal di rumah ini?”

“Oh, keluarga itu? Mereka pindah sudah lama. Kamilah yang menempati rumah ini segera setelah mereka pindah.”

“Kapan?”

“Seingatku aku tinggal di sini sejak tahun 2000.”

Jinki termenung. Itu kurang lebih satu tahun setelah kepindahannya ke Seoul.

“Anda tahu kemana mereka pindah?”

“Aku tidak tahu sama sekali. Lagipula kalaupun ada yang tahu kan percuma saja. Mereka pasti sudah berpindah-pindah lagi selama belasan tahun ini. Kudengar pekerjaan si ayah membuat mereka berpindah terus.”

Baiklah. Tidak ada petunjuk.

“Apa kau teman anak laki-laki pendiam itu ya? Satu-satunya anak mereka seingatku. Dia sekarang juga pasti sudah sebesar kau. Anak tampan itu.”

Jinki tersenyum,”Ah, iya. Tapi ahjumma, anak itu sebenarnya tidak pendiam. Kelihatannya saja begitu. Baiklah terima kasih. Maaf sudah mengganggumu.”

~~~~~

Jinki harus segera kembali ke Seoul malam ini juga. Besok pagi ada seminar penting yang sangat ingin dihadirinya. Tengah malam seperti ini dari kota kecil yang kehidupan malamnya tidak ramai, kereta sangat sepi. Hanya ada bapak-bapak yang tidur pulas dan seorang pemuda duduk dekat jendela, membaca majalah. Jinki tidak ingin duduk sendirian. Ia duduk di samping si pemuda.

“Maaf, bolehkah aku duduk di sini?”

Pemuda itu hanya mengangguk, tidak mendongak dari majalah yang dibacanya.

Jinki membuka buku kedokterannya. Pemuda itu menyingkirkan majalahnya lalu mulai mengeluarkan berbagai jenis buku dari tasnya. Ia melihat buku yang dibaca Jinki,”Kau mahasiswa kedokteran?”

Jinki mendongak. Ia tersenyum dan mengangguk. Melihat wajah pemuda itu, dia terkejut. Wah, ada sesuatu yang menarik.

“Kau tertarik pada program beasiswa kedokteran di Amerika? Kemarin waktu di Jepang aku mendapatkan banyak brosur tentang itu. Berhubung aku tidak tahu apa-apa tentang kedokteran aku berencana membuangnya. Tapi rasanya sayang. Beruntung aku bertemu denganmu.”ia menyodorkan beberapa lembar brosur.

Jinki menerimanya,”Terima kasih. Tapi sebetulnya aku belum berencana sejauh itu.”

“Kenapa tidak?”

“Ah, aku..”

Kata-katanya terpotong pengumuman. Dalam lima menit kereta akan berhenti di stasiun Incheon. Sudah dipastikan setelah dari Incheon kereta akan segera penuh.

Pemuda itu membereskan barang-barangnya. Tampaknya dia akan turun di pemberhentian itu.

Jinki meneruskan kalimatnya,”Aku masih harus banyak belajar. Lagipula aku belum siap tinggal di Amerika.”

Pemuda itu berdiri. Ia memberikan senyum simpul pada Jinki,”Tujuanmu di sana kan juga akan belajar. Lagipula belum siap kenapa? Orang yang takut adanya perubahan tidak akan pernah bisa maju.”lalu pemuda itu melambai singkat dan berjalan menjauh.

Jinki mematung di kursinya, memandangi pemuda tinggi gagah itu terpana.

Matanya yang besar untuk ukuran orang Korea. Badannya yang tinggi. Cara jalannya. Kata-katanya.

Jinki berdiri. Ia berteriak,”Minho-yah!”

Pemuda tadi berbalik, memandangi Jinki dengan mata besarnya membelalak lebar.

“Kau tahu tidak,sekarang aku sudah mahir berenang.”

-end-

-minjin’111107-

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

35 thoughts on “Perubahan”

  1. “Hanya ada sepasang kekasih yang duduk berdua di kejauhan.”
    Ohokohok. Lagi ngapain itu? Jadi inget waktu di Jogja. Muahahaha.

    Nenek tetangga ikut nyempil disini. Mau ikutan eksis ya, Mbah?

    I have to admit that I shed a few tears. Terharuuuu… (ToT)

    Tapi ada yang sedikit aneh menurutku. Emang setelah belasan tahun mukanya berubah banyak? Kok bisa nggak mengenali satu sama lain? #sotoykambuh

    Daebak, nuna. Meski singkat tapi ngena banget. d(^o^)b

    – From Jongki with ❤

  2. Entah kenapa pas Minho ngejar-ngejar kereta yang dinaikin Jinki, aku nangis…bener-bener sedih disitu…

    “Orang yang takut adanya perubahan, tidak akan maju” Aku suka kata-kata ini,,Aku juga termasuk orang yang takut dengan perubahan,,jadi mungkin setelah ini aku bisa ubah persepsi itu..

    Minjin-ah, Gomawo…

    Good Job!!!

  3. Onho… Onho… Suka! Suka!

    Kisah persahabatan yang selalu bikin senyum dan terharu. Dari kecil sudah sahabatan, sempat terpisah lama, sampai salah seorang dari mereka mengenali lainnya karena kata-kata yang sudah membawanya pada titik kesuksesan.

    Nice story.

  4. jinki::”Kau tahu tidak,sekarang aku sudah mahir berenang.”

    Minho::”dan aku sudah pandai matematika”

    Suka ff nya….

  5. Minho’nya dewasa banget dehhh,,, Perubahan,, yah perubahan adalah proses yang harus dijalani seseorang untuk menjadi lebih baik,,,

    Good FF.,,, Like this yo!!

  6. Waah, terharu sama persahabatan Minho n Onew U,u Kata2 mutiara yg disitu mengena banget ‘orang yang takut adanya perubahan tidak akan pernah bisa maju’. Singkat dan bermakna, I LIKE IT! ^^

  7. kisah persahabatan yang mengharukan hoho
    suka banget sama ffnya. kalimat “orang yang takut adanya perubahan, tidak akan maju” itu juga aku suka, kerenn ^^b

  8. Aku terharuuuuuuuuuuuuuu….
    Psahabatan yg indh………………………………….
    Mksih thor udh bikin ff ini….
    Aku jd ingat sahabat2ku………..

  9. terharu pas Minho ngejar kereta. Ya, dia memang peduli :’)

    Aigoo, ini cerita persahabatan yg ngena banget. Sederhana, tapi bikin hati terenyuh #halah

  10. Terharuuuuu…
    mau nangis, tpi malu lgi di warnet… 😦
    ffnya bagus bgt..
    minho.. keren bgt.. *thumbs up 😀

  11. ONHOOOOO!!! Aaaaaa ONHOO! :*
    aku suka OnHo! #histeris# lucu aja liat mereka berdua tuh! :’)

    gilaaaa ffnya keren! Minjin unnie daebak begete deh aaaa! T.T terharu pas yg di kereta itu.

    Dan bener2 ngerasa ff ini keren banget di bagian ending! Woaaaaah dashyat nih FF! 😀

    moralnya dapet, terharunya dpt, keren dpt, klimaks dpt! DAEBAK~

  12. hwaaaaaaaaaaa…minjin eonnie lgi
    aduh,daebak bner..terharu bcanya,ampe berkaca” mlah
    dpet bnget feel nya
    endingnya mantep deh,puas…muach

  13. Wuah.. Eonnie kali ini engkau bikin aku terharu + senyum2 sendiri bacanya.
    Terharu pas bagian Jinki pergi ke Seoul.
    Dan ternyata Minho dtng.
    Tapi, pas bagian itu ada nenek tetangga yg ngelambaian tangannya. Kekekeke, entah mngpa bagiku bagian itu sdkit lucu.
    Minjin eonnie daebak! ^^
    Singkat, tapi ngena bgt. Daebak!

  14. aahhh bagguuss2..
    pendeskripsiannya bagus alurnya bagus smoe bisa bikin reader ikutan ngerasain..
    nae Jinkii belajar renang sma aku aja gpp kok#plak

  15. aaaaa…Minho sama Onew bias kuuuuu.. u.u gak bisa ngebayangin klu aku jadi Onew dan punya temen kayak Minho…hikssss *tarikIngus
    Endingnya Parahhhhh!!! Keren bangetttt

  16. Waa suka banget friendship yg beginii :”
    Apalagi onho disini karakternya cocok kaya yg asli gituuu hohoho
    Btw aku suka deh gaya nulisnya minjin-ssi(:p) soalnya ringan, polos (mungkin karena tokohnya anak kecil awalannya) tapi tetep bermakna. Suka banget.daebbakk! 😀

  17. Oh Tuhan…. aku suka banget bacanya!!! Mengharu biru gimanaa…. gitu…. 🙂

    Kalau dilihat secara keseluruhan, ceritanya simple dan sederhana. Tapi narasi dan gaya penulisannya itu yang membuat cerita ini istimewa…. 😉

    Kata-kata mutiaranya ngena banget di hati #jleeb

    Minho dewasa, si Jinki baik dan sederhana seperti biasa. Menurutku author membuat sifat dan karakter para tokoh sesuai dan tidak mengada-ngada. Aku menyukainya… 😀

    Untuk ending…. sumpah aku suka!!!

    Jinki berdiri. Ia berteriak,”Minho-yah!”

    Pemuda tadi berbalik, memandangi Jinki dengan mata besarnya membelalak lebar.

    “Kau tahu tidak,sekarang aku sudah mahir berenang.”

    Entah kenapa hatiku tentram banget pas baca ending sejenis ini. Ending benar-benar sesuai dengan yang diharapkan para reader… *well, itu menurutku* Suka banget deh pokoknya!!! XDD

    Well, melihat seluruh komenku tentang ff ini, dapat disimpulkan : FF ini Daebak dan luar biasa!!! Jempolku terangkat untuk author!! ^^b

    Ditunggu ff selanjutnya. Teruslah berkarya!!! 🙂

  18. wakh… persahabatan mereka bikin aku terharu~~~
    minho yaa.. kamu dewasa banget…

    ffnya daebak bgt deh thor..

  19. Ukh, persahabatan yang mengharukan~ ToT

    Minho berlari, berusaha mengejar kereta dan sebisa mungkin memastikan Jinki melihatnya. Ia melambai keras dan berteriak,”Hyuuuuuuuunng… sampai jumpaaaaa..”
    Yang pas bagian itu aku jadi agak sedih. *Tapi nggak nangis sih Thor, hehe*

    Feel-nya kerasa, Thor *eaa*. Aku setuju sama mahitaa eonni, endingnya memuaskan! 😀 Aku jadi merasa bahagia (?) baca FF ini XD
    Siapa dulu Authornya, minjin eon.. hehe ^O^
    Daebak b>u<d

  20. Oooh~(?) kata-katanya dalem T.T keren banget, penggunaan kata-katanya bagus, endingnya juga bagus^^

    ternyata Minji Eonnie kalau bikin FF sukanya yang dalem ya kata-katanya .__. #soktahu. Daebaaak~ XD

  21. wuaahh, kereen skaliii..
    aq suka karakter minho disini, kta2 dy bijak bgt..
    dan endingnya so sweet, akhirnya mreka bs ktemu lge^^
    aku sukaa FFnya, daebak bed author ;D

  22. Big child
    big story
    big message
    aku suka banget.
    aku jdi senyum lega wktu ngereview ceritanya di otak aku.
    ff nya bagus

    keep writing eonnie!

  23. FF yang ceritanya sangat tulus. Begitu menyentuh.

    Rapi, nggak ada typo, bahasanya ringan, ceritanya sederhana, manis, mampu membuatku mengalirkan beberapa tetes air mata.

    Sukses terus, ya di dunia per-FF-an! Ditunggu karya selanjutnya!

    Ps. Aku aku! aku suka Onho! aku juga pernah nulis kisah persahabatan dengan tokoh mereka. Onho has the sweetest friendship, I thought.

  24. jujur ini ff nya sumpah keren banget thor
    aku suka genrenya
    wah kayaknya aku ajdi fans diam diam author(?)
    LOL
    keren keren loh
    gak bisa di ungkapkan dengan kata kata
    moralnya ngena banget
    apalagi pas minho bilang
    “Orang yang takut adanya perubahan tidak akan pernah bisa maju”
    benar benar ngena thor
    sumpah keren banget
    aku baca jadi gimana gitu(?)
    LOL
    good job thor:D

  25. like this thor! OnHo moment! huehehehe.. ketawa-tawa sendiri inget Jinki kaga bisa berenang terus diajarin ama Minho. Daebak Thor! bikin fanfict OnHo yang banyak lagi yak!

  26. Mengharukan banget ,
    seru pas Jonghyun chansung ma junsu lagi malak jinki, haha geli bgt pas lgi bayangin-nya,
    daebak thor,
    fantastic,elastic, dan kolak-kolak,
    yeah.!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s