Love Potion [2.2]

Title                       : Love Potion (part 2)

Author                  : Lee Jongki

Main Cast            : Onew, Junghee (Jonghyun)

Support Cast      : Taeyeon (Taemin), Minho, Kibum

Genre                   : Humor, romance, fantasy

Type                      : Alternate universe, cross gender

Length                  : 3.847 words (twoshot)

Rating                   : PG-15

Hari berikutnya Junghee memuji Onew dari setiap sudut (“Oppa neomu meotjyeo! (oppa keren sekali)”), matanya bolak-balik dari kanvas ke Onew yang duduk membelakangi Junghee, memandang air.

Ia meyakinkan Junghee bahwa ini adalah satu-satunya cara ia akan dilukis – membelakanginya – karena ia tahu ketika Junghee sadar, ia akan kebingungan melihat wajah Onew muncul di tumpukan lukisannya.

Saat ia selesai, Junghee maju pelan-pelan mendekati Onew, menyeka dahi dengan punggung tangan, meninggalkan jejak biru. “Beres. Kau suka?”

Ia memperlihatkan kanvas kecil itu. Onew mengambilnya, mempelajari sapuan warnanya dengan seksama. “Bagus.” Sudut matanya berkerut saat ia tersenyum.

“Benarkah?” tanya Junghee, mengamati mata Onew.

Onew mengangguk, menaruh kanvas diantara mereka. “Iya, kau sangat berbakat.”

“Oppareulneomujoahaeyo (oppa, aku sangat menyukaimu),” cerocos Junghee. Ia sendiri tampak terkejut dengan kata-kata yang tersembur dari mulutnya.

“Tapi kau bahkan belum mengenalku!” bantah Onew, memandang rumput di bawah kakinya.

Junghee menggeleng, “aku tak tahu apa itu. Menurutku, cinta pada pandangan pertama, kau percaya? Aku yakin itu terjadi padaku. Aku tak bisa berhenti memikirkanmu,” ia mengulurkan tangan hendak membelai wajah Onew.

Onew mencondongkan badan ke belakang, menjauhi tangan Junghee. “Dengar Junghee. Aku tersanjung, tapi…”

Sinar mata gadis itu terlihat patah hati dan sendu sekali sampai Onew tak sampai hati untuk menolaknya dengan kasar. “Aku…aku menyukai orang lain.”

Ia menunduk, “jadi kau suka seseorang?”

Onew mengangguk. “Yah, kupikir begitu. Namanya Taeyeon.”

Kepala Junghee tersentak ke atas, membelalak, “maksudmu anak tuan Lee?”

Mengangguk, ia merasa malu untuk menatap mata Junghee yang sangat percaya diri dan yakin pada perasaannya terhadap Onew seakan-akan itu adalah hal terjelas di dunia.

Junghee menghela nafas, berpaling ke arah danau, “aku akan membantumu mendapatkannya.”

“Apa-?”

Ia memiringkan muka menatap mata Onew, senyum simpul di bibir, “aku mencintaimu; aku ingin kau bahagia. Jadi aku akan membantumu mendapatkannya, jika itu membuatmu bahagia.”

Pada titik ini ingin Onew merangkak ke belakang pohon, menutup mata, dan mati membusuk disana.

“Jangan, aku tak mau kau melakukannya,” ia mengangkat tangan, ”seharusnya aku sendiri yang bicara dengannya.”

Junghee mengangguk mendekati Onew, mata tertutup. “Aku mengerti.”

“Kenapa kau terus menutup mata?” tanya Onew, memandang Junghee yang segera membukanya, sedikit malu. Meski begitu, mulutnya terbuka menjadi seringai. Ia meraih ke bawah dan memberikan Onew sebatang kuas.

“Karena kau selalu melihat lebih banyak saat matamu tertutup. Masuk akal bukan?” Ia meletakkan kanvas di depan wajah Onew, memindahkan palet ke tangannya.

Alis Onew terangkat. “Kau ingin aku melakukan apa?”

“Tutup saja matamu dan mulailah melukis.”

Onew memandangnya tidak percaya, mulut ternganga, “maksudmu, di atas lukisan yang sudah kauselesaikan ini?”

Junghee mengangguk, menggenggam pergelangan Onew dan menekankan ujung kuas berlumur cat ke kanvas.

“Kau tak perlu menggambar apapun,” ia menutup mata, memandu tangan Onew, “nah, seperti itu.”

Onew menutup mata, menyeringai, merasa seperti orang bodoh. “Seperti ini?”

“Bagus, sekarang coba gambarkan apa yang ada di pikiranmu.”

Ia melukis seperti itu selama beberapa saat, merasakan mata Junghee membor dirinya saat ia menggerakkan kuas, sensasi sebatang kayu kecil di tangannya makin besar saat salah satu inderanya dihilangkan.

Ia membuka mata lalu terbahak. “Aku merusak lukisanmu!”

Junghee menggeleng, mengambil kanvas dan berdiri, “tidak! Ini sempurna. Terlihat seperti hembusan hijau dan biru.”

Onew bangkit, “kau menghargainya berapa?”

“Tidak dijual, tentu saja,” ujarnya mantap, memandang Onew, “sebab lukisan ini istimewa.”

-0-0-0-0-

“Aku bilang aku akan memberitahumu kalau aku sudah selesai. Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Kibum saat Onew menyerbu masuk rumahnya beberapa hari kemudian, pucat dan putus asa.

“Cepatlah, tolong,” Onew memohon, “dia tergila-gila, aku khawatir dia akan melukai dirinya sendiri.”

Kibum mendengus, melirik mangkok besi di atas meja. Kue belum selesai, orang aneh ini sudah datang lagi, menyebalkan. “Begini, kau tidak bisa merasakan cinta tanpa merasakan sakit. Selamat datang ke kenyataan.”

Onew berlari ke meja, meletakkan beberapa koin. “Tolonglah, aku mulai merasa terganggu. Ia selalu ingin bersamaku, bayangkan selalu dikelilingi seseorang yang tak kau inginkan.”

“Terimakasih sudah mengenalkan perasaan itu padaku,” ucapnya datar, mencebik.

Onew mengerutkan dahi. “Lihat!” ia menunjuk koin, “uang muka.”

Menggeram, Kibum mengusirnya menjauh dari meja. “Aku bekerja secepat yang aku bisa. Berbahagialah dia melimpahimu dengan cinta, bukan benci.”

-0-0-0-0-

Junghee memanggilnya di pasar setelah Onew selesai bekerja.

“Onew-oppa,” serunya, melambaikan tangan, “aku punya sesuatu untukmu.”

Onew mendesah, berjalan perlahan ke arah Junghee, tangan tertanam dalam di saku. “Apa itu?”

“Aku membuatkanmu sesuatu,” ia mengedip, menarik Onew, “ada di atas, kau akan menyukainya.”

Onew mengikutinya naik tangga spiral tipis, kakinya berpijak dekat pinggir anak tangga, terheran-heran bagaimana Junghee bisa bertahan hidup disini dan membawa lukisan naik turun tangga mematikan ini.

Junghee menuntun Onew ke dalam kamarnya. Onew segera disambut dengan sebuah lira bersandar dengan anggun di atas meja.

“Aku menggubah sebuah lagu khusus untukmu,” katanya, mengambil lira, duduk di ranjang, dan menaruhnya di pangkuan.

“Judulnya Romeo,” ia mulai memetik senar lira dengan pemetik kecil. Suara khasnya mengalun merdu. Saking indahnya Onew hampir berurai air mata.

Tolong beri kesempatan

Saat kau memandangku

Kuingin mendekapmu

Pencuri hati

Rubah jenaka mempesona

Romeo, kuberikan jiwaku

Romeo, tolong trimalah aku

Romeo, dengan manis, lebih manis lagi

Bisikkan rayuan cintaku

Ia mengakhiri lagunya. “Oppa, kau suka?”

“Sudah…” Onew berhenti, kepala tertunduk, “sudah cukup.”

“Apa?”

“Cukup, Junghee, aku muak,” ucapnya lirih, berusaha terlihat keras daripada putus asa.

Junghee memperhatikan Onew. Tangannya yang tercoreng cat terlipat di samping lira. “Apa aku menyusahkanmu?”

“Ya. Aku tak mencintaimu Junghee. Aku tersanjung mendengar pengakuanmu kemarin, tapi aku tak bisa…benar-benar tak bisa membalas cintamu,” mulainya, merasa mustahil untuk memandang Junghee.

“Aku mengerti,” akhirnya Junghee angkat suara. Onew menengadah. Mata Junghee penuh tekad dan percaya diri; walau begitu tangannya dengan gelisah memainkan ujung baju.

“Bolehkahkah aku menciummu sekali saja? Sebagai ucapan perpisahan?” Pelan-pelan ia beranjak mendekati Onew, lira dibiarkan jatuh ke lantai.

Onew hampir menolak. Trenyuh melihat Junghee tampak amat patah hati, ia mengangguk.

Berhenti tepat di depan Onew, tangan Junghee membelai wajahnya, membiarkan jemari lentiknya menelusuri sepanjang rahang kemudian naik ke bibir. Ia menutup mata, tangan yang lain menangkup wajah Onew yang satunya, menghembuskan nafas lembut ke bibir Onew sebelum bibirnya mengecup pelan milik Onew.

Onew mendesah ke dalam ciuman, kedua tangan lemas di sisi tapi perlahan bergerak mendekap pinggang Junghee, menariknya mendekat. Ia tak bisa bergerak ataupun membuka mata. Ia hanya membiarkan dirinya hanyut terbawa gelombang ciuman terindah yang pernah dialaminya, wajahnya sekarang tercoreng sisa cat dari tangan Junghee, bibir bengkak dan memar.

Ketika akhirnya ia mundur, ia tak bisa berjalan. Jadi ia duduk, memungut lira yang terjatuh, menaruhnya di meja.

Junghee tersenyum pedih. “Kurasa aku sudah keterlaluan.”

Onew menggeleng. “Tidak. Aku hanya- maafkan aku.” Ia bangkit dan meninggalkan kamar Junghee dalam sekejap mata. Terlalu takut untuk menoleh ke belakang.

-0-0-0-0-

                Beberapa hari setelahnya berlalu tanpa seorangpun kecuali Junghee yang ada di pikirannya. Ia tak sanggup melakukan pekerjaan sehari-hari tanpa kilasan bibir Junghee bertimbun di benaknya, mencemari pikiran.

Ia menyadari bahwa ia tidak memikirkan Taeyeon beberapa hari ini; tidak sama sekali. Itulah saat sebuah gagasan mulai menghantuinya. Ia mulai mempertanyakan perasaannya sendiri.

Onew tidak menyukai perasaan ini yang terus bertumbuh seperti pohon. Semakin ia berusaha melupakan, perasaannya semakin kuat, sulur-sulurnya menjerat pikiran Onew.

Larut malam ia duduk di kedai, menenggak soju langsung dari botolnya. Kepala bersandar pada lengan, jemari bergerak tak tentu arah di atas meja kayu. Bahkan dalam keadaan hampir kelenger ia masih resah. Maka ia bangkit, membanting koin dan terhuyung-huyung keluar, tangan naik menyeka mata.

Malam itu juga ia memutuskan untuk pergi ke rumah Junghee.

Junghee membuka pintu, cemas, “Shisus, kau tak apa-apa?”

Onew bersandar pada pintu. Cepat-cepat Junghee menariknya ke dalam dan menutup pintu, memegang pundak Onew. “Apa yang terjadi? Seseorang melukaimu?”

“Tidak,” ia memeluk bahu Junghee yang terkejut dengan tindakan Onew yang tidak disangkanya, “aku hanya ingin bersamamu.” Matanya menerawang; menatap ke depan tapi tak melihat apapun.

Sisa malam itu dihabiskan dengan berbaring di ranjang. Mereka menyanyikan Romeo, berharmonisasi hampir sempurna meskipun Onew dalam keadaan setengah sadar.

“Aku sangka kau tidak menyukaiku oppa.”

“Aku memang tak menyukaimu.”

Junghee menutup mata, ia bisa mendengar bunyi hatinya yang retak.

Onew terbangun dini hari. Ia bermimpi buruk, keringat dingin mengucur. Junghee masih terlelap di sampingnya.

Ia membungkuk mencium pipi lembut Junghee lalu meluncur keluar ruangan seperti bayangan. Ia terkejut bisa sampai rumah sebelum matahari keluar, kepalanya masih berdenyut-denyut.

-0-0-0-0-

Esoknya Onew mendapati sehelai perkamen didorong dengan hati-hati di bawah pintu. Tak usah membacanyapun ia tahu itu dari Kibum, memberitahukan bahwa penawarnya sudah siap.

Tidak ambil pusing dengan mengganti pakaian, ia bergegas ke rumah dukun setengah sableng setengah edan ‘langganan’nya.

“Wow… Kau terlihat luar biasa,” sindir Kibum.

“Terimakasih atas pujiannya.” Onew melihat ke arah cermin. Rambutnya berdiri ke segala arah, pakaiannya compang-camping, lingkaran di bawah matanya gelap.

“Sama-sama. Apa itu? Cat?” Kibum menunjuk noda ungu di bajunya.

Onew mengangkat bahu. “Tak tahu. Penawarnya siap?”

“Kau jatuh cinta padanya, bukan begitu?” Tiba-tiba Kibum berkelebat muncul di belakang Onew, menyeringai lebar.

Sunyi sejenak sebelum Onew bisa menjawab, “mungkin. Ia sempurna, sangat menyenangkan. Tapi aku tak bisa.”

Kibum tersenyum, memegang tabung di tangan, “karena itu tidak nyata.”

Onew menatapnya. “Ya, karena itu tak nyata.”

Kibum menggeleng, menaruh tabung di meja. “Itulah masalahnya dengan ramuan cinta. Tentu, kau bisa dapatkan cinta seseorang, tapi tidak akan pernah nyata. Kau selalu dihantui keraguan.”

Onew maju dan meraih tabung, lalu menggenggam kantong koinnya dan memberikannya pada Kibum. “Terimakasih,” katanya, berjalan ke pintu.

“Ingat,” Kibum berteriak, “baru bekerja delapan jam setelah dia minum. Dia tidak akan mengingat siapa dirimu, atau pernah bertemu denganmu. Apapun sebelum dia merasakan efek ramuannya pertama kali.”

Ia mengangguk, masih memunggungi Kibum karena ia malu menghadap Kibum dengan air mata.

-0-0-0-0-

                Ketika Onew bertemu Junghee di taman hari berikutnya, ia gemetaran. Junghee yang sangat cemas memintanya tetap duduk sementara ia pergi membeli minuman.

“Kenapa oppa? Sejak kemarin kau seperti ini. Apa aku membuatmu sedih?” tanya Junghee, menunduk untuk membuat kontak mata dengan milik Onew yang terpaku pada rumput.

Onew menggeleng, melihat segelas teh di depan mereka. “Aku cuma sedang sial minggu ini,” gumamnya, menatap mata Junghee untuk pertama kali pada hari itu, merasakan hatinya teriris-iris.

Junghee bangkit untuk mengambil peralatan melukisnya. Onew beraksi, membuka tabung dan menuangkan semua isinya ke gelas Junghee. Saat ia memperhatikan gelembung terakhir, ia merasa seolah-olah telah kehilangan sesuatu yang penting baginya, tenggelam ke dasar gelas.

Saat Junghee kembali dan minum, Onew tak sanggup memandangnya, bibirnya gemetaran disekitar tepi gelas di tangannya.

Junghee mulai bekerja dengan kanvas sebelum perhatiannya dialihkan oleh sebuah suara, menengok ke samping.

“Onew-oppa. Oppa, kau menangis?” Ia menjatuhkan kuas dan merangkak ke arah Onew.

Ia merengkuh punggung Onew dan menariknya mendekat.

Tangan lembut Junghee mengusap pipi Onew saat ia menangis diam-diam di balik lehernya.

“A-aku…ba-baik-baik saja,” ia tergagap, mendorong Junghee dan menyeka air mata. “Bisakah kita berbaring?” Ia menengadah memandang Junghee dengan ragu.

Junghee mengangguk kemudian berbaring. Onew menyusul di sampingnya. Ia memberi isyarat agar Onew bersandar pada bahunya yang segera dituruti Onew.

Onew merasa ia adalah pihak yang tak berdaya dalam keadaan seperti ini, tapi ia mencoba tak terlalu memikirkannya. Ia sangat letih.

Jadi ia berbaring di sana seperti seorang anak kecil, kepala di bahu Junghee, memandang lurus kedepan sementara Junghee membelai rambutnya.

-0-0-0-0-

                Esok paginya Onew keluar rumah, membentangkan tangan di atas kepala, merasa lega walaupun ia sudah menghilangkan semua ingatan Junghee tentangnya.

Di pasar, jantungnya mulai berdetak sedikit lebih kencang, mendadak khawatir.

“Onew-oppa!” seorang perempuan memanggilnya. Ia berputar, tersenyum kecil melihat Taeyeon. Detak jantungnya kembali normal.

“Hai,” sapanya, “apa kabar?”

Taeyeon mengangkat bahu. “Baik. Aku sedang dalam perjalanan pulang. Senang melihatmu lagi. Kau terlihat tampan.”

“Kau juga terlihat cantik hari ini,” balas Onew, lalu melambai saat teman Taeyeon memanggilnya dan mereka menghilang diantara kedai-kedai yang sibuk.

Onew tak merasakan apapun. Tak ada perasaan berbunga-bunga atau yang sejenisnya.

Tetapi perasaan itu tiba-tiba datang menghantam saat ia melihat punggung familiar seorang gadis mendorong gerobak kecil dan ia bergerak diantara kerumunan.

“Yah!”

Junghee berbalik, matanya terpusat pada mata Onew. Sejenak mereka berdiri di sana dalam hening, orang-orang bergerak di sekitar mereka seperti bayangan.

Mata Junghee tak menunjukkan pengenalan, tapi ia tersenyum juga. “Hai.”

Onew maju, menunjuk tumpukan lukisan. “Kau melukis semua ini?”

Gadis itu mengangguk. “Ya.” Ia meraih satu dan menunjuk tanda tangan di sisi, “Kim Junghee, itulah namaku.”

Onew tersenyum, kenangan mengalir deras di nadinya. “Aku mau beli satu,” ia mencari-cari lukisan tertentu.

Itu adalah lukisan Onew yang sedang duduk di kejauhan, hanya punggung yang terlihat. Coretan aneh hijau dan biru membekas dimana Onew melukisnya dengan mata tertutup.

“Aku mau yang ini,” ujarnya, mengangkat lukisan itu.

Junghee melihatnya kemudian mengernyit, mengambilnya dari tangan Onew. “Maaf, yang ini tidak dijual.”

“Kenapa tidak?”

“Aku tidak tahu,” katanya, “tapi aku melihatnya di sebuah mimpi, mungkin. Aku tidak ingat pernah melukisnya, jadi kupikir lukisan ini istimewa bagiku.”

Nafas Onew tercekat dan ia tersenyum, sedikit membungkuk. “Aku mengerti. Kalau begitu mungkin aku akan membeli yang lain besok.”

Junghee membalas senyumnya, meletakkan lukisan kembali ke gerobak. “Iya.”

Ia mulai memutar gerobak ke arah lain saat ia dihentikan lagi oleh suara Onew. “Tunggu sebentar!”

Ia memutar badan, memandang Onew heran. “Ada apa?”

“Namaku Onew,” semburnya, malu.

“Oh, oke,” jawabnya, tak mengerti; tapi ia tersenyum, membuat hati Onew mengembang.

Onew mengangguk. “Sampai berjumpa lagi.”

“Tentu,” kata Junghee, mendorong gerobaknya lagi, lalu menoleh, tersenyum, “aku selalu disini.”

~끝~

.

Advertisements

34 thoughts on “Love Potion [2.2]”

  1. huwaaa itu yang ngomong “aku selalu disini” junghee
    cinta mereka bakal tumbuh normal kan .. hehehe
    wahh di part pertama kocak, disini malah terharu … good job thor… ffnya kereen …
    aku suka pas di bagian junghee ngelukis onew.. huwaaa mengharukannn …
    nice ff, and gomawo .. buat ffnya .. ^^

  2. Knp ga ada bag.yg bikin ngakak ky part sblumnya….

    Ff ny jd serius,aku jd g bs bygin jjong jd cw manis,,ky d part1…hehe

    Sekali2 jongyu d tuker perannya, onyu jd cw ny jjong jd cwo nya….otthe??

    1. Kalo kebanyakan adegan humor kayak di part pertama takutnya bisa merusak suasana. Endingnya kan agak gimana gitu. ^^

      Oh. Algesseoyo. Udah aku kirim kok. Jonghyun tetep Jonghyun, Onew jadi Eunsook. Tunggu aja yah… 🙂

      Gamsahaeyo. 😀

  3. kkkk, tuh kan si onew suka sama junghee
    nyesel kan lo nyia-nyiain junghee awalnya
    junghee jd lupa lagi deh sama onew, tp key bijak banget yah..hahahaa
    usala lagi dr awal nyu..semangat, wkwkw

  4. Hmmh.. Jongki-ssi, kq jadi m’haru biru bgini?? Q kira bakal kocak kaya kemaren.. Hehe
    Ya.. Junghee yg dikasih pelet, onew yg klepek2..
    Kkkk~
    O ya, salam kenal.. Kania imnida.. 21y.o

  5. Dukun setengah sableng setengah edan?Wah..Jongki,kamu punya dendam kesumat ya sama yeobo aku??#PLAK

    Tuh kan nyu,cinta juga sama Junghee..sok nolak sih…

    Bagus,kisah Jinki-Junghee dimulai dari awal lagi..

    Buat lagi dong,,eh gak usah..pengganggu nya aja lanjutin..kekeke

  6. Busuttt… Yang awalnya bikin ngakak kenapa jadi sweet gini yah??? XDDDD
    Aishyaaaaaa jungheee melas nian kau nakkk… Nyunyu yg sabar yahhh XD
    Daebakk!!! Neomu joaheyoo!!! XD

  7. part yang ini bikin mewek .HUWAAAAA !! T^T
    deskripsi bagian onew itu .. bikin merinding (?) .. apa yah? feel nya ngena banget. jadi pengen meluk Onew oppa .. hiks hiks 😥
    bikin afterstory nya dong oppa, pengen tau gimana OnHee selanjutnya ..

    Jongki oppa, nan neomu bogoshipeo ..
    udah lama nggak nongol di talk3 .. T_T
    oppa hwaiting !! biar habis un bisa balik lagi .. ne?

  8. Lah? Kirain Onew gk jadi ngasih penawarnya .__. Gimana dong? Ingatan Junghee tntang Onew bener2 ilang, dong? Tapi kalo diliat dari scene trakhir, kayaknya nggak bner2 ilang, deh… *sok detektif2an*/diketekin

    Suka gaya penulisannya author. To the point tapi ada sesuatu, gitu.. xD

    Eh iya, aku Mira, 96 line.. Salam kenal.. Hehe~ 😀

  9. Abisss nh??tamatt??
    Kyyaaaa endingnya menggantung sprti cintaku yg menggantung pda Jinki oppa#plak
    Serruu aahhh..tapi syg skalii knapa gk d bkin jdian aja Jinki-ny sama aku*d cakar MVP*
    Nice storyyy thor..keep writing..hwaiting!!!*joged ringdingdong brg Jinki*

  10. Prokk,, Prokk,,, #tepuk tangan saking terharunya,,,

    Jongki,,, tak tahu mau berucap apa ini saya,,, ceritanya ngalir gitu ajj,, bahasanya juga lancar,,,

    Uhh,, Onew Junghee so sweeett,,,

    Ehh,, ada kue bolu nyempil,,,

    Aku ketawa pas bagian,, Ia bergegas ketumah dukun setengah sableng setengah edan langganannya,, ahahay,, berarti Onew lebih sableng dong ya,, #digeplak prajurit ayam,,hehehe

    Ehh,, kisah JungNyu dimulai dari awal lagi dong ya,,

    Nice FF ya Jongki,,, #kayaknya fans makin nambah nih,,, /colek Jongki,,hahaha 😀

  11. Jongki oppa, aku agak aneh. Soalnya ga biasanya oppa bikin ff seserius ini o.O #ditendangoppa
    part 1nya kocak luar binasa, keduanya bikin terharu T.T terajaaanaaaa (?)

    itu endingnya daebak banget. Junghee sm Onew … T.T hoeeeeh kenapa ga jadi 😥

    ah pokoknya keren! Minho ga nampak ==” key kayak biasa, selalu sibuk sm kue ==

  12. Kehabisan kata2… O.O
    Tuh kan, Onew jdiny cinta ama Junghee..
    Meski ilang ingatan ttg Onew, yakin deh kalo sbnernya Junghee tetep sayang Onew#sotoy
    Keynya dikit ya? Hahaha,, “dukun setengah sableng setengah edan langganannya” ngakak bca bagian ini.. XD

  13. Wahh,, terharu ma story-nya… Akhirnya onew cinta jg tp junghee lupa… Tp suka sama karakter key disini (dukun??).. Hehehe

  14. ceritanya sweet yah :3

    anehnya aku agak bingung bacanya. Efek habis liat Onew sama Taemin topless ==

    daebak deh, semoga cerita cinta mereka kembali bersemi #eaa

  15. Lama” ku ktularan oppa jdi jongyu shipper niih…keren

    eh anu…part ni ko srius amat,ga ada humor” nya kaya part sblumnya
    trus kirain ku si abang ayam bkalan ama junghee trnyata ama aku#bletak
    T…T..TA..TAT..TAPII ITU CHAGIYAKU JDI DUKUN SETENGAH SABLENG SETENGAH EDAN,OPPA PUNYA DENDAM AMA DIA YAA…*eunri ngasah golok,udh tajem langsung gorok kpala jongkippa#bercanda*
    tw ga,kmarin ku ga online sama skali,jdinya trlambat deh bcanya *jongki:sukurin lu*

  16. Hyuuuuuuung!
    Kenapa part ini begitu menghanyutkan? Bikin mewek plus kesian sama Onyu T.T
    Kesian banget si Onyu, mencintai seseorang yang mencintai dia tapi nggak murni (alias di pelet). Sama Jjong aja deh Nyu, beneran! .__.v

    Dan itu hyung, kenapa menurutku ending nya agak ngegantung ya?
    Bikin sequel hyung hehe. Nggak maksa sih hyung, cuman aku masih penasaran aja sama ending nya.

    Overall, DAEBAK BANGET HYUNGNIM *tebar jempol
    Lanjut FF laen ya Hyung *ppyong

  17. wuah. jongki oppa
    part ini mngharukan. tpi mnrutku bgian kocaknya ada walaupun cmn sdikit.
    lucunya pas di bgian Kibum itu.
    huah. knpa endingnya gni? aku msih pnsaran nih oppa. buat after story-nya dong.
    kasihan Onew.
    syng si Junghee udh gk knl lgi sama Onew.
    daebak oppa!^^
    di tnggu ff lainnya. ouh yah. ff pengganggu nya juga. bnr2 pnnsaarn sama ff itu.

  18. Wah, kenapa part 2 nya sweet..
    Bahasanya keren. Jadi cinta deh tuh Onew sm Jjong, eh Junghe.
    ‘Dukun
    setengah sableng setengah edan
    langganannya’ kata2 ini daebak banget.

  19. eeeeeey -__-
    ini FF serius pertama dari Jongki oppa yang aku baca. hehe. bukan maksudku yang kemarin-kemarin nggak serius. tapi, yang kemarin-kemarin itu biasanya ceritanya ringan, tanpa konflik, atau paling nggak nggak serumit ini deh ceritanya.

    daebak loh oppa! rasanya kayak bukan lagi baca FF Jongki oppa. Bahasanya beda banget, feel-nya juga kerasa, enak dikhayalinnya. But, I like both of your writing style.

    hebat oppa. nanti mau cerita yang kayak gini lagi ya ^^

  20. Kirain endingnya si junghee ternyata beneran cinta sama onew, eh dugaanku salah parah. Walau gitu endingnya bagus, pertengahan antara happy dan sad end ^^

  21. sebagai orang yang suka ngubek-ngubek internet buat cari jongyu fanfic (tapi gatau somehow baru nyampe sini). i can safely say ini…. plagiat yah… originalnya ff jongyu juga judulnya remedy http://theinterval.livejournal.com/11820.html ditulis tahun 2010. dan waktu aku baca ini aku langsung!!!! inget remedy dan!!!! ini!!! mirip!!!! banget!!! bedanya ini di translate ke bahasa dan ada tambahan beberapa scene buatan author dan juga tukar posisi (karena yang di remedy yang minum ramuannya jinki) jujur aku gatau tujuan aku nulis komen ini.. sorry but maybe someone can do something about this? bcs as we know plagiarizing one’s work is rightfully wrong.

Leave a Reply to Limaulia Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s