The Locked Room – Part 2

The Locked Room – Part 2

Author: Shin Chaerin

Cast: Kim Kibum aka Key SHINee, Lee Sunhee (OCs)

Support Cast: Lee Jinki SHINee, Kwon Yuri SNSD, Seohyun SNSD, Choi Minho, Lee Taemin

Genre: Mystery, Horror, Friendship

 Disclaimer: Kim Kibum is mine!! *disiram air panas*

Original Concept © Ritsu Miyako

 Rating: PG-15

Length: Sequel

Warning: There are many silly typos in this ff. Be careful!

***

Tok Tok Tok

 

Sudah lebih dari 5 menit kami berdua berdiri di depan ruangan penjaga kampus, tapi tak ada jawaban dari dalam.

“Sepertinya penjaga kampus sedang tidak ada ditempat. Kalau begini mana bisa pinjam kunci bangunan itu?” tanyaku.

BRAAKK

Kibum membuka paksa pintu ruangan penjaga kampus itu. “Ya!! Jangan masuk seenaknya! Nanti bisa dimarahi”, teriakku. Namun namja ini sepertinya tidak pernah menghiraukan perkataanku. Aku mengintip ke dalam ruangan, sesuai dugaanku, ternyata memang tidak ada orang.

“Hei, apa yamg kalian lakukan disitu?!” seru seseorang yang ternyata Pak penjaga kampus.

“Ah begini… maksud kedatangan kami…kami ingin…”, jawabku tergagap-gagap.

“Maaf, kami sudah membuka pintu tanpa izin. Kami bermaksud pinjam kunci bangunan yang ada dibelakan kampus”, ujar Kibum sambil tersenyum ramah.

Uh, senyuman ramah macam apa itu? Menggelikan!

“Kalian mau apa di tempat itu?” Tanya Pak penjaga kampus penuh selidik.

“Anu…”

Lagi-lagi perkataanku diserobot olehnya. “Beberapa waktu yang lalu, teman kami menyelinap ke sana untuk uji nyali. Sepertinya ada barang miliknya yang terjatuh di sana.”

Dia menipu lagi! Ternyata penipu lihai memang beda…

“Barang yang terjatuh?”

“Anda tahu?”

“Nggak. Aku nggak pernah masuk ke sana. Nih, kuncinya.”

“Terima kasih banyak.” Kibum meraih kunci yang diberikan oleh Pak penjaga kampus.

“Jangan lakukan lagi hal bodoh seperti uji nyali di sana”, ujar Pak penjaga kampus menasehati.

“Jadi gosip tentang hantu di tempat itu memang benar ya?” tanya Kibum. Entah apa maksudnya dia berkata begitu, padagal dia tahu kalau bangunan itu memang ada hantunya.

“Bukan begitu, bangunan itu sudah tua. Makanya bulan depan tempat itu akan dirobohkan.”

***

“Sepertinya ini satu-satunya pintu yang ada.”

Sekarang aku dan Kibum sudah benar-benar berada di depan bangunan terlantar bermasalah itu. Dilihat dari sudut manapun, bangunan ini memang mengerikan. Duh, Seohyun, kenapa kau mau masuk ke tempat seperti ini sih…

“Ayo masuk”, ajak Kibum.

“Ki..kita benar-benar akan masuk ke sana..?”

“Tentu saja.”

Seketika bulu kudukku meremang seiring kami melangkahkan kaki ke dalam bangunan itu. Bangunan ini benar-benar jelek dan kotor. Selain itu dinding-dindingnya juga mengalami kerusakan. Kaca jendelanya juga sudah pecah di sana-sini.

“Hey, temanmu melihat hantu itu di kamar yang ada di ujung sini, kan?” tanya Kibum. Ia mengarahkan senter ke arah pintu ruangan yang terkunci itu.

“I..iya sepertinya begitu…”, jawabku.

“Baiklah ayo kita ke sana.”

Hegh? Masuk ke dalam? Yang benar saja! Lagipula kenapa Kim Kibum ini sama sekali nggak kelihatan takut?? Bagaimanapun juga, tempat ini menakutkan. Kwon Yuri, arwah yang saat ini merasuki Seohyun, ketakutan oleh sesuatu yang ada di dalam bangunan ini.

 

Krsssk

“Waaa! A..A..Apa itu?!” Aku terperanjat dan sontak aku mencengkeram erat lengan kibum yang berjalan di depanku.

“Cuma daun kering. Kan kau sendiri yang menginjak daun-daun itu”, ujar Kibum.

“Ma..maaf, perhatianku terpecah…”

“Kalau memang takut, nggak usah ikut. Aku nggak memaksamu ikut kemari kok.”

“Nggak masalah! Ini semua demi menolong Seohyun yang sedang menderita. Cuma begini saja sih belum ada apa-apanya bagiku, kita teruskan!” ujarku berapi-api.

Kami mulai mendekati ruangan yang terkunci itu selangkah demi selangkah. Ruangan ini memiliki lebih dari satu kamar dan bagian dalam setiap kamar itu kurang lebih sama. Melihat desain interiornya yang memiliki banyak kamar begini, mungkin tempat ini dulunya asrama atau penginapan mahasiswa.

Hmm. Ada satu kamar yang tidak memiliki tempat tidur, padahal di kamar lain selalu ada tempat tidur.

“Hey, temanmu nggak sempat masuk ke ruangan yang bermasalah itu kan?” Kibum menghentikan langkahnya. Aku juga ikut menghentikan langkahku.

“Iya, ruangannya terkunci. Jadi mereka nggak bisa masuk. Memangnya ada apa?” jelasku.

Kibum mengambil sesuatu yang tergeletak di kaki pintu dan menunjukkannya padaku. Sebuah kunci gembok otomatis yang menggunakan sederet angka semacam kode untuk membukanya.

“Kuncinya terbuka. Ruangan yang terkunci itu sekarang sudah terbuka.”

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah siapa yang membuka dan ada apa sebenarnya di dalam ruangan itu.

KRIEEET

Dengan hanya berbekal senter, kami memasuki ruangan itu. Hawa di ruangan ini rasanya berat.

“Apa ya yang ditakuti arwah itu di ruangan ini?” gumam Kibum. “Entah kenapa, rasanya udara di ruangan ini pengap.”

“Karena di sini nggak ada jendela”, sahutku.

“Mahasiswa yang dapat ruangan ini nasibnya malang sekali”, timpal Kibum.

“Apa ini bukan gudang? Mana ada yang mau tinggal di tempat ini…”, ujarku.

“Tuh, ada tempat tidur di situ”, Kibum menunjuk tempat tidur yang berada di pojok ruangan.

“Wah, iya betul. Padahal kupikir cuma ruangan sebelah yang nggak ada tempat tidurnya”, jawabku.

“Bekas diseret. Baru-baru ini ada yang memindahkannya kemari”, gumam Kibum.

‘Awas!!’

Entah karena apa, sepertinya aku mendengar suara yang memperingatkan kami. Kemudian sejurus kemudian Kibum menarik tubuhku. Aku tidak tahu apa yang terjadi, sampai saat itu aku melihat sesosok, entah apa itu, mengarahkan sekop besi ke arah Kibum.

 

DUAKK

Kibum jatuh tersungkur dengan kepala berlumuran darah. Sosok misterius itu kembali mengarahkan sekop yang dipegangnya pada kami.

“Ayo cepat lari!” Kali ini kami berhasil menghindar. Kami segera keluar ruangan itu. Dengan asal-asalan Kibum merantai pintu ruangan itu.

Entah apa yang sebenarnya terjadi barusan. Kejadiannya berlangsung sangat cepat. Yang aku tahu tempat ini berbahaya dan aku harus memaksa kakiku yang seakan terpaku di tempat itu untuk berlari sekuat tenaga..

***

“Hhh..Hhh..”

Kami berdua ngos-ngosan. Nafas kami berdua seolah saling bersahutan. Kami sudah sampai di Asosiasi Periset Film. Tiba-tiba aku teringat pada Kibum yang terluka. Aku menghampiri Kibum yang sedang terkapar dan menyodorkan sapu tanganku ke arah dahinya yang mengucurkan darah.

“Kau nggak apa-apa?” tanyaku sambil mengusap darah yang mengalir dari dahinya.

“Aku bisa sendiri.” Kibum meraih sapu tanganku lalu ia usapkan ke dahinya yang terluka.

Entah karena apa, tiba-tiba saja air mataku mengalir deras. Seketika Kibum menghentikan kegiatannya lalu ia lanjutkan dengan menepuk-nepuk pundakku. “Kau takut, ya?”

“Aku nggak apa-apa”, ujarku sambil menggeleng lemah. “Maaf, tiba-tiba saja aku menangis…”

Karena merasa berutang budi, aku membantunya membersihkan dan memperban lukanya. “Sakit, ya?” tanyaku cemas.

“Tentu saja”, ujarnya datar.

“Ka..kalau lukanya parah, lebih baik kita ke rumah sakit saja!”

“Aku sudah tidak apa-apa kok.”

Eh..? Sebelah matanya… merah…

“Ga..gawat! Mata kirimu jadi merah. Jangan-jangan lukamu parah! Ayo kita ke rumah sakit! Aku akan telpon ambulans!” ujarku gelagapan.

“Nggak perlu”, jawabnya santai.

Eh?

“Mata kiriku yang merah ini memang bawaan sejak lahir.”

Apa? Bawaan sejak lahir..?

“Biasanya aku pakai lensa kontak untuk menyembunyikannya. Pasti lensa kontak itu terjatuh saat aku kena pukul tadi. Mata merah yang mengerikan ini… semua orang takut pada-“

“Oh, begitu. Syukurlah! Aku kaget karena kupikir matamu terluka”, ujarku lega.

“Syukurlah? Kau nggak takut dengan mataku yang merah ini?” Kibum mengerutkan keningnya.

“Kenapa harus takut? Lagipula kan ada orang yang bermata hijau. Kucing yang matanya beda antara kanan dan kiri juga banyak. Iya ‘kan? Lagipula, kurasa mata yang berwarna merah juga bagus, kok”, jawabku.

“Ha ha ha ha ha.” Kibum tertawa terbahak-bahak.

“Eeeh.. kenapa malah tertawa?” protesku.

“Kau ini selalu berbicara seenakmu sendiri, ya? Tapi.. kau adalah orang pertama yang bilang begitu.”

Eh? Dia tersenyum… Senyuman yang manis…

“Entah ada hubungannya atau tidak dengan mata merah ini, tapi mata inilah yang bisa melihat arwah.”

“Apa yang menyerang kita tadi juga arwah?” tanyaku ngeri.

“Bukan. Yang tadi itu manusia. Ada manusia yang merasa dirugikan kepentingannya kalau kita masuk dan menyelidiki ruangan itu.”

Siapa? Siapa yang berbuat begitu…?

“oh, ya. Terima kasih. Andai tadi kau nggak menolongku, aku-“

“Tujukan saja ucapan terima kasihmu itu pada kakakmu”, ujar Kibum menyela perkataanku.

“Kakak?”

“Dia yang memperingatkan kita akan datangnya bahaya.”

Jadi suara itu… ‘Awas!!’

 

Kakak..

“Selama ini dia selalu melindungimu”, lanjutnya.

“Itu… itu semua salahku…”, air mataku kembali mengalir. Semua rasa bersalahku yang kupendam selama bertahun-tahun rasanya meluap seketika.

“Kalau saja aku nggak melempar bola itu, kakak nggak akan meninggal. Kakak nggak berhasil menangkap bola yang kulempar. Dia mengejar bola itu sampai ke jalan, lalu datang mobil…”, rasanya aku sudah tidak kuat menceritakkannya lebih lanjut.

Maaf, kak… Maafkan aku…

“Kakakmu bilang itu bukan salahmu.”

Ayah dan ibu juga bilamg begitu. Berulang kali mereka bilang begitu. Semua ini cuma kecelakaan. “Iya aku mengerti..”, ujarku sembari mengusap air mataku yang tak henti-hentinya mengalir.

Tapi… biarpun kucoba, aku tetap nggak bisa melupakan rasa bola itu ditanganku… rasanya seperti baru saja terjadi. Perasaan yang meluap keluar, sekuat apapun aku mencobanya, aku tetap tidak akan bisa…

***

Keesokan paginya, aku kembali menuju tempat dimana beberapa waktu terakhir ini aku gunakan untuk menghabiskan waktu. Ruang Asosiasi Periset Film.

“Kibum! Kau di dalam?” Aku memasuki ruangan itu dan menemukan Kibum tidur di lantai terbungkus oleh selimut yang tebal.

“Selamat pagi. Ayo bangun, ini sudah pagi lho.”

“Hoaaahm, kau rupanya.” Kibum bangun dari tidurnya kemudian meregangkan badannya.

Oh, ia sudah memakai lensa kontaknya. Entah kenapa tampangnya yang kuyu sehabis bangun tidur ini mirip seekor kucing. Membayangkan ia memiliki telinga berbulu dan berdiri tegak kemudian memiliki kumis panjang yang kaku membuatku perutku mulas.

“Ehehehe”, aku terkekeh.

“Kau kenapa tertawa-tawa sendiri? Memang ada yang lucu?”

“Eh, nggak ada apa-apa kok. Oh, ya, ngomong-ngomong kau sering menginap di sini?” tanyaku.

“Ya, karena ini kamarku. Mudah saja sih, cuma mengumpulkan nama beberapa nama mahasiswa lalu mengajukan permohonan ke Badan Kemahasiswaan. Jadi, sebenarnya Asosiasi Periset Film itu tidak ada.”

Lagi-lagi dia menipu… -__-

“Bagaimana dengan rumahmu?”

“Kadang-kadang aku pulang”, ujarnya datar.

“Kok cuma kadang-kadang? Rumahmu jauh ya? Apa orang tuamu nggak khawatir?” tanyaku bertubi-tubi, agak tidak sopan juga sih kalau kebanyakan bertanya.

“Kurasa nggak.”

“Kok begitu? Mereka pasti khawatir, cuma nggak bilang padamu. Seperti aku, sekarang aku memang tinggal sendirian tapi aku sering kena marah karena katanya aku jarang menghubungi rumah.”

“Di dunia ini… Ada juga orang tua yang nggak sayang sama anaknya. Sekarang aku tinggal di tempat pamanku. Dia memang menyuruhku untuk jangan sungkan-sungkan, tapi aku merasa jauh lebih bebas di sini.”

Aku jadi merasa tidak enak setelah bicara begitu. “Maaf, aku nggak tahu apa-apa tapi sudah seenaknya menyimpulkan.”

“Kau ‘kan memang selalu ngomong seenakmu sendri.”

Waa, kata-katanya menusuk sekali…

“Ma..maaf…”, ujarku merasa bersalah.

“Ya sudahlah. Kurasa hal itu juga bukan masalah besar. Jadi, tidak perlu terlalu dipikirkan.”

Ucapannya seolah sedang membicarakan permasalahan orang lain saja. Apa dia memang nggak mau cerita tentang dirinya?

“Kibum, soal bangunan yang kemarin… Apa ada sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk?”

“Nggak. Sepanjang penglihatanku, nggak ada apa-apa di sana. Yang kudapat cuma luka ini.” Kibum menyibakkan sedikit rambutnya, membuat luka di dahinya terlihat.

“Lukamu masih sakit?” cemasku.

“Sedikit.”

“Sepertinya memang lebih baik diperiksakan ke rumah sakit! Lagipula yang luka kan bagian kepala… Bisa bahaya kalau tidak segera diperiksakan.”

“…”

“Kalau memang kita nggak dapat petunjuk dari bangunan itu, aku akan coba sekali lagi mengumpulkan informasi tentang Yuri. Kalau cuma itu, aku bisa melakukannya sendiri”, ujarku bersemangat.

“Serius? Yakin nggak apa-apa sendirian?” ujarnya penuh penekanan seolah-olah ia mengatakan ‘Yakin kau sanggup? Kau kan tidak bisa apa-apa? Kerjamu juga tidak becus.’ Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, kenapa aku malah mengintimidasi diriku sendiri?

“Aku tidak apa-apa kok. Kalau begitu aku pergi dulu, sore nanti aku akan kembali lagi. Oh ya, jangan lupa mampir ke rumah sakit untuk memeriksakan lukamu ya?”

“Iya, aku tahu. Dasar sok ikut campur”, sahutnya.

Apa?! Dasar..!

“Baik aku pergi dulu!” kataku ketus.

“Hey, jangan pergi ke tempat-tempat sepi. Kalau ada yang berhasil kau ketahui, sekecil apapun itu, cepat hubungi aku.”

Kibum… Barusan dia mengkhawatirkan aku ya?

“Kenapa kau diam saja?! Apa jawabanmu?”

“Iya aku tahu. Dasar sok ikut campur”, jawabku, sedikit membalas perkataannya tadi.

Setelah aku bicara begitu, wajahnya langsung berubah seperti kucing yang mengamuk karena ekornya terinjak. “Hehe, itu balasan yang tadi. Terima kasih sudah mau mencemaskan aku. Akan kuturuti nasihatmu.”

***

“Kwon Yuri? Aku jarang ngobrol dengan dia.”

“Aku nggak tahu tentang dia, habis dia nggak menonjol, sih.”

“Hm, aku tak tahu dia kemana, lagipula dia sepertinya tipe orang yang tertutup.”

“Dia juga suka menyendiri, aku bahkan nyaris tidak menyadari kehadirannya, lho…”

Berdasarkan pengamatanku dan berbagai macam komentar teman-teman tentang Yuri, nyaris tidak ada yang dekat dengan Yuri. Aku menghela nafas panjang. Sama sekali tidak ada petunjuk… Tapi, aku tidak boleh menyerah! Demi Seohyun yang sedang menderita dan demi Kibum yang sudah bersedia membantuku…

“Lee Sunhee.” Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari seseorang yang memanggilku barusan.

“Eh, Pak Jinki…” ujarku setelah menemukan sosok yang memanggilku tadi.

“Sepertinya kau berkeliling menanyakan tentang Kwon Yuri. Kurasa dia nggak akan suka kalau kau membuat keributan tentang dirinya”, ujar Pak Jinki.

“Maaf.”

“Kenapa kau tanya-tanya tentang dia? Kau mau menceritakan alasannya?”

Lebih baik kuceritakan tidak ya? Tapi, kalau Pak Jinki mau percaya, mungkin aku bisa dapat suatu petunjuk. Biarpun kemungkinannya cuma setengah-setengah…

“Anu.. Pak, mungkin Kwon Yuri itu… sudah meninggal. Maaf, aku sudah mengatakan sesuatu yang aneh, tapi-“

“Lee Sunhee, nggak enak rasanya kalau kita bicara soal itu di sini. Ayo kita pindah tempat dulu.”

“Eh… i..iya.”

“Sebenarnya aku pernah mendengar sesuatu yang menarik perhatianku”, bisik Pak Jinki.

Bagaimana ini?

‘Jangan pergi ke tempat-tempat sepi!’

 

“Lee Sunhee?” panggil Pak Jinki.

“Iya, Pak.”

Walaupun sedikit ragu, akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti Pak Jinki. Kalau dengan dosen, kurasa nggak apa-apa…

***

Kibum POV

Sama sekali tidak mendapat petunjuk. Karena itu aku berada di sini sekarang. Aku harus menyelidiki bangunan terlantar ini sekali lagi. Aku melangkahkan kakiku mendekati ruangan yang terkunci itu. Namun yang mengejutkanku, ruangan yang terkunci itu sudah kembali terkunci, mungkin ada yang menguncinya. Terakhir kali aku ke sini bersama Sunhee, ruangan ini terbuka.

Aku meraih gembok otomatis yang tergantung di rantai yang melingkar di pegangan pintu ruangan itu. Seingatku, gembok penguncinya memiliki kode angka… Waktu itu, kalau tidak salah kombinasi angkanya adalah 3487. Aku segera menekan kode angka tersebut pada tombol-tombol yang terdapat pada gembok.

Clek

 

Berhasil! Aku memasuki ruangan itu perlahan-lahan. Udara yang pengap dan terasa berat kembali memenuhi rongga pernapasanku. Membuatku sedikit sesak.

Aku mengamati kunci bangunan ini yang sekarang ada di genggamanku. Berdasarkan pengamatanku, bangunan ini memiliki tiga kunci. Kunci pintu masuk, kunci ruangan terkunci ini, dan…

Aku meraih pegangan tempat tidur dan menggesernya.

GRIEEEK

GRIEEEK

 

Dan yang ketiga, di sembunyikan di bawah tempat tidur yang baru-baru ini dipindahkan. Bekas gesekan kaki tempat tidur yang masih baru menunjukkan bahwa tempat tidur ini baru saja digeser. Kunci yang ketiga adalah kunci ruang bawah tanah ini.

Dengan segenap tenaga, aku membuka pintu ruang bawah tanah ini yang terbuat dari besi, beratnya mungkin bisa berkilo-kilo. Pintunya terbuka. Dengan hati-hati, aku menuruni tangga yang menuju ruang bawah tanah itu. Sesampainya aku di sana, aku benar-benar terkejut. Terdapat banyak sekali goresan darah di sepanjang dinding dan lantai tempat ini.

Inilah ruang terkunci yang sebenarnya! Dan Kwon Yuri meninggal di tempat ini…

Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan. Tubuh Kwon Yuri tidak ada di sini, berarti sudah ada yang membawa tubuhnya keluar.

Kalau analisaku tidak salah, kemungkinan besar orang itulah pelakunya…

T.B.C

Yah akhirnya part 2 selesai juga… *elap keringet*

Sebenernya bikin ff ini sama sekali nggak sulit. Tapi gak tau kenapa rasanya kok males banget nulisnya. Akhirnya malah terbengkalai… Tapi syukurlah bisa selesai juga. Karena itu mohon beri dukungan berupa kritik, saran dan komentar dari reader buat author ya? Supaya author semangat nerusin fanfic ini *bow*  ^__^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

29 thoughts on “The Locked Room – Part 2”

  1. huaaaa.. Makin seru aja nih FF! Waduh Sunhee mau dibawa onew kemana tuh? Aiih, gak kebayang deh kalau si key matanya merah, Lanjutkan ya thoooor…

  2. Waaaaa~
    takut. Hi~~

    eh ini part 2? Ketinggalan part 1-nya dong ane?!

    Entah kenapa aku curiga sama Jinki. Hehe *janganrajamaneMVP*

    PART 3! yo… Jangan lama…

  3. Akhirnya keluar jg part 2 nya!!! *nari hula” si kibum penipu yg handal -_- trs nyante lg wkt ngasih tau sunhee kalo dia pura” bwt asosiasi periset film. Kalo menurut aku yg ngebunuh jinki bkn? Ato jgn” minho? Soalnya nyampe skrg kabar minho ga jelas kan?? Ccnya si sunhee baik deh! Can’t wait for the next part >.<!!

  4. huaa makin curiga ama jinki, tapi rasa curiga ada di Minho juga sih soalnya dia ngilangkan?

    Key pinter banget boong ya.. tapi dia baek banget. ngebayangin mata Key merah sebelah jadi serem

    makin seru aja, sumpah penasaran banget! penasaran banget! *heboh*
    next partnya cepetan yaa 😀

  5. dia..dia..dia..dia bnr2 mncurigakan#nunjuk2 onew
    key pnipu lihai…??? bermata merah..??,co2k bgt…soalx dy emg udh ckep dri sono sih…
    crtax mkin bkin pnsran,kirain td yg blg ”awas” itu arwah seohyun trprangkap d sana gntiin yuri,eh…taux sdra kmbrx sunhee.
    trz itu si sunhee mw d bw kmn…#nynyi lg armada breng key,d lempar sm locket#
    bgus thor…bhsax jg bgus dan g brantkan.
    g sbr bwt next part…KEEP WRITING !!!

  6. waaaahhhh thor ini terinspirasi dr film anime jpg ya ?? kalau ga salah judulnya ‘shinrei tatei yakumo’ ya? aku udah nntn film itu.. rame banget.. ga kebayang d jadiin ff bakalan serame ini ^^ tegang waktu pas si keynya di pukul pake sekop… ga sabar nungguin kelanjutannya~ ditunggu ya thor ^^

  7. Aku suka karakter Kibum di sini. Lalu matanya itu lho. 🙂

    Hah. Spekulasi menari-nari kecak(?) di kepala. Daripada tambah pusing mending nunggu lanjutannya aja. Lanutan. 😀

  8. Membayangkan ia memiliki telinga berbulu dan berdiri tegak kemudian memiliki kumis panjang yang kaku membuatku perutku mulas. —- aq ngakak bc klmt itu.. hahaha bwahahaha

    jgn2 org yg dimaksud key di bag sblum tbc itu pak jinki lg.. huaaaaaa

    next part dtggu thor

  9. Ruangan terkunci yang sebenarnya sudah ketemu. Siapa itu yang diyakini Key sebagai pelakunya?

    Pak Jinki bawa Sunhee ke tempat sepi. Niatan apa yang terselip di kepala Pak Jinki terhadap Sunhee? Sepertinya Pak Jinki tidak suka ada yang membahas Yuri.

    Nice story. Lanjut!

  10. Wew,,, Tegang!!!
    Waktu mereka masuk ke gedung tua itu,,,

    Haisshh,, siapa yg mukul Key pake sekop??? Siapa??? #putar leher

    Ehh,, sebelah mata Key merah???

    Aku suka Sifat Key,,, penipu ulung,,hahaha #hug Key,,,

    Jinki?? Add yg ganjil denganmu,, jadi sebenarnya ada app denganmu??? #peterpen mode on,,,hehehe

  11. aku deg-deg-an…
    agak curiga dengan pak jinki nih -.-
    kok mata key bisa merah sebelah ya? apa jangan2. . .
    ditunggu part 3 nya 😉

  12. Penasaran! Tegang!
    Hayo loh Pak Jinki, pembunuhnya bukan??
    Mencurigakan~
    Key matanya merah? Untung bukan Pink. Key juga cocok jd penipu, keren jadinya(?) *dikasih goceng sm Key*
    Berasa lg baca komik jepang.
    Next part.

  13. nah loh ya ._. makin seru aja nih cerita.
    itu yang nganuin *eh* sekop ke key siapa ya? apa onew-nya? lah kok onew jangan siihh *mbombay*
    tapi ceritanya daebak kok thor 😉
    next partnya ditunggu yeehh ;;) *kedipkedipin mata* #dilemparsandal

  14. Key, kau kasihan banget… 😦 *elus-elus pala Key* *dicakar Lockets*
    Seru amat ni ff!! Bikin tegang!!

    Woi, Pak Jinki, dikau kan pembunuhnya? *nodong pistol ke Onew*
    Mencurigakan banget euy… -,-

    Mata Key merah sebelah?
    Kesalahan pada saat pembuatannya(?) ya??? *ditendang Key*

    Next part ditunggu… 🙂

  15. Arghhh, ini FF sanat keren, menegangkan tapi seru juga…
    Dilanjutin dong yaa?? Plis plis…

    Aku suka deskripsi dimana Key jadi cuek tapi di saat yang sama dia perhatian juga. Berani banget sih masuk-masuk ke tempat terlarang begitu sendirian?

    Dugaanku sama dengan dugaan reader2 yang lain, Pak Jinki yang melakukannya?? Huwaaa Jinki-ku (apa deh?)

    Lanjutannya jangan lama-lama ya, penasaran…

  16. takut ngomongnya….tapi…tetep aja curiga….sama Onppa….
    Huaaaa!!! gimana nasib Sunhee??? kalo Sunhee dibunuh juga nanti gimana kibumnya??? entar ga’ ada yang ngelunasin bayarannya lagi (?)…
    minho kemana? jangan2 minppa pacarnya yuri yang nanti memberi petunjuk??? ah,hyunnie sok tau banget!
    lanjut ya unnie! biar hyunnie ga’ sok tau lagi(?) kekekekeke
    hwaiting ^^

  17. ku curiga ma jinki,gimana tuh nasib sunhee.
    trus mayat yuri juga tuh…….gimana ya?
    ah author jago bikin orng pnasaran..

    ayo thor,lanjut…

  18. Hallo min, aku pembaca baru.
    FF yang ini hebat banget, aku gag tau apa aku yang lebay menanggapi cerita atau cerita’y yang sip banget.
    Feel’y dpat banget waktu aku baca.
    Dag dig dug banget . Hehehe

  19. Jinki, Onew
    Menegerikan sekali cara mati dari YuRi, astaga sudah diperingatkan masih saja dia ikut. Ckckckck

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s