I Was Killed By My Best Friend [1.2]

Title : I was Killed by my Best Friend – part 1

Author : Choi Minjin

Main Cast : Lee Jinki, Choi Minho

Support Cast : Kim Jonghyun, Lee Taemin, Kim Kibum

Cameo : Cho Kyuhyun, Park Jungsu

Length : two shots

Genre :horror, life

Rating : General

A.N: happy reading ^^

“Jinki, kau sudah sembuh betul?”

Jinki mengangguk mantap pada Jonghyun. Ia berusaha menampakkan senyum tercerianya walaupun kadang kepalanya masih berdenyut-denyut. Jonghyun tampaknya masih tidak percaya. Dipandanginya balutan perban di kepala Jinki,”Kupikir belum saatnya kau masuk sekolah lagi.”

“Sudahlah, sudah kubilang aku baik-baik saja.”Jinki mendorong Jonghyun ke samping lalu ia masuk ruang kelas dimana teman-temannya menyambutnya dengan riang.

“Jinki!”

Jinki mengangkat tangannya dengan gaya tentara pulang dari perang. Ditaruhnya tasnya di atas meja tepat ketika bel berbunyi.

“Hei, Jinki. Seingatku baru seminggu lalu kan kau tertabrak mobil di jalan depan sana? Aku lihat sendiri, sepertinya kau parah sekali waktu itu. Bagaimana bisa kau sudah masuk sekolah lagi?”

Jinki memandang Kyuhyun,”Aku sudah sehat.”

“Benarkah?”Kali ini Jonghyun yang bertanya. Ia duduk di samping Jinki,”Jangan bohong padaku.”

Jinki berpaling padanya. Ia melirik kanan kiri lalu berbisik,”Jjong, sebenarnya aku tidak betah tinggal di rumah sakit.”

“Tentu saja. Siapa yang betah di rumah sakit?”

“Bukan itu maksudku. Aku benar-benar tidak tahan tinggal di sana. Karena…”

Jonghyun menunggu. Ia duduk bertopang dagu.

“Karena…”

“Karena?”

“Selamat pagi anak-anak!”

Mereka terlonjak. Ternyata Jungsu seonsaengnim sudah memasuki kelas. Jinki dan Jonghyun lalu menunda perbincangan mereka.

~~~~~

Jinki memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Dia memang sudah kelas 3. Tapi kenapa dia masih harus mengikuti pelajaran tambahan sampai selarut ini ketika kepalanya masih sering berputar-putar. Dan sialnya lagi dia tertinggal sendirian di kelas. Semua temannya sudah pulang. Padahal sekarang pukul sembilan malam.

Mungkin Jonghyun dan Taemin masih di perpustakaan. Dia juga perlu meminjam beberapa buku. Dia harus belajar ekstra keras karena seminggu tidak mengikuti pelajaran. Benar-benar musim panas yang melelahkan.

Dibukanya pintu kelas. Koridor sangat sepi. Tidak ada suara. Kemana semua orang? Apa tidak ada yang juga belajar sampai malam? Apa semuanya ada di perpustakaan?

Jinki memegangi dadanya yang berdebar kencang. Di sini… tidak akan ada ‘itu’ juga kan?

Jinki berjalan menyusuri koridor sambil berkali-kali meyakinkan dirinya sendiri,”Tidak ada, tidak ada, tidak ada, tidak ada…”

Langkahnya terhenti ketika ia menjumpai koridor yang gelap. Ke, kenapa koridor yang ini lampunya tidak dinyalakan sih?

Jinki menarik nafas dalam-dalam. Koridor ini menuju tangga. Dan hanya itulah satu-satunya jalan untuk pulang. Bahkan kalaupun ia ingin ke perpustakaan, ia juga perlu turun.

Dan apa yang ditakutkannya terjadi.

Ia melihat sosok-sosok berjalan berseliweran di sekitarnya. Dan mereka tidak menjejak tanah. Jinki harus menahan nafas dan berjalan cepat-cepat agar tidak berteriak. Di dekat tangga dilihatnya sesosok wanita berambut panjang yang melotot padanya. Wajahnya pucat dan matanya hitam. Ia menempel di dinding yang tampaknya berlumuran cairan merah.

Jinki hampir pingsan. Ia cepat-cepat menuruni tangga dan sempat terjatuh di anak tangga paling bawah. Lalu ia berlari-lari ke perpustakaan. Ternyata benar, Jonghyun dan beberapa orang masih di sana.

“Jinki, kau kenapa sih? Ngos-ngosan begitu?”

Jinki tidak menjawab. Ia hanya duduk di sebelah Jonghyun sambil masih berusaha mengatur nafas,”Ayo pulang. Tolong aku. Temani aku pulang!”

“Hah?”Jonghyun dan Taemin berpandangan.

“Kujelaskan di jalan. Tapi ayo, keluar dari sini.”Jinki mengedarkan pandang ke sekeliling. Di sini lebih banyak lagi ‘itu’.

“Tidak ah. Aku masih mau di sini.”Taemin berkonsentrasi pada PRnya lagi. Jonghyun mengangguk setuju.

Jinki melirik teman-teman lain yang duduk di lain meja. Hanya mereka bertiga yang duduk di meja ini. Mungkin dia memang harus menceritakannya pada seseorang. Mungkin Jonghyun bisa membantunya.

“Jonghyun, kau ingat apa yang kita bicarakan tadi pagi? Tentang kenapa aku sangat ingin keluar dari rumah sakit?”

Jonghyun mendongak dari lembar latihan soalnya,”Iya. Lalu?”

“Kurasa aku harus membicarakan ini denganmu.”

“Hmmm..”

“Jonghyun, sejak aku sadar dari pingsan setelah kecelakaan itu, ada… ada yang aneh denganku. Sesuatu yang tidak lazim.”

Jonghyun mulai tampak tertarik,”Apa? Jangan-jangan kau jadi bodoh ya?”

“Bukan.”Jinki mengedarkan pandang lagi, lalu bergidik,”Aku bisa me, melihat sesuatu yang tidak bisa kau lihat. Sesuatu yang tidak bisa orang lain lihat.”

Jonghyun menaikkan satu alisnya,”Hah? Hei, kau bisa melihat menembus sesuatu begitu? Menembus pakaian, misalnya?”

Jinki menjitak kepala Jonghyun,”Bukan! Dasar mesum. Aku bisa melihat… melihat…”

“Melihat?”

“Hantu.”

“Hah?”

Jinki mengangguk,”Iya. Itulah kenapa aku sangat tidak betah di rumah sakit. Di sana hantunya banyak sekali dan ada dimana-mana. Mereka juga mengerikan. Aku bisa gila jika sehari lagi tinggal di sana. Dan kau tahu? Di sekolah ini juga ada.”

Jonghyun melongo. Taemin yang sudah sejak tadi mendengarkan pembicaraan mereka sekarang meninggalkan PRnya dan ikut memandangi Jinki tidak percaya,”Kau serius?”

Jinki mengangguk-angguk dengan putus asa,”Percayalah padaku. Aku juga inginnya ini semua bohong. Aku sendiri ketakutan sudah seminggu ini. Aku benar-benar bisa gila.”

“Apa di sini juga…”

Jinki melirik sedikit ke meja sebelah mereka,”Ada beberapa. Salah satunya ada di kolong meja sebelah kita.”

Jonghyun dan Taemin langsung berdiri dan menyambar tasnya,”Jinki, ayo kita pulang. Akan kutelepon kakakku untuk menjemput kita.”Taemin menarik Jinki lalu mereka berjalan cepat-cepat sambil sesekali melirik ngeri pada kolong meja yang dimaksud tadi.

~~~~~

Jinki tersentak bangun. Dia lega, dia tidak sendirian. Beberapa temannya masih duduk di sekitarnya.

Jinki sangat mengantuk setelah minum obat dan tertidur di pojok perpustakaan sejak tadi. Sekarang sudah jam berapa? Jinki menoleh ke jendela, cahaya jingga keemasan mewarnai kaki langit sebelah barat. Pasti sudah senja.

Ia melirik sebentar buku yang dibacanya tadi sebelum tidur. Tadi, karena stres mengerjakan latihan soal matematika, ia iseng-iseng membaca buku tahunan siswa sekolah ini pada tahun 1983. Dan sekarang buku itu membuka di halaman dimana terpampang jelas wajah ayahnya. Ia ingin membawa buku ini pulang. Mungkin ayahnya akan senang melihatnya.

Jinki memasukkannya ke dalam tas lalu buru-buru pergi. Ia tidak ingin tinggal di sekolah sampai malam lagi. Sekolah ini ternyata gedung tua, banyak hantunya.

Jinki berjalan cepat menyusuri koridor. Langit yang tampak dari jendela-jendela lebar mulai gelap. Jinki mulai dapat melihat kilasan-kilasan sesuatu berwarna putih yang mondar-mandir. Ia meraba tengkuknya yang merinding. Dia tidak juga dapat membiasakan diri. Tetap saja rasanya ingin berteriak histeris.

Kenapa koridor sepi sekali?

Ah, itu ada orang.

Di belokan, di sebelah jendela lebar berdiri seorang laki-laki tinggi berseragam. Jinki tersenyum padanya. Mungkin adik kelasnya? Dia tampan dan bermata besar, rasanya pernah dilihatnya. Mungkin saja mereka sering berpapasan di sekolah. Tapi seragam apa itu yang dikenakannya? Terlihat aneh. Meski Jinki tersenyum begitu ramah padanya, dia tidak merespon. Dia hanya memandang Jinki dingin dengan mata besarnya.

Jinki merasakan bulu tengkuknya berdiri. Pandangan itu mengerikan. Dingin, namun penuh kesedihan. Jinki menenggak ludah lalu buru-buru berbelok, menjauhi laki-laki itu.

Ia membetulkan letak tasnya, tapi beberapa bukunya malah jatuh ke lantai. Sambil menghela nafas, dipungutinya buku-buku tebal itu. Buku tahunan angkatan ayahnya juga ikut jatuh dan terbuka tepat di halaman dimana ia meletakkan pembatas buku karena terpampang foto ayahnya di sana. Jinki bergerak memungutnya, tapi tangannya terhenti di udara.

Disipitkannya matanya ke halaman itu. Ia bukan melihat foto ayahnya. Tetapi foto lain yang berjarak beberapa foto dari foto ayahnya. Seorang siswa laki-laki berwajah tampan dan bermata besar.

Jinki terkesiap. Ia berbalik, ternyata orang tadi sudah tidak ada di dekat jendela. Ia melongok ke koridor setelah belokan, di sana sepi, tidak ada seorang pun. Bagi Jinki hanya tampak beberapa sosok berseliweran.

Jinki menarik nafas dalam-dalam. Kalau tadi itu… ‘itu’, kenapa terlihat sangat ‘solid’? Jinki benar-benar tidak menduga. Tetapi.. ya memang itu dia. Wajahnya sulit dilupakan.

Dihampirinya lagi buku di lantai. Di bawah foto itu tertulis namanya, Choi Minho.

Dan dia memang yang tadi dilihatnya dekat jendela. Wajah itu, mata itu, seragam kuno itu, tidak ada bedanya sama sekali. Bahkan tidak terlihat lebih tua sedikitpun. Dia adalah Choi Minho yang sama dengan Choi Minho di tahun 1983.

~~~~~

Jinki terpekur memandangi foto di hadapannya. Pikirannnya masih dipenuhi wajah yang kemarin dilihatnya serta kata-kata ayahnya kemarin bahwa temannya yang bernama Choi Minho mati bunuh diri melompat dari jendela. Jendela dimana Jinki melihatnya kemarin sore.

Kalau mengingat-ingat lagi, bulu tengkuknya jadi merinding. Tapi ia tidak bisa berhenti memikirkannya. Bahkan sekarang, saat jam pelajaran. Dia sudah biasa melihat hantu selama beberapa hari ini. Tapi Choi Minho ini sangat berbeda. Ia tidak terlihat seperti hantu. Ia memiliki sesuatu yang beda. Jinki tidak bisa melupakan pandangan yang dingin dan penuh kesedihan itu.

Pandangan itu menimbulkan tanya di hati Jinki. Kenapa dulu ia bunuh diri? Kesedihan macam apa yang dia alami?

Akhirnya senja datang lagi.

Jinki berjalan pelan menyusuri koridor. Sesekali kakinya gemetar. Entah kenapa meski takut akan melihat banyak hantu lagi jika ia tidak segera pulang, tapi dalam hatinya, meski hanya sedikit saja, ada perasaan ingin melihat dia lagi. Choi Minho.

Langkahnya terhenti sepuluh meter dari jendela besar itu.

Tidak ada siapa-siapa di sana.

Jinki menarik nafas panjang. Dengan masih agak gemetar, diayunkannya lagi kakinya. Pelan ia berjalan melewati jendela itu. Ia merasa dirinya sudah gila, tapi entah kenapa ia berbisik,”Choi Minho?”

Tidak ada apa-apa.

Jinki menggaruk kepalanya. Ia benar-benar sudah gila. Cepat-cepat ia berbelok. Baru beberapa meter, ia merasakan sesuatu yang ganjil. Angin berhembus dari belakangnya.

“Kau bisa melihatku?”

Langkah Jinki terhenti. Ia menahan nafas mendengar suara dalam itu. Suara itu terdengar seperti berasal dari dunia lain. Begitu dalam dan ada nuansa dingin yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Cukup untuk membuat Jinki gemetar. Meski begitu ia berbalik.

Di sana, di ambang jendela berdiri tegak sesosok laki-laki tinggi bernama Choi Minho. Terlihat sangat mengesankan dilatar belakangi langit senja yang keemasan. Ia memandang Jinki dengan mata besarnya yang hitam kelam. Tidak ada ekspresi tertentu di wajahnya yang pucat pasi.

Jinki tertegun. Ia tidak bisa bergerak sedikitpun. Tiba-tiba seluruh tubuhnya dialiri keringat dingin. Ia ingin mengatakan sesuatu tetapi rasanya seperti ada yang menyumbat tenggorokannya.

Hantu itu berkata, nyaris tanpa menggerakkan bibirnya,”Kau kenal aku?”

Jinki mengangguk sekali dengan kaku,”Kau… teman ayahku. Kau meninggal tahun 1983. Bukankah begitu?”

“Ya? Lalu? Apa lagi yang kau ketahui?”

Jinki menenggak ludah,”Ka, kau… mati bunuh diri bukan?”

Hantu itu memandangi Jinki dengan raut kesedihan yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata,”Itukah yang dipikirkan semua orang? Aku mati bunuh diri?”

Jinki tidak berkata apa-apa,”La, lalu? Apa itu salah?”

Choi Minho tersenyum sedih,”Aku dibunuh.”

Jinki meraba tengkuknya. Kata-kata yang baru saja didengarnya entah mengapa terdengar sangat mengerikan,”Dibunuh?”

“Kim Kibum.”

Sunyi. Jinki tidak berani bergerak sedikit pun.

“Kenapa dia tidak pernah datang untuk mengatakan kebenaran?”

Dan dia menghilang. Begitu saja.

Jinki masih berdiri mematung di tempatnya. Meski mulai banyak sosok-sosok lewat di sampingnya, ia masih enggan bergerak. Matanya terpaku pada ambang jendela. Dimana tidak ada apapun selain pemandangan langit yang mulai berubah dari keemasan menjadi gelap.

~~~~~

17 Oktober 1983. Pukul 22.29.

Sesosok laki-laki tinggi berjalan pelan di koridor. Sesekali ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Lampu menyala remang-remang. Ia mengayunkan kakinya dengan lemas. Terkadang ia menguap.

Untung ada penjaga sekolah yang membukakan pintu untuknya. Terbayang wajah-wajah orang yang sejak tadi menguncinya di kamar mandi. Ia akan membalas dendam besok. Seenaknya saja melakukan hal seperti itu padanya. Apa karena ia telah mengadukan mereka pada guru atas perkelahian itu? Ia tidak bermaksud buruk. Ia hanya ingin mereka berubah.

Langkahnya terhenti. Di belokan dilihatnya seseorang yang tidak asing. Orang itu berdiri di ambang jendela besar yang terbuka lebar. Memandangnya tajam.

“Minho.”

Nada benci dalam suara itu membuat laki-laki tinggi itu mengangkat alis. Ia tersenyum dingin,”Oh, Kibum.”

“Berhasil keluar tampaknya?”

“Aku beruntung.”

Mereka berpandangan beberapa saat. Laki-laki yang berdiri di ambang jendela bermata sipit dan tajam. Terlihat agak menakutkan di bawah cahaya remang-remang. Sedangkan laki-laki yang tinggi bermata besar dan memandang dingin.

“Kenapa kau lakukan itu padaku? Pengkhianat.”

Si laki-laki tinggi yang dipanggil Minho berjalan mendekat dan berhenti tepat di hadapan orang yang satu lagi,”Lalu kenapa kau harus berubah, Kibum? Kenapa kau ikut gangster seperti itu? Kita sudah bersahabat cukup lama. Kenapa kau tidak dengarkan aku?”

Kibum mencibir,”Sahabat tidak akan mengkhianati sehabatnya.”

Minho tersenyum dengan ujung bibirnya,”Sahabat tidak akan membiarkan sahabatnya terjerumus di jalan yang salah.”

Kibum mencengkeram kerah baju Minho,”Jangan ikut campur urusanku. Kalau kau tidak suka, kenapa kau tidak diam saja?”ia melayangkan tinju ke wajah Minho, tetapi Minho berhasil menghindar.

Tampaknya Minho bukan tandingan Kibum. Tetapi ia tidak mau berkelahi dan lebih memilih untuk menghindar,”Kibum, dengar! Kita tidak seharusnya berkelahi.”

Kibum tidak mau mendengar.

“Kau tidak boleh begini terus. Kehilangan orang tuamu bukanlah alasan untuk membenarkan perbuatanmu.”

Kibum menggeleng. Ia mendorong Minho. Badan Minho yang berdiri tepat di ambang jendela jatuh bebas ke halaman.

Kibum membelalak. Dia melongok ke bawah.

Minho tergeletak di sana. Ia jatuh langsung dari lantai tiga ke lapangan basket. Apakah mungkin masih hidup? Kibum berjongkok di ambang jendela untuk dapat melihat lebih jelas. Minho berlumuran darah. Kepalanya penuh darah. Dia pasti sudah mati.

Kibum berdiri. Ia memeriksa sekelilingnya, lalu dengan nafas memburu, ia berlari sekencang-kencangnya.

~~~~~

Jinki tersentak bangun. Punggungnya basah oleh keringat dan ia masih berusaha mengatur nafas. Mimpi yang baru dilihatnya itu… apakah nyata? Masih jelas di benaknya gambaran mayat Minho di halaman. Di tempat dimana ia dan Jonghyun biasanya duduk-duduk santai saat jam istirahat.

Lalu dilihatnya buku tahunan siswa tahun 1983 yang terletak di atas meja belajarnya. Tadi ia tertidur saat sedang memandangi buku itu. Memandangi foto orang bernama Kim Kibum yang terletak tepat di sebelah foto Choi Minho.

Jinki memandanginya sekali lagi. Mata yang tajam bagai mata kucing itu. Senyum itu. Orang inilah yang dulu mendorong jatuh Minho dari ambang jendela di lantai tiga hingga meninggal.

Buku tahunan ini pastilah dibuat sebelum kejadian itu. Jinki membalik-balik buku itu berulang kali namun tetap saja ia akan kembali lagi ke halaman itu. Ia entah bagaimana telah terikat sebegitu rupa terhadap kedua orang ini. Bahkan ia baru saja memimpikan kejadian itu. Mungkin dia memang harus melakukan sesuatu.

Diambilnya ponselnya.

“Halo, Jonghyun? Besok hari Sabtu. Apa kau ada acara? Mau temani aku?”

Diam sesaat, Jinki menunggu jawaban Jonghyun.

“Baiklah. Bukan apa-apa, hanya mencari orang. Kuceritakan besok.”

Jinki menutup telepon. Ayahnya tidak dekat dengan dua orang ini, tetapi Jinki akan mencoba mencari teman-teman lain ayahnya yang mungkin tahu tentang mereka. Terutama tentang alamat Kim Kibum

~~~~~

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

35 thoughts on “I Was Killed By My Best Friend [1.2]”

  1. Jinki bisa lihat hantu, padahal kan yang pengen lihat hantu bgt itu si Minho eh di sini malah Minho yang jadi hantu kkk~

    Huah seruuuuu, kalo boleh minta penjelasan dong dulunya pertemana Minho sama Key gimana?

    Apa jangan-jangan nanti Key mati juga? Huaaaa

    Feelnya dapet, agak merinding baca sendirian pastinya.

    Ditunggu next partnya 🙂

  2. cerita ini glek yah ._.
    aku bener-bener merinding baca ini, feel-nya dapet banget.
    mungkin itu karna aku punya telepati sama onew kali ya? *dikeplak kak Lana

    aaa, thoorr, cepetan lanjutiinn. penasaran sama ceritanyaa~

  3. Waaaah ceritanya keren bangeeeeet!! Serius, ini bener2 bagus! Visualisasinya bagus! Bahasanya bagus! Semuanya bagus!!! *heboh* Ayoo next part cepetan ya! Tapi kasian Minho jadi hantu — Tapi nggakpapa yang penting horor 😎

  4. sumpah thor ini keren banget
    udah yakin aku pasti jinki bakal cari tau masalah sebab akibat minho dibunuh
    wah udah lama gak baca ff yg beginian
    bukannya bikin merinding malah bikin penasaran
    min ini harusnya masuk misteri daripada horror
    kalau mau horror yah lebih di jelaskan rupa rupanya
    yah yg bikin orang merinding thor
    atau mungkin aku yg kurang meringding yah(?)
    hahaahha
    keren thor
    banyakkin bikin ff kayak gini yah:D
    good job thor

  5. Merinding euy….
    Jd berasa dingin jg neh d tengkuk belakang….
    #grrrrR…..
    Bgus …daebak****lanjut thor..
    Feel nya dpet..n berasa ada d sana jg…

  6. Aaaa key!! Kenapa kau berbuat begitu?! *getok key* *digetok lockets*
    aku seperti biasa, ga ngaruh sm horror #ditendang
    tp ngaruh banget sm feel sedihnya minho!! Aaargh kebayang banget minho didorong kayak gitu, sedihnya…

    Sahabat nikam sahabat itu sih dan jinki, ayo! Lanjutkan perjuanganmu! Wah berarti kibum lebih tua dr jinki y di sini?

    Errrr, kritik sedikit?
    Kayaknya genrenya krg cocok horror deh. Soalnya s hantu (?) belum terlalu spesifik dijelasinnya (?) jd ga terlalu kerasa…. But spt biasa, ff minjin unnie selalu aaaa! Daebak!

  7. Habis kecelakaan bisa melihat hantu? Jinki pasti sudah ditakdirkan mengungkap pembunuhan yang seolah terkesan bunuh diri di tahun 1983.

    Baguslah, ternyata bukan ayah Jinki yang membunuh. Kirain ada hubungannya. FF Minjin oke-oke, apalagi yang horor gini.

    Nice story. Lanjut!

  8. omo,,, gAK kebayang deh,, bisa liat roh halus,,,
    kasihan minho~ya….
    next part semoga lebih seru lagi,,,
    good job author,,,
    🙂

  9. KYAAAA#lebay.kren minjin eonnie.
    ku suka crita horror,ujung”nya ga brani k kmar mandi -_-
    lanjout……….

  10. Aku sering denger tuh cerita yg katanya setelah org pingsan atau tepatnya mati suri trs pas bangun dia jadi punya kepekaan thd dunia lain atau istilahnya punya indra keenam,,

    Wahh,, pasti gx enak banget jadi Jinki, melihat ‘sesuatu’ yg berseliweran kanan-kiri,,

    Feel seremnya lgsg kabur pas aku baca scene mrk di perpus, yg Jinki bilang dikolong meja add hantu trs Taemin lgsg buru2 ngajak balik sambil lirik tuh kolong,, bayanginnya lol,,hahaha

    Minho-nya nggak sengaja kedorong sama Key hingga jatuh dan mati,,, Minho-Key seumuran bapaknya Jinki??? Wahh,, menarik,,,

    Ini masih tbc kan?? Belum ketahuan gimana reaksi Key setelah kematian Minho,, trs apa yg akan terjadi sama Minho yg ‘terperangkap’ juga Key,, wait next chapt dehh,, 😀

  11. Baru bisa komen. Nggak bisa komen lewat hapong. (“_ _)

    Gegara kecelakaan bisa liat hantu. Merindingdong. (x.x)

    Aku udah curiga Minho itu ‘sesuatu’ pas Jinki bilang seragamnya aneh. Pikir aku seragamnya itu kuno. Tumben bener nebaknya. (.__.)v

    Oh nuna, kau buat JongYu + MinKey! 😀 *peluk nuna pake pelukan beruang kutub*

    Lanutan. \(o..o)

    – From Jongki with ❤

  12. Wuah, kereen! XD
    Hehe, Minjin Eon lagi 😀 *lambai-lambai nggak jelas ke Minjin Eon* *Minjin Eon : Hih -__-*

    Kalo hantunya secakep Minho Oppa, ada yang mau lihat hantu setiap hari nggak ya? Hehe 😀 #abaikan
    Eonni keren, yang genre hantu-hantu (?) kayak begini aku suka :3
    Seru! Jadi penasaran lanjutannya.
    Aku tunggu next part-nya, Eonni ^O^/

  13. minjin onn ??
    huwaaaa kau selalu membuat ff yang tak terduga onn ..
    ini jelas kereen … huwa akibum tidak bertanggung jawab !!
    jinki kereen … ahahahah
    ahhh padahal minho hanya berusaaha membantu kibum .. 😦
    di tunggu lanjutannya onn .. ini ff keren … ^^
    gomawo .. ^^
    mian baru baca dan komentar

  14. hmm,,,kurang,,, critanyea,,, seru tpi ,,, sperti msih menndakan d panjangannyea,,, di lanjutien donk,, khan pncarian nyea blom slesai,,???????

  15. Wah, asik ini!! Bunuh2an. Aku suka banget ^^
    Lanjutin dooong… Bener2 keren ini!!!

    Ternyata, ada juga yang nulis horro :’)

    Buruan ya part keduanya!!!!! OWOOOOO!!!!! #ricuh

    ~Salam super~

  16. Oh my god. .
    Merinding sumpah bacanya padahal malkey bca siang bolong. .
    Ih keren nih si onew bisa liat hantu, si minho jadi hantu. .
    Eh tp napa nae yeobo key jadi pembunuh?
    Haha tp gpp salut ama ceritanya. .ditunggu part selanjutnya 😀

  17. eonnie, ff-mu memang daebak!
    awalnya aku ngira kalo ayahnya Jinki ada kaitannya sama kematian Minho tahunya enggak.
    aish, padahal niat Minho kan baik, dia cmn gak pengen Key terjerumus dunia yg gak baik itu. hah..
    gak mau jadi Jinki yg bisa ngeliat hal2 yg kyk bgtu. (ktahuan bgt penakutnya)
    Minjin eonnie daebak! 😀
    di tunggu kelanjutannya^^
    ahh…gak sabar

  18. Aku baru kali ini brani baca fanfict horror #sblmnya ga prnah berani-_-“# trnyata ini bgus bnget. Mngkin krna ceritanya lbh ke misteri kali ya?

    Entah knpa jg aku malah ketawa pas tau Jinki bs ngeliat hantu stelah kcelakaan, apalg wktu crita ke jjong dan taem keke~ ga kbyang deh mukanya 3 org itu pas ngibrit plng gmna 😀

    waaa aura Sherlock nya abang Onyu keluar disini, pnasaran sm part slanjutnya. Okelah komennya sgini aja, sekali lg ffnya bgs bnget author 🙂

  19. Bisa mendalami karakter Onyu disini, munkin krn kakakku jga bsa liat…

    Tpi pas liat komentarnya lgsg ngakak… Comment.a pada gokil-gokil!!
    Hwaiting author!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s