Married By Accident – Part 6

MARRIED BY ACCIDENT

Author : Yuyu
Main Cast :

  • Lee Jinki (Onew)
  • Han Younji

Support Cast :

  • Choi Minho
  • Key
  • Son Shinyoung (Oc)
  • Kim Jonghyun
  • Kim Hyunji (Oc)

Minor Cast:

  • Lee Taemin
  • Hwang Jungmi (Oc)
  • Son Miyoung (Oc)

Length : Sequel
Genre : Romance, Sad, Friendship
Rating : PG – 15

“Onew-ssi, kelas telah berakhir.” ucap salah seorang teman kuliah Onew yang duduk tepat di sampingnya. Onew tersentak kaget, ia tertarik keluar dari lamunannya. Ia segera mendongak dan melihat ke sekeliling ruangan yang hampir kosong. Pandangannya beralih pada temannya yang sekarang sudah mulai beranjak dari tempat duduk. Onew tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya sekali sebagai ucapan terima kasih.
Ia melamun—lagi. Dan tentu saja pikirannya dipenuhi oleh Younji. Onew menghela nafas frustasi. Mengapa ia tak bisa menyingkirkan Younji dari pikirannya? Bukan kali ini saja dia disorientasi selama jam kuliah berlangsung. Jika hal semacam itu terus berulang, ia tak yakin bisa menyelesaikan semester ini dengan nilai sempurna. Onew menyusun buku-buku yang sengaja ia letakan di atas meja, tapi tak sempat ia sentuh karena ia berada di alam lain. Onew keluar dari ruang kelas. Ia ingin cepat-cepat pergi dari sini. Onew tak bisa terus-terusan sendirian seperti sekarang, karena hal itu hanya membuat dia semakin memikirkan Younji. Satu-satunya yang bisa menolong hanyalah Taemin. Meski Taemin tak tahu masalah yang ia alami sekarang, setidaknya dengan menghabiskan waktu bersama Taemin ia bisa berhenti memikirkan Younji—untuk sesaat. Onew berlari kecil menuruni anak tangga, terlihat agak terburu-buru.
“Tak sabar ingin segera bertemu dengan istri tercintamu, heh?” Key mencibir di belakang Onew, suaranya terdengar menyebalkan. Onew melambatkan langkahnya dan menoleh ke belakang. Key berjalan santai di belakangnya dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Wajah Onew berubah kesal. Ia baru ingat kalau ia dan Key sekarang adalah teman satu kampus. Onew tak memedulikan Key dan kembali melangkah turun, tapi tak berlari kecil seperti sebelumnya.
“Kudengar dari Appa, dia hamil, benarkah itu?” tanya Key lagi, tak memedulikan aksi diam Onew yang bisa ia artikan maknanya. “Tapi kuharap kau tidak besar kepala. Bukan berarti kau bisa menjadi anak emas Appa hanya karena kau memberikan seorang cucu padanya.”
Onew memutar tubuh sepenuhnya. Ia mendadak berhenti melangkah, mau tak mau membuat Key yang berjalan di belakangnya juga ikut berhenti. Onew memandangnya setajam yang ia mampu. Moodnya sendiri memang tidak cukup bagus sekarang, ditambah lagi dengan kehadiran Key yang melengkapi kejadian buruk dalam hidupnya.
“Anak emas?” Onew mengulangi kata-kata Key. Kaki Onew bergerak naik, menapaki satu anak tangga untuk mendekati Key. Tatapannya tajam, seolah tak ada seorang pun yang bisa mengganggunya saat ini, “Sekedar informasi untukmu, aku tidak tertarik untuk menjadi anak emas dari pria brengsek macam dia. Jadi kau bisa bernafas lega sekarang, karena aku tidak akan menghalangi jalanmu untuk mendapatkan semua harta kekayaannya.”
Onew mencibir sebelum kembali melanjutkan perjalannya, “Menyedihkan.” gumam Onew cukup keras. Tubuh Key bergetar hebat karena amarah. Kedua tangan Key terkepal rapi di sisi tubuhnya, ia merutuki Onew yang selalu berhasil membuatnya jengkel—meski dengan kalimat singkat sekali pun. Sepertinya mereka benar-benar tidak bisa hidup berdampingan. Kalau sampai hal itu terjadi, itu artinya dunia akan segera berakhir.
Key menuruni sisa anak tangga sambil menghentakkan kaki. Tak boleh, ia tak boleh membiarkan Onew lebih unggul darinya. Yang lebih penting lagi, ia tak boleh membiarkan Onew mendapatkan seluruh perhatian Tuan Kim yang tak ia dapatkan.
***
Kecepatan mobil yang Onew kendarai berada di atas batas rata-rata. Ia mengendara gila-gilaan. Ini bukan dirinya, sungguh bukan dirinya. Namun apa yang bisa ia lakukan? Ia hanya berharap ia bisa mendapatkan ketenangan yang selama ini telah berteman dengan dirinya. Ke mana perginya ketenangan itu setelah berita kehamilan Younji muncul dipermukaan—setelah perasaan Onew terombang-ambing seperti kapal yang diterpa badai di lautan? Apalagi Key ikut menjatuhkan dirinya di atas tumpukan masalah Onew yang mulai menggunung.
Onew tak terlalu memperhatikan jalanan, ia bahkan tak sadar kalau jalan yang ia lalui sekarang ini bukanlah arah menuju rumah atau pun cafe tempat Younji bekerja, bukan juga ke rumah Jonghyun seperti tujuan awalnya. Yang ia tahu, ia hanya ingin membebaskan dirinya dari segala macam perasaan yang mengikatnya dengan begitu erat. Ia ingin kembali menjadi Onew yang tak memiliki ekspresi, ia ingin kembali menjadi Onew yang kebas karena lebih baik tak merasakan apa pun daripada harus menderita seperti ini.
Onew memejamkan matanya saat rasa sakit lagi-lagi menggandeng hatinya. Mengapa hidup harus sesulit ini? Mungkinkah sejak awal Tuhan memang telah memperingatinya agar tak terlahir di dunia yang kejam ini? Itukah sebabnya Tuhan membiarkan Tuan Kim lari dari tanggung jawabnya? Itukah takdirnya?
Onew kembali membuka matanya. Ia lupa kalau ia tengah berada di jalan, sedang mengendarai mobilnya. Baru saja Onew akan menurunkan kecepatannya—entah dari mana—tiba-tiba seorang wanita muncul di depan mobilnya dengan mata melebar. Onew ikut terbelalak karena wanita itu sepertinya terpaku di tempat, tak bisa menggerakkan kakinya meski hanya sejengkal saja. Jarak mereka yang cukup dekat membuat Onew buru-buru menginjak pedal rem—semoga saja ia tak terlambat melakukan hal itu. Terdengar suara decitan roda mobil yang dibarengi suara teriakan samar-samar. Onew memandang kaget, ia mencondongkan tubuhnya hingga stir mobil menempel di dadanya. Wanita itu tak tampak. Onew mengumpat pelan, niatnya ingin menemui Taemin, justru bencana yang menghampirinya.
Onew melepaskan seat-belt dan turun dari mobil dengan agak tergopoh-gopoh. Ia segera memutari mobilnya dan melihat seorang wanita terduduk di aspal, merintih sembari memegangi lututnya yang tampak kemerahan.
“Jwisonghaeyo,” ujar Onew sungguh-sungguh. Ia membungkukkan badannya untuk melihat wajah wanita yang ia tabrak, tapi tak mampu mendapatkan sedikit pun bentuk wajahnya. Onew menunggu respon yang tak kunjung didapat dari wanita yang masih terus menunduk.
“Gwaenchanhaseyo, Agasshi?” kali ini Onew bertanya. Barulah wanita itu mendongak. Onew meluruskan tubuhnya saat mereka saling beradu pandang dalam diam.
“Nan gwaenchanhayo.” jawab wanita itu akhirnya. Ia mencoba untuk berdiri menggunakan tenaganya sendiri—meski agak kesulitan. Onew menyodorkan tangannya, berniat untuk membantu, tapi wanita itu telah berdiri tegap di atas kedua kakinya sendiri. Wanita itu menggerak-gerakkan kakinya beberapa kali lalu tersenyum lebar, “Aku tidak apa-apa, kau lihat sendiri kan?”
Namun tetap saja Onew merasa tak enak hati karena telah menyebabkan hal semacam ini terjadi. Onew merogoh saku celananya lalu mengeluarkan dompet kulit berwarna cokelat tua, ia mengeluarkan beberapa lembar uang dan menyodorkannya pada wanita yang ia tabrak itu—sebagai uang kompensasi. Tatapan ramah di wajah wanita itu langsung berubah dalam hitungan detik. Wanita itu melipat kedua tangannya di depan dada dan menarik nafas dalam-dalam lalu sedikit memiringkan kepalanya dan menatap tajam.
“Aku tidak butuh uangmu, bukankah sudah kubilang bahwa aku baik-baik saja?” dengusnya, “Dasar orang kaya.” ejek wanita itu sambil berbisik cukup kuat, sama sekali tak bermaksud menyembunyikan kekesalannya pada orang asing yang mengira uang sangatlah agung dan dapat digunakan untuk menyelesaikan semua masalah di dunia.
“Maaf, aku tak bermaksud untuk menyinggungmu.” jelas Onew. Ia menarik tangannya kembali dan menyimpan lembaran uang itu ke dompetnya, “Begini saja, bagaimana kalau kuantar kau ke rumah sakit?”
“Tidak perlu! Sudah kubilang tidak perlu! Menyebalkan sekali sih!” kekesalan wanita itu semakin kentara, membuat Onew tak tahu harus berbuat apa. Yang jelas, ia tak bisa membiarkan korban dari kecerobohannya pergi begitu saja sebelum ia bisa menebus kesalahannya. Onew memutar tubuhnya, ia melihat-melihat sekelilingnya. Barulah ia menyadari, ia berada di jalanan yang asing. Belum lagi mobilnya ternyata sudah berada di luar jalur kendaraan roda empat, mobilnya sudah berada di jalur tepi. Astaga, apa yang telah terjadi padanya? Bagaimana bisa Onew yang mendapatkan nilai sempurna saat tes praktek untuk mendapatkan SIM justru melanggar peraturan? Onew menghela nafas kesal—kesal dengan tingkahnya sendiri. Ia kembali menatap wanita yang mendengus jengkel di depannya dan terus memikirkan cara untuk menebus kesalahannya. Onew memerhatikan tubuh wanita itu dari atas ke bawah dengan cermat, luka wanita kelihatannya tak parah, hanya luka lecet. Tiba-tiba saja sebuah ide terlintas dibenaknya.
“Tunggulah di dalam mobilku—“ Onew mengarahkan telunjuknya ke arah mobil miliknya yang hanya beberapa langkah dari tempat mereka berdiri sekarang, “—aku akan segera kembali.” Onew berlari pelan. Ia memutar kepalanya sekilas dan kembali berteriak, “Dan jangan coba-coba untuk pergi tanpa pamit!”
Onew berlari ke apotik terdekat. Setelah membeli salep dan beberapa plester, Onew kembali ke tempat di mana ia meninggalkan mobilnya. Tapi wanita itu tak ada di dalam—seperti perintah Onew. Onew mengacak rambutnya dengan kesal. Padahal nafasnya saja masih belum teratur karena ia berlari dengan sangat cepat agar wanita itu tak meninggalkannya. Tapi apa yang ia dapat setelah berusaha keras? Wanita itu hilang! Mengapa wanita itu tidak menuruti permintaannya dan justru membuat ia terlihat seperti seorang penjahat sekarang? Onew memutar tubuhnya dengan asal-asalan. Ia melihat seorang wanita tengah duduk di atas rumput hijau di pinggiran sungai Han. Wanita itukah? Onew bertanya ragu pada dirinya sendiri.
Semakin Onew mendekat, semakin ia yakin bahwa memang benar wanita itu yang ia tabrak. Onew bernafas lega dan menjatuhkan dirinya di sebelah wanita yang memandangi keindahan sungai Han.
“Kupikir kau pergi begitu saja.” ujar Onew. Wanita itu tak menjawab, sepertinya terlalu larut dengan keindahan air sungai Han yang terlihat bergitu berkilau karena tertimpa cahaya matahari. Onew mengeluarkan salep dari kantong putih, lalu membuka tutupnya. Ia melirik wanita yang masih bergeming itu dan menarik pelan kakinya. Wanita itu terkesiap, ia kembali melebarkan matanya.
“Apa yang kau lakukan?” tanya wanita itu panik. Kedua tangannya menggantung canggung di udara, antara ingin menarik kakinya atau menggeser tangan Onew—yang mana tak ada satu pun yang ia lakukan. Ia memandang sekeliling, untung saja tidak ada yang memerhatikan mereka. Gantian Onew yang tak menjawab dan fokus untuk mengoleskan salep tersebut di atas luka lecet di sekitar lutut dan meniupnya pelan.
“Karena kau tak mengizinkanku untuk membayar biaya ganti rugi atau pun membawamu ke rumah sakit, jadi aku mengobatimu sendiri sebagai permintaan maaf.” jelas Onew sambil menyimpan kembali salep tersebut ke dalam kantong plastik yang juga berisi plester lalu menyodorkannya kepada orang yang duduk di sampingnya, “Pastikan kau mengoleskan salep itu pagi dan sore sehabis mandi agar tidak berbekas.”
“Kau tak perlu melakukannya.” wanita itu menggeleng pelan, ia mengindari kontak mata dengan Onew. Wanita itu tak terbiasa diperlakukan dengan begitu baik—apalagi oleh orang asing yang menabraknya beberapa menit lalu, “Luka seperti ini sama sekali tak berarti bagiku.”
“Tapi kau seorang wanita.” tukas Onew cepat. “Tak baik jika seorang wanita memiliki bekas luka.”
Wanita itu terhenyak. Lagi-lagi ia merasa tak terbiasa. Orang-orang terdekatnya pun tak pernah memandang dirinya sebagai seorang wanita. Lantas mengapa Onew memperlakukannya seperti seorang puteri dari kerajaan dongeng? Mereka berdua duduk diam, hanya memandangi riak sungai Han dan menikmati desiran angin yang berhembus pelan menggoda kulit wajah mereka.
“Hmm..” wanita itu bergumam pelan membuat Onew memalingkan wajahnya untuk menyimak baik-baik apa yang ingin wanita itu sampaikan, “Boleh aku mengatakan sesuatu?”
Onew mengangguk, tak ingin merusak keheningan yang susah payah ia ciptakan untuk dirinya sendiri.
“Lebih baik kau jangan mengemudi lagi, aku takut akan ada korban lainnya.”
Untuk sesaat Onew tertegun. Ia tak tahu apakah wanita ini sedang serius atau justru mengejeknya. Mata Onew berkedip beberapa kali. Tapi detik berikutnya suara tawa Onew terdengar. Ia tertawa geli. Mengapa ia merasa apa yang dikatakan oleh wanita ini sangatlah lucu?
“Maaf…” ucap Onew disela-sela tawanya saat menyadari wanita itu memandangnya dengan sebal, agak tersinggung. Onew mulai memegangi perutnya yang terasa sakit karena terlalu banyak tertawa, “Tapi jangan salah paham, kemampuan berkendaraku sangat baik. Hanya saja…” tawa Onew menghilang dengan cepat saat ia kembali teringat alasan yang menyebabkan ia nyaris saja menabrak, “Hanya saja ada beberapa hal yang mengganggu pikiranku.”
Kilat kesedihan kembali memenuhi sorot mata Onew. Sepertinya ia benar-benar tak bisa lepas dari jeratan perasaannya. Onew memaksakan sebuah senyum tipis dan kembali menatap wanita yang kini menatapnya penuh dengan tanda tanya.
“Namaku Onew, kau?”
Wanita itu menggigiti bibir bawahnya. Ia terlihat ragu. Ia memandang Onew selama beberapa detik untuk menimbang-nimbang sebelum akhirnya ia menyebutkan namanya sendiri, “Hwang Jungmi.”
***
Onew menolak untuk menatapi wajah-wajah yang sedang berada di ruangan yang sama dengannya. Ia hanya terus menyantap makanannya tanpa mau memedulikan tatapan Tuan Kim yang mampu ia rasakan hingga akhirnya Tuan Kim menyerah—berpikir bahwa Onew benar-benar tidak mengacuhkan dirinya—dan mengeluarkan suaranya untuk memecah keheningan yang agak canggung.
“Aku sudah dengar tentang kehamilanmu, Younji, selamat untuk kalian.” Tuan Kim menyelemati Younji dengan sebuah senyum ramah menempel diwajahnya. Younji meletakkan alat makan yang awalnya ia pegang ke atas meja dan sedikit membungkukkan tubuh ketika mendengar ucapan Tuan Kim. Younji melirik ke arah Onew setelah ia menegakkan tubuhnya. Ia tahu hubungan kedua orang ini tidak baik, dan itu membuat Younji menjadi serba salah tidak tahu harus bagaimana bersikap.
Onew menegang di tempat duduknya. Younji pikir reaksi Onew menjadi seperti itu karena mendengar suara Tuan Kim. Younji tak akan pernah tahu bahwa sekarang ini kata-kata hamil terus berputar dibenak Onew. Dan sekali lagi, perasaannya berhasil dibuat kacau. Ia semakin membenci Tuan Kim. Rasa bencinya semakin meningkat karena kini pria paruh baya itu mengingatkan Onew akan sesuatu yang tak mau ia ingat—meski itu tak mungkin.
“Yeobo, kapan kau akan memberitahukan kabar bahagia lain pada mereka?” terdengar suara Nyonya Kim—suara yang sengaja dimanis-maniskan, membuat Nyonya Lee memutar bola matanya dan ingin muntah. Tuan Kim berdeham pelan, lalu ia tersenyum. Sikunya bertumpu di meja makan sementara jari-jarinya saling berautan. Senyum Tuan Kim semakin merekah.
“Benar juga, kami ada kabar bahagia untuk dibagi dengan kalian.” lanjut Tuan Kim setelah diingatkan oleh istrinya tentang sebuah berita yang sedikit lagi ia lupa sampaikan di acara makan malam, “Dua minggu lagi—“ kata-kata Tuan Kim terpotong. Ada suara yang menyela pembicaraannya, suara yang cukup keras hingga menarik perhatian semua orang.
“Tidak perlu!” teriak Key dan Onew berbarengan. Kepala mereka menoleh serentak, terlalu kaget dengan kekompakan yang tak pernah terjadi sebelumnya. Key yang pertama kali memalingkan wajahnya dari Onew. Wajahnya terlihat tidak senang, tapi bukan karena ia dan Onew telah mengatakan hal yang sama dalam waktu yang bersamaan, tapi lebih kepada apa yang ingin Tuan Kim sampaikan—sesuatu yang telah ia tolak mati-matian.
Sementara Onew, ia tak mau tahu apa yang terjadi pada keluarga Kim. Meski keluarga itu harus bersembunyi di gorong-gorong karena dikejar oleh lintah darat, ia pun tak ingin tahu. Apa yang membuat Tuan Kim berpikir bahwa Onew tertarik pada keluarganya padahal Onew telah jelas-jelas mengungkapkan kebenciannya? Apakah kulit wajah Tuan Kim begitu tebal hingga tak tahu apa itu malu?
Tuan Kim hanya menatap dua puteranya secara bergantian, namun tak terlihat peduli dengan penolakan mereka, Tuan Kim melanjutkan, “Dua minggu lagi Key akan menikah. Kuharap kalian bisa datang dan menghadiri pestanya.”
Onew berdecak meremehkan. Mengapa mereka harus menghadiri pesta pernikahan Key? Apakah hubungan mereka begitu dekat? Onew tak berkomentar, ia melanjutkan santap malamnya. Ia hanya berharap, semakin cepat makan malam ini selesai, semakin cepat pula ia bisa keluar dari tempat menjijikkan ini dan berhenti mendengarkan omong kosong Tuan Kim.
Key mengepalkan tangannya dengan erat. Ia diliputi oleh amarah hingga kedua daun telinganya memerah. Ia terus menimbang-nimbang, haruskah ia membangkang pada Tuan Kim—membuatnya berang—dan pergi dari ruang makan padahal acara mereka belum selesai? Tindakan itu sangat nekat, Tuan Kim akan menjadi sangat menyeramkan ketika ia murka, tapi bukan Key namanya kalau ia takut. Dan memang, Key melakukan hal yang telah ia rencanakan di dalam benaknya beberapa detik lalu. Key membanting alat makan yang ia pegang. Kursi yang ia duduki terdorong mundur dan menimbulkan bunyi deritan yang semakin membuat ia menjadi pusat perhatian—bahkan Onew pun ikut mendongak untuk menatapnya. Key berjalan keluar, awalnya tak memedulikan teriakan Tuan Kim.
“Key-ah! Mau ke mana kau? Acara kita belum selesai dan—kau tahu pasti—kau tidak boleh pergi lebih dulu.” panggil Tuan Kim, mencoba untuk meredakan amarahnya.
“Persetan dengan acara ini!” teriak Key tanpa diduga. Tubuhnya berputar dengan kasar. Jari telunjuknya teracung angkuh ke arah Tuan Kim, “Jika kau saja tidak bisa menghargai keinginanku dan menghentikan pernikahan konyol yang tak kukehendaki ini, lalu mengapa aku harus menghargai dirimu!?”
Mata Tuan Kim melebar, tak menyangka Key akan mempermalukan dirinya dihadapan keluarga Lee. Sementara Tuan Kim tak mampu berkata-kata, Key benar-benar meninggalkan ruang makan. Pintu terbanting dengan sangat keras sebagai pelampiasan emosi Key.
Tuan Kim memandang keluarga Lee bergantian, merasa tidak enak dengan pemandangan yang baru saja disuguhkan. Dan satu-satunya orang yang merasa senang adalah Onew. Untuk pertama kalinya acara makan malam itu berakhir lebih awal. Diam-diam Onew berterimakasih pada Key. Mungkin Key tak seburuk apa yang ia bayangkan—jika saja Key memberontak seperti itu disetiap acara makan malam mereka. Onew tertawa pelan saat mendengar pikirannya sendiri.
“Kau sepertinya sangat senang.” tukas Younji begitu mereka sedang berada di perjalanan pulang. Onew tersenyum tipis dan mengangguk mengiyakan. Ia memang senang, senang sekali ketika melihat wajah Tuan Kim yang hampir membiru saking kesal melihat tingkah Key.
“Wajar saja jika Key menolak. Dia kan sudah punya kekasih.” tutur Younji tanpa diminta. Onew mengernyit, benarkah itu? Apakah pria menyebalkan seperti Key bisa punya kekasih? Ia penasaran, seperti apa kekasihnya itu—pasti sama menyebalkannya dengan Key.
Younji menghela nafas dan memerosotkan tubuhnya saat ia tak mendengar Onew menanggapi kata-katanya. Younji tak mengerti, mengapa Onew menjadi lebih pendiam dibanding sebelumnya? Sosok Onew kembali terlihat begitu jauh—sulit untuk Younji jangkau. Auranya yang dulu selalu membuat Younji merasa terintimidasi kini muncul lagi, membuat Younji takut untuk mendekat. Ada banyak hal yang ingin Younji bicarakan dengan Onew—meski ia tak yakin apa saja yang ingin ia bicarakan, makanya ia memilih untuk diam sambil merancang rangkaian kalimat dari dalam benaknya.
Onew yang sejak tadi hanya fokus pada jalanan kini melepaskan sebelah tangannya dari cengkraman stir dan memutar tombol volume, membiarkan denting piano Yiruma menutupi suasana canggung yang—harus Onew akui—mulai terasa tak nyaman untuknya.
Younji menoleh pada Onew. Kondisinya sudah melebihi frustasi. Ia tak suka dengan suasana seperti ini. Aneh bukan? Padahal baru beberapa hari yang lalu ia bersikap seperti Onew sekarang ini—terus diam membisu dan membiarkan keheningan merangkul mereka, hanya merespon seadanya—dan ia merasa cukup nyaman. Lalu mengapa sekarang tidak? Mengapa sekarang Younji tidak suka dengan kebisuan ini? Apakah ia merasa bersalah atas kehamilannya ini? Pemikiran itu lantas membuat Younji memandangi perutnya yang masih belum terlihat membuncit. Benarkah ia merasa bersalah pada Onew karena kehamilannya ini? Apakah ia merasa bertanggung jawab untuk memberikan penjelasan pada suaminya? Ah, tidak. Seharusnya Onew yang berhutang penjelasan tentang tindakannya yang tanpa kompromi dan langsung bertemu muka dengan Minho serta meminta pria itu untuk bertanggung jawab, seolah Younji yang mengemis agar Onew melakukan hal itu untuknya.
“Kemarin Minho menemuiku. Di kampus.” Younji memberanikan diri untuk mengungkit hal ini. Ia memang ingin sekali membahas perihal Minho sejak semalam. Sayangnya, saat Onew pulang ia sudah benar-benar kelelahan dan tak bisa lagi memaksa kedua kelopak matanya agar tetap terbuka meski ia harus menyangganya menggunakan batang korek api seperti di film-film kartun yang masih sering ia tonton. Tubuh Onew agak menegang saat nama Minho diucap, tapi seperti biasa, ia berpura-pura tenang.
“Hmm.. Lalu?” gumam Onew yang tanpa sadar membuat Younji sangat kecewa atas responnya yang dingin. Wajah Younji berubah menjadi asam saat ia melipat kedua tangannya di depan dada dan memandang lurus ke jalan. Darahnya mendidih, ia marah pada Onew. Ingin sekali ia memukul pria itu, menggigit lengannya kalau perlu hingga Onew merintih kesakitan dan memelas. Bayangan itu agak membuat hati Younji senang, tapi ia segera tersedar. Sejak kapan dia jadi sadis seperti itu? Tidak, tidak, Younji tak seperti itu, sungguh! Ia bahkan tak akan tega untuk menginjak seekor semut dengan sengaja!
“Ada apa dengan Minho-ssi?” suara Onew memecah konsentrasi Younji yang terus memikirkan alasan mengapa ia berpikir untuk menyiksa Onew tadi.
“Huh?” butuh waktu bagi Younji untuk bisa kembali ke percakapan mereka sebelumnya. Younji melanjutkan, “Dia mengatakan padaku tentang pertemuan kalian dan permintaanmu.”
“Oh.” jawab Onew singkat. Younji memandangnya tak percaya. Dia tak tahu apakah Onew memang tak mengerti pesan tersembunyi dibalik kata-kata Younji—yang sedang menuntut penjelasan—atau berpura-pura tidak mengerti? Tapi yang pasti, habis sudah kesabaran Younji. Ia benar-benar meledak kali ini.
“Hanya itu?” suara Younji meninggi, ia bahkan tak merasa perlu menyembunyikan kemarahannya. Kedua tangan Younji beralih untuk menggenggam erat tas kecil yang sedari tadi ada di pangkuannya, “Hanya itu yang bisa kau sampaikan padaku? Hanya satu kata oh saja? Aku butuh penjelasan, Tuan Lee.” Younji menekankan suaranya dikalimat terakhir.
Onew terlihat ragu. Ia juga terkejut karena Younji tiba-tiba saja marah padanya. Dipikirnya, Younji justru akan mengucapkan beribu terima kasih karena telah membuat Minho kembali ke sisinya. Ujung jari telunjuk Onew bergerak naik turun di stir karena gelisah.
“Kau tak bisa seenaknya saja mengacaukan kehidupanku. Setelah kau dengan sangat tiba-tiba mengajakku untuk menikah, sekarang kau memperlakukanku seperti wanita rendah yang bisa dioper ke pria mana pun? Apakah aku terlihat rendah di matamu?” Younji kembali melanjutkan. Ia semakin marah ketika Onew memilih untuk bungkam.
Kali ini rahang Onew mengeras. Buru-buru ia membanting stir untuk menepikan mobil. Ia menatap garang ke arah Younji—tatapan yang tak pernah ia berikan sebelumnya, “Maaf karena aku sudah mengacaukan kehidupanmu. Kalau saja waktu itu aku tidak mengajakmu untuk menikah, mungkin saja sekarang kau sudah kembali ke dalam pelukan Minho-ssi, benar bukan?” tanya Onew sinis. Ada kilatan kemarahan di sana, dari manik mata Onew yang tersampaikan dengan baik.
“Bukan itu maksudku! Kau tak bisa seenaknya saja meminta Minho mendampingiku selama masa kehamilan! Setidaknya kau harus bertanya padaku, tentang pendapatku!” teriak Younji tak gentar. Kali ini Onew tak berhasil mengintimidasi dirinya. Tak pernah sekali pun ia berpikir untuk kembali ke pelukan Minho. Mungkin memang pernah, sebelum kecelakaan yang mengharuskan ia berada dalam posisinya kini. Tapi sejak ia menikah dengan Onew, meski ia masih sering memikirkan Minho dan belum bisa membuang jauh-jauh perasaannya, namun tak pernah sekali pun ia berpikir untuk kembali dengan Minho. Younji tahu tanggung jawab apa yang harus ia emban, ia tahu apa yang menjadi prioritasnya setelah menikah—keluarga. Tak bisakah Onew melihat hal itu?
“Apakah aku telah melakukan hal yang salah? Daripada memintanya untuk menemanimu selama sesaat, haruskah aku memintanya untuk berada di sisimu selamanya?” Onew merasakan dirinya mengerut saat mendengar rentetan kalimat yang ia keluarkan. Jika benar itu yang Younji inginkan, bisakah Onew melepaskannya? Ia tak ingin merasakan sakit ketika kehilangan orang yang ia sayangi untuk kedua kalinya. Yah, ia memang meyayangi wanita yang duduk di sampingnya dengan wajah memerah karena amarah. Tapi jangan bertanya mengapa atau bagaimana ia menyayanginya, karena hal itu akan membuat Onew mengurung diri seharian untuk mencari jawaban dari pertanyaan yang tak pernah ia temukan.
“Sudah kubilang bukan itu maksudku! Apakah kau tak mengerti? Aku tak butuh pria lain, aku hanya butuh suamiku saja!”
Onew terpana. Ungkapan Younji mampu membuatnya tak berkutik. Ia benar-benar tak menduga hal semacam itu bisa keluar dari mulut Younji. Mengapa Younji tak membutuhkan Minho? Bukankah Younji menyukainya? Mengapa Younji hanya membutuhkan dirinya? Bukankah tak ada hubungan romantis diantara mereka? Apa pun jawabannya, Onew merasa begitu tersentuh. Hatinya terenyuh saat kata-kata Younji terus berputar dibenaknya tanpa ia perintahkan. Onew hanya menatap Younji dengan diam. Kilatan kemarahan di manik Onew memudar, kini menampilkan tatapannya yang lembut dan hangat. Onew melepaskan sebelah tangannya dari stir tanpa ia sadari, semuanya terjadi begitu saja. Telapak tangannya yang besar bergerak secara alami untuk merengkuh pipi Younji sementara ibu jarinya bergerak-gerak pelan mengelus permukaan kulit Younji yang halus. Mereka saling bertatapan, seolah mereka telah menciptakan dunia baru yang hanya dimiliki oleh mereka. Emosi Younji pun sudah mereda begitu ia mendapatkan keteduhan dari tatapan Onew. Belum lagi tangan Onew yang membuat ia menjadi tenang—jauh lebih tenang.
Suasana yang tercipta begitu hangat dan penuh kasih, namun tak berlangsung lama. Suasana itu segera berubah 180 derajat saat ponsel Younji berdering. Onew mendongak untuk melihat nama Minho tertera pada layar.
Onew menelan air liurnya lalu melepaskan rengkuhannya dan kembali menyalakan mesin mobil. Younji menatap Onew dengan panik. Ia bisa menyadari perubahan ekspresi Onew yang kentara.
“Tidak, jangan salah paham. Aku—“
“Setelah melihat kau marah-marah tadi, kupikir kau tidak senang karena aku menemui Minho dan memintanya untuk mendampingimu.” pernyataan yang diluncurkan Onew dibarengi dengan suara tawanya yang hambar, “Tapi sepertinya aku salah. Sekarang aku justru tak mengerti mengapa kau begitu ngotot marah-marah tidak jelas, tapi pada akhirnya kau ternyata saling bertukar pesan dengannya.”
“Bukankah kau yang mendorongku ke jalan ini? Aku tak bisa menolaknya—aku tak tega.” gumam Younji.
***
Jonghyun membuka pintu kamarnya sambil menghela nafas pelan. Hari ini ia sangat lelah—setiap hari ia selalu lelah. Kening Jonghyun berkerut saat ia melihat Taemin duduk di depan meja komputernya.
“Hyung…” panggil Taemin pelan. Raut wajahnya terlihat sedih, membuat Jonghyun tak mengerti. Taemin memutar kursi yang ia duduki hingga menghadap ke arah tempat tidur Jonghyun—yang otomatis membuat Jonghyun mengikuti arah pandangannya. Ia melihat Onew berbaring di sana dengan punggung menghadap ke langit-langit.
Jonghyun berjalan cepat tapi tanpa suara untuk mendekati Taemin. Dipegangnya pundak Taemin dengan lembut lalu menggerakkan dagunya ke arah Onew, “Ada apa dengan bocah itu?”
“Tidak tahu,” Taemin mengangkat pundaknya, “Begitu datang, Onew Hyung langsung berbaring di atas tempat tidur dan terlelap. Tapi matanya memerah saat aku melihatnya.” jelas Taemin sambil mengingat-ingat kondisi Onew saat ia menginjakkan kakinya di rumah Jonghyun. Satu kata untuk melukiskan kondisi Onew sesungguhnya ketika Taemin melihatnya, yaitu kacau.
“Hmm. Arasseo. Kembalilah ke kamarmu, besok kau harus sekolah.” Jonghyun menepuk-nepuk pundak Taemin dan mendorong Taemin keluar dari kamarnya setelah laki-laki yang lebih muda darinya itu berdiri.
“Hyung!” Taemin kembali menyembulkan kepalanya ke dalam. Jonghyun memutar kepalanya untuk melihat Taemin tersenyum kecil dan melanjutkan kata-katanya, “Hibur Onew Hyung ya.”
Jonghyun tertawa pelan. Baik sekali Taemin. Terdengar suara geraman pelan. Suara tawa Jonghyun langsung hilang. Ia mendekati tempat tidur, melihat Onew mulai terbangun sambil memegangi kepalanya. Jonghyun mencondongkan tubuhnya, ia mengendus-endus pelan.
“Kau minum?” tanya Jonghyun curiga.
“Tidak, aku tidak minum.” elak Onew. Ia benar-benar tak minum. Begitu mengantar Younji pulang, ia langsung melesat ke rumah Jonghyun. Bahkan sebelum ia tidur pun, kepalanya sudah terasa berat. Onew memaksa tubuhnya untuk tegak. Ia baru sadar kalau ia masih mengenakan jaket abu-abunya dan terlelap, kelihatannya ia benar-benar lelah—secara fisik dan mental. Merasa tak nyaman, Onew melepaskan jaketnya dan melempar sembarang.
Jonghyun duduk di kursi yang semula ditempati Taemin. Diputarnya kursi itu hingga ia bisa menyandarkan dagunya diatas sandaran kursi sementara kedua tangannya tergantung malas di sisi tubuh.
“Ada masalah lagi dengan Younji?” terka Jonghyun. Onew diam, tak bergerak sedikit pun. Dan hal itu sudah lebih dari cukup untuk membenarkan terkaan Jonghyun.
“Coba kutebak, pasti karena pria bermarga Choi itu kan?” terka Jonghyun lagi. Kali ini Onew mengangguk pelan. Jonghyun langsung menegakkan tubuhnya. Tangan kirinya yang semula terkulai kini terangkat cukup bertenaga dan memukul sandaran kursi, “Betul bukan kataku? Seharusnya kau tidak melibatkan si Choi itu. Melibatkan dia dalam rumah tangga kalian yang kacau justru akan membuat semuanya semakin runyam. Bagaimana kalau Younji ingin kembali pada Choi dan minta cerai darimu? Bukankah itu gawat? Kau seharusnya berpikir matang sebelum bertindak, bodoh—“ Jonghyun yang tak henti-henti mengomel akhirnya diam saat melihat ekspresi wajah Onew yang semakin muram.
“Maaf, bukan maksudku untuk mendoakan hal yang jelek, tapi—“
“Tidak, kau tidak salah.” wajah Onew tertunduk semakin dalam, “Mungkin saja hal itu akan terjadi. Tak menutup kemungkinan kalau aku dan Younji akan bercerai karena Minho-ssi. Sejak awal aku sudah tahu hal seperti itu mungkin saja terjadi. Aku hanya… aku hanya merasa buruk jika tak memberitahukannya pada Minho-ssi. Bagaimana pun dia adalah ayah kandung dari bayi yang ada di dalam rahim Younji. Aku hanya ingin memberikan kesempatan pada Minho-ssi untuk bertanggung jawab—kau sendiri tahu kan betapa hal itu sangat menggangguku karena terus membuatku teringat pada Tuan Kim yang pengecut? Dan jika seandainya Minho memang menolak, aku pun tak akan memaksa.”
”Tapi si Choi tidak menolak, ia justru menerimanya dengan senang hati.” Jonghyun menatap Onew lekat. Somehow, dia bisa merasakan kesedihan Onew. Yah, dia bisa. Jonghyun beranjak dari kursi, lalu merangkak naik ke atas tempat tidur untuk mendekati Onew. Jonghyun melingkarkan tangannya di pundak Onew, bahu mereka saling bertemu saat Jonghyun merangkulnya dengan erat, “Apakah kau menyesal?”
Onew menggeleng dengan cepat. Ia mengumpulkan semua kepercayaan dirinya dan mengangkat kepala untuk menatap Jonghyun yang berada tepat di sampingnya, “Aku tak akan menyesal. Setidaknya, aku hanya ingin memberikan kesempatan. Untuk Minho-ssi. Juga untuk Younji.”
“Meski itu berarti, kau harus melukai dirimu sendiri?” tanya Jonghyun hati-hati.
“Aku tidak tahu apakah aku masih bisa terluka. Kau tahu dengan jelas kalau aku sudah benar-benar hancur—saat Miyoung mengkhianatiku, Jonghyun-ah. Tidak ada lagi yang tersisa dalam diriku—kurasa.”
“Tapi…” Jonghyun menatap ragu. Ia tetap harus berhati-hati dengan semua ucapannya di depan Onew, “Kuperhatikan belakang ini kau sudah mulai kembali menjadi dirimu yang dulu sejak menikah dengan Younji. Dan sekarang, setelah Younji hamil…” Jonghyun tak bisa menyelesaikan kata-katanya. Terlalu kejam menurutnya. Disaat Onew tengah mengambil kembali serpihan-serpihan hatinya yang sudah lama tak dijamah, mengapa serpihan itu harus jatuh lagi? Ini tidak adil.
“Aku tak ingin menyangkal. Aku sendiri masih ragu dengan perasaanku. Aku tak tahu apakah perasaan ini cinta atau bukan, yang pasti sekarang aku telah meyayanginya—lebih dari yang pernah kubayangkan. Tapi aku tahu bahwa Younji tak akan pernah bisa membalas perasaanku.” tutur Onew. Ia menyadari kebingungan yang tersirat diwajah Jonghyun namun memilih untuk mengabaikannya.
Onew seperti mendapatkan sebuah pukulan yang telah mengembalikan kesadarannya saat ia tahu Younji bersedia menerima Minho. Memang bukan salah Minho atau pun Younji. Onew sendiri tidak merasa dirinya telah melakukan kesalahan. Yang salah adalah perasaannya. Ia seperti terbang hingga ke langit ke tujuh saat Younji bilang bahwa ia hanya butuh Onew. Ia benar-benar memercayainya. Ia benar-benar terbuai oleh kata-kata indah itu tanpa mencoba untuk memikirkan alasan Younji membutuhkan dirinya. Dan saat Onew tahu kalau ternyata Youji memberikan kesempatan pada Minho, ia dihempaskan ke tanah, ia dibuang dari surganya. Barulah ia berpikir, apa yang membuat Younji membutuhkan Onew seorang? Yang jelas bukan karena cinta. Apakah karena Younji merasa terikat dengannya? Karena status pernikahan mereka? Jika memang benar hal itu penyebabnya, maka terkutuklah Onew.
***
Minho berjalan gontai di pinggir lapangan. Wajahnya terlihat agak pucat karena tak cukup tidur semalam apalagi hari ini mata kuliahnya sangat membosankan. Untung saja sekarang dia sudah tak ada kelas lagi. Minho memandangi lapangan yang sedang dipakai oleh team basket puteri kampusnya. Ia memandangi sosok demi sosok dari kejauhan hingga ia menemukan sosok yang ia kenal. Jungmi memunggunginya. Dari gerakan tangannya, Minho berasumsi kalo Jungmi tengah menyeka butiran-butiran keringat yang membasahi wajahnya.
Pasti dia sedang tersenyum sekarang, batin Minho yang tanpa sadar ikut tersenyum kecil.
“Kau memerhatikannya lagi. Dan pandangan mata itu, aku tak mungkin salah menilainya.” Key muncul di belakang Minho. Suaranya berhasil membuat Minho terlonjak. Key menyusupkan kedua tangannya ke dalam saku celana sementara tubuhnya sedikit dicondongkan.
“Kau mengejutkanku!” omel Minho. Ia kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, tapi Key menarik pundak Minho dan memaksanya untuk duduk bersila di pinggir lapangan. Minho protes, ia memberontak, tapi Key terus menekan pundak Minho hingga akhirnya ia menyerah. Bukannya ia tak bisa menandingi kekuatan Key. Oh, bahkan orang yang tak mengenal mereka pun pasti tahu kalau tenaga Key tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Minho.
“Sedang apa kau di sini? Terakhir kali kita bertemu kau sudah tidak terdaftar sebagai mahasiswa di kampus ini lagi.” tanya Minho. Matanya lurus ke depan, masih terus memandangi punggung Jungmi.
“Kampus baruku tidak menyenangkan. Apalagi karena anak haram itu ada di sana. Dan makan malam kemarin benar-benar neraka.” cetus Key meluapkan unek-uneknya. Minho terkekeh pelan, mengejek Key yang memutar bola matanya. Ia geram karena Minho selalu saja terkekeh setiap kali ia sedang kesal.
Key menegakkan tubuhnya, lalu meletakkan kedua telapak tangan yang dilengkungkan di sisi mulutnya untuk membentuk corong dan berteriak kencang, “JUNGMI-YA HWAITING!!” teriak Key, membuat ia menjadi pusat perhatian. Jungmi memutar tubuhnya. Akhirnya Minho bisa menatap wajah Jungmi—wajah yang selama beberapa waktu ini terus mengusiknya dan terus ia hindari. Awalnya Jungmi tersenyum mendengar suara Key, namun saat ia melihat Minho duduk di samping Key dengan ekspresi yang tak Jungmi mengerti, senyumnya menghilang total. Minho membuang muka, ia memandang kosong pada pundak Key.
“Kau dan Jungmi masih tak saling tegur?” tanya Key heran. Ia ingat kejadian beberapa hari lalu saat ia dan Minho sedang berbicara dan tanpa mereka sadari Jungmi mendengarkan setiap detil pembicaraan mereka. Minho hanya mengangkat pundaknya, ingin terlihat tak acuh terhadap Jungmi.
“Sudah kubilang jangan membodohiku. Aku bisa melihat perasaanmu pada Jungmi dengan sangat jelas.” ejek Key. Sebenarnya ia tak mengerti dengan jalan pikiran Minho. Jelas-jelas ia menyukai Jungmi, mengapa justru memungkirinya?
Key melirik Minho dan berdeham lalu berkata, “Sebenarnya aku tak ingin menyampaikan hal ini padamu. Tapi kau harus tahu. Younji hamil.”
Minho diam. Ia tak merespon.
“Kubilang, Younji hamil.” Key mengulangi kata-katanya. Ia kesal melihat Minho yang tak bereaksi padahal ia berharap Minho akan meneteskan airmata darah dan akhirnya menyerah tentang semua hal yang berbau Younji lalu benar-benar membuka matanya untuk Jungmi. Tapi mengapa Minho malah tak bereaksi?
“Yaaaa! Apa kau dengar yang kukatakan tadi? Younji hamil! Han Younji!” amuk Key, kali ini Minho benar-benar melebihi batas kesabaran Key yang tipis.
“Aku tahu.” balas Minho. Matanya yang besar menatap Key dengan polos, semakin membuat Key kesal setengah mati. Kalau saja Minho ini bukan temannya, pasti sudah ia seret dan ia tenggelamkan di sungai Han.
“Dan setelah tahu hal itu, kau masih tidak bisa melepaskan dia? Kau ini gila!” Key mendesis tertahan, tak ingin Jungmi mendengar pembicaraan mereka. Meski sudah tentu, Jungmi pasti tak bisa mendengar pembicaraan mereka dari radius yang cukup jauh.
“Anak itu anakku.” ujar Minho pelan. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi apa pun hingga membuat Key sulit untuk menebak isi hati Minho atau pun kebenaran dari kata-katanya.
“Dan aku tahu semuanya dari Onew-ssi. Dia bahkan memintaku untuk mendampingi Younji.” lanjut Minho tanpa diminta. Mulut Key menganga lebar mendengar pengakuan Minho.
“Ternyata bukan kau yang gila, tapi anak haram itu. Bagaimana mungkin dia membiarkan istrinya dekat-dekat dengan mantan kekasihnya? Terlebih lagi mantan kekasih yang gagal menikah dengan istrinya. Ada yang tidak beres, pasti.” gumam Key sembari mengusap-usap dagunya, “Pasti ada yang ganjil dalam pernikahan mereka.”
“Jangan bermain detektif-detektifan, Key.” Minho memukul kepala Key, tak terlalu kuat tapi cukup untuk membuat Key menatap garang ke arahnya, “Kakak tirimu itu terlihat seperti orang baik-baik.”
“Dia bukan kakak tiriku!” Key mulai sewot, “Appa tidak pernah menikah dengan Ibunya. Dan meski pun pernah, aku tetap tak akan mengakui dia sebagai kakak. Ya ampun! Dia itu hanya lebih tua beberapa bulan dariku!” Key berteriak histeris dengan tangan yang melambai-lambai di udara.
Minho terkekeh. Ia melirik jam tangannya dan teringat dia sudah punya janji. Minho berdiri dan menepuk-nepuk bagian belakang celananya yang berdebu.
“Aku harus pergi. Kau masih mau di sini?” tanya Minho berbasa-basi.
“Pergilah, brengsek. Aku masih mau di sini. Aku mau menjaga Jungmi-mu dari serangan serangga busuk.” cemooh Key, masih terlihat jelas ia kesal dengan percakapan mereka sebelumnya mengenai Onew. Minho kembali terkekeh sebentar, lalu wajahnya berubah serius.
“Key.” panggil Minho.
“Apa?” sahut Key ketus.
“Jangan sampai kau membocorkan identitas bayi Younji pada mertuanya—pada siapa pun. Kalau sampai kudengar mertuanya tahu, kau yang akan kuhabisi lebih dulu.” Minho memperingati Key. Nada mengancam terdengar jelas dari suaranya yang rendah.
“Kau pikir aku peduli?” Key menjulurkan lidahnya, bertingkah seperti anak-anak yang ngambek karena tidak mendapatkan mainan yang dia inginkan. Setelah mendengar derap langkah Minho semakin menjauh, Key memutar kepalanya untuk memastikan bahwa Minho telah meninggalkan lapangan lalu memerosotkan bahunya.
Key kembali memerhatikan Jungmi yang berlarian di lapangan bersama beberapa teman satu teamnya. Ia kasihan pada Jungmi. Jelas sekali kedua orang itu saling menyukai. Lantas mengapa Minho harus begitu keras kepala? Terkadang Key heran, bagaimana ia dan Minho bisa berteman sekian lama kalau sifat keras kepala yang sama-sama mereka miliki sering membuat persahabatan mereka terancam runtuh. Key tersenyum tipis. Meski mereka sering sekali perang dan saling memaki, tapi begitulah persahabatan mereka yang tiada duanya. Nyaris tak ada orang yang bisa menembus lapisan yang hanya dimilik oleh ia dan Minho saja. Tapi sejak Jungmi muncul, lapisan itu ditembus dengan mudah. Awalnya mereka sering bermain bersama, atau lebih tepatnya, kedua pemain basket andalan kampus mereka—Minho dan Jungmi—akan duel satu lawan satu sementara Key hanya menjadi pemberi semangat saja. Tapi sayang hal itu berlangsung begitu singkat.
Semuanya rusak ketika Minho batal menikah dan mulai menjauhi Jungmi. Padahal Key lebih merestui Minho menjalin hubungan dengan Jungmi daripada dengan Younji. Key tak tahu mengapa. Ia tak membenci Younji—awalnya, ia hanya merasa Jungmi dan Minho lebih serasi, seperti memang sudah ditakdirkan untuk bersama.
“Jangan sampai kau menyesal, Choi Minho.” bisik Key lirih pada udara kosong di sekelilingnya. Key berdiri, ia mengangkat kedua tangannya ke udara dan mengepalkannya dengan erat lalu berteriak, “HWANG JUNGMI DAEBAK!!!!!!”
***
Hwang Jungmi, gadis berambut sebahu yang dikuncir satu itu memandang langit luas yang berwarna biru cerah dari pinggir sungai Han. Namun disayangkan, suasana hatinya tak seindah sore ini. Dia masih mengingat dengan jelas tatapan Minho saat mereka saling beradu pandang, juga saat Minho memalingkan wajahnya dengan cepat. Hal itu sesungguhnya sangat melukai Jungmi. Ia tak mengerti. Apa yang telah ia lakukan hingga Minho terlihat membencinya? Bukan salah Jungmi jika pernikahan Minho batal, lantas mengapa setelah kejadian itu berlangsung Minho seolah mencari lubang dan masuk ke dalam untuk bersembunyi setiap kali bertemu Jungmi? Jungmi sungguh tak mengerti.
Bebunyian pelan terdengar saat rumput di sampingnya diinjak. Jungmi memalingkan wajahnya untuk menatapi sepasang kaki berdiri tegak di sana. Kepalanya terangkat naik, menelusuri tubuh orang itu dari bawah ke atas. Kedua alisnya bertautan selama beberapa detik saat ia melihat wajah asing. Orang itu menjatuhkan diri di tempat yang ia injak. Dengan cepat kedua kakinya tertekuk sementara tangannya melingkar erat.
“Kita bertemu lagi.” ujar orang itu. Alis Jungmi semakin merapat hingga menjadi satu garis. Orang itu tertawa pelan lalu menunjuk luka lecet di lutut Jungmi yang sudah terlihat lebih baik. Mulut Jungmi membulat begitu ia ingat siapa pria itu, Onew—orang yang menabraknya.
“Oh, kau rupanya.” tutur Jungmi datar dan kembali menatap langit, tak terganggu dengan kedatangan Onew.
“Kau sering datang ke sini?” tanya Onew. Saat ia mengambil kesimpulan kalau Jungmi tidak akan menjawabnya, ia mengikuti arah pandangan Jungmi. Warna biru bercampur putih di atas memberikan sedikit ketenangan untuknya. Semalam ia tak pulang ke apartemen mereka—ia dan Younji. Onew masih tak bisa menghadapi Younji. Pagi ini pun, ia masih belum bisa fokus di kelas dan sekarang ia kembali melarikan diri dari kenyataan. Saat ia tak tahu harus bersembunyi di mana, tiba-tiba saja pemandangan sungai Han terlintas dibenaknya. Makanya ia datang kemari. Dan tanpa disengaja pula, ia bertemu kembali dengan Jungmi.
Onew menoleh, ia memerhatikan Jungmi yang menengadahkan kepala dengan mata terpejam, menikmati siraman matahari sore di wajahnya yang bersih. Onew bisa melihat ada kesusahan yang sedang Jungmi alami. Ternyata dunia tidaklah selalu damai.
“Apa?” tanya Jungmi. Ia membuka mata saat menyadari tatapan Onew yang terus terarah padanya. Jungmi menarik karet rambutnya hingga terlepas, lalu merapikan helaian rambut yang mulai berantakan karena tiupan angin.
“Tidak baik jika seorang wanita terlalu sering mengikat rambutnya.” tutur Onew, cukup membuat Jungmi terperangah. Mengapa Onew mengatakan hal seperti itu padanya?
“Selain membuat rambut cepat rontok, kurasa wanita terlihat sangat cantik saat mereka rambut mereka terurai dan dibiarkan jatuh terjuntai.” jelas Onew lagi. Bayangan wajah Younji kembali menghantuinya saat ia membayangkan seorang wanita dengan rambut tergerai. Angin berhembus kencang, membuat rambut Jungmi yang belum terikat jadi semakin berantakan. Tiba-tiba saja ia melihat Jungmi sebagai Younji. Onew bergerak mendekat, ia menyentuh ujung rambut Jungmi lalu tangannya terangkat naik dan merapikan rambut wanita itu.
Karena kaget, Jungmi tersentak mundur. Tangannya secara otomatis mendorong Onew untuk mundur. Matanya berkedip dengan cepat. Apa yang sedang pria ini lakukan? Benarkah pria ini baru saja menyentuh rambutnya? Astaga, apakah pria ini adalah maniak?
“Ma—maaf.” ucap Onew tergagap setelah bayangan wajah Younji menghilang. Ia akhirnya menyadari apa yang baru saja ia lakukan, sungguh memalukan.
“Kau… apa kau seorang maniak?” tanya Jungmi tanpa berpikir panjang. Onew balas memandang Jungmi. Sorot tak percaya terpancar dari mata sipitnya. Lalu suara tawa Onew meledak, keras sekali hingga Jungmi harus membekap mulut Onew saat orang-orang yang melintas memerhatikan mereka.
“Kau gila! Mengapa kau tertawa sekeras itu?” suara Jungmi tertahan setelah tawa Onew mereda.
“Karena kau lucu.” aku Onew. Sudah lama sekali ia tak tertawa seperti ini. Ketika sedang bersama dengan Jungmi, ia merasa begitu bebas untuk menjadi dirinya sendiri. Wanita asing ini, jauh dari perkiraan Onew, sulit untuk ditebak dan menyenangkan.
“Apanya yang lucu?” Jungmi memberengut, membiarkan Onew yang kembali tergelak tanpa henti.
***
Younji berlari cepat saat pintu apartemen mereka terbuka. Ia memandangi Onew yang sedang berdiri di depan pintu yang telah tertutup. Onew bertumpu pada satu kaki sementara kaki yang lain sedikit terangkat ketika ia berusaha untuk melepaskan sepatunya.
“Kau pulang…” suara Younji terdengar sangat pelan, ia tak yakin apakah Onew akan menggubrisnya atau tidak. Onew mendongak sebentar, menyadari kehadiran Younji lalu membuka sisa sepatu yang masih ada. Setelah kedua sepatunya lepas, Onew meletakkannya asal-asalan dan mengahmpiri Younji sambil tersenyum kecil.
“Maaf, semalam aku tertidur di rumah Jonghyun.” jelas Onew, tak sepenuhnya berbohong. Ia memang tidur di rumah Jonghyun, tapi bukan karena tak disengaja. Younji menunduk, memandangi jari-jari kakinya. Tak lama kemudian terdengar suara isakan yang meluncur dari bibir Younji. Onew menjadi panik. Bagaimana ia tidak panik kalau Younji tiba-tiba saja menangis? Onew memiringkan tubuhnya, bermaksud mengintip wajah Younji yang tertutup helaian rambut hitam pekatnya.
“Wae—waegeure?” tanya Onew bingung. Younji mengangkat wajahnya. Kedua mata Younji yang mampu membuat Onew berdebar-debar saat ditatap kini memerah dan beberapa tetes airmata meluncur turun.
“Maaf, tentang semalam. Aku tak bermaksud marah padamu. Aku hanya.. aku hanya tidak tahu mengapa aku tiba-tiba menjadi seperti itu.” isak Younji. Tangan kanannya terangkat naik. Ia mengucek matanya yang masih terus meneteskan airmata sambil terisak kencang sementara tangannya yang lain meremas erat piyama yang ia kenakan. Ia benar-benar takut saat semalam Onew menurunkannya di depan gedung apartemen lalu langsung melesat pergi begitu saja. Younji menunggui Onew, tapi pria itu tak kunjung pulang. Younji takut jika Onew akan meninggalkannya dan tak pernah kembali lagi. Sesuatu yang terasa janggal untuk Younji rasakan, bukan?
“Tak apa.” Onew tersenyum. Ia mendekati Younji dan memeluknya lembut. Younji langsung melingkarkan tangannya dan balas memeluk Onew dengan erat sementara suara isakannya semakin menjadi.
Onew tertawa kecil dan menepuk-nepuk puncak kepala Younji, “Kudengar emosi wanita yang sedang hamil memang sulit dikontrol—mood mereka cenderung berubah dengan cepat, seperti orang bipolar. Seharusnya aku yang minta maaf, tak sepantasnya emosiku ikut terpancing. Aku minta maaf.”
Younji mendongak. Suara isakannya tergantikan oleh suara sesunggukan pelan yang ia coba redam, “Benarkah?” tanya Younji, memastikan fakta yang baru ia ketahui tentang emosi wanita hamil. Onew mengangguk sambil tersenyum untuk menjawab pertanyaan Younji. Kedua matanya yang bulat membuat Onew sangat gemas. Rasanya ia tidak ingin melepaskan pelukannya, ia ingin terus mendekap Younji seperti boneka beruang yang ia miliki ketika ia berusia 6 tahun. Sayangnya ia bukan seorang anak berusia 6 tahun lagi, ia sudah beranjak dewasa. Onew melepaskan pelukannya. Kedua tangannya mendarat di pundak Younji. Onew sedikit membungkukkan tubuhnya agar tinggi mereka sejajar.
“Aku sudah berjanji akan merawatmu dengan baik, dan aku akan benar-benar berusaha untuk memenuhi janji itu. Kupastikan kejadian seperti semalam tak akan terulang lagi.” Onew mengucapkan janjinya dengan sungguh-sungguh. Younji harus menggigit bibirnya untuk menahan senyum yang nyaris tak bisa ia kendalikan setelah mendengar kata-kata Onew. Ia merasa begitu senang atas janji yang Onew ucapkan.
KRUUUUUK!
Terdengar suara perut Onew yang sepertinya telah meronta agar diberi sedikit asupan makanan yang layak. Onew menggaruk kepalanya dan tertawa kaku. Younji ikut tertawa. Sepertinya benar kata Onew tadi, kalau mood wanita hamil itu bisa berubah dengan sangat cepat. Buktinya tak sampai lima menit yang lalu Younji menangis, sekarang ia sudah tertawa senang.
“Kau belum makan malam? Akan kupanaskan makanannya untukmu.” tawar Younji sambil beranjak ke dapur diikuti oleh Onew. Ia duduk di meja makan sambil memandangi Younji yang sibuk memasukkan makanan ke dalam microwave. Memandangi punggung Younji ketika mengerjakan urusan dapur menjadi saat-saat kesukaan Onew yang akan selalu ia jaga dengan baik—selagi ia masih bisa melakukannya.
Onew telah cukup banyak berpikir seharian ini. Ia ingin mengesampingkan tentang semua perasaan yang ada saat ini. Ia tak mau memikirkan apakah ia mencintai Younji atau tidak. Ia tak mau memikirkan apakah Younji masih mencintai Minho atau tidak. Ia juga tak mau memikirkan rasa sakit yang akan ia rasakan setiap kali ia melihat Minho dan Younji bersama. Untuk saat ini yang terpenting baginya adalah Younji dan bayinya.
Setelah sekian lama Onew memutus semua hubungan dengan harapan, sekarang ia kembali mencoba untuk berharap. Harapannya hanyalah agar Younji bahagia dan bayinya mampu hadir di dunia yang mereka huni. Hanya itu, sebuah harapan paling sederhana yang ingin ia coba gantungkan sekali lagi.

TO BE CONTINUE . . .

An: Fiuh, akhirnya part ini selesai juga. To be honest, waktu ngerjain ini sempat kena writer block gara-gara ada kasus yang itu-itu #nunjuk-nunjuk gak tau ke mana..
Dan sedikit informasi, MBA ini aku perkirakan akan tamat di part 9, paling molor part 10..
Kekeke, jadi jangan sampe bosan bacanya yah ^o^
Oiya, maaf juga karena yang part ini cukup molor.. Sebenarnya udah siap dari minggu kemarin. Tapi berhubung aku liburan selama seminggu dan gak pegang kompi, makanya baru bisa publish sekarang^^~

©2011 SF3SI, Yuyu.

This post/FF has written by Yuyu, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF


119 thoughts on “Married By Accident – Part 6

  1. Kangen ff ini!! *peluk author*
    akhirny bisa baca lgi ff author. Ampe lumutan aku nunggunya..
    Thor, perbanyak adegan onew-younji dong.. Tpi yg romantis2 gtu kyaa >.<
    onew itu ketemu sma hwang jungmi yg ska sma minho itu? Kykny mkin seru nih crtanya..
    Part brktny jgn lma2 ya, thor. Hehehe. Tpi btw aku reader bru tapi klo jdi sider udh lama #eh.

    Mega imnida, 98line. Hehe. Slam kenal ya… Thor..

  2. semoga saja onew younji tetap bersatu…
    trus jadi onew itu nyesek banget, belum masalahnya dengan tuan kim dan key (yang kayaknya mereka itu saling menyayangi satu sama lain *soktau*) trus masalah dengan younji…
    jungmi juga jangan nyerah ya buat dapatin minho🙂
    ditunggu lanjutannya eonni^^

  3. Akhirnya publiish!!#acung tangan ala rocker ama Jonghyun#

    Hee, disini OnKey panas bget. Tapi, aku malah suka scene yg mereka saling sindir2an itu#??
    #orang yg suka pertikaian#ngeekk
    Suka banget ama karakter Jungmi. Jadi tambah pnasaran abis ada karakter baru..😀

  4. really love this story.. suka banget banget banget!!!
    masing masing tokohnya masih nyembunyiin perasaannya masing masing
    aku paling suka karakter onew,, keliatan banget dia orangnya lembut,, really hope i will mwwt this guy one time,,
    sanagt dinantikan lanjutannya,, buat yuyu aku bener bener suka sama tulisan kamu!!! semangat semangat!!

  5. waaa….. akhirrrnyaaaa….
    aq tungguiiiiiiiiiiiinnnnnn bgt…..part9 slese??cepet jg yah.pi gpp deee…lanjut lanjut lanjut!!!!

  6. sumpah ya… aku bc ff ini sambil dengerin The Reason.. denger suaranya Onew bikin nyesek..
    moga2 onew n younji bersatuuuuu…
    kasian kannn.

    updatnya jgn lama2 ya chingu.hehe

  7. aq udh komen blum ya d sini..

    ah komen lg deh..

    semoga onew n younji selalu bersama… T.T
    yuyuuuuu jgn pisahkn mereka. huuuaaaa

  8. knp aku nangis ya baca ni? ceritanya complicated, aku pengen baca part2 awalnya, maklum new reader. bagus ceritanya, authornya bisa menghubungkan tokohnya dengan baik. tumb for the author. btw, ga da link bwt tumblr ya?

  9. Makin rumit Dan kalo Ga dibaca bener2 Ga bakal mudeng,,,
    Semoga onew Dan yeonji tetap bersama, semoga Anak yangg dikandung yeonji Anak onew bukan Anak minho,,,
    Tenang thor,,aku Ga bakal bosen baca ff mu ini,,,♓è².♓é².♓è².♓é²

  10. daebak onnie as always !!!!!
    onew oppa baik banget!
    semoga endingnya mereka tetep bareng. AMINNNNN !!!
    hahaha…
    keep writing!! Onnie fighting!! ^^

  11. huwaaa onnie mianhae, telat mulu>__<
    sibuk beberapa hari ini
    sama comebacknya shinee terus ada acara keluarga #alesan
    LOL
    maaf yah onnie *bow*
    huwaaa keren onnie
    aduh~~~ onew-younji
    hah pas di mobil itu
    hampir bikin gregetan onnie
    tapi minho menganggu
    hah~~~ ini minho kayaknya emang suka jungmi deh
    hah penasaran sumpah onnie
    LANJUTKAN!!
    good job onnie:D

  12. Baiklah Onew Oppa aku akan sering2 menggerai rambut ku #eh komen apa ini.
    Errrr, bingung mau komen apa..hehe
    oh ia..aku penasaran sama Jungmi.. mau tau lebih jauh lagi soal masa lalunya sama Minho,, hwaiting buat part selanjutnya.
    oh i’m so curious yeah…#nyanyi sherlock bareng oppadeul.

  13. Oonewww oppa,
    kerennn bangettttt,
    khu ska story na, bagus banget ?!
    lanjutkaaaaannnnnnnnnn
    akhu penasarannnnnn ???

  14. Aigoo~ FF zg ditunggu2 akhirx muncul juga. Smpe’ lupa critax aq thor gara2 lama publishx. Kya’x kisah cintax ni makin ribet z dah… Smpe’ bisa bikin aq ikutan pusink mikirin beban onew. Bikin crita dr sudut pandang younji juga donk thor biar aq ngerasain feel zg laen. Oh ea key mw nikah ma cpa tuh?? Ma aq ea thor??
    Hahaha…😀
    #narsis mode : on

  15. Huahhh, semoga aj Jinki cepet sadar klo dia suka sama Younji…
    penasaran sama key, dia mau di nikahinsama siapa yahh???

    Minho sama Jungmi, ada hbngam pa yahh???
    jangn2 key lagi suka sama Jungmi *haahha

    okeh, makin penasaran aja nih..
    next chapnya cepetan yah…
    Hwaiting~

  16. huaaaaa baru sempet buka ini lagi hehe-_-
    onni jago bangetlah bikin cerita yang bikin aku ergghhh gatau harus ngomong apa saking bagusnya-_-
    romance-nya itu ga wah tapi bikin hati ketar-ketir._.
    suka banget waktu onew meluk younji aaaaaaaaaaaaaaa😮
    lanjut onni jangan lama-lamaaaa!

  17. Key… Key… Cari masalah mulu. Udah tau onew gak suka ma appa lu *Oops*, eh malah dibilang “Tapi kuharap kau tidak besar kepala. Bukan berarti kau bisa menjadi anak emas Appa hanya karena kau memberikan seorang cucu padanya.”
    Hadeeh… Gak habis pikir aku ngeliat key, apa coba yang ditakutin key lagi onn? Cemas padahal gak ada lawan. Sedangkan onew gak mengganggap ‘orang itu’ sebagai ayahnya sendiri.
    Disembur onew deh, kagetkan key??Jadinya jengkel deh Haha
    Abis kurang kerjaan sih.
    Onnie!!! Omo. . . Kog tiba2 ada bahasa koreanya??
    Sudah kuduga onn, sudah kuduga kalo yeoja yang ditabrak onew itu hwang jungmi.
    Karena jangan sampai ada cast lain yang aneh2 tingkahnya onn, ngeliat yang satu ini aja udah gak enak perasaannya.
    Tidak untuk yang ke2 kalinya, namjanya younji tergerak hatinya, i yeoja ttaemunae*semoga saja*.
    Omo. . . Younji marah, ternyata jadi galak, younji keliatan lebih keren haha. Kesempatan langkah ini.
    Omo. . . Onew juga marah ma younji?? Kesempatan langkah juga ini onn ._.v.
    Gini donk baru bener, rumah tangga harus ada manis asam asin*nano nano*, dan pahitnya.
    Onew. . Onew. . Ternyata dirimu terlalu polos, masak perlu dijelasin ma younji lagi sih. Aku jadi senyum2 sendiri onn.
    Ya ya ya minho, merusak suasananya aja nih anak -.-“. Udah dibilang jangan sms younji dulu(?)*berasa ma minho*, keganjenan!!!
    Lah ditambah lagi omelan Jeha. Perasaan sejak ditinggal istrinya, jeha lebih cerewet deh. Pelampiasan ya JH?? Karena gak ada yang mau di omelin.
    Ya kalo onew terus2an kayak begini, gak tanggung jawab sebagai suami. Ada kemungkinan kalo younji bakal balik ke minho, mungkin disana younji udah jenuh ma tingkahnya onew.
    Key aja bingung kenapa minho selalu memungkiri perasaannya, apalagi aku onn. Padahal jelas2 dia suka m jungmi dan lagian younji
    juga udah punya suami. Tapi kata2nya key bikin minho makin memungkiri perasaannya.
    Ngapain di ungkit lagi sih key?*maklum dia gak tau*.
    Tapi denger younji hamil bukan anaknya onew, kog key gak kaget onn??
    Kalo kupikir2 onn, yang lebih jelas gila disini kayakna key lah haha
    Mwo??? Onew dibilang byeontae? Dari sisi mana??
    Aneh2 aja nih yeoja, terlalu polos.
    Liat itu onn, napa onew jadi waras lagi sejak ketemu ma jungmi??
    Bahkan onew juga udah mulai seperti biasa ma younji. Seneng sih kalo onew dan younji baikkan tapi aku takut kalo onew tertarik ma jungmi*jangan sampai deh*, amit amit.
    Onew, pemikiranmu bagus. Untuk sekarang jangan stress dulu, ntar aja stressnya ya.
    Part ini jaresseo onn, typonya cuma 2 “beraut” n kata mereka yang berulang. Next part dibanyakin sweet scene ya onn*ngarep*.
    Fighting onn!!!

  18. kenapa onew ada hubngn gitu ma jungmi, jgn2 klw younji ma minho balikan nanti onew nya ma jungmi jgn ya author pokoknya ending nya onew ma jungmi aja trz anak itu anaknya onew sebenernya bukan anak nya minho ya author ya……

  19. wah udah dipublish yah, *ketahuan baru nongol.
    pas baca ini putar lagunya suju-lets not sama davichi don’t say goodbay. di jadiin backsound, ceritanya kok tambah nyessek banget yah. ..

    sumpah eonn, feeling nya dapat banget eon, sampai sesak nafas bacanya.❤

    suka banget sama yang ini nih "“Sudah kubilang bukan itu maksudku! Apakah kau tak mengerti? Aku tak butuh pria lain, aku hanya butuh suamiku saja!”
    ini juga “ hyung! Hibur Onew Hyung ya.”
    sumpah jadi melting sendiri. hahah. DAEBAKKKKK ! part selanjutnya jangan kelamaan yah eon.;D ❤

  20. @diyret: oke^^

    @alnadt: iyaaaa~

    @leechaerasoneelf : sipppp

    @keyminki: *peluk balik* annyeong mega, salam kenal juga yah

    @hanjia : kkkkk, makasih saeng

    @Ayu9106: huahaha, aku juga tanpa sadar seneng banget liat pertengakaran Onkey

    @liaguk2: hiatus?? maksudnya??

    @jinhye: huaaah, jeongmal? Makasih!
    Semangat semangat !!

    @yooratataem: lanjutt!!

    @kim hee won: siiiiip~

    @mrs.onew: The Reason? Aku suka banget lagu itu!!!!

    @mybabyLiOnew: kkkk, makasih eonni! Tenang, gak bakal kupisahkan kok😀

    @Ari: reader baru? Kudu baca part sebelumnya! #promosi
    link tumblr? Wah, aku sih ada tumblr, tapi gak aktif dan gak ada isi😛

    @Kim eun mi: hihi, udah positif kok kalo itu anak nya Minho^^

    @shawolism: gomawo~~

    @Hanah: hihi, it’s okay😀
    lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali

    @chartika: T.T

    @idieztic: #SHINee’s Back

    @Evhie Chainezz: makasiiiiih!

    @DegaKyu: key nikah sama kamu? maunya kamu #plak

    @Mrs. Joker: Makasiiiiih

    @Liamvp: ne~ Fighting!!

    @Farahkim: neeeee~

    @ShineeMVPgirl90 : wuakakaka, gak kok, key gak suka sama jungmi

    @Sonya.:neeeeeeeeee~

    @triaanrianff:HWAITING!!

    @auliashamutzagain: makasih, silahkan ditunggu

    @awittaewit: you’re welcome^^

    @~Choi.hyun_ae~: kenapa tiba-tiba ada bahasa korea?? Kangen pingin nulis korea, kkkk~~
    lah, emang sejak kapan onew gila?? -.-” emang sejak awal dia udah waras kok!
    cuma 2 typo? berharapnya sih “no typo” kkkk, tapi masih oke lah… huahahaha..
    Sweet scene? berharap aja yuk, aku juga mau banyak sweet scenenya #loh?

    @mailani: “pokoknya ending nya onew ma jungmi aja” sama Younji maksudnya?? XDD

    @newra: wokeeeee!

  21. Aku ga bakal bosen kok thor. Ceritanya itu kaya lembah trus naik gunung, ga datar. Kren deh thor.

    Pokoknya jangan sampe si Onew sama Jungmi. Younji ga boleh sakit hati gara” orang yang sama..

    Lanjut ya thor😀

  22. oalah udah ada jungmi diantara onew sama younji…
    jangan sampe onew sama jungmi, terus mino balik ke younji. jangan ya!~
    tapi gpp lah jungmi sama onyu, biar younji cemburu tapi jgn sampe pisah juga ..wkwk *reader plin plan*

    penasaran siapa yang key suka, jgn-jgn jungmi juga? :p
    aahaha, ditunggu pokoke lanjutannya,
    maap ya saya suka ilang tumbul di komen. #alasan
    tapi selanjutnya bakal rajin komen deh. :DD

  23. Maap ya ane dengan lancang nya baru komen sekarang (TT____TT)
    hoho… ternyata ada korelasi antara Jungmi – Onew – Minho – Younji yah…. ckckck…
    Dunia memang sempit😀

    Perasaan ku mengatakan Key akan menikah dengan Minyoung… maaf sotoy kkkk~~

    well waiting for next part ^^

  24. ”sekian lama Onew memutus semua hubungan dengan harapan, sekarang ia kembali mencoba untuk berharap. Harapannya hanyalah agar Younji bahagia dan bayinya mampu hadir di dunia yang mereka huni. Hanya itu, sebuah harapan paling sederhana yang ingin ia coba gantungkan sekali lagi”
    terharu bacanya thor :’)
    daebak as always (y)
    i’m waiting for the next chap~

  25. (˘̩̩̩^˘̩̩̩ƪ).
    Syukurla onew sudah b’sikap seperti biasa..😦 huaaa, msh tetap nyesekk… (˘̩̩̩^˘̩̩̩ƪ)
    Kasihan onew. Tapi penasaran? Penasaran dgn calonnya Key? Uwooo, haha. Dan minhoo,,ckk bagaimana sih jelasnya perasaan minhoo, aish, 1 sisi suka sma younji, tpi sisi lain tertarik dgn jungmi, galau. #plakkk ahahha. Ahkk, jungmi dan onew, 2 org yg saling b’kaitan dgn minho dan younji. Arghhhhh, semuanya membuat penasaran,,, ga sabar menunggu lanjutannya… >.<

  26. Lanjutiiiiiinnn,,,ya ampeon ni cerita bikin gemes,,,sumpah key nya minta dimasukin sumur,kesel,minho ma jungmi aja udah biar jungmi ga belok2 ke onew sgala.onew baik hati ma yoonji happy ending ever after,heheeh#kayagueauthornyaja?ː̗̀(☉,☉)ː̖́ ĦǺĦ?

  27. afrizka
    gomawoyo^^

    sisiondubu
    gomawoyo^^

    HeartLess
    gomawoyo^^

    Lee Ha kyo
    gomawoyo^^

    WidyaJ
    gomawoyo^^

    marjihadlr
    gomawoyo^^

    dayliays
    gomawoyo^^

    Nuroctavia
    gomawoyo^^

    ayunarra
    gomawoyo^^

    dean
    gomawoyo^^

    Hikma
    gomawoyo^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s