Comic Shop of Horrors – Part 1

Comic Shop of Horrors – Part 1

Author: Shin Chaerin

Cast: Kim Jonghyun, Choi Minho, Lee Taemin, Kim Keybum.

Support Cast: Onew aka Lee Jinki, Shin Chaerin (Author numpang jadi figuran)

Disclaimer: SHINee bukan punya saya, tapi Key punya saya! muahaha.. *dijitak*

Genre: Horror(?), Friendship, Adventure, Fantasy

Rating: General (No Children under 5 years old)

Length: Sequel

Warning: Jangan baca ff ini tengah malam! Jangan baca ff ini sendirian! Kalau takut, mending jangan baca ff ini dari awal sampai akhir. Cuci kaki, minum susu, naik kasur, trus bobo!

A.N: FF ini banyak terinspirasi dari novel karya penulis favorit saya, R.L Stine. Okay, happy R-C-L readers ^^

***

Hm, Jonghyun belum pernah melihat toko komik itu. Toko komik itu agak berdebu, tapi komik-komiknya bagus-bagus sekali. Kalau melihat-lihat buku-buku di rak putar, maka secara ajaib akan terputar dan masuk ke dunia buku komik. Sekali-kali menjadi superhero seperti di buku komik kedengarannya bagus juga?

Oh ya, Jonghyun kan suka horor? Bagaimana kalau mengikuti tanda HOROR yang akan menuju ke ruang bawah tanah? Mungkin saja di sana tertimbun komik-komik horor yang menarik.

Aku kan sudah bilang, mungkin saja. Yang jelas Jonghyun harus berhati-hati, karena di bawah sana dia akan menemukan pengalaman horor yang lebih seram dari semua koleksi komik horornya. Jadi, tariklah napas dalam-dalam dan berharaplah Jonghyun bernasib mujur.  Selamat menjerit!

 

Comic Shop of Horrors – Part 1

©

Shin Chaerin

Jonghyun POV

 

“Kupikir masuk klub di luar jam sekolah itu menyenangkan”, aku menggerutu. Aku sangat menyukai komik. Dan klub komik kedengarannya menarik. Tapi klub itu dikelola oleh Lee Jinki, murid paling membosankan di sekolah.

Mana mungkin topik seperti komik bisa membosankan? Bisa saja, kalau Jinki yang menjadi pembicaranya. Jinki meng-klik layar proyektor, menunjukkan sampul sebuah buku komik. “Ini Super-Doer edisi pertama”, ujarnya. “Sekarang harganya sekitar 20 juta won.”

Klik

“Dan ini Ballistic-Bug edisi pertama, harganya hampir 2 juta won.”

‘Memangnya ada anak dari klub ini yang mampu membeli?’ batinku kesal.

Proyektor di-klik lagi, dan komik horor pun muncul di layar. Bagus! Aku memang suka horor! Oh, tapi oleh Jinki, horor pun bisa dibuat membosankan.

“Kumpulan Cerita Seram ini harganya cuma 120 ribu won”, jelasnya.

Seraut wajah buruk tampak menyeringai dari sampul buku komik itu. Iiih, tampak seperti labu busuk dan berbintil-bintil dengan mata melotot seperti hampir lepas.

Aku berpaling, melihat jam di dinding. Kenapa tahu-tahu sudah malam? Aku segera berlari keluar tanpa mempedulikan Jinki yang masih mengoceh. Dan tepat pada waktunya, maksudku, aku melihat suatu pemandangan yang menyedihkan.

“Oh, tidak!” erangku. Bus sekolah sudah melaju kira-kira satu blok. Aku benar-benar ditinggalkan. Terima kasih banyak, Jinki. Gara-gara kuliahmu yang membosankan, sekarang aku terpaksa pulang jalan kaki. Sial!

Kalau mengikuti rute bus, bisa-bisa aku tiba di rumah tengah malam. Bagaimana kalau lewat jalan pintas saja. Tapi, itu juga bukan ide yang bagus. Karena, itu berarti aku harus melewati bagian kota yang belum pernah sekalipun kudatangi. Tidak apa-apa kah?

Aku menyusuri jalan pintas itu dengan jalan kaki. Rasanya setiap kali kakiku melangkah, tasku serasa bertambah berat. Tempat-tempat yang kulewati saat ini terlihat ganjil.

Di sini sepi. Semua gedung tampak tua dan suram. Toko-toko berimpitan, seakan-akan saling berpegangan.

Barang-barang yang dipajang di toko-toko itu sangat aneh. Aku melewati toko pakaian yang sepertinya menjual kostum Halloween, padahal Halloween masih berbulan-bulan lagi. Manekin yang berdiri dibalik kaca toko pakaian itu tampak seperti sedang mengamatiku. Dan boneka-boneka di etalase toko mainan itu, uhh… mereka tampak seperti vampir!

Aku mempercepat langkah kakiku. Aku mendesah lega ketika melihat toko alat pembersih debu. Itu baru normal, pikirku. Dan di sebelahnya… Hei! Toko komik!

***

Aku memasuki toko itu. Penerangan di toko komik ini remang-remang. Aku nyaris tidak dapat melihat komik-komik di rak putar. Di belakangnya, di keremangan yang lebih pekat, ada meja-meja dengan deretan kardus yang berderet-deret. Isinya kumpulan komik tua yang diburu para kolektor.

Pemilik toko berdiri di balik mesin kas. Wajahnya jelek. Bulat dan berkutil. Ia menggerutu ketika melihatku. “Hmm. Anak kecil.”

Hei! Ingin sekali aku berteriak bahwa aku bukan anak kecil, walaupun tubuhku pendek tapi aku sudah 17 tahun. Lagipula, memangnya siapa yang diharapkannya masuk dan membeli komiknya?

Aku berjalan melewatinya, namun tiba-tiba ia berteriak. “Tinggalkan tasmu di sini!”

Dasar menyebalkan, dia pikir aku ini pencuri apa?

Sebenarnya aku malas kalau berhadapan dengan penjual yang galak, lebih baik aku pergi. Tapi aku perlu beristirahat. Selain itu, komik-komiknya sepertinya menarik.

Aku meletakkan tasku di dekat mesin kas, lalu melesat memasuki rak-rak buku komik. Wow! Ada komik Major Disaster edisi terbaru. Dan yang lebih mengejutkan, komik itu ditempeli stiker separuh harga!

Sambil mempercepat langkah, aku mengambil beberapa komik yang kusuka. Semakin melangkah ke dalam, toko ini semakin gelap. Sepasang lemari buku memblokade jalan. Tapi di antaranya masih ada celah.

Eh? Sinar apa itu?

Aku menyeruak di antara rak-rak buku, menuju tempat terbuka. Sebuah bola lampu berdebu menjuntai dari langit-langit. Dalam cahayanya yang suram, aku melihat rak putar lain yang penuh komik. Di atas rak itu ada tulisan yang berbunyi:

KAUPIKIR INI PERPUSTAKAAN?

BOLEH LIHAT, TAPI JANGAN SENTUH.

ATAU KAU AKAN MENYESAL.

 

Cih! Gertakan untuk anak-anak kecil yang biasanya jahil dan suka mengutil. Tapi gertakan itu tidak mempan padaku.

Aku mengintip komik-komik di rak itu. Whoa, ada komik Ballistic Bug seperti yang ditunjukkan Jinki di proyektornya! Komik ini dihargai HANYA 2 ribu won!

Dan di atas sana, di rak paling atas, apakah itu komik Super-Doer yang luar biasa mahalnya?

Saat aku hendak meriah komik itu, aku mengintip dari celah rak, kemudian aku melihat sesuatu. Sebuah pintu, di belakang rak-rak. Ada tangga besi menuju ke ruang bawah tanah, mungkin. Ada tanda anak panah yang mengarah ke bawah tangga. Bunyinya: HOROR.

Ada juga tanda yang sudah tercabik-cabik di pintu yang terbuka itu. Aku mencoba membaca tulisannya yang kurang jelas, sepertinya berbunyi:

DILARANG MASUK. YANG MELANGGAR AKAN DITAKUTI.

 

 

Ditakuti? Apa artinya? Ah, peduli setan. Sepertinya di ruang bawah tanah itu tersimpan bertumpuk-tumpuk komik horor. Bukankah aku suka horor?

***

Aku menuruni tangga. Namun, tangga ini tiba-tiba goyah dan mendadak miring. Dan ambruk menimbulkan suara logam yang menggema. Tangga ini telah berubah menjadi papan luncur! Dan benar saja, tubuhku meluncur begitu saja. Terus meluncur ke dalam kegelapan yang pekat. Kemudian aku melambung dan terjatuh sampai jungkir balik.

“Aww!” erangku. Sakit! Aku terjatuh di lantai beton! Aku meraih tangga itu dan memanjatnya. Tapi hasilnya aku malah meluncur kembali. Tangga ini benar-benar licin dan sepetinya benar-benar mengandalkan prinsip bidang miring.

Aku bangkit berdiri. Mengamati sekitarku yang gelap. Oh, tidak terlalu gelap sepertinya, ada sebuah lorong berdinding tripleks dan diterangi sebuah bola lampu. Aku menyusuri lorong itu. Kemudian lorong itu membelok. Aku berada di sebuah ruangan kecil lain, ruangan ini berpintu tiga. Aku memilih pintu sebelah kanan, dan menemukan lorong lagi. Lorong ini berliku-liku menuju dua ruangan lain, lalu ke koridor bersimpang empat.

“Apa-apan ini?”, aku menggerutu. “Aku merasa seperti tikus dalam labirin!”

Tapi bukan masalah, aku masih ingat rutenya! Aku memutuskan untuk berbelok ke kanan lalu ke kiri. Sejurus kemudian, aku mendapati diriku berada di suatu ruangan yang punya satu pintu.

Sebentar… sebentar, aku lewat mana tadi? Kenapa tempat ini mirip sekali dengan ruangan yang kukunjungi sebelumnya? Tempat ini betul-betul sebuah labirin. Tempat ini bukan sekedar ruang bawah tanah biasa.

Di ruangan berikutnya aku menemukan tumpukan tinggi komik tua Kumpulan Cerita Seram. Edisinya sama dengan yang ditunjukkan Jinki. Laki-laki berwajah seperti labu berkutil itu termasuk salah satu tokohnya. Namanya mutan Milo.

Oh, tunggu! Kalau dilihat-lihat, pemilik toko itu mirip mutan milo! Atau jangan-jangan dia memang mutan Milo…

Tiba-tiba aku mendengar suara bergema di labirin. Bunyi menggeleser pelan, seperti suara kaki yang diseret.  Ada yang membuntutiku!

Aku menoleh ke belakang. Seketika bau busuk menyengat hidungku. Dan bau busuk ini semakin lama semakin parah. Aku menikung dan memasuki sebuah ruangan. Cahaya terang memancar dari sebuah pintu kedua. Menimbulkan bayangan di dinding pintu.

Lalu sosok itu muncul di pintu. Laki-laki itu tinggi. Kulitnya hijau-kelabu, seperti keju jamuran. Di pipinya ada bekas luka parut. Sepasang baut besar dari logam mencuat dari lehernya.

Itu Frankenstein!!

“Grrrr!”, geramnya. Tanpa pikir panjang, aku langsung kabur dan memasuki sebuah lorong. Seruan mengancam dari mulut makhluk itu terdengar bergema di belakang. Aku segera berlari ke pintu berikutnya, namun sialnya aku malah tergores tripleks kasar. Jaketku yang tersangkut pada tumpukan papan kayu menahan langkah kakiku.

Damn! Seretan langkah si monster terdengar semakin dekat. Dengan segenap tenaga, aku menarik jaketku hingga lepas. Secepat kilat aku berbelok ke kiri. Ke kanan. Ke kanan lagi. Geraman makhluk jelek itu mulai terdengar sayup-sayup. Ia pasti kehilangan jejakku!

Dalam keadaan seperti ini, aku harus menyelinap pergi. Sambil berjingkat menyusuri koridor yang suram, aku berusaha menajamkan pendengaranku. Sudah tak terdengar lagi seretan dan geraman Frankenstein. Aku berhasil lolos!

Aku mendesah lega dan bersandar di dinding karena lelah. Kemudian sebuah tangan menyentuh pundakku. Aku memekik menahan napas.

***

Aku segera berpaling dan melihat dua anak sebayaku, yeoja berambut coklat dan namja berambut gelap. Keduanya tidak berbicara, mereka hanya tersenyum aneh.

“Aku Chaerin. Dan ini Minho”, kata yeoja itu. “Kau pasti ketakutan. Seperti kami.”

“Hai, aku Jonghyun. Sudah berapa lama kalian ada di sini?” tanyaku.

“Molla. Setahuku ketika tiba di sini, rambutku masih pendek”, desis Minho.

Aku terpaku pada rambut gondrong Minho yang acak-acakan. Ini kabar buruk.

Kalau dilihat-lihat. Chaerin dan Minho amat sangat kurus. Dan kotor. Dan betapa panjang kuku-kuku mereka.

“Tampaknya kau perlu bantuan”, kata Chaerin. “Bergabung saja dengan kami.”

“Ya, kau bisa bertemu yang lainnya”, Minho menambahkan.

“Maksudmu? Masih ada lagi anak yang disekap di sini?” tanyaku.

Minho mengangguk. “Kami saling menolong.”

Agak ragu juga sih, tapi anak dekil bertampang aneh ini pasti lebih tahu tentang labirin ini. “Baik, aku akan ikut kalian”, sahutku.

Kami bertiga melewati labirin dengan cepat. Aku merasa semakin tersesat sekarang. Tiba-tiba tubuhku ditarik oleh Minho ketika aku hampir mencapai sebuah pintu.

“Ssst! Jangan ribut”, desisnya. Aku mendengar suara orang sedang menggergaji di balik pintu itu. Kami bertiga berjingkat melewati orang itu. Orang itu dibalut perban. Tunggu. Perban itu membalut tubuh seseorang?

Eek! Mumi!

Mumi itu bukan sedang menggergaji, tapi dia sedang mendengkur. Minho dan Chaerin melangkahi makhluk itu. Dan sekarang adalah giliranku, tubuhku gemetaran setengah mati.

Dug

Hwaa! Kakiku tersandung sisi tubuhnya. Suara mendengkur itu langsung berhenti. Kelopak mata yang sudah kering itu terbuka. Mata hitam pekat itu menatapku tajam. Aku segera melompat dan menerjang Minho dan Chaerin. Kami segera kabur dari tempat itu, melewati sejumlah tikungan dan kelokan di labirin itu.

“Tenang”, Minho terengah. “Old Menes mungkin sudah kembali tidur.

“Yeah, setelah dua ribu tahun ia perlu beristirahat”, ujar Chaerin.

“Old Menes? Dia..dia..mumi sungguhan?” tanyaku tergagap. Mereka berdua mengangguk.

“Labirin ini penuh dengan makhluk purba. Karena itu kau harus…”

“Hati-Hati!!” seru Minho.

Aku segera berbalik, tepat pada saat itu sesosok makhluk tengah terjun ke arahku. Mata makhluk itu mengarah tepat padaku. Aku tak sempat mengangkat lengan untuk melindungi diri. Napasnya yang panas menerpa wajahku. Dan taringnya menghujam ke lenganku.

“Werewolf!” pekikku. “Tolong! Dia menggigitku!”

Aku melirik ke arah lenganku. Tidak ada darah. Tidak ada luka. Ternyata makhluk itu tidak mempunyai gigi! Dengan mendengking seperti anjing yang sedih, makhluk itu melompat pergi.

“Semua makhluk yang ada di labirin ini berasal dari komik horor Milo, Kumpulan Cerita Seram”, ujar Chaerin.

“Mereka bisa hidup karena mengaruh sihir Milo”, Minho menambahkan.

“Mustahil!” pekikku.

“Tapi itulah kenyataannya.”

Kemudian kami berjalan kembali menyusuri labirin. Saat aku hendak membelok di sebuah tikungan, aku menabrak dua penuntunku. Mereka tertegun di pintu sebuah ruangan besar. Di situ penuh anak-anak, dan di hadapan mereka adalah…

“Mutan Milo!” Aku menahan napas.

“Ayo lari!” seruku. Minho dan Chaerin lari cepat sekali, seperti hendak latihan Olimpiade. Aku segera menyusul mereka.

“Dimana kita?” tanya Minho sambil terengah. Paru-paruku serasa terbakar karena terus belari.

Chaerin membelalak. “Apa maksudmu? Kupikir kau tahu rute yang kita lewati!” pekiknya.

Mereka mulai berdebat. Bagus! Sekarang kalian semua tersesat.

“Hei, lihat itu!” seru Minho. Kami semua mengarahkan pandangan ke sebuah dinding tripleks dengan goresan putih membentuk huruf D.

“Apa itu?” tanyaku.

“Oh, gawat! Kita semua berada di kawasan berbahaya. D itu simbol dari Danger”, jelas Chaerin.

“Apa itu maksudnya lebih berbahaya dari labirin penuh monster ini?”

Minho menggeleng. “Tak seorang pun tahu. Tak ada yang pernah bisa keluar dan menceritakannya pada kami”, sahutnya. Kini tubuhku makin gemetaran.

“Jadi, bagaimana cara kita keluar?” tanyaku putus asa.

“Aku berani taruhan kita tak mungkin keluar”, Chaerin berpendapat.

“Seseorang menandai pintu ini. Artinya ini menuju kawasan berbahaya, dan kita harus segera menyingkir”, tambahnya.

Minho mengintip ke balik pintu. “Hei! Ada tanda juga dibaliknya. Artinya, sisi ini pun menuju kawasan berbahaya. Mana yang benar?”

Minho dan Chaerin mulai berdebat lagi.

“Sudahlah jangan berdebat, lebih baik kita pergi saja dari sini”, saranku.

Kami segera bergegas pergi dengan ketakutan. Setelah beberapa tikungan dan belokan, kami menemukan lorong yang panjang dan lurus. Ujungnya bercabang tiga.

“Awas perangkap”, bisik Minho. “Aku belok kiri. Chaerin lurus. Dan kau ke kanan.”

Aku menuruti perintah Minho. Aku menyusuri lorong dengan perasaan waswas, lalu aku mengintip ke sebuah pintu. Hei! Ini pasti gudang komik dari toko di atas. Ada ratusan kardus buku komik!

“Hei, kalian! Cepat ke sini!” teriak Chaerin. Aku segera berbalik dan berpapasan dengan Minho. Kami berdua menuju tempat dimana Chaerin berada.

“Ada apa?” tanya Minho. Saat ini kami berada di sebuah ruangan yang dindingnya dilapisi kertas dan karpet. Ada sebuah cermin kuno panjang yang bersandar di salah satu temboknya.

Tanpa sengaja, aku meraba cermin itu dan seketika tubuhku seakan terhisap ke dimensi yang berbeda. Kepalaku rasanya berputar-putar. Beberapa menit kemudian, aku tersadar. Dunia ini kelihatan rata dan warnanya amat tajam. Tak ada Chaerin. Tak ada Minho.

Kemudian aku mendongak ke langit yang sangat biru.

Langit? Tunggu! Bagaimana aku bisa keluar? Belum sempat aku mengingat-ingat apa yang baru saja terjadi, seseorang menyikutku. Adapula yang menginjak kakiku. Aku berada di kerumunan, lusinan orang berdesak-desakan. Membuatku tak bisa bergerak.

“Ada apa ini?” tanyaku. Tak ada yang menyahut. Tapi ada yang berseru, “Itu dia!”

Uh-oh! Sebuah kaleng timah raksasa, dengan lengan, kaki, dan kepala. Bukan, itu robot!

“Aku tak percaya ini!” gumamku. Makhluk sebesar gedung pencakar langit itu, dia sedang menuju ke arahku. Oh, tidak!

Aku mendorong. Menyiku. Berusaha lolos dari robot raksasa itu. Tapi kerumunan ini sangat rapat. Membuatku terperangkap.

“Hei! Sepertinya aku mengenalmu!” seru seseorang di antara kerumunan. Aku berpaling dan mengenali wajah orang yang menegurku tadi.

“Lee Taemin!” seruku. Taemin sekelas denganku di sekolah. Kalau tak salah, belakangan ini ia tidak masuk kelas.

“Di mana kita?” teriakku. “Apa yang terjadi?”

“Sebenarnya kau tersangkut di dalam komik. Di dunia buku komik.”

Aku terbelalak. “Ah, masa?”

“Benar!” tegas Taemin. “Begini perjanjiannya. Kita bisa berpindah dari satu komik ke komik lain, menggunakan mantra. Tapi kalau terlalu sering menggunakannya, kau akan lenyap”, jelasnya.

“Itu yang terjadi pada temanku. Dongho. Dia mencoba meninggalkan komik ini. Kini dia malah lenyap.”

Sekarang, apa yang harus kulakukan? Dengan cemas aku memandang robot itu. Sudah dekat sekali.

“Kau pernah mencoba mantra itu?” tanyaku.

Taemin mengangguk. “Kau tinggal memikirkan komik lain, dan mengucapkan mantra.”

“Oke. Tapi adakah jalan untuk kembali ke dunia kita sendiri?”

Taemin tampak berpikir. “Kurasa ada. Seorang ilmuwan edan bisa memulangkanmu. Tapi kau harus membujuknya supaya mau membantu.

Oh. Gawat! Robot raksasa itu semakin dekat. Tinggal dua langkah lagi, tubuhku bakal dilindas. “Apa mantranya?” pekikku.

Taemin memejamkan matanya, berpikir. Lalu ia berteriak, “Tamu menembak!”

Seketika Taemin menghilang. Ia pasti sudah berpindah ke komik lain.

Kali ini giliranku. Entah kenapa saat ini yang ada di kepalaku hanya dua komik yang sempat kulihat-lihat tadi. Super-Doer dan Ballistic Bug. Keduanya memiliki tokoh penjahat ilmuwan edan.

Mana yang harus kupilih? Sudah tidak ada waktu! Aku segera memejamkan mata. “Tamu menembak!”

.

.

.

 

To be Continued

Bisakah mantra itu membawa Jonghyun pada si ilmuwan edan? Temukan jawabannya di part 2!

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

41 thoughts on “Comic Shop of Horrors – Part 1”

  1. Wahh… Serius keren banget ff nya.. Daebak!!

    Kata katanya mudah untuk di mengerti dan rinci. Jadi bisa ngebayangin kejadiannya dan feelnya dapet banget…

    Lanjutkan Thor.. Kuharap part 2nya cepat di post..
    Fighting Author!!! 😀

  2. Ahahaha. Lucu pas adegan Jinki. Kesannya Jinki banget. (^w^)

    Tebakanku, Jjong milih Ballistic Bug. Ngasal. Kekekeke~

    Kalo horor yang begini aku nggak takut. Kecuali kalo udah menyangkut hantu. Brrrr…

    Daebak. A-yo lanutan. 😀

  3. Wiiihhhh.. keren bgt ff nya..
    favorit-ku nih yg kaya gini..
    authornya hebaaaaat.. jangan lama2 posting part 2-nya yaaaaa..

  4. keren…. seru.. menegangkan.. aaaaa
    ikut deg deg an… huhahuhahuha..

    ilmuwan edan.. hahaha

    part 2 jgn lama2 thor..

  5. waaa~ seru nih, kalo horor yg kyk gini aku gak takut. kecuali horor yg mnjelaskan bgmn rupa dupa hantunya, bs bikin aku takut ke kamar mandi-_-”

    Idenya bagus author, aku suka banget crita fantasy kyk gini, terus pnggambaran authornya tntang kjadian2 dlm crtanya jg bgs. Pkoknya fellnya dpt bngt 🙂

    Nice ff, lanjutannya jangan lamaaa~ ^^/

  6. Aigoo, deg-deg-an bacanya. Jgn sampek Jjong lenyap kayak Dongho!!
    Eh, Chaerin ama Minho kmna ya? Taemin pindah kemana ya? Key kapan muncul ya?
    Jangan2 ilmuwan edannya Key!!?
    #ngeek*sotoy
    #ditabok author

    daebak thor! Lanjutannya cepetan, ya! 🙂

  7. Keren thor , tapi aku gak tau sama sekali komik horror, nama tokoh hantunya . Gak kenal semua 🙂
    maklum aku emang gak suka baca atau nontong yang horror #abaikancurhatannya
    terus yg jjong ketemu taem aku malah mikir adegan transformer (?) , yg dialog minong punya rambut gondrong aku mikir ayahnya jacob di twilight .
    (author:lo mau curhat atw coment, hah)

  8. Ahhhh seruuuuu~

    Authornya suka R.L Stine? Waaahh berarti penggemar Goosebumps dong?
    Jarang nih aku nemu yang suka baca Goosebumps!
    Aku juga suka Goosebumps tapi telat jadi aku cuma punya satu buku dan beberapa minjem sama sodara kekeke..
    Author tau ngga beli Goosebumps sekarang dimana? DX

    R.L Stine horrornya seru-seru yak huahahaha
    Udah baca yang Night of The Living Dummy, thor? Atau yang The Girl Who Cried Monster?
    Aku penasaran mau baca Let’s Get Invisible T_T Author barangkali tau website buat baca seri-seri novel Goosebumps?

    Oh ya, buat FFnya, gaya bahasanya R.L Stine banget! Dan aku suka 😀
    Penasaran nih! horrornya dapet ._.
    Huaaaaaaa udah author ngarang Goosebumps versi Indonesia aja muahahaha

  9. keren ceritanya,,lanjutin yahh,,
    bikin tambh seram donk,,
    hwaiting thorr,,d tunggu dech part selanjutnya

  10. kereeeeennnn.. menegangkan,, pnasaran lanjutannya…
    wkwkwk,, kasian bangen jinki disini, tapi cocok ko jadi org yg membosankan,, hehe *ngekkkk d injek MVP*

    d tunggu part slanjutnya.

  11. jjong oppa kasian banget mesti tersesat segala ,, gara2 jinki oppa niey ……
    seruu kayaknya ,, ayo lanjut!!

  12. Horror mistery ya??
    Gak apa-apalah, cocok kok buat konsumsi malam hari buat aku, kecuali horror karena pembunuhan, gak deh makasih XD
    Aahahha.. aduh Minho kurusan gr” kebanyakan nge-dance Sherlock tuh, kan dancenya agak susah dan keras XD
    Lanjut, dong part 2-nya XD

  13. Nurut author deh, bacanya pagi-pagi… 😀
    Tapi kayaknya harus emang harus baca malem-malem deh, biar feel-nya dapet…

    Ditunggu ya part 2-nya 😉

  14. aiihhh.. ff-nya DAEBAK chingu>,<
    aku suka banget!!!
    penasaran ama kelanjutannyaaaa deh~
    lanjutkan ya chingu^^~

  15. ffnya daebak! ini trinspirasi dr novel r. l. stine yg ttg tokohnya masuk k dlm komik, lalu qta yg plih jalan cerita selanjutnya kn?
    q tebak jjong masuk k komik bullistic bug..
    next part jgn lama ya..

  16. huwaa ini keren !
    tegang banget !
    huwaa… terus gimana dong, apa jjong bakal keluar? gimana nasib minho dan chaerin ?
    bener-bener ngebuat penasaran…
    werewolf ngak punya taring ???
    ahahahahah ngakak.. ahahah
    muminya itu ternyata mendengkur ahahah bunyinya kaya bunyi gergaji .. ahahah bisa di pastikan dengkuran itu sangat mengganggu …
    ayo..ayo lanjutannya .. ff ini keren …
    gomawo buat ffnya .. ^^

  17. Menarikk,, menarik,, idenya keren,, apalagi yg bagian berpindah dr satu komik ke komik yg lain pake mantra,, jadi brasa baca novel horor macam RL.Stine#emang inspirasinya dr sana kn,,,

    Gimana nasib Jjong selanjutnya tuhh,,, bisakah bertemu dengan ilmuwan edan,, wait next chapter,,, 😀

  18. Seru! Keren XD
    Ngomong-ngomong, aku juga suka R.L Stine Thor 😀 Tapi aku taunya yang Goosebumps doang, hehe – –
    Aku suka yang edisi petualangan #curcol

    Bahasanya asik, rasanya aku jadi ikut berperan bareng Jonghyun >w< #pengenbanget
    Thumbs up b^o^d
    Aku tunggu lanjutannya, Author 😀

  19. aigoo, seru! 😀

    bahasanya semacam goosebump gitu ya? Ahaha, jadi inget cerita yang tentang topeng Halloween itu, wkwkwkwk.

    Next part, thor 😀

  20. Wah author shin chaerin! Yg ffnya butterfly sm phantom kan ya?
    Ada wp pribadi ga thor?
    Great! Ceritanya aku sukaaaaa. Jgn lama” ya next partnya 😀

  21. Wah ini horror nya lebih seru. cerita fantasy yg bagus, bikin yg baca bisa ngebayangin gmana ceritanya

  22. Aduh bca ff jam 2 siang buat merinding. .
    Gmana malam malam euy. .
    Aduh duh duh. .
    Keren euy, daebak. .
    Lanjuuuut. .

  23. masuk ke dunia komik…..
    ahhh …. q jadi pengen….
    author imijinasinya keren nie….
    keren banget ceritanya…
    lanjuttttttt……

  24. Horornya seru
    Aku jarang tahu ff yang genrenya sci-fi
    Aku awalnya takut baca soalnya ada warningnya
    Tapi berhubung aku lumayan suka horor walaupun takut dan penasaran akhirnya aku baca
    Author, kira-kira novel goosebumps masih di jual di toko buku gak ya ? Tolong di balas…

  25. Jinjja! seriusan, seru banget ini FF. dan gaya bahasanya R.L Stine banget! Waktu kecil ak juga penggemar beratnya R.L Stine. Dan ah! suka banget sama ide ceritanya.
    Ga kebayang tersesat di komik kaya Jonghyun.hha.
    Ga sabaran nih tau kelanjutan petualangannya Jjong, kira2 bisa balik lagi ke dunia nyata ga ya?

    oKEY, aku langsung ke part 2. KEREN!!!! b^^d

  26. Wow, ini keren. Tapi aku sebel pas adegan di labirin itu. Aku takut sama yg begituan soalnya 0.o. Jadi ngeri sendiri, author selamat ya udah bikin aku jantungan -_-
    Okesip, lanjut part 2 ^o^

  27. Huwaaaa seru banget, apa yang bakal terjdi sama mereka??
    Serem bayangin toko komik kayak gitu jadi takut kebawa mimpi,,
    Well, nice ff^^

  28. seru! aku klo mimpi dikejar-kejar hewn buas aja udah takut banget, apa lagi dikejar-kejar hantu model begituan. wah bisa kejer di tempat. baca lanjutannya nyusul.

  29. Huaaa keren! kira2 siapa ilmuan edan itu yaa?;;) jd penasaran, numpang baca ya thor^^ fighting dan teruslah berkarya & membagi hiburan bagi para pembaca

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s